Skip to content
Back to announcement

20250519_CENT_Laporan Informasi dan Fakta Material_31886930_lamp2.pdf

Other Text extracted CENT

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 59

Page 1
                   Kantor Jasa Penilai Publik                                              The Manhattan Square
                                                                                 Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                   FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                           Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                   Property, Business Valuation & Advisory                     E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                                                                                     Website: www.fdipartners.co
                   Licence No. 2.22.0176
                                                                                           Phone (62 21) 27875911
                   KMK 460/KM.1/2022

Jakarta, 06 Mei 2025

Kepada Yth.
PT Centratama Menara Indonesia
TCC Batavia Tower One Lt. 16 & 19
Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220

No. Laporan    : FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Hal            : Revisi Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha berupa
                  penambahan 4 (empat) bidang kegiatan usaha PT Centratama Menara
                  Indonesia

Dengan hormat,

REVISI LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT CENTRATAMA MENARA INDONESIA



Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. 002/FDI.JKT/PB-FS/I/2025 tertanggal 15
Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R”
atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT Centratama Menara Indonesia (selanjutnya
disebut “CMI” atau “Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan usaha
berupa penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan
Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122),
Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), selanjutnya
disebut (“Obyek Studi Kelayakan”).

Sebelumnya kami telah menerbitkan Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha PT
Centratama Menara Indonesia No. FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025 tanggal 14 April 2025.
Selanjutnya sesuai dengan Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor: S-173/PM.023/2025 tanggal
29 April 2025, perihal Perubahan dan/atau Tambahan Informasi atas Rencana Perubahan
Kegiatan Usaha PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, maka kami menerbitkan
kembali revisi Lapoan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha PT Centratama Menara
Indonesia No. FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/IV/2025 tanggal 06 Mei 2025. Perubahan-perubahan
tersebut meliputi penambahan pengungkapan informasi atas laporan keuangan Perseroan,
analisis Perseroan, analisis kelayakan pasar, analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan pola
bisnis, analisis kelayakan model manajemen, dan analisis kelayakan keuangan namun tidak
merubah kesimpulan dan opini laporan.

Maksud dan Tujuan

Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana
perubahan/penambahan kegiatan usaha Perseroan, diperuntukan dalam rangka memenuhi
Otoritas Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan perusahaan public (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Page 2
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian Indonesia dan
Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan
Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar
maupun profesi lainnnya.

Tanggal Studi Kelayakan

Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2024.

Ruang Lingkup dan Metodologi Analisis Studi Kelayakan

Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:

 a.   Analisis Kelayakan Pasar
 b.   Analisis Kelayakan Teknis
 c.   Analisis Kelayakan Pola Bisnis
 d.   Analisis Model Manajemen
 e.   Analisis Kelayakan Keuangan

Analisis Kelayakan Pasar

Perkembangan industri Telekomunikasi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi
baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband Internet of Things (NB-IoT), 5G, dan lainnya.
Hampir seluruh perusahaan biasanya memiliki kebutuhan komunikasi yang kompleks karena
ukuran, penyebaran geografis, dan operasinya yang beragam. Hal ini berdampak kepada
kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang mampu menangani lalu lintas bervolume besar
secara efisien dan andal untuk memastikan komunikasi dan produktivitas yang lancar.

Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi karena
kebutuhan komunikasi yang kompleks dan volume lalu lintas tinggi, yang memerlukan solusi
telekomunikasi tangguh dan infrastruktur yang efisien serta andal untuk memastikan
kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Sementara itu CMI sendiri memiliki
beberapa tenant yang merupakan Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower di CMI.
CMI memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin
mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan inovasi
yang ditawarkan kepada pelanggan.

Pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada 2025 dan USD 4,21
triliun pada 2034, menurut riset yang dilakukan oleh Precedence Research, dan didukung oleh
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatatkan peningkatan
penetrasi internet di Indonesia yang diprediksi mencapai 79,5% pada 2024. Proyeksi pengguna
internet di Indonesia juga menunjukkan kenaikan masing-masing menjadi 81% dan 83% pada
2025 dan 2026, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang
dipublikasikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia.




Halaman 2                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 3
CMI tidak menghadapi persaingan dalam penyediaan instalasi listrik pada BTS miliknya karena
seluruh layanan kepada tenant ditangani langsung oleh CMI. Dominasi ini terjadi karena
hanya CMI yang memiliki akses ke lokasi-lokasi BTS tersebut, sehingga kompetitor tidak dapat
menawarkan layanan serupa. Dengan demikian, CMI memiliki peluang besar untuk
menyediakan instalasi listrik sebagai layanan tambahan bagi setiap tenant BTS.

Analisis Kelayakan Teknis

CMI memiliki kapasitas dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan penambahan
kegiatan usaha yaitu dalam bidang Pengoperasian Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 35121),
Pengoperasian Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 43211),
Kegiatan Penunjang Kelistrikan (KBLI 35129).

Atas penambahan kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan proses
yang menghasilkan produk. Sedangkan proses jasa yang dilakukan dapat terlihat dalam
gambar berikut:




Analisis Kelayakan Pola Bisnis

Keunggulan kompetitif yang dimiliki saat ini adalah CMI telah memiliki tower atau menara
telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat mendukung kegiatan usaha barunya, CMI telah
berdiri sejak tahun 2007 dan memiliki pengalaman dalam industri jasa telekomunikasi.

Kemampuan pesaing dalam meniru produk ini relatif sangat sulit karena para pesaing tidak
memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada provider/tenant yang ada pada
CMI saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian,
layanan yang ditawarkan oleh CMI bersifat eksklusif.

Kemampuan dalam menciptkan nilai, dapat tercipta dikarenakan CMI adalah salah satu
perusahaan yang berada dalam Group Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang
bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan
menara telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”).

Analisis Model Manajemen

Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, CMI tidak melakukan penambahan
tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Dan sebagai bentuk kepatuhan
terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2021, terkait
persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat SKTTK,Manajemen menginformasikan,
saat ini CMI secara aktif melaksanakan proses sertifikasi bagi tenaga kerja yang telah ada
(existing manpower). Sementara itu, terkait dengan kekayaan intelektual, CMI saat ini memiliki
kontrak jangka panjang dari masing-masing penyewa (perusahaan telekomunikasi yang
menyewa menara).




Halaman 3                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 4
Risiko-risiko yang berpotensi terjadi dalam menjalankan kegiatan usahanya, antara lain
adalah Risiko Kondisi Makro Ekonomi, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, dan Risiko Tidak
Tercapainya Proyeksi. Dalam menjalankan setiap bidang usaha CMI memiliki kapasitas
manajemen yang memiliki kompetensi dan berpengalaman sesuai bidangnya (key person).

Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya
suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk
perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan
Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi kerja yang terpadu dan
terarah.

Analisis Kelayakan Keuangan

Dalam rencana perubahan kegiatan usaha, Perseroan akan menambah 4 (empat) kegiatan
usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121),
Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211),
Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), membutuhkan biaya investasi terkait
sebesar Rp 5.840.338.000, dengan pembiayaan berasal dari kas Perseroan.

Biaya operasional atas rencana penambahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok
penjualan dan biaya/beban lain.

Dalam melakukan analisis kelayakan keuangan digunakan analisis titik impas, Profitability
Index (“PI”), Net Present Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”), dengan hasil
sebagai berikut:

Tabel 1. PI, NPV, dan IRR
 Keterangan                                       Indikator        Satuan           Nilai
 Net Present Value                                 NPV > 0        Rp. Ribu         157.412.564
 IRR                                              IRR > DR           %                 33,11%
 Profitability Index                                PI > 0            x                     1,33
 Payback Period                                    Tahun           Tahun                     8,0

Asumsi – Asumsi dan Kondisi Pembatas

1.     Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2.     Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam
       proses Studi Kelayakan.
3.     Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
       keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data
       yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami
       anggap relevan.
4.     Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran
       proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
       (fiduciary duty).
5.     Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
6.     Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.




Halaman 4                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 5

          
Page 6
                                                                    DAFTAR ISI

SURAT PENGANTAR
DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. 6
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 8
  1.1         Uraian Mengenai Penugasan .............................................................................. 8
  1.2         Status Penilai .......................................................................................................... 8
  1.3         Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................. 8
  1.4         Tanggal Penilaian ................................................................................................. 9
  1.5         Objek Studi Kelayakan ......................................................................................... 9
  1.6         Maksud dan Tujuan .............................................................................................. 9
  1.7         Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan .............................................. 10
  1.8         PIhak-pihak Yang Diwawancara ....................................................................... 11
  1.9         Metodologi Analisis Studi Kelayakan................................................................. 11
  1.10        Pernyataan Independensi Penilai ..................................................................... 11
  1.11        Asumsi dan Kondisi Pembatas ........................................................................... 12
  1.12        Pedoman dan Standar Penilaian ...................................................................... 12
  1.13        Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ................. 12
BAB II ANALISIS PERSEROAN .............................................................................................................. 13
  2.1         Gambaran Umum CMI....................................................................................... 13
  2.2         Informasi Keuangan CMI .................................................................................... 15
  2.3         Informasi Perpajakan CMI .................................................................................. 19
BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................. 20
  3.1         Kondisi Pasar ........................................................................................................ 20
  3.2         Persaingan Pasar ................................................................................................ 23
  3.3         Strategi Pemasaran ............................................................................................ 24
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ................................................................................................. 25
  4.1         Kapasitas ............................................................................................................. 25
  4.2         Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia.......................................... 25
  4.3         Proses Produksi / Layanan Jasa ......................................................................... 27
BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ........................................................................................ 28
  5.1         Keunggulan Kompetitif ....................................................................................... 28
  5.2         Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk ..................................................... 28
  5.3         Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai ............................................................. 28
BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 30
  6.1         Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................... 30




Halaman 6                                                                                              FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 7
  6.2        Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property) .............................. 30
  6.3        Manajemen Risiko ............................................................................................... 30
  6.4        Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen ........................................................ 31
  6.5        Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen............................................. 33
BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ...................................................................................... 34
  7.1        Proyeksi Keuangan Konsolidasian CMI Sebelum Penambahan Kegiatan
             Usaha ................................................................................................................... 34
  7.2        Biaya Pendirian (Start Up Cost) Penambahan Kegiatan Usaha ..................... 35
  7.3        Modal Kerja Penambahan Kegiatan Usaha .................................................... 35
  7.4        Sumber Pembiayaan Penambahan Kegiatan Usaha ..................................... 36
  7.5        Biaya Operasional Penambahan Kegiatan Usaha.......................................... 36
  7.6        Proyeksi Laporan Keuangan Penambahan Kegiatan Usaha ......................... 36
  7.7        Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) .......................................................... 48
  7.8        Analisis Profitabilitas (Overall Profitability) ......................................................... 49
  7.9        Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ......................... 51
  7.10       Proyeksi Keuangan Konsolidasian CMI Setelah Penambahan Kegiatan
             Usaha ................................................................................................................... 52
  7.11       Rasio Proyeksi Keuangan konsolidasian CMI Sebelum dan Setelah
             Penambahan Kegiatan Usaha. ......................................................................... 54
BAB VIII KESIMPULAN .......................................................................................................................... 56
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ...................................................................................... 57
PERNYATAAN PENILAI ......................................................................................................................... 58




Halaman 7                                                                                       FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 8
                                             BAB I
                                         PENDAHULUAN



1.1   Uraian Mengenai Penugasan

      Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. 002/FDI.JKT/PB-FS/I/2025 tertanggal
      15 Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP
      FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT Centratama Menara Indonesia
      (selanjutnya disebut “CMI” atau “Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan
      perubahan kegiatan usaha berupa penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu
      Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi
      Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang
      Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), selanjutnya disebut (“Obyek Studi Kelayakan”).

1.2   Status Penilai

      Studi kelayakan ini dilakukan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) Cabang
      Jakarta Selatan, selaku Penilai Independen untuk memberikan Kajian Indikasi Nilai yang
      objektif dan tidak memihak, sesuai KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan Kajian
      Indikasi Nilai atas objek Kajian Indikasi Nilai yang dimaksud. KJPP Ferdinand, Danar,
      Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
      No. 582/KM.1/2024 tanggal 19 September 2024 dari Menteri Keuangan Republik
      Indonesia dan mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:

      •    Pemimpin Cabang, Ferdinand Pardede, adalah seorang Penilai Publik untuk
           klasifikasi penilaian bisnis dengan izin No. B-1.09.00089 dari Menteri Keuangan
           Republik Indonesia, dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Surat
           Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) No. STTD.PB-17/PJ-
           1/PM.02/2023. Beliau adalah anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
      •    Penugasan penilaian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
           atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian
           dan/atau pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional
           dan tidak memihak.
      •    Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu
           kesatuan tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung
           jawab laporan penilaian ini.

1.3   Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

      • Nama Pemberi Tugas            : PT Centratama Menara Indonesia
      • Alamat                        : TTC Batavia Tower One Lt. 16 & 19
                                        Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin,
                                        Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220
      •   Bidang Usaha                          : Pengelolaan Sarana Jaringan Telekomunikasi
      •   No. Telepon/Fax             : 021-29529404
      •   Alamat Email                : daniel.pradipta@centratamagroup.com
      •   Penanggung Jawab            : Daniel Pradipta/Aditya




Halaman 8                                                        FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 9
1.4   Tanggal Penilaian

      Studi Kelayakan diperhitungkan pada tanggal 31 Desember 2024.

1.5   Objek Studi Kelayakan

      Objek Studi Kelayakan ini berupa penambahan/perubahan kegiatan usaha pada CMI
      selaku afiliasi dengan penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang
      Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi
      Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang
      Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129),

      •   KBLI 35121 - Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik
          Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
          fasilitas pembangkit yang menghasilkan energi listrik, fasilitas sistem transmisi tenaga
          listrik dan sistem distribusi tenaga listrik.
      •   KBLI 35122 - Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
          Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
          fasilitas instalasi pemanfaatan tenaga listrik mencakup instalasi pemanfaatan
          tenaga listrik tegangan tinggi, instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan
          menengah, dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah.
      •   KBLI 43211 - Instalasi Listrik
          Kelompok ini mencakup kegiatan pembangunan, pemasangan, pemeliharaan,
          pembangunan kembali instalasi listrik pada pembangkit, transmisi, gardu induk,
          distribusi tenaga listrik, sistem catu daya, dan instalasi listrik pada bangunan gedung
          baik untuk hunian maupun non hunian, seperti pemasangan instalasi jaringan listrik
          tegangan rendah. Termasuk kegiatan pemasangan dan pemeliharaan instalasi listrik
          pada bangunan sipil, seperti jalan raya, jalan kereta api dan lapangan udara.
      •   KBLI 35129 - Aktivitas penunjang tenaga listrik lainnya
          Kelompok ini mencakup usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan
          penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik namun tidak tercakup dalam kelompok
          35121 s.d. 35122, seperti jasa pencatatan meteran, pemberian tagihan dan kegiatan
          perdagangan pulsa/token listrik sera kegiatan penunjang kelistrikan lainnya.

1.6   Maksud dan Tujuan

      Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana
      perubahan/penambahan kegiatan usaha Perseroan, diperuntukan dalam rangka
      memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan perusahaan public
      (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.
      17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan perubahan Kegiatan Usaha.

      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
      35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
      Modal (“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan
      Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian
      Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018).
      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya.




Halaman 9                                                       FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 10
1.7   Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan

      Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses studi kelayakan usaha CMI
      adalah sebagai berikut:
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2024 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani pada tanggal 30 April 2025 oleh Sherly Jokom dengan pendapat
        bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
        material.
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2023 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani pada tanggal 26 April 2024 oleh Sherly Jokom dengan pendapat
        bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
        material.
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2022 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani pada tanggal 19 April 2023 oleh Sherly Jokom dengan pendapat
        bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
        material.
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2021 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani pada tanggal 26 April 2022 oleh Benyanto Suherman dengan
        pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
        semua hal yang material.
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2020 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani tanggal 19 April 2021 oleh Benediktio Salim, CPA dengan pendapat
        bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
        material.
      • Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember
        2019 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dan telah
        ditandatangani tanggal 2 Juni 2020 oleh Benediktio Salim, CPA dengan pendapat
        bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
        material.
      • Rencana Bisnis Plan, berupa rencana anggaran pembelian alat dan proyeksi
        pendapatan tahun 2025 – 2035.
      • Data legalitas CMI antara lain akta pendirian, akta perubahan terakhir, Nomor Induk
        Berusaha (NIB), Sertifikat Badan Usaha Jasa Kontruksi (SBUJK), Nomor Pokok Wajib
        Pajak (NPWP).
      • Data makro ekonomi berupa Proyeksi inflasi dan GDP Indonesia bersumber dari
        International Monetary Fund (IMF).
      • Data makro industri berasal dari Precedence Research dan katadata.co.id.
      • Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat
        disetujui untuk digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada
        tingkat Nasional maupun Internasional, antara lain dari Data Pemerintah Kota dan
        Informasi dari media masa elektronik.
      • Sertifikat Merek Logo CMI        dengan No perndaftaran IDM000698635 yang
        dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia.




