Skip to content
Back to announcement

20250519_CENT_Laporan Informasi dan Fakta Material_31886930_lamp3.pdf

Other Text extracted CENT

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 59

Page 1
                  Kantor Jasa Penilai Publik                                             The Manhattan Square
                                                                               Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                  FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                          Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                  Property, Business Valuation & Advisory                    E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                                                                                   Website: www.fdipartners.co
                  Licence No. 2.22.0176
                                                                                         Phone (62 21) 27875911
                  KMK 460/KM.1/2022


Jakarta, 06 Mei 2025

Kepada Yth.
PT EPID Menara AssetCo
TCC Batavia Tower One Lt. 16 & 19
Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220

No. Laporan    : FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Hal            : Revisi Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha berupa
                 penambahan 4 (empat) bidang kegiatan usaha PT EPID Menara AssetCo

Dengan hormat,

REVISI LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT EPID MENARA ASSETCO

Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No.003/FDI.JKT/PB.FS/I/2025 tertanggal 15
Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau
“Kami”) mendapat penugasan dari PT EPID Menara AssetCo (selanjutnya disebut “EMA” atau
“Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan usaha berupa
penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga
Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi
Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), selanjutnya disebut
(“Obyek Studi Kelayakan”).

Sebelumnya kami telah menerbitkan Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha PT
EPID Menara AssetCo No. FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025 tanggal 14 April 2025. Selanjutnya
sesuai dengan Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor : S-173/PM.023/2025 tanggal 29 April 2025,
perihal Perubahan dan/atau Tambahan Informasi atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, maka kami menerbitkan kembali revisi Lapoan
Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha PT EPid Menara AssetCo No.
FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/IV/2025 tanggal 06 Mei 2025. Perubahan-perubahan tersebut meliputi
penambahan pengungkapan informasi atas laporan keuangan Perseroan, analisis Perseroan,
analisis kelayakan pasar, analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan pola bisnis, analisis
kelayakan model manajemen, dan analisis kelayakan keuangan namun tidak merubah
kesimpulan dan opini laporan

Maksud dan Tujuan

Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana penambahan/
perubahan kegiatan usaha KBLI Perseroan , diperuntukan dalam rangka memenuhi Otoritas
Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan perusahaan public (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi
Material dan perubahan Kegiatan Usaha.
Page 2
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian Indonesia dan
Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan
Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar
maupun profesi lainnnya.

Tanggal Studi Kelayakan

Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2024.

Ruang Lingkup dan Metodologi Analisis Studi Kelayakan

Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:

 a.   Analisis Kelayakan Pasar
 b.   Analisis Kelayakan Teknis
 c.   Analisis Kelayakan Pola Bisnis
 d.   Analisis Model Manajemen
 e.   Analisis Kelayakan Keuangan

Analisis Kelayakan Pasar

Perkembangan industri Telekomunikasi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi
baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G dan lainnya. Hampir seluruh
perusahaan biasanya memiliki kebutuhan komunikasi yang kompleks karena ukuran,
penyebaran geografis, dan operasinya yang beragam. Hal ini berdampak kepada
kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang mampu menangani lalu lintas bervolume besar
secara efisien dan andal untuk memastikan komunikasi dan produktivitas yang lancar.

Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi karena
kebutuhan komunikasi yang kompleks dan volume lalu lintas tinggi, yang memerlukan solusi
telekomunikasi tangguh dan infrastruktur yang efisien serta andal untuk memastikan
kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Sementara itu EMA sendiri memiliki
beberapa tenant yang merupakan Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower di EMA.
EMA memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin
mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan inovasi
yang ditawarkan kepada pelanggan.

Pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada 2025 dan USD 4,21
triliun pada 2034, menurut riset yang dilakukan oleh Precedence Research, dan didukung oleh
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatatkan peningkatan
penetrasi internet di Indonesia yang diprediksi mencapai 79,5% pada 2024. Proyeksi pengguna
internet di Indonesia juga menunjukkan kenaikan masing-masing menjadi 81% dan 83% pada
2025 dan 2026, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang
dipublikasikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia.




Halaman 2                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 3
EMA tidak menghadapi persaingan dalam penyediaan instalasi listrik pada BTS miliknya
karena seluruh layanan kepada tenant ditangani langsung oleh EMA. Dominasi ini terjadi
karena hanya EMA yang memiliki akses ke lokasi-lokasi BTS tersebut, sehingga kompetitor tidak
dapat menawarkan layanan serupa. Dengan demikian, EMA memiliki peluang besar untuk
menyediakan instalasi listrik sebagai layanan tambahan bagi setiap tenant BTS.

Analisis Kelayakan Teknis

EMA memiliki kapasitas dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan penambahan
kegiatan usaha yaitu dalam bidang Pengoperasian Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 35121),
Pengoperasian Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 43211),
Kegiatan Penunjang Kelistrikan (KBLI 35129).

Atas penambahan kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan proses
yang menghasilkan produk. Sedangkan proses jasa yang dilakukan dapat terlihat dalam
gambar berikut:




Analisis Kelayakan Pola Bisnis

Keunggulan kompetitif yang dimiliki saat ini adalah EMA telah memiliki tower atau menara
telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat mendukung kegiatan usaha barunya, EMA telah
berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki pengalaman dalam industri jasa telekomunikasi.

Kemampuan pesaing dalam meniru produk ini relatif sangat sulit karena para pesaing tidak
memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada
EMA saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian,
layanan yang ditawarkan oleh EMA bersifat eksklusif.

Kemampuan dalam menciptkan nilai, dapat tercipta dikarenakan EMA Seiring dengan
penambahan usaha baru, EMA memiliki potensi untuk memperoleh sumber pendapatan
tambahan. Hal ini disebabkan oleh adanya peluang untuk memasarkan jasa atas kegiatan
usaha baru EMA pada customer atau tenant yang sudah ada saat ini. Dengan
memperkenalkan layanan baru yang dapat memenuhi kebutuhan tenant, EMA dapat
memanfaatkan basis pelanggan yang telah terbangun untuk meningkatkan pendapatan.

Analisis Model Manajemen

Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, EMA tidak melakukan penambahan
tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Dan sebagai bentuk kepatuhan
terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2021, terkait
persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat SKTTK,Manajemen menginformasikan,
saat ini EMA secara aktif melaksanakan proses sertifikasi bagi tenaga kerja yang telah ada
(existing manpower). Sementara itu, terkait dengan kekayaan intelektual, EMA saat ini memiliki
kontrak jangka panjang dari masing-masing penyewa (perusahaan telekomunikasi yang
menyewa menara).



Halaman 3                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 4
Risiko-risiko yang berpotensi terjadi dalam menjalankan kegiatan usahanya, antara lain
adalah Risiko Kondisi Makro Ekonomi, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, dan Risiko Tidak
Tercapainya Proyeksi. Dalam menjalankan setiap bidang usaha EMA memiliki kapasitas
manajemen yang memiliki kompetensi dan berpengalaman sesuai bidangnya (key person).

Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya
suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk
perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan
Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi kerja yang terpadu dan
terarah.

Analisis Kelayakan Keuangan

Dalam rencana perubahan kegiatan usaha, Perseroan akan menambah 4 (empat) kegiatan
usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121),
Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211),
Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), membutuhkan biaya investasi terkait
sebesar Rp 5.840.338.000, dengan pembiayaan berasal dari kas Perseroan.

Biaya operasional atas rencana penambahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok
penjualan dan biaya/beban lain.

Dalam melakukan analisis kelayakan keuangan digunakan analisis titik impas, Profitability
Index (“PI”), Net Present Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”), dengan hasil
sebagai berikut:

Tabel 1. PI, NPV, dan IRR
           Keterangan                 Indikator         Satuan              Hasil Analisa
 Net Present Value                     NPV > 0          Rp Ribu                    157.412.564
 IRR                                   IRR > DR           %                             33,11%
 Profitability Index                    PI > 0             X                                1,33
 Payback Period                         Tahun                                                8,0

Asumsi – Asumsi dan Kondisi Pembatas

1.     Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2.     Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam
       proses Studi Kelayakan.
3.     Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
       keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data
       yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami
       anggap relevan.
4.     Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran
       proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
       (fiduciary duty).
5.     Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
6.     Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
7.     Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
       Pemberi Tugas.



Halaman 4                                                         FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 5

          
Page 6
                                                                    DAFTAR ISI



SURAT PENGANTAR ................................................................................................................................ 1
DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. 6
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 8
   1.1          Uraian Mengenai Penugasan ............................................................................................ 8
   1.2          Status Penilai ........................................................................................................................ 8
   1.3          Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan .......................................................... 8
   1.4          Tanggal Penilaian ................................................................................................................ 9
   1.5          Objek Studi Kelayakan ....................................................................................................... 9
   1.6          Maksud dan Tujuan ............................................................................................................. 9
   1.7          Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan ........................................................... 10
   1.8          PIhak-pihak Yang Diwawancara .................................................................................... 10
   1.9          Metodologi Analisis Studi Kelayakan .............................................................................. 11
   1.10         Pernyataan Independensi Penilai ................................................................................... 11
   1.11         Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 11
   1.12         Pedoman dan Standar Penilaian .................................................................................... 12
   1.13         Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ............................. 12
BAB II ANALISIS PERSEROAN .............................................................................................................. 13
   2.1          Gambaran Umum EMA .................................................................................................... 13
   2.2          Informasi Keuangan EMA ................................................................................................. 14
   2.3          Informasi Perpajakan EMA ............................................................................................... 19
BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................ 20
   3.1          Kondisi Pasar ...................................................................................................................... 20
   3.2          Persaingan Pasar ............................................................................................................... 23
   3.3          Strategi Pemasaran ........................................................................................................... 24
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................... 25
   4.1          Kapasitas ............................................................................................................................ 25
   4.2          Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia ...................................................... 25
   4.3          Proses Produksi / Layanan Jasa ....................................................................................... 27
BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ....................................................................................... 28
   5.1          Keunggulan Kompetitif ..................................................................................................... 28
   5.2          Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................. 28
   5.3          Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai .......................................................................... 28
BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ...................................................................... 30
   6.1          Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 30



Halaman 6                                                                                             FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 7
   6.2         Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property) .......................................... 30
   6.3         Manajemen Risiko ............................................................................................................. 30
   6.4         Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen ..................................................................... 31
   6.5         Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen .......................................................... 33
BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 34
   7.1         Proyeksi Keuangan EMA Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha ............................ 34
   7.2         Biaya Pendirian (Start Up Cost) ........................................................................................ 35
   7.3         Modal Kerja ........................................................................................................................ 35
   7.4         Sumber Pembiayaan ........................................................................................................ 36
   7.5         Biaya Operasional ............................................................................................................. 36
   7.6         Proyeksi Laporan Keuangan ............................................................................................ 36
   7.7         Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) ........................................................................ 48
   7.8         Analisis Profitabilitas (Overall Profitability) ...................................................................... 49
   7.9         Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ...................................... 50
   7.10        Proyeksi Keuangan EMA Setelah Penambahan Kegiatan Usaha .............................. 52
   7.11        Proyeksi Rasio Keuangan EMA Sebelum & Setelah Penambahan Kegiat Usaha..... 54
BAB VIII KESIMPULAN ......................................................................................................................... 56
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ..................................................................................... 57
PERNYATAAN PENILAI ......................................................................................................................... 58




Halaman 7                                                                                          FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 8
                                                  BAB I
                                              PENDAHULUAN



1.1       Uraian Mengenai Penugasan

          Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No.003/FDI.JKT/PB.FS/I/2025 tertanggal
          15 Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP
          FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT EPID Menara AssetCo (selanjutnya
          disebut “EMA” atau “Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan
          usaha berupa penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi
          Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga
          Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya
          (KBLI 35129), selanjutnya disebut (“Obyek Studi Kelayakan”).

1.2       Status Penilai

          Studi kelayakan ini dilakukan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) Cabang
          Jakarta Selatan, selaku Penilai Independen untuk memberikan Kajian Indikasi Nilai yang
          objektif dan tidak memihak, sesuai KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan Kajian
          Indikasi Nilai atas objek Kajian Indikasi Nilai yang dimaksud. KJPP Ferdinand, Danar,
          Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
          No. 582/KM.1/2024 tanggal 19 September 2024 dari Menteri Keuangan Republik
          Indonesia dan mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:

          •   Pemimpin Cabang, Ferdinand Pardede, adalah seorang Penilai Publik untuk
              klasifikasi penilaian bisnis dengan izin No. B-1.09.00089 dari Menteri Keuangan
              Republik Indonesia, dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Surat
              Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) No. STTD.PB-17/PJ-
              1/PM.02/2023. Beliau adalah anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia
          •   Penugasan penilaian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
              atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian
              dan/atau pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional
              dan tidak memihak.
          •   Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu
              kesatuan tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung
              jawab laporan penilaian ini.

1.3       Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

      -    Nama Pemberi Tugas               : PT EPID Menara AssetCo
      -    Alamat                           : TTC Batavia Tower One Lt. 16, Jl. K.H. Mas Mansyur
                                              Kav. 126, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat
                                              10220
      -    Bidang Usaha                     : Sarana Jaringan Telekomunikasi
      -    No. Telepon/Fax                  : 021-29529404/021-29678232
      -    Alamat Email                     : daniel.pradipta@centratamagroup.com
      -    Penanggung Jawab                 : Daniel Pradipta/Aditya




Halaman 8                                                              FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 9
1.4   Tanggal Penilaian

      Studi Kelayakan diperhitungkan pada tanggal 31 Desember 2024.

1.5   Objek Studi Kelayakan

      Objek Studi Kelayakan ini berupa penambahan/perubahan kegiatan usaha pada EMA
      selaku afiliasi dengan penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang
      Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi
      Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang
      Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129),
      • KBLI 35121 - Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik
          Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
          fasilitas pembangkit yang menghasilkan energi listrik, fasilitas sistem transmisi tenaga
          listrik dan sistem distribusi tenaga listrik.
      • KBLI 35122 - Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
          Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
          fasilitas instalasi pemanfaatan tenaga listrik mencakup instalasi pemanfaatan
          tenaga listrik tegangan tinggi, instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan
          menengah, dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah.
      • KBLI 43211 - Instalasi Listrik
          Kelompok ini mencakup kegiatan pembangunan, pemasangan, pemeliharaan,
          pembangunan kembali instalasi listrik pada pembangkit, transmisi, gardu induk,
          distribusi tenaga listrik, sistem catu daya, dan instalasi listrik pada bangunan gedung
          baik untuk hunian maupun non hunian, seperti pemasangan instalasi jaringan listrik
          tegangan rendah. Termasuk kegiatan pemasangan dan pemeliharaan instalasi listrik
          pada bangunan sipil, seperti jalan raya, jalan kereta api dan lapangan udara.
      • KBLI 35129 - Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya
          Kelompok ini mencakup usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan
          penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik namun tidak tercakup dalam kelompok
          35121 s.d. 35122, seperti jasa pencatatan meteran, pemberian tagihan dan kegiatan
          perdagangan pulsa/token listrik sera kegiatan penunjang kelistrikan lainnya.

1.6   Maksud dan Tujuan

      Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana
      penambahan/ perubahan kegiatan usaha KBLI Perseroan n, diperuntukan dalam
      rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan
      perusahaan public (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
      Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan perubahan Kegiatan
      Usaha.

      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
      35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
      Modal (“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan
      Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian
      Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018).
      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya.



Halaman 9                                                       FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 10
1.7   Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan

      Metode kerja Konsultan dalam menyusun Laporan adalah sebagai berikut:
      • Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
         2024 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja d a n t e l a h di
         t a n d a ta n g an i p a da t a n g g a l 3 0 A p ri l 2 0 25 o l e h S h e rl y J o k o m , d engan
         pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
         semua hal yang material.
      • Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
         2023 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja d a n t e l a h di
         t a n d a ta n ga n i p a d a t a n g ga l 26 April 2024, o l e h S he r ly J o k o m , d engan
         pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
         semua hal yang material.
      • Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
         2022 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja d a n t e l a h di
         t a n d a ta n ga n i p a d a t a n g ga l 19 April 2023, o l e h S he r ly J o k o m , d engan
         pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
         semua hal yang material.
      • Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
         2021 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja d a n t e l a h di
         t a n d a t an g a n i p a da t an g g al 26 April 2022, o l e h B en y a n t o S uh e r m an ,
         d engan pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara
         wajar dalam semua hal yang material.
      • Rencana Bisnis Plan, berupa rencana anggaran pembelian alat dan proyeksi
         pendapatan tahun 2025 - 2035.
      • Data legalitas EMA antara lain akta pendirian, akta perubahan terakhir, Nomor
         Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Badan Usaha Konstruksi (SBUK), Nomor Pokok Wajib
         Pajak (NPWP).
      • Sertifikat Merek logo EMA dengan No perndaftaran IDM000988267 yang
         dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia
      • Data makro ekonomi berupa Proyeksi inflasi dan GDP Indonesia bersumber dari
         International Monetary Fund (IMF).
      • Data makro industri berasal dari Precedence Research dan katadata.co.id
      • Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat
         disetujui untuk digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada
         tingkat Nasional maupun Internasional, antara lain dari Data Pemerintah Kota dan
         Informasi dari media masa elektronik.

