Skip to content
Back to announcement

20260521_WSBP_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32093531_lamp3.pdf

Asset transaction Needs review WSBP

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 109

Page 1
        LAPORAN STUDI KELAYAKAN
      PT WASKITA BETON PRECAST TBK
 No. 00013/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026
           Tanggal: 23 April 2026

Tanggal Studi Kelayakan per 31 Desember 2025
Page 2
                                                                                                   Kantor Cabang Jakarta Selatan
                                                                                             The AKKAS Commercial Building, Lt.2
                                                              Jl. T.B. Simatupang No.23 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan
                                                                        Telp. : +62 21 78343013 | Wilayah Kerja Seluruh Indonesia


No. Laporan : 00013/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026                                    Jakarta, 23 April 2026

Kepada Yth.
PT Waskita Beton Precast Tbk
Gedung Vasaka Lt. 5
Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang
Jakarta Timur, 13340

U.p.    : Direksi

Dengan hormat,

Sesuai penugasan dari PT Waskita Beton Precast Tbk kepada Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki
dan Rekan (”HMR” atau “kami” atau “Penilai”) untuk memberikan pendapat mengenai kelayakan atas
rencana penambahan kegiatan usaha sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yaitu KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh PT Waskita Beton Precast Tbk
(“Perseroan” atau “WSBP”) sebagaimana tertuang dalam Surat Perjanjian Kerja No.
4200018718/WBP-HMR/2026 dan No. 001/SPK/HMR-JKSL/B/III/2026 tanggal 30 Maret 2026 dan
Addendum Surat Perjanjian Kerja No. 4200018718/ADD-1/WBP-HMR/2026 dan No. 001-1/SPK/HMR-
JKSL/B/III/2026 tanggal 7 April 2026 yang telah disetujui oleh manajemen Perseroan, maka dengan ini
kami telah melakukan studi kelayakan (feasibility study) secara independen dengan tanggal studi
kelayakan per 31 Desember 2025. Laporan studi kelayakan ini diterbitkan sebagai revisi atas Laporan
Studi Kelayakan dengan Nomor 00009/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026 tanggal 10 April 2026 dengan
tanggal studi kelayakan 31 Desember 2025. Revisi yang dilakukan mencakup penambahan informasi
pada Gambaran Umum Perseroan, Aspek Model Manajemen, dan Aspek Keuangan. Dengan
diterbitkannya laporan studi kelayakan revisi ini, maka membatalkan laporan studi kelayakan
sebelumnya.

Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama                 : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha         : Pabrikasi Beton Pracetak (Precast), Readymix, Quarry dan Jasa Konstruksi
Alamat               : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks     : (021) 22892999
E-mail               : info@waskitaprecast.co.id

Latar Belakang Studi Kelayakan
A. KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis
AP3I sebagai Asosiasi Perusahaan Pracetak & Prategang di Indonesia saat ini beranggotakan sekitar 31
Precaster tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dimana hampir seluruh BUMN Precaster, termasuk
Perseroan, menjadi anggota AP3I. AP3I memiliki hubungan yang baik dengan pemangku jabatan
dipemerintahan (stakeholder), PUPR dan Kementerian. AP3I dibentuk dengan tujuan memberikan
dukungan terhadap perkembangan dan kemajuan sektor konstruksi di Indonesia, agar dapat mengikuti
pola industri manufaktur yang lebih efisien dari sistem konvensional, sehingga dapat menyokong industri



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |i
Page 3
konstruksi nasional yang mampu berperan aktif dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Pasar
Global.

Pada tanggal 19 Februari 2024 AP3I mengajukan permohonan pemberlakuan SNI Wajib dari AP3I ke
Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil - Kementerian Perindustrian. Hal ini dilakukan karena
banyaknya produk-produk tiang pancang precast China yang membanjiri proyek-proyek di tanah air.
Selain itu Pemerintah Indonesia telah menerbitkan standar produk Spun Pile dan Corrugated Concrete
Sheet Pile (CCSP) melalui SNI 9156:2023 untuk produk Tiang Pancang Penampang Bulat Berongga
Prategang (Spun Pile) dan SNI 9157:2023 untuk produk Turap Beton Prategang Bergelombang (CCSP).

Berdasarkan hasil meeting terakhir di bulan Oktober 2025, Kemenperin berencana memberlakukan
kedua SNI di atas secara wajib. Untuk implementasi SNI Wajib diperlukan dua infrastruktur utama yaitu:
a. Laboratorium yang sudah terakreditasi sebagai Laboratorium Penguji (Lab Uji);
b. Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) sebagai Lembaga yang menerbitkan sertifikat produk-produk
   sesuai ketentuan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Saat ini belum ada LSPro terakreditasi dengan ruang lingkup sertifikasi produk Spun Pile dan CCSP di
Indonesia. Sebagai wujud percepatan realisasi rencana, Kemenperin menyarankan BRIN sebagai LSPro
terakreditasi untuk menambah ruang lingkup sertifikasi produk dengan sertifikasi produk Sun Pile dan
CCSP berdasarkan SNI 9156:2023 dan SNI 9157:2023. Dalam pelaksanaannya, BRIN menemui kesulitan
karena untuk proses penambahan ruang lingkup sertifikasi produk ini, BRIN memerlukan precaster yang
secara sukarela mengajukan produknya untuk disertifikasi.

Menanggapi keadaan tersebut, Unit Lab Perseroan menganggap ini sebagai peluang untuk Perseroan
mengembangkan bisnis di bidang sertifikasi produk mengingat Perseroan memiliki fasilitas Lab
pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)
dan personel yang memiliki kompetensi ahli di bidang precast untuk jasa sertifikasi produk precast.
Selain itu, Kemenperin sendiri sangat mendukung bila Perseroan membentuk LSPro, karena kemampuan
yang dimiliki Perseroan sebagai LSPro sangat lengkap dibanding perusahaan lainnya di Indonesia saat
ini.

Pertimbangan lainnya adalah, bahwa dalam menyusun draft Peraturan Menteri (Permen) untuk
pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP oleh AP3I, dari 212 ayat yang diusulkan, 128 ayat disusun
oleh Perseroan terutama terkait Keberterimaan Produk untuk sertifikasi produk. Penambahan KBLI
71201 Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 Jasa Inspeksi Teknis pada ruang lingkup Perseroan akan
memberikan peluang bagi Perseroan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya dalam rangka
menambah sumber pendapatan baru.

B. KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering
   dan Teknologi
Perseroan merupakan perusahaan manufaktur dengan produk utama berupa produk-produk precast dan
beton readymix. Untuk mendukung bisnis utama tersebut, Perseroan membentuk laboratorium beton di
unit-unit produksi seperti di Plant Precast dan Batching Plant. Selain itu, khusus untuk Plant Precast yang
memproduksi produk putar seperti Spun Pile dilengkapi pula dengan workshop untuk Uji Bending
(Bending Test) di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo.



                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |ii
Page 4
Untuk mendukung kegiatan pengembangan produk, di tahun 2017 Perseroan membentuk Laboratorium
Research Center (RC) yang berada di Gedung Learning Center, Karawang. Pada saat didirikan, Lab RC
berada dibawah Departemen Research Center, Divisi Engineering, Standardisasi & Research Center.

Berjalan dengan perkembangan bisnis Perseroan, berdasarkan Surat Keputusan Direksi no
116/SK/WBP/PEN 2023 tanggal 8 Agustus 2023, Lab RC berada dibawah Departemen Pengembangan
Bisnis, Divisi Pengembangan Bisnis & Marketing. Saat ini, Lab RC direncanakan untuk menjadi sumber
revenue baru Perseroan yaitu di bidang jasa pengujian Laboratorium. Hal ini direncanakan dengan
pertimbangan Perseroan memiliki mesin uji bending dengan teknologi terdepan di bidangnya, yaitu
kapasitas besar hingga 200 ton-force, lebar 1300mm, dan dilengkapi dengan digital load cell yang
terkoneksi dengan komputer sehingga hasil pengujian dapat tersimpan secara otomatis, menghindari
pengaruh kelalaian manusia karena kesalahan pencatatan. Selain itu, nilai buku dari mesin bending ini
sudah habis dipencatatan akunting, sehingga untuk pemanfaatan mesin bending test ini, biaya yang
diperlukan adalah untuk maintenance rutin dan kalibrasi saja. Diakhir tahun 2024, Lab RC sudah mampu
melayani jasa uji bending untuk eksternal dengan customer seperti: Jaya Huma Perkasa, PT Motive Mulia,
PT Indo Karya Beton, PT Adhi Persada Beton, disamping tetap melayani kebutuhan Plant Precast dan
proyek-proyek Perseroan.

Pada tahun 2024, berdasarkan Keputusan Direksi SK Nomor 100/SK/WBP/PEN/2024 tanggal 7 Juni 2024,
Lab RC menjadi unit bisnis yaitu Unit Laboratorium & Admixture Plant di bawah Equipment Division.
Kedudukan unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant masih tetap sampai keluarnya Keputusan Direksi
terakhir yaitu SK Nomor 79/SK/WBP/PEN 2025 tanggal 23 Juni 2025, dimana Unit Laboratorium &
Admixture Plant di bawah Divisi Peralatan.

Untuk meningkatkan performa unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant terutama bidang jasa
pengujian laboratorium, diawal tahun 2025 Unit Laboratorium Perseroan mengikuti proses akreditasi
KAN sebagai Laboratorium Penguji Kesesuaian (LPK) dan berhasil mendapatkan akreditasi KAN SNI
ISO/IEC 17025:2017 dengan nomor LP-2166-IDN. Akreditasi unit Lab Perseroan meliputi 20 jenis ruang
lingkup pengujian yaitu pengujian beton dan struktur, seperti uji bending produk Spun Pile, CCSP dan
Square Pile. Dalam status akreditasi ini Unit Laboratorium Perseroan dapat melakukan pengujian untuk
customer internal dan eksternal.

Saat ini di Indonesia LPK yang terakreditasi untuk pengujian bending selain unit Lab Perseroan adalah Lab
BRIN, dan lab uji bending lainnya yaitu Lab WiKa dan Lab Struktur ITS memiliki kapasitas terbatas dan
belum terakreditasi. Dengan rencana Kemenperin untuk pemberlakuan SNI 9156:2023 untuk produk
Spun Pile dan SNI 9157:2023 untuk produk turap beton bergelombang (CCSP) secara wajib dalam waktu
dekat, maka keberadaan unit Lab Perseroan sebagai lab uji bending terakreditasi KAN sangat berpotensi
untuk mendukung pelaksanaan SNI Wajib produk precast di Indonesia.

Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iii
Page 5
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.

Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.

Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis, dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh Perseroan (selanjutnya disebut
“Rencana Penambahan KBLI”).

Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.

Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.

Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).

Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Ibu I
Gusti Komang Sri Aryani sebagai manager laboratorium Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap fasilitas yang akan digunakan untuk Pengujian Laboratorium (”Uji Lab”) dan
sertifikasi produk.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iv
Page 6
Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Perseroan memiliki laboratorium pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP terakreditasi KAN;
• Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP menjadikan laboratorium Perseroan
   sebagai laboratorium uji bending terakreditasi strategis;
• Unit laboratorium masih melaksanakan kegiatan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup yang
   telah ditetapkan;
• Fasilitas laboratorium telah tersedia di beberapa lokasi, termasuk Karawang dan Sidoarjo;
• Unit Laboratorium berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Perseroan;
• LSPro hanya akan memberikan layanan sertifikasi untuk produk pihak eksternal;
• Produk milik Perseroan akan disertifikasi melalui kerja sama dengan lembaga sertifikasi lain
   (misalnya BRIN atau B4T).

Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
    keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
    yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
    dokumen legalitas Perseroan;
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
    peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
    ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
    perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
    bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
    asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
    dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
    mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
    tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
    yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
    data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
    kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
    ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |v
Page 7
    prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
    mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
    laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.

Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.

Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.

Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
   identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
   Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
   Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.

Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
    lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vi
Page 8
Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
1. Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
    oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
    tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
    audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
    dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
    jawab audit;
6. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
    opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
    audit;
7. Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
    Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
8. Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
9. Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
    Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
    lainnya yang kami anggap relevan.

Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.

Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vii
Page 9
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki Akreditasi sebagai
   Laboratorium Penguji (LPK) dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai standar SNI ISO/IEC
   17025:2017 (No. LP-2166-IDN). Rencana Penambahan KBLI 71201- Jasa Sertifikasi Teknis juga
   dilakukan sebagai salah satu syarat mendapatkan Akreditasi LSPro dari Komite Akreditasi Nasional
   (KAN) sesuai standar ISO/IEC 17065;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, dengan Rencana Penambahan KBLI merupakan langkah
   strategis yang bersifat penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan. Rencana Penambahan
   KBLI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, pengendalian mutu, optimalisasi
   pemanfaatan fasilitas laboratorium, dan menambah pendapatan usaha;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan telah memiliki fasilitas laboratorium terakreditasi
   KAN dengan peralatan pengujian yang modern, kapasitas uji bending yang besar, serta tenaga ahli
   yang kompeten, sehingga mampu mendukung kegiatan pengujian secara andal. Dari sisi LSPro,
   meskipun perizinan masih dalam proses, Perseroan memiliki potensi kapasitas pasar yang jelas
   dengan target pelanggan dan volume sertifikasi yang terukur;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, keunggulan kompetitif Rencana Penambahan KBLI
   terbentuk dari sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis, dengan keberlanjutan
   yang bergantung pada kepatuhan terhadap perizinan, akreditasi, dan standar operasional. Perseroan
   mampu menciptakan nilai melalui integrasi jasa sertifikasi produk dan pengujian laboratorium dengan
   proses produksi dan pengendalian mutu yang telah berjalan;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan telah memiliki sumber daya manusia
   yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan jasa pengujian laboratorium. Perseroan telah
   memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana yang memadai
   sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk melalui
   Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro);
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
   positif dan analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi
   dibandingkan arus kas keluar;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
   pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
   proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
   disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
   adalah layak.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |viii
Page 10

          
Page 11

          
Page 12
DAFTAR ISI
  PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI .......................................................................................... x
  DAFTAR ISI ................................................................................................................................. xi
  DAFTAR TABEL........................................................................................................................... xiii
  DAFTAR GRAFIK ........................................................................................................................ xiv
  DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................................... xv
  1. LINGKUP PENUGASAN............................................................................................................ 1
  1.1.   Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................ 1
  1.2.   Latar Belakang Studi Kelayakan ....................................................................................... 1
  1.3.   Status Penilai .................................................................................................................. 3
  1.4.   Objek Studi Kelayakan ..................................................................................................... 3
  1.5.   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan................................................................................. 3
  1.6.   Tanggal Studi Kelayakan .................................................................................................. 4
  1.7.   Mata Uang yang Digunakan .............................................................................................. 4
  1.8.   Tingkat Kedalaman Investigasi ......................................................................................... 4
  1.9.   Hasil Inspeksi.................................................................................................................. 4
  1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 4
  1.11. Asumsi Khusus................................................................................................................ 5
  1.12. Subsequent Event ........................................................................................................... 5
  1.13. Metodologi Studi Kelayakan ............................................................................................. 5
  1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan ...................................................................... 6
  1.15. Sumber Data ................................................................................................................... 6
  1.16. Independensi Penilai ....................................................................................................... 7
  1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ............................................................................ 7
  2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN ............................................................................................. 8
  2.1.   Gambaran Umum Perseroan ........................................................................................... 8
  2.2.   Pemegang Saham ........................................................................................................... 8
  2.3.   Susunan Pengurus .......................................................................................................... 8
  2.4.   Gambaran Usaha ............................................................................................................ 9
  2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional ...................................................................... 9
  2.4.2. Analisis SWOT ............................................................................................................... 14
  2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional ............................................................. 16
  2.5.   Kinerja Keuangan .......................................................................................................... 16
  2.5.1. Laba Rugi Historis ......................................................................................................... 17
  2.5.2. Posisi Keuangan Historis ............................................................................................... 18
  2.5.3. Arus Kas Historis ........................................................................................................... 20
  2.5.4. Rasio Keuangan Historis ................................................................................................ 21
  3. ASPEK PASAR ....................................................................................................................... 23
  3.1.   Analisa Makro Ekonomi dan Pasar.................................................................................. 23
  3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan ..................................................................................... 23
  3.1.2. Nilai Tukar Rupiah ......................................................................................................... 23
  3.1.3. Suku Bunga ................................................................................................................... 24
  3.1.4. Inflasi ............................................................................................................................ 25
  3.2.   Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi ......................................................................... 26



                                                                             Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xi
Page 13
3.3.   Sertifikasi Badan Usaha (SBU) ....................................................................................... 29
3.3.   Potensi dan Sasaran Pasar ............................................................................................ 30
3.4.   Pesaing Usaha .............................................................................................................. 31
3.5.   Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 33
3.6.   Target Pasar .................................................................................................................. 36
3.7.   Pemasok dan Pelanggan Utama ..................................................................................... 36
4. ASPEK TEKNIS ...................................................................................................................... 38
4.1.   Kapasitas Segmen Usaha .............................................................................................. 38
4.2.   Kajian Pasar Bisnis LSPro ............................................................................................... 44
4.3.   Ketersediaan Bahan Baku .............................................................................................. 45
4.4.   Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli...................................................... 45
4.5.   Proses Produksi ............................................................................................................ 47
5. ASPEK POLA BISNIS.............................................................................................................. 53
5.1.   Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 53
5.2.   Kemampuan Pesaing Meniru Produk .............................................................................. 54
5.3.   Kemampuan Menciptakan Nilai ..................................................................................... 55
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN ................................................................................................. 57
6.1.   Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 57
6.2.   Manajemen Kekayaan Intelektual................................................................................... 59
6.3.   Manajemen Risiko ......................................................................................................... 59
6.4.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ......................................................................... 63
6.5.   Struktur Kepemilikan Saham .......................................................................................... 64
6.6.   Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................................... 66
7. ASPEK KEUANGAN ............................................................................................................... 67
7.1.   Rencana Manajemen ..................................................................................................... 67
7.2.   Asumsi Pada Proyeksi Keuangan .................................................................................... 67
7.3.   Biaya Pendirian dan Investasi......................................................................................... 68
7.4.   Biaya Operasional ......................................................................................................... 68
7.5.   Biaya Bahan Baku .......................................................................................................... 69
7.6.   Analisis Titik Impas (Break Even Point) ........................................................................... 69
7.7.   Sumber Pendanaan ....................................................................................................... 69
7.8.   Analisis Tingkat Diskonto ............................................................................................... 70
7.9.   Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment .................................................. 71
7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih .......................................................................... 73
7.11. Analisis Kelayakan Investasi .......................................................................................... 73
7.12. Nilai Terminal ................................................................................................................ 75
7.13. Analisis Sensitivity ......................................................................................................... 75
8. KESIMPULAN ........................................................................................................................ 77
9. LAMPIRAN ............................................................................................................................ 78
10. REFERENSI .......................................................................................................................... 79




                                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xii
Page 14
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham.................................................................................................... 8
Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat ......................................................... 16
Tabel 3. Laporan Laba Rugi ............................................................................................................... 17
Tabel 4. Posisi Keuangan Historis ..................................................................................................... 18
Tabel 5. Arus Kas Historis ................................................................................................................. 20
Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis.......................................................................................... 22
Tabel 7. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026 .......................................................................... 27
Tabel 8. Analisa Kapasitas Pasar LSPro ............................................................................................. 40
Tabel 9. Perkiraan Permintaan Sertifikasi Produk Perseroan ............................................................... 41
Tabel 10. Proyeksi Jumlah Permintaan Sertifikasi Produk LSPro Perseroan ......................................... 41
Tabel 11. Daftar Peralatan Laboratorium Perseroan........................................................................... 42
Tabel 12. Estimasi Pendapatan Pengujian Laboratorium tahun 2026 .................................................. 42
Tabel 13. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (internal) ........................................... 43
Tabel 14. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (eksternal) ......................................... 43
Tabel 15. Biaya Sertifikasi Produk LSPro Perseroan ............................................................................ 45
Tabel 16. Ketersediaan Sumber Daya Manusia .................................................................................. 45
Tabel 17. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan ............................................................... 57
Tabel 18. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi....................................................................... 57
Tabel 19. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur ........................................................................ 58
Tabel 20. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan..................................................................... 58
Tabel 21. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian
          Laboratorium) .................................................................................................................... 63
Tabel 22. Asumsi Proyeksi ................................................................................................................ 68
Tabel 23. Asumsi Proyeksi Pendapatan Unit Laboratorium ................................................................. 68
Tabel 24. Biaya Operasional ......................................................................................................... 68
Tabel 25. Analisis Titik Impas ............................................................................................................ 69
Tabel 26. WACC ............................................................................................................................... 71
Tabel 27. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI .................................................. 71
Tabel 28. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI .................................................... 72
Tabel 29. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI ..................... 73
Tabel 30. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI ....................... 73
Tabel 31. Analisis Kelayakan Investasi............................................................................................... 74
Tabel 32. Analisis Sensitivity Menggunakan Faktor Perubahan Pendapatan ........................................ 76
Tabel 33. Analisis Sensitivity Bila Jasa Sertifikasi Dilakukan pada Juli 2026 ......................................... 76




                                                                             Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiii
Page 15
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025.............................................................................. 23
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025 ........................................ 24
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025 ...................................................................................... 25
Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi ............................................................................... 28
Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia.............................................................................. 28
Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU) .................................................................................................. 29
Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang ..................... 29
Grafik 8. Prospek Jasa Pengujian tahun 2026 - internal .......................................................................... 43




                                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiv
Page 16
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota Asosiasi AP3I . 44
Gambar 2. Peta Tebaran Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota
          Asosiasi AP3I .................................................................................................................. 44
Gambar 3. Struktur Organisasi Sementara LSPro ............................................................................... 46
Gambar 4. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix................................................................... 47
Gambar 5. Flowchart Prosedur Laboratorium .................................................................................... 49
Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham .................................................................................................. 65
Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan ......................................................................................... 66




                                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xv
Page 17
1.    LINGKUP PENUGASAN

1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama                 : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha         : Pabrikasi Beton Pracetak (Precast), Readymix, Quarry dan Jasa Konstruksi
Alamat               : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks     : (021) 22892999
E-mail               : info@waskitaprecast.co.id

1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan
A. KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis
AP3I sebagai Asosiasi Perusahaan Pracetak & Prategang di Indonesia saat ini beranggotakan sekitar 31
Precaster tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dimana hampir seluruh BUMN Precaster, termasuk
Perseroan, menjadi anggota AP3I. AP3I memiliki hubungan yang baik dengan pemangku jabatan
dipemerintahan (stakeholder), PUPR dan Kementerian. AP3I dibentuk dengan tujuan memberikan
dukungan terhadap perkembangan dan kemajuan sektor konstruksi di Indonesia, agar dapat mengikuti
pola industri manufaktur yang lebih efisien dari sistem konvensional, sehingga dapat menyokong industri
konstruksi nasional yang mampu berperan aktif dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Pasar
Global.

Pada tanggal 19 Februari 2024 AP3I mengajukan permohonan pemberlakuan SNI Wajib dari AP3I ke
Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil - Kementerian Perindustrian. Hal ini dilakukan karena
banyaknya produk-produk tiang pancang precast China yang membanjiri proyek-proyek di tanah air.
Selain itu Pemerintah Indonesia telah menerbitkan standar produk Spun Pile dan Corrugated Concrete
Sheet Pile (CCSP) melalui SNI 9156:2023 untuk produk Tiang Pancang Penampang Bulat Berongga
Prategang (Spun Pile) dan SNI 9157:2023 untuk produk Turap Beton Prategang Bergelombang (CCSP).

Berdasarkan hasil meeting terakhir di bulan Oktober 2025, Kemenperin berencana memberlakukan
kedua SNI di atas secara wajib. Untuk implementasi SNI Wajib diperlukan dua infrastruktur utama yaitu:
c. Laboratorium yang sudah terakreditasi sebagai Laboratorium Penguji (Lab Uji);
d. Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) sebagai Lembaga yang menerbitkan sertifikat produk-produk
   sesuai ketentuan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Saat ini belum ada LSPro terakreditasi dengan ruang lingkup sertifikasi produk Spun Pile dan CCSP di
Indonesia. Sebagai wujud percepatan realisasi rencana, Kemenperin menyarankan BRIN sebagai LSPro
terakreditasi untuk menambah ruang lingkup sertifikasi produk dengan sertifikasi produk Sun Pile dan
CCSP berdasarkan SNI 9156:2023 dan SNI 9157:2023. Dalam pelaksanaannya, BRIN menemui kesulitan
karena untuk proses penambahan ruang lingkup sertifikasi produk ini, BRIN memerlukan precaster yang
secara sukarela mengajukan produknya untuk disertifikasi.

Menanggapi keadaan tersebut, Unit Lab Perseroan menganggap ini sebagai peluang untuk Perseroan
mengembangkan bisnis di bidang sertifikasi produk mengingat Perseroan memiliki fasilitas Lab
pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)
dan personel yang memiliki kompetensi ahli di bidang precast untuk jasa sertifikasi produk precast.



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |1
Page 18
Selain itu, Kemenperin sendiri sangat mendukung bila Perseroan membentuk LSPro, karena kemampuan
yang dimiliki Perseroan sebagai LSPro sangat lengkap dibanding perusahaan lainnya di Indonesia saat
ini.

Pertimbangan lainnya adalah, bahwa dalam menyusun draft Peraturan Menteri (Permen) untuk
pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP oleh AP3I, dari 212 ayat yang diusulkan, 128 ayat disusun
oleh Perseroan terutama terkait Keberterimaan Produk untuk sertifikasi produk. Penambahan KBLI
71201 Jasa Sertifikasi Teknis dan KBLI 71202 Jasa Inspeksi Teknis pada ruang lingkup Perseroan akan
memberikan peluang bagi Perseroan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya dalam rangka
menambah sumber pendapatan baru.

B. KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering
   dan Teknologi
Perseroan merupakan perusahaan manufaktur dengan produk utama berupa produk-produk precast dan
beton readymix. Untuk mendukung bisnis utama tersebut, Perseroan membentuk laboratorium beton di
unit-unit produksi seperti di Plant Precast dan Batching Plant. Selain itu, khusus untuk Plant Precast yang
memproduksi produk putar seperti Spun Pile dilengkapi pula dengan workshop untuk Uji Bending
(Bending Test) di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo.

Untuk mendukung kegiatan pengembangan produk, di tahun 2017 Perseroan membentuk Laboratorium
Research Center (RC) yang berada di Gedung Learning Center, Karawang. Pada saat didirikan, Lab RC
berada dibawah Departemen Research Center, Divisi Engineering, Standardisasi & Research Center.

Berjalan dengan perkembangan bisnis Perseroan, berdasarkan Surat Keputusan Direksi no
116/SK/WBP/PEN 2023 tanggal 8 Agustus 2023, Lab RC berada dibawah Departemen Pengembangan
Bisnis, Divisi Pengembangan Bisnis & Marketing. Saat ini, Lab RC direncanakan untuk menjadi sumber
revenue baru Perseroan yaitu di bidang jasa pengujian Laboratorium. Hal ini direncanakan dengan
pertimbangan Perseroan memiliki mesin uji bending dengan teknologi terdepan di bidangnya, yaitu
kapasitas besar hingga 200 ton-force, lebar 1300mm, dan dilengkapi dengan digital load cell yang
terkoneksi dengan komputer sehingga hasil pengujian dapat tersimpan secara otomatis, menghindari
pengaruh kelalaian manusia karena kesalahan pencatatan. Selain itu, nilai buku dari mesin bending ini
sudah habis dipencatatan akunting, sehingga untuk pemanfaatan mesin bending test ini, biaya yang
diperlukan adalah untuk maintenance rutin dan kalibrasi saja. Diakhir tahun 2024, Lab RC sudah mampu
melayani jasa uji bending untuk eksternal dengan customer seperti: Jaya Huma Perkasa, PT Motive Mulia,
PT Indo Karya Beton, PT Adhi Persada Beton, disamping tetap melayani kebutuhan Plant Precast dan
proyek-proyek Perseroan.

Pada tahun 2024, berdasarkan Keputusan Direksi SK Nomor 100/SK/WBP/PEN/2024 tanggal 7 Juni 2024,
Lab RC menjadi unit bisnis yaitu Unit Laboratorium & Admixture Plant di bawah Equipment Division.
Kedudukan unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant masih tetap sampai keluarnya Keputusan Direksi
terakhir yaitu SK Nomor 79/SK/WBP/PEN 2025 tanggal 23 Juni 2025, dimana Unit Laboratorium &
Admixture Plant di bawah Divisi Peralatan.

Untuk meningkatkan performa unit bisnis Laboratorium & Admixture Plant terutama bidang jasa
pengujian laboratorium, diawal tahun 2025 Unit Laboratorium Perseroan mengikuti proses akreditasi



                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |2
Page 19
KAN sebagai Laboratorium Penguji Kesesuaian (LPK) dan berhasil mendapatkan akreditasi KAN SNI
ISO/IEC 17025:2017 dengan nomor LP-2166-IDN. Akreditasi unit Lab Perseroan meliputi 20 jenis ruang
lingkup pengujian yaitu pengujian beton dan struktur, seperti uji bending produk Spun Pile, CCSP dan
Square Pile. Dalam status akreditasi ini Unit Laboratorium Perseroan dapat melakukan pengujian untuk
customer internal dan eksternal.

Saat ini di Indonesia LPK yang terakreditasi untuk pengujian bending selain unit Lab Perseroan adalah Lab
BRIN, dan lab uji bending lainnya yaitu Lab WiKa dan Lab Struktur ITS memiliki kapasitas terbatas dan
belum terakreditasi. Dengan rencana Kemenperin untuk pemberlakuan SNI 9156:2023 untuk produk
Spun Pile dan SNI 9157:2023 untuk produk turap beton bergelombang (CCSP) secara wajib dalam waktu
dekat, maka keberadaan unit Lab Perseroan sebagai lab uji bending terakreditasi KAN sangat berpotensi
untuk mendukung pelaksanaan SNI Wajib produk precast di Indonesia.

Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.

1.3. Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.