Halaman 10                                                  FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 11
1.8   PIhak-pihak Yang Diwawancara

      Pihak-pihak yang diwawancara dalam penyusunan studi kelayakan adalah:
      1. Nama: Daniel Pradipta
         Jabatan: Head of Corporate Secretary
         E-mail: Daniel.Pradipta@centratamagroup.com

      2. Nama: Chayadi
         Jabatan: Head of Corporate Finance & Investor Relation
         E-mail: chayadi@centratamagroup.com

1.9   Metodologi Analisis Studi Kelayakan

      Metodologi analisis studi kelayakan meliputi sebagai berikut:

      a. Melakukan analisis Kelayakan Pasar, meliputi kondisi pasar, seperti pangsa pasar,
         kesinambungan (sustainability), potensi pasar, sasaran, dan potensi nilai pasar;
         pesaing usaha; dan strategi pemasaran.
      b. Melakukan analisis Kelayakan Teknik, meliputi kapasitas; ketersediaan dan kualitas
         sumber daya, termasuk bahan baku mentah, pekerja, dan ahli profesional; dan
         proses produksi.
      c. Melakukan analisis Kelayakan Pola Bisnis, meliputi keunggulan kompetitif karena
         keunikan dari pola bisnis; kemampuan pesaing untuk meniru produk; dan
         kemampuan untuk menciptakan nilai.
      d. Melakukan analisis Kelayakan Model Manajemen, meliputi ketersediaan tenaga
         kerja; manajemen kekayaan intelektual (intellectual property); manajemen risiko;
         kapasitas dan kemampuan manajemen; dan kesesuaian struktur organisasi dan
         manajemen.
      e. Melakukan analisis Kelayakan Keuangan, meliputi biaya pendirian (start up costs);
         modal kerja; sumber pembiayaan; biaya operasional; biaya bahan baku mentah;
         proyeksi laporan keuangan; analisis titik impas; analisis profitabilitas; tingkat imbal
         balik investasi dan analisis inkremental.
      f. Kami telah melakukan investigasi terhadap Objek Studi Kelayakan yang meliputi:
         − Objek Studi Kelayakan sesuai dengan lingkup penugasan;
         − Tanggal Penilaian sesuai dengan Laporan keuangan per 31 Desember 2024;

1.10 Pernyataan Independensi Penilai

      Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini, KJPP FDI&R bertindak secara
      independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan
      Perseroan, ataupun pihak-pihak lainnya yang terafiliasi dengan Perseroan. KJPP FDI&R
      tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan
      ini. Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan
      atau merugikan pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak
      dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan
      ini.




Halaman 11                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 12
1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas

     Asumsi dan kondisi pembatas studi kelayakan diuraikan sebagai berikut:

      1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      2. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
          dalam proses Studi Kelayakan.
      3. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
          keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
          data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi
          lainnya yang kami anggap relevan.
      4. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
          kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan
          kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
      5. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
      6. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
      7. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi
          Kelayakan dari Pemberi Tugas.
      8. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
      9. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi
          Kelayakan telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan
          Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
          Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
      10. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab
          kami secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek
          penugasan, di luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada
          di luar lingkup penugasan.
      11. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas,
          sesuai dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi
          Kelayakan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami
          tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
      12. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian,
          sehingga pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam
          menentukan relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan
          hasil laporan).

1.12 Pedoman dan Standar Penilaian

     Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada POJK 17 dan Peraturan
     Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
     tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), SE
     OJK NO.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilai Indonesia & Standar Penilaian Indonesia
     Edisi Vll-2018 (KEPI-SPI VII.2018).

1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)

     Dari tanggal penilaian (cut off date) per 31 Desember 2024 hingga laporan studi
     kelayakan ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal penilaian.




Halaman 12                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 13
                                          BAB II
                                   ANALISIS PERSEROAN



2.1   Gambaran Umum CMI

      o   Pendirian Perusahaan

      CMI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa
      penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau BTS, serta alat,
      sarana atau instalasi penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi
      komunikasi, jasa konsultasi manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.

      CMI didirikan berdasarkan Akta Notaris Agus Madjid, S.H., No. 32 tanggal 31 Oktober
      2007. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
      Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-05586.AH.01.01. Tahun 2008
      tanggal 4 Februari 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
      No. 6861 dan 6862 tahun 2009 dan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 19
      tanggal 6 Maret 2009.

      Anggaran dasar CMI telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir
      dengan Akta Notaris Jimmy Tanal, S.H., M.Kn. No. 151 tanggal 26 April 2022, mengenai
      perubahan maksud dan tujuan Perusahaan. Anggaran dasar ini telah disetujui oleh
      Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan
      dalam Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-0031565.AH.01.02 Tahun 2022
      tanggal 29 April 2022 dan telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
      0086492.AH.01.11. Tahun 2022 tanggal 29 April 2022 (“Anggaran Dasar CMI”).

      o   Perizinan

      Perusahaan telah melengkapi dokumen perizinan dan persetujuan yang diperlukan
      serta telah melakukan pendaftaran dan pelaporan yang harus dilakukan oleh
      Perusahaan di dalam melakukan kegiatan usahanya di Indonesia, adapun dokumen
      tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
      1. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Centratama Menara Indonesia No. 32 tanggal
         31 Oktober 2007 dari Agus Madjid S.H., M.Kn. notaris di Jakarta.
      2. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
         05586.AH.01.01. Tahun 2008 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan
         Terbatas PT Centratama Menara Indonesia Tanggal 4 Februari 2008.
      3. Akta notaris No. 151 tanggal 26 April 2022 dari Jimmy Tanal, S.H., M.Kn. notaris di
         Jakarta.
      4. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
         0031565.AH.01.02 Tahun 2022 Tentang perubahan maksud dan tujuan Perusahaan
         Tanggal 29 April 2022.
      5. Akta notaris No.17 tanggal 23 Oktober 2024 dari Caesaria Dhamayanti, SH, M.Kn,
         notaris di Kabupaten Tangerang.




Halaman 13                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 14
     6. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
        0228494.AH.01.11. Tahun 2024, tanggal 28 November 2028, Tentang Perubahan
        peralihan saham, ganti nama pemegang saham, dan pengangkatan kembali
     7. Akta notaris No.17 tanggal 28 November 2024 dari Caesaria Dhamayanti, SH, M.Kn,
        notaris di Kabupaten Tangerang.
     8. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
        0257802.AH.01.11. Tahun 2024, tanggal 28 November 2028, Tentang Perubahan
        direksi dan komisaris.
     9. Nomor Induk Berusaha (NIB), No.8120108930946 tanggal 14 September 2018,
        dikeluarkan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman
        Modal.
    10. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), No. 02.626.717.9-064.000, dikeluarkan oleh Kantor
        Pelayanan Pajak Madya Jakarta Pusat.
    11. Perizinan Berusaha Untuk Menunjang Kegiatan Usaha (PB-UMKU), Sertifikat Badan
        Usaha Konstruksi No.812010893094500000002, yang diterbitkan atas nama Menteri
        Pekerjaan Umum dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi
        Penanaman Modal,
    12. Perserujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha
        No.23112210213306011, yang diterbitkan atas nama Menteri Agraria dan Tata
        Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan Menteri Investasi dan
        Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

    o    Susunan Manajemen CMI

     Berdasarkan Akta No. 17 tanggal 28 November 2024, yang dibuat di hadapan Notaris
     Caesaria Dhamayanti, S.H., M.Kn, Notaris di Tangerang, yang telah diberitahukan
     kepada Menteri Hukum Republik Indonesia berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan
     Perubahan Data No. AHU-AH.01.09-0281278 tanggal 28 November 2024, dan telah
     didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-0257802.AH.01.11.Tahun 2024 tanggal 28
     November 2024, komposisi anggota Dewan Komisaris dan Direksi CMI adalah sebagai
     berikut:

                       Jabatan                                    Nama
        DEWAN KOMISARIS:
        Komisaris                                Suresh Narain Singh Sidhu
        DEWAN DIREKSI:
        Direktur Utama                           Yan Raymond Jafri
        Direktur                                 Caba Pinter
        Direktur                                 Jacopo Rigamonti

    o    Kegiatan Usaha CMI

     Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar CMI, maksud dan tujuan kegiatan usaha CMI
     adalah (i) Konstruksi Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206); (ii) Perdagangan Besar
     Peralatan Telekomunikasi (KBLI No. 46523); (iii) Aktivitas Telekomunikasi dengan Kabel
     (KBLI No. 61100); dan (iv) Instalasi Telekomunikasi (KBLI No. 43212).




Halaman 14                                                  FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 15
      o     Susunan Pemegang Saham

      Susunan pemegang saham CMI berdasarkan Akta No. 17 tanggal 23 Oktober 2024,
      yang dibuat di hadapan Caesaria Dhamayanti, S.H., M.Kn., Notaris di Tangerang, yang
      telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan
      Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data No. AHU-AH.01.09-0267098 tanggal 24
      Oktober 2024, dan telah telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
      0228484.AH.01.11.Tahun 2024 tanggal 24 Oktober 2024 adalah sebagai berikut:

             Nama Pemegang              Modal Ditempatkan            Lembar Saham             Persentase
                  Saham                  dan Disetor (Rp)                                    Kepemilikan
          PT Centratama                   1.061.789.000.000                    1.061.789           99,99%
          Telekomunikasi
          Indonesia Tbk (‘’CTI’’)
          Yan Raymond Jafri                        1.000.000                           1            0,01%
          Jumlah                           1.061.790.000.000                   1.061.790            100%

2.2   Informasi Keuangan CMI

      Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang
      posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu perseroan.
      Laporan keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu perseroan
      yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat proyeksi
      keuangan masa depan. Ikhtisar laporan keuangan CMI dan analisa yang dibuat
      mengacu kepada laporan keuangan CMI yang telah diaudit (2020-2023). Tabel berikut
      ini menggambarkan ikhtisar laporan posisi keuangan CMI untuk periode yang berakhir
      pada tanggal 31 Desember 2020 hingga 31 Desember 2024:

      Tabel 1. Historis Posisi Keuangan Perseroan Periode 2020 – 2024 (dalam jutaan Rupiah)
                          Uraian             2020         2021         2022          2023          2024
          Aset Lancar                         439.093    2.007.599     2.079.287     1.297.122    1.292.469
          Aset Tidak Lancar                 4.341.628   15.204.610    16.268.338    17.135.203   24.454.864
          Total Aset                        4.780.721   17.212.209    18.347.625    18.432.325   25.747.333
          Liabilitas Lancar                 3.866.020    5.877.968     1.877.952     1.793.347    2.620.948
          Liabilitas Tidak Lancar             744.334   11.525.774    18.663.088    19.685.241   20.599.887
          Total Liabilitas                  4.610.354   17.403.742    20.541.040    21.478.588   23.220.835
          Total Ekuitas                       170.367    (191.533)   (2.193.415)   (3.046.263)    2.526.498
          Total libilitas dan Ekuitas       4.780.721   17.212.209   18.347.625    18.432.325    25.747.333
      Sumber: Laporan keuangan Perseroan

      Analisis Laporan Posisi Keuangan Perseroan

      Total Aset
      Total aset CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 18.432.325 juta
      mengalami peningkatan sebesar Rp 84.700 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
      Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 18.347.625 juta. Peningkatan terjadi
      disebabkan oleh meningkatnya total aset tidak lancar CMI. Sampai dengan periode 31
      Desember 2024 total aset CMI tercatat sebesar Rp25.747.333 juta meningkat 39,69% dari
      periode sebelumnya 31 Desember 2023 peningkatan disebabkan adanya aset tidak
      lancar CMI pada tahun 2024.




Halaman 15                                                             FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 16
     Aset Lancar
     Aset lancar CMI terdiri dari kas dan bank, surat berharga, piutang usaha, piutang lain-
     lain, pajak dibayar dimuka, uang muka, dan biaya dibayar dimuka, pajak dibayar
     dimuka dan uang muka. Total aset lancar CMI periode 31 Desember 2023 tercatat
     sebesar Rp 1.297.122 juta mengalami penurunan sebesar Rp 782.165 juta dari periode
     sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 2.079.287 juta. Penurunan
     terjadi disebabkan oleh menurunnya kas dan bank, piutang lain lain dan biaya dibayar
     dimuka. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 total aset lancar CMI tercatat
     sebesar Rp 1.292.469 juta menurun 0,36% dari periode 31 Desember 2023.

     Aset Tidak Lancar
     Aset tidak lancar CMI terdiri dari uang muka pembelian aset, piutang lain lain, aset
     tetap, ROU-Lease Asset, aset tak berwujud, derivatif aset, klaim atas restitusi pajak, aset
     pajak tangguhan, aset keuangan tidak lancar lainnya. Per 31 Desember 2023 total aset
     tidak lancar CMI tercatat sebesar Rp 17.135.203 juta mengalami peningkatan sebesar
     Rp 866.865 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 yang tercatat sebesar
     Rp 16.268.338 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total aset tidak lancar CMI
     tercatat sebesar Rp 24.454.864 juta meningkat 42,72% dari periode 31 Desember 2024.

     Liabilitas
     Total liabilitas CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 21.478.588 juta
     mengalami peningkatan sebesar Rp 937.548 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
     Desember 2022 tercatat sebesar Rp 20.541.040 juta. Peningkatan terjadi disebabkan
     oleh meningkatnya liabilitas jangka Panjang CMI. Sampai dengan periode 31 Desember
     2024 total liabilitas CMI tercatat sebesar Rp 23.220.835 juta meningkat 8,11% dari periode
     31 desember 2023. Peningkatan disebabkan meningkatnya liabilitas jangka Panjang
     dan jangka pendek

     Liabilitas Jangka Pendek
     Liabilitas jangka pendek CMI terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, beban akrual,
     utang pajak, utang jangka Panjang, liabilitas imbalan kerja jangka pendek, utang bank
     jatuh tempo 1 tahun, pendapatan diterima dimuka dan liabilitas sewa. Total liabilitas
     jangka pendek CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.793.347 juta
     mengalami penurunan sebesar Rp 84.605 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
     Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.877.952 juta. Penurunan terjadi utamanya
     disebabkan oleh lunasnya pinjaman dari pihak berelasi. Sampai dengan periode 31
     Desember 2024 liabilitas jangka pendek CMI tercatat sebesar Rp 2.620.948 juta
     meningkat 46,15% dari periode 31 Desember 2023

     Liabilitas Jangka Panjang
     Liabilitas Jangka Panjang CMI merupakan utang bank, pendapatan diterima dimuka,
     liabilitas imbalan kerja jangka Panjang, Liabilitas Sewa, Pinjaman Pihak Berelasi, liabilitas
     tidak lancar lainnya dan liabilitas pada pihak berelasi (bond instrument Liability). Pada
     periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 19.685.241 juta mengalami peningkatan
     sebesar Rp 1.022.153 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar
     Rp 18.663.088 juta. Peningkatan ini terjadi dikarenakan penambahan utang pada pihak
     berelasi (bond instrument Liability) menjadi Rp 8.888.548 juta dari periode sebelumnya
     tercatat sebesar Rp 7.731.239 juta. Pada periode 31 Desember 2024 total liabilitas jangka




Halaman 16                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 17
     panjang CMI tercatat sebesar Rp 20.599.887 juta meningkat 4,65% dari periode 31
     Desember 2023.

     Ekuitas
     Jumlah ekuitas periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar negatif Rp 3.046.263 juta
     mengalami penurunan dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat
     sebesar negatif Rp 2.193.415 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total ekuitas CMI
     tercatat sebesar 2.526.498 juta meningkat 182,94% sehingga ekuitas saat ini tercatat
     positif Dimana 3 tahun sebelumnya CMI mencatatkan ekuitas yang negatif.

     Analisis Historis Laba Rugi Perseroan

     Tabel 2. Historis Laba Rugi Perseroan Periode 2020 – 2024 (dalam jutaan Rupiah)
                Description          2020       2021          2022        2023          2024
      Pendapatan                     658.590     803.909     1.979.716    2.218.648    2.147.401
      Beban Pokok Pendapatan         252.527     311.527       995.383    1.104.566    1.049.865
      Beban Umum Dan Administrasi     59.017     101.028       182.930     255.874       289.562
      Laba Usaha (Rugi)               36.573     242.726     (155.322)    1.033.098      286.770
      Rugi Bersih                   (495.309)   (256.467)   (1.873.757)   (823.663)   (1.644.406)
    Sumber: Laporan keuangan Perseroan

     Pendapatan Usaha
     Pendapatan usaha CMI berasal dari pendapatan sewa dan pemeliharaan menara
     kepada operator telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Total pendapatan CMI
     per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 2.218.648 juta mengalami peningkatan
     sebesar Rp 238.932 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp
     1.979.716 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total pendapatan CMI tercatat
     sebesar Rp 2.147.401 juta menurun 3,21% dari periode 31 Desember 2023.

     Beban Pokok Pendapatan
     Total beban pokok pendapatan CMI per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp
     1.104.566 juta mengalami peningkatan sebesar Rp. 109.183 juta dari periode
     sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 995.527 juta. Sampai dengan 31
     Desember 2024 total beban pokok pendapatan CMI tercatat sebesar Rp 1.049.865 juta
     menurun 4,95% dari periode 31 desember 2023, hal ini sejalan dengan penurunan
     pendapatan CMI pada tahun 2024.