1.8   PIhak-pihak Yang Diwawancara

      Pihak-pihak yang diwawancara dalam penyusunan studi kelayakan adalah:
      1. Nama: Daniel Pradipta
         Jabatan: Head of Corporate Secretary
         E-mail: Daniel.Pradipta@centratamagroup.com
      2. Nama: Chayadi
         Jabatan: Head of Corporate Finance & Investor Relation
         E-mail: chayadi@centratamagroup.com




Halaman 10                                                              FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 11
1.9   Metodologi Analisis Studi Kelayakan

      Metodologi analisis studi kelayakan meliputi sebagai berikut :

      a. Melakukan analisis Kelayakan Pasar, meliputi kondisi pasar, seperti pangsa pasar,
         kesinambungan (sustainability), potensi pasar, sasaran, dan potensi nilai pasar;
         pesaing usaha; dan strategi pemasaran.
      b. Melakukan analisis Kelayakan Teknik, meliputi kapasitas; ketersediaan dan kualitas
         sumber daya, termasuk bahan baku mentah, pekerja, dan ahli profesional; dan
         proses produksi.
      c. Melakukan analisis Kelayakan Pola Bisnis, meliputi keunggulan kompetitif karena
         keunikan dari pola bisnis; kemampuan pesaing untuk meniru produk; dan
         kemampuan untuk menciptakan nilai.
      d. Melakukan analisis Kelayakan Model Manajemen, meliputi ketersediaan tenaga
         kerja; manajemen kekayaan intelektual (intellectual property); manajemen risiko;
         kapasitas dan kemampuan manajemen; dan kesesuaian struktur organisasi dan
         manajemen.
      e. Melakukan analisis Kelayakan Keuangan, meliputi biaya pendirian (start up costs);
         modal kerja; sumber pembiayaan; biaya operasional; biaya bahan baku mentah;
         proyeksi laporan keuangan; analisis titik impas; analisis profitabilitas; tingkat imbal
         balik investasi.
      f. Kami telah melakukan investigasi terhadap Objek Studi Kelayakan yang meliputi:
          - Objek Studi Kelayakan sesuai dengan lingkup penugasan;
          - Tanggal Penilaian sesuai dengan Laporan keuangan per 31 Desember 2024;

1.10 Pernyataan Independensi Penilai

      Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini, KJPP FDI&R bertindak secara
      independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan
      Perseroan, ataupun pihak-pihak lainnya yang terafiliasi dengan Perseroan. KJPP FDI&R
      tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.
      Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
      merugikan pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi
      oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan ini.

1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas

      Asumsi dan kondisi pembatas studi kelayakan diuraikan sebagai berikut :

      a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
         dalam proses Studi Kelayakan.
      c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
         keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
         data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi
         lainnya yang kami anggap relevan.
      d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
         kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan
         kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).




Halaman 11                                                      FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 12
      e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
      f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
      g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
         Pemberi Tugas.
      h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
      i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi
         Kelayakan telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan
         Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
         Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
      j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab
         kami secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek
         penugasan, di luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada
         di luar lingkup penugasan.
      k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas,
         sesuai dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi
         Kelayakan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami
         tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
      l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian,
         sehingga pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam
         menentukan relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan
         hasil laporan).

1.12 Pedoman dan Standar Penilaian

     Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada POJK 17 dan Peraturan
     Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
     tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), SE
     OJK NO.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilai Indonesia & Standar Penilaian Indonesia
     Edisi Vll-2018 (KEPI-SPI VII.2018).

1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)

     Dari tanggal penilaian (cut off date) per 31 Desember 2024 hingga laporan studi
     kelayakan ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal penilaian.




Halaman 12                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 13
                                            BAB II
                                     ANALISIS PERSEROAN



2.1   Gambaran Umum EMA

      EMA adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa
      penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau BTS, serta alat,
      sarana atau instalasi penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi
      komunikasi, jasa konsultasi manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.

      EMA didirikan berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti, S.H., LL.M. No. 20 tanggal 10 Maret
      2021. Akta pendirian EMA ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
      Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU 0017204.AH.01.01. Tahun 2021
      tanggal 10 Maret 2021 dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
      berdasarkan Surat Keputusan Menkumham Nomor AHU-0017204.AH.01.01.Tahun 2021,
      tanggal 10 Maret 2021, serta telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
      0045370.AH.01.11.Tahun 2021, tanggal 10 Maret 2021.

      Anggaran Dasar EMA telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir
      dengan adalah Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 5 tanggal 2 Mei
      2023, dibuat di hadapan Notaris Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan. Perubahan
      ini telah diterima oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Tanda Terima
      Pemberitahuan Nomor AHU-AH.01.03-0064119 tanggal 16 Mei 2023 dan telah terdaftar
      dengan Nomor Pendaftaran Perusahaan AHU-0089362.AH.01.11.Tahun 2023 tanggal 16
      Mei 2023 (“Anggaran Dasar EMA”).

      o   Perizinan

      EMA telah melengkapi dokumen perizinan dan persetujuan yang diperlukan serta telah
      melakukan pendaftaran dan pelaporan yang harus dilakukan oleh EMA di dalam
      melakukan kegiatan usahanya di Indonesia, adapun dokumen tersebut antara lain
      adalah sebagai berikut:
      1. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Epid Menara AssetCo No. 20 tanggal 10 Maret
         2021 dari Mala Mukti, S.H., LL.M. notaris di Jakarta.
      2. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU
         0017204.AH.01.01. Tahun 2021 tanggal 10 Maret 2021 Tentang Pengesahan Pendirian
         Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Epid Menara AssetCo Tanggal 10 Maret 2021.
      3. Akta notaris No. 5 tanggal 2 Mei 2023 dari Jimmy Tanal, S.H., M.Kn. notaris di Jakarta.
      4. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
         0089362.AH.01.11.Tahun 2023 tanggal 16 Mei 2023 tetang perubahan Anggaran
         Dasar EMA
      5. Nomor Induk Berusaha (NIB), No 1227000301011 tanggal 11 Maret 2021 dikeluarkan
         oleh Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
      6. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), No.417324548022000, dikeluarkan oleh KPP
         Pratama Jakarta Tanah Abang Satu




Halaman 13                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 14
      o    Susunan Manajemen EMA

      Berdasarkan Akta No. 395, tanggal 23 November 2023, yang dibuat di hadapan Notaris
      Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan, yang diberitahukan kepada Menteri Hukum
      dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran
      Dasar No. AHU-AH.01.09-0190864, tanggal 30 November 2023, dan telah telah
      didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-0241843.AH.01.11.Tahun 2023, tanggal 30
      November 2023, komposisi anggota Dewan Komisaris dan Direksi EMA adalah sebagai
      berikut:

                          Jabatan                                          Nama
          DEWAN KOMISARIS:
          Komisaris Utama                               Suresh Narain Singh Sidhu
          Komisaris                                     Yan Raymond Jafri
          DIREKSI:
          Direktur                                      James John Burns
          Direktur                                      Caba Pinter


      o    Kegiatan Usaha EMA

      Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar EMA, maksud dan tujuan kegiatan usaha EMA
      adalah (i) Real Estat yang Dimiliki Sendiri Atau Disewa (KBLI No. 68111); dan (ii) Konstruksi
      Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206).

      o    Susunan Pemegang Saham

      Susunan pemegang saham EMA berdasarkan Akta No. 70, tanggal 16 Maret 2022, yang
      dibuat di hadapan Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah
      diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan
      Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0175422, tanggal 16
      Maret 2022, dan telah telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
      0052295.AH.01.11.Tahun 2022, tanggal 16 Maret adalah sebagai berikut:

            Nama Pemegang Saham          Modal Ditempatkan           Lembar Saham              Persentase
                                          dan Disetor (Rp)                                    Kepemilikan
          PT Centratama Menara                 1.998.796.800.000                    139.776         99,29%
          Indonesia
          PT Centratama                           14.285.700.000                       999          0,71%
          Telekomunikasi Indonesia Tbk
          Jumlah                                2.013.082.500.000                   140.775          100%


2.2   Informasi Keuangan EMA

      Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang
      posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perseroan.
      Laporan keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perseroan
      yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat proyeksi
      keuangan masa depan. Ikhtisar laporan keuangan Perseroan dan analisa yang dibuat
      mengacu kepada laporan keuangan Perseroan yang telah diaudit. Tabel berikut ini




Halaman 14                                                          FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 15
     menggambarkan ikhtisar laporan posisi keuangan Perseroan untuk periode yang
     berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2024:

     Tabel 1. Historis Posisi Keuangan EMA Periode 2021 – 2024 (dalam Jutaan Rupiah)



                     URAIAN                 2021         2022          2023          2024


      Aset Lancar                            487.477     1.514.229      532.480        843.988
      Aset Tidak Lancar                   11.618.280    10.744.248    12.061.975   13.701.554
      Total Aset                          12.105.757    12.258.477    12.594.455   14.545.542
      Liabilitas Jangka Pendek              5.203.276     724.280       423.169        412.893
      Liabilitas Jangka Panjang             7.065.781    7.804.875     8.435.853    9.244.163
      Total Liabilitas                    12.269.057     8.529.155     8.859.022    9.657.056
      Ekuitas                               (163.300)    3.729.322     3.735.433    4.888.486
      Total Liabilitas dan Ekuitas        12.105.757    12.258.477    12.594.455   14.545.542
     Sumber: Laporan keuangan EMA

     Analisis Laporan Posisi Keuangan EMA

     Total Aset
     Total asset EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 12.594.455 juta
     mengalami peningkatan sebesar Rp 355.978 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
     Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 12.258.477 juta. Peningkatan terjadi
     disebabkan oleh meningkatnya total aset tidak lancar EMA. Sampai dengan periode 31
     Desember 2024 total aset EMA tercatat sebesar Rp14.545.542 juta meningkat 15,49% dari
     periode sebelumnya 31 Desember 2023 peningkatan disebabkan adanya peningkatan
     aset tidak lancar EMA pada tahun 2024.

     Aset Lancar
     Aset lancar EMA terdiri dari kas dan bank, piutang usaha, piutang lain-lain, uang muka,
     dan aset lancar lainnya. Total aset lancar EMA periode 31 Desember 2023 tercatat
     sebesar Rp 532.480 juta mengalami penurunan sebesar Rp 981.749 juta dari periode
     sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.514.229 juta. Penurunan
     terjadi disebabkan oleh menurunnya kas dan bank. Sampai dengan periode 31
     Desember 2024 total aset lancar EMA tercatat sebesar Rp 843.988 juta meningkat 58,50%
     dari periode 31 Desember 2023.

     Aset Tidak Lancar
     Aset tidak lancar EMA terdiri dari aset tetap, piutang lain-lain, aset hak guna, aset
     takberwujud, uang muka pembelian aset tetap, klaim atas restitusi pajak, aset pajak
     tangguhan, pinjaman kepada pihak berelasi, dan aset tidak lancer lainnya Per 31
     Desember 2023 total aset tidak lancar EMA tercatat sebesar Rp 12.061.975 juta
     mengalami peningkatan sebesar Rp 1.317.727 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
     Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 10.744.248 juta. Sampai dengan 31 Desember
     2024 total aset tidak lancar EMA tercatat sebesar Rp 13.701.554 juta meningkat 13,59%
     dari periode 31 Desember 2023.




Halaman 15                                                   FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 16
     Liabilitas
     Total liabilitas EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 8.859.022 juta
     mengalami peningkatan sebesar Rp 329.867 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
     Desember 2022 tercatat sebesar Rp 8.529.155 juta. Peningkatan terjadi disebabkan oleh
     meningkatnya liabilitas jangka Panjang EMA. Sampai dengan periode 31 Desember
     2024 total liabilitas EMA tercatat sebesar Rp 9.657.056 juta meningkat 9,01% dari periode
     31 desember 2023. Peningkatan disebabkan meningkatnya liabilitas jangka panjang.

     Liabilitas Jangka Pendek
     Liabilitas jangka pendek EMA terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, beban akrual,
     utang pajak, liabilitas imbalan kerja jangka pendek, utang bank jatuh tempo 1 tahun,
     liabilitas derivatif, pendapatan diterima dimuka dan liabilitas sewa. Total liabilitas jangka
     pendek EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 423.169 juta mengalami
     penurunan sebesar Rp 301.111 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022
     tercatat sebesar Rp 724.280 juta. Penurunan terjadi utamanya disebabkan oleh
     penurunan beban akrual. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 liabilitas jangka
     pendek EMA tercatat sebesar Rp 412.893 juta menurun 2,43% dari periode 31 Desember
     2023.

     Liabilitas Jangka Panjang
     Liabilitas Jangka Panjang EMA merupakan pinjaman dari pihak berelasi, pendapatan
     diterima dimuka, provisi jangka Panjang liabilitas imbalan kerja jangka panjang, dan
     liabilitas sewa. Pada periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 8.435.853 juta
     mengalami peningkatan sebesar Rp 1.022.153 juta dari periode sebelumnya 31
     Desember 2022 tercatat sebesar Rp 7.804.875 juta. Peningkatan ini terjadi dikarenakan
     peningkatan pinjaman dari pihak berelasi. Pada periode 31 Desember 2024 total
     liabilitas jangka panjang EMA tercatat sebesar Rp 9.244.163 juta meningkat 9,58% dari
     periode 31 Desember 2023.

     Ekuitas
     Jumlah ekuitas periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 3.735.433 juta mengalami
     peningkatan dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp
     3.729.322 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total ekuitas EMA tercatat sebesar
     4.888.486 juta meningkat 30,87%.

     Analisis Historis Laba Rugi Perseroan

     Tabel 2. Historis Laba Rugi EMA (dalam jutaan Rupiah)

                   URAIAN                     2021           2022          2023            2024

      Pendapatan                                656.529     1.057.381      1.051.650         993.740
      Beban pokok pendapatan                   -391.928      -645.784       -654.352        -622.347
      Beban umum dan administrasi               -13.745       -69.272         -84.124       -105.133
      Laba (Rugi) Usaha                         308.454     (598.970)        400.633       (222.095)
      Laba (Rugi) Berjalan                     (26.843)   (1.205.768)          7.486       (576.335)
     Sumber: Laporan keuangan EMA




Halaman 16                                                      FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 17
     Pendapatan Usaha
     Pendapatan usaha EMA berasal dari pendapatan sewa dan pemeliharaan menara
     kepada operator telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Total pendapatan EMA
     per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.051.650 juta mengalami penurunan sebesar
     Rp 5.731 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.057.381
     juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total pendapatan EMA tercatat sebesar Rp
     993.740 juta menurun 5,51% dari periode 31 Desember 2023.

     Beban Pokok Pendapatan
     Total beban pokok pendapatan EMA per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp
     6.54.352 juta mengalami peningkatan sebesar Rp. 8.568 juta dari periode sebelumnya
     31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 645.784 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024
     total beban pokok pendapatan EMA tercatat sebesar Rp 622. 347 juta menurun 4,89%
     dari periode 31 desember 2023, hal ini sejalan dengan penurunan pendapatan EMA
     pada tahun 2024.

     Beban Umum dan Administrasi
     Total beban umum dan administrasi EMA merupakan Gaji, upah dan kompensasi
     karyawan, penyisihan penurunan nilai piutang, beban imbalan kerja karyawan, jasa
     profesional, perjalanan dinas, utilitas, penyusutan dan/atau amortisasi, perbaikan dan
     pemeliharaan serta lain-lain. Per 31 Desember 2023 total beban umum dan administrasi
     EMA tercatat sebesar Rp 84.124 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 14.852 juta dari
     periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 69.272 juta. Sampai
     dengan 31 Desember 2024 total beban umum dan administrasi EMA tercatat sebesar
     Rp 105.133 juta meningkat 24,97% dari periode 31 Desember 2023.

