Skip to content
Back to announcement

20260702_UNTR_Informasi Transaksi Afiliasi_32107613_lamp2.pdf

Asset transaction Needs review UNTR

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 73

Page 1

          
Page 2
                 Kantor Jasa Penilai Publik                                                                           The Manhattan Square

                 FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                                        Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                                                                                                           Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                 Property, Business Valuation & Advisory                                                 E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                 Licence No. 2.22.01 76                                                                        Website: www.fdipartners.co
                 KMK 460/KM.1/20 22                                                                                 Phone (62 21) 27875910
                 Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia



Jakarta, 29 Juni 2026



Kepada Yth.
PT Asmin Bara Bronang
Gedung Pamapersada
Jalan Rawagelam I No. 9
Kawasan Industri Jakarta Pulogadung (JIEP)
Jakarta Timur 13930

No. Laporan    : 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026

Hal             : Pendapat Kewajaran

Dengan hormat,

LAPORAN PENDAPAT KEWAJARAN ATAS RENCANA TRANSAKSI PINJAM MEMINJAM ANTARA
PT TUAH TURANGGA AGUNG (“TTA”) DAN PT ASMIN BARA BRONANG (“ABB”)

Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No. 025/FDI/PB-FO/V/2026 tertanggal 26 Mei 2026,
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (“KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Asmin Bara Bronang (“ABB”) untuk memberikan laporan hasil analisis tentang pendapat kewajaran
sehubungan dengan rencana penandatanganan perjanjian pinjaman antara PT Tuah Turangga Agung
(“TTA”) dan PT Asmin Bora Bronang (“ABB”), keduanya merupakan anak perusahaan PT United Tractors
Tbk (“Perseroan” atau “UNTR”) (selanjutnya disebut “Perjanjian Pinjaman”), di mana TTA sebagai
pemberi pinjaman sepakat untuk memberikan pinjaman sampai dengan sejumlah USD40.000.000
(empat puluh juta Dolar Amerika Serikat) kepada ABB selaku penerima pinjaman dengan tingkat suku
bunga sebesar 5,28% (TSOFR (3,65%) + margin (1,63%)) dan periode fasilitas sampai dengan 5 tahun
sejak tanggal Perjanjian Pinjaman (“Rencana Transaksi”). Atas dasar hal tersebut, maka Rencana
Transaksi merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Republik Indonesia Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan
Kepentingan (“POJK 42”).

Maksud pemberian pendapat kewajaran adalah untuk memberikan laporan hasil analisis tentang
Kewajaran atas Rencana Transaksi. Laporan Pendapat Kewajaran ini ditujukan untuk kepentingan
manajemen UNTR, selaku perusahaan publik, dalam rangka memenuhi ketentuan dalam POJK 42.

Dalam melakukan analisis, sebagai dasar dan pertimbangan bagi kami dalam memberikan pendapat
kewajaran atas Rencana Transaksi tersebut, kami melandaskan dan berdasarkan pada informasi dan
data sebagaimana diberikan oleh manajemen UNTR, yang mana kami mengasumsikan bahwa
informasi dan data yang telah diberikan oleh manajemen UNTR adalah benar, lengkap, dapat
diandalkan, dan tidak menyesatkan. Kami tidak melakukan audit ataupun verifikasi secara mendetail
atas semua informasi dan data yang telah diberikan oleh manajemen UNTR, baik lisan maupun tulisan,
dan dengan demikian kami tidak dapat memberikan jaminan atau bertanggung-jawab apabila
informasi dan data yang diberikan tersebut menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.

Pendekatan dan metode penilaian yang kami gunakan dalam menilai kewajaran atas Rencana Transaksi
adalah dengan menggunakan metodologi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif




                                 Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
berupa analisis terhadap latar belakang dan manfaat serta risiko Rencana Transaksi, analisis terhadap
UNTR, serta analisis terhadap kondisi industri dan prospek industri atau bidang usaha yang dijalankan
UNTR. Analisis kuantitatif berupa analisis kinerja historis, analisis laporan keuangan sebelum dan
sesudah transaksi (Proforma) dari sisi UNTR untuk mengetahui dampak keuangan secara konsolidasi
dari transaksi yang dilakukan, serta analisis inkremental dan analisis sensitivitas atas Rencana Transaksi.

Analisis atas Rencana Transaksi, Rencana Transaksi berupa Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement)
antara TTA selaku pihak yang memberikan pinjaman dan ABB selaku pihak yang menerima pinjaman
yang akan digunakan untuk kebutuhan operasional ABB.

ABB merupakan suatu perseroan terbatas yang bergerak di bidang usaha pertambangan khususnya
tambang batu bara. ABB berkedudukan di Jakarta Timur dan beroperasi di Kalimantan Tengah. Kantor
pusat beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9 Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta.

Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk
mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang memadai guna
memenuhi kebutuhan operasional serta menjaga kelancaran kegiatan usaha ABB. Atas hal tersebut, ABB
bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan sebagai sumber pembiayaan
kebutuhan operasional untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha. Dengan transaksi ini ABB
diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk menjaga kesinambungan operasional
perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan pengembangan perusahaan secara keseluruhan.

Pendekatan dan metode penilaian yang kami gunakan dalam menilai kewajaran atas Rencana Transaksi
adalah dengan menggunakan metodologi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif
berupa analisis terhadap latar belakang dan manfaat serta risiko Rencana Transaksi, analisis terhadap
UNTR, serta analisis terhadap kondisi industri dan prospek industri atau bidang usaha yang dijalankan
UNTR. Analisis kuantitatif berupa analisis kinerja historis, analisis laporan keuangan sebelum dan
sesudah transaksi (proforma) UNTR untuk mengetahui dampak keuangan secara konsolidasi dari
transaksi yang dilakukan, serta analisis inkremental dan analisis sensitivitas atas Rencana Transaksi.

1. Laporan pendapat kewajaran disusun berdasarkan pada prinsip integritas informasi dan data. Dalam
   menyusun laporan ini, kami melandaskan dan berdasarkan pada informasi dan data sebagaimana
   diberikan manajemen UNTR, yang mana berdasarkan hakekat kewajaran adalah benar, lengkap,
   dapat diandalkan serta tidak menyesatkan.
2. Kami tidak melakukan audit ataupun uji kepatuhan secara rinci atas penjelasan maupun data - data
   yang diberikan oleh manajemen UNTR, baik lisan maupun tulisan, dan dengan demikian kami tidak
   dapat memberikan jaminan atau bertanggungjawab terhadap kebenaran dan kelengkapan dari
   informasi atau penjelasan tersebut.
3. Segala perubahan terhadap data-data yang telah diberikan manajemen UNTR pada kami,
   sebagaimana tercantum pada bagian sumber data dan Informasi, dapat mempengaruhi hasil
   penilaian secara material. Oleh karena itu, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas
   kemungkinan terjadinya perbedaan kesimpulan yang disebabkan perubahan data tersebut.
4. Laporan pendapat kewajaran ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan
   perkonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan Pemerintah pada tanggal Laporan
   ini dikeluarkan.
5. Kami menganggap bahwa sejak tanggal penerbitan Laporan pendapat kewajaran ini tidak terjadi
   perubahan yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam
   Laporan penilaian ini. Laporan pendapat kewajaran ini hanya dipersiapkan untuk dapat



Halaman 2                                                  00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 4
   dipergunakan sesuai dengan tujuan yang telah disebutkan dalam laporan ini, dan tidak dapat
   dipergunakan untuk tujuan lainnya.
6. Laporan pendapat kewajaran ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan sebagian
   analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan keseluruhan informasi dan analisis dapat
   menyebabkan pandangan yang menyesatkan.
7. Kami tidak bertanggungjawab untuk menegaskan kembali atau melengkapi pendapat kami karena
   peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal surat ini. Rencana transaksi merupakan transaksi
   afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK 42 dimana TTA dan ABB merupakan anak perusahaan
   Perseroan.

Rencana Transaksi atas Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) antara TTA dan ABB, dengan total fasilitas
pinjaman yang diberikan oleh TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta
Dolar Amerika Serikat). Atas dasar hal tersebut, maka objek analisis pendapat kewajaran dalam hal ini
adalah Rencana Transaksi yang berupa rencana pemberian pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau
setara Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-). Berdasarkan draft Perjanjian Pinjaman (Loan
Agreement) antara TTA dengan ABB, sepakat untuk mengganti suku bunga pinjaman Term SOFR (Term
Secured Overnight Financing Rate) dan Marjin yang disepakati sebesar 1,63%.

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR periode yang berakhir 31 Desember 2025 yang
telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, jumadi, Rianto & Rekan, ekuitas UNTR tercatat sebesar
Rp103.136.323 juta dan nilai transaksi sebesar            USD40.000.000,- atau setara dengan Rp
671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-) maka Rencana Transaksi sebesar 0,65% dari ekuitas Perseroaan
dengan demikian bukan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK 17”).

Memasuki periode ke depan, termasuk tahun 2026, UNTR memandang bahwa lanskap industri akan
tetap diwarnai oleh volatilitas harga komoditas, ketidakpastian geopolitik global, serta dinamika
kebijakan nasional di sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur. Penurunan rencana produksi batu
bara dan nikel nasional, percepatan agenda transisi energi, serta fluktuasi harga batu bara dan nikel
diperkirakan menjaga tingkat persaingan tetap ketat, khususnya pada segmen kontraktor
penambangan. Dalam konteks tersebut, UNTR menilai bahwa ketahanan bisnis tidak lagi semata
ditentukan oleh siklus harga komoditas, melainkan oleh kemampuan menjaga efisiensi operasional,
fleksibilitas strategi, serta keseimbangan portofolio usaha.

Pada bisnis inti batu bara dan kontraktor penambangan, arah ke depan difokuskan pada optimalisasi
operasi untuk menjaga arus kas yang sehat. UNTR memandang bahwa ruang pertumbuhan batu bara
bersifat terbatas, meskipun komoditas ini masih memiliki peran transisional hingga energi terbarukan
menjadi lebih ekonomis. Untuk itu, UNTR menargetkan penjualan batu bara sebesar 18,8 juta ton pada
2026, didukung oleh peningkatan kapasitas infrastruktur seperti jetty dan pelabuhan yang dijadwalkan
rampung pada tahun mendatang. Upaya peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keandalan
infrastruktur tetap menjadi prioritas agar bisnis inti dapat terus menjadi sumber kas yang andal dalam
mendukung strategi diversifikasi jangka menengah dan panjang.

Dengan Rencana Transaksi, ABB memperoleh pinjaman untuk kebutuhan dana operasional untuk dapat
tetap melaksanakan kegiatan usahanya jika dibutuhkan, sehingga hal ini juga akan memberikan citra
yang baik di mata investor dan masyarakat, bahwa pasca pandemi, UNTR dan grup tetap dapat
mempertahankan pangsa pasar, produktivitas dan juga memenuhi kebutuhan pelanggannya dengan
baik.

Halaman 3                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 5
Analisa kuantitatif mengacu kepada kinerja keuangan historis. Selama periode 2021 – 2025, total aset
menunjukkan peningkatan dari akhir tahun 2021 sampai dengan akhir 2025 dengan Compound Annual
Growth Rate (CAGR) sebesar 9,55%, peningkatan tersebut utamanya disebabkan kenaikan aset tetap,
persediaan dan pajak dibayar dimuka dan lain-lain. Total aset pada tahun 2022 menunjukkan
peningkatan tertinggi atau sebesar 24,80% dibanding tahun 2021. Peningkatan tersebut utamanya
disebabkan oleh kenaikan aset lancar sebesar 30,34% dari Rp 60,6 triliun menjadi Rp 78,9 triliun dan
kenaikan aset tidak lancar sebesar 18,46% dari Rp 51,9 triliun menjadi Rp 61,5 triliun

Analisa inkremental dilakukan untuk melihat manfaat Rencana Transaksi bagi UNTR. Berdasarkan
proyeksi keuangan UNTR sebelum dan setelah Rencana Transaksi periode 2026 – 2030 yang disusun
oleh manajemen, Rencana Transaksi memberikan nilai tambah berupa peningkatan pada laba tahun
berjalan, total aset, dan ekuitas bila Rencana Transaksi dilakukan sepanjang semua asumsi-asumsi
terpenuhi.

Analisis kewajaran dengan membandingkan antara tarif bunga Pinjaman Rencana Transaksi dengan
tarif bunga pinjaman bank lainnya. Berdasarkan perjanjian atas rencana transaksi, suku bunga yang
dikenakan adalah Term SOFR + Margin atau setara dengan 5,28% (TSOFR (3,65%) + margin (1,63%)
dengan asumsi TSOFR per 31 Desember 2025), sedangkan suku bunga rata-rata kredit bank per 31
Desember 2025 adalah berada pada kisaran 5,35% - 7,50%, sehingga tarif bunga pinjaman Rencana
Transaksi masih dalam batas wajar (batas atas - batas bawah) 7,5% terhadap suku bunga pinjaman,
dimana selisih suku bunga dari Rencana Transaksi dengan suku bunga pasar adalah sebesar 1,26%.




Halaman 4                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 6
Dengan demikian, berdasarkan analisis kewajaran atas Rencana Transaksi yang meliputi analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif, serta analisis inkremental, maka dari segi ekonomis dan keuangan,
menurut pendapat kami, Rencana Transaksi Pemberian pinjaman antara TTA dan ABB, dimana TTA dan
ABB merupakan anak perusahaan dari UNTR, adalah Wajar.

Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak
sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa
datang terkait dengan usaha UNTR, TTA, ABB, maupun atas transaksi yang dilakukan.


Demikian laporan pendapat kewajaran ini kami sampaikan, atas kerjasama dan kepercayaan yang telah
diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
KJPP FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN
Pemimpin Rekan




M. Ichsan Suud, SP., MBA., MAPPI (Cert)
Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453
MAPPI No.               : 10-S-02571
OJK No.                 : KEP-717/KS.13/2026
RMK                     : RMK-2017.00526




Halaman 5                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 7
                                                                       DAFTAR ISI

BAB I ....................................................................................................................................... 7
PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 7
   1.1       Uraian Mengenai Penugasan ............................................................................................................. 7
   1.2       Identifikasi Status Penilai ..................................................................................................................... 7
   1.3       Indentifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ...................................................................... 7
   1.4       Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan .................................. 8
   1.5       Maksud dan Tujuan Pemberian Pendapat Kewajaran .................................................................... 8
   1.6       Objek Analisis Pendapat Kewajaran ................................................................................................. 8
   1.7       Dampak Keuangan dari Transaksi yang Akan Dilakukan .............................................................. 8
   1.8       Pertimbangan Bisnis Yang Digunakan oleh Manajemen Terkait dengan Rencana Transaksi ... 9
   1.9       Keterkaitan Rencana Transaksi Dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan............................... 9
   1.10      Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ................................................................................................ 9
   1.11      Sumber Data dan Informasi ............................................................................................................... 9
   1.12      Metodologi Analisis Kewajaran Rencana Transaksi ...................................................................... 10
   1.13      Pernyataan Independensi Penilai ..................................................................................................... 10
   1.14      Distribusi Laporan Pendapat Kewajaran ......................................................................................... 11
   1.15      Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ................................................ 11
BAB II .................................................................................................................................... 14
ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI ....................................................................................... 14
   2.1.      Latar Belakang Rencana Transaksi .................................................................................................. 14
   2.2.      Maksud dan Tujuan Rencana Transaksi.......................................................................................... 14
   2.3.      Objek Rencana Transaksi ................................................................................................................. 14
   2.4.      Identifikasi Pihak-Pihak Yang Bertransaksi ..................................................................................... 14
   2.5.      Hubungan Pihak-Pihak Yang Bertransaksi .................................................................................... 19
   2.6.      Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati dalam Rencana Transaksi .................................... 21
BAB III ................................................................................................................................... 23
ANALISIS TENTANG KEWAJARAN TRANSAKSI ............................................................................ 23
   3.1.      Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan ...................................................................... 23
   3.2.      Analisis atas Rencana Transaksi ....................................................................................................... 23
   3.3.      Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi ...................................................................................... 24
   3.4.      Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi .................................................................................... 40
   3.5.      Analisis Kewajaran Atas Rencana Transaksi ................................................................................... 51
   3.6.      Analisis Faktor Lain Yang Relevan ................................................................................................... 52
   3.7.      Kesimpulan ......................................................................................................................................... 55
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 56
PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 57
LAMPIRAN .............................................................................................................................. 59

Halaman 6                                                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 8
                                                  BAB I
                                              PENDAHULUAN

1.1   Uraian Mengenai Penugasan

      Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No. 025/FDI/PB-FO/V/2026 tertanggal
      26 Mei 2026, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (“KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat
      penugasan dari PT Asmin Bara Bronang (“ABB”) untuk memberikan pendapat kewajaran atas
      rencana transaksi pinjam meminjam antara PT Tuah Turangga Agung (“TTA”) dan PT Asmin Bara
      Bronang (“ABB”), dimana TTA dan ABB merupakan anak perusahaan PT United Tractors Tbk
      (“Perseroan” atau “UNTR”) (selanjutnya disebut “Perjanjian Pinjaman”), di mana TTA sebagai
      pemberi pinjaman sepakat untuk memberikan pinjaman sampai dengan sejumlah
      USD40.000.000 (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat) kepada ABB selaku penerima pinjaman
      dengan tingkat suku bunga sebesar 5,28% (3,65%+1,63%) dan periode fasilitas sampai dengan
      5 (lima) tahun sejak tanggal Perjanjian Pinjaman (“Rencana Transaksi”). Atas dasar hal tersebut,
      maka Rencana Transaksi merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
      Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi
      dan Transaksi Benturan Kepentingan (“POJK 42”).

1.2   Identifikasi Status Penilai

      Pendapat Kewajaran ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan, selaku Penilai
      Independen untuk memberikan pendapat kewajaran yang objektif dan tidak memihak, sesuai
      KEPI; memiliki kompetensi untuk memberikan pendapat kewajaran atas objek yang dimaksud.
      KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin
      Usaha No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan
      mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:

      a. Pemimpin Rekan, Mochamad Ichsan Suud, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi
         penilaian bisnis dengan Izin No. B-1.16.00453 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia,
         dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) dengan Surat Keputusan No.KEP-
         717/KS.13/2026. Beliau adalah anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
      b. Penugasan Pendapat Kewajaran ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
         atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek penilaian dan/ atau
         pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi objektifitas, profesional dan tidak memihak.
      c. Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
         tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan pendapat
         kewajaran ini.

1.3   Indentifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

      Pemberi tugas dalam hal ini adalah ABB, dengan informasi sebagai berikut:

      Nama                          : PT. Asmin Bara Bronang
      Alamat                        : Gedung Pamapersada, Jalan Rawagelam I No.9, Kawasan Industri
                                    Pulogadung (JIEP), Jakarta Timur 13930
      Telepon/Fax                   : 021 - 2983 2091
      Bidang usaha                  : Pertambangan Batu Bara/Coal Mining



Halaman 7                                                 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 9
      Pengguna Laporan dalam hal ini adalah ABB dan UNTR, dengan informasi sebagai berikut :
      Nama                  : PT. Asmin Bara Bronang
      Alamat                : Gedung Pamapersada, Jalan Rawagelam I No.9, Kawasan Industri
                              Pulogadung (JIEP), Jakarta Timur 13930
      Telepon/Fax           : 021 - 2983 2091
      Bidang usaha          : Pertambangan Batu Bara/Coal Mining

      Nama                     : PT. United Tractors, Tbk.
      Alamat                   : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur 13910
      Telepon/Fax              : 021-24579999
      Bidang usaha             : Mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan, industry
                               konstruksi dan energi

1.4   Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan

      Tanggal penilaian Pendapat Kewajaran adalah tanggal 31 Desember 2025

      Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
      Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), masa berlaku laporan penilaian
      adalah selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian ( cut off date) dalam laporan
      penilaian.

1.5   Maksud dan Tujuan Pemberian Pendapat Kewajaran

      Maksud pemberian pendapat kewajaran adalah untuk memberikan laporan hasil analisis tentang
      Kewajaran atas Rencana Transaksi. Laporan Pendapat Kewajaran ini ditujukan untuk kepentingan
      manajemen UNTR, selaku perusahaan publik, dalam rangka memenuhi ketentuan dalam POJK
      42.

      Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak
      digunakan untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan
      dalam tujuan lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.

1.6   Objek Analisis Pendapat Kewajaran

      Berdasarkan Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB, total fasilitas pinjaman yang diberikan TTA
      kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat). Atas
      dasar hal tersebut di atas, maka objek analisis pendapat kewajaran dalam hal ini adalah Rencana
      Transaksi yang berupa rencana pemberian pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara Rp
      671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-).

1.7   Dampak Keuangan dari Transaksi yang Akan Dilakukan

      Mengacu pada laporan posisi keuangan proforma UNTR, dampak keuangan atas Rencana
      Transaksi sebagai berikut:

      Terdapat penerimaan pada laporan keuangan ABB atas fasilitas pinjaman berupa shareholder
      loan sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika) atau setara dengan Rp


Halaman 8                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 10
      671.280.000.000,- dengan menggunakan kurs pada 31 Desember 2025 dari Bank Indonesia
      sebesar kurs Rp 16.782,-. Serta terdapat pengerluaran sejumlah yang sama pada TTA. Laporan
      Keuangan proforma UNTR adalah menggunakan Laporan Keuangan Konsolidasian, sehingga
      terdapat proses eliminasi atas Rencana Transaksi tersebut.

1.8   Pertimbangan Bisnis Yang Digunakan oleh Manajemen Terkait dengan Rencana Transaksi

      Sehubungan dengan adanya kebutuhan pendanaan ABB untuk mendukung kegiatan operasional
      perusahaan ABB, ABB memerlukan tambahan sumber pendanaan yang akan digunakan sebagai
      modal kerja guna menunjang kelancaran aktivitas usaha serta memenuhi kebutuhan operasional
      yang terus berkembang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut, TTA selaku
      perusahaan induk sekaligus pemberi pinjaman berencana memberikan fasilitas pinjaman kepada
      ABB. Pemberian fasilitas pinjaman tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan modal kerja
      ABB, sehingga dapat menjaga kecukupan likuiditas, serta mendukung pelaksanaan kegiatan
      operasional secara berkesinambungan. Selain itu, transaksi ini merupakan salah satu bentuk
      optimalisasi pengelolaan sumber daya keuangan dalam kelompok usaha, dimana pendanaan
      dari TTA diharapkan dapat memberikan alternatif pembiayaan yang lebih efisien dan fleksibel
      dibandingkan sumber pendanaan eksternal, sehingga ABB dapat menjalankan kegiatan usahanya
      secara optimal.

1.9   Keterkaitan Rencana Transaksi Dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan

      Rencana Transaksi atas Rencana pinjam meminjan dana antara TTA dan ABB merupakan
      transaksi afiliasi sebagaimana diatur dalam POJK 42 dan Rencana Transaksi ini tidak
      mengandung unsur benturan kepentingan. Hubungan afiliasi tercermin dari struktur
      kepengurusan, dimana Bapak Hendra Hutahean menjabat di Perserian, TTA dan ABB. Selain itu
      hubungan afiliasi juga terlihat pada kepemilikan saham, dimana Perseroan memiliki peneyertaan
      di TAA dan penyertaan tidak langsung di ABB.

