Back to announcement
20260529_BAYU_Transaksi Material Tanpa Persetujuan RUPS_32095604_lamp4.pdf
Asset transaction Needs review BAYUSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 44
Page 1
PENILAIAN BISNIS
100% EKUITAS / PENILAIAN SAHAM
PT MANDALA PRIMA PERKASA
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa i
Page 2
13 Mei 2026
Kepada Yth,
PT. Bayu Buana, Tbk
Jalan Ir H Juanda III, 2A
Kebon Kelapa, Gambar
Jakarta Pusat
No. Laporan : 00154/2.0131-09/BS/10/0643/1/V/2026
Hal : Laporan Penilaian Bisnis
Dengan hormat,
Dalam rangka memenuhi kontrak penugasan penilaian yang dilakukan berdasarkan surat penawaran yang telah
disetujui sekaligus menjadi kontrak kerja penugasan Nomor: 00033/2.0131-09/BB/KJPPSPR/APP-BS/l/2026
tanggal 23 Januari 2026. Dengan ini kami menyatakan bahwa kami telah melakukan proses penilaian atas Objek
Penilaian. Kami telah melakukan Investigasi yang terdiri dari Inspeksi, penelaahan, penghitungan, analisis, dan
memastikan bahwa proses penilaian sudah dilakukan dengan cara yang benar.
1. STATUS PENILAI
• Penilai Publik yang bertanda tangan didalam Laporan Penilaian ini yaitu Ginanjar Rizki Tarekat, S.T,
M.Ec.Dev, MAPPI (Cert) merupakan Penilai Publik Properti dan Bisnis dengan Nomor Izin
No. P-1.18.00532 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 782/KM.1/2018 Tanggal 17
Desember 2018 dan Nomor Izin Penilai Publik No. B-1.23.00643 berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 214/KM.1/2023 Tanggal 17 Mei 2023, bertindak atas nama Kantor Jasa Penilai Publik
(KJPP) Sugianto Prasodjo dan Rekan yang memperoleh Izin Usaha dari Kementrian Keuangan
No. 2.15.0131 berdasarkan Kepmenkeu No. 722/KM.1/2015 tanggal 9 September 2015.
• Penilai Publik terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal dengan nomor izin STTD.PPB-
47/PM.02/2023 tanggal 17 Juli 2023 yang tergabung dalam KJPP Sugianto Prasodjo dan Rekan dengan
Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal No. S-859/PM.223/2015 tanggal 17 November
2015.
• Penilai dalam posisi untuk memberikan penilaian secara obyektif dan tidak memihak.
• Penilai tidak memiliki potensi benturan kepentingan dengan subjek dan/atau objek penilaian.
• Penilai memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian sehingga tidak memerlukan bantuan tenaga ahli
untuk melengkapi pelaksanaan tugas sebagaimana yang dimaksud dalam Lingkup Penugasan.
• Seluruh Penilai, ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini di bawah koordinator Penilai berizin atau
Penilai Publik pada laporan penilaian.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa i
Page 3
2. PEMBERI TUGAS
Pemberi Tugas adalah PT Bayu Buana, Tbk yang beralamat di Jalan Ir H Juanda III, 2A, Kebon Kelapa,
Gambir, Jakarta Pusat.
3. PENGGUNA LAPORAN
Pengguna Laporan adalah:
• PT Bayu Buana, Tbk yang beralamat di Jalan Ir H Juanda III, 2A, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta
Pusat.
• Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
4. OBJEK PENILAIAN DAN KEPEMILIKAN
Objek penilaian dalam penugasan ini adalah :
Jenis Properti : Bisnis
Objek Penilaian : 100% Saham PT Mandala Prima Perkasa
Bentuk Kepemilikan : Kepemilikan Saham dengan Kendali
Alamat : Jl. Maipa No. 8 Makassar, Sulawesi Selatan
Asumsi Penilaian : Going concern
5. JENIS MATA UANG YANG DIGUNAKAN
Objek Penilaian dinilai dengan menggunakan mata uang Rupiah. Sebagai tambahan informasi, nilai kurs
tengah Bank Indonesia pada tanggal penilaian adalah USD 1 = Rp. 16.879,00.
6. MAKSUD DAN TUJUAN PENILAIAN
Maksud dan tujuan penilaian adalah untuk memberikan opini Nilai Pasar (Market Value) saham untuk
tujuan Transaksi Pada Perusahaan Terbuka dalam rangka mendukung Laporan Pendapat Kewajaran.
Laporan hasil penilaian tidak untuk digunakan di luar tujuan yang dimaksud, kami tidak bertanggung jawab
apabila laporan penilaian digunakan selain dari tujuan yang telah disebutkan di atas.
7. DASAR NILAI
Sesuai dengan tujuan penilaian, dasar nilai yang digunakan adalah Nilai Pasar (Market Value).
Nilai Pasar adalah estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh atau dibayar untuk penukaran suatu aset atau
liabilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjual yang berminat
menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, dimana kedua pihak
masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian dan tanpa paksaan. (POJK
35/POJK.04/2020 pasal 1 ayat 14 dan SPI 101 3.1-Nilai Pasar sebagai Dasar Nilai).
8. TANGGAL PENILAIAN
Tanggal penilaian sama dengan tanggal laporan keuangan per 31 Desember 2025. Sehubungan dengan
kemungkinan perubahan yang terjadi terhadap kondisi pasar dan kondisi objek tersebut, maka laporan
penilaian ini hanya dapat mempresentasikan tentang opini Nilai pada tanggal penilaian.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa ii
Page 4
9. KEDALAMAN INVESTIGASI
Penilaian ini dilakukan dengan batasan investigasi sebagai berikut:
• Tidak dilakukan uji tuntas atas laporan keuangan objek penilaian dan penelaahan atas informasi pada
laporan keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan Penilaian
• Tidak dilakukan uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek penilaian.
• Pengumpulan data dan informasi dari pihak manajemen Perusahaan bertujuan untuk mendapatkan
dokumen kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi secara tertulis atau
wawancara langsung.
• Penelaahan, perhitungan, dan Analisa dapat dilakukan dengan baik tanpa terhalang oleh informasi yang
tersembunyi atau sengaja disembunyikan.
• Untuk melengkapi hasil pengumpulan data dan analisis, verifikasi juga dilakukan melalui sampling
terhadap beberapa data yang bersifat umum termasuk pemeriksaan terhadap aset-aset berwujud yang
dikuasai dan dimiliki oleh Perusahaan.
10. SIFAT DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIANDALKAN
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk digunakan
sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun internasional. Sumber data
tersebut antara lain:
• Badan Indonesia atau bank sentral negara lain
• Bursa efek Indonesia atau bursa lainnya
• Badan Pusat Statistik atau Lembaga statistik lain
• Data riset dari Lembaga independen, namun tidak terbatas pada Bloomberg, IMF, dan Bank Dunia
• Informasi dari media elektronik dan media cetak
11. ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
Asumsi-asumsi
• Laporan Penilaian Bisnis bersifat non-disclaimer opinion.
• Perusahaan diasumsikan sebagai perusahaan yang sedang berjalan dan akan melanjutkan kegiatan
usahanya di masa yang akan datang.
• Perusahaan diasumsikan telah memenuhi seluruh aspek legal dan perundang-undangan yang berlaku
secara umum maupun spesifik terhadap industrinya agar dapat melakukan kegiatan operasional.
• Laporan keuangan audit maupun laporan keuangan interim yang digunakan sebagai dasar dalam analisis
penilaian ini diasumsikan akurat dan benar serta tidak ada informasi disembunyikan atau sengaja
disembunyikan.
• Laporan keuangan interim yang digunakan sebagai dasar penilaian ini diasumsikan tidak akan berbeda
signifikan terhadap laporan keuangan audit (jika ada). Dalam hal terdapat perbedaan signifikan yang
mempengaruhi hasil penilaian, maka hasil penilaian ini menjadi tidak berlaku dan harus dilakukan
penilaian ulang.
• Penilaian dilakukan dengan adanya akses untuk pelaksanaan investigasi yang memadai.
• Untuk tujuan penilaian, telah dilengkapi data yang disediakan oleh manajemen Perusahaan serta data
verbal yang didapatkan selama investigasi dan data tersebut diasumsikan akurat dan benar.
• Proyeksi harga, volume penjualan, dan informasi keuangan lainnya didasarkan atas informasi keuangan
prospektif yang disiapkan oleh manajemen yang telah disesuaikan dan diasumsikan dapat dicapai.
• Dalam hal penilaian laporan penilaian properti yang telah diterbitkan oleh Penilai lain, kami berasumsi
penilaian tersebut telah sesuai dengan kaidah umum dan standar penilaian yang berlaku.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa iii
Page 5
12. PERSYARATAN DAN PERSETUJUAN UNTUK PUBLIKASI
Hasil Laporan dan/atau referensi yang melampirinya ini terbuka untuk publik kecuali untuk informasi yang
bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi Perseroan secara material. Publikasi ataupun penggunaan laporan
penilaian ditujukan hanya untuk maksud dan tujuan penilaian yang dinyatakan dalam laporan ini. Laporan
penilaian hanya ditujukan untuk pemberi tugas dan pengguna laporan. Kami tidak bertanggung jawab kepada
pihak ketiga, dan baik sebagian maupun keseluruhan laporan atau rujukan terhadap laporan ini tidak
dibenarkan untuk diterbitkan dalam dokumen apa pun, pernyataan, edaran, ataupun untuk dikomunikasikan
kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari kami untuk format maupun konteks dimana
akan dimunculkan.
13. KONFIRMASI BAHWA PENILAIAN DILAKUKAN BERDASARKAN POJK & SPI
Penilaian ini dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35 tahun 2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas jasa Keuangan Nomor 17 tahun
2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Kode Etik Penilai
Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018, Edisi Revisi SPI 300 Tahun 2020, Edisi
Revisi SPI 310 Tahun 2020, Edisi Revisi SPI 330 Tahun 2020, Edisi Revisi SPI 320 Tahun 2020.
14. PENDEKATAN PENILAIAN DAN ALASAN PENERAPANNYA
Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian ekuitas PT Mandala Prima Perkasa adalah
Pendekatan Pendapatan dan Pendekatan Biaya/Aset. Pendapatan digunakan dengan pertimbangan PT
Mandala Prima Perkasa adalah perusahaan yang masih beroperasi dan akan terus melanjutkan kegiatan
usahanya dan Pendekatan Biaya digunakan dengan pertimbangan perusahaan yang heavy asset dengan aset
tetap lebih dari 90% jumlah aset perusahaan
15. METODE PENILAIAN
Penilaian ini menggunakan Pendekatan Pendapatan dengan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan
Pendekatan Biaya dengan metode Penyesuaian Aktiva Bersih (Adjusted Book Value Method (ABVM)
16. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL PENILAIAN
Tidak terdapat kejadian-kejadian penting terkait objek penilaian yang diketahui maupun yang patut diketahui
sampai dengan tanggal laporan yang dapat mempengaruhi nilai objek penilaian
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa iv
Page 6
KESIMPULAN NILAI
Berdasarkan praktek penilaian yang normal dan berdasarkan informasi yang relevan, kondisi pasar, perhitungan
serta analisa yang di lakukan serta faktor lain yang berkaitan dengan penilaian dan berpedoman pada kondisi
pembatas dalam laporan ini, maka kami berkesimpulan bahwa Nilai Pasar dari objek penilaian pada tanggal
31 Desember 2025 adalah :
Rp 117.521.392.000,-
(Seratus Tujuh Belas Miliar Lima Ratus Dua Puluh Satu Juta
Tiga ratus Sembilan Puluh Dua Ribu Rupiah)
Surat Pengantar ini akan diikuti oleh Laporan Penilaian dengan format Laporan Penilaian Terinci (Comprehensive
Style) yang berisi informasi atas hasil penilaian yang telah dilakukan .
Hormat Kami,
KJPP SUGIANTO PRASODJO DAN REKAN
Public Appraisers & Consultants
Ginanjar Rizki Tarekat, S.T, M.Ec.Dev.,MAPPI (Cert)
Partner
Izin Penilai Properti & Bisnis
Izin Men. Keu. No.P.1-18.00532 dan B-1.23.00643
STTD.PPB-47/PM.02/2023
MAPPI No. 16-S-06672
RMK-2017.00616
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa v
Page 7
RINGKASAN PENILAIAN
Indikasi Nilai Indikasi Nilai Ekuitas
Keterangan Bobot
(Rupiah) (Rupiah)
Pendekatan Pendapatan 125.952.974.526 60% 75.571.784.715
Pendekatan Biaya/Aset 104.874.017.826 40% 41.949.607.130
Kesimpulan Nilai Pasar 117.521.391.846
(Pembulatan) 117.521.392.000
Ringkasan penilaian ini hanya digunakan bersama dengan laporan penilaian dengan segala macam asumsi,
batasan dan dasar penilaian yang dinyatakan di dalam laporan ini dan tidak dapat dibaca secara terpisah.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa vi
Page 8
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai penilai, kami yang bertanda tangan di bawah ini
menyatakan bahwa:
1. Pernyataan dalam laporan penilaian ini, yang mana berdasarkan pada analisis, opini, dan kesimpulan yang
digambarkan di dalamnya, adalah benar dan akurat.
2. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang terhadap objek penilaian,
maupun memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan
terhadap objek penilaian.
3. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian.
4. Penugasan penilaian profesional telah dilakukan terhadap Objek Penilaian pada Tanggal Penilaian (Cut-off
Date).
5. Penilai telah melakukan analisis untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Penilaian.
6. Estimasi Nilai yang dihasilkan dalam penugasan penilaian profesional telah disajikan sebagai kesimpulan
Nilai.
7. Lingkup pekerjaan dan data yang dianalisis telah diungkapkan dalam Laporan Penilaian.
8. Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas.
9. Data ekonomi dan industri dalam Laporan Penilaian diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini Penilai
dapat dipertanggung jawabkan.
10. Biaya profesional tidak berhubungan dengan opini nilai yang terdapat dalam laporan ini.
11. Penilai telah menyelesaikan persyaratan pendidikan profesional yang ditetapkan/dilaksanakan oleh
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).
12. Penilai memiliki pengetahuan yang memadai sehubungan dengan objek penilaian dan/atau jenis industri yang
dinilai.
13. Hasil penugasan ini tidak tergantung pada pengembangan atau indikasi nilai awal atau arahan analisa untuk
menghasilkan nilai yang subyektif, besaran nilai, penentuan pencapaian nilai, atau peristiwa yang terjadi di
kemudian hari yang berkaitan langsung yang ditujukan untuk penggunaan laporan ini.
14. Penilai telah melaksanakan ruang lingkup sebagai berikut:
• Identifikasi masalah (identifikasi batasan, tujuan dan objek, definisi Penilaian, dan tanggal penilaian);
• Pengumpulan data dan informasi:
• Analisis data dan informasi;
• Estimasi nilai dengan menggunakan pendekatan penilaian:
• Penyusunan kertas kerja;
• Penyusunan laporan Penilaian.