1.4. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 71201 –
Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis dan KBLI
72102 - Penelitian dan Pengembangan Engineering dan Teknologi oleh Perseroan (selanjutnya disebut
“Rencana Penambahan KBLI”).

1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur



                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |3
Page 20
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.

1.6. Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.

1.7. Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).

1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Ibu I
Gusti Komang Sri Aryani sebagai manager laboratorium Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap fasilitas yang akan digunakan untuk Pengujian Laboratorium (”Uji Lab”) dan
sertifikasi produk.

1.9. Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Perseroan memiliki laboratorium pengujian bending produk Spun Pile dan CCSP terakreditasi KAN;
• Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile dan CCSP menjadikan laboratorium Perseroan
    sebagai laboratorium uji bending terakreditasi strategis;
• Unit laboratorium masih melaksanakan kegiatan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup yang
    telah ditetapkan;
• Fasilitas laboratorium telah tersedia di beberapa lokasi, termasuk Karawang dan Sidoarjo;
• Unit Laboratorium berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Perseroan;
• LSPro hanya akan memberikan layanan sertifikasi untuk produk pihak eksternal;
• Produk milik Perseroan akan disertifikasi melalui kerja sama dengan lembaga sertifikasi lain
    (misalnya BRIN atau B4T).

1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
     keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
     yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
     dokumen legalitas Perseroan;




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |4
Page 21
9.  Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
    peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
    ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
    perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
    bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
    asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
    dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
    mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
    tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
    yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
    data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
    kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
    ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
    prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
    mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
    laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.

1.11. Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.

1.12. Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.

1.13. Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
    identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
    Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |5
Page 22
•   Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
    Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
•   Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.

1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
    lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya.

1.15. Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
• Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
    oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
    tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
    audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
    dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
    jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
    opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
    audit;
• Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
    Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
• Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
• Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
    Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
    lainnya yang kami anggap relevan.




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |6
Page 23
1.16. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.

1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |7
Page 24
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN

2.1. Gambaran Umum Perseroan
PT Waskita Beton Precast Tbk (Perseroan) didirikan berdasarkan Akta No. 10 tanggal 7 Oktober 2014 dari
Fathiah Helmi, S.H., Notaris publik di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui surat keputusan No. AHU-29347.40.10.2014 tanggal 14
Oktober 2014.

Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris No.
58 tanggal 14 November 2025, yang dibuat di hadapan Notaris Aulia Taufani, S.H., mengenai Berita Acara
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Entitas induk langsung dan terakhir Perseroan adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang didirikan dan
berdomisili di Indonesia. Perseroan berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat berlokasi di Gedung
Vasaka Lantai 5 Jl. MT Haryono Kav. 10A, Jakarta Timur 13340.

2.2. Pemegang Saham
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, susunan pemegang saham adalah
sebagai berikut:

                                  Tabel 1. Susunan Pemegang Saham
          Pemegang Saham                   Persentase             Jumlah Saham            Jumlah Nominal (Rp)
                                         Kepemilikan (%)
 PT Waskita Karya (Persero) Tbk                    28,21%           16.017.557.697          1.591.711.914.800
 PT Intiniaga Sukses Abadi                          6,90%            3.918.646.978            195.932.348.900
 Koperasi Waskita Karya                             0,00%                     13.935                  1.393.500
 PT Waskita Beton Precast Tbk                       3,25%            1.845.281.000            184.528.100.000
 Masyarakat                                        61,64%           34.998.978.876          2.184.908.043.800
 Jumlah                                           100,00%           56.780.478.486         4.157.081.801.000
                          Sumber: Laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025


2.3. Susunan Pengurus
Susunan Direksi dan Komisaris Perseroan per 31 Desember 2025 berdasarkan Akta Notaris No. 58
tanggal 14 November 2025 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani, S.H Notaris di Jakarta Selatan adalah
sebagai berikut:

Direksi
Direktur Utama                    : Anak Agung Gede Sumadi Suka Sedana
Direktur Keuangan                 : Fathul Anwar
Direktur Operasi                  : Itung Prasaja

Dewan Komisaris
Komisaris Utama                   : Raden Mas Aris Santosa
Komisaris Independen              : Indra Utama




                                                           Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |8
Page 25
Komisaris Independen             : Ahmad Subagya

2.4. Gambaran Usaha
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan melakukan usaha di bidang industri
pabrikasi, industri konstruksi, jasa, pekerjaan terintegrasi (Engineering, Procurement and Construction:
EPC), perdagangan, agro industri, jasa penyewaan, transportasi, investasi, pengelolaan kawasan, jasa
keagenan, pembangunan, layanan jasa peningkatan kemampuan di bidang konstruksi, teknologi
informasi serta kepariwisataan dan pengembangan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan
dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan
dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut:
1. Industri Pabrikasi Barang dan Bahan Bangunan untuk Konstruksi, antara lain:
a. Industri barang dari semen dan kapur untuk konstruksi;
b. Industri Mortar atau Beton Siap Pakai;
c. Instalasi/ Pemasangan Mesin dan Peralatan Industri;
d. Industri Mesin Pertanian dan Kehutanan;
e. Industri Barang Bangunan dari Kayu;
f. Industri Bangunan Prafabrikasi dari Kayu;
g. Industri Batu Bata dari Tanah Liat/Keramik;
h. Industri Genteng dari Tanah Liat/Keramik;
i. Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng;
j. Industri Semen;
k. Industri Kapur;
l. Industri Gips;
m. Industri Barang dari Gips untuk Konstruksi;
n. Industri Barang dari Asbes untuk Keperluan Bahan Bangunan;
o. Industri Barang dari Marmer dan Granit untuk Keperluan Bahan Bangunan;
p. Industri Barang dari Logam Bukan Aluminium Siap Pasang Untuk Bangunan;
q. Industri Barang dari Logam Aluminium Siap Pasang untuk Bangunan;
r. Industri Konstruksi Berat Siap Pasang dari Baja untuk Bangunan;
s. Industri Barang dari Logam Siap Pasang untuk Konstruksi Lainnya;
t. Industri Mesin Penambahan, Penggalian dan Konstruksi;
u. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Industri;
v. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Infratruktur;
w. Industri Barang dan Peralatan Teknik/Industri dari Plastik;
x. Industri Barang dari Plastik Untuk Bangunan;
y. Industri Pipa Plastik dan Perlengkapannya;
z. Industri Barang Plastik Lembaran;
aa. Industri Besi dan Baja Dasar (Iron and Steel Making);
bb. Industri Penggilingan Baja (Steel Rolling);
cc. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Baja dan Besi;
dd. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Logam Bukan Besi dan Baja;
ee. Industri Tangki, Tandon Air dan Wadah Dari Logam;
ff. Industri Generator Uap, Bukan Ketel Pemanas;



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |9
Page 26
gg. Industri Peralatan Umum;
hh. Industri Barang Dari Kawat;
ii. Industri Paku, Mur Dan Baut.

2.   Industri Konstruksi, antara lain:
a.   Konstruksi Bangunan Sipil:
     • Kontruksi Bangunan Sipil Jembatan, Jalan Layang, Fly Over, dan Underpass;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Jalan;
     • Konstruksi Jalan Rel;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Sipil;
     • Konstruksi Jaringan Irigasi dan Drainase;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Pengolahan Air Bersih;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Prasarana dan Sarana Sistem Pengolahan Limbah Padat, Cair, dan
        Gas;
     • Pengerukan;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Pelindung Pantai;
     • Konstruksi Terowongan;
     • Konstruksi Bangunan Sipul Elektrikal;
     • Konstruksi Reservoir Pembangkit Listrik Tenaga Air;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Minyak dan Gas Bumi;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Olah Raga;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Pengolahan Produk Kimia, Petrokimia, Farmasi, dan Industri
        Lainnya;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Militer dan Peluncuran Satelit;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Telekomunikasi untuk Prasarana Transportasi;
     • Konstruksi Khusus Bangunan Sipil Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
     • Konstruksi Jaringan Irigasi, Komunikasi, dan Limbah Lainnya;
     • Konstruksi Bangunan Prasarana Sumber Daya Air;
     • Konstruksi Bangunan Pelabuhan Bukan Perikanan;
     • Konstruksi Bangunan Pelabuhan Perikanan;
     • Konstruksi Sentral Telekomunikasi;
     • Pembuatan/Pengeboran Sumur Air Tanah;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Pertambangan;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Panas Bumi;
     • Pemasangan Kerangka Baja.
b.   Konstruksi Gedung:
     • Konstruksi Gedung Industri;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Gedung;
     • Konstruksi Gedung Hunian;
     • Konstruksi Gedung Perkantoran;
     • Konstruksi Gedung Perbelanjaan;
     • Konstruksi Gedung Kesehatan;
     • Konstruksi Gedung Pendidikan;




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |10
Page 27
     • Konstruksi Gedung Penginapan;
     • Konstruksi Gedung Tempat Hiburan dan Olahraga;
     • Konstruksi Gedung Lainnya;
c.   Penyelesaian Konstruksi, antara lain:
     • Pengerjaan Pemasangan Kaca dan Alumunium;
     • Pengerjaan Lantai, Dinding, Peralatan Saniter dan Plafon;
     • Dekorasi Interior;
     • Penyelesaian Konstruksi Bangunan Lainnya.
d.   Konstruksi Khusus dan Konstruksi Khusus Lainnya:
     • Penyiapan Lahan;
     • Pemasangan Pondasi dan Tiang Pancang;
     • Pemasangan Perancah (Steiger);
     • Pemasangan Rangka dan Atap/Roof Covering;
     • Konstruksi Khusus Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
     • Pembongkaran;
     • Instalasi Sinyal Dan Rambu-rambu Jalan Raya.

3.   Pekerjaan Terintegrasi (EPC) dalam bidang, antara lain:
a.   Pembangkit Tenaga Listrik;
b.   Pembangkit, Transmisi, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
c.   Pembangkit, Transmisi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
d.   Pembangkit, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
e.   Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik;
f.   Transmisi Tenaga Listrik;
g.   Distribusi, Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
h.   Distribusi Tenaga Listrik;
i.   Pengadaan Gas Alam dan Buatan;
j.   Distribusi Gas Alam dan Buatan;
k.   Pengadaan Gas Bio.

4.   Pertambangan dan Penggalian, antara lain:
a.   Penggalian Batu Hias dan Batu Bangunan;
b.   Penggalian Batu Kapur/Gamping;
c.   Penggalian Kerikil/Sirtu;
d.   Penggalian Pasir;
e.   Penggalian Tanah dan Tanah Liat;
f.   Penggalian Gips;
g.   Penggalian Tras;
h.   Penggalian Batu Apung;
i.   Penggalian Batu, Pasir, dan Tanah Liat Lainnya;
j.   Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi Dan Gas Alam;
k.   Aktivitas Penunjang Pertambangan dan Penggalian Lainnya.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |11
Page 28
5.   Aktivitas Penyewaan Peralatan Konstruksi, antara lain:
a.   Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi;
b.   Penyewaan Alat Konstruksi Dengan Operator;
c.   Aktivitas Perawatan dan Pemeliharaan Taman.

6.   Pekerjaan Mekanikal Elektrikal termasuk Jaringan dan Instalasi, antara lain:
a.   Instalasi Listrik;
b.   Instalasi Mekanikal;
c.   Instalasi Saluran Air (Plambing);
d.   Instalasi Pendingin dan Ventilasi Udara;
e.   Instalasi Pemanas dan Geotermal;
f.   Instalasi Minyak dan Gas;
g.   Instalasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika;
h.   Instalasi Elektronika;
i.   Instalasi Fasilitas Sumber Radiasi Pengion;
j.   Instalasi Nuklir;
k.   Instalasi Sinyal dan Telekomunikasi Kereta Api;
l.   Instalasi Telekomunikasi;
m.   Jasa Instalasi Konstruksi Navigasi Laut, Sungai, dan Udara.

7.   Perdagangan Besar:
a.   Perdagangan Besar Semen, Kapur, Pasir, dan Batu;
b.   Perdagangan Besar Barang Logam untuk Bahan Konstruksi;
c.   Perdagangan Besar Logam dan Bijih Logam;
d.   Perdagangan Besar Alat Transportasi Darat (Bukan Mobil, Sepeda Motor, dan Sejenisnya), Suku
     Cadang dan Perlengkapan;
e.   Perdagangan Besar Bahan Konstruksi dari Porselen;
f.   Perdagangan Besar Mesin Kantor dan Industri Pengolahan, Suku Cadang, dan Perlengkapannya;
g.   Perdagangan Besar Berbagai Macam Material Bangunan;
h.   Perdagangan Besar Mesin, Peralatan dan Perlengkapannya Lainnya;
i.   Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin Dan Sejenisnya dari Tanah Liat, Kapur, Semen atau
     Kaca;
j.   Perdagangan Besar Bahan Konstruksi Lainnya;
k.   Perdagangan Besar Berbagai Macam Barang.

8.   Real Estate:
a.   Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
b.   Penyewaan Venue Penyelenggaraan Aktivitas MICE dan Event Khusus;
c.   Kawasan Industri.

9.   Aktivitas Profesional, Ilmiah dan Teknis:
a.   Aktivitas Arsitektur;
b.   Aktivitas Keinsinyuran dan Konsultasi Teknis yang Berhubungan Dengan Itu.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |12
Page 29
10. Informasi dan Komunikasi:
a. Penerbitan Piranti Lunak (Software).

11. Pengangkutan dan Pergudangan:
a. Angkutan Bermotor untuk Barang Umum;
b. Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus;
c. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Umum;
d. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Khusus;
e. Angkutan Laut Dalam Negeri Perintis untuk Barang;
f. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Umum;
g. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Khusus;
h. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Umum dan/atau Hewan;
i. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Khusus;
j. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Berbahaya;
k. Angkutan Penyeberangan Umum Antar provinsi untuk Barang;
l. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar provinsi untuk Barang;
m. Angkutan Penyeberangan Umum Antar kabupaten/kota untuk Barang;
n. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar kabupaten/kota untuk Barang;
o. Angkutan Penyeberangan Umum Dalam Kabupaten/kota untuk Barang;
p. Angkutan Penyeberangan Lainnya untuk Barang Termasuk Penyeberangan Antarnegara.

12. Investasi dan/atau pengelolaan usaha di bidang yang terkait dengan kegiatan usaha utama
    Perseroan.

Selain kegiatan usaha utama, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yang mendukung
kegiatan usaha utama, antara lain:
1. Layananan Jasa Konsultasi (Konsultan) Manajemen:
a. Aktivitas Kantor Pusat;
b. Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya.

2.   Agro Industri:
a.   Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (Crude Palm Oil);
b.   Industri Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit (Crude Palm Kernel Oil/CPKO);
c.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
d.   Industri Pemurnian Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
e.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Kelapa Sawit;
f.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Inti Kelapa Sawit;
g.   Pergudangan dan Penyimpanan.

3.   Layanan Jasa Bidang Teknologi Informasi dan Kepariwisataan:
a.   Aktivitas Pengembangan Aplikasi Perdagangan Melalui Internet (E-commerce);
b.   Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya;
c.   Aktivitas Konsultasi Keamanan Informasi;
d.   Aktivitas Konsultasi Komputer dan Manajemen Fasilitas Komputer Lainnya;
e.   Aktivitas Teknologi Informasi dan Jasa Komputer Lainnya;



                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |13
Page 30
f.   Kawasan Pariwisata;
g.   Aktivitas Konsultansi Pariwisata.

4.   Pengelolaan Limbah B3:
a.   Pengumpulan Air Limbah Berbahaya;
b.   Treatment dan Pembuangan Air Limbah Berbahaya;
c.   Pengumpulan Limbah Berbahaya;
d.   Treatment Dan Pembuangan Limbah Berbahaya.

2.4.2. Analisis SWOT
Berikut adalah analisis SWOT Perseroan:

Kekuatan (Strength):
a. Perseroan memiliki sinergi operasional dengan grup usaha induk yang mendukung akses terhadap
   peluang proyek;
b. Jaringan fasilitas produksi dan batching plant yang tersebar di wilayah strategis mendukung
   kelancaran distribusi produk;
c. Kapasitas produksi yang relatif memadai untuk memenuhi kebutuhan proyek berskala menengah
   hingga besar;
d. Portofolio produk beton pracetak yang relatif beragam sesuai dengan kebutuhan proyek
   infrastruktur;
e. Pengalaman Perseroan dalam pelaksanaan proyek berskala besar mendukung tingkat kepercayaan
   pemberi kerja;
f. Perseroan memiliki precast plant yang memproduksi bermacam jenis Spun Pile & CCSP;
g. Perseroan mempunyai kepemilikan laboratorium dan sarana pendukung yang lengkap untuk
   melakukan pengujian produk yang disyaratkan dalam SNI 9156:2023 & SNI 9157:2023 dan telah
   terakreditasi KAN ISO 17025:2017;
h. Perseroan memiliki kompeten person yang bisa melakukan pengujian produk precast;
i. Unit laboratorium Perseroan sudah terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2017 dengan status dapat
   melakukan pengujian untuk customer internal & eksternal;
j. Perseroan memiliki peralatan pengujian dengan kapasitas dan teknologi terdepan saat ini untuk uji
   bending;
k. Perseroan memiliki dua mesin bending yaitu di Plant Karawang dan Plant Sidoarjo yang keduanya
   memiliki kapasitas yang sama, yang dapat melayani customer untuk wilayah Indonesia Barat
   (Karawang) dan Indonesia Timur (Plant Sidoarjo);
l. Lokasi laboratorium yang mudah dijangkau;
m. Metode kerja yang efektif, mampu menangani uji bending 6 batang per hari;
n. Laboratorium pengujian yang dibangun di atas lahan plant Sidoarjo dan Karawang tidak dalam
   kondisi terikat sebagai jaminan kepada pihak kreditur Perseroan.

Kelemahan (Weakness):
a. Kondisi keuangan Perseroan masih memerlukan pengelolaan yang prudent untuk menjaga stabilitas
    arus kas;
b. Ketergantungan yang relatif tinggi terhadap proyek pemerintah dan BUMN;
c. Kompleksitas pengelolaan operasional dan proyek memerlukan sistem pengendalian yang ketat;



                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |14
Page 31
d. Tingkat diversifikasi sumber pendapatan Perseroan masih terbatas;
e. Bisnis sertifikasi produk precast SNI merupakan bisnis yang baru dan belum ada yang melakukan
   sertifikasi (tidak bisa melakukan benchmark);
f. Core business Perseroan berupa manufaktur, sehingga perlu penambahan KBLI atau membuat anak
   usaha baru untuk menjalankan Rencana Penambahan KBLI ;
g. Belum memiliki personil yang kompeten untuk melakukan sertifikasi;
h. Saat SNI wajib diberlakukan, LSPro Perseroan tidak dapat mensertifikasi produk Perseroan;
i. Unit operasional laboratorium & admixture plant saat ini masih berstatus cost center, sehingga
   proses bisnis pemasaran dan penjualan masih bergantung pada masing-masing divisi terkait;
j. Personil teknisi laboratorium saat ini berjumlah 3 orang, bila menangani jumlah pengujian yang lebih
   besar atau wilayah mencakup plant Sidoarjo, perlu untuk penambahan personil, terutama teknisi
   pengujian.

Peluang (Opportunity):
a. Program pembangunan jalan, jembatan, irigasi, perumahan, dan fasilitas publik terus tumbuh di
    Indonesia, menciptakan permintaan jangka panjang untuk beton precast;
b. Perseroan menargetkan ekspansi pangsa pasar, inovasi produk sistem load bearing wall, serta
    penetrasi ke segmen swasta yang lebih besar;
c. Inisiatif seperti program penghijauan mencerminkan upaya memperkuat citra merek sebagai
    perusahaan yang peduli lingkungan, sesuai tren ESG global;
d. Peluang kerja sama, joint operation, dan kemitraan strategis dengan pihak lain;
e. Peningkatan efisiensi operasional melalui optimalisasi proses dan penerapan digitalisasi;
f. Potensi diversifikasi pasar ke segmen industri dan properti;
g. Adanya regulasi pemerintah yang mewajibkan produsen precast spun pile & CCSP untuk
    mensertifikasi produknya;
h. Banyaknya pabrik precast di Indonesia yang dapat menjadi ceruk pasar potensial untuk dioptimalkan
    sebagai pasar jasa sertifikasi;
i. Total 90 jenis/kelas produk spun pile dan 24 jenis/kelas produk CCSP yang akan dilakukan sertifikasi
    68 precast plant di Indonesia;
j. Unit laboratorium mendapat peluang dari Kemenperin untuk mensupport implementasi SNI Wajib
    SNI 9156:2023 & SNI 9157:2023;
k. Laboratorium uji bending terakreditasi di Indonesia jumlahnya masing sangat kecil (2-3 Lab Uji) untuk
    pasa seluruh Indonesia;
l. Rencana pemberlakuan SNI Wajib Spun Pile & CCSP memerlukan lab uji terakreditasi KAN untuk
    penentuan sertifikasi produk SNI;
m. Menjadi sumber revenue baru bagi Perseroan yang dapat mendatangkan cash flow secara cepat
    karena menawarkan jasa pengujian dengan pembayaran di depan tanpa memerlukan modal awal
    yang tinggi untuk pelaksanannya;
n. Keberadaan unit laboratorium Perseroan yang sudah terakreditasi memberikan nilai lebih untuk
    produk-produk yang dihasilkan Perseroan karena didukung oleh laboratorium uji untuk jaminan
    validitas kualitas bahan baku dan produk jadi.

Ancaman (Threats):
a. Kenaikan biaya bahan baku (semen, agregat) atau tekanan ekonomi dapat mempengaruhi margin
   dan daya saing harga;



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |15
Page 32
b. Tingkat persaingan usaha di industri beton precast relatif ketat. Industri beton precast di Indonesia
   memiliki banyak pemain besar dan lokal, yang bisa menekan pangsa pasar dan margin keuntungan;
c. Penurunan atau pergeseran prioritas anggaran infrastruktur nasional dapat mengurangi permintaan
   signifikan untuk produk precast;
d. Kondisi suku bunga, likuiditas sektor konstruksi, serta risiko kredit klien dapat menimbulkan tekanan
   likuiditas dan piutang usaha;
e. Risiko keterlambatan pembayaran pada proyek tertentu;
f. Perubahan kondisi makroekonomi, kebijakan fiskal, serta regulasi dan ketentuan lingkungan;
g. Adanya kompetitor yang dapat melakukan jasa pengujian laboratorium dan ingin melakukan inisiasi
   jasa sertifikasi SNI produk precast juga (BRIN, B4T, WIKA, dll);
h. Belum adanya kajian lanjut mengenai market opportunity terhadap jasa sertifikasi;
i. Kurangnya/tidak adanya customer eksternal yang menggunakan jasa laboratorium Perseroan karena
   dipandang sebagai kompetitor, unit laboratorium berada dalam satu organisasi dalam Perseroan;
j. Bila para stakeholder tidak setuju untuk menambahkan KBLI 71202 dalam AD ART Perseroan maka
   status LPK Laboratorium Perseroan terhadap jasa layanan eksternal mungkin dihentikan dan unit
   laboratorium Perseroan tidak dapat memberikan jasa pengujian untuk customer eksternal.

2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional
Berikut adalah perizinan Perseroan dokumen perizinan dan sertifikat terkait operasional:

                    Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat
  No.                                         Dokumen Perizinan
 1.     Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) No. 138/24.1PB.7/31.75/1.824.27/e/2016, di keluarkan
        oleh Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Administrasi Jakarta Timur pada tanggal
        24 Juni 2016;
 2.     Sertifikat Akreditasi kompetensi sebagai Laboratorium Pengujian dengan menerapkan secara
        konsisten SNI ISO/IEC 17025:2017 Nomor LP-2166-IDN tanggal 16 Sepoleh Komite Akreditasi
        Nasional (KAN) yang berlaku hingga 16 September 2030;
 3.     Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Perkerasan Kaku Panel Beton Bertulang”
        Nomor IDP000080495 tanggal 23 Desember 2021 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
        Manusia;
 4.     Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Peningkatan Kekakuan Balok Beton Girded”
        Nomor IDP000082699 tanggal 25 Agustus 2022 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
        Manusia
                                           Sumber: manajamen


2.5. Kinerja Keuangan
Analisa kinerja keuangan Perseroan merujuk pada laporan keuangan audit sebagai berikut:
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |16
Page 33
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
     oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
     tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
     audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
     oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
     dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
     jawab audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
     oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
     opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
     audit.

2.5.1. Laba Rugi Historis
Berikut merupakan laporan laba rugi Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                   Tabel 3. Laporan Laba Rugi
                                                    Audited                Audited                Audited                Audited                Audited
                                                    FY 2021                FY 2022                FY 2023                FY 2024                FY 2025
PENDAPATAN USAHA                                 1.380.071.332.830      2.062.171.056.660     1.487.587.869.182       1.971.896.434.453      1.569.574.633.435
BEBAN POKOK PENDAPATAN                         (1.073.122.548.594)    (1.757.946.301.923)   (1.496.422.947.848)     (1.602.221.726.484)    (1.295.108.480.705)
LABA (RUGI) KOTOR                                  306.948.784.236        304.224.754.737        (8.835.078.666)        369.674.707.969        274.466.152.730
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                                 (154.906.009.569)     (117.165.244.103)       (93.827.185.052)       (137.382.281.636)       (99.214.906.502)
-Beban umum dan administrasi                   (1.216.866.984.564)     (543.517.558.361)      (506.330.402.796)       (473.730.737.601)     (380.593.521.729)
-Beban non-contributing plant                    (361.571.262.752)     (428.526.709.516)      (114.992.729.802)         (90.536.547.630)      (22.938.670.562)
-Beban pajak penghasilan final                      (8.654.167.357)       (4.465.123.541)        (1.275.123.574)         (7.387.409.122)       (8.599.161.342)
-Keuntungan selisih kurs-bersih                         515.902.590           294.219.783            (63.617.835)              6.981.533                     -
-Pendapatan bunga                                     1.165.943.389         1.848.023.168          2.131.062.433           2.628.660.841         2.164.160.366
-(Beban)/pendapatan lain-lain                      107.256.234.308     1.914.352.587.000        976.457.459.505       (376.662.364.015)       (12.840.777.034)
JUMLAH BEBAN USAHA                             (1.633.060.343.955)       822.820.194.430        262.099.462.879     (1.083.063.697.630)     (522.022.876.803)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN PAJAK   (1.326.111.559.719)     1.127.044.949.167        253.264.384.213       (713.388.989.661)     (247.556.724.073)
Beban keuangan                                   (617.250.878.677)     (451.275.271.676)      (246.964.100.404)       (283.912.861.098)     (289.812.847.400)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK                      (1.943.362.438.396)       675.769.677.491           6.300.283.809      (997.301.850.759)     (537.369.571.473)
Beban pajak pengasilan                                            -                     -                       -                      -                     -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN              (1.943.362.438.396)       675.769.677.491           6.300.283.809      (997.301.850.759)     (537.369.571.473)


                          Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025


Pendapatan Usaha
Perseroan membukukan pendapatan usaha pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,38
triliun, Rp2,06 triliun, Rp1,49 triliun, Rp1,97 triliun, dan Rp1,57 triliun. Pendapatan Perseroan terdiri dari
pendapatan precast, readymix dan quarry, dan jasa konstruksi.

Beban Pokok Pendapatan
Perseroan membukukan beban pokok pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp1,07 triliun, Rp1,76 triliun, Rp1,50 triliun, Rp1,60 triliun, dan Rp1,30 trilliun dengan persentase beban
pokok pendapatan terhadap pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 77,76%,
85,25%, 100,59%, 81,25%, dan 82,51%.




                                                                               Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |17
Page 34
Laba (Rugi) Bruto
Perseroan membukukan laba (rugi) bruto pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp306,95
miliar, Rp304,22 miliar, -Rp8,84 miliar, Rp369,67 miliar, dan Rp274,47 miliar. Rasio gross profit margin
pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 22,24%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%.

Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Pada tahun 2021-2025 Perseroan membukukan laba (rugi) tahun berjalan sebesar -Rp1,94 triliun,
Rp675,77 miliar, Rp6,30 miliar, -Rp997,30 miliar, dan -Rp537,37 miliar, dengan rasio net profit margin
masing-masing sebesar -140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,58%, dan -34,24%.

