Back to announcement
20260511_BBLD_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_32090346_lamp1.pdf
Asset transaction Needs review BBLDSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 90
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT BUANA FINANCE TBK
No. 00011/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/V/2026
Tanggal: 6 Mei 2026
Atas Revisi
No. 00004/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/IV/2026
Tanggal: 6 April 2026
Page 2
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT BUANA FINANCE TBK
No. 00011/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/V/2026
Tanggal: 6 Mei 2026
Atas Revisi
No. 00004/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/IV/2026
Tanggal: 6 April 2026
Page 3
No. 00011/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/V/2026 Bekasi, 6 Mei 2026
SURAT PENGANTAR
Kepada:
Direksi Perseroan
Office Tower @ Ciputra World 2
Lantai 38, unit A-F, Jl. Prof. Dr. Satrio, Kav. 11
Jakarta Selatan, 12930
Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pemberian Kredit
Lainnya YTDL (KBLI 64959)
Dengan hormat,
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0008/SPK/MSE-03/ES/II/2026, tanggal
5 Februari 2026, PT Buana Finance Tbk., (atau selanjutnya disebut “Perseroan”) yang
bergerak di bidang industri investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan multiguna,
telah menunjuk KJPP Syarif, Endang, dan Rekan, sebagai Penilai Independen untuk
menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI
64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL).
Laporan ini merupakan revisi atas Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
sebelumnya yaitu Laporan No. 00004/2.0113-03/BS-FS/09/0340/1/IV/2026, tanggal 6
April 2026. Kami menyatakan bahwa membatalkan laporan sebelumnya. Hal-hal yang
menjadi objek revisi adalah sebagai berikut:
1. Penambahan pengungkapan kondisi pasar;
2. Penambahan pengungkapan pangsa pasar;
3. Revisi pengungkapan kapasitas;
4. Revisi pengungkapan bahan baku mentah;
5. Penambahan pengungkapan tenaga ahli;
6. Penambahan pengungkapan kapasitas teknis perusahaan pembiayaan;
7. Penambahan pengungkapan kemampuan pesaing untuk meniru produk;
8. Penambahan pengungkapan manajemen risiko;
9. Penambahan pengungkapan sumber pembiayaan; dan
10. Penambahan pengungkapan ambang batas maksimal pada analisis sensitivitas.
TANGGAL PENILAIAN
Tanggal Penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 31 Desember 2025.
i
Page 4
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
IDENTITAS PEMBERI TUGAS
Nama Perusahaan : PT Buana Finance Tbk.
Bidang Usaha : Pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan
multiguna
Alamat : Office Tower @ Ciputra World 2, lantai 38, unit A-F, Jl. Prof. Dr.
Satrio, Kav. 11, Jakarta Selatan, 12930
Telepon : (021) 50806969
Website : https://www.buanafinance.co.id/
Email : dldivcorsec@buanafinance.co.id
MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya
YTDL), sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan Kegiatan
Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan ataupun kepentingan
lainnya.
PROSEDUR YANG DIGUNAKAN
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020, tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun
oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai
Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait.
INDEPENDENSI PENILAI
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-pihak yang terkait
dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan
pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak
dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun. Imbalan
yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan
dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang
tercantum pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0008/SPK/MSE-03/ES/II/2026, tanggal
5 Februari 2026.
RUANG LINGKUP PENUGASAN
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu untuk
melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan Kegiatan Usaha
sesuai dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL).
ii
Page 5
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional;
dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
studi kelayakan.
c. Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan dan
kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh
dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang
kami anggap relevan.
d. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen dengan
mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan pencapaiannya ( fiduciary
duty).
e. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan.
f. Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
g. Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
KEJADIAN SETELAH TANGGAL PENILAIAN
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 31 Desember 2025, sampai dengan
tanggal diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang terjadi selama
periode tersebut.
iii
Page 6
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya
YTDL) adalah layak.
Seluruh kajian ini kami sampaikan dengan catatan semua asumsi yang diterapkan dalam
Studi Kelayakan ini dapat dipenuhi.
PENUTUP
Penugasan untuk mempersiapkan Studi Kelayakan Usaha ini bukan dan tidak dapat
dianggap dalam segala hal sebagai review atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu
pada informasi keuangan. Penugasan kami tidak dilakukan untuk tujuan mengungkapkan
kelemahan pengendalian internal, kesalahan dalam laporan keuangan, segala bentuk
implikasi pajak atau pelanggaran hukum. Studi Kelayakan Usaha ini juga tidak
dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana
proyek atau untuk mengambil tindakan tertentu atas Rencana Kegiatan Usaha.
Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kepercayaan yang telah diberikan kami ucapkan
terima kasih dan kami berharap kiranya laporan ini dapat berguna bagi kemajuan usaha
selanjutnya.
Hormat kami,
KJPP SYARIF, ENDANG & REKAN
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
Rekan
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
iv
Page 7
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-
pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya,
Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
kerugian pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak
dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan
kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang tercantum pada Surat Perjanjian
Kerja (SPK) No. 0008/SPK/MSE-03/ES/II/2026, tanggal 5 Februari 2026;
2. Penilai bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan dalam rangka penugasan Studi
Kelayakan, sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
3. Analisis Kelayakan dilaksanakan per tanggal 31 Desember 2025, parameter dan data
yang digunakan dalam analisis menggunakan data per 31 Desember 2025;
4. Penugasan penilaian telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Penilaian
pada Tanggal Penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan Tujuan Penilaian
sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
5. Laporan Studi Kelayakan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan dalam Peraturan OJK
No. 35/POJK.04/2020, SEOJK No. 17/SEOJK.004/2020, Kode Etik Penilai Indonesia
("KEPI"), serta Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII 2018 yang ditetapkan oleh
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia ("MAPPI");
6. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai Kesimpulan pada
Laporan Studi Kelayakan ini;
7. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada Ruang Lingkup dan data yang dianalisis
serta data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Penilaian ini pada
Sumber Data diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini dapat
dipertanggungjawabkan;
8. Laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang
mempengaruhi analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan ini;
9. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
10. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di
dalam Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik;
11. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Imbalan yang
Penilai terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang tercantum
pada Laporan Penilaian ini;
12. Dalam melakukan penugasan ini, Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan
profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan; dan
13. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan
bantuan profesional dalam menyiapkan Laporan Penilaian.
v
Page 8
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
KJPP Syarif, Endang & Rekan menyatakan bahwa Para Penilai yang kami libatkan dalam
penugasan Penilaian ini adalah Penilai profesional yang kompeten dan memiliki keahlian
penilaian yang baik.
No. Nama Tugas Tanda Tangan
1. Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) Penanggung Jawab (....................)
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
2. Meilindra Indriani, S.Si. Reviewer (....................)
MAPPI : No. 14-T-05006
Register : No. RMK-2017.01002
3. Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev. Staf Penilai (....................)
MAPPI : No. 09-P-02398
Register : No. RMK-2021.03694
4. Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt. Tenaga Inspeksi (....................)
MAPPI : No. 13-A-04453
vi
Page 9
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
DAFTAR ISI
SURAT PENGANTAR........................................................................................................... i
PERNYATAAN PENILAI ...................................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................. x
1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ................................................................. 1
1.2 Tanggal Penilaian ................................................................................................. 1
1.3 Identitas Pemberi Tugas ....................................................................................... 1
1.4 Latar Belakang...................................................................................................... 1
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .................................................................... 2
1.6 Data dan Informasi yang Digunakan .................................................................... 2
1.7 Prosedur yang Digunakan .................................................................................... 3
1.8 Ruang Lingkup Penugasan ................................................................................... 3
1.9 Asumsi dan Kondisi Pembatas .............................................................................. 3
1.10 Kualifikasi Penilai ................................................................................................. 4
1.11 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan ............................................................ 4
2 INFORMASI UMUM ................................................................................................ 5
2.1 Profil Perseroan .................................................................................................... 5
2.1.1 Bidang Usaha ....................................................................................................... 5
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan ......................................... 5
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ................................................................. 6
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional ............................................................................. 6
2.2 Kinerja Keuangan ................................................................................................. 7
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan ....................................................................................... 7
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi) ............................................................................................. 10
2.3 Produk dan Layanan Perseroan........................................................................... 15
2.4 Teknologi yang Digunakan ................................................................................. 16
2.5 Pasar yang Dituju ............................................................................................... 16
2.6 Pesaing dan Persaingan ...................................................................................... 17
2.7 Pola Bisnis .......................................................................................................... 17
2.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 18
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi ...................................................................... 18
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia ............................................ 18
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual ........................................................................... 18
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait .................................................... 19
2.13 Aspek Lingkungan ............................................................................................. 19
2.14 Faktor Risiko Utama ........................................................................................... 19
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial ........................................................... 20
3 KELAYAKAN PASAR ............................................................................................. 21
3.1 Kondisi Pasar ..................................................................................................... 21
3.2 Pangsa Pasar ...................................................................................................... 27
vii
Page 10
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
3.3 Kesinambungan ................................................................................................. 30
3.4 Potensi Pasar ...................................................................................................... 31
3.5 Sasaran .............................................................................................................. 33
3.6 Potensi Nilai Pasar .............................................................................................. 33
3.7 Pesaing Usaha .................................................................................................... 34
3.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 34
4 KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................ 35
4.1 Kapasitas ........................................................................................................... 35
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ............................................................. 35
4.3 Proses Produksi .................................................................................................. 37
5 KELAYAKAN POLA BISNIS .................................................................................... 40
5.1 Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 40
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................ 40
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ................................................................ 41
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 43
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja ................................................................................. 43
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual ....................................................................... 43
6.3 Manajemen Risiko .............................................................................................. 43
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ............................................................. 45
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ................................................ 45
7 KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 49
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs).......................................................................... 49
7.2 Modal Kerja ........................................................................................................ 49
7.3 Sumber Pembiayaan ........................................................................................... 49
7.4 Beban Operasional ............................................................................................. 50
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah ................................................................................... 50
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ................................................................... 50
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................... 51
7.8 Proyeksi Laba (Rugi) ........................................................................................... 52
7.9 Proyeksi Arus Kas ............................................................................................... 52
7.10 Analisis Titik Impas ............................................................................................ 53
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas ............................................... 54
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi .............................................................................. 55
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto .............................................................................. 56
7.14 Analisis Kelayakan .............................................................................................. 59
7.15 Analisis Sensitivitas ............................................................................................ 63
8 KESIMPULAN ....................................................................................................... 65
8.1 Kajian Kelayakan Pasar ....................................................................................... 65
8.2 Kajian Kelayakan Teknis ..................................................................................... 67
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis ............................................................................... 67
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen ................................................................... 69
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan ................................................................................ 69
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan ............................................................................... 70
viii
Page 11
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan ................................................................... 6
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.Juta) .......................................................... 7
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.Juta) ................................................................ 10
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan ..................................................................... 14
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ........................................................ 17
Tabel 6 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ............... 21
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ........ 22
Tabel 8 Neraca Pembayaran Indonesia ............................................................................. 23
Tabel 9 Perusahaan Pesaing............................................................................................. 34
Tabel 10 Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................... 35
Tabel 11 Risiko Utama Perseroan..................................................................................... 44
Tabel 12 Rencana Anggaran Biaya (Rp Juta) ..................................................................... 49
Tabel 13 Modal Kerja (Rp. Juta) ........................................................................................ 49
Tabel 14 Biaya Operasional (Rp. Juta) .............................................................................. 50
Tabel 15 Struktur Pendapatan (Rp. Juta) .......................................................................... 50
Tabel 16 Struktur Biaya (Rp. Juta) .................................................................................... 51
Tabel 17 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp. Juta) ................................................................... 51
Tabel 18 Proyeksi Laba Rugi (Rp. Juta) ............................................................................. 52
Tabel 19 Proyeksi Arus Kas (Rp. Juta) .............................................................................. 52
Tabel 20 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.Juta) ............................................................. 54
Tabel 21 Analisis Likuiditas ............................................................................................. 54
Tabel 22 Analisis Solvabilitas ........................................................................................... 55
Tabel 23 Analisis Profitabilitas ......................................................................................... 55
Tabel 24 Return on Investment ........................................................................................ 56
Tabel 25 Surat Utang Negara ........................................................................................... 58
Tabel 26 Biaya Modal untuk Ekuitas................................................................................. 58
Tabel 27 Weighted Average Cost of Capital ..................................................................... 59
Tabel 28 Perhitungan NPV (Rp. Juta) ................................................................................ 60
Tabel 29 Perhitungan IRR (Rp. Juta) ................................................................................. 60
Tabel 30 Perhitungan PI ................................................................................................... 61
Tabel 31 Perhitungan PP .................................................................................................. 61
Tabel 32 Analisis Kelayakan (Rp. Juta) ............................................................................. 62
Tabel 33 Perhitungan Analisis Sensitivitas ....................................................................... 63
ix
Page 12
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara Berkembang . 24
Gambar 2 Grafik Inflasi IHK dan Komponen ..................................................................... 24
Gambar 3 Perkembangan Jumlah Jamaah Haji dan Umroh Tahun 2023-2025 (orang) ..... 25
Gambar 4 Perkembangan Populasi Mobil (unit) ................................................................ 26
Gambar 5 Lima Provinsi dengan Populasi Mobil Terbanyak Tahun 2025 (unit) ................ 26
Gambar 6 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Jasa Keuangan Lainnya (Rp Miliar) ............ 30
Gambar 7 Perkembangan Aset Perusahaan Pembiayaan Syariah Tahun 2020-2025 (Rp
Triliun) ............................................................................................................. 31
Gambar 8 Perkembangan Piutang Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Syariah Tahun
2020-2025 (Rp Triliun).................................................................................... 31
Gambar 9 Perkembangan Piutang Pembiayaan Berdasarkan Objek Pembiayaan Jasa
Wisata/Perjalanan Untuk Perusahaan Pembiayaan Konvesional dan Syariah
Tahun 2020-2025 ........................................................................................... 32
Gambar 10 Perkembangan Piutang Pembiayaan Berdasarkan Objek Pembiayaan Kendaraan
untuk Perusahaan Pembiayaan Konvesional dan Syariah Tahun 2020-2025 .... 33
Gambar 11 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Dengan Wakalah (Wakil) ...... 37
Gambar 12 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Tanpa Wakalah (Wakil)......... 37
Gambar 13 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Dengan Payroll .................... 38
Gambar 14 Diagram Alur Proses Bisnis Murabahah Kendaraan Bermotor......................... 38
Gambar 15 Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................... 47
Gambar 16 Struktur Organisasi Unit Usaha Syariah.......................................................... 48
x
Page 13
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
1 PENDAHULUAN
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang, dan Rekan telah ditunjuk oleh PT Buana
Financ Tbk., (“Perseroan”) berdasarkan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No.
0008/SPK/MSE-03/ES/II/2026, tanggal 5 Februari 202,6 sebagai Penilai Independen
untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha sesuai
dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL).
1.2 Tanggal Penilaian
Tanggal penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 31 Desember 2025.
1.3 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama Perusahaan : PT Buana Finance Tbk.
Bidang Usaha : Pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan
pembiayaan multiguna
Alamat : Office Tower @ Ciputra World 2, lantai 38, unit A-F, Jl. Prof.
Dr. Satrio, Kav. 11, Jakarta Selatan, 12930
Telepon : (021) 50806969
Website : https://www.buanafinance.co.id/
Email : dldivcorsec@buanafinance.co.id
1.4 Latar Belakang
PT Buana Finance Tbk., ("Perseroan") didirikan di Republik Indonesia pada tanggal 7
Juni 1982 dengan nama PT BBL Leasing Indonesia dan menurut Undang-undang
Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968 berdasarkan Akta Notaris No. 74
dari Kartini Muljadi, S.H. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman dalam Surat Keputusan No. C2-1677-HT.01.01.TH.82 tanggal 8 Oktober
1982 yang telah diumumkan dalam Berita Negara No. 101, tambahan No. 1384
tanggal 17 Desember 1982.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir
diaktakan dalam Akta No. 46 tanggal 18 Juni 2021 dari Notaris Fathiah Helmi, S.H.,
diantaranya dalam rangka penyesuaian POJK No. 15 dan 16 tentang penyelenggaraan
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Akta ini telah mendapat persetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.03-
0428093 Tahun 2021 tanggal 14 Juli 2021.
1
Page 14
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Kantor Perusahaan berlokasi di Office Tower @ Ciputra World 2, lantai 38, unit A-F,
Jl. Prof. Dr. Satrio, Kav. 11, Jakarta Selatan, 12930.
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit
Lainnya YTDL) sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Penambahan Kegiatan Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan
perbankan ataupun kepentingan lainnya.
1.6 Data dan Informasi yang Digunakan
Dalam rangka melakukan Studi Kelayakan ini, kami telah mempelajari, menganalisis
dan mempertimbangkan informasi sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2021, No. 00285/2.1051/AU.1/
09/0517-2/1/III/2022, tanggal 31 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Tjiong
Eng Pin, CPA., dari Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiman, Mulyadi, Tjahjo &
Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
2. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2022,
No. 00294/2.1051/AU.1/09/1692-1/1/III/2023, tanggal 30 Maret 2023 yang
telah diaudit oleh Riva Utama Winata, CPA., dari Kantor Akuntan Publik Kosasih,
Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang
material;
3. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2023,
No. 00479/2.1133/AU.1/09/0519-1/1/III/2024, tanggal 26 Maret 2024 yang
telah diaudit oleh Darmenta Pinem, S.E., CPA., dari Kantor Akuntan Publik Paul
Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Retno, Palilingan & Rekan dengan opini wajar dalam
semua hal yang material;
4. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2024,
No. 00681/2.1133/AU.1/09/0519-2/1/III/2025, tanggal 26 Maret 2025 yang
telah diaudit oleh Darmenta Pinem, S.E., CPA., dari Kantor Akuntan Publik Paul
Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Retno, Palilingan & Rekan dengan opini wajar dalam
semua hal yang material;
5. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2025,
No. 00375/2.1133/AU.1/09/0519-3/1/III/2026, tanggal 10 Maret 2026 yang
telah diaudit oleh Darmenta Pinem, S.E., CPA., dari Kantor Akuntan Publik Paul
Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Retno, Palilingan & Rekan dengan opini wajar dalam
semua hal yang material;
6. Proyeksi Keuangan selama 5 tahun;
7. Legalitas Perseroan;
2
Page 15
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
8. Wawancara dan diskusi dengan manajemen Perseroan sehubungan dengan
penugasan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha, yakni dengan
Bapak Yannuar Alin sebagai Direktur Utama;
9. Representation Letter No. 015/BNF/HRDGS/IV/2026, tanggal 1 April 2026,
sehubungan dengan Penugasan Penilaian Studi Kelayakan atas Penambahan
Kegiatan Usaha KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL).
1.7 Prosedur yang Digunakan
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa
Keuangan No. 17 /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018
yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode
Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup:
1. Kajian Kelayakan Pasar,
2. Kajian Kelayakan Teknis,
3. Kajian Kelayakan Pola Bisnis,
4. Kajian Kelayakan Model Manajemen, dan
5. Kajian Kelayakan Keuangan.
1.8 Ruang Lingkup Penugasan
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu
untuk melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan
Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 64959 (Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL).
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian
Profesional; dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
1.9 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
• Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
• Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
dalam studi kelayakan.
• Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan
dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
3
Page 16
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta
penelitian yang kami anggap relevan.
• Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen
dengan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
• Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran
proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
• Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
• Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
• Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
1.10 Kualifikasi Penilai
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 1498/KM.1/2012, tanggal
28 Desember 2012, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang dan Rekan
dengan Izin KJPP No. 2.12.0113.
Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai
Usaha bersertifikat MAPPI dengan perizinan sebagai berikut:
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
Klasifikasi izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
1.11 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 31 Desember 2025, sampai
dengan tanggal diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang
terjadi selama periode tersebut.
4
Page 17
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
2 INFORMASI UMUM
2.1 Profil Perseroan
PT Buana Finance Tbk (“ ("Perseroan") didirikan di Republik Indonesia pada tanggal
7 Juni 1982 dengan nama PT BBL Leasing Indonesia dan menurut Undang-undang
Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968 berdasarkan Akta Notaris No. 74
dari Kartini Muljadi, S.H. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman dalam Surat Keputusan No. C2-1677-HT.01.01.TH.82 tanggal 8
Oktober 1982 yang telah diumumkan dalam Berita Negara No. 101, tambahan
No. 1384 tanggal 17 Desember 1982.
Nama Perusahaan telah diubah beberapa kali dan yang terakhir menjadi PT Buana
Finance Tbk disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 3
Oktober 2005 yang keputusannya diaktakan dalam Akta No. 2 tanggal 3 Oktober
2005 dari Notaris Fathiah Helmi, S.H. Akta Notaris ini telah mendapat persetujuan
dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No. C-
28319HT.01.04.TH.2005 tanggal 14 Oktober 2005.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang
terakhir diaktakan dalam Akta No. 46 tanggal 18 Juni 2021 dari Notaris Fathiah
Helmi, S.H., diantaranya dalam rangka penyesuaian POJK No. 15 dan 16 tentang
penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Akta ini telah mendapat
persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan
No. AHU-AH.01.03-0428093 Tahun 2021 tanggal 14 Juli 2021.
Kantor Perusahaan berlokasi di Kantor pusat Perusahaan beralamat di Office Tower
@ Ciputra World 2, lantai 38, unit A-F, Jl. Prof. Dr. Satrio, Kav. 11, Jakarta Selatan
12930.
2.1.1 Bidang Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
adalah menjalankan kegiatan dalam bidang pembiayaan investasi, pembiayaan
modal kerja, dan pembiayaan multiguna.
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan
Rincian pemegang saham Perseroan dan persentase kepemilikannya pada tanggal
31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
5
Page 18
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan
Persentase Jumlah
Pemegang Saham Jumlah Saham
Kepemilikan (Rp. Juta)
PT Sari Dasa Karsa 1.112.584.069 67,60% 278.146
Bank of Singapore Limited 89.451.600 5,44% 22.363
Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 443.760.385 26,96% 110.940
Jumlah 1.645.796.054 100,00% 411.449
Sumber: Manajemen Perseroan
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan pengurus Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Siang Hadi Widjaja
Komisaris : DR. Tjan Soen Eng
Komisaris Independen : Pintaro Mulia
Direksi
Direktur Utama : Yannuar Alin
Direktur : Herman Lesmana
Direktur : Mariana Setyadi
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional
Dalam menjalankan kegiatan operasional Perseroan memiliki dokumen perizinan
usaha dan legalitas lainnya yang dikeluarkan oleh instansi terkait antara lain:
• Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 7 Juni 1982, dibuat di hadapan Notaris
Kartini Muljadi, S.H., dan disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-1677-HT.01.01.TH.82
tanggal 8 Oktober 1982;
• Akta No. 19, tanggal 19 Mei 2025 dari Fathiah Helmi, S.H., dan disahkan melalui
Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0297383 tanggal 12 Juni 2025;
• Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Nomor Induk Berusaha (NIB):
No. 8120218051784; dan
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 01.363.699.8-054.000
• Surat Keterangan Terdaftar Pajak No. S-187/WPJ.07/KP.0803/2017
• Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (SPPKP)
No. S-122PKP/WPJ.07/KP.0803/2017
6
Page 19
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
2.2 Kinerja Keuangan
Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan kinerja Perseroan berdasarkan
data Laporan Keuangan audited per 31 Desember 2021, 2022, 2023, 2024 dan 31
Desember 2025.
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan
Kinerja Posisi Keuangan Perseroan selama tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah
sebagai berikut:
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.Juta)
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
ASET
Aset Lancar
Kas dan bank
Pihak ketiga 158.606 150.199 337.880 514.134 220.751
Cadangan penurunan nilai - (1) (1) (69) (2)
Piutang sewa pembiayaan
Pihak ketiga 750.771 776.405 993.936 1.003.141 872.818
Cadangan penurunan nilai (3.464) (8.114) (11.281) (16.921) (14.278)
Piutang pembiayaan konsumen
Pihak ketiga 5.749.748 5.338.362 4.267.353 2.990.988 2.395.309
Cadangan penurunan nilai (89.639) (47.656) (43.055) (27.833) (52.517)
Tagihan anjak piutang
Pihak ketiga 161.144 76.718 53.045 7.630 1.210
Cadangan penurunan nilai (58) (15) (17) (1) -
Piutang lain-lain - neto 228.402 183.078 54.883 31.722 45.973
Aset Deriavatif 32.081 22.016 2.839 110 378
Uang muka, biaya dibayar di muka
dan lainnya 43.279 40.819 36.852 34.580 12.284
Surat berharga - - - 180 322
Total Aset Lancar 7.030.870 6.531.811 5.692.434 4.537.661 3.482.248
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap
Biaya Perolehan
Kepemilikan langsung
Tanah 7.355 7.605 7.605 7.605 7.605
Bangunan 66.797 67.797 67.797 67.797 67.797
Kendaraan 16.435 14.654 12.541 11.262 10.728
Peralatan dan perlengkapan
kantor 106.071 101.601 92.080 84.470 81.969
Jumlah biaya perolehan 196.658 191.657 180.023 171.134 168.099
Akumulasi penyusutan
Kepemilikan langsung
Bangunan (26.285) (24.207) (21.689) (19.171) (16.653)
Kendaraan (9.516) (7.695) (8.630) (8.527) (7.881)
7
Page 20
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
Peralatan dan perlengkapan
kantor (81.390) (79.326) (77.242) (72.229) (66.022)
Jumlah akumulasi penyusutan (117.191) (111.228) (107.561) (99.927) (90.556)
Nilai Buku 79.467 80.429 72.462 71.207 77.543
Aset Tak berwujud 5.497 4.481 8.464 9.031 14.725
Perangkat lunak & lisensi
perangkat lunak 33.756 31.370 29.782 29.612 29.139
Aset dalam penyelesaian 2.322 2.554 4.417 - 463
Akumulasi amortisasi (30.581) (29.443) (25.735) (20.581) (14.877)
Aset hak guna 13.134 5.597 7.053 4.354 3.910
Bangunan 32.852 19.110 17.738 12.554 9.276
Akumulasi penyusutan (19.718) (13.513) (10.685) (8.200) (5.366)
Aset pajak tangguhan 17.397 11.830 9.204 7.897 4.442
Total Aset Tidak Lancar 115.495 102.337 97.183 92.489 100.620
TOTAL ASET 7.146.365 6.634.148 5.789.617 4.630.150 3.582.868
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Pinjaman bank dan non-bank 5.643.374 5.107.624 4.245.201 3.153.900 2.195.442
Beban akrual 6.917 9.275 8.400 7.337 8.818
Utang pajak
Pajak Penghasilan badan 1.074 8.403 10.648 15.615 6.445
Pajak lainnya 823 541 2.568 1.878 2.258
Utang dividen 438 423 398 377 369
Utang lain-lain 70.003 68.713 110.541 121.135 111.882
Uang muka 1.049 1.316 1.999 1.431 1.821
Liablitas Derivatif 3.315 4.707 4.981 4.369 2.978
Total Liabilitas Jangka Pendek 5.726.993 5.201.002 4.384.736 3.306.042 2.330.013
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas imbalan pasca kerja 12.034 9.403 10.145 8.167 9.034
Total Liabilitas Jangka Panjang 12.034 9.403 10.145 8.167 9.034
TOTAL LIABILITAS 5.739.027 5.210.405 4.394.881 3.314.209 2.339.047
EKUITAS
Modal saham 411.449 411.449 411.449 411.449 411.449
PT Sari Dasa Karsa 278.146 278.146 278.146 278.146 278.146
Union Bancaire Branch Privee,
UBP SA Singapore Branch - - - - 22.808
Bank Singapore Limited 22.363 21.490 20.793 - 22.284
Masyarakat 110.940 111.813 112.510 133.303 88.211
Tambahan modal disetor 457 457 457 457 457
Laba (Rugi) komprehensif lain -
neto (17.237) (7.101) (2.957) (3.072) 2.393
8
Page 21
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
Saldo laba
Telah ditentukan penggunaannya 25.000 24.000 23.000 22.000 21.000
Belum ditentukan
penggunaannya 987.669 994.938 962.787 885.107 808.522
TOTAL EKUITAS 1.407.338 1.423.743 1.394.736 1.315.941 1.243.821
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 7.146.365 6.634.148 5.789.617 4.630.150 3.582.868
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Aset
• Pada tahun 2022, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp4,63 triliun,
naik sebesar 29,23% dari total aset sebesar Rp3,58 triliun di tahun 2021. Total
aset ini terdiri atas aset lancar sebesar Rp4,54 triliun dan aset tidak lancar
sebesar Rp92,49 miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya
piutang pembiayaan konsumen pada aset lancar dibandingkan tahun
sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp5,79 triliun,
naik sebesar 25,04% dari total aset yang dicatat tahun 2022. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp5,69 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp97,18
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya piutang pembiayaan
konsumen pada aset lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2024, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp6,63 triliun,
naik sebesar 14,59% dari total aset yang dicatat tahun 2023. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp6,53 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp102,34
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya piutang pembiayaan
konsumen pada aset lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada 2025, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp7,15 triliun, naik
sebesar 7,72% dari total aset yang dicatat tahun 2024. Total aset ini terdiri atas
aset lancar sebesar Rp7,03 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp115,50
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya piutang pembiayaan
konsumen pada aset lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
Liabilitas
• Total liabilitas Perseroan tahun 2022 adalah sebesar Rp3,31 triliun, naik 41,69%
dari akhir tahun 2021 yang sebesar Rp2,33 triliun. Liabilitas ini terdiri atas
liabilitas jangka pendek sebesar Rp3,31 triliun dan liabilitas jangka panjang
sebesar Rp8,17 miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama peningkatan
dari pinjaman bank dan non-bank pada liabilitas jangka pendek dibandingkan
tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2023 adalah sebesar Rp4,39 triliun, naik 32,61%
dari akhir tahun 2022. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar
Rp4,38 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp10,15 miliar. Kenaikan
9
Page 22
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari pinjaman bank dan non-bank
pada liabilitas jangka pendek dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2024 tercatat sebesar Rp5,21 triliun, meningkat
sebesar 18,56% dari akhir tahun 2023. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka
pendek sebesar Rp5,20 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp9,40
miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari pinjaman bank
dan non-bank pada liabilitas jangka pendek dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2025 tercatat sebesar Rp5,74 triliun, meningkat
sebesar 10,15% dari akhir tahun 2024. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka
pendek sebesar Rp5,73 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp12,03
miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun pinjaman bank
dan non-bank pada liabilitas jangka pendek dibanding dibandingkan tahun
sebelumnya.
Ekuitas
• Pada tahun 2022, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 5,80%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2021, menjadi sebesar Rp1,32 triliun.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba belum ditentukan
penggunaannya di tahun 2022.
• Pada tahun 2023, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 5,99%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2022, menjadi sebesar Rp1,39 triliun.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba belum ditentukan
penggunaannya di tahun 2023.
• Pada tahun 2024, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 2,08%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2023, menjadi sebesar Rp1,42 triliun.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba belum ditentukan
penggunaannya di tahun 2024.
• Pada tahun 2025, total ekuitas mengalami penurunan sebesar 1,15%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2024, menjadi sebesar Rp1,41 triliun.
Penurunan ekuitas ini dikontribusi dari oleh turunnya laba (rugi) komprehensif
lain-neto di tahun 2025.
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi)
Kinerja Laba (Rugi) Perseroan selama tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah
sebagai berikut:
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.Juta)
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
PENDAPATAN 923.442 874.934 725.776 599.879 549.985
Sewa pembiayaan 105.198 121.244 144.558 135.228 129.966
Pembiayaan konsumen 678.147 612.900 458.099 360.096 343.087
Anjak Piutang 15.533 7.182 2.580 400 191
Pendapatan bunga dan denda 40.277 43.940 52.473 44.470 43.000
Pendapatan lain-lain 84.287 89.668 68.066 59.685 33.741
10
Page 23
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
BEBAN
Beban keuangan (427.923) (376.396) (281.066) (210.975) (236.165)
Bunga pinjaman bank dan non-bank (404.674) (366.613) (276.007) (208.533) (229.836)
Premi swap (22.826) (9.457) (4.547) (1.912) (6.078)
Lain-lain (423) (326) (512) (530) (251)
Beban Administrasi dan Umum (256.201) (252.353) (233.719) (203.856) (184.261)
Gaji dan tunjangan (148.058) (146.069) (142.175) (132.059) (109.726)
Penyusutan dan amortisasi (19.220) (16.379) (17.871) (20.048) (22.616)
Jasa profesional (13.239) (11.346) (11.226) (10.176) (10.119)
Pemeliharaan dan perbaikan (9.610) (13.662) (8.898) (7.210) (7.471)
Asuransi (7.595) (7.708) (6.669) (6.025) (5.528)
Penagihan (7.625) (7.394) (6.043) (5.742) (8.289)
Biaya berlangganan (12.041) (6.544) (4.671) - -
Transportasi dan komunikasi (6.351) (6.377) (5.983) (5.213) (5.473)
Alat-alat tulis dan perlengkapan (3.775) (4.345) (3.875) (2.499) (2.358)
Perizinan dan pengurusan (4.137) (3.842) (3.067) (1.912) (1.700)
Air, Listrik, dan gas (1.999) (2.167) (1.957) (1.735) (1.765)
Pelatihan dan rekrutmen (3.790) (3.976) (4.044) (1.331) (537)
Sewa (4.960) (6.535) (5.234) (1.155) (1.598)
Imbalan kerja karyawan (3.113) (3.230) (3.229) (1.061) (144)
Beban pajak (6.716) - - - -
Lain-lain (3.972) (12.779) (8.777) (7.690) (6.937)
Beban penyisihan kerugian penurunan nilai (199.995) (138.206) (61.661) (57.315) (84.334)
Piutang pembiayaan konsumen (92.226) (50.803) (37.773) (32.394) (53.402)
Piutang aset tarikan (106.595) (86.745) (23.205) (19.148) (27.923)
Piutang sewa pembiayaan (1.132) (660) (735) (5.705) (3.023)
Kas dan setara kas 1 - 68 (67) 13
Tagihan anjak piutang (43) 2 (16) (1) 1
Beban pemasaran (8.601) (9.720) (5.229) (5.076) (3.128)
Entertainment (3.927) (3.682) (2.818) (2.408) (1.084)
Promosi (2.069) (3.288) (722) (1.029) (834)
Representasi (2.602) (2.748) (1.625) (1.628) (1.205)
Perjalanan dinas (3) (2) (64) (11) -
Beban lain-lain (13.597) (15.021) (11.961) (9.715) (7.294)
Perjalanan dinas (2.412) (2.885) (2.355) (1.779) (1.368)
Administrasi bank (462) (481) (485) (1.405) (1.480)
Bahan bakar (1.811) (1.947) (1.602) (1.160) (1.001)
Bea meterai (585) (677) (701) (602) (454)
Transportasi (609) (552) (278) (169) (123)
Lain-lain (7.718) (8.479) (6.540) (4.600) (2.868)
LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 17.125 83.238 132.140 112.942 34.803
BEBAN PAJAK PENGHASILAN (3.645) (17.171) (27.127) (25.482) (6.100)
Pajak kini (6.353) (18.630) (28.466) (27.395) (7.511)
Pajak tangguhan 2.708 1.459 1.339 1.913 1.411
LABA TAHUN BERJALAN 13.480 66.067 105.013 87.460 28.703
11
Page 24
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021
PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAINNYA
Pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi
Pengukuran kembali atas instrumen derivatif
untuk lindungi nilai arus kas (12.361) (6.236) 156 (6.499) 15.641
Pajak penghasilan terkait 2.719 1.371 (34) 1.430 (3.441)
Pos yang tidak kan direklasifikasi ke laba rugi
Pengukuran kembali atas liabilitas imbalan
pasca kerja (634) 925 (9) (508) 1.082
Pajak penghasilan terkait 140 (204) 2 112 (237)
Jumlah laba komprehensif - setelah pajak (10.136) (4.144) 115 (5.465) 13.045
JUMLAH LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 3.344 61.923 105.128 81.995 41.748
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Pendapatan
• Pada tahun 2022, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp599,88
miliar, naik 9,07% dari Rp549,99 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh peningkatan pendapatan lain-lain sebesar Rp25,94 miliar
dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp725,78
miliar, naik 20,99% dari Rp599,88 miliar pada tahun 2022. Kenaikan
pendapatan dikontribusi oleh peningkatan pembiayaan konsumen sebesar
Rp98,00 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2024, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp874,93
miliar, naik 20,55% dari Rp725,78 miliar pada tahun 2023. Kenaikan
pendapatan dikontribusi oleh peningkatan pembiayaan konsumen sebesar
Rp154,80 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2025, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp932,44
miliar, naik 5,54% dari Rp874,93 miliar pada tahun 2024. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh tercatatnya pembiayaan konsumen sebesar Rp65,25 miliar.
Laba Sebelum Pajak
• Pada tahun 2022, beban keuangan turun sebesar Rp25,19 miliar (10,67%) dari
tahun sebelumnya sebesar Rp236,17 miliar; beban umum dan administrasi naik
menjadi sebesar Rp19,60 miliar (10,63%) dari tahun sebelumnya sebesar
Rp184,26 miliar, beban penyisihan kerugian penurunan nilai turun sebesar
Rp27,02 miliar (32,04%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp84,33 miliar, beban
pemasaran naik sebesar Rp1,95 miliar (62,28%) dari tahun sebelumnya sebesar
Rp3,13 miliar, dan beban lain-lain naik sebesar Rp2,42 miliar (33,19%) dari
tahun sebelumnya sebesar Rp7,29 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 224,52% menjadi Rp112,94 miliar dari
Rp34,80 miliar di tahun 2021.
12
Page 25
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
• Pada tahun 2023, beban keuangan naik sebesar Rp70,09 miliar (33,22%) dari
tahun sebelumnya sebesar Rp210,98 miliar; beban umum dan administrasi naik
sebesar Rp29,86 miliar (14,65%) dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp203,86
miliar, beban penyisihan kerugian penurunan nilai naik sebesar Rp4,35 miliar
(7,58%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp57,32 miliar, beban pemasaran naik
sebesar Rp153,00 juta (3,01%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp5,08 miliar,
dan beban lain-lain naik sebesar Rp2,25 miliar (23,12%) dari Rp9,72 miliar.
Sementara, laba sebelum pajak Perseroan mengalami kenaikan sebesar 17,00%
menjadi Rp132,14 miliar dari Rp112,94 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, beban keuangan naik sebesar Rp95,33 miliar (33,92%) dari
tahun sebelumnya sebesar Rp281,07 miliar; beban umum dan administrasi naik
sebesar Rp18,63 miliar (7,97%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp233,72 miliar,
beban penyisihan kerugian penurunan nilai naik sebesar Rp76,55 miliar
(124,14%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp61,66 miliar, beban pemasaran
naik sebesar Rp4,49 miliar (85,89%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp5,23
miliar, dan beban lain-lain naik sebesar Rp3,06 miliar (25,58%) dari tahun
sebelumnya sebesar Rp11,96 miliar. Sementara, laba sebelum pajak Perseroan
mengalami penurunan sebesar 37,01% menjadi Rp83,24 miliar dari Rp132,14
miliar di tahun 2023.