15. Penilai telah melakukan analisis terhadap Objek Penilaian pada tanggal penilaian.
16. Penilaian ini telah dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
17. Tidak seorangpun selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam pelaksanaan inspeksi,
analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan dalam laporan Penilaian ini.
18. Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh Penilai, serta laporan Penilaian telah dibuat dengan
memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) yang berlaku.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa vii
Page 9
Nama Kualifikasi Tanda Tangan
Penanggung Jawab:
Ginanjar Rizki Tarekat, S.T., M.Ec.Dev, MAPPI (Cert.)
Izin Penilai Publik No. P-1.18.00532 dan B-1.23.006434
Penilai Publik
STTD.PPB-47/PM.02/2023
Properti & Bisnis
MAPPI No. 16-S-06672 …………………….
Bersertifikat
RMK-2017.00616
Reviewer:
Penilai
Fikri Mauriza Hazmi, S.T., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert)., CFP Properti Bersertifikat
MAPPI No. 17-S-07797 & Bisnis …………………….
RMK-2020.03233 Terakreditasi
Penilai :
M. Nopri Kurniawan, A.Md. Penilai Properti
MAPPI No. 19-T-09891 Terakreditasi &
RMK-2020.03630 Bisnis Peserta
…………………….
Asisten Penilai :
Penilai Properti
Ridho Mohammad, S.T.
MAPPI No. 20-T-10097 Terakreditasi &
RMK-2020.03343 Bisnis Afiliasi
…………………….
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa viii
Page 10
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Lingkup Penugasan ........................................................................................................................................ i
Kesimpulan .................................................................................................................................................... v
Ringkasan Penilaian ....................................................................................................................................... ix
Pernyataan Penilai .......................................................................................................................................... x
Daftar Isi ......................................................................................................................................................... xii
Istilah-Istilah Penilaian .................................................................................................................................... xiii
PROSES PENILAIAN
Data Informasi Umum Objek........................................................................................................................... 1
Data Penilaian ................................................................................................................................................ 1
Profil Perusahaan...................................................................................................................................... 1
Legalitas dan Perizinan ............................................................................................................................. 1
Bidang Usaha............................................................................................................................................ 1
Struktur Permodalan dan Pemegang Saham ............................................................................................ 1
Susunan Anggota Direksi dan Dewan Komisaris ...................................................................................... 2
Struktur Organisasi Perusahaan ............................................................................................................... 2
Kinerja Keuangan...................................................................................................................................... 3
Analisis Makroekonomi dan Industri.......................................................................................................... 7
Perkembangan Industri ............................................................................................................................. 12
Pendekatan Penilaian ..................................................................................................................................... 15
Pendekatan yang Digunakan .................................................................................................................... 15
Pendekatan Biaya/Aset ............................................................................................................................. 15
Diskon dan Premi ...................................................................................................................................... 17
Kesimpulan Nilai ....................................................................................................................................... 19
Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian ............................................................................................ 19
Asumsi dan Syarat Pembatas......................................................................................................................... 20
Lampiran-Lampiran
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa ix
Page 11
ISTILAH-ISTILAH PENILAIAN Penilaian Proses pekerjaan untuk memberikan opini tertulis atas nilai ekonomi suatu objek penilaian sesuai dengan SPI. Penilai Seseorang yang memiliki kompetensi dalam melakukan kegiatan Penilaian, yang sekurang-kurangnya telah lulus Pendidikan awal Penilaian. Penilai Publik Penilai yang telah memperoleh izin dari Menteri Keuangan untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Penyelia / Reviewer / Quality Control Penilai yang bertindak sebagai pengawas yang bertugas untuk mereview dan memastikan bahwa proses penilaian oleh Pelaksana telah dilakukan dengan benar. Pelaksana / Penilai Tenaga Penilai yang bertugas untuk melaksanakan proses penilaian. Pelaksana Inspeksi / Petugas Inspeksi Pegawai KJPP yang telah mengikuti Pendidikan tingkat dasar yang diselenggarakan atau diakui oleh Asosiasi Profesi Penilai yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan inspeksi. Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Badan usaha yang telah mendapatkan izin usaha dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi Penilai Publik dalam memberikan jasanya. Pemberi Tugas Seorang, kelompok, atau suatu entitas yang penugasan penilaiannya dilakukan. Pengguna Laporan Seorang, kelompok, atau suatu entitas sebagai pengguna hasil Penilaian yang didasarkan dari hasil perikatan penugasan antara Penilai dan Pemberi Tugas. Nilai Suatu opini dari manfaat ekonomi atas kepemilikan aset, atau harga yang paling mungkin dibayarkan untuk suatu aset dalam pertukaran, sehingga nilai bukan merupakan fakta. Dasar Nilai Premis fundamental yang mendasari nilai yang dilaporkan. Tanggal Inspeksi Tanggal pada saat inspeksi terakhir telah selesai dilaksanakan. Tanggal Penilaian Tanggal pada saat opini nilai dinyatakan. Tanggal Laporan Tanggal pada saat laporan Penilaian diterbitkan. Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa x
Page 12
Asumsi Umum Asumsi fakta yang konsisten dengan, atau dapat konsisten dengan yang terjadi pada tanggal Penilaian. Asumsi Khusus Asumsi fakta yang berbeda dengan yang terjadi pada tanggal Penilaian. Data Masukan Penilaian (Valuation Inputs) Data dan informasi lainnya yang digunakan pada salah satu pendekatan penilaian yang diuraikan dalam SPI. Data masukan ini dapat berupa data yang aktual atau yang diasumsikan. Lingkup Penugasan Dasar dalam pengaturan kesepakatan penugasan penilaian, tingkat kedalaman investigasi, penentuan asumsi dan Batasan penilaian. Implementasi Bagian dari tugas penilaian, merupakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh Penilai meliputi tahapan investigasi, penerapan pendekatan penilaian dan penyusunan kertas kerja Investigasi Proses pengumpulan data yang cukup dengan cara melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan, dan analisis sesuai tujuan penilaian. Laporan Penilaian Suatu dokumen yang mencantumkan instruksi penugasan, tujuan dan dsar penilaian, dan hasil analisis yang menghasilkan opini nilai. Laporan Penilaian Terinci Laporan penilaian yang secara umum mendeskripsikan informasi secara detail dan komprehensif. Laporan ini seharusnya mengandung seluruh informasi yang signifikan dalam penilaian, termasuk pembahasan secara mendetail atas setiap hal yang dinyatakan dalam laporan. Laporan ini membutuhkan tingkat kedalaman investigasi sesuai yang dimaksud dalam Lingkup Penugasan. Pendekatan Penilaian Landasan proses Penilaian dilengkapi dengan metode Penilaian dari masing-masing pendekatan yang digunakan. Pendekatan Pasar Pendekatan yang memberikan indikasi nilai dengan membandingkan aset dengan aset lainnya yang identik atau sebanding dimana terdapat informasi harga. Pendekatan Pendapatan Pendekatan yang memberikan indikasi nilai dengan mengonversi arus kas masa depan menjadi satu nilai saat ini. Pendekatan Biaya Pendekatan yang memberikan indikasi nilai menggunakan prinsip ekonomi bahwa pembeli akan membayar aset tidak lebih dari biaya untuk mendapatkan aset dengan utilitas yang sama, baik melalui pembelian atau dengan pembuatan konstruksi dengan mengecualikan faktor-faktor seperti waktu yang tidak semestinya, ketidaknyamanan, risiko atau faktor-faktor lainnya. Metode Penilaian Masing-masing pendekatan penilaian mempunyai metode penerapan yang berbeda yang dijelaskan dalam SPI 106. Metode Perbandingan Data Pasar. Menggunakan informasi dari transaksi yang melibatkan aset yang diperdagangkan di bursa yang sama atau sejenis dengan aset yang dinilai untuk mendapatkan indikasi nilai. Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa xi
Page 13
Metode Diskonto Arus Kas (DCF). Arus kas yang diproyeksikan didiskonto Kembali ke tanggal penilaian, menghasilkan nilai kini dari aset. Kelangsungan Usaha (Going Concern) Suatu kondisi yang mencerminkan usaha yang sedang beroperasi atau sekurang-kurangnya dalam proses konstruksi atau suatu premis dalam penilaian, dimana Penilai menganggap suatu perusahaan akan terus melanjutkan operasinya secara berkelanjutan. Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa xii
Page 14
1. DATA DAN INFORMASI UMUM OBJEK
1.1 PROFIL PERUSAHAAN
PT Mandala Prima Perkasa selanjutnya disebut “Perusahaan” merupakan perseroan dengan status
perseroan terbatas yang beralamat di Jl. Maipa No. 8, Lokasi – Ujung Pandang, Kota Makassar.
1.2 LEGALITAS DAN PERIZINAN
Perusahaan didirikan di hadapan Notaris Dr. Irawan Soerodjo, SH, Msi, Notaris di Kota Jakarta dengan
Nomor Akta 121 tanggal 15 Juli 2002 dengan maksud dan tujuan perusahaan adalah melakukan usaha dalam
bidang pembangunan, perdagangan, industri, pertambangan, transportasi darat, pertanian, percetakan,
perbengkelan, jasa kecuali jasa dibidang hukum dan pajak.
Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir adalah
berdasarkan Akta Nomor 11 tanggal 31 Desember 2025 yang dikeluarkan oleh Notaris Yuli Kristi, SH., M.Kn
Notaris di Kabupaten Bekasi.
1.3 BIDANG USAHA
Bidang usaha PT Mandala Prima Perkasa berdasarkan Akta Pendirian No. 121 tanggal 15 Juli 2002 adalah
berusaha di bidang aktivitas perusahaan dan menjalankan usaha di bidang pembangunan, perdagangan,
industri, pertambangan, transportasi darat, pertanian, percetakan, perbengkelan, jasa kecuali jasa dibidang
hukum dan pajak. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan
kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Menjalan usaha-usaha dibidang pembangunan bertindak sebagai pengembang yang meliputi
perencanaan, pelaksaan dan pemborongan pada umunya (general contractor), antar alain
pembangunan kawasan perumahan (real estat) kawasan industri (industrial estat), gedung-gedung,
apartemen, kondominium, perkantoran, pertokoan beserta fasilitas-fasilitasnya termasuk
mengerjakan pembebasan, pembukaan, pengurugan, pemerataan, penyiapan dan pengembangan
areal tanah lokasi/wilayah yang akan dibangun, serta pembangunan gedung, konstruksi, lapangan,
jembatan, jalan, taman, bendungan, pengairan/irigasi, landasan, dermaga, pemasangan instalasi-
instalasi listrik (elektrikal), gas, air minum, telekomunikasi, air conditioner, sistem pengaman dan
dalam bidang teknik sipil, elektro, mesin (mekanikal)
2. Menjalankan usaha-usaha dibidang perdagangan, yang meliputi perdagangan impor dan ekspor,
antar pulau/daerah serta lokal, bertindak sebagai agen, ritel, grosir, waralaba, commision house,
leveransir, supplier, distributor dan sebagai perwakilan dari badan-badan perusahaan-perusahaan
lain, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk berbagai jenis barang dagangan baik barang-barang
hasil produksi sendiri maupun hasil produksi perusahaan lain, serta perdagangan yang berhubungan
denga usaha real estat yaitu penjualan dan pembelian bangunan-bangunan rumah, gedung,
perkantoran, gedung bertokoan, unit-unit ruangan apartemen, ruangan kondominium, ruangan
kantor, ruangan pertokoan.
3. Menjalankan usaha-usaha dibidang industri, yang meliputi berbagai macam industri antara lain
industri elektronika, termasuk komputer, alat komunikasi, industri makanan dan minuman,
pengolahan hasil perikanan (coldstorage), keramik, kulit, karet, kertas, tekstil, pakaian jadi (garmen),
kimia, farmasi dan obat-obatan, kosmetika, alat kesehatan, meubel (furniture), kendaraan bermotor
termasuk mesin-mesin dan suku cadangnya, alat-alat rumah tangga, kerajinan tangan.
4. Menjalankan usaha-usaha di bidang pertambangan, yang meliputi pertambangan nikel, batubara,
timah, emas, perak, tembaga, bauksit, mangan, bijih uranium dan thorium, pasir besi dan bijih besi,
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 1
Page 15
batuan tambang yaitu marmer, granit, andesit, koral, split, tanah liat, pasir dan pertambahan non
migas dan mineral.
5. Menjalankan usaha-usaha dibidang transportasi darat, termasuk angkutan untuk barang maupun
penumpang, ekspedisi dan pergudangan
6. Menjalankan usaha-usaha dibidang pertanian, termasuk agroindustri yang meliputi pembibitan,
budidaya dan pengolahan pasca panen industri pertanian, peternakan, perikanan darat/laut,
perkebunan, hortikultura, kehitanan.
7. Menjalankan usaha-usaha dibidang percetakan, meliputi penjilidan dan penerbitan buku-buku,
desain dan cetak grafis, sablon, offset.
8. Menjalankan usaha-usaha dibidang perbengkelan, yang meliputi kegiatan perawatan, pemeliharaan,
perbaikan (maintenance) dan showroom kendaraan bermotor, berbagai jenis mesin-mesin dan alat-
alat berat.
9. Menjalankan usaha-usaha di bidang jasa, yang meliputi berbagai macam jasa antara lain jasa
persewaan dan pengelolaan bangunan-bangunan, ruangan-ruangan kantor dan ruangan-ruangan
pertokoan beserta fasilitas-fasilitasnya, jasa konsultasi manajemen dan administrasi, periklanan,
persewaan kendaraan bermotor, jasa komputer dan internet termasuk pembuatan paket program
komputer (software), pelatihan komputer, instalasi dan perbaikan/perawatan komputer, jaringan
komputer, uninterruptible power supply, panel kontrol serta alat telekomunikasi, jasa teknologi
informasi termasuk multimedia, desain sistem informasi, pengolahan data, jasa penyediaan
makanan dan minuman (catering), perawatan dan kebersihan (cleaning service), kecuali jasa
dibidang hukum dan pajak.
1.4 STRUKTUR PERMODALAN DAN PEMEGANG SAHAM
Berdasarkan Akta Perubahan Terakhir telah disebutkan struktur permodalan PT Mandala Prima
Perkasa adalah sebagai berikut:
• Modal Dasar Rp226.040.500.000 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Miliar Empat Puluh Juta Lima
Ratus Ribu Rupiah) terbagi menjadi 226.040.500 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Juta Empat
Puluh Ribu Lima Ratus) lembar saham, masing-masing Rp1.000 (Satu Ribu Rupiah) per lembar
saham.
• Modal Ditempatkan Rp226.040.500.000 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Miliar Empat Puluh Juta
Lima Ratus Ribu Rupiah) terbagi menjadi 226.040.500 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Juta Empat
Puluh Ribu Lima Ratus) lembar saham, masing-masing Rp1.000 (Satu Ribu Rupiah) per lembar
saham.
