Back to announcement
20260521_WSBP_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32093531_lamp3.pdf
Asset transaction Needs review WSBPSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 109
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT WASKITA BETON PRECAST TBK
No. 00013/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026
Tanggal: 23 April 2026
Tanggal Studi Kelayakan per 31 Desember 2025
Page 2
Kantor Cabang Jakarta Selatan
The AKKAS Commercial Building, Lt.2
Jl. T.B. Simatupang No.23 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telp. : +62 21 78343013 | Wilayah Kerja Seluruh Indonesia
No. Laporan : 00013/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026 Jakarta, 23 April 2026
Kepada Yth.
PT Waskita Beton Precast Tbk
Gedung Vasaka Lt. 5
Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang
Jakarta Timur, 13340
U.p. : Direksi
Dengan hormat,
Sesuai penugasan dari PT Waskita Beton Precast Tbk kepada Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki
dan Rekan (”HMR” atau “kami” atau “Penilai”) untuk memberikan pendapat mengenai kelayakan atas
rencana penambahan kegiatan usaha sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yaitu KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh PT Waskita Beton Precast Tbk
(“Perseroan” atau “WSBP”) sebagaimana tertuang dalam Surat Perjanjian Kerja No.
4200018718/WBP-HMR/2026 dan No. 001/SPK/HMR-JKSL/B/III/2026 tanggal 30 Maret 2026 dan
Addendum Surat Perjanjian Kerja No. 4200018718/ADD-1/WBP-HMR/2026 dan No. 001-1/SPK/HMR-
JKSL/B/III/2026 tanggal 7 April 2026 yang telah disetujui oleh manajemen Perseroan, maka dengan ini
kami telah melakukan studi kelayakan (feasibility study) secara independen dengan tanggal studi
kelayakan per 31 Desember 2025. Laporan studi kelayakan ini diterbitkan sebagai revisi atas Laporan
Studi Kelayakan dengan Nomor 00009/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026 tanggal 10 April 2026 dengan
tanggal studi kelayakan 31 Desember 2025. Revisi yang dilakukan mencakup penambahan informasi
pada Gambaran Umum Perseroan, Aspek Model Manajemen, dan Aspek Keuangan. Dengan
diterbitkannya laporan studi kelayakan revisi ini, maka membatalkan laporan studi kelayakan
sebelumnya.
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha : Pabrikasi Beton Pracetak (Precast), Readymix, Quarry dan Jasa Konstruksi
Alamat : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks : (021) 22892999
E-mail : info@waskitaprecast.co.id
Latar Belakang Studi Kelayakan
A. KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis
AP3I sebagai Asosiasi Perusahaan Pracetak & Prategang di Indonesia saat ini beranggotakan sekitar 31
Precaster tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dimana hampir seluruh BUMN Precaster, termasuk
Perseroan, menjadi anggota AP3I. AP3I memiliki hubungan yang baik dengan pemangku jabatan
dipemerintahan (stakeholder), PUPR dan Kementerian. AP3I dibentuk dengan tujuan memberikan
dukungan terhadap perkembangan dan kemajuan sektor konstruksi di Indonesia, agar dapat mengikuti
pola industri manufaktur yang lebih efisien dari sistem konvensional, sehingga dapat menyokong industri
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |i
Page 3
konstruksi nasional yang mampu berperan aktif dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Pasar
Global.
Pada tanggal 19 Februari 2024 AP3I mengajukan permohonan pemberlakuan SNI Wajib dari AP3I ke
Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil - Kementerian Perindustrian. Hal ini dilakukan karena
banyaknya produk-produk tiang pancang precast China yang membanjiri proyek-proyek di tanah air.
Selain itu Pemerintah Indonesia telah menerbitkan standar produk Spun Pile dan Corrugated Concrete
Sheet Pile (CCSP) melalui SNI 9156:2023 untuk produk Tiang Pancang Penampang Bulat Berongga
Prategang (Spun Pile) dan SNI 9157:2023 untuk produk Turap Beton Prategang Bergelombang (CCSP).
Berdasarkan hasil meeting terakhir di bulan Oktober 2025, Kemenperin berencana memberlakukan
kedua SNI di atas secara wajib. Untuk implementasi SNI Wajib diperlukan dua infrastruktur utama yaitu:
a. Laboratorium yang sudah terakreditasi sebagai Laboratorium Penguji (Lab Uji);
b. Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) sebagai Lembaga yang menerbitkan sertifikat produk-produk
sesuai ketentuan SNI (Standar Nasional Indonesia).
Saat ini belum ada LSPro terakreditasi dengan ruang lingkup sertifikasi produk Spun Pile dan CCSP di
Indonesia. Sebagai wujud percepatan realisasi rencana, Kemenperin menyarankan BRIN sebagai LSPro
terakreditasi untuk menambah ruang lingkup sertifikasi produk dengan sertifikasi produk Sun Pile dan
CCSP berdasarkan SNI 9156:2023 dan SNI 9157:2023. Dalam pelaksanaannya, BRIN menemui kesulitan
karena untuk proses penambahan ruang lingkup sertifikasi produk ini, BRIN memerlukan precaster yang
secara sukarela mengajukan produknya untuk disertifikasi.
Menanggapi keadaan tersebut, Unit Lab Perseroan menganggap ini sebagai peluang untuk Perseroan
mengembangkan bisnis di bidang sertifikasi produk mengingat Perseroan memiliki fasilitas Lab
pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)
dan personel yang memiliki kompetensi ahli di bidang precast untuk jasa sertifikasi produk precast.
Selain itu, Kemenperin sendiri sangat mendukung bila Perseroan membentuk LSPro, karena kemampuan
yang dimiliki Perseroan sebagai LSPro sangat lengkap dibanding perusahaan lainnya di Indonesia saat
ini.
Pertimbangan lainnya adalah, bahwa dalam menyusun draft Peraturan Menteri (Permen) untuk
pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP oleh AP3I, dari 212 ayat yang diusulkan, 128 ayat disusun
oleh Perseroan terutama terkait Keberterimaan Produk untuk sertifikasi produk. Penambahan KBLI
71201 Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 Jasa Inspeksi Teknis pada ruang lingkup Perseroan akan
memberikan peluang bagi Perseroan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya dalam rangka
menambah sumber pendapatan baru.
B. KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering
dan Teknologi
Perseroan merupakan perusahaan manufaktur dengan produk utama berupa produk-produk precast dan
beton readymix. Untuk mendukung bisnis utama tersebut, Perseroan membentuk laboratorium beton di
unit-unit produksi seperti di Plant Precast dan Batching Plant. Selain itu, khusus untuk Plant Precast yang
memproduksi produk putar seperti Spun Pile dilengkapi pula dengan workshop untuk Uji Bending
(Bending Test) di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |ii
Page 4
Untuk mendukung kegiatan pengembangan produk, di tahun 2017 Perseroan membentuk Laboratorium
Research Center (RC) yang berada di Gedung Learning Center, Karawang. Pada saat didirikan, Lab RC
berada dibawah Departemen Research Center, Divisi Engineering, Standardisasi & Research Center.
Berjalan dengan perkembangan bisnis Perseroan, berdasarkan Surat Keputusan Direksi no
116/SK/WBP/PEN 2023 tanggal 8 Agustus 2023, Lab RC berada dibawah Departemen Pengembangan
Bisnis, Divisi Pengembangan Bisnis & Marketing. Saat ini, Lab RC direncanakan untuk menjadi sumber
revenue baru Perseroan yaitu di bidang jasa pengujian Laboratorium. Hal ini direncanakan dengan
pertimbangan Perseroan memiliki mesin uji bending dengan teknologi terdepan di bidangnya, yaitu
kapasitas besar hingga 200 ton-force, lebar 1300mm, dan dilengkapi dengan digital load cell yang
terkoneksi dengan komputer sehingga hasil pengujian dapat tersimpan secara otomatis, menghindari
pengaruh kelalaian manusia karena kesalahan pencatatan. Selain itu, nilai buku dari mesin bending ini
sudah habis dipencatatan akunting, sehingga untuk pemanfaatan mesin bending test ini, biaya yang
diperlukan adalah untuk maintenance rutin dan kalibrasi saja. Diakhir tahun 2024, Lab RC sudah mampu
melayani jasa uji bending untuk eksternal dengan customer seperti: Jaya Huma Perkasa, PT Motive Mulia,
PT Indo Karya Beton, PT Adhi Persada Beton, disamping tetap melayani kebutuhan Plant Precast dan
proyek-proyek Perseroan.
Pada tahun 2024, berdasarkan Keputusan Direksi SK Nomor 100/SK/WBP/PEN/2024 tanggal 7 Juni 2024,
Lab RC menjadi unit bisnis yaitu Unit Laboratorium & Admixture Plant di bawah Equipment Division.
Kedudukan unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant masih tetap sampai keluarnya Keputusan Direksi
terakhir yaitu SK Nomor 79/SK/WBP/PEN 2025 tanggal 23 Juni 2025, dimana Unit Laboratorium &
Admixture Plant di bawah Divisi Peralatan.
Untuk meningkatkan performa unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant terutama bidang jasa
pengujian laboratorium, diawal tahun 2025 Unit Laboratorium Perseroan mengikuti proses akreditasi
KAN sebagai Laboratorium Penguji Kesesuaian (LPK) dan berhasil mendapatkan akreditasi KAN SNI
ISO/IEC 17025:2017 dengan nomor LP-2166-IDN. Akreditasi unit Lab Perseroan meliputi 20 jenis ruang
lingkup pengujian yaitu pengujian beton dan struktur, seperti uji bending produk Spun Pile, CCSP dan
Square Pile. Dalam status akreditasi ini Unit Laboratorium Perseroan dapat melakukan pengujian untuk
customer internal dan eksternal.
Saat ini di Indonesia LPK yang terakreditasi untuk pengujian bending selain unit Lab Perseroan adalah Lab
BRIN, dan lab uji bending lainnya yaitu Lab WiKa dan Lab Struktur ITS memiliki kapasitas terbatas dan
belum terakreditasi. Dengan rencana Kemenperin untuk pemberlakuan SNI 9156:2023 untuk produk
Spun Pile dan SNI 9157:2023 untuk produk turap beton bergelombang (CCSP) secara wajib dalam waktu
dekat, maka keberadaan unit Lab Perseroan sebagai lab uji bending terakreditasi KAN sangat berpotensi
untuk mendukung pelaksanaan SNI Wajib produk precast di Indonesia.
Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iii
Page 5
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.
Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.
Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis, dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh Perseroan (selanjutnya disebut
“Rencana Penambahan KBLI”).
Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.
Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.
Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).
Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Ibu I
Gusti Komang Sri Aryani sebagai manager laboratorium Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap fasilitas yang akan digunakan untuk Pengujian Laboratorium (”Uji Lab”) dan
sertifikasi produk.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iv
Page 6
Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Perseroan memiliki laboratorium pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP terakreditasi KAN;
• Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP menjadikan laboratorium Perseroan
sebagai laboratorium uji bending terakreditasi strategis;
• Unit laboratorium masih melaksanakan kegiatan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup yang
telah ditetapkan;
• Fasilitas laboratorium telah tersedia di beberapa lokasi, termasuk Karawang dan Sidoarjo;
• Unit Laboratorium berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Perseroan;
• LSPro hanya akan memberikan layanan sertifikasi untuk produk pihak eksternal;
• Produk milik Perseroan akan disertifikasi melalui kerja sama dengan lembaga sertifikasi lain
(misalnya BRIN atau B4T).
Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
dokumen legalitas Perseroan;
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |v
Page 7
prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.
Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.
Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.
Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.
Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vi
Page 8
Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
1. Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
jawab audit;
6. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
audit;
7. Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
8. Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
9. Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
lainnya yang kami anggap relevan.
Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.
Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vii
Page 9
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki Akreditasi sebagai
Laboratorium Penguji (LPK) dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai standar SNI ISO/IEC
17025:2017 (No. LP-2166-IDN). Rencana Penambahan KBLI 71201- Jasa Sertifikasi Teknis juga
dilakukan sebagai salah satu syarat mendapatkan Akreditasi LSPro dari Komite Akreditasi Nasional
(KAN) sesuai standar ISO/IEC 17065;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, dengan Rencana Penambahan KBLI merupakan langkah
strategis yang bersifat penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan. Rencana Penambahan
KBLI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, pengendalian mutu, optimalisasi
pemanfaatan fasilitas laboratorium, dan menambah pendapatan usaha;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan telah memiliki fasilitas laboratorium terakreditasi
KAN dengan peralatan pengujian yang modern, kapasitas uji bending yang besar, serta tenaga ahli
yang kompeten, sehingga mampu mendukung kegiatan pengujian secara andal. Dari sisi LSPro,
meskipun perizinan masih dalam proses, Perseroan memiliki potensi kapasitas pasar yang jelas
dengan target pelanggan dan volume sertifikasi yang terukur;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, keunggulan kompetitif Rencana Penambahan KBLI
terbentuk dari sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis, dengan keberlanjutan
yang bergantung pada kepatuhan terhadap perizinan, akreditasi, dan standar operasional. Perseroan
mampu menciptakan nilai melalui integrasi jasa sertifikasi produk dan pengujian laboratorium dengan
proses produksi dan pengendalian mutu yang telah berjalan;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan telah memiliki sumber daya manusia
yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan jasa pengujian laboratorium. Perseroan telah
memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana yang memadai
sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk melalui
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro);
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
positif dan analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi
dibandingkan arus kas keluar;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |viii
Page 10
Page 11
Page 12
DAFTAR ISI
PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI .......................................................................................... x
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. xi
DAFTAR TABEL........................................................................................................................... xiii
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................................... xv
1. LINGKUP PENUGASAN............................................................................................................ 1
1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................ 1
1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan ....................................................................................... 1
1.3. Status Penilai .................................................................................................................. 3
1.4. Objek Studi Kelayakan ..................................................................................................... 3
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan................................................................................. 3
1.6. Tanggal Studi Kelayakan .................................................................................................. 4
1.7. Mata Uang yang Digunakan .............................................................................................. 4
1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi ......................................................................................... 4
1.9. Hasil Inspeksi.................................................................................................................. 4
1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 4
1.11. Asumsi Khusus................................................................................................................ 5
1.12. Subsequent Event ........................................................................................................... 5
1.13. Metodologi Studi Kelayakan ............................................................................................. 5
1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan ...................................................................... 6
1.15. Sumber Data ................................................................................................................... 6
1.16. Independensi Penilai ....................................................................................................... 7
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ............................................................................ 7
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN ............................................................................................. 8
2.1. Gambaran Umum Perseroan ........................................................................................... 8
2.2. Pemegang Saham ........................................................................................................... 8
2.3. Susunan Pengurus .......................................................................................................... 8
2.4. Gambaran Usaha ............................................................................................................ 9
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional ...................................................................... 9
2.4.2. Analisis SWOT ............................................................................................................... 14
2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional ............................................................. 16
2.5. Kinerja Keuangan .......................................................................................................... 16
2.5.1. Laba Rugi Historis ......................................................................................................... 17
2.5.2. Posisi Keuangan Historis ............................................................................................... 18
2.5.3. Arus Kas Historis ........................................................................................................... 20
2.5.4. Rasio Keuangan Historis ................................................................................................ 21
3. ASPEK PASAR ....................................................................................................................... 23
3.1. Analisa Makro Ekonomi dan Pasar.................................................................................. 23
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan ..................................................................................... 23
3.1.2. Nilai Tukar Rupiah ......................................................................................................... 23
3.1.3. Suku Bunga ................................................................................................................... 24
3.1.4. Inflasi ............................................................................................................................ 25
3.2. Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi ......................................................................... 26
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xi
Page 13
3.3. Sertifikasi Badan Usaha (SBU) ....................................................................................... 29
3.3. Potensi dan Sasaran Pasar ............................................................................................ 30
3.4. Pesaing Usaha .............................................................................................................. 31
3.5. Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 33
3.6. Target Pasar .................................................................................................................. 36
3.7. Pemasok dan Pelanggan Utama ..................................................................................... 36
4. ASPEK TEKNIS ...................................................................................................................... 38
4.1. Kapasitas Segmen Usaha .............................................................................................. 38
4.2. Kajian Pasar Bisnis LSPro ............................................................................................... 44
4.3. Ketersediaan Bahan Baku .............................................................................................. 45
4.4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli...................................................... 45
4.5. Proses Produksi ............................................................................................................ 47
5. ASPEK POLA BISNIS.............................................................................................................. 53
5.1. Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 53
5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk .............................................................................. 54
5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai ..................................................................................... 55
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN ................................................................................................. 57
6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 57
6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual................................................................................... 59
6.3. Manajemen Risiko ......................................................................................................... 59
6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ......................................................................... 63
6.5. Struktur Kepemilikan Saham .......................................................................................... 64
6.6. Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................................... 66
7. ASPEK KEUANGAN ............................................................................................................... 67
7.1. Rencana Manajemen ..................................................................................................... 67
7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan .................................................................................... 67
7.3. Biaya Pendirian dan Investasi......................................................................................... 68
7.4. Biaya Operasional ......................................................................................................... 68
7.5. Biaya Bahan Baku .......................................................................................................... 69
7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point) ........................................................................... 69
7.7. Sumber Pendanaan ....................................................................................................... 69
7.8. Analisis Tingkat Diskonto ............................................................................................... 70
7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment .................................................. 71
7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih .......................................................................... 73
7.11. Analisis Kelayakan Investasi .......................................................................................... 73
7.12. Nilai Terminal ................................................................................................................ 75
7.13. Analisis Sensitivity ......................................................................................................... 75
8. KESIMPULAN ........................................................................................................................ 77
9. LAMPIRAN ............................................................................................................................ 78
10. REFERENSI .......................................................................................................................... 79
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xii
Page 14
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham.................................................................................................... 8
Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat ......................................................... 16
Tabel 3. Laporan Laba Rugi ............................................................................................................... 17
Tabel 4. Posisi Keuangan Historis ..................................................................................................... 18
Tabel 5. Arus Kas Historis ................................................................................................................. 20
Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis.......................................................................................... 22
Tabel 7. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026 .......................................................................... 27
Tabel 8. Analisa Kapasitas Pasar LSPro ............................................................................................. 40
Tabel 9. Perkiraan Permintaan Sertifikasi Produk Perseroan ............................................................... 41
Tabel 10. Proyeksi Jumlah Permintaan Sertifikasi Produk LSPro Perseroan ......................................... 41
Tabel 11. Daftar Peralatan Laboratorium Perseroan........................................................................... 42
Tabel 12. Estimasi Pendapatan Pengujian Laboratorium tahun 2026 .................................................. 42
Tabel 13. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (internal) ........................................... 43
Tabel 14. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (eksternal) ......................................... 43
Tabel 15. Biaya Sertifikasi Produk LSPro Perseroan ............................................................................ 45
Tabel 16. Ketersediaan Sumber Daya Manusia .................................................................................. 45
Tabel 17. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan ............................................................... 57
Tabel 18. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi....................................................................... 57
Tabel 19. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur ........................................................................ 58
Tabel 20. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan..................................................................... 58
Tabel 21. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian
Laboratorium) .................................................................................................................... 63
Tabel 22. Asumsi Proyeksi ................................................................................................................ 68
Tabel 23. Asumsi Proyeksi Pendapatan Unit Laboratorium ................................................................. 68
Tabel 24. Biaya Operasional ......................................................................................................... 68
Tabel 25. Analisis Titik Impas ............................................................................................................ 69
Tabel 26. WACC ............................................................................................................................... 71
Tabel 27. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI .................................................. 71
Tabel 28. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI .................................................... 72
Tabel 29. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI ..................... 73
Tabel 30. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI ....................... 73
Tabel 31. Analisis Kelayakan Investasi............................................................................................... 74
Tabel 32. Analisis Sensitivity Menggunakan Faktor Perubahan Pendapatan ........................................ 76
Tabel 33. Analisis Sensitivity Bila Jasa Sertifikasi Dilakukan pada Juli 2026 ......................................... 76
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiii
Page 15
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025.............................................................................. 23
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025 ........................................ 24
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025 ...................................................................................... 25
Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi ............................................................................... 28
Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia.............................................................................. 28
Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU) .................................................................................................. 29
Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang ..................... 29
Grafik 8. Prospek Jasa Pengujian tahun 2026 - internal .......................................................................... 43
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiv
Page 16
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota Asosiasi AP3I . 44
Gambar 2. Peta Tebaran Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota
Asosiasi AP3I .................................................................................................................. 44
Gambar 3. Struktur Organisasi Sementara LSPro ............................................................................... 46
Gambar 4. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix................................................................... 47
Gambar 5. Flowchart Prosedur Laboratorium .................................................................................... 49
Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham .................................................................................................. 65
Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan ......................................................................................... 66
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xv
Page 17
1. LINGKUP PENUGASAN
1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha : Pabrikasi Beton Pracetak (Precast), Readymix, Quarry dan Jasa Konstruksi
Alamat : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks : (021) 22892999
E-mail : info@waskitaprecast.co.id
1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan
A. KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis
AP3I sebagai Asosiasi Perusahaan Pracetak & Prategang di Indonesia saat ini beranggotakan sekitar 31
Precaster tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dimana hampir seluruh BUMN Precaster, termasuk
Perseroan, menjadi anggota AP3I. AP3I memiliki hubungan yang baik dengan pemangku jabatan
dipemerintahan (stakeholder), PUPR dan Kementerian. AP3I dibentuk dengan tujuan memberikan
dukungan terhadap perkembangan dan kemajuan sektor konstruksi di Indonesia, agar dapat mengikuti
pola industri manufaktur yang lebih efisien dari sistem konvensional, sehingga dapat menyokong industri
konstruksi nasional yang mampu berperan aktif dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Pasar
Global.
Pada tanggal 19 Februari 2024 AP3I mengajukan permohonan pemberlakuan SNI Wajib dari AP3I ke
Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil - Kementerian Perindustrian. Hal ini dilakukan karena
banyaknya produk-produk tiang pancang precast China yang membanjiri proyek-proyek di tanah air.
Selain itu Pemerintah Indonesia telah menerbitkan standar produk Spun Pile dan Corrugated Concrete
Sheet Pile (CCSP) melalui SNI 9156:2023 untuk produk Tiang Pancang Penampang Bulat Berongga
Prategang (Spun Pile) dan SNI 9157:2023 untuk produk Turap Beton Prategang Bergelombang (CCSP).
Berdasarkan hasil meeting terakhir di bulan Oktober 2025, Kemenperin berencana memberlakukan
kedua SNI di atas secara wajib. Untuk implementasi SNI Wajib diperlukan dua infrastruktur utama yaitu:
c. Laboratorium yang sudah terakreditasi sebagai Laboratorium Penguji (Lab Uji);
d. Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) sebagai Lembaga yang menerbitkan sertifikat produk-produk
sesuai ketentuan SNI (Standar Nasional Indonesia).
Saat ini belum ada LSPro terakreditasi dengan ruang lingkup sertifikasi produk Spun Pile dan CCSP di
Indonesia. Sebagai wujud percepatan realisasi rencana, Kemenperin menyarankan BRIN sebagai LSPro
terakreditasi untuk menambah ruang lingkup sertifikasi produk dengan sertifikasi produk Sun Pile dan
CCSP berdasarkan SNI 9156:2023 dan SNI 9157:2023. Dalam pelaksanaannya, BRIN menemui kesulitan
karena untuk proses penambahan ruang lingkup sertifikasi produk ini, BRIN memerlukan precaster yang
secara sukarela mengajukan produknya untuk disertifikasi.
Menanggapi keadaan tersebut, Unit Lab Perseroan menganggap ini sebagai peluang untuk Perseroan
mengembangkan bisnis di bidang sertifikasi produk mengingat Perseroan memiliki fasilitas Lab
pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)
dan personel yang memiliki kompetensi ahli di bidang precast untuk jasa sertifikasi produk precast.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |1
Page 18
Selain itu, Kemenperin sendiri sangat mendukung bila Perseroan membentuk LSPro, karena kemampuan
yang dimiliki Perseroan sebagai LSPro sangat lengkap dibanding perusahaan lainnya di Indonesia saat
ini.
Pertimbangan lainnya adalah, bahwa dalam menyusun draft Peraturan Menteri (Permen) untuk
pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP oleh AP3I, dari 212 ayat yang diusulkan, 128 ayat disusun
oleh Perseroan terutama terkait Keberterimaan Produk untuk sertifikasi produk. Penambahan KBLI
71201 Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 Jasa Inspeksi Teknis pada ruang lingkup Perseroan akan
memberikan peluang bagi Perseroan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya dalam rangka
menambah sumber pendapatan baru.
B. KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering
dan Teknologi
Perseroan merupakan perusahaan manufaktur dengan produk utama berupa produk-produk precast dan
beton readymix. Untuk mendukung bisnis utama tersebut, Perseroan membentuk laboratorium beton di
unit-unit produksi seperti di Plant Precast dan Batching Plant. Selain itu, khusus untuk Plant Precast yang
memproduksi produk putar seperti Spun Pile dilengkapi pula dengan workshop untuk Uji Bending
(Bending Test) di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo.
Untuk mendukung kegiatan pengembangan produk, di tahun 2017 Perseroan membentuk Laboratorium
Research Center (RC) yang berada di Gedung Learning Center, Karawang. Pada saat didirikan, Lab RC
berada dibawah Departemen Research Center, Divisi Engineering, Standardisasi & Research Center.
Berjalan dengan perkembangan bisnis Perseroan, berdasarkan Surat Keputusan Direksi no
116/SK/WBP/PEN 2023 tanggal 8 Agustus 2023, Lab RC berada dibawah Departemen Pengembangan
Bisnis, Divisi Pengembangan Bisnis & Marketing. Saat ini, Lab RC direncanakan untuk menjadi sumber
revenue baru Perseroan yaitu di bidang jasa pengujian Laboratorium. Hal ini direncanakan dengan
pertimbangan Perseroan memiliki mesin uji bending dengan teknologi terdepan di bidangnya, yaitu
kapasitas besar hingga 200 ton-force, lebar 1300mm, dan dilengkapi dengan digital load cell yang
terkoneksi dengan komputer sehingga hasil pengujian dapat tersimpan secara otomatis, menghindari
pengaruh kelalaian manusia karena kesalahan pencatatan. Selain itu, nilai buku dari mesin bending ini
sudah habis dipencatatan akunting, sehingga untuk pemanfaatan mesin bending test ini, biaya yang
diperlukan adalah untuk maintenance rutin dan kalibrasi saja. Diakhir tahun 2024, Lab RC sudah mampu
melayani jasa uji bending untuk eksternal dengan customer seperti: Jaya Huma Perkasa, PT Motive Mulia,
PT Indo Karya Beton, PT Adhi Persada Beton, disamping tetap melayani kebutuhan Plant Precast dan
proyek-proyek Perseroan.
Pada tahun 2024, berdasarkan Keputusan Direksi SK Nomor 100/SK/WBP/PEN/2024 tanggal 7 Juni 2024,
Lab RC menjadi unit bisnis yaitu Unit Laboratorium & Admixture Plant di bawah Equipment Division.
Kedudukan unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant masih tetap sampai keluarnya Keputusan Direksi
terakhir yaitu SK Nomor 79/SK/WBP/PEN 2025 tanggal 23 Juni 2025, dimana Unit Laboratorium &
Admixture Plant di bawah Divisi Peralatan.
Untuk meningkatkan performa unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant terutama bidang jasa
pengujian laboratorium, diawal tahun 2025 Unit Laboratorium Perseroan mengikuti proses akreditasi
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |2
Page 19
KAN sebagai Laboratorium Penguji Kesesuaian (LPK) dan berhasil mendapatkan akreditasi KAN SNI
ISO/IEC 17025:2017 dengan nomor LP-2166-IDN. Akreditasi unit Lab Perseroan meliputi 20 jenis ruang
lingkup pengujian yaitu pengujian beton dan struktur, seperti uji bending produk Spun Pile, CCSP dan
Square Pile. Dalam status akreditasi ini Unit Laboratorium Perseroan dapat melakukan pengujian untuk
customer internal dan eksternal.