     Laba/(Rugi) Usaha
     Laba (Rugi) usaha EMA merupakan laba bruto yang dikurangi dengan, biaya umum
     dan administrasi dan biaya / pendapatan operasinal lainnya. Per 31 Desember 2023
     EMA mencatat laba usaha sebesar Rp 400.633 juta mengalami peningkatan sebesar Rp
     999.603 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang mencatat rugi usaha
     sebesar Rp 598.970 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 EMA mencatat rugi usaha
     sebesar Rp 222.095 juta menurun 155,44%.

     Laba/(Rugi) Bersih
     Laba/(Rugi) bersih EMA merupakan laba usaha dikurangi dengan pendapatan dan
     beban umum lainnya (beban keuangan) serta pajak penghasilan. Per 31 Desember
     2023 EMA mengalami laba sebesar Rp 7.486 juta mengalami peningkatan sebesar Rp
     1.213.254 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat rugi sebesar Rp
     1.205.768 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 EMA mencatat rugi bersih sebesar Rp
     576.335 juta, kerugian EMA meningkat 7798,84% pada tahun 2024 dari periode 31
     Desember 2023.

     Analisa Rasio Keuangan Perseroan
     Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
     keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dari
     laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara
     keduanya. Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang kami gunakan
     dalam analisis rasio keuangan EMA



Halaman 17                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 18
     Tabel 3. Rasio Keuangan Perseroan
                Rasio Keuangan                  2021       2022        2023      2024     Average
      Rasio Likuiditas (x)
      Rasio lancar                                 0,09       2,09       1,26      2,04         1,37
      Rasio cepat                                  0,09       2,09       1,26      2,04         1,37
      Rasio Profitbilitas(%)
      Rasio laba atas aset                      101,35%     69,58%     70,34%    66,39%      76,91%
      Rasio laba atas ekuitas                  -7513,20%   228,71%    237,16%   197,55%    -1712,45%
      Rasio Solvabilitas(%)
      Rasio total Liabilitas / total aset         -0,22%    -9,84%      0,06%    -3,96%       -3,49%
      Rasio total Liabilitas / total ekuitas     16,44%    -32,33%      0,20%   -11,79%       -6,87%
     Sumber: Laporan keuangan EMA

     Analisis Rasio Keuangan

     Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
     Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui
     sejauh mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya.
     Beberapa rasio keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

      1. Rasio Lancar
         Rasio lancar EMA menunjukkan rata-rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021-
         2024) sebesar 1,37 kali.

      2. Rasio Cepat
         Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar,
         beberapa pos seperti persediaan yang dianggap kurang lancar, dikeluarkan
         dalam perhitungan rasio cepat. Rasio cepat EMA juga menunjukkan pencapaian
         rata-rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024) sebesar 1,37 kali.

     Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
     Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan Perusahaan dalam
     menghasilkan laba. Beberapa rasio yang termasuk dalam kategori ini antara lain
     adalah:

      1. Rasio Laba Atas Aset
         Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan
         dapat menghasilkan laba. Rasio laba atas aset EMA rata-rata selama 4 (empat)
         tahun terakhir (2021- 2024) sebesar negatif 3,94%.

      2. Rasio Laba Atas Ekuitas
         Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau
         keuntungan yang diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Adapun tingkat
         rasio laba atas ekuitas rata- rata selama selama selama 4 (empat) tahun terakhir
         (2021- 2024) sebesar negatif 6,87%




Halaman 18                                                           FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 19
      Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio)
      Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
      Perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk
      dalam kategori ini.

       1. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Aset
          Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total aset
          Perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan
          Perusahaan. Adapun tingkat rasio liabilitas terhadap total aset EMA secara rata-
          rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024) tercatat sebesar 76,91%.

       2. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Ekuitas
          Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total ekuitas atau
          modal Perusahaan. Berdasarkan tabel rasio keuangan EMA diatas dapat dilihat
          bahwa secara rata-rata selama selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024)
          sebesar 3,11. rasio liabilitas terhadap ekuitas EMA negatif 1420,6 %, dimana hal ini
          mengindikasikan bahwa total liabilitas EMA lebih besar dibandingkan dengan total
          ekuitas yang dimiliki EMA.

2.3   Informasi Perpajakan EMA
      Berdasarkan laporan keuangan auditan EMA periode 31 Desember 2024, EMA memiliki
      pajak dibayar dimuka sebesar Rp-, dan memiliki utang pajak penghasilan sebesar
      Rp1.653.344.928




Halaman 19                                                    FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 20
                                           BAB III
                                 ANALISIS KELAYAKAN PASAR



3.1   Kondisi Pasar

      Telekomunikasi mengacu pada proses pengiriman suara, gambar, data, dan informasi
      lainnya. Telekomunikasi bekerja berdasarkan prinsip media listrik atau pemancar
      cahaya. Ini adalah istilah luas yang mencakup berbagai teknologi pengiriman informasi
      seperti telepon seluler, jaringan Voice over Internet Protocol (VoIP), telepon rumah, dan
      jaringan penyiaran lainnya. Industri telekomunikasi terus berkembang karena kemajuan
      teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G, dan lainnya.

      Faktor Pertumbuhan Pasar Telekomunikasi

      •   Meningkatnya peluncuran jaringan 5G di seluruh dunia mendorong pasar
          telekomunikasi.
      •   Meningkatnya jumlah pengguna telepon seluler di seluruh dunia juga telah
          mendorong pertumbuhan pasar.
      •   Kemajuan pesat dalam IoT telah memberi dampak positif terhadap pasar.
      •   Peningkatan investasi pemerintah dalam pengembangan layanan internet akan
          mendorong pertumbuhan pasar selama periode perkiraan.
      •   Meningkatnya permintaan layanan internet oleh sektor BFSI kemungkinan akan
          berdampak positif terhadap pasar.
      •   Aktivitas penelitian dan pengembangan yang terkait dengan penyampaian data
          berkecepatan tinggi mendorong pertumbuhan industri.
      •   Tren platform media sosial yang sedang berlangsung seperti Facebook, Instagram,
          WhatsApp, dan lainnya yang membutuhkan konektivitas jaringan yang baik juga
          diperkirakan akan mendorong pasar.

      Pangsa Pasar

      Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi
      pada tahun 2024, mengingat kebutuhan komunikasi mereka yang kompleks akibat
      ukuran organisasi, penyebaran geografis, dan beragam operasional yang dijalankan.
      Untuk mendukung komunikasi internal, kolaborasi, dan pertukaran data di berbagai
      lokasi serta unit bisnis, perusahaan besar memerlukan solusi telekomunikasi yang
      tangguh dan dapat diskalakan. Mereka menghasilkan volume lalu lintas komunikasi
      yang tinggi, mulai dari panggilan suara, transmisi data, konferensi video, hingga
      pengiriman pesan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan infrastruktur telekomunikasi
      yang mampu menangani trafik tinggi dengan efisien dan andal, untuk memastikan
      kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Hal ini membuat segmen
      perusahaan besar semakin dominan dalam pangsa pasar telekomunikasi, yang
      mendorong perkembangan teknologi dan inovasi dalam industri ini.




Halaman 20                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 21
     Kesinambungan (Sustainability)

     Industri telekomunikasi di Indonesia diperkirakan akan terus berkembang pesat berkat
     dukungan teknologi baru seperti 5G, kebijakan pemerintah yang mendukung perluasan
     infrastruktur, serta peningkatan akses internet di seluruh wilayah, yang tidak hanya akan
     memperkuat sektor ekonomi digital tetapi juga meningkatkan inklusi digital,
     memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan, baik di perkotaan maupun daerah
     terpencil untuk lebih terhubung, memanfaatkan layanan digital, dan berpartisipasi
     dalam transformasi digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.

     EMA, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi di Indonesia,
     memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin
     mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan
     inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan.

     Potensi Pasar

     Ukuran pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada tahun
     2025 dan diperkirakan akan mencapai sekitar USD 4,21 triliun pada tahun 2034, dengan
     pertumbuhan CAGR sebesar 6,14% dari tahun 2025 hingga 2034. Ukuran dan perkiraan
     pasar didasarkan pada pendapatan (Triliun/Miliar USD), dengan tahun 2024 sebagai
     tahun dasar.

        Gambar 1 – Ukuran Pasar Telekomunikasi 2024 – 2034 (dalam USD Trillion)




     Sumber: Precedence Research

     Sasaran

     Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
     perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
     menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
     (penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
     dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,
     regulasi). Proyeksi pengguna internet di Indonesia tahun 2025 dan 2026 mengalami



Halaman 21                                                    FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 22
     peningkatan sebesar masing-masing 81% dan 83% dari user total, sesuai dengan riset
     yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Researh yang dipublikasi oleh Kiwoom Sekuritas
     Indonesia.

     Berikut merupakan perusahaan yang menjadi target pasar perusahaan telekomunikasi
     di Indonesia:
     • Telkom Indonesia
     • PT Indosat Ooredoo Hutchison
     • PT XL Axiata Tbk
     • PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
     •   PT Smartfren Telecom

     Adapun beberapa tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) di EMA
     adalah sebagai berikut:
     • PT XL Axiata Tbk
     • PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk
     • PT Smartfren Telecom
     • PT Indosat Ooredoo Hutchison
     • PT Inti Bangun Sejahtera Tbk
     • PT Telekomunikasi Selular (PT Telkomsel)
     • PT BBSC Telecode
     • PT Pgas Telekomunikasi Nusantara
     • PT Putra Arga Binangun

     Potensi Nilai Pasar

     Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi
     internet di dalam negeri pada 2024 mencapai 79,5%. terlihat bahwa terjadi
     pertumbuhan yang konsisten setiap tahun, dengan peningkatan yang signifikan antara
     2018 dan 2020. Setelah tahun 2020, pertumbuhan masih berlanjut tetapi dengan laju
     yang lebih stabil.

             Gambar 2 Penetrasi Internet di Indonesia menurut APJII (2016-2024)




     Sumber: katadata.co.id




Halaman 22                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 23
      Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
      perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
      menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
      (penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
      dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,
      regulasi).




      Sumber: Infrastructure Review & Outlook by KIWOOM Sekuritas Indonesia

3.2   Persaingan Pasar

      Izin penyelenggaraan telekomunikasi pada tahun 2023 lebih banyak diberikan kepada
      perusahaan yang melayani jasa telekomunikasi. Sebanyak 65,16 persen perusahaan
      berkecimpung dalam bidang tersebut seperti Internet Service Provider (ISP), Network
      Access Point (NAP), telepon internet, dan jasa telekomunikasi lainnya. Sementara sekitar
      24,65 persen perusahaan menyelenggarakan telekomunikasi jaringan tetap. Kemudian
      perusahaan penyelenggara jaringan bergerak sekitar 1,22 persen, sedangkan untuk
      perusahaan penyelenggara telekomunikasi khusus mengalami sedikit kenaikan,
      dengan angka 8,96 persen di 2023




Sumber: Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023



Halaman 23                                                    FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 24
       Analisa persaingan pasar dalam industri penyediaan instalasi Listrik pada BTS dapat
       diasumsikan tidak ada persaingan dalam pemasaran kepada BTS milik Perseroan
       dikarenakan layanan service terhadap penyewa BTS (para tenant) seluruhnya akan
       dilayani oleh Perseroan.

       Dominasi layanan tersebut dapat terjadi dikarenakan EMA merupakan Perusahaan
       yang memiliki Lokasi – Lokasi BTS yang disewa oleh para tenant. Sehingga bagi
       Perusahaan sejenis lain tidak memiliki akses untuk memasarkan jasa sejenis.

       Peluang bagi EMA sangat besar, hal ini dimungkinkan karena setiap BTS yang sewa akan
       memerlukan instalasi Listrik sebagai layanan tambahan dari EMA.

3.3    Strategi Pemasaran

      Perseroan menyediakan jasa infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan kabel serat
      optik yang komprehensif untuk memastikan layanan jaringan seluler dan layanan data
      dapat menjangkau seluruh area layanan Perseroan dengan baik. Kami senantiasa
      meningkatkan layanan secara konsisten kepada pelanggan dengan berfokus kepada
      pemenuhan SLA yang disepakati dengan pelanggan. Kami berupaya untuk selalu
      memberikan layanan terbaiknya melalui infrastruktur yang ditawarkan bagi masyarakat
      Indonesia di seluruh pelosok nusantara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan
      mendekatkan diri ke daerah-daerah operasional regional pelanggan, sehingga
      kebutuhan pelanggan di setiap daerah dapat lebih cepat dipenuhi. Selain itu, kami juga
      melakukan pengembangan bisnis sesuai kebutuhan dan peluang yang ada, seperti
      potensi akuisisi untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha.

3.3.1 Penerapan Bisnis EMA

       EMA menyalurkan kegiatan usaha barunya kepada pelanggan yang ada saat ini
       dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan mereka secara lebih baik, serta
       membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.

3.3.2 Proses Distribusi

       EMA menyediakan daya listrik AC dan DC untuk customer/tenant atau biasa kami sebut
       dengan MNO (Mobile Network Operator) guna mengoperasikan peralatan
       jaringannya, pendingin udara, dan utilitas lainnya. Daya listrik AC diambil dari jaringan
       PLN, dan sebagian dari daya AC tersebut diubah menjadi DC menggunakan rectifier.




Halaman 24                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 25
                                               BAB IV
                                     ANALISIS KEAYAKAN TEKNIS



4.1   Kapasitas

      Berdasarkan kegiatan saat ini EMA bergerak di bidang pembangunan infrastruktur
      telekomunikasi meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara
      telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”), serta alat, sarana atau instalasi
      penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi komunikasi, jasa konsultasi
      manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.

      Kapasitas saat ini yang dapat diberikan untuk layanan penambahan usaha baru
      sebagai berikut

                                                                        Proyeksi
                  Uraian       Satuan
                                          2025         2026             2027                2028          2029

       Jumlah Instalasi       Unit            50                50              250                500              750

       Penambahan Instalasi   Unit                            200               250                250              250

       Total Instalasi        Unit            50              250               500                750          1.000




                                           Proyelksi
                  Uraian        Satuan
                                            2030       2031          2032        2033         2034       2035

       Jumlah Instalasi       Unit            1.000     1.250         1.500        1.500       1.500      1.500

       Penambahan Instalasi   Unit               250     250                -           -            -          -

       Total Instalasi        Unit            1.250     1.500         1.500        1.500       1.500      1.500


      EMA masih memiliki peluang untuk menambahkan kapasitas dikarenakan jumlah
      menara telekomunikasi atau BTS saat ini sebanyak 4.303 BTS.

4.2   Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia

      Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (“TPAK”) di Indonesia selama tahun 2024–
      2029 menunjukkan tren peningkatan secara umum. Berdasarkan tingkat pendidikan,
      semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar tingkat partisipasinya, di mana lulusan
      universitas memiliki TPAK tertinggi di atas 85%, sementara lulusan SMP berada di kisaran
      57%–58%. Dari sisi provinsi, Jawa Timur diprediksi menjadi wilayah dengan TPAK tertinggi
      mencapai 75,42% pada 2029, sedangkan Banten paling rendah meskipun tetap
      mengalami kenaikan hingga 66,92%. Jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki memiliki TPAK
      jauh lebih tinggi dibanding perempuan, dengan rata-rata di atas 84%, sementara
      perempuan meningkat dari 55,02% menjadi 58,51% dalam lima tahun.




Halaman 25                                                              FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 26
     Tabel 4.1   Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Tingkat
                 Pendidikan (%), Tahun 2024-2029




     Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI

     Tabel 4.2   Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Jenis
                 Kelamin (%), Tahun 2024-2029




     Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI

     Tabel 4.3   Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Provinsi
                 (%), Tahun 2024-2029
                                                      Tahun
          Provinsi

                        2024     2025       2026           2027       2028        2029
      Banten              64,89    65,29      65,69          66,09      66,50       66,92
      Jakarta             65,78    66,45      67,14          67,84      68,56       69,31
      Jawa Barat          66,98    67,46      67,96          68,50      69,06       69,65
      Jawa Tengah         72,14    72,45      72,79          73,17      73,58       74,02
      Jawa Timur          73,08    73,50      73,94          74,40      74,90       75,42
     Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI

     Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, Manajemen EMA menyatakan
     tidak melakukan penambahan tenaga kerja baru, melainkan mengoptimalkan
     penggunaan tenaga kerja yang telah tersedia. Manajemen menyatakan juga
     penambahan kegiatan usaha tersebut tidak memerlukan tenaga ahli profesional. Dan
     sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri
     ESDM Nomor 5 Tahun 2021, terkait persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat
     SKTTK, Manajemen menginformasikan, saat ini EMA secara aktif melaksanakan proses
     sertifikasi bagi tenaga kerja yang telah ada (existing manpower).




