Back to announcement
20260702_UNTR_Informasi Transaksi Afiliasi_32107613_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review UNTRSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 73
Page 1
Page 2
Kantor Jasa Penilai Publik The Manhattan Square
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Property, Business Valuation & Advisory E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Licence No. 2.22.01 76 Website: www.fdipartners.co
KMK 460/KM.1/20 22 Phone (62 21) 27875910
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Jakarta, 29 Juni 2026
Kepada Yth.
PT Asmin Bara Bronang
Gedung Pamapersada
Jalan Rawagelam I No. 9
Kawasan Industri Jakarta Pulogadung (JIEP)
Jakarta Timur 13930
No. Laporan : 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Hal : Pendapat Kewajaran
Dengan hormat,
LAPORAN PENDAPAT KEWAJARAN ATAS RENCANA TRANSAKSI PINJAM MEMINJAM ANTARA
PT TUAH TURANGGA AGUNG (“TTA”) DAN PT ASMIN BARA BRONANG (“ABB”)
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No. 025/FDI/PB-FO/V/2026 tertanggal 26 Mei 2026,
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (“KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Asmin Bara Bronang (“ABB”) untuk memberikan laporan hasil analisis tentang pendapat kewajaran
sehubungan dengan rencana penandatanganan perjanjian pinjaman antara PT Tuah Turangga Agung
(“TTA”) dan PT Asmin Bora Bronang (“ABB”), keduanya merupakan anak perusahaan PT United Tractors
Tbk (“Perseroan” atau “UNTR”) (selanjutnya disebut “Perjanjian Pinjaman”), di mana TTA sebagai
pemberi pinjaman sepakat untuk memberikan pinjaman sampai dengan sejumlah USD40.000.000
(empat puluh juta Dolar Amerika Serikat) kepada ABB selaku penerima pinjaman dengan tingkat suku
bunga sebesar 5,28% (TSOFR (3,65%) + margin (1,63%)) dan periode fasilitas sampai dengan 5 tahun
sejak tanggal Perjanjian Pinjaman (“Rencana Transaksi”). Atas dasar hal tersebut, maka Rencana
Transaksi merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Republik Indonesia Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan
Kepentingan (“POJK 42”).
Maksud pemberian pendapat kewajaran adalah untuk memberikan laporan hasil analisis tentang
Kewajaran atas Rencana Transaksi. Laporan Pendapat Kewajaran ini ditujukan untuk kepentingan
manajemen UNTR, selaku perusahaan publik, dalam rangka memenuhi ketentuan dalam POJK 42.
Dalam melakukan analisis, sebagai dasar dan pertimbangan bagi kami dalam memberikan pendapat
kewajaran atas Rencana Transaksi tersebut, kami melandaskan dan berdasarkan pada informasi dan
data sebagaimana diberikan oleh manajemen UNTR, yang mana kami mengasumsikan bahwa
informasi dan data yang telah diberikan oleh manajemen UNTR adalah benar, lengkap, dapat
diandalkan, dan tidak menyesatkan. Kami tidak melakukan audit ataupun verifikasi secara mendetail
atas semua informasi dan data yang telah diberikan oleh manajemen UNTR, baik lisan maupun tulisan,
dan dengan demikian kami tidak dapat memberikan jaminan atau bertanggung-jawab apabila
informasi dan data yang diberikan tersebut menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
Pendekatan dan metode penilaian yang kami gunakan dalam menilai kewajaran atas Rencana Transaksi
adalah dengan menggunakan metodologi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
berupa analisis terhadap latar belakang dan manfaat serta risiko Rencana Transaksi, analisis terhadap UNTR, serta analisis terhadap kondisi industri dan prospek industri atau bidang usaha yang dijalankan UNTR. Analisis kuantitatif berupa analisis kinerja historis, analisis laporan keuangan sebelum dan sesudah transaksi (Proforma) dari sisi UNTR untuk mengetahui dampak keuangan secara konsolidasi dari transaksi yang dilakukan, serta analisis inkremental dan analisis sensitivitas atas Rencana Transaksi. Analisis atas Rencana Transaksi, Rencana Transaksi berupa Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) antara TTA selaku pihak yang memberikan pinjaman dan ABB selaku pihak yang menerima pinjaman yang akan digunakan untuk kebutuhan operasional ABB. ABB merupakan suatu perseroan terbatas yang bergerak di bidang usaha pertambangan khususnya tambang batu bara. ABB berkedudukan di Jakarta Timur dan beroperasi di Kalimantan Tengah. Kantor pusat beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9 Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang memadai guna memenuhi kebutuhan operasional serta menjaga kelancaran kegiatan usaha ABB. Atas hal tersebut, ABB bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan sebagai sumber pembiayaan kebutuhan operasional untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha. Dengan transaksi ini ABB diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk menjaga kesinambungan operasional perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan pengembangan perusahaan secara keseluruhan. Pendekatan dan metode penilaian yang kami gunakan dalam menilai kewajaran atas Rencana Transaksi adalah dengan menggunakan metodologi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis terhadap latar belakang dan manfaat serta risiko Rencana Transaksi, analisis terhadap UNTR, serta analisis terhadap kondisi industri dan prospek industri atau bidang usaha yang dijalankan UNTR. Analisis kuantitatif berupa analisis kinerja historis, analisis laporan keuangan sebelum dan sesudah transaksi (proforma) UNTR untuk mengetahui dampak keuangan secara konsolidasi dari transaksi yang dilakukan, serta analisis inkremental dan analisis sensitivitas atas Rencana Transaksi. 1. Laporan pendapat kewajaran disusun berdasarkan pada prinsip integritas informasi dan data. Dalam menyusun laporan ini, kami melandaskan dan berdasarkan pada informasi dan data sebagaimana diberikan manajemen UNTR, yang mana berdasarkan hakekat kewajaran adalah benar, lengkap, dapat diandalkan serta tidak menyesatkan. 2. Kami tidak melakukan audit ataupun uji kepatuhan secara rinci atas penjelasan maupun data - data yang diberikan oleh manajemen UNTR, baik lisan maupun tulisan, dan dengan demikian kami tidak dapat memberikan jaminan atau bertanggungjawab terhadap kebenaran dan kelengkapan dari informasi atau penjelasan tersebut. 3. Segala perubahan terhadap data-data yang telah diberikan manajemen UNTR pada kami, sebagaimana tercantum pada bagian sumber data dan Informasi, dapat mempengaruhi hasil penilaian secara material. Oleh karena itu, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas kemungkinan terjadinya perbedaan kesimpulan yang disebabkan perubahan data tersebut. 4. Laporan pendapat kewajaran ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan perkonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan Pemerintah pada tanggal Laporan ini dikeluarkan. 5. Kami menganggap bahwa sejak tanggal penerbitan Laporan pendapat kewajaran ini tidak terjadi perubahan yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam Laporan penilaian ini. Laporan pendapat kewajaran ini hanya dipersiapkan untuk dapat Halaman 2 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 4
dipergunakan sesuai dengan tujuan yang telah disebutkan dalam laporan ini, dan tidak dapat dipergunakan untuk tujuan lainnya. 6. Laporan pendapat kewajaran ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan sebagian analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan keseluruhan informasi dan analisis dapat menyebabkan pandangan yang menyesatkan. 7. Kami tidak bertanggungjawab untuk menegaskan kembali atau melengkapi pendapat kami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal surat ini. Rencana transaksi merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK 42 dimana TTA dan ABB merupakan anak perusahaan Perseroan. Rencana Transaksi atas Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) antara TTA dan ABB, dengan total fasilitas pinjaman yang diberikan oleh TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat). Atas dasar hal tersebut, maka objek analisis pendapat kewajaran dalam hal ini adalah Rencana Transaksi yang berupa rencana pemberian pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-). Berdasarkan draft Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) antara TTA dengan ABB, sepakat untuk mengganti suku bunga pinjaman Term SOFR (Term Secured Overnight Financing Rate) dan Marjin yang disepakati sebesar 1,63%. Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR periode yang berakhir 31 Desember 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, jumadi, Rianto & Rekan, ekuitas UNTR tercatat sebesar Rp103.136.323 juta dan nilai transaksi sebesar USD40.000.000,- atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-) maka Rencana Transaksi sebesar 0,65% dari ekuitas Perseroaan dengan demikian bukan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK 17”). Memasuki periode ke depan, termasuk tahun 2026, UNTR memandang bahwa lanskap industri akan tetap diwarnai oleh volatilitas harga komoditas, ketidakpastian geopolitik global, serta dinamika kebijakan nasional di sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur. Penurunan rencana produksi batu bara dan nikel nasional, percepatan agenda transisi energi, serta fluktuasi harga batu bara dan nikel diperkirakan menjaga tingkat persaingan tetap ketat, khususnya pada segmen kontraktor penambangan. Dalam konteks tersebut, UNTR menilai bahwa ketahanan bisnis tidak lagi semata ditentukan oleh siklus harga komoditas, melainkan oleh kemampuan menjaga efisiensi operasional, fleksibilitas strategi, serta keseimbangan portofolio usaha. Pada bisnis inti batu bara dan kontraktor penambangan, arah ke depan difokuskan pada optimalisasi operasi untuk menjaga arus kas yang sehat. UNTR memandang bahwa ruang pertumbuhan batu bara bersifat terbatas, meskipun komoditas ini masih memiliki peran transisional hingga energi terbarukan menjadi lebih ekonomis. Untuk itu, UNTR menargetkan penjualan batu bara sebesar 18,8 juta ton pada 2026, didukung oleh peningkatan kapasitas infrastruktur seperti jetty dan pelabuhan yang dijadwalkan rampung pada tahun mendatang. Upaya peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keandalan infrastruktur tetap menjadi prioritas agar bisnis inti dapat terus menjadi sumber kas yang andal dalam mendukung strategi diversifikasi jangka menengah dan panjang. Dengan Rencana Transaksi, ABB memperoleh pinjaman untuk kebutuhan dana operasional untuk dapat tetap melaksanakan kegiatan usahanya jika dibutuhkan, sehingga hal ini juga akan memberikan citra yang baik di mata investor dan masyarakat, bahwa pasca pandemi, UNTR dan grup tetap dapat mempertahankan pangsa pasar, produktivitas dan juga memenuhi kebutuhan pelanggannya dengan baik. Halaman 3 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 5
Analisa kuantitatif mengacu kepada kinerja keuangan historis. Selama periode 2021 – 2025, total aset menunjukkan peningkatan dari akhir tahun 2021 sampai dengan akhir 2025 dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 9,55%, peningkatan tersebut utamanya disebabkan kenaikan aset tetap, persediaan dan pajak dibayar dimuka dan lain-lain. Total aset pada tahun 2022 menunjukkan peningkatan tertinggi atau sebesar 24,80% dibanding tahun 2021. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh kenaikan aset lancar sebesar 30,34% dari Rp 60,6 triliun menjadi Rp 78,9 triliun dan kenaikan aset tidak lancar sebesar 18,46% dari Rp 51,9 triliun menjadi Rp 61,5 triliun Analisa inkremental dilakukan untuk melihat manfaat Rencana Transaksi bagi UNTR. Berdasarkan proyeksi keuangan UNTR sebelum dan setelah Rencana Transaksi periode 2026 – 2030 yang disusun oleh manajemen, Rencana Transaksi memberikan nilai tambah berupa peningkatan pada laba tahun berjalan, total aset, dan ekuitas bila Rencana Transaksi dilakukan sepanjang semua asumsi-asumsi terpenuhi. Analisis kewajaran dengan membandingkan antara tarif bunga Pinjaman Rencana Transaksi dengan tarif bunga pinjaman bank lainnya. Berdasarkan perjanjian atas rencana transaksi, suku bunga yang dikenakan adalah Term SOFR + Margin atau setara dengan 5,28% (TSOFR (3,65%) + margin (1,63%) dengan asumsi TSOFR per 31 Desember 2025), sedangkan suku bunga rata-rata kredit bank per 31 Desember 2025 adalah berada pada kisaran 5,35% - 7,50%, sehingga tarif bunga pinjaman Rencana Transaksi masih dalam batas wajar (batas atas - batas bawah) 7,5% terhadap suku bunga pinjaman, dimana selisih suku bunga dari Rencana Transaksi dengan suku bunga pasar adalah sebesar 1,26%. Halaman 4 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 6
Dengan demikian, berdasarkan analisis kewajaran atas Rencana Transaksi yang meliputi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif, serta analisis inkremental, maka dari segi ekonomis dan keuangan, menurut pendapat kami, Rencana Transaksi Pemberian pinjaman antara TTA dan ABB, dimana TTA dan ABB merupakan anak perusahaan dari UNTR, adalah Wajar. Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa datang terkait dengan usaha UNTR, TTA, ABB, maupun atas transaksi yang dilakukan. Demikian laporan pendapat kewajaran ini kami sampaikan, atas kerjasama dan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, KJPP FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Pemimpin Rekan M. Ichsan Suud, SP., MBA., MAPPI (Cert) Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453 MAPPI No. : 10-S-02571 OJK No. : KEP-717/KS.13/2026 RMK : RMK-2017.00526 Halaman 5 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 7
DAFTAR ISI BAB I ....................................................................................................................................... 7 PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 7 1.1 Uraian Mengenai Penugasan ............................................................................................................. 7 1.2 Identifikasi Status Penilai ..................................................................................................................... 7 1.3 Indentifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ...................................................................... 7 1.4 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan .................................. 8 1.5 Maksud dan Tujuan Pemberian Pendapat Kewajaran .................................................................... 8 1.6 Objek Analisis Pendapat Kewajaran ................................................................................................. 8 1.7 Dampak Keuangan dari Transaksi yang Akan Dilakukan .............................................................. 8 1.8 Pertimbangan Bisnis Yang Digunakan oleh Manajemen Terkait dengan Rencana Transaksi ... 9 1.9 Keterkaitan Rencana Transaksi Dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan............................... 9 1.10 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ................................................................................................ 9 1.11 Sumber Data dan Informasi ............................................................................................................... 9 1.12 Metodologi Analisis Kewajaran Rencana Transaksi ...................................................................... 10 1.13 Pernyataan Independensi Penilai ..................................................................................................... 10 1.14 Distribusi Laporan Pendapat Kewajaran ......................................................................................... 11 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ................................................ 11 BAB II .................................................................................................................................... 14 ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI ....................................................................................... 14 2.1. Latar Belakang Rencana Transaksi .................................................................................................. 14 2.2. Maksud dan Tujuan Rencana Transaksi.......................................................................................... 14 2.3. Objek Rencana Transaksi ................................................................................................................. 14 2.4. Identifikasi Pihak-Pihak Yang Bertransaksi ..................................................................................... 14 2.5. Hubungan Pihak-Pihak Yang Bertransaksi .................................................................................... 19 2.6. Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati dalam Rencana Transaksi .................................... 21 BAB III ................................................................................................................................... 23 ANALISIS TENTANG KEWAJARAN TRANSAKSI ............................................................................ 23 3.1. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan ...................................................................... 23 3.2. Analisis atas Rencana Transaksi ....................................................................................................... 23 3.3. Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi ...................................................................................... 24 3.4. Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi .................................................................................... 40 3.5. Analisis Kewajaran Atas Rencana Transaksi ................................................................................... 51 3.6. Analisis Faktor Lain Yang Relevan ................................................................................................... 52 3.7. Kesimpulan ......................................................................................................................................... 55 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 56 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 57 LAMPIRAN .............................................................................................................................. 59 Halaman 6 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No. 025/FDI/PB-FO/V/2026 tertanggal
26 Mei 2026, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (“KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat
penugasan dari PT Asmin Bara Bronang (“ABB”) untuk memberikan pendapat kewajaran atas
rencana transaksi pinjam meminjam antara PT Tuah Turangga Agung (“TTA”) dan PT Asmin Bara
Bronang (“ABB”), dimana TTA dan ABB merupakan anak perusahaan PT United Tractors Tbk
(“Perseroan” atau “UNTR”) (selanjutnya disebut “Perjanjian Pinjaman”), di mana TTA sebagai
pemberi pinjaman sepakat untuk memberikan pinjaman sampai dengan sejumlah
USD40.000.000 (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat) kepada ABB selaku penerima pinjaman
dengan tingkat suku bunga sebesar 5,28% (3,65%+1,63%) dan periode fasilitas sampai dengan
5 (lima) tahun sejak tanggal Perjanjian Pinjaman (“Rencana Transaksi”). Atas dasar hal tersebut,
maka Rencana Transaksi merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi
dan Transaksi Benturan Kepentingan (“POJK 42”).
1.2 Identifikasi Status Penilai
Pendapat Kewajaran ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan, selaku Penilai
Independen untuk memberikan pendapat kewajaran yang objektif dan tidak memihak, sesuai
KEPI; memiliki kompetensi untuk memberikan pendapat kewajaran atas objek yang dimaksud.
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin
Usaha No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan
mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:
a. Pemimpin Rekan, Mochamad Ichsan Suud, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi
penilaian bisnis dengan Izin No. B-1.16.00453 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia,
dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) dengan Surat Keputusan No.KEP-
717/KS.13/2026. Beliau adalah anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
b. Penugasan Pendapat Kewajaran ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek penilaian dan/ atau
pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi objektifitas, profesional dan tidak memihak.
c. Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan pendapat
kewajaran ini.
1.3 Indentifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dalam hal ini adalah ABB, dengan informasi sebagai berikut:
Nama : PT. Asmin Bara Bronang
Alamat : Gedung Pamapersada, Jalan Rawagelam I No.9, Kawasan Industri
Pulogadung (JIEP), Jakarta Timur 13930
Telepon/Fax : 021 - 2983 2091
Bidang usaha : Pertambangan Batu Bara/Coal Mining
Halaman 7 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 9
Pengguna Laporan dalam hal ini adalah ABB dan UNTR, dengan informasi sebagai berikut :
Nama : PT. Asmin Bara Bronang
Alamat : Gedung Pamapersada, Jalan Rawagelam I No.9, Kawasan Industri
Pulogadung (JIEP), Jakarta Timur 13930
Telepon/Fax : 021 - 2983 2091
Bidang usaha : Pertambangan Batu Bara/Coal Mining
Nama : PT. United Tractors, Tbk.
Alamat : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur 13910
Telepon/Fax : 021-24579999
Bidang usaha : Mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan, industry
konstruksi dan energi
1.4 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan
Tanggal penilaian Pendapat Kewajaran adalah tanggal 31 Desember 2025
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), masa berlaku laporan penilaian
adalah selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian ( cut off date) dalam laporan
penilaian.
1.5 Maksud dan Tujuan Pemberian Pendapat Kewajaran
Maksud pemberian pendapat kewajaran adalah untuk memberikan laporan hasil analisis tentang
Kewajaran atas Rencana Transaksi. Laporan Pendapat Kewajaran ini ditujukan untuk kepentingan
manajemen UNTR, selaku perusahaan publik, dalam rangka memenuhi ketentuan dalam POJK
42.
Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak
digunakan untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan
dalam tujuan lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.
1.6 Objek Analisis Pendapat Kewajaran
Berdasarkan Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB, total fasilitas pinjaman yang diberikan TTA
kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat). Atas
dasar hal tersebut di atas, maka objek analisis pendapat kewajaran dalam hal ini adalah Rencana
Transaksi yang berupa rencana pemberian pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara Rp
671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-).
1.7 Dampak Keuangan dari Transaksi yang Akan Dilakukan
Mengacu pada laporan posisi keuangan proforma UNTR, dampak keuangan atas Rencana
Transaksi sebagai berikut:
Terdapat penerimaan pada laporan keuangan ABB atas fasilitas pinjaman berupa shareholder
loan sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika) atau setara dengan Rp
Halaman 8 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 10
671.280.000.000,- dengan menggunakan kurs pada 31 Desember 2025 dari Bank Indonesia
sebesar kurs Rp 16.782,-. Serta terdapat pengerluaran sejumlah yang sama pada TTA. Laporan
Keuangan proforma UNTR adalah menggunakan Laporan Keuangan Konsolidasian, sehingga
terdapat proses eliminasi atas Rencana Transaksi tersebut.