• Pada tahun 2025, beban keuangan naik sebesar Rp51,53 miliar (13,69%) dari
tahun sebelumnya sebesar Rp376,40 miliar; beban umum dan administrasi naik
menjadi sebesar Rp3,85 miliar (1,52%) dari tahun sebelumnya sebesar
Rp252,35 miliar, beban penyisihan kerugian penurunan nilai naik sebesar
Rp61,79 miliar (44,71%) dari tahun sebelumnya sebesar Rp138,21 miliar, beban
pemasaran turun sebesar Rp1,12 miliar (11,51%) dari tahun sebelumnya
sebesar Rp9,72 miliar, dan beban lain-lain turun sebesar Rp1,42 miliar (9,48%)
dari tahun sebelumnya sebesar Rp15,02 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 79,43% menjadi Rp17,13 miliar dari
Rp83,24 miliar di tahun 2024.
Laba Tahun Berjalan
• Pada tahun 2022, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
304,71% menjadi Rp87,46 miliar dari Rp28,70 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
20,07% menjadi Rp105,01 miliar dari Rp87,46 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
37,09% menjadi Rp66,07 miliar dari Rp105,01 miliar di tahun 2023.
• Pada tahun 2025, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
79,60% menjadi Rp13,48 miliar dari Rp66,07 miliar di tahun 2024.
13
Page 26
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 Average
A. LIQUIDITY (%)
Current Ratio 122,77% 125,59% 129,82% 137,25% 149,45% 132,98%
Quick Ratio 15,82% 17,66% 30,12% 45,38% 46,32% 31,06%
Working Capital To Total Assets 18,25% 20,06% 22,59% 26,60% 32,16% 23,93%
B. ACTIVITY
Total Assets Turnover (X) 0,13 0,13 0,13 0,13 0,15 0,13
Account Receivable Turnover (X) 0,14 0,14 0,14 0,15 0,17 0,15
Average Collection Period (Day) 2.596 2.560 2.645 2.408 2.125 2.467
Working Capital Turnover (X) 0,71 0,66 0,56 0,49 0,48 0,58
C. SOLVABILITY (%)
Total Debt to Equity Ratio 407,79% 365,97% 315,10% 251,85% 188,05% 305,75%
Total Debt to Asset Ratio 80,31% 78,54% 75,91% 71,58% 65,28% 74,32%
Long Term Debt To Equity Ratio 0,86% 0,66% 0,73% 0,62% 0,73% 0,72%
D. RENTABILITY (%)
Operating Profit Margin* 1,85% 9,51% 18,21% 18,83% 6,33% 10,95%
Net Profit Margin 1,46% 7,55% 14,47% 14,58% 5,22% 8,66%
Rate of Return on Investment 0,19% 1,00% 1,81% 1,89% 0,80% 1,14%
Rate of Return on Equity 0,96% 4,64% 7,53% 6,65% 2,31% 4,42%
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Rasio Likuiditas
Selama periode 2021—31 Desember 2025, rasio likuiditas menunjukkan rata-rata
current ratio dan quick ratio adalah sebesar 132,98% dan 31,06%. Sementara itu
untuk working capital to total assets ratio memiliki rata-rata sebesar 23,93%. Hal
ini menunjukkan bahwa Perseroan memiliki aset lancar yang bersifat likuid untuk
membayar seluruh utang jangka pendeknya.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menggambarkan kemampuan Perseroan dalam memanfaatkan aset-
aset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Rata-rata
perputaran aset adalah sebanyak 0,13 kali, yang menunjukkan bahwa kemampuan
Perseroan untuk menghasilkan pendapatan dari total aset yang dimiliki masih cukup
rendah, karena total aset yang dimiliki tidak menghasilkan pendapatan yang lebih
besar dari jumlah aset. Rasio ini mengindikasikan bahwa efektivitas penggunaan
aset oleh Perseroan masih perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan pendapatan
yang lebih optimal.
Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan
pinjaman yang diberikan oleh kreditor baik dalam bentuk jangka pendek maupun
jangka panjang. Salah satu rasio solvabilitas adalah debt to equity ratio (DER)
menunjukkan besarnya porsi utang terhadap ekuitas dalam pembiayaan
perusahaan, sedangkan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan posisi liabilitas
14
Page 27
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
terhadap aset dalam pembiayaan perusahaan. Rasio solvabilitas menunjukkan rata-
rata DER sebesar 305,75%, yang berarti bahwa Perseroan memiliki ketergantungan
terhadap utang yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya untuk
membiayai operasionalnya. Sementara itu, rata-rata DAR adalah sebesar 74,32%,
yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keuangan di tingkat
menengah karena masih memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan aset
melalui utang.
Rasio Rentabilitas
Rasio Rentabilitas menggambarkan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
menghasilkan sebuah laba. Selama periode 2021—31 Desember 2025, rata-rata
operating profit margin sebesar 10,95%. Operating profit margin merupakan rasio
dari laba sebelum pajak terhadap pendapatan sesuai dengan pengungkapan di
laporan keuangan Sementara itu rata-rata net profit margin sebesar 8,66%. Net
profit margin merupakan rasio yang membandingkan antara laba bersih yang
dihasilkan perusahaan dari pendapatan bersih.
Selama periode 2021—31 Desember 2025, rata-rata tingkat balikan terhadap total
investasi (ROI) adalah sebesar 1,14%, menunjukkan bahwa Perseroan mengalami
keuntungan dan dapat menghasilkan laba bersih dari total investasi yang dilakukan.
Selain itu, rata-rata tingkat balikan terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 4,42%,
yang juga menunjukkan bahwa Perseroan mampu menghasilkan laba bersih dari
jumlah ekuitas yang diinvestasikan.
2.3 Produk dan Layanan Perseroan
Saat ini, produk dan jasa yang telah dihasilkan oleh Perseroan sebagai berikut:
Pembiayaan Multiguna
Pembiayaan barang dan/atau jasa yang diperlukan untuk debitur untuk
pemakaian/konsumsi dan bukan untuk keperluan usaha atau aktivitas produktif
dalam jangka waktu yang diperjanjikan.
Produk:
1. Sewa Pembiayaan
2. Pembelian dengan Pembayaran Secara Angsuran
3. Fasilitas Dana
Pembiayaan Investasi
Pembiayaan barang modal beserta jasa yang diperlukan untuk aktivitas
usaha/investasi, rehabilitasi, modernisasi, ekspansi atau relokasi tempat
usaha/investasi yang diberikan kepada debitur.
15
Page 28
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Produk:
1. Sewa Pembiayaan
2. Jual dan Sewa Balik
3. Anjak Piutang dengan Pemberian Jaminan dari Penjual Piutang
4. Anjak Piutang tanpa Pemberian Jaminan dari Penjual Piutang
5. Pembelian dengan Pembayaran secara Angsuran
6. Pembiayaan Proyek
7. Pembiayaan Infrastruktur
Pembiayaan Modal Kerja
Pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran yang habis dalam satu siklus
aktivitas usaha debitur.
Produk:
1. Jual dan Sewa Balik
2. Anjak Piutang dengan Pemberian Jaminan dari Penjual Piutang
3. Anjak Piutang tanpa Pemberian Jaminan dari Penjual Piutang
4. Fasilitas Modal Usaha
Selanjutnya, Perseroan berencana untuk menambah bisnis baru yaitu unit usaha
syariah dengan produk berupa Ijarah Haji & Umroh dan Murabahah kendaraan.
2.4 Teknologi yang Digunakan
Teknologi yang saat ini diimplementasikan oleh Perseroan yaitu:
➢ Office 365 (2021)
➢ Ticketing System (2021)
➢ SD-WAN, NGFW, and SASE (2022)
➢ Endpoint Detection and Response (EDR) (2022)
➢ Branch and DC Network refreshment (2022-2023)
➢ End User Device refreshment (2022-2024)
➢ DC capacity upgrade with HCI (2023)
➢ New Backup System Implementation (2023)
➢ ERP System (2023)
➢ Workflow System (2023)
➢ SIEM and SOAR (2024)
2.5 Pasar yang Dituju
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah masyarakat
yang membutuhkan produk pembiayaan berbasis prinsip syariah, yang
mengedepankan nilai keadilan, transparansi, serta bebas dari unsur riba. Selain itu,
produk ini juga ditujukan bagi nasabah yang menginginkan alternatif dan
16
Page 29
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
diversifikasi layanan keuangan selain produk pembiayaan konvensional, dengan
tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariah.
2.6 Pesaing dan Persaingan
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
No Pesaing Produk
1. Amitra Syariah Financing Pembiayaan haji, pembiayaan umroh
2. Zada Syariah Pembiayaan haji dan umroh, pembiayaan logam
mulia, dan pembiayaan otomotif
3. Citifin Multi Finance Syariah Pembiayaan anjak piutang, pembiayaan
otomotif, pembiayaan pengurusan porsi haji,
pembiayaan umroh, dan pembiayaan pemilikan
rumah
4. Pembiayaan umroh, pembiayaan sepeda motor
Syariah Adira FInance
syariah, dan pembiayaan mobil syariah
5. Mufsyariah Pembiayaan mobil syariah dan pembiayaan
motor syariah
6. Womfinance Logam mulia-masku, porsi haji-hajiku, dan
motor baru syariah.
7. BFI Syariah Pembiayaan modal umroh, pembiayaan mobil
bekas syariah, dan pembiayaan multiguna
syariah
2.7 Pola Bisnis
Secara operasional, pola bisnis pembiayaan syariah mencakup aspek bisnis dan non
bisnis (seperti aspek syariah/sosial) dari beragam aktifitas ekonomi dan sosial
masyarakat. Aspek bisnis adalah operasional pembiayaan syariah yang
menguntungkan (profitable) bagi stakeholder dan perekonomian nasional pada
umumnya disamping memudahkan aktivitas bisnis masyarakat dan mendorong
pertumbuhan industri pembiayaan syariah dan perekonomian nasional. Sedangkan
aspek syariah adalah kesesuaian model bisnis pembiayaan syariah Indonesia dengan
maqasid al syariah yang mengandung unsur keadilan, kemaslahatan dan
keseimbangan guna mencapai masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera secara
material dan spiritual.
Dalam Islam sistem pembiayaan syariah merupakan bentuk sistem keuangan yang
berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah Islam, yang melarang praktik riba, gharar
17
Page 30
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
(ketidakpastian), dan maysir (spekulasi). Filosofi utama pembiayaan syariah adalah
menciptakan keadilan, transparansi, dan keseimbangan dalam aktivitas keuangan,
dengan tujuan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berbasis
etika. Sistem ini menggunakan akad-akad tertentu, seperti mudharabah (bagi hasil),
musyarakah (kerja sama), ijarah (sewa), dan murabahah (jual beli dengan margin
keuntungan), untuk memastikan transaksi sesuai dengan nilai-nilai Islam. Selain itu,
pembiayaan syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga
bertujuan untuk memberikan manfaat sosial melalui alokasi dana zakat, infaq, dan
sedekah.
2.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
adalah:
1. Promosi produk berupa pemanfaatan media sosial sebagai media promosi
WhatsApp, Facebook, Instagram, Tiktok, dan semua media sosial yang dapat
dimanfaatkan dengan tata cara mengikuti ketentuan dari regulator;
2. Membuka kantor layanan syariah di kantor unit pembiayaan yang dimiliki
Perseroan;
3. Membuat suatu produk layanan dan media yang memiliki visi misi yang jelas
serta program-program yang dapat bermanfaat bagi masyarakat yang
membutuhkan.
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan melakukan
penambahan tenaga kerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari dewan pengawas
sebanyak 2 orang, dan kepala unit usaha sebanyak 1 orang, sedangkan sisanya
menggunakan tenaga kerja eksisting.
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan
manajemen dan sumber daya manusia, sehingga akan mengadakan rekrutmen
sebanyak 3 orang.
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual
Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki Hak Atas
Kekayaaan Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan
usaha baru.
18
Page 31
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait
Beberapa peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan penambahan
kegiatan usaha Perseroan, antara lain adalah:
1. Peraturan perundang-undangan terkait penilaian adalah Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
2. POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
Kegiatan Usaha.
3. POJK No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
4. Peraturan BPS Nomor 7 Tahun 2025, Tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
2.13 Aspek Lingkungan
Tanggung jawab Perseroan di bidang lingkungan hidup tercermin dari komitmen
Perseroan dalam pemakaian listrik. Perseroan senantiasa mendorong agar seluruh
karyawan dapat bijak dalam menggunakan energi. Upaya ini dilakukan dengan cara
melakukan himbauan agar mematikan perangkat kerja serta perangkat listrik lain,
seperti AC, saat sedang tidak digunakan. Selanjutnya Perseroan terus berupaya
mengurangi penggunaan kertas secara bertahap dalam proses pencatatan dan
pelaporan pembayaran angsuran pinjaman serta laporan lainnya. Upaya ini
dilakukan dengan menerapkan sistem pembayaran digital dan mendigitalisasi
aktivitas operasional lainnya. Perseroan juga mendorong nasabah di kantor cabang
tertentu yang masih menerima pembayaran tunai untuk beralih ke pembayaran
digital melalui payment point yang lebih praktis dan efisien. Secara
berkesinambungan, Perseroan mensosialisasikan inisiatif ini guna meningkatkan
kesadaran akan pentingnya pengurangan penggunaan kertas.
2.14 Faktor Risiko Utama
Dalam menjalankan usahanya, Perseroan berpotensi menghadapi beberapa risiko
yang dapat memengaruhi kinerja Perseroan. Beberapa risiko utama yang dihadapi
Perseroan antara lain:
1) Risiko Penggunaan Akad Tidak Sesuai;
2) Risiko Produk atau Layanan Tidak Sesuai;
3) Risiko Laporan Keuangan/kepatuhan Tidak Sesuai;
4) Risiko Transaksi Melanggar Prinsip Syariah.
19
Page 32
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex) dan biaya operasional awal, sehingga Perseroan akan
melakukan pendanaan yang bersumber dari kas yang tersedia.
20
Page 33
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
3 KELAYAKAN PASAR
3.1 Kondisi Pasar
Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7—5,5%.
Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat dalam kisaran 4,9—
5,7%, ditopang kenaikan permintaan domesik sejalan dengan berbagai kebijakan
Pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari baurang kebijakan Bank Indonesia
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Efektivitas berbagai program stimulus Pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat
untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Investasi
juga diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh berlanjutnya program prioritas
Pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), sehingga diharapkan
makin dapat meningkatkan produktivitas dan kapasitas perekonomian. Bank
Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan
monter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan
kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan
yang lebih tinggi dan berdaya tahan.
Tabel 6 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran
2023 2024 2025
Komponen 2022 2023 2024
I II III IV I II III IV I II III
Konsumsi Rumah Tangga 4,94 4,53 5,22 5,05 4,47 4,82 4,91 4,93 4,91 4,98 4,94 4,95 4,97 4,89
Konsumsi Lembaga
Nonprofit yang Melayani
Rumah Tangga 5,66 6,29 8,78 6,4 18,4 10 24,1 9,79 11,5 6,06 12,5 7,82 7,82 4,28
Konsumsi Pemerintah -4,42 3,33 -3,86 10,5 2,94 3,02 20,4 4,62 2,03 4,17 6,61 -1,37 -0,33 5,49
Investasi (PMTDB) 3,87 1,53 5,08 4,05 4,32 3,76 3,78 5,16 4,42 5,03 4,61 6,99 6,99 5,04
Investasi Bangunan 0,91 0,08 6,31 3,32 6,42 4,04 5,46 6,02 5,31 5,26 5,51 4,89 4,89 3,02
Investasi Nonbangunan 12,5 5,7 2,05 6,1 -0,78 3,03 -0,78 2,96 1,97 4,4 2,23 12,9 12,9 10,34
Ekspor 16,2 11,7 -3,91 -2,84 1,66 1,34 1,48 8,13 8,79 7,63 6,51 6,46 10,7 9,91
Impor 15,00 4,12 -3,25 -6,82 0,14 -1,6 1,5 11,9 7,79 10,4 7,95 4,17 11,7 1,18
PDB 5,31 5,04 4,94 5,17 5,04 5,05 5,11 5,05 4,95 5,02 5,03 4,87 5,12 5,04
Sumber: Bank Indonesia
Berdasarkan Lapangan Usaha (LU), LU utama seperti LU Industri Pengolahan, LU
Perdagangan Besar dan Eceran, serta LU Informasi dan Komunikasi menunjukkan
kinerja positif.
