Back to announcement
20260824_SOFA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_32132413_lamp4.pdf
Asset transaction Needs review SOFASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 128
Page 1
Page 2
Kantor Jasa Penilai Publik The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Property, Business Valuation & Advisory Website: www.fdipartners.co
Licence No. 2.22.0176 Phone (62 21) 27875911
KMK 460/KM.1/2022
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Jakarta, 21 Agustus 2026
Kepada Yth,
PT Solusi Environment Asia Tbk
Sequis Center Lantai 3, Unit 305,
Jl. Jenderal Sudirman No. 71, Senayan,
Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12190
No. Laporan : 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Hal : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk
Dengan hormat,
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT SOLUSI ENVIRONMENT ASIA TBK
Berdasarkan Surat Penawaran No.024/FDI/PB-FS/VI/2026 tanggal 25 Juni 2026, KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Solusi Environment Asia Tbk (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau SOFA”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk, per 30 Juni 2026 berupa penambahan
yaitu:
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk
Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA yang diperuntukkan dalam rangka
memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material
dan perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya.
Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis Kelayakan Pasar; b. Analisis Kelayakan Teknis; c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis; d. Analisis Model Manajemen; dan e. Analisis Kelayakan Keuangan. Analisis atas Kelayakan Pasar Secara keseluruhan, industri furnitur Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga, perkembangan industri yang relatif stabil, serta investasi yang masih berjalan. Pada semester I 2026, investasi industri furnitur mencapai sekitar Rp2,13 triliun, sementara perdagangan furnitur juga menunjukkan posisi yang positif dengan surplus sekitar US$412,95 juta pada Januari–Mei 2026. Ke depan, pasar domestik menjadi sasaran yang realistis untuk diperkuat, terutama melalui pelanggan korporasi dan ritel kelas menengah. Sementara itu, pasar ekspor dapat dikembangkan secara bertahap, khususnya ke pasar alternatif seperti Timur Tengah dan India. Di sisi lain, meskipun skala Perseroan masih dalam tahap pengembangan dibandingkan beberapa perusahaan furnitur pembanding, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Perseroan untuk lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar dan membangun keunggulan yang lebih spesifik. Persaingan dengan produsen besar seperti Tiongkok dan Vietnam memang cukup ketat, terutama dari sisi volume dan harga, sehingga Perseroan perlu mengambil pendekatan yang berbeda melalui kualitas, desain, dan produk bernilai tambah. Dengan demikian, strategi yang paling sesuai adalah memperkuat pasar domestik dan skala usaha terlebih dahulu, kemudian memperluas pasar ekspor secara selektif sesuai dengan kemampuan dan kesiapan Perseroan. Analisis atas Kelayakan Teknis Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat kegiatan tersebut dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang berfokus pada pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi sebagai perusahaan induk tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun penggunaan teknologi produksi tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh kesiapan struktur tata kelola (governance structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara Perseroan, entitas anak, dan entitas operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian tetap dilaksanakan oleh entitas operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini didukung Halaman 2 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 4
oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai perusahaan terbuka, pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya manusia dan tata kelola yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan pengendalian pada tingkat korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai perusahaan induk memberikan fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi ke berbagai sektor, mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan kemitraan strategis, serta meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan konsolidasian. Meskipun terdapat kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas struktur grup, perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan terhadap kinerja entitas investee dan perubahan regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan selektivitas dalam menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, pola bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke depan. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk menjalankan kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan kualifikasi yang memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan infrastruktur, regulasi pasar modal, dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI 64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber daya manusia terfokus pada personil di level pengendali tanpa penambahan tenaga kerja operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan sumber daya manusia yang tersedia dan melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Manajemen Portofolio yang bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio, koordinasi dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan pembagian fungsi dan tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas investee, serta didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan strategis pada tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien. Analisis atas Kelayakan Keuangan Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium melalui entitas anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk dijalankan. Halaman 3 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 5
Page 6
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1 DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5 DAFTAR GRAFIK........................................................................................................................7 DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... 8 BAB I ................................................................................................................................. 9 PENDAHULUAN .......................................................................................................................9 1.1 Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 9 1.2 Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 9 1.3 Pengguna Laporan ......................................................................................................... 9 1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 9 1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................. 10 1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .............................................................................. 10 1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ......................................................................... 10 1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi....................................................................................... 10 1.9 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ....................................................... 10 1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas ....................................................................................... 11 1.11 Asumsi Dan Asumsi Khusus ........................................................................................... 11 1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi .................................................................. 11 1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ........... 12 1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................. 12 1.15 Data dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 12 1.16 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 12 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 13 BAB II ............................................................................................................................... 14 ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN ........................................................................ 14 2.1. Data dan Informasi....................................................................................................... 14 2.2. Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 14 2.3. Gambaran Umum SOFA .............................................................................................. 14 2.4. Laporan Keuangan SOFA ............................................................................................. 24 2.5. Analisis Laporan Keuangan SOFA ................................................................................. 30 2.6. Prospek Usaha ............................................................................................................. 34 BAB III ............................................................................................................................... 35 ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 35 3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 35 3.2. Kondisi Pasar ............................................................................................................... 39 3.3. Persaingan Pasar .......................................................................................................... 43 3.4. Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 44 3.5. Prospek Industri ............................................................................................................ 44 3.6. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 44 BAB IV ............................................................................................................................... 45 ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 45 4.1. Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 45 4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Induk ................................................................................ 45 4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Perusahaan Induk ......................................................... 46 4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium .................................................................................... 50 4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 51 BAB V ............................................................................................................................... 52 ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 52 5.1 Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 52 5.2 Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 53 5.3 Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 53 5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 54 5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 55 5.6 Analisis SWOT.............................................................................................................. 55 Halaman 5 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 7
5.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 57 BAB VI ............................................................................................................................... 58 ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 58 6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 58 6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 59 6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 59 6.4 Manajemen Risiko ........................................................................................................ 59 6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 60 6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 63 6.7 Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................. 64 6.8 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 65 BAB VII ............................................................................................................................... 66 ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 66 7.1 Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 66 7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 66 7.3 Proyeksi Keuangan Konsorsium ..................................................................................... 67 7.4 Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 70 7.4.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 70 7.4.2 Terminal Value ............................................................................................................. 72 7.4.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 72 7.5 Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 73 7.6 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 79 BAB VIII ............................................................................................................................... 80 KESIMPULAN .......................................................................................................................... 80 8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 80 8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 80 8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 80 8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 81 8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 81 8.6 Kesimpulan .................................................................................................................. 82 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 83 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 84 LAMPIRAN – LAMPIRAN ........................................................................................................... 86 Halaman 6 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 8
DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara ...................................................................... 35 Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy) .................................................. 37 Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %) ................................................................. 37 Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 38 Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar Rupiah Tahun 2026 ......................................................... 39 Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026 ........................................ 40 Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026 ................................................... 41 Grafik 8. Nilai Ekpor dan Impor Industri Furnitur 2026 ................................................................. 42 Grafik 9. Pemetaan Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait ........................................................... 43 Grafik 10. Struktur Kepemilikan .................................................................................................. 49 Grafik 11. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI ............................................ 63 Grafik 12. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI ................................ 64 Halaman 7 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 9
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64210 ........................................................................... 10
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA ................................................................................... 18
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah) ............................................. 25
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah) .................................................... 27
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah) ................................................................... 29
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan ................................................ 31
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi) ....................................................... 31
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan ................................................................................................. 32
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara .............................................................................. 36
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 39
Tabel 11. Susunan Pemegang Saham WNA .................................................................................. 47
Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNG ................................................................................. 48
Tabel 13. Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 66
Tabel 14. Proyeksi Entitas Konsorsium ........................................................................................... 67
Tabel 15. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................. 69
Tabel 16. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................. 69
Tabel 17. Cost of Equity (CoE) ...................................................................................................... 71
Tabel 18. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ........................ 72
Tabel 19. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk .... 73
Tabel 20. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk ........................................................................................................................... 74
Tabel 21. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ...... 75
Tabel 22. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk 76
Tabel 23. Analisis Inkremental ..................................................................................................... 76
Tabel 24. Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 78
Tabel 25. Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036) ....................................................................... 93
Tabel 26. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................. 99
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ................................ 100
Tabel 28. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ................................................................... 101
Tabel 29. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun
2026-2058) ............................................................................................................... 102
Tabel 30. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Proyeksi 2026-2058) .................................................................................................. 106
Tabel 31. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi
2026-2058) ............................................................................................................... 112
Tabel 32. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Periode Proyeksi 2026-2058) ...................................................................................... 115
Tabel 33. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ............. 121
Tabel 34. Analisis Inkremental ................................................................................................... 124
Halaman 8 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Identitas Status Konsultan
Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
Penilai Publik sebagai berikut:
• Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
ini.
1.2 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah SOFA dengan informasi sebagai
berikut:
a. Nama Pemberi Tugas : PT Solusi Environment Asia Tbk
b. Alamat : Sequis Center Lantai 3, Unit 305, Jl. Jenderal Sudirman No.
71, Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
DKI Jakarta 12190
c. Bidang Usaha : Barang Rumah Tangga
d. No. Telepon/Fax : 021 52907351
e. Alamat Email : corsec@solusienvironmentasia.com
f. Penanggung Jawab : Bapak Ezra Mohammed Dhanaguna
g. Jabatan : Direktur
1.3 Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam hal ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.
1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan
Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
(KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA:
Halaman 9 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 11
Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64210
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk
Sumber: Informasi Manajemen
1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).
1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
Kegiatan Usaha (KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA yang diperuntukkan dalam
rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik
(terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK 17”).
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya.
1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.
1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi
a. Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
terima dari pemberi tugas.
b. Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
c. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
(data yang relevan).
d. Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.
1.9 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
internasional. Sumber data tersebut antara lain:
a. Bank Indonesia.
b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain
Halaman 10 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 12
c. Badan Pusat Statistik.
d. Pemerintah Kota dan Kabupaten.
e. Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
dengan obyek studi kelayakan.
f. Media cetak dan elektronik resmi.
g. Sumber lainnya.
h. S&P Capital IQ.
1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas
a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
b. Penilai telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
penilaian/studi kelayakan;
c. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke
akuratannya;
d. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty);
e. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan;
f. Laporan Penilaian/Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang
bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan;
g. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian/Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai
akhir.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Penilaian dari Pemberi Tugas.
1.11 Asumsi dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam studi kelayakan.
1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi
Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
kelayakan.
Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.
Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.
Halaman 11 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 13
1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar
Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).
1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan
Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis atas Kelayakan Pasar;
b. Analisis atas Kelayakan Teknis;
c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis;
d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.
1.15 Data dan Informasi Pendukung
Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
sebagai berikut:
• Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 6 Juli 2026
dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses studi
kelayakan.
• Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Studi Kelayakan
Obyek Studi Kelayakan merupakan SOFA. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen hukum
yang relevan dengan Obyek Studi Kelayakan merupakan dokumen-dokumen hukum yang
juga melekat pada SOFA. Adapun dokumen hukum SOFA, yang mencakup perijinan dan
legalitas SOFA, diuraikan kemudian dalam Gambaran Umum SOFA.
1.16 Pernyataan Independensi Konsultan
a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
yang kami anggap relevan;
d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami
tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
Halaman 12 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 14
e. Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan Konsultan tidak terafiliasi dengan SOFA
selaku Pemberi Tugas dan juga tidak terafiliasi dengan SOFA selaku objek kajian studi
kelayakan maupun pihak-pihak lain yang terafiliasi dengan perusahaan.
1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
Dari tanggal studi kelayakan (cut-off off date) per 30 Juni 2026 hingga Laporan Studi Kelayakan
ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
yang dapat mempengaruhi hasil studi kelayakan.
Halaman 13 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 15
BAB II
ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Data dan Informasi
Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:
• Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli, Bambang, Sulistyanto, Dadang & Ali, yang telah
di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong, M.Si., CPA, sebagaimana
tertuang dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21
Agustus 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Proyeksi keuangan SOFA tahun 2026 sampai dengan 2058 yang disusun oleh manajemen
SOFA.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari SOFA serta pihak pihak lain yang relevan untuk
penugasan.
• Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal SOFA baik dari media cetak
maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
• Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
dokumen.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal SOFA serta pihak pihak lain yang
relevan untuk penugasan.
2.2. Pelaksanaan Wawancara
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 6 Juli 2026
dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.
2.3. Gambaran Umum SOFA
a. Latar Belakang SOFA
PT Solusi Environment Asia Tbk dahulu merupakan PT Pratama Prima Cipta kemudian menjadi
PT Boston Furniture Industries Tbk selanjutnya disebut “Perusahaan” atau “SOFA”. Perusahaan
secara konsisten mengembangkan kapasitas produksi, jaringan ritel, serta portofolio produk
premium, yang diperkuat dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020
dengan nama PT Boston Furniture Industries Tbk. Perusahaan didirikan berdasarkan Akta
pendirian yang dinyatakan dalam Akta nomor 6 tanggal 6 Juli 2012 dari Irene Yulia, S.H.,
notaris yang berkedudukan di Jakarta. Akta pendirian perusahaan tersebut telah mendapat
pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat
Keputusan Nomor. AHU-40585.AH.01.01. Tahun 2012 tanggal 26 Juli 2012. Anggaran dasar
perusahaan beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan akta Nomor 171 tanggal
18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, mengenai
perubahan nama “Perusahaan” dari PT Boston Furniture Industries Tbk menjadi PT Solusi
Environment Asia Tbk dan perubahan beberapa ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan.
Akta perubahan anggaran dasar perusahaan tersebut telah mendapat pengesahan dari
Halaman 14 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 16
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat Keputusan Nomor.
AHU-AH.01.09-0000204 tanggal 2 Januari 2026.
Perusahaan telah menerima Surat Pernyataan Efektif dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
Modal atas nama Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dengan surat No. S-
178/D.04/2020 tanggal 26 Juni 2020 untuk melakukan penawaran umum saham kepada
masyarakat sebanyak 400.000.000 saham biasa dan sebanyak 400.000.000 Waran Seri I
dengan nilai nominal Rp10 per saham dengan harga penawaran Rp100 per saham. Saham-
saham tersebut seluruhnya telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia tanggal 07 Juli 2020.
Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jalan Milenium 15 Blok I-2
No.5A Peusar, Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Hasil produksi Perusahaan
berupa mebel kualitas tinggi dan menggunakan merek Blackwood. Perusahaan memulai
kegiatan komersilnya tahun 2014. Sehubungan dengan pengambilalihan saham pengendali
oleh PT Asia Investment Capital pada bulan Oktober 2025, Perusahaan mulai melakukan
ekspansi bisnis, salah satunya di bidang pengelolaan sampah menjadi energi listrik melalui
perusahaan anak.
b. Perizinan
Perizinan yang telah diperoleh SOFA, antara lain sebagai berikut:
• Akta Pendirian Perusahaan No. 06 Tanggal 06 Juli 2012 oleh Irene Yulia, SH., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AH-40585.AH.01.01.Tahun 2012
Tanggal 26 Juli 2012 tentang pengesahan badan hukum perseroan;
• Akta No. 50 Tanggal 29 November 2016 oleh Vivi Novita Rido, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.03-0102987 Tanggal 28 November 2016 tentang perubahan pengangkatan
kembali;
• Akta No. 353 Tanggal 21 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0085073.AH.01.02.Tahun
2019 tentag persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas;
• Akta No. 523 Tanggal 28 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0088235.AH.01.02.Tahun
2019 tanggal 29 Oktober 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar
perseroan terbatas;
• Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 0004380.AH.01.02.TAHUN 2020
tanggal 17 Januari 2020 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
terbatas;
• Akta No. 52 Tanggal 11 Agustus 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
AH.01.03-0380936 tanggal 1 September 2020 tentang perubahan peningkatan modal
ditempatkan atau disetor;
Halaman 15 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 17
• Akta No. 26 Tanggal 30 Agustus 2021 oleh Syarifudin, SH., Notaris di Tangerang, akta
telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat
Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0454261
Tanggal 29 September 2021 tentang perubahan pasal 9, pasal 10 dan pasal 11;
• Akta No. 18 Tanggl 11 November 2021 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
AH.01.03-0480402 tanggal 2 Desember 2021;
• Akta No. 3 Tanggal 14 Juni 2024 oleh Bastian Harijanto, SH., MKn., Notaris di
Tangerang, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.09-0224015 tanggal 9 Juli 2024 tentang perubahan direksi dan komisaris;
• Akta No. 171 tanggal 18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000058.AH.01.02.TAHUN 2026
Tanggal 2 Januari 2026 tentang perubahan nama perseroan terbatas;
• Akta No. 187 Tanggal 19 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.09-0017677 Tanggal 27 Januari 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
• Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-
0346218 Tanggal 24 Juni 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
• Akta No. 423 Tanggal 30 Juni 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
Surat Pemberitahuan Penerimaan Penyampaian Laporan Tahunan No. AHU-AH.01.01-
0023651 Tanggal 2 Juli 2026 tentang penyampaian laporan tahunan;
• Perizinan berusaha berbasis risiko sertifikat standar 91203083029640001 untuk industri
furnitur dari kayu;
• Persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha nomor
28092210213603078 untuk industri furnitur dari kayu;
• Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
tanggal 12 Februari 2026 untuk industri furnitur dari kayu;
• Konfirmasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha No.
110626102131741528 untuk aktivitas perusahaan holding;
• Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
tanggal 11 Juni 2026 untuk aktivitas perusahaan holding;
• Sucofindo International Certification Services No. VLK 01069 atas nama PT Boston
Furniture Industries Tbk untuk kegiatan usaha industri dan produk furniture dari kayu
kapasitas 1.600 pcs berlaku dari 25 Juni 2025 sampai dengan 24 Juni 2031;
• Surat keterangan terdaftar No. S-00843/SKT-WP-CT/KPP.0708/2026 Tanggal 03 Juli
2026 diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
Pajak;
• Nomor Induk Berusaha : 9120308302964 dan
• NPWP : 0315615286451000.