1.8 Pertimbangan Bisnis Yang Digunakan oleh Manajemen Terkait dengan Rencana Transaksi
Sehubungan dengan adanya kebutuhan pendanaan ABB untuk mendukung kegiatan operasional
perusahaan ABB, ABB memerlukan tambahan sumber pendanaan yang akan digunakan sebagai
modal kerja guna menunjang kelancaran aktivitas usaha serta memenuhi kebutuhan operasional
yang terus berkembang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut, TTA selaku
perusahaan induk sekaligus pemberi pinjaman berencana memberikan fasilitas pinjaman kepada
ABB. Pemberian fasilitas pinjaman tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan modal kerja
ABB, sehingga dapat menjaga kecukupan likuiditas, serta mendukung pelaksanaan kegiatan
operasional secara berkesinambungan. Selain itu, transaksi ini merupakan salah satu bentuk
optimalisasi pengelolaan sumber daya keuangan dalam kelompok usaha, dimana pendanaan
dari TTA diharapkan dapat memberikan alternatif pembiayaan yang lebih efisien dan fleksibel
dibandingkan sumber pendanaan eksternal, sehingga ABB dapat menjalankan kegiatan usahanya
secara optimal.
1.9 Keterkaitan Rencana Transaksi Dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Rencana Transaksi atas Rencana pinjam meminjan dana antara TTA dan ABB merupakan
transaksi afiliasi sebagaimana diatur dalam POJK 42 dan Rencana Transaksi ini tidak
mengandung unsur benturan kepentingan. Hubungan afiliasi tercermin dari struktur
kepengurusan, dimana Bapak Hendra Hutahean menjabat di Perserian, TTA dan ABB. Selain itu
hubungan afiliasi juga terlihat pada kepemilikan saham, dimana Perseroan memiliki peneyertaan
di TAA dan penyertaan tidak langsung di ABB.
1.10 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
Sehubungan dengan POJK 42, maka dalam penugasan laporan pendapat kewajaran atas
Rencana Transaksi, kami telah melakukan analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian
atas Rencana Transaksi yang mencakup hal sebagai berikut:
a. Melakukan analisis Rencana Transaksi.
b. Melakukan analisis Kualitatif dan Kuantitatif atas Rencana Transaksi.
c. Melakukan analisis atas Kewajaran Rencana Transaksi.
d. Melakukan analisis atas faktor lain yang relevan.
1.11 Sumber Data dan Informasi
a. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2025 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan
dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua
hal yang material.
b. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2024 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
Halaman 9 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 11
Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan
dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua
hal yang material.
c. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2023 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis
& Rekan dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material.
d. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2022 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis
& Rekan dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material.
e. Rencana bisnis UNTR sebelum dan setelah Rencana Transaksi untuk 5 (lima) tahun ke depan.
f. Profoma Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR per 31 Desember 2025 (sebelum dan
sesudah transaksi) yang disiapkan oleh manajemen UNTR.
g. Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dengan ABB.
h. Representation Letter No. 052/ABB-EXT/VI/2026 tertanggal 26 Juni 2026
i. Hasil wawancara dengan pihak TTA, ABB, UNTR dan pihak lain yang kami anggap layak dan
relevan guna mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses
penilaian.
j. Data dan informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal baik dari media cetak maupun
media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
1.12 Metodologi Analisis Kewajaran Rencana Transaksi
Dalam menyusun laporan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi ini, kami telah melakukan
analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian Rencana Transaksi yang mencakup hal–hal
sebagai berikut:
a. Analisis atas Rencana Transaksi,
b. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif atas Rencana Transaksi,
c. Analisis Atas Kewajaran Nilai Rencana Transaksi.
d. Analisis atas faktor lain yang relevan.
1.13 Pernyataan Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan pendapat kewajaran ini, KJPP FDI&R bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan UNTR, TTA dan ABB
ataupun pihak pihak lainnya yang terafiliasi dengan UNTR, TTA maupun ABB. KJPP FDI&R juga
tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan
pendapat kewajaran ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan
dari proses analisis kewajaran ini.
Halaman 10 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 12
1.14 Distribusi Laporan Pendapat Kewajaran
Pendapat kewajaran ini diajukan untuk kepentingan UNTR dalam kaitannya dengan Rencana
Transaksi dan tidak untuk digunakan oleh pihak lain dan kepentingan lain.
1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian ( Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (cut-off date) per
31 Desember 2025 hingga Laporan Pendapat Kewajaran ini diterbitkan terdapat kejadian penting
setelah tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (Subsequent Event) yang tidak
mempengaruhi hasil penilaian yaitu:
1. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 117 tanggal 20 Mei 2026 yang dibuat oleh Notaris Jose
Dima Satria, S.H., M.Kn sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
AHU-AH.01.09-0309460 tanggal 5 Juni 2026, Perseroan telah melakukan perubahan
susunan Dewan Komisaris dan Direksi, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Perseroan sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Komisaris : Rudy
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Lincoln Pan
Direksi:
Presiden Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Hendra Hutahean
Direktur : Andreas
2. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek Perseroan sebagaimana telah
disampaikan Perseroan kepada masyarakat per tanggal 31 Mei 2026, struktur kepemilikan
saham Perseroan adalah sebagai berikut:
Jumlah Lembar Saham Jumlah Nominal
Pemegang saham (%)
(Rp. Juta)
PT Astra International Tbk 2.219.317.358 554.829 59,50%
Masyarakat (< 5%) 1.295.480.378 323.870 34,73 %
Saham treasuri 215.337.400 53.834 5,77%
Halaman 11 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 13
Jumlah Lembar Saham Jumlah Nominal
Pemegang saham (%)
(Rp. Juta)
Jumlah 3.730.135.136 932.533 100,00%
3. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 24 tanggal 6 Mei 2026 yang dibuat oleh Notaris Jose Dima
Satria, S.H., M.Kn sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
AHU-AH.01.09-0292480 tanggal 25 Mei 2026, TTA telah melakukan perubahan susunan
Dewan Komisaris dan Direksi, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi TTA menjadi
sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Ari Sutrisno
Komisaris : Chinthya Theresa Am
Direksi:
Presiden Direktur : Hendra Hutahean
Direktur : Tony Susanto Halim
Arianto Sasono
Eko Susanto
4. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 15 tanggal 30 April 2026 yang dibuat oleh Notaris Agung
Sri Wijayanti, S.H., M.Kn. sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
AHU-AH.01.09-0294918 tanggal 26 Mei 2026, ABB telah melakukan perubahan susunan
Dewan Komisaris, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi ABB menjadi sebagai
berikut:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama : Hendra Hutahean
Komisaris : Oentoro Surya
Roberto Dwi Handoko
Chintya Theresa Am
Brian Wibisono Surya
Direksi:
Direktur Utama : Eko Susanto
Direktur Keuangan : Grindo Nugroho
Direktur Pemasaran : Ignatius Stanley Hendarto
Direktur Operasional : Erdhani Febriyanto
Direktur Teknis dan Rekayasa : Bhra Jalesvianto Basuki
5. Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, kesamaan manajemen UNTR,
ABB dan TTA adalah sebagai berikut:
Halaman 12 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 14
• Hubungan afiliasi dari segi kepengurusan
Nama Perseroan TTA ABB
Franciscus Xaverius Laksana Kesuma Presiden Komisaris - -
Rudy Komisaris - -
Gita Tiffani Boer Komisaris - -
Djoko Pranoto Santoso Komisaris - -
Lincoln Pan Komisaris - -
Paulus Bambang Widjanarko Komisaris Independen - -
Ignasius Jonan Komisaris Independen - -
Bruce Malcolm Cox Komisaris Independen - -
Iwan Hadiantoro Presiden Direktur - -
Idot Supriadi Direktur - -
Ari Sutrisno Direktur Presiden Komisaris -
Widjaja Kartika Direktur - -
Vilihati Surya Direktur - -
Hendra Hutahean Direktur Presiden Direktur Komisaris Utama
Andreas Direktur - -
Tony Susanto Halim - Direktur -
Arianto Sasono - Direktur -
Oentoro Surya - - Komisaris
Roberto Dwi Handoko - - Komisaris
Chintya Theresa Am - Komisaris Komisaris
Brian Wibisono Surya - - Komisaris
Eko Susanto - Direktur Direktur Utama
Grindo Nugroho - - Direktur Keuangan
Ignatius Stanley Hendarto - - Direktur Pemasaran
- - Direktur Teknis dan
Bhra Jalesvianto Basuki
Rekayasa
- - Direktur
Erdhani Febriyanto
Operasional
Berdasarkan tabel hubungan afiliasi dari segi kepengurusan diketahui bahwa terdapat kesamaan
manajemen pada Perseroan, TTA dan ABB.
Halaman 13 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 15
BAB II
ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI
2.1. Latar Belakang Rencana Transaksi
Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan
untuk mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang
memadai guna memenuhi kebutuhan modal kerja serta menjaga kelancaran kegiatan usaha ABB.
Atas hal tersebut, ABB bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan
sebagai sumber pembiayaan modal kerja untuk mendukung pelaksanaan kegiatan operasional.
Dengan transaksi ini ABB diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk
menjaga kesinambungan operasional perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan
pengembangan perusahaan secara keseluruhan.
2.2. Maksud dan Tujuan Rencana Transaksi
Maksud dan tujuan Rencana Transaksi adalah pemberian pinjaman oleh TTA kepada ABB untuk
mendukung modal kerja.
2.3. Objek Rencana Transaksi
Berdasarkan Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB dengan total Fasilitas Pinjaman yang
diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika
Serikat). Atas dasar hal tersebut di atas, maka objek Rencana Transaksi dalam hal ini adalah
pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara dengan
Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-).
2.4. Identifikasi Pihak-Pihak Yang Bertransaksi
Pihak-pihak yang bertransaksi dalam Rencana Transaksi adalah TTA, selaku pemberi pinjaman,
ABB, selaku penerima pinjaman dan UNTR, selaku perusahaan publik yang laporan keuangannya
terdampak secara konsolidasi atas Rencana Transaksi.
a. PT United Tractors (”UNTR”)
Riwayat Singkat
Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H.. Akta
Pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita
Negara No. 31, Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
Anggaran Dasar UNTR telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02 TAHUN 2025.
Halaman 14 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 16
Selain itu, UNTR telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan
Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat pemberitahuan
penerimaan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei
2025 No. AHU-AH.01.09-0238092.
UNTR mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. UNTR berkedudukan di Jakarta,
Indonesia.
Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan
yang didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah
Jardine Cycle & Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle &
Carriage Ltd. adalah anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang
didirikan di Bermuda.
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025 susunan pemegang
saham adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Susunan Pemegang Saham UNTR
Keterangan Jumlah Saham (%) Nominal (Rp)
PT Astra International Tbk 2.219.317.358 59,50% 554.829.000.000
Masyarakat (masing-masing kepemilikan 1.357.478.878
36,39% 338.353.000.000
di bawah 5%)
Saham Tresuri 153.338.900 4,11% 39.352.000.000
Jumlah 3.730.135.136 100,00% 932.534.000.000
Sumber: Laporan Keuangan UNTR 31 Desember 2025
*Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak mengalami
perubahan, namun terdapat perubahan jumlah pada saham masyarakat dan saham treasuri sebagaimana tercantum
dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi UNTR
Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-AH.01.09- 0238092, susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Djony Bunarto Tjondro
Wakil Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Djoko Pranoto Santoso
Benjamin Herrenden Birks
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Ignasius Jonan
Halaman 15 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 17
Bruce Malcolm Cox
Direksi
Presiden Direktur : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
Direktur : Loudy Irwanto Ellias
Iwan Hadiantoro
Idot Supriadi
Ari Sutrisno
Widjaja Kartika
Vilihati Surya
Hendra Hutahean
Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian
Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
Kegiatan Usaha
Ruang lingkup kegiatan utama UNTR dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
meliputi penjualan dan penyewaan alat berat beserta pelayanan purna jual; penambangan
dan kontraktor penambangan; pengolahan mineral; rekayasa, perencanaan, perakitan, dan
pembuatan komponen mesin, alat, peralatan, dan alat berat; pembuatan kapal serta jasa
perbaikannya; penyewaan kapal dan angkutan pelayaran; industri konstruksi; dan energi.
b. PT Tuah Turangga Agung (”TTA”)
Riwayat Singkat
TTA didirikan pada tanggal 11 Mei 2006 berdasarkan Akta No. 21 dibuat di hadapan
Darmawan Tjoa, S.H., S.E., notaris di Jakarta, yang telah disahkan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Pemberitahuan No. C-14949
HT.01.01.TH.2006 tanggal 19 Mei 2006.
Anggaran Dasar TTA telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan terakhir
berdasarkan pada Akta Notaris No. 7 tertanggal 11 Mei 2022 dibuat di hadapan Jose Dima
Satria, S.H., M.Kn. yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia RI dalam Keputusan No. AHU-0047532.AH.01.02.Tahun 2022 tertanggal 11 Juli
2022.
Selain itu, TTA telah melakukan perubahan susunan Dewan Komisaris Perusahaan
Sebagaiman termuat dalam Akta Notaris No. 171 tertanggal 31 Mei 2024 oleh Jose Dima
Satria, S.H., M.Kn. dan telah diterima dan dicatat oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia melalui surat No. AHU-AH.0109-0214552 tanggal 14 Juni 2024.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 2025, tidak terdapat perubahan Anggaran Dasar TTA.
TTA berkedudukan di Jakarta Timur dan saat ini beroperasi di Kalimantan Selatan, Kalimantan
Tengah, dan Singapura. Kantor pusat beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9, Kawasan Industri
Pulogadung, Jakarta. TTA merupakan anak usaha Perseroan.
Halaman 16 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 18
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasion 31 Desember 2025, susunan pemegang saham
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Susunan Pemegang Saham TTA
Keterangan Jumlah Saham Nominal (Rp) (%)
PT Pamapersada Nusantara 6.079.076 4.559.307.000.000 72,73%
UNTR 2.278.781 1.709.086.000.000 27,27%
Jumlah 8.357.857 6.268.393.000.000 100.00%
Sumber: Laporan keuangan TTA, 31 Desember 2025
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi TTA
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian TTA per 31 Desember 2025, berikut susunan
Dewan Komisaris dan Direksi TTA adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris : Ari Sutrisno
Chinthya Theresa
Direksi
Presiden Direktur : Hendra Hutahean
Direktur : Tony Susanto H
Arianto Sasono
Efredi Yudianto
Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
Dewan Komisaris dan Direksi TTA seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian
Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
Kegiatan Usaha
TTA dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”) bergerak di bidang pertambangan batu
bara area konsesi pertambangan milik sendiri dan perdagangan batu bara.
Laporan keuangan konsolidasian meliputi akun-akun TTA dan entitas anak yang
signifikan sebagai berikut:
Tabel 2.2 Penyertaan TTA
Perusahaan Kegiatan Usaha (%)
Kepemilikan Langsung
PT Suprabari Mapanindo Mineral (“SMM”) Konsesi Pertambangan 80,00%
PT Prima Multi Mineral (“PMM”) Perdagangan Batu bara 99,83%
PT Kadya Caraka Mulia (“KCM”) Konsesi Pertambangan 99,90%
PT Telen Orbit Prima (“TOP”) Konsesi Pertambangan 99,99%
PT Duta Nurcahya (“DN”) Konsesi Pertambangan 60,00%
Halaman 17 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 19
Perusahaan Kegiatan Usaha (%)
PT Asmin Bara Bronang (“ABB”) Konsesi Pertambangan 75,40%
PT Asmin Bara Jaan (“ABJ”) Konsesi Pertambangan 75,40%
PT Duta Sejahtera (“DS”) Konsesi Pertambangan 60,00%
PT Agung Bara Prima (“ABP”) Konsesi Pertambangan 100,00%
Perusahaan induk atas konsesi
PT Borneo Berkat Makmur (“BBM”)* -
pertambangan
Turangga Resources Pte. Ltd (“TRE”) Perdagangan batubara 100,00%
Kepemilikan Tidak Langsung
PT Piranti Jaya Utama (“PJU”)* Konsesi Pertambangan 100,00%
Sumber : Laporan Keuangan TTA, 31 Desember 2025
*Dekonsolidasi karena telah dijual kepada pihak ketiga pada tahun 2025
c. PT Asmin Bara Bronang (“ABB”)
Riwayat Singkat
ABB didirikan pada tanggal 11 September 1992 berdasarkan Akta No. 49 oleh Sutjipto, S.H.,
notaris di Jakarta. Akta pendirian telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-3983 HT.01.01.TH’93 tanggal 29 Mei
1993 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 76 tanggal 21 September 1993,
Tambahan No. 4426.
Anggaran Dasar ABB telah mengalami beberapa perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
terakhir berdasarkan pada Akta Notaris No. 03 tertanggal 1 September 2021 oleh Agung Sri
Wijayanti, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri
Hukum dan Hak Aasasi Manusia Republik Indonesia dalam Keputusan No. AHU-
0048907.AH.01.02.Tahun 2021 tanggal 10 September 2021.
Selain itu, ABB telah melakukan perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan
yang dimuat dalam Akta Notaris No. 4 tertanggal 6 Mei 2025 oleh Agung Sri Wijayanti, S.H.,
M.Kn., notaris di Jakarta Dan telah diterima dan dicatat oleh Menteri Hukum Republik
Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.AHU-AH.01.09-0230752 tanggal 9 Mei 2025.
ABB berkedudukan di Jakarta Timur dan beroperasi di Kalimantan Tengah. Kantor pusat
beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. ABB adalah
anak perusahaan UNTR.
Struktur Permodalan dan Kepemilikan Saham ABB
Berdasarkan informasi yang tersaji dalam laporan keuangan ABB per 31 Desember 2025,
berikut merupakan struktur permodalan dan kepemilikan saham ABB:
Tabel 2.3 Susunan Pemegang Saham ABB
Nominal
Keterangan Jumlah Saham (%)
(USD)
TTA 202.012 21.473.425 75.40%
PT Andalan Teguh Berjaya 41.260 4.385.819 15,40%
Halaman 18 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 20
Nominal
Keterangan Jumlah Saham (%)
(USD)
PT Mandira Sanni Pratama 24.649 2.620.099 9,20%
Jumlah 267.921 28.479.343 100,00%
Sumber: Laporan Keuangan ABB per 31 Desember 2025
Susunan Pengurus ABB
Berdasarkan laporan keuangan ABB yang berakhir pada 31 Desember 2025. Sehingga
susunan Dewan Komisaris dan Direksi ABB adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama : Hendra Hutahean
Komisaris : Oentoro Surya
Roberto Dwi Handoko
Chintya Theresa
Brian Wibisono Surya
Direksi:
Direktur Utama : Efredi Yudianto
Direktur Operasional : Eko Susanto
Direktur Keuangan : Grindo Nugroho
Direktur Pemasaran : Ignatius Stanley Hendarto
Direktur Teknis dan Rekayasa : Bhra Jalesvianto Basuki
Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
Direksi ABB seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal
Penilaian (Subsequent Events).
Kegiatan Usaha
Aktivitas utama ABB adalah menjalankan usaha di bidang pertambangan batubara.
Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2013.