1.10 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran

      Sehubungan dengan POJK 42, maka dalam penugasan laporan pendapat kewajaran atas
      Rencana Transaksi, kami telah melakukan analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian
      atas Rencana Transaksi yang mencakup hal sebagai berikut:

      a.    Melakukan analisis Rencana Transaksi.
      b.    Melakukan analisis Kualitatif dan Kuantitatif atas Rencana Transaksi.
      c.    Melakukan analisis atas Kewajaran Rencana Transaksi.
      d.    Melakukan analisis atas faktor lain yang relevan.

1.11 Sumber Data dan Informasi

      a. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
         Desember 2025 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
         Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan
         dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua
         hal yang material.
      b. Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
         Desember 2024 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31


Halaman 9                                                 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 11
          Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan
          dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua
          hal yang material.
     c.   Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
          Desember 2023 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
          Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis
          & Rekan dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
          semua hal yang material.
     d.   Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
          Desember 2022 dengan angka perbandingan untuk periode yang berakhir pada 31
          Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis
          & Rekan dengan pendapat bawa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
          semua hal yang material.
     e.   Rencana bisnis UNTR sebelum dan setelah Rencana Transaksi untuk 5 (lima) tahun ke depan.
     f.   Profoma Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR per 31 Desember 2025 (sebelum dan
          sesudah transaksi) yang disiapkan oleh manajemen UNTR.
     g.   Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dengan ABB.
     h.   Representation Letter No. 052/ABB-EXT/VI/2026 tertanggal 26 Juni 2026
     i.   Hasil wawancara dengan pihak TTA, ABB, UNTR dan pihak lain yang kami anggap layak dan
          relevan guna mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses
          penilaian.
     j.   Data dan informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal baik dari media cetak maupun
          media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.

1.12 Metodologi Analisis Kewajaran Rencana Transaksi

     Dalam menyusun laporan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi ini, kami telah melakukan
     analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian Rencana Transaksi yang mencakup hal–hal
     sebagai berikut:

     a. Analisis atas Rencana Transaksi,
     b. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif atas Rencana Transaksi,
     c. Analisis Atas Kewajaran Nilai Rencana Transaksi.
     d. Analisis atas faktor lain yang relevan.

1.13 Pernyataan Independensi Penilai

     Dalam mempersiapkan laporan pendapat kewajaran ini, KJPP FDI&R bertindak secara
     independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan UNTR, TTA dan ABB
     ataupun pihak pihak lainnya yang terafiliasi dengan UNTR, TTA maupun ABB. KJPP FDI&R juga
     tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan
     pendapat kewajaran ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
     manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan
     dari proses analisis kewajaran ini.




Halaman 10                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 12
1.14 Distribusi Laporan Pendapat Kewajaran

      Pendapat kewajaran ini diajukan untuk kepentingan UNTR dalam kaitannya dengan Rencana
      Transaksi dan tidak untuk digunakan oleh pihak lain dan kepentingan lain.

1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian ( Subsequent Event)

      Dari tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (cut-off date) per
      31 Desember 2025 hingga Laporan Pendapat Kewajaran ini diterbitkan terdapat kejadian penting
      setelah tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (Subsequent Event) yang tidak
      mempengaruhi hasil penilaian yaitu:

      1. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 117 tanggal 20 Mei 2026 yang dibuat oleh Notaris Jose
         Dima Satria, S.H., M.Kn sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
         Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
         AHU-AH.01.09-0309460 tanggal 5 Juni 2026, Perseroan telah melakukan perubahan
         susunan Dewan Komisaris dan Direksi, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi
         Perseroan sebagai berikut:

          Dewan Komisaris:

          Presiden Komisaris              : Frans Kesuma
          Komisaris Independen            : Paulus Bambang Widjanarko
          Komisaris Independen            : Ignasius Jonan
          Komisaris Independen            : Bruce Malcolm Cox
          Komisaris                       : Rudy
          Komisaris                       : Gita Tiffani Boer
          Komisaris                       : Djoko Pranoto Santoso
          Komisaris                       : Lincoln Pan

          Direksi:

          Presiden Direktur               : Iwan Hadiantoro
          Direktur                        : Idot Supriadi
          Direktur                        : Ari Sutrisno
          Direktur                        : Widjaja Kartika
          Direktur                        : Vilihati Surya
          Direktur                        : Hendra Hutahean
          Direktur                        : Andreas

      2. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek Perseroan sebagaimana telah
         disampaikan Perseroan kepada masyarakat per tanggal 31 Mei 2026, struktur kepemilikan
         saham Perseroan adalah sebagai berikut:

                                           Jumlah Lembar Saham    Jumlah Nominal
                Pemegang saham                                                             (%)
                                                                     (Rp. Juta)
             PT Astra International Tbk       2.219.317.358             554.829          59,50%
                Masyarakat (< 5%)             1.295.480.378             323.870          34,73 %
                  Saham treasuri               215.337.400              53.834            5,77%


Halaman 11                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 13
                                        Jumlah Lembar Saham      Jumlah Nominal
               Pemegang saham                                                            (%)
                                                                    (Rp. Juta)
                   Jumlah                  3.730.135.136            932.533            100,00%


     3. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 24 tanggal 6 Mei 2026 yang dibuat oleh Notaris Jose Dima
        Satria, S.H., M.Kn sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
        Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
        AHU-AH.01.09-0292480 tanggal 25 Mei 2026, TTA telah melakukan perubahan susunan
        Dewan Komisaris dan Direksi, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi TTA menjadi
        sebagai berikut:

        Dewan Komisaris:

        Presiden Komisaris            : Ari Sutrisno
        Komisaris                     : Chinthya Theresa Am

        Direksi:

        Presiden Direktur             : Hendra Hutahean
        Direktur                      : Tony Susanto Halim
                                        Arianto Sasono
                                        Eko Susanto

     4. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 15 tanggal 30 April 2026 yang dibuat oleh Notaris Agung
        Sri Wijayanti, S.H., M.Kn. sebagaimana telah diterima dan dicatat dalam Surat Penerimaan
        Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor
        AHU-AH.01.09-0294918 tanggal 26 Mei 2026, ABB telah melakukan perubahan susunan
        Dewan Komisaris, sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi ABB menjadi sebagai
        berikut:

        Dewan Komisaris:
        Komisaris Utama               : Hendra Hutahean
        Komisaris                     : Oentoro Surya
                                        Roberto Dwi Handoko
                                        Chintya Theresa Am
                                        Brian Wibisono Surya
        Direksi:
        Direktur Utama                   : Eko Susanto
        Direktur Keuangan                : Grindo Nugroho
        Direktur Pemasaran      : Ignatius Stanley Hendarto
        Direktur Operasional             : Erdhani Febriyanto
        Direktur Teknis dan Rekayasa : Bhra Jalesvianto Basuki

     5. Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, kesamaan manajemen UNTR,
        ABB dan TTA adalah sebagai berikut:




Halaman 12                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 14
     • Hubungan afiliasi dari segi kepengurusan


                         Nama                  Perseroan                      TTA                  ABB

     Franciscus Xaverius Laksana Kesuma    Presiden Komisaris                   -                    -
     Rudy                                      Komisaris                        -                    -
     Gita Tiffani Boer                         Komisaris                        -                    -
     Djoko Pranoto Santoso                     Komisaris                        -                    -
     Lincoln Pan                               Komisaris                        -                    -
     Paulus Bambang Widjanarko            Komisaris Independen                  -                    -
     Ignasius Jonan                       Komisaris Independen                  -                    -
     Bruce Malcolm Cox                    Komisaris Independen                  -                    -
     Iwan Hadiantoro                        Presiden Direktur                   -                    -
     Idot Supriadi                              Direktur                        -                    -
     Ari Sutrisno                               Direktur               Presiden Komisaris            -
     Widjaja Kartika                            Direktur                        -                    -
     Vilihati Surya                             Direktur                        -                    -
     Hendra Hutahean                            Direktur                Presiden Direktur    Komisaris Utama
     Andreas                                    Direktur                        -                    -
     Tony Susanto Halim                             -                       Direktur                 -
     Arianto Sasono                                 -                       Direktur                 -
     Oentoro Surya                                  -                           -               Komisaris
     Roberto Dwi Handoko                            -                           -               Komisaris
     Chintya Theresa Am                             -                      Komisaris            Komisaris
     Brian Wibisono Surya                           -                           -               Komisaris
     Eko Susanto                                    -                       Direktur         Direktur Utama
     Grindo Nugroho                                 -                           -           Direktur Keuangan
     Ignatius Stanley Hendarto                      -                           -           Direktur Pemasaran
                                                    -                           -           Direktur Teknis dan
     Bhra Jalesvianto Basuki
                                                                                                 Rekayasa
                                                    -                           -                 Direktur
     Erdhani Febriyanto
                                                                                               Operasional



     Berdasarkan tabel hubungan afiliasi dari segi kepengurusan diketahui bahwa terdapat kesamaan
     manajemen pada Perseroan, TTA dan ABB.




Halaman 13                                                      00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 15
                                               BAB II
                                 ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI

2.1.   Latar Belakang Rencana Transaksi

       Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan
       untuk mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang
       memadai guna memenuhi kebutuhan modal kerja serta menjaga kelancaran kegiatan usaha ABB.
       Atas hal tersebut, ABB bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan
       sebagai sumber pembiayaan modal kerja untuk mendukung pelaksanaan kegiatan operasional.
       Dengan transaksi ini ABB diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk
       menjaga kesinambungan operasional perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan
       pengembangan perusahaan secara keseluruhan.

2.2.   Maksud dan Tujuan Rencana Transaksi

       Maksud dan tujuan Rencana Transaksi adalah pemberian pinjaman oleh TTA kepada ABB untuk
       mendukung modal kerja.

2.3.   Objek Rencana Transaksi

       Berdasarkan Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB dengan total Fasilitas Pinjaman yang
       diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika
       Serikat). Atas dasar hal tersebut di atas, maka objek Rencana Transaksi dalam hal ini adalah
       pinjaman          sebesar          USD40.000.000,-         atau        setara         dengan
       Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-).

2.4.   Identifikasi Pihak-Pihak Yang Bertransaksi

       Pihak-pihak yang bertransaksi dalam Rencana Transaksi adalah TTA, selaku pemberi pinjaman,
       ABB, selaku penerima pinjaman dan UNTR, selaku perusahaan publik yang laporan keuangannya
       terdampak secara konsolidasi atas Rencana Transaksi.

       a. PT United Tractors (”UNTR”)

          Riwayat Singkat

          Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
          Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H.. Akta
          Pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
          Keputusan No. Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita
          Negara No. 31, Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.

          Anggaran Dasar UNTR telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
          Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
          Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
          dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
          perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
          tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02 TAHUN 2025.


Halaman 14                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 16
       Selain itu, UNTR telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
       sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan
       Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat pemberitahuan
       penerimaan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei
       2025 No. AHU-AH.01.09-0238092.

       UNTR mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. UNTR berkedudukan di Jakarta,
       Indonesia.

       Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan
       yang didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah
       Jardine Cycle & Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle &
       Carriage Ltd. adalah anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang
       didirikan di Bermuda.

       Susunan Kepemilikan Saham

       Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025 susunan pemegang
       saham adalah sebagai berikut:

       Tabel 2.1 Susunan Pemegang Saham UNTR
                        Keterangan                  Jumlah Saham            (%)              Nominal (Rp)

        PT Astra International Tbk                     2.219.317.358        59,50%             554.829.000.000
        Masyarakat (masing-masing kepemilikan          1.357.478.878
                                                                            36,39%             338.353.000.000
        di bawah 5%)
        Saham Tresuri                                    153.338.900          4,11%             39.352.000.000
        Jumlah                                         3.730.135.136       100,00%             932.534.000.000
       Sumber: Laporan Keuangan UNTR 31 Desember 2025

       *Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak mengalami
       perubahan, namun terdapat perubahan jumlah pada saham masyarakat dan saham treasuri sebagaimana tercantum
       dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).

       Susunan Dewan Komisaris dan Direksi UNTR

       Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
       dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
       pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
       tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-AH.01.09- 0238092, susunan Dewan Komisaris dan Direksi
       Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:

       Dewan Komisaris:
       Presiden Komisaris                 : Djony Bunarto Tjondro
       Wakil Presiden Komisaris           : Rudy
       Komisaris                          : Gita Tiffani Boer
                                            Djoko Pranoto Santoso
                                            Benjamin Herrenden Birks
       Komisaris Independen               : Paulus Bambang Widjanarko
                                            Ignasius Jonan

Halaman 15                                                    00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 17
                                      Bruce Malcolm Cox
       Direksi
       Presiden Direktur             : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
       Direktur                      : Loudy Irwanto Ellias
                                      Iwan Hadiantoro
                                      Idot Supriadi
                                      Ari Sutrisno
                                      Widjaja Kartika
                                      Vilihati Surya
                                      Hendra Hutahean

       Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
       Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian
       Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).

       Kegiatan Usaha

       Ruang lingkup kegiatan utama UNTR dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
       meliputi penjualan dan penyewaan alat berat beserta pelayanan purna jual; penambangan
       dan kontraktor penambangan; pengolahan mineral; rekayasa, perencanaan, perakitan, dan
       pembuatan komponen mesin, alat, peralatan, dan alat berat; pembuatan kapal serta jasa
       perbaikannya; penyewaan kapal dan angkutan pelayaran; industri konstruksi; dan energi.

 b. PT Tuah Turangga Agung (”TTA”)

       Riwayat Singkat

       TTA didirikan pada tanggal 11 Mei 2006 berdasarkan Akta No. 21 dibuat di hadapan
       Darmawan Tjoa, S.H., S.E., notaris di Jakarta, yang telah disahkan oleh Menteri Hukum
       dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Pemberitahuan No. C-14949
       HT.01.01.TH.2006 tanggal 19 Mei 2006.

       Anggaran Dasar TTA telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan terakhir
       berdasarkan pada Akta Notaris No. 7 tertanggal 11 Mei 2022 dibuat di hadapan Jose Dima
       Satria, S.H., M.Kn. yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi
       Manusia RI dalam Keputusan No. AHU-0047532.AH.01.02.Tahun 2022 tertanggal 11 Juli
       2022.

       Selain itu, TTA telah melakukan perubahan susunan Dewan Komisaris Perusahaan
       Sebagaiman termuat dalam Akta Notaris No. 171 tertanggal 31 Mei 2024 oleh Jose Dima
       Satria, S.H., M.Kn. dan telah diterima dan dicatat oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
       Republik Indonesia melalui surat No. AHU-AH.0109-0214552 tanggal 14 Juni 2024.

       Sampai dengan tanggal 31 Desember 2025, tidak terdapat perubahan Anggaran Dasar TTA.

       TTA berkedudukan di Jakarta Timur dan saat ini beroperasi di Kalimantan Selatan, Kalimantan
       Tengah, dan Singapura. Kantor pusat beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9, Kawasan Industri
       Pulogadung, Jakarta. TTA merupakan anak usaha Perseroan.



Halaman 16                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 18
       Susunan Kepemilikan Saham

       Berdasarkan laporan keuangan konsolidasion 31 Desember 2025, susunan pemegang saham
       adalah sebagai berikut:

       Tabel 2.2 Susunan Pemegang Saham TTA
                   Keterangan                    Jumlah Saham              Nominal (Rp)       (%)

        PT Pamapersada Nusantara                        6.079.076         4.559.307.000.000    72,73%
        UNTR                                            2.278.781         1.709.086.000.000    27,27%
        Jumlah                                          8.357.857         6.268.393.000.000   100.00%
       Sumber: Laporan keuangan TTA, 31 Desember 2025

       Susunan Dewan Komisaris dan Direksi TTA

       Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian TTA per 31 Desember 2025, berikut susunan
       Dewan Komisaris dan Direksi TTA adalah sebagai berikut:

       Dewan Komisaris:
       Presiden Komisaris                : Frans Kesuma
       Komisaris                         : Ari Sutrisno
                                          Chinthya Theresa
       Direksi
       Presiden Direktur                 : Hendra Hutahean
       Direktur                          : Tony Susanto H
                                           Arianto Sasono
                                           Efredi Yudianto

       Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
       Dewan Komisaris dan Direksi TTA seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian
       Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).

       Kegiatan Usaha

       TTA dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”) bergerak di bidang pertambangan batu
       bara area konsesi pertambangan milik sendiri dan perdagangan batu bara.

       Laporan keuangan konsolidasian meliputi akun-akun TTA dan entitas anak yang
       signifikan sebagai berikut:

       Tabel 2.2 Penyertaan TTA
                           Perusahaan                               Kegiatan Usaha            (%)

        Kepemilikan Langsung
        PT Suprabari Mapanindo Mineral (“SMM”)             Konsesi Pertambangan                     80,00%
        PT Prima Multi Mineral (“PMM”)                     Perdagangan Batu bara                    99,83%
        PT Kadya Caraka Mulia (“KCM”)                      Konsesi Pertambangan                     99,90%
        PT Telen Orbit Prima (“TOP”)                       Konsesi Pertambangan                     99,99%
        PT Duta Nurcahya (“DN”)                            Konsesi Pertambangan                     60,00%



Halaman 17                                                      00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 19
                             Perusahaan                       Kegiatan Usaha                (%)

         PT Asmin Bara Bronang (“ABB”)              Konsesi Pertambangan                           75,40%
         PT Asmin Bara Jaan (“ABJ”)                 Konsesi Pertambangan                           75,40%
         PT Duta Sejahtera (“DS”)                   Konsesi Pertambangan                           60,00%
         PT Agung Bara Prima (“ABP”)                Konsesi Pertambangan                          100,00%
                                                    Perusahaan induk atas konsesi
         PT Borneo Berkat Makmur (“BBM”)*                                                               -
                                                    pertambangan
         Turangga Resources Pte. Ltd (“TRE”)        Perdagangan batubara                          100,00%
         Kepemilikan Tidak Langsung
         PT Piranti Jaya Utama (“PJU”)*             Konsesi Pertambangan                          100,00%
       Sumber : Laporan Keuangan TTA, 31 Desember 2025
       *Dekonsolidasi karena telah dijual kepada pihak ketiga pada tahun 2025

     c. PT Asmin Bara Bronang (“ABB”)

       Riwayat Singkat

       ABB didirikan pada tanggal 11 September 1992 berdasarkan Akta No. 49 oleh Sutjipto, S.H.,
       notaris di Jakarta. Akta pendirian telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
       Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-3983 HT.01.01.TH’93 tanggal 29 Mei
       1993 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 76 tanggal 21 September 1993,
       Tambahan No. 4426.

       Anggaran Dasar ABB telah mengalami beberapa perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
       terakhir berdasarkan pada Akta Notaris No. 03 tertanggal 1 September 2021 oleh Agung Sri
       Wijayanti, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri
       Hukum dan Hak Aasasi Manusia Republik Indonesia dalam Keputusan No. AHU-
       0048907.AH.01.02.Tahun 2021 tanggal 10 September 2021.

       Selain itu, ABB telah melakukan perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan
       yang dimuat dalam Akta Notaris No. 4 tertanggal 6 Mei 2025 oleh Agung Sri Wijayanti, S.H.,
       M.Kn., notaris di Jakarta Dan telah diterima dan dicatat oleh Menteri Hukum Republik
       Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.AHU-AH.01.09-0230752 tanggal 9 Mei 2025.

       ABB berkedudukan di Jakarta Timur dan beroperasi di Kalimantan Tengah. Kantor pusat
       beralamat di Jalan Rawagelam I No. 9, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. ABB adalah
       anak perusahaan UNTR.

       Struktur Permodalan dan Kepemilikan Saham ABB

       Berdasarkan informasi yang tersaji dalam laporan keuangan ABB per 31 Desember 2025,
       berikut merupakan struktur permodalan dan kepemilikan saham ABB:

       Tabel 2.3 Susunan Pemegang Saham ABB
                                                                         Nominal
                        Keterangan             Jumlah Saham                                 (%)
                                                                          (USD)
         TTA                                          202.012                  21.473.425   75.40%
         PT Andalan Teguh Berjaya                      41.260                   4.385.819   15,40%




Halaman 18                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 20
                                                                                Nominal
                             Keterangan                  Jumlah Saham                              (%)
                                                                                 (USD)
           PT Mandira Sanni Pratama                                24.649             2.620.099        9,20%
           Jumlah                                                 267.921            28.479.343   100,00%
          Sumber: Laporan Keuangan ABB per 31 Desember 2025

          Susunan Pengurus ABB

          Berdasarkan laporan keuangan ABB yang berakhir pada 31 Desember 2025. Sehingga
          susunan Dewan Komisaris dan Direksi ABB adalah sebagai berikut:

          Dewan Komisaris:
          Komisaris Utama             : Hendra Hutahean
          Komisaris                   : Oentoro Surya
                                        Roberto Dwi Handoko
                                        Chintya Theresa
                                        Brian Wibisono Surya
          Direksi:
          Direktur Utama                   : Efredi Yudianto
          Direktur Operasional             : Eko Susanto
          Direktur Keuangan                : Grindo Nugroho
          Direktur Pemasaran      : Ignatius Stanley Hendarto
          Direktur Teknis dan Rekayasa : Bhra Jalesvianto Basuki

          Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan susunan
          Direksi ABB seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal
          Penilaian (Subsequent Events).

          Kegiatan Usaha

          Aktivitas utama ABB adalah menjalankan usaha di bidang pertambangan batubara.
          Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2013.

2.5.   Hubungan Pihak-Pihak Yang Bertransaksi

       Hubungan pihak-pihak bertransaksi, berdasarkan kepemilikan saham dan kepengurusan saham
       pada tanggal 31 Desember 2025, adalah sebagai berikut:

       • Hubungan afiliasi dari segi kepengurusan


                           Nama                       Perseroan                TTA                ABB

       Djony Bunarto Tjondro                      Presiden Komisaris            -                  -
       Rudy                                    Wakil Presiden Komisaris         -                  -
       Gita Tiffani Boer                              Komisaris                 -                  -
       Djoko Pranoto Santoso                          Komisaris                 -                  -
       Benjamin Herrenden Birks                       Komisaris                 -                  -
       Paulus Bambang Widjanarko                Komisaris Independen            -                  -
       Ignasius Jonan                           Komisaris Independen            -                  -



Halaman 19                                                         00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 21
                         Nama                           Perseroan                      TTA                  ABB

     Bruce Malcolm Cox                             Komisaris Independen                  -                    -
     Franciscus Xaverius Laksana Kesuma              Presiden Direktur          Presiden Komisaris            -
     Loudy Irwanto Ellias                                Direktur                        -                    -
     Iwan Hadiantoro                                     Direktur                        -                    -
     Idot Supriadi                                       Direktur                        -                    -
     Ari Sutrisno                                        Direktur                   Komisaris                 -
     Widjaja Kartika                                     Direktur                        -                    -
     Vilihati Surya                                      Direktur                        -                    -
     Hendra Hutahean                                     Direktur                Presiden Direktur    Komisaris Utama
     Tony Susanto H                                          -                       Direktur                 -
     Arianto Sasono                                          -                       Direktur                 -
     Oentoro Surya                                           -                           -               Komisaris
     Roberto Dwi Handoko                                     -                           -               Komisaris
     Chintya Theresa Am                                      -                      Komisaris            Komisaris
     Brian Wibisono Surya                                    -                           -               Komisaris
     Efredi Yudianto                                         -                       Direktur          Direktur Utama
                                                             -                           -               Direktur
     Eko Susanto
                                                                                                        Operasional
     Grindo Nugroho                                          -                           -           Direktur Keuangan
     Ignatius Stanley Hendarto                               -                           -           Direktur Pemasaran
                                                             -                           -           Direktur Teknis dan
     Bhra Jalesvianto Basuki
                                                                                                          Rekayasa


     Berdasarkan tabel hubungan afiliasi dari segi kepengurusan diketahui bahwa terdapat kesamaan
     manajemen pada Perseroan, TTA dan ABB.

     Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, terdapat perubahan kesamaan
     manajemen seperti yang dinyatakan dalam bagian 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal
     Penilaian (Subsequent Events).

     •              Hubungan afiliasi dari segi kepemilikan saham

                            UNTR                      Anak Usaha UNTR
                       27,27%                             72,73%



                                             TTA                               Pemegang Saham Lainya

                                    75,40%                                         24,60%



                                                                    ABB
                    Sumber: Manajemen ABB

     • Materialitas Nilai Rencana Transaksi

         Berdasarkan Draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB dengan total Fasilitas Pinjaman
         yang diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar


Halaman 20                                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 22
            Amerika Serikat). Atas dasar hal tersebut di atas, maka objek Rencana Transaksi dalam hal ini
            adalah pinjaman sebesar USD40.000.000,- atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- (kurs
            Rp 16.782,-).

            Materialitas Nilai Rencana Transaksi dilakukan dengan membandingkan nilai Rencana
            Transaksi dengan ekuitas UNTR periode 31 Desember 2025.

            Tabel 2.4 Nilai Rencana Transaksi berbanding Ekuitas UNTR (Juta Rupiah)
                                             Total Nilai Rencana      Ekuitas Perseroan Per 31
                    Keterangan                                                                    %
                                                  Transaksi               Desember 2025

             Rencana Transaksi                    671.280                  103.136.323           0,65%


            Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR periode yang berakhir
            31 Desember 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, jumadi, Rianto &
            Rekan, ekuitas UNTR tercatat sebesar Rp 103.136.323 juta dan nilai transaksi sebesar USD
            40.000.000,- atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- (kurs Rp 16.782,-). maka Rencana
            Transaksi sebesar 0,65% dari ekuitas Perseroaan dengan demikian bukan merupakan
            transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK 17.

2.6.   Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati dalam Rencana Transaksi

       TTA dan ABB telah membuat Perjanjian Pinjaman No. 009/TTA-KTR/VI/2026, dimana Pemberi
       Pinjaman setuju untuk menyediakan kepada Penerima Pinjaman, fasilitas pembiayaan sejumlah
       USD40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika Serikat). Berikut ketentuan yang tertuang
       dalam Perjanjian pinjaman:

       1.    ABB selaku penerima pinjaman mengajukan permohonan kepada TTA selaku pemberi
             pinjaman untuk memperoleh pinjaman sejumlah USD40.000.000 (empat puluh juta Dolar
             Amerika Serikat) yang akan digunakan untuk kebutuhan operasional berupa pembiayaan
             modal kerja bagi ABB.
       2.    Tingkat suku bunga yang disepakati Adalah Term Secured Overnight Financing Rate (SOFR)
             ditambah margin.
       3.    Para pihak setuju untuk menetapkan Margin senilai 1,63% (satu koma enam puluh tiga
             persen) per tahun.
       4.    Periode bunga, setiap periode bunga untuk pinjaman adalah satu, dua, tiga atau enam bulan
             (atau periode lain yang disepakati). Periode bunga pertama atas pinjaman yaitu dari tanggal
             pencairan. Setiap periode bunga berikutnya adalah periode yang diberitahukan oleh ABB
             kepada TTA sebelum hari terakhir pada periode bunga yang bersangkutan. Bila penerima
             pinjaman tidak memberikan pemberitahuan, periode bunga berikutnya adalah sama
             lamanya dengan periode bunga yang sebelumnya.
       5.    Pembayaran bunga, ABB setuju untuk membayar bunga harian atas pinjaman yang tertagih
             sampai seluruh pinjaman telah dibayar penuh pada jumlah yang setara dengan tingkat suku
             bunga. Bunga diperhitungkan sejak dan termasuk hari pertama dari suatu periode bunga
             sampai dengan tapi tidak termasuk hari terakhir dari periode bunga. Bunga diperhitungkan
             dari hari ke hari, wajib dibayarkan pada hari terakhir dari setiap periode bunga dan
             diperhitungkan berdasarkan jumlah hari aktual dan berdasarkan 360 hari dalam setahun.
             Bunga terhutang yang tidak dibayar saat jatuh tempo akan diperhitungkan kembali oleh TTA
             pada hari pertama pada setiap periode bunga selanjutnya.

Halaman 21                                                   00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 23
     6.   Waktu berlakunya fasilitas 5 tahun setelah tanggal perjanjian.
     7.   TTA selaku pemberi pinjaman dapat mengalihkan sebagian atau seluruh haknya
          berdasarkan draft perjanjian pijaman (Loan Agreement).




Halaman 22                                     00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 24
                                             BAB III
                             ANALISIS TENTANG KEWAJARAN TRANSAKSI

3.1.   Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan

       Dalam menilai kewajaran Rencana Transaksi, kami menggunakan metodologi analisis sebagai
       berikut:
       a. Analisis atas Rencana transaksi pembelian saham.
       b. Analisis kualitatif dan kuantitatif atas Rencana transaksi pembelian saham.
       c. Analisis kewajaran Rencana Transaksi pembelian saham.
       d. Alalisis atas faktor lain yang relevan.

3.2.   Analisis atas Rencana Transaksi

       a. Latar belakang Rencana Transaksi

       Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha ABB dan meningkatnya kebutuhan pendanaan
       untuk mendukung kegiatan operasional ABB, maka diperlukan tambahan sumber dana yang
       memadai guna memenuhi kebutuhan modal kerja serta menjaga kelancaran kegiatan usaha. Atas
       hal tersebut, ABB bermaksud untuk memperoleh fasilitas pinjaman yang akan digunakan sebagai
       sumber pembiayaan modal kerja untuk mendukung pelaksanaan kegiatan operasional. Dengan
       transaksi ini ABB diharapkan memiliki dukungan pendanaan yang memadai untuk menjaga
       kesinambungan operasional perusahaan guna mendukung pertumbuhan dan pengembangan
       perusahaan secara keseluruhan.

       b. Analisis Manfaat dan Risiko Rencana Transaksi

          1. Analisis Manfaat Rencana Transaksi
             Rencana Transaksi memberikan sejumlah manfaat bagi UNTR secara konsolidasi, yaitu ABB
             akan mendapatkan dukungan pendanaan dalam bentuk pinjaman dari TTA yang
             merupakan induk usaha ABB untuk mendanai kegiatan pengeluaran modal kerja dan
             kegiatan operasional ABB, dimana TTA dan ABB merupakan anak usaha langsung dan tidak
             langsung UNTR, sehingga dengan adanya transaksi ini, diharapkan dapat menjaga efisiensi
             pengelolaan sumber daya keuangan dalam grup serta memitigasi resiko bisnis dan
             keuangan.

          2. Analisis Risiko Rencana Transaksi
             • Risiko gagal bayar: Risiko ini berkaitan dengan permasalahan kemampuan ABB dalam
               memenuhi kewajiban atas pelunasan pinjaman yang berpengaruh terhadap income TTA
               yang juga akan mengurangi porsi dividen yang akan diterima UNTR.
             • Risiko tidak tercapainya proyeksi keuangan: Risiko ini berkaitan terhadap pencapaian
               kinerja keuangan ABB.




Halaman 23                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 25
3.3.   Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi

       Analisis kualitatif atas Rencana Transaksi dilakukan dengan melihat kondisi perekonomian dan
       tinjauan terhadap kinerja industri bidang usaha yang dijalankan serta melihat potensi atau
       prospek usaha kedepannya.

       a. Tinjauan Ekonomi Makro Indonesia

          Pertumbuhan Ekonomi Global

          Perekonomian global jangka pendek menunjukkan perbaikan, namun ketidakpastian masih
          perlu terus diwaspadai. Ekonomi Jepang dan India tumbuh seiring meningkatnya dukungan
          konsumsi rumah tangga dan kebijakan stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa tetap
          baik, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan kondisi ketenagakerjaan.
          Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2025 masih melambat, dipengaruhi oleh
          dampak temporary government shutdown dan pelemahan pasar tenaga kerja. Prospek
          ekonomi Tiongkok juga terus melambat akibat permintaan domestik yang masih lemah.

          Di pasar keuangan global, Fed Funds Rate (FFR) turun sebesar 25 basis poin pada Desember
          2025 dengan kecenderungan penurunan yang lebih terbatas ke depan. Tingkat imbal hasil
          (yield) US Treasury tenor 2 tahun cenderung bergerak naik, sementara yield US Treasury tenor
          10 tahun tetap tinggi sejalan dengan meningkatnya tingkat utang Pemerintah Amerika Serikat.
          Perkembangan ini menyebabkan indeks mata uang AS (DXY) tetap berada pada level tinggi
          dan membatasi aliran masuk modal asing ke pasar negara berkembang (emerging
          markets/EM).

          Prospek perekonomian global dalam jangka pendek membaik dibandingkan dengan
          prakiraan sebelumnya. Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan dan dinamika
          global terkini, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025
          mencapai sekitar 3,2%.

          Pertumbuhan Ekonomi Domestik

          Pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dan perlu terus didorong agar sejalan dengan
          kapasitas perekonomian. Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2025 membaik, didukung
          oleh belanja sosial Pemerintah serta meningkatnya keyakinan rumah tangga terhadap kondisi
          penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Perkembangan tersebut mendorong
          peningkatan penjualan eceran pada berbagai kelompok barang. Investasi, khususnya
          nonbangunan, turut membaik seiring dengan meningkatnya keyakinan pelaku usaha, yang
          tercermin pada pola ekspansi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Permintaan
          domestik tersebut perlu terus diperkuat sejalan dengan kinerja ekspor yang diprakirakan
          melambat seiring berakhirnya frontloading ekspor ke Amerika Serikat serta menurunnya ekspor
          besi baja ke Tiongkok dan minyak kelapa sawit (CPO) ke India. Secara sektoral, Lapangan
          Usaha (LU) utama, yaitu LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, LU
          Transportasi dan Pergudangan, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, tetap
          menunjukkan kinerja yang positif.

          Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) meningkat dan mendukung ketahanan eksternal. Surplus
          neraca perdagangan berlanjut pada Oktober 2025 sebesar 2,4 miliar dolar AS, didukung oleh
          ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam seperti batu bara serta minyak dan lemak nabati
          (CPO), serta ekspor produk manufaktur seperti besi dan baja.


Halaman 24                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 26
       Dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio pada triwulan IV 2025 (hingga 15
       Desember 2025) mencatat net inflows sebesar 5,0 miliar dolar AS, ditopang oleh penerbitan
       global bond Pemerintah dan inflows pada instrumen saham dan SRBI.

       Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 meningkat menjadi sebesar
       150,1 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan
       pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan
       internasional sekitar 3 bulan impor.

       Grafik 3.1              Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran
                                                                                             Tahun
                              Komponen
                                                         2019     2020        2021      2022         2023    2024       Tw III-2025

        Konsumsi Rumah Tangga                             5.04     -2.63       2.01      4.94         4.82    4.94                 4.89
        Konsumsi Lembaga Nonprofit yang
                                                         10.62     -4.21       1.62      5.66         9.83   12.48                 4.28
        Melayani Rumah Tangga
        Konsumsi Pemerintah                               3.27         2.12    4.25      -4.47        2.95    6.61                 5.49
        Investasi (PMTDB)                                 4.45     -4.96       3.80      3.87         4.40    4.61                 5.04
              Investasi Bangungn                          5.37     -3.78       2.32      0.91         4.04    5.51                 3.02
              Investasi NonBangunan                       1.83     -8.44       8.42     12.53         3.03    2.23            10.34
        Ekspor                                            -0.48    -8.42      17.99     16.23         1.32    6.51                 9.91
        Impor                                             -7.13   -17.60      24.86     15.00        -1.65    7.95                 1.18
        PDB                                               5.02     -2.07       3.70      5.31         5.05    5.03                 5.04
       Sumber: Bank Indonesia, 2026

       Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

       Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekomi Indonesia yang dipublikasikan oleh International
       Monetary Fund (IMF), perkembangan PDB Indonesia mengalami sedikit penurunan pada tahun
       2025 yaitu tercatat 4,9%. Pada periode berikutnya terjadi peningkatan hingga tahun 2030 atau
       tercatat sebesar 5,1%.

       Grafik 3.2              Proyeksi PDB dan Pertumbuhan PDB Indonesia 2026-2030

                          20.000.000                                                                             5,1%       5,2%

                                                                                                     5,1%                   5,2%


                                                                                                                            5,1%

                          15.000.000                                                                                        5,1%
         Billion Rupiah




                                                        4,9%           5,0%           5,0%                                  5,0%



                          10.000.000                                                                                        5,0%

                                         4,9%                                                                               4,9%


                                                                                                                            4,9%

                           5.000.000                                                                                        4,8%


                                                                                                                            4,8%



                                  -                                                                                         4,7%



                                         2025          2026            2027           2028           2029       2030

                                                GDP, constant prices            GDP, constant prices

       Sumber: International Monetary Fund (IMF), diolah




Halaman 25                                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 27
       Inflasi

       Inflasi secara umum tetap terjaga dalam kisaran sasaran, dengan inflasi IHK pada November
       2025 tercatat sebesar 2,72% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang tetap
       terjaga sebesar 2,36% (yoy), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih berada di
       bawah kapasitas potensial serta didukung oleh konsistensi suku bunga kebijakan moneter Bank
       Indonesia dalam menjangkar ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya dan imported
       inflation yang tetap terkendali.

       Inflasi kelompok administered prices (AP) terjaga rendah sebesar 1,58% (yoy). Sementara itu,
       inflasi kelompok volatile food (VF) masih relatif tinggi sebesar 5,48% (yoy), yang terutama
       disumbang oleh komoditas bawang merah seiring dengan pasokan yang terbatas akibat
       gangguan cuaca dan kenaikan harga benih.

       Grafik 3.3   Perkembangan Inflasi




       Sumber: Bank Indonesia, 2026

       Proyeksi Inflasi Indonesia

       Berdasarkan peoyeksi Inflasi harga kustomer rata-rata Indonesia yang dipublikasikan oleh
       International Monetary Fund (IMF), prakiraan rata-rata Inflasi Indonesia selama periode 2025
       sampai dengan 2030 adalah 2,5% dengan pertumbuhan tertinggi diperkirakan akan terjadi
       pada tahun 2026 dengan prakiraan inflasi sebesar 2,9% dimana dicatatkan, sedangkan
       prakiraan inflasi pada tahun 2025 adalah sebesar 1,8%.




Halaman 26                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 28
       Grafik 3.4   Proyeksi Inflasi Harga Kustomer Rata-Rata 2025-2029


             3,5%
                                   2,9%
             3,0%
                                                  2,5%            2,5%     2,5%        2,5%
             2,5%                                                                          2,5%
                      1,8%
             2,0%
             1,5%
             1,0%
             0,5%
             0,0%
                      2025         2026           2027            2028    2029         2030
                                 Inflation, average consumer prices      Average

       Sumber: International Monetary Fund (IMF), diolah

       Nilai Tukar Rupiah

       Nilai tukar Rupiah tetap terkendali, didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta
       aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik. Nilai tukar Rupiah pada 16
       Desember 2025 tercatat sebesar Rp16.685 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan
       level akhir November 2025. Perkembangan nilai tukar Rupiah masih sejalan dengan
       pergerakan mata uang regional dan mitra dagang Indonesia, bahkan tercatat menguat
       dibandingkan dengan mata uang negara maju, kecuali dolar AS. Perkembangan ini didukung
       oleh langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar NDF, baik offshore maupun
       onshore (DNDF), di pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder, serta inflows pada
       saham dan SRBI.

       Selain itu, tambahan pasokan valas dari korporasi, termasuk dari peningkatan konversi valas
       ke Rupiah oleh eksportir seiring dengan penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor
       Sumber Daya Alam (DHE SDA), turut mendukung tetap terkendalinya nilai tukar Rupiah.

       Tingkat Suku Bunga

       Bank Indonesia memandang efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap
       penurunan suku bunga perbankan perlu terus didorong. Pelonggaran kebijakan moneter yang
       telah ditempuh Bank Indonesia dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Pemerintah
       di perbankan perlu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan lebih cepat. Seiring
       dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas
       moneter Bank Indonesia, suku bunga INDONIA turun sebesar 191 bps dari 6,03% pada awal
       2025 menjadi 4,12% pada 16 Desember 2025.

       Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 226
       bps, 226 bps, dan 228 bps sejak awal Januari 2025 menjadi 4,90%; 4,94%; dan 4,98% pada
       12 Desember 2025. Imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun menurun sebesar 199 bps dari 6,96%
       pada awal 2025 menjadi 4,97% pada 16 Desember 2025, sementara untuk tenor 10 tahun
       menurun sebesar 110 bps dari tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025
       menjadi 6,16%. Transmisi penurunan BI-Rate terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut,
       terutama pada suku bunga dana.



Halaman 27                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 29
       Suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 67 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,14%
       pada November 2025. Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih
       lambat dan karenanya perlu terus didorong, yaitu sebesar 24 bps dari 9,20% pada awal 2025
       menjadi sebesar 8,96% pada November 2025.

       Grafik 3.5   Tingkat Suku Bunga




       Sumber: Bank Indonesia, 2026

       Pembiayaan Kredit

       Peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan.
       Kredit perbankan pada November 2025 tercatat tumbuh sebesar 7,74% (yoy), meningkat dari
       7,36% (yoy) pada bulan sebelumnya. Permintaan kredit terindikasi belum kuat dipengaruhi
       oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi,
       serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat. Fasilitas pinjaman yang belum
       dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.509,4
       triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia. Sementara dari sisi penawaran, kapasitas
       pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga
       (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03%
       (yoy) pada November 2025.

       Perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran KLM Bank
       Indonesia, serta ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada
       beberapa bank besar. Minat penyaluran kredit perbankan umumnya juga masih baik yang
       tecermin pada persyaratan pemberian kredit ( lending requirement) yang semakin longgar,
       kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua
       segmen tersebut. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM November 2025 yang
       terkontraksi sebesar 0,64% (yoy).




Halaman 28                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 30
        Grafik 3.6   Pertumbuhan Kredit/Pembiayaan




        Sumber: Bank Indonesia, 2026

     b. Tinjauan Industri di Indonesia

        Industri Batu Bara

        HBA adalah Harga Batu bara Acuan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian
        Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). HBA digunakan sebagai dasar untuk menghitung
        Harga Patokan Batu bara (HPB), serta sebagai acuan dalam kontrak ekspor dan transaksi antar
        perusahaan Batu bara.

        Penetapan HBA sejak 2025 diatur dalam Kepmen ESDM No. 72.K/MB.01/MEM.B/2025
        tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Komoditas Mineral Logam dan Batu bara.
        Regulasi tersebut menetapkan diantaranya adalah sebagai berikut :

             •   Penetapan HBA dan HMA (Harga Mineral Acuan) dilakukan dua kali sebulan (tanggal
                 1 dan 15).
             •   Lobak untuk batu bara yang memenuhi spesifikasi (rentang kalori 6.100-6.500 kcal/kg
                 GAR) pada periode tertentu.
             •   Mulai 1 Maret 2025, HBA menjadi acuan wajib bagi ekspor batu bara.

        Pemerintah memisahkan HBA berdasarkan 4 kategori, yaitu Batu bara dengan kalori tinggi
        dan kalori rendah (HBA 1, HBA 2, dan HBA 3). Sepanjang tahun 2025, pasar Batu bara
        mengalami fluktuasi yang cukup dinamis. Secara umum, harga mencapai puncaknya pada
        awal semester pertama (Maret) dan mengalami tren moderasi serta stabilisasi di semester
        kedua menuju akhir tahun.

        Untuk Kinerja Batu bara Utama (Kalori Tinggi) harga tertinggi tercatat pada awal Maret 2025
        yaitu berkisar USD128,24/ton. Namun, harga mengalami tekanan hingga sempat menyentuh
        titik terendah pada pertengahan tahun di bulan Juli 2025 dengan posisi USD97,65/ton.
        Memasuki akhir tahun 2025, harga Batu bara utama menunjukkan upaya pemulihan
        (recovery). Sempat kembali menguat ke angka USD109,74/ton pada Oktober sebelum
        akhirnya menutup tahun di kisaran USD100,81/ton pada Desember 2025.

        Selanjutnya Kategori HBA 1, mengawali tahun di angka USD83,95/ton (Januari 2025).
        Sepanjang tahun, kategori ini mengalami penurunan bertahap dan menunjukkan stabilisasi di


Halaman 29                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 31
       level USD67 - USD69/ton pada kuartal terakhir tahun 2025. Kemudian kategori HBA 2 relatif
       stabil di angka USD50/ton hingga pertengahan tahun (Juni 2025). Terjadi koreksi pada
       semester kedua, di mana harga bergerak di kisaran USD43 - USD45/ton dan berakhir di posisi
       USD45,44/ton pada periode kedua Desember.

       Untuk Kategori terakhir, HBA 3 menunjukkan tingkat volatilitas yang paling rendah
       dibandingkan kategori lainnya. Harga konsisten bergerak di rentang USD32 hingga
       USD36/ton. Pada akhir tahun (Desember 2025), HBA 3 menunjukkan tren penguatan tipis
       menuju level USD35,02/ton, mencerminkan permintaan yang tetap solid untuk segmen Batu
       bara kalori rendah.

       Tahun 2025 ditutup dengan kondisi pasar yang lebih stabil dibandingkan awal tahun.
       Meskipun terjadi penurunan harga dibandingkan level tertinggi di bulan Maret, mayoritas
       kategori Batu bara menunjukkan pergerakan yang positif/rebound di bulan Desember 2025:
           • Batu bara Utama: USD100,81 (Tumbuh 2,59% dibandingkan periode pertama
               Desember 2025)
           • HBA 1: USD69,93 (Tumbuh 2,85% dibandingkan periode pertama Desember 2025)
           • HBA 2: USD45,44 (Tumbuh 2,41% dibandingkan periode pertama Desember 2025)
           • HBA 3: USD35,02 (Tumbuh 2,54% dibandingkan periode pertama Desember 2025).

       Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand.
       Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara
       supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
       Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun
       berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi
       lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

       Detail pergerakan harga dan perbandingan tren antar kategori Batu bara secara visual dapat
       diamati pada grafik di bawah ini:

       Grafik 3.7   Harga Batu Bara Acuan Januari 2020 – Desember 2025 (USD/Ton)




       Sumber: Kementerian ESDM, 2026




Halaman 30                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 32
       Grafik 3.8      Tabel Harga Batu Bara 3 Bulan Terakhir 2025 (dalam USD/ton)
                                  Oct-25      Oct-25     Nov-25     Nov-25      Dec-25      Dec-25
               Komoditas         (Periode    (Periode   (Periode    (Periode   (Periode    (Periode
                                 Pertama)     Kedua)    Pertama)     Kedua)    Pertama)     Kedua)
        Batu bara                   106,94     109,74     103,75      102,03       98,26     100,81
        Batu bara (HBA I)            64,84      67,76       67,22      67,29       67,99      69,93
        Batu bara (HBA II)           43,12      43,71       44,02      44,29       44,37      45,44
        Batu bara (HBA III)          32,95      33,92       33,74      33,88       34,15      35,02
       Sumber: Kementrian ESDM. 2026

       Produksi dan Ekspor Batu Bara Indonesia

       Produksi dan ekspor Batu bara Indonesia menunjukkan tren kenaikan yang konsisten
       sepanjang 2020–2024, meskipun dengan dinamika yang dipengaruhi kondisi ekonomi
       nasional dan global. Produksi meningkat signifikan dari 565,6 juta ton pada 2020 menjadi
       836,1 juta ton pada 2024. Kenaikan ini tidak lepas dari pulihnya aktivitas industri
       pascapandemi serta tingginya permintaan domestik, terutama dari sektor pembangkit listrik
       PLN dan industri berbasis energi. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Domestic Market
       Obligation (DMO) yang mendorong peningkatan suplai untuk kebutuhan dalam negeri.
       Sementara itu, tren ekspor sempat menurun pada 2021 akibat pembatasan ekspor dan
       ketidakpastian pasar global, tetapi kembali tumbuh kuat setelah 2022 seiring lonjakan
       permintaan dari negara-negara Asia Timur dan Asia Selatan.

       Grafik 3.9      )Produksi Batu bara dan Ekspor 2020–2024




       Sumber: Statistik Pertambangan Nonminyak dan Gas Bumi 2020–2024, BPS 2025

       Sejak 2022, ekspor meningkat tajam dari 367,9 juta ton menjadi 555,3 juta ton pada 2024.
       Kenaikan ini berkaitan erat dengan krisis energi global akibat perang Rusia–Ukraina yang
       menyebabkan banyak negara mengalihkan sumber energi ke batu bara sebagai alternatif
       sementara. Selain itu, kebijakan transisi energi yang berjalan lebih lambat dari perkiraan di
       beberapa negara membuat permintaan Batu bara tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan listrik
       industri dan domestik.




Halaman 31                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 33
       Di sisi lain, pertumbuhan produksi Indonesia juga dipengaruhi oleh melemahnya harga Batu
       bara global pada 2020 akibat pandemi, yang kemudian disusul kenaikan harga drastis pada
       2022–2023. Lonjakan harga ini mendorong produsen Indonesia meningkatkan output untuk
       memaksimalkan keuntungan. Pada 2024, peningkatan produksi yang mencapai 836 juta ton
       juga mencerminkan respons pelaku industri terhadap pasar global yang masih kuat, meski
       mulai ada sinyal penurunan harga akibat stabilisasi energi dunia dan percepatan penggunaan
       energi terbarukan di beberapa negara Eropa dan Asia.

       Secara keseluruhan, pertumbuhan produksi dan ekspor Batu bara Indonesia sangat
       dipengaruhi dinamika global, terutama kebutuhan energi dunia dan ketegangan geopolitik,
       serta kebijakan nasional seperti DMO, perizinan tambang, dan strategi pemerintah dalam
       mengelola penerimaan negara. Tren ini juga menggambarkan posisi Indonesia sebagai salah
       satu pemasok Batu bara termal terbesar di dunia, sekaligus menunjukkan tantangan jangka
       panjang dalam menghadapi transisi energi global yang mulai menekan permintaan Batu bara
       secara bertahap di masa depan.
       Jika dilihat dari peringkat global, berdasarkan publikasi Asosiasi Pertambangan Indonesia –
       Indonesian Mining Association (API-IMA) pada tahun 2024 Indonesia menempati peringkat
       ketiga sebagai produsen batu bara terbesar di dunia setelah China dan India. Melalui volume
       produksi sebesar 836,1 juta ton, Indonesia berhasil menguasai 9,0% pangsa pasar batu bara
       global. Capaian Indonesia ini melampaui produksi negara-negara besar lainnya seperti
       Amerika Serikat (464,6 juta ton), Australia (462,9 juta ton), dan Rusia (427,2 juta ton).

       Keberhasilan Indonesia mempertahankan posisi sebagai produsen utama dunia pada 2024
       membawa pengaruh pada kebijakan kuota produksi di tahun berikutnya. Pada tahun 2025,
       Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa produksi nasional
       berhasil menembus angka 790 juta ton. Jumlah ini melampaui target yang ditetapkan sebesar
       739 juta ton, walaupun masih berada di bawah angka produksi tahun 2024. Dari jumlah
       produksi tahun 2025, sebanyak 254 juta ton terserap untuk kebutuhan domestik, 514 juta ton
       dialokasikan untuk ekspor, dan sisanya sekitar 22 juta ton digunakan sebagai stok.

       Negara Tujuan Ekspor Batu bara di Indonesia

       Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor Batu bara terbesar di dunia. Berdasarkan
       data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi ekspor Batu bara Indonesia pada periode 2023 dan
       2024 Indonesia telah mengekspor Batu bara ke berbagai negara di dunia, dengan negara
       tujuan utama ekspor komoditas Batu bara adalah India, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan,
       Taiwan, Malaysia, Philipina, Thailand, Hongkong, Spanyol dan Lainnya.




Halaman 32                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 34
       Grafik 3.10 Ekspor Batu Bara Menurut Negara Tujuan Utama 2023-2024




       Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) 2025

       Secara keseluruhan, volume dan nilai ekspor Batu bara Indonesia menunjukkan dinamika yang
       bervariasi di berbagai pasar strategis Asia. India sebagai tujuan ekspor terbesar Indonesia
       dengan volume berat bersih yang melampaui 100 juta ton pada tahun 2023 dan 2024.
       Meskipun secara volume stabil, terjadi penurunan nilai FOB (Free on Board) yang cukup
       signifikan dari tahun 2023 sebesar US$ 7.256,2 juta menjadi US$ 6.245,8 juta pada tahun
       2024.

       Negara tujuan ekspor dengan volume terbesar kedua adalah Tiongkok, memiliki tren volume
       ekspor yang meningkat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya yakni dari 81 juta
       ton menjadi 93 juta ton. Namun, serupa dengan India, nilai ekonomi (FOB) dari ekspor ke
       Tiongkok justru mengalami penurunan di tengah peningkatan volume tersebut.

       Untuk pasar Asia Timur lainnya, yakni Jepang dan Korea Selatan menunjukkan pertumbuhan
       volume berat bersih yang cukup konsisten pada tahun 2024. Taiwan juga mencatatkan
       peningkatan volume ekspor yang stabil meskipun dengan skala yang lebih kecil dibandingkan
       negara tetangganya.

       Selanjutnya untuk kategori negara tujuan Lainnya juga memberikan kontribusi besar bagi
       ekspor Indonesia, di mana terdapat lonjakan volume berat bersih pada tahun 2024 sebesar
       49 juta ton dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 42 juta ton.

       Pemanfaatan Batu bara di Indonesia

       Saat ini Batu bara masih menjadi fondasi utama dalam bauran energi Indonesia, terutama
       untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik. Di dalam memenuhi kebutuhan listrik, sebesar
       67% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan Batu bara sebagai bahan bakarnya.
       Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sepenuhnya belum dapat melepaskan diri dan
       sangat bergantung pada penggunaan Batu bara sebagai sumber energi meski dunia terus
       bergerak menuju energi terbarukan.

       Kita tentu sering mendengar kata “hilirisasi” atau Peningkatan Nilai Tambah (PNT) mineral dan
       Batu bara digaungkan di negeri ini. Kebijakan hilirisasi di sektor mineral dan Batu bara


Halaman 33                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 35
       merupakan program strategis nasional yang sedang dijalankan pemerintah hingga saat ini
       dan juga akan dilanjutkan presiden terpilih yang diyakini sebagai langkah awal yang akan
       membawa Indonesia dari negara berkembang menjadi negara industri maju. Dalam
       menjalankan kegiatan hilirisasi tersebut, tentu saja industri-industri membutuhkan energi
       dalam jumlah besar terutama untuk smelter nikel, bauksit- aluminium, tembaga dan industri
       pengolahan/pemurnian lainnya. Selain memerlukan energi yang besar, industri-industri
       tersebut juga memerlukan adanya pasokan listrik yang stabil. Contohnya berdasarkan
       laporan International Energy Agency, untuk memproduksi satu ton nikel dengan metode
       pirometalurgi dibutuhkan listrik yang cukup besar yaitu 13-15 MWh. Proses ini membutuhkan
       energi besar karena menggunakan proses dengan suhu tinggi untuk mengolah bijih nikel laterit
       menjadi ferronickel (FeNi) atau nickel pig iron (NPI). Indonesia, sebagai salah satu produsen
       nikel terbesar di dunia, sangat membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung
       proses produksinya. Hingga saat ini sebagian besar kebutuhan energi tersebut masih dipenuhi
       dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis Batu bara. Oleh karena itu, Batu bara
       akan tetap menjadi tulang punggung utama dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia.

       Meskipun ada dorongan kuat untuk menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya dan
       angin, namun kondisi infrastruktur dan teknologi serta keekonomiannya belum siap untuk
       menggantikan peran Batu bara dalam skala besar. Selain itu salah satu tantangan utama
       penggunaan energi terbarukan adalah sifatnya yang intermittent yaitu ketidakmampuan untuk
       menghasilkan listrik secara terus-menerus/kontinu sepanjang hari. Ketidakpastian ini tentu
       menjadi kendala besar bagi sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan
       konsisten. Industri seperti smelter nikel, memerlukan energi secara konstan untuk
       mempertahankan produktivitas tinggi. Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, PLTU
       berbasis Batu bara seharusnya masih menjadi solusi yang paling realistis dan efisien untuk
       menjaga pasokan listrik nasional.

       Optimalisasi pemanfaatan Batu bara dalam rangka peningkatan nilai tambah (PNT) ditinjau
       dari rasio produksi pemanfaatan Batu bara untuk gasifikasi Batu bara dibanding dengan target
       (DME, Syngas, Urea, Polypropylene).

       Sejak tahun 2023 target produksi pemanfaatan Batu bara mengalami perubahan target
       semula sebesar 500.000 ton, berubah menjadi 5.000 ton. Hal ini mempertimbangkan total
       kapasitas maksimal input Batu bara dari fasilitas pengembangan dan/atau pemanfaatan Batu
       bara yang sudah mulai berjalan/berproduksi yaitu pembuatan semikokas di PT Megah Energi
       Khatulistiwa. Capaian peningkatan nilai tambah Batu bara tahun 2024 diperoleh dari
       prognosa triwulan IV sebesar 3.050 ton atau sebesar 61% dari target sebesar 5.000 ton.

       Permintaan produk peningkatan nilai tambah Batu bara khususnya briket di dalam negeri
       masih belum banyak. Pemerintah mendorong hilirisasi Batu bara untuk dapat mensubstitusi
       Bahan Bakar dan Bahan Baku Industri di dalam negeri diantaranya: Methanol dan DME,
       sehingga dapat meningkatkan optimalisasi pemanfaatan Batu bara dalam negeri untuk
       hilirisasi. Proyek hilirisasi Batu bara yang dilaksanakan beberapa perusahaan (seperti
       Gasifikasi, Pembuatan Kokas/ Semikokas) diproyeksikan akan terbangun pada tahun 2026
       sampai dengan tahun 2030.

       Prognosa pemanfaatan Batu bara untuk Peningkatan Nilai Tambah Batu bara hingga triwulan
       IV tahun 2024 mencapai 3.050 ton atau sebesar 30,5% dari target sebesar 50%. Dibandingkan
       tahun 2020, 2021, 2022, dan 2023 dengan realisasi peningkatan nilai tambah sebesar 401


Halaman 34                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 36
       ribu ton; 335 ribu ton; 295,5 ribu ton; dan 4.200 ton terdapat penurunan jumlah peningkatan
       nilai tambah Batu bara dalam 5 tahun terakhir.

       Grafik 3.11 Konsumsi Listrik di Indonesia
           Rasio pemanfaatan Batu bara                           Tahun
          untuk peningkatan nilai tambah
                                             2020       2021       2022      2023     2024
                      Batu bara
        Target PK (ton)                    1.000.000 500.000 250.000         5.000    5.000
        Realisasi (ton)                     401.000   335.000 295.515        4.200    3.050
        %Capaian                            40,10%     67,00% 118,21% 84,00% 61,00%
       Sumber: Laporan Kinerja Ditjen Minerba 2024, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara
       Kementerian ESDM, 2025

       Tidak tercapainya target tahun 2024 disebabkan belum banyaknya permintaan produk PNT
       Batu bara khususnya briket di dalam negeri. Hal ini ditunjukan oleh realisasi penjualan briket
       Batu bara di bawah target (demand lebih rendah), dimana masih banyak stok briket tahun
       2023 yang ter-carry over ke tahun 2024. Oleh karena itu, dibutuhkan percepatan pelaksanaan
       PNT Batu bara melalui kegiatan pengembangan dan pemanfaatan Batu bara di dalam negeri.
       Pengembangan proyek PNT Batu bara lainnya adalah Coal to Dimethyl Ether (DME) yang
       bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dengan mengganti porsi impor LPG.
       Per 5 Maret 2024, PT Bukit Asam Tbk bersama calon mitranya yaitu East China Engineering
       Science and Technology Co.,Ltd (ECEC) telah menandatangani perjanjian kerahasiaan dan
       masih dalam tahap penjajakan lanjutan. Pembebasan lahan untuk kebutuhan pabrik DME
       telah dilakukan seluas 163,87 ha (99%) dari total area 164 ha.

       Berdasarkan publikasi Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam Indonesia Energy
       Transition Outlook 2025, Konsumsi Batu bara industri naik sebesar 5% dari tahun 2022 ke
       tahun 2023, dengan CAGR sebesar 32,4% sejak tahun 2017 (MEMR, 2024a). Konsumsi Batu
       bara di subsektor besi, baja, dan metalurgi naik sebesar 20%, mencapai 60,1 Mt pada tahun
       2023, didorong oleh pertumbuhan sebesar 14,2% (yoy) (MEMR, 2024a; Nurdifa, AR, 2024).
       Peningkatan ini diatribusikan pada program “hilir”, yang telah secara signifikan meningkatkan
       aktivitas di industri pertambangan dan pengolahan mineral, terutama dalam penyediaan nikel.

       Sebaliknya, konsumsi Batu bara di subsektor semen, tekstil, dan pupuk menurun sebesar 25%,
       sedangkan subsektor pulp dan kertas mengalami penurunan sebesar 16%. Pengurangan ini
       merupakan hasil dari upaya dekarbonisasi, termasuk penggunaan bahan bakar alternatif
       seperti RDF, limbah industri, dan biomassa, serta perlambatan permintaan pasar (Ember,
       2024; Atmoko, C., 2024; Sayekti, IMS, 2024). Meskipun demikian, sektor industri masih sangat
       bergantung pada batu bara, dengan transisi terbatas ke energi terbarukan dan bahan bakar
       berkelanjutan. Sektor pengolahan mineral, khususnya, harus diprioritaskan untuk upaya
       dekarbonisasi lebih lanjut.

       Cadangan Batu bara di Indonesia

       Data neraca sumber daya dan cadangan batu bara dalam sub bab ini merupakan potensi
       batu bara yang tersingkap di permukaan sampai mencapai kedalaman kurang lebih 100 m di
       bawah permukaan dan sesuai untuk ditambang dengan metode tambang terbuka ( open pit).




Halaman 35                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 37
       Secara keseluruhan database batu bara pada tahun 2024 ini terdiri dari 1.656 lokasi yang
       tersebar di 23 Provinsi di Indonesia. Data tersebut bersumber dari :

             •   59 PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara);
             •   6 IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus);
             •   562 lokasi eks IUP (Izin Usaha Pertambangan); dan
             •   160 lokasi hasil penyelidikan PSDMBP (Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara, dan
                 Panas Bumi).

       Grafik 3.13 Kualitas Sumber Daya dan Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024




       Sumber: Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia Tahun 2025,
       Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, 2025

       Hasil rekapitulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral-Badan Geologi, menunjukkan
       bahwa sampai bulan Desember tahun 2024 sumber daya batu bara Indonesia sebesar
       97.960,76 juta ton sedangkan cadangan batu bara Indonesia sebesar 31.955,50 juta ton.
       Berdasarkan nilai kalori batu bara dalam basis gar maka sumber daya batu bara Indonesia
       terdiri atas :

             •   Batubara kalori rendah (≤ 4.200 kkal/kg (gar)) = 67.333,07 juta ton
             •   Batubara kalori sedang (> 4.200 s.d. 5.200 kkal/kg (gar)) = 15.526,30 juta ton
             •   Batubara kalori tinggi (≥ 5.200 kkal/kg (gar)) = 15.101,39 juta ton

       Berdasarkan klasifikasinya, sumber daya batubara Indonesia dapat dibagi menjadi 3 kategori
       dengan rincian sebagai berikut:

             •   Sumber daya tereka (25.952,90 juta ton)
             •   Sumber daya tertunjuk (32.232,44 juta ton)
             •   Sumber daya terukur (39.775,43 juta ton)

       Nilai cadangan batubara Indonesia diperoleh dari laporan perusahaan pemegang izin usaha
       PKP2B, IUPK, dan IUP. Nilai cadangan sampai akhir Desember 2024 yaitu cadangan terkira
       sebesar 14.418,87 juta ton sedangkan cadangan terbukti sebesar 17.536,63 juta ton.

     c. Prospek Usaha dan Rencana Ke Depan

       Memasuki periode ke depan, termasuk tahun 2026, UNTR memandang bahwa lanskap
       industry akan tetap diwarnai oleh volatilitas harga komoditas, ketidakpastian geopolitik global,
       serta dinamika kebijakan nasional di sektor energi, pertambangan,
       dan infrastruktur. Penurunan rencana produksi batu bara dan nikel nasional, percepatan
       agenda transisi energi, serta fluktuasi harga batu bara dan nikel diperkirakan menjaga tingkat
       persaingan tetap ketat, khususnya pada segmen kontraktor penambangan. Dalam konteks
       tersebut, UNTR menilai bahwa ketahanan bisnis tidak lagi semata ditentukan oleh siklus harga


Halaman 36                                              00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 38
       komoditas, melainkan oleh kemampuan menjaga efisiensi operasional, fleksibilitas strategi,
       serta keseimbangan portofolio usaha.

       Pada bisnis inti batu bara dan kontraktor penambangan, arah ke depan difokuskan pada
       optimalisasi operasi untuk menjaga arus kas yang sehat. UNTR memandang bahwa ruang
       pertumbuhan batu bara bersifat terbatas, meskipun komoditas ini masih memiliki peran
       transisional hingga energi terbarukan menjadi lebih ekonomis. Untuk itu, UNTR menargetkan
       penjualan batu bara sebesar 18,8 juta ton pada 2026, didukung oleh peningkatan kapasitas
       infrastruktur seperti jetty dan pelabuhan yang dijadwalkan rampung pada tahun mendatang.
       Upaya peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keandalan infrastruktur tetap menjadi
       prioritas agar bisnis inti dapat terus menjadi sumber kas yang andal dalam mendukung strategi
       diversifikasi jangka menengah dan panjang.

       Di sisi lain, segmen emas dipandang memiliki prospek yang tetap positif seiring tren harga
       emas global yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. UNTR akan
       melanjutkan penguatan portofolio emas melalui optimalisasi stabilitas produksi, peningkatan
       metal recovery, serta diversifikasi penjualan untuk pengelolaan manajemen risiko yang lebih
       baik. Target penjualan emas pada 2026 disesuaikan, seiring keterbatasan kapasitas fasilitas
       tailing yang saat ini ada, dengan ekspansi fasilitas baru yang dijadwalkan selesai pada 2027.
       Selain itu, UNTR tetap membuka peluang pengembangan aset emas baru, termasuk peluang
       di luar negeri, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

       Untuk segmen nikel, UNTR memandang prospek jangka panjang tetap menarik meskipun
       tekanan harga global dan perubahan regulasi, seperti penerapan siklus RKAB tahunan, masih
       menjadi tantangan dalam jangka pendek. Fokus UNTR tidak hanya pada aktivitas
       penambangan, tetapi pada pengembangan rantai nilai nikel yang terintegrasi dari hulu hingga
       hilir. Proyek smelter RKEF diproyeksikan memasuki fase commissioning pada 2026 dan
       ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, menjadi tonggak penting dalam meningkatkan nilai
       tambah dan memperkuat ketahanan bisnis nikel UNTR terhadap fluktuasi harga bijih.

       Pada segmen mesin konstruksi, prospek jangka pendek masih bersifat selektif, khususnya untuk
       permintaan alat berat terkait batu bara. Namun demikian, memasuki 2026, prospek
       diperkirakan bergerak lebih konstruktif seiring stabilisasi ekonomi global dan pemulihan
       investasi domestik. UNTR akan memfokuskan strategi pada penguatan layanan purna jual.

       Sementara itu, segmen konstruksi dan energi diproyeksikan mengalami pertumbuhan yang
       lebih stabil. Permintaan terhadap proyek infrastruktur, kawasan industri, fasilitas kesehatan,
       dan pusat data diperkirakan tetap tumbuh sejalan dengan kebijakan pemerintah dan
       kebutuhan industry nasional. Pada sektor energi, energi bersih menjadi pilar pertumbuhan
       baru UNTR. Pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 16,4%
       pada 2026 dan meningkat signifikan pada 2030, sejalan dengan Green RUPTL 2025–2034
       yang menempatkan pembangkit hijau sebagai mayoritas tambahan kapasitas listrik nasional.
       Dengan potensi EBT Indonesia yang besar dan peran swasta yang dominan, UNTR melalui
       EPN menyiapkan strategi penambahan portofolio energi bersih melalui pengembangan proyek
       baru maupun peluang akuisisi, meskipun tetap memperhatikan tantangan regulasi dan
       kebutuhan model bisnis yang semakin adaptif.

       Sejalan dengan arah jangka panjang Grup Astra, UNTR juga menyelaraskan strategi ke depan
       dengan aspirasi Astra Net Zero Scope 1 & Scope 2 pada tahun 2050. Komitmen ini menjadi


Halaman 37                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 39
        kerangka penting dalam mendorong upaya transisi menuju operasional yang lebih rendah
        emisi melalui peningkatan efisiensi energi, optimalisasi penggunaan bahan bakar,
        pemanfaatan energi terbarukan, serta adopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan secara
        bertahap. Bagi UNTR, aspirasi Net Zero tersebut tidak hanya dipandang sebagai komitmen
        lingkungan, tetapi juga sebagai fondasi strategis untuk memperkuat daya saing, ketahanan
        bisnis, dan keberlanjutan jangka panjang di Tengah percepatan agenda transisi energi global.