21
Page 34
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
2023 2024 2025
Komponen 2022 2023 2024
I II III IV I II III IV I II III
Pertanian, Kehutanan, dan
2,25 0,44 2,03 1,49 1,13 1,31 -3,54 3,25 1,69 0,71 0,67 10,52 1,65 4,93
Perikanan
Pertambangan dan
4,38 4,92 5,01 6,95 7,46 6,12 9,31 3,17 3,46 3,95 4,9 -1,23 2,03 -1,98
Penggalian
Industri Pengolahan 4,89 4,43 4,88 5,19 4,07 4,54 4,13 3,95 4,72 4,89 4,43 4,55 5,68 5,54
Pengadaan Listrik dan Gas 6,61 2,67 3,15 5,06 8,68 4,91 5,35 5,39 5,02 3,42 4,77 5,11 0,9 2,86
Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah dan Daur 3,23 5,7 4,78 4,49 4,66 4,9 4,44 0,84 0,03 1,06 1,56 0,18 0,82 3,32
Ulang
Konstruksi 2,01 0,32 5,23 6,39 7,68 4,91 7,59 7,29 7,48 5,81 7,02 2,18 4,98 4,21
Perdagangan Besar dan
Eceran Reparasi Mobil dan 5,53 4,94 5,3 5,1 4,09 4,85 4,58 4,85 4,82 5,19 4,86 5,03 5,37 5,49
Sepeda Motor
Transportasi dan
19,87 15,93 15,28 14,74 10,33 13,96 8,66 9,56 8,64 7,92 8,69 9,01 8,52 8,62
Pergudangan
Penyediaan Akomodasi dan
11,94 11,54 9,91 10,93 7,88 10 9,34 10,15 8,32 6,61 8,56 5,75 8,04 8,41
Makan Minum
Informasi dan Komunikasi 7,73 7,11 8,03 8,51 6,74 7,59 8,41 7,66 6,82 7,45 7,57 7,72 7,92 9,65
Jasa Keuangan dan Asuransi 1,93 4,45 2,86 5,24 6,56 4,77 3,93 7,9 5,49 1,74 4,74 3,98 3,2 0,77
Real Estat 1,72 0,37 0,96 2,21 2,18 1,43 2,54 2,16 2,32 2,97 2,5 2,94 3,71 3,95
Jasa Perusahaan 8,77 6,37 9,59 9,37 7,62 8,24 9,63 7,96 7,93 8,08 8,38 9,27 9,31 9,94
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan 2,52 2,13 8,18 -6,24 1,63 1,51 18,89 2,81 3,94 1,16 6,4 4,79 4,69 4,33
Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 0,55 1,02 5,42 -2,09 2,63 1,77 7,43 2,44 2,56 2,95 3,75 5,04 1,4 10,59
Jasa Kesehatan dan
2,75 4,77 8,27 2,92 3,09 4,67 11,65 8,57 7,65 5,2 8,11 5,78 3,8 6,83
Kegiatan Sosial
Jasa lainnya 9,47 8,9 11,89 11,14 10,15 10,52 8,92 8,85 9,95 11,36 9,8 9,84 11,31 9,92
PDB 5,31 5,04 5,17 4,94 5,04 5,05 5,11 5,05 4,95 5,02 5,03 4,87 5,12 5,04
Sumber: Bank Indonesia
Neraca Pembayaran Indonesia
NPI triwulan IV 2025 diprakirakan tetap baik ditopang neraca perdagangan yang
pada November 2025 kembali mencatat surplus sebesar US$2,7 miliar didukung
oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam seperti logam mulia dan
perhiasan/permata, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Sementara itu, aliran modal triwulan IV 2025 mencatat net inflows terutama
ditopang kenaikan cukup tinggi pada bulan Desember 2025 yang bersumber dari
penerbitan global bond, setelah sebelumnya pada bulan Oktober dan November
2025 tercatat rendah sejalan dengan ketidakpastian global yang masih tinggi. Posisi
cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar
US$156,5 miliar, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor
dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar
kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
22
Page 35
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 8 Neraca Pembayaran Indonesia
2023 2024* 2025
Komponen (Miliar US$)
I II III IV Total I II III IV Total I* II** III**
Transaksi Berjalan 2,9 -2,3 -1,3 -1,4 -2,0 -2,4 -3,0 -2,0 -1,3 -8,7 -0,2 -2,7 40,5
A. Barang 1) 14,8 10,0 10,2 11,4 46,3 9,3 10,0 9,2 11,3 39,8 13,0 10,6 16,1
- Ekspor, fob 66,8 61,6 63,5 65,9 257,7 61,9 62,3 67,5 71,3 263,1 65,9 68,0 73,9
- Impor, fob -52,1 -51,6 -53,3 -54,5 -211,4 -52,6 -52,3 -58,3 -60,0 -223,3 -53,0 -57,4 -57,8
a. Nonmigas 19,0 15,2 16,0 17,7 67,8 15,1 15,2 14,7 17,8 62,7 18,8 15,7 20,9
b. Migas -3,9 -4,7 -5,4 -5,9 -19,9 -5,5 -4,6 -4,4 -5,1 -19,6 -4,7 -4,2 -4,8
B. Jasa - jasa -4,5 -4,5 -3,9 -4,8 -17,7 -4,2 -5,0 -4,2 -5,2 -18,6 -5,5 -5,2 -4,3
C. Pendapatan Primer -8,8 -9,2 -8,8 -9,3 -36,0 -8,8 -9,4 -8,5 -9,0 -35,9 -9,3 -9,8 -9,4
D. Pendapatan
1,4 1,4 1,3 1,3 5,4 1,3 1,4 1,5 1,7 6,0 1,6 1,7 1,7
Sekunder
Transaksi Modal &
4,0 -4,5 -0,5 10,8 9,8 -2,4 2,6 8,0 9,4 17,6 -0,4 -3,5 -8,1
Finansial
1. Investasi Langsung 4,4 3,9 2,7 3,4 14,4 4,9 2,3 5,1 3,4 15,7 2,5 3,5 2,5
2. Investasi Portofolio 3,0 -2,6 -3,0 4,9 2,2 -2,1 3,2 9,8 -2,5 8,3 1,0 -8,1 -7,1
3. Investasi Lainnya -3,6 -5,6 -0,1 2,4 -6,9 -4,8 -3,3 -7,2 8,5 -6,7 -4,2 1,0 -3,4
Neraca Keseluruhan 6,5 -7,4 -1,5 8,6 6,3 -6,0 -0,6 5,9 7,9 7,2 -0,8 -6,7 -6,4
- Cadangan Devisa 145,2 137,5 134,9 146,4 146,4 140,4 140,2 149,9 155,7 155,7 157,1 152,6 148,7
Dalam Bulan Impor dan
Pembayaran Utang Luar 6,2 6,0 6,0 6,5 6,5 6,2 6,1 6,4 6,5 6,5 6,5 6,2 6,0
Negeri Pemerintah
- Transaksi Berjalan (%
0,9 -0,7 -0,4 -0,4 -0,1 -0,7 -0,9 -0,6 -0,3 -0,6 -0,1 -0,8 1,1
PDB)
Sumber: Bank Indonesia *Angka sementara; **Angka sangat sementara
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah pada 20 Januari 2026 tercatat sebesar Rp16.945 per US$,
melemah 1,53% (ptp) bila dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat
meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, kenaikan
permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan
ekonomi turut memengaruhi kinerja Rupiah. Guna menjaga stabilitas nilai tukar
Rupiah, Bank Indonesia menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi
di pasar NDF baik di off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot. Respons
kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar Rupiah dan tetap konsisten
dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026.
23
Page 36
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Gambar 1 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara
Berkembang
Sumber: Bank Indonesia
Inflasi
Gambar 2 Grafik Inflasi IHK dan Komponen
Sumber: Bank Indonesia
Inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,38% (yoy), sejalan pertumbuhan ekonomi
yang masih di bawah kapasitas serta didukung konsistensi suku bunga kebijakan
moneter BI dalam menjangkar ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya
dan imported inflation yang tetap terkendali. Inflasi kelompok administered
prices (AP) terjaga rendah sebesar 1,93% (yoy). Sementara itu, inflasi
kelompok volatile food (VF) masih relatif tinggi sebesar 6,21% (yoy) disumbang
24
Page 37
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
terutama oleh komoditas bawang merah seiring pasokan yang terbatas akibat
gangguan cuaca dan kenaikan harga benih.
Kondisi Pasar Pembiayaan Haji dan Umroh
Kondisi pasar pembiayaan haji dan umroh erat kaitannya dengan perkembangan
penyelenggaraan ibadah haji dan umroh di Indonesia yang mengalami
perkembangan pesat seiring meningkatnya minat masyarakat untuk menunaikan
ibadah ke Tanah Suci. Industri penyelenggaraan ibadah haji dan umroh merupakan
salah satu sektor industri keagamaan yang paling dinamis sekaligus paling sensitif
di Indonesia. Setiap tahun, ratusan ribu hingga jutaan jamaah berangkat ke Tanah
Suci, bukan hanya sebagai ekspresi spiritual, tetapi juga sebagai manifestasi
kepercayaan publik terhadap tata kelola dan pelayanan negara.
Berdasarkan data SISKOHAT Kementerian Agama per pertengahan 2025, sebanyak
203.149 jemaah haji reguler Indonesia diberangkatkan, dengan puncak haji pada 5
Juni 2025. Angka ini menunjukkan komitmen kuat masyarakat Indonesia untuk
melaksanakan rukun Islam kelima, sekaligus menjadi salah satu rombongan haji
terbesar di dunia.
Di sisi lain, terjadi peningkatan jumlah jamaah umroh yang cukup signifikan: 1,39
juta pada 2023, naik menjadi 1,47 juta pada 2024, dan diproyeksikan melampaui
1,6 juta jamaah pada 2025. Sampai dengan April 2025 (empat bulan berjalan),
jumlah jamaah umroh telah mencapai 648.485 orang atau sebesar 44,20% jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut memperlihatkan
betapa besar minat masyarakat Muslim Indonesia untuk melaksanakan ibadah
umroh paskapandemi.
Gambar 3 Perkembangan Jumlah Jamaah Haji dan Umroh Tahun 2023-2025
(orang)
1.800.000
1.600.000
1.400.000
1.200.000
1.000.000
800.000
600.000
400.000
200.000
-
2023 2024 F2025
Haji Umroh
Sumber: BPS, HIMPUH, dan SISKOPATUH
25
Page 38
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Kondisi Pasar Pembiayaan Kendaraan
Kondisi pasar pembiayaan kendaraan roda empat sejalan dengan pertumbuhan
jumlah populasi kendaraan roda empat selain mobil barang dan bus di Indonesia
yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sebesar 15,80 juta unit di
tahun 2020 menjadi 20,91 juta unit di tahun 2025. Data resmi menunjukkan
populasi kendaraan tersebut secara nasional bertambah seiring meningkatnya
kebutuhan mobilitas masyarakat di berbagai daerah. Berdasarkan catatan Badan
Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 populasi kendaraan tersebut meningkat
sebesar 2,27% dari tahun sebelumnya khususnya di Pulau Jawa. Selama periode
2020 hingga 2025, jumlah kendaraan roda empat selain mobil barang dan bus di
Indonesia mengalami pertumbuhan dengan rata-rata sebesar 5,87%.
Gambar 4 Perkembangan Populasi Mobil (unit)
25.000.000
20.000.000
15.000.000
10.000.000
5.000.000
-
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Mobil 15.797.746 16.413.348 18.948.976 19.710.434 20.444.507 20.907.972
Sumber: BPS
Gambar 5 Lima Provinsi dengan Populasi Mobil Terbanyak Tahun 2025 (unit)
5.588.804
2.980.773
2.336.960
1.741.611
1.066.756
Jawa Timur Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Tengah Banten
Sumber: BPS
26
Page 39
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji dan
umroh ke tanah suci serta pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat, maka
kondisi pasar pembiayaan haji dan umroh serta pembiayaan kendaraan bermotor
memiliki potensi yang baik.
3.2 Pangsa Pasar
Menurut Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Kinerja Keuangan Syariah
Terus Menguat Hingga September 2025, kinerja industri keuangan syariah sepanjang
tahun 2025 menunjukkan tren positif yang semakin menguat dari waktu ke waktu.
Per September 2025, total aset keuangan syariah mencapai Rp12.698 triliun, tumbuh
signifikan sebesar 26,4% dibandingkan dengan tahun lalu. Pertumbuhan ini juga jauh
lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan total aset keuangan nasional
yang hanya sebesar 11,5% (YoY). Kenaikan aset tersebut berdampak pada
peningkatan market share keuangan syariah menjadi 30,9%, naik dari 27,3% pada
periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menunjukkan semakin
kuatnya daya saing dan ketahanan sektor keuangan syariah Indonesia.
Sektor pasar modal syariah kembali menjadi kontributor terbesar dengan
pertumbuhan aset mencapai 29% (YoY) yang melampaui pertumbuhan pasar modal
nasional sebesar 15,4%. Total aset pasar modal syariah saat ini mencapai Rp11.284
triliun. Perhitungan aset sektor ini mencakup kapitalisasi saham syariah dan
Securities Crowdfunding (SCF) Syariah. Jika dibandingkan pada September 2024,
seluruh instrumen pasar modal syariah mengalami pertumbuhan positif. Kapitalisasi
saham syariah bertambah Rp2.617 triliun dan outstanding sukuk negara meningkat
Rp64 triliun. Market share pasar modal syariah yang mencapai 46,7%, juga
memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dalam ekosistem keuangan
syariah Indonesia.
Sektor perbankan syariah turut menunjukkan tren positif dengan total aset
menembus Rp1.006 triliun per September 2025, tumbuh 9,4% (YoY). Pertumbuhan
tersebut lebih cepat dibandingkan pertumbuhan aset perbankan nasional sebesar
6,5%. Selanjutnya, market share perbankan syariah tercatat sebesar 7,7%.
Peningkatan juga terlihat pada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp794 triliun,
tumbuh 7,51% atau bertambah Rp55,47 triliun sejak Juni 2025. Sementara itu,
pembiayaan syariah mencapai Rp676 triliun, tumbuh 1,47% selama tiga bulan
terakhir. Rangkaian capaian ini memperlihatkan pemulihan intermediasi serta
peningkatan aktivitas pembiayaan di sektor ekonomi riil.
Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah mencatat total aset sebesar Rp407,47
triliun pada September 2025, atau tumbuh 6,7% (YoY) lebih tinggi dibandingkan
pertumbuhan di sektor IKNB nasional yang mencapai 5,7%. Peningkatan ini juga
mendorong market share IKNB syariah mencapai 10,8%. Perhitungan aset sektor ini
27
Page 40
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
mencakup Lembaga Pengelola Dana Haji / BPKH, koperasi syariah, termasuk layanan
syariah BPJS Ketenagakerjaan dan BP Tapera yang telah berjalan sejak 2021 dan 2022.
Dari seluruh entitas tersebut, BPKH menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi
mencapai 45%.
Kenaikan signifikan di seluruh sektor menjadi indikator kuat bahwa ekosistem
keuangan syariah Indonesia terus menguat. Pertumbuhan positif ini tidak hanya
meningkatkan daya saing sektor keuangan nasional, tetapi juga memberikan fondasi
yang kuat bagi pembiayaan pembangunan, penguatan UMKM, inklusi keuangan
syariah, serta percepatan ekonomi berkelanjutan. Dengan tren pertumbuhan yang
terus meningkat hingga September 2025, keuangan syariah Indonesia berada pada
posisi yang semakin kuat dalam menuju ekosistem yang inklusif, resilien, dan
berdaya saing global.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal
Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK (KE
PVML), piutang pembiayaan perusahaan multifinance syariah mencatatkan
pertumbuhan dobel digit per November 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
menyampaikan piutang pembiayaan multifinance syariah tercatat sebesar Rp30,84
triliun per Desember 2025 atau meningkat 12,43% jika dibandingkan periode sama
pada tahun sebelumnya.
Jika ditelaah berdasarkan data OJK, pertumbuhan piutang pembiayaan syariah per
Desember 2025 tercatat tumbuh 29,49% jika dibandingkan capaian per Desember
2024 yang sebesar Rp27,43 triliun. OJK mencatat aset perusahaan pembiayaan atau
multifinance syariah per Desember 2025 mencapai Rp40,53 triliun. Nilai itu tercatat
meningkat 19,63%, jika dibandingkan capaian per Desember 2024 yang sebesar
Rp33,88 triliun.
KE PVML OJK menambahkan bahwa adapun gearing ratio perusahaan pembiayaan
syariah 1,00 kali per Desember 2025. Angka itu terbilang masih berada jauh di bawah
batas maksimum 10 kali, walaupun sempat diperkirakan bahwa kinerja pembiayaan
syariah terus berpeluang tumbuh ke depannya. Hal itu seiring dengan adanya
kewajiban perusahaan pembiayaan atau multifinance yang memiliki Unit Usaha
Syariah (UUS) untuk melakukan pemisahan atau spin off jika sudah memenuhi
sejumlah kriteria, seperti modal inti dan total aset berdasarkan laporan keuangan
tahunan yang diaudit. Adapun aturan tersebut tertuang dalam Peraturan OJK (POJK)
Nomor 46 Tahun 2024.
Pelaksanaan spin off UUS diharapkan dapat memperkuat kelembagaan dan
meningkatkan fokus pembiayaan berbasis syariah. Ditambah, mendorong daya saing
dan pertumbuhan berkelanjutan industri pembiayaan syariah. Langkah itu diharapkan
28
Page 41
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
dapat memperluas pangsa pasar dan memperkuat peran pembiayaan syariah dalam
mendukung perekonomian nasional.
Sampai akhir 2024, cabang/kios syariah pesaing-pesaing Perseroan sebagai
berikut:
1. Adira Finance telah memiliki 110 unit, yang terdiri dari 42 cabang syariah dan
68 kios syariah.
2. Mandiri Utama Finance telah memiliki 164 unit, sebanyak 92 cabang Syariah
dan 72 kantor non cabang syariah.
3. WOM Finance telah memiliki 164 unit, sebanyak 92 cabang Syariah dan 72
kantor non cabang syariah.
Sedangkan pada tahun 2024, market share pesaing-pesaing Perseroan sebagai
berikut:
1. Total pembiayaan Adira Dinamika Multi Finance sebesar Rp21,7 triliun
sementara unit syariah memiliki pembiayaan sebesar Rp6,3 triliun atau 29% dari
total pembiayaan.
2. Total pembiayaan Mandiri Utama Finance sebesar Rp13,8 triliun sementara unit
syariah memiliki pembiayaan sebesar Rp1,4 triliun atau 10% dari total
pembiayaan.
3. Total pembiayaan WOM Finance sebesar Rp6,2 triliun sementara unit syariah
memiliki pembiayaan sebesar Rp200 miliar atau 3,3% dari total pembiayaan.
4. Total pembiayaan Federal International Finance (FIF) sebesar Rp13,8 triliun
sementara unit syariah memiliki pembiayaan sebesar Rp1,4 triliun atau 10% dari
total pembiayaan.
Perseroan menargetkan pangsa pasar (market share) secara bertahap dan terukur,
dengan fokus pada pembiayaan Umroh dengan target market sebesar 225 jamaah di
tahun 2026 dan 495 jamaah di 2027. Selanjutnya diproyeksikan bertumbuh 10%
untuk di tahun-tahun berikutnya. Dari total pasar Umroh nasional sebesar 1.467.005
jamaah (sumber: siskopatuh kemenag 2024), target pangsa pasar Perseroan sebesar
±0,02%, dengan konsentrasi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.
Target penyaluran pembiayaan murabahah tahun 2026 dan tahun 2027 masing-
masing sebesar Rp127,41 miliar dan Rp280,30 miliar. Selanjutnya diproyeksikan
bertumbuh 10% untuk di tahun-tahun berikutnya. Dengan penyaluran pembiayaan
tersebut, maka Perseroan memproyeksikan pangsa pasar pada akhir tahun 2026
sebesar ±0,6% dari piutang bersih pembiayaan jual beli berdasarkan prinsip syariah
secara nasional yang tercatat 19,17 triliun (data statistik lembaga pembiayaan OJK
per Desember 2025).
Dibandingkan kompetitor utama yang berfokus pada penetrasi ritel dan kemitraan
travel secara luas, Perseroan mengambil diferensiasi melalui segmen korporasi yang
lebih terstruktur melalui skema B2B (payroll deduction), sehingga menghasilkan
29
Page 42
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
kualitas portofolio yang lebih baik dan risiko yang lebih terjaga. Dengan dukungan
basis nasabah eksisting dan kemitraan strategis, Perseroan optimis dapat
meningkatkan pangsa pasar secara bertahap seiring pertumbuhan bisnis.
3.3 Kesinambungan
Lapangan usaha jasa keuangan lainnya meliputi kegiatan jasa keuangan yang
utamanya mengenai pemberian pinjaman oleh lembaga yang tidak tercakup dalam
perantara moneter (perusahaan modal ventura, bank, kelompok investasi), dan
kegiatan jasa keuangan yang utamanya mengenai pendistribusian dana selain
membentuk pinjaman, seperti kegiatan pepabrikan, tulisan dari borter, pilihan dan
pengaturan pemagaran lainnya, kegiatan dari perusahaan penyelesaian pembelian
polis asuransi dari perusahaan yang pailit.
Pada tahun 2025, lapangan usaha ini memberikan kontribusi sebesar Rp79.996,50
miliar atau setara 0,59% dari PDB atas dasar harga konstan 2010. Angka tersebut
meningkat sebesar 18,50% dari tahun 2020 yang mencapai Rp67.507,60 miliar.
Dengan penghitungan atas dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan
usaha jasa keuangan lainnya tahun 2025 sebesar 6,75% dari tahun sebelumnya
dengan rata-rata pertumbuhan selama tahun 2020-2025 sebesar 3,50%.
Berikut perkembangan laju pertumbuhan PDB lapangan usaha jasa keuangan lainnya
selama tahun 2020-2025.