• Modal Disetor Rp226.040.500.000 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Miliar Empat Puluh Juta Lima
Ratus Ribu Rupiah) terbagi menjadi 226.040.500 (Dua Ratus Dua Puluh Enam Juta Empat
Puluh Ribu Lima Ratus) lembar saham, masing-masing Rp1.000 (Satu Ribu Rupiah) per lembar
saham.
Lembar Saham Jumlah Presentase
Pemegang Saham
(Rp) Kepemilikan
PT Triputra Milenia Perkasa 178.307.500 178.307.500.000 78,88%
PT Trisurya Inti Pratama 47.733.000 47.733.000.000 21,12%
Jumlah 226.040.500 226.040.500.000 100%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 2
Page 16
1.5 SUSUNAN ANGGOTA DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS
Berdasarkan Akta perubahan terakhir No. 11 tanggal 31 Desember 2025 telah disebutkan struktur organisasi
PT Mandala Prima Perkasa adalah sebagai berikut:
Direksi
Direktur : Suryadi Danajaya
Dewan Komisaris
Komisaris : Tjhin Leeris Harni
1.6 STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN
Dalam setiap organisasi, diperlukan ketegasan dalam pembagian tugas yang disesuaikan dengan bagan
organisasi, pendelegasian wewenang yang jelas, serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga
kerja sesuai dengan pengalaman, keahlian, dan keterampilan merupakan faktor penting dalam penerapan
kebijakan perusahaan. Hal ini akan mendukung kelancaran pendelegasian tugas kepada unit di bawahnya
maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya memperlancar jalannya operasional perusahaan.
Struktur organisasi yang telah disusun dapat dijadikan pedoman dalam pengelolaan perusahaan agar
beroperasi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Struktur organisasi ini dirancang dengan pola sederhana,
sehingga diharapkan mampu mengelola proyek secara efektif dan efisien. Penyusunan struktur organisasi
didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan, dengan pembagian tugas yang jelas bagi seluruh
personel pengelola, sehingga mendukung tercapainya kinerja perusahaan secara menyeluruh.
Berikut adalah struktur organisasi dari PT Mandala Prima Perkasa :
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 3
Page 17
1.7 KINERJA KEUANGAN PT MANDALA PRIMA PERKASA
Kinerja keuangan perusahaan ditunjukkan dengan laporan keuangan yang memperlihatkan transaksi atau
perubahan pos-pos keuangan. Adapun laporan PT Mandala Prima Perkasa pada saat dilakukan penilaian
telah diaudit, yaitu laporan keuangan yang berakhir pada:
- 31 Desember 2025, laporan keuangan audited
Oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Sarjen dan Rekan dengan opini wajar tanpa pengecualian
- 31 Desember 2024, laporan keuangan audited
Oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Sarjen dan Rekan dengan opini wajar tanpa pengecualian.
- 31 Desember 2023, laporan keuangan audited
Oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Susianto Arona Ignatius & Rekan dengan opini wajar tanpa
pengecualian.
- 31 Desember 2022, laporan keuangan audited
Oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Susianto Arona Ignatius & Rekan dengan opini wajar tanpa
pengecualian.
- 31 Desember 2021, laporan keuangan audited
Oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Susianto Arona dengan opini wajar tanpa pengecualian.
1.7.1 Laporan Posisi Keuangan
(dalam Rupiah)
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 408.107.502 1.717.009.448 74.907.498.408 3.062.782.885 2.706.582.005 2.998.908.343
Piutang Usaha 513.813.483 1.343.093.510 1.004.699.301 863.599.657 1.412.925.084 506.381.312
Persediaan 3.145.920.879 3.122.037.989 3.098.751.396 239.119.965 386.264.814 639.244.509
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 158.954.192 209.636.146 72.100.494 690.466.200 103.805.409 128.797.940
Pajak dibayar dimuka - - - - 8.988.870
JUMLAH ASET LANCAR 4.226.796.056 6.391.777.093 79.083.049.599 4.855.968.707 4.618.566.182 4.273.332.104
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi 76.118.029 - - - -
Aset Tetap - neto 90.716.826.875 85.427.862.481 73.976.502.962 69.421.848.074 66.333.837.156 61.341.422.898
Properti Investasi - - 6.105.000.000 6.105.000.000 6.105.000.000 6.105.000.000
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 90.792.944.904 85.427.862.481 80.081.502.962 75.526.848.074 72.438.837.156 67.446.422.898
JUMLAH ASET 95.019.740.960 91.819.639.574 159.164.552.561 80.382.816.781 77.057.403.338 71.719.755.002
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang Usaha 805.777.274 1.037.291.551 924.448.842 1.841.048.084 1.088.152.928 813.425.324
Utang lain-lain 438.599.860 708.216.595 853.832.079 91.694.488.100 91.570.296.394 117.058.497
Utang pajak 983.435.652 927.422.201 136.019.698 264.232.776 224.355.052 586.190.243
Biaya yang masih harus dibayar - - - 2.145.944.408 1.300.253.734 1.193.011.386
Utang pembiayaan konsumen - - - - 84.146.265 120.618.100
Utang Pihak Berelasi 5.424.229.732 9.589.289.016 6.551.452.438 - - -
Utang Pihak Ketiga - - 91.500.000.000 - - -
Utang pembelian aset tetap 36.716.495 36.716.495 - - - -
Beban Akrual 4.782.772.547 10.049.068.380 2.428.496.395 - - -
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 12.471.531.560 22.348.004.238 102.394.249.452 95.945.713.368 94.267.204.373 2.830.303.550
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang lain-lain - - - 9.651.452.438 13.652.356.438 773.105
Utang Bank 73.640.000.000 73.640.000.000 73.460.000.000 - - -
Utang pembiayaan konsumen - - - - 22.368.871 17.229.984
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 73.640.000.000 73.640.000.000 73.460.000.000 9.651.452.438 13.674.725.309 18.003.089
JUMLAH LIABILITAS 86.111.531.560 95.988.004.238 175.854.249.452 105.597.165.806 107.941.929.682 2.848.306.639
EKUITAS
Modal Saham 119.332.500.000 119.332.500.000 119.332.500.000 119.332.500.000 119.332.500.000 226.040.500.000
Tambahan modal disetor 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000
Akumulasi rugi (110.474.290.600) (123.550.864.664) (136.072.196.891) (144.596.849.025) (150.267.026.344) (157.219.051.637)
JUMLAH EKUITAS 8.908.209.400 (4.168.364.664) (16.689.696.891) (25.214.349.025) (30.884.526.344) 68.871.448.363
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 95.019.740.960 91.819.639.574 159.164.552.561 80.382.816.781 77.057.403.338 71.719.755.002
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 4
Page 18
(Analisis Common Size)
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 0,43% 1,87% 47,06% 3,81% 3,51% 4,18%
Piutang Usaha 0,54% 1,46% 0,63% 1,07% 1,83% 0,71%
Persediaan 3,31% 3,40% 1,95% 0,30% 0,50% 0,89%
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 0,17% 0,23% 0,05% 0,86% 0,13% 0,18%
Pajak dibayar dimuka 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,01% 0,00%
JUMLAH ASET LANCAR 4,45% 6,96% 49,69% 6,04% 5,99% 5,96%
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi 0,08% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset Tetap - neto 95,47% 93,04% 46,48% 86,36% 86,08% 85,53%
Properti Investasi 0,00% 0,00% 3,84% 7,59% 7,92% 8,51%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 95,55% 93,04% 50,31% 93,96% 94,01% 94,04%
JUMLAH ASET 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang Usaha 0,85% 1,13% 0,58% 2,29% 1,41% 1,13%
Utang lain-lain 0,46% 0,77% 0,54% 114,07% 118,83% 0,16%
Utang pajak 1,03% 1,01% 0,09% 0,33% 0,29% 0,82%
Biaya yang masih harus dibayar 0,00% 0,00% 0,00% 2,67% 1,69% 1,66%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,11% 0,17%
Utang Pihak Berelasi 5,71% 10,44% 4,12% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang Pihak Ketiga 0,00% 0,00% 57,49% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pembelian aset tetap 0,04% 0,04% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Akrual 5,03% 10,94% 1,53% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 13,13% 24,34% 64,33% 119,36% 122,33% 3,95%
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 12,01% 17,72% 0,00%
Utang Bank 77,50% 80,20% 46,15% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,03% 0,02%
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 77,50% 80,20% 46,15% 12,01% 17,75% 0,03%
JUMLAH LIABILITAS 90,62% 104,54% 110,49% 131,37% 140,08% 3,97%
EKUITAS
Modal Saham 125,59% 129,96% 74,97% 148,46% 154,86% 315,17%
Tambahan modal disetor 0,05% 0,05% 0,03% 0,06% 0,06% 0,07%
Akumulasi rugi -116,26% -134,56% -85,49% -179,89% -195,01% -219,21%
JUMLAH EKUITAS 9,38% -4,54% -10,49% -31,37% -40,08% 96,03%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
(Analisis Trend)
2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 320,72% 4262,67% -95,91% -11,63% 10,80%
Piutang Usaha 161,40% -25,20% -14,04% 63,61% -64,16%
Persediaan -0,76% -0,75% -92,28% 61,54% 65,49%
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 31,88% -65,61% 857,64% -84,97% 24,08%
Pajak dibayar dimuka 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -100,00%
JUMLAH ASET LANCAR 51,22% 1137,26% -93,86% -4,89% -7,47%
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi -100,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset Tetap - neto -5,83% -13,40% -6,16% -4,45% -7,53%
Properti Investasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR -5,91% -6,26% -5,69% -4,09% -6,89%
JUMLAH ASET -3,37% 73,34% -49,50% -4,14% -6,93%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 5
Page 19
LIABILITAS DAN EKUITAS 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
LIABILITAS LANCAR 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang Usaha 28,73% -10,88% 99,15% -40,89% -25,25%
Utang lain-lain 61,47% 20,56% 10639,17% -0,14% -99,87%
Utang pajak -5,70% -85,33% 94,26% -15,09% 161,28%
Biaya yang masih harus dibayar 0,00% 0,00% 0,00% -39,41% -8,25%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 43,34%
Utang Pihak Berelasi 76,79% -31,68% -100,00% 0,00% 0,00%
Utang Pihak Ketiga 0,00% 0,00% -100,00% 0,00% 0,00%
Utang pembelian aset tetap 0,00% -100,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Akrual 110,11% -75,83% -100,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 79,19% 358,18% -6,30% -1,75% -97,00%
LIABILITAS TIDAK LANCAR 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 41,45% -99,99%
Utang Bank 0,00% -0,24% -100,00% 0,00% 0,00%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -22,97%
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 0,00% -0,24% -86,86% 41,69% -99,87%
JUMLAH LIABILITAS 11,47% 83,20% -39,95% 2,22% -97,36%
EKUITAS 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Modal Saham 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 89,42%
Tambahan modal disetor 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Akumulasi rugi 11,84% 10,13% 6,26% 3,92% 4,63%
JUMLAH EKUITAS -146,79% 300,39% 51,08% 22,49% -323,00%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS -3,37% 73,34% -49,50% -4,14% -6,93%
Aset lancar perusahaan terdiri dari kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, uang muka & biaya
dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka. Berdasarkan tahun historis, aset lancar memiliki rasio
sebesar 4,45% - 49,69% dari total aset dengan pertumbuhan rata-rata naik 216,45%.
Aset tidak lancar terdiri dari aset tetap, capex dan properti investasi. Porsi yang paling besar pada aset
tidak lancar terdapat pada aset tetap dengan rata-rata persentase sebesar 82,16% dengan
pertumbuhan rata-rata sebesar (7,47%), sehingga untuk jumlah aset tidak lancar secara keseluruhan
memiliki porsi sebesar 50,31% - 95,55% dengan pertumbuhan rata-rata sebesar (5,77%) Total aset
keseluruhan memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 1,88%.
Liabilitas jangka pendek perusahaan terdiri utang usaha, utang lain-lain, utang pajak dan biaya yang
masih harus dibayar dengan jumlah liabilitas jangka pendek berkisar antara 3,95% - 122,33% dari total
liabilitas dan ekuitas. Sedangkan pada sisi liabilitas jangka panjang perusahaan terdiri utang lain-lain
dan utang pembiayaan konsumen yang berkisar antara 0,03% - 80,20% dari total liabilitas dan ekuitas.
Ekuitas perusahaan terdiri dari modal saham, tambahan modal dan akumulasi rugi dengan persentase
sebesar (40,08)% - 96,03% dari total liabilitas dan ekuitas. Rata-rata pertumbuhan ekuitas perusahaan
berada pada angka (19,17%).