     Beban Umum dan Administrasi
     Total beban umum dan administrasi CMI merupakan Gaji, upah dan kompensasi
     karyawan, penyisihan penurunan nilai piutang, beban imbalan kerja karyawan, jasa
     profesional, perjalanan dinas, utilitas, penyusutan dan/atau amortisasi, perbaikan dan
     pemeliharaan serta lain-lain. Per 31 Desember 2023 total beban umum dan administrasi
     CMI tercatat sebesar Rp 255.874 juta mengalami kenaikan sebesar Rp 72.944 juta dari
     periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 182.930 juta. Sampai
     dengan 31 Desember 2024 total beban umum dan administrasi CMI tercatat sebesar Rp
     289.562 juta meningkat 13,17% dari periode 31 Desember 2023.




Halaman 17                                                       FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 18
     Laba/(Rugi) Usaha
     Laba (Rugi) usaha CMI merupakan laba bruto yang dikurangi dengan biaya penjualan,
     biaya umum dan administrasi dan biaya operasinal lainnya CMI. Per 31 Desember 2023
     CMI mencatat laba usaha sebesar Rp 1.033.098 juta mengalami peningkatan sebesar
     Rp 1.188.420 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang mencatat rugi usaha
     sebesar Rp 155.322 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 CMI mencatat laba usaha
     sebesar Rp 286.770 juta menurun 72,24%.

     Laba/(Rugi) Bersih
     Laba/(Rugi) bersih CMI merupakan laba usaha dikurangi dengan pendapatan dan
     beban umum lainnya (beban keuangan) serta pajak penghasilan. Per 31 Desember
     2023 CMI mengalami kerugian sebesar Rp 823.663 juta mengalami penurunan kerugian
     sebesar Rp 1.050.094 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat rugi
     sebesar Rp 1.873.757 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 CMI mencatat rugi bersih
     sebesar Rp 1.644.406 juta, kerugian CMI meningkat 99,65% pada tahun 2024 dari
     periode 31 Desember 2023.

     Analisa Rasio Keuangan Perseroan

     Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
     keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dari
     laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara
     keduanya. Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang kami gunakan
     dalam analisis rasio keuangan CMI


     Tabel 3. Rasio Keuangan Perseroan

                 Uraian              2020        2021       2022       2023      2024      Average

       Likuiditas (X)
       Rasio Lancar                     0,11        0,34       1,11       0,72      0,49       0,56
       Rasio Cepat                      0,11        0,34       1,11       0,72      0,49       0,56
       Profitabilitas (%)
       Rasio Laba Atas Aset (ROA)    -10,36%      -1,49%    -10,21%     -4,47%    -6,39%     -6,58%
       Rasio Laba Atas Ekuitas
                                    -290,73%    133,90%     85,43%     27,04%    -65,09%    -21,89%
       (ROE)
       Solvabilitas (%)
       Debt to Asset                  96,44%     101,11%    111,95%    116,53%    90,19%     103,2%
       Debt to Equity               2706,13%   -9086,56%   -936,49%   -705,08%   919,09%   -1420,6%
      Sumber: Laporan keuangan Perseroan, diolah konsultan

     Analisis Rasio Keuangan

     Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
     Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui
     sejauh mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya.
     Beberapa rasio keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

      1. Rasio Lancar
         Rasio lancar CMI menunjukkan rata-rata selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024)
         sebesar 0,56 kali.




Halaman 18                                                         FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 19
       2. Rasio Cepat
          Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar,
          beberapa pos seperti persediaan yang dianggap kurang lancar, dikeluarkan
          dalam perhitungan rasio cepat. Rasio cepat CMI juga menunjukkan pencapaian
          rata-rata selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024) sebesar 0,56 kali.

      Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
      Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan Perusahaan dalam
      menghasilkan laba. Beberapa rasio yang termasuk dalam kategori ini antara lain
      adalah:

       1. Rasio Laba Atas Aset
          Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan
          dapat menghasilkan laba. Rasio laba atas aset CMI rata-rata selama 5 (lima) tahun
          terakhir (2020- 2024) sebesar negatif 6,58%.

       2. Rasio Laba Atas Ekuitas
          Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau
          keuntungan yang diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Adapun tingkat
          rasio laba atas ekuitas rata- rata selama selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024)
          adalah negatif 21,89%.

      Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio)
      Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
      Perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk
      dalam kategori ini.

       1. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Aset
          Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total aset
          Perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan
          Perusahaan. Adapun tingkat rasio liabilitas terhadap total aset CMI secara rata-rata
          selama 5 (lima) tahun terakhir (2020-2024) tercatat sebesar 103,2%.

       2. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Ekuitas
          Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total ekuitas atau
          modal Perusahaan. Berdasarkan tabel rasio keuangan Perusahaan diatas dapat
          dilihat bahwa secara rata-rata selama selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024)
          rasio liabilitas terhadap ekuitas CMI negatif 1420,6%, dimana hal ini mengindikasikan
          bahwa total liabilitas CMI lebih besar dibandingkan dengan total ekuitas yang
          dimiliki CMI.

2.3   Informasi Perpajakan CMI

      Berdasarkan laporan keuangan auditan Perusahaan periode 31 Desember 2024, CMI
      dan entitas anak memiliki utang pajak penghasilan sebesar Rp34.439 juta yang terdiri dari
      utang pajak penghasilan CMI sebesar Rp.15.359 juta dan utang pajak penghasilan
      entitas anak sebesar Rp19.080 juta.




Halaman 19                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 20
                                           BAB III
                                 ANALISIS KELAYAKAN PASAR



3.1   Kondisi Pasar

      Telekomunikasi mengacu pada proses pengiriman suara, gambar, data, dan informasi
      lainnya. Telekomunikasi bekerja berdasarkan prinsip media listrik atau pemancar
      cahaya. Ini adalah istilah luas yang mencakup berbagai teknologi pengiriman informasi
      seperti telepon seluler, jaringan Voice over Internet Protocol (VoIP), telepon rumah, dan
      jaringan penyiaran lainnya. Industri telekomunikasi terus berkembang karena kemajuan
      teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G, dan lainnya.

      Faktor Pertumbuhan Pasar Telekomunikasi

      •   Meningkatnya peluncuran jaringan 5G di seluruh dunia mendorong pasar
          telekomunikasi.
      •   Meningkatnya jumlah pengguna telepon seluler di seluruh dunia juga telah
          mendorong pertumbuhan pasar.
      •   Kemajuan pesat dalam IoT telah memberi dampak positif terhadap pasar.
      •   Peningkatan investasi pemerintah dalam pengembangan layanan internet akan
          mendorong pertumbuhan pasar selama periode perkiraan.
      •   Meningkatnya permintaan layanan internet oleh sektor BFSI kemungkinan akan
          berdampak positif terhadap pasar.
      •   Aktivitas penelitian dan pengembangan yang terkait dengan penyampaian data
          berkecepatan tinggi mendorong pertumbuhan industri.
      •   Tren platform media sosial yang sedang berlangsung seperti Facebook, Instagram,
          WhatsApp, dan lainnya yang membutuhkan konektivitas jaringan yang baik juga
          diperkirakan akan mendorong pasar.

      Pangsa Pasar

      Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi
      pada tahun 2024, mengingat kebutuhan komunikasi mereka yang kompleks akibat
      ukuran organisasi, penyebaran geografis, dan beragam operasional yang dijalankan.
      Untuk mendukung komunikasi internal, kolaborasi, dan pertukaran data di berbagai
      lokasi serta unit bisnis, perusahaan besar memerlukan solusi telekomunikasi yang
      tangguh dan dapat diskalakan. Mereka menghasilkan volume lalu lintas komunikasi
      yang tinggi, mulai dari panggilan suara, transmisi data, konferensi video, hingga
      pengiriman pesan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan infrastruktur telekomunikasi
      yang mampu menangani trafik tinggi dengan efisien dan andal, untuk memastikan
      kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Hal ini membuat segmen
      perusahaan besar semakin dominan dalam pangsa pasar telekomunikasi, yang
      mendorong perkembangan teknologi dan inovasi dalam industri ini.




Halaman 20                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 21
     Kesinambungan (Sustainability)

     Industri telekomunikasi di Indonesia diperkirakan akan terus berkembang pesat berkat
     dukungan teknologi baru seperti 5G, kebijakan pemerintah yang mendukung perluasan
     infrastruktur, serta peningkatan akses internet di seluruh wilayah, yang tidak hanya akan
     memperkuat sektor ekonomi digital tetapi juga meningkatkan inklusi digital,
     memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan, baik di perkotaan maupun daerah
     terpencil untuk lebih terhubung, memanfaatkan layanan digital, dan berpartisipasi
     dalam transformasi digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.

     CMI, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi di Indonesia,
     memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin
     mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan
     inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan.

     Potensi Pasar

     Ukuran pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada tahun
     2025 dan diperkirakan akan mencapai sekitar USD 4,21 triliun pada tahun 2034, dengan
     pertumbuhan CAGR sebesar 6,14% dari tahun 2025 hingga 2034. Ukuran dan perkiraan
     pasar didasarkan pada pendapatan (Triliun/Miliar USD), dengan tahun 2024 sebagai
     tahun dasar.

        Gambar 1 – Ukuran Pasar Telekomunikasi 2024 – 2034 (dalam USD Trillion)




         Sumber: Precedence Research

     Sasaran

     Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
     perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
     menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
     (penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
     dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,



Halaman 21                                                    FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 22
     regulasi). Proyeksi pengguna internet di Indonesia tahun 2025 dan 2026 mengalami
     peningkatan sebesar masing-masing 81% dan 83% dari user total, sesuai dengan riset
     yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang dipublikasi oleh Kiwoom Sekuritas
     Indonesia

     Berikut merupakan perusahaan yang menjadi target pasar perusahaan telekomunikasi
     di Indonesia:
     • Telkom Indonesia
     • PT Indosat Ooredoo Hutchison
     • PT XL Axiata
     • PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
     •   PT. Smartfren Telecom

Adapun beberapa tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) di CMI adalah
sebagai berikut:
   • PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk
   • PT Indosat Ooredoo Hutchinson
   • PT Inti Bangun Sejahtera Tbk
   • PT Putra Arga Binangun
   • PT Smart Telecom
   • PT Telekomunikasi Selular (PT Telkomsel)
   • PT XL Axiata Tbk

  Potensi Nilai Pasar

  Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet
  di dalam negeri pada 2024 mencapai 79,5%. terlihat bahwa terjadi pertumbuhan yang
  konsisten setiap tahun, dengan peningkatan yang signifikan antara 2018 dan 2020. Setelah
  tahun 2020, pertumbuhan masih berlanjut tetapi dengan laju yang lebih stabil.

             Gambar 2 Penetrasi Internet di Indonesia menurut APJII (2016-2024)




     Sumber: katadata.co.id




Halaman 22                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 23
      Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
      perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
      menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
      (penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
      dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,
      regulasi).




      Sumber : Infrastructure Review & Outlook by KIWOOM Sekuritas Indonesia



3.2   Persaingan Pasar

      Izin penyelenggaraan telekomunikasi pada tahun 2023 lebih banyak diberikan kepada
      perusahaan yang melayani jasa telekomunikasi. Sebanyak 65,16 persen perusahaan
      berkecimpung dalam bidang tersebut seperti Internet Service Provider (ISP), Network
      Access Point (NAP), telepon internet, dan jasa telekomunikasi lainnya. Sementara sekitar
      24,65 persen perusahaan menyelenggarakan telekomunikasi jaringan tetap. Kemudian
      perusahaan penyelenggara jaringan bergerak sekitar 1,22 persen, sedangkan untuk
      perusahaan penyelenggara telekomunikasi khusus mengalami sedikit kenaikan,
      dengan angka 8,96 persen di 2023.




      Sumber : Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023.



Halaman 23                                                    FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 24
      Analisa persaingan pasar dalam industri penyediaan instalasi Listrik pada BTS dapat
      diasumsikan tidak ada persaingan dalam pemasaran kepada BTS milik Perseroan
      dikarenakan layanan service terhadap penyewa BTS (para tenant) seluruhnya akan
      dilayani oleh Perseroan.

      Dominasi layanan tersebut dapat terjadi dikarenakan CMI merupakan Perusahaan
      yang memiliki Lokasi – Lokasi BTS yang disewa oleh para tenant. Sehingga bagi
      Perusahaan sejenis lain tidak memiliki akses untuk memasarkan jasa sejenis.

      Peluang bagi CMI sangat besar, hal ini dimungkinkan karena setiap BTS yang sewa akan
      memerlukan instalasi Listrik sebagai layanan tambahan dari CMI.

3.3   Strategi Pemasaran

      Perseroan menyediakan jasa infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan kabel
      serat optik yang komprehensif untuk memastikan layanan jaringan seluler dan layanan
      data dapat menjangkau seluruh area layanan Perseroan dengan baik. Kami senantiasa
      meningkatkan layanan secara konsisten kepada pelanggan dengan berfokus kepada
      pemenuhan SLA yang disepakati dengan pelanggan. Kami berupaya untuk selalu
      memberikan layanan terbaiknya melalui infrastruktur yang ditawarkan bagi masyarakat
      Indonesia di seluruh pelosok nusantara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah
      dengan mendekatkan diri ke daerah-daerah operasional regional pelanggan,
      sehingga kebutuhan pelanggan di setiap daerah dapat lebih cepat dipenuhi. Selain
      itu, kami juga melakukan pengembangan bisnis sesuai kebutuhan dan peluang yang
      ada, seperti potensi akuisisi untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha.

3.3.1 Penerapan Bisnis CMI

      CMI menyalurkan kegiatan usaha barunya kepada pelanggan yang ada saat ini
      dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan mereka secara lebih baik, serta
      membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.

3.3.2 Proses Distribusi

      CMI menyediakan daya listrik AC dan DC untuk customer/tenant atau biasa kami sebut
      dengan MNO (Mobile Network Operator) guna mengoperasikan peralatan
      jaringannya, pendingin udara, dan utilitas lainnya. Daya listrik AC diambil dari jaringan
      PLN, dan sebagian dari daya AC tersebut diubah menjadi DC menggunakan rectifier.




Halaman 24                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 25
                                               BAB IV
                                     ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS



4.1   Kapasitas

      Berdasarkan kegiatan saat ini CMI bergerak di bidang pembangunan infrastruktur
      telekomunikasi meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara
      telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”), serta alat, sarana atau instalasi
      penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi komunikasi, jasa konsultasi
      manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.

      Kapasitas saat ini yang dapat diberikan untuk layanan penambahan usaha baru
      adalah sebagai berikut:

                                                                         Proyeksi
                  Uraian       Satuan
                                           2025         2026             2027                2028          2029

       Jumlah Instalasi       Unit            50                 50              250                500              750

       Penambahan Instalasi   Unit                             200               250                250              250

       Total Instalasi        Unit            50               250               500                750          1.000




                                           Proyelksi
                  Uraian        Satuan
                                             2030       2031          2032        2033         2034       2035

       Jumlah Instalasi       Unit            1.000      1.250         1.500        1.500       1.500      1.500

       Penambahan Instalasi   Unit                250     250                -           -            -          -

       Total Instalasi        Unit            1.250      1.500         1.500        1.500       1.500      1.500


      CMI masih memiliki peluang untuk menambahkan kapasitas dikarenakan jumlah
      menara telekomunikasi atau BTS saat ini sebanyak 5.623 BTS.

4.2   Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia

      Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (“TPAK”) di Indonesia selama tahun 2024–
      2029 menunjukkan tren peningkatan secara umum. Berdasarkan tingkat pendidikan,
      semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar tingkat partisipasinya, di mana lulusan
      universitas memiliki TPAK tertinggi di atas 85%, sementara lulusan SMP berada di kisaran
      57%–58%. Dari sisi provinsi, Jawa Timur diprediksi menjadi wilayah dengan TPAK tertinggi
      mencapai 75,42% pada 2029, sedangkan Banten paling rendah meskipun tetap
      mengalami kenaikan hingga 66,92%. Jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki memiliki TPAK
      jauh lebih tinggi dibanding perempuan, dengan rata-rata di atas 84%, sementara
      perempuan meningkat dari 55,02% menjadi 58,51% dalam lima tahun




Halaman 25                                                               FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 26
     Tabel 4.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Tingkat
               Pendidikan (%), Tahun 2024-2029




    Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI.