Saat ini di Indonesia LPK yang terakreditasi untuk pengujian bending selain unit Lab Perseroan adalah Lab
BRIN, dan lab uji bending lainnya yaitu Lab WiKa dan Lab Struktur ITS memiliki kapasitas terbatas dan
belum terakreditasi. Dengan rencana Kemenperin untuk pemberlakuan SNI 9156:2023 untuk produk
Spun Pile dan SNI 9157:2023 untuk produk turap beton bergelombang (CCSP) secara wajib dalam waktu
dekat, maka keberadaan unit Lab Perseroan sebagai lab uji bending terakreditasi KAN sangat berpotensi
untuk mendukung pelaksanaan SNI Wajib produk precast di Indonesia.
Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.
1.3. Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.
1.4. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh Perseroan (selanjutnya disebut
“Rencana Penambahan KBLI”).
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |3
Page 20
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.
1.6. Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.
1.7. Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).
1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Ibu I
Gusti Komang Sri Aryani sebagai manager laboratorium Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap fasilitas yang akan digunakan untuk Pengujian Laboratorium (”Uji Lab”) dan
sertifikasi produk.
1.9. Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Perseroan memiliki laboratorium pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP terakreditasi KAN;
• Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP menjadikan laboratorium Perseroan
sebagai laboratorium uji bending terakreditasi strategis;
• Unit laboratorium masih melaksanakan kegiatan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup yang
telah ditetapkan;
• Fasilitas laboratorium telah tersedia di beberapa lokasi, termasuk Karawang dan Sidoarjo;
• Unit Laboratorium berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Perseroan;
• LSPro hanya akan memberikan layanan sertifikasi untuk produk pihak eksternal;
• Produk milik Perseroan akan disertifikasi melalui kerja sama dengan lembaga sertifikasi lain
(misalnya BRIN atau B4T).
1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
dokumen legalitas Perseroan;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |4
Page 21
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.
1.11. Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.
1.12. Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.
1.13. Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |5
Page 22
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.
1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya.
1.15. Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
• Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
audit;
• Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
• Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
• Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
lainnya yang kami anggap relevan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |6
Page 23
1.16. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |7
Page 24
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Gambaran Umum Perseroan
PT Waskita Beton Precast Tbk (Perseroan) didirikan berdasarkan Akta No. 10 tanggal 7 Oktober 2014 dari
Fathiah Helmi, S.H., Notaris publik di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui surat keputusan No. AHU-29347.40.10.2014 tanggal 14
Oktober 2014.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris No.
58 tanggal 14 November 2025, yang dibuat di hadapan Notaris Aulia Taufani, S.H., mengenai Berita Acara
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
Entitas induk langsung dan terakhir Perseroan adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang didirikan dan
berdomisili di Indonesia. Perseroan berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat berlokasi di Gedung
Vasaka Lantai 5 Jl. MT Haryono Kav. 10A, Jakarta Timur 13340.
2.2. Pemegang Saham
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, susunan pemegang saham adalah
sebagai berikut:
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham
Pemegang Saham Persentase Jumlah Saham Jumlah Nominal (Rp)
Kepemilikan (%)
PT Waskita Karya (Persero) Tbk 28,21% 16.017.557.697 1.591.711.914.800
PT Intiniaga Sukses Abadi 6,90% 3.918.646.978 195.932.348.900
Koperasi Waskita Karya 0,00% 13.935 1.393.500
PT Waskita Beton Precast Tbk 3,25% 1.845.281.000 184.528.100.000
Masyarakat 61,64% 34.998.978.876 2.184.908.043.800
Jumlah 100,00% 56.780.478.486 4.157.081.801.000
Sumber: Laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025
2.3. Susunan Pengurus
Susunan Direksi dan Komisaris Perseroan per 31 Desember 2025 berdasarkan Akta Notaris No. 58
tanggal 14 November 2025 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani, S.H Notaris di Jakarta Selatan adalah
sebagai berikut:
Direksi
Direktur Utama : Anak Agung Gede Sumadi Suka Sedana
Direktur Keuangan : Fathul Anwar
Direktur Operasi : Itung Prasaja
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Raden Mas Aris Santosa
Komisaris Independen : Indra Utama
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |8
Page 25
Komisaris Independen : Ahmad Subagya
2.4. Gambaran Usaha
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan melakukan usaha di bidang industri
pabrikasi, industri konstruksi, jasa, pekerjaan terintegrasi (Engineering, Procurement and Construction:
EPC), perdagangan, agro industri, jasa penyewaan, transportasi, investasi, pengelolaan kawasan, jasa
keagenan, pembangunan, layanan jasa peningkatan kemampuan di bidang konstruksi, teknologi
informasi serta kepariwisataan dan pengembangan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan
dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan
dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut:
1. Industri Pabrikasi Barang dan Bahan Bangunan untuk Konstruksi, antara lain:
a. Industri barang dari semen dan kapur untuk konstruksi;
b. Industri Mortar atau Beton Siap Pakai;
c. Instalasi/ Pemasangan Mesin dan Peralatan Industri;
d. Industri Mesin Pertanian dan Kehutanan;
e. Industri Barang Bangunan dari Kayu;
f. Industri Bangunan Prafabrikasi dari Kayu;
g. Industri Batu Bata dari Tanah Liat/Keramik;
h. Industri Genteng dari Tanah Liat/Keramik;
i. Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng;
j. Industri Semen;
k. Industri Kapur;
l. Industri Gips;
m. Industri Barang dari Gips untuk Konstruksi;
n. Industri Barang dari Asbes untuk Keperluan Bahan Bangunan;
o. Industri Barang dari Marmer dan Granit untuk Keperluan Bahan Bangunan;
p. Industri Barang dari Logam Bukan Aluminium Siap Pasang Untuk Bangunan;
q. Industri Barang dari Logam Aluminium Siap Pasang untuk Bangunan;
r. Industri Konstruksi Berat Siap Pasang dari Baja untuk Bangunan;
s. Industri Barang dari Logam Siap Pasang untuk Konstruksi Lainnya;
t. Industri Mesin Penambahan, Penggalian dan Konstruksi;
u. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Industri;
v. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Infratruktur;
w. Industri Barang dan Peralatan Teknik/Industri dari Plastik;
x. Industri Barang dari Plastik Untuk Bangunan;
y. Industri Pipa Plastik dan Perlengkapannya;
z. Industri Barang Plastik Lembaran;
aa. Industri Besi dan Baja Dasar (Iron and Steel Making);
bb. Industri Penggilingan Baja (Steel Rolling);
cc. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Baja dan Besi;
dd. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Logam Bukan Besi dan Baja;
ee. Industri Tangki, Tandon Air dan Wadah Dari Logam;
ff. Industri Generator Uap, Bukan Ketel Pemanas;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |9
Page 26
gg. Industri Peralatan Umum;
hh. Industri Barang Dari Kawat;
ii. Industri Paku, Mur Dan Baut.
2. Industri Konstruksi, antara lain:
a. Konstruksi Bangunan Sipil:
• Kontruksi Bangunan Sipil Jembatan, Jalan Layang, Fly Over, dan Underpass;
• Konstruksi Bangunan Sipil Jalan;
• Konstruksi Jalan Rel;
• Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Sipil;
• Konstruksi Jaringan Irigasi dan Drainase;
• Konstruksi Bangunan Sipil Pengolahan Air Bersih;
• Konstruksi Bangunan Sipil Prasarana dan Sarana Sistem Pengolahan Limbah Padat, Cair, dan
Gas;
• Pengerukan;
• Jasa Pekerjaan Konstruksi Pelindung Pantai;
• Konstruksi Terowongan;
• Konstruksi Bangunan Sipul Elektrikal;
• Konstruksi Reservoir Pembangkit Listrik Tenaga Air;
• Konstruksi Bangunan Sipil Minyak dan Gas Bumi;
• Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Olah Raga;
• Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Pengolahan Produk Kimia, Petrokimia, Farmasi, dan Industri
Lainnya;
• Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Militer dan Peluncuran Satelit;
• Konstruksi Bangunan Sipil Telekomunikasi untuk Prasarana Transportasi;
• Konstruksi Khusus Bangunan Sipil Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
• Konstruksi Jaringan Irigasi, Komunikasi, dan Limbah Lainnya;
• Konstruksi Bangunan Prasarana Sumber Daya Air;
• Konstruksi Bangunan Pelabuhan Bukan Perikanan;
• Konstruksi Bangunan Pelabuhan Perikanan;
• Konstruksi Sentral Telekomunikasi;
• Pembuatan/Pengeboran Sumur Air Tanah;
• Konstruksi Bangunan Sipil Pertambangan;
• Konstruksi Bangunan Sipil Panas Bumi;
• Pemasangan Kerangka Baja.
b. Konstruksi Gedung:
• Konstruksi Gedung Industri;
• Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Gedung;
• Konstruksi Gedung Hunian;
• Konstruksi Gedung Perkantoran;
• Konstruksi Gedung Perbelanjaan;
• Konstruksi Gedung Kesehatan;
• Konstruksi Gedung Pendidikan;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |10
Page 27
• Konstruksi Gedung Penginapan;
• Konstruksi Gedung Tempat Hiburan dan Olahraga;
• Konstruksi Gedung Lainnya;
c. Penyelesaian Konstruksi, antara lain:
• Pengerjaan Pemasangan Kaca dan Alumunium;
• Pengerjaan Lantai, Dinding, Peralatan Saniter dan Plafon;
• Dekorasi Interior;
• Penyelesaian Konstruksi Bangunan Lainnya.
d. Konstruksi Khusus dan Konstruksi Khusus Lainnya:
• Penyiapan Lahan;
• Pemasangan Pondasi dan Tiang Pancang;
• Pemasangan Perancah (Steiger);
• Pemasangan Rangka dan Atap/Roof Covering;
• Konstruksi Khusus Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
• Pembongkaran;
• Instalasi Sinyal Dan Rambu-rambu Jalan Raya.
3. Pekerjaan Terintegrasi (EPC) dalam bidang, antara lain:
a. Pembangkit Tenaga Listrik;
b. Pembangkit, Transmisi, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
c. Pembangkit, Transmisi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
d. Pembangkit, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
e. Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik;
f. Transmisi Tenaga Listrik;
g. Distribusi, Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
h. Distribusi Tenaga Listrik;
i. Pengadaan Gas Alam dan Buatan;
j. Distribusi Gas Alam dan Buatan;
k. Pengadaan Gas Bio.
4. Pertambangan dan Penggalian, antara lain:
a. Penggalian Batu Hias dan Batu Bangunan;
b. Penggalian Batu Kapur/Gamping;
c. Penggalian Kerikil/Sirtu;
d. Penggalian Pasir;
e. Penggalian Tanah dan Tanah Liat;
f. Penggalian Gips;
g. Penggalian Tras;
h. Penggalian Batu Apung;
i. Penggalian Batu, Pasir, dan Tanah Liat Lainnya;
j. Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi Dan Gas Alam;
k. Aktivitas Penunjang Pertambangan dan Penggalian Lainnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |11
Page 28
5. Aktivitas Penyewaan Peralatan Konstruksi, antara lain:
a. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi;
b. Penyewaan Alat Konstruksi Dengan Operator;
c. Aktivitas Perawatan dan Pemeliharaan Taman.
6. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal termasuk Jaringan dan Instalasi, antara lain:
a. Instalasi Listrik;
b. Instalasi Mekanikal;
c. Instalasi Saluran Air (Plambing);
d. Instalasi Pendingin dan Ventilasi Udara;
e. Instalasi Pemanas dan Geotermal;
f. Instalasi Minyak dan Gas;
g. Instalasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika;
h. Instalasi Elektronika;
i. Instalasi Fasilitas Sumber Radiasi Pengion;
j. Instalasi Nuklir;
k. Instalasi Sinyal dan Telekomunikasi Kereta Api;
l. Instalasi Telekomunikasi;
m. Jasa Instalasi Konstruksi Navigasi Laut, Sungai, dan Udara.
7. Perdagangan Besar:
a. Perdagangan Besar Semen, Kapur, Pasir, dan Batu;
b. Perdagangan Besar Barang Logam untuk Bahan Konstruksi;
c. Perdagangan Besar Logam dan Bijih Logam;
d. Perdagangan Besar Alat Transportasi Darat (Bukan Mobil, Sepeda Motor, dan Sejenisnya), Suku
Cadang dan Perlengkapan;
e. Perdagangan Besar Bahan Konstruksi dari Porselen;
f. Perdagangan Besar Mesin Kantor dan Industri Pengolahan, Suku Cadang, dan Perlengkapannya;
g. Perdagangan Besar Berbagai Macam Material Bangunan;
h. Perdagangan Besar Mesin, Peralatan dan Perlengkapannya Lainnya;
i. Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin Dan Sejenisnya dari Tanah Liat, Kapur, Semen atau
Kaca;
j. Perdagangan Besar Bahan Konstruksi Lainnya;
k. Perdagangan Besar Berbagai Macam Barang.
8. Real Estate:
a. Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
b. Penyewaan Venue Penyelenggaraan Aktivitas MICE dan Event Khusus;
c. Kawasan Industri.
9. Aktivitas Profesional, Ilmiah dan Teknis:
a. Aktivitas Arsitektur;
b. Aktivitas Keinsinyuran dan Konsultasi Teknis yang Berhubungan Dengan Itu.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |12
Page 29
10. Informasi dan Komunikasi:
a. Penerbitan Piranti Lunak (Software).
11. Pengangkutan dan Pergudangan:
a. Angkutan Bermotor untuk Barang Umum;
b. Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus;
c. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Umum;
d. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Khusus;
e. Angkutan Laut Dalam Negeri Perintis untuk Barang;
f. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Umum;
g. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Khusus;
h. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Umum dan/atau Hewan;
i. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Khusus;
j. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Berbahaya;
k. Angkutan Penyeberangan Umum Antar provinsi untuk Barang;
l. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar provinsi untuk Barang;
m. Angkutan Penyeberangan Umum Antar kabupaten/kota untuk Barang;
n. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar kabupaten/kota untuk Barang;
o. Angkutan Penyeberangan Umum Dalam Kabupaten/kota untuk Barang;
p. Angkutan Penyeberangan Lainnya untuk Barang Termasuk Penyeberangan Antarnegara.
12. Investasi dan/atau pengelolaan usaha di bidang yang terkait dengan kegiatan usaha utama
Perseroan.
Selain kegiatan usaha utama, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yang mendukung
kegiatan usaha utama, antara lain:
1. Layananan Jasa Konsultasi (Konsultan) Manajemen:
a. Aktivitas Kantor Pusat;
b. Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya.
2. Agro Industri:
a. Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (Crude Palm Oil);
b. Industri Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit (Crude Palm Kernel Oil/CPKO);
c. Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
d. Industri Pemurnian Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
e. Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Kelapa Sawit;
f. Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Inti Kelapa Sawit;
g. Pergudangan dan Penyimpanan.
3. Layanan Jasa Bidang Teknologi Informasi dan Kepariwisataan:
a. Aktivitas Pengembangan Aplikasi Perdagangan Melalui Internet (E-commerce);
b. Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya;
c. Aktivitas Konsultasi Keamanan Informasi;
d. Aktivitas Konsultasi Komputer dan Manajemen Fasilitas Komputer Lainnya;
e. Aktivitas Teknologi Informasi dan Jasa Komputer Lainnya;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |13
Page 30
f. Kawasan Pariwisata;
g. Aktivitas Konsultansi Pariwisata.
4. Pengelolaan Limbah B3:
a. Pengumpulan Air Limbah Berbahaya;
b. Treatment dan Pembuangan Air Limbah Berbahaya;
c. Pengumpulan Limbah Berbahaya;
d. Treatment Dan Pembuangan Limbah Berbahaya.
2.4.2. Analisis SWOT
Berikut adalah analisis SWOT Perseroan:
Kekuatan (Strength):
a. Perseroan memiliki sinergi operasional dengan grup usaha induk yang mendukung akses terhadap
peluang proyek;
b. Jaringan fasilitas produksi dan batching plant yang tersebar di wilayah strategis mendukung
kelancaran distribusi produk;
c. Kapasitas produksi yang relatif memadai untuk memenuhi kebutuhan proyek berskala menengah
hingga besar;
d. Portofolio produk beton pracetak yang relatif beragam sesuai dengan kebutuhan proyek
infrastruktur;
e. Pengalaman Perseroan dalam pelaksanaan proyek berskala besar mendukung tingkat kepercayaan
pemberi kerja;
f. Perseroan memiliki precast plant yang memproduksi bermacam jenis Spun Pile & CCSP;
g. Perseroan mempunyai kepemilikan laboratorium dan sarana pendukung yang lengkap untuk
melakukan pengujian produk yang disyaratkan dalam SNI 9156:2023 & SNI 9157:2023 dan telah
terakreditasi KAN ISO 17025:2017;
h. Perseroan memiliki kompeten person yang bisa melakukan pengujian produk precast;
i. Unit laboratorium Perseroan sudah terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2017 dengan status dapat
melakukan pengujian untuk customer internal & eksternal;
j. Perseroan memiliki peralatan pengujian dengan kapasitas dan teknologi terdepan saat ini untuk uji
bending;
k. Perseroan memiliki dua mesin bending yaitu di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo yang keduanya
memiliki kapasitas yang sama, yang dapat melayani customer untuk wilayah Indonesia Barat
(Karawang) dan Indonesia Timur (Plant Sidoarjo);
l. Lokasi laboratorium yang mudah dijangkau;
m. Metode kerja yang efektif, mampu menangani uji bending 6 batang per hari;
n. Laboratorium pengujian yang dibangun di atas lahan plant Sidoarjo dan Karawang tidak dalam
kondisi terikat sebagai jaminan kepada pihak kreditur Perseroan.
Kelemahan (Weakness):
a. Kondisi keuangan Perseroan masih memerlukan pengelolaan yang prudent untuk menjaga stabilitas
arus kas;
b. Ketergantungan yang relatif tinggi terhadap proyek pemerintah dan BUMN;
c. Kompleksitas pengelolaan operasional dan proyek memerlukan sistem pengendalian yang ketat;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |14
Page 31
d. Tingkat diversifikasi sumber pendapatan Perseroan masih terbatas;
e. Bisnis sertifikasi produk precast SNI merupakan bisnis yang baru dan belum ada yang melakukan
sertifikasi (tidak bisa melakukan benchmark);
f. Core business Perseroan berupa manufaktur, sehingga perlu penambahan KBLI atau membuat anak
usaha baru untuk menjalankan Rencana Penambahan KBLI ;
g. Belum memiliki personil yang kompeten untuk melakukan sertifikasi;
h. Saat SNI wajib diberlakukan, LSPro Perseroan tidak dapat mensertifikasi produk Perseroan;
i. Unit operasional laboratorium & admixture plant saat ini masih berstatus cost center, sehingga
proses bisnis pemasaran dan penjualan masih bergantung pada masing-masing divisi terkait;
j. Personil teknisi laboratorium saat ini berjumlah 3 orang, bila menangani jumlah pengujian yang lebih
besar atau wilayah mencakup plant Sidoarjo, perlu untuk penambahan personil, terutama teknisi
pengujian.
Peluang (Opportunity):
a. Program pembangunan jalan, jembatan, irigasi, perumahan, dan fasilitas publik terus tumbuh di
Indonesia, menciptakan permintaan jangka panjang untuk beton precast;
b. Perseroan menargetkan ekspansi pangsa pasar, inovasi produk sistem load bearing wall, serta
penetrasi ke segmen swasta yang lebih besar;
c. Inisiatif seperti program penghijauan mencerminkan upaya memperkuat citra merek sebagai
perusahaan yang peduli lingkungan, sesuai tren ESG global;
d. Peluang kerja sama, joint operation, dan kemitraan strategis dengan pihak lain;
e. Peningkatan efisiensi operasional melalui optimalisasi proses dan penerapan digitalisasi;
f. Potensi diversifikasi pasar ke segmen industri dan properti;
g. Adanya regulasi pemerintah yang mewajibkan produsen precast spun pile & CCSP untuk
mensertifikasi produknya;
h. Banyaknya pabrik precast di Indonesia yang dapat menjadi ceruk pasar potensial untuk dioptimalkan
sebagai pasar jasa sertifikasi;
i. Total 90 jenis/kelas produk spun pile dan 24 jenis/kelas produk CCSP yang akan dilakukan sertifikasi
68 precast plant di Indonesia;
j. Unit laboratorium mendapat peluang dari Kemenperin untuk mensupport implementasi SNI Wajib
SNI 9156:2023 & SNI 9157:2023;
k. Laboratorium uji bending terakreditasi di Indonesia jumlahnya masing sangat kecil (2-3 Lab Uji) untuk
pasa seluruh Indonesia;
l. Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile & CCSP memerlukan lab uji terakreditasi KAN untuk
penentuan sertifikasi produk SNI;
m. Menjadi sumber revenue baru bagi Perseroan yang dapat mendatangkan cash flow secara cepat
karena menawarkan jasa pengujian dengan pembayaran di depan tanpa memerlukan modal awal
yang tinggi untuk pelaksanannya;
n. Keberadaan unit laboratorium Perseroan yang sudah terakreditasi memberikan nilai lebih untuk
produk-produk yang dihasilkan Perseroan karena didukung oleh laboratorium uji untuk jaminan
validitas kualitas bahan baku dan produk jadi.
Ancaman (Threats):
a. Kenaikan biaya bahan baku (semen, agregat) atau tekanan ekonomi dapat mempengaruhi margin
dan daya saing harga;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |15
Page 32
b. Tingkat persaingan usaha di industri beton precast relatif ketat. Industri beton precast di Indonesia
memiliki banyak pemain besar dan lokal, yang bisa menekan pangsa pasar dan margin keuntungan;
c. Penurunan atau pergeseran prioritas anggaran infrastruktur nasional dapat mengurangi permintaan
signifikan untuk produk precast;
d. Kondisi suku bunga, likuiditas sektor konstruksi, serta risiko kredit klien dapat menimbulkan tekanan
likuiditas dan piutang usaha;
e. Risiko keterlambatan pembayaran pada proyek tertentu;
f. Perubahan kondisi makroekonomi, kebijakan fiskal, serta regulasi dan ketentuan lingkungan;
g. Adanya kompetitor yang dapat melakukan jasa pengujian laboratorium dan ingin melakukan inisiasi
jasa sertifikasi SNI produk precast juga (BRIN, B4T, WIKA, dll);
h. Belum adanya kajian lanjut mengenai market opportunity terhadap jasa sertifikasi;
i. Kurangnya/tidak adanya customer eksternal yang menggunakan jasa laboratorium Perseroan karena
dipandang sebagai kompetitor, unit laboratorium berada dalam satu organisasi dalam Perseroan;
j. Bila para stakeholder tidak setuju untuk menambahkan KBLI 71202 dalam AD ART Perseroan maka
status LPK Laboratorium Perseroan terhadap jasa layanan eksternal mungkin dihentikan dan unit
laboratorium Perseroan tidak dapat memberikan jasa pengujian untuk customer eksternal.
2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional
Berikut adalah perizinan Perseroan dokumen perizinan dan sertifikat terkait operasional:
Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat
No. Dokumen Perizinan
1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) No. 138/24.1PB.7/31.75/1.824.27/e/2016, di keluarkan
oleh Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Administrasi Jakarta Timur pada tanggal
24 Juni 2016;
2. Sertifikat Akreditasi kompetensi sebagai Laboratorium Pengujian dengan menerapkan secara
konsisten SNI ISO/IEC 17025:2017 Nomor LP-2166-IDN tanggal 16 Sepoleh Komite Akreditasi
Nasional (KAN) yang berlaku hingga 16 September 2030;
3. Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Perkerasan Kaku Panel Beton Bertulang”
Nomor IDP000080495 tanggal 23 Desember 2021 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia;
4. Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Peningkatan Kekakuan Balok Beton Girded”
Nomor IDP000082699 tanggal 25 Agustus 2022 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia
Sumber: manajamen
2.5. Kinerja Keuangan
Analisa kinerja keuangan Perseroan merujuk pada laporan keuangan audit sebagai berikut:
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |16
Page 33
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
audit.
2.5.1. Laba Rugi Historis
Berikut merupakan laporan laba rugi Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Tabel 3. Laporan Laba Rugi
Audited Audited Audited Audited Audited
FY 2021 FY 2022 FY 2023 FY 2024 FY 2025
PENDAPATAN USAHA 1.380.071.332.830 2.062.171.056.660 1.487.587.869.182 1.971.896.434.453 1.569.574.633.435
BEBAN POKOK PENDAPATAN (1.073.122.548.594) (1.757.946.301.923) (1.496.422.947.848) (1.602.221.726.484) (1.295.108.480.705)
LABA (RUGI) KOTOR 306.948.784.236 304.224.754.737 (8.835.078.666) 369.674.707.969 274.466.152.730
BEBAN USAHA
-Beban penjualan (154.906.009.569) (117.165.244.103) (93.827.185.052) (137.382.281.636) (99.214.906.502)
-Beban umum dan administrasi (1.216.866.984.564) (543.517.558.361) (506.330.402.796) (473.730.737.601) (380.593.521.729)
-Beban non-contributing plant (361.571.262.752) (428.526.709.516) (114.992.729.802) (90.536.547.630) (22.938.670.562)
-Beban pajak penghasilan final (8.654.167.357) (4.465.123.541) (1.275.123.574) (7.387.409.122) (8.599.161.342)
-Keuntungan selisih kurs-bersih 515.902.590 294.219.783 (63.617.835) 6.981.533 -
-Pendapatan bunga 1.165.943.389 1.848.023.168 2.131.062.433 2.628.660.841 2.164.160.366
-(Beban)/pendapatan lain-lain 107.256.234.308 1.914.352.587.000 976.457.459.505 (376.662.364.015) (12.840.777.034)
JUMLAH BEBAN USAHA (1.633.060.343.955) 822.820.194.430 262.099.462.879 (1.083.063.697.630) (522.022.876.803)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN PAJAK (1.326.111.559.719) 1.127.044.949.167 253.264.384.213 (713.388.989.661) (247.556.724.073)
Beban keuangan (617.250.878.677) (451.275.271.676) (246.964.100.404) (283.912.861.098) (289.812.847.400)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK (1.943.362.438.396) 675.769.677.491 6.300.283.809 (997.301.850.759) (537.369.571.473)
Beban pajak pengasilan - - - - -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN (1.943.362.438.396) 675.769.677.491 6.300.283.809 (997.301.850.759) (537.369.571.473)
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025
Pendapatan Usaha
Perseroan membukukan pendapatan usaha pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,38
triliun, Rp2,06 triliun, Rp1,49 triliun, Rp1,97 triliun, dan Rp1,57 triliun. Pendapatan Perseroan terdiri dari
pendapatan precast, readymix dan quarry, dan jasa konstruksi.
Beban Pokok Pendapatan
Perseroan membukukan beban pokok pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp1,07 triliun, Rp1,76 triliun, Rp1,50 triliun, Rp1,60 triliun, dan Rp1,30 trilliun dengan persentase beban
pokok pendapatan terhadap pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 77,76%,
85,25%, 100,59%, 81,25%, dan 82,51%.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |17
Page 34
Laba (Rugi) Bruto
Perseroan membukukan laba (rugi) bruto pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp306,95
miliar, Rp304,22 miliar, -Rp8,84 miliar, Rp369,67 miliar, dan Rp274,47 miliar. Rasio gross profit margin
pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 22,24%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Pada tahun 2021-2025 Perseroan membukukan laba (rugi) tahun berjalan sebesar -Rp1,94 triliun,
Rp675,77 miliar, Rp6,30 miliar, -Rp997,30 miliar, dan -Rp537,37 miliar, dengan rasio net profit margin
masing-masing sebesar -140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,58%, dan -34,24%.