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 6
Page 20
1.7.2 Laba Rugi
(dalam Rupiah)
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 6.263.342.690 11.981.337.368 16.283.529.303 18.036.570.529 18.967.376.400 13.906.435.121
Kamar 4.895.991.106 9.120.383.603 12.539.582.182 11.701.393.643 13.368.930.545 10.445.440.951
Makanan dan minuman 1.236.584.697 2.723.628.338 3.505.984.602 5.917.779.221 5.170.586.707 3.115.563.559
Jasa Lain 130.766.887 137.325.427 237.962.519 417.397.665 427.859.148 345.430.611
Harga Pokok Penjualan (4.837.371.041) (7.312.485.840) (9.963.270.128) (12.815.335.452) (9.677.622.209) (7.433.443.160)
Makanan dan minuman (372.769.858) (809.868.449) (1.017.127.455) (1.809.869.468) (1.595.097.268) (981.693.770)
Jasa Lain (41.193.893) (21.929.746) (46.011.504) (68.113.690) (43.884.772) (17.638.670)
Beban Langsung
Ruangan (1.451.120.390) (2.747.235.751) (3.993.427.261) (2.951.209.163) (2.984.592.594) (2.498.143.905)
Gaji dan Tunjangan (1.341.797.728) (1.362.163.493) (2.212.430.916) (2.429.079.156) (2.441.924.923) (2.004.161.773)
Listrik dan air (1.451.120.390) (1.753.379.558) (2.016.767.872) (1.614.358.799) (1.691.173.039) (1.475.970.914)
makan dan minum (179.368.782) (617.908.843) - (1.104.257.608) (920.949.613) (455.834.128)
lain-lain - - (677.505.120) (2.838.447.568) - -
Laba Kotor 1.425.971.649 4.668.851.528 6.320.259.175 5.221.235.077 9.289.754.191 6.472.991.961
Beban Penjualan dan Pemasaran (484.849.531) (454.550.516) (907.089.045) (663.638.367) (814.821.740) (724.760.510)
Gaji dan tunjangan (146.394.850) (401.892.037) (375.204.508) (424.800.511) (441.947.710)
Jasa manajemen dan pemasaran (122.349.674) (183.887.955) (143.447.144) (214.966.302) (147.202.201)
Iklan dan promosi (126.032.450) (183.669.371) (47.042.918) (63.505.740) (45.563.211)
Jamuan dan sumbangan (4.753.308) (20.599.354) (41.058.285) (25.530.369) (39.531.536)
Alat tulis dan cetakan (14.224.985) (19.045.787) (4.578.457) (7.345.847) (6.734.300)
Transportasi (37.341.027) (93.923.739) (2.503.050) (6.632.500) (5.256.305)
Pelatihan - (240.000) (146.946) (6.523.233) -
Lain-lain (3.454.222) (3.830.802) (49.657.059) (65.517.238) (38.525.247)
Beban Umum dan Administrasi (3.650.222.133) (3.737.178.011) (5.034.558.296) (5.512.306.574) (6.353.047.667) (4.552.941.193)
EBITDA (2.709.100.015) 477.123.001 378.611.834 (954.709.864) 2.121.884.784 1.195.290.258
Depresiasi (5.305.489.160) (5.384.729.394) (5.346.359.519) (4.973.909.396) (5.096.009.881) (5.298.234.258)
EBIT (8.014.589.175) (4.907.606.393) (4.967.747.685) (5.928.619.260) (2.974.125.097) (4.102.944.000)
Pendapatan Keuangan 1.778.209 3.292.830 243.879.242 2.784.992 1.639.144
Beban Lain-lain (8.981.779.741) (8.142.590.239) (8.143.356.240) (2.893.036.701) (2.901.627.131) (2.819.725.151)
Pendapatan Lain-lain (28.155.641) 586.478.868 53.124.585 202.789.917 (30.995.286)
EBT (16.996.368.916) (13.076.574.064) (12.521.332.227) (8.524.652.134) (5.670.177.319) (6.952.025.293)
Pajak Penghasilan - - - - - -
EAT (16.996.368.916) (13.076.574.064) (12.521.332.227) (8.524.652.134) (5.670.177.319) (6.952.025.293)
(Analisis Common Size)
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Kamar 78,17% 76,12% 77,01% 64,88% 70,48% 75,11%
Makanan dan minuman 19,74% 22,73% 21,53% 32,81% 27,26% 22,40%
Jasa Lain 2,09% 1,15% 1,46% 2,31% 2,26% 2,48%
Harga Pokok Penjualan -77,23% -61,03% -61,19% -71,05% -51,02% -53,45%
Makanan dan minuman -5,95% -6,76% -6,25% -10,03% -8,41% -7,06%
Jasa Lain -0,66% -0,18% -0,28% -0,38% -0,23% -0,13%
Beban Langsung
Ruangan -23,17% -22,93% -24,52% -16,36% -15,74% -17,96%
Gaji dan Tunjangan -21,42% -11,37% -13,59% -13,47% -12,87% -14,41%
Listrik dan air -23,17% -14,63% -12,39% -8,95% -8,92% -10,61%
makan dan minum -2,86% -5,16% 0,00% -6,12% -4,86% -3,28%
lain-lain 0,00% 0,00% -4,16% -15,74% 0,00% 0,00%
Laba Kotor 22,77% 38,97% 38,81% 28,95% 48,98% 46,55%
Beban Penjualan dan Pemasaran -7,74% -3,79% -5,57% -3,68% -4,30% -5,21%
Gaji dan tunjangan 0,00% -1,22% -2,47% -2,08% -2,24% -3,18%
Jasa manajemen dan pemasaran 0,00% -1,02% -1,13% -0,80% -1,13% -1,06%
Iklan dan promosi 0,00% -1,05% -1,13% -0,26% -0,33% -0,33%
Jamuan dan sumbangan 0,00% -0,04% -0,13% -0,23% -0,13% -0,28%
Alat tulis dan cetakan 0,00% -0,12% -0,12% -0,03% -0,04% -0,05%
Transportasi 0,00% -0,31% -0,58% -0,01% -0,03% -0,04%
Pelatihan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -0,03% 0,00%
Lain-lain 0,00% -0,03% -0,02% -0,28% -0,35% -0,28%
Beban Umum dan Administrasi -58,28% -31,19% -30,92% -30,56% -33,49% -32,74%
EBITDA -43,25% 3,98% 2,33% -5,29% 11,19% 8,60%
Depresiasi -84,71% -44,94% -32,83% -27,58% -26,87% -38,10%
EBIT -127,96% -40,96% -30,51% -32,87% -15,68% -29,50%
Pendapatan Keuangan 0,00% 0,01% 0,00% 1,35% 0,01% 0,01%
Beban Lain-lain -143,40% -67,96% -50,01% -16,04% -15,30% -20,28%
Pendapatan Lain-lain 0,00% -0,23% 0,00% 0,29% 1,07% -0,22%
EBT -271,36% -109,14% -76,90% -47,26% -29,89% -49,99%
Pajak Penghasilan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
EAT -271,36% -109,14% -76,90% -47,26% -29,89% -49,99%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 7
Page 21
(Analisis Trend)
2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 91,29% 35,91% 10,77% 5,16% -26,68%
Kamar 86,28% 37,49% -6,68% 14,25% -21,87%
Makanan dan minuman 120,25% 28,72% 68,79% -12,63% -39,74%
Jasa Lain 5,02% 73,28% 75,40% 2,51% -19,27%
Harga Pokok Penjualan 51,17% 36,25% 28,63% -24,48% -23,19%
Makanan dan minuman 117,26% 25,59% 77,94% -11,87% -38,46%
Jasa Lain -46,76% 109,81% 48,04% -35,57% -59,81%
Beban Langsung
Ruangan 89,32% 45,36% -26,10% 1,13% -16,30%
Gaji dan Tunjangan 1,52% 62,42% 9,79% 0,53% -17,93%
Listrik dan air 20,83% 15,02% -19,95% 4,76% -12,73%
makan dan minum 244,49% -100,00% 0,00% -16,60% -50,50%
lain-lain 0,00% 0,00% 318,96% -100,00% 0,00%
Laba Kotor 227,42% 35,37% -17,39% 77,92% -30,32%
Beban Penjualan dan Pemasaran -6,25% 99,56% -26,84% 22,78% -11,05%
Gaji dan tunjangan 0,00% 174,53% -6,64% 13,22% 4,04%
Jasa manajemen dan pemasaran 0,00% 50,30% -21,99% 49,86% -31,52%
Iklan dan promosi 0,00% 45,73% -74,39% 35,00% -28,25%
Jamuan dan sumbangan 0,00% 333,37% 99,32% -37,82% 54,84%
Alat tulis dan cetakan 0,00% 33,89% -75,96% 60,44% -8,33%
Transportasi 0,00% 151,53% -97,34% 164,98% -20,75%
Pelatihan 0,00% 0,00% -38,77% 4339,20% -100,00%
Lain-lain 0,00% 10,90% 1196,26% 31,94% -41,20%
Beban Umum dan Administrasi 2,38% 34,72% 9,49% 15,25% -28,33%
EBITDA -117,61% -20,65% -352,16% -322,25% -43,67%
Depresiasi 1,49% -0,71% -6,97% 2,45% 3,97%
EBIT -38,77% 1,23% 19,34% -49,83% 37,95%
Pendapatan Keuangan 0,00% 85,18% 7306,37% -98,86% -41,14%
Beban Lain-lain -9,34% 0,01% -64,47% 0,30% -2,82%
Pendapatan Lain-lain 0,00% -2182,99% -90,94% 281,73% -115,28%
EBT -23,06% -4,25% -31,92% -33,48% 22,61%
Pajak Penghasilan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
EAT -23,06% -4,25% -31,92% -33,48% 22,61%
Pendapatan usaha utama Perusahaan berasal dari sewa kamar, food & beverage, Other Operating
Department dan Rental & Other dengan penyumbang terbesar dari pendapatan sewa kamar dan food
& beverage dengan masing-masing ratio rata-rata sebesar 73,33% dan 24,82%
Perusahaan menghasilkan EBIT rata-rata sebesar Rp (5.149.271.935) dengan ratio rata-rata sebesar
(49,60%) dari total revenue selama tahun historis dan menghasilkan EAT rata-rata sebear
(10.623.521.659) dengan ratio rata-rata sebesar (106,91%) selama tahun historis.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 8
Page 22
1.7.3 Arus Kas
(dalam Rupiah)
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
Laporan Arus Kas
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari :
Pelanggan 7.345.534.728 11.152.057.340 16.621.923.512 18.177.670.173 18.412.814.385 14.772.542.779
Jasa giro 4.137.916 1.778.209 3.292.830 243.879.242 15.284.901 10.771.126
Pembayaran kas kepada :
Pegawai - - - - - (4.405.773.879)
Pemasok (4.462.609.035) (7.107.770.627) (9.915.290.592) (10.456.783.851) (18.177.619.804) (5.928.794.878)
Pihak Ketiga - - - - - (91.500.000.000)
Beban-beban (9.577.689.207) (6.854.775.289) (6.162.524.790) (6.122.411.024) - (2.784.463.810)
Bunga - (15.639.075.422) (2.907.815.555) (2.801.100.535) (2.730.884.615)
KAS NETO DARI AKTIVITAS OPERASI (6.690.625.598) (2.808.710.367) (15.091.674.462) (1.065.461.015) (2.550.621.053) (92.566.603.277)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan Aset Tetap (123.565.000) - (419.254.508) (2.007.998.963) (305.820.000)
Pengurangan Aset Tetap - - 95.000.000 77.000.000
KAS NETO DARI AKTIVITAS INVESTASI - (123.565.000) - (419.254.508) (1.912.998.963) (228.820.000)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penurunan Piutang Pihak Berelasi 76.118.029
Peningkatan utang pihak berelasi (4.524.687.236) 4.165.059.284 (3.037.836.578) 3.100.000.000 4.000.904.000 1.556.416.667
Peningkatan utang pihak ketiga 91.500.000.000 - 106.515.136 31.332.948
Penurunan utang bank (28.060.000.000) (180.000.000) (73.460.000.000) - 91.500.000.000
Setoran modal saham 38.133.000.000 - - - - -
KAS NETO DARI AKTIVITAS PENDANAAN 5.548.312.764 4.241.177.313 88.282.163.422 (70.360.000.000) 4.107.419.136 93.087.749.615
KENAIKAN NETO KAS DAN SETARA KAS (1.142.312.834) 1.308.901.946 73.190.488.960 (71.844.715.523) (356.200.880) 292.326.338
KAS DAN SETARA KAS PADA AWAL TAHUN 1.550.420.336 408.107.502 1.717.009.448 74.907.498.408 3.062.782.885 2.706.582.005
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN 408.107.502 1.717.009.448 74.907.498.408 3.062.782.885 2.706.582.005 2.998.908.343
Arus kas Perusahaan dari aktivitas operasional mengalami tren yang negatif selama tahun historis.
Arus kas Perusahaan dari aktivitas operasi berkisar antara (2,5) Miliar – (92,5) Miliar pada tahun
historis, secara rata-rata arus kas dari aktivitas operasi sebesar (20,1) Miliar.
Arus kas Perusahaan dari aktivitas investasi selalu mengalami tren negatif di setiap tahun historis.
Arus kas Perusahaan dari aktivitas investasi berkisar antara (123) juta – (1,9) miliar pada tahun
historis, secara rata-rata arus kas dari aktivitas operasi sebesar (447) juta.
Arus kas Perusahaan dari aktivitas pendanaan juga mengalami tren positif pada setiap tahun historis
perusahaan kecuali pada tahun 2023. Arus kas Perusahaan dari aktivitas pendanaan berkisar antara
(71,8) miliar – 93 Miliar pada tahun historis, secara rata-rata arus kas dari aktivitas operasi sebesar
(20,8) miliar.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 9
Page 23
1.8 ANALISIS MAKROEKONOMI DAN INDUSTRI
1.8.1 Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen (c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada
hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi sebesar
0,66 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah Jasa Lainnya sebesar 9,93 persen;
diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,10 persen; serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,78
persen. Sementara itu, Industri Pengolahan; serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor yang memiliki peran dominan terhadap perekonomian Indonesia masing-masing
tumbuh sebesar 5,30 persen dan 5,49 persen.
Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (C-to-C) (persen), 2023—2025
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak
menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Lapangan Usaha
Industri Pengolahan sebesar 19,07 persen; diikuti oleh Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,17 persen; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,10
persen; Konstruksi sebesar 9,83 persen; serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,75 persen.
Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia mencapai 63,92 persen.
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 dibanding triwulan III-2025 (q-to-q) tumbuh sebesar 0,86 persen.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib sebesar 13,59 persen; diikuti oleh Jasa Pendidikan sebesar 7,48 persen.
Sementara itu, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang masing masing mengalami kontraksi sebesar 18,33 persen dan 1,30 persen.
Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (persen),
Triwulan IV-2024, Triwulan III-2025, dan Triwulan IV-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 10
Page 24
Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen (c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada
seluruh komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan
Jasa sebesar 7,03 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) sebesar
5,13 persen; Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,09 persen; Komponen
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,98 persen; dan Komponen Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 2,50 persen. Komponen Impor Barang dan Jasa (yang
merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut Pengeluaran) tumbuh sebesar 4,77 persen.
Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (C-to-C) (persen), 2023–2025
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Pada tahun 2025, Pulau Jawa masih menunjukkan peranan yang kuat dalam perekonomian Indonesia,
dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau Sumatera (22,22
persen), Kalimantan (8,12 persen), Sulawesi (7,22 persen), Bali dan Nusa Tenggara (2,82 persen),
serta Maluku dan Papua (2,69 persen).
Ekonomi Indonesia secara spasial selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh kelompok
provinsi. Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c) tertinggi sebesar 6,23
persen, diikuti oleh Pulau Jawa (5,30 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (4,87 persen), Pulau
Sumatera (4,81 persen), dan Pulau Kalimantan (4,79 persen). Sementara itu, kelompok provinsi di
Pulau Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah, yakni sebesar 1,44 persen.
Kontribusi dan Pertumbuhan PDRB Menurut Pulau (persen), 2025
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 11
Page 25
1.8.2 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2025 membaik sehingga mendukung
ketahanan eksternal. Transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah ditopang oleh berlanjutnya
surplus neraca perdagangan barang di tengah neraca jasa dan pendapatan primer yang mengalami
defisit. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh aliran masuk
modal asing dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya. Dengan
perkembangan tersebut, NPI pada triwulan IV 2025 mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS.
Transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah. Pada triwulan IV 2025, transaksi berjalan mencatat
defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS (0,7% dari PDB), setelah pada triwulan III 2025 mencatat surplus
sebesar 4,0 miliar dolar AS (1,1% dari PDB). Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan
surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan
dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya kontraksi harga komoditas. Di sisi
lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit yang lebih tinggi sejalan dengan peningkatan
kegiatan ekonomi domestik. Defisit neraca jasa juga tercatat lebih tinggi disebabkan oleh penurunan
jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada triwulan IV 2025 dibandingkan dengan kondisi pada
triwulan III 2025. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran
dividen di akhir tahun. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi
oleh kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Transaksi modal dan finansial mencatat surplus. Neraca transaksi modal dan finansial mencatat
surplus sebesar 8,3 miliar dolar AS pada triwulan IV 2025, setelah pada triwulan III 2025 mencatatkan
defisit sebesar 8,0 miliar dolar AS. Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan
dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia.