     Tabel 4.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Jenis
               Kelamin (%), Tahun 2024-2029




    Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI

     Tabel 4.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Provinsi
               (%), Tahun 2024-2029
                                                        Tahun
         Provinsi

                        2024      2025            2026         2027        2028          2029
      Banten              64,89      65,29          65,69        66,09       66,50         66,92
      Jakarta             65,78      66,45          67,14        67,84       68,56         69,31
      Jawa Barat          66,98      67,46          67,96        68,50       69,06         69,65
      Jawa Tengah         72,14      72,45          72,79        73,17       73,58         74,02
      Jawa Timur          73,08      73,50          73,94        74,40       74,90         75,42
     Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI

     Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, Manajemen CMI menyatakan tidak
     melakukan penambahan tenaga kerja baru, melainkan mengoptimalkan penggunaan
     tenaga kerja yang telah tersedia. Manajemen menyatakan juga penambahan
     kegiatan usaha tersebut tidak memerlukan tenaga ahli profesional. Dan sebagai bentuk
     kepatuhan terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri ESDM Nomor 5
     Tahun 2021, terkait persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat SKTTK,
     Manajemen menginformasikan, saat ini CMI secara aktif melaksanakan proses sertifikasi
     bagi tenaga kerja yang telah ada (existing manpower).




Halaman 26                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 27
      Penambahan atas kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan
      proses yang menghasilkan produk.

4.3   Proses Produksi / Layanan Jasa




      Flowchart di atas menggambarkan proses alur kerja pemasangan atau penyediaan
      layanan berdasarkan permintaan pelanggan. Berikut adalah penjelasan tiap
      langkahnya:
        1. Menerima permintaan layanan atau pesanan dari pelanggan.
        2. Memverifikasi permintaan layanan berdasarkan kontrak yang ada dan
           ketersediaan lokasi.
        3. Membuat jadwal proyek dan menugaskan vendor untuk melakukan survei lokasi.
        4. Menyusun gambar rencana dan Bill of Quantity (BOQ), yang mencakup daftar
           material dan biaya.
        5. Mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada vendor untuk pengadaan barang
           atau jasa.
        6. Vendor mengirimkan peralatan ke lokasi proyek.
        7. Melakukan instalasi di lokasi dan mengajukan permintaan untuk Penerimaan Situs
           Sementara (PSA).
        8. Melakukan serah terima lokasi kepada tim pemeliharaan menara.
        9. Melakukan Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan pelanggan sebagai tanda
           penyelesaian proyek.

       Setelah langkah terakhir ini, proses dianggap selesai.




Halaman 27                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 28
                                           BAB V
                              ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS



5.1   Keunggulan Kompetitif

      Keunggulan kompetitif CMI dalam kegiatan usaha yang baru:

      1. CMI telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat
         mendukung kegiatan usaha barunya.
      2. CMI telah berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki jumlah Customer base sebesar 9.550
         customer.
      3. CMI juga mengutamakan kepuasan pelanggan melalui servis yang maksimal
         (service oriented), sehingga dengan adanya kegiatan usaha baru dapat
         memenuhi kebutuhan para tenant mereka secara lebih baik.

5.2   Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk

      Kegiatan usaha baru ini memiliki beberapa pesaing dengan produk dan jasa yang
      sama, adapun beberapa pesaing tersebut yaitu PT. Berkat Bersama Teknik (BBT), dan
      PT. Mitra Bisnis integrasi (MBi)

      Namun, sebagai anak perusahaan dari Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang
      seluruh anak usahanya bergerak di bidang telekomunikasi, CMI memiliki keunggulan
      kompetitif yang lebih kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses masuk untuk
      menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada CMI saat ini,
      sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan
      yang ditawarkan oleh CMI bersifat eksklusif.

5.3   Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai

      CMI merupakan entitas anak dari PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk yang
      bergerak di bidang Konstruksi Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206); Perdagangan
      Besar Peralatan Telekomunikasi (KBLI No. 46523); Aktivitas Telekomunikasi dengan Kabel
      (KBLI No. 61100); dan Instalasi Telekomunikasi (KBLI No. 43212).

      CMI dan Induk usahanya memiliki visi yakni membangun digital Indonesia yang saling
      terkoneksi dan misi dari CMI itu sendiri antara lain:

         1. Memberikan nilai tambah bagi para pihak yang berkepentingan.
         2. Membangun platform bisnis modern dengan proses yang dapat diandalkan
            untuk menciptakan organisasi yang berkinerja tinggi dan efisien.
         3. Berkomitmen untuk membangun infrastruktur yang paling efisien dan berkualitas
            melalui perencanaan dan manajemen proyek yang matang.
         4. Berkomitmen untuk menjaga jaringan dan standar layanan yang tinggi guna
            menjaga kepuasan pelanggan.
         5. Terus memajukan produk dan layanan.




Halaman 28                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 29
     CMI memiliki beberapa customer yang merupakan Provider telekomunikasi dI mana
     saat ini sebagai tenant atau co-tenant pada menara yang dimiliki CMI


                          Pendapatan CMI Tahun 2020-2024 (dalam Rp. Juta)
        2.500.000


        2.000.000


        1.500.000


        1.000.000


         500.000


               -
                      2020           2021           2022           2023       2024



     Berdasarkan grafik yang menggambarkan pendapatan CMI dari tahun 2020 hingga
     2024, terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam pendapatan yang dihasilkan
     pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2021, dan secara tren selama 5 tahun
     terlihat CMI memiliki trend yang meningkat. Peningkatan ini mencerminkan
     kemampuan CMI dalam menciptakan nilai yang lebih besar dari tahun ke tahun. Dalam
     periode tersebut, CMI berhasil mengoptimalkan strategi operasional dan ekspansi, yang
     mendorong pertumbuhan pendapatan secara signifikan. Seiring berjalannya waktu,
     CMI terus memperkuat posisinya di pasar, membuktikan bahwa dengan inovasi dan
     pengelolaan yang efisien, CMI dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan

     Seiring dengan penambahan usaha baru, CMI memiliki potensi untuk memperoleh
     sumber pendapatan tambahan. Hal ini disebabkan oleh adanya peluang untuk
     memasarkan jasa atas kegiatan usaha baru CMI pada customer atau tenant yang
     sudah ada saat ini. Dengan memperkenalkan layanan baru yang dapat memenuhi
     kebutuhan tenant, CMI dapat memanfaatkan basis pelanggan yang telah terbangun
     untuk meningkatkan pendapatan.




Halaman 29                                                    FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 30
                                         BAB VI
                         ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN



6.1   Ketersediaan Tenaga Kerja

      Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, CMI tidak melakukan penambahan
      tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Dan sebagai bentuk
      kepatuhan terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri ESDM Nomor 5
      Tahun 2021, terkait persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat SKTTK,
      Manajemen menginformasikan, saat ini CMI secara aktif melaksanakan proses sertifikasi
      bagi tenaga kerja yang telah ada (existing manpower). Rincian tenaga kerja saat ini
      adalah sebagai berikut:

                    Jabatan/Level                                  Jumlah
       Senior Manajemen                                               5
       Kepala Department                                              16
       Manajer                                                        79
       Senior Executive                                               82
       Executive                                                      60
       Support                                                        4
       Total                                                         246

6.2   Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property)

      Kekayaan intelektual yang dimiliki CMI adalah kontrak jangka Panjang dari masing-
      masing tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) dan kekayaan
      intelektual berupa Merek logo CMI dengan nomor pendaftaran IDM000698635

6.3   Manajemen Risiko

      Dalam menjalankan kegiatan usahanya, tentunya CMI tidak terlepas dari berbagai
      macam risiko. Risiko yang terkait langsung dengan industri jasa yang dihadapi oleh CMI
      dapat dilihat pada uraian berikut ini.

6.3.1 Risiko Keuangan

      a.   Tingkat Suku Bunga;
           Risiko di mana arus kas di masa depan akan berfluktuasi karena perubahan tingkat
           suku bunga pasar. Perseroan dapat terpapar dengan risiko perubahan suku bunga
           pasar terutama terkait utang bank serta penempatan kas dan setara kas dengan
           suku bunga mengambang. Perseroan mengelola risiko ini melalui kombinasi
           pinjaman suku bunga tetap dan mengambang, serta mempertimbangkan lindung
           nilai untuk menjaga stabilitas arus kas.
      b.   Kredit;
           Risiko yang berpotensi timbul dari operasi terkait penyewaan infrastruktur
           telekomunikasi dan wanprestasi dari pihak terkait. Perseroan mengelola risiko ini
           melalui penyusunan kontrak yang melindungi dari wanprestasi.



Halaman 30                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 31
      c.   Mata Uang Asing;
           Merupakan risiko nilai wajar arus kas masa depan atas suatu instrumen keuangan
           yang bersifat fluktuatif karena perubahan kurs mata uang asing. Perseroan
           terpengaruh risiko ini terutama berkaitan dengan utang bank dalam mata uang
           Dolar Amerika Serikat. Apabila terjadi pelemahan/penguatan nilai tukar mata uang
           Rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing, maka utang dalam mata uang asing
           akan meningkat/berkurang dalam mata uang Rupiah. Risiko ini dikendalikan
           melalui strategi lindung nilai dan penyimpanan dana dalam valuta asing.
      d.   Likuiditas
           Risiko di mana Perseroan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan
           jangkapendek karena tidak bisa melikuidasi asetnya. Perseroan menjaga likuiditas
           dengan pengelolaan kas yang ketat, penyediaan fasilitas pembiayaan cadangan,
           optimalisasi piutang, dan likuidasi aset tidak produktif bila diperlukan.

6.3.2 Risiko Operasional

      Perseroan memahami bahwa aktivitas bisnis dan usahanya tidak lepas dari proses awal
      yang harus dijalani. Beberapa komponen penanganan terhadap risiko operasional
      Perseroan adalah:
      1. Memastikan bahwa semua lini yang terkait telah memahami risiko pada setiap
          tahap kegiatan operasional terutama yang berhubungan dengan persetujuan atau
          komitmen dengan pelanggan dan/atau pihak ketiga.
      2. Menyusun dan mengawasi laporan internal dan eksternal Perseroan untuk
          memantau hasil kinerja Perseroan.
      3. Melaksanakan Standard Operating Procedures (SOP) yang sudah ditetapkan
          Perseroan.
      4. Menggunakan sistem teknologi informasi terkini untuk menunjang kegiatan
          operasional Perseroan.

      Risiko ini dimitigasi dengan memastikan seluruh lini memahami risiko kerja, memperkuat
      pengawasan internal, menegakkan SOP secara konsisten, serta memanfaatkan
      teknologi informasi terkini untuk mendukung efisiensi operasional.

6.3.3 Risiko Tidak Tercapainya Proyeksi

      Risiko tidak tercapainya semua asumsi dalam proyeksi dapat mengakibatkan tidak
      tercapainya semua target penjualan Perseroan yang dapat mempengaruhi kepada
      kinerja keuangan bidang usaha yang baru. Untuk mengatasi risiko ini, Perseroan
      menggunakan asumsi proyeksi yang realistis, melakukan evaluasi berkala, serta
      pemantauan terhadap dinamika pasar dan industri.

6.4   Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen

      Untuk menjalankan setiap bidang usaha yang digeluti CMI, para pengurus CMI telah
      menunjuk beberapa orang profesional yang memiliki kompetensi dan berpengalaman
      sesuai bidangnya (key person).




Halaman 31                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 32
     1.   Suresh Narain Singh Sidhu, Komisaris

          Warga Negara Malaysia dengan latar belakang Pendidikan Bachelor of Natural
          Sciences dari University of Cambridge, Inggris dan Master of Business Administration
          dari INSEAD. Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
          • Berpengalaman lebih dari 25 tahun di sektor telekomunikasi wilayah Asia
          • Saat ini sebagai CEO dan Pendiri EdgePoint
          • Sebelumnya sebagai CEO EDOTCO Group dan berperan penting dalam
              transformasi dan perkembangan salah satu pertumbuhan TowerCos tercepat
              di Asia
          • Merupakan anggota manajemen senior di sejumlah perusahaan telekomunikasi
              terbesar di Asia, termasuk Maxis dan Axiata Group
          • Sebelumnya bergabung di Boston Consulting Group dan Sime Darby Holdings

     2.   Yan Raymond Jafri, Direktur Utama

          Warga Negara Indonesia dengan latar belakang Sarjana Teknik Telekomunikasi dari
          Universitas Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menjalani program Master of
          Business Administration (Executive) di National University of Singapore. Beliau
          memiliki Riwayat karir yaitu:
          • Technical Support Engineer, PT Trans Communication Data
          •   Program Director, PT Huawei Tech Investment

     3.   Caba Pinter, Direktur

          Warga Negara Jerman dengan latar belakang Bachelor in Economic Sciences,
          Fakultas Ekonomi (Osijek, Kroasia), Anggota Certified Accountant (FCCA) di
          Chartered Association of Certified Accountants (ACCA). Beliau memiliki Riwayat
          karir yaitu:
          • Memulai karirnya sebagai auditor eksternal di PwC dan sebagai auditor internal
              di United Technologies Corporation (UTC).
          • Memegang beberapa posisi keuangan senior di berbagai MNO dan grup
              telekomunikasi di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Indonesia.
          • Bergabung dengan Centratama Group pada Januari 2022 sebagai Executive
              Vice President IBC Business dalam rangka merumuskan dan melaksanakan
              perbaikan strategis dan operasional di bidang IBC Business.

     4.   Jacopo Rigamonti, Direktur

          Warga Negara Italia dengan latar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Politik dan
          Hubungan Internasional dari Universita Cattolicadel Sacro Cuore, Italia. Beliau
          memiliki Riwayat Karir sebagai berikut:

      •   Sales Manager Southeast Asia, Trelleborg Coated Systems, Shanghai.
      •   Head of Business Development, Protelindo, Jakarta.
      •   Head of Marketing, Sales & Leasing, Protelindo, Jakarta.
      •   Head of Commercial, AP Towers, Yangon.




Halaman 32                                                    FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 33
      Dengan struktur organisasi CMI sebagai berikut:




6.5   Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen

      Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung
      terciptanya suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga
      dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur
      organisasi dan Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi
      kerja yang terpadu dan terarah.

      Kegiatan usaha yang baru berada pada bagian Operations dibawah tanggung jawab
      Chief Operating Officer (COO).




Halaman 33                                                FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 34
                                            BAB VII
                                ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN



7.1   Proyeksi Keuangan Konsolidasian CMI Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha

      Proyeksi keuangan CMI sebelum penambahan kegiatan usaha mengacu pada
      proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen CMI sebagai berikut:

      Tabel 7.1 Proyeksi Keuangan CMI Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
       Description             Unit       2025         2026          2027          2028          2029
       Revenue              Rp Juta     2.224.357    2.291.088     2.359.821     2.454.213     2.552.382
       Net Profit (Loss)    Rp Juta   (1.030.663)    (470.159)     (374.248)     (248.871)     (122.354)

       Assets               Rp Juta   26.091.124    26.384.720    26.542.546    26.978.170    27.682.593
       Liabilities          Rp Juta   24.595.285    25.359.039    25.891.113    26.575.609    27.402.386
       Equity               Rp Juta    1.495.840     1.025.681       651.432       402.561       280.207

       Opeating Cashflow    Rp Juta     1.591.761    1.641.478      1.892.678     1.965.442     1.841.181
       Investing Cashflow   Rp Juta     (888.296)    (825.819)      (840.993)   (1.035.498)   (1.064.118)
       Financing Cashflow   Rp Juta     (597.141)    (790.842)    (1.029.585)     (920.114)     (779.471)


                                                                                                 Lanjutan
            Description       Unit       2030          2031          2032          2033          2034          2035
       Revenue              Rp Juta    2.680.001     2.814.001     2.954.701     3.102.436     3.257.558     3.420.436
       Net Profit (Loss)    Rp Juta       12.631       163.616       310.066       468.418       635.895       813.407

       Assets               Rp Juta   28.498.478    29.610.957    30.769.206    32.034.652    33.409.403    34.895.836
       Liabilities          Rp Juta   28.205.640    29.154.502    30.002.686    30.799.714    31.538.570    32.211.596
       Equity               Rp Juta      292.838       456.454       766.520     1.234.938     1.870.833     2.684.240

       Opeating Cashflow    Rp Juta     2.141.689     2.047.367     2.158.479     2.275.300     2.398.121     2.527.246
       Investing Cashflow   Rp Juta   (1.287.353)   (1.335.720)   (1.386.506)   (1.439.832)   (1.495.823)   (1.554.614)
       Financing Cashflow   Rp Juta     (868.948)     (733.432)     (853.338)     (916.835)     (983.664)   (1.053.997)


      Pendapatan diproyeksikan tumbuh stabil dari Rp2,224 miliar (2025) menjadi Rp3,420
      miliar (2035), dengan CAGR 4.4%. Disisi laba (rugi) bersih, CMI memproyeksikan dalam
      beberapa tahun kedepan masih mengalami rugi usaha bersih, dengan rugi bersih
      tertinggi di 2025 Rp(1.030) miliar, tahun selanjutnya kinerja profitabilitas membaik
      dengan menyusutnya kerugian menjadi Rp(122) miliar ditahun 2029. Sedangkan untuk
      tahun selanjutnya (2030 – 2035) kinerja keuangan perusahaan lebih membaik lagi
      dengan capaian laba bersih sebesar Rp29 miliar (2030) hingga mencapai Rp814 miliar
      ditahun 2035.