2.5.2. Posisi Keuangan Historis
Berikut merupakan laporan posisi keuangan audit Perseroan per 31 Desember 2021-2025 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                     Tabel 4. Posisi Keuangan Historis
                                                       Audited             Audited             Audited             Audited             Audited
                                                      31-Des-21           31-Des-22           31-Des-23           31-Des-24           31-Des-25
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                      93.663.903.876     238.946.856.294     120.811.660.447     205.754.409.914     61.564.390.064
Piutang usaha - bersih                               1.355.257.478.764     833.266.141.011     594.710.168.095     423.536.146.007    387.469.159.954
Piutang retensi                                                      -                   -     215.215.120.561     147.235.855.685    135.813.511.645
Piutang lain-lain                                        7.084.407.572      25.088.893.954      92.371.068.048      17.594.770.842     33.510.791.231
Persediaan                                             595.242.754.827     346.193.304.408     250.412.830.030     204.660.747.845    144.451.619.599
Tagihan bruto kepada pelanggan                         433.535.963.211     693.954.287.674     317.540.931.290     269.546.204.541    105.535.772.286
Pajak dibayar dimuka                                    76.103.832.912      78.281.924.160      56.794.854.347      15.487.676.601     14.191.305.724
Uang muka kepada pihak ketiga                              630.886.048         181.438.416         163.947.000      10.453.683.076      1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                   107.598.946.352      18.179.117.854      30.056.164.026      34.564.334.064     18.147.279.147
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual             1.518.964.267.107                   -                   -                   -                  -
TOTAL ASET LANCAR                                    4.188.082.440.669   2.234.091.963.771   1.678.076.743.844   1.328.833.828.575    901.816.775.490

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                    2.574.848.019.701   3.680.901.556.393   2.752.256.841.256   2.221.654.000.209   2.100.181.791.052
Aset hak guna-bersih                                    24.799.222.403      13.658.822.942       8.776.645.123       2.876.247.785       1.593.892.238
Aset lain-lain                                          94.347.599.386      35.005.608.772      34.035.490.279      65.266.579.946      51.948.553.268
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                              2.693.994.841.490   3.729.565.988.107   2.795.068.976.658   2.289.796.827.940   2.153.724.236.558
TOTAL ASET                                           6.882.077.282.159   5.963.657.951.878   4.473.145.720.502   3.618.630.656.515   3.055.541.012.048

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                             3.865.231.347.315     671.127.052.204     671.127.052.204     671.127.052.204    671.127.052.204
Utang usaha                                          3.034.924.879.645   3.280.373.013.202   1.271.173.226.772   1.157.027.017.404    878.270.818.030
Utang bruto                                                          -                   -     238.612.349.835     226.699.845.044    190.304.291.141
Utang lain-lain                                         77.244.775.940      19.002.499.800      27.998.786.844      23.080.311.358     45.178.353.760
Utang pajak                                             53.302.816.824      45.882.235.407      46.354.594.135      58.385.381.435     42.031.008.270
Beban akrual                                           570.862.935.623     578.761.527.452     294.732.578.506     267.933.831.991    235.109.555.525
Uang muka dari pelanggan                                24.805.239.928      73.601.909.332      91.703.326.266     100.372.326.972     79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                          4.075.000.000       2.971.809.989       4.347.202.066       1.338.809.772         124.875.000
Utang Obligasi                                       1.997.171.930.923   1.850.769.921.111                   -                   -                   -
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                       9.627.618.926.198   6.522.489.968.497   2.646.049.116.628   2.505.964.576.180   2.142.117.535.788

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang                                            -   1.308.275.651.721   1.574.516.258.694   1.665.042.209.850   1.770.437.877.557
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                        13.043.044.665       6.982.749.773       5.252.449.858       2.354.568.658      1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                               -     211.745.939.370     228.966.761.482     248.133.967.027    269.467.545.964
Obligasi wajib konversi                                              -                   -     651.812.439.998     727.654.656.836    807.696.669.091
Liabilitas imbalan pascakerja                           19.944.376.296      17.372.141.941      31.042.785.396      27.293.676.571     31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                         32.987.420.961   1.544.376.482.805   2.491.590.695.428   2.670.479.078.942   2.880.558.090.375
TOTAL LIABILITAS                                     9.660.606.347.159   8.066.866.451.302   5.137.639.812.056   5.176.443.655.122   5.022.675.626.163




                                                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |18
Page 35
                                                  Audited               Audited               Audited               Audited               Audited
                                                 31-Des-21             31-Des-22             31-Des-23             31-Des-24             31-Des-25
EKUITAS
Modal saham                                     2.636.115.753.400     2.636.115.753.400     4.045.843.942.950     4.072.310.311.658    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                          3.944.529.408.861     3.944.529.408.861     3.967.367.005.532     3.967.795.760.697    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                         (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                          (8.865.384.735.136)   (8.190.064.169.560)   (8.183.915.547.911)   (9.180.584.963.385)   (9.717.211.852.986)
Komponen ekuitas lainnya                          282.164.230.215       282.164.230.215       282.164.230.215       358.619.614.763       399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                 (2.778.529.065.000)   (2.103.208.499.424)     (664.494.091.554)   (1.557.812.998.607)   (1.967.134.614.115)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                    6.882.077.282.159     5.963.657.951.878     4.473.145.720.502     3.618.630.656.515     3.055.541.012.048


                               Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025


Kas dan Setara Kas
Perseroan mencatatkan kas dan setara kas per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp93,66 miliar, Rp238,95 miliar, Rp120,81 miliar, Rp205,75 miliar, dan Rp61,56 miliar dengan rasio kas
masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali.

Piutang Usaha
Perseroan mencatatkan piutang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,36
triliun, Rp833,27 miliar, Rp594,71 miliar, Rp423,54 miliar, dan Rp387,47 miliar. Hari perputaran piutang
usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, dan 89
hari.

Persediaan
Perseroan mencatat persediaan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp595,24 miliar,
Rp346,19 miliar, Rp250,41 miliar, Rp204,66 miliar, dan Rp144,45 dengan hari perputaran persediaan
masing-masing sebesar 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, dan 40 hari.

Aset Tetap
Perseroan mencatatkan aset tetap bersih per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,57
triliun, Rp3,68 triliun, Rp2,75 triliun, Rp2,22 triliun, dan Rp2,10 triliun atau berkisar 37,41% - 68,73% dari
total aset per 31 Desember 2021-2025. Aset tetap Perseroan berupa tanah, gedung dan pabrik,
perlengkapan kantor, peralatan, dan kendaraan.

Utang Usaha
Perseroan memiliki utang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp3,03 triliun,
Rp3,28 triliun, Rp1,27 triliun, Rp1,16 triliun, dan Rp878,27 miliar dengan hari perputaran utang usaha
masing-masing 1.018 hari, 672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.

Total Liabilitas Jangka Pendek
Perseroan memiliki total liabilitas jangka pendek per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp9,63 triliun, Rp6,52 triliun, Rp2,65 triliun, Rp2,51 triliun, dan Rp2,14 triliun. Total liabilitas jangka
pendek Perseroan terdiri dari utang bank jangka pendek, utang usaha, utang bruto, utang pajak, utang
lain-lain, beban akrual, dan liabilitas sewa.

Total Liabilitas Jangka Panjang
Perseroan memiliki total liabilitas jangka panjang per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp32,99 miliar, Rp1,54 triliun, Rp2,49 triliun, Rp2,67 triliun, dan Rp2,88 triliun. Total liabilitas jangka




                                                                               Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |19
Page 36
panjang Perseroan terdiri dari utang bank jangka panjang, liabilitas sewa, utang obligasi bersih, obligasi
wajib konversi, dan liabilitas imbalan pasca kerja.

Total Ekuitas
Total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar -Rp2,78 triliun, -Rp2,10
triliun, -Rp664,49 miliar, -Rp1,56 triliun, dan -Rp1,97 triliun. Modal saham ditempatkan dan disetor
penuh Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,64 triliun, Rp2,64 triliun,
Rp4,05 triliun, Rp4,07 triliun, dan Rp4,16 triliun.

2.5.3. Arus Kas Historis
Berikut merupakan laporan arus kas Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                  Tabel 5. Arus Kas Historis
                                                 Audited               Audited               Audited               Audited               Audited
                                                 FY 2021               FY 2022               FY 2023               FY 2024               FY 2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan                  1.496.312.823.914    2.117.518.639.844     1.893.344.592.840     2.264.905.292.822     1.858.437.309.484
Pembayaran kas kepada:
-Pemasok dan pihak ketiga                      (555.898.216.730)   (1.642.734.172.610)   (1.608.346.529.333)   (2.022.128.881.587)   (1.756.598.773.320)
-Direksi dan karyawan                          (375.184.379.221)     (288.188.603.875)     (275.554.973.335)     (135.721.515.057)     (128.836.268.226)
-Pembayaran operasional                                        -                     -                     -                     -                     -
KAS YANG DIHASILKAN DARI OPERASI                 565.230.227.963       186.595.863.359         9.443.090.172       107.054.896.178      (26.997.732.062)
Pembayaran beban pinjaman bank                 (599.595.399.628)      (14.823.644.066)      (86.867.422.530)      (80.117.808.222)      (79.697.639.852)
Pembayaran beban obligasi                                      -                     -                     -                     -                     -
Pembayaran pajak                                (23.220.712.523)      (27.882.839.228)      (31.056.823.667)      (49.510.505.690)      (43.583.610.439)
Penerimaan hasil restitusi pajak                  37.867.327.689         6.208.543.282                     -        10.849.588.873         4.129.384.581
Penerimaan jasa giro dan deposito berjangka        1.156.765.779         1.848.023.168         2.131.062.433         1.841.632.928         1.634.610.176
Penerimaan lain-lain                                           -                     -                     -        92.095.585.600           177.063.663
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN
                                                (18.561.790.720)      151.945.946.515     (106.350.093.592)        82.213.389.667     (144.337.923.933)
UNTUK) AKTIVITAS OPERASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap                               (387.000.000)       (1.597.600.000)       (1.144.450.000)       (6.301.115.739)                    -
Penjualan aset tetap                                           -                     -                     -       23.416.416.697         4.004.710.825
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
                                                   (387.000.000)      (1.597.600.000)       (1.144.450.000)        17.115.300.958         4.004.710.825
AKTIVITAS INVESTASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran liabilitas sewa                                     -       (5.359.613.880)     (10.577.034.420)         (972.825.000)        (1.561.425.000)
Pembayaran pinjaman                            (131.586.157.889)                     -                    -      (13.420.097.691)        (2.295.381.742)
Pembayaran pokok obligasi                                      -                     -                    -                     -                     -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS
                                               (131.586.157.889)      (5.359.613.880)      (10.577.034.420)      (14.392.922.691)       (3.856.806.742)
PENDANAAN

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA
                                               (150.534.948.609)      144.988.732.635     (118.071.578.012)        84.935.767.934     (144.190.019.850)
KAS
Keuntungan/(ketugian) selisih direalisasikan                  -           294.219.783           (63.617.835)            6.981.533                     -
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                   244.198.852.485        93.663.903.876       238.946.856.294       120.811.660.447       205.754.409.914
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN              93.663.903.876       238.946.856.294       120.811.660.447       205.754.409.914        61.564.390.064


                              Sumber: laporan keuangan audit Perseroan 31 Desember tahun 2021-2025


Arus Kas Aktivitas Operasi
Arus kas aktivitas operasi yang dihasilkan oleh Perseroan untuk periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2022 dan 2024 masing-masing sebesar Rp151,95 miliar dan Rp82,21 miliar. Sedangkan pada
periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021, 2023, dan 2025 Perseroan mencatat arus kas bersih
yang digunakan dalam aktivitas operasi masing-masing sebesar Rp18,56 miliar, Rp106,35 miliar, dan
Rp144,34 miliar.




                                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |20
Page 37
Arus Kas Aktivitas Investasi
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2023 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan dalam aktivitas investasi masing-masing sebesar Rp387 juta, Rp1,60 miliar, dan Rp1,14
miliar. Pada periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2024 dan 2025, Perseroan mencatat arus
kas yang dihasilkan masing-masing sebesar Rp17,12 miliar dan Rp4,00 miliar.

Arus Kas Aktivitas Pendanaan
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp131,59 miliar, Rp5,36 miliar, Rp10,58 miliar, Rp 14,39
miliar, dan Rp3,86 miliar.

2.5.4. Rasio Keuangan Historis
Likuiditas
Rasio likuiditas dihitung berdasarkan perbandingan antara aset lancar dibandingkan dengan liabilitas
lancar, yang mencerminkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Rasio
lancar Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,44
kali, 0,34 kali, 0,63 kali, 0,53 kali, dan 0,42 kali. Rasio kas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali. Rasio
cepat Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,37
kali, 0,29 kali, 0,54 kali, 0,45 kali, dan 0,35 kali.

Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan Perseroan untuk
mendapatkan laba dari pendapatan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Rata-rata
marjin laba (rugi) kotor Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah
sebesar 22,4%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%. Sementara itu, rata-rata marjin laba (rugi) bersih
yang berhasil dicapai Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah sebesar
-140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,85%, -34,24%.

Aktivitas
Berdasarkan analisis atas rasio aktivitas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-
2025 rata-rata hari perputaran piutang usaha di 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, 89 hari, perputaran
utang usaha di 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, 40 hari, dan hari perputaran persediaan di 1018 hari,
672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.

Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan Perseroan dalam membayar
seluruh utangnya baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Perseroan memiliki rata-rata
debt to asset ratio periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 di 86,06% dan rata-rata debt
to equity ratio sebesar -253,60%.




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |21
Page 38
                               Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis
                            Audited       Audited        Audited       Audited        Audited       Average
                            FY2021        FY2022         FY2023        FY2024         FY2025        Historis
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                      0,44          0,34          0,63          0,53           0,42          0,47
Quick ratio                        0,37          0,29          0,54          0,45           0,35          0,40
Cash ratio                         0,01          0,04          0,05          0,08           0,03          0,04

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin             22,24%        14,75%         -0,59%        18,75%        17,49%         14,53%
Net profit margin             -140,82%        32,77%          0,42%       -50,58%       -34,24%        -38,49%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover             1              2             3             5              4             3
Inventory turnover                   2              5             6             8              9             6
Acc. Payable turnover                0              1             1             1              1             1
Days of Acc. Receivable            354            145           144            77             89           162
Days of Inventory                  200             71            60            46             40            83
Days of Acc. Payable              1018            672           306           260            244           500

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity                -211,61%      -192,65%      -471,94%       -212,84%      -178,96%      -253,60%
Debt to Assets                  85,43%        67,94%        70,11%         91,63%       115,21%        86,06%
                      Sumber: laporan keuangan audit 31 Desember tahun 2021-2025 (diolah)




                                                           Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |22
Page 39
3.      ASPEK PASAR
3.1.     Analisa Makro Ekonomi dan Pasar
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir Desember ditutup di level 8.646,94.
Berdasarkan data RTI Business, pergerakan saham menunjukkan 346 saham mengalami penguatan, 317
saham melemah, dan 146 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar
39,54 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,60 juta kali dan nilai transaksi mencapai Rp
20,61 triliun. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tercatat sebanyak tujuh sektor mengalami penguatan,
dengan kinerja terbaik ditunjukkan oleh sektor infrastruktur yang meningkat sebesar 2,30%. Penguatan
tersebut diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang naik 2,12% serta sektor industri yang
mencatatkan kenaikan sebesar 0,71%. Sementara itu, empat sektor lainnya mengalami pelemahan,
dengan sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,81%. Pelemahan juga terjadi
pada sektor barang baku dan sektor teknologi yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,84% dan 0,47%.

Sepanjang tahun 2025 hingga 29 Desember 2025, IHSG mencatatkan kinerja positif dengan
pertumbuhan sebesar 22,10% secara year-to-date dan ditutup di level 8.644,26, serta beberapa kali
mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Sejalan dengan penguatan indeks tersebut,
kapitalisasi pasar juga tercatat telah melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap pengembangan
pasar modal. Berikut pergerakan IHSG akhir bulan Desember tahun 2020-2025:

                         Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025

                                                 IHSG
         9.000,00
                                                                                        8.646,94
         8.700,00
         8.400,00
         8.100,00
         7.800,00
         7.500,00                                               7.323,59
         7.200,00
         6.900,00
                                                    6.850,62               7.079,90
         6.600,00
         6.300,00                    6.581,48
         6.000,00
         5.700,00      5.979,07
         5.400,00
                       2020        2021         2022            2023         2024         2025

                                                  Close Price

                                          Sumber: Yahoo Finance


3.1.2. Nilai Tukar Rupiah
Kurs tengah Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 31 Desember 2025 berada pada level
Rp16.782,00. Berikut pergerakan nilai tukar kurs tengah Rupiah dari Desember 2020-2025:




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |23
Page 40
             Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025

                                            Kurs Tengah BI
        17.000,00
        16.500,00                                                             16.162,00      16.782,00
        16.000,00                                  15.731,00
        15.500,00
        15.000,00                                                15.439,00

        14.500,00      14.105,00
        14.000,00                      14.269,00
        13.500,00
        13.000,00
        12.500,00
                        2020         2021          2022           2023          2024           2025

                                            Kurs Tengah BI/ BI Middle Rate

                                            Sumber: Bank Indonesia


3.1.3. Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 16–17 Desember 2025
memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar
3,75%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya Bank
Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global,
sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang
telah diterapkan guna menopang stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengevaluasi peluang penurunan lanjutan suku bunga BI-Rate
dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi tahun 2026 yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%,
serta kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pelonggaran kebijakan
makroprudensial juga diperkuat melalui peningkatan efektivitas penyaluran likuiditas kepada perbankan
guna mempercepat penurunan suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan ke
sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas Pemerintah. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran
tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan penggunaan
pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan
infrastruktur sistem pembayaran.

Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan. Sinergi kebijakan antara Bank
Indonesia dan Pemerintah juga semakin ditingkatkan guna menjaga stabilitas serta mendorong
pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan agenda Asta Cita Pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,2%, didorong oleh
penguatan ekonomi Jepang dan India yang didukung oleh konsumsi rumah tangga serta kebijakan
stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa dipandang tetap solid seiring dukungan konsumsi,
investasi, dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif baik. Di sisi lain, perekonomian Amerika Serikat (AS)



                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |24
Page 41
pada 2025 diperkirakan mengalami perlambatan akibat dampak sementara penghentian operasional
pemerintah serta melemahnya pasar tenaga kerja, sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga
diprakirakan terus melambat seiring masih lemahnya permintaan domestik.

Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan menurun menjadi sekitar 3,0%,
dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya
kerentanan rantai pasok global. Di pasar keuangan global, suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed
Funds Rate) diturunkan sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, dengan ruang penurunan yang
semakin terbatas ke depan. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun cenderung meningkat, sementara yield
tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi sejalan dengan tingginya beban utang Pemerintah AS.
Kondisi tersebut menyebabkan indeks dolar AS (DXY) bertahan tinggi dan membatasi aliran modal asing
ke negara berkembang.

Ke depan, tingkat ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi di tengah prospek
pertumbuhan ekonomi dunia yang masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan serta
penguatan respons kebijakan guna meningkatkan ketahanan ekonomi domestik terhadap dampak
pengaruh global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

3.1.4. Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Desember 2025 berada pada angka 2,92%. Berdasarkan
Grafik 3, tingkat inflasi cenderung mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020 hingga ke 2022,
tetapi pada tahun 2023 mengalami penurunan yang disebabkan penurunan pada komponen inti
penyumbang inflasi. Pada tahun 2024, inflasi kembali turun dibandingkan dengan tahun 2023 karena
melandainya harga pokok pangan. Inflasi pada 31 Desember 2025 meningkat 2,92% akibat kenaikan
harga pangan serta kenaikan harga emas, BBM, dan tarif transportasi udara. Berikut merupakan Grafik
inflasi bulan Desember tahun 2020-2025:

                              Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025

                                                  Inflasi
           6,00%                                 5,51%

           5,00%


           4,00%


           3,00%                                                                              2,92%
                                                                     2,61%

           2,00%
                                       1,87%
                     1,68%                                                    1,57%
           1,00%


           0,00%
                     Des-20        Des-21       Des-22       Des-23          Des-24     Des-25

                                            Sumber: Bank Indonesia




                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |25
Page 42
3.2.     Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi
Industri konstruksi memiliki peranan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Data Badan Pusat
Statistik mencatat bahwa pada tahun 2024, sektor konstruksi menyumbang 10,43% dan pada pada
Triwulan III-2025 sebesar 9,82% yang menempatkan sektor konstruksi sebagai kontributor ke-4 terbesar
Produk Domestik Bruto di Indonesia. Sampai pada tahun 2029, diperkirakan kebutuhan investasi
infrastruktur Indonesia mencapai Rp10.218 triliun.

Industri konstruksi dipengaruhi oleh sejumlah infrastruktur prioritas. Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
telah mengungkapkan sejumlah proyek infrastruktur prioritas yang akan dikerjakan oleh pemerintah pada
tahun 2026. Beberapa proyek infrastruktur tersebut diantaranya adalah pembangunan irigasi untuk
ketahanan pangan, rehabilitasi sekolah, pembangunan jalan untuk konektivitas, serta pengembangan
zona untuk ketahanan pangan, energi, dan air. Pada tahun 2026 direncanakan akan dilakukan
pembangunan 12.000 lokasi irigasi, 600 proyek sosial-ekonomi, 700 proyek air minum, 80 fasilitas
pengelolaan limban, dan lain-lain. Pemerintah akan mengedepankan skema Kerjasama Pemerintah dan
Badan Usaha (KPBU) untuk dapat mencapai target tersebut. Skema KPBU dapat dilakukan untuk
mendanai proyek pembangunan bendungan, jalan tol, dan fasilitas pengelolaan sampah.

Pagu anggaran Kementerian PU TA 2026 sebesar Rp118,5 triliun akan dialokasikan kepada unit
organisasi Sekretariat Jenderal sebesar Rp576,85 miliar, Inspektorat Jenderal sebesar Rp107,81 miliar,
Ditjen Sumber Daya Air sebesar Rp34,73 triliun, Ditjen Bina Marga sebesar Rp45,61 triliun, Ditjen Cipta
Karya sebesar Rp12,03 triliun, Ditjen Prasarana Strategis Rp24,10 triliun. Lalu untuk unit Ditjen Bina
Konstruksi sebesar Rp599,03 miliar, Ditjen Pembiayaan Infrastruktur sebesar Rp147,13 miliar, Badan
Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) sebesar Rp172,93 miliar, dan Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia (BPSDM) sebesar Rp403,93 miliar. Beberapa program kerja prioritas yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian PU pada tahun 2026 diantaranya pembangunan 15.851 Ha jaringan
irigasi, rehabilitasi 197.430 Ha jaringan irigasi, dan penyediaan 500 liter/detik air baku. Selanjutnya,
Kementerian PU akan mendukung pembangunan 191 km jalan baru, pembangunan 28,19 km jalan tol,
preservasi rutin 46.451 km jalan dan 531.969 m jembatan, pembangunan dan preservasi 36,65 km jalan
daerah, serta pembangunan dan peningkatan SPAM 918 liter/detik. Di samping itu, anggaran tersebut
juga akan digunakan untuk pengembangan fasilitas pengelolaan air limbah 115.750 Kartu Keluarga,
pengembangan kawasan strategis 150 Ha, PHTC 1.000 Madrasah, pembangunan 200 unit Sekolah
Rakyat, dan lain sebagainya.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |26
Page 43
Secara garis besar, proyek infrastruktur prioritas di tahun 2026 adalah sebagai berikut:

                               Tabel 7. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026
       Bidang Sumber Daya Air                       Bidang Bina Marga                        Bidang Cipta Karya
1. Pembangunan jaringan irigasi          1. Pembangunan jalan baru (191          1. Pembangunan dan peningkatan
(15.851 Ha).                             kilometer).                             Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
                                                                                 (918 liter per detik).
2. Sumur rehabilitasi jaringan irigasi   2. Peningkatan kapasitas dan preservasi 2. Perluasan SPAM (49.640 sambungan
(197.430 Ha).                            peningkatan (1.392 kilometer).          rumah).

3. Pengendali banjir (82 kilometer).     3. Pembangunan dan duplikasi jembatan 3. IBM Pamsimas (470 lokasi).
                                         (1.734 meter).
4. Pengamanan pantai (8 kilometer).      4. Preservasi jembatan (31.434 meter). 4. Pengelolaan air limbah (115.750 KK).
5. Penyediaan air baku (500 liter per    5. Penggantian jembatan (964 meter).   5. Pengelolaan persampahan (498 ton
detik).                                                                         per hari).
6. Sumur irigasi air tanah dan embung    6. Jembatan gantung (105 unit).        6. IBM Sanimas (1.000 lokasi).
(800 titik).
7. Program Percepatan Tata Guna Air     7. Pembangunan flyover atau underpass      7. IBM TPS 3R (80 lokasi).
Irigasi melalui Perkumpulan Pemakai Air (363 meter).
IBM P3-TGAI (12.000 lokasi).
8. Pembangunan Bendungan (sedang 8. Pembangunan jalan tol menggunakan              8. Pengembangan kawasan strategis
berlangsung 15 bendungan).              APBN (28,19 kilometer).                    (150 Ha).
9. OP Infrastruktur SDA.                9. Preservasi rutin jalan (46.541          9. IBM Pisew (600 lokasi).
                                        kilometer).
10. Tanggap darurat bencana dan         10. Preservasi rutin jembatan (531.969     10. Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
bahan banjiran.                         meter).                                    (PKE) (11 lokasi).
                                        11. Pembangunan dan preservasi jalan       11. Bangunan gedung (39.789 meter
                                        daerah (36,65 kilometer).                  persegi).
                                        12. Pembangunan dan preservasi             12. Tanggap darurat bencana.
                                        jembatan daerah (295,68 meter).
                                        13. Tanggap darurat bencana.               13. Program pembangunan perumahan
                                                                                   rakyat (±3 juta unit rumah)
                   Sumber: Badan Pusat Statistik, Asosiasi Kontraktor Indonesia, dan media online lainnya


3.2.1. Perkembangan Kontruksi di Indonesia
PDB ADHK Indonesia tahun 2021 – 2024 terus meningkat, pada tahun 2021 sebesar Rp1.102.518 miliar
dan pada tahun 2024 mencapai Rp1.262.793 miliar dengan kenaikan rata-rata 4,66%. Berikut grafik PDB
ADHK Indonesia:




                                                                  Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |27
Page 44
                                            Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi

                            1.400.000                                                                                                                  9%
                                                                                                                                                       8%
                            1.200.000
                                                                                                                                                       7%
                            1.000.000                                                                                                                  6%




                                                                                                                                                               Pertumbuhan (%)
            Miliar Rupiah




                                                                                                                                                       5%
                             800.000
                                                                                                                                                       4%
                             600.000
                                                                                                                                                       3%

                             400.000                                                                                                                   2%
                                                                                                                                                       1%
                             200.000
                                                                                                                                                       0%
                                    -                                                                                                                  -1%
                                                   2021             2022                            2023          2024              TW2 2025

                                                             PDB Sektor Konstruksi                            Pertumbuhan

                                                                  Sumber: Badan Pusat Statistik


Perusahaan kontruksi di Indonesia dari tahun 2021-2025 mengalami fluktuasi pertumbuhan. Pada tahun
2022-2024 pertumbuhan perusahaan kontruksi mengalamin penurunan dengan rata-rata 2,84%. Pada
tahun 2025 perusahaan kontruksi mengalami peningkatan sebesar 6,69% karena pasar konstruksi
diprediksi mencapai pertumbuhan positif yang didukung oleh sentimen positif pada pembangunan fisik
dan transformasi teknologi.

                                            Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia

  205.000                                                                   8%
                                                                                                                                                                                 0,20%
  200.000                                                                   6%                                                                                                   0,05%
                                                                                                                                                                                 0,27%
  195.000                                                                   4%
                                                                                  Pertumbuhan (%)




                                                                                                                       77,25%
  190.000                                                                   2%

                                                                                                                                                       22,24%
  185.000                                                                   0%


  180.000                                                                   -2%


  175.000                                                                   -4%
                   2021           2022        2023         2024      2025


                               Jumlah Perusahaan            Pertumbuhan                                      PT   CV     Koperasi    Kantor Perwakilan BUJKA           Lainnya


                                                          Sumber: Badan Pusat Statistik dan Databooks


Pada Grafik di atas dijelaskan bahwa pada tahun 2021-2025 terdapat perusahaan kontruksi sebanyak
203 ribu, 197 ribu. 190 ribu, 186 ribu dan 199 ribu. Perusahaan kontruksi terbagi dalam beberapa jenis
yaitu PT, CV, Koperasi, Kantor Perwakilan BUJKA dan lainnya. CV menjadi jenis perusahaan terbesar
dengan 77,25% kemudian PT dengan 22,24% dan lainya sebesar 0,51%.




                                                                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |28
Page 45
3.3. Sertifikasi Badan Usaha (SBU)
Sertifikat Badan Usaha (SBU) adalah dokumen legalitas resmi yang membuktikan kemampuan dan
kualifikasi suatu badan usaha di sektor konstruksi. Di tahun 2026, SBU tetap menjadi syarat wajib bagi
perusahaan untuk mengikuti tender proyek pemerintah, BUMN, maupun swasta. Sertifikat Badan Usaha
(SBU) di Indonesia dari tahun 2023-2025 terus meningkat. Berikut grafik pertumbuhan SBU:

                                       Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU)

        400.000
                                                                                                    340.969
        350.000
        300.000                                                   268.984

        250.000
        200.000
        150.000                  107.989
        100.000
          50.000
               -
                                  2023                              2024                             2025
                       Pekerjaan Konstruksi                                      Jasa Konsultasi Konstruksi
                       Pekerjaan Konstruksi Terintegrasi                         Total

                                               Sumber: Badan Pusat Statistik


Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi adalah bukti formal kompetensi dan kemampuan profesi
tenaga kerja konstruksi yang diterbitkan melalui uji kompetensi oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
dan dicatat oleh LPJK.

      Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang

     120.000

     100.000

      80.000

      60.000

      40.000

      20.000

          0
                   Grade 1   Grade 2     Grade 3   Grade 1      Grade 2     Grade 3      Grade 1   Grade 2     Grade 3
                       Kualifikasi Operator                Kualifikasi Teknisi                  Kualifikasi Ahli

                                           2022     2023       2024       TW2 2025

                                               Sumber: Badan Pusat Statistik




                                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |29
Page 46
Grafik di atas menjelaskan kualifikasi dan jenjang tenaga kerja konstruksi.
• Kualifikasi Operator (Jenjang 1-3): Tenaga kerja terampil yang fokus pada pekerjaan teknis operasional
   di lapangan. Dari grafik diatas jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Operator mengalami penurunan
   signifikan antara tahun 2022 dan 2023 di semua Grade;
• Kualifikasi Teknisi atau Analis (Jenjang 4-6): Tenaga kerja dengan kemampuan analisis dan supervisi
   tingkat menengah; Kualifikasi Ahli (Jenjang 7-9): Tenaga kerja profesional dengan keahlian manajerial
   dan perancangan tingkat tinggi (Ahli Muda, Madya, Utama). Dari grafik diatas terjadi peningkatan
   jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Teknisi dan Ahli dari tahun 2023 ke 2024.

3.3. Potensi dan Sasaran Pasar
Rencana penambahan kegiatan usaha melalui KBLI 71201 – Jasa Sertifikasi Teknis, KBLI 71202 – Jasa
Inspeksi Teknis, KBLI 71204 – Jasa Pengujian Teknis, dan KBLI 72102 - Penelitian dan Pengembangan
Engineering dan Teknologi ditujukan untuk mendukung kebutuhan pengujian dan pengendalian mutu
produk, khususnya di sektor konstruksi dan industri terkait. Kebutuhan atas jasa pengujian dan sertifikasi
tersebut pada umumnya bersifat berkelanjutan, seiring dengan penerapan standar mutu dan persyaratan
teknis dalam pelaksanaan proyek.