Investasi portofolio mencatat surplus ditopang oleh meningkatnya aliran masuk modal asing seiring
dengan imbal hasil investasi yang tetap menarik. Investasi lainnya juga mencatat surplus dipengaruhi
oleh penarikan pinjaman luar negeri.
Secara keseluruhan tahun 2025, perkembangan NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang
tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Transaksi berjalan tahun
2025 mencatat defisit yang terkendali sebesar 1,5 miliar dolar AS (0,1% dari PDB), lebih rendah
dibandingkan dengan defisit tahun 2024 sebesar 8,6 miliar dolar AS (0,6% dari PDB). Perkembangan
ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring dengan kinerja ekspor
yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur. Selain itu, surplus neraca pendapatan
sekunder juga lebih tinggi dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran
Indonesia (PMI). Sementara itu, defisit neraca jasa meningkat didorong oleh kenaikan defisit jasa
telekomunikasi sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi. Defisit neraca
pendapatan primer juga meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen. Transaksi modal
dan finansial tahun 2025 mencatat defisit sebesar 4,2 miliar dolar AS didorong oleh keluarnya aliran
modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya seiring dengan ketidakpastian pasar
keuangan global yang tinggi sepanjang tahun 2025. Posisi cadangan devisa meningkat dari 155,7
miliar dolar AS pada akhir Desember 2024 menjadi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan utang luar negeri
pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat
memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi
kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal.
Kinerja NPI 2026 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam
kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari PDB.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 12
Page 26
1.8.3 Nilai Tukar Rupiah
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Desember 2025 memutuskan untuk
mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku
bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai
tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global dengan tetap memperkuat efektivitas
transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini untuk
menjaga stabilitas dan mendorong perekonomian nasional. Ke depan, Bank Indonesia akan terus
mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut dengan prakiraan inflasi 2026 yang
terkendali dalam sasaran 2,5±1%, serta perlunya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang
lebih tinggi. Pelonggaran kebijakan makroprudensial diperkuat dengan meningkatkan efektivitas
implementasi pemberian likuiditas kepada perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga dan
meningkatkan pertumbuhan kredit/pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas
Pemerintah. Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan
ekonomi yang inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri
sistem pembayaran, dan peningkatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran.
Bank Indonesia juga terus mempererat sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan
(KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Sinergi kebijakan Bank Indonesia dengan
Pemerintah diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan
program Asta Cita Pemerintah.
Perekonomian global jangka pendek membaik namun dengan ketidakpastian yang perlu terus
diwaspadai. Pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan menjadi sekitar 3,2% dipengaruhi oleh
kenaikan ekonomi Jepang dan India yang didukung konsumsi rumah tangga dan kebijakan stimulus
fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa tetap baik ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan
kondisi ketenagakerjaan. Sementara itu, ekonomi AS pada 2025 masih melambat dipengaruhi dampak
temporary government shutdown dan pelemahan pasar tenaga kerja. Prospek ekonomi Tiongkok juga
terus melambat dipengaruhi permintaan domestik yang tetap lemah. Pada 2026, pertumbuhan
ekonomi dunia diprakirakan melemah menjadi 3,0% dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal AS
dan kerentanan rantai pasok global. Di pasar keuangan global, Fed Funds Rate (FFR) turun 25 bps
pada Desember 2025 dengan kecenderungan penurunan yang lebih terbatas ke depan. Tingkat imbal
hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun cenderung bergerak naik, sementara yield US Treasury tenor
10 tahun tetap tinggi sejalan dengan tingginya tingkat utang Pemerintah AS. Perkembangan ini
menyebabkan indeks mata uang AS (DXY) masih tinggi dan tetap terbatasnya aliran masuk modal
asing ke emerging market (EM). Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap
tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah. Kondisi tersebut memerlukan
kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik
dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.
1.8.4 Inflasi
Pada November 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,72 persen dengan Indeks Harga
Konsumen (IHK) sebesar 109,22. Inflasi y-on-y tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Provinsi Riau
sebesar 4,27 persen dengan IHK sebesar 110,86 dan terendah terjadi di Provinsi Sulawesi Utara
sebesar 0,65 persen dengan IHK sebesar 108,05. Sementara itu, inflasi y-on-y tertinggi di tingkat
kabupaten/kota terjadi di Kabupaten Toli-Toli sebesar 6,69 persen dengan IHK sebesar 117,71 dan
terendah terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah sebesar 0,10 persen dengan IHK sebesar 108,47.
Adapun deflasi y-on-y terdalam di tingkat kabupaten/kota terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar
0,51 persen dengan IHK sebesar 110,21 dan terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar
0,42 persen dengan IHK sebesar 108,14.
Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada November 2025 sebesar 0,17 persen sedangkan tingkat
inflasi year to date (y-to-d) pada November 2025 sebesar 2,27 persen.
Tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada November 2025 sebesar 2,36 persen; dengan inflasi m-to-
m sebesar 0,17 persen; dan inflasi y-to-d sebesar 2,18 persen.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 13
Page 27
1.8.5 Suku Bunga
Kebijakan suku bunga Bank Indonesia terus diarahkan secara forward looking dan pre-emptive untuk
mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan Pemerintah, yaitu 2,5±1% pada tahun 2025 dan 2026.
Rendahnya inflasi dan perlunya turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesungguhnya membuka
ruang bagi penurunan BI-Rate lebih lanjut setelah penurunan sebesar 25 bps menjadi 6,00% pada
September 2024. Hal ini apabila mempertimbangkan tekanan inflasi inti (core inflation) yang
bersumber dari dalam negeri diprakirakan tetap terkendali sejalan dengan ekspektasi inflasi yang
terjaga dan kapasitas output potensial yang masih mampu memenuhi kenaikan permintaan. Namun
demikian, risiko tekanan inflasi yang berasal dari gejolak global, yaitu dampak pelemahan nilai tukar
Rupiah terhadap harga barang-barang impor (imported inflation) perlu terus diwaspadai. Sejalan
dengan itu, fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek adalah untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah
dari dampak gejolak global dimaksud. Karenanya, kebijakan untuk memanfaatkan ruang penurunan
lebih lanjut BI-Rate akan didasarkan pada asesmen terhadap data dan kondisi yang berkembang (data
dependence). Sementara itu, untuk pengendalian inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) dan
harga yang diatur pemerintah (administered prices), koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan
Daerah) melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) terus diperkuat melalui
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 14
Page 28
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan mengerahkan seluruh 46 kantor
Bank Indonesia di dalam negeri.
Suku Bunga Perbankan
Sumber: Bank Indonesia
1.9 PERKEMBANGAN INDUSTRI
1.9.1. Perkembangan Sektor Perhotelan di Indonesia
Industri perhotelan di Indonesia merupakan bagian dari sektor jasa akomodasi dan pariwisata yang
memiliki keterkaitan erat dengan mobilitas wisatawan, aktivitas bisnis, kegiatan pemerintahan, serta
perkembangan infrastruktur transportasi. Sampai dengan cut-off Desember 2025, sektor perhotelan
menunjukkan kondisi pemulihan yang relatif kuat, sejalan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan
mancanegara dan wisatawan nusantara. Berdasarkan data BPS, pada Desember 2025 kunjungan
wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 1,41 juta kunjungan atau meningkat 14,43% secara
tahunan, sedangkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 105,98 juta perjalanan atau
meningkat 4,84% secara tahunan. Tingkat Penghunian Kamar hotel bintang pada Desember 2025
tercatat sebesar 56,12%, meskipun turun 1,94 poin persentase dibandingkan Desember 2024.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap jasa akomodasi masih berada
dalam tren positif, terutama ditopang oleh aktivitas liburan akhir tahun, peningkatan mobilitas domestik,
serta pemulihan kunjungan wisatawan internasional. Namun demikian, penurunan tingkat hunian
secara tahunan mengindikasikan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan belum selalu berbanding
lurus dengan peningkatan okupansi hotel. Hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya pasokan kamar
hotel, persaingan dengan akomodasi alternatif, perbedaan pola perjalanan wisatawan, serta tekanan
harga pada beberapa pasar hotel tertentu.
Dalam industri perhotelan, struktur pendapatan perusahaan sangat dipengaruhi oleh tingkat hunian
kamar, tarif rata-rata kamar, pendapatan per kamar tersedia, serta kontribusi pendapatan non-kamar
seperti restoran, ruang pertemuan, banquet, wedding, spa, laundry, dan fasilitas pendukung lainnya.
Hotel yang memiliki diversifikasi pendapatan lebih baik, khususnya dari segmen MICE, food and
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 15
Page 29
beverage, dan event, cenderung memiliki ketahanan pendapatan yang lebih kuat dibandingkan hotel
yang hanya bergantung pada penjualan kamar.
Permintaan pasar merupakan faktor mikroekonomi penting dalam sektor ini. Hotel di destinasi wisata
utama seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, Labuan Bajo, Bandung, dan kota-kota wisata lainnya lebih
banyak dipengaruhi oleh perjalanan leisure, wisata keluarga, dan wisatawan mancanegara.
Sementara itu, hotel di kota bisnis seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, dan
Semarang lebih banyak dipengaruhi oleh perjalanan dinas, kegiatan korporasi, pemerintahan,
seminar, serta rapat bisnis. Sebagai contoh, tingkat hunian hotel berbintang di Jakarta pada Desember
2025 tercatat sebesar 59,97%, sedangkan Bali mencatat tingkat hunian hotel berbintang sebesar
60,88%. Hal ini menunjukkan bahwa kota bisnis dan destinasi wisata utama masih memiliki permintaan
yang relatif kuat, meskipun masing-masing memiliki karakter pasar yang berbeda.
Dari sisi biaya, industri perhotelan memiliki karakteristik biaya tetap yang cukup besar. Biaya tenaga
kerja, listrik, air, perawatan gedung, keamanan, kebersihan, asuransi, sistem reservasi, pemasaran,
dan biaya manajemen tetap harus dikeluarkan meskipun tingkat hunian mengalami penurunan. Oleh
karena itu, profitabilitas hotel sangat sensitif terhadap perubahan okupansi dan tarif kamar. Ketika
tingkat hunian rendah, hotel akan menghadapi tekanan margin karena pendapatan kamar tidak cukup
optimal untuk menutup biaya tetap. Sebaliknya, ketika tingkat hunian meningkat, tambahan
pendapatan kamar dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap laba operasional
karena sebagian besar biaya tetap telah tertutup.
Persaingan di industri perhotelan Indonesia sampai dengan akhir 2025 masih relatif ketat. Hotel
berbintang tidak hanya bersaing dengan jaringan hotel internasional dan nasional, tetapi juga dengan
hotel independen, serviced apartment, villa, guest house, serta akomodasi alternatif berbasis platform
digital. Perkembangan online travel agent dan aplikasi pemesanan hotel membuat konsumen semakin
mudah membandingkan harga, lokasi, fasilitas, dan ulasan pelanggan. Kondisi ini meningkatkan
transparansi pasar, tetapi juga menekan kemampuan hotel untuk menaikkan tarif apabila tidak
didukung oleh reputasi layanan dan fasilitas yang memadai.
Regulasi dan kebijakan pemerintah juga mempengaruhi prospek industri perhotelan. Faktor seperti
perizinan usaha, pajak hotel dan restoran, retribusi daerah, standar sertifikasi usaha pariwisata, tata
ruang, serta kebijakan lingkungan menjadi elemen penting dalam operasional hotel. Di beberapa
destinasi wisata utama, terutama yang mengalami tekanan akibat pembangunan dan overtourism, isu
keberlanjutan mulai menjadi perhatian utama. Hal ini dapat mempengaruhi rencana ekspansi hotel
baru, renovasi, maupun strategi investasi jangka panjang.
Faktor teknologi menjadi semakin penting dalam menentukan daya saing hotel. Sampai dengan
Desember 2025, digitalisasi pemesanan, penggunaan property management system, channel
manager, revenue management system, pembayaran digital, serta pemanfaatan data pelanggan
menjadi bagian penting dari strategi operasional hotel. Hotel yang mampu menerapkan strategi harga
dinamis berdasarkan musim, tingkat permintaan, event lokal, dan perilaku pelanggan akan memiliki
peluang lebih besar untuk mengoptimalkan pendapatan. Selain itu, reputasi digital melalui ulasan
pelanggan di platform online menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi keputusan calon
tamu.
Dari sisi operasional, kualitas sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam menjaga daya
saing sektor perhotelan. Industri ini sangat bergantung pada kualitas pelayanan, keramahan staf,
kecepatan respons, kebersihan kamar, kualitas makanan dan minuman, serta konsistensi pengalaman
tamu. Hotel yang mampu menjaga standar pelayanan dan kondisi fisik aset dengan baik cenderung
memiliki rating pelanggan yang lebih tinggi, potensi repeat guest yang lebih kuat, dan posisi pasar
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 16
Page 30
yang lebih stabil. Sebaliknya, hotel dengan fasilitas yang menurun, pelayanan yang tidak konsisten,
atau keterlambatan renovasi dapat mengalami penurunan reputasi dan tekanan terhadap tarif kamar.
Industri perhotelan juga memiliki karakter musiman. Permintaan biasanya meningkat pada periode
liburan sekolah, hari raya, akhir tahun, long weekend, serta penyelenggaraan event besar. Pada
Desember 2025, tingkat hunian nasional hotel berbintang yang mencapai 56,12% mencerminkan
adanya dorongan permintaan musiman akhir tahun, meskipun secara tahunan masih lebih rendah
dibandingkan Desember 2024. Pada periode low season, hotel perlu mengandalkan promosi, kerja
sama korporasi, paket menginap, optimalisasi F&B, dan kegiatan MICE untuk menjaga pendapatan.
Dalam konteks penilaian usaha atau aset hotel, indikator utama yang perlu diperhatikan meliputi
tingkat hunian kamar, Average Daily Rate, Revenue per Available Room, margin EBITDA,
pertumbuhan pendapatan kamar, kontribusi pendapatan F&B, kondisi fisik bangunan, kebutuhan
capital expenditure, lokasi, kekuatan merek, kualitas manajemen, serta prospek permintaan di wilayah
sekitar hotel. Hotel dengan lokasi strategis, akses transportasi yang baik, basis permintaan yang stabil,
dan kondisi bangunan yang terawat umumnya memiliki risiko operasional lebih rendah dan nilai
ekonomis yang lebih kuat dibandingkan hotel di lokasi sekunder dengan tingkat persaingan tinggi.