      Total aset diproyeksikan tumbuh stabil, dari Rp26,041 miliar (2025) hingga mencapai
      Rp34,895 miliar (2035). Liabilitas diproyeksikan meningkat, namun pertumbuhannya
      melambat setelah 2030. Ekuitas berfluktuasi dari Rp1,495 miliar (2025) hingga Rp2,684
      miliar (2035), didorong oleh akumulasi laba ditahan.

      Arus kas dari aktivitas operasional di proyeksikan positif dan meningkat selama masa
      proyeksi. Adapun arus kas dari aktivitas investasi digunakan untuk pengeluaran modal
      dalam rangka pertumbuhan jangka panjang. Sedangkan arus kas dari aktivitas




Halaman 34                                                             FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 35
      pendanaan diproyeksikan              negatif,   menunjukkan        adanya        pembayaran           utang
      perusahaan.

7.2   Biaya Pendirian (Start Up Cost) Penambahan Kegiatan Usaha

      Dalam rencana kegiatan usaha ini Perseroan membutuhkan biaya investasi
      sebesar Rp116.807 ribu per unit Jaringan PaaS, dengan rincian sebagai berikut:

      Tabel 7.2 Investasi Per Unit Jaringan PaaS Tahun 2025
                                 Uraian                               Biaya (Rp. Ribu)                 Keterangan

       Lithium Battery Modules- 200 AH                                              15.800

       Rectifier Modules, 3,000w                                                     9.000
       Rectifier Rack 24 KW, with Rectifier Controller(24kw)                        16.700
       Outdoor Equipment cabinet                                                    14.800
       4-16mm2 THHN & 1-14mm2, in 32mm Ø IMC Pipe. To
                                                                                     2.850
       be used for Three Phase Grid Supply.
       Cable: SMPS-DCDB 2R-38mm2                                                     2.850
       Cable: SMPS-Battery 35mm2                                                       628
       Cable: Alarm Cable (SMPS-KRONE module)- 5pair (if
                                                                                       180      Rencana Angaran
       Dry contact alarms to be terminated)
       Earthing Cables 1-14mm2, THHN, Green, Cu,                                                     Biaya
                                                                                       324
       Multistrand with terminal lugs & termination
       Earthing & Bonding, Connect all equipment and
                                                                                       750
       cabinets with Earthing grid/ Earth Bus bar
       Installation, Wiring, Commissioning & Testing                                 2.500
       RMS                                                                          24.604
       Site Transportation Cost (Normal)                                            15.000
       Customer Cabinet                                                              8.500
       Smart Lock                                                                    2.321
       Total                                                                    116.807


      Jumlah biaya investasi tersebut diatas, didasarkan kepada rencana anggaran biaya per
      unit yang disusun oleh Manajemen Perseroan. Investasi awal yang dilakukan oleh CMI
      pada tahun 2025 adalah sebesar 50 unit dengan tota Investasi awal sebesar Rp5.840.338
      Ribu

7.3   Modal Kerja Penambahan Kegiatan Usaha

      Proyeksi modal kerja atas rencana penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
      adalah sebagai berikut:

      Tabel 7.3 Modal Kerja
          Uraian      Satuan        2025          2026         2027          2028             2029          2030
       Piutang
                      Rp. Ribu     221.918      1.109.589   2.219.178      3.328.767     4.438.356        5.547.945
       Usaha
       Utang Usaha    Rp. Ribu     42.306       211.530     423.060        634.590           846.120      1.057.649




Halaman 35                                                               FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 36
                                                                                                                Lanjutan
          Uraian     Satuan       2031              2032                  2033               2034               2035
       Piutang
                     Rp. Ribu   6.657.534         6.657.534            6.657.534          6.657.534           6.657.534
       Usaha
       Utang Usaha   Rp. Ribu   1.269.179         1.269.179            1.269.179          1.269.179           1.269.179


      Perubahan modal kerja pada tabel diatas untuk menggambarkan perubahan
      kebutuhan modal kerja selama masa proyeksi yang didapat dari selisih modal kerja
      tahun berjalan dengan modal kerja tahun sebelumnya.

7.4   Sumber Pembiayaan Penambahan Kegiatan Usaha

      Berdasarkan keterangan manajemen Perseroan, bahwa rencana kegiatan
      penambahan usaha ini seluruh b i a y a i n v e s t a s i berasal dari kas Perseroan.

7.5   Biaya Operasional Penambahan Kegiatan Usaha

      Proyeksi biaya operasional rencana penambahan kegiatan usaha tahun 2025-2035
      adalah sebagai berikut:

      Tabel 7.4 Biaya Operasional
          Uraian     Satuan      2025           2026            2027               2028           2029           2030
       Harga Pokok
                     Rp. Ribu   911.881       4.625.617       9.352.442      14.165.990        19.068.447     23.904.055
       Pendapatan
       Beban G&A     Rp. Ribu    108.000        256.680         441.664            626.972          812.626       998.646
                                                                                                                Lanjutan
          Uraian     Satuan       2031              2032                  2033               2034               2035
       Harga Pokok
                     Rp. Ribu    28.343.127        27.320.393           25.680.309           23.796.705        21.782.115
       Pendaptan
       Beban G&A     Rp. Ribu     1.185.058         1.191.887             1.199.160           1.206.905         1.215.154


      Pendapatan bersifat tetap, sedangkan komponen pada beban pokok pendapatan
      mengalami penurunan diakibatkan dari perhitungan depresiasi, sehingga proyeksi
      biaya operasional dapat terlihat seperti tabel diatas.

7.6   Proyeksi Laporan Keuangan Penambahan Kegiatan Usaha

      Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan ini disusun berdasarkan
      proyeksi keuangan periode 2025 -2035 yang disiapkan oleh manajemen Perseroan.
      Untuk kebutuhan studi kelayakan ini, kami melakukan penyesuaian terhadap proyeksi
      keuangan tersebut sebagai beriku:
       1. Asumsi operasional tahun 2025 dimulai pertengahan tahun (6 bulan operasional)
       2. Asumsi kenaikan biaya G & A pertahun mengikuti tarif Upah Minimum Propinsi.
       3. Asumsi kenaikan biaya berdasarkan proyeksi inflasi dari IMF.

      Asumsi Investasi:

      Jumlah investasi awal dalam rangka penambahan kegiatan usaha diasumsikan untuk
      pemasangan instalasi 50 unit diawal yang didasarkan pada rencana anggaran biaya
      yang disusun manajemen CMI sesuai dengan penawaran dari suplier.




Halaman 36                                                                  FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 37
     Proyeksi kenaikan untuk setiap tahun diasumsikan meningkat menjadi 200 unit pada
     tahun 2026 dan bertambah sebanyak 250 unit per tahun untuk periode 2027 hingga
     2031. Setelah periode tersebut, tidak terdapat rencana penambahan investasi lebih
     lanjut.

     Asumsi Umum, meliputi:
     • Penyusunan proyeksi didasarkan bisnisplan yang disusun manajemen yang didasari
        atas rencana penyediaan instalasi listrik setiap BTS dan bersifat going concern
        seiring dengan kelangsungan bisnis perusahaan.
     • Penyusunan proyeksi terkait pendapatan dicatat sesuai dengan jumlah unit instalasi
        yang tersewa.
     • Jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari
     • Asumsi GDP diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 5,07%, tahun
        2026 sebesar 5,06%, tahun 2027 sebesar 5,07%, tahun 2028 sebesar 5,06% dan tahun
        2029 sampai tahun 2035 sebesar 5,07%.
     • Asumsi Inflasi diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 2,51%, tahun
        2026 sebesar 2,53%, tahun 2027 sampai tahun 2035 sebesar 2,52%.
     • Peningkatan UMP diperoleh dari Permenaker No 16 tahun 2024 selama proyeksi
        sebesar 6,5%
     • Tarif pajak final selama periode proyeksi sebesar 2%

     Tabel 7.5 Asumsi Umum
                          Satua                                    Proyeksi
                Uraian
                            n     2025          2026            2027           2028          2029          2030
      ASUMSI UMUM
      Jumlah hari dalam
                          Hari       365           365             365              365            365           365
      setahun
      GDP                  %       5,07%         5,06%           5,07%          5,06%            5,07%      5,07%
      Inflasi              %       2,51%         2,53%           2,52%          2,52%            2,52%      2,52%
      UMP                  %       6,50%         6,50%           6,50%          6,50%            6,50%      6,50%
      Pajak Final          %       2,00%         2,00%           2,00%          2,00%            2,00%      2,00%


                                                                                                         Lanjutan
                          Satua                                    Proyeksi
                Uraian
                            n      2031            2032                2033               2034            2035
      ASUMSI UMUM
      Jumlah hari dalam
                          Hari            365             365                 365                365             365
      setahun
      GDP                  %         5,07%             5,06%              5,07%             5,06%           5,07%
      Inflasi              %         2,51%             2,53%              2,52%             2,52%           2,52%
      UMP                  %         6,50%             6,50%              6,50%             6,50%           6,50%
      Pajak Final          %         2,00%             2,00%              2,00%             2,00%           2,00%


     Asumsi Pendapatan, meliputi:
     • Target Unit Perangkat
        o Target unit PaaS diperoleh dari rencana penambahan unit yang disusun
            manajemen yaitu untuk tahun 2025 sebesar 50 unit, untuk tahun 2026 sebesar
            250 unit dan untuk tahun selanjutnya meningkat sebesar 250 unit hingga tahun
            2031 dengan total perangkat 1.500.




Halaman 37                                                               FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 38
     •   Harga Jasa.
         Pendapatan terdiri dari pendapatan Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121), Biaya Sewa
         perangkat (KBLI 35122), Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211), Biaya Jasa
         lainnya (KBLI 35129);

          o     Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya Jasa Operasi (KBLI 35121)
                yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi.
          o     Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya sewa perangkat (KBLI 35122)
                yaitu sebesar Rp18.000 ribu selama masa proyeksi
          o     Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya jasa instalasi perangkat (KBLI
                43211) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi
          o     Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya jasa lainnya (KBLI 35129) yaitu
                sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi.

         Tabel 7.6 Asumsi Pendapatan
                                                                                       Proyeksi
                   Uraian              Satuan
                                                       2025         2026            2027          2028          2029        2030
         ASUMSI PENDAPATAN
         Jumlah Perangkat
         Jumlah Instalasi               Unit              50           50             250              500           750      1.000
         Penambahan Instalasi           Unit                          200             250              250           250       250
         Total Instalasi                Unit              50          250             500              750          1.000     1.250
         Harga Jasa
         KBLI 35121
          Biaya Jasa Operasi     Rp. Ribu/unit/tahun    6.000        6.000           6.000         6.000            6.000     6.000
         KBLI 35122
          Biaya Sewa perangkat   Rp. Ribu/unit/tahun   18.000       18.000          18.000        18.000        18.000       18.000
         KBLI 43211
          Biaya Jasa Instalasi
                                 Rp. Ribu/unit/tahun    6.000        6.000           6.000         6.000            6.000     6.000
         perangkat
         KBLI 35129
          Biaya Jasa lainnya     Rp. Ribu/unit/tahun    6.000        6.000           6.000         6.000            6.000     6.000


                                                                                                               Lanjutan
                                                                                       Proyeksi
                   Uraian              Satuan
                                                        2031          2032                 2033              2034           2035
         ASUMSI PENDAPATAN
         Jumlah Perangkat
         Jumlah Instalasi               Unit              1.250             1.500             1.500            1.500          1.500
         Penambahan Instalasi           Unit                  250               -                  -                  -            -
         Total Instalasi                Unit              1.500             1.500             1.500            1.500          1.500
         Harga Jasa
         KBLI 35121
          Biaya Jasa Operasi     Rp. Ribu/unit/tahun      6.000             6.000             6.000            6.000          6.000
         KBLI 35122
          Biaya Sewa perangkat   Rp. Ribu/unit/tahun     18.000            18.000            18.000           18.000         18.000
         KBLI 43211
          Biaya Jasa Instalasi
                                 Rp. Ribu/unit/tahun      6.000             6.000             6.000            6.000          6.000
         perangkat
         KBLI 35129
          Biaya Jasa lainnya     Rp. Ribu/unit/tahun      6.000             6.000             6.000            6.000          6.000




Halaman 38                                                                 FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 39
       Asumsi Asumsi Biaya
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya operasional dan perawatan sebesar
          10% dari total pendapatan selama masa proyeksi.
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya RMS sebesar 2% dari total
          pendapatan selama masa proyeksi
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya asuransi sebesar 1,3% dari total
          pendapatan selama masa proyeksi
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya tenaga kerja 1% dari total
          pendapatan selama masa proyeksi
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya umum dan administrasi 4% dari total
          pendapatan pada tahun 2025 dan meningkat sebesar 6,5% setiap tahun pada
          tahun berikutnya selama masa proyeksi
       • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya penjualan 2% dari total pendapatan
          selama masa proyeksi.

       Tabel 7.7 Asumsi-Asumsi Biaya
                                                                        Proyeksi
                   Uraian        Satuan
                                            2025       2026       2027           2028        2029     2030
        ASUMSI BIAYA POKOK
        Operation And
                                % Revenue   10,00%     10,00%     10,00%         10,00%      10,00%   10,00%
        Maintenance
        RMS                     % Revenue    2,00%      2,00%         2,00%        2,00%      2,00%    2,00%
        Asuransi                % Revenue    1,30%      1,30%         1,30%        1,30%      1,30%    1,30%
        Biaya Tenaga Kerja      % Revenue    1,00%      1,00%         1,00%        1,00%      1,00%    1,00%


        ASUMSI BIAYA/BEBAN
        LAIN
        Biaya Umum dan
                                % Revenue    4,00%      6,50%         6,50%        6,50%      6,50%    6,50%
        Administrasi
        Biaya Penjualan         % Revenue    2,00%      2,00%         2,00%        2,00%      2,00%    2,00%


                                                                                                  Lanjutan
                                                                        Proyeksi
                   Uraian        Satuan
                                             2031         2032            2033             2034       2035
        ASUMSI BIAYA POKOK
        Operation And
                                % Revenue     10,00%       10,00%             10,00%       10,00%      10,00%
        Maintenance
        RMS                     % Revenue      2,00%          2,00%            2,00%        2,00%       2,00%
        Asuransi                % Revenue      1,30%          1,30%            1,30%        1,30%       1,30%
        Biaya Tenaga Kerja      % Revenue      1,00%          1,00%            1,00%        1,00%       1,00%


        ASUMSI BIAYA/BEBAN
        LAIN
        Biaya Umum dan
                                % Revenue      4,00%          6,50%            6,50%        6,50%       6,50%
        Administrasi
        Biaya Penjualan         % Revenue      2,00%          2,00%            2,00%        2,00%       2,00%


       Asumsi Working Capital

       Asumsi yang digunakan dalam perhitungan days working capital turnover diperoleh
       dari historis rata rata CMI dengan rincian sebagai berikut:




Halaman 39                                                       FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 40
       • Perputaran piutang usaha diasumsikan 45 hari selama masa proyeksi yang
         diperoleh dari asumsi bisnisplan manajemen terhadap usaha yang baru
       • Perputaran utang usaha diasumsikan 60 hari selama masa proyeksi yang
         diperoleh dari asumsi bisnisplan manajemen terhadap usaha yang baru

       Tabel 7.8 Asumsi Working Capital
                                                                                                      Proyeksi
                   Uraian                  Satuan
                                                              2025           2026           2027                2028          2029            2030
        ASUMSI WORKING CAPITAL
        Day Turnover Piutang
                                            Hari              45              45                45               45              45            45
        Usaha
        Day Turnover Utang Usaha            Hari              60              60                60               60              60            60
                                                                                                                                      Lanjutan
                                                                                                      Proyeksi
                   Uraian                  Satuan
                                                               2031                2032                 2033                2034              2035
        ASUMSI WORKING CAPITAL
        Day Turnover Piutang
                                            Hari                45                  45                   45                 45                45
        Usaha
        Day Turnover Utang Usaha            Hari                60                  60                   60                 60                60


       Asumsi Capex

       Asumsi Capital Expenditure merupakan total biaya investasi yang direncanakan oleh
       manajemen dalam kegiatan usaha CMI yang menjadi Initial Outlay dalam studi
       Kelayakan yang dilakukan. Total Capex yang direncakan oleh manajemen adalah
       sebagai berikut:

       • Untuk Biaya unit terpasang setiap tahunnya disesuaikan dengan proyeksi Inflasi
         Indonesia yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund (IMF)

       Tabel 7.9 Asumsi Capex
                                              Proyeksi
               Uraian           Satuan
                                                   2025               2026                2027                 2028              2029              2030
        ASUMSI CAPEX
        Jumlah Perangkat          Unit                    -                  200                 250                  250               250               250
        Biaya Unit
        Terpasang               Rp. Ribu                              119.761             122.782              125.878             129.051          132.304
        Perangkat
        Total Capex
                                Rp. Ribu                  -        23.952.161        30.695.592           31.469.428         32.262.772        33.076.117
        Instalasi Perangkat


                                                                                                                        Lanjutan
                                               Proyeksi
               Uraian           Satuan
                                                   2031               2032               2033                 2034               2035
        ASUMSI CAPEX
        Jumlah Perangkat          Unit                    250                  -                  -                     -                -
        Biaya Unit Terpasang                                                   -                  -                     -                -
                                Rp. Ribu            135.640
        Perangkat
        Total Capex Instalasi
                                Rp. Ribu       33.909.966                      -                  -                     -                -
        Perangkat




Halaman 40                                                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 41
7.6.1 Proyeksi Laba Rugi

     Kegiatan usaha CMI saat ini bergerak dibidang penyewaan menara
     telekomunikasi/BTS dimana pendapatan yang diterima dalam laba rugi perusahaan
     berupa pendapatan atas sewa menara.