2.5. Hubungan Pihak-Pihak Yang Bertransaksi
Hubungan pihak-pihak bertransaksi, berdasarkan kepemilikan saham dan kepengurusan saham
pada tanggal 31 Desember 2025, adalah sebagai berikut:
• Hubungan afiliasi dari segi kepengurusan
Nama Perseroan TTA ABB
Djony Bunarto Tjondro Presiden Komisaris - -
Rudy Wakil Presiden Komisaris - -
Gita Tiffani Boer Komisaris - -
Djoko Pranoto Santoso Komisaris - -
Benjamin Herrenden Birks Komisaris - -
Paulus Bambang Widjanarko Komisaris Independen - -
Ignasius Jonan Komisaris Independen - -
Halaman 19 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 21
Nama Perseroan TTA ABB
Bruce Malcolm Cox Komisaris Independen - -
Franciscus Xaverius Laksana Kesuma Presiden Direktur Presiden Komisaris -
Loudy Irwanto Ellias Direktur - -
Iwan Hadiantoro Direktur - -
Idot Supriadi Direktur - -
Ari Sutrisno Direktur Komisaris -
Widjaja Kartika Direktur - -
Vilihati Surya Direktur - -
Hendra Hutahean Direktur Presiden Direktur Komisaris Utama
Tony Susanto H - Direktur -
Arianto Sasono - Direktur -
Oentoro Surya - - Komisaris
Roberto Dwi Handoko - - Komisaris
Chintya Theresa Am - Komisaris Komisaris
Brian Wibisono Surya - - Komisaris
Efredi Yudianto - Direktur Direktur Utama
- - Direktur
Eko Susanto
Operasional
Grindo Nugroho - - Direktur Keuangan
Ignatius Stanley Hendarto - - Direktur Pemasaran
- - Direktur Teknis dan
Bhra Jalesvianto Basuki
Rekayasa
Berdasarkan tabel hubungan afiliasi dari segi kepengurusan diketahui bahwa terdapat kesamaan
manajemen pada Perseroan, TTA dan ABB.
Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan kesamaan
manajemen seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal
Penilaian (Subsequent Events).
• Hubungan afiliasi dari segi kepemilikan saham
UNTR Anak Usaha UNTR
27,27% 72,73%
TTA Pemegang Saham Lainya
75,40% 24,60%
ABB
Sumber: Manajemen ABB
• Materialitas Nilai Rencana Transaksi
Berdasarkan Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB dengan total Fasilitas Pinjaman
yang diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar
Halaman 20 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 22
Amerika Serikat). Atas dasar hal tersebut di atas, maka objek Rencana Transaksi dalam hal ini
adalah pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- (kurs
Rp 16.782,-).
Materialitas Nilai Rencana Transaksi dilakukan dengan membandingkan nilai Rencana
Transaksi dengan ekuitas UNTR periode 31 Desember 2025.
Tabel 2.4 Nilai Rencana Transaksi berbanding Ekuitas UNTR (Juta Rupiah)
Total Nilai Rencana Ekuitas Perseroan Per 31
Keterangan %
Transaksi Desember 2025
Rencana Transaksi 671.280 103.136.323 0,65%
Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR periode yang berakhir
31 Desember 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, jumadi, Rianto &
Rekan, ekuitas UNTR tercatat sebesar Rp 103.136.323 juta dan nilai transaksi sebesar USD
40.000.000,- atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-). maka Rencana
Transaksi sebesar 0,65% dari ekuitas Perseroaan dengan demikian bukan merupakan
transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK 17.
2.6. Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati dalam Rencana Transaksi
TTA dan ABB telah membuat Perjanjian Pinjaman No. 009/TTA-KTR/VI/2026, dimana Pemberi
Pinjaman setuju untuk menyediakan kepada Penerima Pinjaman, fasilitas pembiayaan sejumlah
USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat). Berikut ketentuan yang tertuang
dalam Perjanjian pinjaman:
1. ABB selaku penerima pinjaman mengajukan permohonan kepada TTA selaku pemberi
pinjaman untuk memperoleh pinjaman sejumlah USD40.000.000 (empat puluh juta Dolar
Amerika Serikat) yang akan digunakan untuk kebutuhan operasional berupa pembiayaan
modal kerja bagi ABB.
2. Tingkat suku bunga yang disepakati Adalah Term Secured Overnight Financing Rate (SOFR)
ditambah margin.
3. Para pihak setuju untuk menetapkan Margin senilai 1,63% (satu koma enam puluh tiga
persen) per tahun.
4. Periode bunga, setiap periode bunga untuk pinjaman adalah satu, dua, tiga atau enam bulan
(atau periode lain yang disepakati). Periode bunga pertama atas pinjaman yaitu dari tanggal
pencairan. Setiap periode bunga berikutnya adalah periode yang diberitahukan oleh ABB
kepada TTA sebelum hari terakhir pada periode bunga yang bersangkutan. Bila penerima
pinjaman tidak memberikan pemberitahuan, periode bunga berikutnya adalah sama
lamanya dengan periode bunga yang sebelumnya.
5. Pembayaran bunga, ABB setuju untuk membayar bunga harian atas pinjaman yang tertagih
sampai seluruh pinjaman telah dibayar penuh pada jumlah yang setara dengan tingkat suku
bunga. Bunga diperhitungkan sejak dan termasuk hari pertama dari suatu periode bunga
sampai dengan tapi tidak termasuk hari terakhir dari periode bunga. Bunga diperhitungkan
dari hari ke hari, wajib dibayarkan pada hari terakhir dari setiap periode bunga dan
diperhitungkan berdasarkan jumlah hari aktual dan berdasarkan 360 hari dalam setahun.
Bunga terhutang yang tidak dibayar saat jatuh tempo akan diperhitungkan kembali oleh TTA
pada hari pertama pada setiap periode bunga selanjutnya.
Halaman 21 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 23
6. Waktu berlakunya fasilitas 5 tahun setelah tanggal perjanjian.
7. TTA selaku pemberi pinjaman dapat mengalihkan sebagian atau seluruh haknya
berdasarkan draft perjanjian pijaman (Loan Agreement).
Halaman 22 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 24
BAB III
ANALISIS TENTANG KEWAJARAN TRANSAKSI
3.1. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan
Dalam menilai kewajaran Rencana Transaksi, kami menggunakan metodologi analisis sebagai
berikut:
a. Analisis atas Rencana transaksi pembelian saham.
b. Analisis kualitatif dan kuantitatif atas Rencana transaksi pembelian saham.
c. Analisis kewajaran Rencana Transaksi pembelian saham.
d. Alalisis atas faktor lain yang relevan.
3.2. Analisis atas Rencana Transaksi
a. Latar belakang Rencana Transaksi
Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan
untuk mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang
memadai guna memenuhi kebutuhan modal kerja serta menjaga kelancaran kegiatan usaha. Atas
hal tersebut, ABB bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan sebagai
sumber pembiayaan modal kerja untuk mendukung pelaksanaan kegiatan operasional. Dengan
transaksi ini ABB diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk menjaga
kesinambungan operasional perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan pengembangan
perusahaan secara keseluruhan.
b. Analisis Manfaat dan Risiko Rencana Transaksi
1. Analisis Manfaat Rencana Transaksi
Rencana Transaksi memberikan sejumlah manfaat bagi UNTR secara konsolidasi, yaitu ABB
akan mendapatkan dukungan pendanaan dalam bentuk pinjaman dari TTA yang
merupakan induk usaha ABB untuk mendanai kegiatan pengeluaran modal kerja dan
kegiatan operasional ABB, dimana TTA dan ABB merupakan anak usaha langsung dan tidak
langsung UNTR, sehingga dengan adanya transaksi ini, diharapkan dapat menjaga efisiensi
pengelolaan sumber daya keuangan dalam grup serta memitigasi resiko bisnis dan
keuangan.
2. Analisis Risiko Rencana Transaksi
• Risiko gagal bayar: Risiko ini berkaitan dengan permasalahan kemampuan ABB dalam
memenuhi kewajiban atas pelunasan pinjaman yang berpengaruh terhadap income TTA
yang juga akan mengurangi porsi dividen yang akan diterima UNTR.
• Risiko tidak tercapainya proyeksi keuangan: Risiko ini berkaitan terhadap pencapaian
kinerja keuangan ABB.
Halaman 23 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 25
3.3. Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi
Analisis kualitatif atas Rencana Transaksi dilakukan dengan melihat kondisi perekonomian dan
tinjauan terhadap kinerja industri bidang usaha yang dijalankan serta melihat potensi atau
prospek usaha kedepannya.
a. Tinjauan Ekonomi Makro Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Global
Perekonomian global jangka pendek menunjukkan perbaikan, namun ketidakpastian masih
perlu terus diwaspadai. Ekonomi Jepang dan India tumbuh seiring meningkatnya dukungan
konsumsi rumah tangga dan kebijakan stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa tetap
baik, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan kondisi ketenagakerjaan.
Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2025 masih melambat, dipengaruhi oleh
dampak temporary government shutdown dan pelemahan pasar tenaga kerja. Prospek
ekonomi Tiongkok juga terus melambat akibat permintaan domestik yang masih lemah.
Di pasar keuangan global, Fed Funds Rate (FFR) turun sebesar 25 basis poin pada Desember
2025 dengan kecenderungan penurunan yang lebih terbatas ke depan. Tingkat imbal hasil
(yield) US Treasury tenor 2 tahun cenderung bergerak naik, sementara yield US Treasury tenor
10 tahun tetap tinggi sejalan dengan meningkatnya tingkat utang Pemerintah Amerika Serikat.
Perkembangan ini menyebabkan indeks mata uang AS (DXY) tetap berada pada level tinggi
dan membatasi aliran masuk modal asing ke pasar negara berkembang (emerging
markets/EM).
Prospek perekonomian global dalam jangka pendek membaik dibandingkan dengan
prakiraan sebelumnya. Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan dan dinamika
global terkini, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025
mencapai sekitar 3,2%.
Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dan perlu terus didorong agar sejalan dengan
kapasitas perekonomian. Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2025 membaik, didukung
oleh belanja sosial Pemerintah serta meningkatnya keyakinan rumah tangga terhadap kondisi
penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Perkembangan tersebut mendorong
peningkatan penjualan eceran pada berbagai kelompok barang. Investasi, khususnya
nonbangunan, turut membaik seiring dengan meningkatnya keyakinan pelaku usaha, yang
tercermin pada pola ekspansi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Permintaan
domestik tersebut perlu terus diperkuat sejalan dengan kinerja ekspor yang diprakirakan
melambat seiring berakhirnya frontloading ekspor ke Amerika Serikat serta menurunnya ekspor
besi baja ke Tiongkok dan minyak kelapa sawit (CPO) ke India. Secara sektoral, Lapangan
Usaha (LU) utama, yaitu LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, LU
Transportasi dan Pergudangan, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, tetap
menunjukkan kinerja yang positif.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) meningkat dan mendukung ketahanan eksternal. Surplus
neraca perdagangan berlanjut pada Oktober 2025 sebesar 2,4 miliar dolar AS, didukung oleh
ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam seperti batu bara serta minyak dan lemak nabati
(CPO), serta ekspor produk manufaktur seperti besi dan baja.
Halaman 24 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 26
Dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio pada triwulan IV 2025 (hingga 15
Desember 2025) mencatat net inflows sebesar 5,0 miliar dolar AS, ditopang oleh penerbitan
global bond Pemerintah dan inflows pada instrumen saham dan SRBI.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 meningkat menjadi sebesar
150,1 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan
pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan
internasional sekitar 3 bulan impor.
Grafik 3.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran
Tahun
Komponen
2019 2020 2021 2022 2023 2024 Tw III-2025
Konsumsi Rumah Tangga 5.04 -2.63 2.01 4.94 4.82 4.94 4.89
Konsumsi Lembaga Nonprofit yang
10.62 -4.21 1.62 5.66 9.83 12.48 4.28
Melayani Rumah Tangga
Konsumsi Pemerintah 3.27 2.12 4.25 -4.47 2.95 6.61 5.49
Investasi (PMTDB) 4.45 -4.96 3.80 3.87 4.40 4.61 5.04
Investasi Bangungn 5.37 -3.78 2.32 0.91 4.04 5.51 3.02
Investasi NonBangunan 1.83 -8.44 8.42 12.53 3.03 2.23 10.34
Ekspor -0.48 -8.42 17.99 16.23 1.32 6.51 9.91
Impor -7.13 -17.60 24.86 15.00 -1.65 7.95 1.18
PDB 5.02 -2.07 3.70 5.31 5.05 5.03 5.04
Sumber: Bank Indonesia, 2026
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekomi Indonesia yang dipublikasikan oleh International
Monetary Fund (IMF), perkembangan PDB Indonesia mengalami sedikit penurunan pada tahun
2025 yaitu tercatat 4,9%. Pada periode berikutnya terjadi peningkatan hingga tahun 2030 atau
tercatat sebesar 5,1%.
Grafik 3.2 Proyeksi PDB dan Pertumbuhan PDB Indonesia 2026-2030
20.000.000 5,1% 5,2%
5,1% 5,2%
5,1%
15.000.000 5,1%
Billion Rupiah
4,9% 5,0% 5,0% 5,0%
10.000.000 5,0%
4,9% 4,9%
4,9%
5.000.000 4,8%
4,8%
- 4,7%
2025 2026 2027 2028 2029 2030
GDP, constant prices GDP, constant prices
Sumber: International Monetary Fund (IMF), diolah
Halaman 25 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 27
Inflasi
Inflasi secara umum tetap terjaga dalam kisaran sasaran, dengan inflasi IHK pada November
2025 tercatat sebesar 2,72% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang tetap
terjaga sebesar 2,36% (yoy), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih berada di
bawah kapasitas potensial serta didukung oleh konsistensi suku bunga kebijakan moneter Bank
Indonesia dalam menjangkar ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya dan imported
inflation yang tetap terkendali.
Inflasi kelompok administered prices (AP) terjaga rendah sebesar 1,58% (yoy). Sementara itu,
inflasi kelompok volatile food (VF) masih relatif tinggi sebesar 5,48% (yoy), yang terutama
disumbang oleh komoditas bawang merah seiring dengan pasokan yang terbatas akibat
gangguan cuaca dan kenaikan harga benih.
Grafik 3.3 Perkembangan Inflasi
Sumber: Bank Indonesia, 2026
Proyeksi Inflasi Indonesia
Berdasarkan peoyeksi Inflasi harga kustomer rata-rata Indonesia yang dipublikasikan oleh
International Monetary Fund (IMF), prakiraan rata-rata Inflasi Indonesia selama periode 2025
sampai dengan 2030 adalah 2,5% dengan pertumbuhan tertinggi diperkirakan akan terjadi
pada tahun 2026 dengan prakiraan inflasi sebesar 2,9% dimana dicatatkan, sedangkan
prakiraan inflasi pada tahun 2025 adalah sebesar 1,8%.
Halaman 26 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 28
Grafik 3.4 Proyeksi Inflasi Harga Kustomer Rata-Rata 2025-2029
3,5%
2,9%
3,0%
2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
2,5% 2,5%
1,8%
2,0%
1,5%
1,0%
0,5%
0,0%
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Inflation, average consumer prices Average
Sumber: International Monetary Fund (IMF), diolah
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah tetap terkendali, didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta
aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik. Nilai tukar Rupiah pada 16
Desember 2025 tercatat sebesar Rp16.685 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan
level akhir November 2025. Perkembangan nilai tukar Rupiah masih sejalan dengan
pergerakan mata uang regional dan mitra dagang Indonesia, bahkan tercatat menguat
dibandingkan dengan mata uang negara maju, kecuali dolar AS. Perkembangan ini didukung
oleh langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar NDF, baik offshore maupun
onshore (DNDF), di pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder, serta inflows pada
saham dan SRBI.
Selain itu, tambahan pasokan valas dari korporasi, termasuk dari peningkatan konversi valas
ke Rupiah oleh eksportir seiring dengan penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor
Sumber Daya Alam (DHE SDA), turut mendukung tetap terkendalinya nilai tukar Rupiah.
Tingkat Suku Bunga
Bank Indonesia memandang efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap
penurunan suku bunga perbankan perlu terus didorong. Pelonggaran kebijakan moneter yang
telah ditempuh Bank Indonesia dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Pemerintah
di perbankan perlu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan lebih cepat. Seiring
dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas
moneter Bank Indonesia, suku bunga INDONIA turun sebesar 191 bps dari 6,03% pada awal
2025 menjadi 4,12% pada 16 Desember 2025.
Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 226
bps, 226 bps, dan 228 bps sejak awal Januari 2025 menjadi 4,90%; 4,94%; dan 4,98% pada
12 Desember 2025. Imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun menurun sebesar 199 bps dari 6,96%
pada awal 2025 menjadi 4,97% pada 16 Desember 2025, sementara untuk tenor 10 tahun
menurun sebesar 110 bps dari tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025
menjadi 6,16%. Transmisi penurunan BI-Rate terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut,
terutama pada suku bunga dana.
Halaman 27 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 29
Suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 67 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,14%
pada November 2025. Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih
lambat dan karenanya perlu terus didorong, yaitu sebesar 24 bps dari 9,20% pada awal 2025
menjadi sebesar 8,96% pada November 2025.
Grafik 3.5 Tingkat Suku Bunga
Sumber: Bank Indonesia, 2026
Pembiayaan Kredit
Peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan.
Kredit perbankan pada November 2025 tercatat tumbuh sebesar 7,74% (yoy), meningkat dari
7,36% (yoy) pada bulan sebelumnya. Permintaan kredit terindikasi belum kuat dipengaruhi
oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi,
serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat. Fasilitas pinjaman yang belum
dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.509,4
triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia. Sementara dari sisi penawaran, kapasitas
pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga
(AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03%
(yoy) pada November 2025.
Perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran KLM Bank
Indonesia, serta ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada
beberapa bank besar. Minat penyaluran kredit perbankan umumnya juga masih baik yang
tecermin pada persyaratan pemberian kredit ( lending requirement) yang semakin longgar,
kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua
segmen tersebut. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM November 2025 yang
terkontraksi sebesar 0,64% (yoy).
Halaman 28 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 30
Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit/Pembiayaan
Sumber: Bank Indonesia, 2026
b. Tinjauan Industri di Indonesia
Industri Batu Bara
HBA adalah Harga Batu bara Acuan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). HBA digunakan sebagai dasar untuk menghitung
Harga Patokan Batu bara (HPB), serta sebagai acuan dalam kontrak ekspor dan transaksi antar
perusahaan Batu bara.
Penetapan HBA sejak 2025 diatur dalam Kepmen ESDM No. 72.K/MB.01/MEM.B/2025
tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Komoditas Mineral Logam dan Batu bara.
Regulasi tersebut menetapkan diantaranya adalah sebagai berikut :
• Penetapan HBA dan HMA (Harga Mineral Acuan) dilakukan dua kali sebulan (tanggal
1 dan 15).
• Lobak untuk batu bara yang memenuhi spesifikasi (rentang kalori 6.100-6.500 kcal/kg
GAR) pada periode tertentu.
• Mulai 1 Maret 2025, HBA menjadi acuan wajib bagi ekspor batu bara.
Pemerintah memisahkan HBA berdasarkan 4 kategori, yaitu Batu bara dengan kalori tinggi
dan kalori rendah (HBA 1, HBA 2, dan HBA 3). Sepanjang tahun 2025, pasar Batu bara
mengalami fluktuasi yang cukup dinamis. Secara umum, harga mencapai puncaknya pada
awal semester pertama (Maret) dan mengalami tren moderasi serta stabilisasi di semester
kedua menuju akhir tahun.
Untuk Kinerja Batu bara Utama (Kalori Tinggi) harga tertinggi tercatat pada awal Maret 2025
yaitu berkisar USD128,24/ton. Namun, harga mengalami tekanan hingga sempat menyentuh
titik terendah pada pertengahan tahun di bulan Juli 2025 dengan posisi USD97,65/ton.