Gambar 6 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Jasa Keuangan Lainnya (Rp Miliar)
7,00% 90.000
6,00% 80.000
5,00% 70.000
4,00%
60.000
3,00%
50.000
2,00%
40.000
1,00%
30.000
0,00%
-1,00% 20.000
-2,00% 10.000
-3,00% 0
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: BPS
30
Page 43
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
3.4 Potensi Pasar
Potensi pasar pembiayaan syariah di Indonesia sangat besar, didorong oleh populasi
Muslim terbesar di dunia (>200 juta jiwa), peningkatan literasi keuangan syariah, dan
pertumbuhan industri halal. Data tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan aset
perusahaan pembiayaan syariah mencapai 11,37% yoy dari sebesar Rp30,42 triliun di
tahun 2023. Pada 2025, pertumbuhan aset perusahaan pembiayaan syariah mencapai
Rp40,53 triliun atau meningkat sebesar 19,63% yoy dari tahun sebelumnya. Selain
itu, potensi pasar usaha ini juga terlihat dari pertumbuhan aset perusahaan
pembiayaan syariah selama tahun 2020—2025 dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 21,97%.
Gambar 7 Perkembangan Aset Perusahaan Pembiayaan Syariah Tahun 2020-2025
(Rp Triliun)
45,00
40,53
40,00
35,00 33,88
30,42
30,00
25,00 21,88
20,00 16,79
15,33
15,00
10,00
5,00
-
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: OJK
Dari sisi piutang pembiayaan, pertumbuhan piutang pembiayaan perusahaan
pembiayaan syariah pada tahun 2024 sebesar Rp27,43 triliun atau meningkat sebesar
10,47% yoy dari sebesar Rp24,83 triliun di tahun 2023. Pada tahun 2025, piutang
pembiayaan perusahaan pembiayaan syariah sebesar Rp35,52 triliun atau meningkat
sebesar 29,49% dari tahun sebelumnya. Selama tahun 2020—2025, pertumbuhan
piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan syariah mengalami pertumbuhan
dengan rata-rata sebesar 25,49%.
Gambar 8 Perkembangan Piutang Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Syariah
Tahun 2020-2025 (Rp Triliun)
31
Page 44
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
40,00
35,52
35,00
30,00 27,43
24,83
25,00
18,66
20,00
13,56
15,00 11,61
10,00
5,00
-
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: OJK
Potensi Pasar Pembiayaan Haji dan Umroh
Potensi pasar pembiayaan haji dan umroh di Indonesia dapat dilihat dari
perkembangan piutang lembaga pembiayaan konvensional maupun syariah.
Merujuk pada data Statistik Lembaga Pembiayaan yang dirilis oleh OJK, selama lima
tahun terakhir, piutang pembiayaan berdasarkan objek pembiayaan jasa
wisata/perjalanan cenderung mengalami peningkatan dari sebesar Rp144,00 miliar
di tahun 2020 hingga sebesar Rp1,35 triliun di tahun 2025.
Gambar 9 Perkembangan Piutang Pembiayaan Berdasarkan Objek Pembiayaan
Jasa Wisata/Perjalanan Untuk Perusahaan Pembiayaan Konvesional dan Syariah
Tahun 2020-2025
(Rp Miliar)
1.354,6
1.120,6
803,0
460,2
257,2
144,00
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: OJK
32
Page 45
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Potensi Pasar Pembiayaan Kendaraan
Potensi pasar pembiayaan kendaraan roda empat di Indonesia dapat dilihat dari
perkembangan piutang pembiayaan lembaga pembiayaan konvensional maupun
syariah. Berdasarkan pada data Statistik Lembaga Pembiayaan yang diterbitkan oleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam lima tahun terakhir, piutang pembiayaan
berdasarkan objek pembiayaan kendaraan roda empat menunjukkan pertumbuhan
yang stabil dari sebesar Rp169,61 triliun di tahun 2020 yang kemudian meningkat
hingga sebesar Rp250,84 triliun pada tahun 2024, dan sebesar Rp243,39 triliun
pada tahun 2025.
Gambar 10 Perkembangan Piutang Pembiayaan Berdasarkan Objek Pembiayaan
Kendaraan untuk Perusahaan Pembiayaan Konvesional dan Syariah Tahun 2020-
2025
(Rp Miliar)
300.000
250.000
200.000
150.000
100.000
50.000
0
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: OJK
3.5 Sasaran
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah masyarakat
yang membutuhkan produk pembiayaan berbasis prinsip syariah, yang
mengedepankan nilai keadilan, transparansi, serta bebas dari unsur riba. Selain itu,
produk ini juga ditujukan bagi nasabah yang menginginkan alternatif dan
diversifikasi layanan keuangan selain produk pembiayaan konvensional, dengan
tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariah.
3.6 Potensi Nilai Pasar
33
Page 46
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Dari Penambahan Kegiatan Usaha baru ini, Perseroan diproyeksikan mencatatkan
pendapatan di tahun 2026 sebesar Rp8,48 miliar, tahun 2027 sebesar Rp48,19
miliar, tahun 2028 sebesar Rp85,79 miliar, tahun 2029 sebesar Rp113,93 miliar,
dan tahun 2030 sebesar Rp130,88 miliar.
3.7 Pesaing Usaha
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam pembiayaan syariah. Saat ini, beberapa pesaing yang
memiliki bidang usaha yang sama dengan Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 9 Perusahaan Pesaing
No Pesaing Produk
1. Amitra Syariah Financing Pembiayaan haji, pembiayaan umroh
2. Zada Syariah Pembiayaan haji dan umroh, pembiayaan logam
mulia, dan pembiayaan otomotif
3. Citifin Multi Finance Syariah Pembiayaan anjak piutang, pembiayaan
otomotif, pembiayaan pengurusan porsi haji,
pembiayaan umroh, dan pembiayaan pemilikan
rumah
4. Pembiayaan umroh, pembiayaan sepeda motor
Syariah Adira FInance
syariah, dan pembiayaan mobil syariah
5. Mufsyariah Pembiayaan mobil syariah dan pembiayaan
motor syariah
6. Womfinance Logam mulia-masku, porsi haji-hajiku, dan
motor baru syariah.
7. BFI Syariah Pembiayaan modal umroh, pembiayaan mobil
bekas syariah, dan pembiayaan multiguna
syariah
3.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
adalah:
1. Promosi produk berupa pemanfaatan media sosial sebagai media promosi
WhatsApp, Facebook, Instagram, Tiktok, dan semua media sosial yang dapat
dimanfaatkan dengan tata cara mengikuti ketentuan dari regulator;
2. Membuka kantor layanan syariah di kantor unit pembiayaan yang dimiliki
Perseroan;
3. Membuat suatu produk layanan dan media yang memiliki visi misi yang jelas
serta program-program yang dapat bermanfaat bagi masyarakat yang
membutuhkan.
34
Page 47
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
4 KELAYAKAN TEKNIS
4.1 Kapasitas
Pada penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan bergerak pada bidang jasa
pembiayaan syariah, sehingga jumlah dana yang akan dialokasikan untuk
pendanaan pada kegiatan usaha ini sebesar Rp189,52 miliar di tahun 2026, sebesar
Rp292,68 miliar di tahun 2027, sebesar Rp321,95 miliar di tahun 2028, sebesar
Rp354,14 miliar di tahun 2029, dan Rp389,55 miliar di tahun 2030.
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Bahan Baku Mentah
Pada penambahan kegiatan usaha ini, sumber pendanaan di tahun 2026 sebesar
Rp100,00 miliar berasal dari modal sendiri dan sebesar Rp89,52 miliar berasal dari
pihak perbankan. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya, sumber pendanaan
berasal dari pihak perbankan.
Pekerja
Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
kerja 612 orang karyawan tetap dan 168 orang karyawan kontrak. Dengan adanya
penambahan kegiatan usaha, Perseroan berencana akan melakukan penambahan
tenaga kerja sebanyak 3 orang, sedangkan sisanya menggunakan tenaga kerja
eksisting.
Tabel 10 Kebutuhan Tenaga Kerja
Jumlah
No Tenaga Kerja Keterangan
(orang)
Kantor Pusat
1. Dewan Pengawas Syariah 2 penambahan
2. Kepala UUS (Dedicated) 1 penambahan
3. Direktur Marketing 1 eksisting
4. Sales Manager UUS 1 eksisting
5. Relationship Officer UUS 2 eksisting
6. Syariah Business Development 1 eksisting
7. Data Analytic & Admin (Concurent) 1 eksisting
Supporting (Leveraging)
1. Credit Analyst, Operation 4 eksisting
2. Accounting 2 eksisting
3. IT 2 eksisting
4. Legal & Compliance (Concurent) 2 eksisting
Cabang
1. Branch Manager 1 eksisting
35
Page 48
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Jumlah
No Tenaga Kerja Keterangan
(orang)
2. Sales Head 1 eksisting
3. Relationship Officer UUS 1 eksisting
4. Operation UUS 1 eksisting
5. Collection UUS (Concurrent) 1 eksisting
Total 24
Sumber: Manajemen Perseroan
Tenaga Ahli
Perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia terus menunjukkan tren yang
signifikan. Atas meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap sistem ekonomi
berbasis prinsip Islam, maka lembaga keuangan syariah membutuhkan tenaga ahli
yang memahami fiqh muamalah sekaligus manajemen modern. Sampai dengan saat
ini Perseroan telah memiliki beberapa tenaga ahli yang melekat pada susunan
pengurus & personalia UUS.
Dalam rangka memastikan kesiapan operasional Unit Usaha Syariah (UUS) serta
mitigasi risiko kepatuhan syariah (sharia compliance risk), Perseroan berkomitmen
untuk menerapkan standar kompetensi dan sertifikasi keahlian syariah bagi tenaga
kerja eksisting yang dialokasikan (leveraging employee) dalam menjalankan fungsi
operasional UUS.
Perseroan memastikan bahwa seluruh pegawai yang terlibat memiliki pemahaman
yang memadai terkait prinsip syariah, khususnya akad pembiayaan, melalui
pemenuhan kompetensi yang mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan
serta fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Selain itu, Perseroan
mendorong dan memfasilitasi perolehan sertifikasi keuangan syariah, yang
didukung oleh program pelatihan internal dan continuous learning meliputi
pelatihan akad syariah, kepatuhan dan manajemen risiko syariah, serta workshop
bersama Dewan Pengawas Syariah (DPS).
DPS berperan aktif dalam memberikan arahan dan supervisi, melakukan review atas
implementasi prinsip syariah, serta memberikan rekomendasi peningkatan
kapasitas SDM. Melalui pendekatan tersebut, Perseroan dapat memitigasi risiko
ketidaksesuaian syariah, risiko operasional, serta risiko reputasi.
Implementasi dilakukan secara bertahap melalui identifikasi kebutuhan kompetensi,
gap analysis SDM eksisting, pelaksanaan program pelatihan dan sertifikasi, serta
monitoring dan evaluasi secara berkala guna memastikan kepatuhan terhadap
prinsip syariah secara berkelanjutan.
36
Page 49
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
4.3 Proses Produksi
Untuk tahap awal, produk yang ditawarkan atas adanya penambahan kegiatan usaha
baru ini adalah Ijarah Haji & Umroh dan Murabahah kendaraan dengan alur proses
sebagai berikut.
Gambar 11 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Dengan Wakalah (Wakil)
Sumber: Manajemen Perseroan
Gambar 12 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Tanpa Wakalah (Wakil)
Sumber: Manajemen Perseroan
37
Page 50
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Gambar 13 Diagram Alur Proses Bisnis Ijarah Haji & Umroh Dengan Payroll
Sumber: Manajemen Perseroan
Gambar 14 Diagram Alur Proses Bisnis Murabahah Kendaraan Bermotor
Sumber: Manajemen Perseroan
38
Page 51
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
4.4 Kapasitas Teknis Perusahaan Pembiayaan
Perseroan telah melakukan analisis kapasitas teknis secara menyeluruh dalam
rangka memastikan kesiapan operasional Unit Usaha Syariah (UUS) sesuai dengan
ketentuan Otoritas Jasa Keuangan serta prinsip syariah yang diatur dalam fatwa
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
Dalam aspek operasional, Perseroan sedang menyusun Standar Operasional
Prosedur (SOP), alur persetujuan (approval process), serta metodologi penilaian
pembiayaan (scoring/underwriting) yang mengacu pada prinsip kehati-hatian dan
kepatuhan syariah. Penyusunan dan penyempurnaan aspek-aspek tersebut
dilakukan dengan pendampingan dari Karim Consulting guna memastikan
kesesuaian dengan praktik terbaik (best practices) industri pembiayaan syariah.
Dari sisi kesiapan sistem, Perseroan telah menjalin kerja sama dengan IMS
Consulting dalam pengembangan dan implementasi sistem core syariah yang
mendukung proses end-to-end operasional UUS, termasuk pencatatan transaksi
berbasis akad, pengelolaan portofolio pembiayaan, serta penyusunan laporan
keuangan syariah.
Selain itu pelaporan UUS dilakukan dengan menggunakan sistem akuntansi secara
terpisah dan sesuai dengan standar pelaporan keuangan syariah yang berlaku serta
menerapkan segregasi pencatatan (accounting segregation) antara unit
konvensional dan UUS untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dan Penguatan
fungsi pengendalian internal untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai
prinsip syariah dan ketentuan regulator.
Kemudian, untuk persetujuan Dewan Pengawas Syariah dari DSN MUI sedang dalam
proses, Perseroan telah diundang dalam presentasi dengan DSN MUI dan saat ini
menunggu ketetapan dr DSN MUI.
39
Page 52
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
5 KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Keunggulan Kompetitif
Berdasarkan pengalaman Perseroan sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak
lama memiliki manajemen dan sistem operasional yang kompeten untuk melakukan
ekspansi usaha. Keunggulan kompetitif Perseroan diuraikan sebagai berikut:
➢ Perseroan memiliki jaringan cabang yang luas dan akses nasional;
➢ Perseroan memiliki reputasi yang solid dan terpercaya di industri;
➢ Perseroan memiliki jaringan pasar dan basis nasabah existing yang substansial
dari usaha eksisting yang diyakini mempercepat pertumbuhan dan ekspansi;
➢ Perseroan memiliki pengalaman panjang dan terpercaya di bidang pembiayaan,
didukung oleh operasional yang mapan, serta kemitraan strategis yang solid;
➢ Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan mencatatkan pertumbuhan
pendapatan yang berasal dari pertumbuhan pembiayaan konsumen.
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk
Kemungkinan pesaing dalam bidang usaha ini cukup besar, dimana risiko adanya
produk Perseroan yang mungkin ditiru oleh perusahaan lain merupakan risiko yang
melekat pada kegiatan bisnis Perseroan. Kemampuan pesaing untuk meniru produk
memang tidak dapat dihindari, sehingga membuat kegiatan usaha dalam bidang ini
menjadi sangat kompetitif. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan
diantaranya sebagai berikut:
• Diferensiasi Layanan dan Distribusi
➢ Perseroan memiliki jaringan distribusi yang luas dan terintegrasi, mencakup
travel agent, digital marketing, dealer/showroom, serta berbagai mitra
bisnis, sehingga mampu menjangkau beragam segmen pasar secara efektif;
➢ Didukung layanan yang cepat, transparan, dan berbasis digital—mulai dari
pemantauan cicilan hingga progres keberangkatan Haji/Umroh —Perseroan.
• Reputasi, Kepercayaan Pasar, Kinerja Keuangan dan Strategi Branding
➢ Reputasi
Reputasi PT Buana Finance Tbk yang telah terbangun kuat menjadi fondasi
utama dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Unit Usaha
Syariah. Dalam industri pembiayaan, kepercayaan merupakan faktor kunci,
khususnya pada produk syariah yang menekankan kepatuhan prinsip dan
transparansi akad.
40
Page 53
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
➢ Kinerja keuangan
Kinerja keuangan induk usaha yang sehat serta pertumbuhan pembiayaan
yang konsisten mencerminkan kapasitas permodalan dan manajemen yang
kuat. Hal ini memberikan ruang ekspansi pembiayaan syariah secara prudent
dan berkelanjutan.
➢ Strategi sharia branding
Perseroan menerapkan strategi sharia branding melalui pendekatan
penguatan (enhancement) atas kapabilitas dan reputasi yang telah dimiliki,
bukan perubahan fundamental atas model bisnis. Dalam hal ini, pengalaman
Perseroan sebagai perusahaan pembiayaan menjadi fondasi utama untuk
menghadirkan solusi keuangan syariah yang kredibel, terpercaya, dan
berdaya saing.
Penguatan tersebut dilakukan melalui integrasi prinsip kepatuhan terhadap
Otoritas Jasa Keuangan serta kesesuaian dengan fatwa Dewan Syariah
Nasional Majelis Ulama Indonesia ke dalam pengembangan produk, proses
operasional, serta strategi komunikasi kepada nasabah. Dari perspektif
pemasaran, Perseroan membangun positioning sebagai perusahaan
pembiayaan dengan visi penyediaan layanan solusi keuangan yang inovatif,
sehingga menghadirkan solusi syariah secara transparan, amanah, dan
relevan dengan kebutuhan nasabah, sehingga memperkuat kepercayaan
sekaligus menciptakan diferensiasi yang berkelanjutan di pasar.
Melalui pendekatan ini, Perseroan optimis dapat memperkuat persepsi
sebagai institusi yang tidak hanya memiliki rekam jejak yang solid, tetapi
juga mampu menghadirkan nilai tambah berbasis prinsip syariah secara
konsisten dan profesional.
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai
Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
nilai yang diantaranya:
1. Menghadirkan solusi pembiayaan yang fleksibel dan terjangkau untuk segmen
individu maupun korporasi. Perseroan terus berinovasi melalui pengembangan
produk syariah serta pemanfaatan digitalisasi guna mempermudah proses
pengajuan, pencairan, hingga pembayaran angsuran.
41
Page 54
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
2. Didukung kerja sama strategis dengan perbankan, asuransi, dealer, serta travel
Haji/Umroh, Perseroan memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan
aksesibilitas layanan.
3. Dengan menjaga kesehatan keuangan dan penerapan manajemen risiko sesuai
regulasi, Perseroan memperkuat daya saing di industri multifinance melalui
strategi bisnis yang adaptif dan diferensiasi produk syariah.
42
Page 55
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sumber daya manusia yang berkualitas baik dan memiliki pengetahuan serta
keterampilan yang cakap merupakan modal penting bagi Perseroan. Strategi dan
tujuan jangka panjang yang akan dicapai oleh Perseroan juga bergantung kepada
kemampuan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki. Berdasarkan
informasi dari manajemen, sampai dengan tanggal 31 Desember 2025, Perseroan
memiliki 612 orang karyawan tetap dan 168 orang karyawan kontrak.
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual
Dalam pelaksanaan kegiatan usaha Unit Usaha Syariah (UUS), perusahaan
menggunakan dan mengelola kekayaan intelektual yang dimiliki oleh PT Buana
Finance Tbk sebagai entitas induk.
▪ Kepemilikan penggunaan merek
➢ UUS beroperasi di bawah merek dan identitas korporasi PT Buana Finance
Tbk.
➢ Tidak terdapat pendirian entitas hukum baru.
➢ Branding UUS menggunakan identitas turunan yang mencerminkan prinsip
syariah tanpa membentuk merek terpisah. Seluruh penggunaan merek, logo,
dan materi promosi tunduk pada kebijakan manajemen merek perusahaan.
▪ Sistem dan infrastruktur teknologi
Rent New Sistem Syariah.
Penyesuaian dilakukan pada: parameter akad syariah (murabahah/ijarah).,
Modul pelaporan terpisah untuk keperluan akuntansi syariah, Penyesuaian SOP
dan dokumentasi akad.