Dari sisi potensi pasar, jasa pengujian laboratorium merupakan layanan penunjang yang secara umum
diperlukan dalam proses produksi dan pelaksanaan proyek, baik untuk keperluan internal maupun
pemenuhan persyaratan pengguna jasa. Sementara itu, jasa sertifikasi produk dibutuhkan untuk
memastikan kesesuaian produk terhadap standar yang berlaku, dengan tingkat permintaan yang
bergantung pada ketentuan regulasi dan kebutuhan masing-masing pengguna.

Adapun sasaran pasar atas penambahan kegiatan usaha ini meliputi pasar internal, yaitu Perseroan serta
pasar eksternal yang mencakup kontraktor, produsen material, dan pelaku usaha lain yang
membutuhkan jasa pengujian dan sertifikasi. Pemanfaatan jasa untuk kebutuhan internal diharapkan
dapat mendukung efisiensi dan pengendalian mutu, sedangkan pasar eksternal berpotensi memberikan
pemanfaatan tambahan atas kapasitas laboratorium Perseroan.

Secara keseluruhan, potensi dan sasaran pasar dari Rencana Penambahan KBLI dinilai bersifat
penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan dan tidak mengubah fokus bisnis Perseroan secara
signifikan. Keberhasilan pemanfaatan potensi pasar tersebut tetap bergantung pada kepatuhan terhadap
ketentuan perizinan, akreditasi, serta kebijakan manajemen Perseroan.

A. Rencana Pengembangan Bisnis Unit Laboratorium
Pada tahun 2026, selain tetap melaksanakan pengujian rutin sesuai dengan ruang lingkup pengujian
laboratorium yang telah ditetapkan, Unit Laboratorium Perseroan merencanakan perluasan ruang
lingkup operasional LPK dengan memasukkan Laboratorium Beton dan Laboratorium Struktur (pengujian
kuat tekan, kuat lentur, dan uji bending) di Plant Sidoarjo ke dalam area kerja operasional LPK Unit
Laboratorium Perseroan. Rencana tersebut akan direalisasikan pada periode audit surveillance, yaitu
sekitar akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh KAN. Usulan
pengembangan usaha ini telah disampaikan kepada Divisi Peralatan sebagai bagian dari program
transformasi bisnis Divisi Peralatan.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |30
Page 47
Penambahan lokasi ruang lingkup ini didasari oleh pertimbangan bahwa hingga saat ini belum terdapat
laboratorium yang mampu melaksanakan uji bending di wilayah Indonesia Timur. Selain itu, Perseroan
Plant Sidoarjo telah dilengkapi dengan mesin uji bending dengan kapasitas dan teknologi yang setara
dengan yang dimiliki oleh Plant Karawang. Pada tahun 2026, Plant Sidoarjo juga direncanakan untuk
memasok sekitar 10.000 batang produk Spun Pile untuk Proyek UCC Tangguh Onshore di Papua. Kondisi
tersebut membuka peluang bagi Unit Laboratorium Perseroan untuk memperkenalkan layanan pengujian
kepada pelanggan eksternal.

Di samping itu, Unit Laboratorium Perseroan berencana melakukan perbaikan peralatan Universal
Testing Machine (UTM) yang mengalami kerusakan di Laboratorium Karawang agar dapat kembali
digunakan untuk pengujian kuat tarik material tulangan beton. Selama ini, layanan pengujian kuat tarik
masih didominasi oleh satu laboratorium uji eksternal tanpa adanya pesaing yang signifikan. Dengan
penambahan layanan tersebut, Unit Laboratorium Perseroan diharapkan dapat mendukung efisiensi
pengelolaan kas Perseroan serta berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi Perseroan.

Secara bertahap ke depan, Unit Laboratorium Perseroan juga merencanakan penambahan jenis
pengujian lainnya yang bersifat mendukung kegiatan unit produksi Perseroan, serta berpotensi
ditawarkan kepada pelanggan eksternal, dengan tetap memperhatikan persetujuan manajemen.

B. Rencana Kebutuhan LSPro
LSPro Perseroan diharapkan terbentuk sebelum Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian
mensyaratkan pemberlakuan SNI Wajib untuk produk-produk Spun Pile & CCSP yang digunakan di
Indonesia. Kemenperin sendiri, berdasarkan rapat Diseminasi Final Rencana Pemberlakukan SNI Barang
Dari Semen Secara Wajib tanggal 21 November 2025, merencanakan pemberlakuan SNI Wajib ini di
tahun 2026 dimana diharapkan Peraturan Menteri (Permen) sudah terbit di pertengahan tahun 2026.

LSPro Perseroan didirikan sebagai respons atas potensi peluang usaha seiring dengan rencana
pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk precast Spun Pile & CCSP. Dalam
pelaksanaan kegiatan operasionalnya, LSPro Perseroan hanya akan memberikan layanan sertifikasi
terhadap produk pihak eksternal. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan penerapan prinsip
ketidakberpihakan (impartiality) sebagai lembaga sertifikasi.

Dalam rangka sertifikasi produk-produk milik Perseroan, Perseroan akan menjalin kerja sama secara
eksklusif dengan lembaga sertifikasi produk lain yang berwenang, antara lain melalui kolaborasi dengan
BRIN atau B4T, termasuk pemanfaatan Unit Laboratorium Perseroan sebagai LPK Uji Bending.

Apabila SNI produk tersebut telah ditetapkan sebagai SNI wajib, maka keberadaan lembaga sertifikasi
produk (LSPro) di Indonesia menjadi kebutuhan yang bersifat regulatif, dengan jumlah LSPro yang akan
dibatasi sesuai dengan kebutuhan jumlah produsen atau jasa sertifikasi SNI produk terkait. Dengan
demikian, peluang pendirian LSPro dengan ruang lingkup produk precast Spun Pile & CCSP bersifat
terbatas dan tidak terbuka secara berkelanjutan sesuai dengan kebijakan pemerintah melalui BSN.

3.4. Pesaing Usaha
Perseroan dari sisi manufaktur beton akan secara langsung bersaing dengan beberapa perusahaan
sejenis yang memiliki laboratorium, yaitu:



                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |31
Page 48
1. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
Sebagai perusahaan konstruksi terintegrasi berskala besar, WIKA memiliki fasilitas laboratorium internal
yang digunakan untuk mendukung kegiatan proyek. Dalam operasionalnya, WIKA memiliki fasilitas
laboratorium internal yang digunakan untuk memastikan kualitas material konstruksi, seperti beton,
baja, dan agregat. Laboratorium ini umumnya difokuskan untuk mendukung proyek-proyek internal WIKA,
namun dengan kapabilitas teknis dan peralatan yang lengkap, WIKA juga berpotensi menjadi pesaing
dalam penyediaan jasa pengujian, khususnya untuk proyek skala besar yang membutuhkan pengujian
komprehensif seperti uji tekan, tarik, dan bending test struktur.

2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Sebagai lembaga pemerintah yang memiliki infrastruktur laboratorium yang memadai serta didukung
oleh sumber daya peneliti dan tenaga ahli, Badan Riset dan Inovasi Nasional memiliki kapabilitas dalam
menyediakan layanan pengujian struktur, termasuk pengujian bending dengan dukungan peneliti dan
peralatan skala besar.

3. PT Sucofindo
PT Sucofindo adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang inspeksi, pengujian, sertifikasi, dan
konsultansi (TIC services). Dalam sektor konstruksi, Sucofindo menyediakan layanan:
• Pengujian material konstruksi (beton, tanah, agregat, batuan) ;
• Pengujian sifat mekanik dan fisik;
• Sertifikasi dan verifikasi mutu.


4. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)
Sebagai anak usaha WIKA yang fokus pada industri beton pracetak, WTON memiliki laboratorium yang
telah terakreditasi ISO/IEC 17025:2017. Laboratorium ini tidak hanya digunakan untuk internal quality
control, tetapi juga melayani pihak eksternal. Layanan pengujian meliputi:
• Uji kuat tekan beton
• Uji material penyusun beton
• Pengujian elemen struktur


5. Balai Besar dan Barang Teknik (B4T)
B4T merupakan unit di bawah Kementerian Perindustrian yang menyediakan jasa pengujian, sertifikasi,
dan kalibrasi. Lembaga ini telah lama dikenal sebagai penyedia layanan pengujian terakreditasi dengan
standar nasional dan internasional. Dalam pengujian beton, B4T menawarkan:
• Pengujian sifat mekanik dan fisik material
• Sertifikasi mutu produk
• Dukungan teknis industri


6. Balai Teknik Sabo
Balai Teknik Sabo merupakan institusi teknis yang fokus pada pengendalian bencana aliran debris (sabo)
serta rekayasa teknik sipil terkait. Laboratoriumnya telah terakreditasi ISO 17025 dan memiliki
kapabilitas dalam:
• Pengujian mekanika tanah
• Pengujian beton dan material konstruksi
• Simulasi dan pengujian struktur sederhana



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |32
Page 49
7. PT Guna Sukses Inti (GSI)
PT Guna Sukses Inti merupakan perusahaan swasta yang berfokus pada jasa pengujian material
konstruksi, khususnya beton. Layanan utamanya meliputi:
• Uji kuat tekan beton
• Pengujian sampel lapangan
• Layanan pengujian cepat (on-site testing)

Dalam kegiatan jasa sertifikasi produk (LSPro), khususnya untuk produk beton pracetak seperti spun pile
dan CCSP, Perseroan berpotensi menghadapi persaingan dari beberapa lembaga, baik yang berasal dari
instansi pemerintah maupun swasta. Namun demikian, berdasarkan kondisi terkini, tingkat persaingan
masih relatif terbatas karena sebagian besar lembaga masih dalam tahap pengembangan kapasitas dan
penambahan ruang lingkup akreditasi. Selain itu, hingga saat ini belum terdapat lembaga yang
sepenuhnya operasional sebagai LSPro untuk produk spun pile dan CCSP sesuai standar SNI 9156:2023
dan SNI 9157:2023, mengingat setelah memperoleh akreditasi, LSPro juga harus melalui proses
pendaftaran dan penetapan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia agar dapat melakukan
sertifikasi atas produk tersebut. Adapun beberapa lembaga yang berpotensi menjadi pesaing antara lain:
1. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
   BRIN diketahui telah memiliki LSPro, namun hingga saat ini masih dalam proses penambahan ruang
   lingkup akreditasi, khususnya untuk sertifikasi produk spun pile dan CCSP yang memerlukan
   pengujian bending. Dengan demikian, BRIN belum sepenuhnya menjadi pesaing langsung pada
   segmen tersebut.
2. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin)
   Kemenperin juga berpotensi menjadi pesaing melalui pengembangan LSPro dengan penambahan
   ruang lingkup sertifikasi. Upaya ini antara lain dilakukan melalui kerja sama dengan laboratorium
   pengujian sebagai LPK (Lembaga Penilaian Kesesuaian), termasuk untuk pengujian bending. Namun,
   hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan.
3. PT Global Inspeksi Sertifikasi
   Merupakan salah satu lembaga swasta yang telah memiliki LSPro, namun juga dilaporkan masih
   dalam proses penambahan ruang lingkup sertifikasi untuk produk terkait beton pracetak.

3.5. Strategi Pemasaran
Pada tahun 2025, Perseroan gencar memperkuat strategi pemasaran yang komprehensif untuk
meningkatkan pangsa pasarnya di industri manufaktur dan konstruksi nasional. Adapun nilai-nilai yang
mendasari strategi pemasaran Perseroan sebagai berikut:
1. Key Account Management
   Perseroan memperkuat market intelligence untuk memperluas info pasar dengan melakukan
   pembentukan Key Account berdasarkan Segmentasi Owner, yaitu dari Key Account Pemerintah &
   BUMN/BUMD, Key Account Swasta, dan Key Account Konsultan;
2. Menjaga Kualitas & Konsistensi Produk serta Meningkatkan Kehandalan Delivery
   Meningkatkan Kehandalan Delivery Perseroan menggunakan sistem untuk mempertahankan
   konsistensi kualitas produk termasuk penerapan sistem monitoring kualitas yang terpercaya dan
   responsif, serta mengembangkan sistem monitoring dan troubleshooting kehandalan delivery yang
   dapat mendeteks dan mempercepat issue yang masih terjadi di lapangan;
3. Penggunaan Jaringan Korporasi untuk Kembangkan Kapabilitas Market di High-Rise dan Commercial




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |33
Page 50
   Perseroan menggunakan jaringan korporasi sebagai kunci utama berkompetisi melawan berbagai
   jenis kompetitor. Jaringan korporasi membantu pengembangan kapabilitas pasar;
4. Price Competitiveness
   Perseroan melakukan inovasi dalam cost management, sehingga harga jual semakin bersaing di
   pasaran. Cost innovation ini mencakup supply, process dan logistics management. Selain itu
   Perseroan juga melakukan evaluasi atas setiap tender yang dilaksanakan, dalam rangka mengetahui
   kekurangan dan membuat strategi berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan;
5. Market Analysis Capability
   Perseroan meningkatkan kapabilitas dalam melakukan market analysis dan competitive mapping
   sehingga dapat proaktif menyusun strategi pemasaran yang konsisten secara korporat, sekaligus
   dapat adaptif terhadap kondisi nyata pasar. Termasuk dalam menghadapi adanya kemungkinan
   perubahan arah kebijakan yang dilakukan oleh Presiden terpilih yang baru;
6. Pengembangan Pasar Retail
   Perseroan membangun kapabilitas pasar retail dimulai dari business landscape mapping,
   penyusunan strategi positioning & differentiation dan pengembangan rencana pemasaran yang taktis
   (spesifik di masing-masing area penjualan). Selain itu Perseroan menjalankan peran fokus terhadap
   customer service untuk retail, dimulai dari strategic service blueprint, hingga standard service scripts
   yang disertai pengembangan service mindset untuk seluruh frontliner;
7. Pengembangan Inovasi Digital dalam Menunjang Kegiatan
   Perseroan melakukan inovasi pengembangan aplikasi Customer Relationship Management dalam
   rangka menunjang kegiatan marketing, selain itu Perseroan juga aktif dalam memaksimalkan kanal E-
   Katalog untuk memasarkan produk-produk perseroan di Kementerian PUPR.

Kebijakan Pemerintah terkait efisiensi anggaran infrastruktur pada Kementerian Pekerjaan Umum serta
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berpotensi menekan laju pertumbuhan industri.
Menyikapi kondisi tersebut, Perseroan akan tetap fokus menjalankan strategi pemasaran yang bersifat
ekspansif guna memperluas pangsa pasar, khususnya pada segmen pelanggan BUMN dan swasta.
Belanja modal dari pelaku BUMN dan swasta di sektor infrastruktur, pariwisata, permukiman, dan energi
diproyeksikan masih menunjukkan tren pertumbuhan. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen untuk
membuka peluang yang lebih luas bagi keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Perseroan turut melihat adanya potensi pengembangan yang signifikan pada sektor perumahan
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sejalan dengan hal tersebut, Perseroan telah memiliki
portofolio produk Rumah Precast yang siap ditawarkan untuk mendukung pencapaian target
pembangunan 3 juta unit rumah per tahun sebagaimana dicanangkan oleh Pemerintah.

Dalam rangka memastikan tercapainya target-target tersebut, Perseroan telah menyiapkan strategi
utama sebagai berikut:

1. Penguatan Fundamental Keuangan dan Profitabilitas
   Dalam upaya menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan, WSBP berkomitmen untuk memastikan
   setiap investasi memberikan tingkat imbal hasil yang optimal dengan tetap menjaga struktur
   keuangan yang sehat. Langkah-langkah strategis yang akan ditempuh meliputi:
   a. Optilisasi EBITDA dan arus kas dari aktivitas operasi melalui pengendalian biaya yang lebih ketat
      serta peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha;




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |34
Page 51
   b. Penguatan struktur permodalan dengan menjaga rasio keuangan pada tingkat yang sehat guna
      memastikan keberlanjutan posisi keuangan Perseroan;
   c. Pelaksanaan homologasi melalui pemenuhan kewajiban PKPU sebagai bagian dari strategi
      pengelolaan risiko keuangan;
   d. Perbaikan Cash Conversion Cycle dengan memprioritaskan pemanfaatan sumber pendanaan
      eksternal yang lebih kompetitif;
   e. Pemetaan realisasi skema restrukturisasi utang guna mengantisipasi potensi deviasi realisasi
      pendapatan terhadap asumsi yang telah ditetapkan.

2. Optimalisasi Kontrak Baru dan Peningkatan Pendapatan
   Untuk mencapai target Nilai Kontrak Baru (NKB) serta meningkatkan pendapatan usaha, WSBP akan
   menerapkan strategi ekspansi yang berorientasi pada pengelolaan risiko. Fokus strategi ini
   mencakup:
   a. Diversifikasi portofolio kontrak eksternal untuk mengurangi ketergantungan terhadap proyek
      internal serta meningkatkan ketahanan bisnis;
   b. Penguatan penetrasi pasar eksternal pada segmen BUMN, swasta, maupun ritel melalui
      pendekatan pemasaran yang lebih proaktif;
   c. Optimalisasi utilisasi aset, termasuk pabrik dan peralatan produksi, guna mendukung strategi
      pemasaran serta peningkatan kapasitas produksi;
   d. Peningkatan keselarasan antara biaya dan pendapatan (matching cost against revenue) melalui
      identifikasi serta alokasi biaya tetap yang lebih efisien.

3. Efisiensi Operasional dan Optimalisasi Aset
   Perseroan akan terus mendorong pencapaian operational excellence dengan memastikan efisiensi
   biaya serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Upaya yang dilakukan antara lain:
   a. Evaluasi dan optimalisasi fasilitas produksi yang tidak memberikan kontribusi (non-contributing
      plants) agar setiap aset produktif dan memberikan nilai tambah;
   b. Optimalisasi aset idle melalui kerja sama dengan mitra strategis untuk meningkatkan tingkat
      utilisasi dan monetisasi aset;
   c. Peningkatan efisiensi biaya produksi melalui penerapan prinsip lean manufacturing dan lean office;
   d. Implementasi strategic sourcing dengan melakukan konsolidasi vendor guna menekan biaya
      pengadaan dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

4. Penguatan Kapabilitas Huma Capital dan Manajemen Risiko
   Sebagai bagian dari penguatan ketahanan bisnis jangka panjang, Perseroan juga akan berfokus pada
   pengembangan sumber daya manusia serta peningkatan kapabilitas manajemen risiko. Strategi ini
   meliputi:
   a. Pengembangan Human Capital yang unggul dengan menitikberatkan pada peningkatan
      kompetensi inti (core competence) melalui program pelatihan bersertifikasi, baik nasional
      maupun internasional;
   b. Penguatan manajemen risiko melalui penyusunan strategi yang selaras dengan risk tolerance, risk
      limit, dan risk appetite Perseroan guna memastikan mitigasi risiko yang lebih efektif.

Penerapan mekanisme mitigasi risiko atas investasi jangka panjang untuk memastikan nilai investasi
tercatat mencerminkan nilai wajarnya serta meminimalkan potensi beban biaya di masa mendatang.



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |35
Page 52
Strategi pemasaran Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI disusun secara selektif, bertahap, dan
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan yang timbul akibat rencana pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) wajib untuk produk Spun Pile & CCSP. Dengan karakteristik kebutuhan yang bersifat
regulatif, pendekatan pemasaran difokuskan pada penyediaan layanan pendukung implementasi
kebijakan pemerintah, bukan pada ekspansi komersial yang agresif.

Dalam pelaksanaan KBLI 71201 dan KBLI 71202, Perseroan menerapkan kebijakan pemasaran yang
membatasi layanan sertifikasi hanya untuk produk pihak eksternal guna menjaga prinsip
ketidakberpihakan (impartiality) sebagai lembaga sertifikasi. Pendekatan ini ditujukan untuk
meningkatkan penerimaan regulator dan pelaku industri serta memperluas basis pengguna jasa secara
independen dari kegiatan usaha utama Perseroan.

Untuk KBLI 71204 dan KBLI 72102, strategi pemasaran diarahkan pada optimalisasi fasilitas
laboratorium yang telah terakreditasi KAN, dengan memprioritaskan layanan pengujian bagi pihak
eksternal yang membutuhkan pemenuhan persyaratan standar mutu dan regulasi. Penetapan harga
dilakukan secara wajar dan kompetitif dengan mempertimbangkan struktur biaya dan keberlanjutan
operasional, tanpa mengandalkan strategi harga agresif.

Kegiatan pemasaran dilakukan secara terbatas dan informatif melalui pemanfaatan jaringan industri,
hubungan kelembagaan, serta komunikasi langsung kepada calon pengguna jasa yang relevan.
Implementasi strategi pemasaran dilaksanakan secara bertahap seiring dengan kesiapan perizinan,
akreditasi, dan kapasitas operasional, serta dievaluasi secara berkala untuk menyesuaikan dengan
perkembangan regulasi dan kebutuhan pasar.

3.6. Target Pasar
Target pasar Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI difokuskan pada pengguna jasa yang memiliki
kebutuhan pemenuhan standar mutu dan regulasi di sektor konstruksi dan infrastruktur. Segmen pasar
tersebut meliputi produsen beton pracetak, kontraktor konstruksi, serta pemilik proyek, baik BUMN
maupun swasta, yang memerlukan layanan sertifikasi produk dan pengujian teknis sesuai ketentuan
Standar Nasional Indonesia (SNI). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2025, jumlah
perusahaan sektor konstruksi di Indonesia yaitu 199.006 perusahaan.

3.7. Pemasok dan Pelanggan Utama
Tidak terdapat pemasok utama lain terkait Rencana Penambahan KBLI karena menggunakan alat-alat
yang dimiliki Perseroan dan menggunakan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Perseroan.

Dari sisi pelanggan utama, Perseroan memiliki pelanggan utama yaitu:
• PT Adhi Persada Beton;
• PT PP;
• PT PP Urban (anak usaha PT PP/Pembangunan Perumahan);
• PT Wika Beton;
• PT Waskita Karya (Persero) Tbk;
• PT Brantas Abipraya (Persero);
• PT Wijaya Karya Beton Tbk;




                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |36
Page 53
• PT Inti Karya Persada Tehnik;
• PT Nindya Karya (Persero);
• PT Adhi Karya (Persero) Tbk;
• PT Jayakuma Perkasa;
• PT Duta Hita Jaya (DHJ Beton);
• PT Jaya Obayashi.




                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |37
Page 54
4. ASPEK TEKNIS
4.1. Kapasitas Segmen Usaha
Perseroan menyediakan beragam layanan jasa konstruksi yang bersifat komplementer dan terintegrasi,
yang mencakup kegiatan engineering, instalasi, jasa pemancangan, pekerjaan konstruksi, serta jasa
post-tensioning, guna mendukung aktivitas produksi dan pemasaran produk Perseroan. Layanan-
layanan tersebut dirancang untuk memberikan solusi menyeluruh bagi kebutuhan pelanggan. Adapun
ruang lingkup segmen jasa konstruksi Perseroan meliputi:
1. Engineering
   Kegiatan engineering mencakup penyediaan rekomendasi teknis serta penentuan desain dan jenis
   struktur yang optimal dan efisien sesuai dengan kebutuhan proyek. Dalam mendukung akurasi dan
   kecepatan analisis teknis, Perseroan memanfaatkan berbagai teknologi dan perangkat lunak rekayasa
   terkini yang disesuaikan dengan fungsi dan kompleksitas pekerjaan.
2. Instalasi
   Layanan instalasi meliputi pekerjaan pemasangan produk beton, antara lain pada struktur jembatan
   layang dan jembatan sungai. Melalui layanan ini, Perseroan memberikan solusi terintegrasi kepada
   pelanggan, mulai dari penyediaan produk beton hingga pelaksanaan instalasi di lokasi proyek.
3. Jasa Pemancangan
   Jasa pemancangan merupakan kegiatan pekerjaan pondasi dengan menggunakan peralatan pancang
   yang menerapkan metode Inner Bore System dan Pre Bore System. Metode tersebut dipilih untuk
   meningkatkan efisiensi pelaksanaan serta menyesuaikan dengan kondisi tanah dan spesifikasi teknis
   proyek.
4. Konstruksi
   Segmen konstruksi mencakup jasa kontraktor yang melaksanakan berbagai tahapan pekerjaan
   konstruksi, mulai dari pekerjaan awal hingga penyelesaian proyek, sesuai dengan ruang lingkup dan
   persyaratan teknis yang ditetapkan.
5. Jasa Post-Tensioning
   Jasa post-tensioning meliputi kegiatan stressing pada komponen struktur tertentu, seperti balok
   jembatan, bangunan gedung, ground anchor, serta jembatan cable stayed. Layanan ini bertujuan
   untuk meningkatkan kekuatan dan kinerja struktural sesuai dengan desain teknis yang
   dipersyaratkan.

1. Beton Precast
Perseroan senantiasa menjaga konsistensi produk utama dan unggulan Perseroan, yakni beton precast.
Segmen beton precast yang dilayani Perseroan kemudia dibagi menjadi 2 (dua) tipe produk, yaitu Precast
Putar dan Precast Non-Putar.

a. Produk Beton Precast Putar
   Produk Beton Precast Putar yang diproduksi Perseroan adalah Spun Pile mulai dari diameter 300 mm
   hingga diameter 1.200 mm yang merupakan Spun Pile dengan diameter terbesar yang dihasilkan oleh
   produsen beton pracetak dalam negeri. Adapun alur proses produksi Beton Precast Putar (PC Spun
   Pile Concrete), yaitu:
   • Persiapan Cetakan
   • Proses Cutting & Heading
   • Proses Wire Caging




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |38
Page 55
   •   Setting Pembesian (joint plate, end plate, joint rim, dan sepatu pancang)
   •   Pembersihan Cetakan & Pemberian Minyak Cetak
   •   Pemasangan Rakitan dan Aksesoris Pada Cetakan Bawah
   •   Mixing Beton di Batching Plant
   •   Proses Pengecoran
   •   Penutupan Cetakan Atas
   •   Proses Stressing
   •   Proses Spinning
   •   Proses Curing Dalam Bak
   •   Demoulding
   •   Labeling & Finishing Produk
   •   Penyimpanan Produk.

b. Produk Beton Precast Non-Putar
   Produk Beton Precast Non-Putar yang diproduksi oleh WSBP adalah Balok Girder, Voided Slab, Square
   Pile, Full Slab, Half Slab, Deck Slab, Box Girder, U-Ditch, U-Gutter, L-Gutter, Box Culvert, CCSP, dan
   FCSP. Adapun alur produksi Beton Precast Non-Putar (PC-I Girder) adalah sebagai berikut:
   • Proses Pemotongan dan Bending Besi
   • Perakitan Besi Tulangan
   • Pembersihan dan Pelumasan Bed Cetakan
   • Setting Pembesian, Pemasangan Ducting, dan Casting
   • Pembersihan dan Pelumasan Dinding Cetakan
   • Pemasangan Dinding Cetakan
   • Proses Pengecoran dan curing
   • Proses Pembukaan Dinding Cetakan
   • Proses Labeling Produk
   • Proses Demoulding Produk
   • Finishing
   • Proses Penyimpanan Produk

2. Beton Readymix & Quarry
Selain memproduksi beton precast, Perseroan juga mengembangkan produk beton readymix, yaitu beton
segar yang terdiri atas campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar, serta bahan tambahan
(admixture). Beton readymix diproduksi di fasilitas batching plant dan didistribusikan kepada pelanggan
menggunakan truck mixer. Adapun kegiatan quarry merupakan bagian dari rantai pasok Perseroan yang
berfungsi sebagai sumber bahan batuan yang diolah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam
produksi beton precast maupun beton readymix.

Beton readymix pada umumnya digunakan untuk proyek konstruksi berskala menengah hingga besar
karena mampu memberikan tingkat ketepatan komposisi yang lebih konsisten serta efisiensi waktu
pelaksanaan yang lebih tinggi dibandingkan metode pengecoran konvensional. Perseroan menyediakan
beton readymix dalam berbagai mutu, di mana beton dengan mutu non-struktural seperti B-0, K-100, K-
125, K-150, K-175, dan K-200 digunakan untuk pekerjaan saluran air dan lapisan dasar perkerasan jalan.
Sementara itu, beton dengan mutu K-225, K-300, K-350, K-400, K-450, K-500 hingga K-1.000 digunakan



                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |39
Page 56
untuk kebutuhan konstruksi struktural dan produksi beton precast, termasuk balok precast, girder, dan
tiang pancang.

Quarry merupakan lokasi kegiatan penambangan yang menghasilkan material berupa batuan, pasir, dan
kerikil. Material hasil penambangan tersebut selanjutnya diolah menggunakan stone crusher untuk
menghasilkan agregat dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Proses pengolahan
dilakukan melalui tahapan crushing dan screening guna memenuhi standar ukuran butir (Particle Size
Distribution).

Produk agregat yang dihasilkan meliputi batu pecah (split) berukuran 10–30 mm, screening berukuran 5–
10 mm, serta abu batu berukuran 0–5 mm. Agregat tersebut digunakan sebagai bahan baku utama dalam
produksi beton, baik beton segar (readymix) maupun beton pracetak (precast), yang dimanfaatkan untuk
berbagai proyek konstruksi seperti jalan, jembatan, gedung, dan infrastruktur lainnya.