Sebagai kesimpulan, sampai dengan cut-off Desember 2025, sektor perhotelan di Indonesia berada
dalam fase pemulihan yang relatif positif, didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan
mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Namun, industri ini tetap menghadapi tantangan
berupa tekanan persaingan, perubahan preferensi konsumen, tingginya biaya tetap, kebutuhan
renovasi berkala, serta meningkatnya peran teknologi dan reputasi digital. Bagi investor atau penilai,
fokus analisis perlu diarahkan pada kemampuan hotel dalam menjaga tingkat hunian, mengoptimalkan
tarif kamar, mengendalikan biaya operasional, mempertahankan kualitas layanan, dan menyesuaikan
strategi bisnis terhadap kondisi pasar hingga akhir 2025.
1.9.2. Perkembangan Sektor Jasa Akomodasi dan Hotel Berbintang
Sektor jasa akomodasi dan hotel berbintang di Indonesia sampai dengan Desember 2025
menunjukkan kinerja yang cukup resilien di tengah normalisasi aktivitas pariwisata dan perjalanan
bisnis. Pemulihan sektor ini didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, bertambahnya
kunjungan wisatawan mancanegara, serta kembali aktifnya kegiatan MICE, perjalanan korporasi, dan
aktivitas pemerintahan. Secara kumulatif, Kementerian Pariwisata mencatat jumlah sementara
kunjungan wisatawan mancanegara periode Januari–Desember 2025 sebesar 15,39 juta kunjungan,
meningkat 10,80% dibandingkan periode sebelumnya.
Di sektor hotel berbintang, permintaan pasar tidak hanya berasal dari tamu individu, tetapi juga dari
segmen korporasi, pemerintahan, grup perjalanan, event organizer, maskapai, dan kegiatan
konferensi. Hotel dengan fasilitas ballroom, meeting room, restoran, area parkir memadai, serta lokasi
dekat pusat bisnis atau destinasi wisata memiliki peluang pendapatan yang lebih terdiversifikasi.
Segmen MICE menjadi penting karena dapat menopang pendapatan hotel pada saat permintaan
kamar dari wisatawan individu sedang menurun.
Secara regional, kinerja hotel menunjukkan variasi yang cukup besar. Bali sebagai destinasi wisata
internasional mencatat TPK hotel berbintang sebesar 60,88% pada Desember 2025, turun 2,83 poin
persentase dibandingkan Desember 2024. Sementara itu, DKI Jakarta mencatat TPK hotel berbintang
sebesar 59,97%, turun 2,08 poin persentase secara tahunan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa
kinerja hotel sangat dipengaruhi oleh lokasi, segmentasi pasar, jumlah pasokan kamar, dan
karakteristik permintaan masing-masing daerah.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 17
Page 31
Dari sisi kompetisi, hotel berbintang menghadapi tekanan dari berbagai kelas akomodasi. Hotel kelas
menengah bersaing melalui kombinasi harga, lokasi, fasilitas, dan kenyamanan. Hotel kelas atas lebih
menekankan pengalaman tamu, kualitas layanan, reputasi merek, dan eksklusivitas. Sementara itu,
hotel budget dan akomodasi non-bintang menekan pasar melalui tarif yang lebih rendah. Kondisi
tersebut menyebabkan hotel perlu memiliki positioning yang jelas, apakah sebagai hotel bisnis, hotel
wisata, hotel keluarga, hotel MICE, hotel transit, atau hotel lifestyle.
Efisiensi operasional menjadi perhatian utama bagi pelaku industri. Kenaikan biaya utilitas, bahan
makanan, tenaga kerja, pemeliharaan bangunan, serta komisi online travel agent dapat menekan
margin keuntungan. Hotel perlu mengelola biaya secara ketat tanpa menurunkan kualitas layanan.
Strategi seperti efisiensi energi, pengendalian food cost, optimalisasi jadwal tenaga kerja,
pemeliharaan preventif, serta digitalisasi sistem operasional menjadi faktor penting dalam
mempertahankan profitabilitas.
Transformasi digital turut mengubah model bisnis hotel. Pemesanan kamar melalui online travel agent,
website hotel, aplikasi perjalanan, dan media sosial menjadi saluran utama untuk menjangkau
pelanggan. Kondisi ini memberikan peluang bagi hotel untuk memperluas pasar, tetapi juga
meningkatkan persaingan harga. Hotel dengan strategi pemasaran digital yang kuat, foto properti yang
menarik, respons cepat terhadap ulasan pelanggan, dan reputasi online yang baik cenderung memiliki
daya saing lebih tinggi.
Dari perspektif investasi, sektor perhotelan tetap menarik apabila aset berada di lokasi dengan
permintaan yang kuat dan prospek pertumbuhan wisata atau bisnis yang berkelanjutan. Namun,
investor perlu memperhatikan risiko oversupply, terutama pada pasar yang mengalami pertumbuhan
jumlah kamar lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan. Selain itu, kebutuhan belanja modal
untuk renovasi kamar, peremajaan interior, peningkatan fasilitas, dan pemenuhan standar merek
harus diperhitungkan dalam proyeksi arus kas.
Aspek keberlanjutan juga semakin penting dalam industri perhotelan. Konsumen, korporasi, dan
investor mulai memperhatikan praktik ramah lingkungan seperti efisiensi energi, pengurangan
penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah, konservasi air, dan penggunaan produk lokal.
Hotel yang mampu menerapkan standar keberlanjutan secara konsisten dapat memperoleh reputasi
yang lebih baik, mengurangi biaya utilitas jangka panjang, dan meningkatkan daya tarik bagi tamu
korporasi maupun wisatawan internasional.
Tantangan utama sektor perhotelan sampai dengan akhir 2025 adalah menjaga keseimbangan antara
pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan pasokan kamar. Apabila pasokan kamar meningkat lebih
cepat dibandingkan jumlah tamu, tingkat hunian dan tarif kamar dapat tertekan. Selain itu, faktor
makroekonomi seperti daya beli masyarakat, harga tiket pesawat, nilai tukar, inflasi, serta kebijakan
perjalanan juga dapat mempengaruhi kinerja hotel.
Sebagai kesimpulan, sektor jasa akomodasi dan hotel berbintang di Indonesia per Desember 2025
berada dalam kondisi pemulihan yang berkelanjutan, tetapi belum sepenuhnya bebas dari tekanan
persaingan dan risiko operasional. Kinerja hotel sangat ditentukan oleh lokasi, kualitas aset, kekuatan
merek, kemampuan manajemen dalam mengelola okupansi dan tarif, serta efektivitas pengendalian
biaya. Dalam konteks penilaian, hotel dengan permintaan stabil, fasilitas terawat, strategi digital yang
baik, dan diversifikasi pendapatan dari kamar serta non-kamar cenderung memiliki prospek nilai yang
lebih baik dibandingkan hotel yang hanya mengandalkan tarif rendah tanpa diferensiasi layanan.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 18
Page 32
2. PENDEKATAN PENILAIAN
2.1 PENDEKATAN PENILAIAN
Dalam penilaian saham, prosedur penilaian dilaksanakan dengan mengaplikasikan pendekatan dan metode
penilaian saham yang berlaku umum dalam penilaian saham sesuai dengan KEPI & SPI Edisi VII – 2018 dan
Edisi Revisi SPI 330 Tahun 2020. Berikut adalah pendekatan penilaian usaha yang umum digunakan:
• Pendekatan Pasar (Market Based Approach)
Pendekatan data pasar adalah menilai dengan membandingkan nilai yang sama pada kegiatan usaha
(bisnis) yang serupa, hak atas kepemilikan bisnis, atau surat berharga yang telah terjual di pasar terbuka.
• Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Pendekatan pendapatan adalah suatu cara untuk memperkirakan nilai suatu usaha, kepemilikan, atau efek,
dengan cara mengonversi manfaat ekonomis atau pendapatan ekonomi yang diantisipasi akan dihasilkan
oleh objek penilaian di masa depan.
• Pendekatan Biaya/Aset (Cost/Asset Approach)
Pendekatan Biaya/Aset adalah suatu cara dalam mengestimasi nilai dari objek penilaian yang ditentukan
berdasarkan laporan keuangan historis objek penilaian yang telah diaudit, dimana seluruh aset dan
kewajiban disesuaikan menjadi nilai pasar wajar atau nilai pasar.
Dari pendekatan penilaian yang telah disebutkan sebelumnya dengan mempertimbangkan berbagai
pendekatan penilaian mulai dari pendekatan berdasarkan Pendapatan, berdasarkan Biaya/Aset, dan
berdasarkan Pasar, adapun pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian saham PT Mandala
Prima Perkasa adalah Pendekatan Pendapatan metode Arus Kas Terdiskonto (Discounted Cashflow) dan
Pendekatan Biaya/Aset metode Penyesuaian Aktiva Bersih (Adjusted Book Value Method/ABVM).
Pendapatan digunakan dengan pertimbangan PT Mandala Prima Perkasa adalah perusahaan yang masih
beroperasi dan akan terus melanjutkan kegiatan usahanya dan Pendekatan Biaya digunakan dengan
pertimbangan perusahaan yang heavy asset dengan aset tetap lebih dari 90% jumlah aset perusahaan.
2.2 PENDEKATAN PENDAPATAN
Dalam Kajian ini manajemen Perusahaan telah menyiapkan informasi keuangan prospektif yang
menggambarkan rencana Perusahaan selama lima tahun ke depan yang dituangkan dalam informasi-
informasi keuangan meliputi laba rugi prospektif, neraca prospektif, dan arus kas prospektif Perusahaan.
Data dan informasi tersebut telah dilakukan konfirmasi dan penyesuaian terhadap hal-hal yang dianggap
perlu disesuaikan oleh Penilai dan telah disetujui oleh manajemen sebagai penyusun informasi keuangan
prospektif. Asumsi utama dalam penyusunan informasi keuangan propektif yaitu manajemen Perusahaan
akan tetap mempertahankan kegiatan usahanya saat ini dengan kapasitas yang sama dengan saat ini. Selain
itu, manajemen tidak berniat untuk melakukan pengembangan usaha dalam bentuk reinvestasi.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 19
Page 33
2.2.1 Laba Rugi Prospektif
(dalam Rupiah)
2026 2027 2028 2029 2030
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 24.130.901.461 29.739.443.917 34.830.209.971 37.317.446.522 38.915.751.363
Harga Pokok Penjualan (12.913.859.426) (15.915.319.150) (18.639.686.381) (19.970.752.410) (20.826.098.989)
Laba Kotor 11.217.042.036 13.824.124.767 16.190.523.590 17.346.694.113 18.089.652.373
Beban Penjualan dan Pemasaran (1.002.045.263) (1.234.942.215) (1.446.338.297) (1.549.621.782) (1.615.992.025)
Beban Umum dan Administrasi (4.661.320.835) (4.769.334.969) (4.880.049.455) (4.993.531.804) (5.109.851.212)
EBITDA 5.553.675.937 7.819.847.583 9.864.135.838 10.803.540.526 11.363.809.136
Penyusutan (5.308.541.124) (5.318.847.990) (5.329.154.857) (5.339.461.723) (5.349.768.589)
EBIT 245.134.813 2.500.999.592 4.534.980.981 5.464.078.803 6.014.040.547
Pendapatan Lain-lain - - - - -
Beban Lain-lain - - - - -
EBT 245.134.813 2.500.999.592 4.534.980.981 5.464.078.803 6.014.040.547
Pajak Penghasilan - - - (27.058.147) (1.323.088.920)
EAT 245.134.813 2.500.999.592 4.534.980.981 5.437.020.656 4.690.951.627
2026 2027 2028 2029 2030
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Harga Pokok Penjualan -53,52% -53,52% -53,52% -53,52% -53,52%
Laba Kotor 46,48% 46,48% 46,48% 46,48% 46,48%
Beban Penjualan dan Pemasaran -4,15% -4,15% -4,15% -4,15% -4,15%
Beban Umum dan Administrasi -19,32% -16,04% -14,01% -13,38% -13,13%
EBITDA
Penyusutan -22,00% -17,88% -15,30% -14,31% -13,75%
EBIT 1,02% 8,41% 13,02% 14,64% 15,45%
Pendapatan Lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
EBT 1,02% 8,41% 13,02% 14,64% 15,45%
Pajak Penghasilan 0,00% 0,00% 0,00% -0,07% -3,40%
EAT 1,02% 8,41% 13,02% 14,57% 12,05%
2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha 73,52% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Harga Pokok Penjualan 73,73% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Laba Kotor 73,29% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Beban Penjualan dan Pemasaran 38,26% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Beban Umum dan Administrasi 2,38% 2,32% 2,32% 2,33% 2,33%
EBITDA
Penyusutan 0,19% 0,19% 0,19% 0,19% 0,19%
EBIT -105,97% 920,25% 81,33% 20,49% 10,07%
Pendapatan Lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
EBT -105,97% 920,25% 81,33% 20,49% 10,07%
Pajak Penghasilan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 4789,80%
EAT -105,97% 920,25% 81,33% 19,89% -13,72%
2.2.1.1 Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha utama Perusahaan berasal dari sewa kamar, food & beverage, Other Operating
Department dan Rental & Other dengan penyumbang terbesar dari pendapatan sewa kamar dan food &
beverage dengan masing-masing ratio rata-rata sebesar 73,34% dan 25,95%
Perusahaan menghasilkan EBIT rata-rata sebesar Rp 3.751.846.947 dengan ratio rata-rata sebesar
10,51% dari total revenue selama tahun proyeksi dan menghasilkan EAT rata-rata sebear 3.481.817.534
dengan ratio rata-rata sebesar 9,81% selama tahun proyeksi.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 20
Page 34
2.2.2 Neraca Prospektif
(dalam Rupiah)
2026 2027 2028 2029 2030
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 8.058.693.553 15.494.645.098 24.987.246.080 35.454.349.195 45.206.912.138
Piutang Usaha 878.689.429 1.082.915.823 1.268.288.190 1.358.857.059 1.417.056.856
Persediaan 1.110.537.008 1.368.649.784 1.602.933.783 1.717.399.803 1.790.955.972
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 128.797.940 128.797.940 128.797.940 128.797.940 128.797.940
Pajak dibayar dimuka
JUMLAH ASET LANCAR 10.176.717.931 18.075.008.645 27.987.265.992 38.659.403.997 48.543.722.907
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi - - - - -
Aset Tetap - neto 56.043.188.640 50.744.954.382 45.446.720.124 40.148.485.866 34.850.251.608
Capex 239.693.134 469.079.401 688.158.803 896.931.338 1.095.397.007
Properti Investasi 6.105.000.000 6.105.000.000 6.105.000.000 6.105.000.000 6.105.000.000
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 62.387.881.774 57.319.033.783 52.239.878.927 47.150.417.204 42.050.648.615
JUMLAH ASET 72.564.599.705 75.394.042.428 80.227.144.919 85.809.821.201 90.594.371.522
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang Usaha 1.413.135.214 1.741.578.345 2.039.699.855 2.185.355.481 2.278.954.174