Memasuki akhir tahun 2025, harga Batu bara utama menunjukkan upaya pemulihan
(recovery). Sempat kembali menguat ke angka USD109,74/ton pada Oktober sebelum
akhirnya menutup tahun di kisaran USD100,81/ton pada Desember 2025.
Selanjutnya Kategori HBA 1, mengawali tahun di angka USD83,95/ton (Januari 2025).
Sepanjang tahun, kategori ini mengalami penurunan bertahap dan menunjukkan stabilisasi di
Halaman 29 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 31
level USD67 - USD69/ton pada kuartal terakhir tahun 2025. Kemudian kategori HBA 2 relatif
stabil di angka USD50/ton hingga pertengahan tahun (Juni 2025). Terjadi koreksi pada
semester kedua, di mana harga bergerak di kisaran USD43 - USD45/ton dan berakhir di posisi
USD45,44/ton pada periode kedua Desember.
Untuk Kategori terakhir, HBA 3 menunjukkan tingkat volatilitas yang paling rendah
dibandingkan kategori lainnya. Harga konsisten bergerak di rentang USD32 hingga
USD36/ton. Pada akhir tahun (Desember 2025), HBA 3 menunjukkan tren penguatan tipis
menuju level USD35,02/ton, mencerminkan permintaan yang tetap solid untuk segmen Batu
bara kalori rendah.
Tahun 2025 ditutup dengan kondisi pasar yang lebih stabil dibandingkan awal tahun.
Meskipun terjadi penurunan harga dibandingkan level tertinggi di bulan Maret, mayoritas
kategori Batu bara menunjukkan pergerakan yang positif/rebound di bulan Desember 2025:
• Batu bara Utama: USD100,81 (Tumbuh 2,59% dibandingkan periode pertama
Desember 2025)
• HBA 1: USD69,93 (Tumbuh 2,85% dibandingkan periode pertama Desember 2025)
• HBA 2: USD45,44 (Tumbuh 2,41% dibandingkan periode pertama Desember 2025)
• HBA 3: USD35,02 (Tumbuh 2,54% dibandingkan periode pertama Desember 2025).
Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand.
Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara
supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun
berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi
lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.
Detail pergerakan harga dan perbandingan tren antar kategori Batu bara secara visual dapat
diamati pada grafik di bawah ini:
Grafik 3.7 Harga Batu Bara Acuan Januari 2020 – Desember 2025 (USD/Ton)
Sumber: Kementerian ESDM, 2026
Halaman 30 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 32
Grafik 3.8 Tabel Harga Batu Bara 3 Bulan Terakhir 2025 (dalam USD/ton)
Oct-25 Oct-25 Nov-25 Nov-25 Dec-25 Dec-25
Komoditas (Periode (Periode (Periode (Periode (Periode (Periode
Pertama) Kedua) Pertama) Kedua) Pertama) Kedua)
Batu bara 106,94 109,74 103,75 102,03 98,26 100,81
Batu bara (HBA I) 64,84 67,76 67,22 67,29 67,99 69,93
Batu bara (HBA II) 43,12 43,71 44,02 44,29 44,37 45,44
Batu bara (HBA III) 32,95 33,92 33,74 33,88 34,15 35,02
Sumber: Kementrian ESDM. 2026
Produksi dan Ekspor Batu Bara Indonesia
Produksi dan ekspor Batu bara Indonesia menunjukkan tren kenaikan yang konsisten
sepanjang 2020–2024, meskipun dengan dinamika yang dipengaruhi kondisi ekonomi
nasional dan global. Produksi meningkat signifikan dari 565,6 juta ton pada 2020 menjadi
836,1 juta ton pada 2024. Kenaikan ini tidak lepas dari pulihnya aktivitas industri
pascapandemi serta tingginya permintaan domestik, terutama dari sektor pembangkit listrik
PLN dan industri berbasis energi. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Domestic Market
Obligation (DMO) yang mendorong peningkatan suplai untuk kebutuhan dalam negeri.
Sementara itu, tren ekspor sempat menurun pada 2021 akibat pembatasan ekspor dan
ketidakpastian pasar global, tetapi kembali tumbuh kuat setelah 2022 seiring lonjakan
permintaan dari negara-negara Asia Timur dan Asia Selatan.
Grafik 3.9 )Produksi Batu bara dan Ekspor 2020–2024
Sumber: Statistik Pertambangan Nonminyak dan Gas Bumi 2020–2024, BPS 2025
Sejak 2022, ekspor meningkat tajam dari 367,9 juta ton menjadi 555,3 juta ton pada 2024.
Kenaikan ini berkaitan erat dengan krisis energi global akibat perang Rusia–Ukraina yang
menyebabkan banyak negara mengalihkan sumber energi ke batu bara sebagai alternatif
sementara. Selain itu, kebijakan transisi energi yang berjalan lebih lambat dari perkiraan di
beberapa negara membuat permintaan Batu bara tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan listrik
industri dan domestik.
Halaman 31 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 33
Di sisi lain, pertumbuhan produksi Indonesia juga dipengaruhi oleh melemahnya harga Batu
bara global pada 2020 akibat pandemi, yang kemudian disusul kenaikan harga drastis pada
2022–2023. Lonjakan harga ini mendorong produsen Indonesia meningkatkan output untuk
memaksimalkan keuntungan. Pada 2024, peningkatan produksi yang mencapai 836 juta ton
juga mencerminkan respons pelaku industri terhadap pasar global yang masih kuat, meski
mulai ada sinyal penurunan harga akibat stabilisasi energi dunia dan percepatan penggunaan
energi terbarukan di beberapa negara Eropa dan Asia.
Secara keseluruhan, pertumbuhan produksi dan ekspor Batu bara Indonesia sangat
dipengaruhi dinamika global, terutama kebutuhan energi dunia dan ketegangan geopolitik,
serta kebijakan nasional seperti DMO, perizinan tambang, dan strategi pemerintah dalam
mengelola penerimaan negara. Tren ini juga menggambarkan posisi Indonesia sebagai salah
satu pemasok Batu bara termal terbesar di dunia, sekaligus menunjukkan tantangan jangka
panjang dalam menghadapi transisi energi global yang mulai menekan permintaan Batu bara
secara bertahap di masa depan.
Jika dilihat dari peringkat global, berdasarkan publikasi Asosiasi Pertambangan Indonesia –
Indonesian Mining Association (API-IMA) pada tahun 2024 Indonesia menempati peringkat
ketiga sebagai produsen batu bara terbesar di dunia setelah China dan India. Melalui volume
produksi sebesar 836,1 juta ton, Indonesia berhasil menguasai 9,0% pangsa pasar batu bara
global. Capaian Indonesia ini melampaui produksi negara-negara besar lainnya seperti
Amerika Serikat (464,6 juta ton), Australia (462,9 juta ton), dan Rusia (427,2 juta ton).
Keberhasilan Indonesia mempertahankan posisi sebagai produsen utama dunia pada 2024
membawa pengaruh pada kebijakan kuota produksi di tahun berikutnya. Pada tahun 2025,
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa produksi nasional
berhasil menembus angka 790 juta ton. Jumlah ini melampaui target yang ditetapkan sebesar
739 juta ton, walaupun masih berada di bawah angka produksi tahun 2024. Dari jumlah
produksi tahun 2025, sebanyak 254 juta ton terserap untuk kebutuhan domestik, 514 juta ton
dialokasikan untuk ekspor, dan sisanya sekitar 22 juta ton digunakan sebagai stok.
Negara Tujuan Ekspor Batu bara di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor Batu bara terbesar di dunia. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi ekspor Batu bara Indonesia pada periode 2023 dan
2024 Indonesia telah mengekspor Batu bara ke berbagai negara di dunia, dengan negara
tujuan utama ekspor komoditas Batu bara adalah India, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan,
Taiwan, Malaysia, Philipina, Thailand, Hongkong, Spanyol dan Lainnya.
Halaman 32 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 34
Grafik 3.10 Ekspor Batu Bara Menurut Negara Tujuan Utama 2023-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) 2025
Secara keseluruhan, volume dan nilai ekspor Batu bara Indonesia menunjukkan dinamika yang
bervariasi di berbagai pasar strategis Asia. India sebagai tujuan ekspor terbesar Indonesia
dengan volume berat bersih yang melampaui 100 juta ton pada tahun 2023 dan 2024.
Meskipun secara volume stabil, terjadi penurunan nilai FOB (Free on Board) yang cukup
signifikan dari tahun 2023 sebesar US$ 7.256,2 juta menjadi US$ 6.245,8 juta pada tahun
2024.
Negara tujuan ekspor dengan volume terbesar kedua adalah Tiongkok, memiliki tren volume
ekspor yang meningkat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya yakni dari 81 juta
ton menjadi 93 juta ton. Namun, serupa dengan India, nilai ekonomi (FOB) dari ekspor ke
Tiongkok justru mengalami penurunan di tengah peningkatan volume tersebut.
Untuk pasar Asia Timur lainnya, yakni Jepang dan Korea Selatan menunjukkan pertumbuhan
volume berat bersih yang cukup konsisten pada tahun 2024. Taiwan juga mencatatkan
peningkatan volume ekspor yang stabil meskipun dengan skala yang lebih kecil dibandingkan
negara tetangganya.
Selanjutnya untuk kategori negara tujuan Lainnya juga memberikan kontribusi besar bagi
ekspor Indonesia, di mana terdapat lonjakan volume berat bersih pada tahun 2024 sebesar
49 juta ton dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 42 juta ton.
Pemanfaatan Batu bara di Indonesia
Saat ini Batu bara masih menjadi fondasi utama dalam bauran energi Indonesia, terutama
untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik. Di dalam memenuhi kebutuhan listrik, sebesar
67% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan Batu bara sebagai bahan bakarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sepenuhnya belum dapat melepaskan diri dan
sangat bergantung pada penggunaan Batu bara sebagai sumber energi meski dunia terus
bergerak menuju energi terbarukan.
Kita tentu sering mendengar kata “hilirisasi” atau Peningkatan Nilai Tambah (PNT) mineral dan
Batu bara digaungkan di negeri ini. Kebijakan hilirisasi di sektor mineral dan Batu bara
Halaman 33 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 35
merupakan program strategis nasional yang sedang dijalankan pemerintah hingga saat ini
dan juga akan dilanjutkan presiden terpilih yang diyakini sebagai langkah awal yang akan
membawa Indonesia dari negara berkembang menjadi negara industri maju. Dalam
menjalankan kegiatan hilirisasi tersebut, tentu saja industri-industri membutuhkan energi
dalam jumlah besar terutama untuk smelter nikel, bauksit- aluminium, tembaga dan industri
pengolahan/pemurnian lainnya. Selain memerlukan energi yang besar, industri-industri
tersebut juga memerlukan adanya pasokan listrik yang stabil. Contohnya berdasarkan
laporan International Energy Agency, untuk memproduksi satu ton nikel dengan metode
pirometalurgi dibutuhkan listrik yang cukup besar yaitu 13-15 MWh. Proses ini membutuhkan
energi besar karena menggunakan proses dengan suhu tinggi untuk mengolah bijih nikel laterit
menjadi ferronickel (FeNi) atau nickel pig iron (NPI). Indonesia, sebagai salah satu produsen
nikel terbesar di dunia, sangat membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung
proses produksinya. Hingga saat ini sebagian besar kebutuhan energi tersebut masih dipenuhi
dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis Batu bara. Oleh karena itu, Batu bara
akan tetap menjadi tulang punggung utama dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia.
Meskipun ada dorongan kuat untuk menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya dan
angin, namun kondisi infrastruktur dan teknologi serta keekonomiannya belum siap untuk
menggantikan peran Batu bara dalam skala besar. Selain itu salah satu tantangan utama
penggunaan energi terbarukan adalah sifatnya yang intermittent yaitu ketidakmampuan untuk
menghasilkan listrik secara terus-menerus/kontinu sepanjang hari. Ketidakpastian ini tentu
menjadi kendala besar bagi sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan
konsisten. Industri seperti smelter nikel, memerlukan energi secara konstan untuk
mempertahankan produktivitas tinggi. Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, PLTU
berbasis Batu bara seharusnya masih menjadi solusi yang paling realistis dan efisien untuk
menjaga pasokan listrik nasional.
Optimalisasi pemanfaatan Batu bara dalam rangka peningkatan nilai tambah (PNT) ditinjau
dari rasio produksi pemanfaatan Batu bara untuk gasifikasi Batu bara dibanding dengan target
(DME, Syngas, Urea, Polypropylene).
Sejak tahun 2023 target produksi pemanfaatan Batu bara mengalami perubahan target
semula sebesar 500.000 ton, berubah menjadi 5.000 ton. Hal ini mempertimbangkan total
kapasitas maksimal input Batu bara dari fasilitas pengembangan dan/atau pemanfaatan Batu
bara yang sudah mulai berjalan/berproduksi yaitu pembuatan semikokas di PT Megah Energi
Khatulistiwa. Capaian peningkatan nilai tambah Batu bara tahun 2024 diperoleh dari
prognosa triwulan IV sebesar 3.050 ton atau sebesar 61% dari target sebesar 5.000 ton.
Permintaan produk peningkatan nilai tambah Batu bara khususnya briket di dalam negeri
masih belum banyak. Pemerintah mendorong hilirisasi Batu bara untuk dapat mensubstitusi
Bahan Bakar dan Bahan Baku Industri di dalam negeri diantaranya: Methanol dan DME,
sehingga dapat meningkatkan optimalisasi pemanfaatan Batu bara dalam negeri untuk
hilirisasi. Proyek hilirisasi Batu bara yang dilaksanakan beberapa perusahaan (seperti
Gasifikasi, Pembuatan Kokas/ Semikokas) diproyeksikan akan terbangun pada tahun 2026
sampai dengan tahun 2030.
Prognosa pemanfaatan Batu bara untuk Peningkatan Nilai Tambah Batu bara hingga triwulan
IV tahun 2024 mencapai 3.050 ton atau sebesar 30,5% dari target sebesar 50%. Dibandingkan
tahun 2020, 2021, 2022, dan 2023 dengan realisasi peningkatan nilai tambah sebesar 401
Halaman 34 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 36
ribu ton; 335 ribu ton; 295,5 ribu ton; dan 4.200 ton terdapat penurunan jumlah peningkatan
nilai tambah Batu bara dalam 5 tahun terakhir.
Grafik 3.11 Konsumsi Listrik di Indonesia
Rasio pemanfaatan Batu bara Tahun
untuk peningkatan nilai tambah
2020 2021 2022 2023 2024
Batu bara
Target PK (ton) 1.000.000 500.000 250.000 5.000 5.000
Realisasi (ton) 401.000 335.000 295.515 4.200 3.050
%Capaian 40,10% 67,00% 118,21% 84,00% 61,00%
Sumber: Laporan Kinerja Ditjen Minerba 2024, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara
Kementerian ESDM, 2025
Tidak tercapainya target tahun 2024 disebabkan belum banyaknya permintaan produk PNT
Batu bara khususnya briket di dalam negeri. Hal ini ditunjukan oleh realisasi penjualan briket
Batu bara di bawah target (demand lebih rendah), dimana masih banyak stok briket tahun
2023 yang ter-carry over ke tahun 2024. Oleh karena itu, dibutuhkan percepatan pelaksanaan
PNT Batu bara melalui kegiatan pengembangan dan pemanfaatan Batu bara di dalam negeri.
Pengembangan proyek PNT Batu bara lainnya adalah Coal to Dimethyl Ether (DME) yang
bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dengan mengganti porsi impor LPG.
Per 5 Maret 2024, PT Bukit Asam Tbk bersama calon mitranya yaitu East China Engineering
Science and Technology Co.,Ltd (ECEC) telah menandatangani perjanjian kerahasiaan dan
masih dalam tahap penjajakan lanjutan. Pembebasan lahan untuk kebutuhan pabrik DME
telah dilakukan seluas 163,87 ha (99%) dari total area 164 ha.
Berdasarkan publikasi Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam Indonesia Energy
Transition Outlook 2025, Konsumsi Batu bara industri naik sebesar 5% dari tahun 2022 ke
tahun 2023, dengan CAGR sebesar 32,4% sejak tahun 2017 (MEMR, 2024a). Konsumsi Batu
bara di subsektor besi, baja, dan metalurgi naik sebesar 20%, mencapai 60,1 Mt pada tahun
2023, didorong oleh pertumbuhan sebesar 14,2% (yoy) (MEMR, 2024a; Nurdifa, AR, 2024).
Peningkatan ini diatribusikan pada program “hilir”, yang telah secara signifikan meningkatkan
aktivitas di industri pertambangan dan pengolahan mineral, terutama dalam penyediaan nikel.
Sebaliknya, konsumsi Batu bara di subsektor semen, tekstil, dan pupuk menurun sebesar 25%,
sedangkan subsektor pulp dan kertas mengalami penurunan sebesar 16%. Pengurangan ini
merupakan hasil dari upaya dekarbonisasi, termasuk penggunaan bahan bakar alternatif
seperti RDF, limbah industri, dan biomassa, serta perlambatan permintaan pasar (Ember,
2024; Atmoko, C., 2024; Sayekti, IMS, 2024). Meskipun demikian, sektor industri masih sangat
bergantung pada batu bara, dengan transisi terbatas ke energi terbarukan dan bahan bakar
berkelanjutan. Sektor pengolahan mineral, khususnya, harus diprioritaskan untuk upaya
dekarbonisasi lebih lanjut.
Cadangan Batu bara di Indonesia
Data neraca sumber daya dan cadangan batu bara dalam sub bab ini merupakan potensi
batu bara yang tersingkap di permukaan sampai mencapai kedalaman kurang lebih 100 m di
bawah permukaan dan sesuai untuk ditambang dengan metode tambang terbuka ( open pit).
Halaman 35 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 37
Secara keseluruhan database batu bara pada tahun 2024 ini terdiri dari 1.656 lokasi yang
tersebar di 23 Provinsi di Indonesia. Data tersebut bersumber dari :
• 59 PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara);
• 6 IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus);
• 562 lokasi eks IUP (Izin Usaha Pertambangan); dan
• 160 lokasi hasil penyelidikan PSDMBP (Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara, dan
Panas Bumi).
Grafik 3.13 Kualitas Sumber Daya dan Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024
Sumber: Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia Tahun 2025,
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, 2025
Hasil rekapitulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral-Badan Geologi, menunjukkan
bahwa sampai bulan Desember tahun 2024 sumber daya batu bara Indonesia sebesar
97.960,76 juta ton sedangkan cadangan batu bara Indonesia sebesar 31.955,50 juta ton.
Berdasarkan nilai kalori batu bara dalam basis gar maka sumber daya batu bara Indonesia
terdiri atas :
• Batubara kalori rendah (≤ 4.200 kkal/kg (gar)) = 67.333,07 juta ton
• Batubara kalori sedang (> 4.200 s.d. 5.200 kkal/kg (gar)) = 15.526,30 juta ton
• Batubara kalori tinggi (≥ 5.200 kkal/kg (gar)) = 15.101,39 juta ton
Berdasarkan klasifikasinya, sumber daya batubara Indonesia dapat dibagi menjadi 3 kategori
dengan rincian sebagai berikut:
• Sumber daya tereka (25.952,90 juta ton)
• Sumber daya tertunjuk (32.232,44 juta ton)
• Sumber daya terukur (39.775,43 juta ton)
Nilai cadangan batubara Indonesia diperoleh dari laporan perusahaan pemegang izin usaha
PKP2B, IUPK, dan IUP. Nilai cadangan sampai akhir Desember 2024 yaitu cadangan terkira
sebesar 14.418,87 juta ton sedangkan cadangan terbukti sebesar 17.536,63 juta ton.
c. Prospek Usaha dan Rencana Ke Depan
Memasuki periode ke depan, termasuk tahun 2026, UNTR memandang bahwa lanskap
industry akan tetap diwarnai oleh volatilitas harga komoditas, ketidakpastian geopolitik global,
serta dinamika kebijakan nasional di sektor energi, pertambangan,
dan infrastruktur. Penurunan rencana produksi batu bara dan nikel nasional, percepatan
agenda transisi energi, serta fluktuasi harga batu bara dan nikel diperkirakan menjaga tingkat
persaingan tetap ketat, khususnya pada segmen kontraktor penambangan. Dalam konteks
tersebut, UNTR menilai bahwa ketahanan bisnis tidak lagi semata ditentukan oleh siklus harga
Halaman 36 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 38
komoditas, melainkan oleh kemampuan menjaga efisiensi operasional, fleksibilitas strategi,
serta keseimbangan portofolio usaha.