2.5.2. Posisi Keuangan Historis
Berikut merupakan laporan posisi keuangan audit Perseroan per 31 Desember 2021-2025 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Tabel 4. Posisi Keuangan Historis
Audited Audited Audited Audited Audited
31-Des-21 31-Des-22 31-Des-23 31-Des-24 31-Des-25
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 93.663.903.876 238.946.856.294 120.811.660.447 205.754.409.914 61.564.390.064
Piutang usaha - bersih 1.355.257.478.764 833.266.141.011 594.710.168.095 423.536.146.007 387.469.159.954
Piutang retensi - - 215.215.120.561 147.235.855.685 135.813.511.645
Piutang lain-lain 7.084.407.572 25.088.893.954 92.371.068.048 17.594.770.842 33.510.791.231
Persediaan 595.242.754.827 346.193.304.408 250.412.830.030 204.660.747.845 144.451.619.599
Tagihan bruto kepada pelanggan 433.535.963.211 693.954.287.674 317.540.931.290 269.546.204.541 105.535.772.286
Pajak dibayar dimuka 76.103.832.912 78.281.924.160 56.794.854.347 15.487.676.601 14.191.305.724
Uang muka kepada pihak ketiga 630.886.048 181.438.416 163.947.000 10.453.683.076 1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka 107.598.946.352 18.179.117.854 30.056.164.026 34.564.334.064 18.147.279.147
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual 1.518.964.267.107 - - - -
TOTAL ASET LANCAR 4.188.082.440.669 2.234.091.963.771 1.678.076.743.844 1.328.833.828.575 901.816.775.490
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih 2.574.848.019.701 3.680.901.556.393 2.752.256.841.256 2.221.654.000.209 2.100.181.791.052
Aset hak guna-bersih 24.799.222.403 13.658.822.942 8.776.645.123 2.876.247.785 1.593.892.238
Aset lain-lain 94.347.599.386 35.005.608.772 34.035.490.279 65.266.579.946 51.948.553.268
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 2.693.994.841.490 3.729.565.988.107 2.795.068.976.658 2.289.796.827.940 2.153.724.236.558
TOTAL ASET 6.882.077.282.159 5.963.657.951.878 4.473.145.720.502 3.618.630.656.515 3.055.541.012.048
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek 3.865.231.347.315 671.127.052.204 671.127.052.204 671.127.052.204 671.127.052.204
Utang usaha 3.034.924.879.645 3.280.373.013.202 1.271.173.226.772 1.157.027.017.404 878.270.818.030
Utang bruto - - 238.612.349.835 226.699.845.044 190.304.291.141
Utang lain-lain 77.244.775.940 19.002.499.800 27.998.786.844 23.080.311.358 45.178.353.760
Utang pajak 53.302.816.824 45.882.235.407 46.354.594.135 58.385.381.435 42.031.008.270
Beban akrual 570.862.935.623 578.761.527.452 294.732.578.506 267.933.831.991 235.109.555.525
Uang muka dari pelanggan 24.805.239.928 73.601.909.332 91.703.326.266 100.372.326.972 79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa 4.075.000.000 2.971.809.989 4.347.202.066 1.338.809.772 124.875.000
Utang Obligasi 1.997.171.930.923 1.850.769.921.111 - - -
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK 9.627.618.926.198 6.522.489.968.497 2.646.049.116.628 2.505.964.576.180 2.142.117.535.788
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang - 1.308.275.651.721 1.574.516.258.694 1.665.042.209.850 1.770.437.877.557
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa 13.043.044.665 6.982.749.773 5.252.449.858 2.354.568.658 1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih - 211.745.939.370 228.966.761.482 248.133.967.027 269.467.545.964
Obligasi wajib konversi - - 651.812.439.998 727.654.656.836 807.696.669.091
Liabilitas imbalan pascakerja 19.944.376.296 17.372.141.941 31.042.785.396 27.293.676.571 31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG 32.987.420.961 1.544.376.482.805 2.491.590.695.428 2.670.479.078.942 2.880.558.090.375
TOTAL LIABILITAS 9.660.606.347.159 8.066.866.451.302 5.137.639.812.056 5.176.443.655.122 5.022.675.626.163
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |18
Page 35
Audited Audited Audited Audited Audited
31-Des-21 31-Des-22 31-Des-23 31-Des-24 31-Des-25
EKUITAS
Modal saham 2.636.115.753.400 2.636.115.753.400 4.045.843.942.950 4.072.310.311.658 4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor 3.944.529.408.861 3.944.529.408.861 3.967.367.005.532 3.967.795.760.697 3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit) (8.865.384.735.136) (8.190.064.169.560) (8.183.915.547.911) (9.180.584.963.385) (9.717.211.852.986)
Komponen ekuitas lainnya 282.164.230.215 282.164.230.215 282.164.230.215 358.619.614.763 399.780.101.390
TOTAL EKUITAS (2.778.529.065.000) (2.103.208.499.424) (664.494.091.554) (1.557.812.998.607) (1.967.134.614.115)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 6.882.077.282.159 5.963.657.951.878 4.473.145.720.502 3.618.630.656.515 3.055.541.012.048
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025
Kas dan Setara Kas
Perseroan mencatatkan kas dan setara kas per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp93,66 miliar, Rp238,95 miliar, Rp120,81 miliar, Rp205,75 miliar, dan Rp61,56 miliar dengan rasio kas
masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali.
Piutang Usaha
Perseroan mencatatkan piutang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,36
triliun, Rp833,27 miliar, Rp594,71 miliar, Rp423,54 miliar, dan Rp387,47 miliar. Hari perputaran piutang
usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, dan 89
hari.
Persediaan
Perseroan mencatat persediaan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp595,24 miliar,
Rp346,19 miliar, Rp250,41 miliar, Rp204,66 miliar, dan Rp144,45 dengan hari perputaran persediaan
masing-masing sebesar 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, dan 40 hari.
Aset Tetap
Perseroan mencatatkan aset tetap bersih per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,57
triliun, Rp3,68 triliun, Rp2,75 triliun, Rp2,22 triliun, dan Rp2,10 triliun atau berkisar 37,41% - 68,73% dari
total aset per 31 Desember 2021-2025. Aset tetap Perseroan berupa tanah, gedung dan pabrik,
perlengkapan kantor, peralatan, dan kendaraan.
Utang Usaha
Perseroan memiliki utang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp3,03 triliun,
Rp3,28 triliun, Rp1,27 triliun, Rp1,16 triliun, dan Rp878,27 miliar dengan hari perputaran utang usaha
masing-masing 1.018 hari, 672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.
Total Liabilitas Jangka Pendek
Perseroan memiliki total liabilitas jangka pendek per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp9,63 triliun, Rp6,52 triliun, Rp2,65 triliun, Rp2,51 triliun, dan Rp2,14 triliun. Total liabilitas jangka
pendek Perseroan terdiri dari utang bank jangka pendek, utang usaha, utang bruto, utang pajak, utang
lain-lain, beban akrual, dan liabilitas sewa.
Total Liabilitas Jangka Panjang
Perseroan memiliki total liabilitas jangka panjang per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp32,99 miliar, Rp1,54 triliun, Rp2,49 triliun, Rp2,67 triliun, dan Rp2,88 triliun. Total liabilitas jangka
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |19
Page 36
panjang Perseroan terdiri dari utang bank jangka panjang, liabilitas sewa, utang obligasi bersih, obligasi
wajib konversi, dan liabilitas imbalan pasca kerja.
Total Ekuitas
Total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar -Rp2,78 triliun, -Rp2,10
triliun, -Rp664,49 miliar, -Rp1,56 triliun, dan -Rp1,97 triliun. Modal saham ditempatkan dan disetor
penuh Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,64 triliun, Rp2,64 triliun,
Rp4,05 triliun, Rp4,07 triliun, dan Rp4,16 triliun.
2.5.3. Arus Kas Historis
Berikut merupakan laporan arus kas Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Tabel 5. Arus Kas Historis
Audited Audited Audited Audited Audited
FY 2021 FY 2022 FY 2023 FY 2024 FY 2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 1.496.312.823.914 2.117.518.639.844 1.893.344.592.840 2.264.905.292.822 1.858.437.309.484
Pembayaran kas kepada:
-Pemasok dan pihak ketiga (555.898.216.730) (1.642.734.172.610) (1.608.346.529.333) (2.022.128.881.587) (1.756.598.773.320)
-Direksi dan karyawan (375.184.379.221) (288.188.603.875) (275.554.973.335) (135.721.515.057) (128.836.268.226)
-Pembayaran operasional - - - - -
KAS YANG DIHASILKAN DARI OPERASI 565.230.227.963 186.595.863.359 9.443.090.172 107.054.896.178 (26.997.732.062)
Pembayaran beban pinjaman bank (599.595.399.628) (14.823.644.066) (86.867.422.530) (80.117.808.222) (79.697.639.852)
Pembayaran beban obligasi - - - - -
Pembayaran pajak (23.220.712.523) (27.882.839.228) (31.056.823.667) (49.510.505.690) (43.583.610.439)
Penerimaan hasil restitusi pajak 37.867.327.689 6.208.543.282 - 10.849.588.873 4.129.384.581
Penerimaan jasa giro dan deposito berjangka 1.156.765.779 1.848.023.168 2.131.062.433 1.841.632.928 1.634.610.176
Penerimaan lain-lain - - - 92.095.585.600 177.063.663
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN
(18.561.790.720) 151.945.946.515 (106.350.093.592) 82.213.389.667 (144.337.923.933)
UNTUK) AKTIVITAS OPERASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (387.000.000) (1.597.600.000) (1.144.450.000) (6.301.115.739) -
Penjualan aset tetap - - - 23.416.416.697 4.004.710.825
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
(387.000.000) (1.597.600.000) (1.144.450.000) 17.115.300.958 4.004.710.825
AKTIVITAS INVESTASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran liabilitas sewa - (5.359.613.880) (10.577.034.420) (972.825.000) (1.561.425.000)
Pembayaran pinjaman (131.586.157.889) - - (13.420.097.691) (2.295.381.742)
Pembayaran pokok obligasi - - - - -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS
(131.586.157.889) (5.359.613.880) (10.577.034.420) (14.392.922.691) (3.856.806.742)
PENDANAAN
KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA
(150.534.948.609) 144.988.732.635 (118.071.578.012) 84.935.767.934 (144.190.019.850)
KAS
Keuntungan/(ketugian) selisih direalisasikan - 294.219.783 (63.617.835) 6.981.533 -
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 244.198.852.485 93.663.903.876 238.946.856.294 120.811.660.447 205.754.409.914
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN 93.663.903.876 238.946.856.294 120.811.660.447 205.754.409.914 61.564.390.064
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan 31 Desember tahun 2021-2025
Arus Kas Aktivitas Operasi
Arus kas aktivitas operasi yang dihasilkan oleh Perseroan untuk periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2022 dan 2024 masing-masing sebesar Rp151,95 miliar dan Rp82,21 miliar. Sedangkan pada
periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021, 2023, dan 2025 Perseroan mencatat arus kas bersih
yang digunakan dalam aktivitas operasi masing-masing sebesar Rp18,56 miliar, Rp106,35 miliar, dan
Rp144,34 miliar.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |20
Page 37
Arus Kas Aktivitas Investasi
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2023 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan dalam aktivitas investasi masing-masing sebesar Rp387 juta, Rp1,60 miliar, dan Rp1,14
miliar. Pada periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2024 dan 2025, Perseroan mencatat arus
kas yang dihasilkan masing-masing sebesar Rp17,12 miliar dan Rp4,00 miliar.
Arus Kas Aktivitas Pendanaan
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp131,59 miliar, Rp5,36 miliar, Rp10,58 miliar, Rp 14,39
miliar, dan Rp3,86 miliar.
2.5.4. Rasio Keuangan Historis
Likuiditas
Rasio likuiditas dihitung berdasarkan perbandingan antara aset lancar dibandingkan dengan liabilitas
lancar, yang mencerminkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Rasio
lancar Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,44
kali, 0,34 kali, 0,63 kali, 0,53 kali, dan 0,42 kali. Rasio kas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali. Rasio
cepat Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,37
kali, 0,29 kali, 0,54 kali, 0,45 kali, dan 0,35 kali.
Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan Perseroan untuk
mendapatkan laba dari pendapatan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Rata-rata
marjin laba (rugi) kotor Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah
sebesar 22,4%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%. Sementara itu, rata-rata marjin laba (rugi) bersih
yang berhasil dicapai Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah sebesar
-140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,85%, -34,24%.
Aktivitas
Berdasarkan analisis atas rasio aktivitas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-
2025 rata-rata hari perputaran piutang usaha di 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, 89 hari, perputaran
utang usaha di 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, 40 hari, dan hari perputaran persediaan di 1018 hari,
672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.
Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan Perseroan dalam membayar
seluruh utangnya baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Perseroan memiliki rata-rata
debt to asset ratio periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 di 86,06% dan rata-rata debt
to equity ratio sebesar -253,60%.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |21
Page 38
Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis
Audited Audited Audited Audited Audited Average
FY2021 FY2022 FY2023 FY2024 FY2025 Historis
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 0,44 0,34 0,63 0,53 0,42 0,47
Quick ratio 0,37 0,29 0,54 0,45 0,35 0,40
Cash ratio 0,01 0,04 0,05 0,08 0,03 0,04
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 22,24% 14,75% -0,59% 18,75% 17,49% 14,53%
Net profit margin -140,82% 32,77% 0,42% -50,58% -34,24% -38,49%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 1 2 3 5 4 3
Inventory turnover 2 5 6 8 9 6
Acc. Payable turnover 0 1 1 1 1 1
Days of Acc. Receivable 354 145 144 77 89 162
Days of Inventory 200 71 60 46 40 83
Days of Acc. Payable 1018 672 306 260 244 500
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity -211,61% -192,65% -471,94% -212,84% -178,96% -253,60%
Debt to Assets 85,43% 67,94% 70,11% 91,63% 115,21% 86,06%
Sumber: laporan keuangan audit 31 Desember tahun 2021-2025 (diolah)
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |22
Page 39
3. ASPEK PASAR
3.1. Analisa Makro Ekonomi dan Pasar
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir Desember ditutup di level 8.646,94.
Berdasarkan data RTI Business, pergerakan saham menunjukkan 346 saham mengalami penguatan, 317
saham melemah, dan 146 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar
39,54 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,60 juta kali dan nilai transaksi mencapai Rp
20,61 triliun. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tercatat sebanyak tujuh sektor mengalami penguatan,
dengan kinerja terbaik ditunjukkan oleh sektor infrastruktur yang meningkat sebesar 2,30%. Penguatan
tersebut diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang naik 2,12% serta sektor industri yang
mencatatkan kenaikan sebesar 0,71%. Sementara itu, empat sektor lainnya mengalami pelemahan,
dengan sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,81%. Pelemahan juga terjadi
pada sektor barang baku dan sektor teknologi yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,84% dan 0,47%.
Sepanjang tahun 2025 hingga 29 Desember 2025, IHSG mencatatkan kinerja positif dengan
pertumbuhan sebesar 22,10% secara year-to-date dan ditutup di level 8.644,26, serta beberapa kali
mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Sejalan dengan penguatan indeks tersebut,
kapitalisasi pasar juga tercatat telah melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap pengembangan
pasar modal. Berikut pergerakan IHSG akhir bulan Desember tahun 2020-2025:
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025
IHSG
9.000,00
8.646,94
8.700,00
8.400,00
8.100,00
7.800,00
7.500,00 7.323,59
7.200,00
6.900,00
6.850,62 7.079,90
6.600,00
6.300,00 6.581,48
6.000,00
5.700,00 5.979,07
5.400,00
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Close Price
Sumber: Yahoo Finance
3.1.2. Nilai Tukar Rupiah
Kurs tengah Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 31 Desember 2025 berada pada level
Rp16.782,00. Berikut pergerakan nilai tukar kurs tengah Rupiah dari Desember 2020-2025:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |23
Page 40
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025
Kurs Tengah BI
17.000,00
16.500,00 16.162,00 16.782,00
16.000,00 15.731,00
15.500,00
15.000,00 15.439,00
14.500,00 14.105,00
14.000,00 14.269,00
13.500,00
13.000,00
12.500,00
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Kurs Tengah BI/ BI Middle Rate
Sumber: Bank Indonesia
3.1.3. Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 16–17 Desember 2025
memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar
3,75%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya Bank
Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global,
sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang
telah diterapkan guna menopang stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengevaluasi peluang penurunan lanjutan suku bunga BI-Rate
dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi tahun 2026 yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%,
serta kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pelonggaran kebijakan
makroprudensial juga diperkuat melalui peningkatan efektivitas penyaluran likuiditas kepada perbankan
guna mempercepat penurunan suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan ke
sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas Pemerintah. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran
tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan penggunaan
pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan
infrastruktur sistem pembayaran.
Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan. Sinergi kebijakan antara Bank
Indonesia dan Pemerintah juga semakin ditingkatkan guna menjaga stabilitas serta mendorong
pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan agenda Asta Cita Pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,2%, didorong oleh
penguatan ekonomi Jepang dan India yang didukung oleh konsumsi rumah tangga serta kebijakan
stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa dipandang tetap solid seiring dukungan konsumsi,
investasi, dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif baik. Di sisi lain, perekonomian Amerika Serikat (AS)
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |24
Page 41
pada 2025 diperkirakan mengalami perlambatan akibat dampak sementara penghentian operasional
pemerintah serta melemahnya pasar tenaga kerja, sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga
diprakirakan terus melambat seiring masih lemahnya permintaan domestik.
Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan menurun menjadi sekitar 3,0%,
dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya
kerentanan rantai pasok global. Di pasar keuangan global, suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed
Funds Rate) diturunkan sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, dengan ruang penurunan yang
semakin terbatas ke depan. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun cenderung meningkat, sementara yield
tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi sejalan dengan tingginya beban utang Pemerintah AS.
Kondisi tersebut menyebabkan indeks dolar AS (DXY) bertahan tinggi dan membatasi aliran modal asing
ke negara berkembang.
Ke depan, tingkat ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi di tengah prospek
pertumbuhan ekonomi dunia yang masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan serta
penguatan respons kebijakan guna meningkatkan ketahanan ekonomi domestik terhadap dampak
pengaruh global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
3.1.4. Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Desember 2025 berada pada angka 2,92%. Berdasarkan
Grafik 3, tingkat inflasi cenderung mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020 hingga ke 2022,
tetapi pada tahun 2023 mengalami penurunan yang disebabkan penurunan pada komponen inti
penyumbang inflasi. Pada tahun 2024, inflasi kembali turun dibandingkan dengan tahun 2023 karena
melandainya harga pokok pangan. Inflasi pada 31 Desember 2025 meningkat 2,92% akibat kenaikan
harga pangan serta kenaikan harga emas, BBM, dan tarif transportasi udara. Berikut merupakan Grafik
inflasi bulan Desember tahun 2020-2025:
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025
Inflasi
6,00% 5,51%
5,00%
4,00%
3,00% 2,92%
2,61%
2,00%
1,87%
1,68% 1,57%
1,00%
0,00%
Des-20 Des-21 Des-22 Des-23 Des-24 Des-25
Sumber: Bank Indonesia
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |25
Page 42
3.2. Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi
Industri konstruksi memiliki peranan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Data Badan Pusat
Statistik mencatat bahwa pada tahun 2024, sektor konstruksi menyumbang 10,43% dan pada pada
Triwulan III-2025 sebesar 9,82% yang menempatkan sektor konstruksi sebagai kontributor ke-4 terbesar
Produk Domestik Bruto di Indonesia. Sampai pada tahun 2029, diperkirakan kebutuhan investasi
infrastruktur Indonesia mencapai Rp10.218 triliun.
Industri konstruksi dipengaruhi oleh sejumlah infrastruktur prioritas. Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
telah mengungkapkan sejumlah proyek infrastruktur prioritas yang akan dikerjakan oleh pemerintah pada
tahun 2026. Beberapa proyek infrastruktur tersebut diantaranya adalah pembangunan irigasi untuk
ketahanan pangan, rehabilitasi sekolah, pembangunan jalan untuk konektivitas, serta pengembangan
zona untuk ketahanan pangan, energi, dan air. Pada tahun 2026 direncanakan akan dilakukan
pembangunan 12.000 lokasi irigasi, 600 proyek sosial-ekonomi, 700 proyek air minum, 80 fasilitas
pengelolaan limban, dan lain-lain. Pemerintah akan mengedepankan skema Kerjasama Pemerintah dan
Badan Usaha (KPBU) untuk dapat mencapai target tersebut. Skema KPBU dapat dilakukan untuk
mendanai proyek pembangunan bendungan, jalan tol, dan fasilitas pengelolaan sampah.
Pagu anggaran Kementerian PU TA 2026 sebesar Rp118,5 triliun akan dialokasikan kepada unit
organisasi Sekretariat Jenderal sebesar Rp576,85 miliar, Inspektorat Jenderal sebesar Rp107,81 miliar,
Ditjen Sumber Daya Air sebesar Rp34,73 triliun, Ditjen Bina Marga sebesar Rp45,61 triliun, Ditjen Cipta
Karya sebesar Rp12,03 triliun, Ditjen Prasarana Strategis Rp24,10 triliun. Lalu untuk unit Ditjen Bina
Konstruksi sebesar Rp599,03 miliar, Ditjen Pembiayaan Infrastruktur sebesar Rp147,13 miliar, Badan
Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) sebesar Rp172,93 miliar, dan Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia (BPSDM) sebesar Rp403,93 miliar. Beberapa program kerja prioritas yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian PU pada tahun 2026 diantaranya pembangunan 15.851 Ha jaringan
irigasi, rehabilitasi 197.430 Ha jaringan irigasi, dan penyediaan 500 liter/detik air baku. Selanjutnya,
Kementerian PU akan mendukung pembangunan 191 km jalan baru, pembangunan 28,19 km jalan tol,
preservasi rutin 46.451 km jalan dan 531.969 m jembatan, pembangunan dan preservasi 36,65 km jalan
daerah, serta pembangunan dan peningkatan SPAM 918 liter/detik. Di samping itu, anggaran tersebut
juga akan digunakan untuk pengembangan fasilitas pengelolaan air limbah 115.750 Kartu Keluarga,
pengembangan kawasan strategis 150 Ha, PHTC 1.000 Madrasah, pembangunan 200 unit Sekolah
Rakyat, dan lain sebagainya.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |26
Page 43
Secara garis besar, proyek infrastruktur prioritas di tahun 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026
Bidang Sumber Daya Air Bidang Bina Marga Bidang Cipta Karya
1. Pembangunan jaringan irigasi 1. Pembangunan jalan baru (191 1. Pembangunan dan peningkatan
(15.851 Ha). kilometer). Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
(918 liter per detik).
2. Sumur rehabilitasi jaringan irigasi 2. Peningkatan kapasitas dan preservasi 2. Perluasan SPAM (49.640 sambungan
(197.430 Ha). peningkatan (1.392 kilometer). rumah).
3. Pengendali banjir (82 kilometer). 3. Pembangunan dan duplikasi jembatan 3. IBM Pamsimas (470 lokasi).
(1.734 meter).
4. Pengamanan pantai (8 kilometer). 4. Preservasi jembatan (31.434 meter). 4. Pengelolaan air limbah (115.750 KK).
5. Penyediaan air baku (500 liter per 5. Penggantian jembatan (964 meter). 5. Pengelolaan persampahan (498 ton
detik). per hari).
6. Sumur irigasi air tanah dan embung 6. Jembatan gantung (105 unit). 6. IBM Sanimas (1.000 lokasi).
(800 titik).
7. Program Percepatan Tata Guna Air 7. Pembangunan flyover atau underpass 7. IBM TPS 3R (80 lokasi).
Irigasi melalui Perkumpulan Pemakai Air (363 meter).
IBM P3-TGAI (12.000 lokasi).
8. Pembangunan Bendungan (sedang 8. Pembangunan jalan tol menggunakan 8. Pengembangan kawasan strategis
berlangsung 15 bendungan). APBN (28,19 kilometer). (150 Ha).
9. OP Infrastruktur SDA. 9. Preservasi rutin jalan (46.541 9. IBM Pisew (600 lokasi).
kilometer).
10. Tanggap darurat bencana dan 10. Preservasi rutin jembatan (531.969 10. Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
bahan banjiran. meter). (PKE) (11 lokasi).
11. Pembangunan dan preservasi jalan 11. Bangunan gedung (39.789 meter
daerah (36,65 kilometer). persegi).
12. Pembangunan dan preservasi 12. Tanggap darurat bencana.
jembatan daerah (295,68 meter).
13. Tanggap darurat bencana. 13. Program pembangunan perumahan
rakyat (±3 juta unit rumah)
Sumber: Badan Pusat Statistik, Asosiasi Kontraktor Indonesia, dan media online lainnya
3.2.1. Perkembangan Kontruksi di Indonesia
PDB ADHK Indonesia tahun 2021 – 2024 terus meningkat, pada tahun 2021 sebesar Rp1.102.518 miliar
dan pada tahun 2024 mencapai Rp1.262.793 miliar dengan kenaikan rata-rata 4,66%. Berikut grafik PDB
ADHK Indonesia:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |27
Page 44
Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi
1.400.000 9%
8%
1.200.000
7%
1.000.000 6%
Pertumbuhan (%)
Miliar Rupiah
5%
800.000
4%
600.000
3%
400.000 2%
1%
200.000
0%
- -1%
2021 2022 2023 2024 TW2 2025
PDB Sektor Konstruksi Pertumbuhan
Sumber: Badan Pusat Statistik
Perusahaan kontruksi di Indonesia dari tahun 2021-2025 mengalami fluktuasi pertumbuhan. Pada tahun
2022-2024 pertumbuhan perusahaan kontruksi mengalamin penurunan dengan rata-rata 2,84%. Pada
tahun 2025 perusahaan kontruksi mengalami peningkatan sebesar 6,69% karena pasar konstruksi
diprediksi mencapai pertumbuhan positif yang didukung oleh sentimen positif pada pembangunan fisik
dan transformasi teknologi.
Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia
205.000 8%
0,20%
200.000 6% 0,05%
0,27%
195.000 4%
Pertumbuhan (%)
77,25%
190.000 2%
22,24%
185.000 0%
180.000 -2%
175.000 -4%
2021 2022 2023 2024 2025
Jumlah Perusahaan Pertumbuhan PT CV Koperasi Kantor Perwakilan BUJKA Lainnya
Sumber: Badan Pusat Statistik dan Databooks
Pada Grafik di atas dijelaskan bahwa pada tahun 2021-2025 terdapat perusahaan kontruksi sebanyak
203 ribu, 197 ribu. 190 ribu, 186 ribu dan 199 ribu. Perusahaan kontruksi terbagi dalam beberapa jenis
yaitu PT, CV, Koperasi, Kantor Perwakilan BUJKA dan lainnya. CV menjadi jenis perusahaan terbesar
dengan 77,25% kemudian PT dengan 22,24% dan lainya sebesar 0,51%.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |28
Page 45
3.3. Sertifikasi Badan Usaha (SBU)
Sertifikat Badan Usaha (SBU) adalah dokumen legalitas resmi yang membuktikan kemampuan dan
kualifikasi suatu badan usaha di sektor konstruksi. Di tahun 2026, SBU tetap menjadi syarat wajib bagi
perusahaan untuk mengikuti tender proyek pemerintah, BUMN, maupun swasta. Sertifikat Badan Usaha
(SBU) di Indonesia dari tahun 2023-2025 terus meningkat. Berikut grafik pertumbuhan SBU:
Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU)
400.000
340.969
350.000
300.000 268.984
250.000
200.000
150.000 107.989
100.000
50.000
-
2023 2024 2025
Pekerjaan Konstruksi Jasa Konsultasi Konstruksi
Pekerjaan Konstruksi Terintegrasi Total
Sumber: Badan Pusat Statistik
Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi adalah bukti formal kompetensi dan kemampuan profesi
tenaga kerja konstruksi yang diterbitkan melalui uji kompetensi oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
dan dicatat oleh LPJK.
Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang
120.000
100.000
80.000
60.000
40.000
20.000
0
Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 1 Grade 2 Grade 3
Kualifikasi Operator Kualifikasi Teknisi Kualifikasi Ahli
2022 2023 2024 TW2 2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |29
Page 46
Grafik di atas menjelaskan kualifikasi dan jenjang tenaga kerja konstruksi.
• Kualifikasi Operator (Jenjang 1-3): Tenaga kerja terampil yang fokus pada pekerjaan teknis operasional
di lapangan. Dari grafik diatas jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Operator mengalami penurunan
signifikan antara tahun 2022 dan 2023 di semua Grade;
• Kualifikasi Teknisi atau Analis (Jenjang 4-6): Tenaga kerja dengan kemampuan analisis dan supervisi
tingkat menengah; Kualifikasi Ahli (Jenjang 7-9): Tenaga kerja profesional dengan keahlian manajerial
dan perancangan tingkat tinggi (Ahli Muda, Madya, Utama). Dari grafik diatas terjadi peningkatan
jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Teknisi dan Ahli dari tahun 2023 ke 2024.
3.3. Potensi dan Sasaran Pasar
Rencana penambahan kegiatan usaha melalui KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa
Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis, dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan
Engineering dan Teknologi ditujukan untuk mendukung kebutuhan pengujian dan pengendalian mutu
produk, khususnya di sektor konstruksi dan industri terkait. Kebutuhan atas jasa pengujian dan sertifikasi
tersebut pada umumnya bersifat berkelanjutan, seiring dengan penerapan standar mutu dan persyaratan
teknis dalam pelaksanaan proyek.
Dari sisi potensi pasar, jasa pengujian laboratorium merupakan layanan penunjang yang secara umum
diperlukan dalam proses produksi dan pelaksanaan proyek, baik untuk keperluan internal maupun
pemenuhan persyaratan pengguna jasa. Sementara itu, jasa sertifikasi produk dibutuhkan untuk
memastikan kesesuaian produk terhadap standar yang berlaku, dengan tingkat permintaan yang
bergantung pada ketentuan regulasi dan kebutuhan masing-masing pengguna.
Adapun sasaran pasar atas penambahan kegiatan usaha ini meliputi pasar internal, yaitu Perseroan serta
pasar eksternal yang mencakup kontraktor, produsen material, dan pelaku usaha lain yang
membutuhkan jasa pengujian dan sertifikasi. Pemanfaatan jasa untuk kebutuhan internal diharapkan
dapat mendukung efisiensi dan pengendalian mutu, sedangkan pasar eksternal berpotensi memberikan
pemanfaatan tambahan atas kapasitas laboratorium Perseroan.
Secara keseluruhan, potensi dan sasaran pasar dari Rencana Penambahan KBLI dinilai bersifat
penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan dan tidak mengubah fokus bisnis Perseroan secara
signifikan. Keberhasilan pemanfaatan potensi pasar tersebut tetap bergantung pada kepatuhan terhadap
ketentuan perizinan, akreditasi, serta kebijakan manajemen Perseroan.
A. Rencana Pengembangan Bisnis Unit Laboratorium
Pada tahun 2026, selain tetap melaksanakan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup pengujian
laboratorium yang telah ditetapkan, Unit Laboratorium Perseroan merencanakan perluasan ruang
lingkup operasional LPK dengan memasukkan Laboratorium Beton dan Laboratorium Struktur (pengujian
kuat tekan, kuat lentur, dan uji bending) di Plant Sidoarjo ke dalam area kerja operasional LPK Unit
Laboratorium Perseroan. Rencana tersebut akan direalisasikan pada periode audit surveillance, yaitu
sekitar akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh KAN. Usulan
pengembangan usaha ini telah disampaikan kepada Divisi Peralatan sebagai bagian dari program
transformasi bisnis Divisi Peralatan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |30
Page 47
Penambahan lokasi ruang lingkup ini didasari oleh pertimbangan bahwa hingga saat ini belum terdapat
laboratorium yang mampu melaksanakan uji bending di wilayah Indonesia Timur. Selain itu, Perseroan
Plant Sidoarjo telah dilengkapi dengan mesin uji bending dengan kapasitas dan teknologi yang setara
dengan yang dimiliki oleh Plant Karawang. Pada tahun 2026, Plant Sidoarjo juga direncanakan untuk
memasok sekitar 10.000 batang produk Spun Pile untuk Proyek UCC Tangguh Onshore di Papua. Kondisi
tersebut membuka peluang bagi Unit Laboratorium Perseroan untuk memperkenalkan layanan pengujian
kepada pelanggan eksternal.
Di samping itu, Unit Laboratorium Perseroan berencana melakukan perbaikan peralatan Universal
Testing Machine (UTM) yang mengalami kerusakan di Laboratorium Karawang agar dapat kembali
digunakan untuk pengujian kuat tarik material tulangan beton. Selama ini, layanan pengujian kuat tarik
masih didominasi oleh satu laboratorium uji eksternal tanpa adanya pesaing yang signifikan. Dengan
penambahan layanan tersebut, Unit Laboratorium Perseroan diharapkan dapat mendukung efisiensi
pengelolaan kas Perseroan serta berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi Perseroan.
Secara bertahap ke depan, Unit Laboratorium Perseroan juga merencanakan penambahan jenis
pengujian lainnya yang bersifat mendukung kegiatan unit produksi Perseroan, serta berpotensi
ditawarkan kepada pelanggan eksternal, dengan tetap memperhatikan persetujuan manajemen.
B. Rencana Kebutuhan LSPro
LSPro Perseroan diharapkan terbentuk sebelum Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian
mensyaratkan pemberlakuan SNI Wajib untuk produk-produk Spun Pile & CCSP yang digunakan di
Indonesia. Kemenperin sendiri, berdasarkan rapat Diseminasi Final Rencana Pemberlakukan SNI Barang
Dari Semen Secara Wajib tanggal 21 November 2025, merencanakan pemberlakuan SNI Wajib ini di
tahun 2026 dimana diharapkan Peraturan Menteri (Permen) sudah terbit di pertengahan tahun 2026.
LSPro Perseroan didirikan sebagai respons atas potensi peluang usaha seiring dengan rencana
pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk precast Spun Pile & CCSP. Dalam
pelaksanaan kegiatan operasionalnya, LSPro Perseroan hanya akan memberikan layanan sertifikasi
terhadap produk pihak eksternal. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan penerapan prinsip
ketidakberpihakan (impartiality) sebagai lembaga sertifikasi.
Dalam rangka sertifikasi produk-produk milik Perseroan, Perseroan akan menjalin kerja sama secara
eksklusif dengan lembaga sertifikasi produk lain yang berwenang, antara lain melalui kolaborasi dengan
BRIN atau B4T, termasuk pemanfaatan Unit Laboratorium Perseroan sebagai LPK Uji Bending.
Apabila SNI produk tersebut telah ditetapkan sebagai SNI wajib, maka keberadaan lembaga sertifikasi
produk (LSPro) di Indonesia menjadi kebutuhan yang bersifat regulatif, dengan jumlah LSPro yang akan
dibatasi sesuai dengan kebutuhan jumlah produsen atau jasa sertifikasi SNI produk terkait. Dengan
demikian, peluang pendirian LSPro dengan ruang lingkup produk precast Spun Pile & CCSP bersifat
terbatas dan tidak terbuka secara berkelanjutan sesuai dengan kebijakan pemerintah melalui BSN.
3.4. Pesaing Usaha
Perseroan dari sisi manufaktur beton akan secara langsung bersaing dengan beberapa perusahaan
sejenis yang memiliki laboratorium, yaitu:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |31
Page 48
1. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
Sebagai perusahaan konstruksi terintegrasi berskala besar, WIKA memiliki fasilitas laboratorium internal
yang digunakan untuk mendukung kegiatan proyek. Dalam operasionalnya, WIKA memiliki fasilitas
laboratorium internal yang digunakan untuk memastikan kualitas material konstruksi, seperti beton,
baja, dan agregat. Laboratorium ini umumnya difokuskan untuk mendukung proyek-proyek internal WIKA,
namun dengan kapabilitas teknis dan peralatan yang lengkap, WIKA juga berpotensi menjadi pesaing
dalam penyediaan jasa pengujian, khususnya untuk proyek skala besar yang membutuhkan pengujian
komprehensif seperti uji tekan, tarik, dan bending test struktur.
2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Sebagai lembaga pemerintah yang memiliki infrastruktur laboratorium yang memadai serta didukung
oleh sumber daya peneliti dan tenaga ahli, Badan Riset dan Inovasi Nasional memiliki kapabilitas dalam
menyediakan layanan pengujian struktur, termasuk pengujian bending dengan dukungan peneliti dan
peralatan skala besar.
3. PT Sucofindo
PT Sucofindo adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang inspeksi, pengujian, sertifikasi, dan
konsultansi (TIC services). Dalam sektor konstruksi, Sucofindo menyediakan layanan:
• Pengujian material konstruksi (beton, tanah, agregat, batuan) ;
• Pengujian sifat mekanik dan fisik;
• Sertifikasi dan verifikasi mutu.
4. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)
Sebagai anak usaha WIKA yang fokus pada industri beton pracetak, WTON memiliki laboratorium yang
telah terakreditasi ISO/IEC 17025:2017. Laboratorium ini tidak hanya digunakan untuk internal quality
control, tetapi juga melayani pihak eksternal. Layanan pengujian meliputi:
• Uji kuat tekan beton
• Uji material penyusun beton
• Pengujian elemen struktur
5. Balai Besar dan Barang Teknik (B4T)
B4T merupakan unit di bawah Kementerian Perindustrian yang menyediakan jasa pengujian, sertifikasi,
dan kalibrasi. Lembaga ini telah lama dikenal sebagai penyedia layanan pengujian terakreditasi dengan
standar nasional dan internasional. Dalam pengujian beton, B4T menawarkan:
• Pengujian sifat mekanik dan fisik material
• Sertifikasi mutu produk
• Dukungan teknis industri
6. Balai Teknik Sabo
Balai Teknik Sabo merupakan institusi teknis yang fokus pada pengendalian bencana aliran debris (sabo)
serta rekayasa teknik sipil terkait. Laboratoriumnya telah terakreditasi ISO 17025 dan memiliki
kapabilitas dalam:
• Pengujian mekanika tanah
• Pengujian beton dan material konstruksi
• Simulasi dan pengujian struktur sederhana
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |32
Page 49
7. PT Guna Sukses Inti (GSI)
PT Guna Sukses Inti merupakan perusahaan swasta yang berfokus pada jasa pengujian material
konstruksi, khususnya beton. Layanan utamanya meliputi:
• Uji kuat tekan beton
• Pengujian sampel lapangan
• Layanan pengujian cepat (on-site testing)
Dalam kegiatan jasa sertifikasi produk (LSPro), khususnya untuk produk beton pracetak seperti spun pile
dan CCSP, Perseroan berpotensi menghadapi persaingan dari beberapa lembaga, baik yang berasal dari
instansi pemerintah maupun swasta. Namun demikian, berdasarkan kondisi terkini, tingkat persaingan
masih relatif terbatas karena sebagian besar lembaga masih dalam tahap pengembangan kapasitas dan
penambahan ruang lingkup akreditasi. Selain itu, hingga saat ini belum terdapat lembaga yang
sepenuhnya operasional sebagai LSPro untuk produk spun pile dan CCSP sesuai standar SNI 9156:2023
dan SNI 9157:2023, mengingat setelah memperoleh akreditasi, LSPro juga harus melalui proses
pendaftaran dan penetapan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia agar dapat melakukan
sertifikasi atas produk tersebut. Adapun beberapa lembaga yang berpotensi menjadi pesaing antara lain:
1. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
BRIN diketahui telah memiliki LSPro, namun hingga saat ini masih dalam proses penambahan ruang
lingkup akreditasi, khususnya untuk sertifikasi produk spun pile dan CCSP yang memerlukan
pengujian bending. Dengan demikian, BRIN belum sepenuhnya menjadi pesaing langsung pada
segmen tersebut.
2. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin)
Kemenperin juga berpotensi menjadi pesaing melalui pengembangan LSPro dengan penambahan
ruang lingkup sertifikasi. Upaya ini antara lain dilakukan melalui kerja sama dengan laboratorium
pengujian sebagai LPK (Lembaga Penilaian Kesesuaian), termasuk untuk pengujian bending. Namun,
hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan.
3. PT Global Inspeksi Sertifikasi
Merupakan salah satu lembaga swasta yang telah memiliki LSPro, namun juga dilaporkan masih
dalam proses penambahan ruang lingkup sertifikasi untuk produk terkait beton pracetak.
3.5. Strategi Pemasaran
Pada tahun 2025, Perseroan gencar memperkuat strategi pemasaran yang komprehensif untuk
meningkatkan pangsa pasarnya di industri manufaktur dan konstruksi nasional. Adapun nilai-nilai yang
mendasari strategi pemasaran Perseroan sebagai berikut:
1. Key Account Management
Perseroan memperkuat market intelligence untuk memperluas info pasar dengan melakukan
pembentukan Key Account berdasarkan Segmentasi Owner, yaitu dari Key Account Pemerintah &
BUMN/BUMD, Key Account Swasta, dan Key Account Konsultan;
2. Menjaga Kualitas & Konsistensi Produk serta Meningkatkan Kehandalan Delivery
Meningkatkan Kehandalan Delivery Perseroan menggunakan sistem untuk mempertahankan
konsistensi kualitas produk termasuk penerapan sistem monitoring kualitas yang terpercaya dan
responsif, serta mengembangkan sistem monitoring dan troubleshooting kehandalan delivery yang
dapat mendeteks dan mempercepat issue yang masih terjadi di lapangan;
3. Penggunaan Jaringan Korporasi untuk Kembangkan Kapabilitas Market di High-Rise dan Commercial
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |33
Page 50
Perseroan menggunakan jaringan korporasi sebagai kunci utama berkompetisi melawan berbagai
jenis kompetitor. Jaringan korporasi membantu pengembangan kapabilitas pasar;
4. Price Competitiveness
Perseroan melakukan inovasi dalam cost management, sehingga harga jual semakin bersaing di
pasaran. Cost innovation ini mencakup supply, process dan logistics management. Selain itu
Perseroan juga melakukan evaluasi atas setiap tender yang dilaksanakan, dalam rangka mengetahui
kekurangan dan membuat strategi berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan;
5. Market Analysis Capability
Perseroan meningkatkan kapabilitas dalam melakukan market analysis dan competitive mapping
sehingga dapat proaktif menyusun strategi pemasaran yang konsisten secara korporat, sekaligus
dapat adaptif terhadap kondisi nyata pasar. Termasuk dalam menghadapi adanya kemungkinan
perubahan arah kebijakan yang dilakukan oleh Presiden terpilih yang baru;
6. Pengembangan Pasar Retail
Perseroan membangun kapabilitas pasar retail dimulai dari business landscape mapping,
penyusunan strategi positioning & differentiation dan pengembangan rencana pemasaran yang taktis
(spesifik di masing-masing area penjualan). Selain itu Perseroan menjalankan peran fokus terhadap
customer service untuk retail, dimulai dari strategic service blueprint, hingga standard service scripts
yang disertai pengembangan service mindset untuk seluruh frontliner;
7. Pengembangan Inovasi Digital dalam Menunjang Kegiatan
Perseroan melakukan inovasi pengembangan aplikasi Customer Relationship Management dalam
rangka menunjang kegiatan marketing, selain itu Perseroan juga aktif dalam memaksimalkan kanal E-
Katalog untuk memasarkan produk-produk perseroan di Kementerian PUPR.
Kebijakan Pemerintah terkait efisiensi anggaran infrastruktur pada Kementerian Pekerjaan Umum serta
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berpotensi menekan laju pertumbuhan industri.
Menyikapi kondisi tersebut, Perseroan akan tetap fokus menjalankan strategi pemasaran yang bersifat
ekspansif guna memperluas pangsa pasar, khususnya pada segmen pelanggan BUMN dan swasta.
Belanja modal dari pelaku BUMN dan swasta di sektor infrastruktur, pariwisata, permukiman, dan energi
diproyeksikan masih menunjukkan tren pertumbuhan. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen untuk
membuka peluang yang lebih luas bagi keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Perseroan turut melihat adanya potensi pengembangan yang signifikan pada sektor perumahan
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sejalan dengan hal tersebut, Perseroan telah memiliki
portofolio produk Rumah Precast yang siap ditawarkan untuk mendukung pencapaian target
pembangunan 3 juta unit rumah per tahun sebagaimana dicanangkan oleh Pemerintah.
Dalam rangka memastikan tercapainya target-target tersebut, Perseroan telah menyiapkan strategi
utama sebagai berikut:
1. Penguatan Fundamental Keuangan dan Profitabilitas
Dalam upaya menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan, WSBP berkomitmen untuk memastikan
setiap investasi memberikan tingkat imbal hasil yang optimal dengan tetap menjaga struktur
keuangan yang sehat. Langkah-langkah strategis yang akan ditempuh meliputi:
a. Optilisasi EBITDA dan arus kas dari aktivitas operasi melalui pengendalian biaya yang lebih ketat
serta peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |34
Page 51
b. Penguatan struktur permodalan dengan menjaga rasio keuangan pada tingkat yang sehat guna
memastikan keberlanjutan posisi keuangan Perseroan;
c. Pelaksanaan homologasi melalui pemenuhan kewajiban PKPU sebagai bagian dari strategi
pengelolaan risiko keuangan;
d. Perbaikan Cash Conversion Cycle dengan memprioritaskan pemanfaatan sumber pendanaan
eksternal yang lebih kompetitif;
e. Pemetaan realisasi skema restrukturisasi utang guna mengantisipasi potensi deviasi realisasi
pendapatan terhadap asumsi yang telah ditetapkan.
2. Optimalisasi Kontrak Baru dan Peningkatan Pendapatan
Untuk mencapai target Nilai Kontrak Baru (NKB) serta meningkatkan pendapatan usaha, WSBP akan
menerapkan strategi ekspansi yang berorientasi pada pengelolaan risiko. Fokus strategi ini
mencakup:
a. Diversifikasi portofolio kontrak eksternal untuk mengurangi ketergantungan terhadap proyek
internal serta meningkatkan ketahanan bisnis;
b. Penguatan penetrasi pasar eksternal pada segmen BUMN, swasta, maupun ritel melalui
pendekatan pemasaran yang lebih proaktif;
c. Optimalisasi utilisasi aset, termasuk pabrik dan peralatan produksi, guna mendukung strategi
pemasaran serta peningkatan kapasitas produksi;
d. Peningkatan keselarasan antara biaya dan pendapatan (matching cost against revenue) melalui
identifikasi serta alokasi biaya tetap yang lebih efisien.
3. Efisiensi Operasional dan Optimalisasi Aset
Perseroan akan terus mendorong pencapaian operational excellence dengan memastikan efisiensi
biaya serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Upaya yang dilakukan antara lain:
a. Evaluasi dan optimalisasi fasilitas produksi yang tidak memberikan kontribusi (non-contributing
plants) agar setiap aset produktif dan memberikan nilai tambah;
b. Optimalisasi aset idle melalui kerja sama dengan mitra strategis untuk meningkatkan tingkat
utilisasi dan monetisasi aset;
c. Peningkatan efisiensi biaya produksi melalui penerapan prinsip lean manufacturing dan lean office;
d. Implementasi strategic sourcing dengan melakukan konsolidasi vendor guna menekan biaya
pengadaan dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.
4. Penguatan Kapabilitas Huma Capital dan Manajemen Risiko
Sebagai bagian dari penguatan ketahanan bisnis jangka panjang, Perseroan juga akan berfokus pada
pengembangan sumber daya manusia serta peningkatan kapabilitas manajemen risiko. Strategi ini
meliputi:
a. Pengembangan Human Capital yang unggul dengan menitikberatkan pada peningkatan
kompetensi inti (core competence) melalui program pelatihan bersertifikasi, baik nasional
maupun internasional;
b. Penguatan manajemen risiko melalui penyusunan strategi yang selaras dengan risk tolerance, risk
limit, dan risk appetite Perseroan guna memastikan mitigasi risiko yang lebih efektif.
Penerapan mekanisme mitigasi risiko atas investasi jangka panjang untuk memastikan nilai investasi
tercatat mencerminkan nilai wajarnya serta meminimalkan potensi beban biaya di masa mendatang.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |35
Page 52
Strategi pemasaran Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI disusun secara selektif, bertahap, dan
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan yang timbul akibat rencana pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) wajib untuk produk Spun Pile & CCSP. Dengan karakteristik kebutuhan yang bersifat
regulatif, pendekatan pemasaran difokuskan pada penyediaan layanan pendukung implementasi
kebijakan pemerintah, bukan pada ekspansi komersial yang agresif.
Dalam pelaksanaan KBLI 71201 dan KBLI 71202, Perseroan menerapkan kebijakan pemasaran yang
membatasi layanan sertifikasi hanya untuk produk pihak eksternal guna menjaga prinsip
ketidakberpihakan (impartiality) sebagai lembaga sertifikasi. Pendekatan ini ditujukan untuk
meningkatkan penerimaan regulator dan pelaku industri serta memperluas basis pengguna jasa secara
independen dari kegiatan usaha utama Perseroan.
Untuk KBLI 71204 dan KBLI 72102, strategi pemasaran diarahkan pada optimalisasi fasilitas
laboratorium yang telah terakreditasi KAN, dengan memprioritaskan layanan pengujian bagi pihak
eksternal yang membutuhkan pemenuhan persyaratan standar mutu dan regulasi. Penetapan harga
dilakukan secara wajar dan kompetitif dengan mempertimbangkan struktur biaya dan keberlanjutan
operasional, tanpa mengandalkan strategi harga agresif.
Kegiatan pemasaran dilakukan secara terbatas dan informatif melalui pemanfaatan jaringan industri,
hubungan kelembagaan, serta komunikasi langsung kepada calon pengguna jasa yang relevan.
Implementasi strategi pemasaran dilaksanakan secara bertahap seiring dengan kesiapan perizinan,
akreditasi, dan kapasitas operasional, serta dievaluasi secara berkala untuk menyesuaikan dengan
perkembangan regulasi dan kebutuhan pasar.
3.6. Target Pasar
Target pasar Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI difokuskan pada pengguna jasa yang memiliki
kebutuhan pemenuhan standar mutu dan regulasi di sektor konstruksi dan infrastruktur. Segmen pasar
tersebut meliputi produsen beton pracetak, kontraktor konstruksi, serta pemilik proyek, baik BUMN
maupun swasta, yang memerlukan layanan sertifikasi produk dan pengujian teknis sesuai ketentuan
Standar Nasional Indonesia (SNI). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2025, jumlah
perusahaan sektor konstruksi di Indonesia yaitu 199.006 perusahaan.
3.7. Pemasok dan Pelanggan Utama
Tidak terdapat pemasok utama lain terkait Rencana Penambahan KBLI karena menggunakan alat-alat
yang dimiliki Perseroan dan menggunakan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Perseroan.
Dari sisi pelanggan utama, Perseroan memiliki pelanggan utama yaitu:
• PT Adhi Persada Beton;
• PT PP;
• PT PP Urban (anak usaha PT PP/Pembangunan Perumahan);
• PT Wika Beton;
• PT Waskita Karya (Persero) Tbk;
• PT Brantas Abipraya (Persero);
• PT Wijaya Karya Beton Tbk;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |36
Page 53
• PT Inti Karya Persada Tehnik;
• PT Nindya Karya (Persero);
• PT Adhi Karya (Persero) Tbk;
• PT Jayakuma Perkasa;
• PT Duta Hita Jaya (DHJ Beton);
• PT Jaya Obayashi.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |37
Page 54
4. ASPEK TEKNIS
4.1. Kapasitas Segmen Usaha
Perseroan menyediakan beragam layanan jasa konstruksi yang bersifat komplementer dan terintegrasi,
yang mencakup kegiatan engineering, instalasi, jasa pemancangan, pekerjaan konstruksi, serta jasa
post-tensioning, guna mendukung aktivitas produksi dan pemasaran produk Perseroan. Layanan-
layanan tersebut dirancang untuk memberikan solusi menyeluruh bagi kebutuhan pelanggan. Adapun
ruang lingkup segmen jasa konstruksi Perseroan meliputi:
1. Engineering
Kegiatan engineering mencakup penyediaan rekomendasi teknis serta penentuan desain dan jenis
struktur yang optimal dan efisien sesuai dengan kebutuhan proyek. Dalam mendukung akurasi dan
kecepatan analisis teknis, Perseroan memanfaatkan berbagai teknologi dan perangkat lunak rekayasa
terkini yang disesuaikan dengan fungsi dan kompleksitas pekerjaan.
2. Instalasi
Layanan instalasi meliputi pekerjaan pemasangan produk beton, antara lain pada struktur jembatan
layang dan jembatan sungai. Melalui layanan ini, Perseroan memberikan solusi terintegrasi kepada
pelanggan, mulai dari penyediaan produk beton hingga pelaksanaan instalasi di lokasi proyek.
3. Jasa Pemancangan
Jasa pemancangan merupakan kegiatan pekerjaan pondasi dengan menggunakan peralatan pancang
yang menerapkan metode Inner Bore System dan Pre Bore System. Metode tersebut dipilih untuk
meningkatkan efisiensi pelaksanaan serta menyesuaikan dengan kondisi tanah dan spesifikasi teknis
proyek.
4. Konstruksi
Segmen konstruksi mencakup jasa kontraktor yang melaksanakan berbagai tahapan pekerjaan
konstruksi, mulai dari pekerjaan awal hingga penyelesaian proyek, sesuai dengan ruang lingkup dan
persyaratan teknis yang ditetapkan.
5. Jasa Post-Tensioning
Jasa post-tensioning meliputi kegiatan stressing pada komponen struktur tertentu, seperti balok
jembatan, bangunan gedung, ground anchor, serta jembatan cable stayed. Layanan ini bertujuan
untuk meningkatkan kekuatan dan kinerja struktural sesuai dengan desain teknis yang
dipersyaratkan.
1. Beton Precast
Perseroan senantiasa menjaga konsistensi produk utama dan unggulan Perseroan, yakni beton precast.
Segmen beton precast yang dilayani Perseroan kemudia dibagi menjadi 2 (dua) tipe produk, yaitu Precast
Putar dan Precast Non-Putar.
a. Produk Beton Precast Putar
Produk Beton Precast Putar yang diproduksi Perseroan adalah Spun Pile mulai dari diameter 300 mm
hingga diameter 1.200 mm yang merupakan Spun Pile dengan diameter terbesar yang dihasilkan oleh
produsen beton pracetak dalam negeri. Adapun alur proses produksi Beton Precast Putar (PC Spun
Pile Concrete), yaitu:
• Persiapan Cetakan
• Proses Cutting & Heading
• Proses Wire Caging
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |38
Page 55
• Setting Pembesian (joint plate, end plate, joint rim, dan sepatu pancang)
• Pembersihan Cetakan & Pemberian Minyak Cetak
• Pemasangan Rakitan dan Aksesoris Pada Cetakan Bawah
• Mixing Beton di Batching Plant
• Proses Pengecoran
• Penutupan Cetakan Atas
• Proses Stressing
• Proses Spinning
• Proses Curing Dalam Bak
• Demoulding
• Labeling & Finishing Produk
• Penyimpanan Produk.
b. Produk Beton Precast Non-Putar
Produk Beton Precast Non-Putar yang diproduksi oleh WSBP adalah Balok Girder, Voided Slab, Square
Pile, Full Slab, Half Slab, Deck Slab, Box Girder, U-Ditch, U-Gutter, L-Gutter, Box Culvert, CCSP, dan
FCSP. Adapun alur produksi Beton Precast Non-Putar (PC-I Girder) adalah sebagai berikut:
• Proses Pemotongan dan Bending Besi
• Perakitan Besi Tulangan
• Pembersihan dan Pelumasan Bed Cetakan
• Setting Pembesian, Pemasangan Ducting, dan Casting
• Pembersihan dan Pelumasan Dinding Cetakan
• Pemasangan Dinding Cetakan
• Proses Pengecoran dan curing
• Proses Pembukaan Dinding Cetakan
• Proses Labeling Produk
• Proses Demoulding Produk
• Finishing
• Proses Penyimpanan Produk
2. Beton Readymix & Quarry
Selain memproduksi beton precast, Perseroan juga mengembangkan produk beton readymix, yaitu beton
segar yang terdiri atas campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar, serta bahan tambahan
(admixture). Beton readymix diproduksi di fasilitas batching plant dan didistribusikan kepada pelanggan
menggunakan truck mixer. Adapun kegiatan quarry merupakan bagian dari rantai pasok Perseroan yang
berfungsi sebagai sumber bahan batuan yang diolah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam
produksi beton precast maupun beton readymix.