Utang lain-lain 117.058.497 117.058.497 117.058.497 117.058.497 117.058.497
Utang pajak 586.190.243 586.190.243 586.190.243 586.190.243 586.190.243
Biaya yang masih harus dibayar 1.193.011.386 1.193.011.386 1.193.011.386 1.193.011.386 1.193.011.386
Utang pembiayaan konsumen 120.618.100 120.618.100 120.618.100 120.618.100 120.618.100
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 3.430.013.440 3.758.456.571 4.056.578.081 4.202.233.707 4.295.832.400
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang lain-lain 773.105 773.105 773.105 773.105 773.105
Utang Bank - - - - -
Utang pembiayaan konsumen 17.229.984 17.229.984 17.229.984 17.229.984 17.229.984
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 18.003.089 18.003.089 18.003.089 18.003.089 18.003.089
JUMLAH LIABILITAS 3.448.016.529 3.776.459.660 4.074.581.170 4.220.236.796 4.313.835.489
EKUITAS
Modal Saham 226.040.500.000 226.040.500.000 226.040.500.000 226.040.500.000 226.040.500.000
Tambahan Modal - TA 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000
Akumulasi rugi (156.973.916.824) (154.472.917.232) (149.937.936.250) (144.500.915.594) (139.809.963.967)
JUMLAH EKUITAS 69.116.583.176 71.617.582.768 76.152.563.750 81.589.584.406 86.280.536.033
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 72.564.599.705 75.394.042.428 80.227.144.919 85.809.821.201 90.594.371.522
2026 2027 2028 2029 2030
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 11,11% 20,55% 31,15% 41,32% 49,90%
Piutang Usaha 1,21% 1,44% 1,58% 1,58% 1,56%
Persediaan 1,53% 1,82% 2,00% 2,00% 1,98%
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 0,18% 0,17% 0,16% 0,15% 0,14%
Pajak dibayar dimuka
JUMLAH ASET LANCAR 14,02% 23,97% 34,89% 45,05% 53,58%
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset Tetap - neto 77,23% 67,31% 56,65% 46,79% 38,47%
Capex
Properti Investasi 8,41% 8,10% 7,61% 7,11% 6,74%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 85,98% 76,03% 65,11% 54,95% 46,42%
JUMLAH ASET 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang Usaha 1,95% 2,31% 2,54% 2,55% 2,52%
Utang lain-lain 0,16% 0,16% 0,15% 0,14% 0,13%
Utang pajak
Biaya yang masih harus dibayar 1,64% 1,58% 1,49% 1,39% 1,32%
Utang pembiayaan konsumen 0,17% 0,16% 0,15% 0,14% 0,13%
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 4,73% 4,99% 5,06% 4,90% 4,74%
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang Bank 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pembiayaan konsumen 0,02% 0,02% 0,02% 0,02% 0,02%
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 0,02% 0,02% 0,02% 0,02% 0,02%
JUMLAH LIABILITAS 4,75% 5,01% 5,08% 4,92% 4,76%
EKUITAS
Modal Saham 311,50% 299,81% 281,75% 263,42% 249,51%
Tambahan Modal - TA 0,07% 0,07% 0,06% 0,06% 0,06%
Akumulasi rugi -216,32% -204,89% -186,89% -168,40% -154,33%
JUMLAH EKUITAS 95,25% 94,99% 94,92% 95,08% 95,24%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 21
Page 35
2021 2022 2023 2024 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 168,72% 92,27% 61,26% 41,89% 27,51%
Piutang Usaha 73,52% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Persediaan 73,73% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pajak dibayar dimuka
JUMLAH ASET LANCAR 138,14% 77,61% 54,84% 38,13% 25,57%
ASET TIDAK LANCAR
Piutang Pihak Berelasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset Tetap - neto -8,64% -9,45% -10,44% -11,66% -13,20%
Capex
Properti Investasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR -7,50% -8,12% -8,86% -9,74% -10,82%
JUMLAH ASET 1,18% 3,90% 6,41% 6,96% 5,58%
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang Usaha 73,73% 23,24% 17,12% 7,14% 4,28%
Utang lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pajak
Biaya yang masih harus dibayar 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH LIABILITAS LANCAR 21,19% 9,58% 7,93% 3,59% 2,23%
LIABILITAS TIDAK LANCAR 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang Bank 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Utang pembiayaan konsumen 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH LIABILITAS TIDAK LANCAR 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH LIABILITAS 21,05% 9,53% 7,89% 3,57% 2,22%
EKUITAS
Modal Saham 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tambahan Modal - TA 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Akumulasi rugi -0,16% -1,59% -2,94% -3,63% -3,25%
JUMLAH EKUITAS 0,36% 3,62% 6,33% 7,14% 5,75%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 1,18% 3,90% 6,41% 6,96% 5,58%
Aset lancar perusahaan terdiri dari kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, uang muka & biaya dibayar
dimuka dan pajak dibayar dimuka. Berdasarkan tahun historis, aset lancar memiliki rasio sebesar 14,02% -
53,58% dari total aset dengan pertumbuhan rata-rata naik 77,18%.
Aset tidak lancar terdiri dari aset tetap, capex dan properti investasi . Porsi yang paling besar pada aset tidak
lancar terdapat pada aset tetap dengan rata-rata persentase sebesar 57,29% dengan pertumbuhan rata-rata
sebesar (10,05%), sehingga untuk jumlah aset tidak lancar secara keseluruhan memiliki porsi sebesar
46,42% - 85,98% dengan pertumbuhan rata-rata sebesar (8,56%) Total aset keseluruhan memiliki
pertumbuhan rata-rata sebesar 4,61.
Liabilitas jangka pendek perusahaan terdiri utang usaha, utang lain-lain, utang pajak dan biaya yang masih
harus dibayar dengan jumlah liabilitas jangka pendek berkisar antara 4,73% - 5,06% dari total liabilitas dan
ekuitas. Sedangkan pada sisi liabilitas jangka panjang perusahaan terdiri utang lain-lain dan utang
pembiayaan konsumen yang berkisar antara 0,02% - 0,02% dari total liabilitas dan ekuitas.
Ekuitas perusahaan terdiri dari modal saham, tambahan modal dan akumulasi rugi dengan persentase
sebesar 94,92% - 95,10% dari total liabilitas dan ekuitas. Rata-rata pertumbuhan ekuitas perusahaan berada
pada angka 4,36%.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 22
Page 36
2.2.3 Arus Kas Prospektif
(dalam Rupiah)
2026 2027 2028 2029 2030
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Jun
Laporan Arus Kas
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
EAT 245.134.813 2.500.999.592 4.534.980.981 5.437.020.656 4.690.951.627
Penyusutan 5.308.541.124 5.318.847.990 5.329.154.857 5.339.461.723 5.349.768.589
Piutang Usaha (372.308.117) (204.226.393) (185.372.367) (90.568.870) (58.199.797)
Persediaan (471.292.499) (258.112.776) (234.283.999) (114.466.020) (73.556.169)
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka - - - - -
Utang Usaha 599.709.890 328.443.131 298.121.510 145.655.626 93.598.694
Utang lain-lain - - - - -
Biaya yang masih harus dibayar - - - - -
Utang pembiayaan konsumen - - - - -
KAS NETO DARI AKTIVITAS OPERASI 5.309.785.210 7.685.951.545 9.742.600.981 10.717.103.116 10.002.562.943
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian Aset Tetap (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000)
KAS NETO DARI AKTIVITAS INVESTASI (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang lain-lain - - - - -
Deviden - - - - -
KAS NETO DARI AKTIVITAS PENDANAAN - - - - -
KENAIKAN NETO KAS DAN SETARA KAS 5.059.785.210 7.435.951.545 9.492.600.981 10.467.103.116 9.752.562.943
KAS DAN SETARA KAS PADA AWAL TAHUN 2.998.908.343 8.058.693.553 15.494.645.098 24.987.246.080 35.454.349.195
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN 8.058.693.553 15.494.645.098 24.987.246.080 35.454.349.195 45.206.912.138
a. Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Secara umum Perseroan menghasilkan arus kas operasi yang positif. Selama tahun proyeksi
mengalami fluktuasi tren dengan rata-rata aktivitas operasi berada diangka Rp 8.691.600.759.
b. Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Dari aktivitas investasi selama tahun proyeksi mengalami tren negatif karena pembelian capex
dengan rata-rata aktivitas investasi Perseroan berada diangka Rp(250.000.000).
c. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Tidak ada arus kas dari aktivitas pendanaan selama tahun proyeksi
.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 23
Page 37
2.3 PENDEKATAN PENDAPATAN
Beberapa tahapan dalam menerapkan pendekatan pendapatan dengan metode diskonto arus kas yaitu:
1. Identifikasi aset operasional dan non operasional
2. Pemilihan model arus kas
3. Estimasi periode eksplisit
4. Proyeksi arus kas
5. Estimasi nilai terminal
6. Estimasi tingkat diskonto
7. Estimasi indikasi nilai
2.3.1 Aset Operasional dan Non Operasional
Seluruh akun di dalam neraca perseroan merupakan aset operasional.
2.3.2 Model Arus Kas
Model arus kas yang digunakan adalah arus kas bersih untuk modal perusahaan (Free Cash Flow to Firm
(FCFF)).
2.3.3 Periode Eksplisit
Periode eksplisit diestimasikan selama 5 periode proyeksi dengan asumsi kondisi keuangan perseroan sudah
dalam tahap yang stabil.
2.3.4 Proyeksi Arus Kas
Proyeksi arus kas bersih untuk modal sendiri didasarkan kepada informasi keuangan propektif yang disusun
oleh perseroan dan telah disesuaikan.
2.3.5 Nilai Terminal
Nilai terminal diestimasikan menggunakan Model Pertumbuhan Konstan/Gordon Growth Model, Model ini
adalah pertumbuhan konstan mengasumsikan aset tumbuh (menurun) pada tingkat yang konstan selamanya.
Model ini sesuai untuk aset dengan umur tidak dapat ditentukan (indefinite life).
DR
GGM : Nilai Terminal : 194.642.851.922
Do : Arus Kas Bersih pada akhir tahun proyeksi : 9.752.562.943
g : Pertumbuhan konstan : 4,0%
DR : Tingkat Diskonto : 9,21%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 24
Page 38
2.3.6 Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto diestimasikan dengan menggunakan metode Weighted Average Cost of Capital (WACC).
Biaya Ekuitas (Ke) diestimasikan dengan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) sebagai berikut:
Biaya Ekuitas (Ke) = Rf + (Beta x (Rm-Rf)) - RBDS
Rf (Risk Free) : Tingkat Pengembalian Bebas Resiko
Beta : Risiko sistemik usaha
Rm (Risk Market) : Tingkat Pengembalian Pasar
RBDS :
Tingkat Diskonto = (We x Ke) + (Wd x (Kd x (1-T))
Bobot modal sendiri pada usaha
We : tertentu
Ke (Cost Of Equity) : Tingkat pengembalian modal sendiri
Bobot modal pinjaman pada usaha
Wd : tertentu
Tingkat pengembalian modal
Kd (Cost Of Debt) : pinjaman
T (Tax) : Pajak perseroan yang berlaku
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Ke 10,58% 10,58% 10,58% 10,58% 10,58%
Kd 8,44% 8,44% 8,44% 8,44% 8,44%
We 66% 66% 66% 66% 66%
Wd 34,3% 34,3% 34,3% 34,3% 34,3%
DER 52,13% 52,13% 52,13% 52,13% 52,13%
Beta Unlevered 0,54 0,54 0,54 0,54 0,54
Beta Re-Levered 0,82 0,82 0,82 0,82 0,82
Beta 0,82 0,82 0,82 0,82 0,82
Risk Free 6,70% 6,70% 6,70% 6,70% 6,70%
Equity Risk Premium 7,03% 7,03% 7,03% 7,03% 7,03%
RBDS 1,87% 1,87% 1,87% 1,87% 1,87%
Tax Rate 0% 0% 0% 0% 22%
WACC 9,85% 9,85% 9,85% 9,83% 9,21%
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 25
Page 39
2.3.7 Indikasi Nilai dari Arus Kas Terdiskonto
(dalam Rupiah)
2026 2027 2028 2029 2030
Keterangan
Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des Jan - Des
EBIT 245.134.813 2.500.999.592 4.534.980.981 5.464.078.803 6.014.040.547
Tax - - - (27.058.147) (1.323.088.920)
Depresiasi & amortisasi 5.308.541.124 5.318.847.990 5.329.154.857 5.339.461.723 5.349.768.589
Perubahan Modal Kerja (243.890.727) (133.896.038) (121.534.857) (59.379.263) (38.157.273)
Capex (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000) (250.000.000)
Arus Kas Bersih (FCFF) 5.059.785.210 7.435.951.545 9.492.600.981 10.467.103.116 9.752.562.943
TV 194.642.851.922
Discount Rate 9,85% 9,85% 9,85% 9,83% 9,21%
Discount Factor 0,91 0,83 0,75 0,69 0,63
Nilai Kini 4.606.213.336 6.162.550.416 7.161.782.492 7.190.034.565 128.561.104.703
Indikasi Nilai Aset Operasional 153.681.685.513 156.680.593.856
Kas 2.998.908.343
Properti Investasi 23.253.000.000
179.933.593.856
Utang (773.105)
Indikasi Nilai 100% Ekuitas 179.932.820.751
Indikasi Nilai 100% Ekuitas 100,00% 179.932.820.751
DLOC 0,00% -
Nilai Ekuitas - DLOC 179.932.820.751
DLOM 30,00% (53.979.846.225)
Nilai 100% Ekuitas 125.952.974.526 1,83
Estimasi indikasi nilai 100% ekuitas sebelum pengenaan Diskon dan atau Premi dengan menggunakan
Pendekatan Pendapatan pada tanggal Kajian adalah Rp179.932.820.751
2.4 DISKON DAN PREMI
Diskon dan premi merupakan suatu perhitungan yang terkait dengan ada atau tidaknya tingkat kendali serta
tingkat kemampuan untuk dipasarkan dari objek yang dinilai. Indikasi nilai yang dihasilkan akan diaplikasikan
diskon dan premi sesuai dengan karakteristik kendali dan kemampuan objek yang dinilai untuk dipasarkan,
yang kemudian akan menjadi basis untuk menentukan nilai pasar dari unit bisnis yang bersangkutan.
Penerapan diskon tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
tentang Kajian dan Penyajian Laporan Kajian Bisnis di Pasar Modal yang mewajibkan penggunaan Diskon
Likuiditas Pasar (Discount for Lack of Marketability-DLOM) dan Premi Pengendalian (Premium for Control-
CP) atau Diskon Pengendalian (Discount for Lack of Control-DLOC). Besaran Diskon Likuiditas Pasar untuk
saham mayoritas pada perusahaan tertutup sebesar 20% - 40%.
2.4.1 DISKON DAN PREMI KENDALI (DLOC/POC)
Penerapan pendekatan dan metode Kajian menghasilkan indikasi nilai yang bersifat kendali atau non kendali.
Sifat kendali atau non kendali indikasi nilai dari pendekatan dan metode yang diterapkan perlu disesuaikan
dengan sifat pengendalian dari objek Kajian dengan cara menerapkan diskon atau premi pengendalian.