Pada bisnis inti batu bara dan kontraktor penambangan, arah ke depan difokuskan pada
optimalisasi operasi untuk menjaga arus kas yang sehat. UNTR memandang bahwa ruang
pertumbuhan batu bara bersifat terbatas, meskipun komoditas ini masih memiliki peran
transisional hingga energi terbarukan menjadi lebih ekonomis. Untuk itu, UNTR menargetkan
penjualan batu bara sebesar 18,8 juta ton pada 2026, didukung oleh peningkatan kapasitas
infrastruktur seperti jetty dan pelabuhan yang dijadwalkan rampung pada tahun mendatang.
Upaya peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keandalan infrastruktur tetap menjadi
prioritas agar bisnis inti dapat terus menjadi sumber kas yang andal dalam mendukung strategi
diversifikasi jangka menengah dan panjang.
Di sisi lain, segmen emas dipandang memiliki prospek yang tetap positif seiring tren harga
emas global yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. UNTR akan
melanjutkan penguatan portofolio emas melalui optimalisasi stabilitas produksi, peningkatan
metal recovery, serta diversifikasi penjualan untuk pengelolaan manajemen risiko yang lebih
baik. Target penjualan emas pada 2026 disesuaikan, seiring keterbatasan kapasitas fasilitas
tailing yang saat ini ada, dengan ekspansi fasilitas baru yang dijadwalkan selesai pada 2027.
Selain itu, UNTR tetap membuka peluang pengembangan aset emas baru, termasuk peluang
di luar negeri, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Untuk segmen nikel, UNTR memandang prospek jangka panjang tetap menarik meskipun
tekanan harga global dan perubahan regulasi, seperti penerapan siklus RKAB tahunan, masih
menjadi tantangan dalam jangka pendek. Fokus UNTR tidak hanya pada aktivitas
penambangan, tetapi pada pengembangan rantai nilai nikel yang terintegrasi dari hulu hingga
hilir. Proyek smelter RKEF diproyeksikan memasuki fase commissioning pada 2026 dan
ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, menjadi tonggak penting dalam meningkatkan nilai
tambah dan memperkuat ketahanan bisnis nikel UNTR terhadap fluktuasi harga bijih.
Pada segmen mesin konstruksi, prospek jangka pendek masih bersifat selektif, khususnya untuk
permintaan alat berat terkait batu bara. Namun demikian, memasuki 2026, prospek
diperkirakan bergerak lebih konstruktif seiring stabilisasi ekonomi global dan pemulihan
investasi domestik. UNTR akan memfokuskan strategi pada penguatan layanan purna jual.
Sementara itu, segmen konstruksi dan energi diproyeksikan mengalami pertumbuhan yang
lebih stabil. Permintaan terhadap proyek infrastruktur, kawasan industri, fasilitas kesehatan,
dan pusat data diperkirakan tetap tumbuh sejalan dengan kebijakan pemerintah dan
kebutuhan industry nasional. Pada sektor energi, energi bersih menjadi pilar pertumbuhan
baru UNTR. Pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 16,4%
pada 2026 dan meningkat signifikan pada 2030, sejalan dengan Green RUPTL 2025–2034
yang menempatkan pembangkit hijau sebagai mayoritas tambahan kapasitas listrik nasional.
Dengan potensi EBT Indonesia yang besar dan peran swasta yang dominan, UNTR melalui
EPN menyiapkan strategi penambahan portofolio energi bersih melalui pengembangan proyek
baru maupun peluang akuisisi, meskipun tetap memperhatikan tantangan regulasi dan
kebutuhan model bisnis yang semakin adaptif.
Sejalan dengan arah jangka panjang Grup Astra, UNTR juga menyelaraskan strategi ke depan
dengan aspirasi Astra Net Zero Scope 1 & Scope 2 pada tahun 2050. Komitmen ini menjadi
Halaman 37 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 39
kerangka penting dalam mendorong upaya transisi menuju operasional yang lebih rendah
emisi melalui peningkatan efisiensi energi, optimalisasi penggunaan bahan bakar,
pemanfaatan energi terbarukan, serta adopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan secara
bertahap. Bagi UNTR, aspirasi Net Zero tersebut tidak hanya dipandang sebagai komitmen
lingkungan, tetapi juga sebagai fondasi strategis untuk memperkuat daya saing, ketahanan
bisnis, dan keberlanjutan jangka panjang di Tengah percepatan agenda transisi energi global.
Secara keseluruhan, UNTR memandang tahun 2026 sebagai fase konsolidasi strategis
sekaligus pijakan menuju pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang. Dengan pendekatan
yang prudent namun progresif, melalui penguatan fundamental operasional, disiplin
pengelolaan modal, percepatan diversifikasi non-batu bara, serta integrasi keberlanjutan
dalam setiap pengambilan keputusan, Direksi meyakini UNTR berada pada posisi yang tepat
untuk menjaga ketahanan jangka pendek sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang
berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
d. Analisis Operasional dan Prospek UNTR
Berdasarkan periode historis dari tahun 2021 – 2025, UNTR menunjukkan jika pendapatan
yang dicatatkan selalu meningkatkan dari tahun ke tahun. UNTR selalu membukukan laba
selama periode tersebut, dimana laba tertinggi yang dibukukan Adalah sebesar Rp 22,9 triliun
di tahun 2022. Rasio rata-rata laba bersih terhadap pendapatan UNTR adalah sebesar
16,09%.
Grafik 3.14 Perkembangan Penjualan & Laba (Rugi) Tahun Berjalan UNTR
Pendapatan Laba (Rugi) Bersih
160.000.000
140.000.000
120.000.000
100.000.000
80.000.000
60.000.000
40.000.000
20.000.000
-
2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: Laporan Keuangan UNTR, diolah
Prospek UNTR
Industri komoditas diperkirakan tetap menjadi kontributor utama bagi kinerja seluruh lini bisnis
UNTR, seiring masih kuatnya keterkaitan portofolio usaha UNTR dengan sektor tersebut.
Meskipun laporan internasional memproyeksikan harga komoditas global cenderung melemah
dalam beberapa tahun ke depan, level harga secara umum masih berada di atas rata‑rata
pra‑pandemi, sehingga tetap memberikan ruang pertumbuhan dan peluang usaha bagi UNTR.
Halaman 38 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 40
Berdasarkan data dan proyeksi dari International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara
masih didorong oleh sektor pembangkit listrik, terutama di negara-negara berkembang, di
mana pertumbuhan konsumsi listrik tinggi. Namun, ekspansi energi terbarukan (seperti surya
dan angin) memberikan tekanan jangka panjang pada penggunaan batu bara.
Sedangkan pada emas, diproyeksikan akan terus mengalami lonjakan yang signifikan.
Peningkatan ini mencerminkan akselerasi dalam kegiatan pertambangan sekaligus pemurnian
emas di dalam negeri, sebagai bagian dari strategi hilirisasi sumber daya mineral nasional.
Harga emas di masa mendatang diperkirakan dapat menembus USD3.300 hingga USD4.000
per ons jika ketegangan geopolitik terus meningkat dan suku bunga acuan global mulai
melunak.
Pasar nikel global menghadapi tekanan oversupply yang cukup besar di tahun 2025. Kondisi
ini mencerminkan bahwa meskipun ada permintaan tumbuh, ekspansi kapasitas di produsen
utama seperti Indonesia membuat pasokan melimpah. Siklus kelebihan pasokan ini
mendorong harga nikel jatuh ke level rendah.
Selain itu, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030 yang disusun
oleh Kementerian ESDM, Pemerintah merencanakan tambahan kapasitas pembangkit listrik
sekitar 40,6 gigawatt hingga tahun 2030. Dari total rencana penambahan tersebut, sekitar
20,9 gigawatt atau kurang lebih 51,6% dialokasikan untuk pembangkit berbasis energi
terbarukan, mencerminkan komitmen untuk meningkatkan porsi bauran energi hijau dalam
sistem ketenagalistrikan nasional.
Menghadapi dinamika dan ketidakpastian pada perekonomian global, UNTR memfokuskan
langkah pada penguatan kinerja di seluruh lini usaha. UNTR akan tetap bertindak secara
proaktif dan agile dalam merespons berbagai tantangan eksternal, mempercepat agenda
transformasi, serta menjaga ketangguhan bisnis melalui penciptaan nilai, penguatan
operational excellence, dan inovasi yang berkesinambungan.
Transformasi portofolio menuju bisnis non‑batu bara dan energi terbarukan akan terus
dilanjutkan melalui percepatan pelaksanaan inisiatif‑inisiatif strategis, dengan tetap
mengedepankan prinsip kehati‑hatian dan pemeliharaan posisi keuangan yang solid. Sektor
pertambangan mineral dipandang sebagai pilar pertumbuhan baru yang perlu terus
dikembangkan dalam kerangka portfolio rebalancing, baik melalui akuisisi aset operasi yang
telah berjalan maupun pengembangan proyek baru melalui kegiatan eksplorasi pada
greenfield asset.
Portofolio energi terbarukan UNTR akan terus diperluas melalui pengkajian berbagai peluang
pengembangan proyek dengan skala yang lebih besar. Secara lebih spesifik, UNTR
menargetkan tercapainya keseimbangan kontribusi pendapatan antara bisnis yang berkaitan
dengan batu bara termal dan bisnis non‑batu bara.
UNTR menegaskan komitmennya untuk menjadikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata Kelola
(ESG) sebagai bagian tak terpisahkan dari perspektif jangka panjang yang dikelola secara
sistematis guna memastikan keberlanjutan kinerja usaha. Sejalan dengan komitmen Grup
Astra untuk mencapai Net Zero Emission untuk Cakupan 1 dan Cakupan 2 pada tahun 2050,
UNTR senantiasa mengupayakan berbagai inisiatif guna mendukung pencapaian target
tersebut.
Halaman 39 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 41
Upaya yang dilakukan antara lain melalui pemanfaatan teknologi guna menurunkan konsumsi
bahan bakar (fuel burnt) yang saat ini merupakan salah satu sumber emisi terbesar di dalam
grup UNTR. Selain itu, UNTR akan memperkuat sinergi dengan principal untuk mengeksplorasi
dan mengembangkan solusi elektrifikasi alat berat maupun pengembangan alat berat dengan
emisi karbon yang lebih rendah.
Proyek nature-based solution (NbS) yang mulai diimplementasikan UNTR merupakan salah
satu langkah strategis untuk melakukan offset terhadap emisi karbon yang timbul dari aktivitas
operasional grup UNTR. Sejalan dengan hal tersebut, seluruh lini bisnis UNTR diharapkan
secara konsisten meningkatkan berbagai upaya pengurangan emisi karbon melalui praktik
operasi yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan.
e. Keuntungan dan Kerugian atas Rencana Transaksi
• Keuntungan Rencana Transaksi
Memungkinkan pemenuhan kebutuhan pendanaan dengan proses yang lebih cepat,
fleksibel, dan efisien dibandingkan alternatif pendanaan dari pihak ketiga.
• Kerugian Rencana Transaksi
Rencana Transaksi tidak memberikan kerugian terhadap UNTR.
3.4. Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi
Berikut ini adalah analisa kuantitatif atas rencana transaksi, sebagai berikut:
a. Kinerja Keuangan Historis UNTR
Tabel 3-1 Laporan Posisi keuangan UNTR (Juta Rupiah)
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2021 2022 2023 2024 2025
Aset lancar 60.604.068 78.930.048 62.667.105 69.979.284 72.141.026
Aset tidak lancar 51.957.288 61.548.172 91.086.798 99.501.334 105.496.273
Total Aset 112.561.356 140.478.220 153.753.903 169.480.618 177.637.299
Liabilitas jk pendek 30.489.218 42.037.402 43.038.299 45.302.555 53.212.975
Liabilitas jk panjang 10.249.381 8.926.993 26.673.962 26.002.890 21.288.001
Total Liabilitas 40.738.599 50.964.395 69.712.261 71.305.445 74.500.976
Total Ekuitas 71.822.757 89.513.825 84.041.642 98.175.173 103.136.323
Total Liabilitas &
112.561.356 140.478.220 153.753.903 169.480.618 177.637.299
Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR
Total aset menunjukkan peningkatan dari akhir tahun 2021 sampai dengan akhir 2025
dengan CAGR sebesar 9,55% peningkatan tersebut utamanya disebabkan kenaikan aset tetap,
persediaan dan pajak dibayar dimuka dan lain-lain. Total aset pada tahun 2022 menunjukkan
peningkatan tertinggi atau sebesar 24,80% dibanding tahun 2021. Peningkatan tersebut
utamanya disebabkan oleh kenaikan aset lancar sebesar 30,34% dari Rp 60,6 triliun menjadi
Halaman 40 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 42
Rp 78,9 triliun dan kenaikan aset tidak lancar sebesar 18,46% dari Rp 51,9 triliun menjadi Rp
61,5 triliun.
Total liabilitas dalam periode akhir 2021 sampai dengan akhir 2025 menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp
40,7 triliun menjadi Rp 74,5 triliun. Peningkatan total liabilitas tertinggi ada di tahun 2023,
dengan kenaikan sebesar 36,79% tercatat dari 50,9 triliun di 2022 menjadi Rp 69,7 triliun di
2023. Kenaikan total liabilitas tersebut utamanya karena kenaikan liabilitas jangka Panjang
sebesar 198,80% yang awalnya tercatat Rp 8,9 triliun menjadi Rp 26,6 triliun serta kenaikan
liabilitas jangka pendek yang naik sebesar 2,38% dari 42,0 triliun menjadi Rp 43,0 triliun.
Perkembangan ekuitas UNTR periode 2021 sampai dengan 2022 menunjukkan peningkatan
dari tahun ke tahun dengan CAGR sebesar 7,51%. Peningkatan ekuitas tertinggi di 2022, yang
naik 24,63% dari akhir tahun 2021. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh
penambahan saldo laba belum dicadangkan dan selisih kurs.
Tabel 3-2 Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) UNTR (Juta Rupiah)
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2021 2022 2023 2024 2025
Pendapatan 79.460.503 123.607.460 128.583.264 134.426.998 131.300.810
Beban pokok pendapatan 59.795.542 88.848.772 92.797.027 100.595.438 101.597.306
Laba (Rugi) Kotor 19.664.961 34.758.688 35.786.237 33.831.560 29.703.504
Laba (Rugi) Operasi 14.875.615 29.132.716 29.723.143 27.181.530 22.065.298
Laba sebelum pajak 14.462.250 29.446.041 28.720.340 25.897.052 20.182.167
Laba (rugi) tahun berjalan 10.608.267 22.993.673 22.130.096 20.118.529 15.176.764
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan
Selama Periode 2021 sampai dengan periode 2025 pendapatan UNTR menunjukkan
pertumbuhan dari tahun ke tahun dengan peningkatan secara rata-rata sebesar 18,70%,
dengan peningkatan pendapatan tertinggi terjadi pada tahun 2022 yang tercatat sebesar
55,56% atau naik menjadi Rp 123, 6 triliun. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember
2025 UNTR berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp 131,3 triliun.
Seiring dengan pendapatan, beban pokok pendapatan juga mengalami kenaikan, dengan
rata-rata rasio beban pokok pendapatan terhadap pendapatan adalah sebesar 74,30%.
Berdasarkan periode historis UNTR selalu membukukan laba, dengan laba tertinggi yang
dicatatkan di tahun 2022 sebesar Rp 22,9 triliun.
Tabel 3-3 Arus Kas UNTR (Juta Rupiah)
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2021 2022 2023 2024 2025
Arus kas dari aktivitas
23.284.854 32.891.585 26.346.848 30.044.864 27.143.449
operasi
Arus kas dari aktivitas
(3.158.997) (10.401.292) (33.439.773) (14.202.531) (13.445.531)
investasi
Arus kas dari aktivitas
(7.419.838) (18.653.279) (12.230.036) (9.468.173) (12.470.370)
pendanaan
Kenaikan bersih kas &
setara kas 12.706.019 3.837.014 (19.322.961) 6.374.160 1.227.548
Kas & setara kas pada
20.498.574 33.321.741 38.281.513 18.596.609 25.092.519
awal tahun
Halaman 41 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 43
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2021 2022 2023 2024 2025
Dampak perubahan
117.148 1.122.758 (361.943) 121.750 250.705
selisih kurs
Kas & setara kas pada
33.321.741 38.281.513 18.596.609 25.092.519 26.570.772
akhir tahun
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR (Jutaan Rupiah)
Arus kas keluar UNTR dari aktivitas operasi merupakan arus kas untuk pembayaran biaya
operasional. Pada periode 31 Desember 2025, UNTR membukukan arus kas masuk dari
aktivitas operasional sebesar Rp 27,1 triliun.
Arus kas keluar UNTR untuk aktivitas investasi merupakan arus kas yang utamanya digunakan
untuk pembelian aset tetap, penambahan investasi pada asosiasi dan ventura Bersama, dan
penambahan pinjaman kepada pihak berelasi. Pada periode yang berakhir di 31 Desember
2025, UNTR membukukan arus kas keluar untuk aktivitas investasi sebesar Rp 13,4 triliun.
Arus kas masuk UNTR dari aktivitas Pendanaan, pada periode yang berakhir di 31 Desember
2025, tercatat sebesar Rp 12,4 triliun, yang dibukukan sebagai arus kas keluar untuk aktivitas
pendanaan
b. Penilaian atas proyeksi keuangan yang diperoleh dari Pihak UNTR
Proyeksi keuangan yang digunakan dalam pendapat kewajaran ini mengacu pada proyeksi
keuangan / rencana usaha (business plan) yang dibuat oleh manajemen UNTR. Lebih lanjut,
manajemen UNTR telah memberikan proyeksi keuangan untuk skenario tanpa Rencana
Transaksi dan dengan Rencana Transaksi. Berikut adalah proyeksi keuangan UNTR dengan
Rencana Transaksi.