Beton readymix pada umumnya digunakan untuk proyek konstruksi berskala menengah hingga besar
karena mampu memberikan tingkat ketepatan komposisi yang lebih konsisten serta efisiensi waktu
pelaksanaan yang lebih tinggi dibandingkan metode pengecoran konvensional. Perseroan menyediakan
beton readymix dalam berbagai mutu, di mana beton dengan mutu non-struktural seperti B-0, K-100, K-
125, K-150, K-175, dan K-200 digunakan untuk pekerjaan saluran air dan lapisan dasar perkerasan jalan.
Sementara itu, beton dengan mutu K-225, K-300, K-350, K-400, K-450, K-500 hingga K-1.000 digunakan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |39
Page 56
untuk kebutuhan konstruksi struktural dan produksi beton precast, termasuk balok precast, girder, dan
tiang pancang.
Quarry merupakan lokasi kegiatan penambangan yang menghasilkan material berupa batuan, pasir, dan
kerikil. Material hasil penambangan tersebut selanjutnya diolah menggunakan stone crusher untuk
menghasilkan agregat dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Proses pengolahan
dilakukan melalui tahapan crushing dan screening guna memenuhi standar ukuran butir (Particle Size
Distribution).
Produk agregat yang dihasilkan meliputi batu pecah (split) berukuran 10–30 mm, screening berukuran 5–
10 mm, serta abu batu berukuran 0–5 mm. Agregat tersebut digunakan sebagai bahan baku utama dalam
produksi beton, baik beton segar (readymix) maupun beton pracetak (precast), yang dimanfaatkan untuk
berbagai proyek konstruksi seperti jalan, jembatan, gedung, dan infrastruktur lainnya.
3. Kapasitas LSPro
Perseroan saat ini belum memiliki perizinan usaha terkait dengan jasa sertifikasi produk Spun Pile &
CCSP. Dalam Rencana Penambahan KBLI ini, Perseroan berkeyakinan akan memperoleh pangsa pasar
LSPro di pulau Jawa, dengan analisis ketersediaan peluang pasar sebagai berikut:
Tabel 8. Analisa Kapasitas Pasar LSPro
MARKET SHARE LSPRO Yr 1 Yr 2 Yr 3 Yr 4 Yr 5 Yr 6 Yr 7 Yr 8 Yr 9 Yr 10
IDRTn 1F 2F 3F 4F 5F 6F 7F 8F 9F 10F
TARGET CUSTOMER in Java 53,0
PLANT WSBP 4
PLANT NON WSBP 49
TYPE OF PRODUCT 69
SPUNPILE 45
CCSP 24
TOTAL CERTIFIED PRODUCT 49
VALIDITY PERIOD OF CERTIFIED 18 Months
Asume 2 plant per customer
AVALAIBLE PRODUCT PER YEAR 66
Total TAM 66 66 66 66 66 66 66 66 66 66
Total SAM (60% Market TAM) 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Plant Internal (in PCS) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Plant External (in PCS) 40 42 44 46 48 51 53 56 59 61
Total SOM (Pesimist) 36 37 39 41 43 45 48 50 53 55
Total SOM (Optimist) 37 39 41 43 45 48 50 53 55 58
Sumber: manajemen Perseroan
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa target pasar LSPro difokuskan pada pelanggan di wilayah
Jawa dengan total potensi 53 pelanggan, yang terdiri atas:
• Plant WSBP : 4 unit
• Plant non-WSBP : 49 unit
Dari sisi produk, terdapat 69 jenis produk yang berpotensi disertifikasi, terdiri atas:
• Spunpile : 45 produk
• CCSP : 24 produk
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |40
Page 57
Namun demikian, hanya 49 produk yang telah memenuhi status produk tersertifikasi, dengan masa
berlaku sertifikat 18 bulan. Dengan mempertimbangkan siklus sertifikasi tersebut, jumlah produk yang
tersedia untuk disertifikasi per tahun diperkirakan sebanyak 66 produk, yang menjadi dasar perhitungan
Total Addressable Market (TAM). Dari total TAM tersebut, diasumsikan LSPro mampu melayani 60% dari
total pasar, sehingga Total Serviceable Available Market (SAM) ditetapkan sebesar 40 sertifikasi per
tahun.
Tabel 9. Perkiraan Permintaan Sertifikasi Produk Perseroan
MARKET SHARE LSPRO Yr 1 Yr 2 Yr 3 Yr 4 Yr 5 Yr 6 Yr 7 Yr 8 Yr 9 Yr 10
IDRTn 1F 2F 3F 4F 5F 6F 7F 8F 9F 10F
TARGET CUSTOMER in Java 53,0
PLANT WSBP 4
PLANT NON WSBP 49
Total SOM (Optimist) 37 39 41 43 45 48 50 53 55 58
Estimasi Pendapatan LSPro WBP
(Dalam Jt rupiah) 4.222 4.450 4.678 4.906 5.135 5.477 5.705 6.047 6.276 6.618
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel di atas menggambarkan proyeksi penguasaan pasar (Serviceable Obtainable Market/SOM) LSPro
dan diproyeksikan mampu memperoleh pangsa pasar secara bertahap seiring peningkatan pengenalan
layanan, kepercayaan pelanggan, dan kapasitas operasional. Sehingga Perseroan berkeyakinan bahwa
proyeksi jumlah permintaan sertifikasi produk LSPro Perseroan per tahunnya adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Proyeksi Jumlah Permintaan Sertifikasi Produk LSPro Perseroan
Tahun
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
1 Pendapatan Usaha (PU)
Jumlah permintaan sertifikasi produk
37 39 41 43 45
(pengajuan)
Sumber: manajemen Perseroan
4. Kapasitas Uji Lab
Perseroan memiliki laboratorium pengujian yang telah terakreditasi KAN dengan nomor akreditasi LP-
21066-IDN. Laboratorium Perseroan dapat digunakan untuk melakukan pengujian lengkap material
agregat kasar dan halus, uji kuat tekan silinder beton, uji lentur balok, uji bending produk Spun Pile,
Square Pile dan CCSP dan pengujian material/produk lainnya.
Uji bending (Bending Test) Perseroan dilakukan di dalam ruangan (indoor) dengan kapasitas uji mencapai
200 ton dan menggunakan mesin berbasis digital. Produk yang dapat diujikan dapat mencapai diameter
maksimal 1.200 mm dengan panjang produk maksimal 50 m.
Saat ini, Perseroan memiliki peralatan uji lab yang modern dan terkaliberasi dengan penerapan metode
yang sesuai standar serta tenaga ahli profesional. Peralatan laboratorium yang dimiliki Perseroan adalah
sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |41
Page 58
Tabel 11. Daftar Peralatan Laboratorium Perseroan
No. Subject Pengujian Jumlah Alat
1 Alat Bending Tes 1
2 Abrasi Dengan Alat Los Angeles 15
3 Oven Digital Laboratorium 2
4 Crushing Test Machine 8
5 Kalibrasi Anvill 1
6 Crack Detector 2
7 Sample Spliter 3
8 Pengujian Analisa Saringan 35
9 Pengujian Berat Jenis & Penyerapan (Agregat Kasar) 4
10 Pengujian Berat Jenis & Penyerapan (Agregat Halus) 9
11 Sand Equivalen Test Set 9
12 Silt Content 2
13 Elongation Dan Flakiness Test 4
14 Pengujian Berat Volume 10
15 Aggregate Impact Test 3
16 Peralatan Umum 246
17 Pengujian Vicat 11
18 Peralatan Slump Beton 18
19 Cetakan Beton 174
20 Pengujian Kadar Organik 12
21 Pengujian Soundness 3
22 Hydrometer Analysis 7
23 Moisture Tester 9
24 Hyraulic Hand Pallet 1
25 Timbangan 5
26 Air Entertainment Meter 2
27 Blaine Air Permeability Apparatus 9
28 Mixer Trial Mix 3
29 Chloride Titrator Test 0
30 Gantry 2
31 Alat Mini Spinning 1
32 Atk Kantor 37
33 Lain-Lain 1
Sumber: manajemen Perseroan
5. Prospek Bisnis Unit Laboratorium
Dengan status akreditas aktif yang dimiliki unit laboratorium Perseroan baik kepada customer internal
maupun eksternal, membuka kesempatan unit laboratorium untuk memberikan jasa pengujian beton
dan uji bending lebih luas. Untuk keperluan pengujian internal Perseroan, beberapa informasi rencana
jasa pengujian laboratorium yang akan dilakukan di tahun 2026 ini dijelaskan berikut ini:
Tabel 12. Estimasi Pendapatan Pengujian Laboratorium tahun 2026
Deskripsi Estimasi Pendapatan
Jasa Uji Lab Beton Rp 806.440.000
Jasa Uji Bending Rp 3.244.000.000
Total Rp 4.050.440.000
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |42
Page 59
Tabel 13. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (internal)
Jumlah Uji Jumlah
Jenis Pengujian COGM Estimasi Revenue
/Tahun Uji/Bulan
Lab Beton Rp139.840.000
Uji Aggregat Kasar Rp1.275.000 40 4 Rp51.000.000
Uji Aggregat Halus Rp1.155.000 28 3 Rp32.340.000
Trial Mix Rp1.590.000 0 Rp0
Uji Kuat Tekan Rp35.000 900 75 Rp31.500.000
Uji Kuat Lentur Rp100.000 250 21 Rp25.000.000
Lab Struktur
Uji Bending Rp10.600.000 76 6 Rp805.600.000
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 14. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (eksternal)
Price List Jumlah Uji Jumlah
Jenis Pengujian Estimasi Revenue
Eksternal /Tahun Uji/Bulan
Lab Beton Rp666.600.000
Uji Aggregat Kasar Rp2.550.000 120 10 Rp306.000.000
Uji Aggregat Halus Rp1.550.000 120 10 Rp186.000.000
Trial Mix Rp2.000.000 0 0 Rp0
Uji Kuat Tekan Rp40.000 4.200 350 Rp168.000.000
Uji Kuat Lentur Rp110.000 60 5 Rp6.600.000
Lab Struktur
Uji Bending Rp12.700.000 192 16 Rp2.438.400.000
Sumber: manajemen Perseroan
Grafik 8. Prospek Jasa Pengujian tahun 2026 - internal
Sumber: manajemen Perseroan
Berdasarkan data AP3I, tercatat sebanyak 31 perusahaan precaster yang menjadi anggota, dengan total
68 pabrik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 53 plant berlokasi
di Pulau Jawa dan 15 plant berada di luar Pulau Jawa. Kapasitas produksi terpasang perusahaan anggota
AP3I mencapai sekitar 26.470.850 ton per tahun, dengan tingkat utilisasi precaster hingga Triwulan III
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |43
Page 60
2025 berada pada kisaran 2%–57%. Data juga menunjukkan bahwa hingga periode Juni 2025, produk
precast yang paling banyak diproduksi adalah tiang pancang sebesar sekitar 10.500.000 ton, diikuti oleh
produk turap sebesar sekitar 2.500.000 ton. Kondisi tersebut mencerminkan adanya potensi peluang
pengujian bending secara eksternal, khususnya untuk produk tiang pancang dan turap.
4.2. Kajian Pasar Bisnis LSPro
Berdasarkan data AP3I, jumlah perusahaan precaster yang tergabung sebagai anggota tercatat sebanyak
31 perusahaan dengan total 68 pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak
53 plant berlokasi di Pulau Jawa, sementara 15 plant berada di luar Pulau Jawa. Kapasitas produksi
terpasang perusahaan anggota AP3I diperkirakan mencapai sekitar 26.470.850 ton per tahun, dengan
tingkat utilisasi precaster hingga Triwulan III 2025 berada pada kisaran 2%–57%. Data juga menunjukkan
bahwa hingga periode Juni 2025, produk precast yang paling banyak diproduksi adalah tiang pancang
dengan volume sekitar 10.500.000 ton, diikuti oleh produk turap dengan volume sekitar 2.500.000 ton.
Gambar 1. Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota Asosiasi AP3I
Sumber: manajemen Perseroan
Gambar 2. Peta Tebaran Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota
Asosiasi AP3I
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |44
Page 61
Untuk LSPro Perseroan, skema pembiayaan yang diusulkan diambil dari LSPro BRIN sebagai referensi
dan disesuaikan dengan biaya uji bending unit laboratorium Perseroan. Adapun skema pembiayaan
sertifikasi produk oleh LSPro Perseroan adalah sebagai berikut:
Tabel 15. Biaya Sertifikasi Produk LSPro Perseroan
No. Item Biaya Keterangan
1. Biaya uji bending per produk Rp 10.600.000- Biaya per batang produk, harga
Rp 17.600.000 relatif tergantung diameter,
panjang & jumlah produk yang diuji
2. Biaya jasa LSPro Rp 65.000.000 Per pendaftaran/unit kerja
3. Biaya sertifikat (SNI) Rp 2.500.000 Per pendaftaran/unit kerja
4. Biaya tambahan (biaya uji per family) Rp 3.000.000 Tergantung jenis produk yang diuji
Sumber: manajemen Perseroan
4.3. Ketersediaan Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan
karena menggunakan produk dari pelanggan yang akan diujikan.
4.4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan
jasa pengujian laboratorium. Struktur organisasi unit laboratorium saat ini mencakup fungsi manajerial,
teknis, operasional, administrasi, hingga pendukung operasional, yang secara keseluruhan telah
disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pengujian. Jumlah tenaga kerja yang tersedia pada unit
laboratorium saat ini adalah sebanyak 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari tenaga manajerial, teknis,
operasional, administrasi, serta pendukung operasional. Komposisi tersebut mencakup 7 (tujuh) tenaga
kerja tidak langsung (BTL), 3 (tiga) tenaga kerja langsung (BL) pada fungsi operasional pengujian, serta 1
(satu) tenaga pendukung kebersihan. Adapun posisi pengemudi operasional masih dalam kondisi vacant
dan dapat dipenuhi sesuai kebutuhan operasional di kemudian hari.
Tabel 16. Ketersediaan Sumber Daya Manusia
BL/BTL Jabatan Nama
BTL PJ Manajer Laboratorium I Gusti Komang Sri Aryani
BTL PJ Kepala Seksi Pengadaan & Produksi Eling Subiandono
BTL Staf Keuangan & HCM Haritz Gabrioga
BTL Staf Pengadaan & Produksi 01 Antonius Teguh Mulyo Pujiono
BTL Staf Quality Dapit Bawono
BTL Staf Peralatan Ardi Agung Prabowo
BTL Staf Pengadaan & Produksi 02 Ari Gunawan
BTL Driver Operasional Vacant
BL Operator Alat Operator OHC
BL Helper Operator Alat 01 Helper OHC
BL Helper Operator Alat 02 Helper OHC
BTL Office Boy Tenaga Kebersihan
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |45
Page 62
Perseroan telah memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana
yang memadai sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk
melalui Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro). Namun demikian, hingga saat ini Perseroan belum memiliki
tenaga kerja yang secara khusus dan permanen didedikasikan untuk operasional LSPro. Apabila rencana
penambahan KBLI disetujui, Perseroan berencana melakukan pembentukan STO LSPro secara definitif
serta pemenuhan dan penambahan sumber daya manusia secara bertahap sesuai dengan prosedur
internal Perseroan dan ketentuan akreditasi yang berlaku.
Gambar 3. Struktur Organisasi Sementara LSPro
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |46
Page 63
4.5. Proses Produksi
Berikut adalah alur proses produksi beton precast dan readymix:
Gambar 4. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix
Sumber: manajemen Perseroan
Proses produksi Beton Precast dan Readymix merupakan rangkaian kegiatan terintegrasi yang
melibatkan fungsi perencanaan, produksi, pengadaan, pengendalian mutu, logistik, hingga fungsi
pendukung. Secara umum, alur proses dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan dan Pengendalian Produksi Plant
Proses produksi diawali dengan kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi plant, yang
mencakup penyusunan rencana produksi, penjadwalan kapasitas, serta pengalokasian sumber daya
berdasarkan kebutuhan proyek dan proyeksi permintaan. Tahap ini bertujuan untuk memastikan
kesesuaian antara kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, dan target pengiriman.
2. Perancangan dan Evaluasi Produksi
Pada tahap perencanaan dan evaluasi produksi, dilakukan penentuan spesifikasi teknis produk,
metode produksi, serta evaluasi kelayakan pelaksanaan produksi baik untuk beton precast maupun
readymix. Evaluasi ini mencakup kesesuaian desain produk, volume produksi, serta kesiapan
fasilitas dan peralatan produksi.
3. Pengadaan dan Persiapan Bahan Baku
Kebutuhan bahan baku dipenuhi melalui fungsi pengadaan (purchasing) yang terkoordinasi dengan
unit produksi. Bahan baku yang diterima dari pemasok maupun dari quarry internal selanjutnya
disimpan dan dikelola melalui gudang barang masuk, dengan pengendalian persediaan yang
mengacu pada standar mutu dan rencana produksi.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |47
Page 64
4. Pengolahan Material Agregat
Material agregat diproses melalui fasilitas stone crusher untuk menghasilkan ukuran dan gradasi
batu split yang sesuai dengan spesifikasi teknis beton. Hasil pengolahan agregat ini menjadi input
utama dalam proses produksi beton readymix dan precast.
5. Produksi Beton Readymix
Produksi beton readymix dilakukan melalui proses pencampuran bahan baku sesuai dengan mix
design yang telah ditetapkan. Proses ini dilaksanakan dengan pengendalian mutu yang ketat untuk
memastikan konsistensi kualitas beton sebelum dilakukan.
6. Produksi Beton Precast
Produksi beton precast dilakukan melalui tahapan penyiapan cetakan (moulding), pengecoran
beton, proses curing, hingga pembongkaran cetakan. Selama proses produksi, dilakukan
pengawasan mutu untuk memastikan produk memenuhi spesifikasi teknis dan standar kualitas yang
ditetapkan.
7. Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu dilakukan pada seluruh tahapan produksi, termasuk kontrol kualitas bahan
baku, proses produksi, serta produk jadi. Pengujian dan inspeksi dilakukan untuk memastikan
kesesuaian terhadap spesifikasi teknis dan standar mutu yang berlaku.
8. Kalibrasi dan Perawatan Peralatan
Untuk menjamin akurasi dan keandalan proses produksi, Perseroan secara berkala melakukan
kalibrasi peralatan serta perawatan moulding dan mesin produksi. Kegiatan ini bertujuan untuk
menjaga kinerja peralatan, mengurangi potensi gangguan operasional, dan mempertahankan
kualitas produk.
9. Penyimpanan dan Pengelolaan Produk Jadi
Produk precast yang telah memenuhi standar mutu disimpan pada gudang barang jadi sebelum
dilakukan pengiriman. Pengelolaan gudang dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan,
kualitas, dan kesiapan distribusi, guna mendukung ketepatan waktu pengiriman.
10. Distribusi dan Pengiriman
Tahap akhir proses produksi adalah pengiriman produk ke lokasi proyek atau pelanggan. Kegiatan
distribusi dilakukan secara terencana dan terkoordinasi untuk memastikan produk diterima sesuai
jadwal, spesifikasi, dan kondisi mutu yang dipersyaratkan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |48
Page 65
Berikut adalah flowchart prosedur laboratorium:
Gambar 5. Flowchart Prosedur Laboratorium
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |49
Page 66
(lanjutan)
Penerbitan No. Registrasi
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |50
Page 67
Secara umum, alur proses prosedur Uji Lab dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap Awal Permintaan
Proses dimulai dari kegiatan operasional (OPR-1), ketika terdapat permintaan jasa uji laboratorium
dari pengguna jasa. Selanjutnya, Unit Laboratorium melakukan kaji ulang atas permintaan tersebut
untuk memastikan kesesuaian jenis pengujian, ruang lingkup, serta ketersediaan fasilitas dan sumber
daya.
2. Penentuan Jenis Pengujian
Setelah kaji ulang, dilakukan identifikasi jenis pengujian yang diminta, yang terbagi menjadi dua
kategori:
• Jasa Uji Laboratorium Beton, atau
• Jasa Uji Laboratorium Struktur (Bending).
3. Identifikasi Jenis Customer
Pada masing-masing jenis pengujian, dilakukan klasifikasi jenis customer, yaitu:
• Customer internal, atau
• Customer eksternal.
4. Mekanisme Penetapan Harga dan Pembayaran
a. Jasa Uji Laboratorium Beton
• Customer internal:
Biaya pengujian ditetapkan berdasarkan Harga Uji COGM.
• Customer eksternal:
Biaya pengujian mengacu pada tarif eksternal yang berlaku, dengan mekanisme
pembayaran melalui VA/cash di Unit Laboratorium.
b. Jasa Uji Laboratorium Struktur (Bending)
• Customer internal:
Biaya pengujian ditetapkan berdasarkan Harga Uji COGM.
• Customer eksternal:
Unit Laboratorium menerbitkan surat penawaran tarif uji eksternal beserta skema
pembayaran.
5. Persetujuan dan Negosiasi (Customer Eksternal – Uji Struktur)
Untuk customer eksternal jasa uji struktur, dilakukan proses:
Persetujuan harga dan ketentuan pelunasan di awal.
• Apabila tidak disetujui, dilakukan negosiasi harga dan sistem pembayaran, yang dituangkan
dalam berita acara negosiasi, kemudian dilanjutkan dengan penerbitan PO/SPK oleh customer
eksternal;
• Apabila disetujui, proses dilanjutkan ke tahap pembayaran.
6. Pembayaran Jasa
Customer eksternal melakukan pembayaran jasa uji laboratorium struktur/bending melalui Transfer
bank ke unit Perseroan, dengan skema DP atau pelunasan sesuai kesepakatan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |51
Page 68
7. Penerbitan Nomor Registrasi
Setelah persyaratan administratif dan pembayaran terpenuhi, Unit Laboratorium melakukan
penerbitan nomor registrasi pengujian, sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pengujian laboratorium
selanjutnya.
8. Pengiriman dan Pengujian Sampel
Proses dimulai dengan pengiriman produk/sampel uji ke laboratorium. Setelah diterima, Unit
Laboratorium melaksanakan pengujian produk/sampel uji sesuai dengan metode dan ruang lingkup
pengujian yang telah ditetapkan.
9. Evaluasi Layanan dan Penyusunan Laporan
Setelah pengujian selesai:
• Dilakukan survei kepuasan pelanggan sebagai bagian dari evaluasi mutu layanan.
• Unit Laboratorium kemudian melakukan penyusunan Laporan Hasil Uji (LHU).
10. Penentuan Kebutuhan Analisis Tambahan
Selanjutnya dilakukan evaluasi apakah diperlukan analisa tambahan atau laporan complete/akhir:
• Jika diperlukan, Unit Laboratorium melanjutkan dengan penyusunan analisa dan laporan
complete/akhir hasil uji.
• Jika tidak diperlukan, proses langsung dilanjutkan ke tahap penyelesaian administrasi
pembayaran.
11. Penyelesaian Administrasi Pembayaran
Tahap berikutnya adalah pelunasan/pembayaran, yang dibedakan berdasarkan jenis pelanggan:
a. Customer Internal
Untuk customer internal, dilakukan penyusunan Berita Acara (BA) overbooking biaya uji sesuai
dengan nomor jurnal yang tercatat dalam sistem SAP.
b. Customer Eksternal
Untuk customer eksternal, dilakukan pengecekan status pelunasan pembayaran:
• Apabila pembayaran belum lunas, Unit Laboratorium menerbitkan BAAP (invoice, faktur pajak,
dan dokumen pendukung lainnya) sebagai dasar penagihan, kemudian dilanjutkan dengan
pembayaran pelunasan jasa uji oleh customer.
• Apabila pembayaran telah lunas, proses dapat langsung dilanjutkan ke tahap berikutnya.
12. Penerbitan Berita Acara dan Penyerahan Laporan
Setelah seluruh kewajiban administrasi dan pembayaran terpenuhi:
• Unit Laboratorium melakukan penerbitan Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan (BAPP).
• Selanjutnya dilakukan penyerahan Laporan Hasil Uji (LHU) kepada pelanggan.
13. Pencatatan dan Penutupan Proses
Sebagai tahap akhir:
• Seluruh data pengujian dicatat dan diarsipkan dalam database Unit Laboratorium.
• Proses dinyatakan selesai.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |52
Page 69
5. ASPEK POLA BISNIS
5.1. Keunggulan Kompetitif
Kompetisi di bidang manufaktur Beton Precast dan Beton Readymix di Indonesia semakin ketat. Oleh
karena itu, untuk memenangkan persaingan, Perseroan terus menciptakan keunggulan-keunggulan
kompetitif yang bisa menjadi rujukan dan bahan pertimbangan bagi para calon pelanggan. Keunggulan
yang dimiliki Perseroan antara lain:
• Perseroan beroperasi pada sektor usaha yang memiliki prospek pertumbuhan dan memperoleh
dukungan kebijakan Pemerintah;
• Perseroan memiliki basis pasar yang relatif stabil seiring dengan dukungan dari pertumbuhan
kegiatan usaha inti dalam grup;
• Perseroan mencatatkan kinerja pendapatan dan laba historis yang menunjukkan tren pertumbuhan,
serta potensi peningkatan marjin dalam jangka menengah, khususnya dari proyek jalan tol;
• Perseroan didukung oleh jaringan pemasaran yang telah berkembang serta fasilitas produksi yang
tersebar di berbagai wilayah di Indonesia;
• Perseroan memiliki reputasi dan rekam jejak pelaksanaan proyek yang telah teruji;
• Perseroan menyediakan portofolio produk yang beragam dengan standar mutu yang terjaga serta
nilai tambah sesuai kebutuhan proyek;
• Perseroan didukung oleh manajemen dan sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dan
kompetensi di bidang terkait;
• Perseroan melakukan optimalisasi aset tetap, termasuk melalui divestasi aset tidak produktif
melalui mekanisme lelang KPKNL, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan
yang baik dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku;
• Perseroan melaksanakan program penghijauan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian
terhadap lingkungan dan penerapan prinsip ESG;
• Perseroan menerapkan teknologi Building Information Modeling (BIM) tiga dimensi untuk
mendukung peningkatan efisiensi, akurasi, dan efektivitas dalam proses perencanaan dan produksi;
• Perseroan menempatkan pengelolaan hubungan dengan pelanggan sebagai salah satu prioritas
melalui pemberian layanan yang optimal dan pengembangan hubungan jangka panjang.
Perseroan telah mendapatkan Sertifikasi ISO berikut:
• ISO 27001:2022 terkait Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) periode 7 Februari 2023-6
Februari 2026;
• ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) periode 25 September 2023-24
September 2026;
• ISO 14001:2015 terkait Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) UKAS periode 11 Maret 2024-24
Januari 2027;
• ISO 45001: 2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) UKAS periode
13 Maret 2024-18 Januari 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) UKAS periode 14 Maret 2024-8 Maret 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) KAN periode 15 Maret 2024-8 Maret 2027.
Dengan Rencana Penambahan KBLI, memberikan Perseroan keunggulan kompetitif yang bersifat
penunjang terhadap kegiatan usaha utama. Keunggulan tersebut terutama berasal dari pemanfaatan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |53
Page 70
sumber daya, pengalaman operasional, dan infrastruktur yang telah dimiliki Perseroan. Rencana
penambahan KBLI didukung oleh kesiapan operasional Perseroan yang telah memiliki fasilitas
laboratorium pengujian terakreditasi KAN dengan ruang lingkup pengujian yang relevan, sehingga
pelaksanaan kegiatan usaha dapat dilakukan tanpa memerlukan investasi awal yang signifikan.