Halaman 16 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 18
c. Kegiatan Usaha
Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan
besar selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas
profesional, ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta
perlengkapan rumah tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana
pensiun, guna mendukung pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
Perseroan dalam menjalankan maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan
usaha sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha utama perseroan
a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta
produk sejenis lainnya; dan
b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama
logam, termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.
2. Kegiatan usaha penunjang perseroan
a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet,
serta produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan
perlengkapan tidur seperti bantal dan guling;
b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI
47599), yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan
rumah tangga yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam sub golongan
lainnya;
c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee atau kontra) (KBLI 46100), yang
meliputi kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya
yang melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas
nama pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain
bahan baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu
dan bahan bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang
keperluan rumah tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda
motor (KBLI 451–454);
d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit,
wallpaper, pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan
interior lainnya;
e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan
desain produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material,
Halaman 17 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 19
konstruksi, keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta
penggunaan, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan
lainnya;
g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta
perlengkapan rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan
lepas (self-standing); dan
h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset
dan kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi
dan perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.
d. Lokasi
Perusahaan berdomisili di Sequis Center Lantai 3 Unit 305, Jalan Jenderal Sudirman No. 71,
Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi
DKI Jakarta 12190. Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jl.
Milenium 15 Blok I-2 No.5A Peusar, Panongan, Kab. Tangerang, Banten.
e. Susunan Pemegang Saham
Berdasarkan informasi manajemen dan Laporan Keuangan Audit per 30 Juni 2026 susunan
pemegang saham SOFA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham Jumlah
PT Asia Investment Capital 1.173.500.000 70,97% 11.735.000.000
Masyarakat/ Public 480.074.499 29,03% 4.800.744.990
Total 1.653.574.499 100,00% 16.535.744.990
Sumber: Informasi Manajemen
f. Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima
Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta, susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni
2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
Komisaris Independen : Nuryana Hidayat
Komisaris : Saswinadi Sasmojo
Komisaris : Lusi Amanda
Direksi:
Direktur Utama : Denny Rizal
Direktur : Ezra Mohammed Dhanaguna
Direktur : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
Direktur : Reza Muhammad Mandara
Halaman 18 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 20
g. Latar Belakang Ekonomi
Studi Kelayakan ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB
III dalam laporan ini.
h. Produk dan Layanan
SOFA merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri
furnitur, khususnya melalui produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam untuk kebutuhan
rumah tangga maupun perkantoran. Produk furnitur yang dihasilkan antara lain meja, kursi,
tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk furnitur sejenis lainnya
dengan menggunakan merek Blackwood. Kegiatan produksi Perusahaan didukung oleh
fasilitas pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Millenium, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten.
i. Teknologi yang Digunakan
SOFA menggunakan teknologi dan peralatan pendukung dalam menjalankan kegiatan
produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam. Teknologi yang digunakan terutama
berkaitan dengan proses pengolahan bahan baku, pemotongan, pembentukan, perakitan,
penyelesaian (finishing), serta pengendalian kualitas produk furnitur yang dihasilkan.
Penggunaan teknologi tersebut mendukung efisiensi proses produksi dan menjaga kualitas
produk yang dipasarkan dengan merek Blackwood.
Sehubungan dengan penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 (Aktivitas Perusahaan
Induk), kegiatan tersebut tidak secara langsung memerlukan tambahan teknologi khusus
karena aktivitas perusahaan induk pada dasarnya berfokus pada pengelolaan investasi,
pengawasan, serta koordinasi dan pengendalian strategis terhadap entitas anak. Dengan
demikian, teknologi utama yang digunakan SOFA tetap berkaitan dengan kegiatan
operasional produksi furnitur, sedangkan kegiatan sebagai perusahaan induk didukung oleh
teknologi informasi dan sistem administrasi yang diperlukan untuk menunjang fungsi
manajemen dan koordinasi.
j. Pasar Geografis
Pasar geografis SOFA pada dasarnya berfokus di dalam negeri (Indonesia) dengan cakupan
distribusi yang cukup luas antar wilayah. Cakupan Nasional (Indonesia) dengan menjalankan
perusahaan manufaktur furnitur kayu dan logam dengan pengolahan mebel berbahan dasar
kayu dan produk kayu lainnya, berbahan dasar logam serta distribusi dan penjualan mebel
melalui Perusahaan Anak.
k. Risiko Usaha
Analisa risiko untuk SOFA merupakan kajian sistematis atas berbagai ketidakpastian yang
berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan Perusahaan, khususnya dalam
kegiatan usaha industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI
31004), serta rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk (KBLI 64210).
Risiko-risiko tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang berdampak
terhadap keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas Perusahaan.
Halaman 19 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 21
Ketidakpastian dalam industri furnitur cenderung dipengaruhi oleh ketersediaan dan harga
bahan baku kayu maupun logam, siklus sektor properti dan konstruksi, daya beli masyarakat,
nilai tukar mata uang asing, serta kebijakan pemerintah di bidang kehutanan, perdagangan,
dan lingkungan hidup. Sementara itu, penambahan kegiatan usaha sebagai perusahaan
holding memunculkan dimensi risiko baru yang bersifat strategis dan finansial, antara lain
risiko investasi pada entitas anak, ketergantungan pada penerimaan dividen, serta risiko tata
kelola dan pengendalian atas entitas yang dikonsolidasikan.
Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi kerugian
dan menjaga keberlanjutan usaha Perusahaan. Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
operasional dan finansial SOFA, baik pada kegiatan usaha yang telah berjalan maupun pada
kegiatan usaha yang direncanakan.
a. Risiko Kredit
Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi SOFA akibat ketidakmampuan
pelanggan, mitra usaha, maupun pihak terafiliasi dalam memenuhi kewajiban
pembayaran sesuai perjanjian.