Tabel 3-5 Analisis Proyeksi Posisi Keuangan UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Cash & cash equivalent 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541 18.811.741
AR 21.837.619 22.492.748 23.167.530 23.862.556 24.578.433
Inventories 15.003.286 15.453.385 15.916.986 16.394.496 16.886.331
Advance payment 2.231.024 2.258.868 2.287.058 2.315.601 2.344.500
Prepaid expenses - - - - -
Other current asset 11.579.832 10.474.817 10.283.532 9.698.979 9.147.653
Due from shareholder 1.836.737 1.947.380 2.080.603 2.214.438 2.356.882
Investment in shares of
19.909.029 20.506.300 21.121.489 21.755.134 22.407.788
stock
Fixed assets 67.235.809 70.103.297 71.954.705 74.439.228 77.009.538
Mining properties - - - - -
Deferred tax assets 5.340.499 5.420.345 5.492.229 5.569.705 5.648.273
Coal exploration &
9.267.577 8.691.838 8.245.034 7.777.009 7.335.551
development costs
Goodwill 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251
Other non-current asset 1.468.471 1.436.736 1.344.059 1.286.186 1.230.806
Total Asset 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
AP 19.656.605 20.246.303 20.853.693 21.479.303 22.123.682
Halaman 42 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 44
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Accrued expenses 7.163.710 8.173.524 8.254.952 8.877.891 9.257.087
Tax payables 2.136.133 2.522.828 2.468.119 2.664.755 2.742.012
Other current liabilities 15.991.407 14.973.776 16.860.849 17.386.816 18.753.591
Deferred tax liabilities 5.323.288 4.798.525 4.245.435 3.791.511 3.370.307
LT portion of long-term
24.105.468 20.389.020 13.783.387 10.488.094 7.535.396
bank loan
Employee benefit
6.655.989 6.787.349 6.927.071 7.066.726 7.210.697
obligations
Other non-current
939.823 880.017 990.921 1.021.832 1.102.158
liabilities
Total liabilities 81.972.423 78.771.343 74.384.428 72.776.927 72.094.930
Equity attributable to
93.304.315 97.654.891 102.320.540 107.219.588 112.384.460
owners
Non-controlling
5.141.180 5.462.791 5.865.445 6.261.609 6.700.357
interests
Total equity 98.445.495 103.117.683 108.185.984 113.481.197 119.084.817
Total Liabilities +
180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Equity
Tabel 3-1 Analisis Proyeksi Laba Rugi UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operatig profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Gain/(loss) on forex 201.589 - - - -
Net interest (1.473.353) (1.246.199)
(842.456) (641.044) (460.572)
Other
(1.201.234) (1.160.648) (1.125.563) (1.091.532) (1.058.521)
income/(charges)
Profit before tax
8.497.159 8.892.415 9.670.220 10.254.811 10.827.916
Income tax (2.353.766) (1.954.388) (2.125.505) (2.254.115) (2.380.198)
Profit after tax
6.143.394 6.938.027 7.544.715 8.000.696 8.447.718
Berdasarkan tabel proyeksi keuangan UNTR pada periode 2026 sampai 2030, UNTR terus
mencatatkan kenaikan pendapatan, total asset maupun ekuitas selama periode proyeksi.
Tabel 3-2 Analisis Proyeksi Arus Kas UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
(in mio IDR)
2026 2027 2028 2029 2030
Beginning Balance 26.570.772 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541
Cash from Operating
16.391.843
Activities 2.945.992 14.438.282 16.791.862 17.245.864
23.912.017
EBITDA 22.894.787 23.223.892 23.562.869 24.271.638
(16.121.677) (3.803.046) (4.625.015)
Working Capital (5.585.022) (4.185.004)
Halaman 43 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 45
Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des
(in mio IDR)
2026 2027 2028 2029 2030
(1.473.353) (842.456) (641.044)
Interest Expense – Net (1.246.199) (460.572)
(2.353.766) (2.125.505) (2.254.115)
Current Tax (1.954.388) (2.380.198)
Cash from Investing
(18.578.937) (9.759.785) (9.753.792)
Activities (9.765.604) (9.747.619)
(9.959.567) (9.959.567) (9.959.567)
Capex (9.959.567) (9.959.567)
(8.807.683)
Investment in shares - - - -
Due To - - - - -
205.775
Dividend received 188.313 193.963 199.782 211.948
Cash from Financing
(9.458.202) (6.370.444)
Activities 10.347.956 (6.277.401) (6.209.046)
Proceed/(Repayment)
(6.605.633) (3.295.293)
of debt 15.031.951 (3.716.448) (2.952.698)
(4.683.994) (2.852.569) (3.075.151)
Dividend payment (2.560.953) (3.256.348)
Due From - - - - -
(5.284.989) (2.426.126) 267.607
Cash Surplus (deficit) (1.604.723) 1.289.200
Ending Cash 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541 18.811.741
Berdasarkan tabel proyeksi arus kas di atas, UNTR mencatatkan arus kas operasi yang positif
selama periode proyeksi. UNTR juga terus melakukan investasi ke depannya untuk tetap
menjalankan dan mengembangkan usahanya.
c. Analisis Rasio Keuangan UNTR
Analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan keuangan yang digunakan
untuk mengetahui hubungan dari pos - pos tertentu dari laporan posisi keuangan dan laporan
laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya. Berikut adalah tabel berbagai
macam rasio keuangan UNTR.
Tabel 3-3 Analisis rasio keuangan UNTR
Average
Rasio Keuangan 2021 2022 2023 2024 2025
2021-2025
Rasio Aktivitas (x)
Rasio perputaran total aset 6,54 7,01 6,34 6,72 6,59 6,64
Rasio perputaran piutang 6,32 5,77 5,40 5,92 6,07 5,90
Rasio perputaran utang usaha 4,12 3,58 3,19 3,47 3,47 3,56
Rasio perputaran persediaan 6,54 7,01 6,34 6,72 6,59 6,64
Rasio Likuiditas (x)
Rasio lancar 1,99 1,88 1,46 1,54 1,36 1,64
Rasio cepat 1,68 1,51 1,06 1,17 1,04 1,29
Rasio kas 1,09 0,91 0,43 0,55 0,50 0,70
Rasio Profitabilitas (%)
Rasio laba atas aset 9,42% 16,37% 14,39% 11,87% 8,54% 12,12%
Halaman 44 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 46
Average
Rasio Keuangan 2021 2022 2023 2024 2025
2021-2025
Rasio laba atas ekuitas 14,77% 25,69% 26,33% 20,49% 14,72% 20,40%
Rasio Solvabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total aset 36,19% 36,28% 45,34% 42,07% 41,94% 40,36%
Rasio total Liabilitas / total ekuitas 56,72% 56,93% 82,95% 72,63% 72,24% 68,29%
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan efektif atau tidaknya UNTR dalam menggunakan sumber-sumber
dana yang tersedia.
▪ Rasio Perputaran Piutang Usaha
Perputaran piutang usaha periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 rata-rata
sebesar 6,64 kali. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025 rasio perputaran
piutang usaha tercatat sebesar 6,59 kali.
▪ Rasio Perputaran Persediaan
Perputaran persediaan periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 rata-rata sebesar
5,90x. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025 rasio perputaran persediaan
tercatat sebesar 6,07x.
▪ Rasio Perputaran Utang Usaha
Rasio perputaran utang usaha selama periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
rata-rata sebesar 3,56x. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025, rasio
perputaran utang usaha tercatat sebesar 3,47x.
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan UNTR dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Selama periode 31
Desember 2021 – 31 Desember 2025, rata-rata rasio lancar, rasio cepat dan rasio kas
selama 5 (lima) tahun terakhir sebesar 1,64 kali, 1,29 kali dan 0,70 kali. Pada periode
Desember 2025, rasio lancar, rasio cepat dan rasio kas UNTR sebesar 1,36 kali, 1.04 kali,
dan 0,50 kali. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang periode historis, UNTR mampu untuk
membayar seluruh liabilitas jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang
dimiliki.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan UNTR dalam menghasilkan laba.
Rasio laba atas aset (Return on Assets /ROA) UNTR selama periode 31 Desember 2021 – 31
Desember 2025 rata-rata 12,12% per tahun. Rasio laba atas aset UNTR pada periode 31
Desember 2025 adalah 8,54%.
Rasio laba atas ekuitas (Return on Ekuitas / ROE) UNTR selama periode 31 Desember 2021
– 31 Desember 2025 rata-rata sebesar 20,40% per tahun. Rasio laba atas ekuitas UNTR pada
periode 31 Desember 2025 adalah 14,72%.
Halaman 45 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 47
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
UNTR untuk melunasi utang-utangnya dengan ekuitas atau aset yang dimiliki jika dilikuidasi.
Rasio rata-rata jumlah kewajiban terhadap jumlah aset dan rasio rata-rata jumlah kewajiban
terhadap jumlah ekuitas UNTR selama periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
masing-masing adalah sebesar 40,36% dan 68,29%. Rasio rata-rata jumlah kewajiban
terhadapt jumlah aset dan rata-rata jumlah liabilitas atas ekuitas UNTR pada periode 31
Desember 2025 masing-masing adalah 41,94% dan 72,24%.
d. Analisis dampak keuangan UNTR atas rencana transaksi (Proforma)
Mengacu pada Laporan Keuangan Proforma Konsolidasian UNTR yang disiapkan oleh
manajemen untuk periode 31 Desember 2025, maka dampak keuangan atas Rencana
Transaksi tercermin dalam tabel dibawah ini:
Tabel 3-4 Laporan Posisi Keuangan Ringkasan Proforma UNTR (juta rupiah)
31 Desember 31 Desember
Uraian 2025 Transaksi 2025
(Audit) Proforma
Aset Lancar
Kas dan setara kas 26.570.772 26.570.772
Piutang usaha 19.917.663 19.917.663
Piutang non usaha 1.695.895 1.695.895
Persediaan 16.729.809 16.729.809
Proyek dalam pelaksanaan 28.698 28.698
Pajak dibayar dimuka 5.297.400 5.297.400
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 1.543.309 1.543.309
Aset lancar lain-lain 357.480 357.480
Total Aset Lancar 72.141.026 72.141.026
Aset Tidak Lancar
Kas dan deposito berjangka yg dibatasi penggunaannya 787.806 787.806
Piutang usaha 472.368 472.368
Piutang non usaha 3.192.272 3.192.272
Persediaan
105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka
Uang muka & biaya dibayar dimuka 3.096.988 3.096.988
Investasi pd entitas asosiasi & ventura 793.619 793.619
Investasi jangka panjang 17.223.562 17.223.562
Aset tetap 3.175.766 3.175.766
Properti pertambangan 45.296.550 45.296.550
Properti investasi 14.809.384 14.809.384
Beban eksplorasi & pengembangan tangguhan 244.469 244.469
Aset tambang berproduksi 2.768.518 2.768.518
Beban tangguhan 3.958.340 3.958.340
Aset pajak tangguhan 1.169.123 1.169.123
Goodwill 4.891.419 4.891.419
Jumlah Aset Tidak Lancar 105.496.273 105.496.273
Jumlah Aset 177.637.299 177.637.299
Halaman 46 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 48
31 Desember 31 Desember
Uraian 2025 Transaksi 2025
(Audit) Proforma
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha 29.308.928 29.308.928
Utang non usaha 1.220.517 1.220.517
Utang pajak 1.410.649 1.410.649
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan 901.209 901.209
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Pinjaman bank jk pendek 560.000 560.000
Bag. jk pendek dr utang jk panjang :
Pinjaman bank 9.682.666 9.682.666
Liabilitas sewa 801.430 801.430
Liabilitas keuangan lain-lain 560.318 560.318
Bag. jk pendek dr laibilitas keu jk panjang lain - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 53.212.975
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Provisi rehabilitasi, raklamasi & penutupan tambang 1.154.627 1.154.627
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang, stlh dikurangi bagian jk pendek
Pinjaman bank 6.054.620 6.054.620
Liabilitas sewa 976.309 976.309
Liabilitas keuangan lain-lain 281.698 281.698
Liabilitas tdk lancar lainnya 3.555.105 3.555.105
Liabilitas keu jk panjang lain-lain - -
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 21.288.001
Jumlah Liabilitas 74.500.976 74.500.976
Ekuitas
Modal saham 932.534 932.534
Tambahan modal disetor 9.703.937 9.703.937
Saham treasuri (4.902.237) (4.902.237)
Saldo laba 85.734.134 7.414 85.555.041
Selisih kurs dr penjabaran lap keu 9.227.066 9.227.066
Cadangan lindung nilai (2.065.280) (2.065.280)
Cadanga penyesuaian nilai wajar asset 19.386 19.386
Transakdi dg kep non pengendalian (875.920) (875.920)
97.773.620 97.781.340
Kepentingan non pengendali 5.362.703 (7.414) 5.355.289
Jumlah Ekuitas 103.136.323 103.136.323
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 177.637.299
Sumber: Laporan Keuangan Proforma UNTR yang dibuat Manajemen
Asumsi - asumsi laporan posisi keuangan konsolidasian ringkasan proforma yang digunakan
adalah sebagai berikut:
1) Terdapat penerimaan pada laporan keuangan ABB atas fasilitas pinjaman berupa
shareholder loan sebesar USD 40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika) atau setara
dengan
Rp 671.280.000.000,- dengan menggunakan kurs pada 31 Desember 2025 dari Bank
Halaman 47 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 49
Indonesia sebesar Rp 16.781,-. Serta terdapat pengerluaran sejumlah yang sama pada
TTA. Laporan Keuangan proforma UNTR adalah menggunakan Laporan Keuangan
Konsolidasian, sehingga terdapat proses eliminasi atas Rencana Transaksi tersebut.
Tabel 3-5 Laporan Laba Rugi Komprehensif Ringkasan Proforma UNTR (Juta Rupiah)
31 Desember 31 Desember
Uraian 2025 Transaksi 2025
(Audit) Proforma
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) (101.597.306)
Laba bruto 29.703.504 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) (1.597.792)
Beban umum dan administrasi (6.040.414) (6.040.414)
Beban lain-lain (256.226) (256.226)
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) (2.625.818)
Bagian atas laba bersih entitas (245.576) (245.576)
Laba sebelum pajak penghasilan 20.182.167 20.182.167
Beban pajak penghasilan (5.005.403) (5.005.403)
Laba tahun berjalan 15.176.764 15.176.764
Pendapatan (Beban) Komprehensif lain setelah pajak (749.597) (749.597)
Jumlah laba komprehensif tahun berjalan 14.427.167 14.427.167
Sumber: Laporan Keuangan Proforma UNTR yang dibuat oleh Manajemen
Rencana Transaksi tidak memberikan dampak terhadap laporan proforma laba rugi
konsolidasian UNTR
e. Proyeksi Keuangan Konsolidasian Perseroan sebelum dan sesudah transaksi
Proyeksi keuangan yang digunakan dalam pendapat kewajaran ini mengacu pada proyeksi
keuangan / rencana usaha (business plan) yang dibuat oleh manajemen Perseroan. Lebih lanjut,
manajemen Perseroan telah memberikan proyeksi keuangan untuk skenario tanpa Rencana
Transaksi dan dengan Rencana Transaksi. Berikut adalah proyeksi keuangan Perseroan untuk
kedua scenario usaha tersebut:
Tabel 3.2 Proyeksi Keuangan Konsolidasian Perseroan sebelum Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
NERACA
Aset Lancar 72.589.403 70.292.262 68.816.763 69.676.231 71.626.052
Aset Tidak Lancar 108.480.373 111.528.148 113.660.371 116.463.951 119.411.089
Total Aset 181.069.776 181.820.410 182.477.133 186.140.181 191.037.141
Liabilitas Lancar 44.947.855 45.916.432 48.437.613 50.408.764 52.876.372
Liabilitas Tidak Lancar 37.688.757 32.823.291 25.915.195 22.336.543 19.186.938
Total Liabilitas 82.636.613 78.739.723 74.352.808 72.745.307 72.063.310
Total Ekuitas 98.433.163 103.080.687 108.124.325 113.394.874 118.973.831
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
LABA RUGI
Halaman 48 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 50
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
Laba (Rugi) Usaha 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Laba (Rugi) Bersih 6.129.679 6.910.598 7.517.286 7.973.267 8.420.289
ARUS KAS
Arus Kas Operasional 2.933.660 13.749.428 16.798.818 16.398.799 17.252.821
Arus Kas Investasi (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619)
Arus Kas Pendanaan (4.633.130) (2.325.197) (2.450.789) 242.943 1.264.536
Kenaikan (Penurunan) Kas (4.633.130) (2.325.197) (2.450.789) 242.943 1.264.536
Saldo Awal Kas 26.570.772 21.937.642 19.612.445 17.161.656 17.404.599
Saldo Akhir Kas 21.937.642 19.612.445 17.161.656 17.404.599 18.669.135
Sumber: Perseroan, diolah
Tabel 3.3 Proyeksi Keuangan Perseroan konsolidasi dengan Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
NERACA
Aset Lancar 71.937.545 70.360.877 68.910.042 69.794.173 71.768.658
Aset Tidak Lancar 108.480.373 111.528.148 113.660.371 116.463.951 119.411.089
Total Aset 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Liabilitas Lancar 44.947.855 45.916.432 48.437.613 50.408.764 52.876.372
Liabilitas Tidak
37.024.567 32.854.911 25.946.815 22.368.163 19.218.558
Lancar
Total Liabilitas 81.972.423 78.771.343 74.384.428 72.776.927 72.094.930
Total Ekuitas 98.445.495 103.117.683 108.185.984 113.481.197 119.084.817
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
LABA RUGI
Pendapatan 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
Laba (Rugi) Usaha 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Laba (Rugi) Bersih 6.143.394 6.938.027 7.544.715 8.000.696 8.447.718
ARUS KAS
Arus Kas Operasional 2.945.992 14.438.282 16.791.862 16.391.843 17.245.864
Arus Kas Investasi (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619)
Arus Kas Pendanaan 10.347.956 (6.277.401) (9.458.202) (6.370.444) (6.209.046)
Kenaikan (Penurunan) Kas (5.284.989) (1.604.723) (2.426.126) 267.607 1.289.200
Saldo Awal Kas 26.570.772 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541
Saldo Akhir Kas 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541 18.811.741
Sumber: Perseroan, diolah
f. Analisis Rasio Proyeksi Keuangan
Berdasarkan Rencana Transaksi, terjadi perubahan pada beberapa rasio keuangan proyeksi
Perseroan, berikut merupakan perubahan yang terjadi pada rasio keuangan tanpa dan dengan
Rencana Transaksi
Tabel 3.4 Rasio Keuangan sebelum Rencana Transaksi
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Aktivitas (x)
Halaman 49 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 51
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio perputaran piutang 4,88 4,88 4,88 4,88 4,88 4,88
Rasio perputaran persediaan 5,79 5,79 5,79 5,79 5,79 5,79
Rasio perputaran utang usaha 4,42 4,42 4,42 4,42 4,42 4,42
Rasio Likuiditas (x)
Rasio lancar 1,63 1,53 1,42 1,38 1,35 1,46
Rasio cepat 1,30 1,19 1,09 1,05 1,03 1,13
Rasio kas 0,50 0,43 0,35 0,34 0,35 0,39
Rasio Profitabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total aset 3,39% 3,80% 4,12% 4,28% 4,41% 4,00%
Rasio total Liabilitas / total
6,23% 6,70% 6,95% 7,03% 7,08% 6,80%
ekuitas
Rasio Solvabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total aset 45,64% 43,31% 40,75% 39,08% 37,72% 41,30%
Rasio total Liabilitas / total
83,95% 76,39% 68,77% 64,15% 60,57% 70,77%
ekuitas
Tabel 3.5 Rasio Keuangan sesudah Rencana Transaksi
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Aktivitas (x)
Rasio perputaran piutang 4,88 4,88 4,88 4,88 4,88 4,88
Rasio perputaran persediaan 5,79 5,79 5,79 5,79 5,79 5,79
Rasio perputaran utang
4,42 4,42 4,42 4,42 4,42 4,42
usaha
Rasio Likuiditas (x)
Rasio lancar 1,60 1,53 1,42 1,38 1,36 1,46
Rasio cepat 1,27 1,20 1,09 1,06 1,04 1,13
Rasio kas 0,47 0,43 0,36 0,35 0,36 0,39
Rasio Profitabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total
aset 3,41% 3,81% 4,13% 4,30% 4,42% 4,01%
Rasio total Liabilitas / total
ekuitas 6,24% 6,73% 6,97% 7,05% 7,09% 6,82%
Rasio Solvabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total
aset 45,43% 43,31% 40,74% 39,07% 37,71% 41,25%
Rasio total Liabilitas / total
ekuitas 83,27% 76,39% 68,76% 64,13% 60,54% 70,62%
Rasio Aktivitas
Berdasarkan analisis perbandingan rasio keuangan sebelum dan sesudah rencana transaksi,
terlihat bahwa tidak terdapat perubahan pada rasio aktivitas baik dari sisi rasio perpuratan
piutang, rasio perputaran persediaan maupun rasio perputaran utang usaha. Hal ini menunjukkan
bahwa Rencana Transaksi tidak berdampak pada rasio aktivitas Perseroan.