Pendekatan pendapatan metode DCF pada Kajian ini menghasilkan indikasi nilai yang bersifat kendali
sedangkan objek Kajian juga bersifat kendali sehingga tidak diperlukan penyesuaian kendali terhadap
indikasi nilai yang dihasilkan oleh pendekatan pendapatan metode DCF.
Penyesuaian Indikasi Nilai Ekuitas
Indikasi Nilai Ekuitas Indikasi Nilai Ekuitas
Market Setelah DLOC
Setelah DLOC (Rupiah) Setelah DLOC (Rupiah)
(DLOC) (Rupiah)
179.932.820.751 0% - 179.932.820.751
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 26
Page 40
2.4.2 DISKON MARKETABILITAS (DLOM)
Indikasi nilai dengan sifat pengendalian yang telah disesuaikan kemudian akan diterapkan Diskon Likuiditas
Pasar (Discount for Lack of Marketability-DLOM). Dalam menentukan indikasi nilai dalam Kajian Saham PT
Mandala Prima Perkasa sebesar 100% saham digunakan DLOM sebesar 30%.
Penyesuaian Indikasi Nilai Ekuitas
Indikasi Nilai Ekuitas Indikasi Nilai Ekuitas
Market Setelah DLOM
Setelah DLOM (Rupiah) Setelah DLOM (Rupiah)
(DLOM) (Rupiah)
179.932.820.751 30% (53.979.846.225) 125.952.974.526
2.5 PENDEKATAN BIAYA/ASET
Estimasi indikasi nilai ekuitas dalam pendekatan biaya dengan metode penjumlahan dengan menerapkan
Adjusted Book Value Method (ABVM).
2.2.1. ADJUSTED BOOK VALUE METHOD/ABVM
Penilaian berdasarkan metode Adjusted Book Value memerlukan serangkaian penyesuaian dalam rangka
memperoleh refleksi nilai buku dari utang dan aset pada masa sekarang. Penyesuaian akan dilakukan
terhadap Laporan Keuangan terakhir Perusahaan yaitu 31 Desember 2025, laporan keuangan audited.
ASET LANCAR
Kas dan Bank dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Piutang Usaha dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Persediaan dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Pajak dibayar dimuka dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
ASET TIDAK LANCAR
Aset Tetap Terdapat adjustment positif sebesar Rp63.800.577.102
sehingga Aset tetap yang semula Rp61.341.422.898
menjadi Rp125.142.000.000
Properti Investasi Terdapat Adjustment positif sebesar Rp17.148.000.000
sehingga Properti Investasi yang semula
Rp6.105.000.000 menjadi Rp23.253.000.000
Aset Tak Berwujud dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Utang lain-lain dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Utang pajak dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Biaya yang masih harus dibayar dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 27
Page 41
Utang pembiayaan konsumen dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang lain-lain dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Utang Bank dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Utang pembiayaan konsumen dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
JUMLAH EKUITAS
Modal Saham dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Laba Ditahan dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Komponen Ekuitas Lainnya dinilai sesuai yang tercantum dalam laporan posisi
keuangan
Selisih Revaluasi Terdapat penyesuaian sebesar Rp80.948.577.102 karena
adanya selisih positif dari penilaian terhadap akun Aset
Tetap dan Properti Investasi
Penyesuaian pada laporan posisi keuangan yang didasarkan pada laporan keuangan audit
Perseroan per 31 Desember 2025 dapat disajikan sebagai berikut :
(dalam Rupiah)
Nilai Buku Penyesuaian Nilai Pasar
Balance Sheet
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank 2.998.908.343 - 2.998.908.343
Piutang Usaha 506.381.312 - 506.381.312
Persediaan 639.244.509 - 639.244.509
Uang Muka & Biaya Dibayar Dimuka 128.797.940 - 128.797.940
Pajak dibayar dimuka - - -
JUMLAH ASET LANCAR 4.273.332.104 4.273.332.104
Piutang Pihak Berelasi - - -
Aset Tetap - neto 61.341.422.898 63.800.577.102 125.142.000.000
Tanah 15.777.873.660 125.142.000.000
Bangunan 43.482.713.798
Perabotan 4.760.426
Peralatan dan Inventaris Kantor 219.667.843
Kendaraan 418.125.000
Mesin dan Peralatan 1.288.776.041
Software dan Hardware 149.506.130
Properti Investasi 6.105.000.000 17.148.000.000 23.253.000.000
Aset Tak Berwujud
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 67.446.422.898 148.395.000.000
JUMLAH ASET 71.719.755.002 152.668.332.104
Utang Usaha 813.425.324 - 813.425.324
Utang lain-lain 117.058.497 - 117.058.497
Utang pajak 586.190.243 - 586.190.243
Biaya yang masih harus dibayar 1.193.011.386 - 1.193.011.386
Utang pembiayaan konsumen 120.618.100 - 120.618.100
JUMLAH LIABILITAS JANGKA PENDEK 2.830.303.550 2.830.303.550
Utang lain-lain 773.105 - 773.105
Utang Bank - - -
Utang pembiayaan konsumen 17.229.984 - 17.229.984
JUMLAH LIABILITAS JANGKA PANJANG 18.003.089 18.003.089
JUMLAH LIABILITAS 2.848.306.639 2.848.306.639
Modal Saham 226.040.500.000 - 226.040.500.000
Tambahan modal disetor 50.000.000 - 50.000.000
Akumulasi rugi (157.219.051.637) - (157.219.051.637)
Selisih Revaluasi 80.948.577.102 80.948.577.102
JUMLAH EKUITAS 68.871.448.363 149.820.025.465
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 71.719.755.002 152.668.332.104
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 28
Page 42
Indikasi 100% Nilai Pasar Ekuitas 149.820.025.465
Indikasi 100% Nilai Pasar Ekuitas 149.820.025.465 100,00%
DLOC (0%) - 0%
Indikasi 100% Nilai Pasar Ekuitas setelah DLOC 149.820.025.465
DLOM (30%) (44.946.007.640) 30%
Nilai Pasar 100% Ekuitas (Rupiah) 104.874.017.826
Nilai Pasar 100% Ekuitas (Pembulatan) 104.874.000.000 1,523
2.6 DISKON DAN PREMI
Diskon dan premi merupakan suatu perhitungan yang terkait dengan ada atau tidaknya tingkat kendali serta
tingkat kemampuan untuk dipasarkan dari objek yang dinilai. Indikasi nilai yang dihasilkan akan diaplikasikan
diskon dan premi sesuai dengan karakteristik kendali dan kemampuan objek yang dinilai untuk dipasarkan,
yang kemudian akan menjadi basis untuk menentukan nilai pasar dari unit bisnis yang bersangkutan.
Penerapan diskon tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal yang mewajibkan penggunaan
Diskon Likuiditas Pasar (Discount for Lack of Marketability-DLOM) dan Premi Pengendalian (Premium for
Control-CP) atau Diskon Pengendalian (Discount for Lack of Control-DLOC).
2.6.1 DISKON DAN PREMI KENDALI (DLOC/POC)
Penerapan pendekatan dan metode penilaian menghasilkan indikasi nilai yang bersifat kendali atau non
kendali. Sifat kendali atau non kendali indikasi nilai dari pendekatan dan metode yang diterapkan perlu
disesuaikan dengan sifat pengendalian dari objek penilaian dengan cara menerapkan diskon atau premi
pengendalian. Pendekatan Aset/Biaya metode ABVM pada penilaian ini menghasilkan indikasi nilai yang
bersifat kendali dan juga objek penilaian bersifat kendali sehingga tidak diperlukan penyesuaian kendali
terhadap indikasi nilai yang dihasilkan oleh pendekatan Aset/Biaya metode ABVM.
Penyesuaian Indikasi Nilai Ekuitas
Indikasi Nilai Ekuitas Indikasi Nilai Ekuitas
Market Setelah DLOC
Setelah DLOC (Rupiah) Setelah DLOM (Rupiah)
(DLOC) (Rupiah)
149.820.025.465 0% - 149.820.025.465
2.6.2 DISKON MARKETABILITAS (DLOM)
Indikasi nilai dengan sifat pengendalian yang telah disesuaikan kemudian akan diterapkan Diskon Likuiditas
Pasar (Discount for Lack of Marketability-DLOM). Dalam menentukan diskon marketabilitas objek penilaian
dilakukan pertimbangan sebagai berikut:
• Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, besarnya diskon marketabilitas untuk pemegang
saham mayoritas dari perusahaan tertutup adalah 20% - 40%.
• Penetapan DLOM sebesar 30% didasarkan pada status Perusahaan sebagai entitas tertutup yang
menyebabkan tidak adanya pasar likuid untuk perdagangan saham secara bebas. Besaran diskon ini
mencerminkan estimasi biaya transaksi yang tinggi, risiko asimetri informasi bagi investor luar, serta
durasi waktu yang lama yang dibutuhkan untuk mengonversi kepemilikan saham menjadi kas tanpa
kehilangan nilai yang signifikan.
• Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dalam menentukan indikasi nilai dalam penilaian Saham
PT Mandala Prima Perkasa digunakan DLOM sebesar 30%.
Indikasi Nilai Ekuitas Penyesuaian Indikasi Nilai Ekuitas Indikasi Nilai Ekuitas
Setelah DLOC (Juta Market Setelah DLOM (Juta Setelah DLOM
Rupiah) (DLOM) Rupiah) (Rupiah)
149.820.025.465 30% (44.946.007.640) 104.874.017.826
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 29
Page 43
2.7 KESIMPULAN NILAI
Indikasi Nilai Saham
Keterangan Indikasi Nilai Bobot
(Rupiah)
Pendekatan Pendapatan 125.952.974.526 60% 75.571.784.715
Pendekatan Biaya/Aset 104.874.017.826 40% 41.949.607.130
Kesimpulan Nilai 100% Ekuitas 117.521.391.846
Pembulatan 117.521.392.000
Berdasarkan praktek penilaian yang normal dan berdasarkan informasi yang relevan, kondisi pasar,
perhitungan serta analisa yang dilakukan serta faktor lain yang berkaitan dengan penilaian dan berpedoman
pada kondisi pembatas dalam laporan ini, maka kami berkesimpulan bahwa Nilai Pasar 100% Ekuitas PT
Mandala Prima Perkasa pada tanggal 31 Desember 2025 adalah :
Rp 117.521.392.000,-
(Seratus Tujuh Belas Miliar Lima Ratus Dua Puluh Satu Juta
Tiga raatus Sembilan Puluh Dua Ribu Rupiah)
2.8 KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL PENILAIAN
Tidak terdapat kejadian-kejadian penting terkait objek penilaian yang diketahui maupun yang patut diketahui
sampai dengan tanggal laporan yang dapat mempengaruhi nilai objek penilaian.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 30
Page 44
KONDISI DAN SYARAT PEMBATAS
1. Kami tidak melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen yang diterima dari pemberi tugas, oleh
karenanya kami tidak menjamin kebenaran atau keabsahannya. Penilaian didasarkan dengan asumsi
semua dokumen adalah benar sesuai dengan aslinya.
2. Kondisi-kondisi tidak wajar yang tersembunyi maupun perjanjian yang tidak disampaikan kepada pihak
KJPP yang dapat membuat efek negatif terhadap nilai, tidak menjadi tanggung jawab kami sebab
merupakan bagian pekerjaan ahli lainnya.
3. Informasi, perkiraan dan pendapat yang kami peroleh dari berbagai sumber, kami anggap merupakan
informasi yang dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu, kami tidak melakukan pengecekan lebih
lanjut. Bilamana dikemudian hari diketahui ada informasi yang tidak benar yang diberikan kepada kami,
maka kami tidak dapat diminta pertanggung jawabannya.
4. Laporan harus digunakan secara keseluruhan yang tidak terpisahkan dan terbatas pada maksud dan
tujuan penilaian yang ditentukan. Laporan ini tidak berlaku untuk maksud dan tujuan yang berbeda.
5. Penilai dibebaskan dari segala tuntutan dan kewajiban yang berkaitan dengan penggunaan laporan yang
tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dari laporan.
6. Kami tidak mempunyai kepentingan apapun atas objek yang kami nilai, baik sekarang maupun
dikemudian hari, dan tugas kami untuk melaksanakan penilaian ini tidak tergantung dari nilai yang kami
laporkan.
7. Penilai tidak bertanggung jawab terhadap pihak-pihak lain diluar pemberi tugas dan pengguna laporan,
kecuali disebutkan sebelumnya dalam surat penugasan dan laporan penilaian.
8. KJPP tidak berkewajiban untuk memberikan kesaksian atau hadir didepan pengadilan atau pejabat
pemerintahan mengenai penilaian ini, terkecuali jika telah diadakan persetujuan sebelumnya.
9. Siapapun yang mendapat laporan ini atau tembusan dari padanya tidak ada hak untuk mengumumkan
atau mempergunakannya untuk keperluan apapun tanpa izin dari penilai atau pemiliknya, kecuali
pemiliknya sendiri.
10. Kami berhak dan tidak berkewajiban merevisi dan memperbaiki isi dalam laporan penilaian ini apabila
terdapat data atau informasi yang kami peroleh sesudah penyelesaian laporan ini.
11. Kami menegaskan bahwa laporan ini tidak berlaku umum, tetapi hanya khusus kepada pengguna laporan
yang tercantum di dalam laporan penilaian ini.
Laporan Penilaian Bisnis PT Mandala Prima Perkasa 31
Names mentioned 27 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.2 ×4
unresolved
org
Sugianto Prasodjo dan Rekan
p.2 ×2
unresolved
org
KJPP Sugianto Prasodjo
p.2
unresolved
org
PT Mandala Prima Perkasa Bentuk Kepemilikan
p.3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.3 ×9
unresolved
org
Indonesia
p.4
unresolved
org
Pusat Statistik
p.4 ×5
unresolved
org
KJPP SUGIANTO PRASODJO DAN REKAN Public Appraisers
p.6
unresolved
person
Consultants Ginanjar Rizki Tarekat
p.6
unresolved
person
Ginanjar Rizki Tarekat, S.T, M.Ec.Dev.,MAPPI (Cert)
· Partner
p.6 ×3
unresolved
person
Penilai Fikri Mauriza Hazmi
p.9
unresolved
—
MAPPI No. 17-S-07797
p.9
unresolved
org
Penilai Properti Ridho Mohammad
p.9
unresolved
org
Menteri Keuangan. Penyelia
p.11
unresolved
person
Yuli Kristi
· Notaris
p.14
unresolved
org
PT Triputra Milenia Perkasa
p.15
unresolved
org
PT Trisurya Inti Pratama
p.15
unresolved
org
PT MANDALA PRIMA PERKASA Kinerja
p.17
unresolved
org
Sarjen dan Rekan
p.17 ×2
unresolved
org
Susianto Arona Ignatius & Rekan
p.17 ×2
unresolved
org
Kementerian Pariwisata
p.30
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
11163 ms
12 Sep 2026 22:05
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'CONFLICT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}