3. Kapasitas LSPro
Perseroan saat ini belum memiliki perizinan usaha terkait dengan jasa sertifikasi produk Spun Pile &
CCSP. Dalam Rencana Penambahan KBLI ini, Perseroan berkeyakinan akan memperoleh pangsa pasar
LSPro di pulau Jawa, dengan analisis ketersediaan peluang pasar sebagai berikut:

                                 Tabel 8. Analisa Kapasitas Pasar LSPro
MARKET SHARE LSPRO                  Yr 1      Yr 2   Yr 3    Yr 4    Yr 5    Yr 6     Yr 7    Yr 8    Yr 9    Yr 10
IDRTn                                1F       2F     3F      4F      5F      6F       7F      8F      9F       10F
TARGET CUSTOMER in Java                53,0
PLANT WSBP                                4
PLANT NON WSBP                           49
TYPE OF PRODUCT                          69
SPUNPILE                                 45
CCSP                                     24
TOTAL CERTIFIED PRODUCT                  49
VALIDITY PERIOD OF CERTIFIED      18 Months
Asume 2 plant per customer
AVALAIBLE PRODUCT PER YEAR              66

Total TAM                               66     66     66     66         66      66       66      66      66      66
Total SAM (60% Market TAM)              40     40     40     40         40      40       40      40      40      40
Plant Internal (in PCS)                  0      0      0      0          0       0        0       0       0       0
Plant External (in PCS)                 40     42     44     46         48      51       53      56      59      61
Total SOM (Pesimist)                    36     37     39     41         43      45       48      50      53      55
Total SOM (Optimist)                    37     39     41     43         45      48       50      53      55      58
                                        Sumber: manajemen Perseroan


Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa target pasar LSPro difokuskan pada pelanggan di wilayah
Jawa dengan total potensi 53 pelanggan, yang terdiri atas:
• Plant WSBP            : 4 unit
• Plant non-WSBP        : 49 unit

Dari sisi produk, terdapat 69 jenis produk yang berpotensi disertifikasi, terdiri atas:
• Spunpile               : 45 produk
• CCSP                   : 24 produk



                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |40
Page 57
Namun demikian, hanya 49 produk yang telah memenuhi status produk tersertifikasi, dengan masa
berlaku sertifikat 18 bulan. Dengan mempertimbangkan siklus sertifikasi tersebut, jumlah produk yang
tersedia untuk disertifikasi per tahun diperkirakan sebanyak 66 produk, yang menjadi dasar perhitungan
Total Addressable Market (TAM). Dari total TAM tersebut, diasumsikan LSPro mampu melayani 60% dari
total pasar, sehingga Total Serviceable Available Market (SAM) ditetapkan sebesar 40 sertifikasi per
tahun.

                        Tabel 9. Perkiraan Permintaan Sertifikasi Produk Perseroan
MARKET SHARE LSPRO                     Yr 1        Yr 2    Yr 3     Yr 4    Yr 5     Yr 6      Yr 7     Yr 8      Yr 9     Yr 10
IDRTn                                   1F         2F      3F       4F      5F       6F        7F       8F        9F        10F
TARGET CUSTOMER in Java                   53,0
PLANT WSBP                                   4
PLANT NON WSBP                              49
Total SOM (Optimist)                         37       39      41       43      45         48      50         53      55         58
Estimasi Pendapatan LSPro WBP
(Dalam Jt rupiah)                            4.222 4.450 4.678 4.906 5.135 5.477 5.705 6.047 6.276 6.618
                                               Sumber: manajemen Perseroan


Tabel di atas menggambarkan proyeksi penguasaan pasar (Serviceable Obtainable Market/SOM) LSPro
dan diproyeksikan mampu memperoleh pangsa pasar secara bertahap seiring peningkatan pengenalan
layanan, kepercayaan pelanggan, dan kapasitas operasional. Sehingga Perseroan berkeyakinan bahwa
proyeksi jumlah permintaan sertifikasi produk LSPro Perseroan per tahunnya adalah sebagai berikut:

               Tabel 10. Proyeksi Jumlah Permintaan Sertifikasi Produk LSPro Perseroan
                                                                                    Tahun
                   Uraian
                                                    2026            2027             2028             2029               2030
  1   Pendapatan Usaha (PU)
      Jumlah permintaan sertifikasi produk
                                                     37              39              41                43                 45
      (pengajuan)
                                               Sumber: manajemen Perseroan


4. Kapasitas Uji Lab
Perseroan memiliki laboratorium pengujian yang telah terakreditasi KAN dengan nomor akreditasi LP-
21066-IDN. Laboratorium Perseroan dapat digunakan untuk melakukan pengujian lengkap material
agregat kasar dan halus, uji kuat tekan silinder beton, uji lentur balok, uji bending produk Spun Pile,
Square Pile dan CCSP dan pengujian material/produk lainnya.

Uji bending (Bending Test) Perseroan dilakukan di dalam ruangan (indoor) dengan kapasitas uji mencapai
200 ton dan menggunakan mesin berbasis digital. Produk yang dapat diujikan dapat mencapai diameter
maksimal 1.200 mm dengan panjang produk maksimal 50 m.

Saat ini, Perseroan memiliki peralatan uji lab yang modern dan terkaliberasi dengan penerapan metode
yang sesuai standar serta tenaga ahli profesional. Peralatan laboratorium yang dimiliki Perseroan adalah
sebagai berikut:




                                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |41
Page 58
                          Tabel 11. Daftar Peralatan Laboratorium Perseroan
            No.                             Subject Pengujian                          Jumlah Alat
            1      Alat Bending Tes                                                               1
            2      Abrasi Dengan Alat Los Angeles                                                15
            3      Oven Digital Laboratorium                                                      2
            4      Crushing Test Machine                                                          8
            5      Kalibrasi Anvill                                                               1
            6      Crack Detector                                                                 2
            7      Sample Spliter                                                                 3
            8      Pengujian Analisa Saringan                                                    35
            9      Pengujian Berat Jenis & Penyerapan (Agregat Kasar)                             4
            10     Pengujian Berat Jenis & Penyerapan (Agregat Halus)                             9
            11     Sand Equivalen Test Set                                                        9
            12     Silt Content                                                                   2
            13     Elongation Dan Flakiness Test                                                  4
            14     Pengujian Berat Volume                                                        10
            15     Aggregate Impact Test                                                          3
            16     Peralatan Umum                                                               246
            17     Pengujian Vicat                                                               11
            18     Peralatan Slump Beton                                                         18
            19     Cetakan Beton                                                                174
            20     Pengujian Kadar Organik                                                       12
            21     Pengujian Soundness                                                            3
            22     Hydrometer Analysis                                                            7
            23     Moisture Tester                                                                9
            24     Hyraulic Hand Pallet                                                           1
            25     Timbangan                                                                      5
            26     Air Entertainment Meter                                                        2
            27     Blaine Air Permeability Apparatus                                              9
            28     Mixer Trial Mix                                                                3
            29     Chloride Titrator Test                                                         0
            30     Gantry                                                                         2
            31     Alat Mini Spinning                                                             1
            32     Atk Kantor                                                                    37
            33     Lain-Lain                                                                      1
                                        Sumber: manajemen Perseroan


5. Prospek Bisnis Unit Laboratorium
Dengan status akreditas aktif yang dimiliki unit laboratorium Perseroan baik kepada customer internal
maupun eksternal, membuka kesempatan unit laboratorium untuk memberikan jasa pengujian beton
dan uji bending lebih luas. Untuk keperluan pengujian internal Perseroan, beberapa informasi rencana
jasa pengujian laboratorium yang akan dilakukan di tahun 2026 ini dijelaskan berikut ini:

                  Tabel 12. Estimasi Pendapatan Pengujian Laboratorium tahun 2026
                                Deskripsi                     Estimasi Pendapatan
                   Jasa Uji Lab Beton                   Rp 806.440.000
                   Jasa Uji Bending                     Rp 3.244.000.000
                   Total                                Rp 4.050.440.000
                                        Sumber: manajemen Perseroan




                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |42
Page 59
              Tabel 13. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (internal)
                                                      Jumlah Uji   Jumlah
               Jenis Pengujian          COGM                                   Estimasi Revenue
                                                     /Tahun        Uji/Bulan
            Lab Beton                                                            Rp139.840.000

            Uji Aggregat Kasar         Rp1.275.000        40           4          Rp51.000.000

            Uji Aggregat Halus         Rp1.155.000        28           3          Rp32.340.000

            Trial Mix                  Rp1.590.000        0                            Rp0

            Uji Kuat Tekan                Rp35.000       900          75          Rp31.500.000

            Uji Kuat Lentur              Rp100.000       250          21          Rp25.000.000

            Lab Struktur
            Uji Bending             Rp10.600.000          76           6         Rp805.600.000
                                        Sumber: manajemen Perseroan


              Tabel 14. Estimasi Pendapatan Unit Laboratorium Tahun 2026 (eksternal)
                                      Price List      Jumlah Uji   Jumlah
               Jenis Pengujian                                                 Estimasi Revenue
                                      Eksternal      /Tahun        Uji/Bulan
            Lab Beton                                                            Rp666.600.000
            Uji Aggregat Kasar         Rp2.550.000       120           10         Rp306.000.000
            Uji Aggregat Halus         Rp1.550.000       120           10         Rp186.000.000
            Trial Mix                  Rp2.000.000         0            0              Rp0
            Uji Kuat Tekan               Rp40.000       4.200         350         Rp168.000.000
            Uji Kuat Lentur             Rp110.000         60            5          Rp6.600.000
            Lab Struktur
            Uji Bending             Rp12.700.000         192           16      Rp2.438.400.000
                                        Sumber: manajemen Perseroan


                          Grafik 8. Prospek Jasa Pengujian tahun 2026 - internal




                                        Sumber: manajemen Perseroan


Berdasarkan data AP3I, tercatat sebanyak 31 perusahaan precaster yang menjadi anggota, dengan total
68 pabrik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 53 plant berlokasi
di Pulau Jawa dan 15 plant berada di luar Pulau Jawa. Kapasitas produksi terpasang perusahaan anggota
AP3I mencapai sekitar 26.470.850 ton per tahun, dengan tingkat utilisasi precaster hingga Triwulan III



                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |43
Page 60
2025 berada pada kisaran 2%–57%. Data juga menunjukkan bahwa hingga periode Juni 2025, produk
precast yang paling banyak diproduksi adalah tiang pancang sebesar sekitar 10.500.000 ton, diikuti oleh
produk turap sebesar sekitar 2.500.000 ton. Kondisi tersebut mencerminkan adanya potensi peluang
pengujian bending secara eksternal, khususnya untuk produk tiang pancang dan turap.

4.2. Kajian Pasar Bisnis LSPro
Berdasarkan data AP3I, jumlah perusahaan precaster yang tergabung sebagai anggota tercatat sebanyak
31 perusahaan dengan total 68 pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak
53 plant berlokasi di Pulau Jawa, sementara 15 plant berada di luar Pulau Jawa. Kapasitas produksi
terpasang perusahaan anggota AP3I diperkirakan mencapai sekitar 26.470.850 ton per tahun, dengan
tingkat utilisasi precaster hingga Triwulan III 2025 berada pada kisaran 2%–57%. Data juga menunjukkan
bahwa hingga periode Juni 2025, produk precast yang paling banyak diproduksi adalah tiang pancang
dengan volume sekitar 10.500.000 ton, diikuti oleh produk turap dengan volume sekitar 2.500.000 ton.

Gambar 1. Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota Asosiasi AP3I




                                      Sumber: manajemen Perseroan


Gambar 2. Peta Tebaran Kapasitas Produksi (Terpasang) Beton Pracetak & Prategang (BPP) Anggota
                                        Asosiasi AP3I




                                      Sumber: manajemen Perseroan




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |44
Page 61
Untuk LSPro Perseroan, skema pembiayaan yang diusulkan diambil dari LSPro BRIN sebagai referensi
dan disesuaikan dengan biaya uji bending unit laboratorium Perseroan. Adapun skema pembiayaan
sertifikasi produk oleh LSPro Perseroan adalah sebagai berikut:

                         Tabel 15. Biaya Sertifikasi Produk LSPro Perseroan
 No.                   Item                          Biaya                      Keterangan
  1. Biaya uji bending per produk               Rp 10.600.000-      Biaya per batang produk, harga
                                                 Rp 17.600.000        relatif tergantung diameter,
                                                                  panjang & jumlah produk yang diuji
  2. Biaya jasa LSPro                            Rp 65.000.000         Per pendaftaran/unit kerja
  3. Biaya sertifikat (SNI)                      Rp 2.500.000          Per pendaftaran/unit kerja
  4. Biaya tambahan (biaya uji per family)       Rp 3.000.000      Tergantung jenis produk yang diuji
                                       Sumber: manajemen Perseroan


4.3. Ketersediaan Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan
karena menggunakan produk dari pelanggan yang akan diujikan.

4.4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan
jasa pengujian laboratorium. Struktur organisasi unit laboratorium saat ini mencakup fungsi manajerial,
teknis, operasional, administrasi, hingga pendukung operasional, yang secara keseluruhan telah
disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pengujian. Jumlah tenaga kerja yang tersedia pada unit
laboratorium saat ini adalah sebanyak 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari tenaga manajerial, teknis,
operasional, administrasi, serta pendukung operasional. Komposisi tersebut mencakup 7 (tujuh) tenaga
kerja tidak langsung (BTL), 3 (tiga) tenaga kerja langsung (BL) pada fungsi operasional pengujian, serta 1
(satu) tenaga pendukung kebersihan. Adapun posisi pengemudi operasional masih dalam kondisi vacant
dan dapat dipenuhi sesuai kebutuhan operasional di kemudian hari.

                             Tabel 16. Ketersediaan Sumber Daya Manusia
      BL/BTL                           Jabatan                              Nama
       BTL           PJ Manajer Laboratorium                  I Gusti Komang Sri Aryani
       BTL           PJ Kepala Seksi Pengadaan & Produksi     Eling Subiandono
       BTL           Staf Keuangan & HCM                      Haritz Gabrioga
       BTL           Staf Pengadaan & Produksi 01             Antonius Teguh Mulyo Pujiono
       BTL           Staf Quality                             Dapit Bawono
       BTL           Staf Peralatan                           Ardi Agung Prabowo
       BTL           Staf Pengadaan & Produksi 02             Ari Gunawan
       BTL           Driver Operasional                       Vacant
        BL           Operator Alat                            Operator OHC
        BL           Helper Operator Alat 01                  Helper OHC
        BL           Helper Operator Alat 02                  Helper OHC
       BTL           Office Boy                               Tenaga Kebersihan
                                       Sumber: manajemen Perseroan




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |45
Page 62
Perseroan telah memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana
yang memadai sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk
melalui Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro). Namun demikian, hingga saat ini Perseroan belum memiliki
tenaga kerja yang secara khusus dan permanen didedikasikan untuk operasional LSPro. Apabila rencana
penambahan KBLI disetujui, Perseroan berencana melakukan pembentukan STO LSPro secara definitif
serta pemenuhan dan penambahan sumber daya manusia secara bertahap sesuai dengan prosedur
internal Perseroan dan ketentuan akreditasi yang berlaku.

                          Gambar 3. Struktur Organisasi Sementara LSPro




                                     Sumber: manajemen Perseroan




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |46
Page 63
4.5. Proses Produksi
Berikut adalah alur proses produksi beton precast dan readymix:

                      Gambar 4. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix




                                     Sumber: manajemen Perseroan


Proses produksi Beton Precast dan Readymix merupakan rangkaian kegiatan terintegrasi yang
melibatkan fungsi perencanaan, produksi, pengadaan, pengendalian mutu, logistik, hingga fungsi
pendukung. Secara umum, alur proses dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan dan Pengendalian Produksi Plant
    Proses produksi diawali dengan kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi plant, yang
    mencakup penyusunan rencana produksi, penjadwalan kapasitas, serta pengalokasian sumber daya
    berdasarkan kebutuhan proyek dan proyeksi permintaan. Tahap ini bertujuan untuk memastikan
    kesesuaian antara kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, dan target pengiriman.
2. Perancangan dan Evaluasi Produksi
    Pada tahap perencanaan dan evaluasi produksi, dilakukan penentuan spesifikasi teknis produk,
    metode produksi, serta evaluasi kelayakan pelaksanaan produksi baik untuk beton precast maupun
    readymix. Evaluasi ini mencakup kesesuaian desain produk, volume produksi, serta kesiapan
    fasilitas dan peralatan produksi.
3. Pengadaan dan Persiapan Bahan Baku
    Kebutuhan bahan baku dipenuhi melalui fungsi pengadaan (purchasing) yang terkoordinasi dengan
    unit produksi. Bahan baku yang diterima dari pemasok maupun dari quarry internal selanjutnya
    disimpan dan dikelola melalui gudang barang masuk, dengan pengendalian persediaan yang
    mengacu pada standar mutu dan rencana produksi.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |47
Page 64
4. Pengolahan Material Agregat
    Material agregat diproses melalui fasilitas stone crusher untuk menghasilkan ukuran dan gradasi
    batu split yang sesuai dengan spesifikasi teknis beton. Hasil pengolahan agregat ini menjadi input
    utama dalam proses produksi beton readymix dan precast.
5. Produksi Beton Readymix
    Produksi beton readymix dilakukan melalui proses pencampuran bahan baku sesuai dengan mix
    design yang telah ditetapkan. Proses ini dilaksanakan dengan pengendalian mutu yang ketat untuk
    memastikan konsistensi kualitas beton sebelum dilakukan.
6. Produksi Beton Precast
    Produksi beton precast dilakukan melalui tahapan penyiapan cetakan (moulding), pengecoran
    beton, proses curing, hingga pembongkaran cetakan. Selama proses produksi, dilakukan
    pengawasan mutu untuk memastikan produk memenuhi spesifikasi teknis dan standar kualitas yang
    ditetapkan.
7. Pengendalian Mutu
    Pengendalian mutu dilakukan pada seluruh tahapan produksi, termasuk kontrol kualitas bahan
    baku, proses produksi, serta produk jadi. Pengujian dan inspeksi dilakukan untuk memastikan
    kesesuaian terhadap spesifikasi teknis dan standar mutu yang berlaku.
8. Kalibrasi dan Perawatan Peralatan
    Untuk menjamin akurasi dan keandalan proses produksi, Perseroan secara berkala melakukan
    kalibrasi peralatan serta perawatan moulding dan mesin produksi. Kegiatan ini bertujuan untuk
    menjaga kinerja peralatan, mengurangi potensi gangguan operasional, dan mempertahankan
    kualitas produk.
9. Penyimpanan dan Pengelolaan Produk Jadi
    Produk precast yang telah memenuhi standar mutu disimpan pada gudang barang jadi sebelum
    dilakukan pengiriman. Pengelolaan gudang dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan,
    kualitas, dan kesiapan distribusi, guna mendukung ketepatan waktu pengiriman.
10. Distribusi dan Pengiriman
    Tahap akhir proses produksi adalah pengiriman produk ke lokasi proyek atau pelanggan. Kegiatan
    distribusi dilakukan secara terencana dan terkoordinasi untuk memastikan produk diterima sesuai
    jadwal, spesifikasi, dan kondisi mutu yang dipersyaratkan.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |48
Page 65
Berikut adalah flowchart prosedur laboratorium:

                            Gambar 5. Flowchart Prosedur Laboratorium




                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |49
Page 66
(lanjutan)
              Penerbitan No. Registrasi




             Sumber: manajemen Perseroan




                                Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |50
Page 67
Secara umum, alur proses prosedur Uji Lab dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap Awal Permintaan
   Proses dimulai dari kegiatan operasional (OPR-1), ketika terdapat permintaan jasa uji laboratorium
   dari pengguna jasa. Selanjutnya, Unit Laboratorium melakukan kaji ulang atas permintaan tersebut
   untuk memastikan kesesuaian jenis pengujian, ruang lingkup, serta ketersediaan fasilitas dan sumber
   daya.

2. Penentuan Jenis Pengujian
   Setelah kaji ulang, dilakukan identifikasi jenis pengujian yang diminta, yang terbagi menjadi dua
   kategori:
   • Jasa Uji Laboratorium Beton, atau
   • Jasa Uji Laboratorium Struktur (Bending).


3. Identifikasi Jenis Customer
   Pada masing-masing jenis pengujian, dilakukan klasifikasi jenis customer, yaitu:
   • Customer internal, atau
   • Customer eksternal.


4. Mekanisme Penetapan Harga dan Pembayaran
    a. Jasa Uji Laboratorium Beton
       • Customer internal:
           Biaya pengujian ditetapkan berdasarkan Harga Uji COGM.
       • Customer eksternal:
           Biaya pengujian mengacu pada tarif eksternal yang berlaku, dengan mekanisme
           pembayaran melalui VA/cash di Unit Laboratorium.
    b. Jasa Uji Laboratorium Struktur (Bending)
       • Customer internal:
           Biaya pengujian ditetapkan berdasarkan Harga Uji COGM.
       • Customer eksternal:
           Unit Laboratorium menerbitkan surat penawaran tarif uji eksternal beserta skema
           pembayaran.

5. Persetujuan dan Negosiasi (Customer Eksternal – Uji Struktur)
   Untuk customer eksternal jasa uji struktur, dilakukan proses:
   Persetujuan harga dan ketentuan pelunasan di awal.
   • Apabila tidak disetujui, dilakukan negosiasi harga dan sistem pembayaran, yang dituangkan
       dalam berita acara negosiasi, kemudian dilanjutkan dengan penerbitan PO/SPK oleh customer
       eksternal;
   • Apabila disetujui, proses dilanjutkan ke tahap pembayaran.

6. Pembayaran Jasa
   Customer eksternal melakukan pembayaran jasa uji laboratorium struktur/bending melalui Transfer
   bank ke unit Perseroan, dengan skema DP atau pelunasan sesuai kesepakatan.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |51
Page 68
7. Penerbitan Nomor Registrasi
   Setelah persyaratan administratif dan pembayaran terpenuhi, Unit Laboratorium melakukan
   penerbitan nomor registrasi pengujian, sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pengujian laboratorium
   selanjutnya.

8. Pengiriman dan Pengujian Sampel
   Proses dimulai dengan pengiriman produk/sampel uji ke laboratorium. Setelah diterima, Unit
   Laboratorium melaksanakan pengujian produk/sampel uji sesuai dengan metode dan ruang lingkup
   pengujian yang telah ditetapkan.

9. Evaluasi Layanan dan Penyusunan Laporan
   Setelah pengujian selesai:
   • Dilakukan survei kepuasan pelanggan sebagai bagian dari evaluasi mutu layanan.
   • Unit Laboratorium kemudian melakukan penyusunan Laporan Hasil Uji (LHU).


10. Penentuan Kebutuhan Analisis Tambahan
    Selanjutnya dilakukan evaluasi apakah diperlukan analisa tambahan atau laporan complete/akhir:
    • Jika diperlukan, Unit Laboratorium melanjutkan dengan penyusunan analisa dan laporan
        complete/akhir hasil uji.
    • Jika tidak diperlukan, proses langsung dilanjutkan ke tahap penyelesaian administrasi
        pembayaran.

11. Penyelesaian Administrasi Pembayaran
    Tahap berikutnya adalah pelunasan/pembayaran, yang dibedakan berdasarkan jenis pelanggan:
    a. Customer Internal
       Untuk customer internal, dilakukan penyusunan Berita Acara (BA) overbooking biaya uji sesuai
       dengan nomor jurnal yang tercatat dalam sistem SAP.
    b. Customer Eksternal
       Untuk customer eksternal, dilakukan pengecekan status pelunasan pembayaran:
       • Apabila pembayaran belum lunas, Unit Laboratorium menerbitkan BAAP (invoice, faktur pajak,
         dan dokumen pendukung lainnya) sebagai dasar penagihan, kemudian dilanjutkan dengan
         pembayaran pelunasan jasa uji oleh customer.
       • Apabila pembayaran telah lunas, proses dapat langsung dilanjutkan ke tahap berikutnya.


12. Penerbitan Berita Acara dan Penyerahan Laporan
    Setelah seluruh kewajiban administrasi dan pembayaran terpenuhi:
    • Unit Laboratorium melakukan penerbitan Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan (BAPP).
    • Selanjutnya dilakukan penyerahan Laporan Hasil Uji (LHU) kepada pelanggan.


13. Pencatatan dan Penutupan Proses
    Sebagai tahap akhir:
    • Seluruh data pengujian dicatat dan diarsipkan dalam database Unit Laboratorium.
    • Proses dinyatakan selesai.




                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |52
Page 69
5.    ASPEK POLA BISNIS

5.1. Keunggulan Kompetitif
Kompetisi di bidang manufaktur Beton Precast dan Beton Readymix di Indonesia semakin ketat. Oleh
karena itu, untuk memenangkan persaingan, Perseroan terus menciptakan keunggulan-keunggulan
kompetitif yang bisa menjadi rujukan dan bahan pertimbangan bagi para calon pelanggan. Keunggulan
yang dimiliki Perseroan antara lain:
• Perseroan beroperasi pada sektor usaha yang memiliki prospek pertumbuhan dan memperoleh
    dukungan kebijakan Pemerintah;
• Perseroan memiliki basis pasar yang relatif stabil seiring dengan dukungan dari pertumbuhan
    kegiatan usaha inti dalam grup;
• Perseroan mencatatkan kinerja pendapatan dan laba historis yang menunjukkan tren pertumbuhan,
    serta potensi peningkatan marjin dalam jangka menengah, khususnya dari proyek jalan tol;
• Perseroan didukung oleh jaringan pemasaran yang telah berkembang serta fasilitas produksi yang
    tersebar di berbagai wilayah di Indonesia;
• Perseroan memiliki reputasi dan rekam jejak pelaksanaan proyek yang telah teruji;
• Perseroan menyediakan portofolio produk yang beragam dengan standar mutu yang terjaga serta
    nilai tambah sesuai kebutuhan proyek;
• Perseroan didukung oleh manajemen dan sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dan
    kompetensi di bidang terkait;
• Perseroan melakukan optimalisasi aset tetap, termasuk melalui divestasi aset tidak produktif
    melalui mekanisme lelang KPKNL, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan
    yang baik dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku;
• Perseroan melaksanakan program penghijauan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian
    terhadap lingkungan dan penerapan prinsip ESG;
• Perseroan menerapkan teknologi Building Information Modeling (BIM) tiga dimensi untuk
    mendukung peningkatan efisiensi, akurasi, dan efektivitas dalam proses perencanaan dan produksi;
• Perseroan menempatkan pengelolaan hubungan dengan pelanggan sebagai salah satu prioritas
    melalui pemberian layanan yang optimal dan pengembangan hubungan jangka panjang.

Perseroan telah mendapatkan Sertifikasi ISO berikut:
• ISO 27001:2022 terkait Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) periode 7 Februari 2023-6
    Februari 2026;
• ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) periode 25 September 2023-24
    September 2026;
• ISO 14001:2015 terkait Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) UKAS periode 11 Maret 2024-24
    Januari 2027;
• ISO 45001: 2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) UKAS periode
    13 Maret 2024-18 Januari 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) UKAS periode 14 Maret 2024-8 Maret 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) KAN periode 15 Maret 2024-8 Maret 2027.

Dengan Rencana Penambahan KBLI, memberikan Perseroan keunggulan kompetitif yang bersifat
penunjang terhadap kegiatan usaha utama. Keunggulan tersebut terutama berasal dari pemanfaatan



                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |53
Page 70
sumber daya, pengalaman operasional, dan infrastruktur yang telah dimiliki Perseroan. Rencana
penambahan KBLI didukung oleh kesiapan operasional Perseroan yang telah memiliki fasilitas
laboratorium pengujian terakreditasi KAN dengan ruang lingkup pengujian yang relevan, sehingga
pelaksanaan kegiatan usaha dapat dilakukan tanpa memerlukan investasi awal yang signifikan.
Perseroan juga didukung oleh ketersediaan peralatan uji bending berkapasitas besar dengan teknologi
pengujian yang terintegrasi, yang mendukung keandalan dan konsistensi hasil pengujian serta efisiensi
operasional.

Selain itu, Perseroan memiliki sumber daya manusia dengan kompetensi dan pengalaman di bidang
beton pracetak dan pengujian teknis yang memadai untuk memenuhi ketentuan akreditasi dan standar
yang berlaku. Pemahaman Perseroan terhadap kebutuhan regulasi dan praktik industri, yang diperoleh
melalui keterlibatan dalam ekosistem industri precast, serta sinergi internal dengan unit usaha yang telah
ada, memungkinkan optimalisasi aset dan pengendalian biaya. Kesiapan tersebut memberikan posisi
yang relatif lebih siap dalam mengimplementasikan kegiatan usaha baru dibandingkan pelaku usaha
yang memulai dari tahap awal, dengan tetap memperhatikan prinsip kepatuhan dan ketentuan yang
berlaku.

Keunggulan kompetitif lainnya adalah jaringan usaha dan basis pelanggan yang telah terbentuk, terutama
di lingkungan proyek konstruksi dan infrastruktur. Jaringan tersebut dapat mendukung pemanfaatan
layanan pengujian dan sertifikasi sebagai bagian dari rangkaian layanan penunjang yang terintegrasi
dengan kegiatan usaha utama Perseroan.

Secara keseluruhan, keunggulan kompetitif dari Rencana Penambahan KBLI ini dinilai bersumber dari
sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis. Keunggulan tersebut diharapkan dapat
dipertahankan sepanjang Perseroan menjaga kepatuhan terhadap ketentuan perizinan, akreditasi, dan
standar operasional yang berlaku.

5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk
Kemampuan pesaing untuk meniru layanan jasa sertifikasi produk (KBLI 71201 dan KBLI 71202) dan jasa
pengujian laboratorium (KBLI 71204 dan KBLI 72102) relatif terbatas dalam jangka pendek, mengingat
kegiatan usaha tersebut mensyaratkan pemenuhan aspek regulasi, akreditasi, dan kesiapan operasional
yang tidak dapat dipenuhi secara instan. Untuk menjalankan jasa sertifikasi produk, pelaku usaha harus
memperoleh akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) dari lembaga berwenang serta
memenuhi ketentuan independensi, kompetensi personel, dan sistem manajemen mutu yang ketat.
Proses pemenuhan persyaratan tersebut memerlukan waktu, sumber daya, serta pengalaman teknis
yang memadai.

Demikian pula untuk jasa pengujian laboratorium, pesaing harus memiliki fasilitas pengujian yang sesuai,
peralatan uji dengan spesifikasi teknis tertentu, serta akreditasi KAN SNI ISO/IEC 17025 untuk ruang
lingkup pengujian yang relevan serta pemenuhan standar sistem manajemen mutu dan kompetensi
teknis tertentu. Ketersediaan peralatan uji bending berkapasitas besar dan personel yang kompeten
menjadi faktor pembatas bagi pelaku usaha lain, khususnya dalam konteks pengujian produk Spun Pile
dan CCSP. Proses perolehan akreditasi tersebut memerlukan waktu, biaya, dan kesiapan organisasi yang
tidak singkat, sehingga tidak seluruh pesaing dapat dengan mudah atau cepat memasuki segmen usaha
ini.