     Sesuai dengan rencana CMI, dalam rangka penambahan 4 (empat) bidang usaha
     yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian
     Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas
     Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129).

     Proyeksi atas 4 (empat) bidang usaha tersebut berupa pendapatan atas penyediaan
     instalasi listrik dari periode 2025 – 2035 (selama masa proyeksi). Berdasarkan asumsi-
     asumsi yang ditetapkan di atas, maka hasil proyeksi laba rugi atas penambahan
     kegiatan usaha CMI adalah sesuai tabel berikut:

     Tabel 7.10             Proyeksi Laporan Laba Rugi Penambahan Kegiatan Usaha
                   Uraian               Satuan      2025        2026        2027         2028         2029         2030
      Pendapatan
      KBLI 35121
       Biaya Jasa Operasi               Rp. Ribu    300.000    1.500.000    3.000.000    4.500.000    6.000.000    7.500.000
      KBLI 35122
       Biaya Sewa perangkat             Rp. Ribu    900.000    4.500.000    9.000.000   13.500.000   18.000.000   22.500.000
      KBLI 43211
       Biaya Jasa Instalasi perangkat   Rp. Ribu    300.000    1.500.000    3.000.000    4.500.000    6.000.000    7.500.000
      KBLI 35129
       Biaya Jasa lainnya               Rp. Ribu    300.000    1.500.000    3.000.000    4.500.000    6.000.000    7.500.000

      Total Pendapatan                  Rp. Ribu   1.800.000   9.000.000   18.000.000   27.000.000   36.000.000   45.000.000



      Beban Pokok Pendapatan
      Depresiasi And Amortitation       Rp. Ribu    654.520    3.338.810    6.778.828   10.305.569   13.921.220   17.470.021
      Operation And Maintenance         Rp. Ribu    180.000     900.000     1.800.000    2.700.000    3.600.000    4.500.000
      RMS                               Rp. Ribu     36.000     180.000      360.000      540.000      720.000      900.000
      Asuransi                          Rp. Ribu     23.361     116.807      233.614      350.420      467.227      584.034
      Biaya Tenaga Kerja                Rp. Ribu     18.000      90.000      180.000      270.000      360.000      450.000


      Total Beban Pokok Pendaptan       Rp. Ribu    911.881    4.625.617    9.352.442   14.165.990   19.068.447   23.904.055



      Laba Usaha                        Rp. Ribu    888.119    4.374.383    8.647.558   12.834.010   16.931.553   21.095.945



      Biaya/Beban Lain
      Biaya Administrasi Umum           Rp. Ribu     72.000      76.680       81.664       86.972       92.626       98.646
      Biaya Penjualan                   Rp. Ribu     36.000     180.000      360.000      540.000      720.000      900.000
      Beban Bunga                       Rp. Ribu           -           -            -            -            -            -

      Total                             Rp. Ribu    108.000     256.680      441.664      626.972      812.626      998.646



      Pendapatan sebelum Pajak
                                        Rp. Ribu    780.119    4.117.703    8.205.894   12.207.038   16.118.928   20.097.299
      Final




Halaman 41                                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 42
                    Uraian              Satuan     2025          2026             2027               2028               2029               2030
      Pajak Final                       Rp. Ribu    36.000       180.000          360.000            540.000            720.000            900.000



      Laba Bersih                       Rp. Ribu   744.119   3.937.703        7.845.894         11.667.038         15.398.928         19.197.299



                                                                                                               Lanjutan
                    Uraian               Satuan      2031             2032               2033               2034               2035
      Pendapatan
      KBLI 35121
       Biaya Jasa Operasi               Rp. Ribu     9.000.000       9.000.000           9.000.000          9.000.000          9.000.000
      KBLI 35122
       Biaya Sewa perangkat             Rp. Ribu    27.000.000      27.000.000       27.000.000         27.000.000         27.000.000
      KBLI 43211
       Biaya Jasa Instalasi perangkat   Rp. Ribu     9.000.000       9.000.000           9.000.000          9.000.000          9.000.000
      KBLI 35129
       Biaya Jasa lainnya               Rp. Ribu     9.000.000       9.000.000           9.000.000          9.000.000          9.000.000

      Total Pendapatan                  Rp. Ribu    54.000.000      54.000.000       54.000.000         54.000.000         54.000.000



      Beban Pokok Pendapatan
      Depresiasi And Amortitation       Rp. Ribu    20.622.287      19.599.552       17.959.469         16.075.864         14.061.275
      Operation And Maintenance         Rp. Ribu     5.400.000       5.400.000           5.400.000          5.400.000          5.400.000
      RMS                               Rp. Ribu     1.080.000       1.080.000           1.080.000          1.080.000          1.080.000
      Asuransi                          Rp. Ribu      700.841           700.841           700.841            700.841            700.841
      Biaya Tenaga Kerja                Rp. Ribu      540.000           540.000           540.000            540.000            540.000


      Total Beban Pokok Pendaptan       Rp. Ribu    28.343.127      27.320.393       25.680.309         23.796.705         21.782.115



      Laba Usaha                        Rp. Ribu    25.656.873      26.679.607       28.319.691         30.203.295         32.217.885



      Biaya/Beban Lain
      Biaya Administrasi Umum           Rp. Ribu      105.058           111.887           119.160            126.905            135.154
      Biaya Penjualan                   Rp. Ribu     1.080.000       1.080.000           1.080.000          1.080.000          1.080.000
      Beban Bunga                       Rp. Ribu             -                -                  -                  -                  -

      Total                             Rp. Ribu     1.185.058       1.191.887           1.199.160          1.206.905          1.215.154



      Pendapatan sebelum Pajak
                                        Rp. Ribu    24.471.814      25.487.720       27.120.531         28.996.390         31.002.731
      Final


      Pajak Final                       Rp. Ribu     1.080.000       1.080.000           1.080.000          1.080.000          1.080.000



      Laba Bersih                       Rp. Ribu    23.391.814      24.407.720       26.040.531         27.916.390         29.922.731



     Proyeksi laba rugi pada tabel tersebut diatas, tidak ada beban bunga yang dikeluarkan
     karena pada unit usaha ini semua pembiayaan menggunakan kas Perseroan. Pada
     proyeksi juga diperoleh rata rata selama masa proyeksi persentasi laba usaha
     dibandingkan dengan total pendapatan adalah sebesar 50,22% dan persentasi laba
     bersih dibandingkan dengan pendapatan adalah 45,56%.




Halaman 42                                                                        FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 43
7.6.2 Proyeksi Arus Kas

     Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan, arus kas CMI
     atas penambahan kegiatan usaha adalah sesuai dengan tabel berikut ini.

     Tabel 7.11 Proyeksi Laporan Arus Kas Penambahan Kegiatan Usaha
                Uraian         Satuan        2025           2026             2027             2028             2029            2030
      Arus Kas Dari Kegiatan
      Operasional
      Laba Bersih              Rp. Ribu      744.119       3.937.703        7.845.894       11.667.038       15.398.928       19.197.299
      Depresiasi Dan
                               Rp. Ribu      654.520       3.338.810        6.778.828       10.305.569       13.921.220       17.470.021
      Amortisasi
      Total Kas Masuk
      sebelum Working          Rp. Ribu    1.398.639       7.276.513       14.624.722       21.972.607       29.320.147       36.667.320
      Capital


      Perubahan Modal Kerja
      Kenaikan/Penurunan
                               Rp. Ribu    (221.918)        (887.671)      (1.109.589)      (1.109.589)      (1.109.589)    (1.109.589)
      Piutang Usaha
      Kenaikan/Penurunan
                               Rp. Ribu       42.306         169.224          211.530          211.530          211.530         211.530
      Utang Usaha
      Total Perubahaan Modal
                               Rp. Ribu    (179.612)       (718.447)        (898.059)        (898.059)        (898.059)        (898.059)
      Kerja


      Total Arus Kas Dari
                               Rp. Ribu    1.219.027       6.558.066       13.726.663       21.074.548       28.422.088       35.769.261
      Kegiatan Operasional


      Arus Kas Kegiatan
      Investasi
      Initial Outlay           Rp. Ribu   (5.840.338)                -                 -              -                -               -
      Capex                    Rp. Ribu              -   (23.952.161)     (30.695.592)     (31.469.428)   (32.262.772)     (33.076.117)
      Total Arus Kas Dari
                               Rp. Ribu   (5.840.338)    (23.952.161)     (30.695.592)     (31.469.428)   (32.262.772)     (33.076.117)
      Kegiatan Investasi


      Arus Kas Kegiatan
      Pendanaan
      Utang Bank (Current)     Rp. Ribu              -               -                 -              -                -               -
      Utang Bank (Non
                               Rp. Ribu              -               -                 -              -                -               -
      Current)
      Modal                    Rp. Ribu    5.840.338                 -                 -              -                -               -
      Tambahan Modal
                               Rp. Ribu              -    23.952.161       30.695.592       31.469.428       32.262.772       33.076.117
      Disetor
      Total Arus Kas Dari
                               Rp. Ribu    5.840.338      23.952.161       30.695.592       31.469.428       32.262.772       33.076.117
      Kegiatan Pendanaan


      Arus Kas Bersih          Rp. Ribu    1.219.027       6.558.066       13.726.663       21.074.548       28.422.088       35.769.261
      Kas Awal                 Rp. Ribu              -     1.219.027        7.777.093       21.503.756       42.578.304       71.000.392
      Saldo Akhir Cash And
                               Rp. Ribu    1.219.027       7.777.093       21.503.756       42.578.304       71.000.392    106.769.653
      Bank


                                                                                                             Lanjutan
                Uraian         Satuan         2031            2032              2033              2034             2035
      Arus Kas Dari Kegiatan
      Operasional
      Laba Bersih              Rp. Ribu     23.391.814       24.407.720       26.040.531        27.916.390       29.922.731
      Depresiasi Dan
                               Rp. Ribu     20.622.287       19.599.552       17.959.469        16.075.864       14.061.275
      Amortisasi




Halaman 43                                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 44
                   Uraian         Satuan        2031          2032          2033          2034          2035
         Total Kas Masuk
         sebelum Working          Rp. Ribu    44.014.101     44.007.272    44.000.000    43.992.254    43.984.006
         Capital


         Perubahan Modal Kerja
         Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu    (1.109.589)             -             -             -             -
         Piutang Usaha
         Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu       211.530              -             -             -             -
         Utang Usaha
         Total Perubahaan Modal
                                  Rp. Ribu     (898.059)              -             -             -             -
         Kerja


         Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu    43.116.042     44.007.272    44.000.000    43.992.254    43.984.006
         Kegiatan Operasional


         Arus Kas Kegiatan
         Investasi
         Initial Outlay           Rp. Ribu              -             -             -             -             -
         Capex                    Rp. Ribu   (33.909.966)             -             -             -             -
         Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu   (33.909.966)             -             -             -             -
         Kegiatan Investasi


         Arus Kas Kegiatan
         Pendanaan
         Utang Bank (Current)     Rp. Ribu              -             -             -             -             -
         Utang Bank (Non
                                  Rp. Ribu              -             -             -             -             -
         Current)
         Modal                    Rp. Ribu              -             -             -             -             -
            Tambahan Modal
                                  Rp. Ribu    33.909.966              -             -             -             -
                  Disetor
         Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu    33.909.966              -             -             -             -
         Kegiatan Pendanaan


         Arus Kas Bersih          Rp. Ribu    43.116.042     44.007.272    44.000.000    43.992.254    43.984.006
         Kas Awal                 Rp. Ribu   106.769.653    149.885.695   193.892.967   237.892.967   281.885.222
         Saldo Akhir Cash And
                                  Rp. Ribu   149.885.695    193.892.967   237.892.967   281.885.222   325.869.227
         Bank


     •      Arus Kas dari Aktivitas Operasi selama periode proyeksi mengalami peningkatan
            setiap tahun dikarena tambahan pendapatan dengan penambahan unit 200 unit
            tahun 2026 dan 250 unit perangkat PaaS per tahun untuk tahun berikutnya sampai
            dengan tahun 2031.
     •      Arus Kas dari Aktivitas investasi merupakan biaya investasi penambahan perangkat
            PaaS terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha.
            Arus Kas dari Aktivitas pendanaan merupakan tambahan pendanaan dari
            Perseroan terkait initial outlay dan Pengeluaran capex.

7.6.3 Proyeksi Posisi Keuangan CMI

     Proyeksi Posisi Keuangan CMI atas penambahan kegiatan usaha berdasarkan asumsi-
     asumsi yang telah dibuat adalah sesuai tabel berikut:




Halaman 44                                                                  FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 45
     Tabel 7.12 Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Penambahan Kegiatan Usaha
                Uraian          Satuan       2025          2026           2027            2028               2029               2030
      Aset
      Aset Lancar
      Kas dan Bank              Rp. Ribu   1.219.027      7.777.093   21.503.756         42.578.304      71.000.392        106.769.653
      Piutang Usaha             Rp. Ribu     221.918      1.109.589      2.219.178        3.328.767          4.438.356          5.547.945
      Total Aset Lancar         Rp. Ribu   1.440.945      8.886.682   23.722.934         45.907.071      75.438.748        112.317.598


      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap                Rp. Ribu   5.185.818     25.799.169   49.715.933         70.879.791      89.221.344        104.827.440
      Total Aset Tidak
                                Rp. Ribu   5.185.818     25.799.169   49.715.933         70.879.791      89.221.344        104.827.440
      Lancar


      Total Aset                Rp. Ribu   6.626.763     34.685.851   73.438.867        116.786.863     164.660.092        217.145.038


      Liabilitas
      Liabilitas Lancar
      Utang Usaha               Rp. Ribu      42.306       211.530        423.060          634.590            846.120           1.057.649
      Utang Bank jatuh
                                Rp. Ribu             -            -               -                -                  -                 -
      Tempo 1 tahun
      Total Liabilitas Lancar   Rp. Ribu      42.306       211.530        423.060          634.590            846.120           1.057.649


      Liabilitas Tidak Lancar
      Utang Bank                Rp. Ribu             -            -               -                -                  -                 -
      Total Liabilitas Tidak
                                Rp. Ribu             -            -               -                -                  -                 -
      Lancar


      Total Liabilitas          Rp. Ribu      42.306       211.530        423.060          634.590            846.120           1.057.649


      Ekuitas
      Modal                     Rp. Ribu   5.840.338      5.840.338      5.840.338        5.840.338          5.840.338          5.840.338
      Tambahan Modal
                                Rp. Ribu             -   23.952.161   54.647.753         86.117.180     118.379.953        151.456.069
      disetor
      Saldo Laba                Rp. Ribu     744.119      4.681.822   12.527.716         24.194.754      39.593.682         58.790.981
      Total Ekuitas             Rp. Ribu   6.584.457     34.474.321   73.015.807        116.152.273     163.813.973        216.087.388


      Total Liabilitas Dan
                                Rp. Ribu   6.626.763     34.685.851   73.438.867        116.786.863     164.660.092        217.145.038
      Ekuitas


                                                                                                         Lanjutan
                Uraian          Satuan        2031            2032               2033            2034               2035
      Aset
      Aset Lancar
      Kas dan Bank              Rp. Ribu   149.885.695     193.892.967      237.892.967      281.885.222        325.869.227
      Piutang Usaha             Rp. Ribu     6.657.534       6.657.534        6.657.534          6.657.534          6.657.534
      Total Aset Lancar         Rp. Ribu   156.543.229     200.550.502      244.550.501      288.542.756        332.526.761


      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap                Rp. Ribu   118.115.118      98.515.566       80.556.097       64.480.233         50.418.958
      Total Aset Tidak
                                Rp. Ribu   118.115.118      98.515.566       80.556.097       64.480.233         50.418.958
      Lancar


      Total Aset                Rp. Ribu   274.658.348     299.066.068      325.106.599      353.022.989        382.945.720




Halaman 45                                                                       FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 46
                Uraian          Satuan        2031         2032          2033          2034          2035


      Liabilitas
      Liabilitas Lancar
      Utang Usaha               Rp. Ribu     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179
      Utang Bank jatuh
                                Rp. Ribu             -             -             -             -             -
      Tempo 1 tahun
      Total Liabilitas Lancar   Rp. Ribu     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179


      Liabilitas Tidak Lancar
      Utang Bank                Rp. Ribu             -             -             -             -             -
      Total Liabilitas Tidak
                                Rp. Ribu             -             -             -             -             -
      Lancar


      Total Liabilitas          Rp. Ribu     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179


      Ekuitas
      Modal                     Rp. Ribu     5.840.338     5.840.338     5.840.338     5.840.338     5.840.338
      Tambahan Modal
                                Rp. Ribu   185.366.035   185.366.035   185.366.035   185.366.035   185.366.035
      disetor
      Saldo Laba                Rp. Ribu    82.182.795   106.590.516   132.631.047   160.547.436   190.470.167
      Total Ekuitas             Rp. Ribu   273.389.168   297.796.888   323.837.419   351.753.809   381.676.540


      Total Liabilitas Dan
                                Rp. Ribu   274.658.348   299.066.068   325.106.599   353.022.989   382.945.720
      Ekuitas


     Aset Lancar
     Aset lancar terdiri dari kas dan piutang usaha, selama masa proyeksi aset lancar CMI
     mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-
     2035) sebesar 101%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan kas dan piutang CMI.
     Pada tahun 2026 aset lancar CMI mengalami peningkatan sebesar 517% hal ini
     disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan
     tahun 2025.