▪ Perlindungan dan pengendalian
➢ Perlindungan data nasabah sesuai regulasi.
➢ Pengamanan sistem IT melalui kebijakan internal.
➢ Pengendalian akses berbasis kewenangan (role-based access).
➢ Kepatuhan terhadap ketentuan perlindungan data dan kerahasiaan nasabah.
6.3 Manajemen Risiko
Pendekatan yang diaplikasikan pada penambahan kegiatan usaha baru ini adalah
prudent growth dengan tujuan menjaga kualitas pembiayaan dan stabilitas
perusahaan. Pada tahap awal, ekspansi dilakukan terbatas (pilot cabang Fatmawati),
target portofolio dikendalikan secara bertahap, dan tidak dilakukan ekspansi
agresif.
43
Page 56
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Dalam menjalankan kegiatan usaha barunya, Perseroan mungkin menghadapi
beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja usahanya. Risiko utama yang
mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 11 Risiko Utama Perseroan
Risiko Kategori Risiko Mitigasi
Penggunaan akad yang tidak sesuai Syariah Melakukan pelatihan tentang akad
dengan prinsip syariah (misal: akad syariah, dan review akad oleh DPS
murabahah dengan ketentuan yang
tidak jelas).
Produk atau layanan yang tidak sesuai Syariah Update regulasi internal dan sosialisasi
dengan fatwa Dewan Syariah Nasional secara berkala terkait fatwa terbaru
(DSN). serta melakukan koordinasi rutin
dengan DPS
Laporan keuangan atau laporan Syariah Memanfaatkan sistem informasi dan
kepatuhan syariah yang tidak akurat pelaporan yang ada untuk meningkatkan
atau tidak tepat waktu. akurasi data, serta menetapkan timeline
dan mekanisme monitoring atas
penyusunan dan penyampaian laporan
untuk memastikan ketepatan waktu
pelaporan.
Terjadinya transaksi yang melanggar Syariah Review SOP oleh DPS, menyelenggarakan
prinsip syariah (misal: mengandung pelatihan kepatuhan syariah secara
riba, gharar, atau maysir). berkala kepada karyawan, serta
melakukan audit transaski secara
priodik
Sumber: Manajemen Perseroan
Mekanisme pengedalian risiko yang diterapkan Perseroan atas penambahan
kegiatan usaha ini adalah:
➢ Tetap mengacu pada kebijakan manajemen risiko perusahaan.
➢ Monitoring NPF (Non Performing Financing) secara berkala.
➢ Pelaporan terpisah portofolio syariah.
➢ Review berkala oleh Internal Audit.
➢ Pengawasan dan opini DPS atas produk dan implementasi akad.
Perseroan memandang bahwa penerapan penugasan fungsi tambahan ( concurrent
assignment) pada tahap awal operasional Unit Usaha Syariah (UUS) merupakan
strategi yang wajar dan efisien, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-
hatian, tata kelola yang baik, serta kepatuhan terhadap ketentuan Otoritas Jasa
Keuangan dan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
Dari perspektif manajemen risiko, Perseroan secara proaktif mengantisipasi potensi
penurunan fokus maupun independensi melalui pengaturan peran dan prioritas
kerja yang jelas, khususnya pada fungsi-fungsi kritikal seperti risiko, kepatuhan,
dan operasional syariah. Penugasan rangkap dilakukan secara selektif, dengan
prinsip bahwa aktivitas syariah menjadi prioritas utama bagi personel yang terlibat.
44
Page 57
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Terkait potensi benturan kepentingan (conflict of interest), Perseroan menerapkan
mekanisme pengendalian yang kuat melalui pemisahan fungsi ( segregation of
duties), pembatasan kewenangan, serta sistem check and balance yang diawasi oleh
fungsi kepatuhan, audit internal, dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dengan
demikian, setiap proses bisnis tetap terjaga objektivitas dan kesesuaiannya
terhadap prinsip syariah.
Untuk memastikan fokus operasional tetap optimal, Perseroan juga menerapkan
pengelolaan beban kerja yang terukur, penetapan KPI yang selaras dengan fungsi
syariah, serta penguatan kompetensi melalui sertifikasi dan pelatihan
berkelanjutan. Dukungan dari fungsi dedicated di tingkat manajemen, termasuk
Kepala UUS dan DPS, menjadi kunci dalam menjaga konsistensi implementasi
prinsip syariah di seluruh aktivitas.
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, Perseroan berkomitmen untuk melakukan
penguatan organisasi secara bertahap melalui penambahan sumber daya khusus
(dedicated personnel), sehingga efektivitas manajemen risiko dan kualitas
kepatuhan syariah dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Keberhasilan dan keberlanjutan Unit Usaha Syariah Multifinance sangat ditentukan
oleh kapasitas dan kompetensi manajemen dalam mengelola kegiatan pembiayaan
sesuai prinsip syariah dan ketentuan regulasi yang berlaku. Manajemen didukung
oleh sumber daya manusia yang memiliki pemahaman memadai mengenai produk
pembiayaan syariah, manajemen risiko, kepatuhan, serta penerapan tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance).
Dalam mendukung rencana kegiatan usaha, Unit Usaha Syariah berkomitmen untuk
memperkuat kemampuan manajemen melalui pengembangan kompetensi,
pelatihan berkelanjutan, serta sistem evaluasi kinerja yang terukur. Dengan struktur
organisasi yang jelas dan pembagian fungsi yang terdefinisi, manajemen memiliki
kapasitas yang memadai untuk menjalankan usaha secara prudent, profesional, dan
berkelanjutan sesuai prinsip syariah.
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Dalam rangka penambahan kegiatan usaha baru berupa Unit Usaha Syariah (UUS),
Perseroan menerapkan strategi leveraging employee pada tahap awal operasional.
Beberapa kebijakan jangka pendek (tahap awal) yang akan terapkan Perseroan
adalah:
45
Page 58
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
1. Pada tahap awal pendirian UUS, tidak dilakukan perubahan struktur organisasi
perusahaan secara fundamental.
2. Struktur organisasi Perseroan tetap mengacu pada struktur yang telah disetujui
dan berjalan saat ini, dengan penyesuaian berupa:
➢ Penunjukan fungsi tambahan (concurrent assignment) kepada karyawan
existing.
➢ Penambahan fungsi pengawasan syariah melalui Dewan Pengawas Syariah
(DPS).
➢ Penetapan Kepala UUS sebagai posisi khusus yang tidak dirangkap.
3. Dengan demikian, UUS dibentuk tanpa restrukturisasi besar maupun
pembentukan divisi terpisah secara penuh pada tahap awal.
46
Page 59
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Gambar 15 Struktur Organisasi Perseroan
Sumber: Manajemen Perseroan
47
Page 60
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Gambar 16 Struktur Organisasi Unit Usaha Syariah
Sumber: Manajemen Perseroan
48
Page 61
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
7 KELAYAKAN KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian
ini menganalisis besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga
didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu proyek/rencana layak dilaksanakan
ataupun tidak.
Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji beberapa hal berikut: kebutuhan
investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto (discount rate), kelayakan
investasi, dan analisis sensitivitas.
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs)
Biaya investasi (capex) awal yang diperlukan atas penambahan kegiatan usaha baru
ini sebesar Rp3,34 miliar dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 12 Rencana Anggaran Biaya (Rp Juta)
Uraian Total Cost
Laptop & Server 536
Core System 2.300
Accounting System 500
Total 3.336
Sumber: Proyeksi Keuangan
7.2 Modal Kerja
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
modal kerja awal sebesar Rp28,00 miliar. Proyeksi kebutuhan modal kerja tahun
2026—2030 adalah sebagai berikut:
Tabel 13 Modal Kerja (Rp. Juta)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 114.837 309.323 467.690 579.515 615.963
Hutang Lancar (86.836) (330.975) (535.417) (688.107) (778.930)
Modal Kerja 28.000 (21.652) (67.728) (108.592) (162.967)
Perubahan Modal Kerja 28.000 (49.652) (46.076) (40.864) (54.375)
Sumber: Proyeksi Keuangan
7.3 Sumber Pembiayaan
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex) dan biaya operasional awal. Kas awal yang dibutuhkan untuk
modal penambahan kegiatan usaha ini sebesar Rp100,00 miliar. Sedangkan kas
49
Page 62
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
yang tersedia per 31 Desember 2025 sebesar Rp158,61 miliar. Atas informasi
tersebut maka terdapat ketersediaan kas yang cukup untuk penambahan kegiatan
usaha ini. Dampak penggunaan kas ini akan mengurangi likuiditas jangka pendek
(penggunaan kas secara tunai yang akan mengurangi kas bersih dan dan aset
lancar) untuk tujuan jangka panjang.
7.4 Beban Operasional
Beban operasional pada tahun 2026—2030 diproyeksikan seperti tabel dibawah ini:
Tabel 14 Biaya Operasional (Rp. Juta)
Uraian 2026 2027 2028 2029 2030
Beban operasional 5.407 37.499 62.966 81.692 95.483
Pada tahun 2026, beban operasional diproyeksikan sebesar Rp5,41 miliar. Beban
ini meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp95,48 miliar pada tahun 2030.
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah
Pada penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan bergerak pada bidang jasa
pembiayaan syariah, sehingga sumber pendanaan berasal dari kombinasi modal
sendiri dan pendanaan dari pihak perbankan.
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan
Berikut ini merupakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan:
Waktu Operasional
Periode proyeksi dimulai dari awal tahun 2026 hingga tahun 2030. Jumlah hari
operasional diasumsikan selama 264 hari untuk setiap tahun-tahun proyeksi.
Struktur Pendapatan
Pendapatan untuk tahun-tahun proyeksi diasumsikan sebagai berikut:
Tabel 15 Struktur Pendapatan (Rp. Juta)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan CF - UUS - Ijarah 934 6.868 13.434 15.768 17.373
Pendapatan CF - UUS -
Murabahah 3.969 33.452 63.702 88.638 103.033
Pendapatan lain-lain 3.576 7.868 8.655 9.520 10.472
CF - UUS - Ijarah 186 408 449 494 544
CF - UUS - Murabahah 3.391 7.460 8.206 9.026 9.929
50
Page 63
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Sumber: Proyeksi Keuangan
Struktur Biaya
Struktur biaya terdiri dari beban keuangan, umum dan administrasi, amortisasi dan
beban kerugian penurunan nilai. Struktur biaya untuk tahun-tahun proyeksi
diasumsikan sebagai berikut:
Tabel 16 Struktur Biaya (Rp. Juta)
Keterangan Satuan 2026 2027 2028 2029 2030
Beban keuangan To Revenue 13,45% 41,11% 48,60% 51,17% 53,28%
Beban umum, administrasi dan
lainnya Growth 23,45% -38,12% 10,04% 10,93%
Amortisasi UUS Rp.Juta 777 5.651 11.530 13.600 14.963
Beban kerugian penurunan nilai To Revenue 25,11% 31,23% 22,89% 18,96% 18,16%
Sumber: Proyeksi Keuangan
Tarif Pajak
Pajak penghasilan badan (PPh Badan) diproyeksikan sebesar 22,00% dan
diasumsikan tetap selama masa proyeksi.
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan
Proyeksi Posisi Keuangan Perseroan pada tahun ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 17 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp. Juta)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar 181.723 424.424 635.801 801.859 907.318
Aset Tidak Lancar 6.904 12.271 14.146 15.313 16.614
TOTAL ASET 188.626 436.695 649.947 817.172 923.932
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek 86.836 330.975 535.417 688.107 778.930
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Ekuitas 101.790 105.720 114.530 129.065 145.002
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 188.626 436.695 649.947 817.172 923.932
Sumber: Proyeksi Keuangan
Selama tahun 2026—2030, total aset diproyeksikan mengalami kenaikan. Pada
tahun 2026, total aset diproyeksikan sebesar Rp188,63 miliar hingga menjadi
sebesar Rp923,93 miliar pada tahun 2030.
51
Page 64
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Pada tahun 2026 total liabilitas Perseroan diproyeksikan sebesar Rp86,84 miliar
yang meningkat menjadi sebesar Rp778,93 miliar di tahun 2030.
Total ekuitas juga diproyeksikan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun
2026, total ekuitas diproyeksikan sebesar Rp101,79 miliar hingga menjadi sebesar
Rp145,00 miliar pada tahun 2030.
7.8 Proyeksi Laba (Rugi)
Proyeksi Laba Rugi Perseroan ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 18 Proyeksi Laba Rugi (Rp. Juta)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 8.479 48.188 85.791 113.927 130.878
Beban operasional (5.407) (37.499) (62.966) (81.692) (95.483)
Beban Amortisasi Aset Ijarah (777) (5.651) (11.530) (13.600) (14.963)
Pendapatan (Beban) Lain-lain - - - - -
Laba (Rugi) Sebelum Pajak 2.295 5.038 11.295 18.635 20.432
Pajak (505) (1.108) (2.485) (4.100) (4.495)
Laba (Rugi) Bersih 1.790 3.930 8.810 14.536 15.937
Sumber: Proyeksi Keuangan
Selama tahun 2026—2030, total pendapatan diproyeksikan mengalami kenaikan.
Pada tahun 2026, total pendapatan diproyeksikan sebesar Rp8,48 miliar yang
kemudian mengalami kenaikan hingga menjadi sebesar Rp130,88 miliar pada tahun
2030.
Setelah diakumulasi dengan beban operasional, beban amortisasi aset ijarah, dan
PPh Badan, Perseroan diproyeksikan mencatatkan tambahan laba bersih dari
penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp1,79 miliar pada tahun 2026 dan terus
meningkat hingga menjadi sebesar Rp15,94 miliar di tahun 2030.
7.9 Proyeksi Arus Kas
Proyeksi Arus Kas Perseroan tahun 2026—2030 ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 19 Proyeksi Arus Kas (Rp. Juta)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan dari pelanggan 18.923 118.954 216.119 319.666 443.751
Pembayaran kepada pemasok (pinjaman
baru) (133.035) (292.677) (321.945) (354.139) (389.553)
Pembayaran untuk beban operasional (1.815) (4.413) (4.870) (5.379) (5.954)
Utang pajak - (505) (1.108) (2.485) (4.100)
52
Page 65
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS OPERASI (115.927) (178.640) (111.804) (42.337) 44.144
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian aset tetap dan aset
takberwujud (3.336) - - - -
Capital Expenditures, CAPEX - - - - -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI (3.336) - - - -
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penarikan bank 89.515 292.677 321.945 354.139 389.553
Pembayaran bank (2.364) (47.684) (118.598) (202.809) (298.844)
Pembayaran Bunga Bank (1.003) (18.138) (38.532) (54.761) (65.843)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN 86.149 226.855 164.814 96.570 24.867
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS (33.114) 48.215 53.011 54.233 69.011
KAS AWAL TAHUN 100.000 66.886 115.101 168.111 222.344
KAS AKHIR TAHUN 66.886 115.101 168.111 222.344 291.355
Sumber: Proyeksi Keuangan
Arus kas atas adanya penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan terus
meningkat. Kas dan setara kas pada awal periode tahun 2026 adalah Rp66,89 miliar
yang kemudian pada akhir periode proyeksi tahun 2030 menjadi sebesar Rp291,36
miliar.
7.10 Analisis Titik Impas
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak
memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha
dikatakan impas jika jumlah pendapatan ( revenue) sama dengan jumlah biaya, atau
apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
Total Biaya Tetap
BEP =
(1- (Total Biaya Variabel))
Pendapatan
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk
masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah
mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan
BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha
adalah sebagai berikut:
53
Page 66
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 20 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.Juta)
Tahun Pendapatan Fixed Cost BEP
2026 8.479 6.184 6.184
2027 48.188 43.150 43.150
2028 85.791 74.496 74.496
2029 113.927 95.292 95.292
2030 130.878 110.446 110.446
BEP Rata-rata 65.914
BEP Rata-rata (%) 83,47%
Sumber: Proyeksi Keuangan
Dari hasil perhitungan BEP, apabila Perseroan ingin mencatatkan keuntungan, maka
Perseroan harus mencatatkan pendapatan di tahun 2026 sebesar Rp8,48 miliar,
tahun 2027 sebesar Rp48,19 miliar, tahun 2028 sebesar Rp85,79 miliar, tahun 2029
sebesar Rp113,93 miliar, dan tahun 2030 sebesar Rp130,88 miliar. Sehingga rata-
rata BEP Perseroan atas penambahan kegiatan usaha baru selama periode proyeksi
adalah sebesar Rp65,91 miliar.
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas
Analisis likuiditas adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan menghitung
rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancar.
Tabel 21 Analisis Likuiditas
Working Capital to Total Assets
Tahun Current Ratio
Ratio
2026 209,27% 50,30%
2027 128,23% 21,40%
2028 118,75% 15,44%
2029 116,53% 13,92%
2030 116,48% 13,90%
Average 137,85% 22,99%
Dari tabel di atas terlihat bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha terlihat
adanya peningkatan dari sisi current ratio jika dibandingkan dengan rata-rata
selama tahun 2021-2025 yang sebesar 132,98%.
Analisis solvabilitas adalah rasio yang berfungsi menilai kemampuan perusahaan
dalam melunasi semua kewajibannya, baik dalam jangka pendek, maupun jangka
panjang dengan jaminan aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan.
54
Page 67
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 22 Analisis Solvabilitas
Tahun Debt to Equity Ratio Debt to Assets Ratio
2026 85,31% 46,04%
2027 313,07% 75,79%
2028 467,49% 82,38%
2029 533,15% 84,21%
2030 537,19% 84,31%
Average 387,24% 74,54%
Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya peningkatan dari rasio solvabilitas, hal ini
dikarenakan adanya tambahan kewajiban setelah adanya penambahan kegiatan
usaha.
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
pendapatan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa
besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai
gambaran bagaimana Perseroan mendapatkan laba atas penambahan kegiatan
usaha barunya terdapat pada tabel berikut ini.
Tabel 23 Analisis Profitabilitas
Tahun Operating Profit Margin Net Profit Margin
2026 27,07% 21,11%
2027 10,45% 8,15%
2028 13,17% 10,27%
2029 16,36% 12,76%
2030 15,61% 12,18%
Average 16,53% 12,89%
Dari tabel di atas diketahui bahwa dari penambahan kegiatan usaha baru
memberikan dampak positif yang signifikan pada rasio profitabilitas, dimana
selama tahun-tahun proyeksi rata-rata operating profit margin dan net profit
margin masing-masing sebesar 16,53%, dan 12,89%.
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi
Return on Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva
yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan
mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui
seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional
dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.
55
Page 68
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas Penambahan Kegiatan Usaha Perseroan:
Tabel 24 Return on Investment
Laba Bersih Total Investasi
Tahun ROI
(Rp. Juta) (Rp. Juta)
2026 1.790 188.626 0,95%
2027 3.930 436.695 0,90%
2028 8.810 649.947 1,36%
2029 14.536 817.172 1,78%
2030 15.937 923.932 1,72%
Average 1,34%
Rasio ROI Perseroan pada tahun 2025—2030 diproyeksikan akan meningkat setiap
tahunnya seiring dengan peningkatan laba bersih dan total investasi Perseroan.
Perseroan diproyeksikan mencatatkan rata-rata ROI sebesar 1,34%.