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |54
Page 71
Selain faktor teknis dan regulasi, kepercayaan pelanggan dan rekam jejak layanan juga menjadi aspek
yang relatif sulit ditiru oleh pesaing. Perseroan memiliki keunggulan berupa pengalaman operasional,
pemahaman terhadap karakteristik produk precast, serta jaringan pelanggan yang telah terbentuk,
khususnya di sektor konstruksi dan proyek infrastruktur. Keunggulan ini berpotensi menjadi pembeda
yang mengurangi dampak peniruan layanan oleh pesaing, meskipun secara teknis layanan serupa dapat
dikembangkan.

Meskipun demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, peluang bagi pelaku usaha lain untuk
mengembangkan layanan sejenis tetap terbuka, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar dan
dukungan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, kemampuan pesaing untuk meniru layanan Perseroan
dinilai ada namun memerlukan waktu dan investasi yang signifikan, sehingga tidak bersifat langsung atau
mudah dilakukan dalam jangka pendek. Dengan demikian, risiko peniruan oleh pesaing dinilai terkendali,
sepanjang Perseroan mampu menjaga kualitas layanan, kepatuhan terhadap standar akreditasi, serta
konsistensi dalam pengelolaan operasional jasa pengujian dan sertifikasi.

5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai
Perseroan memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai melalui pengembangan kegiatan usaha jasa
sertifikasi produk dan jasa pengujian laboratorium yang terintegrasi dengan proses produksi dan
pengendalian mutu yang telah berjalan. Integrasi tersebut memungkinkan Perseroan untuk
meningkatkan efisiensi proses pengujian dan sertifikasi, mempercepat pemenuhan persyaratan teknis
dan regulasi, serta menjaga konsistensi kualitas produk, yang secara keseluruhan memberikan nilai
tambah bagi pelanggan. Selain itu, pengalaman Perseroan dalam pengelolaan mutu produk beton
precast dan beton readymix, serta pemahaman atas standar teknis konstruksi, mendukung pelaksanaan
jasa sertifikasi dan pengujian secara andal. Kemampuan ini meningkatkan keandalan hasil uji dan
sertifikasi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal, yang menjadi faktor penting
dalam penciptaan nilai bagi pemilik proyek.

Perseroan juga menciptakan nilai melalui penerapan standar mutu, prosedur pengujian, dan
pengendalian kualitas yang terstruktur dan konsisten. Ketersediaan fasilitas dan kapabilitas pengujian
internal memungkinkan Perseroan untuk melakukan pengawasan mutu secara berkelanjutan, sehingga
produk dan layanan yang dihasilkan dapat memenuhi spesifikasi teknis dan kebutuhan proyek secara
tepat waktu. Di samping itu, dukungan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknis,
penerapan teknologi pengujian yang memadai, serta penguatan manajemen risiko dan kepatuhan
terhadap ketentuan perizinan dan akreditasi menjadi faktor pendukung dalam menjaga keberlanjutan
kegiatan usaha tersebut. Dengan pendekatan tersebut, Perseroan dinilai memiliki kemampuan untuk
menciptakan nilai secara berkelanjutan, baik dari sisi efisiensi operasional maupun potensi diversifikasi
pendapatan, dalam mendukung kelayakan usaha yang dianalisis

Melalui Rencana Penambahan, Perseroan berpotensi menciptakan nilai tambah dengan memperluas
ruang lingkup kegiatan usaha ke layanan pendukung yang memiliki keterkaitan langsung dengan proses
produksi dan kualitas produk konstruksi. Penambahan kegiatan jasa sertifikasi produk memungkinkan
Perseroan untuk melakukan pengujian dan penilaian kesesuaian produk secara lebih terintegrasi,
sehingga dapat meningkatkan efisiensi proses sertifikasi, konsistensi mutu, serta kepastian pemenuhan
standar teknis dan regulasi. Hal ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal dan
mempercepat waktu pemenuhan persyaratan proyek. Sementara itu, kegiatan jasa pengujian



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |55
Page 72
laboratorium mendukung pengendalian kualitas bahan baku dan produk akhir secara berkelanjutan.
Dengan kemampuan pengujian internal, Perseroan dapat meningkatkan akurasi hasil uji, mempercepat
pengambilan keputusan operasional, serta meminimalkan risiko ketidaksesuaian spesifikasi produk.

Dari perspektif usaha, Rencana Penambahan KBLI tersebut membuka peluang diversifikasi sumber
pendapatan melalui penyediaan jasa sertifikasi dan pengujian kepada pihak eksternal, sepanjang
memenuhi ketentuan perizinan dan akreditasi yang berlaku. Diversifikasi ini berpotensi memperkuat
struktur pendapatan dan meningkatkan pemanfaatan aset dan sumber daya yang dimiliki Perseroan.
Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI dinilai dapat menciptakan nilai tambah (added value)
dalam bentuk peningkatan efisiensi operasional maupun kelembagaan dengan tetap memperhatikan
prinsip kehati-hatian dan ketentuan yang berlaku, penguatan pengendalian mutu, serta perluasan
potensi pendapatan, yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan dan kelayakan usaha Perseroan
dalam jangka menengah dan panjang.




                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |56
Page 73
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN

6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas tim pelaksana. Perseroan
senantiasa mengutamakan kebijaksanaan dalam penempatan tenaga kerja, khususnya bagi karyawan
yang memiliki pengalaman dan kompetensi sesuai bidangnya. Dalam menjalankan kegiatan usaha,
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan bepengalaman untuk menjalankan
kegiatan usahanya. Saat ini, Perseroan memiliki 618 orang tenaga kerja yang terdiri dari 511 laki-laki dan
107 perempuan. Dari jumlah tersebut dibagi 2 kategori yaitu pegawai teknik dan non teknik. Berikut
komposisi tenaga kerja berdasarkan pendidikan, lokasi, umur, dan jabatan:

                    Tabel 17. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan
                No.          Pendidikan           WSKT       WBP        Jumlah
                 I   TEKNIK                         30        301         331
                     S2                              1        11          12
                     S1                             29        185         214
                     D4                              -        10          10
                     D3                              -        47          47
                     D2                              -         -           -
                     D1                              -         -           -
                     SLTA                            -        48          48
                 II  NON TEKNIK                     27        260         287
                       S3                                 -           1              1
                       S2                                 7          20             27
                       S1                                20          128            148
                       D4                                 -           -              -
                       D3                                 -          18             18
                       D2                                 -           1              1
                       D1                                 -           2              2
                       SLTA                               -          90             90
                          TOTAL (I +II )                 57          561            618
                                       Sumber: manajemen Perseroan


                        Tabel 18. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi
                No.       Penempatan           WSKT         WBP         Jumlah
                 I    TEKNIK                    30          301           331
                      Kantor Pusat              12           53           65
                      Unit Bisnis                4           57           61
                      Unit Operasional          14          191           205
                II    NON TEKNIK                27          260           287
                      Kantor Pusat              16           83           99
                      Unit Bisnis                7           29           36
                      Unit Operasioanal          4          148           152
                                       Sumber: manajemen Perseroan




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |57
Page 74
         Tabel 19. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur
 No.      Rentang Umur          WSKT        WBP         Jumlah
  I    TEKNIK                    30          301          331
       >55                        -           3            3
       51-55                     2            9           11
       46-50                     2           11           13
       41-45                     1           20           21
       36-40                     6           39           45
       31-35                     19          137          156
       26-30                      -          69           69
       21-25                      -          13           13
       <20                        -           -            -
 II    NON TEKNIK                27          260          287
       >55                        -           1            1
       51-55                     2            8           10
       46-50                     1           10           21
       41-45                     1           30           31
       36-40                     5           51           56
       31-35                     17          86           103
       26-30                     1           70           71
       21-25                      -           4            4
       <20                        -           -            -
                      Sumber: manajemen Perseroan


         Tabel 20. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan
No.        Kategori Jabatan       WSKT         WBP         Jumlah
 I     TEKNIK                       30          301          331
       Kepala Divisi                 -           9            9
       Manager Corporate
                                     5           8            13
       Office
       Manajer Business Unit         2           9            11
       Manager Operational
                                     8          16            24
       Unit
       Ahli / Auditor                9          43            52
       Kepala Seksi / Pelaksana
                                     5          70            75
       Utama
       Koordinator/Pelaksana         -           5            5
       Staf                          1          141          142
II     NON TEKNIK                   27          260          287
       Kepala Divisi                 3           3            6
       Manager Corporate
                                     7           7            14
       Office
       Manajer Business Unit         4           4            8




                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |58
Page 75
               No.        Kategori Jabatan          WSKT            WBP             Jumlah
                      Manager Operational
                                                      1               3                4
                      Unit
                      Ahli / Auditor                  7               43               50
                      Kepala Seksi / Pelaksana
                                                      2               25               27
                      Utama
                      Koordinator/Pelaksana                          11               11
                      Staf                            3              164              167

                                       Sumber: manajemen Perseroan


Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan
jasa pengujian laboratorium. Struktur organisasi unit laboratorium saat ini mencakup fungsi manajerial,
teknis, operasional, administrasi, hingga pendukung operasional, yang secara keseluruhan telah
disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pengujian. Jumlah tenaga kerja yang tersedia pada unit
laboratorium saat ini adalah sebanyak 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari tenaga manajerial, teknis,
operasional, administrasi, serta pendukung operasional. Komposisi tersebut mencakup 7 (tujuh) tenaga
kerja tidak langsung (BTL), 3 (tiga) tenaga kerja langsung (BL) pada fungsi operasional pengujian, serta 1
(satu) tenaga pendukung kebersihan. Adapun posisi pengemudi operasional masih dalam kondisi vacant
dan dapat dipenuhi sesuai kebutuhan operasional di kemudian hari.

Perseroan telah memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana
yang memadai sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk
melalui Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro). Namun demikian, hingga saat ini Perseroan belum memiliki
tenaga kerja yang secara khusus dan permanen didedikasikan untuk operasional LSPro. Apabila rencana
penambahan KBLI disetujui, Perseroan berencana melakukan pembentukan STO LSPro secara definitif
serta pemenuhan dan penambahan sumber daya manusia secara bertahap sesuai dengan prosedur
internal Perseroan dan ketentuan akreditasi yang berlaku.

Biaya tenaga kerja untuk 11 (sebelas) orang di posisi manajerial, teknis, operasional, administrasi, serta
pendukung operasional sudah ada pada beban sumber daya manusia Perseroan saat ini, sehingga biaya
tambahan hanya untuk posisi pengemudi operasional. Biaya tambahan atas posisi vacant tersebut dapat
dipenuhi dari kas Perseroan dan tidak memberatkan likuiditas Perseroan.

6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual
Tidak terdapat aset takberwujud yang khusus terkait dengan Rencana Penambahan KBLI.

6.3. Manajemen Risiko
Secara umum kegiatan usaha Perseroan memiliki risiko-risiko sebagai berikut adalah:

Risiko Tingkat Suku Bunga
Risiko suku bunga menunjuk kepada risiko dimana nilai wajar atau aliran kas mendatang dari suatu
instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan suku bunga pasar. Risiko suku bunga timbul
dari instrumen keuangan yang menghasilkan bunga yang diakui pada laporan perubahan posisi keuangan




                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |59
Page 76
(contohnya: instrumen utang yang diperoleh atau diterbitkan), dan beberapa instrumen keuangan yang
tidak diakui dalam laporan posisi keuangan (contohnya: beberapa perjanjian pinjaman).

Kebijakan Perseroan adalah untuk memperoleh tingkat bunga yang paling menguntungkan yang tersedia
di pasar. Manajemen berpendapat bahwa risiko terhadap nilai wajar dapat dikelola dengan baik.
Perseroan tidak menyiapkan analisis sensitivitas dikarenakan tidak terdapat dampak yang material
terhadap laba rugi Perseroan yang timbul dari dampak perubahan yang secara wajar terhadap suku
bunga instrumen keuangan yang berbunga tetap dan dinilai pada biaya diamortisasi pada akhir periode
pelaporan.

Risiko Kredit
Risiko kredit mengacu pada risiko rekanan gagal dalam memenuhi kewajiban kontraktualnya yang
mengakibatkan kerugian bagi Perseroan. Risiko kredit Perseroan terutama melekat pada rekening bank,
piutang usaha, piutang lain-lain dan tagihan bruto. Perseroan menempatkan saldo Bank pada institusi
keuangan yang layak serta terpercaya. Piutang usaha dan piutang lain- lain dilakukan dengan pihak ketiga
yang terpercaya dan pihak berelasi. Eksposur Perseroan dan counterparties dimonitor secara terus
menerus dan nilai agregat transaksi terkait tersebar di antara counterparties yang telah disetujui.

Nilai tercatat aset keuangan pada laporan keuangan setelah dikurangi dengan penyisihan untuk kerugian
penurunan nilai mencerminkan eksposur Perseroan terhadap risiko kredit. Piutang usaha merupakan
pendapatan penjualan dari precast dan readymix kepada WSKT (entitas induk) dan pendapatan usaha
precast dan jasa konstruksi kepada CCTW. Evaluasi kredit berjalan dilakukan terhadap kondisi keuangan
Perseroan dan bila memungkinkan, penjualan atau pendapatan kredit harus dijamin dengan asuransi
penjaminan atau dengan letter credit dan bank garansi serta dengan meminta pembayaran uang muka
dari pelanggan.

Meskipun PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Cimanggis Cibitung Tollways, serta kerja sama operasi
antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Jaya Konstruksi Manggala
Pratama Tbk merupakan pelanggan utama Perseroan, Perseroan tetap dapat mengelola eksposur atas
konsentrasi risiko kredit. Hal tersebut didukung oleh kemampuan Perseroan untuk memperoleh
pelanggan baru maupun melakukan penjualan kepada pihak berelasi, antara lain perusahaan lain dalam
Grup PT Waskita Toll Road, perusahaan konstruksi badan usaha milik negara lainnya, serta perusahaan
konstruksi pihak ketiga.

Risiko Likuiditas
Tanggung jawab utama manajemen risiko likuiditas terletak pada Dewan Direksi, yang telah membangun
kerangka manajemen risiko likuiditas yang sesuai untuk persyaratan manajemen likuiditas dan
pendanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang Perseroan. Perseroan mengelola risiko
likuiditas dengan menjaga kecukupan simpanan, fasilitas bank dan fasilitas simpan pinjam dengan terus
menerus memonitor perkiraan dan arus kas aktual dan mencocokkan profil jatuh tempo aset dan
liabilitas keuangan. Perseroan memelihara kecukupan dana untuk membiayai kebutuhan modal kerja
yang berkelangsungan.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |60
Page 77
Risiko Modal
Perusahaan mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk melanjutkan
keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang saham melalui optimalisasi
saldo utang dan ekuitas. Struktur modal Perseroan terdiri dari utang bank, utang obligasi, dan liabilitas
sewa diimbangi dengan kas dan setara kas, dan ekuitas yang terdiri dari modal yang ditempatkan dan
disetor, tambahan modal disetor, saldo laba dan komponen ekuitas lainnya. Dewan Direksi Perseroan
secara berkala melakukan telaah struktur permodalan Perseroan. Sebagai bagian dari telaah ini, Dewan
Direksi mempertimbangkan biaya permodalan dan risiko yang berhubungan.

Risiko Legal
Risiko legal berupa tuntutan pidana maupun gugatan perdata dapat terjadi apabila terdapat (atau
terpenuhinya) unsur perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum adalah tindakan yang
dilakukan oleh Perseroan dalam menjalankan kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi yang
bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Upaya mitigasi yang telah dan akan tetap dilakukan oleh
Perseroan untuk menghindari terjadinya perbuatan melawan hukum adalah melakukan review atas
setiap kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi berdasarkan regulasi yang berlaku sebelum memutuskan
menjalankan transaksi. Untuk memastikan kerangka risiko legal yang terkendali dan tetap menjaga
keberlangsungan usaha, Perseroan melakukan analisis risiko atas suatu transaksi yang akan dilakukan
dan review atas perjanjian yang akan ditandatangani. Kegiatan review tersebut dapat dilakukan secara
inhouse atau dengan melibatkan konsultan hukum eksternal.

A. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 (Jasa Sertifikasi Produk
   LSPro)
Risiko-risiko yang mungkin terjadi atas Rencana Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 (Jasa
Sertifikasi Produk LSPro) adalah sebagai berikut:

1. Risiko Regulasi dan Kepatuhan
Penambahan KBLI 71201 dan KBLI 71202 mengharuskan Perseroan memenuhi ketentuan perizinan dan
akreditasi LSPro, termasuk persyaratan dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta peraturan teknis
terkait sertifikasi produk. Risiko dapat timbul apabila proses akreditasi tidak terpenuhi secara tepat
waktu atau terdapat perubahan regulasi di kemudian hari.

Mitigasi:
Perseroan melakukan pemetaan regulasi secara berkala, menyiapkan sistem manajemen mutu LSPro
sesuai standar yang berlaku, serta melakukan koordinasi intensif dengan KAN dan instansi terkait.

2. Risiko Independensi dan Benturan Kepentingan
Sebagai entitas yang juga berperan sebagai produsen beton pracetak, terdapat risiko persepsi maupun
potensi benturan kepentingan dalam pelaksanaan sertifikasi produk, khususnya apabila sertifikasi
dilakukan terhadap produk internal.

Mitigasi:
Perseroan menerapkan pemisahan fungsi organisasi antara unit produksi dan LSPro, menetapkan
kebijakan independensi, serta memastikan proses sertifikasi dilaksanakan secara objektif, transparan,
dan terdokumentasi sesuai standar akreditasi.



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |61
Page 78
3. Risiko Operasional
Risiko operasional dapat timbul dari keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten, kesiapan
prosedur kerja, serta sistem pendukung LSPro yang belum optimal pada tahap awal operasional.

Mitigasi:
Perseroan menyiapkan personel yang memiliki kompetensi dan sertifikasi yang dipersyaratkan,
menyusun dan mengimplementasikan SOP LSPro, serta melakukan pelatihan dan evaluasi secara
berkelanjutan.

4. Risiko Reputasi
Kegagalan dalam menjaga kualitas layanan sertifikasi atau terjadinya ketidaksesuaian dalam
pelaksanaan proses sertifikasi berpotensi berdampak pada reputasi LSPro dan Perseroan secara
keseluruhan.

Mitigasi:
Perseroan menerapkan pengendalian mutu internal, audit internal secara berkala, serta mekanisme
penanganan keluhan pelanggan untuk menjaga konsistensi dan kredibilitas layanan sertifikasi.

5. Risiko Permintaan Pasar
Terdapat risiko bahwa tingkat permintaan atas jasa sertifikasi produk tidak sesuai dengan proyeksi awal,
terutama pada tahap awal pendirian LSPro atau akibat perubahan kebijakan/regulasi.

Mitigasi:
Perseroan menerapkan pendekatan bertahap dalam pengembangan LSPro, dengan memprioritaskan
kebutuhan internal dan pasar yang telah memiliki hubungan kerja, serta menyesuaikan kapasitas
operasional secara prudent.

6. Risiko Keuangan
Risiko keuangan dapat timbul dari biaya pendirian, operasional, dan pemeliharaan akreditasi LSPro yang
tidak diimbangi dengan pendapatan jasa sertifikasi dalam jangka pendek.

Mitigasi:
Perseroan menerapkan perencanaan keuangan yang konservatif, melakukan pengendalian biaya
operasional, serta mengevaluasi kinerja LSPro secara periodik untuk memastikan keberlanjutan usaha.

B. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian Lab)
Beberapa peristiwa risiko yang teridentifikasikan dalam Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI
72102 (Jasa Pengujian Lab) dan mitigasinya adalah sebagai berikut:




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |62
Page 79
Tabel 21. Manejemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI 71204 dan KBLI 72102 (Jasa Pengujian
                                        Laboratorium)




                                      Sumber: manajemen Perseroan


6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Identitas dan pengalaman dari manajemen Perseroan adalah sebagai berikut:
Nama                      : Anak Agung Gede Sumadi
Posisi                    : Direktur Utama
Pengalaman kerja          : • Vice President Divison 1 PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018 – 2019)
                              • Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019
                                – 2021)
                              • Senior Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk
                                (2021 – 2023)
                              • Komisaris Utama PT Waskita Sriwijaya Toll (2023)

Nama                       :   Fathul Anwar
Posisi                     :   Direktur Keuangan
Pengalaman kerja           :   • Direktur PT Pemalang Batang Toll Road (2016 – 2023)
                               • Vice President Portfolio Management PT Waskita Toll Road (2023 –
                                 2024)

Nama                       :   Itung Prasaja
Posisi                     :   Direktur Operasi
Pengalaman kerja           :   • Vice President Bulding Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2023–
                                  2024)
                               • Quantity Surveyor Manager PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019 –
                                  2023)



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |63
Page 80
                             • Engineering Manager Division VII PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018
                               – 2019)
                             • Branch Manager Cabang Bali PT Waskita Karya (Persero) Tbk ( 2012–
                               2018)

Nama                     :   Raden Mas Aris Santosa
Posisi                   :   Komisaris Utama
Pengalaman kerja         :   • Komisaris Utama PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                             • Sekretaris Utama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
                               2025;
                             • Kepala Biro Sumber Daya Manusia Badan Pengawasan Keuangan dan
                               Pembangunan, 2023;
                             • Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang/Jasa Badan Pengawasan
                               Keuangan dan Pembangunan, 2022;
                             • Analis SDM Aparatur Madya selaku Koordinator Mutasi dan
                               Pemberhentian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
                               2020;
                             • Kepala Bagian Mutasi dan Pemberhentian Badan Pengawasan
                               Keuangan dan Pembangunan, 2019

Nama                     :   Indra Utama
Posisi                   :   Komisaris Independen
Pengalaman kerja         :   • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                             • CEO Journalist Media Network, 2023;
                             • Direktur Utama PT Jurnalis Adimedia, 2020;
                             • Direktur Utama PT Jurnalis Media Properti, 2005

Nama                     :   Ahmad Subagya
Posisi                   :   Komisaris Independen
Pengalaman kerja         :   • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                             • Senior Advisor PT Citra Kartika Konstruksi, 2024;
                             • Direktur Utama Prajatama Paraduta, 2022;
                             • Staf Ahli DPR RI, 2009;
                             • Staf Ahli Pemerintahan Bupati Bantul, 2000;
                             • Sekretaris Panitia Pemungutan Daerah Kabupaten Bantul (Pemilu),
                               1999;
                             • Sekretaris FPP DPRD Provinsi DI Yogyakarta, 1999;
                             • Wakil Ketua FPP DPRD Kabupaten Bantul, 1997.

6.5. Struktur Kepemilikan Saham
Berikut merupakan struktur kepemilikan saham Perseroan:




                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |64
Page 81
Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham




    Sumber: manajemen Perseroan




                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |65
Page 82
6.6.     Struktur Organisasi Perseroan
Berikut adalah struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025:

                                                          Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan




                                                                     Sumber: manajemen Perseroan




                                                                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |66
Page 83
7. ASPEK KEUANGAN

7.1. Rencana Manajemen
Rencana manajemen Perseroan ke depan difokuskan pada pengembangan dan perluasan kegiatan
usaha di luar bisnis inti manufaktur, khususnya melalui penambahan lini usaha jasa sertifikasi produk
LSPro (KBLI 71201 dan KBLI 71202) dan jasa pengujian laboratorium (KBLI 71204 dan KBLI 72102).
Langkah ini diambil sebagai respons strategis terhadap dinamika industri precast nasional, terutama
dengan adanya rencana pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib untuk produk
Spun Pile dan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Manajemen memandang bahwa kebijakan
tersebut akan mendorong peningkatan kebutuhan terhadap layanan pengujian dan sertifikasi produk
yang terakreditasi, sehingga membuka peluang usaha yang signifikan bagi Perseroan.

Dalam rangka menangkap peluang tersebut, Perseroan merencanakan pembentukan Lembaga
Sertifikasi Produk (LSPro) yang akan berfokus pada pemberian layanan sertifikasi kepada pihak eksternal.
Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga prinsip independensi dan ketidakberpihakan sebagai lembaga
sertifikasi. Perseroan memiliki keunggulan kompetitif berupa fasilitas laboratorium yang telah
terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta didukung oleh sumber daya manusia yang
kompeten dan berpengalaman di bidang precast. Selain itu, keterlibatan aktif Perseroan dalam
penyusunan regulasi teknis, termasuk kontribusi dalam draft Peraturan Menteri terkait SNI wajib,
semakin memperkuat posisi Perseroan dalam mengembangkan usaha ini. Pada tahap awal, untuk
memenuhi kebutuhan sertifikasi produk internal, Perseroan berencana menjalin kerja sama dengan
lembaga sertifikasi lain yang telah memiliki kewenangan, seperti BRIN.

Sejalan dengan itu, Perseroan juga merencanakan penguatan Unit Laboratorium sebagai unit bisnis yang
tidak hanya berfungsi sebagai pendukung operasional internal, tetapi juga sebagai sumber pendapatan
baru melalui penyediaan jasa pengujian kepada pihak eksternal. Unit Laboratorium Perseroan telah
memiliki fasilitas pengujian dengan teknologi yang memadai, termasuk mesin uji bending berkapasitas
besar yang telah terakreditasi KAN sesuai dengan standar SNI ISO/IEC 17025:2017. Dengan kondisi
tersebut, Perseroan memiliki posisi yang strategis mengingat masih terbatasnya laboratorium uji bending
terakreditasi di Indonesia. Pemanfaatan aset yang telah ada, termasuk peralatan yang secara akuntansi
telah habis nilai bukunya, memungkinkan Perseroan untuk mengoptimalkan efisiensi biaya sekaligus
meningkatkan utilisasi aset.

Ke depan, manajemen merencanakan adanya sinergi antara kegiatan LSPro dan Unit Laboratorium, di
mana Unit Laboratorium akan berperan sebagai penyedia jasa pengujian dalam proses sertifikasi produk.
Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses, memperkuat kapabilitas layanan secara
end-to-end, serta meningkatkan daya saing Perseroan di industri. Secara keseluruhan, pengembangan
kedua lini usaha tersebut diharapkan dapat memberikan diversifikasi pendapatan, mengoptimalkan
sumber daya yang dimiliki, serta memperkuat posisi strategis Perseroan dalam rantai nilai industri
precast nasional.

7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan
Asumsi yang digunakan dalam analisis proyeksi keuangan adalah sebagai berikut:
• Analisis aspek keuangan didasarkan pada proyeksi yang telah disusun manajemen Perseroan;




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |67
Page 84
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan mengestimasi jumlah permintaan sertifikat produk
  selama masa proyeksi tahun 2026-2030 masing-masing sebanyak 37, 39, 41, 43, dan 45 permintaan
  sertifikasi dengan biaya jasa LSPro sebesar Rp65.000.000,- per sertifikasi;
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan mengestimasikan pendapatan usaha jasa pengujian
  laboratorium beton dan laboratorium struktur masing-masing sebesar Rp806.440.000 dan
  Rp3.244.000.000 dengan asumsi kenaikan 3%;
• Penyesuaian dilakukan terhadap biaya operasional yang sudah terjadi atau tetap dikeluarkan
  walaupun Rencana Penambahan KBLI tidak dilakukan sehingga tidak dibebankan kembali pada biaya
  operasional Dengan Rencana Penambahan KBLI;
• Rata-rata persentase Harga Pokok Pendapatan terhadap Pendapatan bersih Dengan Rencana
  Penambahan KBLI selama masa proyeksi adalah sebesar 86,57% sedangkan Tanpa Rencana
  Penambahan KBLI adalah sebesar 86,80%.

                                       Tabel 22. Asumsi Proyeksi Pendapatan LSPro
                                                                                         Tahun
                    Uraian
                                               2026                   2027                2028                2029                 2030
Pendapatan Usaha (PU)
Jumlah permintaan sertifikasi produk
                                                   37                    39                 41                  43                  45
(pengajuan)
Estimasi PU (all)                          Rp4.221.700.000       Rp4.449.900.000      Rp4.678.100.000     Rp4.906.300.000     Rp5.134.500.000
PU LSPRo saja                              Rp2.405.000.000       Rp2.535.000.000      Rp2.665.000.000     Rp2.795.000.000     Rp2.925.000.000

                                                        Sumber: manajemen Perseroan


                             Tabel 23. Asumsi Proyeksi Pendapatan Unit Laboratorium
                Uraian                      2026                  2027                  2028                 2029                 2030

Pendapatan Usaha (PU)
Jasa Uji Lab Beton                      Rp806.440.000        Rp830.633.200         Rp855.552.196        Rp881.218.762        Rp907.655.325
Jasa Uji Bending                       Rp3.244.000.000       Rp3.341.320.000       Rp3.441.559.600      Rp3.544.806.388      Rp3.651.150.580
Total PU                                Rp4.050.440.000       Rp4.171.953.200       Rp4.297.111.796      Rp4.426.025.150      Rp4.558.805.904

                                                        Sumber: manajemen Perseroan


7.3. Biaya Pendirian dan Investasi
Tidak terdapat investasi tambahan yang spesifik terkait Rencana Penambahan KBLI karena Perseroan
sudah memiliki laboratorium dan pengembangan usaha dilakukan dengan pendekatan optimalisasi aset
yang sudah ada, dimana fasilitas laboratorium, peralatan pengujian, serta jumlah sumber daya manusia
telah tersedia dan memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha dimaksud.