Rasio Likuiditas
Pada aspek likuiditas, kondisi perusahaan setelah transaksi jauh lebih sehat. Rasio lancar turun
0,01 kali pada 2026 dan lalu kembali meningkat pada 2030. Hal ini yang menunjukkan
peningkatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek seiring dengan
perbaikan posisi likuiditasnya.
Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas
Dari perspektif profitabilitas terjadi peningkatan sebesar 0,02% pada tahun 2026 untuk ROA dan
0,01% untuk ROE. Sedangkan dari segi solvabilitas terjadi penurunan 0,20% untuk Liabilitas per
Total Aset dan 0,69% untuk Liabilitas per total Ekuitas. Perubahan pada rasio ini disebabkan
Halaman 50 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 52
adanya perbedaan tingkat bunga dengan Rencana Transaksi dan tanpa Rencana Transaksi,
sehingga mempengaruhi kas, laba (rugi) tahun berjalan dan ekuitas Perseroan.
g. Analisis cash management dan financial covenant dari transaksi pinjam-meminjam dana
ABB dapat menjaga kecukupan saldo kas untuk menjalankan kegiatan operasinya dan
membayar angsuran pinjaman kepada TTA. Perjanjian pinjaman antara ABB dan TTA tidak
mencakup adanya financial covenant tertentu yang harus dipenuhi oleh ABB sehingga kami
tidak melakukan analisis financial covenant.
h. Analisis yield pinjam-meminjam dana jika transaksi dalam bentuk surat berharga
Pinjaman antara TTA dan ABB tidak dalam bentuk surat berharga sehingga kami tidak
melakukan analisis yield dari pinjaman tersebut.
3.6. Analisis Kewajaran Atas Rencana Transaksi
Analisis Kewajaran atas rencana transaksi dilakukan dengan melihat adanya incremental atau
nilai tambah yang dapat dihasilkan atas Rencana Transaksi.
a. Nilai Rencana Transaksi
Berdasarkan draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB, total fasilitas pinjaman yang
diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,00 (empat puluh juta dolar
Amerika Serikat) atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- menggunakan kurs per 31
Desember 2025 (Rp 16.782,-). Fasilitas pinjaman tersebut dikenakan bunga sebesar Term
SOFR + 1,63% per tahun.
b. Analisis Kewajaran Nilai Rencana Transaksi
Analisis nilai kewajaran Rencana Transaksi dengan membandingkan tarif bunga pinjaman
yang dikenakan dengan tarif bunga yang berlaku di pasar yaitu bunga pinjaman investasi per
31 Desember 2025.
Berdasarkan perjanjian atas rencana transaksi, suku bunga yang dikenakan adalah Term
SOFR + Margin atau setara dengan 5,28% ((3,65%+1,63%), dengan asumsi SOFR per 31
Desember 2025), sedangkan suku bunga rata-rata kredit bank per 31 Desember 2025 adalah
berada pada kisaran 5,35% - 7,50%, sehingga tarif bunga pinjaman Rencana Transaksi masih
dalam batas wajar (batas atas - batas bawah) 7,5% terhadap suku bunga pinjaman, dimana
selisih suku bunga dari Rencana Transaksi dengan suku bunga pasar adalah sebesar 1,26%.
Tabel 3-6 Kewajaran Nilai Rencana Transaksi
Batas Bawah Batas Atas
Keterangan Suku bunga
(-7,5%) (+7,5%)
Pinjaman investasi dalam denominasi 5,35% 4,95% 5,75%
USD 7,50% 6,94% 8,06%
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, OJK
Halaman 51 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 53
Batas kewajaran Rencana Transaksi untuk setiap instrumen investasi ditentukan berdasarkan
kisaran nilai sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
pasal 48 poin b mengenai batas atas dan batas bawah untuk kisaran nilai Rencana Transaksi
tidak boleh melebihi 7,5%. Atas dasar hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suku
bunga pinjaman dalam Rencana Transaksi tergolong wajar karena masih berada dalam
kisaran batas kewajaran, dimana batas bawah dan batas atas kewajaran sebesar 1,26%,
sehingga masih dalam batas kewajaran dan tidak melebihi 7,5%.
3.7. Analisis Faktor Lain Yang Relevan
a. Analisis Inkremental
Analisis Nilai Tambah ( Incremental Analysis ) dilakukan untuk melihat manfaat Rencana
Transaksi bagi UNTR. Berdasarkan proyeksi keuangan UNTR periode 2026-2030 yang
dibuat oleh Manajemen UNTR, Analisa nilai tambah sebelum dan setelah Rencana Transaksi
adalah sebagai berikut:
Tabel 3-7 Analisis Inkremental Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian (Juta Rupiah)
Tahun
Keterangan
2026 2027 2028 2029 2030
Net Interest
sebelum (1.489.163) (1.277.819) (874.076) (672.664) (492.192)
transaksi
Net Interest
setelah (1.473.353) (1.246.199) (842.456) (641.044) (460.572)
transaksi
Inkremental 15.810 31.620 31.620 31.620 31.620
EAT
sebelum 6.129.679 6.910.598 7.517.286 7.973.267 8.420.289
transaksi
EAT setelah
6.143.394 6.938.027 7.544.715 8.000.696 8.447.718
transaksi
Inkremental 13.714 27.429 27.429 27.429 27.429
Sumber: Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian UNTR periode 2026-2030, diolah
Berdasarkan tabel Analisis Inkremental Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian, nilai tambah dengan
terlaksananya Rencana Transaksi berupa penurunan pada net interest, peningkatan laba tahun
berjalan yang diatribusikan kepada UNTR meningkat dibandingkan sebelum Rencana
Transaksi.
Tabel 3-8 Analisis Inkramental Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian (juta Rupiah)
Tahun
Keterangan 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
2026 2027 2028 2029 2030
Aset lancar sebelum
72.589.403 70.292.262 68.816.763 69.676.231 71.626.052
transaksi
Aset lancar setelah
71.937.545 70.360.877 68.910.042 69.794.173 71.768.658
transaksi
Inkremental (651.858) 68.615 93.279 117.943 142.606
Total Aset sebelum
181.069.776 181.820.410 182.477.133 186.140.181 191.037.141
transaksi
Total Aset setelah transaksi 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Halaman 52 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 54
Tahun
Keterangan 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
2026 2027 2028 2029 2030
Inkremental (651.858) 68.615 93.279 117.943 142.606
Liabilitas Jk Panjang
37.688.757 32.823.291 25.915.195 22.336.543 19.186.938
sebelum transaksi
Liabilitas Jk Panjang
37.024.567 32.854.911 25.946.815 22.368.163 19.218.558
setelah transaksi
Inkremental (664.190) 31.620 31.620 31.620 31.620
Total Liabilitas sebelum
82.636.613 78.739.723 74.352.808 72.745.307 72.063.310
transaksi
Total Liabilitas setelah
81.972.423 78.771.343 74.384.428 72.776.927 72.094.930
transaksi
Inkremental (664.190) 31.620 31.620 31.620 31.620
Ekuitas sebelum transaksi 98.433.163 103.080.687 108.124.325 113.394.874 118.973.831
Ekuitas setelah transaksi 98.445.495 103.117.683 108.185.984 113.481.197 119.084.817
Inkremental 12.332 36.995 61.659 86.323 110.986
Sumber: Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian UNTR periode 2026-2030
Berdasarkan tabel Analisis Inkramental Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian, nilai tambah
dengan terlaksananya Rencana Transaksi berupa peningkatan total aset dan ekuitas
dibandingkan tanpa adanya Rencana Transaksi.
b. Analisis biaya atau pendapatan yang relevan
Biaya-biaya atau pendapatan yang relevan yang muncul akibat dilaksanakannya Rencana
Transaksi telah diperhitungkan dalam proyeksi keuangan UNTR yang disusun oleh manajemen
UNTR.
c. Informasi non keuangan yang relevan
UNTR atas rencana transaksi pinjam meminjam antara TTA dan ABB adalah diharapkan atas
pinjaman tersebut dapat meningkatkan efisiensi pada ABB kedepan yang akan berdampak
positif bagi UNTR secara konsolidasi dan memberikan nilai tambah untuk anak UNTR secara
konsol.
d. Analisis Sensitivitas
Analisa sensitivitas mengacu kepada bisnis plan UNTR dengan melakukan sensitivitas tingkat
beban bunga dinaikan atau diturunkan sebesar 5%. Adapun sensitivitas atas hal tersebut
tercermin sebagai berikut:
Tabel 3-9 Beban bunga dinaikan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
Jan – Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross Profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operating Profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Halaman 53 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 55
Jan – Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Gain (Loss) on Forex 201.589 - - - -
Net Interest (1.563.621) (1.341.710) (917.780) (706.297) (516.801)
Other income (charge) (1.202.616) (1.163.413) (1.128.329) (1.094.297) (1.061.286)
EBT 8.405.509 8.794.138 9.592.131 10.186.793 10.768.921
Income tax (1.849.212) (1.934.710) (2.110.269) (2.241.094) (2.369.163)
EAT 6.556.297 6.859.428 7.481.863 7.945.699 8.399.759
Tabel 3-10 Beban bunga diturunkan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
Jan – Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross Profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operating Profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Gain (Loss) on Forex 201.589 - - - -
Net Interest (1.414.705) (1.213.928) (830.372) (639.031) (467.582)
Other income (charge) (1.202.616) (1.163.413) (1.128.329) (1.094.297) (1.061.286)
EBT 8.554.425 8.921.920 9.679.539 10.254.059 10.818.141
Income tax (1.881.973) (1.962.822) (2.129.499) (2.255.893) (2.379.991)
EAT 6.672.451 6.959.098 7.550.040 7.998.166 8.438.150
Analisa sensitivitas mengacu kepada pencatatan beban bunga pada ABB dengan melakukan
sensitivitas tingkat beban bunga dinaikan atau diturunkan sebesar 5%. Adapun sensitivitas atas
hal tersebut tercermin sebagai berikut.
Tabel 3-11 Pencatatan beban bunga ABB diturunkan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
Jan – Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Normal 1.056.332 2.112.664 2.112.664 2.112.664 2.112.664
Naik 5% 1.111.107 1.111.107 1.111.107 1.111.107 1.111.107
Turun 5% 1.001.557 1.001.557 1.001.557 1.001.557 1.001.557
e. Analisis atas jaminan yang terkait dengan transaksi pinjam meminjam dana dan/atau
penjaminan
Dalam transaksi pinjam meminjam antara TTA dan ABB tidak terdapat jaminan.
f. Analisis Kelayakan rencana penggunaan dana atas transaksi pinjam-meminjam dana
dan/atau penjaminan
Berdasarkan proyeksi keuangan UNTR secara konsolidasi yang disusun oleh manajemen,
dengan adanya rencana transaksi maka dapat meningkatkan Laba Bersih UNTR secara
konsole yang disebabkan oleh penurunan beban bunga sebagai dampak dari pengalihan dari
rencana sebelumnya yang menggunakan pinjaman kepada pihak ke tiga.
Halaman 54 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 56
3.8. Kesimpulan
Dengan mempertimbangkan analisis kewajaran atas Transaksi yang dilakukan meliputi analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif, dan analisis inkremental, maka dari segi ekonomis dan
keuangan, menurut pendapat kami Rencana Transaksi Pemberian pinjaman antara TTA dan ABB,
dimana keduanya merupakan anak perusahaan UNTR, adalah Wajar.
Halaman 55 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 57
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Laporan pendapat kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses analisis
pendapat kewajaran.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya
4. Penilai mengunakan proyeksi keuangan yang dibuat oleh manejemen.
5. Laporan Pendapat Kewajaran ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan pendapat kewajaran telah
disusun sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) No. 35/POJK.04/2020 tentang
Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar
Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas Laporan Pendapat kewajaran dan Kesimpulan Opini Akhir.
8. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Penilaian dari Pemberi Tugas.
9. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di luar
pengadilan) yang berkaitan dengan objek penilaian tidak menjadi tanggung jawab kami.
10. Kami ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara khusus
hanya terbatas pada aspek nilai atas objek penilaian, diluar dari aspek perpajakan dan hukum
karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
11. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang berkaitan
dengan kondisi objek penilaian, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya bukan menjadi
tanggung jawab kami.
12. Laporan pendapat kewajaran ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
13. Laporan pendapat kewajaran ini sebagai salah satu informasi untuk dijadikan dasar pemikiran
dalam mengambil keputusan, akan tetapi tidak mengikat dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar
penentu suatu keputusan yang berakibat hukum, karena laporan pendapat kewajaran ini semata-
mata dibuat berdasarkan kajian disiplin ilmu dan kemampuan yang kami miliki.
14. Laporan pendapat kewajaran ini tidak berlaku dan tidak sah apabila tidak terdapat tanda tangan
penilai berijin beserta stempel perusahaan ( corporate seal) yang resmi dari KJPP Ferdinand, Danar,
Ichsan & Rekan.
15. Laporan penilaian ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan maksud
dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan penilaian.
Halaman 56 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 58
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan penilaian adalah benar sesuai dengan
pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap objek Penilaian.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil pendapat kewajaran yang dilaporkan.
5. Penilaian dilakukan dengan memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) No.
35/POJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi objek penilaian.
8. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
dalam laporan pendapat kewajaran ini.
9. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Pendapat
Kewajaran.
10. Kami bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta lengkap.
11. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan informasi
dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap
atau menyesatkan.
12. Penugasan pendapat kewajaran telah dilakukan terhadap objek penilaian pada tanggal penilaian
(cut off date).
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
pendapat kewajaran.
14. Kesimpulan pendapat kewajaran yang dihasilkan dalam penugasan pemberian pendapat
kewajaran profesional telah disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan pendapat kewajaran telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang telah
terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 57 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 59
Penilai Tanda Tangan
Penanggung Jawab:
M. Ichsan Suud, S.P., M.B.A., MAPPI (Cert.)
Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453
MAPPI No. : 10-S-02571
OJK No. : KEP-717/KS.13/2026
RMK No. : RMK-2017-00526
Pemeriksa:
Bangkit Widhi Raharjo, S.E.
MAPPI No. : 15-T-06112
RMK No. : RMK-2017.01119
Penilai:
Yus Dwiantoro, S.Kom.
MAPPI No. : 21-P-10897
RMK No. : RMK-2023.04530
Penilai:
Ratu Ayu Okta K., S.Ak.