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto
Faktor diskonto yang digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital yang
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
WACC = (Kd*(1-t)* % Debt) + (Ke* % Equity)
Keterangan:
WACC = Weighted average cost of capital (tingkat biaya tertimbang atas
modal)
Kd Cost of debt (tingkat bunga hutang perusahaan)
Ke = The required rate of return (biaya ekuitas)
T = Tax rate (tarif pajak)
% Debt = Proportion of Debt in the Capital structure (proporsi hutang dalam
struktur kapital)
% Equity = Proportion of Equity in the Capital structure (proporsi ekuitas dalam
struktur kapital)
Berikut adalah asumsi yang digunakan untuk mengestimasi tingkat diskonto yang
akan digunakan dalam Penilaian.
Cost of Debt (tingkat biaya hutang)
Tingkat biaya hutang (cost of debt) diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
56
Page 69
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
• Rata-rata tertimbang tingkat suku bunga efektif atas dana pinjaman investasi
yang akan digunakan yaitu sebesar 8,59%. (merujuk pada bunga Kredit Invertasi
per 31 Desember 2025 dari SEKI Bank Indonesia).
• Tingkat pajak yang digunakan adalah sebesar 22,00% berdasarkan tingkat pajak
korporasi di Indonesia (Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020 - PPh Badan).
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka tingkat biaya hutang (cost of
debt) yang diaplikasikan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x ((1-T)
Kd = 8,59% x (1-22,00%) = 6,70%
Cost of Equity (biaya modal untuk ekuitas)
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan Model CAPM
(Capital Asset Pricing Model). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah
bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari
sekuritas saham, dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + (Rm – Rf) β + Rs
Ke = Rf + (Rp x β) + Rs
Keterangan:
Rf = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
Rm = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp = market risk premium untuk pasar ekuitas secara keseluruhan
β = ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara objektif dari
responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan
pengembalian portofolio pasar
Rs = tingkat kembalian tambahan spesifik untuk Perusahaan
Tingkat biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia,
instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Surat Utang Negara
(most active government bond).
Dalam penilaian Perseroan digunakan Surat Utang Negara dengan rata-rata yield
adalah sebesar 6,51%. Angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
bebas risiko (Rf).
57
Page 70
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 25 Surat Utang Negara
Bond Maturity Yield
FR0108 15-Apr-36 6,1097%
FR0106 15-Aug-40 6,4290%
FR0107 15-Aug-45 6,5390%
FR0102 15-Jul-54 6,7094%
FR0105 15-Jul-64 6,7535%
Rata-rata 6,5081%
Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI,
16 Desember 2025
Rp (Market Risk Premium - MRP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
risiko dengan tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas.
Premi risiko pasar (Rm-Rf) atau MRP ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi
pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang emerging.
Beta (β), adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan
dikalikan dengan market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.
Rs (Specific Company Risk Premium). Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh
Indonesia telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum
mencerminkan risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh
suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aswath Damodaran per Januari 2026,
diprediksi market risk premium adalah sebesar 6,69%.
Untuk memperoleh faktor Beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan,
kami menggunakan beta pembanding berdasarkan penelitian yang dilakukan
Aswath Damodaran dalam industri Financial Svcs. (Non-bank & Insurance) per
Januari 2026 yaitu rata-rata sebesar 0,70.
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas Perseroan adalah:
Tabel 26 Biaya Modal untuk Ekuitas
Keterangan Biaya Modal untuk Ekuitas
Biaya Modal untuk Ekuitas
a. Risk Free Rate ( Rf ) 6,51%
b. Risk Premium Ekuitas ( Rm ) 6,69%
c. β (Beta) 0,70
c. Specific Risk 0,00%
Biaya Modal untuk Ekuitas-CAPM 11,19%
58
Page 71
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Keterangan Biaya Modal untuk Ekuitas
Credit Default Spread 1,62%
Biaya Modal untuk Ekuitas 9,57%
Pada formulasi di atas, yield tingkat bunga bebas risiko sebenarnya telah
memperhatikan semua risiko pasar, sehingga dalam perhitungan tingkat diskonto
yang berlaku di Indonesia, yield tersebut harus dikoreksi dengan credit default
spread sebesar 1,62%, sehingga biaya modal ekuitas yang diterapkan dalam
penilaian Perseroan menjadi 9,57%.
Berdasarkan asumsi tersebut, besarnya Weighted Average Cost of Capital (WACC)
yang kami gunakan sebagai tingkat diskonto dalam penilaian Perseroan adalah
sebesar 8,03% seperti pada tabel berikut.
Tabel 27 Weighted Average Cost of Capital
Jenis Modal Biaya Modal Bobot Tertimbang
Cost of Debt ( Kd = i x (1-T)) 6,70% 53,84% 3,61%
Cost of Equity ( Ke = Rf + ( Rm-Rf ) * Beta 9,57% 46,16% 4,42%
Weighted Average Cost of Capital (WACC) 8,03%
7.14 Analisis Kelayakan
a. Net Present Value (NPV)
NPV merupakan nilai dari total investasi yang dikeluarkan pada awal periode
setelah ditambah arus kas bersih yang akan diterima oleh Perseroan setiap
tahun sampai akhir tahun periode proyek. Dengan membandingkan antara total
investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui apabila proyek tersebut
menghasilkan NPV positif maka proyek ini layak dikerjakan apabila
menghasilkan NPV negatif maka proyek ini tidak layak dikerjakan.
𝑇
𝐶𝐹𝑡
𝑁𝑃𝑉 = ∑ − 𝐶𝐹0
(1 + 𝑟)𝑡
𝑡−1
NPV : Net Present Value
CFt : arus kas pada periode t
CF0 : arus kas investasi awal pada periode 0
r : tingkat diskonto
Berikut adalah perhitungan NPV dari rencana penambahan kegiatan usaha:
59
Page 72
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 28 Perhitungan NPV (Rp. Juta)
Keterangan FCFF PV FCFF
Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
2026 (148.454) (137.426)
2027 59.233 50.759
2028 66.416 52.686
2029 68.999 50.670
2030 101.889 69.263
NPV 85.953
Keterangan: Salvage Value sebesar Rp16,61 miliar
b. Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan nilai tingkat pengembalian investasi pada saat NPV Perseroan
sama dengan 0, yang artinya tingkat pengembalian dan risiko dari total investasi
pada saat ini adalah sama dengan tingkat pengembalian dan risiko pasar.
Sehingga apabila IRR proyek lebih besar dari WACC, maka proyek ini layak
dikerjakan dan apabila IRR proyek lebih kecil dari WACC maka proyek ini tidak
layak dikerjakan.
IRR : Internal Rate of Return
CFt : arus kas pada periode t
CF0 : arus kas investasi awal pada periode 0
r : tingkat diskonto
Tabel 29 Perhitungan IRR (Rp. Juta)
Keterangan FCFF PV FCFF
Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
2026 (148.454) (113.082)
2027 59.233 34.369
2028 66.416 29.354
2029 68.999 23.230
2030 101.889 26.129
Terminal value 104.945
NPV 0
IRR = 31,28%
c. Profitability Index (PI)
PI merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari
investasi yang dilakukan pada awal periode perusahaan. Nilai tambah yang
didapat dari investasi diperhitungkan dengan membagi total investasi proyek
60
Page 73
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
pada awal periode dengan jumlah arus kas yang dihasilkan selama periode
berjalannya proyek. Apabila PI dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1
(satu) maka arus kas dari proyek setiap tahun tidak menghasilkan nilai tambah,
apabila PI lebih besar dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari
proyek setiap tahun menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan sedangkan PI
lebih kecil dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek setiap
tahun tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI
suatu proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1 (satu).
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹1 )
𝑃𝐼 =
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹0 )
PI : Profitability Index
CFI : nilai kini seluruh arus kas masuk
CFo : nilai kini seluruh arus kas keluar
Berikut adalah perhitungan PI dari Rencana penambahan kegiatan usaha:
Tabel 30 Perhitungan PI
PV FCFF
Keterangan
(Rp. Juta)
Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
Arus kas masuk 89.137
Arus kas keluar (3.184)
PI 27,99
d. Payback Period (PP)
Payback Period tidak ada kriteria, hanya menunjukkan tingkat pengembalian
investasi.
Tabel 31 Perhitungan PP
NCF
No Tahun Faktor
(Rp.Juta)
1 (148.454) 2026 1,00
2 59.233 2027 1,00
3 66.416 2028 1,00
4 68.999 2029 0,33
5 101.889 2030 0,00
Total 3,33
Payback Period 3 Tahun 3 Bulan
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap penambahan
kegiatan usaha Perseroan, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
61
Page 74
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Tabel 32 Analisis Kelayakan (Rp. Juta)
2026 2027 2028 2029 2030
Keterangan TOTAL
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
EBITDA 120.829 3.072 10.689 22.825 32.235 52.009
CASH OUT FLOW
- Tax (12.693) (505) (1.108) (2.485) (4.100) (4.495)
- Investment Outlays (119.685) (119.685) - - - -
- CAPEX (3.336) (3.336) - - - -
+/- Working Capital 162.967 (28.000) 49.652 46.076 40.864 54.375
TOTAL 27.253 (151.526) 48.544 43.591 36.764 49.880
NET CASH FLOW 148.082 (148.454) 59.233 66.416 68.999 101.889
Discount factor (8,03%) 0,92571 0,85694 0,79328 0,73435 0,67980
DISCOUNTED CASH FLOW 85.953 (137.426) 50.759 52.686 50.670 69.263
PROCEED (148.454) (89.221) (22.806) 46.194 148.082
PRESENT VALUE KAS MASUK 89.137 2.844 9.160 18.107 23.672 35.355
PRESENT VALUE KAS KELUAR (3.184) (140.269) 41.599 34.580 26.998 33.908
NET PRESENT VALUE, NPV 31,28%
INTERNAL RATE OF RETURN, IRR 85.953
PROFITABILITY INDEX, PI 27,99
PAYBACK PERIOD, PP 3 Tahun 3 bulan
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp85,95 miliar. Dengan demikian, hasil NPV
yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa penambahan kegiatan usaha
layak dikerjakan karena memberikan keuntungan.
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate --> Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 31,28%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 8,03%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa penambahan kegiatan usaha dikerjakan karena keuntungan lebih besar
dari biaya modal (cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
PI yang diperoleh adalah sebesar 27,99. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 3 tahun 3 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah penambahan kegiatan usaha berjalan
selama 3 tahun 3 bulan.
62
Page 75
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
7.15 Analisis Sensitivitas
Untuk menguji kepekaan usaha terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
maka berikut ini disajikan analisis sensitivitas terhadap kelayakan usaha, yaitu:
− Pendapatan turun dengan perubahan kondisi sebesar 5,00%, 10,00%, 15,00%,
dan 20,00%.
− Biaya investasi naik dengan perubahan kondisi sebesar 5,00%, 10,00%, 15,00%,
dan 20,00%.
− Biaya operasional naik dengan perubahan kondisi sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
− Discount rate naik dengan perubahan kondisi sebesar 5,00%, 10,00%, 15,00%,
dan 20,00%.
Tabel 33 Perhitungan Analisis Sensitifitas
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
1. PENDAPATAN TURUN
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 82.597 79.241 75.885 72.529
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 30,44% 29,60% 28,76% 27,91%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,20% 1,06% 0,93% 0,79%
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 4 Bln 3 Th 4 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 5 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 63.185 60.457 57.728 55.000
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 84,45% 85,54% 86,77% 88,14%
2. BIAYA INVESTASI NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 80.259 74.565 68.871 63.177
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 29,06% 26,97% 25,01% 23,17%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,34% 1,34% 1,34% 1,34%
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 6 Bln 3 Th 7 Bln 3 Th 8 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 65.914 65.914 65.914 65.914
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 83,47% 83,47% 83,47% 83,47%
3. BIAYA OPERASIONAL NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 76.325 66.698 56.800 45.821
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 28,90% 26,48% 23,92% 21,01%
Return On Investment (ROI) 1,34% 0,97% 0,59% 0,20% -0,23%
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 6 Bln 3 Th 7 Bln 3 Th 9 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 69.209 72.505 75.801 79.096
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 87,64% 91,82% 95,99% 100,16%
4. DISCOUNT RATE NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 83.486 81.069 78.702 76.383
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 31,28% 31,28% 31,28% 31,28%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,34% 1,34% 1,34% 1,34%
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 65.914 65.914 65.914 65.914
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 83,47% 83,47% 83,47% 83,47%
63
Page 76
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Berdasarkan analisis sensitivitas, pada kondisi normal NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp85,95 miliar, jika terjadi perubahan terhadap pendapatan, dimana
pendapatan turun sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
Rp72,53 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap biaya investasi, dimana biaya
investasi naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
Rp63,18 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap biaya operasional naik, dimana
biaya operasional naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp45,82 miliar (ambang batas maksimal kenaikan biaya operasional yang
dapat ditoleransi untuk kenaikan biaya pada saat NPV = 0 adalah 38,649%).
Sedangkan apabila terjadi perubahan terhadap discount rate, dimana discount rate
naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp76,38
miliar.
Dari analisis sensitivitas di atas, biaya operasional naik merupakan faktor yang
paling sensitif terhadap kelayakan usaha.
64
Page 77
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
8 KESIMPULAN
8.1 Kajian Kelayakan Pasar
Dari Kajian Kelayakan Pasar, kondisi pasar pembiayaan haji dan umroh erat kaitannya
dengan perkembangan penyelenggaraan ibadah haji dan umroh di Indonesia yang
mengalami perkembangan pesat seiring meningkatnya minat masyarakat untuk
menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Berdasarkan data SISKOHAT Kementerian Agama
pada pertengahan 2025, sebanyak 203.149 jemaah haji reguler Indonesia
diberangkatkan, dengan puncak haji pada 5 Juni 2025. Di sisi lain, terjadi
peningkatan jumlah jamaah umroh yang cukup signifikan: 1,39 juta pada 2023, naik
menjadi 1,47 juta pada 2024, dan diproyeksikan melampaui 1,6 juta jamaah pada
2025. Sampai dengan April 2025 (empat bulan berjalan), jumlah jamaah umroh telah
mencapai 648.485 orang atau sebesar 44,20% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Kondisi pasar pembiayaan kendaraan roda empat sejalan dengan pertumbuhan
jumlah populasi kendaraan roda empat selain mobil barang dan bus di Indonesia
yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sebesar 15,80 juta unit di
tahun 2020 menjadi 20,91 juta unit di tahun 2025. Data resmi menunjukkan
populasi kendaraan tersebut secara nasional bertambah seiring meningkatnya
kebutuhan mobilitas masyarakat di berbagai daerah. Berdasarkan catatan Badan
Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 populasi kendaraan tersebut meningkat
sebesar 2,27% dari tahun sebelumnya khususnya di Pulau Jawa. Selama periode
2020 hingga 2025, jumlah kendaraan roda empat selain mobil barang dan bus di
Indonesia mengalami pertumbuhan dengan rata-rata sebesar 5,87%.
Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji dan
umroh ke tanah suci serta pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat, maka
kondisi pasar pembiayaan haji dan umroh serta pembiayaan kendaraan bermotor
memiliki potensi yang baik.
Potensi pasar pembiayaan syariah di Indonesia sangat besar, didorong oleh populasi
Muslim terbesar di dunia (>200 juta jiwa), peningkatan literasi keuangan syariah, dan
pertumbuhan industri halal. Data tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan aset
perusahaan pembiayaan syariah mencapai 11,37% yoy dari sebesar Rp30,42 triliun di
tahun 2023. Pada 2025, pertumbuhan aset perusahaan pembiayaan syariah mencapai
Rp40,53 triliun atau meningkat sebesar 19,63% yoy dari tahun sebelumnya. Selain
itu, potensi pasar usaha ini juga terlihat dari pertumbuhan aset perusahaan
pembiayaan syariah selama tahun 2020—2025 dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 21,97%.
65
Page 78
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Dari sisi piutang pembiayaan, pertumbuhan piutang pembiayaan perusahaan
pembiayaan syariah pada tahun 2024 sebesar Rp27,43 triliun atau meningkat sebesar
10,47% yoy dari sebesar Rp24,83 triliun di tahun 2023. Pada tahun 2025, piutang
pembiayaan perusahaan pembiayaan syariah sebesar Rp35,52 triliun atau meningkat
sebesar 29,49% dari tahun sebelumnya. Selama tahun 2020—2025, pertumbuhan
piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan syariah mengalami pertumbuhan
dengan rata-rata sebesar 25,49%.
Potensi pasar pembiayaan haji dan umroh di Indonesia dapat dilihat dari
perkembangan piutang lembaga pembiayaan konvensional maupun syariah.
Merujuk pada data Statistik Lembaga Pembiayaan yang dirilis oleh OJK, selama lima
tahun terakhir, piutang pembiayaan berdasarkan objek pembiayaan jasa
wisata/perjalanan cenderung mengalami peningkatan dari sebesar Rp144,00 miliar
di tahun 2020 hingga sebesar Rp1,35 triliun di tahun 2025.
Potensi pasar pembiayaan kendaraan roda empat di Indonesia dapat dilihat dari
perkembangan piutang pembiayaan lembaga pembiayaan konvensional maupun
syariah. Berdasarkan pada data Statistik Lembaga Pembiayaan yang diterbitkan oleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam lima tahun terakhir, piutang pembiayaan
berdasarkan objek pembiayaan kendaraan roda empat menunjukkan pertumbuhan
yang stabil dari sebesar Rp169,61 triliun di tahun 2020 yang kemudian meningkat
hingga sebesar Rp250,84 triliun pada tahun 2024, dan sebesar Rp243,39 triliun
pada tahun 2025.
Jika ditelaah berdasarkan data OJK, pertumbuhan piutang pembiayaan syariah per
Desember 2025 tercatat tumbuh 29,49% jika dibandingkan capaian per Desember
2024 yang sebesar Rp27,43 triliun. OJK mencatat aset perusahaan pembiayaan atau
multifinance syariah per Desember 2025 mencapai Rp40,53 triliun. Nilai itu tercatat
meningkat 19,63%, jika dibandingkan capaian per Desember 2024 yang sebesar
Rp33,88 triliun.
KE PVML OJK menambahkan bahwa adapun gearing ratio perusahaan pembiayaan
syariah 1,00 kali per Desember 2025. Angka itu terbilang masih berada jauh di bawah
batas maksimum 10 kali, walaupun sempat diperkirakan bahwa kinerja pembiayaan
syariah terus berpeluang tumbuh ke depannya. Hal itu seiring dengan adanya
kewajiban perusahaan pembiayaan atau multifinance yang memiliki Unit Usaha
Syariah (UUS) untuk melakukan pemisahan atau spin off jika sudah memenuhi
sejumlah kriteria, seperti modal inti dan total aset berdasarkan laporan keuangan
tahunan yang diaudit. Adapun aturan tersebut tertuang dalam Peraturan OJK (POJK)
Nomor 46 Tahun 2024.
Pelaksanaan spin off UUS diharapkan dapat memperkuat kelembagaan dan
meningkatkan fokus pembiayaan berbasis syariah. Ditambah, mendorong daya saing
66
Page 79
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
dan pertumbuhan berkelanjutan industri pembiayaan syariah. Langkah itu diharapkan
dapat memperluas pangsa pasar dan memperkuat peran pembiayaan syariah dalam
mendukung perekonomian nasional.
Dengan analisis pasar tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.
8.2 Kajian Kelayakan Teknis
Dari Kajian Kelayakan Teknis, dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan bergerak pada bidang jasa pembiayaan syariah, sehingga jumlah dana
yang akan dialokasikan untuk pendanaan pada kegiatan usaha ini sebesar Rp189,52
miliar di tahun 2026, sebesar Rp292,68 miliar di tahun 2027, sebesar Rp321,95
miliar di tahun 2028, sebesar Rp354,14 miliar di tahun 2029, dan Rp389,55 miliar
di tahun 2030.