Halaman 26                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 27
      Penambahan atas kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan
      proses yang menghasilkan produk.

4.3   Proses Produksi / Layanan Jasa




      Flowchart di atas menggambarkan proses alur kerja pemasangan atau penyediaan
      layanan berdasarkan permintaan pelanggan. Berikut adalah penjelasan tiap
      langkahnya:

       1. Menerima permintaan layanan atau pesanan dari pelanggan.
       2. Memverifikasi permintaan layanan berdasarkan kontrak yang ada dan
          ketersediaan lokasi.
       3. Membuat jadwal proyek dan menugaskan vendor untuk melakukan survei lokasi.
       4. Menyusun gambar rencana dan Bill of Quantity (BOQ), yang mencakup daftar
          material dan biaya.
       5. Mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada vendor untuk pengadaan barang
          atau jasa.
       6. Vendor mengirimkan peralatan ke lokasi proyek.
       7. Melakukan instalasi di lokasi dan mengajukan permintaan untuk Penerimaan Situs
          Sementara (PSA).
       8. Melakukan serah terima lokasi kepada tim pemeliharaan menara.
       9. Melakukan Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan pelanggan sebagai tanda
          penyelesaian proyek.

       Setelah langkah terakhir ini, proses dianggap selesai.




Halaman 27                                                      FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 28
                                           BAB V
                              ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS



5.1   Keunggulan Kompetitif

      Keunggulan kompetitif EMA dalam kegiatan usaha yang baru:

      1. EMA telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat
         mendukung kegiatan usaha barunya.
      2. EMA telah berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki jumlah customer base sebesar 7.455
      3. EMA juga mengutamakan kepuasan pelanggan melalui servis yang maksimal
         (serviceoriented), sehingga dengan adanya kegiatan usaha baru dapat memenuhi
         kebutuhan para tenant mereka secara lebih baik.

5.2   Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk

      Kegiatan usaha baru ini memiliki beberapa pesaing dengan produk dan jasa yang
      sama, adapun beberapa pesaing tersebut yaitu PT. Berkat Bersama Teknik (BBT) dan PT.
      Mitra Bisnis integrasi (MBi)

      Namun, sebagai anak perusahaan dari Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang
      seluruh anak usahanya bergerak di bidang telekomunikasi, EMA memiliki keunggulan
      kompetitif yang lebih kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses masuk untuk
      menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada EMA saat ini,
      sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan
      yang ditawarkan oleh EMA bersifat eksklusif.

5.3   Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai

      EMA adalah salah satu entitas anak PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang
      bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan
      pengelolaan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”).

      EMA dan Induk usahanya memiliki visi perusahaan yakni membangun digital Indonesia
      yang saling terkoneksi dan misi dari perusahaan itu sendiri antara lain:

         1. Memberikan nilai tambah bagi para pihak yang berkepentingan.
         2. Membangun platform bisnis modern dengan proses yang dapat diandalkan
            untuk menciptakan organisasi yang berkinerja tinggi dan efisien.
         3. Berkomitmen untuk membangun infrastruktur yang paling efisien dan berkualitas
            melalui perencanaan dan manajemen proyek yang matang.
         4. Berkomitmen untuk menjaga jaringan dan standar layanan yang tinggi guna
            menjaga kepuasan pelanggan.
         5. Terus memajukan produk dan layanan.

      EMA memiliki beberapa customer yang merupakan Provider telekomunikasi Dimana
      saat ini sebagai tenant atau co-tenant pada menara yang dimiliki EMA.




Halaman 28                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 29
                  Pendapatan EMA dari tahun 2021 - 2024 (dalam Rp Juta)
      1.200.000

      1.000.000

       800.000

       600.000

       400.000

       200.000

             0
                       2021            2022              2023              2024

     Sumber : Laporan Keuangan EMA, diolah

     Berdasarkan grafik yang menggambarkan pendapatan EMA dari tahun 2021 hingga
     2024, terlihat bahwa pendapatan EMA mengalami kenaikan yang signifikan pada
     tahun 2022, mencapai puncaknya, sebelum sedikit menurun pada tahun 2023.
     Meskipun ada penurunan pada tahun 2023, pencapaian pendapatan pada tahun
     2022 menunjukkan adanya potensi yang sangat besar bagi EMA, dan ini bisa menjadi
     indikator positif bagi masa depan. Seiring berjalannya waktu, EMA terus memperkuat
     posisinya di pasar, membuktikan bahwa dengan inovasi dan pengelolaan yang efisien
     dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan.

     Seiring dengan penambahan usaha baru, EMA memiliki potensi untuk memperoleh
     sumber pendapatan tambahan. Hal ini disebabkan oleh adanya peluang untuk
     memasarkan jasa atas kegiatan usaha baru EMA pada customer atau tenant yang
     sudah ada saat ini. Dengan memperkenalkan layanan baru yang dapat memenuhi
     kebutuhan tenant, EMA dapat memanfaatkan basis pelanggan yang telah terbangun
     untuk meningkatkan pendapatan.




Halaman 29                                               FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 30
                                         BAB VI
                         ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN



6.1   Ketersediaan Tenaga Kerja

      Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, EMA tidak melakukan
      penambahan tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Dan
      sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan dalam Lampiran Peraturan Menteri
      ESDM Nomor 5 Tahun 2021, terkait persyaratan ketersediaan tenaga kerja bersertifikat
      SKTTK,Manajemen menginformasikan, saat ini EMA secara aktif melaksanakan proses
      sertifikasi bagi tenaga kerja yang telah ada (existing manpower). Rincian tenaga kerja
      saat ini adalah sebagai berikut:

                       Jabatan / Level                                Jumlah
       Senior Manajemen                                                   7
       Kepala Department                                                 17
       Manajer                                                           32
       Senior Executive                                                  33
       Executive                                                         18
       Total                                                            107

6.2   Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property)

      Kekayaan intelektual yang dimiliki EMA adalah kontrak jangka Panjang dari masing-
      masing tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) dan kekayaan
      intelektual berupa Merek logo EMA dengan nomor pendaftaran IDM000988267

6.3   Manajemen Risiko

      Dalam menjalankan kegiatan usahanya, tentunya EMA tidak terlepas dari berbagai
      macam risiko. Risiko yang terkait langsung dengan industri jasa yang dihadapi oleh EMA
      dapat dilihat pada uraian berikut ini.

6.3.1 Resiko Keuangan

      a.   Tingkat Suku Bunga;
           Risiko di mana arus kas di masa depan akan berfluktuasi karena perubahan tingkat
           suku bunga pasar. Perseroan dapat terpapar dengan risiko perubahan suku bunga
           pasar terutama terkait utang bank serta penempatan kas dan setara kas dengan
           suku bunga mengambang. Perseroan mengelola risiko ini melalui kombinasi
           pinjaman suku bunga tetap dan mengambang, serta mempertimbangkan lindung
           nilai untuk menjaga stabilitas arus kas.
      b.   Kredit;
           Risiko yang berpotensi timbul dari operasi terkait penyewaan infrastruktur
           telekomunikasi dan wanprestasi dari pihak terkait. Perseroan mengelola risiko ini
           melalui penyusunan kontrak yang melindungi dari wanprestasi.




Halaman 30                                                   FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 31
      c.   Mata Uang Asing;
           Merupakan risiko nilai wajar arus kas masa depan atas suatu instrumen keuangan
           yang bersifat fluktuatif karena perubahan kurs mata uang asing. Perseroan
           terpengaruh risiko ini terutama berkaitan dengan utang bank dalam mata uang
           Dolar Amerika Serikat. Apabila terjadi pelemahan/penguatan nilai tukar mata uang
           Rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing, maka utang dalam mata uang asing
           akan meningkat/berkurang dalam mata uang Rupiah. Risiko ini dikendalikan
           melalui strategi lindung nilai dan penyimpanan dana dalam valuta asing.
      d.   Likuiditas
           Risiko di mana Perseroan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan
           jangkapendek karena tidak bisa melikuidasi asetnya. Perseroan menjaga likuiditas
           dengan pengelolaan kas yang ketat, penyediaan fasilitas pembiayaan cadangan,
           optimalisasi piutang, dan likuidasi aset tidak produktif bila diperlukan.

6.3.2 Resiko Operasional

      Perseroan memahami bahwa aktivitas bisnis dan usahanya tidak lepas dari proses awal
      yang harus dijalani. Beberapa komponen penanganan terhadap risiko operasional
      Perseroan adalah:
      1. Memastikan bahwa semua lini yang terkait telah memahami risiko pada setiap
          tahap kegiatan operasional terutama yang berhubungan dengan persetujuan atau
          komitmen dengan pelanggan dan/atau pihak ketiga.
      2. Menyusun dan mengawasi laporan internal dan eksternal Perseroan untuk
          memantau hasil kinerja Perseroan.
      3. Melaksanakan Standard Operating Procedures (SOP) yang sudah ditetapkan
          Perseroan.
      4. Menggunakan sistem teknologi informasi terkini untuk menunjang kegiatan
          operasional Perseroan.

      Risiko ini dimitigasi dengan memastikan seluruh lini memahami risiko kerja, memperkuat
      pengawasan internal, menegakkan SOP secara konsisten, serta memanfaatkan
      teknologi informasi terkini untuk mendukung efisiensi operasional.

6.3.3 Resiko Tidak Tercapainya Proyeksi

      Resiko tidak tercapainya semua asumsi dalam proyeksi dapat mengakibatkan tidak
      tercapainya semua target penjualan Perseroan yang dapat mempengaruhi kepada
      kinerja keuangan bidang usaha yang baru. Untuk mengatasi risiko ini, Perseroan
      menggunakan asumsi proyeksi yang realistis, melakukan evaluasi berkala, serta
      pemantauan terhadap dinamika pasar dan industri.

6.4   Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen

      Untuk menjalankan setiap bidang usaha yang digeluti EMA, para pengurus perusahaan
      telah menunjuk beberapa orang profesional yang memiliki kompetensi dan
      berpengalaman sesuai bidangnya (key person).




Halaman 31                                                   FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 32
     1.   Suresh Narain Singh Sidhu, Komisaris Utama

          Warga Negara Malaysia dengan latar belakang Pendidikan Bachelor of Natural
          Sciences dari University of Cambridge, Inggris dan Master of Business Administration
          dari INSEAD. Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
          • Berpengalaman lebih dari 25 tahun di sektor telekomunikasi wilayah Asia
          • Saat ini sebagai CEO dan Pendiri EdgePoint
          • Sebelumnya sebagai CEO EDOTCO Group dan berperan penting dalam
              transformasi dan perkembangan salah satu pertumbuhan TowerCos tercepat
              di Asia
          • Merupakan anggota manajemen senior di sejumlah perusahaan telekomunikasi
              terbesar di Asia, termasuk Maxis dan Axiata Group
          • Sebelumnya bergabung di Boston Consulting Group dan Sime Darby Holdings


     2.   Yan Raymond Jafri, Komisaris

          Warga Negara Indonesia dengan latar belakang Sarjana Teknik Telekomunikasi dari
          Universitas Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menjalani program Master of
          Business Administration (Executive) di National University of Singapore. Beliau
          memiliki Riwayat karir yaitu:
          • Technical Support Engineer, PT Trans Communication Data
          • Program Director, PT Huawei Tech Investment

     3.   James John Burns, Direktur

          Warga Negara Australia dengan latar belakang Sarjana Teknik Elektro dari Mount
          Lawley Campus, Australia. Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
          • Memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri telekomunikasi, khususnya
             infrastruktur telekomunikasi dan menara
          • Memiliki pengetahuan dalam mengembangkan pasar negara berkembang
             melalui pengalamannya bekerja di Afrika
          • Engineering Director, Western Wireless International
          • Implementation Director, Zain, Ghana
          • Konsultan Vodafone, Ghana
          • Operation Director, Eaton Tower, Ghan
          • Operation Director, Eaton Tower, Kenya
          • Deputy Managing Director, Eaton Tower, Kenya
          • Deputy Managing Director, Eaton Tower, Uganda

     4.   Caba Pinter, Direktur

          Warga Negara Jerman dengan latar belakang Bachelor in Economic Sciences,
          Fakultas Ekonomi (Osijek, Kroasia), Anggota Certified Accountant (FCCA) di
          Chartered Association of Certified Accountants (ACCA). Beliau memiliki Riwayat
          karir yaitu:
          • Memulai karirnya sebagai auditor eksternal di PwC dan sebagai auditor internal
              di United Technologies Corporation (UTC).
          • Memegang beberapa posisi keuangan senior di berbagai MNO dan grup
              telekomunikasi di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Indonesia.




Halaman 32                                                    FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 33
          •   Bergabung dengan Centratama Group pada Januari 2022 sebagai Executive
              Vice President IBC Business dalam rangka merumuskan dan melaksanakan
              perbaikan strategis dan operasional di bidang IBC Business.

          Dengan struktur organisasi EMA sebagai berikut :




6.5   Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen

      Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung
      terciptanya suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga
      dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur
      organisasi dan Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi
      kerja yang terpadu dan terarah.

      Kegiatan usaha yang baru berada pada departemen Operations dibawah tanggung
      jawab Chief Operating Officer (COO).




Halaman 33                                                   FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 34
                                          BAB VII
                              ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN



7.1   Proyeksi Keuangan EMA Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha

      Proyeksi keuangan EMA sebelum penambahan kegiatan usaha mengacu pada
      proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen EMA sebagai berikut:

      Tabel 7.1 Proyeksi Keuangan EMA Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
                            Satuan         2025               2026                2027             2028               2029               2030

       Revenue              Rp Juta       1.030.173       1.061.078           1.092.910           1.136.627           1.182.092       1.241.196
       Net Profit (Loss)    Rp Juta        -233.013        -184.286            -133.449             -76.419             -16.306           51.444


       Assets               Rp Juta      14.877.390      15.282.459          15.741.675          16.285.047          16.893.707      17.601.137
       Liabilities          Rp Juta      10.221.917      10.811.272          11.403.937          12.023.729          12.648.695      13.304.680
       Equity               Rp Juta       4.655.473       4.471.187           4.337.738           4.261.319           4.245.012       4.296.457


       Opeating Cashflow    Rp Juta        748.095            771.586             795.781          830.003             865.622           912.757
       Investing Cashflow   Rp Juta        -313.112        -394.261            -401.289            -491.370            -504.625          -608.013
       Financing Cashflow   Rp Juta                0                  0                   0               0                   0                 0


                                                                                                                             Lanjutan
                                Satuan            2031                2032                2033                2034                2035

       Revenue                 Rp Juta            1.303.256          1.368.419            1.436.840           1.508.682            1.584.116
       Net Profit (Loss)       Rp Juta             123.642            197.385                 272.861          350.261              429.783


       Assets                  Rp Juta         18.388.643        19.258.137              20.211.734       21.251.762              22.380.761
       Liabilities             Rp Juta         13.968.545        14.640.653              15.321.390       16.011.156              16.710.372
       Equity                  Rp Juta            4.420.099          4.617.483            4.890.344           5.240.606            5.670.389


       Opeating Cashflow       Rp Juta             962.310           1.014.403            1.069.165           1.126.731            1.187.244
       Investing Cashflow      Rp Juta            -630.413           -653.934              -678.631            -704.562             -731.790
       Financing Cashflow      Rp Juta                    0                   0                    0                   0                    0


      Pendapatan EMA diproyeksikan tumbuh stabil dari Rp1.030 miliar (2025) menjadi Rp1.584
      miliar (2035) dengan CAGR 4,3%. Meskipun pada awal periode masih mengalami
      kerugian bersih Rp233 miliar di 2025, kinerja profitabilitas membaik setiap tahun hingga
      mencatat laba bersih Rp430 miliar pada 2035.

      Total aset meningkat dari Rp14.877 miliar menjadi Rp22.381 miliar, didorong oleh investasi
      berkelanjutan. Liabilitas tumbuh dari Rp10.221 miliar menjadi Rp16.710 miliar, namun
      pertumbuhannya melambat setelah 2030. Sedangkan ekuitas meningkat dari Rp4.655
      miliar menjadi Rp5.670 miliar.