Dalam kegiatan usaha Perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:
• Pemberian termin pembayaran kepada distributor, jaringan ritel, kontraktor, dan
pelanggan proyek/korporasi;
• Konsentrasi penjualan pada sejumlah pelanggan atau segmen tertentu (misalnya
proyek properti, perhotelan, atau perkantoran);
• Penyaluran pinjaman antarperusahaan (intercompany loan), penempatan modal
kerja, serta pemberian jaminan korporasi kepada entitas anak sehubungan dengan
fungsi sebagai perusahaan holding.
Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas Perusahaan,
memperpanjang siklus konversi kas, serta meningkatkan beban penyisihan kerugian
penurunan nilai piutang.
Mitigasi dilakukan melalui:
• Analisis kelayakan kredit pelanggan sebelum pemberian termin;
• Penetapan limit kredit dan termin pembayaran yang disesuaikan dengan profil
pelanggan;
• Permintaan uang muka (down payment) untuk pesanan proyek berskala besar;
• Pemantauan umur piutang (aging schedule) secara berkala dan penagihan terstruktur;
• Diversifikasi basis pelanggan dan saluran distribusi;
• Kajian kelayakan serta pembatasan eksposur atas pendanaan dan jaminan kepada
entitas anak.
Halaman 20 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 22
b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah
Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
kegiatan usaha SOFA, khususnya di sektor industri pengolahan, perdagangan,
kehutanan, dan pasar modal.
Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:
• Kebijakan legalitas dan kelestarian bahan baku kayu, termasuk ketentuan Sistem
Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) serta dokumen angkutan hasil hutan;
• Kebijakan tarif bea masuk, bea keluar, dan pembatasan impor atas bahan baku kayu
olahan, logam, serta komponen pendukung;
• Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan pengadaan
barang pemerintah;
• Kebijakan ketenagakerjaan, termasuk penetapan upah minimum;
• Ketentuan perpajakan, termasuk perlakuan pajak atas dividen dan transaksi
antarentitas dalam satu grup;
• Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia yang berlaku bagi
perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai perubahan/penambahan
kegiatan usaha, transaksi material, dan transaksi afiliasi.
Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya bahan baku dan produksi,
ruang lingkup usaha, struktur perizinan, serta kelancaran pelaksanaan rencana
penambahan kegiatan usaha Perusahaan.
c. Risiko Operasional
Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
mengganggu kegiatan usaha SOFA.
Risiko ini meliputi:
• Gangguan ketersediaan dan fluktuasi harga bahan baku utama (kayu, logam, busa,
kain pelapis, serta bahan finishing);
• Kerusakan mesin produksi, gangguan utilitas, serta risiko kebakaran pada fasilitas
pabrik dan gudang;
• Kegagalan pemenuhan standar mutu yang berujung pada produk cacat, pengerjaan
ulang, dan klaim garansi;
• Kecelakaan kerja dan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada
area produksi;
• Gangguan rantai pasok (supply chain disruption) dan keterlambatan pengiriman
kepada pelanggan;
• Human error dan keterbatasan sistem informasi dalam pengelolaan persediaan,
produksi, dan pelaporan;
• Pada fungsi holding: kelemahan pengendalian dan pengawasan atas entitas anak,
keterlambatan konsolidasi laporan keuangan, serta ketidakselarasan kebijakan
operasional antarentitas dalam grup.
Halaman 21 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 23
Ketergantungan pada fasilitas produksi, kesinambungan pasokan bahan baku, dan
keandalan tenaga kerja menjadikan aspek pemeliharaan, pengendalian mutu, dan
keselamatan kerja sebagai faktor krusial dalam operasional Perusahaan.
d. Risiko Persaingan Usaha
Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri
furnitur nasional maupun regional.
Risiko ini meliputi:
• Tekanan harga akibat masuknya produk furnitur impor dengan struktur biaya yang
lebih rendah;
• Persaingan dengan produsen lokal berskala besar maupun pelaku usaha kecil dan
menengah pada segmen harga menengah ke bawah;
• Perkembangan saluran penjualan digital dan marketplace yang meningkatkan
transparansi harga dan menekan margin;
• Kompetisi dalam desain produk, kualitas material, ketepatan waktu pengiriman, serta
layanan purnajual;
• Perebutan kontrak pengadaan pada proyek properti, perhotelan, dan perkantoran.
Masuknya pemain baru maupun ekspansi produsen furnitur berskala besar dapat
meningkatkan intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar serta
marjin laba SOFA.
e. Risiko Usaha
Risiko usaha SOFA berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan industri yang
memengaruhi permintaan produk furnitur serta kinerja portofolio investasi Perusahaan.
Faktor utama yang memengaruhi antara lain:
• Siklus sektor properti, konstruksi, dan perhotelan sebagai penggerak utama
permintaan furnitur;
• Tingkat daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga;
• Fluktuasi harga komoditas kayu dan logam;
• Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, baik atas pembelian bahan
baku impor maupun penjualan ekspor;
• Perubahan tingkat suku bunga yang memengaruhi biaya pendanaan dan permintaan
pembiayaan properti;
• Stabilitas ekonomi nasional dan kondisi perekonomian global;
• Ketergantungan penerimaan Perusahaan sebagai entitas induk pada dividen dan
hasil investasi dari entitas anak.
Penurunan aktivitas ekonomi dan perlambatan sektor properti dapat berdampak pada
volume penjualan, utilisasi kapasitas produksi, serta pendapatan Perusahaan. Pada
kegiatan usaha holding, kinerja entitas anak yang tidak sesuai proyeksi dapat berdampak
pada penurunan nilai investasi serta berkurangnya arus kas masuk dari dividen.
Halaman 22 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 24
f. Risiko Hukum
Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Risiko ini dapat berasal dari:
• Sengketa kontrak dengan pelanggan, pemasok, distributor, atau mitra usaha;
• Sengketa ketenagakerjaan dan perselisihan hubungan industrial;
• Sengketa hak kekayaan intelektual, khususnya atas desain industri dan merek produk;
• Permasalahan legalitas aset, perizinan bangunan, dan status penguasaan lahan
fasilitas produksi;
• Ketentuan lingkungan hidup terkait pengelolaan limbah produksi, emisi, dan
penggunaan bahan kimia finishing;
• Risiko hukum yang melekat pada akuisisi atau penyertaan modal, termasuk kewajiban
tersembunyi (contingent liabilities) entitas anak yang tidak teridentifikasi pada saat uji
tuntas;
• Potensi tanggung jawab Perusahaan selaku pemegang saham pengendali atas
tindakan hukum entitas anak.
Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, kewajiban ganti rugi,
serta gangguan operasional bagi SOFA.
g. Risiko Reputasi
Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
pelanggan, mitra usaha, pemegang saham, dan investor terhadap SOFA.
Risiko ini dapat muncul akibat:
• Kegagalan memenuhi standar mutu produk dan meningkatnya klaim garansi;
• Keterlambatan pemenuhan pesanan dan pengiriman kepada pelanggan proyek;
• Isu keberlanjutan, khususnya dugaan penggunaan bahan baku kayu yang tidak
bersertifikat atau tidak memenuhi ketentuan legalitas;
• Insiden lingkungan atau kecelakaan kerja pada fasilitas produksi;
• Pemberitaan negatif atas kinerja keuangan, aksi korporasi, atau tata kelola
Perusahaan sebagai emiten;
• Kinerja atau permasalahan yang timbul pada entitas anak yang dapat berdampak
pada citra grup secara keseluruhan.
Mengingat bisnis furnitur sangat bergantung pada persepsi kualitas dan keandalan
pengiriman, serta identitas Perusahaan yang mengedepankan aspek lingkungan, reputasi
menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan, kontrak jangka panjang, dan
kepercayaan investor.
h. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
industri, lingkungan hidup, ketenagakerjaan, perpajakan, dan pasar modal.
Halaman 23 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 25
SOFA wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:
• Perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) sesuai KBLI yang
dijalankan, termasuk pemenuhan persyaratan atas penambahan KBLI 64210;
• Ketentuan legalitas bahan baku kayu dan sertifikasi terkait;
• Persetujuan lingkungan serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun;
• Standar keselamatan dan kesehatan kerja serta ketentuan ketenagakerjaan;
• Kewajiban perpajakan, termasuk ketentuan harga transfer (transfer pricing) atas
transaksi antarentitas dalam grup;
• Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bagi perusahaan
terbuka, antara lain mengenai keterbukaan informasi, transaksi material dan
perubahan kegiatan usaha utama, transaksi afiliasi dan benturan kepentingan,
penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, serta penyampaian laporan
berkala.
Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, denda, pembatasan kegiatan
usaha, penghentian sementara perdagangan saham, hingga pencabutan izin usaha.
2.4. Laporan Keuangan SOFA
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
masa depan.
Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
mengenai laporan keuangan SOFA. Adapun data laporan keuangan SOFA yang kami terima
adalah sebagai berikut:
• Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali, yang telah
di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana tertuang
dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus
2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2025
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
tertuang dalam laporannya No.00007/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/III/2026 tanggal 27
Maret 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2024
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
tertuang dalam laporannya No.00022/3.0291/AU.1/04/0824-2/1/III/2025 tanggal 27
Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2023
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
Halaman 24 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 26
tertuang dalam laporannya No.00020/3.0291/AU.1/04/0824-1/1/III/2024 tanggal 27
Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2022
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Triyanto sebagaimana tertuang dalam
laporannya No.00155/3.0266/AU.1/04/0945-1/1/III/2023 tanggal 27 Maret 2023
dengan opini wajar tanpa modifikasian;
Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan SOFA untuk periode 31
Desember 2022 hingga 30 Juni 2026:
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Posisi Keuangan 2022 2023 2024 2025
2026
Jumlah Aset Lancar 21.795 30.210 33.341 25.162 21.068
Jumlah Aset Tidak Lancar 40.255 33.725 29.107 26.838 25.555
Jumlah Aset 62.050 63.936 62.448 51.999 46.622
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 13.711 15.402 13.999 12.743 13.267
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.453 3.119 3.654 220 2
Jumlah Liabilitas 17.163 18.522 17.653 12.963 13.269
Jumlah Ekuitas 44.887 45.414 44.795 39.036 33.354
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 62.050 63.936 62.448 51.999 46.622
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Total Aset
Perkembangan total aset SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31 Desember
2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR)
sebesar negatif 5,72%. Pada tahun 2022 total aset tercatat sebesar Rp62.050 juta. Pada tahun
2023 mengalami peningkatan total aset tercatat sebesar 3,04% secara year on year atau sebesar
Rp63.936 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tercatat sebesar negatif 2,33%
secara year on year atau sebesar Rp62.448 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total
aset tercatat sebesar negatif 16,73% secara year on year atau sebesar Rp51.999 juta. Kemudian
pada periode 30 Juni 2026 total aset tercatat sebesar Rp46.622 juta, atau menurun sebesar
10,34% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
berkurangnya aset lancar berupa persediaan serta saldo kas dan bank dan aset tidak lancar
berupa aset tetap dan aset hak guna usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
Desember 2025.
Total Aset Lancar
Perkembangan total aset lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar 4,90%. Pada
tahun 2022 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.795 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 38,61% secara year on year atau sebesar Rp30.210
juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 10,36% secara
year on year atau sebesar Rp33.341 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total aset
lancar tercatat sebesar negatif 24,53% secara year on year atau sebesar Rp25.162 juta. Kemudian
Halaman 25 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 27
pada periode 30 Juni 2026 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.068 juta, atau menurun sebesar
16,27% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
berkurangnya persediaan serta saldo kas dan bank pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan
posisi 31 Desember 2025.