MAPPI No. : 24-P-12454
RMK No. : RMK-2026.05227
Halaman 58 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 60
LAMPIRAN Halaman 59 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 61
Lampiran 1
ANALISA RENCANA TRANSAKSI
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
A. Analisa Kewajaran
Keterangan Nilai (%)
Interest Pasar (range) 5,35% 7,50%
Batas Atas (7,5%) 5,75% 8,06%
Batas Bawah (7,5%) 4,95% 6,94%
Rencana Nilai Transaksi 5,28% 5,28%
Selisih Nilai Rencana Transaksi Terhadap Nilai Pasar Aset 1,26% 42,00%
*Rencana Transaksi bersifat : Wajar
B. Analisa Materialitas
Keterangan Nilai Rp Juta
Nilai Buku UNTR per 31 Desember 2025 103.136.323
Rencana Nilai Transaksi 671.280
Persentase Rencana Nilai Transaksi terhadap Nilai Buku 0,65%
*Rencana Transaksi bersifat : Tidak Material
Page 62
Lampiran 2
PT United Tractors Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proforma Laporan Posisi keuangan Konsolidasi
31 Desember 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Keterangan 12 2025 Transaction 12 2025 (proforma)
Aset
Aset Lancar
Kas dan setara kas 26.570.772 - 26.570.772
Piutang usaha
-Pihak ketiga 18.559.795 18.559.795
-Pihak berelasi 1.357.868 1.357.868
Piutang non-usaha -
-Pihak ketiga 492.811 492.811
-Pihak berelasi 1.203.084 1.203.084
Persediaan 16.729.809 - 16.729.809
Proyek dalam pelaksanaan
-Pihak ketiga 28.698 28.698
-Pihak berlasi -
Pajak dibayar dimuka -
-Pajak penghasilan 1.653.543 1.653.543
-Pajak lain-lain 3.643.857 3.643.857
Uang muka dan biaya dibayar di muka 1.543.309 1.543.309
Investasi lain-lain -
Aset lancar lain-lain 357.480 357.480
Jumlah Aset Lancar 72.141.026 - 72.141.026
Aset Tidak Lancar
Piutang usaha
-Pihak ketiga 453.411 453.411
-Pihak berelasi 18.957 18.957
Piutang non-usaha -
-Pihak ketiga 88.336 88.336
-Pihak berelasi 3.103.936 3.103.936
Persediaan 105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka -
-Pajak penghasilan 1.446.559 1.446.559
-Pajak lain-lain 1.650.429 1.650.429
Kas dan deposito berjangka 787.806 787.806
Uang muka 793.619 793.619
Investasi pada entitas asosiasi dan pengendalian 17.223.562 17.223.562
Investasi lain-lain 3.175.766 3.175.766
Aset tetap 45.296.550 45.296.550
Properti pertambangan 14.809.384 14.809.384
Properti investasi 244.469 244.469
Biaya eksplorasi dan pengembangan tangguhan 2.768.518 2.768.518
Aset tambang berproduksi 3.958.340 3.958.340
Beban tangguhan 1.169.123 1.169.123
Goodwill 3.510.559 3.510.559
Aset pajak tangguhan 4.891.419 4.891.419
Jumlah Aset Tidak Lancar 105.496.273 - 105.496.273
Jumlah Aset 177.637.299 - 177.637.299
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha
-Pihak ketiga 29.095.249 29.095.249
-Pihak berelasi 213.679 213.679
Utang non-usaha
-Pihak ketiga 1.132.969 1.132.969
-Pihak berelasi 87.548 87.548
Utang Pajak -
-Pajak penghasilan 825.803 825.803
-Pajak lain-lain 584.846 584.846
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan -
-Pihak ketiga 857.034 857.034
-Pihak berelasi 44.175 44.175
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Pinjaman bank jangka pendek 560.000 560.000
Bagian jangka pendek dari utang jangka panjang -
-Pinjaman bank 9.682.666 9.682.666
-Sewa pembiayaan 801.430 801.430
-Pinjaman lain-lain 560.318 560.318
Bagian jangka pendek dari liabilitas jangka panjang -
Instrumen keuangan derivatif -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 - 53.212.975
Liabilitas Jangka Panjang
Utang non-usaha
-Pihak berelasi
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Instrumen keuangan derivatif -
Provisi 1.154.627 1.154.627
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang setelah dikurangi bagian
jangk pendek
-Pinjaman bank 6.054.620 6.054.620
-Sewa pembiayaan 976.309 976.309
-Pinjaman lain-lain 281.698 281.698
Pendapatan tangguhan -
Liabilitas keuangan jangka panjang lain-lain 3.555.105 3.555.105
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 - 21.288.001
Jumlah Liabilitas 74.500.976 - 74.500.976
Ekuitas
Modal saham 932.534 932.534
Tambahan modal disetor 9.703.937 9.703.937
Saham Treasury (4.902.237) (4.902.237)
Saldo laba -
-Dicadangkan 186.507 186.507
-Belum dicadangkan 85.547.627 7.414 85.555.041
Cadangan lindung nilai (2.065.280) (2.065.280)
Cadangan penyesuaian nilai wajar dalam investasi -
Cadangan penyesuaian nilai wajar aset tetap 19.386 19.386
Selisih kurs 9.227.066 9.227.066
Transaksi dengan kepentingan nonpengendali (875.920) (875.920)
Kepentingan non pengendali 5.362.703 (7.414) 5.355.289
Jumlah Ekuitas 103.136.323 - 103.136.323
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 - 177.637.299
Page 63
Lampiran 3
PT United Tractors Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proforma Laporan Laba Rugi Komprehensif
31 Desember 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Keterangan 12 2025 Transaction 12 2025 (proforma)
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) (101.597.306)
Laba Bruto 29.703.504 - 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) (1.597.792)
Beban umum dan administrasi (6.040.414) (6.040.414)
Kerugian penurunan nilai properti pertambangan - -
Beban lain-lain (256.226) (256.226)
Penghasilan lain-lain -
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) (2.625.818)
Bagian atas laba bersih entitas (245.576) (245.576)
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 20.182.167 - 20.182.167
Beban Pajak Penghasilan (5.005.403) - (5.005.403)
Laba Tahun Berjalan 15.176.764 - 15.176.764
Pendapatan/Beban Komprehensif Lain
Selisih kurs 1.404.607 1.404.607
Cadangan lindung nilai (2.772.982) (2.772.982)
Perubahan nilai wajar aset -
Keuntungan/kerugian aktuarial atas program pensiun 210.886 210.886
Pajak penghasilan terkait -
Bagian atas beban komperehensif dari entitas 407.892 407.892
Cadangan nilai wajar atas revaluasi properti investasi -
Pendapatan Komprehensif Lain (749.597) (749.597)
Beban pajak penghasilan terkait -
Pendapatan Komprehensif Lain Setelah Pajak (749.597) (749.597)
Jumlah Laba Komperenhesif Tahun Berjalan 14.427.167 - 14.427.167
Page 64
Lampiran 4
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Laba (Rugi) Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah
Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
(in mio IDR)
2026 2027 2028 2029 2030 2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958) (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571) (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operating profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Gain/(loss) on forex 201.589 - - - - 201.589 - - - -
Net interest (1.489.163) (1.277.819) (874.076) (672.664) (492.192) (1.473.353) (1.246.199) (842.456) (641.044) (460.572)
Other income/(charges) (1.202.616) (1.163.413) (1.128.329) (1.094.297) (1.061.286) (1.201.234) (1.160.648) (1.125.563) (1.091.532) (1.058.521)
Profit before tax 8.479.967 8.858.029 9.635.835 10.220.426 10.793.531 8.497.159 8.892.415 9.670.220 10.254.811 10.827.916
Income tax (2.350.288) (1.947.432) (2.118.549) (2.247.159) (2.373.242) (2.353.766) (1.954.388) (2.125.505) (2.254.115) (2.380.198)
Profit after tax 6.129.679 6.910.598 7.517.286 7.973.267 8.420.289 6.143.394 6.938.027 7.544.715 8.000.696 8.447.718
Page 65
Lampiran 5
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah
Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
(in mio IDR)
2026 2027 2028 2029 2030 2026 2027 2028 2029 2030
Current Asset
Cash & cash equivalent 21.937.642 19.612.445 17.161.656 17.404.599 18.669.135 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541 18.811.741
AR 21.837.619 22.492.748 23.167.530 23.862.556 24.578.433 21.837.619 22.492.748 23.167.530 23.862.556 24.578.433
Inventories 15.003.286 15.453.385 15.916.986 16.394.496 16.886.331 15.003.286 15.453.385 15.916.986 16.394.496 16.886.331
Advance payment 2.231.024 2.258.868 2.287.058 2.315.601 2.344.500 2.231.024 2.258.868 2.287.058 2.315.601 2.344.500
Prepaid expenses - - - - - - - - - -
Other current asset 11.579.832 10.474.817 10.283.532 9.698.979 9.147.653 11.579.832 10.474.817 10.283.532 9.698.979 9.147.653
Non Current Asset
Due from shareholder 1.836.737 1.947.380 2.080.603 2.214.438 2.356.882 1.836.737 1.947.380 2.080.603 2.214.438 2.356.882
Investment in shares of stock 19.909.029 20.506.300 21.121.489 21.755.134 22.407.788 19.909.029 20.506.300 21.121.489 21.755.134 22.407.788
Fixed assets 67.235.809 70.103.297 71.954.705 74.439.228 77.009.538 67.235.809 70.103.297 71.954.705 74.439.228 77.009.538
Mining properties - - - - - - - - - -
Deferred tax assets 5.340.499 5.420.345 5.492.229 5.569.705 5.648.273 5.340.499 5.420.345 5.492.229 5.569.705 5.648.273
Coal exploration & development costs 9.267.577 8.691.838 8.245.034 7.777.009 7.335.551 9.267.577 8.691.838 8.245.034 7.777.009 7.335.551
Goodwill 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251 3.422.251
Other non current asset 1.468.471 1.436.736 1.344.059 1.286.186 1.230.806 1.468.471 1.436.736 1.344.059 1.286.186 1.230.806
Total Asset 181.069.776 181.820.410 182.477.133 186.140.181 191.037.141 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Current Liabilities
AP 19.656.605 20.246.303 20.853.693 21.479.303 22.123.682 19.656.605 20.246.303 20.853.693 21.479.303 22.123.682
Accrued expenses 7.163.710 8.173.524 8.254.952 8.877.891 9.257.087 7.163.710 8.173.524 8.254.952 8.877.891 9.257.087
Tax payables 2.136.133 2.522.828 2.468.119 2.664.755 2.742.012 2.136.133 2.522.828 2.468.119 2.664.755 2.742.012
Other current liabilities 15.991.407 14.973.776 16.860.849 17.386.816 18.753.591 15.991.407 14.973.776 16.860.849 17.386.816 18.753.591
Non Current Liabilities
Deferred tax liabilities 5.323.288 4.798.525 4.245.435 3.791.511 3.370.307 5.323.288 4.798.525 4.245.435 3.791.511 3.370.307
LT portion of long term bank loan 24.769.658 20.357.400 13.751.767 10.456.474 7.503.776 24.105.468 20.389.020 13.783.387 10.488.094 7.535.396
Employee benefit obligations 6.655.989 6.787.349 6.927.071 7.066.726 7.210.697 6.655.989 6.787.349 6.927.071 7.066.726 7.210.697
Other non current liabilities 939.823 880.017 990.921 1.021.832 1.102.158 939.823 880.017 990.921 1.021.832 1.102.158
Total liabilities 82.636.613 78.739.723 74.352.808 72.745.307 72.063.310 81.972.423 78.771.343 74.384.428 72.776.927 72.094.930
Equity attributable to owners 93.303.849 97.653.494 102.318.211 107.216.328 112.380.268 93.308.731 97.668.140 102.342.621 107.250.501 112.424.206
Non-controlling interests 5.129.314 5.427.193 5.806.114 6.178.547 6.593.563 5.136.764 5.449.543 5.843.364 6.230.696 6.660.611
Total equity 98.433.163 103.080.687 108.124.325 113.394.874 118.973.831 98.445.495 103.117.683 108.185.984 113.481.197 119.084.817
Total Liabilities + Equity 181.069.776 181.820.410 182.477.133 186.140.181 191.037.141 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Page 66
Lampiran 6
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Laba (Rugi) Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah
Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
(in mio IDR)
2026 2027 2028 2029 2030 2026 2027 2028 2029 2030
Beginning Balance 26.570.772 21.937.642 19.612.445 17.161.656 17.404.599 26.570.772 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541
Cash from Operating Activities 2.933.660 13.749.428 16.798.818 16.398.799 17.252.821 2.945.992 14.438.282 16.791.862 16.391.843 17.245.864
EBITDA 22.894.787 23.223.892 23.562.869 23.912.017 24.271.638 22.894.787 23.223.892 23.562.869 23.912.017 24.271.638
Working Capital (16.121.677) (6.249.212) (3.771.426) (4.593.395) (4.153.384) (16.121.677) (5.585.022) (3.803.046) (4.625.015) (4.185.004)
Interest Expense - Net (1.489.163) (1.277.819) (874.076) (672.664) (492.192) (1.473.353) (1.246.199) (842.456) (641.044) (460.572)
Current Tax (2.350.288) (1.947.432) (2.118.549) (2.247.159) (2.373.242) (2.353.766) (1.954.388) (2.125.505) (2.254.115) (2.380.198)
Cash from Investing Activities (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619) (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619)
Capex (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567) (9.959.567)
Investment in shares (8.807.683) - - - - (8.807.683) - - - -
Due To - - - - - - - - - -
Dividend received 188.313 193.963 199.782 205.775 211.948 188.313 193.963 199.782 205.775 211.948
Cash from Financing Activities 11.012.146 (6.309.021) (9.489.822) (6.402.064) (6.240.666) 10.347.956 (6.277.401) (9.458.202) (6.370.444) (6.209.046)
Proceed/(Repayment) of debt 15.696.141 (3.748.068) (6.637.253) (3.326.913) (2.984.318) 15.031.951 (3.716.448) (6.605.633) (3.295.293) (2.952.698)
Dividend payment (4.683.994) (2.560.953) (2.852.569) (3.075.151) (3.256.348) (4.683.994) (2.560.953) (2.852.569) (3.075.151) (3.256.348)
Due From - - - - - - - - - -
Cash Surplus (deficit) (4.633.130) (2.325.197) (2.450.789) 242.943 1.264.536 (5.284.989) (1.604.723) (2.426.126) 267.607 1.289.200
Ending Cash 21.937.642 19.612.445 17.161.656 17.404.599 18.669.135 21.285.783 19.681.060 17.254.935 17.522.541 18.811.741
Page 67
Lampiran 7
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN POSISI KEUANGAN
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian Satuan
2026 2027 2028 2029 2030
Aset Lancar
Sebelum Transaksi Rp Juta 72.589.403 70.292.262 68.816.763 69.676.231 71.626.052
Setelah Transaksi Rp Juta 71.937.545 70.360.877 68.910.042 69.794.173 71.768.658
Inkremental Rp Juta (651.858) 68.615 93.279 117.943 142.606
Aset Tidak Lancar
Sebelum Transaksi Rp Juta 108.480.373 111.528.148 113.660.371 116.463.951 119.411.089
Setelah Transaksi Rp Juta 108.480.373 111.528.148 113.660.371 116.463.951 119.411.089
Inkremental Rp Juta - - - - -
Jumlah Aset
Sebelum Transaksi Rp Juta 181.069.776 181.820.410 182.477.133 186.140.181 191.037.141
Setelah Transaksi Rp Juta 180.417.918 181.889.026 182.570.412 186.258.124 191.179.747
Inkremental Rp Juta (651.858) 68.615 93.279 117.943 142.606
Liabilitas Jangka Pendek
Sebelum Transaksi Rp Juta 44.947.855 45.916.432 48.437.613 50.408.764 52.876.372
Setelah Transaksi Rp Juta 44.947.855 45.916.432 48.437.613 50.408.764 52.876.372
Inkremental Rp Juta - - - - -
Liabilitas Jangka Panjang
Sebelum Transaksi Rp Juta 37.688.757 32.823.291 25.915.195 22.336.543 19.186.938
Setelah Transaksi Rp Juta 37.024.567 32.854.911 25.946.815 22.368.163 19.218.558
Inkremental Rp Juta (664.190) 31.620 31.620 31.620 31.620
Jumlah Liabilitas
Sebelum Transaksi Rp Juta 82.636.613 78.739.723 74.352.808 72.745.307 72.063.310
Setelah Transaksi Rp Juta 81.972.423 78.771.343 74.384.428 72.776.927 72.094.930
Inkremental Rp Juta (664.190) 31.620 31.620 31.620 31.620
Ekuitas
Sebelum Transaksi Rp Juta 98.433.163 103.080.687 108.124.325 113.394.874 118.973.831
Setelah Transaksi Rp Juta 98.445.495 103.117.683 108.185.984 113.481.197 119.084.817
Inkremental Rp Juta 12.332 36.995 61.659 86.323 110.986
Page 68
Lampiran 8
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN LABA(RUGI)
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian Satuan
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan
Sebelum Transaksi Rp Juta 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
Setelah Transaksi Rp Juta 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
Inkremental Rp Juta - - - - -
Biaya Pokok Pendapatan
Sebelum Transaksi Rp Juta (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Setelah Transaksi Rp Juta (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Inkremental Rp Juta - - - - -
Beban Bunga (net interest)
Sebelum Transaksi Rp Juta (1.489.163) (1.277.819) (874.076) (672.664) (492.192)
Setelah Transaksi Rp Juta (1.473.353) (1.246.199) (842.456) (641.044) (460.572)
Inkremental Rp Juta 15.810 31.620 31.620 31.620 31.620
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Sebelum Transaksi Rp Juta 6.129.679 6.910.598 7.517.286 7.973.267 8.420.289
Setelah Transaksi Rp Juta 6.143.394 6.938.027 7.544.715 8.000.696 8.447.718
Inkremental Rp Juta 13.714 27.429 27.429 27.429 27.429
Page 69
Lampiran 9
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN ARUS KAS
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
31 Des 31 Des 31 Des 31 Des 31 Des
Uraian Satuan
2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas dari Kegiatan Operasional
Sebelum Transaksi Rp Juta 2.933.660 13.749.428 16.798.818 16.398.799 17.252.821
Setelah Transaksi Rp Juta 2.945.992 14.438.282 16.791.862 16.391.843 17.245.864
Inkremental Rp Juta 12.332 688.854 (6.956) (6.956) (6.956)
Arus Kas dari Kegiatan Investasi
Sebelum Transaksi Rp Juta (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619)
Setelah Transaksi Rp Juta (18.578.937) (9.765.604) (9.759.785) (9.753.792) (9.747.619)
Inkremental Rp Juta - - - - -
Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan
Sebelum Transaksi Rp Juta 11.012.146 (6.309.021) (9.489.822) (6.402.064) (6.240.666)
Setelah Transaksi Rp Juta 10.347.956 (6.277.401) (9.458.202) (6.370.444) (6.209.046)
Inkremental Rp Juta (664.190) 31.620 31.620 31.620 31.620
Page 70
Lampiran 10
ANALISA SENSITIVITAS PENDAPATAN
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
Rp Juta
Beban Bunga Naik 5%
Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operating profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Gain/(loss) on forex 201.589 - - - -
Net interest (1.563.621) (1.341.710) (917.780) (706.297) (516.801)
Other income/(charges) (1.202.616) (1.163.413) (1.128.329) (1.094.297) (1.061.286)
Profit before tax 8.405.509 8.794.138 9.592.131 10.186.793 10.768.921
Income tax (1.849.212) (1.934.710) (2.110.269) (2.241.094) (2.369.163)
Profit after tax 6.556.297 6.859.428 7.481.863 7.945.699 8.399.759
Beban Bunga Turun 5%
Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des
Uraian
2026 2027 2028 2029 2030
Revenue 106.471.434 109.665.577 112.955.544 116.344.211 119.834.537
COGS (86.925.981) (89.533.761) (92.219.773) (94.986.367) (97.835.958)
Gross profit 19.545.453 20.131.816 20.735.771 21.357.844 21.998.579
Opex (8.575.296) (8.832.555) (9.097.531) (9.370.457) (9.651.571)
Operating profit 10.970.157 11.299.262 11.638.240 11.987.387 12.347.008
Gain/(loss) on forex 201.589 - - - -
Net interest (1.414.705) (1.213.928) (830.372) (639.031) (467.582)
Other income/(charges) (1.202.616) (1.163.413) (1.128.329) (1.094.297) (1.061.286)
Profit before tax 8.554.425 8.921.920 9.679.539 10.254.059 10.818.141
Income tax (1.881.973) (1.962.822) (2.129.499) (2.255.893) (2.379.991)
Profit after tax 6.672.451 6.959.098 7.550.040 7.998.166 8.438.150
Page 71
Page 72
Page 73
and Proxy of Directors
Names mentioned 91 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.2 ×6
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.2 ×4
unresolved
org
KJPP FDI
p.2 ×4
unresolved
org
PT Asmin Bora Bronang
p.2
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Rintis
p.4 ×4
unresolved
org
Rianto & Rekan
p.4 ×4
unresolved
person
MBA.
p.6 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.8
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.8 ×2
unresolved
—
Telepon/Fax
p.8 ×3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.10 ×13
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Tanudiredja
p.11 ×2
unresolved
org
Rintis & Rekan
p.11 ×2
unresolved
person
Jose Dima Satria
· Notaris
p.12 ×7
unresolved
org
Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-AH.
p.12 ×3
unresolved
person
Agung Sri Wijayanti
p.13 ×3
unresolved
person
Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
· Presiden Komisaris
p.14 ×6
unresolved
—
Tony Susanto Halim
p.14 ×5
unresolved
—
Arianto Sasono
p.14 ×2
unresolved
—
Oentoro Surya
p.14 ×2
unresolved
—
Roberto Dwi Handoko
p.14 ×2
unresolved
—
Chintya Theresa Am
p.14 ×2
unresolved
—
Brian Wibisono Surya
p.14 ×2
unresolved
—
Eko Susanto
p.14
unresolved
—
Grindo Nugroho
p.14 ×2
unresolved
—
Ignatius Stanley Hendarto
p.14 ×2
unresolved
org
PT Inter Astra Motor Works
p.15
unresolved
person
Djojo Muljadi
p.15
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.15
unresolved
org
Menteri Hukum Republik Indonesia
p.15 ×4
unresolved
org
Carriage Ltd.
p.16 ×2
unresolved
org
Jardine Matheson Holdings Ltd.
p.16
unresolved
person
Darmawan Tjoa
p.17
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.17 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI
p.17
unresolved
org
PT Prima Multi Mineral
p.18
unresolved
org
PT Kadya Caraka Mulia
p.18
unresolved
org
PT Telen Orbit Prima
p.18
unresolved
org
PT Duta Nurcahya
p.18
unresolved
org
PT Asmin Bara Jaan
p.19
unresolved
org
PT Duta Sejahtera
p.19
unresolved
org
PT Borneo Berkat Makmur
p.19
unresolved
org
PT Piranti Jaya Utama
p.19
unresolved
person
Sutjipto
p.19
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Aasasi Manusia Republik Indonesia
p.19
unresolved
org
PT Andalan Teguh Berjaya
p.19
unresolved
org
PT Mandira Sanni Pratama
p.20
unresolved
person
Benjamin Herrenden Birks
· Komisaris
p.20 ×3
unresolved
—
Efredi Yudianto
p.21
unresolved
org
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
p.30 ×2
unresolved
org
Kementerian ESDM
p.31 ×3
unresolved
org
Pusat Statistik
p.33 ×2
unresolved
org
PT Megah Energi Khatulistiwa. Capaian
p.35
unresolved
org
Direktorat Jenderal Mineral dan Batu
p.36
unresolved
org
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi
p.37 ×2
unresolved
org
Ichsan & Rekan
p.57
unresolved
person
Bangkit Widhi Raharjo
p.59
unresolved
person
Yus Dwiantoro
p.59
unresolved
org
PT Asmin Bara Bronang Per
p.61 ×5
unresolved
org
PT Asmin Bara Bronang Proyeksi Laba
p.64 ×2
unresolved
org
PT Asmin Bara Bronang Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian
p.65
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.273
14084 ms
12 Sep 2026 21:55
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': 'IDR',
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'CONFLICT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': '40000000'}