      Arus kas operasional di proyeksikan positif dan meningkat. Adapun arus kas dari aktivitas
      investasi digunakan untuk pengeluaran modal dalam rangka pertumbuhan jangka




Halaman 34                                                                           FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 35
      panjang. Sementara itu, tidak terdapat aktivitas arus kas dari pendanaan sepanjang
      periode proyeksi

7.2   Biaya Pendirian (Start Up Cost)

      Dalam rencana kegiatan usaha ini Perseroan membutuhkan biaya investasi
      sebesar Rp116.807 ribu per unit Jaringan PaaS, dengan rincian sebagai berikut:

      Tabel 7.2 Investasi Per Unit Jaringan PaaS Tahun 2025
                                                                      Biaya (Rp.
                                 Uraian                                                  Keterangan
                                                                         Ribu)
       Lithium Battery Modules- 200 AH                                      15.800

       Rectifier Modules, 3,000w                                             9.000
       Rectifier Rack 24 KW, with Rectifier Controller(24kw)                16.700
       Outdoor Equipment cabinet                                            14.800
       4-16mm2 THHN & 1-14mm2, in 32mm Ø IMC Pipe. To
                                                                             2.850
       be used for Three Phase Grid Supply.
       Cable: SMPS-DCDB 2R-38mm2                                             2.850
       Cable: SMPS-Battery 35mm2                                               628
       Cable: Alarm Cable (SMPS-KRONE module)- 5pair (if
                                                                               180    Rencana Angaran
       Dry contact alarms to be terminated)
       Earthing Cables 1-14mm2, THHN, Green, Cu,                                           Biaya
                                                                               324
       Multistrand with terminal lugs & termination
       Earthing & Bonding, Connect all equipment and
                                                                               750
       cabinets with Earthing grid/ Earth Bus bar
       Installation, Wiring, Commissioning & Testing                         2.500
       RMS                                                                  24.604
       Site Transportation Cost (Normal)                                    15.000
       Customer Cabinet                                                      8.500
       Smart Lock                                                            2.321
       Total                                                               116.807


      Jumlah biaya investasi tersebut diatas, didasarkan kepada rencana anggaran biaya per
      unit yang disusun oleh Manajemen Perseroan. Investasi awal yang dilakukan oleh EMA
      pada tahun 2025 adalah sebesar 50 unit dengan tota Investasi awal sebesar Rp5.840.338
      Ribu

7.3   Modal Kerja

      Proyeksi modal kerja atas rencana penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
      adalah sebagai berikut:

      Tabel 7.3 Modal Kerja
          Uraian      Satuan        2025        2026           2027         2028        2029        2030
       Piutang
                      Rp. Ribu     221.918    1.109.589    2.219.178      3.328.767   4.438.356   5.547.945
       Usaha
       Utang Usaha    Rp. Ribu     42.306      211.530     423.060         634.590    846.120     1.057.649




Halaman 35                                                              FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 36
                                                                                                                Lanjutan
          Uraian     Satuan       2031              2032                  2033               2034               2035
       Piutang
                     Rp. Ribu   6.657.534         6.657.534            6.657.534          6.657.534           6.657.534
       Usaha
       Utang Usaha   Rp. Ribu   1.269.179         1.269.179            1.269.179          1.269.179           1.269.179


      Perubahan modal kerja pada tabel diatas untuk menggambarkan perubahan
      kebutuhan modal kerja selama masa proyeksi yang didapat dari selisih modal kerja
      tahun berjalan dengan modal kerja tahun sebelumnya.

7.4   Sumber Pembiayaan

      Berdasarkan keterangan manajemen Perseroan, bahwa rencana                                               kegiatan
      penambahan usaha ini seluruh biaya investasi berasal dari kas Perseroan.

7.5   Biaya Operasional

      Proyeksi biaya operasional rencana perubahan kegiatan usaha tahun 2025-2035
      adalah sebagai berikut:

      Tabel 7.4 Biaya Operasional
          Uraian     Satuan      2025           2026            2027               2028           2029           2030
       Harga Pokok
                     Rp. Ribu   911.881       4.625.617       9.352.442      14.165.990        19.068.447      23.904.055
       Pendapatan
       Beban G&A     Rp. Ribu    108.000        256.680         441.664            626.972          812.626       998.646
                                                                                                                Lanjutan
          Uraian     Satuan       2031              2032                  2033               2034               2035
       Harga Pokok
                     Rp. Ribu    28.343.127        27.320.393           25.680.309           23.796.705        21.782.115
       Pendaptan
       Beban G&A     Rp. Ribu     1.185.058         1.191.887             1.199.160           1.206.905         1.215.154


      Pendapatan bersifat tetap, sedangkan komponen pada beban pokok pendapatan
      mengalami penurunan diakibatkan dari perhitungan depresiasi, sehingga proyeksi
      biaya operasional dapat terlihat seperti tabel diatas.

7.6   Proyeksi Laporan Keuangan

      Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan ini disusun berdasarkan
      proyeksi keuangan periode 2025 -2035 yang disiapkan oleh manajemen Perseroan.
      Untuk kebutuhan studi kelayakan ini, kami melakukan penyesuaian terhadap proyeksi
      keuangan tersebut sebagai beriku:
       1. Asumsi operasional tahun 2025 dimulai pertengahan tahun (6 bulan operasional)
       2. Asumsi kenaikan biaya G & A pertahun mengikuti tarif Upah Minimum Propinsi.
       3. Asumsi kenaikan biaya berdasarkan proyeksi inflasi dari IMF.

      Asumsi Investasi :

      Jumlah investasi awal dalam rangka penambahan kegiatan usaha diasumsikan untuk
      pemasangan instalasi 50 unit diawal yang didasarkan pada rencana anggaran biaya
      yang disusun manajemen EMA sesuai dengan penawaran dari suplier.




Halaman 36                                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 37
     Proyeksi kenaikan untuk setiap tahun diasumsikan meningkat menjadi 200 unit pada
     tahun 2026 dan bertambah sebanyak 250 unit per tahun untuk periode 2027 hingga
     2031. Setelah periode tersebut, tidak terdapat rencana penambahan investasi lebih
     lanjut.

     Asumsi Umum, meliputi:
     • Penyusunan proyeksi didasarkan bisnisplan yang disusun manajemen yang didasari
        atas rencana penyediaan instalasi listrik setiap BTS dan bersifat going concern seiring
        dengan kelangsungan bisnis EMA.
     • Penyusunan proyeksi terkait pendapatan dicatat sesuai dengan jumlah unit instalasi
        yang tersewa.
     • Jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari
     • Asumsi GDP diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 5,07%, tahun
        2026 sebesar 5,06%, tahun 2027 sebesar 5,07%, tahun 2028 sebesar 5,06% dan tahun
        2029 sampai tahun 2035 sebesar 5,07%.
     • Asumsi Inflasi diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 2,51%, tahun
        2026 sebesar 2,53%, tahun 2027 sampai tahun 2035 sebesar 2,52%.
     • Peningkatan UMP diperoleh dari Permenaker No 16 tahun 2024 selama proyeksi
        sebesar 6,5%
     • Tarif pajak final selama periode proyeksi sebesar 2%

     Tabel 7.5 Asumsi Umum
                                                                        Proyeksi
                   Uraian    Satuan
                                       2025          2026            2027           2028          2029           2030
         ASUMSI UMUM
         Jumlah hari dalam
                              Hari        365           365             365              365            365            365
         setahun
         GDP                   %        5,07%         5,06%           5,07%          5,06%            5,07%       5,07%
         Inflasi               %        2,51%         2,53%           2,52%          2,52%            2,52%       2,52%
         UMP                   %        6,50%         6,50%           6,50%          6,50%            6,50%       6,50%
         Pajak Final           %        2,00%         2,00%           2,00%          2,00%            2,00%       2,00%


                                                                                                              Lanjutan
                                                                        Proyeksi
                   Uraian    Satuan
                                        2031            2032                2033               2034             2035
         ASUMSI UMUM
         Jumlah hari dalam
                              Hari             365             365                 365                365              365
         setahun
         GDP                   %          5,07%             5,06%              5,07%             5,06%            5,07%
         Inflasi               %          2,51%             2,53%              2,52%             2,52%            2,52%
         UMP                   %          6,50%             6,50%              6,50%             6,50%            6,50%
         Pajak Final           %          2,00%             2,00%              2,00%             2,00%            2,00%


     Asumsi Pendapatan, meliputi:

     •       Target Unit Perangkat
             o Target unit PaaS diperoleh dari rencana penambahan unit yang disusun
                 manajemen yaitu untuk tahun 2025 sebesar 50 unit, untuk tahun 2026 sebesar
                 250 unit dan untuk tahun selanjutnya meningkat sebesar 250 unit hingga tahun
                 2031 dengan total perangkat 1.500.




Halaman 37                                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 38
     •      Harga Jasa.
            Pendapatan terdiri dari pendapatan Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121), Biaya Sewa
            perangkat (KBLI 35122), Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211), Biaya Jasa
            lainnya (KBLI 35129);

                  o    Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya Jasa Operasi (KBLI 35121)
                       yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi.
                  o    Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya sewa perangkat (KBLI
                       35122) yaitu sebesar Rp18.000 ribu selama masa proyeksi
                  o    Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya jasa instalasi perangkat
                       (KBLI 43211) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi
                  o    Berdasarkan bisnisplan manajemen harga biaya jasa lainnya (KBLI 35129)
                       yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa proyeksi.

     Tabel 7.6 Asumsi Pendapatan
                                                                                    Proyeksi
                  Uraian               Satuan
                                                       2025      2026           2027          2028          2029         2030
         ASUMSI PENDAPATAN
         Jumlah Perangkat
         Jumlah Instalasi               Unit              50         50           250              500           750      1.000
         Penambahan Instalasi           Unit                        200           250              250           250       250
         Total Instalasi                Unit              50        250           500              750          1.000     1.250
         Harga Jasa
         KBLI 35121
         Biaya Jasa Operasi      Rp. Ribu/unit/tahun    6.000     6.000          6.000         6.000            6.000     6.000
         KBLI 35122
         Biaya Sewa perangkat    Rp. Ribu/unit/tahun   18.000    18.000     18.000            18.000       18.000       18.000
         KBLI 43211
         Biaya Jasa Instalasi
                                 Rp. Ribu/unit/tahun    6.000     6.000          6.000         6.000            6.000     6.000
         perangkat
         KBLI 35129
         Biaya Jasa lainnya      Rp. Ribu/unit/tahun    6.000     6.000          6.000         6.000            6.000     6.000


                                                                                                                  Lanjutan
                                                                                    Proyeksi
                  Uraian               Satuan
                                                        2031        2032               2033              2034           2035
         ASUMSI PENDAPATAN
         Jumlah Perangkat
         Jumlah Instalasi               Unit             1.250          1.500            1.500             1.500          1.500
         Penambahan Instalasi           Unit               250              -                  -                 -              -
         Total Instalasi                Unit             1.500          1.500            1.500             1.500          1.500
         Harga Jasa
         KBLI 35121
         Biaya Jasa Operasi      Rp. Ribu/unit/tahun     6.000          6.000            6.000             6.000          6.000
         KBLI 35122
         Biaya Sewa perangkat    Rp. Ribu/unit/tahun    18.000       18.000             18.000            18.000         18.000
         KBLI 43211
         Biaya Jasa Instalasi
                                 Rp. Ribu/unit/tahun     6.000          6.000            6.000             6.000          6.000
         perangkat
         KBLI 35129
         Biaya Jasa lainnya      Rp. Ribu/unit/tahun     6.000          6.000            6.000             6.000          6.000




Halaman 38                                                                 FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 39
     Asumsi Asumsi Biaya
     • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya operasional dan perawatan sebesar 10%
        dari total pendapatan selama masa proyeksi.
     • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya RMS sebesar 2% dari total pendapatan
        selama masa proyeksi
     • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya asuransi sebesar 1,3% dari total
        pendapatan selama masa proyeksi
     • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya tenaga kerja 1% dari total pendapatan
        selama masa proyeksi
     • Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya umum dan administrasi 4% dari total
        pendapatan pada tahun 2025 dan meningkat sebesar 6,5% setiap tahun pada
        tahun berikutnya selama masa proyeksi.
        Berdasarkan bisnisplan manajemen, biaya penjualan 2% dari total pendapatan
        selama masa proyeksi.

     Tabel 7.7 Asumsi-Asumsi Biaya
                                                                   Proyeksi
                 Uraian      Satuan
                                       2025       2026       2027           2028        2029       2030
      ASUMSI BIAYA POKOK
      Operation And
                           % Revenue   10,00%     10,00%     10,00%         10,00%      10,00%    10,00%
      Maintenance
      RMS                  % Revenue    2,00%      2,00%         2,00%        2,00%      2,00%     2,00%
      Asuransi             % Revenue    1,30%      1,30%         1,30%        1,30%      1,30%     1,30%
      Biaya Tenaga Kerja   %Revenue     1,00%      1,00%         1,00%        1,00%      1,00%     1,00%


      ASUMSI BIAYA/BEBAN
      LAIN
      Biaya Umum dan
                           %Revenue     4,00%      6,50%         6,50%        6,50%      6,50%     6,50%
      Administrasi
      Biaya Penjualan      % Revenue    2,00%      2,00%         2,00%        2,00%      2,00%     2,00%


                                                                                                 Lanjutan
                                                                   Proyeksi
                 Uraian      Satuan
                                        2031         2032            2033             2034        2035
      ASUMSI BIAYA POKOK
      Operation And
                           % Revenue     10,00%       10,00%             10,00%       10,00%       10,00%
      Maintenance
      RMS                  % Revenue      2,00%          2,00%            2,00%        2,00%        2,00%
      Asuransi             % Revenue      1,30%          1,30%            1,30%        1,30%        1,30%
      Biaya Tenaga Kerja   %Revenue       1,00%          1,00%            1,00%        1,00%        1,00%


      ASUMSI BIAYA/BEBAN
      LAIN
      Biaya Umum dan
                           %Revenue       4,00%          6,50%            6,50%        6,50%        6,50%
      Administrasi
      Biaya Penjualan      % Revenue      2,00%          2,00%            2,00%        2,00%        2,00%


     Asumsi Working Capital
     Asumsi yang digunakan dalam perhitungan days working capital turnover diperoleh dari
     historis rata rata EMA dengan rincian sebagai berikut:




Halaman 39                                                        FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 40
     •      Perputaran piutang usaha 45 hari selama masa proyeksi yang diperoleh dari asumsi
            bisnisplan manajemen terhadap usaha yang baru
     •      Perputaran utang usaha 60 hari selama masa proyeksi yang diperoleh dari asumsi
            bisnisplan manajemen terhadap usaha yang baru.

     Tabel 7.8 Asumsi Working Capital
                                                                                                  Proyeksi
                         Uraian                   Satuan
                                                                   2025          2026          2027          2028          2029          2030
         ASUMSI WORKING CAPITAL
         Days Receivable Turnover                 Hari                  45           45           45             45              45           45
         Days Payable Turnover                    Hari                  60           60           60             60              60           60


                                                                                                                           Lanjutan
                                                                                                  Proyeksi
                          Uraian                          Satuan
                                                                          2031          2032          2033          2034          2035
         Days Receivable Turnover                     Rp. Ribu                 45          45              45          45              45
         Days Payable Turnover                        Rp. Ribu                 60          60              60          60              60


     Asumsi Capex
     Asumsi Capital Expenditure merupakan total biaya investasi yang direncanakan oleh
     manajemen dalam kegiatan usaha EMA yang menjadi Initial Outlay dalam studi
     Kelayakan yang dilakukan. Total Capex yang direncakan oleh manajemen adalah
     sebagai berikut:

     Untuk Biaya unit terpasang setiap tahunnya disesuaikan dengan proyeksi Inflasi
     Indonesia yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund (IMF)

     Tabel 7.9 Asumsi Capex
                                                                                          Proyeksi
                Uraian              Satuan
                                               2025             2026             2027             2028                2029                  2030
         ASUMSI CAPEX
         Jumlah Perangkat             Unit            -             200              250                   250              250                 250
         Biaya Unit Terpasang
                                    Rp. Ribu                    119.761          122.782           125.878             129.051              132.304
         Perangkat
         Total Capex Instalasi
                                    Rp. Ribu          -     23.952.161        30.695.592        31.469.428          32.262.772         33.076.117
         Perangkat


                                                                                                                                      Lanjutan
                                                                                          Proyeksi
                Uraian              Satuan
                                                2031                   2032                2033                     2034                 2035
         ASUMSI CAPEX
         Jumlah Perangkat             Unit                250                    -                     -                     -                     -
         Biaya Unit Terpasang                                                    -                     -                     -                     -
                                    Rp. Ribu     135.640
         Perangkat
         Total Capex Instalasi
                                    Rp. Ribu   33.909.966                        -                     -                     -                     -
         Perangkat




Halaman 40                                                                                FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 41
7.6.1 Proyeksi Laba Rugi Penambahan Kegiatan Usaha

     Kegiatan usaha EMA saat ini bergerak dibidang penyewaan menara
     telekomunikasi/BTS dimana pendapatan yang diterima dalam laba rugi EMA berupa
     pendapatan atas sewa menara.