7.4. Biaya Operasional
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka manajemen telah mengestimasikan biaya
operasional selama masa proyeksi baik sebelum dan sesudah Rencana Penambahan KBLI sebagai
berikut (dalam jutaan Rupiah penuh):

                                                   Tabel 24. Biaya Operasional
                                           Projection            Projection           Projection           Projection           Projection
                                             FY2026                FY2027               FY2028               FY2029               FY2030
Dengan Rencana Penambahan KBLI           (378.472.596.917)     (400.803.009.321)    (377.852.314.280)    (358.709.799.670)    (347.793.275.983)
Tanpa Rencana Penambahan KBLI            (375.211.717.155)     (397.443.146.166)    (374.390.576.230)    (355.143.208.479)    (344.118.764.057)
Selisih                                    (3.260.879.762)       (3.359.863.155)      (3.461.738.050)      (3.566.591.191)      (3.674.511.927)
                                                             Sumber: data olahan



                                                                              Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |68
Page 85
Biaya operasional terdiri dari beban penjualan, beban pegawai, beban penyusutan, beban umum, beban
perjalanan/kendaraan, beban kantor, beban amortisasi aset lainnya, beban K3LMP, beban amortisasi
sewa guna usaha, beban hukum, beban jasa produksi, BUA-head office, BUA-unit produksi, beban non-
contributing plant, dan beban lainnya.

7.5. Biaya Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan.

7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah kondisi suatu perusahaan yang tidak menerima laba dan
tidak mengalami rugi atau dikatakan suatu perusahaan impas. Dengan kata lain, antara pendapatan dan
biaya pada kondisi yang sama. Analisis titik impas adalah teknik analisa untuk mempelajari hubungan
antara volume penjualan dan profitabilitas dan analisis ini menunjukkan besarnya keuntungan atau
kerugian perusahaan jika penjualan melampaui atau berada di bawah titik impas. Formula BEP dalam
Rupiah adalah sebagai berikut:

                                                       𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡
                                     𝐵𝐸𝑃 (𝑅𝑢𝑝𝑖𝑎ℎ) = 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛
                                                                    𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒


Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka analisis titik impas selama masa proyeksi adalah
sebagai berikut (dalam Rupiah penuh):

                                          Tabel 25. Analisis Titik Impas
                            PROJECTION         PROJECTION           PROJECTION         PROJECTION         PROJECTION
                               FY2026             FY2027               FY2028             FY2029             FY2030
Revenue                       6.455.440.000      6.706.953.200        6.962.111.796      7.221.025.150      7.483.805.904
COGS                           (281.040.000)      (289.471.200)        (298.155.336)      (307.099.996)      (316.312.996)
Depreciation                              -                  -                    -                  -                  -
Contribution Margin           6.174.400.000      6.417.482.000        6.663.956.460      6.913.925.154      7.167.492.908
Fixed Cost                    3.260.879.762      3.359.863.155        3.461.738.050      3.566.591.191      3.674.511.927
Contribution Margin Ratio              0,96               0,96                 0,96               0,96               0,96
BEP (Rupiah)                  3.409.305.139      3.511.415.371        3.616.621.365      3.725.010.629      3.836.674.051
%BEP                                 52,81%             52,35%               51,95%             51,59%             51,27%
                                                 Sumber: data olahan


Berdasarkan perhitungan tabel di atas, titik impas berada pada rentang 51,27% - 52,81% atau rata-rata
titik impas tercapai pada angka 51,99%. Besaran fixed cost dalam perhitungan BEP tersebut merupakan
biaya sekretariat, biaya pengelolaan kantor, biaya penyusutan fasilitas, biaya hukum dan perijinan, biaya
kendaraan, dan biaya pengujian, serta potensi pajak final atas pendapatan uji lab dan LSPro.

7.7. Sumber Pendanaan
Tidak terdapat penambahan pendanaan selama masa proyeksi terkait Rencana Penambahan KBLI
mengingat Perseroan tidak melakukan penambahan investasi atau capex dalam bentuk aset tetap
karena Perseroan menggunakan fasilitas lab yang sudah dimiliki oleh Perseroan. Rencana Penambahan
KBLI sudah memperhitungkan adanya perubahan modal kerja seperti piutang usaha untuk
mengakomodir tempo pembayaran dari pelanggan. Beban operasional sudah mengakomodir kebutuhan
tambahan beban SDM, beban pelatihan, dan beban operasional lainnya terkait Rencana Penambahan
KBLI.



                                                                  Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |69
Page 86
Analisis kecukupan likuiditas untuk menganalisis kemampuan Perseroan untuk mendukung Rencana
Penambahan KBLI tanpa tambahan pendanaan, dilakukan dengan membandingkan kas dan setara kas
dengan tambahan beban operasional sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI sebagai berikut
(dalam Rupiah penuh):

                               Tabel 26. Analisis Kecukupan Likuiditas




                                          Sumber: data olahan


7.8. Analisis Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto dalam analisis kelayakan keuangan akan menggunakan biaya modal tertimbang atau
weighted average cost of capital (WACC).

Risk Free Rate (Rf)
Risk free rate merupakan tingkat imbal hasil atas instrumen-instrumen keuangan yang dianggap tidak
memiliki risiko gagal bayar. Pada studi kelayakan ini, instrumen keuangan yang digunakan sebagai acuan
risk free rate adalah obligasi pemerintah Republik Indonesia dengan yield per tanggal studi kelayakan
menggunakan tenor terpanjang yaitu 30 (tiga puluh) tahun dalam mata uang Rupiah dikarenakan
Perseroan beroperasi secara berkelanjutan.

Market Premium Risk (RPm)
Market premium risk merupakan selisih antara tingkat imbal hasil antara instrumen keuangan yang
memiliki risiko dengan instrumen keuangan yang relatif tidak memiliki risiko. Dengan demikian dapat
diartikan juga sebagai tingkat imbal hasil tambahan yang diinginkan investor untuk berinvestasi pada
suatu instrumen keuangan yang lebih berisiko. Kami menggunakan data market premium risk hasil
penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari 2026.

Beta (β)
Beta merupakan tolak ukur volatilitas atas suatu saham terhadap pasar secara keseluruhan. Kami
menggunakan data unlevered beta hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari
2026 untuk emerging market sektor construction supplies sebesar 0,80 yang kemudian akan dilakukan
penyesuaian terhadap tarif pajak di Indonesia (beta relevered). Relevered beta setelah disesuaikan
adalah sebesar 1,06.

Rating Based Default Spread (CDS)
Rating based default spread menggunakan hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5
Januari 2026 yang digunakan untuk melakukan penyesuaian atas biaya modal ekuitas.

Cost of Debt (Kd)
Biaya hutang atau tingkat imbal hasil dari sumber pendanaan yang berasal dari hutang yang dikorelasikan
dengan tingkat suku bunga pinjaman Bank Persero dalam mata uang Rupiah untuk pinjaman baik modal
kerja ataupun investasi. Data menggunakan hasil statistik Bank Indonesia sesuai bulan tanggal studi
kelayakan.



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |70
Page 87
Tarif Pajak (t)
Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah 0% sesuai dengan ketentuan perpajakan yang
berlaku, di mana objek pajak terkait dikenakan pajak penghasilan final dengan tarif 2,65% berdasarkan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah
Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.

Cost of Equity (Ke)
Biaya ekuitas merupakan tingkat imbal hasil yang diharapkan dari sumber pendanaan ekuitas. Formula
perhitungan biaya ekuitas adalah sebagai berikut:

                                             Ke = Rf + (β x RPm) – CDS

Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto digunakan untuk mendiskonto arus kas bersih yang dihasilkan di masa mendatang ke
nilai kini atau per tanggal studi kelayakan. Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskonto arus kas
untuk kapital (free cash flow to firm atau FCFF) adalah WACC (Weighted Average Cost of Capital).
Perhitungan WACC adalah sebagai berikut:

                                                  Tabel 27. WACC
Variables                                       Factor                               Informations
COST OF EQUITY
Indonesia risk free rate (Rf)                    6,70%    Yield rate on 30 year IDR Government Bonds in Indonesia per Des 31,
                                                          2025
Indonesia risk equity premium                    6,69%    Based on Damodaran
Comparable Company leverage beta                  1,06    Based on unlevered Damodaran
Country Default Spread                           1,62%    Based on Damodaran
Required rate of return on equity (CAPM)        12,19%
COST OF DEBT
Return on debt                                   8,44%    Based on state owned bank lending interest rate for investment
                                                          (IDR) Des, 2025 (source: Bank Indonesia)
    Tax                                          0,00%    Final Tax
After tax cost of debt                           8,44%
DEBT TO EQUITY RATIO
    Debt                                        24,61%     Based on Damodaran Industry DER
    Equity                                      75,39%
WACC                                            11,27%
                                           Sumber: diolah dari berbagai sumber


7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment
Analisa profitabilitas sebagai parameter Perseroan dalam menghasilkan laba adalah sebagai berikut:

                  Tabel 28. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI
                             Projection Projection Projection Projection Projection
                                                                                          Average
                              FY2026         FY2027       FY2028      FY2029    FY2030
Gross profit margin              12,58%          13,88%      13,65%     13,58%     13,44% 13,43%
Net profit margin               -16,61%        -17,84%      -14,27%    -12,31%    -11,01% -14,41%
Return on investment            -11,79%        -14,51%      -13,31%    -13,13%    -12,92% -13,13%
                                                  Sumber: Data olahan




                                                                Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |71
Page 88
Dengan adanya Rencana Penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa
proyeksi adalah sebesar 13,43%, net profit margin sebesar -14,41%, dan return on investment sebesar -
13,13%.

                  Tabel 29. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI
                             Projection Projection Projection Projection Projection Average
                              FY2026        FY2027        FY2028     FY2029     FY2030
Gross profit margin              12,35%        13,63%       13,42%     13,35%      13,23% 13,20%
Net profit margin               -16,79%       -18,03%      -14,43%    -12,47%     -11,16% -14,58%
Return on investment            -11,89%       -14,65%      -13,48%    -13,34%     -13,14% -13,30%
                                         Sumber: Data olahan


Tanpa adanya Rencana Penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa proyeksi
adalah sebesar 13,20%, net profit margin sebesar -14,58%, dan return on investment sebesar -13,30%.

Berdasarkan perbandingan dengan rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI dan Tanpa
Rencana Penambahan KBLI, maka rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI menghasilkan
persentase negatif lebih rendah yang menandakan perbaikan dari sisi kerugian konsolidasi yang lebih
rendah. Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI layak untuk dijalankan.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |72
Page 89
7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih
Analisis perubahan modal kerja bersih periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2026-2030 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain) adalah sebagai berikut:

            Tabel 30. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                               AUDIT             PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION
                                              DEC 2025             DEC 2026            DEC 2027             DEC 2028            DEC 2029             DEC 2030
Piutang usaha - bersih                      387.469.159.954      175.099.039.924      99.996.394.581      116.690.895.801     127.243.789.837      138.489.894.726
Piutang retensi                             135.813.511.645                  -                   -                    -                   -                    -
Piutang lain-lain                            33.510.791.231       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                  144.451.619.599      473.934.886.672     185.095.172.152      223.591.522.562     172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan              105.535.772.286      488.544.818.374     339.848.055.304      318.484.577.690     270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                         14.191.305.724       32.625.379.645      32.820.236.198       35.744.426.047      30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                 1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                         18.147.279.147       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                -                    -                   -                    -                   -                    -
Total Current Assets                        840.252.385.426    1.226.781.143.136     714.336.876.756      751.088.440.621     657.863.049.618      725.184.411.724

Utang usaha                                  878.270.818.030   1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202   1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang bruto                                  190.304.291.141                 -                    -                    -                   -                    -
Utang lain-lain                               45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                                   42.031.008.270      56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937      52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                                 235.109.555.525     239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696     228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                      79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858
Total Current Liabilities                  1.470.865.608.584   1.796.625.850.142    1.532.379.215.852    1.656.890.519.453   1.598.014.422.572    1.639.309.308.718

Perubahan aset lancar                                           (386.528.757.710)     512.444.266.379     (36.751.563.864)      93.225.391.003      (67.321.362.106)
Perubahan liabilitas jangka pendek                               325.760.241.558     (264.246.634.291)    124.511.303.602      (58.876.096.882)      41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih                                     (60.768.516.152)     248.197.632.089      87.759.739.737       34.349.294.121      (26.026.475.960)


                                                                       Sumber: Data Olahan


              Tabel 31. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                               AUDIT             PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION
                                              DEC 2025             DEC 2026            DEC 2027             DEC 2028            DEC 2029             DEC 2030
Piutang usaha - bersih                      387.469.159.954      174.292.109.924      99.158.025.431      115.820.631.826     126.341.161.694      137.554.418.988
Piutang retensi                             135.813.511.645                  -                   -                    -                   -                    -
Piutang lain-lain                            33.510.791.231       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                  144.451.619.599      473.934.886.672     185.095.172.152      223.591.522.562     172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan              105.535.772.286      488.544.818.374     339.848.055.304      318.484.577.690     270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                         14.191.305.724       32.625.379.645      32.820.236.198       35.744.426.047      30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                 1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                         18.147.279.147       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                -                    -                   -                    -                   -                    -
Total Current Assets                        840.252.385.426    1.225.974.213.136     713.498.507.606      750.218.176.646     656.960.421.474      724.248.935.986

Utang usaha                                  878.270.818.030   1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202   1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang bruto                                  190.304.291.141                 -                    -                    -                   -                    -
Utang lain-lain                               45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                                   42.031.008.270      56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937      52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                                 235.109.555.525     239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696     228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                      79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858
Total Current Liabilities                  1.470.865.608.584   1.796.625.850.142    1.532.379.215.852    1.656.890.519.453   1.598.014.422.572    1.639.309.308.718

Perubahan aset lancar                                           (385.721.827.710)     512.475.705.529     (36.719.669.040)      93.257.755.172      (67.288.514.512)
Perubahan liabilitas jangka pendek                               325.760.241.558     (264.246.634.291)    124.511.303.602      (58.876.096.882)      41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih                                     (59.961.586.152)     248.229.071.239      87.791.634.562       34.381.658.291      (25.993.628.366)


                                                                       Sumber: Data Olahan


7.11. Analisis Kelayakan Investasi
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan
Profitability Index (PI) (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) sebagai berikut:




                                                                                           Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |73
Page 90
                                                      Tabel 32. Analisis Kelayakan Investasi
FCF (WITH PROJECT)
                                                        Projection           Projection           Projection           Projection           Projection            TERMINAL
                                     31-Des-25
                                                         FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030                VALUE
Earning after tax                                    (382.209.663.163)    (406.188.157.710)    (354.223.052.582)    (329.122.835.572)    (321.732.419.548)    (331.384.392.134)
(+) Depreciation                                      162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098       59.196.458.139        60.972.351.884
(+) Interest (1-t)                                    293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880      333.431.741.519      366.674.180.880      377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital                      (60.768.516.152)     248.197.632.089       87.759.739.737       34.349.294.121      (26.026.475.960)      (26.807.270.239)
(-) Capex                                             (22.697.548.220)                   -                    -                    -                    -       (62.801.522.440)
FCFF                                                   (9.519.710.633)     238.107.374.416      115.104.673.335       98.328.857.166       78.111.743.512      213.581.895.325
Year-n                                                             1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                                 0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                                (8.555.852.589)     192.332.172.806       83.562.532.659       64.156.280.150       45.805.123.788      125.245.510.014
NPV                                502.545.766.828




FCF (WITHOUT PROJECT)
                                                        Projection           Projection           Projection           Projection           Projection            TERMINAL
                                     31-Des-25
                                                         FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030                VALUE
Earning after tax                                    (385.123.183.401)    (409.245.776.555)    (357.425.270.993)    (332.470.169.535)    (325.225.400.530)    (334.982.162.545)
(+) Depreciation                                      162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098       59.196.458.139        60.972.351.884
(+) Interest (1-t)                                    293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880      333.431.741.519      366.674.180.880      377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital                      (59.961.586.152)     248.229.071.239       87.791.634.562       34.381.658.291      (25.993.628.366)      (26.773.437.217)
(-) Capex                                             (22.697.548.220)                   -                    -                    -                    -       (62.801.522.440)
FCFF                                                  (11.626.300.871)     235.081.194.721      111.934.349.749       95.013.887.373       74.651.610.124      170.463.570.999
Year-n                                                             1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                                 0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                               (10.449.153.367)     189.887.764.196       81.260.973.040       61.993.373.585       43.776.083.966        99.960.705.265
NPV                                466.429.746.685



INCREMENTAL FCF
                                                       Projection           Projection           Projection           Projection           Projection           TERMINAL
                                     31-Des-25
                                                        FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030               VALUE
Earning after tax                                      2.913.520.238        3.057.618.845        3.202.218.410        3.347.333.963        3.492.980.982        3.597.770.411
(+) Depreciation                                                   -                    -                    -                    -                    -                   -
(+) Interest (1-t)                                                 -                    -                    -                    -                    -                   -
(+/-) Changes in working capital                        (806.930.000)          (31.439.150)         (31.894.825)         (32.364.169)         (32.847.594)         (33.833.022)
(-) Capex                                                          -                    -                    -                    -                    -                   -
FCFF                                                   2.106.590.238        3.026.179.695        3.170.323.586        3.314.969.794        3.460.133.387       43.118.324.325
Year-n                                                            1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                                0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                                1.893.300.777        2.444.408.610        2.301.559.620        2.162.906.566        2.029.039.822       25.284.804.748
NPV                                 36.116.020.143




                                                                                                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |74
Page 91
                                       Projection      Projection      Projection      Projection      Projection      TERMINAL
                      31-Des-25
                                        FY 2026         FY 2027         FY 2028         FY 2029         FY 2030          VALUE
Cash Inflow                            2.913.520.238   3.057.618.845   3.202.218.410   3.347.333.963   3.492.980.982   3.597.770.411
Cash Outflow                             806.930.000      31.439.150      31.894.825      32.364.169      32.847.594      33.833.022
PV Cash Inflow                         2.618.530.188   2.469.803.707   2.324.714.304   2.184.023.100   2.048.301.818   2.109.750.873
PV Cash Outflow                          725.229.410      25.395.098      23.154.684      21.116.535      19.261.996      19.839.856
Sum Cash Inflow       13.755.123.990
Sum Cash Outflow         833.997.579
Profitability Index            16,49


                                                       Sumber: Data Olahan


Secara konsolidasi, laba bersih Dengan dan Tanpa Rencana Penambahan KBLI tetap negatif. Namun
demikian, analisis kelayakan investasi yang dilakukan menggunakan basis inkremental menunjukkan
adanya tambahan laba sehingga tetap menghasilkan NPV dan PI yang positif yang merepresentasikan
adanya potensi nilai tambah bagi Perseroan berupa perbaikan kinerja keuangan.

Net Present Value (NPV)
Net Present Value merupakan selisih antara cash inflow dengan cash outflow dari suatu proyek dengan
memperhitungkan nilai waktu uang. Berdasarkan tabel di atas, NPV menunjukkan nilai positif dengan
demikian Rencana Penambahan KBLI tersebut layak untuk dilaksanakan.

Internal Rate of Return (IRR)
Analisis IRR tidak dilakukan karena tidak terdapat capex atau investasi tambahan yang umum digunakan
dalam perhitungan IRR. Aset yang digunakan untuk operasional Rencana Penambahan KBLI merupakan
aset existing yang sudah dimiliki oleh Perseroan sehingga tidak terdapat pembelian capex baru yang
umumnya menjadi initial investment dalam perhitungan IRR.

Profitability Index (PI)
Indeks profitabilitas sebesar 16,49 kali yang menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk
lebih tinggi dibandingkan arus kas keluar, sehingga Rencana Penambahan KBLI memberikan kontribusi
positif. Umumnya suatu rencana proyek dikategorikan layak untuk dilaksanakan jika profitability index
menghasilkan nilai lebih dari 1.

7.12. Nilai Terminal
Nilai terminal digunakan untuk mengakomodir arus kas bersih di luar masa proyeksi. Pertumbuhan kekal
diasumsikan konservatif sebesar 3% dengan mempertimbangkan di atas tingkat inflasi sebesar 2,92%
pada bulan Desember 2025. Capex pada terminal value digunakan untuk mengakomodir kebutuhan
capex Perseroan secara keseluruhan. Pada masa proyeksi tahun 2026-2030 tidak terdapat capex
spesifik yang ditujukan terkait Rencana Penambahan KBLI. Analisis kelayakan investasi menggunakan
asumsi going concern dengan terminal value model perpetuity di akhir masa proyeksi
mempertimbangkan bahwa Perseroan akan tetap melaksanakan operasional di segmen usaha yang
ditambahkan sesuai dengan Rencana Penambahan KBLI setelah masa proyeksi 5 tahun.

7.13. Analisis Sensitivity
Analisis sensitivitas menggunakan faktor perubahan variabel utama berupa pendapatan, dengan
skenario penurunan sebesar -10% dan -5%, serta peningkatan sebesar +5% terhadap proyeksi dasar dan
pengaruh terhadap NPV dan PI. Berikut adalah analisis sensitivitas (dalam Rupiah, kecuali
dinyatakan lain):




                                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |75
Page 92
               Tabel 33. Analisis Sensitivity Menggunakan Faktor Perubahan Pendapatan
                                       Pendapatan -10%      Pendapatan -5%     Pendapatan +5%
   Inkremental NPV                        28.375.426.122     32.245.723.132     39.986.317.153
   Profitability Index                             14,42              15,51              17,38
                                          Sumber: Data Olahan


Analisis sensitivitas tambahan dilakukan dengan skenario yaitu jasa sertifikasi mulai dilakukan pada
bulan Juli 2026 dan beban operasional lainnya diasumsikan tetap dan tidak berubah. Hasil analisis
sensitivitas adalah sebagai berikut:

             Tabel 34. Analisis Sensitivity Bila Jasa Sertifikasi Dilakukan pada Juli 2026
                                                            Dimulai pada Juli 2026
                    Inkremental NPV                                35.070.564.682
                    Profitability Index                                     15,48
                                          Sumber: Data Olahan




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |76
Page 93
8. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki Akreditasi sebagai
   Laboratorium Penguji (LPK) dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai standar SNI ISO/IEC
   17025:2017 (No. LP-2166-IDN). Rencana Penambahan KBLI 71201- Jasa Sertifikasi Teknis juga
   dilakukan sebagai salah satu syarat mendapatkan Akreditasi LSPro dari Komite Akreditasi Nasional
   (KAN) sesuai standar ISO/IEC 17065;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, dengan Rencana Penambahan KBLI merupakan langkah
   strategis yang bersifat penunjang terhadap kegiatan usaha utama Perseroan. Rencana Penambahan
   KBLI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, pengendalian mutu, optimalisasi
   pemanfaatan fasilitas laboratorium, dan menambah pendapatan usaha;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan telah memiliki fasilitas laboratorium terakreditasi
   KAN dengan peralatan pengujian yang modern, kapasitas uji bending yang besar, serta tenaga ahli
   yang kompeten, sehingga mampu mendukung kegiatan pengujian secara andal. Dari sisi LSPro,
   meskipun perizinan masih dalam proses, Perseroan memiliki potensi kapasitas pasar yang jelas
   dengan target pelanggan dan volume sertifikasi yang terukur;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, keunggulan kompetitif Rencana Penambahan KBLI
   terbentuk dari sinergi internal, efisiensi operasional, dan pengalaman teknis, dengan keberlanjutan
   yang bergantung pada kepatuhan terhadap perizinan, akreditasi, dan standar operasional. Perseroan
   mampu menciptakan nilai melalui integrasi jasa sertifikasi produk dan pengujian laboratorium dengan
   proses produksi dan pengendalian mutu yang telah berjalan;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan telah memiliki sumber daya manusia
   yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan jasa pengujian laboratorium. Perseroan telah
   memiliki struktur organisasi sementara (STO sementara) serta sarana dan prasarana yang memadai
   sebagai kesiapan awal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan uji sertifikasi produk melalui
   Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro);
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
   positif, analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi dibandingkan
   arus kas keluar, dan analisis ROI menunjukkan adanya return bagi Perseroan;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
   pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
   proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
   disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
   adalah layak.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |77
Page 94
9. LAMPIRAN

1. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
2. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
3. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
4. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
5. Proyeksi Arus Kas Dengan Rencana Penambahan KBLI;
6. Proyeksi Arus Kas Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
7. Proyeksi Analisis Rasio dengan Rencana Penambahan KBLI;
8. Proyeksi Analisis Rasio tanpa Rencana Penambahan KBLI;
9. Analisis Kelayakan;
10. Beta (Damodaran);
11. Country Risk Premium (Damodaran);
12. Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025;
13. Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025




                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |78
Page 95
10. REFERENSI

1.   Damodaran (beta dan country risk premium);
2.   Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi
     VII-2018) dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 330, dan Petunjuk Teknis Khusus SPI Penilaian Dalam
     Kondisi Bencana Covid-19 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
3.   PER-08/PJ/2020 tanggal 21 April 2020 tentang Penghitungan Angsuran Pajak Penghasilan Untuk
     Tahun Pajak Berjalan Sehubungan Dengan Penyesuaian Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan;
4.   www.phei.co.id (Indonesia Bonds Pricing Agency);
5.   www.bi.go.id (data suku bunga dan inflasi);
6.   Media lainnya.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |79
Page 96
LAMPIRAN
Page 97
                                                                                                                                            Lampiran 1

                          Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                                         Projection           Projection           Projection           Projection            Projection
                                                         31-Des-26            31-Des-27            31-Des-28            31-Des-29             31-Des-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                        66.769.853.721      212.453.268.595      104.472.544.937      101.416.255.361       78.142.852.131
Piutang usaha - bersih                                   175.099.039.924       99.996.394.581      116.690.895.801      127.243.789.837      138.489.894.726
Piutang retensi                                                        -                    -                    -                    -                    -
Piutang lain-lain                                         36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                               473.934.886.672      185.095.172.152      223.591.522.562      172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan                           488.544.818.374      339.848.055.304      318.484.577.690      270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                                      32.625.379.645       32.820.236.198       35.744.426.047       30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                              1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                      19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                               -                    -                    -                    -                    -
TOTAL ASET LANCAR                                      1.293.550.996.857      926.790.145.351      855.560.985.558      759.279.304.979      803.327.263.855

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                      1.895.497.929.989    1.820.713.460.474    1.754.363.459.175    1.694.692.802.077     1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih                                                   -                    -                    -                    -                     -
Aset lain-lain                                            51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102        51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                                1.947.080.284.091    1.872.295.814.576    1.805.945.813.277    1.746.275.156.179     1.687.078.698.039
TOTAL ASET                                             3.240.631.280.948    2.799.085.959.927    2.661.506.798.835    2.505.554.461.158     2.490.405.961.894

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                                 671.127.052.204      671.127.052.204      552.692.866.521      552.692.866.521       552.692.866.521
Utang usaha                                            1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202    1.192.384.910.783     1.228.772.710.751
Utang bruto                                                            -                    -                    -                    -                     -
Utang lain-lain                                           45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760        45.178.353.760
Utang pajak                                               56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937       52.195.542.679        58.183.791.840
Beban akrual                                             239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696      228.284.033.491       227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                                  79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858        79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                              124.875.000          124.875.000          124.875.000          124.875.000           124.875.000
Utang Obligasi                                                         -      321.493.259.612      283.760.774.770      248.176.272.047       215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                         2.467.877.777.346    2.525.124.402.668    2.493.469.035.744    2.399.008.436.140     2.408.043.063.500

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang                              1.908.115.501.145    2.017.156.470.353    2.174.412.667.349    2.343.912.362.432     2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                           1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953         1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                   293.621.515.014                    -                    -                    -                     -
Obligasi wajib konversi                                  887.404.766.957      979.381.524.131    1.070.424.585.549    1.168.555.987.966     1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja                             31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810        31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                        3.122.097.780.879    3.029.493.992.247    3.277.793.250.661    3.545.424.348.160     3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS                                       5.589.975.558.226    5.554.618.394.915    5.771.262.286.405    5.944.432.784.300     6.251.016.704.584

EKUITAS
Modal saham                                             4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                                  3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                                 (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                                 (10.099.421.516.149) (10.505.609.673.859) (10.859.832.726.441) (11.188.955.562.013) (11.510.687.981.561)
Komponen ekuitas lainnya                                  399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                         (2.349.344.277.278) (2.755.532.434.988) (3.109.755.487.570) (3.438.878.323.142) (3.760.610.742.690)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                            3.240.631.280.948    2.799.085.959.927    2.661.506.798.835    2.505.554.461.158    2.490.405.961.894
Page 98
                                                                                                                                            Lampiran 2

                            Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                                         Projection           Projection           Projection           Projection            Projection
                                                         31-Des-26            31-Des-27            31-Des-28            31-Des-29             31-Des-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                        64.663.263.483      207.320.498.662       96.169.451.418       89.798.192.049       63.064.655.431
Piutang usaha - bersih                                   174.292.109.924       99.158.025.431      115.820.631.826      126.341.161.694      137.554.418.988
Piutang retensi                                                        -                    -                    -                    -                    -
Piutang lain-lain                                         36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                               473.934.886.672      185.095.172.152      223.591.522.562      172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan                           488.544.818.374      339.848.055.304      318.484.577.690      270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                                      32.625.379.645       32.820.236.198       35.744.426.047       30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                              1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                      19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                               -                    -                    -                    -                    -
TOTAL ASET LANCAR                                      1.290.637.476.619      920.819.006.268      846.387.628.065      746.758.613.523      787.313.591.417

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                      1.895.497.929.989    1.820.713.460.474    1.754.363.459.175    1.694.692.802.077     1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih                                                   -                    -                    -                    -                     -
Aset lain-lain                                            51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102        51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                                1.947.080.284.091    1.872.295.814.576    1.805.945.813.277    1.746.275.156.179     1.687.078.698.039
TOTAL ASET                                             3.237.717.760.710    2.793.114.820.844    2.652.333.441.341    2.493.033.769.701     2.474.392.289.456

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                                 671.127.052.204      671.127.052.204      552.692.866.521      552.692.866.521       552.692.866.521
Utang usaha                                            1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202    1.192.384.910.783     1.228.772.710.751
Utang bruto                                                            -                    -                    -                    -                     -
Utang lain-lain                                           45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760        45.178.353.760
Utang pajak                                               56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937       52.195.542.679        58.183.791.840
Beban akrual                                             239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696      228.284.033.491       227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                                  79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858        79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                              124.875.000          124.875.000          124.875.000          124.875.000           124.875.000
Utang Obligasi                                                         -      321.493.259.612      283.760.774.770      248.176.272.047       215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                         2.467.877.777.346    2.525.124.402.668    2.493.469.035.744    2.399.008.436.140     2.408.043.063.500