Perseroan juga didukung oleh ketersediaan peralatan uji bending berkapasitas besar dengan teknologi
pengujian yang terintegrasi, yang mendukung keandalan dan konsistensi hasil pengujian serta efisiensi
operasional.
Selain itu, Perseroan memiliki sumber daya manusia dengan kompetensi dan pengalaman di bidang
beton pracetak dan pengujian teknis yang memadai untuk memenuhi ketentuan akreditasi dan standar
yang berlaku. Pemahaman Perseroan terhadap kebutuhan regulasi dan praktik industri, yang diperoleh
melalui keterlibatan dalam ekosistem industri precast, serta sinergi internal dengan unit usaha yang telah
ada, memungkinkan optimalisasi aset dan pengendalian biaya. Kesiapan tersebut memberikan posisi
yang relatif lebih siap dalam mengimplementasikan kegiatan usaha baru dibandingkan pelaku usaha
yang memulai dari tahap awal, dengan tetap memperhatikan prinsip kepatuhan dan ketentuan yang
berlaku.
Keunggulan kompetitif lainnya adalah jaringan usaha dan basis pelanggan yang telah terbentuk, terutama
di lingkungan proyek konstruksi dan infrastruktur. Jaringan tersebut dapat mendukung pemanfaatan
layanan pengujian dan sertifikasi sebagai bagian dari rangkaian layanan penunjang yang terintegrasi
dengan kegiatan usaha utama Perseroan.
Secara keseluruhan, keunggulan kompetitif dari Rencana Penambahan KBLI ini dinilai bersumber dari
sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis. Keunggulan tersebut diharapkan dapat
dipertahankan sepanjang Perseroan menjaga kepatuhan terhadap ketentuan perizinan, akreditasi, dan
standar operasional yang berlaku.
5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk
Kemampuan pesaing untuk meniru layanan jasa sertifikasi produk (KBLI 71201 dan KBLI 71202) dan jasa
pengujian laboratorium (KBLI 71204 dan KBLI 72102) relatif terbatas dalam jangka pendek, mengingat
kegiatan usaha tersebut mensyaratkan pemenuhan aspek regulasi, akreditasi, dan kesiapan operasional
yang tidak dapat dipenuhi secara instan. Untuk menjalankan jasa sertifikasi produk, pelaku usaha harus
memperoleh akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) dari lembaga berwenang serta
memenuhi ketentuan independensi, kompetensi personel, dan sistem manajemen mutu yang ketat.
Proses pemenuhan persyaratan tersebut memerlukan waktu, sumber daya, serta pengalaman teknis
yang memadai.
Demikian pula untuk jasa pengujian laboratorium, pesaing harus memiliki fasilitas pengujian yang sesuai,
peralatan uji dengan spesifikasi teknis tertentu, serta akreditasi KAN SNI ISO/IEC 17025 untuk ruang
lingkup pengujian yang relevan serta pemenuhan standar sistem manajemen mutu dan kompetensi
teknis tertentu. Ketersediaan peralatan uji bending berkapasitas besar dan personel yang kompeten
menjadi faktor pembatas bagi pelaku usaha lain, khususnya dalam konteks pengujian produk Spun Pile
dan CCSP. Proses perolehan akreditasi tersebut memerlukan waktu, biaya, dan kesiapan organisasi yang
tidak singkat, sehingga tidak seluruh pesaing dapat dengan mudah atau cepat memasuki segmen usaha
ini.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |54
Page 71
Selain faktor teknis dan regulasi, kepercayaan pelanggan dan rekam jejak layanan juga menjadi aspek
yang relatif sulit ditiru oleh pesaing. Perseroan memiliki keunggulan berupa pengalaman operasional,
pemahaman terhadap karakteristik produk precast, serta jaringan pelanggan yang telah terbentuk,
khususnya di sektor konstruksi dan proyek infrastruktur. Keunggulan ini berpotensi menjadi pembeda
yang mengurangi dampak peniruan layanan oleh pesaing, meskipun secara teknis layanan serupa dapat
dikembangkan.
Meskipun demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, peluang bagi pelaku usaha lain untuk
mengembangkan layanan sejenis tetap terbuka, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar dan
dukungan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, kemampuan pesaing untuk meniru layanan Perseroan
dinilai ada namun memerlukan waktu dan investasi yang signifikan, sehingga tidak bersifat langsung atau
mudah dilakukan dalam jangka pendek. Dengan demikian, risiko peniruan oleh pesaing dinilai terkendali,
sepanjang Perseroan mampu menjaga kualitas layanan, kepatuhan terhadap standar akreditasi, serta
konsistensi dalam pengelolaan operasional jasa pengujian dan sertifikasi.
5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai
Perseroan memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai melalui pengembangan kegiatan usaha jasa
sertifikasi produk dan jasa pengujian laboratorium yang terintegrasi dengan proses produksi dan
pengendalian mutu yang telah berjalan. Integrasi tersebut memungkinkan Perseroan untuk
meningkatkan efisiensi proses pengujian dan sertifikasi, mempercepat pemenuhan persyaratan teknis
dan regulasi, serta menjaga konsistensi kualitas produk, yang secara keseluruhan memberikan nilai
tambah bagi pelanggan. Selain itu, pengalaman Perseroan dalam pengelolaan mutu produk beton
precast dan beton readymix, serta pemahaman atas standar teknis konstruksi, mendukung pelaksanaan
jasa sertifikasi dan pengujian secara andal. Kemampuan ini meningkatkan keandalan hasil uji dan
sertifikasi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal, yang menjadi faktor penting
dalam penciptaan nilai bagi pemilik proyek.
Perseroan juga menciptakan nilai melalui penerapan standar mutu, prosedur pengujian, dan
pengendalian kualitas yang terstruktur dan konsisten. Ketersediaan fasilitas dan kapabilitas pengujian
internal memungkinkan Perseroan untuk melakukan pengawasan mutu secara berkelanjutan, sehingga
produk dan layanan yang dihasilkan dapat memenuhi spesifikasi teknis dan kebutuhan proyek secara
tepat waktu. Di samping itu, dukungan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknis,
penerapan teknologi pengujian yang memadai, serta penguatan manajemen risiko dan kepatuhan
terhadap ketentuan perizinan dan akreditasi menjadi faktor pendukung dalam menjaga keberlanjutan
kegiatan usaha tersebut. Dengan pendekatan tersebut, Perseroan dinilai memiliki kemampuan untuk
menciptakan nilai secara berkelanjutan, baik dari sisi efisiensi operasional maupun potensi diversifikasi
pendapatan, dalam mendukung kelayakan usaha yang dianalisis
Melalui Rencana Penambahan, Perseroan berpotensi menciptakan nilai tambah dengan memperluas
ruang lingkup kegiatan usaha ke layanan pendukung yang memiliki keterkaitan langsung dengan proses
produksi dan kualitas produk konstruksi. Penambahan kegiatan jasa sertifikasi produk memungkinkan
Perseroan untuk melakukan pengujian dan penilaian kesesuaian produk secara lebih terintegrasi,
sehingga dapat meningkatkan efisiensi proses sertifikasi, konsistensi mutu, serta kepastian pemenuhan
standar teknis dan regulasi. Hal ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal dan
mempercepat waktu pemenuhan persyaratan proyek. Sementara itu, kegiatan jasa pengujian
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |55
Page 72
laboratorium mendukung pengendalian kualitas bahan baku dan produk akhir secara berkelanjutan.
Dengan kemampuan pengujian internal, Perseroan dapat meningkatkan akurasi hasil uji, mempercepat
pengambilan keputusan operasional, serta meminimalkan risiko ketidaksesuaian spesifikasi produk.
Dari perspektif usaha, Rencana Penambahan KBLI tersebut membuka peluang diversifikasi sumber
pendapatan melalui penyediaan jasa sertifikasi dan pengujian kepada pihak eksternal, sepanjang
memenuhi ketentuan perizinan dan akreditasi yang berlaku. Diversifikasi ini berpotensi memperkuat
struktur pendapatan dan meningkatkan pemanfaatan aset dan sumber daya yang dimiliki Perseroan.
Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI dinilai dapat menciptakan nilai tambah (added value)
dalam bentuk peningkatan efisiensi operasional maupun kelembagaan dengan tetap memperhatikan
prinsip kehati-hatian dan ketentuan yang berlaku, penguatan pengendalian mutu, serta perluasan
potensi pendapatan, yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan dan kelayakan usaha Perseroan
dalam jangka menengah dan panjang.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |56
Page 73
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN
6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas tim pelaksana. Perseroan
senantiasa mengutamakan kebijaksanaan dalam penempatan tenaga kerja, khususnya bagi karyawan
yang memiliki pengalaman dan kompetensi sesuai bidangnya. Dalam menjalankan kegiatan usaha,
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan bepengalaman untuk menjalankan
kegiatan usahanya. Saat ini, Perseroan memiliki 618 orang tenaga kerja yang terdiri dari 511 laki-laki dan
107 perempuan. Dari jumlah tersebut dibagi 2 kategori yaitu pegawai teknik dan non teknik. Berikut
komposisi tenaga kerja berdasarkan pendidikan, lokasi, umur, dan jabatan:
Tabel 17. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan
No. Pendidikan WSKT WBP Jumlah
I TEKNIK 30 301 331
S2 1 11 12
S1 29 185 214
D4 - 10 10
D3 - 47 47
D2 - - -
D1 - - -
SLTA - 48 48
II NON TEKNIK 27 260 287
S3 - 1 1
S2 7 20 27
S1 20 128 148
D4 - - -
D3 - 18 18
D2 - 1 1
D1 - 2 2
SLTA - 90 90
TOTAL (I +II ) 57 561 618
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 18. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi
No. Penempatan WSKT WBP Jumlah
I TEKNIK 30 301 331
Kantor Pusat 12 53 65
Unit Bisnis 4 57 61
Unit Operasional 14 191 205
II NON TEKNIK 27 260 287
Kantor Pusat 16 83 99
Unit Bisnis 7 29 36
Unit Operasioanal 4 148 152
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |57
Page 74
Tabel 19. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur
No. Rentang Umur WSKT WBP Jumlah
I TEKNIK 30 301 331
>55 - 3 3
51-55 2 9 11
46-50 2 11 13
41-45 1 20 21
36-40 6 39 45
31-35 19 137 156
26-30 - 69 69
21-25 - 13 13
<20 - - -
II NON TEKNIK 27 260 287
>55 - 1 1
51-55 2 8 10
46-50 1 10 21
41-45 1 30 31
36-40 5 51 56
31-35 17 86 103
26-30 1 70 71
21-25 - 4 4
<20 - - -
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 20. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan
No. Kategori Jabatan WSKT WBP Jumlah
I TEKNIK 30 301 331
Kepala Divisi - 9 9
Manager Corporate
5 8 13
Office
Manajer Business Unit 2 9 11
Manager Operational
8 16 24
Unit
Ahli / Auditor 9 43 52
Kepala Seksi / Pelaksana
5 70 75
Utama
Koordinator/Pelaksana - 5 5
Staf 1 141 142
II NON TEKNIK 27 260 287
Kepala Divisi 3 3 6
Manager Corporate
7 7 14
Office
Manajer Business Unit 4 4 8
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |58
Page 75
No. Kategori Jabatan WSKT WBP Jumlah
Manager Operational
1 3 4
Unit
Ahli / Auditor 7 43 50
Kepala Seksi / Pelaksana
2 25 27
Utama
Koordinator/Pelaksana 11 11
Staf 3 164 167
Sumber: manajemen Perseroan
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan
jasa pengujian laboratorium. Struktur organisasi unit laboratorium saat ini mencakup fungsi manajerial,
teknis, operasional, administrasi, hingga pendukung operasional, yang secara keseluruhan telah
disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pengujian. Jumlah tenaga kerja yang tersedia pada unit
laboratorium saat ini adalah sebanyak 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari tenaga manajerial, teknis,
operasional, administrasi, serta pendukung operasional. Komposisi tersebut mencakup 7 (tujuh) tenaga
kerja tidak langsung (BTL), 3 (tiga) tenaga kerja langsung (BL) pada fungsi operasional pengujian, serta 1
(satu) tenaga pendukung kebersihan. Adapun posisi pengemudi operasional masih dalam kondisi vacant
dan dapat dipenuhi sesuai kebutuhan operasional di kemudian hari.
Perseroan telah memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana
yang memadai sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk
melalui Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro). Namun demikian, hingga saat ini Perseroan belum memiliki
tenaga kerja yang secara khusus dan permanen didedikasikan untuk operasional LSPro. Apabila rencana
penambahan KBLI disetujui, Perseroan berencana melakukan pembentukan STO LSPro secara definitif
serta pemenuhan dan penambahan sumber daya manusia secara bertahap sesuai dengan prosedur
internal Perseroan dan ketentuan akreditasi yang berlaku.
Biaya tenaga kerja untuk 11 (sebelas) orang di posisi manajerial, teknis, operasional, administrasi, serta
pendukung operasional sudah ada pada beban sumber daya manusia Perseroan saat ini, sehingga biaya
tambahan hanya untuk posisi pengemudi operasional. Biaya tambahan atas posisi vacant tersebut dapat
dipenuhi dari kas Perseroan dan tidak memberatkan likuiditas Perseroan.
6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual
Tidak terdapat aset takberwujud yang khusus terkait dengan Rencana Penambahan KBLI.
6.3. Manajemen Risiko
Secara umum kegiatan usaha Perseroan memiliki risiko-risiko sebagai berikut adalah:
Risiko Tingkat Suku Bunga
Risiko suku bunga menunjuk kepada risiko dimana nilai wajar atau aliran kas mendatang dari suatu
instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan suku bunga pasar. Risiko suku bunga timbul
dari instrumen keuangan yang menghasilkan bunga yang diakui pada laporan perubahan posisi keuangan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |59
Page 76
(contohnya: instrumen utang yang diperoleh atau diterbitkan), dan beberapa instrumen keuangan yang
tidak diakui dalam laporan posisi keuangan (contohnya: beberapa perjanjian pinjaman).
Kebijakan Perseroan adalah untuk memperoleh tingkat bunga yang paling menguntungkan yang tersedia
di pasar. Manajemen berpendapat bahwa risiko terhadap nilai wajar dapat dikelola dengan baik.
Perseroan tidak menyiapkan analisis sensitivitas dikarenakan tidak terdapat dampak yang material
terhadap laba rugi Perseroan yang timbul dari dampak perubahan yang secara wajar terhadap suku
bunga instrumen keuangan yang berbunga tetap dan dinilai pada biaya diamortisasi pada akhir periode
pelaporan.
Risiko Kredit
Risiko kredit mengacu pada risiko rekanan gagal dalam memenuhi kewajiban kontraktualnya yang
mengakibatkan kerugian bagi Perseroan. Risiko kredit Perseroan terutama melekat pada rekening bank,
piutang usaha, piutang lain-lain dan tagihan bruto. Perseroan menempatkan saldo Bank pada institusi
keuangan yang layak serta terpercaya. Piutang usaha dan piutang lain- lain dilakukan dengan pihak ketiga
yang terpercaya dan pihak berelasi. Eksposur Perseroan dan counterparties dimonitor secara terus
menerus dan nilai agregat transaksi terkait tersebar di antara counterparties yang telah disetujui.
Nilai tercatat aset keuangan pada laporan keuangan setelah dikurangi dengan penyisihan untuk kerugian
penurunan nilai mencerminkan eksposur Perseroan terhadap risiko kredit. Piutang usaha merupakan
pendapatan penjualan dari precast dan readymix kepada WSKT (entitas induk) dan pendapatan usaha
precast dan jasa konstruksi kepada CCTW. Evaluasi kredit berjalan dilakukan terhadap kondisi keuangan
Perseroan dan bila memungkinkan, penjualan atau pendapatan kredit harus dijamin dengan asuransi
penjaminan atau dengan letter credit dan bank garansi serta dengan meminta pembayaran uang muka
dari pelanggan.
Meskipun PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Cimanggis Cibitung Tollways, serta kerja sama operasi
antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Jaya Konstruksi Manggala
Pratama Tbk merupakan pelanggan utama Perseroan, Perseroan tetap dapat mengelola eksposur atas
konsentrasi risiko kredit. Hal tersebut didukung oleh kemampuan Perseroan untuk memperoleh
pelanggan baru maupun melakukan penjualan kepada pihak berelasi, antara lain perusahaan lain dalam
Grup PT Waskita Toll Road, perusahaan konstruksi badan usaha milik negara lainnya, serta perusahaan
konstruksi pihak ketiga.
Risiko Likuiditas
Tanggung jawab utama manajemen risiko likuiditas terletak pada Dewan Direksi, yang telah membangun
kerangka manajemen risiko likuiditas yang sesuai untuk persyaratan manajemen likuiditas dan
pendanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang Perseroan. Perseroan mengelola risiko
likuiditas dengan menjaga kecukupan simpanan, fasilitas bank dan fasilitas simpan pinjam dengan terus
menerus memonitor perkiraan dan arus kas aktual dan mencocokkan profil jatuh tempo aset dan
liabilitas keuangan. Perseroan memelihara kecukupan dana untuk membiayai kebutuhan modal kerja
yang berkelangsungan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |60
Page 77
Risiko Modal
Perusahaan mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk melanjutkan
keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang saham melalui optimalisasi
saldo utang dan ekuitas. Struktur modal Perseroan terdiri dari utang bank, utang obligasi, dan liabilitas
sewa diimbangi dengan kas dan setara kas, dan ekuitas yang terdiri dari modal yang ditempatkan dan
disetor, tambahan modal disetor, saldo laba dan komponen ekuitas lainnya. Dewan Direksi Perseroan
secara berkala melakukan telaah struktur permodalan Perseroan. Sebagai bagian dari telaah ini, Dewan
Direksi mempertimbangkan biaya permodalan dan risiko yang berhubungan.
Risiko Legal
Risiko legal berupa tuntutan pidana maupun gugatan perdata dapat terjadi apabila terdapat (atau
terpenuhinya) unsur perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum adalah tindakan yang
dilakukan oleh Perseroan dalam menjalankan kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi yang
bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Upaya mitigasi yang telah dan akan tetap dilakukan oleh
Perseroan untuk menghindari terjadinya perbuatan melawan hukum adalah melakukan review atas
setiap kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi berdasarkan regulasi yang berlaku sebelum memutuskan
menjalankan transaksi. Untuk memastikan kerangka risiko legal yang terkendali dan tetap menjaga
keberlangsungan usaha, Perseroan melakukan analisis risiko atas suatu transaksi yang akan dilakukan
dan review atas perjanjian yang akan ditandatangani. Kegiatan review tersebut dapat dilakukan secara
inhouse atau dengan melibatkan konsultan hukum eksternal.
A. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 (Jasa Sertifikasi Produk
LSPro)
Risiko-risiko yang mungkin terjadi atas Rencana Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 (Jasa
Sertifikasi Produk LSPro) adalah sebagai berikut:
1. Risiko Regulasi dan Kepatuhan
Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 mengharuskan Perseroan memenuhi ketentuan perizinan dan
akreditasi LSPro, termasuk persyaratan dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta peraturan teknis
terkait sertifikasi produk. Risiko dapat timbul apabila proses akreditasi tidak terpenuhi secara tepat
waktu atau terdapat perubahan regulasi di kemudian hari.
Mitigasi:
Perseroan melakukan pemetaan regulasi secara berkala, menyiapkan sistem manajemen mutu LSPro
sesuai standar yang berlaku, serta melakukan koordinasi intensif dengan KAN dan instansi terkait.
2. Risiko Independensi dan Benturan Kepentingan
Sebagai entitas yang juga berperan sebagai produsen beton pracetak, terdapat risiko persepsi maupun
potensi benturan kepentingan dalam pelaksanaan sertifikasi produk, khususnya apabila sertifikasi
dilakukan terhadap produk internal.
Mitigasi:
Perseroan menerapkan pemisahan fungsi organisasi antara unit produksi dan LSPro, menetapkan
kebijakan independensi, serta memastikan proses sertifikasi dilaksanakan secara objektif, transparan,
dan terdokumentasi sesuai standar akreditasi.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |61
Page 78
3. Risiko Operasional
Risiko operasional dapat timbul dari keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten, kesiapan
prosedur kerja, serta sistem pendukung LSPro yang belum optimal pada tahap awal operasional.
Mitigasi:
Perseroan menyiapkan personel yang memiliki kompetensi dan sertifikasi yang dipersyaratkan,
menyusun dan mengimplementasikan SOP LSPro, serta melakukan pelatihan dan evaluasi secara
berkelanjutan.
4. Risiko Reputasi
Kegagalan dalam menjaga kualitas layanan sertifikasi atau terjadinya ketidaksesuaian dalam
pelaksanaan proses sertifikasi berpotensi berdampak pada reputasi LSPro dan Perseroan secara
keseluruhan.
Mitigasi:
Perseroan menerapkan pengendalian mutu internal, audit internal secara berkala, serta mekanisme
penanganan keluhan pelanggan untuk menjaga konsistensi dan kredibilitas layanan sertifikasi.
5. Risiko Permintaan Pasar
Terdapat risiko bahwa tingkat permintaan atas jasa sertifikasi produk tidak sesuai dengan proyeksi awal,
terutama pada tahap awal pendirian LSPro atau akibat perubahan kebijakan/regulasi.
Mitigasi:
Perseroan menerapkan pendekatan bertahap dalam pengembangan LSPro, dengan memprioritaskan
kebutuhan internal dan pasar yang telah memiliki hubungan kerja, serta menyesuaikan kapasitas
operasional secara prudent.
6. Risiko Keuangan
Risiko keuangan dapat timbul dari biaya pendirian, operasional, dan pemeliharaan akreditasi LSPro yang
tidak diimbangi dengan pendapatan jasa sertifikasi dalam jangka pendek.
Mitigasi:
Perseroan menerapkan perencanaan keuangan yang konservatif, melakukan pengendalian biaya
operasional, serta mengevaluasi kinerja LSPro secara periodik untuk memastikan keberlanjutan usaha.
B. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian Lab)
Beberapa peristiwa risiko yang teridentifikasikan dalam Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI
72102 (Jasa Pengujian Lab) dan mitigasinya adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |62
Page 79
Tabel 21. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian
Laboratorium)
Sumber: manajemen Perseroan
6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Identitas dan pengalaman dari manajemen Perseroan adalah sebagai berikut:
Nama : Anak Agung Gede Sumadi
Posisi : Direktur Utama
Pengalaman kerja : • Vice President Divison 1 PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018 – 2019)
• Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019
– 2021)
• Senior Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk
(2021 – 2023)
• Komisaris Utama PT Waskita Sriwijaya Toll (2023)
Nama : Fathul Anwar
Posisi : Direktur Keuangan
Pengalaman kerja : • Direktur PT Pemalang Batang Toll Road (2016 – 2023)
• Vice President Portfolio Management PT Waskita Toll Road (2023 –
2024)
Nama : Itung Prasaja
Posisi : Direktur Operasi
Pengalaman kerja : • Vice President Bulding Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2023–
2024)
• Quantity Surveyor Manager PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019 –
2023)
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |63
Page 80
• Engineering Manager Division VII PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018
– 2019)
• Branch Manager Cabang Bali PT Waskita Karya (Persero) Tbk ( 2012–
2018)
Nama : Raden Mas Aris Santosa
Posisi : Komisaris Utama
Pengalaman kerja : • Komisaris Utama PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
• Sekretaris Utama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
2025;
• Kepala Biro Sumber Daya Manusia Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan, 2023;
• Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang/Jasa Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan, 2022;
• Analis SDM Aparatur Madya selaku Koordinator Mutasi dan
Pemberhentian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
2020;
• Kepala Bagian Mutasi dan Pemberhentian Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan, 2019
Nama : Indra Utama
Posisi : Komisaris Independen
Pengalaman kerja : • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
• CEO Journalist Media Network, 2023;
• Direktur Utama PT Jurnalis Adimedia, 2020;
• Direktur Utama PT Jurnalis Media Properti, 2005
Nama : Ahmad Subagya
Posisi : Komisaris Independen
Pengalaman kerja : • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
• Senior Advisor PT Citra Kartika Konstruksi, 2024;
• Direktur Utama Prajatama Paraduta, 2022;
• Staf Ahli DPR RI, 2009;
• Staf Ahli Pemerintahan Bupati Bantul, 2000;
• Sekretaris Panitia Pemungutan Daerah Kabupaten Bantul (Pemilu),
1999;
• Sekretaris FPP DPRD Provinsi DI Yogyakarta, 1999;
• Wakil Ketua FPP DPRD Kabupaten Bantul, 1997.
6.5. Struktur Kepemilikan Saham
Berikut merupakan struktur kepemilikan saham Perseroan:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |64
Page 81
Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |65
Page 82
6.6. Struktur Organisasi Perseroan
Berikut adalah struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025:
Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |66
Page 83
7. ASPEK KEUANGAN
7.1. Rencana Manajemen
Rencana manajemen Perseroan ke depan difokuskan pada pengembangan dan perluasan kegiatan
usaha di luar bisnis inti manufaktur, khususnya melalui penambahan lini usaha jasa sertifikasi produk
LSPro (KBLI 71201 dan KBLI 71202) dan jasa pengujian laboratorium (KBLI 71204 dan KBLI 72102).
Langkah ini diambil sebagai respons strategis terhadap dinamika industri precast nasional, terutama
dengan adanya rencana pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib untuk produk
Spun Pile dan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Manajemen memandang bahwa kebijakan
tersebut akan mendorong peningkatan kebutuhan terhadap layanan pengujian dan sertifikasi produk
yang terakreditasi, sehingga membuka peluang usaha yang signifikan bagi Perseroan.
Dalam rangka menangkap peluang tersebut, Perseroan merencanakan pembentukan Lembaga
Sertifikasi Produk (LSPro) yang akan berfokus pada pemberian layanan sertifikasi kepada pihak eksternal.
Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga prinsip independensi dan ketidakberpihakan sebagai lembaga
sertifikasi. Perseroan memiliki keunggulan kompetitif berupa fasilitas laboratorium yang telah
terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta didukung oleh sumber daya manusia yang
kompeten dan berpengalaman di bidang precast. Selain itu, keterlibatan aktif Perseroan dalam
penyusunan regulasi teknis, termasuk kontribusi dalam draft Peraturan Menteri terkait SNI wajib,
semakin memperkuat posisi Perseroan dalam mengembangkan usaha ini. Pada tahap awal, untuk
memenuhi kebutuhan sertifikasi produk internal, Perseroan berencana menjalin kerja sama dengan
lembaga sertifikasi lain yang telah memiliki kewenangan, seperti BRIN.
Sejalan dengan itu, Perseroan juga merencanakan penguatan Unit Laboratorium sebagai unit bisnis yang
tidak hanya berfungsi sebagai pendukung operasional internal, tetapi juga sebagai sumber pendapatan
baru melalui penyediaan jasa pengujian kepada pihak eksternal. Unit Laboratorium Perseroan telah
memiliki fasilitas pengujian dengan teknologi yang memadai, termasuk mesin uji bending berkapasitas
besar yang telah terakreditasi KAN sesuai dengan standar SNI ISO/IEC 17025:2017. Dengan kondisi
tersebut, Perseroan memiliki posisi yang strategis mengingat masih terbatasnya laboratorium uji bending
terakreditasi di Indonesia. Pemanfaatan aset yang telah ada, termasuk peralatan yang secara akuntansi
telah habis nilai bukunya, memungkinkan Perseroan untuk mengoptimalkan efisiensi biaya sekaligus
meningkatkan utilisasi aset.
Ke depan, manajemen merencanakan adanya sinergi antara kegiatan LSPro dan Unit Laboratorium, di
mana Unit Laboratorium akan berperan sebagai penyedia jasa pengujian dalam proses sertifikasi produk.
Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses, memperkuat kapabilitas layanan secara
end-to-end, serta meningkatkan daya saing Perseroan di industri. Secara keseluruhan, pengembangan
kedua lini usaha tersebut diharapkan dapat memberikan diversifikasi pendapatan, mengoptimalkan
sumber daya yang dimiliki, serta memperkuat posisi strategis Perseroan dalam rantai nilai industri
precast nasional.
7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan
Asumsi yang digunakan dalam analisis proyeksi keuangan adalah sebagai berikut:
• Analisis aspek keuangan didasarkan pada proyeksi yang telah disusun manajemen Perseroan;
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |67
Page 84
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan mengestimasi jumlah permintaan sertifikat produk
selama masa proyeksi tahun 2026-2030 masing-masing sebanyak 37, 39, 41, 43, dan 45 permintaan
sertifikasi dengan biaya jasa LSPro sebesar Rp65.000.000,- per sertifikasi;
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan mengestimasikan pendapatan usaha jasa pengujian
laboratorium beton dan laboratorium struktur masing-masing sebesar Rp806.440.000 dan
Rp3.244.000.000 dengan asumsi kenaikan 3%;
• Penyesuaian dilakukan terhadap biaya operasional yang sudah terjadi atau tetap dikeluarkan
walaupun Rencana Penambahan KBLI tidak dilakukan sehingga tidak dibebankan kembali pada biaya
operasional Dengan Rencana Penambahan KBLI;
• Rata-rata persentase Harga Pokok Pendapatan terhadap Pendapatan bersih Dengan Rencana
Penambahan KBLI selama masa proyeksi adalah sebesar 86,57% sedangkan Tanpa Rencana
Penambahan KBLI adalah sebesar 86,80%.
Tabel 22. Asumsi Proyeksi Pendapatan LSPro
Tahun
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan Usaha (PU)
Jumlah permintaan sertifikasi produk
37 39 41 43 45
(pengajuan)
Estimasi PU (all) Rp4.221.700.000 Rp4.449.900.000 Rp4.678.100.000 Rp4.906.300.000 Rp5.134.500.000
PU LSPRo saja Rp2.405.000.000 Rp2.535.000.000 Rp2.665.000.000 Rp2.795.000.000 Rp2.925.000.000
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 23. Asumsi Proyeksi Pendapatan Unit Laboratorium
Uraian 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan Usaha (PU)
Jasa Uji Lab Beton Rp806.440.000 Rp830.633.200 Rp855.552.196 Rp881.218.762 Rp907.655.325
Jasa Uji Bending Rp3.244.000.000 Rp3.341.320.000 Rp3.441.559.600 Rp3.544.806.388 Rp3.651.150.580
Total PU Rp4.050.440.000 Rp4.171.953.200 Rp4.297.111.796 Rp4.426.025.150 Rp4.558.805.904
Sumber: manajemen Perseroan
7.3. Biaya Pendirian dan Investasi
Tidak terdapat investasi tambahan yang spesifik terkait Rencana Penambahan KBLI karena Perseroan
sudah memiliki laboratorium dan pengembangan usaha dilakukan dengan pendekatan optimalisasi aset
yang sudah ada, dimana fasilitas laboratorium, peralatan pengujian, serta jumlah sumber daya manusia
telah tersedia dan memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha dimaksud.
7.4. Biaya Operasional
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka manajemen telah mengestimasikan biaya
operasional selama masa proyeksi baik sebelum dan sesudah Rencana Penambahan KBLI sebagai
berikut (dalam jutaan Rupiah penuh):
Tabel 24. Biaya Operasional
Projection Projection Projection Projection Projection
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Dengan Rencana Penambahan KBLI (378.472.596.917) (400.803.009.321) (377.852.314.280) (358.709.799.670) (347.793.275.983)
Tanpa Rencana Penambahan KBLI (375.211.717.155) (397.443.146.166) (374.390.576.230) (355.143.208.479) (344.118.764.057)
Selisih (3.260.879.762) (3.359.863.155) (3.461.738.050) (3.566.591.191) (3.674.511.927)
Sumber: data olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |68
Page 85
Biaya operasional terdiri dari beban penjualan, beban pegawai, beban penyusutan, beban umum, beban
perjalanan/kendaraan, beban kantor, beban amortisasi aset lainnya, beban K3LMP, beban amortisasi
sewa guna usaha, beban hukum, beban jasa produksi, BUA-head office, BUA-unit produksi, beban non-
contributing plant, dan beban lainnya.
7.5. Biaya Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan.
7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah kondisi suatu perusahaan yang tidak menerima laba dan
tidak mengalami rugi atau dikatakan suatu perusahaan impas. Dengan kata lain, antara pendapatan dan
biaya pada kondisi yang sama. Analisis titik impas adalah teknik analisa untuk mempelajari hubungan
antara volume penjualan dan profitabilitas dan analisis ini menunjukkan besarnya keuntungan atau
kerugian perusahaan jika penjualan melampaui atau berada di bawah titik impas. Formula BEP dalam
Rupiah adalah sebagai berikut:
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝐵𝐸𝑃 (𝑅𝑢𝑝𝑖𝑎ℎ) = 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛
𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka analisis titik impas selama masa proyeksi adalah
sebagai berikut (dalam Rupiah penuh):
Tabel 25. Analisis Titik Impas
PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Revenue 6.455.440.000 6.706.953.200 6.962.111.796 7.221.025.150 7.483.805.904
COGS (281.040.000) (289.471.200) (298.155.336) (307.099.996) (316.312.996)
Depreciation - - - - -
Contribution Margin 6.174.400.000 6.417.482.000 6.663.956.460 6.913.925.154 7.167.492.908
Fixed Cost 3.260.879.762 3.359.863.155 3.461.738.050 3.566.591.191 3.674.511.927
Contribution Margin Ratio 0,96 0,96 0,96 0,96 0,96
BEP (Rupiah) 3.409.305.139 3.511.415.371 3.616.621.365 3.725.010.629 3.836.674.051
%BEP 52,81% 52,35% 51,95% 51,59% 51,27%
Sumber: data olahan
Berdasarkan perhitungan tabel di atas, titik impas berada pada rentang 51,27% - 52,81% atau rata-rata
titik impas tercapai pada angka 51,99%. Besaran fixed cost dalam perhitungan BEP tersebut merupakan
biaya sekretariat, biaya pengelolaan kantor, biaya penyusutan fasilitas, biaya hukum dan perijinan, biaya
kendaraan, dan biaya pengujian, serta potensi pajak final atas pendapatan uji lab dan LSPro.
7.7. Sumber Pendanaan
Tidak terdapat penambahan pendanaan selama masa proyeksi terkait Rencana Penambahan KBLI
mengingat Perseroan tidak melakukan penambahan investasi atau capex dalam bentuk aset tetap
karena Perseroan menggunakan fasilitas lab yang sudah dimiliki oleh Perseroan. Rencana Penambahan
KBLI sudah memperhitungkan adanya perubahan modal kerja seperti piutang usaha untuk
mengakomodir tempo pembayaran dari pelanggan. Beban operasional sudah mengakomodir kebutuhan
tambahan beban SDM, beban pelatihan, dan beban operasional lainnya terkait Rencana Penambahan
KBLI.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |69
Page 86
Analisis kecukupan likuiditas untuk menganalisis kemampuan Perseroan untuk mendukung Rencana
Penambahan KBLI tanpa tambahan pendanaan, dilakukan dengan membandingkan kas dan setara kas
dengan tambahan beban operasional sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI sebagai berikut
(dalam Rupiah penuh):
Tabel 26. Analisis Kecukupan Likuiditas
Sumber: data olahan
7.8. Analisis Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto dalam analisis kelayakan keuangan akan menggunakan biaya modal tertimbang atau
weighted average cost of capital (WACC).
Risk Free Rate (Rf)
Risk free rate merupakan tingkat imbal hasil atas instrumen-instrumen keuangan yang dianggap tidak
memiliki risiko gagal bayar. Pada studi kelayakan ini, instrumen keuangan yang digunakan sebagai acuan
risk free rate adalah obligasi pemerintah Republik Indonesia dengan yield per tanggal studi kelayakan
menggunakan tenor terpanjang yaitu 30 (tiga puluh) tahun dalam mata uang Rupiah dikarenakan
Perseroan beroperasi secara berkelanjutan.
Market Premium Risk (RPm)
Market premium risk merupakan selisih antara tingkat imbal hasil antara instrumen keuangan yang
memiliki risiko dengan instrumen keuangan yang relatif tidak memiliki risiko. Dengan demikian dapat
diartikan juga sebagai tingkat imbal hasil tambahan yang diinginkan investor untuk berinvestasi pada
suatu instrumen keuangan yang lebih berisiko. Kami menggunakan data market premium risk hasil
penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari 2026.
Beta (β)
Beta merupakan tolak ukur volatilitas atas suatu saham terhadap pasar secara keseluruhan. Kami
menggunakan data unlevered beta hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari
2026 untuk emerging market sektor construction supplies sebesar 0,80 yang kemudian akan dilakukan
penyesuaian terhadap tarif pajak di Indonesia (beta relevered). Relevered beta setelah disesuaikan
adalah sebesar 1,06.
Rating Based Default Spread (CDS)
Rating based default spread menggunakan hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5
Januari 2026 yang digunakan untuk melakukan penyesuaian atas biaya modal ekuitas.
Cost of Debt (Kd)
Biaya hutang atau tingkat imbal hasil dari sumber pendanaan yang berasal dari hutang yang dikorelasikan
dengan tingkat suku bunga pinjaman Bank Persero dalam mata uang Rupiah untuk pinjaman baik modal
kerja ataupun investasi. Data menggunakan hasil statistik Bank Indonesia sesuai bulan tanggal studi
kelayakan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |70
Page 87
Tarif Pajak (t)
Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah 0% sesuai dengan ketentuan perpajakan yang
berlaku, di mana objek pajak terkait dikenakan pajak penghasilan final dengan tarif 2,65% berdasarkan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah
Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.
Cost of Equity (Ke)
Biaya ekuitas merupakan tingkat imbal hasil yang diharapkan dari sumber pendanaan ekuitas. Formula
perhitungan biaya ekuitas adalah sebagai berikut:
Ke = Rf + (β x RPm) – CDS
Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto digunakan untuk mendiskonto arus kas bersih yang dihasilkan di masa mendatang ke
nilai kini atau per tanggal studi kelayakan. Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskonto arus kas
untuk kapital (free cash flow to firm atau FCFF) adalah WACC (Weighted Average Cost of Capital).
Perhitungan WACC adalah sebagai berikut:
Tabel 27. WACC
Variables Factor Informations
COST OF EQUITY
Indonesia risk free rate (Rf) 6,70% Yield rate on 30 year IDR Government Bonds in Indonesia per Des 31,
2025
Indonesia risk equity premium 6,69% Based on Damodaran
Comparable Company leverage beta 1,06 Based on unlevered Damodaran
Country Default Spread 1,62% Based on Damodaran
Required rate of return on equity (CAPM) 12,19%
COST OF DEBT
Return on debt 8,44% Based on state owned bank lending interest rate for investment
(IDR) Des, 2025 (source: Bank Indonesia)
Tax 0,00% Final Tax
After tax cost of debt 8,44%
DEBT TO EQUITY RATIO
Debt 24,61% Based on Damodaran Industry DER
Equity 75,39%
WACC 11,27%
Sumber: diolah dari berbagai sumber
7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment
Analisa profitabilitas sebagai parameter Perseroan dalam menghasilkan laba adalah sebagai berikut:
Tabel 28. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Gross profit margin 12,58% 13,88% 13,65% 13,58% 13,44% 13,43%
Net profit margin -16,61% -17,84% -14,27% -12,31% -11,01% -14,41%
Return on investment -11,79% -14,51% -13,31% -13,13% -12,92% -13,13%
Sumber: Data olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |71
Page 88
Dengan adanya Rencana Penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa
proyeksi adalah sebesar 13,43%, net profit margin sebesar -14,41%, dan return on investment sebesar -
13,13%.
Tabel 29. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Gross profit margin 12,35% 13,63% 13,42% 13,35% 13,23% 13,20%
Net profit margin -16,79% -18,03% -14,43% -12,47% -11,16% -14,58%
Return on investment -11,89% -14,65% -13,48% -13,34% -13,14% -13,30%
Sumber: Data olahan
Tanpa adanya Rencana Penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa proyeksi
adalah sebesar 13,20%, net profit margin sebesar -14,58%, dan return on investment sebesar -13,30%.
Berdasarkan perbandingan dengan rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI dan Tanpa
Rencana Penambahan KBLI, maka rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI menghasilkan
persentase negatif lebih rendah yang menandakan perbaikan dari sisi kerugian konsolidasi yang lebih
rendah. Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI layak untuk dijalankan.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |72
Page 89
7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih
Analisis perubahan modal kerja bersih periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2026-2030 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain) adalah sebagai berikut:
Tabel 30. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI
AUDIT PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
DEC 2025 DEC 2026 DEC 2027 DEC 2028 DEC 2029 DEC 2030
Piutang usaha - bersih 387.469.159.954 175.099.039.924 99.996.394.581 116.690.895.801 127.243.789.837 138.489.894.726
Piutang retensi 135.813.511.645 - - - - -
Piutang lain-lain 33.510.791.231 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497
Persediaan 144.451.619.599 473.934.886.672 185.095.172.152 223.591.522.562 172.985.436.792 197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan 105.535.772.286 488.544.818.374 339.848.055.304 318.484.577.690 270.323.783.408 295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka 14.191.305.724 32.625.379.645 32.820.236.198 35.744.426.047 30.733.021.059 37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka 18.147.279.147 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - - -
Total Current Assets 840.252.385.426 1.226.781.143.136 714.336.876.756 751.088.440.621 657.863.049.618 725.184.411.724
Utang usaha 878.270.818.030 1.374.640.026.186 1.126.761.225.391 1.244.904.497.202 1.192.384.910.783 1.228.772.710.751
Utang bruto 190.304.291.141 - - - - -
Utang lain-lain 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760
Utang pajak 42.031.008.270 56.975.054.903 53.973.131.278 56.435.696.937 52.195.542.679 58.183.791.840
Beban akrual 235.109.555.525 239.860.833.434 226.494.923.565 230.400.389.696 228.284.033.491 227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858
Total Current Liabilities 1.470.865.608.584 1.796.625.850.142 1.532.379.215.852 1.656.890.519.453 1.598.014.422.572 1.639.309.308.718
Perubahan aset lancar (386.528.757.710) 512.444.266.379 (36.751.563.864) 93.225.391.003 (67.321.362.106)
Perubahan liabilitas jangka pendek 325.760.241.558 (264.246.634.291) 124.511.303.602 (58.876.096.882) 41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih (60.768.516.152) 248.197.632.089 87.759.739.737 34.349.294.121 (26.026.475.960)
Sumber: Data Olahan
Tabel 31. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
AUDIT PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
DEC 2025 DEC 2026 DEC 2027 DEC 2028 DEC 2029 DEC 2030
Piutang usaha - bersih 387.469.159.954 174.292.109.924 99.158.025.431 115.820.631.826 126.341.161.694 137.554.418.988
Piutang retensi 135.813.511.645 - - - - -
Piutang lain-lain 33.510.791.231 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497
Persediaan 144.451.619.599 473.934.886.672 185.095.172.152 223.591.522.562 172.985.436.792 197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan 105.535.772.286 488.544.818.374 339.848.055.304 318.484.577.690 270.323.783.408 295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka 14.191.305.724 32.625.379.645 32.820.236.198 35.744.426.047 30.733.021.059 37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka 18.147.279.147 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - - -
Total Current Assets 840.252.385.426 1.225.974.213.136 713.498.507.606 750.218.176.646 656.960.421.474 724.248.935.986
Utang usaha 878.270.818.030 1.374.640.026.186 1.126.761.225.391 1.244.904.497.202 1.192.384.910.783 1.228.772.710.751
Utang bruto 190.304.291.141 - - - - -
Utang lain-lain 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760
Utang pajak 42.031.008.270 56.975.054.903 53.973.131.278 56.435.696.937 52.195.542.679 58.183.791.840
Beban akrual 235.109.555.525 239.860.833.434 226.494.923.565 230.400.389.696 228.284.033.491 227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858
Total Current Liabilities 1.470.865.608.584 1.796.625.850.142 1.532.379.215.852 1.656.890.519.453 1.598.014.422.572 1.639.309.308.718
Perubahan aset lancar (385.721.827.710) 512.475.705.529 (36.719.669.040) 93.257.755.172 (67.288.514.512)
Perubahan liabilitas jangka pendek 325.760.241.558 (264.246.634.291) 124.511.303.602 (58.876.096.882) 41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih (59.961.586.152) 248.229.071.239 87.791.634.562 34.381.658.291 (25.993.628.366)
Sumber: Data Olahan
7.11. Analisis Kelayakan Investasi
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan
Profitability Index (PI) (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |73
Page 90
Tabel 32. Analisis Kelayakan Investasi
FCF (WITH PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax (382.209.663.163) (406.188.157.710) (354.223.052.582) (329.122.835.572) (321.732.419.548) (331.384.392.134)
(+) Depreciation 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139 60.972.351.884
(+) Interest (1-t) 293.251.816.214 321.313.430.522 315.217.984.880 333.431.741.519 366.674.180.880 377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital (60.768.516.152) 248.197.632.089 87.759.739.737 34.349.294.121 (26.026.475.960) (26.807.270.239)
(-) Capex (22.697.548.220) - - - - (62.801.522.440)
FCFF (9.519.710.633) 238.107.374.416 115.104.673.335 98.328.857.166 78.111.743.512 213.581.895.325
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF (8.555.852.589) 192.332.172.806 83.562.532.659 64.156.280.150 45.805.123.788 125.245.510.014
NPV 502.545.766.828
FCF (WITHOUT PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax (385.123.183.401) (409.245.776.555) (357.425.270.993) (332.470.169.535) (325.225.400.530) (334.982.162.545)
(+) Depreciation 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139 60.972.351.884
(+) Interest (1-t) 293.251.816.214 321.313.430.522 315.217.984.880 333.431.741.519 366.674.180.880 377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital (59.961.586.152) 248.229.071.239 87.791.634.562 34.381.658.291 (25.993.628.366) (26.773.437.217)
(-) Capex (22.697.548.220) - - - - (62.801.522.440)
FCFF (11.626.300.871) 235.081.194.721 111.934.349.749 95.013.887.373 74.651.610.124 170.463.570.999
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF (10.449.153.367) 189.887.764.196 81.260.973.040 61.993.373.585 43.776.083.966 99.960.705.265
NPV 466.429.746.685
INCREMENTAL FCF
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax 2.913.520.238 3.057.618.845 3.202.218.410 3.347.333.963 3.492.980.982 3.597.770.411
(+) Depreciation - - - - - -
(+) Interest (1-t) - - - - - -
(+/-) Changes in working capital (806.930.000) (31.439.150) (31.894.825) (32.364.169) (32.847.594) (33.833.022)
(-) Capex - - - - - -
FCFF 2.106.590.238 3.026.179.695 3.170.323.586 3.314.969.794 3.460.133.387 43.118.324.325
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF 1.893.300.777 2.444.408.610 2.301.559.620 2.162.906.566 2.029.039.822 25.284.804.748
NPV 36.116.020.143
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |74
Page 91
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Cash Inflow 2.913.520.238 3.057.618.845 3.202.218.410 3.347.333.963 3.492.980.982 3.597.770.411
Cash Outflow 806.930.000 31.439.150 31.894.825 32.364.169 32.847.594 33.833.022
PV Cash Inflow 2.618.530.188 2.469.803.707 2.324.714.304 2.184.023.100 2.048.301.818 2.109.750.873
PV Cash Outflow 725.229.410 25.395.098 23.154.684 21.116.535 19.261.996 19.839.856
Sum Cash Inflow 13.755.123.990
Sum Cash Outflow 833.997.579
Profitability Index 16,49
Sumber: Data Olahan
Secara konsolidasi, laba bersih Dengan dan Tanpa Rencana Penambahan KBLI tetap negatif. Namun
demikian, analisis kelayakan investasi yang dilakukan menggunakan basis inkremental menunjukkan
adanya tambahan laba sehingga tetap menghasilkan NPV dan PI yang positif yang merepresentasikan
adanya potensi nilai tambah bagi Perseroan berupa perbaikan kinerja keuangan.
Net Present Value (NPV)
Net Present Value merupakan selisih antara cash inflow dengan cash outflow dari suatu proyek dengan
memperhitungkan nilai waktu uang. Berdasarkan tabel di atas, NPV menunjukkan nilai positif dengan
demikian Rencana Penambahan KBLI tersebut layak untuk dilaksanakan.
Internal Rate of Return (IRR)
Analisis IRR tidak dilakukan karena tidak terdapat capex atau investasi tambahan yang umum digunakan
dalam perhitungan IRR. Aset yang digunakan untuk operasional Rencana Penambahan KBLI merupakan
aset existing yang sudah dimiliki oleh Perseroan sehingga tidak terdapat pembelian capex baru yang
umumnya menjadi initial investment dalam perhitungan IRR.
Profitability Index (PI)
Indeks profitabilitas sebesar 16,49 kali yang menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk
lebih tinggi dibandingkan arus kas keluar, sehingga Rencana Penambahan KBLI memberikan kontribusi
positif. Umumnya suatu rencana proyek dikategorikan layak untuk dilaksanakan jika profitability index
menghasilkan nilai lebih dari 1.
7.12. Nilai Terminal
Nilai terminal digunakan untuk mengakomodir arus kas bersih di luar masa proyeksi. Pertumbuhan kekal
diasumsikan konservatif sebesar 3% dengan mempertimbangkan di atas tingkat inflasi sebesar 2,92%
pada bulan Desember 2025. Capex pada terminal value digunakan untuk mengakomodir kebutuhan
capex Perseroan secara keseluruhan. Pada masa proyeksi tahun 2026-2030 tidak terdapat capex
spesifik yang ditujukan terkait Rencana Penambahan KBLI. Analisis kelayakan investasi menggunakan
asumsi going concern dengan terminal value model perpetuity di akhir masa proyeksi
mempertimbangkan bahwa Perseroan akan tetap melaksanakan operasional di segmen usaha yang
ditambahkan sesuai dengan Rencana Penambahan KBLI setelah masa proyeksi 5 tahun.