     Sesuai dengan rencana EMA, dalam rangka penambahan 4 (empat) bidang usaha
     yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian
     Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas
     Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129).

     Proyeksi atas 4 (empat) bidang usaha tersebut berupa pendapatan atas penyediaan
     instalasi listrik dari periode 2025 – 2035 (selama masa proyeksi). Berdasarkan asumsi-
     asumsi yang ditetapkan di atas, maka hasil proyeksi laba rugi atas penambahan
     kegiatan usaha EMA adalah sesuai tabel berikut:

     Tabel 7.10 Proyeksi Laporan Laba Rugi Penambahan Kegiatan Usaha
                    Uraian             Satuan       2025         2026         2027         2028         2029         2030
      Pendapatan

      KBLI 35121
      Biaya Jasa Operasi               Rp. Ribu    300.000     1.500.000    3.000.000     4.500.000    6.000.000    7.500.000

      KBLI 35122
      Biaya Sewa perangkat             Rp. Ribu    900.000     4.500.000    9.000.000    13.500.000   18.000.000   22.500.000

      KBLI 43211
      Biaya Jasa Instalasi perangkat   Rp. Ribu    300.000     1.500.000    3.000.000     4.500.000    6.000.000    7.500.000

      KBLI 35129
      Biaya Jasa lainnya               Rp. Ribu    300.000     1.500.000    3.000.000     4.500.000    6.000.000    7.500.000
                                                                            18.000.00
      Total Pendapatan                 Rp. Ribu   1.800.000    9.000.000                 27.000.000   36.000.000   45.000.000
                                                                                    0

      Beban Pokok Pendapatan
      Depresiasi And Amortitation      Rp. Ribu    654.520     3.338.810    6.778.828    10.305.569   13.921.220   17.470.021
      Operation And Maintenance        Rp. Ribu    180.000      900.000     1.800.000     2.700.000    3.600.000    4.500.000
      RMS                              Rp. Ribu     36.000      180.000      360.000       540.000      720.000      900.000
      Asuransi                         Rp. Ribu     23.361      116.807      233.614       350.420      467.227      584.034
      Biaya Tenaga Kerja               Rp. Ribu     18.000       90.000      180.000       270.000      360.000      450.000


      Total Beban Pokok Pendaptan      Rp. Ribu    911.881     4.625.617    9.352.442    14.165.990   19.068.447   23.904.055


      Laba Usaha                       Rp. Ribu    888.119     4.374.383    8.647.558    12.834.010   16.931.553   21.095.945

      Biaya/Beban Lain
      Biaya Administrasi Umum          Rp. Ribu     72.000       76.680       81.664        86.972       92.626       98.646
      Biaya Penjualan                  Rp. Ribu     36.000      180.000      360.000       540.000      720.000      900.000
      Beban Bunga                      Rp. Ribu            -            -            -            -            -            -
      Total                            Rp. Ribu    108.000      256.680      441.664       626.972      812.626      998.646



      Pendapatan sebelum Pajak Final   Rp. Ribu    780.119     4.117.703    8.205.894    12.207.038   16.118.928   20.097.299



      Pajak Final                      Rp. Ribu     36.000      180.000      360.000       540.000      720.000      900.000



      Laba Bersih                      Rp. Ribu    744.119     3.937.703    7.845.894    11.667.038   15.398.928   19.197.299




Halaman 41                                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 42
                                                                                          Lanjutan
                    Uraian             Satuan       2031         2032         2033         2034         2035
      Pendapatan

      KBLI 35121
      Biaya Jasa Operasi               Rp. Ribu    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000

      KBLI 35122
      Biaya Sewa perangkat             Rp. Ribu   27.000.000   27.000.000   27.000.000   27.000.000   27.000.000

      KBLI 43211
      Biaya Jasa Instalasi perangkat   Rp. Ribu    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000

      KBLI 35129
      Biaya Jasa lainnya               Rp. Ribu    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000    9.000.000
      Total Pendapatan                 Rp. Ribu   54.000.000   54.000.000   54.000.000   54.000.000   54.000.000



      Beban Pokok Pendapatan
      Depresiasi And Amortitation      Rp. Ribu   20.622.287   19.599.552   17.959.469   16.075.864   14.061.275
      Operation And Maintenance        Rp. Ribu    5.400.000    5.400.000    5.400.000    5.400.000    5.400.000
      RMS                              Rp. Ribu    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000
      Asuransi                         Rp. Ribu     700.841      700.841      700.841      700.841      700.841
      Biaya Tenaga Kerja               Rp. Ribu     540.000      540.000      540.000      540.000      540.000


      Total Beban Pokok Pendaptan      Rp. Ribu   28.343.127   27.320.393   25.680.309   23.796.705   21.782.115



      Laba Usaha                       Rp. Ribu   25.656.873   26.679.607   28.319.691   30.203.295   32.217.885



      Biaya/Beban Lain
      Biaya Administrasi Umum          Rp. Ribu     105.058      111.887      119.160      126.905      135.154
      Biaya Penjualan                  Rp. Ribu    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000
      Beban Bunga                      Rp. Ribu            -            -            -            -            -
      Total                            Rp. Ribu    1.185.058    1.191.887    1.199.160    1.206.905    1.215.154



      Pendapatan sebelum Pajak Final   Rp. Ribu   24.471.814   25.487.720   27.120.531   28.996.390   31.002.731



      Pajak Final                      Rp. Ribu    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000    1.080.000



      Laba Bersih                      Rp. Ribu   23.391.814   24.407.720   26.040.531   27.916.390   29.922.731



     Proyeksi laba rugi pada tabel tersebut diatas, tidak ada beban bunga yang dikeluarkan
     karena pada unit usaha ini semua pembiayaan menggunakan kas Perseroan. Pada
     proyeksi juga diperoleh rata rata selama masa proyeksi persentasi laba usaha
     dibandingkan dengan total pendapatan adalah sebesar 50,22% dan persentasi laba
     bersih dibandingkan dengan pendapatan adalah 45,56%.

7.6.2 Proyeksi Arus Kas

     Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan, arus kas EMA
     atas penambahan kegiatan usaha adalah sesuai dengan tabel berikut ini.




Halaman 42                                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 43
     Tabel 7.11           Proyeksi Laporan Arus Kas Penambahan Kegiatan Usaha
                 Uraian           Satuan        2025            2026              2027                2028              2029               2030
      Arus Kas Dari Kegiatan
      Operasional
      Laba Bersih                 Rp. Ribu      744.119        3.937.703         7.845.894       11.667.038           15.398.928         19.197.299
      Depresiasi Dan Amortisasi   Rp. Ribu      654.520        3.338.810         6.778.828       10.305.569           13.921.220         17.470.021
      Total Kas Masuk sebelum
                                  Rp. Ribu    1.398.639        7.276.513        14.624.722       21.972.607           29.320.147         36.667.320
      Working Capital


      Perubahan Modal Kerja
      Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu    (221.918)         (887.671)       (1.109.589)      (1.109.589)          (1.109.589)      (1.109.589)
      Piutang Usaha
      Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu       42.306          169.224           211.530             211.530              211.530        211.530
      Utang Usaha
      Total Perubahaan Modal
                                  Rp. Ribu    (179.612)        (718.447)         (898.059)            (898.059)        (898.059)          (898.059)
      Kerja


      Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu    1.219.027        6.558.066        13.726.663       21.074.548           28.422.088         35.769.261
      Kegiatan Operasional


      Arus Kas Kegiatan
      Investasi
      Initial Outlay              Rp. Ribu   (5.840.338)                -                  -                   -                  -               -
      Capex                       Rp. Ribu              -    (23.952.161)   (30.695.592)        (31.469.428)         (32.262.772)     (33.076.117)
      Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu   (5.840.338)     (23.952.161)   (30.695.592)        (31.469.428)         (32.262.772)     (33.076.117)
      Kegiatan Investasi


      Arus Kas Kegiatan
      Pendanaan
      Utang Bank (Current)        Rp. Ribu              -               -                  -                   -                  -               -
      Utang Bank (Non Current)    Rp. Ribu              -               -                  -                   -                  -               -
      Modal                       Rp. Ribu    5.840.338                 -                  -                   -                  -               -
      Tambahan Modal Disetor      Rp. Ribu              -     23.952.161        30.695.592       31.469.428           32.262.772         33.076.117
      Total Arus Kas Dari
                                  Rp. Ribu    5.840.338       23.952.161        30.695.592       31.469.428           32.262.772         33.076.117
      Kegiatan Pendanaan


      Arus Kas Bersih             Rp. Ribu    1.219.027        6.558.066        13.726.663       21.074.548           28.422.088         35.769.261

      Kas Awal                    Rp. Ribu              -      1.219.027         7.777.093       21.503.756           42.578.304         71.000.392

      Saldo Akhir Cash And
                                  Rp. Ribu    1.219.027        7.777.093        21.503.756       42.578.304           71.000.392      106.769.653
      Bank


                                                                                                                      Lanjutan
                 Uraian           Satuan         2031               2032                 2033                 2034                2035
      Arus Kas Dari Kegiatan
      Operasional
      Laba Bersih                 Rp. Ribu      23.391.814         24.407.720         26.040.531             27.916.390          29.922.731
      Depresiasi Dan Amortisasi   Rp. Ribu      20.622.287         19.599.552         17.959.469             16.075.864          14.061.275
      Total Kas Masuk sebelum
                                  Rp. Ribu      44.014.101        44.007.272          44.000.000             43.992.254          43.984.006
      Working Capital


      Perubahan Modal Kerja
      Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu     (1.109.589)                  -                     -                     -                   -
      Piutang Usaha
      Kenaikan/Penurunan
                                  Rp. Ribu         211.530                  -                     -                     -                   -
      Utang Usaha
      Total Perubahaan Modal
                                  Rp. Ribu       (898.059)                  -                    -                      -                   -
      Kerja




Halaman 43                                                                            FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 44
                    Uraian            Satuan         2031                 2032                 2033              2034              2035
         Total Arus Kas Dari
                                      Rp. Ribu      43.116.042         44.007.272             44.000.000        43.992.254        43.984.006
         Kegiatan Operasional


         Arus Kas Kegiatan
         Investasi
         Initial Outlay               Rp. Ribu                -                   -                     -                 -                 -
         Capex                        Rp. Ribu     (33.909.966)                   -                     -                 -                 -
         Total Arus Kas Dari
                                      Rp. Ribu    (33.909.966)                    -                     -                 -                 -
         Kegiatan Investasi


         Arus Kas Kegiatan
         Pendanaan
         Utang Bank (Current)         Rp. Ribu                -                   -                     -                 -                 -
         Utang Bank (Non Current)     Rp. Ribu                -                   -                     -                 -                 -
         Modal                        Rp. Ribu                -                   -                     -                 -                 -
         Tambahan Modal Disetor       Rp. Ribu      33.909.966                    -                     -                 -                 -
         Total Arus Kas Dari
                                      Rp. Ribu      33.909.966                    -                     -                 -                 -
         Kegiatan Pendanaan



         Arus Kas Bersih              Rp. Ribu      43.116.042         44.007.272             44.000.000        43.992.254        43.984.006

         Kas Awal                     Rp. Ribu     106.769.653        149.885.695            193.892.967       237.892.967       281.885.222

         Saldo Akhir Cash And
                                      Rp. Ribu     149.885.695        193.892.967            237.892.967       281.885.222       325.869.227
         Bank


     •       Arus Kas dari Aktivitas Operasi selama periode proyeksi mengalami peningkatan
             setiap tahun dikarena tambahan pendapatan dengan penambahan unit 200 unit
             tahun 2026 dan 250 unit perangkat PaaS per tahun untuk tahun berikutnya sampai
             dengan tahun 2031.
     •       Arus Kas dari Aktivitas investasi merupakan biaya investasi penambahan perangkat
             PaaS terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha.
     •       Arus Kas dari Aktivitas pendanaan merupakan tambahan pendanaan dari
             Perseroan terkait initial outlay dan Pengeluaran capex.

7.6.3 Proyeksi Posisi Keuangan EMA

     Proyeksi Posisi Keuangan EMA atas penambahan kegiatan usaha berdasarkan asumsi-
     asumsi yang telah dibuat adalah sesuai tabel berikut:

     Tabel 7.12 Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Penambahan Kegiatan Usaha
                  Uraian            Satuan        2025             2026               2027              2028              2029              2030
         Aset
         Aset Lancar
         Kas dan Bank               Rp. Ribu     1.219.027        7.777.093      21.503.756            42.578.304        71.000.392       106.769.653
         Piutang Usaha              Rp. Ribu      221.918         1.109.589       2.219.178             3.328.767         4.438.356         5.547.945
         Total Aset Lancar          Rp. Ribu     1.440.945        8.886.682      23.722.934            45.907.071        75.438.748       112.317.598


         Aset Tidak Lancar
         Aset Tetap                 Rp. Ribu     5.185.818    25.799.169         49.715.933            70.879.791        89.221.344       104.827.440
         Total Aset Tidak
                                    Rp. Ribu     5.185.818    25.799.169         49.715.933            70.879.791        89.221.344       104.827.440
         Lancar


         Total Aset                 Rp. Ribu     6.626.763    34.685.851         73.438.867           116.786.863       164.660.092       217.145.038




Halaman 44                                                                                    FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 45
                Uraian         Satuan       2025              2026            2027               2028               2029               2030


      Liabilitas
      Liabilitas Lancar
      Utang Usaha              Rp. Ribu      42.306           211.530         423.060             634.590            846.120           1.057.649
      Utang Bank jatuh
                               Rp. Ribu             -                -                -                   -                   -                -
      Tempo 1 tahun
      Total Liabilitas
                               Rp. Ribu      42.306           211.530         423.060             634.590            846.120           1.057.649
      Lancar


      Liabilitas Tidak
      Lancar
      Utang Bank               Rp. Ribu             -                -                -                   -                  -                 -
      Total Liabilitas Tidak
                               Rp. Ribu             -                -                -                   -                  -                 -
      Lancar


      Total Liabilitas         Rp. Ribu      42.306           211.530         423.060             634.590            846.120           1.057.649


      Ekuitas
      Modal                    Rp. Ribu    5.840.338         5.840.338       5.840.338           5.840.338          5.840.338          5.840.338
      Tambahan Modal
                               Rp. Ribu             -       23.952.161   54.647.753          86.117.180        118.379.953        151.456.069
      disetor
      Saldo Laba               Rp. Ribu     744.119          4.681.822   12.527.716          24.194.754         39.593.682         58.790.981
      Total Ekuitas            Rp. Ribu    6.584.457        34.474.321   73.015.807         116.152.273        163.813.973        216.087.388


      Total Liabilitas Dan
                               Rp. Ribu    6.626.763        34.685.851   73.438.867         116.786.863        164.660.092        217.145.038
      Ekuitas


                                                                                                                Lanjutan
                Uraian         Satuan        2031                2032                2033               2034               2035
      Aset
      Aset Lancar
      Kas dan Bank             Rp. Ribu   149.885.695         193.892.967      237.892.967         281.885.222        325.869.227
      Piutang Usaha            Rp. Ribu     6.657.534           6.657.534         6.657.534             6.657.534          6.657.534
      Total Aset Lancar        Rp. Ribu   156.543.229        200.550.502       244.550.501         288.542.756        332.526.761


      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap               Rp. Ribu   118.115.118          98.515.566       80.556.097          64.480.233         50.418.958
      Total Aset Tidak
                               Rp. Ribu   118.115.118          98.515.566       80.556.097          64.480.233         50.418.958
      Lancar


      Total Aset               Rp. Ribu   274.658.348        299.066.068       325.106.599         353.022.989        382.945.720


      Liabilitas
      Liabilitas Lancar
      Utang Usaha              Rp. Ribu     1.269.179           1.269.179         1.269.179             1.269.179          1.269.179
      Utang Bank jatuh
                               Rp. Ribu                 -                -                   -                  -                  -
      Tempo 1 tahun
      Total Liabilitas
                               Rp. Ribu     1.269.179           1.269.179         1.269.179           1.269.179         1.269.179
      Lancar


      Liabilitas Tidak
      Lancar




Halaman 45                                                                           FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 46
                Uraian         Satuan        2031          2032          2033          2034          2035
      Utang Bank               Rp. Ribu             -             -             -             -             -
      Total Liabilitas Tidak
                               Rp. Ribu             -             -             -             -             -
      Lancar


      Total Liabilitas         Rp. Ribu     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179     1.269.179


      Ekuitas
      Modal                    Rp. Ribu     5.840.338     5.840.338     5.840.338     5.840.338     5.840.338
      Tambahan Modal
                               Rp. Ribu   185.366.035   185.366.035   185.366.035   185.366.035   185.366.035
      disetor
      Saldo Laba               Rp. Ribu    82.182.795   106.590.516   132.631.047   160.547.436   190.470.167
      Total Ekuitas            Rp. Ribu   273.389.168   297.796.888   323.837.419   351.753.809   381.676.540


      Total Liabilitas Dan
                               Rp. Ribu   274.658.348   299.066.068   325.106.599   353.022.989   382.945.720
      Ekuitas


     Aset Lancar
     Aset lancar terdiri dari kas dan piutang usaha, selama masa proyeksi aset lancar EMA
     mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-
     2035) sebesar 101%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan kas dan piutang EMA.
     Pada tahun 2026 aset lancar EMA mengalami peningkatan sebesar 517% hal ini
     disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan
     tahun 2025.