        Secara keseluruhan, UNTR memandang tahun 2026 sebagai fase konsolidasi strategis
        sekaligus pijakan menuju pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang. Dengan pendekatan
        yang prudent namun progresif, melalui penguatan fundamental operasional, disiplin
        pengelolaan modal, percepatan diversifikasi non-batu bara, serta integrasi keberlanjutan
        dalam setiap pengambilan keputusan, Direksi meyakini UNTR berada pada posisi yang tepat
        untuk menjaga ketahanan jangka pendek sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang
        berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

     d. Analisis Operasional dan Prospek UNTR

        Berdasarkan periode historis dari tahun 2021 – 2025, UNTR menunjukkan jika pendapatan
        yang dicatatkan selalu meningkatkan dari tahun ke tahun. UNTR selalu membukukan laba
        selama periode tersebut, dimana laba tertinggi yang dibukukan Adalah sebesar Rp 22,9 triliun
        di tahun 2022. Rasio rata-rata laba bersih terhadap pendapatan UNTR adalah sebesar
        16,09%.


        Grafik 3.14    Perkembangan Penjualan & Laba (Rugi) Tahun Berjalan UNTR

                                         Pendapatan     Laba (Rugi) Bersih
        160.000.000
        140.000.000
        120.000.000
        100.000.000
         80.000.000
         60.000.000
         40.000.000
         20.000.000
                  -
                           2021            2022             2023             2024           2025


        Sumber: Laporan Keuangan UNTR, diolah

        Prospek UNTR

        Industri komoditas diperkirakan tetap menjadi kontributor utama bagi kinerja seluruh lini bisnis
        UNTR, seiring masih kuatnya keterkaitan portofolio usaha UNTR dengan sektor tersebut.
        Meskipun laporan internasional memproyeksikan harga komoditas global cenderung melemah
        dalam beberapa tahun ke depan, level harga secara umum masih berada di atas rata‑rata
        pra‑pandemi, sehingga tetap memberikan ruang pertumbuhan dan peluang usaha bagi UNTR.



Halaman 38                                               00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 40
       Berdasarkan data dan proyeksi dari International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara
       masih didorong oleh sektor pembangkit listrik, terutama di negara-negara berkembang, di
       mana pertumbuhan konsumsi listrik tinggi. Namun, ekspansi energi terbarukan (seperti surya
       dan angin) memberikan tekanan jangka panjang pada penggunaan batu bara.

       Sedangkan pada emas, diproyeksikan akan terus mengalami lonjakan yang signifikan.
       Peningkatan ini mencerminkan akselerasi dalam kegiatan pertambangan sekaligus pemurnian
       emas di dalam negeri, sebagai bagian dari strategi hilirisasi sumber daya mineral nasional.
       Harga emas di masa mendatang diperkirakan dapat menembus USD3.300 hingga USD4.000
       per ons jika ketegangan geopolitik terus meningkat dan suku bunga acuan global mulai
       melunak.

       Pasar nikel global menghadapi tekanan oversupply yang cukup besar di tahun 2025. Kondisi
       ini mencerminkan bahwa meskipun ada permintaan tumbuh, ekspansi kapasitas di produsen
       utama seperti Indonesia membuat pasokan melimpah. Siklus kelebihan pasokan ini
       mendorong harga nikel jatuh ke level rendah.

       Selain itu, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030 yang disusun
       oleh Kementerian ESDM, Pemerintah merencanakan tambahan kapasitas pembangkit listrik
       sekitar 40,6 gigawatt hingga tahun 2030. Dari total rencana penambahan tersebut, sekitar
       20,9 gigawatt atau kurang lebih 51,6% dialokasikan untuk pembangkit berbasis energi
       terbarukan, mencerminkan komitmen untuk meningkatkan porsi bauran energi hijau dalam
       sistem ketenagalistrikan nasional.

       Menghadapi dinamika dan ketidakpastian pada perekonomian global, UNTR memfokuskan
       langkah pada penguatan kinerja di seluruh lini usaha. UNTR akan tetap bertindak secara
       proaktif dan agile dalam merespons berbagai tantangan eksternal, mempercepat agenda
       transformasi, serta menjaga ketangguhan bisnis melalui penciptaan nilai, penguatan
       operational excellence, dan inovasi yang berkesinambungan.

       Transformasi portofolio menuju bisnis non‑batu bara dan energi terbarukan akan terus
       dilanjutkan melalui percepatan pelaksanaan inisiatif‑inisiatif strategis, dengan tetap
       mengedepankan prinsip kehati‑hatian dan pemeliharaan posisi keuangan yang solid. Sektor
       pertambangan mineral dipandang sebagai pilar pertumbuhan baru yang perlu terus
       dikembangkan dalam kerangka portfolio rebalancing, baik melalui akuisisi aset operasi yang
       telah berjalan maupun pengembangan proyek baru melalui kegiatan eksplorasi pada
       greenfield asset.

       Portofolio energi terbarukan UNTR akan terus diperluas melalui pengkajian berbagai peluang
       pengembangan proyek dengan skala yang lebih besar. Secara lebih spesifik, UNTR
       menargetkan tercapainya keseimbangan kontribusi pendapatan antara bisnis yang berkaitan
       dengan batu bara termal dan bisnis non‑batu bara.

       UNTR menegaskan komitmennya untuk menjadikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata Kelola
       (ESG) sebagai bagian tak terpisahkan dari perspektif jangka panjang yang dikelola secara
       sistematis guna memastikan keberlanjutan kinerja usaha. Sejalan dengan komitmen Grup
       Astra untuk mencapai Net Zero Emission untuk Cakupan 1 dan Cakupan 2 pada tahun 2050,
       UNTR senantiasa mengupayakan berbagai inisiatif guna mendukung pencapaian target
       tersebut.


Halaman 39                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 41
          Upaya yang dilakukan antara lain melalui pemanfaatan teknologi guna menurunkan konsumsi
          bahan bakar (fuel burnt) yang saat ini merupakan salah satu sumber emisi terbesar di dalam
          grup UNTR. Selain itu, UNTR akan memperkuat sinergi dengan principal untuk mengeksplorasi
          dan mengembangkan solusi elektrifikasi alat berat maupun pengembangan alat berat dengan
          emisi karbon yang lebih rendah.

          Proyek nature-based solution (NbS) yang mulai diimplementasikan UNTR merupakan salah
          satu langkah strategis untuk melakukan offset terhadap emisi karbon yang timbul dari aktivitas
          operasional grup UNTR. Sejalan dengan hal tersebut, seluruh lini bisnis UNTR diharapkan
          secara konsisten meningkatkan berbagai upaya pengurangan emisi karbon melalui praktik
          operasi yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan.

       e. Keuntungan dan Kerugian atas Rencana Transaksi

          • Keuntungan Rencana Transaksi

             Memungkinkan pemenuhan kebutuhan pendanaan dengan proses yang lebih cepat,
             fleksibel, dan efisien dibandingkan alternatif pendanaan dari pihak ketiga.

          • Kerugian Rencana Transaksi

             Rencana Transaksi tidak memberikan kerugian terhadap UNTR.

3.4.   Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi

       Berikut ini adalah analisa kuantitatif atas rencana transaksi, sebagai berikut:

       a. Kinerja Keuangan Historis UNTR
          Tabel 3-1 Laporan Posisi keuangan UNTR (Juta Rupiah)
                                    31 Des           31 Des       31 Des          31 Des       31 Des
                   Uraian
                                     2021             2022         2023            2024         2025
           Aset lancar              60.604.068    78.930.048      62.667.105     69.979.284    72.141.026
           Aset tidak lancar        51.957.288    61.548.172      91.086.798     99.501.334   105.496.273
           Total Aset              112.561.356   140.478.220     153.753.903    169.480.618   177.637.299
           Liabilitas jk pendek     30.489.218    42.037.402      43.038.299     45.302.555    53.212.975
           Liabilitas jk panjang    10.249.381       8.926.993    26.673.962     26.002.890    21.288.001
           Total Liabilitas         40.738.599    50.964.395      69.712.261     71.305.445    74.500.976
           Total Ekuitas            71.822.757    89.513.825      84.041.642     98.175.173   103.136.323
           Total Liabilitas &
                                   112.561.356   140.478.220     153.753.903    169.480.618   177.637.299
           Ekuitas
          Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR

          Total aset menunjukkan peningkatan dari akhir tahun 2021 sampai dengan akhir 2025
          dengan CAGR sebesar 9,55% peningkatan tersebut utamanya disebabkan kenaikan aset tetap,
          persediaan dan pajak dibayar dimuka dan lain-lain. Total aset pada tahun 2022 menunjukkan
          peningkatan tertinggi atau sebesar 24,80% dibanding tahun 2021. Peningkatan tersebut
          utamanya disebabkan oleh kenaikan aset lancar sebesar 30,34% dari Rp 60,6 triliun menjadi



Halaman 40                                                    00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 42
       Rp 78,9 triliun dan kenaikan aset tidak lancar sebesar 18,46% dari Rp 51,9 triliun menjadi Rp
       61,5 triliun.

       Total liabilitas dalam periode akhir 2021 sampai dengan akhir 2025 menunjukkan
       peningkatan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp
       40,7 triliun menjadi Rp 74,5 triliun. Peningkatan total liabilitas tertinggi ada di tahun 2023,
       dengan kenaikan sebesar 36,79% tercatat dari 50,9 triliun di 2022 menjadi Rp 69,7 triliun di
       2023. Kenaikan total liabilitas tersebut utamanya karena kenaikan liabilitas jangka Panjang
       sebesar 198,80% yang awalnya tercatat Rp 8,9 triliun menjadi Rp 26,6 triliun serta kenaikan
       liabilitas jangka pendek yang naik sebesar 2,38% dari 42,0 triliun menjadi Rp 43,0 triliun.

       Perkembangan ekuitas UNTR periode 2021 sampai dengan 2022 menunjukkan peningkatan
       dari tahun ke tahun dengan CAGR sebesar 7,51%. Peningkatan ekuitas tertinggi di 2022, yang
       naik 24,63% dari akhir tahun 2021. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh
       penambahan saldo laba belum dicadangkan dan selisih kurs.

       Tabel 3-2 Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) UNTR (Juta Rupiah)
                                            Jan – Des       Jan – Des        Jan – Des      Jan – Des      Jan – Des
                     Uraian
                                              2021            2022             2023           2024           2025
        Pendapatan                         79.460.503      123.607.460     128.583.264    134.426.998    131.300.810
        Beban pokok pendapatan             59.795.542       88.848.772      92.797.027    100.595.438    101.597.306
        Laba (Rugi) Kotor                  19.664.961       34.758.688      35.786.237      33.831.560    29.703.504
        Laba (Rugi) Operasi                14.875.615       29.132.716      29.723.143      27.181.530    22.065.298
        Laba sebelum pajak                 14.462.250       29.446.041      28.720.340      25.897.052    20.182.167
        Laba (rugi) tahun berjalan         10.608.267       22.993.673      22.130.096      20.118.529    15.176.764
       Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan

       Selama Periode 2021 sampai dengan periode 2025 pendapatan UNTR menunjukkan
       pertumbuhan dari tahun ke tahun dengan peningkatan secara rata-rata sebesar 18,70%,
       dengan peningkatan pendapatan tertinggi terjadi pada tahun 2022 yang tercatat sebesar
       55,56% atau naik menjadi Rp 123, 6 triliun. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember
       2025 UNTR berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp 131,3 triliun.

       Seiring dengan pendapatan, beban pokok pendapatan juga mengalami kenaikan, dengan
       rata-rata rasio beban pokok pendapatan terhadap pendapatan adalah sebesar 74,30%.
       Berdasarkan periode historis UNTR selalu membukukan laba, dengan laba tertinggi yang
       dicatatkan di tahun 2022 sebesar Rp 22,9 triliun.

       Tabel 3-3 Arus Kas UNTR (Juta Rupiah)
                                     Jan – Des      Jan – Des            Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des
                Uraian
                                       2021           2022                 2023            2024            2025
        Arus kas dari aktivitas
                                     23.284.854         32.891.585       26.346.848       30.044.864      27.143.449
        operasi
        Arus kas dari aktivitas
                                     (3.158.997)   (10.401.292)         (33.439.773)     (14.202.531)    (13.445.531)
        investasi
        Arus kas dari aktivitas
                                     (7.419.838)   (18.653.279)         (12.230.036)      (9.468.173)    (12.470.370)
        pendanaan
        Kenaikan bersih kas &
        setara kas                   12.706.019          3.837.014      (19.322.961)       6.374.160       1.227.548
        Kas & setara kas pada
                                     20.498.574         33.321.741       38.281.513       18.596.609      25.092.519
        awal tahun



Halaman 41                                                       00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 43
                                    Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des
                 Uraian
                                      2021            2022            2023            2024            2025
         Dampak perubahan
                                       117.148        1.122.758       (361.943)        121.750         250.705
         selisih kurs
         Kas & setara kas pada
                                    33.321.741       38.281.513      18.596.609      25.092.519      26.570.772
         akhir tahun
        Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian UNTR (Jutaan Rupiah)

        Arus kas keluar UNTR dari aktivitas operasi merupakan arus kas untuk pembayaran biaya
        operasional. Pada periode 31 Desember 2025, UNTR membukukan arus kas masuk dari
        aktivitas operasional sebesar Rp 27,1 triliun.

        Arus kas keluar UNTR untuk aktivitas investasi merupakan arus kas yang utamanya digunakan
        untuk pembelian aset tetap, penambahan investasi pada asosiasi dan ventura Bersama, dan
        penambahan pinjaman kepada pihak berelasi. Pada periode yang berakhir di 31 Desember
        2025, UNTR membukukan arus kas keluar untuk aktivitas investasi sebesar Rp 13,4 triliun.

        Arus kas masuk UNTR dari aktivitas Pendanaan, pada periode yang berakhir di 31 Desember
        2025, tercatat sebesar Rp 12,4 triliun, yang dibukukan sebagai arus kas keluar untuk aktivitas
        pendanaan

     b. Penilaian atas proyeksi keuangan yang diperoleh dari Pihak UNTR

        Proyeksi keuangan yang digunakan dalam pendapat kewajaran ini mengacu pada proyeksi
        keuangan / rencana usaha (business plan) yang dibuat oleh manajemen UNTR. Lebih lanjut,
        manajemen UNTR telah memberikan proyeksi keuangan untuk skenario tanpa Rencana
        Transaksi dan dengan Rencana Transaksi. Berikut adalah proyeksi keuangan UNTR dengan
        Rencana Transaksi.

        Tabel 3-5 Analisis Proyeksi Posisi Keuangan UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
                                    Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des       Jan – Des
                 Uraian
                                      2026            2027            2028            2029            2030
         Cash & cash equivalent     21.285.783       19.681.060      17.254.935      17.522.541      18.811.741
         AR                         21.837.619       22.492.748      23.167.530      23.862.556      24.578.433
         Inventories                15.003.286       15.453.385      15.916.986      16.394.496      16.886.331
         Advance payment             2.231.024        2.258.868       2.287.058       2.315.601       2.344.500
         Prepaid expenses                       -               -               -               -               -
         Other current asset        11.579.832       10.474.817      10.283.532       9.698.979       9.147.653
         Due from shareholder        1.836.737        1.947.380       2.080.603       2.214.438       2.356.882
         Investment in shares of
                                    19.909.029       20.506.300      21.121.489      21.755.134      22.407.788
         stock
         Fixed assets               67.235.809       70.103.297      71.954.705      74.439.228      77.009.538
         Mining properties                      -               -               -               -               -
         Deferred tax assets         5.340.499        5.420.345       5.492.229       5.569.705       5.648.273
         Coal exploration &
                                     9.267.577        8.691.838       8.245.034       7.777.009       7.335.551
         development costs
         Goodwill                    3.422.251        3.422.251       3.422.251       3.422.251       3.422.251
         Other non-current asset     1.468.471        1.436.736       1.344.059       1.286.186       1.230.806
         Total Asset               180.417.918      181.889.026     182.570.412     186.258.124     191.179.747
         AP                         19.656.605       20.246.303      20.853.693      21.479.303      22.123.682



Halaman 42                                                      00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 44
                                       Jan – Des      Jan – Des        Jan – Des       Jan – Des        Jan – Des
                  Uraian
                                         2026           2027             2028            2029             2030
        Accrued expenses                7.163.710       8.173.524        8.254.952       8.877.891        9.257.087
        Tax payables                    2.136.133       2.522.828        2.468.119       2.664.755        2.742.012
        Other current liabilities      15.991.407      14.973.776       16.860.849      17.386.816       18.753.591
        Deferred tax liabilities        5.323.288       4.798.525        4.245.435       3.791.511        3.370.307
        LT portion of long-term
                                       24.105.468      20.389.020       13.783.387      10.488.094        7.535.396
        bank loan
        Employee benefit
                                        6.655.989       6.787.349        6.927.071       7.066.726        7.210.697
        obligations
        Other non-current
                                          939.823         880.017          990.921       1.021.832        1.102.158
        liabilities
        Total liabilities              81.972.423      78.771.343       74.384.428      72.776.927       72.094.930
        Equity attributable to
                                       93.304.315      97.654.891      102.320.540     107.219.588      112.384.460
        owners
        Non-controlling
                                        5.141.180       5.462.791        5.865.445       6.261.609        6.700.357
        interests
        Total equity                   98.445.495     103.117.683      108.185.984     113.481.197      119.084.817
        Total Liabilities +
                                      180.417.918     181.889.026      182.570.412     186.258.124      191.179.747
        Equity


        Tabel 3-1           Analisis Proyeksi Laba Rugi UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
                                       Jan – Des      Jan – Des        Jan – Des       Jan – Des        Jan – Des
                  Uraian
                                         2026           2027             2028            2029             2030
        Revenue                       106.471.434     109.665.577      112.955.544     116.344.211      119.834.537
        COGS                          (86.925.981)    (89.533.761)     (92.219.773)    (94.986.367)     (97.835.958)
        Gross profit                   19.545.453      20.131.816       20.735.771      21.357.844       21.998.579
        Opex                           (8.575.296)     (8.832.555)      (9.097.531)     (9.370.457)      (9.651.571)
        Operatig profit                10.970.157      11.299.262       11.638.240      11.987.387       12.347.008
        Gain/(loss) on forex              201.589                 -                -                -                -

        Net interest                   (1.473.353)     (1.246.199)
                                                                         (842.456)       (641.044)         (460.572)
        Other
                                       (1.201.234)     (1.160.648)      (1.125.563)     (1.091.532)      (1.058.521)
        income/(charges)

        Profit before tax
                                        8.497.159       8.892.415        9.670.220      10.254.811       10.827.916
        Income tax                     (2.353.766)     (1.954.388)      (2.125.505)     (2.254.115)      (2.380.198)

        Profit after tax
                                        6.143.394       6.938.027        7.544.715       8.000.696        8.447.718


       Berdasarkan tabel proyeksi keuangan UNTR pada periode 2026 sampai 2030, UNTR terus
       mencatatkan kenaikan pendapatan, total asset maupun ekuitas selama periode proyeksi.

       Tabel 3-2 Analisis Proyeksi Arus Kas UNTR Setelah Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
                                        Jan – Des       Jan – Des        Jan – Des      Jan – Des        Jan – Des
                (in mio IDR)
                                          2026            2027             2028           2029             2030

        Beginning Balance               26.570.772       21.285.783      19.681.060     17.254.935       17.522.541
        Cash from Operating
                                                                                        16.391.843
        Activities                        2.945.992      14.438.282      16.791.862                      17.245.864

                                                                                        23.912.017
             EBITDA                     22.894.787       23.223.892      23.562.869                      24.271.638

                                       (16.121.677)                      (3.803.046)    (4.625.015)
             Working Capital                             (5.585.022)                                     (4.185.004)



Halaman 43                                                          00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 45
                                         Jan – Des        Jan – Des               Jan – Des        Jan – Des           Jan – Des
                 (in mio IDR)
                                           2026             2027                    2028             2029                2030

                                          (1.473.353)                               (842.456)       (641.044)
             Interest Expense – Net                       (1.246.199)                                                      (460.572)

                                          (2.353.766)                             (2.125.505)     (2.254.115)
           Current Tax                                    (1.954.388)                                                  (2.380.198)
         Cash from Investing
                                         (18.578.937)                             (9.759.785)     (9.753.792)
         Activities                                       (9.765.604)                                                  (9.747.619)

                                          (9.959.567)                             (9.959.567)     (9.959.567)
             Capex                                        (9.959.567)                                                  (9.959.567)

                                          (8.807.683)
             Investment in shares                                      -                      -                -                   -

             Due To                                  -                 -                      -                -                   -

                                                                                                     205.775
           Dividend received                 188.313            193.963              199.782                                211.948
         Cash from Financing
                                                                                  (9.458.202)     (6.370.444)
         Activities                       10.347.956      (6.277.401)                                                  (6.209.046)
           Proceed/(Repayment)
                                                                                  (6.605.633)     (3.295.293)
           of debt                        15.031.951      (3.716.448)                                                  (2.952.698)

                                          (4.683.994)                             (2.852.569)     (3.075.151)
             Dividend payment                             (2.560.953)                                                  (3.256.348)

             Due From                                -                 -                      -                -                   -

                                          (5.284.989)                             (2.426.126)        267.607
             Cash Surplus (deficit)                       (1.604.723)                                                      1.289.200
         Ending Cash                     21.285.783       19.681.060              17.254.935      17.522.541           18.811.741


       Berdasarkan tabel proyeksi arus kas di atas, UNTR mencatatkan arus kas operasi yang positif
       selama periode proyeksi. UNTR juga terus melakukan investasi ke depannya untuk tetap
       menjalankan dan mengembangkan usahanya.

     c. Analisis Rasio Keuangan UNTR

       Analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan keuangan yang digunakan
       untuk mengetahui hubungan dari pos - pos tertentu dari laporan posisi keuangan dan laporan
       laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya. Berikut adalah tabel berbagai
       macam rasio keuangan UNTR.

       Tabel 3-3 Analisis rasio keuangan UNTR
                                                                                                                             Average
                        Rasio Keuangan                   2021         2022            2023        2024         2025
                                                                                                                            2021-2025
         Rasio Aktivitas (x)
         Rasio perputaran total aset                       6,54            7,01         6,34        6,72            6,59           6,64
         Rasio perputaran piutang                          6,32            5,77         5,40        5,92            6,07           5,90
         Rasio perputaran utang usaha                      4,12            3,58         3,19        3,47            3,47           3,56
         Rasio perputaran persediaan                       6,54            7,01         6,34        6,72            6,59           6,64
         Rasio Likuiditas (x)
         Rasio lancar                                      1,99            1,88         1,46        1,54            1,36           1,64
         Rasio cepat                                       1,68            1,51         1,06        1,17            1,04           1,29
         Rasio kas                                         1,09            0,91         0,43        0,55            0,50           0,70
         Rasio Profitabilitas (%)
         Rasio laba atas aset                             9,42%       16,37%         14,39%       11,87%           8,54%        12,12%



Halaman 44                                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 46
                                                                                               Average
                     Rasio Keuangan              2021     2022     2023     2024     2025
                                                                                              2021-2025
        Rasio laba atas ekuitas                  14,77%   25,69%   26,33%   20,49%   14,72%      20,40%
        Rasio Solvabilitas (%)
        Rasio total Liabilitas / total aset      36,19%   36,28%   45,34%   42,07%   41,94%      40,36%
        Rasio total Liabilitas / total ekuitas   56,72%   56,93%   82,95%   72,63%   72,24%      68,29%


       Rasio Aktivitas

       Rasio aktivitas menunjukkan efektif atau tidaknya UNTR dalam menggunakan sumber-sumber
       dana yang tersedia.