Pada penambahan kegiatan usaha ini, sumber pendanaan di tahun 2026 sebesar
Rp100,00 miliar berasal dari modal sendiri dan sebesar Rp89,52 miliar berasal dari
pihak perbankan. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya, sumber pendanaan
berasal dari pihak perbankan.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan berencana akan melakukan
penambahan tenaga kerja sebanyak 3 orang, sedangkan sisanya menggunakan
tenaga kerja eksisting. Untuk tahap awal, produk yang ditawarkan atas adanya
penambahan kegiatan usaha baru ini adalah Ijarah Haji & Umroh dan Murabahah
kendaraan.
Sampai dengan saat ini Perseroan telah memiliki beberapa tenaga ahli yang melekat
pada susunan pengurus & personalia UUS.
Dengan analisis teknis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis
Dari Kajian Kelayakan Pola Bisnis, Perseroan telah berdiri sejak lama sehingga
memiliki keunggulan kompetitif di antaranya adalah 1) Perseroan memiliki jaringan
cabang yang luas dan akses nasional; 2) Perseroan memiliki reputasi yang solid dan
terpercaya di industri; 3) Perseroan memiliki jaringan pasar dan basis nasabah
existing yang substansial dari usaha eksisting yang diyakini mempercepat
pertumbuhan dan ekspansi; 4) Perseroan memiliki pengalaman panjang dan
terpercaya di bidang pembiayaan, didukung oleh operasional yang mapan, serta
kemitraan strategis yang solid; 5) Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan
67
Page 80
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang berasal dari pertumbuhan pembiayaan
konsumen. Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat
menciptakan nilai yaitu 1) Menghadirkan solusi pembiayaan yang fleksibel dan
terjangkau untuk segmen individu maupun korporasi; 2) Memperluas jangkauan
pasar dan meningkatkan aksesibilitas layanan; 3) Memperkuat daya saing di industri
multifinance melalui strategi bisnis yang adaptif dan diferensiasi produk syariah.
Kemampuan pesaing untuk meniru produk memang tidak dapat dihindari, sehingga
membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi sangat kompetitif. Upaya
mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya adalah:
• Diferensiasi Layanan dan Distribusi
➢ Perseroan memiliki jaringan distribusi yang luas dan terintegrasi, mencakup
travel agent, digital marketing, dealer/showroom, serta berbagai mitra
bisnis, sehingga mampu menjangkau beragam segmen pasar secara efektif;
➢ Didukung layanan yang cepat, transparan, dan berbasis digital—mulai dari
pemantauan cicilan hingga progres keberangkatan Haji/Umroh —Perseroan.
• Reputasi, Kepercayaan Pasar, Kinerja Keuangan dan Strategi Branding
➢ Reputasi
Reputasi PT Buana Finance Tbk yang telah terbangun kuat menjadi fondasi
utama dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Unit Usaha
Syariah. Dalam industri pembiayaan, kepercayaan merupakan faktor kunci,
khususnya pada produk syariah yang menekankan kepatuhan prinsip dan
transparansi akad.
➢ Kinerja keuangan
Kinerja keuangan induk usaha yang sehat serta pertumbuhan pembiayaan
yang konsisten mencerminkan kapasitas permodalan dan manajemen yang
kuat. Hal ini memberikan ruang ekspansi pembiayaan syariah secara prudent
dan berkelanjutan.
➢ Strategi sharia branding
Perseroan menerapkan strategi sharia branding melalui pendekatan
penguatan (enhancement) atas kapabilitas dan reputasi yang telah dimiliki,
bukan perubahan fundamental atas model bisnis. Dalam hal ini, pengalaman
Perseroan sebagai perusahaan pembiayaan menjadi fondasi utama untuk
menghadirkan solusi keuangan syariah yang kredibel, terpercaya, dan
berdaya saing.
Dengan analisis pola bisnis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.
68
Page 81
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen
Dari kelayakan model manajemen, Perseroan memiliki 612 orang karyawan tetap
dan 168 orang karyawan kontrak. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan melakukan
penambahan tenaga kerja sebanyak 3 orang.
Dalam mendukung rencana kegiatan usaha, Unit Usaha Syariah berkomitmen untuk
memperkuat kemampuan manajemen melalui pengembangan kompetensi,
pelatihan berkelanjutan, serta sistem evaluasi kinerja yang terukur. Dengan struktur
organisasi yang jelas dan pembagian fungsi yang terdefinisi, manajemen memiliki
kapasitas yang memadai untuk menjalankan usaha secara prudent, profesional, dan
berkelanjutan sesuai prinsip syariah.
Dengan analisis model manajemen tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan
Dari Kajian Kelayakan Keuangan, analisis kelayakan menunjukkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha ini memenuhi kriteria kelayakan dengan variabel-
variabel sebagai berikut:
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp85,95 miliar. Dengan demikian, hasil NPV
yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa penambahan kegiatan usaha
layak dikerjakan karena memberikan keuntungan.
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate --> Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 31,28%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 8,03%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa penambahan kegiatan usaha dikerjakan karena keuntungan lebih besar
dari biaya modal (cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
PI yang diperoleh adalah sebesar 27,99. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 3 tahun 3 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah penambahan kegiatan usaha berjalan
selama 3 tahun 3 bulan.
69
Page 82
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Buana Finance Tbk
Kemudian, dari analisis sensitivitas, biaya operasional naik merupakan faktor yang
paling sensitif terhadap kelayakan usaha.
Dengan analisis keuangan tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan
Dengan demikian, berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis,
Kelayakan Pola Bisnis, Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat
disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 64959
(Aktivitas Pemberian Kredit Lainnya YTDL) adalah layak.
70
Page 83
LAMPIRAN PROYEKSI KEUANGAN
Page 84
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI Lampiran 1
ASUMSI
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
UMUM
Jumlah Hari Dalam Setahun Hari 365 365 365 365 365
Jumlah Hari Operasional Dalam Setahun Hari 264 264 264 264 264
Jumlah Bulan Operasional Dalam Setahun Bulan 12 12 12 12 12
STRUKTUR PENDAPATAN
Pendapatan
Pendapatan CF - UUS - Ijarah Rp.Juta 934 6.868 13.434 15.768 17.373
Pendapatan CF - UUS - Murabahah Rp.Juta 3.969 33.452 63.702 88.638 103.033
Pendapatan lain-lain Rp.Juta 3.576 7.868 8.655 9.520 10.472
CF - UUS - Ijarah Rp.Juta 186 408 449 494 544
CF - UUS - Murabahah Rp.Juta 3.391 7.460 8.206 9.026 9.929
JUMLAH PENDAPATAN Rp.Juta 8.479 48.188 85.791 113.927 130.878
Pertumbuhan
Pendapatan CF - UUS - Ijarah Growth 635,52% 95,60% 17,37% 10,18%
Pendapatan CF - UUS - Murabahah Growth 742,92% 90,43% 39,15% 16,24%
Pendapatan lain-lain Growth 120,00% 10,00% 10,00% 10,00%
STRUKTUR BIAYA
Beban keuangan To Sales 13,45% 41,11% 48,60% 51,17% 53,28%
Beban umum, administrasi dan lainnya Growth 23,45% -38,12% 10,04% 10,93%
Amortisasi UUS Rp.Juta 777 5.651 11.530 13.600 14.963
Beban kerugian penurunan nilai To Sales 25,11% 31,23% 22,89% 18,96% 18,16%
TINGKAT BUNGA
KI p.a. 8,59% 8,59% 8,59% 8,59% 8,59%
KMK p.a. 8,22% 8,22% 8,22% 8,22% 8,22%
TARIF PAJAK
PPh Badan To EBT 22,00% 22,00% 22,00% 22,00% 22,00%
Page 85
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
PROYEKSI POSISI KEUANGAN Lampiran 2
Rp.Juta
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
ASET
Aset Lancar
Kas & Setara Kas 66.886 115.101 168.111 222.344 291.355
Piutang CF - UUS - Ijarah - bersih 0 0 0 0 0
Piutang CF - UUS - Murabahah - bersih 114.837 309.323 467.690 579.515 615.963
Total Aset Lancar 181.723 424.424 635.801 801.859 907.318
Aset Tidak Lancar
Aset CF - UUS - Ijarah - bersih 4.848 11.572 13.655 15.029 16.537
Aset tetap - bersih 456 348 241 134 27
Aset takberwujud - bersih 1.600 350 250 150 50
Total Aset Tidak Lancar 6.904 12.271 14.146 15.313 16.614
TOTAL ASET 188.626 436.695 649.947 817.172 923.932
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Lancar
Utang kepada lembaga keuangan,bank, dan non bank 86.331 329.867 532.932 684.007 774.435
Utang pajak 505 1.108 2.485 4.100 4.495
Total Liabilitas Lancar 86.836 330.975 535.417 688.107 778.930
Liabilitas Tidak Lancar
Liabilitas imbalan pascakerja 0 0 0 0 0
Total Liabilitas Tidak Lancar 0 0 0 0 0
Total Liabilitas 86.836 330.975 535.417 688.107 778.930
Ekuitas
Modal Disetor 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000
Saldo laba 1.790 5.720 14.530 29.065 45.002
Total Ekuitas 101.790 105.720 114.530 129.065 145.002
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 188.626 436.695 649.947 817.172 923.932
Page 86
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
PROYEKSI LABA RUGI Lampiran 3
Rp.Juta
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
PENDAPATAN 8.479 48.188 85.791 113.927 130.878
BEBAN USAHA -5.407 -37.499 -62.966 -81.692 -95.483
% To Sales 63,77% 77,82% 73,39% 71,71% 72,96%
LABA (RUGI) USAHA - EBITDA 3.072 10.689 22.825 32.235 35.395
Operating Profit Margin 36,23% 22,18% 26,61% 28,29% 27,04%
BEBAN PENYUSUTAN & AMORTISASI -777 -5.651 -11.530 -13.600 -14.963
PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN
Pendapatan Lain-lain 0 0 0 0 0
Beban Lain-lain 0 0 0 0 0
TOTAL 0 0 0 0 0
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 2.295 5.038 11.295 18.635 20.432
% To Sales 27,07% 10,45% 13,17% 16,36% 15,61%
PPh Badan -505 -1.108 -2.485 -4.100 -4.495
LABA (RUGI) BERSIH 1.790 3.930 8.810 14.536 15.937
Net Profit Margin 21,11% 8,15% 10,27% 12,76% 12,18%
SALDO LABA (RUGI) AWAL TAHUN 0 1.790 5.720 14.530 29.065
Adjustment 0 0 0 0 0
SALDO LABA (RUGI) AKHIR TAHUN 1.790 5.720 14.530 29.065 45.002
Page 87
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
PROYEKSI ARUS KAS Lampiran 4
Rp.Juta
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
I. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Receipts from customers 18.923 118.954 216.119 319.666 443.751
Payments to suppliers (new lending) -133.035 -292.677 -321.945 -354.139 -389.553
Payments for opex -1.752 -4.208 -4.645 -5.131 -5.681
Notaris -63 -205 -225 -248 -273
Taxes payable 0 -505 -1.108 -2.485 -4.100
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK) AKTIVITAS OPERASI -115.927 -178.640 -111.804 -42.337 44.144
II. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Purchase of fixed & intangible assets -3.336 0 0 0 0
Capital Expenditures, CAPEX 0 0 0 0 0
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI -3.336 0 0 0 0
III. ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Withdrawal of bank loans 89.515 292.677 321.945 354.139 389.553
Repayment bank loans -2.364 -47.684 -118.598 -202.809 -298.844
Payment for loan interests / expenses -1.003 -18.138 -38.532 -54.761 -65.843
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN 86.149 226.855 164.814 96.570 24.867
IV. KENAIKAN (PENURUNAN) KAS -33.114 48.215 53.011 54.233 69.011
V. KAS AWAL TAHUN 100.000 66.886 115.101 168.111 222.344
VI. KAS AKHIR TAHUN 66.886 115.101 168.111 222.344 291.355
Page 88
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
PROYEKSI RATIO KEUANGAN Lampiran 5
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030 Average
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
I. RATIO LIKUIDITAS
Current Ratio 209,27% 128,23% 118,75% 116,53% 116,48% 137,85%
Working Capital To Total Assets Ratio 50,30% 21,40% 15,44% 13,92% 13,90% 22,99%
II. RATIO LEVERAGE
Total Debt To Equity Ratio DER 85,31% 313,07% 467,49% 533,15% 537,19% 387,24%
Total Debt To Total Assets Ratio DAR 46,04% 75,79% 82,38% 84,21% 84,31% 74,54%
III. RATIO AKTIVITAS
Total Assets Turnover Kali 0,04 0,11 0,13 0,14 0,14 0,11
Working Capital Turnover Kali 0,09 0,52 0,85 1,00 1,02 0,70
IV. RATIO KEUANGAN
Operating Profit Margin 27,07% 10,45% 13,17% 16,36% 15,61% 16,53%
Net Profit Margin 21,11% 8,15% 10,27% 12,76% 12,18% 12,89%
Return On Investment, ROI 0,95% 0,90% 1,36% 1,78% 1,72% 1,34%
Return On Equity, ROE 1,76% 3,72% 7,69% 11,26% 10,99% 7,08%
Page 89
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
ANALISA KELAYAKAN PROYEK Lampiran 6
Rp.Juta
Keterangan TOTAL 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
EBITDA 120.829 3.072 10.689 22.825 32.235 52.009
CASH OUT FLOW
- Tax -12.693 -505 -1.108 -2.485 -4.100 -4.495
- Investment Outlays -119.685 -119.685 0 0 0 0
- Capital Expenditure, CAPEX -3.336 -3.336 0 0 0 0
+ / - Working Capital 162.967 -28.000 49.652 46.076 40.864 54.375
TOTAL 27.253 -151.526 48.544 43.591 36.764 49.880
NET CASH FLOW 148.082 -148.454 59.233 66.416 68.999 101.889
Discount Factor 8,03% 0,92571 0,85694 0,79328 0,73435 0,67980
DISCOUNTED CASH FLOW 85.953 -137.426 50.759 52.686 50.670 69.263
PROCEED -148.454 -89.221 -22.806 46.194 148.082
PRESENT VALUE KAS MASUK 89.137 2.844 9.160 18.107 23.672 35.355
PRESENT VALUE KAS KELUAR -3.184 -140.269 41.599 34.580 26.998 33.908
INTERNAL RATE OF RETURN, IRR 31,28%
NET PRESENT VALUE, NPV 85.953
PROFITABILITY INDEX, PI 27,99
PAYBACK PERIOD, PP 3 Tahun 3 Bulan
BREAK EVEN POINT, BEP
Penjualan 8.479 48.188 85.791 113.927 130.878
Fixed Cost 6.184 43.150 74.496 95.292 110.446
BEP 6.184 43.150 74.496 95.292 110.446
BEP Rata-rata ( Rp.000 ) 65.914 72,93% 89,55% 86,83% 83,64% 84,39%
BEP Rata-rata ( % ) 83,47%
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 0 114.837 309.323 467.690 579.515 615.963
Hutang Lancar 0 -86.836 -330.975 -535.417 -688.107 -778.930
TOTAL 0 28.000 -21.652 -67.728 -108.592 -162.967
+ / - Working Capital 0 28.000 -49.652 -46.076 -40.864 -54.375
Rounded -50.000
Page 90
PT BUANA FINANCE TBK
INDUSTRI : PEMBIAYAAN INVESTASI, MODAL KERJA, DAN MULTIGUNA
STUDI KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KBLI
ANALISIS SENSITIVITAS PROYEK Lampiran 7
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
1. PENDAPATAN TURUN
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 82.597 79.241 75.885 72.529
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 30,44% 29,60% 28,76% 27,91%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,20% 1,06% 0,93% 0,79%
Profitability Index (PI) 27,99492 37,91519 62,38351 221,36948 (119,43814)
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 4 Bln 3 Th 4 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 5 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 63.185 60.457 57.728 55.000
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 84,45% 85,54% 86,77% 88,14%
2. BIAYA INVESTASI NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 80.259 74.565 68.871 63.177
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 29,06% 26,97% 25,01% 23,17%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,34% 1,34% 1,34% 1,34%
Profitability Index (PI) 27,99492 10,04006 6,11691 4,39828 3,43358
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 6 Bln 3 Th 7 Bln 3 Th 8 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 65.914 65.914 65.914 65.914
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 83,47% 83,47% 83,47% 83,47%
3. BIAYA OPERASIONAL NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 76.325 66.698 56.800 45.821
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 28,90% 26,48% 23,92% 21,01%
Return On Investment (ROI) 1,34% 0,97% 0,59% 0,20% -0,23%
Profitability Index (PI) 27,99492 163,87367 (28,68576) (11,10633) (6,56715)
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 5 Bln 3 Th 6 Bln 3 Th 7 Bln 3 Th 9 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 69.209 72.505 75.801 79.096
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 87,64% 91,82% 95,99% 100,16%
4. DISCOUNT RATE NAIK
Net Present Value (NPV) - Dalam Rp.Juta 85.953 83.486 81.069 78.702 76.383
Internal Rate of Return (IRR) 31,28% 31,28% 31,28% 31,28% 31,28%
Return On Investment (ROI) 1,34% 1,34% 1,34% 1,34% 1,34%
Profitability Index (PI) 27,99492 20,08255 15,63402 12,78341 10,80099
Payback Period (PP) 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln 3 Th 3 Bln
BEP a. Dalam Rp.Juta 65.914 65.914 65.914 65.914 65.914
b. Dalam % Terhadap Pendapatan 83,47% 83,47% 83,47% 83,47% 83,47%
Names mentioned 54 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
BUANA FINANCE TBK
· Nama Perusahaan
p.1 ×197
unresolved
org
KJPP Syarif
p.3 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.3
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.4
unresolved
org
ENDANG & REKAN
p.6 ×2
unresolved
org
REKAN Endang Sunardi
p.6
unresolved
person
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
· Rekan
p.6 ×2
unresolved
person
Meilindra Indriani
p.8
unresolved
person
Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev.
p.8 ×2
unresolved
org
Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt.
p.8
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif
p.13 ×2
unresolved
org
PT Buana Financ
p.13
unresolved
org
PT BBL Leasing Indonesia
p.13 ×2
unresolved
person
Kartini Muljadi
p.13 ×3
unresolved
org
Menteri Kehakiman
p.13 ×2
unresolved
person
Fathiah Helmi
p.13 ×4
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
p.13 ×2
unresolved
person
Tjiong Eng Pin
p.14
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Kosasih
p.14 ×2
unresolved
org
Tjahjo & Rekan
p.14 ×2
unresolved
person
Riva Utama Winata
p.14
unresolved
person
Darmenta Pinem
p.14 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Paul Hadiwinata
p.14 ×3
unresolved
org
Palilingan & Rekan
p.14 ×3
unresolved
org
Endang dan Rekan
p.16
unresolved
org
KJPP
p.16
unresolved
org
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
p.17
unresolved
org
Singapore Limited
p.18
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.18
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.18
unresolved
org
Bank Singapore Limited
p.20
unresolved
org
Bank Indonesia
p.33 ×9
unresolved
org
Bank Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia NPI
p.34
unresolved
org
Bank Indonesia Inflasi Gambar
p.36
unresolved
org
Bank Indonesia Inflasi
p.36
unresolved
org
Kementerian Agama
p.37 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik
p.38 ×2
unresolved
org
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
p.70
unresolved
org
Kementerian Keuangan RI
p.70
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
7002 ms
12 Sep 2026 22:24
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}