     Aset Tidak Lancar
     Aset tidak lancar terdiri dari asset tetap, selama masa proyeksi aset tidak lancar EMA
     mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-
     2035) sebesar 51%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan aset tetap EMA. Pada
     tahun 2026 aset tidak lancar EMA mengalami peningkatan sebesar 397% hal ini
     disebabkan adanya penambahan unit sebesar 200 unit PaaS dibandingkan dengan
     tahun 2025.

     Liabilitas
     Liabilitas EMA hanya terdiri dari utang usaha hal ini karena dalam pelaksanaan unit
     usaha PaaS sumber pendanaannya berasal dari modal EMA. Selama masa proyeksi
     Liabilitas EMA mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa
     proyeksi (2025-2035) sebesar 63%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan liabilitas
     jangka pendek EMA . Pada tahun 2026 liabilitas EMA mengalami peningkatan sebesar
     400% hal ini disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan
     dengan tahun 2025 yang mempengaruhi pendapatan EMA sehingga utang usaha EMA
     mengalami peningkatan.

     Ekuitas
     Ekuitas atas penambahan kegiatan usaha ini terdiri dari setoran modal, tambahan
     modal disetor dan Saldo Laba, selama masa proyeksi Ekuitas EMA mengalami
     peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035) sebesar
     73%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan Tambahan modal disetor yang
     disesuaikan dengan total capex yang dikeluarkan oleh EMA setiap tahunnya. Pada
     tahun 2026 Ekuitas EMA mengalamai peningkatan sebesar 424% hal ini disebabkan




Halaman 46                                                               FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 47
     adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan tahun 2025
     yang mempengaruhi jumlah modal yang disetor untuk memenuhi biaya capex EMA.

7.6.4 Tingkat Diskonto

     Tingkat diskonto yang kami gunakan adalah biaya modal untuk ekuitas (cost of
     equity). Biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital
     Asset Pricing Model (“CAPM”), dengan formula sebagai berikut:

     Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS Ke = Rf + ß Rp – CDS

     Rf (risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
     dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Dalam studi kelayakan ini, suku
     bunga bebas risiko yang kami gunakan adalah Indeks Surat Utang Negara dengan
     jangka waktu 30 tahun dimana penggunaan risk free rate didasari atas suku bunga
     bebas risiko sesuai dengan mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan
     objek studi kelayakan, dan mencerminkan asumsi kelangsungan jangka waktu
     kegiatan usaha objek studi kelayakan.

     Rp (risk premium), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan
     tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Premi risiko pasar (Rm-Rf)
     ditentukan dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1
     Januari 2025 sebesar 6,87%.

     CDS (Country Default Spread), adalah tingkat (rating) gagal bayar obligasi yang
     dikeluarkan pemerintah dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan
     data diperbarui 1 Januari 2025.

     ß (Beta), merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
     pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh
     S&P 500 atau IHSG). Beta diperoleh dari unlevered beta yang mengacu kepada beta
     Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari industri t e l e k o m u n i ka s i
     sebesar 0,60 yang kemudian di re-levered kembali untuk menghasilkan levered beta
     dengan formula sebagai berikut:

     ßL       = ßU x (1+ (1-t) x DER)

     Dimana :
     ßL                  : Beta Levered
     ßU                  : Beta Unlevered
     DER                 : Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
     T                   : Pajak

     DER mengacu kepada DER Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari
     industri telekomunikasi sebesar 39,78%.

     Berdasarkan formula perhitungan beta di atas maka beta yang digunakan sebagai
     berikut:




Halaman 47                                                      FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 48
      Tabel 13. Beta
                     Deskripsi                                 Keterangan
       ßU (didapat dari Damodaran)                                          0,60
       DER (Damodaran)                                                   39,78%
       T (Pajak)                                                            22%
       ßL = …. *(1+(1-22% )*….%)                                            0,79

      Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM
      diperoleh biaya modal untuk ekuitas sebagai berikut:

      Tabel 14. CAPM
                  Deskripsi                                               Keterangan
       Rf                                              7,11% IPBA per 30 Desember 2024 (30 Tahun)
       ß                                                  0,79 Dari perhitungan beta
       Rp                                              6,87% Damodaran dengan data
       CDS                                             1,89% diperbaharui 1 Januari 2025
       Spesifik Risk                                      0% Asumsi risiko karena proyek masih baru
       Ke = Rf + (ß x Rp ) – CDS                      10,63%

      Biaya modal ekuitas (Ke) pada tabel diatas sebesar 10,63% digunakan sebagai
      tingkat diskonto dalam Analisa kelayakan keuangan

7.7   Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)

      Dalam melakukan analisis titik impas akan menggunakan perhitungan break even
      point (“BEP”) dimana BEP adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba
      dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika
      jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba
      kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Nilai BEP dalam
      rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. BEP
      dalam satuan Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:


                                      Total Biaya Tetap

       BEP =

                           (Penjualan - Total Biaya Variabel) / Penjualan


      Berikut adalah analisis titik impas atas rencana perubahan kegiatan usaha selama
      periode proyeksi:

      Tabel 7.13 Break Even Point (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian          2025        2026         2027         2028           2029           2030
       Pendapatan             1.800.000   9.000.000   18.000.000   27.000.000   36.000.000       45.000.000
       Biaya Tetap             654.520    3.338.810    6.778.828   10.305.569   13.921.220       17.470.021
       Biaya Variabel          257.361    1.286.807    2.573.614    3.860.420      5.147.227      6.434.034
       Break Event Point       763.714    3.895.830    7.909.753   12.024.867   16.243.724       20.384.578
                                                                                               Lanjutan



Halaman 48                                                         FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 49
               Uraian                2031                2032              2033                 2034                       2035
       Pendapatan                  54.000.000           54.000.000        54.000.000          54.000.000               54.000.000
       Biaya Tetap                 20.622.287           19.599.552        17.959.469          16.075.864               14.061.275
       Biaya Variabel                7.720.841           7.720.841         7.720.841           7.720.841                   7.720.841
       Break Event Point           24.062.742           22.869.383        20.955.681          18.757.832               16.407.144


      Berdasarkan tabel diatas rata-rata titik impas adalah sebesar Rp 14.934.113 selama
      periode proyeksi.

7.8   Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)

      Dalam melakukan analisis profitabilitas / Overall Profitability, digunakan Profitability
      Index (“PI”), dimana PI dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih
      yang akan datang suatu proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk
      proyek tersebut. PI dapat diformulasikan sebagai berikut:


                             Jumlah nilai kini arus kas masuk

                  PI =
                             Jumlah nilai kini arus kas keluar

      Jika PI lebih besar dari 1, maka investasi tersebut adalah                          layak.         Berikut      adalah
      perhitungan PI atas rencana perubahan kegiatan usaha:

      Tabel 7.14 Profitability Index (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian                            2025           2026          2027              2028                 2029              2030

       Cash inflow
       Net Income                            744.119        3.937.703       7.845.894        11.667.038        15.398.928         19.197.299
       Interest*(1-Tax)                           -               -             -                   -                  -                 -
       Depreciation &
                                             654.520        3.338.810       6.778.828        10.305.569        13.921.220         17.470.021
       Amortization
       Total                                 1.398.639      7.276.513      14.624.722        21.972.607        29.320.147         36.667.320

       Cash outflow
       Change in net
                                             (179.612)      (718.447)       (898.059)        (898.059)             (898.059)       (898.059)
       working capital
       Capex                                      -        (23.952.161)    (30.695.592)     (31.469.428)      (32.262.772)        (33.076.117)
       Initial Outlay          (5.840.338)
       Total                   (5.840.338)   (179.612)     (24.670.608)    (31.593.651)     (32.367.487)      (33.160.831)        (33.974.176)


       Net Free Cash Flow      (5.840.338)   1.219.027     (17.394.095)    (16.968.929)     (10.394.880)       (3.840.684)         2.693.144


       Terminal Value


       Total Net Free Cash
                               (5.840.338)   1.219.027     (17.394.095)    (16.968.929)     (10.394.880)       (3.840.684)         2.693.144
       Flow


       n                                         1,0             2,0           3,0                 4,0                5,0               6,0
       Discount factor                        10,63%            10,63%       10,63%            10,63%               10,63%             10,63%
                                  1,00           0,90            0,82         0,74              0,67                 0,60               0,55
       Present Value           (5.840.338)   1.101.887     (14.211.819)    (12.532.167)      (6.939.291)       (2.317.545)         1.468.937




Halaman 49                                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 50
                                                                                                                          Lanjutan
               Uraian              2031              2032               2033               2034            2035          Perpetuidy

       Cash inflow
       Net Income                23.391.814        24.407.720          26.040.531        27.916.390      29.922.731       30.683.786
       Interest*(1-Tax)                      -                -                    -                -                -
       Depreciation &
                                 20.622.287        19.599.552          17.959.469        16.075.864      14.061.275       14.418.909
       Amortization
       Total                     44.014.101        44.007.272          44.000.000        43.992.254     43.984.006        45.102.695


       Cash outflow
       Change in net
                                   (898.059)                  -                    -                -                -      (137.047)
       working capital
       Capex                    (33.909.966)                  -                    -                -                -   (14.418.909)
       Initial Outlay
       Total                    (34.808.025)                  -                    -                -                -   (14.555.956)


       Net Free Cash Flow         9.206.076        44.007.272          44.000.000        43.992.254     43.984.006        30.546.738


       Terminal Value                                                                                                    377.707.350


       Total Net Free Cash
                                  9.206.076        44.007.272          44.000.000        43.992.254     43.984.006       377.707.350
       Flow


       n                                   7,0              8,0                  9,0             10,0           11,0              11,0
       Discount factor               10,63%           10,63%                 10,63%            10,63%       10,63%            10,63%
                                          0,49             0,45                0,40              0,36           0,33              0,33
       Present Value              4.538.810        19.611.723          17.724.250        16.018.260     14.476.308       124.313.549


            Analisa Kelayakan             Satuan           Nilai
       Profitability Index                   x                1,33
       Payback Period                     Tahun                8,0


      Berdasarkan tabel diatas PI yang dihasilkan sebesar 1,33 atau lebih besar daripada 1.

7.9   Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)

      Dalam mengukur tingkat imbal balik investasi digunakan perhitungan Net Present
      Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”). Jika nilai NPV positif dan IRR memiliki
      nilai lebih besar dari tingkat diskonto maka investasi tersebut adalah layak. Berikut
      adalah perhitungan NPV dan IRR atas rencana perubahan kegiatan usaha:

      Tabel 7.15 NPV dan IRR (dalam Ribuan Rupiah)
               Uraian                               2025               2026              2027             2028              2029           2030

       Cash inflow
       Net Income                                  744.119           3.937.703         7.845.894        11.667.038       15.398.928      19.197.299
       Interest*(1-Tax)                               -                  -                 -                -                 -              -
       Depreciation &
                                                   654.520           3.338.810         6.778.828        10.305.569       13.921.220      17.470.021
       Amortization
       Total                                     1.398.639           7.276.513         14.624.722       21.972.607       29.320.147      36.667.320


       Cash outflow
       Change in net
                                                 (179.612)           (718.447)         (898.059)        (898.059)         (898.059)      (898.059)
       working capital




Halaman 50                                                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 51
              Uraian                                2025               2026                 2027             2028              2029         2030
                                                                                                                                          (33.076.11
      Capex                                           -            (23.952.161)          (30.695.592)     (31.469.428)     (32.262.772)
                                                                                                                                              7)
      Initial Outlay            (5.840.338)
                                                                                                                                          (33.974.17
      Total                     (5.840.338)       (179.612)        (24.670.608)          (31.593.651)     (32.367.487)     (33.160.831)
                                                                                                                                              6)


      Net Free Cash Flow        (5.840.338)       1.219.027        (17.394.095)          (16.968.929)     (10.394.880)      (3.840.684)   2.693.144


      Terminal Value


      Total Net Free Cash
                                (5.840.338)       1.219.027        (17.394.095)          (16.968.929)     (10.394.880)      (3.840.684)   2.693.144
      Flow


      n                                              1,0                2,0                  3,0              4,0               5,0          6,0
      Discount factor                              10,63%             10,63%               10,63%           10,63%            10,63%       10,63%
                                   1,00              0,90               0,82                0,74             0,67              0,60          0,55
      Present Value             (5.840.338)       1.101.887        (14.211.819)          (12.532.167)     (6.939.291)       (2.317.545)   1.468.937


                                                                                                                         Lanjutan
              Uraian               2031              2032                   2033             2034           2035          Perpetuity

      Cash inflow
      Net Income                  23.391.814      24.407.720           26.040.531         27.916.390      29.922.731       30.683.786
      Interest*(1-Tax)                        -                -                     -                -              -
      Depreciation &
                                  20.622.287      19.599.552           17.959.469         16.075.864      14.061.275       14.418.909
      Amortization
      Total                      44.014.101       44.007.272           44.000.000         43.992.254      43.984.006       45.102.695


      Cash outflow
      Change in net
                                   (898.059)                   -                     -                -              -       (137.047)
      working capital
      Capex                     (33.909.966)                   -                     -                -              -    (14.418.909)
      Initial Outlay
      Total                     (34.808.025)                   -                     -                -             -     (14.555.956)


      Net Free Cash Flow           9.206.076      44.007.272           44.000.000         43.992.254      43.984.006       30.546.738


      Terminal Value                                                                                                      377.707.350


      Total Net Free Cash
                                   9.206.076      44.007.272           44.000.000         43.992.254      43.984.006      377.707.350
      Flow


      n                                    7,0               8,0                   9,0             10,0         11,0             11,0
      Discount factor                10,63%           10,63%                 10,63%           10,63%         10,63%            10,63%
                                          0,49              0,45               0,40                0,36         0,33             0,33
      Present Value                4.538.810      19.611.723           17.724.250         16.018.260      14.476.308      124.313.549


            Analisa Kelayakan              Satuan                   Nilai
      Net Present Value                   Rp. Ribu                 157.412.564
      IRR                                     %                        33,11%




Halaman 51                                                                                     FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 52
     Berdasarkan tabel diatas NPV yang dihasilkan sebesar Rp 157.412.564 atau lebih besar
     daripada 0, dan IRR yang dihasilkan sebesar 33,11% atau lebih besar daripada tingkat
     diskonto sebesar 10,63%.