LIABILITAS JANGKA PANJANG                              1.908.502.268.934    2.012.343.413.145    2.173.431.032.530    2.349.289.508.284     2.545.024.388.260
Utang bank jangka panjang                              1.908.115.501.145    2.017.156.470.353    2.174.412.667.349    2.343.912.362.432     2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                           1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953         1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                   293.621.515.014                    -                    -                    -                     -
Obligasi wajib konversi                                  887.404.766.957      979.381.524.131    1.070.424.585.549    1.168.555.987.966     1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja                             31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810        31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                        3.122.097.780.879    3.029.493.992.247    3.277.793.250.661    3.545.424.348.160     3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS                                       5.589.975.558.226    5.554.618.394.915    5.771.262.286.405    5.944.432.784.300     6.251.016.704.584

EKUITAS
Modal saham                                             4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                                  3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                                 (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                                 (10.102.335.036.387) (10.511.580.812.942) (10.869.006.083.935) (11.201.476.253.470) (11.526.701.653.999)
Komponen ekuitas lainnya                                  399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                         (2.352.257.797.516) (2.761.503.574.071) (3.118.928.845.064) (3.451.399.014.599) (3.776.624.415.128)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                            3.237.717.760.710    2.793.114.820.844    2.652.333.441.341    2.493.033.769.701    2.474.392.289.456
Page 99
                                                                                                                                Lampiran 3

                      Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                         Projection            Projection            Projection            Projection             Projection
                                          FY 2026               FY 2027               FY 2028               FY 2029                FY 2030
PENDAPATAN USAHA                       2.300.790.314.249     2.276.788.298.492     2.483.134.021.807     2.673.712.345.376      2.921.245.212.887
BEBAN POKOK PENDAPATAN               (2.011.275.564.281)   (1.960.860.016.359)   (2.144.286.775.229)   (2.310.693.639.759)    (2.528.510.175.572)
LABA (RUGI) KOTOR                        289.514.749.968       315.928.282.133       338.847.246.578       363.018.705.617        392.735.037.316
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                         (5.820.188.000)       (5.936.591.760)       (6.055.323.595)       (6.176.430.067)        (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi          (430.178.248.970)     (385.066.592.770)     (365.181.608.944)     (346.965.644.070)      (335.450.575.135)
-Beban pajak penghasilan final          (17.631.446.280)       (9.798.769.041)       (6.614.294.318)       (5.566.605.488)        (6.041.588.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain             75.157.286.333           (1.055.750)           (1.087.423)            (1.120.045)           (1.153.647)
JUMLAH BEBAN USAHA                    (378.472.596.917)     (400.803.009.321)     (377.852.314.280)     (358.709.799.670)      (347.793.275.983)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN     (88.957.846.949)      (84.874.727.188)      (39.005.067.702)          4.308.905.947        44.941.761.333
DAN PAJAK
Beban keuangan                        (293.251.816.214)     (321.313.430.522)     (315.217.984.880)     (333.431.741.519)      (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK             (382.209.663.163)     (406.188.157.710)     (354.223.052.582)     (329.122.835.572)      (321.732.419.548)
Beban pajak pengasilan                                -                     -                     -                     -                      -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN     (382.209.663.163)     (406.188.157.710)     (354.223.052.582)     (329.122.835.572)      (321.732.419.548)
Page 100
                                                                                                                                  Lampiran 4

                        Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                             Projection            Projection            Projection            Projection            Projection
                                              FY 2026               FY 2027               FY 2028               FY 2029               FY 2030
PENDAPATAN USAHA                           2.294.334.874.249     2.270.081.345.292     2.476.171.910.011     2.666.491.320.226     2.913.761.406.983
BEBAN POKOK PENDAPATAN                   (2.010.994.524.281)   (1.960.570.545.159)   (2.143.988.619.893)   (2.310.386.539.763)   (2.528.193.862.576)
LABA (RUGI) KOTOR                            283.340.349.968       309.510.800.133       332.183.290.118       356.104.780.463       385.567.544.407
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                             (5.820.188.000)       (5.936.591.760)       (6.055.323.595)       (6.176.430.067)       (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi              (426.918.394.208)     (381.707.785.365)     (361.720.958.317)     (343.400.172.924)     (331.777.216.855)
-Beban pajak penghasilan final              (17.631.446.280)       (9.798.769.041)       (6.614.294.318)       (5.566.605.488)       (6.041.588.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain                 75.158.311.333                     -                     -                     -                     -
JUMLAH BEBAN USAHA                        (375.211.717.155)     (397.443.146.166)     (374.390.576.230)     (355.143.208.479)     (344.118.764.057)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN     (91.871.367.187)      (87.932.346.033)      (42.207.286.112)            961.571.984       41.448.780.351
PAJAK
Beban keuangan                            (293.251.816.214)     (321.313.430.522)     (315.217.984.880)     (333.431.741.519)     (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK                 (385.123.183.401)     (409.245.776.555)     (357.425.270.993)     (332.470.169.535)     (325.225.400.530)
Beban pajak pengasilan                                    -                     -                     -                     -                     -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN         (385.123.183.401)     (409.245.776.555)     (357.425.270.993)     (332.470.169.535)     (325.225.400.530)
Page 101
                                                                                                                                      Lampiran 5

                                        Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan KBLI
                                                    Projection           Projection           Projection           Projection          Projection
                                                     FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029             FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih                                        (382.209.663.163)    (406.188.157.710)    (354.223.052.582)    (329.122.835.572)   (321.732.419.548)
Depresiasi & amortisasi                              162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098      59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan                            241.539.690.504      278.717.445.980      275.888.064.905      297.367.886.110     330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
 Piutang usaha - bersih                              212.370.120.030       75.102.645.343     (16.694.501.219)     (10.552.894.037)    (11.246.104.888)
 Piutang retensi                                     135.813.511.645                     -                   -                    -                   -
 Piutang lain-lain                                    (2.830.733.266)                    -                   -                    -                   -
 Persediaan                                        (329.483.267.073)      288.839.714.520     (38.496.350.410)       50.606.085.769    (24.022.764.305)
 Tagihan bruto kepada pelanggan                    (383.009.046.088)      148.696.763.070       21.363.477.614       48.160.794.282    (25.291.455.907)
 Pajak dibayar dimuka                               (18.434.073.921)         (194.856.553)     (2.924.189.849)        5.011.404.988     (6.761.037.006)
 Uang muka kepada pihak ketiga                                      -                    -                   -                    -                   -
 Biaya dibayar dimuka                                   (955.269.037)                    -                   -                    -                   -
 Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                           -                    -                   -                    -                   -
 Utang usaha                                         496.369.208.156    (247.878.800.795)     118.143.271.811      (52.519.586.419)      36.387.799.968
 Utang bruto                                       (190.304.291.141)                     -                   -                    -                   -
 Utang lain-lain                                                    -                    -                   -                    -                   -
 Utang pajak                                          14.944.046.633       (3.001.923.626)       2.462.565.659      (4.240.154.258)       5.988.249.160
 Beban akrual                                           4.751.277.909    (13.365.909.870)        3.905.466.132      (2.116.356.205)     (1.081.162.982)
 Uang muka dari pelanggan                                           -                    -                   -                    -                   -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
AKTIVITAS OPERASI                                  (38.534.288.124)      195.511.389.874       75.774.753.359       62.265.001.757      42.047.888.103

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
 Perolehan aset tetap                               (22.697.548.220)                     -                    -                   -                   -
 Penjualan aset tetap                                 66.437.300.000                     -                    -                   -                   -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
AKTIVITAS INVESTASI                                  43.739.751.781                      -                    -                   -                   -

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
 Utang bank jangka pendek                                           -                  -     (118.434.185.683)                   -                    -
 Liabilitas sewa                                                    -                  -                      -                  -                    -
 Utang Obligasi                                                     -                  -       (65.321.291.333)   (65.321.291.333)     (65.321.291.333)
 Utang bank jangka panjang                                          -   (49.827.975.000)                      -                  -                    -
 -Liabilitas sewa                                                   -                  -                      -                  -                    -
 Obligasi wajib konversi                                            -                  -                      -                  -                    -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN                      -   (49.827.975.000)     (183.755.477.016)    (65.321.291.333)     (65.321.291.333)

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS        5.205.463.657      145.683.414.874     (107.980.723.657)      (3.056.289.576)    (23.273.403.231)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                        61.564.390.064       66.769.853.721       212.453.268.595     104.472.544.937      101.416.255.361
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN                  66.769.853.721      212.453.268.595       104.472.544.937     101.416.255.361       78.142.852.131
Page 102
                                                                                                                                      Lampiran 6

                                         Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan KBLI
                                                    Projection           Projection           Projection           Projection          Projection
                                                     FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029             FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih                                        (385.123.183.401)    (409.245.776.555)    (357.425.270.993)    (332.470.169.535)   (325.225.400.530)
Depresiasi & amortisasi                              162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098      59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan                            241.539.690.504      278.717.445.980      275.888.064.905      297.367.886.110     330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
 Piutang usaha - bersih                              213.177.050.030       75.134.084.493     (16.662.606.395)     (10.520.529.867)    (11.213.257.294)
 Piutang retensi                                     135.813.511.645                     -                   -                    -                   -
 Piutang lain-lain                                    (2.830.733.266)                    -                   -                    -                   -
 Persediaan                                        (329.483.267.073)      288.839.714.520     (38.496.350.410)       50.606.085.769    (24.022.764.305)
 Tagihan bruto kepada pelanggan                    (383.009.046.088)      148.696.763.070       21.363.477.614       48.160.794.282    (25.291.455.907)
 Pajak dibayar dimuka                               (18.434.073.921)         (194.856.553)     (2.924.189.849)        5.011.404.988     (6.761.037.006)
 Uang muka kepada pihak ketiga                                      -                    -                   -                    -                   -
 Biaya dibayar dimuka                                   (955.269.037)                    -                   -                    -                   -
 Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                           -                    -                   -                    -                   -
 Utang usaha                                         496.369.208.156    (247.878.800.795)     118.143.271.811      (52.519.586.419)      36.387.799.968
 Utang bruto                                       (190.304.291.141)                     -                   -                    -                   -
 Utang lain-lain                                                    -                    -                   -                    -                   -
 Utang pajak                                          14.944.046.633       (3.001.923.626)       2.462.565.659      (4.240.154.258)       5.988.249.160
 Beban akrual                                           4.751.277.909    (13.365.909.870)        3.905.466.132      (2.116.356.205)     (1.081.162.982)
 Uang muka dari pelanggan                                           -                    -                   -                    -                   -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)    (40.640.878.362)      192.485.210.179       72.604.429.773       58.950.031.964      38.587.754.715
AKTIVITAS OPERASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
 Perolehan aset tetap                               (22.697.548.220)                     -                    -                   -                   -
 Penjualan aset tetap                                 66.437.300.000                     -                    -                   -                   -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)           43.739.751.781                     -                    -                   -                   -
AKTIVITAS INVESTASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
 Utang bank jangka pendek                                           -                  -     (118.434.185.683)                   -                    -
 Liabilitas sewa                                                    -                  -                      -                  -                    -
 Utang Obligasi                                                     -                  -       (65.321.291.333)   (65.321.291.333)     (65.321.291.333)
 Utang bank jangka panjang                                          -   (49.827.975.000)                      -                  -                    -
 Liabilitas sewa                                                    -                  -                      -                  -                    -
 Obligasi wajib konversi                                            -                  -                      -                  -                    -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN                      -   (49.827.975.000)     (183.755.477.016)    (65.321.291.333)     (65.321.291.333)

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS        3.098.873.419      142.657.235.179     (111.151.047.243)      (6.371.259.370)    (26.733.536.618)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                        61.564.390.064       64.663.263.483       207.320.498.662       96.169.451.418      89.798.192.049
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN                  64.663.263.483      207.320.498.662        96.169.451.418       89.798.192.049      63.064.655.431
Page 103
                                                                                                 Lampiran 7

                       Proyeksi Analisis Rasio Dengan Rencana Penambahan KBLI
                           Projection    Projection    Projection    Projection    Projection    Average
                            FY 2026       FY 2027       FY 2028       FY 2029       FY 2030      Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                     0,52          0,37          0,34          0,32          0,33         0,38
Quick ratio                       0,33          0,29          0,25          0,24          0,25         0,28
Cash ratio                        0,03          0,08          0,04          0,04          0,03         0,05

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin            12,58%        13,88%        13,65%        13,58%        13,44%        13,43%
Net profit margin             -16,61%       -17,84%       -14,27%       -12,31%       -11,01%       -14,41%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover            13            23            21            21            21          20
Inventory turnover                   4            11            10            13            13          10
Acc. Payable turnover                1             2             2             2             2           2
Days of Acc. Receivable             27            16            17            17            17          19
Days of Inventory                   85            34            38            27            28          42
Days of Acc. Payable               246           207           209           186           175         205

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity               -160,13%      -144,83%      -131,29%      -125,48%      -121,80%      -136,70%
Debt to Assets                116,09%       142,58%       153,41%       172,22%       183,92%       153,64%
Page 104
                                                                                                 Lampiran 8

                       Proyeksi Analisis Rasio Tanpa Rencana Penambahan KBLI
                           Projection    Projection    Projection    Projection    Projection    Average
                            FY 2026       FY 2027       FY 2028       FY 2029       FY 2030      Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                     0,52          0,36          0,34          0,31          0,33         0,37
Quick ratio                       0,33          0,29          0,25          0,24          0,25         0,27
Cash ratio                        0,03          0,08          0,04          0,04          0,03         0,04

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin            12,35%        13,63%        13,42%        13,35%        13,23%        13,20%
Net profit margin             -16,79%       -18,03%       -14,43%       -12,47%       -11,16%       -14,58%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover            13            23            21            21            21          20
Inventory turnover                   4            11            10            13            13          10
Acc. Payable turnover                1             2             2             2             2           2
Days of Acc. Receivable             27            16            17            17            17          19
Days of Inventory                   85            34            38            27            28          42
Days of Acc. Payable               246           207           209           186           175         205

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity               -159,93%      -144,52%      -130,91%      -125,02%      -121,28%      -136,33%
Debt to Assets                116,19%       142,88%       153,94%       173,08%       185,11%       154,24%
Page 105
                                                                                                                                                       Lampiran 9

                                                                   Analisis Kelayakan
FCF (WITH PROJECT)
                                                 Projection           Projection           Projection           Projection           Projection            TERMINAL
                            31-Des-25
                                                  FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030                VALUE
Earning after tax                             (382.209.663.163)    (406.188.157.710)    (354.223.052.582)    (329.122.835.572)    (321.732.419.548)    (331.384.392.134)
(+) Depreciation                               162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098       59.196.458.139        60.972.351.884
(+) Interest (1-t)                             293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880      333.431.741.519      366.674.180.880      377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital               (60.768.516.152)     248.197.632.089       87.759.739.737       34.349.294.121      (26.026.475.960)      (26.807.270.239)
(-) Capex                                      (22.697.548.220)                   -                    -                    -                    -       (62.801.522.440)
FCFF                                            (9.519.710.633)     238.107.374.416      115.104.673.335       98.328.857.166       78.111.743.512      213.581.895.325
Year-n                                                      1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                          0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                         (8.555.852.589)     192.332.172.806       83.562.532.659       64.156.280.150       45.805.123.788      125.245.510.014
NPV                         502.545.766.828




FCF (WITHOUT PROJECT)
                                                 Projection           Projection           Projection           Projection           Projection            TERMINAL
                            31-Des-25
                                                  FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030                VALUE
Earning after tax                             (385.123.183.401)    (409.245.776.555)    (357.425.270.993)    (332.470.169.535)    (325.225.400.530)    (334.982.162.545)
(+) Depreciation                               162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098       59.196.458.139        60.972.351.884
(+) Interest (1-t)                             293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880      333.431.741.519      366.674.180.880      377.674.406.307
(+/-) Changes in working capital               (59.961.586.152)     248.229.071.239       87.791.634.562       34.381.658.291      (25.993.628.366)      (26.773.437.217)
(-) Capex                                      (22.697.548.220)                   -                    -                    -                    -       (62.801.522.440)
FCFF                                           (11.626.300.871)     235.081.194.721      111.934.349.749       95.013.887.373       74.651.610.124      170.463.570.999
Year-n                                                      1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                          0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                        (10.449.153.367)     189.887.764.196       81.260.973.040       61.993.373.585       43.776.083.966        99.960.705.265
NPV                         466.429.746.685



INCREMENTAL FCF
                                                Projection           Projection           Projection           Projection           Projection           TERMINAL
                            31-Des-25
                                                 FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030               VALUE
Earning after tax                               2.913.520.238        3.057.618.845        3.202.218.410        3.347.333.963        3.492.980.982        3.597.770.411
(+) Depreciation                                            -                    -                    -                    -                    -                   -
(+) Interest (1-t)                                          -                    -                    -                    -                    -                   -
(+/-) Changes in working capital                 (806.930.000)          (31.439.150)         (31.894.825)         (32.364.169)         (32.847.594)         (33.833.022)
(-) Capex                                                   -                    -                    -                    -                    -                   -
FCFF                                            2.106.590.238        3.026.179.695        3.170.323.586        3.314.969.794        3.460.133.387       43.118.324.325
Year-n                                                     1,00                 2,00                 3,00                 4,00                 5,00                5,00
Discount factor                                         0,8988               0,8078               0,7260               0,6525               0,5864               0,5864
PV FCFF                                         1.893.300.777        2.444.408.610        2.301.559.620        2.162.906.566        2.029.039.822       25.284.804.748
NPV                          36.116.020.143



PROFITABILITY INDEX
                                                Projection           Projection           Projection           Projection           Projection           TERMINAL
                            31-Des-25
                                                 FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029              FY 2030               VALUE
Cash Inflow                                     2.913.520.238        3.057.618.845        3.202.218.410        3.347.333.963        3.492.980.982        3.597.770.411
Cash Outflow                                      806.930.000           31.439.150           31.894.825           32.364.169           32.847.594           33.833.022
PV Cash Inflow                                  2.618.530.188        2.469.803.707        2.324.714.304        2.184.023.100        2.048.301.818        2.109.750.873
PV Cash Outflow                                   725.229.410           25.395.098           23.154.684           21.116.535           19.261.996           19.839.856
Sum Cash Inflow            13.755.123.990
Sum Cash Outflow              833.997.579
Profitability Index                 16,49
Page 106
                                                                                                                                                                                       Lampiran 10

                                                                                        Beta (Damodaran)
Date updated:                              05-Jan-26                                                                                     YouTube Video explaining
Created by:                                Aswath Damodaran, adamodar@stern.nyu.edu                                                      estimation choices and
What is this data?                         Beta, Unlevered beta and other risk measures            Emerging Markets                      process.
Home Page:                                 http://www.damodaran.com
Data website:                              https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/data.html
Companies in each industry:                https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/pc/datasets/indname.xls
Variable definitions:                      https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/variable.htm
Do you want to use marginal or effective tax rates in unlevering betas?                                  Marginal
If marginal tax rate, enter the marginal tax rate to use                                                 24,71%

                                         Number of                                   Effective                                           Unlevered beta corrected               Standard deviation of
Industry Name                                               Beta       D/E Ratio                 Unlevered beta        Cash/Firm value                              HiLo Risk
                                           firms                                     Tax rate                                                    for cash                              equity

Construction Supplies                        580            1,00         32,65%        15,29%           0,80               11,66%                   0,91             0,3275            38,41%
Page 107
                                                                                                                                                                                                                                                   Lampiran 11

                                                                                                                      Country Risk Premium (Damodaran)
Country and Equity Risk Premiums
Date of update:                                           5-Jan-26
Enter the current risk premium for a mature equity market                                                                                         4,23%         Implied ERP for S&P 500 with adjusted dollar riskfree rate (for US Aa1 rating
Enter the current risk premium for the US =                                                                                                       4,46%         US equity risk premium computed using implied ERP approach
Do you want to adjust the country default spread for the additional volatility of the equity market to get to a country premium?                   Yes
If yes, enter the multiplier to use on the default spread (See worksheet for volatility numbers for selected emerging markets)                     1,52         See "Relative Equity Volatilty" worksheet

                                                                                                                     Rating-based Default   Total Equity Risk       Country Risk            Sovereign CDS, net of              Total Equity Risk   Country Risk
                 Country                                    Africa                     Moody's rating
                                                                                                                            Spread              Premium              Premium                     Swiss CDS                        Premium2          Premium3
Indonesia                                      Asia                                           Baa2                          1,62%                 6,69%                2,46%                        1,05%                            5,83%            1,60%
Page 108
                                                                                                                                                                                                                                                Lampiran 12

                                                                                       Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025
                   I.26 SUKU BUNGA PINJAMAN RUPIAH YANG DIBERIKAN                                                                                              I.26 INTEREST RATE OF RUPIAH LOANS
                      MENURUT KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN                                                                                               BY GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
                                  (Persen Per Tahun)                                                                                                                     (Percent Per Annum)

                                                                                                                                                                                               2025
        KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN                                                                                                                                                                GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
                                                                      Jan        Feb       Mar        Apr       May        Jun          Jul       Aug         Sep         Oct        Nov        Dec

   1    Bank Persero                                                                                                                                                                                    State Banks                                                   1

   2     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,69       8,80       8,82      8,83       8,83       8,81        8,78       8,72       8,60        8,39       8,30       8,12       Working Capital Loans                                       2

   3     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           9,22       9,11       9,09      9,02       9,02       8,96        8,92       8,89       8,67        8,84       8,69       8,44       Investment Loans                                            3

   4     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                            9,08       9,06       9,04      9,04       9,01       8,98        8,96       8,94       8,92        8,90       8,87       8,97       Consumer Loans                                              4

   5    Bank Pemerintah Daerah                                                                                                                                                                          Regional Government Banks                                     5

   6     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,81       8,81       8,81      8,85       8,86       8,84        8,78       8,82       8,84        8,66       8,66       8,32       Working Capital Loans                                       6

   7     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,91       8,93       8,93      8,88       8,89       8,88        8,86       8,84       8,83        8,78       8,79       8,75       Investment Loans                                            7

   8     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           10,37      10,37     10,36      10,37      10,38     10,38       10,38       10,38      10,37      10,37       10,36      10,35       Consumer Loans                                              8

   9    Bank Swasta Nasional                                                                                                                                                                            Private National Banks                                        9

  10     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,65       8,62       8,60      8,58       8,55       8,52        8,53       8,48       8,40        8,31       8,29       8,16       Working Capital Loans                                   10

  11     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,10       8,10       8,06      8,06       8,02       7,97        7,93       7,88       7,74        7,67       7,62       7,52       Investment Loans                                        11

  12     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           11,83      11,86     11,84      11,93      11,99     12,04       12,11       12,20      12,26      12,29       12,34      11,99       Consumer Loans                                          12
        Kantor Cabang dari Bank yang Berkedudukan di
  13                                                                                                                                                                                                    Branch Offices of Foreign Banks                           13
        Luar Negeri
  14     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         6,65       6,74       6,67      6,58       6,41       6,74        6,85       6,45       6,07        5,84       5,69       5,58       Working Capital Loans                                   14

  15     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,47       8,40       8,38      8,38       8,38       8,08        8,07       7,89       7,44        7,35       7,35       7,11       Investment Loans                                        15

  16     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           43,82      41,78     41,23      41,17      41,30     41,98       41,51       41,19      41,05      40,59       39,80      38,69       Consumer Loans                                          16

  17    Bank Umum                                                                                                                                                                                       Commercial Banks                                          17

  18     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,62       8,67       8,66      8,66       8,64       8,62        8,61       8,55       8,46        8,30       8,24       8,08       Working Capital Loans                                   18

  19     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,66       8,62       8,58      8,56       8,54       8,49        8,46       8,42       8,25        8,32       8,22       8,06       Investment Loans                                        19

  20     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           10,41      10,40     10,39      10,42      10,44     10,45       10,47       10,49      10,51      10,51       10,52      10,50       Consumer Loans                                          20
Sejak Januari 2025 terdapat perubahan klasifikasi pengelompokan bank dari Bank Asing dan Bank Campuran menjadi Kantor Cabang      Since January 2025, there is a change in the classification of Group of Bank from Branch Offices of Foreign Banks and Joint Banks
Dari Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri sehubungan dengan implementasi Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT).                  to Branch Offices of Foreign Banks inline with the implementation of the Integrated Commercial Bank Report (LBUT).
Page 109
                                                                   Lampiran 13

Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.68 MB
Published21 May 2026
Pages109
Characters324,508
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 99 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org WASKITA BETON PRECAST TBK p.1 ×307
linked person Koento Wahyudiat · Direktur Keuangan p.7 ×4
linked person Indra Utama p.7 ×4
linked person Heri Sebayang · Komisaris p.7 ×4
linked person Fathul Anwar p.7 ×5
linked person Itung Prasaja p.7 ×5
linked person Raden Mas Aris Santosa p.7 ×5
linked org PT Intiniaga Sukses Abadi p.24
linked org Koperasi Waskita Karya p.24
linked person Anak Agung Gede Sumadi p.24 ×2
linked person Ahmad Subagya p.25 ×2
linked org Wijaya Karya Beton Tbk p.48 ×5
linked org PT Waskita Toll Road p.76 ×3
linked org PT Waskita Sriwijaya Toll p.79
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.5 ×8
possible person Indra · Komisaris Utama p.7 ×3
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.7 ×3
possible person Ade Ikhwan p.8 ×8
possible org Waskita Karya (Persero) Tbk p.24 ×35
possible org Wijaya Karya Tbk p.48 ×2
possible org PT PP p.52 ×2
possible org Pembangunan Perumahan p.52
possible org Adhi Karya (Persero) Tbk p.53 ×5
possible — Vacant · Driver Operasional p.61
possible org Bank Persero p.86 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki dan Rekan p.2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki p.2
unresolved — Faks p.2 ×2
unresolved org Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk p.2 ×2
unresolved org Kementerian Perindustrian. Hal p.3 ×2
unresolved org Departemen Research Center p.4 ×2
unresolved org Departemen Pengembangan Bisnis p.4 ×2
unresolved org PT Motive Mulia p.4 ×2
unresolved org PT Indo Karya Beton p.4 ×2
unresolved org PT Adhi Persada Beton p.4 ×3
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.4 ×2
unresolved org KJPP HMR p.5 ×2
unresolved org KJPP Herman Meirizki dan Rekan p.5 ×2
unresolved org KJPP Herman Meirizki p.5 ×4
unresolved org Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan p.5 ×2
unresolved org Kementerian Keuangan Republik Indonesia p.5 ×2
unresolved org Menteri Keuangan p.5 ×2
unresolved person I Gusti Komang Sri Aryani · PJ Manajer Laboratorium p.5 ×2
unresolved person Ashoya Ratam · Notaris p.7 ×3
unresolved org Bank Indonesia p.7 ×15
unresolved org Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan p.8 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Heliantono p.8 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Hertanto p.8 ×3
unresolved person Bambang Karunawan p.8 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Kosasih p.8 ×6
unresolved org Tjahjo & Rekan p.8 ×6
unresolved person Fathiah Helmi p.24
unresolved org Menteri p.24
unresolved person Aulia Taufani · Notaris p.24 ×2
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia p.32
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumber p.32
unresolved org Pusat Statistik p.42 ×4
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum p.42 ×2
unresolved org Kementerian PU TA p.42
unresolved org Pengembangan Infrastruktur Wilayah p.42
unresolved org Pengembangan Sumber Daya Manusia p.42
unresolved org Kementerian PU p.42 ×2
unresolved org Pusat Statistik Perusahaan p.44
unresolved org Pusat Statistik dan Databooks Pada Grafik p.44
unresolved org Pusat Statistik Sertifikat Kompetensi Kerja p.45
unresolved org Kementerian Perindustrian p.47 ×2
unresolved org Riset dan Inovasi Nasional p.48 ×3
unresolved org PT Sucofindo p.48 ×2
unresolved org PT Guna Sukses Inti p.49 ×2
unresolved org Kementerian Perindustrian Republik Indonesia p.49 ×2
unresolved org PT Global Inspeksi Sertifikasi Merupakan p.49
unresolved org Kementerian PUPR. Kebijakan Pemerintah p.50
unresolved org Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman p.50
unresolved org PT PP Urban p.52
unresolved org PT Brantas Abipraya (Persero) p.52
unresolved org PT Inti Karya Persada Tehnik p.53
unresolved org PT Nindya Karya (Persero) p.53
unresolved org PT Jayakuma Perkasa p.53
unresolved org PT Duta Hita Jaya p.53
unresolved org PT Jaya Obayashi. p.53
unresolved — Eling Subiandono · PJ Kepala Seksi Pengadaan & Produksi p.61
unresolved — Haritz Gabrioga · Staf Keuangan & HCM p.61
unresolved — Antonius Teguh Mulyo Pujiono · Staf Pengadaan & Produksi 01 p.61
unresolved — Dapit Bawono · Staf Quality p.61
unresolved — Ardi Agung Prabowo · Staf Peralatan p.61 ×2
unresolved — Ari Gunawan · Staf Pengadaan & Produksi 02 p.61
unresolved — Operator OHC · Operator Alat p.61
unresolved — Helper OHC · Helper Operator Alat 01 p.61 ×2
unresolved — Tenaga Kebersihan · Office Boy p.61
unresolved org PT Pemalang Batang Toll Road p.79
unresolved org Pengawasan Keuangan dan Pembangunan p.80 ×4
unresolved org Pengawasan Keuangan p.80
unresolved org PT Jurnalis Adimedia p.80
unresolved org PT Jurnalis Media Properti p.80
unresolved org PT Citra Kartika Konstruksi p.80
unresolved org Bank Campuran p.108
unresolved org Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri p.108

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.182 23812 ms 12 Sep 2026 22:20
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': 'IDR',
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL_FACT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result