Total Aset Tidak Lancar
Perkembangan total aset tidak lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami penurunan di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif
12,64%. Pada tahun 2022 total aset tidak lancar tercatat sebesar Rp40.255 juta. Pada tahun 2023
mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 16,22% secara year on year
atau sebesar Rp33.725 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tidak lancar
tercatat sebesar negatif 13,69% secara year on year atau sebesar Rp29.107 juta. Pada tahun
2025 mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 7,79% secara year on
year atau sebesar Rp26.838 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 total aset tidak lancar
tercatat sebesar Rp25.555 juta, atau menurun sebesar 4,78% dibandingkan posisi 31 Desember
2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya aset tetap dan aset hak guna
usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Total Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
2,41%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp13.711 juta. Pada tahun
2023 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 12,33% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp15.402 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami penurunan
sebesar negatif 9,11% secara year on year atau tercatat sebesar Rp13.999 juta. Pada tahun 2025
liabilitas jangka pendek mengalami penurunan sebesar negatif 8,97% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp12.743 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas jangka pendek
tercatat sebesar Rp13.267 juta, atau meningkat sebesar 4,11% dibandingkan posisi 31 Desember
2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh bertambahnya utang lain-lain dan biaya
yang masih harus dibayar pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Total Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
60,07%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp3.453 juta. Pada tahun
2023 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar negatif 9,67% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp3.119 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami
peningkatan sebesar 17,15% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.654 juta. Pada tahun
2025 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan signifikan sebesar negatif 93,98% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp220 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas
jangka panjang tercatat sebesar Rp2 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
berkurangnya utang sewa jangka panjang pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
Desember 2025.
Halaman 26 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 28
Total Liabilitas
Perkembangan total liabilitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 8,93%.
Pada tahun 2022 total liabilitas tercatat sebesar Rp17.163 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan total liabilitas tercatat sebesar 7,92% secara year on year atau sebesar Rp18.522
juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total liabilitas tercatat sebesar negatif 4,69% secara
year on year atau sebesar Rp17.653 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total liabilitas
tercatat sebesar negatif 26,57% secara year on year atau sebesar Rp12.963 juta. Kemudian pada
periode 30 Juni 2026 total liabilitas tercatat sebesar Rp13.269 juta, atau meningkat sebesar
2,36% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh
bertambahnya liabilitas jangka pendek yaitu utang lain-lain dan biaya yang masih harus dibayar
pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Total Ekuitas
Perkembangan total ekuitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami penurunan dengan CAGR sebesar negatif 4,55%. Pada tahun 2022
total ekuitas tercatat sebesar Rp44.887 juta. Pada tahun 2023 mengalami peningkatan total
ekuitas tercatat sebesar 1,17% secara year on year atau sebesar Rp45.414 juta. Pada tahun 2024
mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar negatif 1,36% secara year on year atau
sebesar Rp44.795 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar
negatif 12,86% secara year on year atau sebesar Rp39.036 juta. Kemudian pada periode 30 Juni
2026 total ekuitas tercatat sebesar Rp33.354 juta, atau menurun sebesar 14,56% dibandingkan
posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo
laba seiring rugi yang dibukukan Perseroan pada periode 30 Juni 2026.
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Penjualan 47.026 46.643 50.252 45.131 21.385
Beban Pokok Penjualan (26.559) (23.252) (28.913) (30.882) (16.440)
Laba (Rugi) Kotor 20.466 23.390 21.340 14.249 4.945
Laba (Rugi) Usaha 2.348 981 (293) (4.851) (7.009)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 1.363 501 (780) (5.255) (7.145)
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan (519) (392) (130) (43) 1.452
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 844 108 (910) (5.299) (5.693)
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Pendapatan
Perkembangan penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 1,36%.
Pada tahun 2022 penjualan tercatat sebesar Rp47.026 juta. Pada tahun 2023 mengalami
penurunan penjualan tercatat sebesar negatif 0,81% secara year on year atau sebesar Rp46.643
juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan penjualan tercatat sebesar 7,74% secara year on
year atau sebesar Rp50.252 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan penjualan tercatat
sebesar negatif 10,19% secara year on year atau sebesar Rp45.131 juta. Kemudian pada periode
30 Juni 2026 penjualan tercatat sebesar Rp21.385 juta.
Halaman 27 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 29
Beban Pokok Penjualan
Pertumbuhan beban pokok penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar 5,15%.
Pada tahun 2022 beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp26.559 juta. Pada tahun 2023
beban pokok penjualan mengalami penurunan sebesar negatif 12,45% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp23.252 juta. Pada tahun 2024 beban pokok penjualan mengalami
peningkatan sebesar 24,35% secara year on year atau tercatat sebesar Rp28.913 juta. Pada tahun
2025 beban pokok penjualan mengalami peningkatan sebesar 6,81% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp30.882 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 beban pokok penjualan
tercatat sebesar Rp16.440 juta.
Laba Kotor
Perkembangan laba kotor SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 11,37%.
Pada tahun 2022 laba kotor tercatat sebesar Rp20.466 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan laba kotor tercatat sebesar 14,29% secara year on year atau sebesar Rp23.390 juta.
Pada tahun 2024 mengalami penurunan laba kotor tercatat sebesar negatif 8,76% secara year
on year atau sebesar Rp21.340 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan laba kotor tercatat
sebesar negatif 33,23% secara year on year atau sebesar Rp14.249 juta. Kemudian pada periode
30 Juni 2026 laba kotor tercatat sebesar Rp4.945 juta. Marjin laba kotor menunjukkan tren
penurunan, dari 43,52% pada tahun 2022 menjadi 31,57% pada tahun 2025 dan 23,12% pada
periode 30 Juni 2026. Penurunan laba kotor disebabkan oleh menurunnya penjualan dan
meningkatnya beban pokok penjualan.
Laba (Rugi) Usaha
Perkembangan laba (rugi) usaha SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba usaha tercatat
sebesar Rp2.348 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba usaha sebesar negatif
58,22% secara year on year atau sebesar Rp981 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan
rugi usaha sebesar Rp293 juta. Pada tahun 2025 rugi usaha melebar menjadi Rp4.851 juta.
Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi usaha tercatat sebesar Rp7.009 juta.
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba (rugi) sebelum pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022
laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp1.363 juta. Pada tahun 2023 laba sebelum
pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 63,24% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp501 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan rugi sebelum pajak
penghasilan sebesar Rp780 juta. Pada tahun 2025 rugi sebelum pajak penghasilan melebar
menjadi Rp5.255 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi sebelum pajak penghasilan
tercatat sebesar Rp7.145 juta. Perseroan telah membukukan rugi usaha pada tahun 2024 sampai
dengan periode 30 Juni 2026 karena laba kotor yang dihasilkan lebih kecil dari beban usaha.