7.10 Proyeksi Keuangan EMA Setelah Penambahan Kegiatan Usaha

     Tabel 7.16 Proyeksi Keuangan EMA Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
                                 Satuan      2025             2026             2027              2028              2029             2030
      Revenue                    Rp Juta    1.031.973        1.070.078        1.110.910          1.163.627        1.218.092        1.286.196
      Net Profit (Loss)          Rp Juta     -232.269         -180.348         -125.603            -64.752            -908           70.642


      Assets                     Rp Juta   14.878.177       15.287.352       15.754.626         16.309.877       16.934.147      17.660.986
      Liabilities                Rp Juta   10.221.960       10.811.483       11.404.360         12.024.363       12.649.541      13.305.738
      Equity                     Rp Juta    4.656.217        4.475.869        4.350.266          4.285.513        4.284.606        4.355.248


      Opeating Cashflow          Rp Juta     749.314          778.144          809.508            851.078          894.044          948.526
      Investing Cashflow         Rp Juta     -318.952         -418.213         -431.985           -522.840         -536.888         -641.089
      Financing Cashflow         Rp Juta             0                0                0                  0                0               0


                                                                                                    Lanjutan
                                 Satuan      2031             2032             2033              2034              2035
      Revenue                    Rp Juta    1.357.256        1.422.419        1.490.840         1.562.682         1.638.116
      Net Profit (Loss)          Rp Juta     147.034          221.793          298.901           378.178            459.706


      Assets                     Rp Juta   18.472.095       19.365.996       20.345.634        21.413.578        22.572.500
      Liabilities                Rp Juta   13.969.814       14.641.923       15.322.659        16.012.425        16.711.641
      Equity                     Rp Juta    4.502.281        4.724.074        5.022.975         5.401.153         5.860.859


      Opeating Cashflow          Rp Juta    1.005.426        1.058.410        1.113.165         1.170.723         1.231.228
      Investing Cashflow         Rp Juta     -664.323         -653.934         -678.631          -704.562          -731.790
      Financing Cashflow         Rp Juta             0                0                0                 0                 0


     Mengacu pada proyeksi keuangan sebelum dan setelah penambahan kegiatan
     usaha, dapat dilihat bahwa penambahan kegiatan usaha memberikan dampak
     sebagai berikut:

     Tabel 7.17 Dampak Penambahan Kegiatan Usaha Pada Proyeksi Keuangan EMA
               Description        Unit           2025             2026                2027               2028             2029             2030
      Revenue before             Rp Juta      1.030.173        1.061.078         1.092.910         1.136.627         1.182.092          1.241.196
      Revenue after              Rp Juta      1.031.973        1.070.078         1.110.910         1.163.627         1.218.092          1.286.196
      Addition                   Rp Juta            1.800            9.000            18.000            27.000            36.000           45.000


      Net Profit (Loss) before   Rp Juta      (233.013)        (184.286)         (133.449)          (76.419)           (16.306)            51.444
      Net Profit (Loss) after    Rp Juta      (232.269)        (180.348)         (125.603)          (64.752)               (908)           70.642
      Addition                   Rp Juta             744             3.938             7.846            11.667            15.399           19.197


      Assets before              Rp Juta     14.877.390       15.282.459        15.741.675        16.285.047        16.893.707         17.601.137
      Assets After               Rp Juta     14.878.177       15.287.352        15.754.626        16.309.877        16.934.147         17.660.986




Halaman 52                                                                        FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 53
               Description        Unit                 2025                 2026                     2027                 2028                2029             2030
      Addition                   Rp Juta                 786                4.893                   12.951               24.829              40.440             59.849


      Liabilities before         Rp Juta           10.221.917        10.811.272               11.403.937        12.023.729                12.648.695         13.304.680
      Liabilities after          Rp Juta           10.221.960        10.811.483               11.404.360        12.024.363                12.649.541         13.305.738
      Addition                   Rp Juta                  42                  212                      423                  635                 846              1.058
                                                                              169                      212                  212                 212                212
      Equity Before              Rp Juta            4.655.473            4.471.187                4.337.738        4.261.319               4.245.012          4.296.457
      Equity After               Rp Juta            4.656.217            4.475.869                4.350.266        4.285.513               4.284.606          4.355.248
      Addition                   Rp Juta                 744                4.682                   12.528               24.195              39.594             58.791


      Opeating Cashflow
      before                     Rp Juta             748.095              771.586                  795.781              830.003             865.622            912.757
      Opeating Cashflow
      after                      Rp Juta             749.314              778.144                  809.508              851.078             894.044            948.526
      Addition                   Rp Juta               1.219                6.558                   13.727               21.075              28.422             35.769


      Investing Cashflow         Rp Juta            (313.112)            (394.261)                (401.289)            (491.370)           (504.625)          (608.013)
      Investing Cashflow         Rp Juta            (318.952)            (418.213)                (431.985)            (522.840)           (536.888)          (641.089)
      Addition                   Rp Juta              (5.840)             (23.952)                 (30.696)             (31.469)            (32.263)           (33.076)


      Financing Cashflow         Rp Juta                      -                    -                        -                  -                     -                -
      Financing Cashflow         Rp Juta                      -                    -                        -                  -                     -                -
      Addition                   Rp Juta                      -                    -                        -                  -                     -                -


                                                                                                                                          Lanjutan
                  Description              Unit                   2031                 2032                 2033                   2034           2035
      Revenue before                     Rp Juta         1.303.256            1.368.419               1.436.840            1.508.682            1.584.116
      Revenue after                      Rp Juta         1.357.256            1.422.419               1.490.840            1.562.682            1.638.116
      Addition                           Rp Juta              54.000               54.000                54.000               54.000              54.000


      Net Profit (Loss) before           Rp Juta           123.642              197.385                 272.861              350.261             429.783
      Net Profit (Loss) after            Rp Juta           147.034              221.793                 298.901              378.178             459.706
      Addition                           Rp Juta              23.392               24.408                26.041               27.916              29.923


      Assets before                      Rp Juta        18.388.643           19.258.137              20.211.734           21.251.762          22.380.761
      Assets After                       Rp Juta        18.472.095           19.365.996              20.345.634           21.413.578          22.572.500
      Addition                           Rp Juta              83.452            107.860                 133.900              161.817             191.739


      Liabilities before                 Rp Juta        13.968.545           14.640.653              15.321.390           16.011.156          16.710.372
      Liabilities after                  Rp Juta        13.969.814           14.641.923              15.322.659           16.012.425          16.711.641
      Addition                           Rp Juta                  1.269                1.269                1.269                1.269               1.269
                                                                    212                       -                    -                  -                  -
      Equity Before                      Rp Juta         4.420.099            4.617.483               4.890.344            5.240.606            5.670.389
      Equity After                       Rp Juta         4.502.281            4.724.074               5.022.975            5.401.153            5.860.859
      Addition                           Rp Juta              82.183            106.591                 132.631              160.547             190.470




Halaman 53                                                                                         FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 54
                 Description       Unit       2031          2032            2033           2034      2035
      Opeating Cashflow before   Rp Juta    962.310      1.014.403       1.069.165     1.126.731   1.187.244
      Opeating Cashflow after    Rp Juta   1.005.426     1.058.410       1.113.165     1.170.723   1.231.228
      Addition                   Rp Juta     43.116        44.007          44.000        43.992      43.984


      Investing Cashflow         Rp Juta   (630.413)     (653.934)       (678.631)     (704.562)   (731.790)
      Investing Cashflow         Rp Juta   (664.323)     (653.934)       (678.631)     (704.562)   (731.790)
      Addition                   Rp Juta    (33.910)               -               -           -            -


      Financing Cashflow         Rp Juta             -             -               -           -            -
      Financing Cashflow         Rp Juta             -             -               -           -            -
      Addition                   Rp Juta             -             -               -           -            -


     Penambahan kegiatan usaha memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan
     EMA yaitu :
     1. Pendapatan EMA mengalami peningkatan, dimulai dari tambahan sebesar Rp
        1.800 juta pada 2025, yang terus berkembang hingga mencapai Rp 54.000 juta
        pada 2035. Laba bersih juga menunjukkan tren meningkat, dengan kerugian yang
        lebih kecil pada tahun 2025 dan laba positif tercatat sebesar Rp 70.642 juta pada
        2030.
     2. Aset EMA tumbuh dengan lebih cepat yaitu Rp 786 juta pada 2025 hingga
        mencapai Rp 191.739 juta pada 2035. Sementara itu, liabilitas EMA meningkat sedikit
        yang mencerminkan pengelolaan yang efektif. Ekuitas EMA mengalami
        peningkatan yang signifikan, dengan tambahan sebesar Rp 190.470 juta pada 2035,
        yang memperkuat posisi keuangan EMA.
     3. Arus kas operasi juga menunjukkan peningkatan yang stabil, menggambarkan
        efektivitas penambahan kegiatan usaha dalam menghasilkan aliran kas yang lebih
        besar. Meskipun terdapat peningkatan pengeluaran untuk investasi, hal ini
        menunjukkan bahwa EMA melakukan investasi yang diperlukan untuk mendukung
        ekspansi usaha.

7.11 Proyeksi Rasio Keuangan EMA Sebelum dan Setelah Penambahan Kegiatan Usaha

     Penambahan kegiatan usaha sedikit menekan margin laba kotor dengan tren
     penurunan di kisaran 0,1% – 0,4%, namun margin masih terjaga stabil pada kisaran 95,9%
     – 96,4%.

     Berbeda dengan itu, margin operasi meningkat stabil akibat tambahan kegiatan usaha
     di kisaran 0,1% – 1,9%, dengan margin operasi setelah penambahan berada pada
     kisaran 29,9% – 65,1%.

     Profit margin juga mengalami kenaikan di kisaran 0,1% – 1,5%, dengan margin berubah
     dari negatif menjadi positif dan berada pada kisaran –22,6% sampai 28,1%.

     ROA turut membaik dengan tambahan 0,1% – 0,2%, dari negatif menjadi positif, dan
     berada pada kisaran –1,56% hingga 2,04%.
     Sedangkan ROE meningkat signifikan setelah penambahan usaha, dengan kenaikan di
     kisaran 0,1% – 1,2%, dari –4,99% menjadi 7,84% sepanjang proyeksi.




Halaman 54                                                             FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 55
     Rasio proyeksi keuangan EMA sebelum dan setelah penambahan kegiatan usaha
     adalah sebagai berikut:

     Tabel 7.18       Proyeksi Rasio Keuangan EMA
                              Satuan    2025     2026     2027     2028       2029     2030

      Sebelum

      Gross profit Margin       %       96,0%    96,0%    96,0%     96,1%      96,2%   96,3%
      Operating Margin          %       29,8%    33,8%    37,7%     41,7%      45,5%   49,3%
      Profit Margin             %       -22,6%   -17,4%   -12,2%     -6,7%     -1,4%    4,1%
      Return On Assets          %       -1,57%   -1,21%   -0,85%    -0,47%    -0,10%   0,29%
      Return On Equity          %       -5,01%   -4,12%   -3,08%    -1,79%    -0,38%   1,20%

      Setelah
      Gross profit Margin       %       95,9%    95,9%    95,9%     95,9%      95,9%   95,9%
      Operating Margin          %       29,9%    34,2%    38,5%     42,6%      46,6%   50,5%
      Profit Margin             %       -22,5%   -16,9%   -11,3%     -5,6%     -0,1%    5,5%
      Return On Assets          %
                                        -1,56%   -1,18%   -0,80%    -0,40%    -0,01%   0,40%
      Return On Equity          %
                                        -4,99%   -4,03%   -2,89%    -1,51%    -0,02%   1,62%


                                                                          Lanjutan
                               Satuan   2031     2032     2033     2034       2035
      Sebelum
      Gross profit Margin           %   96,4%    96,5%    96,6%     96,7%      96,8%
      Operating Margin              %   52,9%    56,2%    59,2%     62,0%      64,5%
      Profit Margin                 %    9,5%    14,4%    19,0%     23,2%      27,1%
      Return On Assets              %
                                        0,67%    1,02%    1,35%     1,65%      1,92%
      Return On Equity              %
                                        2,80%    4,27%    5,58%     6,68%      7,58%


      Setelah
      Gross profit Margin           %   96,0%    96,1%    96,2%     96,3%      96,4%
      Operating Margin              %   54,1%    57,2%    60,1%     62,7%      65,1%
      Profit Margin                 %   10,8%    15,6%    20,0%     24,2%      28,1%
      Return On Assets              %
                                        0,80%    1,15%    1,47%     1,77%      2,04%
      Return On Equity              %
                                        3,27%    4,69%    5,95%     7,00%      7,84%




Halaman 55                                                         FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 56
                                             BAB VIII
                                           KESIMPULAN



Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis
Kelayakan Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan
Model Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asumsi dapat terpenuhi, maka
kami berpendapat bahwa rencana Perseroan dalam rangka Perubahan kegiatan usaha
berupa penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi
Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
(KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129)
adalah LAYAK.




Halaman 56                                                        FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 57
                        ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS



   a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
   b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
      dalam proses Studi Kelayakan.
   c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
      keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
      data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya
      yang kami anggap relevan.
   d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
      kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
      pencapaiannya (fiduciary duty).
   e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
   f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
   g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
      Pemberi Tugas.
   h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
   i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan
      telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
      di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai
      Indonesia (KEPI).
   j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami
      secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di
      luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup
      penugasan.
   k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
      dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan
      tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
      jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
   l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
      pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan
      relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).




Halaman 57                                                  FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 58
                                    PERNYATAAN PENILAI



Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang
bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa:

1.    Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan Studi Kelayakan adalah benar
      sesuai dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2.    Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3.    Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang,
      maupun memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek Studi
      Kelayakan .
4.    Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil Studi Kelayakan yang dilaporkan.
5.    Studi Kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia
      (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), SE OJK NO.17/SEOJK.04/2020, serta POJK
      No.35/POJK.04/2020, tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
      di Pasar Modal.
6.    Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
      diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7.    Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek
      Studi Kelayakan .
8.    Penilai telah melakukan wawancara kepada pihak manajemen Perseroan.
9.    Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat
      dalam pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana
      yang dinyatakan dalam laporan Studi Kelayakan ini.
10.   Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
      Kelayakan .
11.   Kami bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan yang telah kami susun
      berdasarkan data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami
      anggap akurat serta lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini
      apabila data-data, dokumen dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada
      kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12.   Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan terhadap obyek Studi Kelayakan pada
      tanggal Studi Kelayakan (cut off date)
13.   Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
      laporan Studi Kelayakan .
14.   Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Studi Kelayakan profesional telah
      disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15.   Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah
      diungkapkan.
16.   Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.




Halaman 58                                                   FDI.JKT/0012/LAP/B/SK/V/2025
Page 59

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.52 MB
Published19 May 2025
Pages59
Characters173,396
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 52 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org PT EPID Menara AssetCo p.1 ×16
linked person Daniel Pradipta p.8 ×2
linked person Yan Raymond Jafri · Komisaris p.14 ×2
linked person James John Burns · Direktur p.14 ×2
linked person Caba Pinter · Direktur p.14 ×2
linked — Ooredoo Hutchison p.22 ×2
linked org XL Axiata Tbk p.22 ×5
linked org Dayamitra Telekomunikasi Tbk p.22 ×2
linked org PT Smartfren Telecom p.22 ×2
linked org Inti Bangun Sejahtera Tbk p.22 ×2
linked org Huawei Tech p.32
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.1 ×4
possible org Telkom Indonesia p.22
unresolved org PT EPID Menara AssetCo TCC Batavia Tower One p.1
unresolved person KH. Mas Mansyur p.1 ×2
unresolved org KJPP Ferdinand p.1 ×4
unresolved org Ichsan dan Rekan p.1 ×4
unresolved org KJPP FDI p.1 ×6
unresolved org PT EPID Menara AssetCo No. FDI. p.1 ×2
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.1 ×3
unresolved org Menteri ESDM p.3 ×3
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.8 ×2
unresolved org Purwantono p.10 ×4
unresolved org Konstruksi p.10
unresolved org Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia p.10
unresolved person Daniel.Pradipta p.10
unresolved person Akta Notaris Mala Mukti p.13 ×2
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.13
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia p.13 ×4
unresolved person Jimmy Tanal · Notaris p.13 ×6
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU p.13 ×2
unresolved org Menteri Investasi p.13
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal p.13
unresolved person Suresh Narain Singh Sidhu · Komisaris Utama p.14
unresolved — Kegiatan Usaha EMA · o p.14
unresolved org PT Centratama p.14 ×2
unresolved org PT Centratama Menara p.14
unresolved org Telekomunikasi Indonesia Tbk p.14
unresolved org PT Indosat Ooredoo Hutchison p.22 ×2
unresolved org PT. Telekomunikasi Selular p.22 ×2
unresolved org PT Smartfren Telecom Adapun p.22
unresolved org PT Telkomsel p.22
unresolved org PT BBSC Telecode p.22
unresolved org PT Pgas Telekomunikasi Nusantara p.22
unresolved org PT Putra Arga Binangun Potensi Nilai Pasar Menurut p.22
unresolved org Kementerian Ketenagakerjaan RI Tabel p.26 ×2
unresolved org Kementerian Ketenagakerjaan RI p.26
unresolved org PT. Berkat Bersama Teknik p.28
unresolved org PT Trans Communication Data p.32
unresolved org PT Huawei Tech Investment p.32
unresolved org United Technologies Corporation p.32

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result