       ▪ Rasio Perputaran Piutang Usaha
         Perputaran piutang usaha periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 rata-rata
         sebesar 6,64 kali. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025 rasio perputaran
         piutang usaha tercatat sebesar 6,59 kali.

       ▪ Rasio Perputaran Persediaan
         Perputaran persediaan periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 rata-rata sebesar
         5,90x. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025 rasio perputaran persediaan
         tercatat sebesar 6,07x.

       ▪ Rasio Perputaran Utang Usaha
         Rasio perputaran utang usaha selama periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
         rata-rata sebesar 3,56x. Pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025, rasio
         perputaran utang usaha tercatat sebesar 3,47x.

       Rasio Likuiditas

       Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
       mana kemampuan UNTR dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Selama periode 31
       Desember 2021 – 31 Desember 2025, rata-rata rasio lancar, rasio cepat dan rasio kas
       selama 5 (lima) tahun terakhir sebesar 1,64 kali, 1,29 kali dan 0,70 kali. Pada periode
       Desember 2025, rasio lancar, rasio cepat dan rasio kas UNTR sebesar 1,36 kali, 1.04 kali,
       dan 0,50 kali. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang periode historis, UNTR mampu untuk
       membayar seluruh liabilitas jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang
       dimiliki.

       Rasio Profitabilitas

       Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan UNTR dalam menghasilkan laba.
       Rasio laba atas aset (Return on Assets /ROA) UNTR selama periode 31 Desember 2021 – 31
       Desember 2025 rata-rata 12,12% per tahun. Rasio laba atas aset UNTR pada periode 31
       Desember 2025 adalah 8,54%.

       Rasio laba atas ekuitas (Return on Ekuitas / ROE) UNTR selama periode 31 Desember 2021
       – 31 Desember 2025 rata-rata sebesar 20,40% per tahun. Rasio laba atas ekuitas UNTR pada
       periode 31 Desember 2025 adalah 14,72%.



Halaman 45                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 47
        Rasio Solvabilitas

        Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
        UNTR untuk melunasi utang-utangnya dengan ekuitas atau aset yang dimiliki jika dilikuidasi.

        Rasio rata-rata jumlah kewajiban terhadap jumlah aset dan rasio rata-rata jumlah kewajiban
        terhadap jumlah ekuitas UNTR selama periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
        masing-masing adalah sebesar 40,36% dan 68,29%. Rasio rata-rata jumlah kewajiban
        terhadapt jumlah aset dan rata-rata jumlah liabilitas atas ekuitas UNTR pada periode 31
        Desember 2025 masing-masing adalah 41,94% dan 72,24%.

     d. Analisis dampak keuangan UNTR atas rencana transaksi (Proforma)

        Mengacu pada Laporan Keuangan Proforma Konsolidasian UNTR yang disiapkan oleh
        manajemen untuk periode 31 Desember 2025, maka dampak keuangan atas Rencana
        Transaksi tercermin dalam tabel dibawah ini:

        Tabel 3-4      Laporan Posisi Keuangan Ringkasan Proforma UNTR (juta rupiah)
                                                                   31 Desember                31 Desember
                                    Uraian                             2025       Transaksi       2025
                                                                      (Audit)                   Proforma
         Aset Lancar
         Kas dan setara kas                                          26.570.772                 26.570.772
         Piutang usaha                                               19.917.663                 19.917.663
         Piutang non usaha                                            1.695.895                  1.695.895
         Persediaan                                                  16.729.809                 16.729.809
         Proyek dalam pelaksanaan                                        28.698                     28.698
         Pajak dibayar dimuka                                         5.297.400                  5.297.400
         Uang muka dan biaya dibayar dimuka                           1.543.309                  1.543.309
         Aset lancar lain-lain                                          357.480                    357.480
         Total Aset Lancar                                           72.141.026                 72.141.026
         Aset Tidak Lancar
         Kas dan deposito berjangka yg dibatasi penggunaannya           787.806                    787.806
         Piutang usaha                                                  472.368                    472.368
         Piutang non usaha                                            3.192.272                  3.192.272
         Persediaan
                                                                        105.530                    105.530
         Pajak dibayar dimuka
         Uang muka & biaya dibayar dimuka                             3.096.988                  3.096.988
         Investasi pd entitas asosiasi & ventura                        793.619                    793.619
         Investasi jangka panjang                                    17.223.562                 17.223.562
         Aset tetap                                                   3.175.766                  3.175.766
         Properti pertambangan                                       45.296.550                 45.296.550
         Properti investasi                                          14.809.384                 14.809.384
         Beban eksplorasi & pengembangan tangguhan                      244.469                    244.469
         Aset tambang berproduksi                                     2.768.518                  2.768.518
         Beban tangguhan                                              3.958.340                  3.958.340
         Aset pajak tangguhan                                         1.169.123                  1.169.123
         Goodwill                                                     4.891.419                  4.891.419
         Jumlah Aset Tidak Lancar                                   105.496.273                105.496.273
         Jumlah Aset                                                177.637.299                177.637.299




Halaman 46                                                      00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 48
                                                                   31 Desember                    31 Desember
                                   Uraian                              2025          Transaksi        2025
                                                                      (Audit)                       Proforma

        Liabilitas Jangka Pendek
        Utang usaha                                                  29.308.928                     29.308.928
        Utang non usaha                                               1.220.517                      1.220.517
        Utang pajak                                                   1.410.649                      1.410.649
        Akrual                                                        6.692.531                      6.692.531
        Uang muka pelanggan                                             901.209                        901.209
        Pendapatan tangguhan                                          1.021.152                      1.021.152
        Liabilitas imbalan kerja                                      1.053.575                      1.053.575
        Pinjaman bank jk pendek                                         560.000                        560.000
        Bag. jk pendek dr utang jk panjang :
        Pinjaman bank                                                 9.682.666                      9.682.666
        Liabilitas sewa                                                 801.430                        801.430
        Liabilitas keuangan lain-lain                                   560.318                        560.318
        Bag. jk pendek dr laibilitas keu jk panjang lain                      -                              -
        Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                              53.212.975                     53.212.975
        Liabilitas Jangka Panjang
        Liabilitas pajak tangguhan                                    3.768.016                      3.768.016
        Provisi rehabilitasi, raklamasi & penutupan tambang           1.154.627                      1.154.627
        Liabilitas imbalan kerja                                      5.497.626                      5.497.626
        Utang jangka panjang, stlh dikurangi bagian jk pendek
        Pinjaman bank                                                 6.054.620                      6.054.620
        Liabilitas sewa                                                 976.309                        976.309
        Liabilitas keuangan lain-lain                                   281.698                        281.698
        Liabilitas tdk lancar lainnya                                 3.555.105                      3.555.105
        Liabilitas keu jk panjang lain-lain                                      -                              -
        Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                             21.288.001                     21.288.001
        Jumlah Liabilitas                                            74.500.976                     74.500.976


        Ekuitas
        Modal saham                                                     932.534                        932.534
        Tambahan modal disetor                                        9.703.937                      9.703.937
        Saham treasuri                                               (4.902.237)                    (4.902.237)
        Saldo laba                                                   85.734.134          7.414      85.555.041
        Selisih kurs dr penjabaran lap keu                            9.227.066                      9.227.066
        Cadangan lindung nilai                                       (2.065.280)                    (2.065.280)
        Cadanga penyesuaian nilai wajar asset                            19.386                         19.386
        Transakdi dg kep non pengendalian                              (875.920)                      (875.920)
                                                                     97.773.620                     97.781.340
        Kepentingan non pengendali                                    5.362.703         (7.414)      5.355.289

        Jumlah Ekuitas                                              103.136.323                    103.136.323
        Jumlah Liabilitas dan Ekuitas                               177.637.299                    177.637.299
       Sumber: Laporan Keuangan Proforma UNTR yang dibuat Manajemen

       Asumsi - asumsi laporan posisi keuangan konsolidasian ringkasan proforma yang digunakan
       adalah sebagai berikut:

      1) Terdapat penerimaan pada laporan keuangan ABB atas fasilitas pinjaman berupa
         shareholder loan sebesar USD 40.000.000,- (empat puluh juta Dolar Amerika) atau setara
         dengan
         Rp 671.280.000.000,- dengan menggunakan kurs pada 31 Desember 2025 dari Bank


Halaman 47                                                      00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 49
              Indonesia sebesar Rp 16.781,-. Serta terdapat pengerluaran sejumlah yang sama pada
              TTA. Laporan Keuangan proforma UNTR adalah menggunakan Laporan Keuangan
              Konsolidasian, sehingga terdapat proses eliminasi atas Rencana Transaksi tersebut.

         Tabel 3-5 Laporan Laba Rugi Komprehensif Ringkasan Proforma UNTR (Juta Rupiah)
                                                                         31 Desember                      31 Desember
                                     Uraian                                  2025          Transaksi          2025
                                                                            (Audit)                         Proforma
           Pendapatan bersih                                               131.300.810                     131.300.810
           Beban pokok pendapatan                                        (101.597.306)                    (101.597.306)
           Laba bruto                                                       29.703.504                      29.703.504
           Beban penjualan                                                  (1.597.792)                     (1.597.792)
           Beban umum dan administrasi                                      (6.040.414)                     (6.040.414)
           Beban lain-lain                                                    (256.226)                       (256.226)
           Penghasilan keuangan                                              1.244.489                       1.244.489
           Biaya keuangan                                                   (2.625.818)                     (2.625.818)
           Bagian atas laba bersih entitas                                    (245.576)                       (245.576)
           Laba sebelum pajak penghasilan                                   20.182.167                      20.182.167
           Beban pajak penghasilan                                          (5.005.403)                     (5.005.403)
           Laba tahun berjalan                                              15.176.764                      15.176.764
           Pendapatan (Beban) Komprehensif lain setelah pajak                 (749.597)                       (749.597)
           Jumlah laba komprehensif tahun berjalan                          14.427.167                      14.427.167
         Sumber: Laporan Keuangan Proforma UNTR yang dibuat oleh Manajemen

         Rencana Transaksi tidak memberikan dampak terhadap laporan proforma laba rugi
         konsolidasian UNTR

     e. Proyeksi Keuangan Konsolidasian Perseroan sebelum dan sesudah transaksi

    Proyeksi keuangan yang digunakan dalam pendapat kewajaran ini mengacu pada proyeksi
    keuangan / rencana usaha (business plan) yang dibuat oleh manajemen Perseroan. Lebih lanjut,
    manajemen Perseroan telah memberikan proyeksi keuangan untuk skenario tanpa Rencana
    Transaksi dan dengan Rencana Transaksi. Berikut adalah proyeksi keuangan Perseroan untuk
    kedua scenario usaha tersebut:

    Tabel 3.2            Proyeksi Keuangan Konsolidasian Perseroan sebelum Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
                                        31 Des          31 Des             31 Des           31 Des          31 Des
                   Uraian
                                        2026            2027                2028             2029            2030
      NERACA
      Aset Lancar                        72.589.403      70.292.262         68.816.763       69.676.231       71.626.052
      Aset Tidak Lancar                 108.480.373     111.528.148        113.660.371      116.463.951      119.411.089
      Total Aset                       181.069.776     181.820.410        182.477.133      186.140.181      191.037.141
      Liabilitas Lancar                  44.947.855      45.916.432         48.437.613       50.408.764       52.876.372
      Liabilitas Tidak Lancar            37.688.757      32.823.291         25.915.195       22.336.543       19.186.938
      Total Liabilitas                  82.636.613      78.739.723         74.352.808       72.745.307       72.063.310
      Total Ekuitas                     98.433.163     103.080.687        108.124.325      113.394.874      118.973.831


                                      Jan-Des         Jan-Des            Jan-Des          Jan-Des          Jan-Des
                   Uraian
                                       2026            2027               2028             2029             2030
      LABA RUGI




Halaman 48                                                            00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 50
                                     Jan-Des          Jan-Des           Jan-Des                 Jan-Des         Jan-Des
                  Uraian
                                       2026             2027              2028                    2029           2030
      Pendapatan                      106.471.434      109.665.577       112.955.544             116.344.211      119.834.537
      Laba (Rugi) Usaha               10.970.157       11.299.262         11.638.240             11.987.387       12.347.008
      Laba (Rugi) Bersih              6.129.679         6.910.598         7.517.286              7.973.267        8.420.289


      ARUS KAS
      Arus Kas Operasional                2.933.660    13.749.428         16.798.818             16.398.799       17.252.821
      Arus Kas Investasi             (18.578.937)      (9.765.604)       (9.759.785)             (9.753.792)      (9.747.619)
      Arus Kas Pendanaan              (4.633.130)      (2.325.197)       (2.450.789)                242.943        1.264.536
      Kenaikan (Penurunan) Kas       (4.633.130)      (2.325.197)       (2.450.789)                242.943        1.264.536
      Saldo Awal Kas                  26.570.772       21.937.642         19.612.445             17.161.656       17.404.599
      Saldo Akhir Kas                21.937.642       19.612.445         17.161.656             17.404.599       18.669.135
    Sumber: Perseroan, diolah

    Tabel 3.3           Proyeksi Keuangan Perseroan konsolidasi dengan Rencana Transaksi (Juta Rupiah)
                                  31 Des              31 Des             31 Des                   31 Des         31 Des
             Uraian
                                   2026               2027                2028                    2029            2030

     NERACA
     Aset Lancar                    71.937.545          70.360.877         68.910.042              69.794.173      71.768.658

     Aset Tidak Lancar             108.480.373         111.528.148        113.660.371             116.463.951    119.411.089

     Total Aset                   180.417.918         181.889.026        182.570.412             186.258.124    191.179.747

     Liabilitas Lancar              44.947.855          45.916.432         48.437.613              50.408.764      52.876.372
     Liabilitas Tidak
                                    37.024.567          32.854.911         25.946.815              22.368.163      19.218.558
     Lancar
     Total Liabilitas              81.972.423          78.771.343         74.384.428              72.776.927      72.094.930

     Total Ekuitas                 98.445.495         103.117.683        108.185.984             113.481.197    119.084.817


                                     Jan-Des          Jan-Des            Jan-Des                Jan-Des         Jan-Des
                  Uraian
                                      2026             2027               2028                   2029            2030
      LABA RUGI
      Pendapatan                     106.471.434       109.665.577       112.955.544             116.344.211     119.834.537
      Laba (Rugi) Usaha               10.970.157        11.299.262        11.638.240              11.987.387      12.347.008
      Laba (Rugi) Bersih               6.143.394        6.938.027          7.544.715              8.000.696       8.447.718


      ARUS KAS
      Arus Kas Operasional                2.945.992     14.438.282        16.791.862              16.391.843      17.245.864
      Arus Kas Investasi             (18.578.937)      (9.765.604)        (9.759.785)             (9.753.792)     (9.747.619)
      Arus Kas Pendanaan              10.347.956       (6.277.401)        (9.458.202)             (6.370.444)     (6.209.046)
      Kenaikan (Penurunan) Kas       (5.284.989)       (1.604.723)       (2.426.126)                267.607       1.289.200
      Saldo Awal Kas                 26.570.772        21.285.783        19.681.060              17.254.935      17.522.541
      Saldo Akhir Kas                21.285.783        19.681.060        17.254.935              17.522.541      18.811.741
    Sumber: Perseroan, diolah

     f. Analisis Rasio Proyeksi Keuangan

    Berdasarkan Rencana Transaksi, terjadi perubahan pada beberapa rasio keuangan proyeksi
    Perseroan, berikut merupakan perubahan yang terjadi pada rasio keuangan tanpa dan dengan
    Rencana Transaksi

    Tabel 3.4           Rasio Keuangan sebelum Rencana Transaksi
                                            31 Des     31 Des         31 Des           31 Des          31 Des     31 Des
                     Uraian
                                             2025       2026           2027             2028            2029       2030
     Rasio Aktivitas (x)




Halaman 49                                                           00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 51
                                               31 Des            31 Des            31 Des            31 Des            31 Des            31 Des
                     Uraian
                                                2025              2026              2027              2028              2029              2030
     Rasio perputaran piutang                         4,88              4,88              4,88              4,88              4,88              4,88
     Rasio perputaran persediaan                      5,79              5,79              5,79              5,79              5,79              5,79
     Rasio perputaran utang usaha                     4,42              4,42              4,42              4,42              4,42              4,42
     Rasio Likuiditas (x)
     Rasio lancar                                     1,63              1,53              1,42              1,38              1,35              1,46
     Rasio cepat                                      1,30              1,19              1,09              1,05              1,03              1,13
     Rasio kas                                        0,50              0,43              0,35              0,34              0,35              0,39
     Rasio Profitabilitas (%)
     Rasio total Liabilitas / total aset             3,39%             3,80%             4,12%             4,28%             4,41%             4,00%
     Rasio total Liabilitas / total
                                                     6,23%             6,70%             6,95%             7,03%             7,08%             6,80%
     ekuitas
     Rasio Solvabilitas (%)
     Rasio total Liabilitas / total aset            45,64%            43,31%            40,75%            39,08%            37,72%            41,30%
     Rasio total Liabilitas / total
                                                    83,95%            76,39%            68,77%            64,15%            60,57%            70,77%
     ekuitas


    Tabel 3.5          Rasio Keuangan sesudah Rencana Transaksi
                                           31 Des            31 Des            31 Des            31 Des            31 Des            31 Des
                   Uraian
                                           2025              2026              2027              2028              2029              2030
     Rasio Aktivitas (x)
     Rasio perputaran piutang                  4,88              4,88              4,88              4,88              4,88              4,88
     Rasio perputaran persediaan               5,79              5,79              5,79              5,79              5,79              5,79
     Rasio perputaran utang
                                               4,42              4,42              4,42              4,42              4,42              4,42
     usaha
     Rasio Likuiditas (x)
     Rasio lancar                              1,60              1,53              1,42              1,38              1,36              1,46
     Rasio cepat                               1,27              1,20              1,09              1,06              1,04              1,13
     Rasio kas                                 0,47              0,43              0,36              0,35              0,36              0,39
     Rasio Profitabilitas (%)
     Rasio total Liabilitas / total
     aset                                    3,41%             3,81%             4,13%             4,30%             4,42%             4,01%
     Rasio total Liabilitas / total
     ekuitas                                 6,24%             6,73%             6,97%             7,05%             7,09%             6,82%
     Rasio Solvabilitas (%)
     Rasio total Liabilitas / total
     aset                                   45,43%            43,31%            40,74%            39,07%            37,71%            41,25%
     Rasio total Liabilitas / total
     ekuitas                                83,27%            76,39%            68,76%            64,13%            60,54%            70,62%


    Rasio Aktivitas
    Berdasarkan analisis perbandingan rasio keuangan sebelum dan sesudah rencana transaksi,
    terlihat bahwa tidak terdapat perubahan pada rasio aktivitas baik dari sisi rasio perpuratan
    piutang, rasio perputaran persediaan maupun rasio perputaran utang usaha. Hal ini menunjukkan
    bahwa Rencana Transaksi tidak berdampak pada rasio aktivitas Perseroan.

    Rasio Likuiditas
    Pada aspek likuiditas, kondisi perusahaan setelah transaksi jauh lebih sehat. Rasio lancar turun
    0,01 kali pada 2026 dan lalu kembali meningkat pada 2030. Hal ini yang menunjukkan
    peningkatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek seiring dengan
    perbaikan posisi likuiditasnya.

    Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas
    Dari perspektif profitabilitas terjadi peningkatan sebesar 0,02% pada tahun 2026 untuk ROA dan
    0,01% untuk ROE. Sedangkan dari segi solvabilitas terjadi penurunan 0,20% untuk Liabilitas per
    Total Aset dan 0,69% untuk Liabilitas per total Ekuitas. Perubahan pada rasio ini disebabkan


Halaman 50                                                                       00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 52
       adanya perbedaan tingkat bunga dengan Rencana Transaksi dan tanpa Rencana Transaksi,
       sehingga mempengaruhi kas, laba (rugi) tahun berjalan dan ekuitas Perseroan.

       g. Analisis cash management dan financial covenant dari transaksi pinjam-meminjam dana

          ABB dapat menjaga kecukupan saldo kas untuk menjalankan kegiatan operasinya dan
          membayar angsuran pinjaman kepada TTA. Perjanjian pinjaman antara ABB dan TTA tidak
          mencakup adanya financial covenant tertentu yang harus dipenuhi oleh ABB sehingga kami
          tidak melakukan analisis financial covenant.

       h. Analisis yield pinjam-meminjam dana jika transaksi dalam bentuk surat berharga

          Pinjaman antara TTA dan ABB tidak dalam bentuk surat berharga sehingga kami tidak
          melakukan analisis yield dari pinjaman tersebut.

3.6.   Analisis Kewajaran Atas Rencana Transaksi

       Analisis Kewajaran atas rencana transaksi dilakukan dengan melihat adanya incremental atau
       nilai tambah yang dapat dihasilkan atas Rencana Transaksi.

       a. Nilai Rencana Transaksi

          Berdasarkan draft Perjanjian Pinjaman antara TTA dan ABB, total fasilitas pinjaman yang
          diberikan TTA kepada ABB adalah sebesar USD40.000.000,00 (empat puluh juta dolar
          Amerika Serikat) atau setara dengan Rp 671.280.000.000,- menggunakan kurs per 31
          Desember 2025 (Rp 16.782,-). Fasilitas pinjaman tersebut dikenakan bunga sebesar Term
          SOFR + 1,63% per tahun.

       b. Analisis Kewajaran Nilai Rencana Transaksi

          Analisis nilai kewajaran Rencana Transaksi dengan membandingkan tarif bunga pinjaman
          yang dikenakan dengan tarif bunga yang berlaku di pasar yaitu bunga pinjaman investasi per
          31 Desember 2025.

          Berdasarkan perjanjian atas rencana transaksi, suku bunga yang dikenakan adalah Term
          SOFR + Margin atau setara dengan 5,28% ((3,65%+1,63%), dengan asumsi SOFR per 31
          Desember 2025), sedangkan suku bunga rata-rata kredit bank per 31 Desember 2025 adalah
          berada pada kisaran 5,35% - 7,50%, sehingga tarif bunga pinjaman Rencana Transaksi masih
          dalam batas wajar (batas atas - batas bawah) 7,5% terhadap suku bunga pinjaman, dimana
          selisih suku bunga dari Rencana Transaksi dengan suku bunga pasar adalah sebesar 1,26%.

          Tabel 3-6 Kewajaran Nilai Rencana Transaksi
                                                                      Batas Bawah      Batas Atas
                        Keterangan                     Suku bunga
                                                                         (-7,5%)        (+7,5%)
           Pinjaman investasi dalam denominasi                5,35%         4,95%             5,75%
           USD                                                7,50%         6,94%             8,06%
          Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, OJK




Halaman 51                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 53
          Batas kewajaran Rencana Transaksi untuk setiap instrumen investasi ditentukan berdasarkan
          kisaran nilai sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
          pasal 48 poin b mengenai batas atas dan batas bawah untuk kisaran nilai Rencana Transaksi
          tidak boleh melebihi 7,5%. Atas dasar hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suku
          bunga pinjaman dalam Rencana Transaksi tergolong wajar karena masih berada dalam
          kisaran batas kewajaran, dimana batas bawah dan batas atas kewajaran sebesar 1,26%,
          sehingga masih dalam batas kewajaran dan tidak melebihi 7,5%.