7.13. Analisis Sensitivity
Analisis sensitivitas menggunakan faktor perubahan variabel utama berupa pendapatan, dengan
skenario penurunan sebesar -10% dan -5%, serta peningkatan sebesar +5% terhadap proyeksi dasar dan
pengaruh terhadap NPV dan PI. Berikut adalah analisis sensitivitas (dalam Rupiah, kecuali
dinyatakan lain):
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |75
Page 92
Tabel 33. Analisis Sensitivity Menggunakan Faktor Perubahan Pendapatan
Pendapatan -10% Pendapatan -5% Pendapatan +5%
Inkremental NPV 28.375.426.122 32.245.723.132 39.986.317.153
Profitability Index 14,42 15,51 17,38
Sumber: Data Olahan
Analisis sensitivitas tambahan dilakukan dengan skenario yaitu jasa sertifikasi mulai dilakukan pada
bulan Juli 2026 dan beban operasional lainnya diasumsikan tetap dan tidak berubah. Hasil analisis
sensitivitas adalah sebagai berikut:
Tabel 34. Analisis Sensitivity Bila Jasa Sertifikasi Dilakukan pada Juli 2026
Dimulai pada Juli 2026
Inkremental NPV 35.070.564.682
Profitability Index 15,48
Sumber: Data Olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |76
Page 93
8. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki Akreditasi sebagai
Laboratorium Penguji (LPK) dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai standar SNI ISO/IEC
17025:2017 (No. LP-2166-IDN). Rencana Penambahan KBLI 71201- Jasa Sertifikasi Teknis juga
dilakukan sebagai salah satu syarat mendapatkan Akreditasi LSPro dari Komite Akreditasi Nasional
(KAN) sesuai standar ISO/IEC 17065;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, dengan Rencana Penambahan KBLI merupakan langkah
strategis yang bersifat penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan. Rencana Penambahan
KBLI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, pengendalian mutu, optimalisasi
pemanfaatan fasilitas laboratorium, dan menambah pendapatan usaha;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan telah memiliki fasilitas laboratorium terakreditasi
KAN dengan peralatan pengujian yang modern, kapasitas uji bending yang besar, serta tenaga ahli
yang kompeten, sehingga mampu mendukung kegiatan pengujian secara andal. Dari sisi LSPro,
meskipun perizinan masih dalam proses, Perseroan memiliki potensi kapasitas pasar yang jelas
dengan target pelanggan dan volume sertifikasi yang terukur;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, keunggulan kompetitif Rencana Penambahan KBLI
terbentuk dari sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis, dengan keberlanjutan
yang bergantung pada kepatuhan terhadap perizinan, akreditasi, dan standar operasional. Perseroan
mampu menciptakan nilai melalui integrasi jasa sertifikasi produk dan pengujian laboratorium dengan
proses produksi dan pengendalian mutu yang telah berjalan;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan telah memiliki sumber daya manusia
yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan jasa pengujian laboratorium. Perseroan telah
memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana yang memadai
sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk melalui
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro);
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
positif, analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi dibandingkan
arus kas keluar, dan analisis ROI menunjukkan adanya return bagi Perseroan;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |77
Page 94
9. LAMPIRAN
1. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
2. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
3. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
4. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
5. Proyeksi Arus Kas Dengan Rencana Penambahan KBLI;
6. Proyeksi Arus Kas Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
7. Proyeksi Analisis Rasio dengan Rencana Penambahan KBLI;
8. Proyeksi Analisis Rasio tanpa Rencana Penambahan KBLI;
9. Analisis Kelayakan;
10. Beta (Damodaran);
11. Country Risk Premium (Damodaran);
12. Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025;
13. Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |78
Page 95
10. REFERENSI
1. Damodaran (beta dan country risk premium);
2. Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi
VII-2018) dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 330, dan Petunjuk Teknis Khusus SPI Penilaian Dalam
Kondisi Bencana Covid-19 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
3. PER-08/PJ/2020 tanggal 21 April 2020 tentang Penghitungan Angsuran Pajak Penghasilan Untuk
Tahun Pajak Berjalan Sehubungan Dengan Penyesuaian Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan;
4. www.phei.co.id (Indonesia Bonds Pricing Agency);
5. www.bi.go.id (data suku bunga dan inflasi);
6. Media lainnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |79
Page 96
LAMPIRAN
Page 97
Lampiran 1
Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-26 31-Des-27 31-Des-28 31-Des-29 31-Des-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 66.769.853.721 212.453.268.595 104.472.544.937 101.416.255.361 78.142.852.131
Piutang usaha - bersih 175.099.039.924 99.996.394.581 116.690.895.801 127.243.789.837 138.489.894.726
Piutang retensi - - - - -
Piutang lain-lain 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497
Persediaan 473.934.886.672 185.095.172.152 223.591.522.562 172.985.436.792 197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan 488.544.818.374 339.848.055.304 318.484.577.690 270.323.783.408 295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka 32.625.379.645 32.820.236.198 35.744.426.047 30.733.021.059 37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - -
TOTAL ASET LANCAR 1.293.550.996.857 926.790.145.351 855.560.985.558 759.279.304.979 803.327.263.855
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih 1.895.497.929.989 1.820.713.460.474 1.754.363.459.175 1.694.692.802.077 1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih - - - - -
Aset lain-lain 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 1.947.080.284.091 1.872.295.814.576 1.805.945.813.277 1.746.275.156.179 1.687.078.698.039
TOTAL ASET 3.240.631.280.948 2.799.085.959.927 2.661.506.798.835 2.505.554.461.158 2.490.405.961.894
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek 671.127.052.204 671.127.052.204 552.692.866.521 552.692.866.521 552.692.866.521
Utang usaha 1.374.640.026.186 1.126.761.225.391 1.244.904.497.202 1.192.384.910.783 1.228.772.710.751
Utang bruto - - - - -
Utang lain-lain 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760
Utang pajak 56.975.054.903 53.973.131.278 56.435.696.937 52.195.542.679 58.183.791.840
Beban akrual 239.860.833.434 226.494.923.565 230.400.389.696 228.284.033.491 227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa 124.875.000 124.875.000 124.875.000 124.875.000 124.875.000
Utang Obligasi - 321.493.259.612 283.760.774.770 248.176.272.047 215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK 2.467.877.777.346 2.525.124.402.668 2.493.469.035.744 2.399.008.436.140 2.408.043.063.500
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang 1.908.115.501.145 2.017.156.470.353 2.174.412.667.349 2.343.912.362.432 2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih 293.621.515.014 - - - -
Obligasi wajib konversi 887.404.766.957 979.381.524.131 1.070.424.585.549 1.168.555.987.966 1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG 3.122.097.780.879 3.029.493.992.247 3.277.793.250.661 3.545.424.348.160 3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS 5.589.975.558.226 5.554.618.394.915 5.771.262.286.405 5.944.432.784.300 6.251.016.704.584
EKUITAS
Modal saham 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit) (10.099.421.516.149) (10.505.609.673.859) (10.859.832.726.441) (11.188.955.562.013) (11.510.687.981.561)
Komponen ekuitas lainnya 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390
TOTAL EKUITAS (2.349.344.277.278) (2.755.532.434.988) (3.109.755.487.570) (3.438.878.323.142) (3.760.610.742.690)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 3.240.631.280.948 2.799.085.959.927 2.661.506.798.835 2.505.554.461.158 2.490.405.961.894
Page 98
Lampiran 2
Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-26 31-Des-27 31-Des-28 31-Des-29 31-Des-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 64.663.263.483 207.320.498.662 96.169.451.418 89.798.192.049 63.064.655.431
Piutang usaha - bersih 174.292.109.924 99.158.025.431 115.820.631.826 126.341.161.694 137.554.418.988
Piutang retensi - - - - -
Piutang lain-lain 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497 36.341.524.497
Persediaan 473.934.886.672 185.095.172.152 223.591.522.562 172.985.436.792 197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan 488.544.818.374 339.848.055.304 318.484.577.690 270.323.783.408 295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka 32.625.379.645 32.820.236.198 35.744.426.047 30.733.021.059 37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840 1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184 19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - -
TOTAL ASET LANCAR 1.290.637.476.619 920.819.006.268 846.387.628.065 746.758.613.523 787.313.591.417
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih 1.895.497.929.989 1.820.713.460.474 1.754.363.459.175 1.694.692.802.077 1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih - - - - -
Aset lain-lain 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102 51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 1.947.080.284.091 1.872.295.814.576 1.805.945.813.277 1.746.275.156.179 1.687.078.698.039
TOTAL ASET 3.237.717.760.710 2.793.114.820.844 2.652.333.441.341 2.493.033.769.701 2.474.392.289.456
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek 671.127.052.204 671.127.052.204 552.692.866.521 552.692.866.521 552.692.866.521
Utang usaha 1.374.640.026.186 1.126.761.225.391 1.244.904.497.202 1.192.384.910.783 1.228.772.710.751
Utang bruto - - - - -
Utang lain-lain 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760 45.178.353.760
Utang pajak 56.975.054.903 53.973.131.278 56.435.696.937 52.195.542.679 58.183.791.840
Beban akrual 239.860.833.434 226.494.923.565 230.400.389.696 228.284.033.491 227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858 79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa 124.875.000 124.875.000 124.875.000 124.875.000 124.875.000
Utang Obligasi - 321.493.259.612 283.760.774.770 248.176.272.047 215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK 2.467.877.777.346 2.525.124.402.668 2.493.469.035.744 2.399.008.436.140 2.408.043.063.500
LIABILITAS JANGKA PANJANG 1.908.502.268.934 2.012.343.413.145 2.173.431.032.530 2.349.289.508.284 2.545.024.388.260
Utang bank jangka panjang 1.908.115.501.145 2.017.156.470.353 2.174.412.667.349 2.343.912.362.432 2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953 1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih 293.621.515.014 - - - -
Obligasi wajib konversi 887.404.766.957 979.381.524.131 1.070.424.585.549 1.168.555.987.966 1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810 31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG 3.122.097.780.879 3.029.493.992.247 3.277.793.250.661 3.545.424.348.160 3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS 5.589.975.558.226 5.554.618.394.915 5.771.262.286.405 5.944.432.784.300 6.251.016.704.584
EKUITAS
Modal saham 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000 4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821 3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340) (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit) (10.102.335.036.387) (10.511.580.812.942) (10.869.006.083.935) (11.201.476.253.470) (11.526.701.653.999)
Komponen ekuitas lainnya 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390 399.780.101.390
TOTAL EKUITAS (2.352.257.797.516) (2.761.503.574.071) (3.118.928.845.064) (3.451.399.014.599) (3.776.624.415.128)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 3.237.717.760.710 2.793.114.820.844 2.652.333.441.341 2.493.033.769.701 2.474.392.289.456
Page 99
Lampiran 3
Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030
PENDAPATAN USAHA 2.300.790.314.249 2.276.788.298.492 2.483.134.021.807 2.673.712.345.376 2.921.245.212.887
BEBAN POKOK PENDAPATAN (2.011.275.564.281) (1.960.860.016.359) (2.144.286.775.229) (2.310.693.639.759) (2.528.510.175.572)
LABA (RUGI) KOTOR 289.514.749.968 315.928.282.133 338.847.246.578 363.018.705.617 392.735.037.316
BEBAN USAHA
-Beban penjualan (5.820.188.000) (5.936.591.760) (6.055.323.595) (6.176.430.067) (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi (430.178.248.970) (385.066.592.770) (365.181.608.944) (346.965.644.070) (335.450.575.135)
-Beban pajak penghasilan final (17.631.446.280) (9.798.769.041) (6.614.294.318) (5.566.605.488) (6.041.588.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain 75.157.286.333 (1.055.750) (1.087.423) (1.120.045) (1.153.647)
JUMLAH BEBAN USAHA (378.472.596.917) (400.803.009.321) (377.852.314.280) (358.709.799.670) (347.793.275.983)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN (88.957.846.949) (84.874.727.188) (39.005.067.702) 4.308.905.947 44.941.761.333
DAN PAJAK
Beban keuangan (293.251.816.214) (321.313.430.522) (315.217.984.880) (333.431.741.519) (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK (382.209.663.163) (406.188.157.710) (354.223.052.582) (329.122.835.572) (321.732.419.548)
Beban pajak pengasilan - - - - -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN (382.209.663.163) (406.188.157.710) (354.223.052.582) (329.122.835.572) (321.732.419.548)
Page 100
Lampiran 4
Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030
PENDAPATAN USAHA 2.294.334.874.249 2.270.081.345.292 2.476.171.910.011 2.666.491.320.226 2.913.761.406.983
BEBAN POKOK PENDAPATAN (2.010.994.524.281) (1.960.570.545.159) (2.143.988.619.893) (2.310.386.539.763) (2.528.193.862.576)
LABA (RUGI) KOTOR 283.340.349.968 309.510.800.133 332.183.290.118 356.104.780.463 385.567.544.407
BEBAN USAHA
-Beban penjualan (5.820.188.000) (5.936.591.760) (6.055.323.595) (6.176.430.067) (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi (426.918.394.208) (381.707.785.365) (361.720.958.317) (343.400.172.924) (331.777.216.855)
-Beban pajak penghasilan final (17.631.446.280) (9.798.769.041) (6.614.294.318) (5.566.605.488) (6.041.588.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain 75.158.311.333 - - - -
JUMLAH BEBAN USAHA (375.211.717.155) (397.443.146.166) (374.390.576.230) (355.143.208.479) (344.118.764.057)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN (91.871.367.187) (87.932.346.033) (42.207.286.112) 961.571.984 41.448.780.351
PAJAK
Beban keuangan (293.251.816.214) (321.313.430.522) (315.217.984.880) (333.431.741.519) (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK (385.123.183.401) (409.245.776.555) (357.425.270.993) (332.470.169.535) (325.225.400.530)
Beban pajak pengasilan - - - - -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN (385.123.183.401) (409.245.776.555) (357.425.270.993) (332.470.169.535) (325.225.400.530)
Page 101
Lampiran 5
Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih (382.209.663.163) (406.188.157.710) (354.223.052.582) (329.122.835.572) (321.732.419.548)
Depresiasi & amortisasi 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan 241.539.690.504 278.717.445.980 275.888.064.905 297.367.886.110 330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
Piutang usaha - bersih 212.370.120.030 75.102.645.343 (16.694.501.219) (10.552.894.037) (11.246.104.888)
Piutang retensi 135.813.511.645 - - - -
Piutang lain-lain (2.830.733.266) - - - -
Persediaan (329.483.267.073) 288.839.714.520 (38.496.350.410) 50.606.085.769 (24.022.764.305)
Tagihan bruto kepada pelanggan (383.009.046.088) 148.696.763.070 21.363.477.614 48.160.794.282 (25.291.455.907)
Pajak dibayar dimuka (18.434.073.921) (194.856.553) (2.924.189.849) 5.011.404.988 (6.761.037.006)
Uang muka kepada pihak ketiga - - - - -
Biaya dibayar dimuka (955.269.037) - - - -
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - -
Utang usaha 496.369.208.156 (247.878.800.795) 118.143.271.811 (52.519.586.419) 36.387.799.968
Utang bruto (190.304.291.141) - - - -
Utang lain-lain - - - - -
Utang pajak 14.944.046.633 (3.001.923.626) 2.462.565.659 (4.240.154.258) 5.988.249.160
Beban akrual 4.751.277.909 (13.365.909.870) 3.905.466.132 (2.116.356.205) (1.081.162.982)
Uang muka dari pelanggan - - - - -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
AKTIVITAS OPERASI (38.534.288.124) 195.511.389.874 75.774.753.359 62.265.001.757 42.047.888.103
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (22.697.548.220) - - - -
Penjualan aset tetap 66.437.300.000 - - - -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
AKTIVITAS INVESTASI 43.739.751.781 - - - -
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang bank jangka pendek - - (118.434.185.683) - -
Liabilitas sewa - - - - -
Utang Obligasi - - (65.321.291.333) (65.321.291.333) (65.321.291.333)
Utang bank jangka panjang - (49.827.975.000) - - -
-Liabilitas sewa - - - - -
Obligasi wajib konversi - - - - -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN - (49.827.975.000) (183.755.477.016) (65.321.291.333) (65.321.291.333)
KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS 5.205.463.657 145.683.414.874 (107.980.723.657) (3.056.289.576) (23.273.403.231)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 61.564.390.064 66.769.853.721 212.453.268.595 104.472.544.937 101.416.255.361
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN 66.769.853.721 212.453.268.595 104.472.544.937 101.416.255.361 78.142.852.131
Page 102
Lampiran 6
Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih (385.123.183.401) (409.245.776.555) (357.425.270.993) (332.470.169.535) (325.225.400.530)
Depresiasi & amortisasi 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan 241.539.690.504 278.717.445.980 275.888.064.905 297.367.886.110 330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
Piutang usaha - bersih 213.177.050.030 75.134.084.493 (16.662.606.395) (10.520.529.867) (11.213.257.294)
Piutang retensi 135.813.511.645 - - - -
Piutang lain-lain (2.830.733.266) - - - -
Persediaan (329.483.267.073) 288.839.714.520 (38.496.350.410) 50.606.085.769 (24.022.764.305)
Tagihan bruto kepada pelanggan (383.009.046.088) 148.696.763.070 21.363.477.614 48.160.794.282 (25.291.455.907)
Pajak dibayar dimuka (18.434.073.921) (194.856.553) (2.924.189.849) 5.011.404.988 (6.761.037.006)
Uang muka kepada pihak ketiga - - - - -
Biaya dibayar dimuka (955.269.037) - - - -
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual - - - - -
Utang usaha 496.369.208.156 (247.878.800.795) 118.143.271.811 (52.519.586.419) 36.387.799.968
Utang bruto (190.304.291.141) - - - -
Utang lain-lain - - - - -
Utang pajak 14.944.046.633 (3.001.923.626) 2.462.565.659 (4.240.154.258) 5.988.249.160
Beban akrual 4.751.277.909 (13.365.909.870) 3.905.466.132 (2.116.356.205) (1.081.162.982)
Uang muka dari pelanggan - - - - -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK) (40.640.878.362) 192.485.210.179 72.604.429.773 58.950.031.964 38.587.754.715
AKTIVITAS OPERASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (22.697.548.220) - - - -
Penjualan aset tetap 66.437.300.000 - - - -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK) 43.739.751.781 - - - -
AKTIVITAS INVESTASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang bank jangka pendek - - (118.434.185.683) - -
Liabilitas sewa - - - - -
Utang Obligasi - - (65.321.291.333) (65.321.291.333) (65.321.291.333)
Utang bank jangka panjang - (49.827.975.000) - - -
Liabilitas sewa - - - - -
Obligasi wajib konversi - - - - -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN - (49.827.975.000) (183.755.477.016) (65.321.291.333) (65.321.291.333)
KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS 3.098.873.419 142.657.235.179 (111.151.047.243) (6.371.259.370) (26.733.536.618)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 61.564.390.064 64.663.263.483 207.320.498.662 96.169.451.418 89.798.192.049
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN 64.663.263.483 207.320.498.662 96.169.451.418 89.798.192.049 63.064.655.431
Page 103
Lampiran 7
Proyeksi Analisis Rasio Dengan Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 0,52 0,37 0,34 0,32 0,33 0,38
Quick ratio 0,33 0,29 0,25 0,24 0,25 0,28
Cash ratio 0,03 0,08 0,04 0,04 0,03 0,05
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 12,58% 13,88% 13,65% 13,58% 13,44% 13,43%
Net profit margin -16,61% -17,84% -14,27% -12,31% -11,01% -14,41%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 13 23 21 21 21 20
Inventory turnover 4 11 10 13 13 10
Acc. Payable turnover 1 2 2 2 2 2
Days of Acc. Receivable 27 16 17 17 17 19
Days of Inventory 85 34 38 27 28 42
Days of Acc. Payable 246 207 209 186 175 205
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity -160,13% -144,83% -131,29% -125,48% -121,80% -136,70%
Debt to Assets 116,09% 142,58% 153,41% 172,22% 183,92% 153,64%
Page 104
Lampiran 8
Proyeksi Analisis Rasio Tanpa Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 0,52 0,36 0,34 0,31 0,33 0,37
Quick ratio 0,33 0,29 0,25 0,24 0,25 0,27
Cash ratio 0,03 0,08 0,04 0,04 0,03 0,04
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 12,35% 13,63% 13,42% 13,35% 13,23% 13,20%
Net profit margin -16,79% -18,03% -14,43% -12,47% -11,16% -14,58%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 13 23 21 21 21 20
Inventory turnover 4 11 10 13 13 10
Acc. Payable turnover 1 2 2 2 2 2
Days of Acc. Receivable 27 16 17 17 17 19
Days of Inventory 85 34 38 27 28 42
Days of Acc. Payable 246 207 209 186 175 205
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity -159,93% -144,52% -130,91% -125,02% -121,28% -136,33%
Debt to Assets 116,19% 142,88% 153,94% 173,08% 185,11% 154,24%
Page 105
Lampiran 9
Analisis Kelayakan
FCF (WITH PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax (382.209.663.163) (406.188.157.710) (354.223.052.582) (329.122.835.572) (321.732.419.548) (331.384.392.134)
(+) Depreciation 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139 60.972.351.884
(+) Interest (1-t) 293.251.816.214 321.313.430.522 315.217.984.880 333.431.741.519 366.674.180.880 377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital (60.768.516.152) 248.197.632.089 87.759.739.737 34.349.294.121 (26.026.475.960) (26.807.270.239)
(-) Capex (22.697.548.220) - - - - (62.801.522.440)
FCFF (9.519.710.633) 238.107.374.416 115.104.673.335 98.328.857.166 78.111.743.512 213.581.895.325
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF (8.555.852.589) 192.332.172.806 83.562.532.659 64.156.280.150 45.805.123.788 125.245.510.014
NPV 502.545.766.828
FCF (WITHOUT PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax (385.123.183.401) (409.245.776.555) (357.425.270.993) (332.470.169.535) (325.225.400.530) (334.982.162.545)
(+) Depreciation 162.904.200.687 74.784.469.515 66.350.001.299 59.670.657.098 59.196.458.139 60.972.351.884
(+) Interest (1-t) 293.251.816.214 321.313.430.522 315.217.984.880 333.431.741.519 366.674.180.880 377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital (59.961.586.152) 248.229.071.239 87.791.634.562 34.381.658.291 (25.993.628.366) (26.773.437.217)
(-) Capex (22.697.548.220) - - - - (62.801.522.440)
FCFF (11.626.300.871) 235.081.194.721 111.934.349.749 95.013.887.373 74.651.610.124 170.463.570.999
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF (10.449.153.367) 189.887.764.196 81.260.973.040 61.993.373.585 43.776.083.966 99.960.705.265
NPV 466.429.746.685
INCREMENTAL FCF
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Earning after tax 2.913.520.238 3.057.618.845 3.202.218.410 3.347.333.963 3.492.980.982 3.597.770.411
(+) Depreciation - - - - - -
(+) Interest (1-t) - - - - - -
(+/-) Changes in working capital (806.930.000) (31.439.150) (31.894.825) (32.364.169) (32.847.594) (33.833.022)
(-) Capex - - - - - -
FCFF 2.106.590.238 3.026.179.695 3.170.323.586 3.314.969.794 3.460.133.387 43.118.324.325
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 5,00
Discount factor 0,8988 0,8078 0,7260 0,6525 0,5864 0,5864
PV FCFF 1.893.300.777 2.444.408.610 2.301.559.620 2.162.906.566 2.029.039.822 25.284.804.748
NPV 36.116.020.143
PROFITABILITY INDEX
Projection Projection Projection Projection Projection TERMINAL
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 VALUE
Cash Inflow 2.913.520.238 3.057.618.845 3.202.218.410 3.347.333.963 3.492.980.982 3.597.770.411
Cash Outflow 806.930.000 31.439.150 31.894.825 32.364.169 32.847.594 33.833.022
PV Cash Inflow 2.618.530.188 2.469.803.707 2.324.714.304 2.184.023.100 2.048.301.818 2.109.750.873
PV Cash Outflow 725.229.410 25.395.098 23.154.684 21.116.535 19.261.996 19.839.856
Sum Cash Inflow 13.755.123.990
Sum Cash Outflow 833.997.579
Profitability Index 16,49
Page 106
Lampiran 10
Beta (Damodaran)
Date updated: 05-Jan-26 YouTube Video explaining
Created by: Aswath Damodaran, adamodar@stern.nyu.edu estimation choices and
What is this data? Beta, Unlevered beta and other risk measures Emerging Markets process.
Home Page: http://www.damodaran.com
Data website: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/data.html
Companies in each industry: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/pc/datasets/indname.xls
Variable definitions: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/variable.htm
Do you want to use marginal or effective tax rates in unlevering betas? Marginal
If marginal tax rate, enter the marginal tax rate to use 24,71%
Number of Effective Unlevered beta corrected Standard deviation of
Industry Name Beta D/E Ratio Unlevered beta Cash/Firm value HiLo Risk
firms Tax rate for cash equity
Construction Supplies 580 1,00 32,65% 15,29% 0,80 11,66% 0,91 0,3275 38,41%
Page 107
Lampiran 11
Country Risk Premium (Damodaran)
Country and Equity Risk Premiums
Date of update: 5-Jan-26
Enter the current risk premium for a mature equity market 4,23% Implied ERP for S&P 500 with adjusted dollar riskfree rate (for US Aa1 rating
Enter the current risk premium for the US = 4,46% US equity risk premium computed using implied ERP approach
Do you want to adjust the country default spread for the additional volatility of the equity market to get to a country premium? Yes
If yes, enter the multiplier to use on the default spread (See worksheet for volatility numbers for selected emerging markets) 1,52 See "Relative Equity Volatilty" worksheet
Rating-based Default Total Equity Risk Country Risk Sovereign CDS, net of Total Equity Risk Country Risk
Country Africa Moody's rating
Spread Premium Premium Swiss CDS Premium2 Premium3
Indonesia Asia Baa2 1,62% 6,69% 2,46% 1,05% 5,83% 1,60%
Page 108
Lampiran 12
Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025
I.26 SUKU BUNGA PINJAMAN RUPIAH YANG DIBERIKAN I.26 INTEREST RATE OF RUPIAH LOANS
MENURUT KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN BY GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
(Persen Per Tahun) (Percent Per Annum)
2025
KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
1 Bank Persero State Banks 1
2 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,69 8,80 8,82 8,83 8,83 8,81 8,78 8,72 8,60 8,39 8,30 8,12 Working Capital Loans 2
3 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 9,22 9,11 9,09 9,02 9,02 8,96 8,92 8,89 8,67 8,84 8,69 8,44 Investment Loans 3
4 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 9,08 9,06 9,04 9,04 9,01 8,98 8,96 8,94 8,92 8,90 8,87 8,97 Consumer Loans 4
5 Bank Pemerintah Daerah Regional Government Banks 5
6 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,81 8,81 8,81 8,85 8,86 8,84 8,78 8,82 8,84 8,66 8,66 8,32 Working Capital Loans 6
7 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,91 8,93 8,93 8,88 8,89 8,88 8,86 8,84 8,83 8,78 8,79 8,75 Investment Loans 7
8 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,37 10,37 10,36 10,37 10,38 10,38 10,38 10,38 10,37 10,37 10,36 10,35 Consumer Loans 8
9 Bank Swasta Nasional Private National Banks 9
10 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,65 8,62 8,60 8,58 8,55 8,52 8,53 8,48 8,40 8,31 8,29 8,16 Working Capital Loans 10
11 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,10 8,10 8,06 8,06 8,02 7,97 7,93 7,88 7,74 7,67 7,62 7,52 Investment Loans 11
12 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 11,83 11,86 11,84 11,93 11,99 12,04 12,11 12,20 12,26 12,29 12,34 11,99 Consumer Loans 12
Kantor Cabang dari Bank yang Berkedudukan di
13 Branch Offices of Foreign Banks 13
Luar Negeri
14 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 6,65 6,74 6,67 6,58 6,41 6,74 6,85 6,45 6,07 5,84 5,69 5,58 Working Capital Loans 14
15 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,47 8,40 8,38 8,38 8,38 8,08 8,07 7,89 7,44 7,35 7,35 7,11 Investment Loans 15
16 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 43,82 41,78 41,23 41,17 41,30 41,98 41,51 41,19 41,05 40,59 39,80 38,69 Consumer Loans 16
17 Bank Umum Commercial Banks 17
18 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,62 8,67 8,66 8,66 8,64 8,62 8,61 8,55 8,46 8,30 8,24 8,08 Working Capital Loans 18
19 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,66 8,62 8,58 8,56 8,54 8,49 8,46 8,42 8,25 8,32 8,22 8,06 Investment Loans 19
20 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,41 10,40 10,39 10,42 10,44 10,45 10,47 10,49 10,51 10,51 10,52 10,50 Consumer Loans 20
Sejak Januari 2025 terdapat perubahan klasifikasi pengelompokan bank dari Bank Asing dan Bank Campuran menjadi Kantor Cabang Since January 2025, there is a change in the classification of Group of Bank from Branch Offices of Foreign Banks and Joint Banks
Dari Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri sehubungan dengan implementasi Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT). to Branch Offices of Foreign Banks inline with the implementation of the Integrated Commercial Bank Report (LBUT).
Page 109
Lampiran 13 Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025
Names mentioned 99 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki dan Rekan
p.2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki
p.2
unresolved
—
Faks
p.2 ×2
unresolved
org
Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk
p.2 ×2
unresolved
org
Kementerian Perindustrian. Hal
p.3 ×2
unresolved
org
Departemen Research Center
p.4 ×2
unresolved
org
Departemen Pengembangan Bisnis
p.4 ×2
unresolved
org
PT Motive Mulia
p.4 ×2
unresolved
org
PT Indo Karya Beton
p.4 ×2
unresolved
org
PT Adhi Persada Beton
p.4 ×3
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.4 ×2
unresolved
org
KJPP HMR
p.5 ×2
unresolved
org
KJPP Herman Meirizki dan Rekan
p.5 ×2
unresolved
org
KJPP Herman Meirizki
p.5 ×4
unresolved
org
Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
p.5 ×2
unresolved
org
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
p.5 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.5 ×2
unresolved
person
I Gusti Komang Sri Aryani
· PJ Manajer Laboratorium
p.5 ×2
unresolved
person
Ashoya Ratam
· Notaris
p.7 ×3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.7 ×15
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan
p.8 ×6
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Heliantono
p.8 ×6
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Hertanto
p.8 ×3
unresolved
person
Bambang Karunawan
p.8 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Kosasih
p.8 ×6
unresolved
org
Tjahjo & Rekan
p.8 ×6
unresolved
person
Fathiah Helmi
p.24
unresolved
org
Menteri
p.24
unresolved
person
Aulia Taufani
· Notaris
p.24 ×2
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
p.32
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumber
p.32
unresolved
org
Pusat Statistik
p.42 ×4
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum
p.42 ×2
unresolved
org
Kementerian PU TA
p.42
unresolved
org
Pengembangan Infrastruktur Wilayah
p.42
unresolved
org
Pengembangan Sumber Daya Manusia
p.42
unresolved
org
Kementerian PU
p.42 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik Perusahaan
p.44
unresolved
org
Pusat Statistik dan Databooks Pada Grafik
p.44
unresolved
org
Pusat Statistik Sertifikat Kompetensi Kerja
p.45
unresolved
org
Kementerian Perindustrian
p.47 ×2
unresolved
org
Riset dan Inovasi Nasional
p.48 ×3
unresolved
org
PT Sucofindo
p.48 ×2
unresolved
org
PT Guna Sukses Inti
p.49 ×2
unresolved
org
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
p.49 ×2
unresolved
org
PT Global Inspeksi Sertifikasi Merupakan
p.49
unresolved
org
Kementerian PUPR. Kebijakan Pemerintah
p.50
unresolved
org
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman
p.50
unresolved
org
PT PP Urban
p.52
unresolved
org
PT Brantas Abipraya (Persero)
p.52
unresolved
org
PT Inti Karya Persada Tehnik
p.53
unresolved
org
PT Nindya Karya (Persero)
p.53
unresolved
org
PT Jayakuma Perkasa
p.53
unresolved
org
PT Duta Hita Jaya
p.53
unresolved
org
PT Jaya Obayashi.
p.53
unresolved
—
Eling Subiandono
· PJ Kepala Seksi Pengadaan & Produksi
p.61
unresolved
—
Haritz Gabrioga
· Staf Keuangan & HCM
p.61
unresolved
—
Antonius Teguh Mulyo Pujiono
· Staf Pengadaan & Produksi 01
p.61
unresolved
—
Dapit Bawono
· Staf Quality
p.61
unresolved
—
Ardi Agung Prabowo
· Staf Peralatan
p.61 ×2
unresolved
—
Ari Gunawan
· Staf Pengadaan & Produksi 02
p.61
unresolved
—
Operator OHC
· Operator Alat
p.61
unresolved
—
Helper OHC
· Helper Operator Alat 01
p.61 ×2
unresolved
—
Tenaga Kebersihan
· Office Boy
p.61
unresolved
org
PT Pemalang Batang Toll Road
p.79
unresolved
org
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
p.80 ×4
unresolved
org
Pengawasan Keuangan
p.80
unresolved
org
PT Jurnalis Adimedia
p.80
unresolved
org
PT Jurnalis Media Properti
p.80
unresolved
org
PT Citra Kartika Konstruksi
p.80
unresolved
org
Bank Campuran
p.108
unresolved
org
Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri
p.108
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.182
23812 ms
12 Sep 2026 22:20
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': 'IDR',
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL_FACT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}