     Aset Tidak Lancar
     Aset tidak lancar terdiri dari asset tetap, selama masa proyeksi aset tidak lancar CMI
     mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-
     2035) sebesar 51%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan aset tetap CMI. Pada
     tahun 2026 aset tidak lancar CMI mengalami peningkatan sebesar 397% hal ini
     disebabkan adanya penambahan unit sebesar 200 unit PaaS dibandingkan dengan
     tahun 2025.

     Liabilitas
     Liabilitas CMI hanya terdiri dari utang usaha hal ini karena dalam pelaksanaan unit
     usaha PaaS sumber pendanaannya berasal dari modal CMI. Selama masa proyeksi
     Liabilitas CMI mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa
     proyeksi (2025-2035) sebesar 63%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan liabilitas
     jangka pendek CMI. Pada tahun 2026 liabilitas CMI mengalamai peningkatan sebesar
     400% hal ini disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan
     dengan tahun 2025 yang mempengaruhi pendapatan CMI sehingga utang usaha CMI
     mengalami peningkatan.




Halaman 46                                                                FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 47
     Ekuitas
     Ekuitas atas penambahan kegiatan usaha ini terdiri dari setoran modal, tambahan
     modal disetor dan Saldo Laba, selama masa proyeksi Ekuitas CMI mengalami
     peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035) sebesar
     73%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan Tambahan modal disetor yang
     disesuaikan dengan total capex yang dikeluarkan oleh CMI setiap tahunnya. Pada
     tahun 2026 Ekuitas CMI mengalamai peningkatan sebesar 424% hal ini disebabkan
     adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan tahun 2025
     yang mempengaruhi jumlah modal yang disetor untuk memenuhi biaya capex CMI.

7.6.4 Tingkat Diskonto

     Tingkat diskonto yang kami gunakan adalah biaya modal untuk ekuitas (cost of
     equity). Biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital
     Asset Pricing Model (“CAPM”), dengan formula sebagai berikut:

     Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS Ke = Rf + ß Rp – CDS

     Rf (risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
     dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Dalam studi kelayakan ini, suku
     bunga bebas risiko yang kami gunakan adalah Indeks Surat Utang Negara dengan
     jangka waktu 30 tahun dimana penggunaan risk free rate didasari atas suku bunga
     bebas risiko sesuai dengan mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan
     objek studi kelayakan, dan mencerminkan asumsi kelangsungan jangka waktu
     kegiatan usaha objek studi kelayakan.

     Rp (risk premium), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan
     tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Premi risiko pasar (Rm-Rf)
     ditentukan dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1
     Januari 2025 sebesar 6,87%.

     CDS (Country Default Spread), adalah tingkat (rating) gagal bayar obligasi yang
     dikeluarkan pemerintah dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan
     data diperbarui 1 Januari 2025.

     ß (Beta), merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
     pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh
     S&P 500 atau IHSG). Beta diperoleh dari unlevered beta yang mengacu kepada beta
     Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari industri t e l e k o m u n i ka s i
     sebesar 0,60 yang kemudian di re-levered kembali untuk menghasilkan levered beta
     dengan formula sebagai berikut:

     ßL       = ßU x (1+ (1-t) x DER)

     Dimana :
     ßL                  : Beta Levered
     ßU                  : Beta Unlevered
     DER                 : Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
     T                   : Pajak




Halaman 47                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 48
      DER mengacu kepada DER Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari
      industri telekomunikasi sebesar 39,78%.

      Berdasarkan formula perhitungan beta di atas maka beta yang digunakan sebagai
      berikut:

      Tabel 13. Beta
                     Deskripsi                               Keterangan
       ßU (didapat dari Damodaran)                                        0,60
       DER (Damodaran)                                               39,78%
       T (Pajak)                                                          22%
       ßL = …. *(1+(1-22% )*….%)                                        0,79

      Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM
      diperoleh biaya modal untuk ekuitas sebagai berikut:

      Tabel 14. CAPM
                  Deskripsi                                            Keterangan
       Rf                                           7,11% IPBA per 30 Desember 2024 (30 Tahun)
       ß                                                0,79 Dari perhitungan beta
       Rp                                           6,87% Damodaran dengan data
       CDS                                          1,89% diperbaharui 1 Januari 2025
       Spesifik Risk                                   0% Asumsi risiko karena proyek masih baru
       Ke = Rf + (ß x Rp ) – CDS                   10,63%

      Biaya modal ekuitas (Ke) pada tabel diatas sebesar 10,63% digunakan sebagai
      tingkat diskonto dalam Analisa kelayakan keuangan

7.7   Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)

      Dalam melakukan analisis titik impas akan menggunakan perhitungan break even
      point (“BEP”) dimana BEP adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba
      dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika
      jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba
      kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Nilai BEP dalam
      rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. BEP
      dalam satuan Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:



                                    Total Biaya Tetap

       BEP =

                           (Penjualan - Total Biaya Variabel) /
                                        Penjualan




Halaman 48                                                      FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 49
      Berikut adalah analisis titik impas atas rencana penambahan kegiatan usaha selama
      periode proyeksi:

      Tabel 7.13 Break Even Point (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian           2025            2026             2027                  2028                 2029                 2030
       Pendapatan              1.800.000       9.000.000       18.000.000        27.000.000             36.000.000              45.000.000
       Biaya Tetap               654.520       3.338.810        6.778.828        10.305.569             13.921.220              17.470.021
       Biaya Variabel            257.361       1.286.807        2.573.614              3.860.420            5.147.227            6.434.034
       Break Event Point         763.714       3.895.830        7.909.753        12.024.867             16.243.724              20.384.578


                                                                                                                            Lanjutan
               Uraian             2031                 2032                 2033                       2034                     2035
       Pendapatan                 54.000.000           54.000.000           54.000.000                 54.000.000               54.000.000
       Biaya Tetap                20.622.287           19.599.552           17.959.469                 16.075.864               14.061.275
       Biaya Variabel              7.720.841            7.720.841             7.720.841                 7.720.841                7.720.841
       Break Event Point          24.062.742           22.869.383           20.955.681                 18.757.832               16.407.144


      Berdasarkan tabel diatas rata-rata titik impas adalah sebesar Rp 14.934.113 selama
      periode proyeksi.

7.8   Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)

      Dalam melakukan analisis profitabilitas / Overall Profitability, digunakan Profitability
      Index (“PI”), dimana PI dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih
      yang akan datang suatu proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk
      proyek tersebut. PI dapat diformulasikan sebagai berikut:


                           Jumlah nilai kini arus kas masuk

                  PI =
                           Jumlah nilai kini arus kas keluar

      Jika PI lebih besar dari 1, maka investasi tersebut adalah layak.                                        Berikut          adalah
      perhitungan PI atas rencana penambahan kegiatan usaha:

      Tabel 7.14 Profitability Index (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian                          2025           2026             2027                   2028                2029               2030

       Cash inflow
       Net Income                          744.119          3.937.703        7.845.894             11.667.038           15.398.928      19.197.299
       Interest*(1-Tax)                         -               -                  -                    -                   -                 -
       Depreciation &
                                           654.520          3.338.810        6.778.828             10.305.569           13.921.220      17.470.021
       Amortization
       Total                               1.398.639        7.276.513       14.624.722             21.972.607           29.320.147      36.667.320


       Cash outflow
       Change in net
                                           (179.612)        (718.447)        (898.059)              (898.059)           (898.059)        (898.059)
       working capital
       Capex                                    -          (23.952.161)     (30.695.592)           (31.469.428)     (32.262.772)        (33.076.117)
       Initial Outlay        (5.840.338)




Halaman 49                                                                             FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 50
              Uraian                                2025                2026            2027             2028              2029              2030

      Total                    (5.840.338)        (179.612)        (24.670.608)      (31.593.651)     (32.367.487)      (33.160.831)     (33.974.176)


      Net Free Cash Flow       (5.840.338)        1.219.027        (17.394.095)      (16.968.929)     (10.394.880)      (3.840.684)       2.693.144


      Terminal Value


      Total Net Free Cash
                               (5.840.338)        1.219.027        (17.394.095)      (16.968.929)     (10.394.880)      (3.840.684)       2.693.144
      Flow


      n                                              1,0                 2,0             3,0              4,0               5,0               6,0
      Discount factor                              10,63%              10,63%          10,63%           10,63%            10,63%            10,63%
                                  1,00               0,90               0,82            0,74             0,67              0,60              0,55
      Present Value            (5.840.338)        1.101.887        (14.211.819)      (12.532.167)     (6.939.291)       (2.317.545)       1.468.937


                                                                                                                                       Lanjutan
                    Uraian                       2031                  2032            2033              2034             2035          Perpetuity

      Cash inflow
      Net Income                             23.391.814            24.407.720          26.040.531       27.916.390      29.922.731       30.683.786
      Interest*(1-Tax)                                      -                    -                -                 -              -
      Depreciation & Amortization            20.622.287            19.599.552          17.959.469       16.075.864      14.061.275       14.418.909
      Total                                  44.014.101            44.007.272         44.000.000       43.992.254       43.984.006       45.102.695


      Cash outflow
      Change in net working
                                                 (898.059)                       -                -                 -              -       (137.047)
      capital
      Capex                               (33.909.966)                           -                -                 -              -    (14.418.909)
      Initial Outlay
      Total                               (34.808.025)                           -                -                 -              -    (14.555.956)


      Net Free Cash Flow                         9.206.076         44.007.272         44.000.000       43.992.254       43.984.006       30.546.738


      Terminal Value                                                                                                                    377.707.350


      Total Net Free Cash Flow                   9.206.076         44.007.272         44.000.000       43.992.254       43.984.006      377.707.350


      n                                                  7,0                   8,0              9,0             10,0          11,0              11,0
      Discount factor                              10,63%               10,63%            10,63%           10,63%          10,63%            10,63%
                                                        0,49              0,45                 0,40             0,36          0,33              0,33
      Present Value                              4.538.810         19.611.723         17.724.250       16.018.260       14.476.308      124.313.549


           Analisa Kelayakan             Satuan            Nilai
      Profitability Index                    x                  1,33
      Payback Period                     Tahun                   8,0


     Berdasarkan tabel diatas PI yang dihasilkan sebesar 1,33 atau lebih besar daripada 1.




Halaman 50                                                                                 FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 51
7.9   Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)

      Dalam mengukur tingkat imbal balik investasi digunakan perhitungan Net Present
      Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”). Jika nilai NPV positif dan IRR memiliki
      nilai lebih besar dari tingkat diskonto maka investasi tersebut adalah layak. Berikut
      adalah perhitungan NPV dan IRR atas rencana penambahan kegiatan usaha:

      Tabel 7.15          NPV dan IRR (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian                              2025             2026             2027              2028              2029              2030

       Cash inflow
       Net Income                                 744.119       3.937.703        7.845.894         11.667.038        15.398.928         19.197.299
       Interest*(1-Tax)                              -               -                -                 -                  -                   -
       Depreciation &
                                                  654.520       3.338.810        6.778.828         10.305.569        13.921.220         17.470.021
       Amortization
       Total                                    1.398.639       7.276.513       14.624.722         21.972.607        29.320.147         36.667.320


       Cash outflow
       Change in net
                                                (179.612)       (718.447)        (898.059)         (898.059)          (898.059)          (898.059)
       working capital
       Capex                                         -        (23.952.161)      (30.695.592)      (31.469.428)      (32.262.772)       (33.076.117)
       Initial Outlay          (5.840.338)
       Total                   (5.840.338)      (179.612)     (24.670.608)      (31.593.651)      (32.367.487)      (33.160.831)       (33.974.176)


       Net Free Cash Flow      (5.840.338)      1.219.027     (17.394.095)      (16.968.929)      (10.394.880)       (3.840.684)        2.693.144


       Terminal Value


       Total Net Free Cash
                               (5.840.338)      1.219.027     (17.394.095)      (16.968.929)      (10.394.880)       (3.840.684)        2.693.144
       Flow


       n                                            1,0             2,0              3,0               4,0                5,0               6,0
       Discount factor                            10,63%         10,63%           10,63%            10,63%               10,63%           10,63%
                                  1,00             0,90             0,82             0,74              0,67               0,60             0,55
       Present Value           (5.840.338)      1.101.887     (14.211.819)      (12.532.167)      (6.939.291)        (2.317.545)        1.468.937


                                                                                                                                  Lanjutan
                  Uraian                   2031              2032             2033              2034              2035            Perpetuidy

       Cash inflow
       Net Income                         23.391.814        24.407.720       26.040.531        27.916.390        29.922.731        30.683.786
       Interest*(1-Tax)                              -                   -                -              -                 -
       Depreciation &
                                          20.622.287        19.599.552       17.959.469        16.075.864        14.061.275        14.418.909
       Amortization
       Total                              44.014.101        44.007.272       44.000.000        43.992.254        43.984.006        45.102.695


       Cash outflow
       Change in net working
                                             (898.059)                   -                -              -                 -         (137.047)
       capital
       Capex                             (33.909.966)                    -                -              -                 -      (14.418.909)
       Initial Outlay
       Total                             (34.808.025)                    -                -              -                 -      (14.555.956)


       Net Free Cash Flow                    9.206.076      44.007.272       44.000.000        43.992.254        43.984.006        30.546.738




Halaman 51                                                                            FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 52
                    Uraian           2031                 2032              2033              2034                2035        Perpetuidy



      Terminal Value                                                                                                          377.707.350


      Total Net Free Cash Flow       9.206.076          44.007.272        44.000.000        43.992.254       43.984.006       377.707.350


      n                                       7,0                 8,0               9,0             10,0              11,0            11,0
      Discount factor                      10,63%          10,63%                10,63%           10,63%           10,63%           10,63%
                                             0,49                0,45              0,40             0,36              0,33            0,33
      Present Value                  4.538.810          19.611.723        17.724.250        16.018.260       14.476.308       124.313.549




            Analisa Kelayakan       Satuan               Nilai


      Net Present Value            Rp. Ribu             157.412.564
      IRR                             %                         33,11%


     Berdasarkan tabel diatas NPV yang dihasilkan sebesar Rp 157.412.564 atau lebih besar
     daripada 0, dan IRR yang dihasilkan sebesar 33,11% atau lebih besar daripada tingkat
     diskonto sebesar 10,63%.