3.7.   Analisis Faktor Lain Yang Relevan

       a. Analisis Inkremental

          Analisis Nilai Tambah ( Incremental Analysis ) dilakukan untuk melihat manfaat Rencana
          Transaksi bagi UNTR. Berdasarkan proyeksi keuangan UNTR periode 2026-2030 yang
          dibuat oleh Manajemen UNTR, Analisa nilai tambah sebelum dan setelah Rencana Transaksi
          adalah sebagai berikut:

          Tabel 3-7       Analisis Inkremental Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian (Juta Rupiah)
                                                                       Tahun
           Keterangan
                                 2026                   2027                 2028             2029            2030
          Net Interest
          sebelum                (1.489.163)            (1.277.819)            (874.076)       (672.664)    (492.192)
          transaksi
          Net Interest
          setelah                (1.473.353)            (1.246.199)            (842.456)       (641.044)    (460.572)
          transaksi
          Inkremental                 15.810                 31.620              31.620          31.620       31.620
          EAT
          sebelum                 6.129.679                6.910.598           7.517.286      7.973.267     8.420.289
          transaksi
          EAT setelah
                                  6.143.394                6.938.027           7.544.715      8.000.696     8.447.718
          transaksi
          Inkremental                 13.714                 27.429              27.429          27.429       27.429
          Sumber: Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian UNTR periode 2026-2030, diolah


          Berdasarkan tabel Analisis Inkremental Proyeksi Laba Rugi Konsolidasian, nilai tambah dengan
          terlaksananya Rencana Transaksi berupa penurunan pada net interest, peningkatan laba tahun
          berjalan yang diatribusikan kepada UNTR meningkat dibandingkan sebelum Rencana
          Transaksi.

          Tabel 3-8       Analisis Inkramental Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian (juta Rupiah)
                                                                                  Tahun
                   Keterangan                  31 Des            31 Des           31 Des        31 Des          31 Des
                                                2026              2027             2028          2029            2030
           Aset lancar sebelum
                                           72.589.403           70.292.262       68.816.763    69.676.231      71.626.052
           transaksi
           Aset lancar setelah
                                           71.937.545           70.360.877       68.910.042    69.794.173      71.768.658
           transaksi
           Inkremental                         (651.858)           68.615            93.279      117.943          142.606
           Total Aset sebelum
                                          181.069.776          181.820.410      182.477.133   186.140.181     191.037.141
           transaksi
           Total Aset setelah transaksi   180.417.918          181.889.026      182.570.412   186.258.124     191.179.747



Halaman 52                                                                00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 54
                                                                         Tahun
                 Keterangan              31 Des          31 Des         31 Des         31 Des         31 Des
                                          2026            2027           2028           2029           2030
         Inkremental                     (651.858)          68.615         93.279        117.943        142.606
         Liabilitas Jk Panjang
                                        37.688.757     32.823.291      25.915.195     22.336.543     19.186.938
         sebelum transaksi
         Liabilitas Jk Panjang
                                        37.024.567     32.854.911      25.946.815     22.368.163     19.218.558
         setelah transaksi
         Inkremental                     (664.190)          31.620         31.620         31.620         31.620
         Total Liabilitas sebelum
                                        82.636.613     78.739.723      74.352.808     72.745.307     72.063.310
         transaksi
         Total Liabilitas setelah
                                        81.972.423     78.771.343      74.384.428     72.776.927     72.094.930
         transaksi
         Inkremental                     (664.190)          31.620         31.620         31.620         31.620
         Ekuitas sebelum transaksi      98.433.163    103.080.687     108.124.325   113.394.874    118.973.831
         Ekuitas setelah transaksi      98.445.495    103.117.683     108.185.984   113.481.197    119.084.817
         Inkremental                        12.332          36.995         61.659         86.323        110.986
        Sumber: Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian UNTR periode 2026-2030

        Berdasarkan tabel Analisis Inkramental Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian, nilai tambah
        dengan terlaksananya Rencana Transaksi berupa peningkatan total aset dan ekuitas
        dibandingkan tanpa adanya Rencana Transaksi.

     b. Analisis biaya atau pendapatan yang relevan

        Biaya-biaya atau pendapatan yang relevan yang muncul akibat dilaksanakannya Rencana
        Transaksi telah diperhitungkan dalam proyeksi keuangan UNTR yang disusun oleh manajemen
        UNTR.

     c. Informasi non keuangan yang relevan

        UNTR atas rencana transaksi pinjam meminjam antara TTA dan ABB adalah diharapkan atas
        pinjaman tersebut dapat meningkatkan efisiensi pada ABB kedepan yang akan berdampak
        positif bagi UNTR secara konsolidasi dan memberikan nilai tambah untuk anak UNTR secara
        konsol.

     d. Analisis Sensitivitas

        Analisa sensitivitas mengacu kepada bisnis plan UNTR dengan melakukan sensitivitas tingkat
        beban bunga dinaikan atau diturunkan sebesar 5%. Adapun sensitivitas atas hal tersebut
        tercermin sebagai berikut:

        Tabel 3-9       Beban bunga dinaikan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
                                     Jan – Des        Jan-Des          Jan-Des       Jan-Des        Jan-Des
                   Uraian
                                       2026            2027             2028          2029           2030
         Revenue                     106.471.434     109.665.577     112.955.544    116.344.211    119.834.537
         COGS                        (86.925.981)    (89.533.761)    (92.219.773)   (94.986.367)   (97.835.958)
         Gross Profit                 19.545.453      20.131.816      20.735.771     21.357.844     21.998.579
         Opex                         (8.575.296)     (8.832.555)     (9.097.531)    (9.370.457)    (9.651.571)
         Operating Profit             10.970.157      11.299.262      11.638.240     11.987.387     12.347.008




Halaman 53                                                        00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 55
                                 Jan – Des        Jan-Des           Jan-Des             Jan-Des             Jan-Des
                  Uraian
                                   2026            2027              2028                2029                2030
        Gain (Loss) on Forex         201.589                  -                   -                   -                   -
        Net Interest              (1.563.621)    (1.341.710)         (917.780)           (706.297)            (516.801)
        Other income (charge)     (1.202.616)    (1.163.413)        (1.128.329)         (1.094.297)         (1.061.286)
        EBT                        8.405.509      8.794.138          9.592.131          10.186.793          10.768.921
        Income tax                (1.849.212)    (1.934.710)        (2.110.269)         (2.241.094)         (2.369.163)
        EAT                        6.556.297      6.859.428          7.481.863           7.945.699           8.399.759


       Tabel 3-10 Beban bunga diturunkan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
                                 Jan – Des       Jan-Des           Jan-Des             Jan-Des             Jan-Des
                  Uraian
                                   2026           2027              2028                2029                2030
        Revenue                 106.471.434     109.665.577       112.955.544         116.344.211         119.834.537
        COGS                    (86.925.981)    (89.533.761)      (92.219.773)        (94.986.367)        (97.835.958)
        Gross Profit             19.545.453      20.131.816        20.735.771          21.357.844          21.998.579
        Opex                     (8.575.296)     (8.832.555)       (9.097.531)         (9.370.457)         (9.651.571)
        Operating Profit         10.970.157      11.299.262        11.638.240          11.987.387          12.347.008
        Gain (Loss) on Forex        201.589                 -                 -                   -                   -
        Net Interest             (1.414.705)     (1.213.928)        (830.372)           (639.031)           (467.582)
        Other income (charge)    (1.202.616)     (1.163.413)       (1.128.329)         (1.094.297)         (1.061.286)
        EBT                       8.554.425       8.921.920         9.679.539          10.254.059          10.818.141
        Income tax               (1.881.973)     (1.962.822)       (2.129.499)         (2.255.893)         (2.379.991)
        EAT                       6.672.451       6.959.098         7.550.040           7.998.166           8.438.150


       Analisa sensitivitas mengacu kepada pencatatan beban bunga pada ABB dengan melakukan
       sensitivitas tingkat beban bunga dinaikan atau diturunkan sebesar 5%. Adapun sensitivitas atas
       hal tersebut tercermin sebagai berikut.

       Tabel 3-11 Pencatatan beban bunga ABB diturunkan sebesar 5% (jutaan Rupiah)
                                Jan – Des        Jan-Des           Jan-Des              Jan-Des             Jan-Des
                 Uraian
                                  2026            2027              2028                 2029                2030
        Normal                   1.056.332        2.112.664         2.112.664            2.112.664           2.112.664
        Naik 5%                  1.111.107        1.111.107         1.111.107            1.111.107           1.111.107
        Turun 5%                 1.001.557        1.001.557         1.001.557            1.001.557           1.001.557



     e. Analisis atas jaminan yang terkait dengan transaksi pinjam meminjam dana dan/atau
        penjaminan

       Dalam transaksi pinjam meminjam antara TTA dan ABB tidak terdapat jaminan.

     f. Analisis Kelayakan rencana penggunaan dana atas transaksi pinjam-meminjam dana
        dan/atau penjaminan

       Berdasarkan proyeksi keuangan UNTR secara konsolidasi yang disusun oleh manajemen,
       dengan adanya rencana transaksi maka dapat meningkatkan Laba Bersih UNTR secara
       konsole yang disebabkan oleh penurunan beban bunga sebagai dampak dari pengalihan dari
       rencana sebelumnya yang menggunakan pinjaman kepada pihak ke tiga.




Halaman 54                                                  00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 56
3.8.   Kesimpulan

       Dengan mempertimbangkan analisis kewajaran atas Transaksi yang dilakukan meliputi analisis
       kualitatif dan analisis kuantitatif, dan analisis inkremental, maka dari segi ekonomis dan
       keuangan, menurut pendapat kami Rencana Transaksi Pemberian pinjaman antara TTA dan ABB,
       dimana keduanya merupakan anak perusahaan UNTR, adalah Wajar.




Halaman 55                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 57
                             ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS

 1. Laporan pendapat kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion.
 2. Penilai Bisnis telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses analisis
     pendapat kewajaran.
 3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya
 4. Penilai mengunakan proyeksi keuangan yang dibuat oleh manejemen.
 5. Laporan Pendapat Kewajaran ini terbuka untuk publik.
 6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan pendapat kewajaran telah
     disusun sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) No. 35/POJK.04/2020 tentang
     Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar
     Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
 7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas Laporan Pendapat kewajaran dan Kesimpulan Opini Akhir.
 8. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Penilaian dari Pemberi Tugas.
 9. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di luar
     pengadilan) yang berkaitan dengan objek penilaian tidak menjadi tanggung jawab kami.
 10. Kami ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara khusus
     hanya terbatas pada aspek nilai atas objek penilaian, diluar dari aspek perpajakan dan hukum
     karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
 11. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang berkaitan
     dengan kondisi objek penilaian, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya bukan menjadi
     tanggung jawab kami.
 12. Laporan pendapat kewajaran ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
     laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
     jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
 13. Laporan pendapat kewajaran ini sebagai salah satu informasi untuk dijadikan dasar pemikiran
     dalam mengambil keputusan, akan tetapi tidak mengikat dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar
     penentu suatu keputusan yang berakibat hukum, karena laporan pendapat kewajaran ini semata-
     mata dibuat berdasarkan kajian disiplin ilmu dan kemampuan yang kami miliki.
 14. Laporan pendapat kewajaran ini tidak berlaku dan tidak sah apabila tidak terdapat tanda tangan
     penilai berijin beserta stempel perusahaan ( corporate seal) yang resmi dari KJPP Ferdinand, Danar,
     Ichsan & Rekan.
15. Laporan penilaian ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan maksud
     dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan penilaian.




Halaman 56                                                 00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 58
                                      PERNYATAAN PENILAI

Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:

1.  Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan penilaian adalah benar sesuai dengan
    pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
    memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap objek Penilaian.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil pendapat kewajaran yang dilaporkan.
5. Penilaian dilakukan dengan memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) No.
    35/POJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
    Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
    diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi objek penilaian.
8. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
    pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
    dalam laporan pendapat kewajaran ini.
9. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Pendapat
    Kewajaran.
10. Kami bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran yang telah kami susun berdasarkan
    data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta lengkap.
11. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan informasi
    dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap
    atau menyesatkan.
12. Penugasan pendapat kewajaran telah dilakukan terhadap objek penilaian pada tanggal penilaian
    (cut off date).
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
    pendapat kewajaran.
14. Kesimpulan pendapat kewajaran yang dihasilkan dalam penugasan pemberian pendapat
    kewajaran profesional telah disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan pendapat kewajaran telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang telah
    terpublikasi dan diyakini kebenarannya.




Halaman 57                                             00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 59
                             Penilai                                Tanda Tangan
     Penanggung Jawab:
     M. Ichsan Suud, S.P., M.B.A., MAPPI (Cert.)
     Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453
     MAPPI No.               : 10-S-02571
     OJK No.                 : KEP-717/KS.13/2026
     RMK No.                 : RMK-2017-00526

     Pemeriksa:
     Bangkit Widhi Raharjo, S.E.
     MAPPI No.               : 15-T-06112
     RMK No.                 : RMK-2017.01119




     Penilai:
     Yus Dwiantoro, S.Kom.
     MAPPI No.             : 21-P-10897
     RMK No.               : RMK-2023.04530




     Penilai:
     Ratu Ayu Okta K., S.Ak.
     MAPPI No.               : 24-P-12454
     RMK No.                 : RMK-2026.05227




Halaman 58                                          00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 60
             LAMPIRAN




Halaman 59         00127/2.0176-00/BS/02/0453/1/VI/2026
Page 61
Lampiran 1
ANALISA RENCANA TRANSAKSI
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025

A. Analisa Kewajaran
                                Keterangan                                           Nilai (%)

Interest Pasar (range)                                                             5,35%           7,50%
Batas Atas (7,5%)                                                                  5,75%           8,06%
Batas Bawah (7,5%)                                                                 4,95%           6,94%
Rencana Nilai Transaksi                                                            5,28%           5,28%
Selisih Nilai Rencana Transaksi Terhadap Nilai Pasar Aset                         1,26%          42,00%
*Rencana Transaksi bersifat                                            : Wajar

B. Analisa Materialitas
                                Keterangan                                Nilai Rp Juta
Nilai Buku UNTR per 31 Desember 2025                                       103.136.323
Rencana Nilai Transaksi                                                         671.280
Persentase Rencana Nilai Transaksi terhadap Nilai Buku                             0,65%
*Rencana Transaksi bersifat                                            : Tidak Material
Page 62
Lampiran 2
PT United Tractors Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proforma Laporan Posisi keuangan Konsolidasi
31 Desember 2025
Dalam Jutaan Rupiah

                      Keterangan                         12 2025         Transaction       12 2025 (proforma)
Aset
Aset Lancar
   Kas dan setara kas                                     26.570.772                   -            26.570.772
   Piutang usaha
   -Pihak ketiga                                          18.559.795                                18.559.795
   -Pihak berelasi                                         1.357.868                                 1.357.868
   Piutang non-usaha                                                                                         -
   -Pihak ketiga                                             492.811                                   492.811
   -Pihak berelasi                                         1.203.084                                 1.203.084
   Persediaan                                             16.729.809                   -            16.729.809
   Proyek dalam pelaksanaan
   -Pihak ketiga                                              28.698                                    28.698
   -Pihak berlasi                                                                                            -
   Pajak dibayar dimuka                                                                                      -
   -Pajak penghasilan                                      1.653.543                                 1.653.543
   -Pajak lain-lain                                        3.643.857                                 3.643.857
   Uang muka dan biaya dibayar di muka                     1.543.309                                 1.543.309
   Investasi lain-lain                                                                                       -
   Aset lancar lain-lain                                     357.480                                   357.480

Jumlah Aset Lancar                                        72.141.026                   -           72.141.026

Aset Tidak Lancar
   Piutang usaha
   -Pihak ketiga                                             453.411                                   453.411
   -Pihak berelasi                                            18.957                                    18.957
   Piutang non-usaha                                                                                         -
   -Pihak ketiga                                              88.336                                    88.336
   -Pihak berelasi                                         3.103.936                                 3.103.936
   Persediaan                                                105.530                                   105.530
   Pajak dibayar dimuka                                                                                      -
   -Pajak penghasilan                                      1.446.559                                 1.446.559
   -Pajak lain-lain                                        1.650.429                                 1.650.429
   Kas dan deposito berjangka                                787.806                                   787.806
   Uang muka                                                 793.619                                   793.619
   Investasi pada entitas asosiasi dan pengendalian       17.223.562                                17.223.562
   Investasi lain-lain                                     3.175.766                                 3.175.766
   Aset tetap                                             45.296.550                                45.296.550
   Properti pertambangan                                  14.809.384                                14.809.384
   Properti investasi                                        244.469                                   244.469
   Biaya eksplorasi dan pengembangan tangguhan             2.768.518                                 2.768.518
   Aset tambang berproduksi                                3.958.340                                 3.958.340
   Beban tangguhan                                         1.169.123                                 1.169.123
   Goodwill                                                3.510.559                                 3.510.559
   Aset pajak tangguhan                                    4.891.419                                 4.891.419
Jumlah Aset Tidak Lancar                                 105.496.273                   -          105.496.273
Jumlah Aset                                              177.637.299                   -          177.637.299
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
   Utang usaha
   -Pihak ketiga                                          29.095.249                                29.095.249
   -Pihak berelasi                                           213.679                                   213.679
   Utang non-usaha
   -Pihak ketiga                                           1.132.969                                 1.132.969
   -Pihak berelasi                                            87.548                                    87.548
   Utang Pajak                                                                                               -
   -Pajak penghasilan                                        825.803                                   825.803
   -Pajak lain-lain                                          584.846                                   584.846
   Akrual                                                  6.692.531                                 6.692.531
   Uang muka pelanggan                                                                                       -
   -Pihak ketiga                                             857.034                                   857.034
   -Pihak berelasi                                            44.175                                    44.175
   Pendapatan tangguhan                                    1.021.152                                 1.021.152
   Liabilitas imbalan kerja                                1.053.575                                 1.053.575
   Pinjaman bank jangka pendek                               560.000                                   560.000
   Bagian jangka pendek dari utang jangka panjang                                                            -
   -Pinjaman bank                                          9.682.666                                 9.682.666
   -Sewa pembiayaan                                          801.430                                   801.430
   -Pinjaman lain-lain                                       560.318                                   560.318
   Bagian jangka pendek dari liabilitas jangka panjang                                                       -
   Instrumen keuangan derivatif                                                                              -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                           53.212.975                   -           53.212.975
Liabilitas Jangka Panjang
   Utang non-usaha
   -Pihak berelasi
   Liabilitas pajak tangguhan                              3.768.016                                 3.768.016
   Instrumen keuangan derivatif                                                                              -
   Provisi                                                 1.154.627                                 1.154.627
   Liabilitas imbalan kerja                                5.497.626                                 5.497.626
   Utang jangka panjang setelah dikurangi bagian
   jangk pendek
   -Pinjaman bank                                          6.054.620                                 6.054.620
   -Sewa pembiayaan                                          976.309                                   976.309
   -Pinjaman lain-lain                                       281.698                                   281.698
   Pendapatan tangguhan                                                                                      -
   Liabilitas keuangan jangka panjang lain-lain            3.555.105                                 3.555.105
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                          21.288.001                   -           21.288.001
Jumlah Liabilitas                                         74.500.976                   -           74.500.976
Ekuitas
   Modal saham                                                932.534                                  932.534
   Tambahan modal disetor                                   9.703.937                                9.703.937
   Saham Treasury                                          (4.902.237)                              (4.902.237)
   Saldo laba                                                                                                -
       -Dicadangkan                                          186.507                                   186.507
       -Belum dicadangkan                                 85.547.627           7.414                85.555.041
   Cadangan lindung nilai                                 (2.065.280)                               (2.065.280)
   Cadangan penyesuaian nilai wajar dalam investasi                                                          -
   Cadangan penyesuaian nilai wajar aset tetap                19.386                                    19.386
   Selisih kurs                                            9.227.066                                 9.227.066
   Transaksi dengan kepentingan nonpengendali               (875.920)                                 (875.920)
   Kepentingan non pengendali                              5.362.703           (7.414)               5.355.289
Jumlah Ekuitas                                           103.136.323                   -          103.136.323
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas                            177.637.299                   -          177.637.299
Page 63
Lampiran 3
PT United Tractors Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proforma Laporan Laba Rugi Komprehensif
31 Desember 2025
Dalam Jutaan Rupiah

                        Keterangan                          12 2025        Transaction       12 2025 (proforma)

Pendapatan bersih                                           131.300.810                               131.300.810
Beban pokok pendapatan                                     (101.597.306)                             (101.597.306)

Laba Bruto                                                  29.703.504                   -            29.703.504

Beban penjualan                                              (1.597.792)                               (1.597.792)
Beban umum dan administrasi                                  (6.040.414)                               (6.040.414)
Kerugian penurunan nilai properti pertambangan                        -                                         -
Beban lain-lain                                                (256.226)                                 (256.226)
Penghasilan lain-lain                                                                                           -
Penghasilan keuangan                                          1.244.489                                 1.244.489
Biaya keuangan                                               (2.625.818)                               (2.625.818)
Bagian atas laba bersih entitas                                (245.576)                                 (245.576)

Laba Sebelum Pajak Penghasilan                              20.182.167                   -            20.182.167
Beban Pajak Penghasilan                                      (5.005.403)                 -             (5.005.403)

Laba Tahun Berjalan                                         15.176.764                   -            15.176.764

Pendapatan/Beban Komprehensif Lain
  Selisih kurs                                                1.404.607                                 1.404.607
  Cadangan lindung nilai                                     (2.772.982)                               (2.772.982)
  Perubahan nilai wajar aset                                                                                    -
  Keuntungan/kerugian aktuarial atas program pensiun           210.886                                    210.886
  Pajak penghasilan terkait                                                                                     -
  Bagian atas beban komperehensif dari entitas                 407.892                                    407.892
  Cadangan nilai wajar atas revaluasi properti investasi                                                        -
  Pendapatan Komprehensif Lain                                (749.597)                                  (749.597)
  Beban pajak penghasilan terkait                                                                                 -
  Pendapatan Komprehensif Lain Setelah Pajak                  (749.597)                                  (749.597)
Jumlah Laba Komperenhesif Tahun Berjalan                    14.427.167                   -            14.427.167
Page 64
Lampiran 4
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Laba (Rugi) Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah

                                   Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian                                Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
                                        31 Des          31 Des         31 Des          31 Des           31 Des             31 Des           31 Des         31 Des          31 Des           31 Des
            (in mio IDR)
                                         2026            2027           2028            2029             2030               2026             2027           2028            2029             2030
Revenue                             106.471.434     109.665.577    112.955.544     116.344.211      119.834.537        106.471.434      109.665.577    112.955.544     116.344.211      119.834.537
COGS                                 (86.925.981)    (89.533.761)   (92.219.773)    (94.986.367)     (97.835.958)       (86.925.981)     (89.533.761)   (92.219.773)    (94.986.367)     (97.835.958)
Gross profit                         19.545.453      20.131.816     20.735.771      21.357.844       21.998.579         19.545.453       20.131.816     20.735.771      21.357.844       21.998.579
Opex                                   (8.575.296)     (8.832.555)    (9.097.531)     (9.370.457)      (9.651.571)        (8.575.296)      (8.832.555)    (9.097.531)     (9.370.457)      (9.651.571)
Operating profit                     10.970.157      11.299.262     11.638.240      11.987.387       12.347.008         10.970.157       11.299.262     11.638.240      11.987.387       12.347.008
Gain/(loss) on forex                      201.589                -              -               -                -           201.589                 -              -               -                -
Net interest                           (1.489.163)     (1.277.819)      (874.076)       (672.664)        (492.192)        (1.473.353)      (1.246.199)      (842.456)       (641.044)        (460.572)
Other income/(charges)                 (1.202.616)     (1.163.413)    (1.128.329)     (1.094.297)      (1.061.286)        (1.201.234)      (1.160.648)    (1.125.563)     (1.091.532)      (1.058.521)
Profit before tax                      8.479.967       8.858.029      9.635.835     10.220.426       10.793.531           8.497.159        8.892.415      9.670.220     10.254.811       10.827.916
Income tax                             (2.350.288)     (1.947.432)    (2.118.549)     (2.247.159)      (2.373.242)        (2.353.766)      (1.954.388)    (2.125.505)     (2.254.115)      (2.380.198)
Profit after tax                       6.129.679       6.910.598      7.517.286       7.973.267        8.420.289          6.143.394        6.938.027      7.544.715       8.000.696        8.447.718
Page 65
Lampiran 5
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah

                                       Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian                                     Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
                                            31 Des            31 Des             31 Des         31 Des          31 Des             31 Des              31 Des             31 Des       31 Des         31 Des
               (in mio IDR)
                                             2026              2027               2028           2029            2030               2026                2027               2028         2029           2030
Current Asset
Cash & cash equivalent                      21.937.642         19.612.445         17.161.656    17.404.599      18.669.135          21.285.783         19.681.060         17.254.935    17.522.541     18.811.741
AR                                          21.837.619         22.492.748         23.167.530    23.862.556      24.578.433          21.837.619         22.492.748         23.167.530    23.862.556     24.578.433
Inventories                                 15.003.286         15.453.385         15.916.986    16.394.496      16.886.331          15.003.286         15.453.385         15.916.986    16.394.496     16.886.331
Advance payment                              2.231.024          2.258.868          2.287.058     2.315.601       2.344.500           2.231.024          2.258.868          2.287.058     2.315.601      2.344.500
Prepaid expenses                                     -                  -                  -             -               -                   -                  -                  -             -              -
Other current asset                         11.579.832         10.474.817         10.283.532     9.698.979       9.147.653          11.579.832         10.474.817         10.283.532     9.698.979      9.147.653

Non Current Asset
Due from shareholder                         1.836.737          1.947.380          2.080.603     2.214.438       2.356.882           1.836.737          1.947.380          2.080.603     2.214.438      2.356.882
Investment in shares of stock               19.909.029         20.506.300         21.121.489    21.755.134      22.407.788          19.909.029         20.506.300         21.121.489    21.755.134     22.407.788
Fixed assets                                67.235.809         70.103.297         71.954.705    74.439.228      77.009.538          67.235.809         70.103.297         71.954.705    74.439.228     77.009.538
Mining properties                                    -                  -                  -             -               -                   -                  -                  -             -              -
Deferred tax assets                          5.340.499          5.420.345          5.492.229     5.569.705       5.648.273           5.340.499          5.420.345          5.492.229     5.569.705      5.648.273
Coal exploration & development costs         9.267.577          8.691.838          8.245.034     7.777.009       7.335.551           9.267.577          8.691.838          8.245.034     7.777.009      7.335.551
Goodwill                                     3.422.251          3.422.251          3.422.251     3.422.251       3.422.251           3.422.251          3.422.251          3.422.251     3.422.251      3.422.251
Other non current asset                      1.468.471          1.436.736          1.344.059     1.286.186       1.230.806           1.468.471          1.436.736          1.344.059     1.286.186      1.230.806

Total Asset                               181.069.776        181.820.410        182.477.133    186.140.181     191.037.141        180.417.918        181.889.026        182.570.412    186.258.124    191.179.747

Current Liabilities
AP                                          19.656.605         20.246.303         20.853.693    21.479.303      22.123.682          19.656.605         20.246.303         20.853.693    21.479.303     22.123.682
Accrued expenses                             7.163.710          8.173.524          8.254.952     8.877.891       9.257.087           7.163.710          8.173.524          8.254.952     8.877.891      9.257.087
Tax payables                                 2.136.133          2.522.828          2.468.119     2.664.755       2.742.012           2.136.133          2.522.828          2.468.119     2.664.755      2.742.012
Other current liabilities                   15.991.407         14.973.776         16.860.849    17.386.816      18.753.591          15.991.407         14.973.776         16.860.849    17.386.816     18.753.591

Non Current Liabilities
Deferred tax liabilities                     5.323.288          4.798.525          4.245.435     3.791.511        3.370.307          5.323.288          4.798.525          4.245.435     3.791.511       3.370.307
LT portion of long term bank loan           24.769.658         20.357.400         13.751.767    10.456.474        7.503.776         24.105.468         20.389.020         13.783.387    10.488.094       7.535.396
Employee benefit obligations                 6.655.989          6.787.349          6.927.071     7.066.726        7.210.697          6.655.989          6.787.349          6.927.071     7.066.726       7.210.697
Other non current liabilities                  939.823            880.017            990.921     1.021.832        1.102.158            939.823            880.017            990.921     1.021.832       1.102.158

Total liabilities                          82.636.613         78.739.723         74.352.808     72.745.307      72.063.310         81.972.423         78.771.343         74.384.428     72.776.927     72.094.930

Equity attributable to owners               93.303.849         97.653.494        102.318.211    107.216.328     112.380.268         93.308.731         97.668.140        102.342.621    107.250.501    112.424.206
Non-controlling interests                    5.129.314          5.427.193          5.806.114      6.178.547       6.593.563          5.136.764          5.449.543          5.843.364      6.230.696      6.660.611
Total equity                               98.433.163        103.080.687        108.124.325    113.394.874     118.973.831         98.445.495        103.117.683        108.185.984    113.481.197    119.084.817

Total Liabilities + Equity                181.069.776        181.820.410        182.477.133    186.140.181     191.037.141        180.417.918        181.889.026        182.570.412    186.258.124    191.179.747
Page 66
Lampiran 6
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Proyeksi Laba (Rugi) Konsolidasian
PT United Tractors Tbk
Dalam Jutaan Rupiah

                                    Proyeksi Sebelum Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian                                  Proyeksi Setelah Laporan Laba (Rugi) Konsolidasian
                                        31 Des           31 Des            31 Des         31 Des         31 Des             31 Des            31 Des            31 Des          31 Des          31 Des
            (in mio IDR)
                                          2026             2027             2028           2029           2030               2026              2027              2028            2029            2030
Beginning Balance                       26.570.772       21.937.642        19.612.445     17.161.656     17.404.599          26.570.772        21.285.783        19.681.060      17.254.935      17.522.541
   Cash from Operating Activities         2.933.660      13.749.428        16.798.818     16.398.799     17.252.821            2.945.992       14.438.282        16.791.862      16.391.843      17.245.864
      EBITDA                            22.894.787       23.223.892        23.562.869     23.912.017     24.271.638          22.894.787        23.223.892        23.562.869      23.912.017      24.271.638
      Working Capital                  (16.121.677)       (6.249.212)       (3.771.426)    (4.593.395)    (4.153.384)       (16.121.677)        (5.585.022)       (3.803.046)     (4.625.015)     (4.185.004)
      Interest Expense - Net             (1.489.163)      (1.277.819)         (874.076)      (672.664)      (492.192)         (1.473.353)       (1.246.199)         (842.456)       (641.044)       (460.572)
      Current Tax                       (2.350.288)       (1.947.432)       (2.118.549)    (2.247.159)    (2.373.242)        (2.353.766)        (1.954.388)       (2.125.505)     (2.254.115)     (2.380.198)

   Cash from Investing Activities      (18.578.937)       (9.765.604)      (9.759.785)     (9.753.792)    (9.747.619)       (18.578.937)       (9.765.604)       (9.759.785)     (9.753.792)     (9.747.619)
      Capex                              (9.959.567)      (9.959.567)      (9.959.567)     (9.959.567)    (9.959.567)        (9.959.567)       (9.959.567)       (9.959.567)     (9.959.567)     (9.959.567)
      Investment in shares               (8.807.683)               -                -               -              -         (8.807.683)                -                 -               -               -
      Due To                                      -                -                -               -              -                  -                 -                 -               -               -
      Dividend received                     188.313          193.963          199.782         205.775        211.948            188.313           193.963           199.782         205.775         211.948

   Cash from Financing Activities      11.012.146         (6.309.021)      (9.489.822)     (6.402.064)    (6.240.666)        10.347.956        (6.277.401)       (9.458.202)     (6.370.444)     (6.209.046)
      Proceed/(Repayment) of debt      15.696.141         (3.748.068)      (6.637.253)     (3.326.913)    (2.984.318)        15.031.951        (3.716.448)       (6.605.633)     (3.295.293)     (2.952.698)
      Dividend payment                  (4.683.994)       (2.560.953)      (2.852.569)     (3.075.151)    (3.256.348)        (4.683.994)       (2.560.953)       (2.852.569)     (3.075.151)     (3.256.348)
      Due From                                   -                 -                -               -              -                  -                 -                 -               -               -
Cash Surplus (deficit)                  (4.633.130)       (2.325.197)      (2.450.789)        242.943      1.264.536         (5.284.989)       (1.604.723)       (2.426.126)        267.607       1.289.200

            Ending Cash                21.937.642       19.612.445        17.161.656      17.404.599     18.669.135         21.285.783        19.681.060        17.254.935      17.522.541      18.811.741
Page 67
Lampiran 7
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN POSISI KEUANGAN
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025

                                                  31 Des         31 Des        31 Des         31 Des           31 Des
                Uraian                Satuan
                                                   2026           2027          2028           2029             2030
Aset Lancar
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    72.589.403     70.292.262     68.816.763    69.676.231        71.626.052
Setelah Transaksi                     Rp Juta    71.937.545     70.360.877     68.910.042    69.794.173        71.768.658
Inkremental                           Rp Juta     (651.858)         68.615         93.279      117.943           142.606

Aset Tidak Lancar
Sebelum Transaksi                     Rp Juta   108.480.373    111.528.148    113.660.371   116.463.951    119.411.089
Setelah Transaksi                     Rp Juta   108.480.373    111.528.148    113.660.371   116.463.951    119.411.089
Inkremental                           Rp Juta             -              -              -             -              -

Jumlah Aset
Sebelum Transaksi                     Rp Juta   181.069.776    181.820.410    182.477.133   186.140.181    191.037.141
Setelah Transaksi                     Rp Juta   180.417.918    181.889.026    182.570.412   186.258.124    191.179.747
Inkremental                           Rp Juta     (651.858)         68.615         93.279      117.943        142.606

Liabilitas Jangka Pendek
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    44.947.855     45.916.432     48.437.613    50.408.764        52.876.372
Setelah Transaksi                     Rp Juta    44.947.855     45.916.432     48.437.613    50.408.764        52.876.372
Inkremental                           Rp Juta             -              -              -             -                 -

Liabilitas Jangka Panjang
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    37.688.757     32.823.291     25.915.195    22.336.543        19.186.938
Setelah Transaksi                     Rp Juta    37.024.567     32.854.911     25.946.815    22.368.163        19.218.558
Inkremental                           Rp Juta     (664.190)         31.620         31.620        31.620            31.620

Jumlah Liabilitas
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    82.636.613     78.739.723     74.352.808    72.745.307        72.063.310
Setelah Transaksi                     Rp Juta    81.972.423     78.771.343     74.384.428    72.776.927        72.094.930
Inkremental                           Rp Juta     (664.190)         31.620         31.620        31.620            31.620

Ekuitas
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    98.433.163    103.080.687    108.124.325   113.394.874    118.973.831
Setelah Transaksi                     Rp Juta    98.445.495    103.117.683    108.185.984   113.481.197    119.084.817
Inkremental                           Rp Juta        12.332         36.995         61.659        86.323       110.986
Page 68
Lampiran 8
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN LABA(RUGI)
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025

                                                  31 Des         31 Des        31 Des         31 Des           31 Des
               Uraian                 Satuan
                                                   2026           2027          2028           2029             2030
Pendapatan
Sebelum Transaksi                     Rp Juta   106.471.434    109.665.577    112.955.544    116.344.211    119.834.537
Setelah Transaksi                     Rp Juta   106.471.434    109.665.577    112.955.544    116.344.211    119.834.537
Inkremental                           Rp Juta             -              -              -              -              -

Biaya Pokok Pendapatan
Sebelum Transaksi                     Rp Juta   (86.925.981)   (89.533.761)   (92.219.773)   (94.986.367)   (97.835.958)
Setelah Transaksi                     Rp Juta   (86.925.981)   (89.533.761)   (92.219.773)   (94.986.367)   (97.835.958)
Inkremental                           Rp Juta              -              -              -              -              -

Beban Bunga (net interest)
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    (1.489.163)    (1.277.819)      (874.076)      (672.664)      (492.192)
Setelah Transaksi                     Rp Juta    (1.473.353)    (1.246.199)      (842.456)      (641.044)      (460.572)
Inkremental                           Rp Juta        15.810         31.620         31.620         31.620         31.620

Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Sebelum Transaksi                     Rp Juta     6.129.679      6.910.598      7.517.286      7.973.267       8.420.289
Setelah Transaksi                     Rp Juta     6.143.394      6.938.027      7.544.715      8.000.696       8.447.718
Inkremental                           Rp Juta        13.714         27.429         27.429         27.429          27.429
Page 69
Lampiran 9
ANALISA INKREMENTAL LAPORAN ARUS KAS
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025

                                                  31 Des         31 Des        31 Des         31 Des           31 Des
                Uraian                Satuan
                                                   2026           2027          2028           2029             2030
Arus Kas dari Kegiatan Operasional
Sebelum Transaksi                     Rp Juta     2.933.660     13.749.428     16.798.818    16.398.799        17.252.821
Setelah Transaksi                     Rp Juta     2.945.992     14.438.282     16.791.862    16.391.843        17.245.864
Inkremental                           Rp Juta        12.332       688.854          (6.956)       (6.956)           (6.956)

Arus Kas dari Kegiatan Investasi
Sebelum Transaksi                     Rp Juta   (18.578.937)    (9.765.604)    (9.759.785)   (9.753.792)       (9.747.619)
Setelah Transaksi                     Rp Juta   (18.578.937)    (9.765.604)    (9.759.785)   (9.753.792)       (9.747.619)
Inkremental                           Rp Juta              -              -              -             -                 -

Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan
Sebelum Transaksi                     Rp Juta    11.012.146     (6.309.021)    (9.489.822)   (6.402.064)       (6.240.666)
Setelah Transaksi                     Rp Juta    10.347.956     (6.277.401)    (9.458.202)   (6.370.444)       (6.209.046)
Inkremental                           Rp Juta     (664.190)         31.620         31.620        31.620            31.620
Page 70
Lampiran 10
ANALISA SENSITIVITAS PENDAPATAN
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi Pinjam Meminjam Antara PT Tuah Turangga Agung dan PT Asmin Bara Bronang
Per tanggal 31 Desember 2025
Rp Juta

Beban Bunga Naik 5%
                                         Jan - Des       Jan - Des       Jan - Des        Jan - Des        Jan - Des
               Uraian
                                            2026            2027            2028             2029             2030
Revenue                                 106.471.434     109.665.577     112.955.544      116.344.211      119.834.537
COGS                                    (86.925.981)    (89.533.761)    (92.219.773)     (94.986.367)     (97.835.958)
Gross profit                             19.545.453      20.131.816      20.735.771      21.357.844       21.998.579
Opex                                      (8.575.296)     (8.832.555)     (9.097.531)      (9.370.457)      (9.651.571)
Operating profit                         10.970.157      11.299.262      11.638.240       11.987.387      12.347.008
Gain/(loss) on forex                          201.589               -                -                -                -
Net interest                              (1.563.621)     (1.341.710)        (917.780)        (706.297)        (516.801)
Other income/(charges)                    (1.202.616)     (1.163.413)     (1.128.329)      (1.094.297)      (1.061.286)
Profit before tax                          8.405.509       8.794.138       9.592.131      10.186.793      10.768.921
Income tax                                (1.849.212)     (1.934.710)     (2.110.269)      (2.241.094)      (2.369.163)
Profit after tax                           6.556.297       6.859.428       7.481.863        7.945.699        8.399.759


Beban Bunga Turun 5%
                                         Jan - Des       Jan - Des       Jan - Des        Jan - Des        Jan - Des
               Uraian
                                            2026            2027            2028             2029             2030
Revenue                                 106.471.434     109.665.577     112.955.544      116.344.211      119.834.537
COGS                                    (86.925.981)    (89.533.761)    (92.219.773)     (94.986.367)     (97.835.958)
Gross profit                             19.545.453      20.131.816      20.735.771      21.357.844       21.998.579
Opex                                      (8.575.296)     (8.832.555)     (9.097.531)      (9.370.457)      (9.651.571)
Operating profit                         10.970.157      11.299.262      11.638.240       11.987.387      12.347.008
Gain/(loss) on forex                          201.589               -                -                -                -
Net interest                              (1.414.705)     (1.213.928)        (830.372)        (639.031)        (467.582)
Other income/(charges)                    (1.202.616)     (1.163.413)     (1.128.329)      (1.094.297)      (1.061.286)
Profit before tax                          8.554.425       8.921.920       9.679.539      10.254.059      10.818.141
Income tax                                (1.881.973)     (1.962.822)     (2.129.499)      (2.255.893)      (2.379.991)
Profit after tax                           6.672.451       6.959.098       7.550.040        7.998.166        8.438.150
Page 71

          
Page 72

          
Page 73
and Proxy of Directors

File

File Open PDF
Source IDX
Size3.07 MB
Published2 Jul 2026
Pages73
Characters228,791
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 91 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org PT Asmin Bara Bronang p.2 ×29
linked org PT TUAH TURANGGA AGUNG p.2 ×27
linked org United Tractors Tbk p.2 ×24
linked person Hendra Hutahean · Direktur p.10 ×11
linked person Frans Kesuma p.12 ×2
linked person Bruce Malcolm Cox · Komisaris Independen p.12 ×6
linked person Gita Tiffani Boer · Komisaris p.12 ×6
linked person Djoko Pranoto Santoso · Komisaris p.12 ×6
linked person Lincoln Pan · Komisaris p.12 ×2
linked person Iwan Hadiantoro · Presiden Direktur p.12 ×6
linked person Idot Supriadi · Direktur p.12 ×6
linked person Ari Sutrisno · Direktur p.12 ×8
linked person Widjaja Kartika · Direktur p.12 ×6
linked person Vilihati Surya · Direktur p.12 ×6
linked org Astra International Tbk p.12 ×11
linked person Djony Bunarto Tjondro · Presiden Komisaris p.16 ×2
linked person Paulus Bambang Widjanarko Ignasius Jonan · Komisaris Independen p.16 ×11
linked person Loudy Irwanto Ellias · Direktur p.17 ×2
linked org PT Pamapersada Nusantara p.18
linked org PT Agung Bara Prima p.19
linked org Turangga Resources Pte. Ltd p.19
linked org Bukit Asam Tbk p.36 ×2
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.7 ×7
possible person Mochamad Ichsan p.8
possible person Rudy · Komisaris p.14 ×2
possible person Andreas · Direktur p.14
possible — Jardine Cycle & Carriage p.16 ×2
possible — Tony Susanto H p.21
unresolved org KJPP Ferdinand p.2 ×6
unresolved org Ichsan dan Rekan p.2 ×4
unresolved org KJPP FDI p.2 ×4
unresolved org PT Asmin Bora Bronang p.2
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.2 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Rintis p.4 ×4
unresolved org Rianto & Rekan p.4 ×4
unresolved person MBA. p.6 ×2
unresolved org Rekan · Penilai p.8
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.8 ×2
unresolved — Telepon/Fax p.8 ×3
unresolved org Bank Indonesia p.10 ×13
unresolved org Kantor Akuntan Publik Tanudiredja p.11 ×2
unresolved org Rintis & Rekan p.11 ×2
unresolved person Jose Dima Satria · Notaris p.12 ×7
unresolved org Kementerian Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-AH. p.12 ×3
unresolved person Agung Sri Wijayanti p.13 ×3
unresolved person Franciscus Xaverius Laksana Kesuma · Presiden Komisaris p.14 ×6
unresolved — Tony Susanto Halim p.14 ×5
unresolved — Arianto Sasono p.14 ×2
unresolved — Oentoro Surya p.14 ×2
unresolved — Roberto Dwi Handoko p.14 ×2
unresolved — Chintya Theresa Am p.14 ×2
unresolved — Brian Wibisono Surya p.14 ×2
unresolved — Eko Susanto p.14
unresolved — Grindo Nugroho p.14 ×2
unresolved — Ignatius Stanley Hendarto p.14 ×2
unresolved org PT Inter Astra Motor Works p.15
unresolved person Djojo Muljadi p.15
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.15
unresolved org Menteri Hukum Republik Indonesia p.15 ×4
unresolved org Carriage Ltd. p.16 ×2
unresolved org Jardine Matheson Holdings Ltd. p.16
unresolved person Darmawan Tjoa p.17
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.17 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI p.17
unresolved org PT Prima Multi Mineral p.18
unresolved org PT Kadya Caraka Mulia p.18
unresolved org PT Telen Orbit Prima p.18
unresolved org PT Duta Nurcahya p.18
unresolved org PT Asmin Bara Jaan p.19
unresolved org PT Duta Sejahtera p.19
unresolved org PT Borneo Berkat Makmur p.19
unresolved org PT Piranti Jaya Utama p.19
unresolved person Sutjipto p.19
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Aasasi Manusia Republik Indonesia p.19
unresolved org PT Andalan Teguh Berjaya p.19
unresolved org PT Mandira Sanni Pratama p.20
unresolved person Benjamin Herrenden Birks · Komisaris p.20 ×3
unresolved — Efredi Yudianto p.21
unresolved org Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral p.30 ×2
unresolved org Kementerian ESDM p.31 ×3
unresolved org Pusat Statistik p.33 ×2
unresolved org PT Megah Energi Khatulistiwa. Capaian p.35
unresolved org Direktorat Jenderal Mineral dan Batu p.36
unresolved org Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi p.37 ×2
unresolved org Ichsan & Rekan p.57
unresolved person Bangkit Widhi Raharjo p.59
unresolved person Yus Dwiantoro p.59
unresolved org PT Asmin Bara Bronang Per p.61 ×5
unresolved org PT Asmin Bara Bronang Proyeksi Laba p.64 ×2
unresolved org PT Asmin Bara Bronang Proyeksi Posisi Keuangan Konsolidasian p.65

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.273 14084 ms 12 Sep 2026 21:55
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': 'IDR',
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'CONFLICT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': '40000000'}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result