7.10 Proyeksi Keuangan Konsolidasian CMI Setelah Penambahan Kegiatan Usaha

     Tabel 7.16 Proyeksi Keuangan Konsolidasian CMI Setelah Penambahan Kegiatan
                Usaha
             Description            Unit           2025              2026             2027            2028            2029
      Revenue                    Rp Juta          2.227.957         2.309.088        2.395.821       2.508.213       2.624.382
      Net Profit (Loss)          Rp Juta        (1.029.175)         (462.284)        (358.557)       (225.537)        (91.556)

      Assets                     Rp Juta        26.092.697         26.394.507       26.568.447      27.027.829      27.763.473
      Liabilities                Rp Juta        24.595.369         25.359.462       25.891.959      26.576.878      27.404.078
      Equity                     Rp Juta         1.497.328          1.035.044          676.488         450.951         359.395

      Opeating Cashflow          Rp Juta            1.594.199       1.654.594        1.920.131       2.007.592        1.898.026
      Investing Cashflow         Rp Juta            (899.977)       (873.723)        (902.385)     (1.098.436)      (1.128.643)
      Financing Cashflow         Rp Juta            (597.141)       (790.842)      (1.029.585)       (920.114)        (779.471)


                                                                                                                         Lanjutan
             Description            Unit             2030            2031             2032            2033            2034            2035
      Revenue                    Rp Juta            2.770.001       2.922.001        3.062.701       3.210.436       3.365.558       3.528.436
      Net Profit (Loss)          Rp Juta               51.026         210.399          358.881         520.499         691.728         873.252

      Assets                     Rp Juta        28.618.175         29.777.861       30.984.925      32.302.452      33.733.036      35.279.315
      Liabilities                Rp Juta        28.207.755         29.157.041       30.005.224      30.802.252      31.541.109      32.214.135
      Equity                     Rp Juta           410.420            620.820          979.701       1.500.200       2.191.928       3.065.180

      Opeating Cashflow          Rp Juta          2.213.227          2.133.599        2.246.493       2.363.300       2.486.106       2.615.214
      Investing Cashflow         Rp Juta        (1.353.505)        (1.403.540)      (1.386.506)     (1.439.832)     (1.495.823)     (1.554.614)
      Financing Cashflow         Rp Juta          (868.948)          (733.432)        (853.338)       (916.835)       (983.664)     (1.053.997)


     Mengacu pada proyeksi keuangan sebelum dan setelah penambahan kegiatan
     usaha, dapat dilihat bahwa penambahan kegiatan usaha memberikan dampak
     sebagai berikut:




Halaman 52                                                                           FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 53
     Tabel 7.17 Dampak Penambahan              Kegiatan       Usaha        Pada        Proyeksi       Keuangan
                Konsolidasian CMI.
               Description          Unit       2025          2026             2027           2028           2029
      Revenue before              Rp Juta     2.224.357      2.291.088       2.359.821      2.454.213      2.552.382
      Revenue after               Rp Juta     2.227.957      2.309.088       2.395.821      2.508.213      2.624.382
      Addition                    Rp Juta         3.600         18.000          36.000         54.000         72.000

      Net Profit (Loss) before    Rp Juta   (1.030.663)      (470.159)       (374.248)      (248.871)      (122.354)
      Net Profit (Loss) after     Rp Juta   (1.029.175)      (462.284)       (358.557)      (225.537)       (91.556)
      Addition                    Rp Juta         1.488          7.875          15.692         23.334         30.798

      Assets before               Rp Juta    26.091.124    26.384.720       26.542.546    26.978.170     27.682.593
      Assets After                Rp Juta    26.092.697    26.394.507       26.568.447    27.027.829     27.763.473
      Addition                    Rp Juta         1.573         9.787           25.902        49.659         80.880

      Liabilities before          Rp Juta    24.595.285    25.359.039       25.891.113    26.575.609     27.402.386
      Liabilities after           Rp Juta    24.595.369    25.359.462       25.891.959    26.576.878     27.404.078
      Addition                    Rp Juta            85           423              846         1.269          1.692

      Equity Before               Rp Juta     1.495.840      1.025.681        651.432        402.561        280.207
      Equity After                Rp Juta     1.497.328      1.035.044        676.488        450.951        359.395
      Addition                    Rp Juta         1.488          9.364         25.055         48.390         79.187

      Opeating Cashflow before    Rp Juta     1.591.761      1.641.478       1.892.678      1.965.442      1.841.181
      Opeating Cashflow after     Rp Juta     1.594.199      1.654.594       1.920.131      2.007.592      1.898.026
      Addition                    Rp Juta         2.438         13.116          27.453         42.149         56.844

      Investing Cashflow before   Rp Juta     (888.296)      (825.819)       (840.993)    (1.035.498)    (1.064.118)
      Investing Cashflow after    Rp Juta     (899.977)      (873.723)       (902.385)    (1.098.436)    (1.128.643)
      Addition                    Rp Juta      (11.681)       (47.904)        (61.391)       (62.939)       (64.526)

      Financing Cashflow before   Rp Juta     (597.141)      (790.842)     (1.029.585)      (920.114)      (779.471)
      Financing Cashflow after    Rp Juta     (597.141)      (790.842)     (1.029.585)      (920.114)      (779.471)
      Addition                    Rp Juta             -              -               -              -              -


                                                                                                        Lanjutan
               Description          Unit      2030          2031            2032           2033           2034           2035
      Revenue before              Rp Juta    2.680.001     2.814.001       2.954.701      3.102.436      3.257.558      3.420.436
      Revenue after               Rp Juta    2.770.001     2.922.001       3.062.701      3.210.436      3.365.558      3.528.436
      Addition                    Rp Juta       90.000       108.000         108.000        108.000        108.000        108.000

      Net Profit (Loss) before    Rp Juta      12.631       163.616         310.066        468.418        635.895        813.407
      Net Profit (Loss) after     Rp Juta      51.026       210.399         358.881        520.499        691.728        873.252
      Addition                    Rp Juta      38.395        46.784          48.815         52.081         55.833         59.845

      Assets before               Rp Juta   28.498.478    29.610.957      30.769.206     32.034.652     33.409.403     34.895.836
      Assets After                Rp Juta   28.618.175    29.777.861      30.984.925     32.302.452     33.733.036     35.279.315
      Addition                    Rp Juta      119.697       166.904         215.719        267.800        323.633        383.479

      Liabilities before          Rp Juta   28.205.640    29.154.502      30.002.686     30.799.714     31.538.570     32.211.596
      Liabilities after           Rp Juta   28.207.755    29.157.041      30.005.224     30.802.252     31.541.109     32.214.135
      Addition                    Rp Juta        2.115         2.538           2.538          2.538          2.538          2.538
                                                                                   -              -              -              -
      Equity Before               Rp Juta     292.838       456.454          766.520      1.234.938      1.870.833      2.684.240
      Equity After                Rp Juta     410.420       620.820          979.701      1.500.200      2.191.928      3.065.180
      Addition                    Rp Juta     117.582       164.366          213.181        265.262        321.095        380.940

      Opeating Cashflow before    Rp Juta    2.141.689     2.047.367       2.158.479      2.275.300      2.398.121      2.527.246
      Opeating Cashflow after     Rp Juta    2.213.227     2.133.599       2.246.493      2.363.300      2.486.106      2.615.214
      Addition                    Rp Juta       71.539        86.232          88.015         88.000         87.985         87.968




Halaman 53                                                               FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 54
                Description         Unit       2030          2031          2032          2033          2034          2035
      Investing Cashflow before   Rp Juta   (1.287.353)   (1.335.720)   (1.386.506)   (1.439.832)   (1.495.823)   (1.554.614)
      Investing Cashflow after    Rp Juta   (1.353.505)   (1.403.540)   (1.386.506)   (1.439.832)   (1.495.823)   (1.554.614)
      Addition                    Rp Juta      (66.152)      (67.820)             -             -             -             -

      Financing Cashflow before   Rp Juta    (868.948)     (733.432)      (853.338)    (916.835)     (983.664)    (1.053.997)
      Financing Cashflow after    Rp Juta    (868.948)     (733.432)      (853.338)    (916.835)     (983.664)    (1.053.997)
      Addition                    Rp Juta            -             -              -            -             -              -


     Penambahan kegiatan usaha memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan
     operasional dan kinerja keuangan konsolidasian CMI yaitu:
      1. CMI diproyeksikan memperoleh pendapatan tambahan sebesar Rp3.600 juta pada
         tahun pertama, dengan peningkatan tahunan hingga mencapai Rp108.000 juta
         pada tahun 2035. Penambahan laba bersih pada tahun 2025 diperkirakan sebesar
         Rp1.488 juta dan meningkat menjadi Rp59.845 juta pada tahun 2035.
      2. Peningkatan total aset pada tahun 2025 diperkirakan sebesar Rp119.607 juta dan
         meningkat menjadi Rp383.479 juta pada tahun 2035. Liabilitas juga meningkat atas
         tambahan utang usaha dari penambahan kegiatan usaha dengan perkiraan
         sebesar Rp85 juta pada tahun 2025 dan meningkat menjadi Rp2.538 juta pada
         tahun 2035. Ekuitas juga mengalami peningkatan sejalan dengan tambahan laba
         dari penambahan kegiatan usaha.
      3. Arus kas dari aktivitas operasi juga menunjukkan peningkatan, menggambarkan
         efektivitas penambahan kegiatan usaha dalam menghasilkan aliran kas yang lebih
         besar. Disisi lain terdapat tambahan pengeluaran arus kas dari aktivitas investasi
         yang digunakan untuk belanja modal (Capital Expenditure/CAPEX) pada tahun
         2025 diperkirakan sebesar Rp11.681 juta dengan total CAPEX hingga tahun 2035
         sebesar Rp382.413 juta.

7.11 Rasio Proyeksi Keuangan konsolidasian CMI Sebelum dan Setelah Penambahan
     Kegiatan Usaha.

     Penambahan kegiatan usaha sedikit menekan margin laba kotor dengan tren
     penurunan di kisaran 0,1% - 0,4%, namun secara keseluruhan margin laba kotor masih
     dapat dipertahankan pada kisaran 96,2% - 96,6%.

     Bertolak belakang dengan margin laba kotor, margin operasi meningkat stabil atas
     tambahan kegiatan usaha di kisaran 0,1% - 0,9%. Secara keseluruhan margin operasi
     setelah penambahan kegiatan usaha berada pada kisaran 40,7% - 68,4%.

     Hal yang sama pada profit margin CMI, dimana penambahan kegiatan usaha
     memberikan dampak peningkatan pada profit margin di kisaran 0,1% - 1,4%. Adapun
     Profit margin selama masa proyeksi dengan penambahan kegiatan usaha berada
     pada kisaran terendah sebesar negative 3,5% dan tertinggi 24,7%.

     Penambahan kegiatan usaha berdampak pada perbaikan ROA di kisaran 0,1% - 0,2%.
     Selama periode proyeksi, setelah ada penambahan kegiatan usaha, ROA berada
     pada kisaran negative 0,3% sampai positif 2,5%. Ini menunjukkan bahwa CMI masih
     merugi namun tingkat kerugian perlahan menyusut dan aset digunakan lebih efisien
     sehingga dapat memperbaiki kondisi profitabilitas CMI. Disisi lain ROE selama periode




Halaman 54                                                              FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 55
     proyeksi dengan penambahan kegiatan usaha berada pada kisaran terendah
     negative 50,0% dan tertinggi mencapai 36,6%.

     Rasio proyeksi keuangan konsolidasian CMI sebelum dan setelah penambahan
     kegiatan usaha adalah sebagai berikut:

     Tabel 7.18 Rasio Proyeksi Keuangan konsolidasian CMI
             Description    Unit   2025     2026     2027     2028     2029
      Before:
      Gross Profit Margin    %      96,2%    96,2%    96,3%    96,4%    96,4%
      Operating Margin       %      40,6%    43,6%    46,7%    49,7%    52,7%
      Profit Margin          %     -46,3%   -20,5%   -15,9%   -10,1%    -4,8%
      Return On Assets       %      -4,0%    -1,8%    -1,4%    -0,9%    -0,4%
      Return On Equity       %     -68,9%   -45,8%   -57,5%   -61,8%   -43,7%

      After:
      Gross Profit Margin    %      96,2%    96,2%    96,1%    96,1%    96,1%
      Operating Margin       %      40,7%    43,9%    47,2%    50,4%    53,6%
      Profit Margin          %     -46,2%   -20,0%   -15,0%    -9,0%    -3,5%
      Return On Assets       %      -3,9%    -1,8%    -1,3%    -0,8%    -0,3%
      Return On Equity       %     -68,7%   -44,7%   -53,0%   -50,0%   -25,5%


             Description    Unit   2030     2031     2032     2033     2034     2035
      Before:
      Gross Profit Margin    %     96,5%    96,6%    96,7%    96,8%    96,9%    97,0%
      Operating Margin       %     55,7%    58,6%    61,2%    63,7%    65,9%    67,9%
      Profit Margin          %      0,5%    5,8%     10,5%    15,1%    19,5%    23,8%
      Return On Assets       %      0,0%    0,6%      1,0%    1,5%      1,9%    2,3%
      Return On Equity       %      4,3%    35,8%    40,5%    37,9%    34,0%    30,3%

      After:
      Gross Profit Margin    %     96,2%    96,2%    96,3%    96,4%    96,5%    96,6%
      Operating Margin       %     56,6%    59,5%    62,0%    64,3%    66,4%    68,4%
      Profit Margin          %      1,8%    7,2%     11,7%    16,2%    20,6%    24,7%
      Return On Assets       %      0,2%    0,7%      1,2%    1,6%      2,1%    2,5%
      Return On Equity       %     12,4%    33,9%    36,6%    34,7%    31,6%    28,5%




Halaman 55                                                    FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 56
                                          BAB VIII
                                        KESIMPULAN



     Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis
     Kelayakan Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis
     Kelayakan Model Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asumsi dapat
     terpenuhi, maka kami berpendapat bahwa rencana Perseroan dalam rangka
     Perubahan kegiatan usaha berupa penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam
     bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian
     Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas
     Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129) adalah LAYAK.




Halaman 56                                                     FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 57
                        ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS



   a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
   b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
      dalam proses Studi Kelayakan.
   c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
      keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
      data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya
      yang kami anggap relevan.
   d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
      kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
      pencapaiannya (fiduciary duty).
   e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
   f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
   g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi
      Kelayakan dari Pemberi Tugas.
   h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
   i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan
      telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
      di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai
      Indonesia (KEPI).
   j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami
      secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di
      luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup
      penugasan.
   k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
      dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan
      tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
      jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
   l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
      pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan
      relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).




Halaman 57                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 58
                                    PERNYATAAN PENILAI



Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang
bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa:

1.    Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan Studi Kelayakan adalah benar
      sesuai dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2.    Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3.    Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang,
      maupun memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek Studi
      Kelayakan .
4.    Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil Studi Kelayakan yang dilaporkan.
5.    Studi Kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia
      (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), SE OJK NO.17/SEOJK.04/2020, serta POJK
      No.35/POJK.04/2020, tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
      di Pasar Modal.
6.    Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
      diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7.    Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek
      Studi Kelayakan .
8.    Penilai telah melakukan wawancara kepada pihak manajemen Perseroan.
9.    Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat
      dalam pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana
      yang dinyatakan dalam laporan Studi Kelayakan ini.
10.   Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
      Kelayakan .
11.   Kami bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan yang telah kami susun
      berdasarkan data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami
      anggap akurat serta lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini
      apabila data-data, dokumen dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada
      kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12.   Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan terhadap obyek Studi Kelayakan pada
      tanggal Studi Kelayakan (cut off date)
13.   Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
      laporan Studi Kelayakan .
14.   Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Studi Kelayakan profesional telah
      disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15.   Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah
      diungkapkan.
16.   Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.




Halaman 58                                                   FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025
Page 59

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.93 MB
Published19 May 2025
Pages59
Characters173,525
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 60 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org PT Centratama Menara Indonesia p.1 ×16
linked person Daniel Pradipta p.8 ×2
linked person Yan Raymond Jafri · Direktur Utama p.14 ×3
linked person Caba Pinter · Direktur p.14 ×2
linked person Jacopo Rigamonti · Direktur p.14 ×2
linked — Ooredoo Hutchison p.22
linked org Smartfren Telecom p.22
linked org Dayamitra Telekomunikasi Tbk p.22 ×2
linked org Inti Bangun Sejahtera Tbk p.22 ×2
linked org PT Smart Telecom p.22
linked org XL Axiata Tbk p.22 ×4
linked org Huawei Tech p.32
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.1 ×4
possible org Negara Republik Indonesia p.13 ×2
possible org Telkom Indonesia p.22
unresolved org PT Centratama Menara Indonesia TCC Batavia Tower One p.1
unresolved person KH. Mas Mansyur p.1 ×2
unresolved org KJPP Ferdinand p.1 ×4
unresolved org Ichsan dan Rekan p.1 ×4
unresolved org KJPP FDI p.1 ×6
unresolved org PT Centratama Menara Indonesia No. FDI. p.1 ×2
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.1 ×3
unresolved org Group Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk p.3
unresolved org Menteri ESDM p.3 ×3
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.8 ×2
unresolved org Purwantono p.10 ×6
unresolved person Benediktio Salim p.10 ×2
unresolved org Jasa Kontruksi p.10
unresolved org Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Halaman p.10
unresolved person Daniel.Pradipta p.11
unresolved person Akta Notaris Agus Madjid p.13 ×2
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.13 ×2
unresolved person Akta Notaris Jimmy Tanal p.13 ×2
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU- p.13 ×4
unresolved person Caesaria Dhamayanti · Notaris p.13 ×5
unresolved org Menteri Investasi dan Hilirisasi p.14
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal. p.14 ×3
unresolved org Konstruksi p.14
unresolved org Menteri Agraria dan Tata Ruang p.14
unresolved org Pertanahan Nasional dan Menteri Investasi p.14
unresolved org Menteri Hukum Republik Indonesia p.14
unresolved person Suresh Narain Singh Sidhu · Komisaris p.14
unresolved — Kegiatan Usaha CMI · o p.14
unresolved — FDI.JKT/0011/LAP/B/SK/V/2025 · Halaman 14 p.14
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia p.15
unresolved org PT Centratama p.15
unresolved org Telekomunikasi Indonesia Tbk p.15
unresolved org PT Indosat Ooredoo Hutchison p.22
unresolved org PT. Telekomunikasi Selular p.22 ×2
unresolved org PT. Smartfren Telecom Adapun p.22
unresolved org PT Indosat Ooredoo Hutchinson p.22
unresolved org PT Putra Arga Binangun p.22
unresolved org PT Telkomsel p.22
unresolved org Kementerian Ketenagakerjaan RI. Tabel p.26 ×2
unresolved org Kementerian Ketenagakerjaan RI p.26
unresolved org PT. Berkat Bersama Teknik p.28
unresolved org PT Trans Communication Data p.32
unresolved org PT Huawei Tech Investment p.32
unresolved org United Technologies Corporation p.32

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result