Halaman 28 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 30
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pertumbuhan beban pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan seiring menurunnya laba fiskal
Perseroan. Pada tahun 2022 beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp519 juta. Pada tahun
2023 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 24,47% secara year on
year atau tercatat sebesar Rp392 juta. Pada tahun 2024 beban pajak penghasilan mengalami
penurunan sebesar negatif 66,84% secara year on year atau tercatat sebesar Rp130 juta. Pada
tahun 2025 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 66,92% secara year
on year atau tercatat sebesar Rp43 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 Perseroan
mengakui manfaat pajak penghasilan sebesar Rp1.452 juta. Penurunan beban pajak sejalan
dengan menurunnya laba perusahaan pada periode 30 Juni 2026.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba
tahun berjalan tercatat sebesar Rp844 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba tahun
berjalan tercatat sebesar negatif 87,20% secara year on year atau sebesar Rp108 juta. Pada tahun
2024 Perseroan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp910 juta. Pada tahun 2025 rugi
tahun berjalan melebar menjadi Rp5.299 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi tahun
berjalan tercatat sebesar Rp5.693 juta. Marjin laba bersih menurun dari 1,79% pada tahun 2022
menjadi negatif 11,74% pada tahun 2025 dan negatif 26,62%. Perseroan masih mencatatkan
kinerja yang negatif hingga periode 30 Juni 2026, dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp5.693
juta. Namun demikian, kinerja tersebut merupakan realisasi sampai dengan semester I 2026 dan
belum mencerminkan kinerja Perseroan untuk keseluruhan tahun 2026.
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Arus Kas 2022 2023 2024 2025
2026
Arus Kas Dari Aktivitas Operasi 7.850 6.614 286 (1.313) (4.022)
Arus Kas Dari Aktivitas Investasi (2.858) (1.861) (1.443) (106) 22
Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan (2.951) (172) (2.699) (119) 3.155
Kenaikan (Penurunan) Neto Kas Dan
2.041 4.582 (3.856) (1.538) (845)
Bank
Kas Dan Bank Awal Tahun 1.794 3.835 8.417 4.561 3.023
Kas Dan Bank Akhir Tahun 3.835 8.417 4.561 3.023 2.178
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas operasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas
operasi tercatat sebesar Rp7.850 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas operasi mengalami
penurunan menjadi tercatat sebesar Rp6.614 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas operasi
mengalami penurunan menjadi tercatat sebesar Rp286 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari
aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp1.313 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp4.022 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa
kegiatan operasional SOFA belum mampu menghasilkan arus kas positif pada periode terakhir.
Halaman 29 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 31
Arus Kas untuk Aktivitas Investasi
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas investasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 negatif. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas investasi tercatat
sebesar negatif Rp2.858 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar
negatif Rp1.861 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif
Rp1.443 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif Rp106
juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas dari aktivitas investasi tercatat positif sebesar
Rp22 juta. Arus kas investasi yang bernilai negatif mencerminkan belanja modal Perseroan,
dengan besaran yang menurun.
Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas pendanaan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi. Pada tahun 2022 arus
kas dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.951 juta. Pada tahun 2023 arus kas
dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp172 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari
aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.699 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas
pendanaan tercatat sebesar negatif Rp119 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas
dari aktivitas pendanaan tercatat positif sebesar Rp3.155 juta. Arus kas pendanaan yang berbalik
positif pada periode 30 Juni 2026 mengindikasikan adanya penerimaan pendanaan baru untuk
menutup defisit arus kas operasi.
Kenaikan (Penurunan) Neto Kas dan Bank
Pada tahun 2022 kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp2.041 juta. Pada tahun 2023
kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp4.582 juta. Pada tahun 2024 penurunan neto kas
dan bank tercatat sebesar negatif Rp3.856 juta. Pada tahun 2025 penurunan neto kas dan bank
tercatat sebesar negatif Rp1.538 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 penurunan neto kas
dan bank tercatat sebesar negatif Rp845 juta.
Kas dan Bank pada Akhir Tahun
Pada tahun 2022 kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp3.835 juta. Pada tahun 2023
kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp8.417 juta. Pada tahun 2024 kas dan bank
pada akhir tahun tercatat sebesar Rp4.561 juta. Pada tahun 2025 kas dan bank pada akhir tahun
tercatat sebesar Rp3.023 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 kas dan bank pada akhir
tahun tercatat sebesar Rp2.178 juta.
2.5. Analisis Laporan Keuangan SOFA
Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan SOFA dilakukan berdasarkan analisis
terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
berikut:
Halaman 30 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 32
a. Commonsize statement analysis
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total
asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau
beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
30 Juni
Laporan Posisi Keuangan 2022 2023 2024 2025
2026
Jumlah Aset Lancar 35,12% 47,25% 53,39% 48,39% 45,19%
Jumlah Aset Tidak Lancar 64,88% 52,75% 46,61% 51,61% 54,81%
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 22,10% 24,09% 22,42% 24,51% 28,46%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 5,56% 4,88% 5,85% 0,42% 0,00%
Jumlah Liabilitas 27,66% 28,97% 28,27% 24,93% 28,46%
Jumlah Ekuitas 72,34% 71,03% 71,73% 75,07% 71,54%
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, selama
periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi aset tidak lancar terhadap
total aset lebih besar dibandingkan dengan proporsi aset lancar terhadap total aset. Proporsi
aset lancar terhadap total aset tercatat sebesar 35,12% (2022); 47,25% (2023); 53,39%
(2024); serta 48,39% (2025). Pada periode 30 Juni 2026 proporsi aset lancar terhadap total
aset adalah 45,19%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset adalah 54,81%.
Selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi total ekuitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas lebih besar dibandingkan dengan proporsi total liabilitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas. Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas
tercatat sebesar 27,66% (2022); 28,97% (2023); 28,27% (2024); serta 24,93% (2025). Pada
periode 30 Juni 2026 proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah
sebesar 28,46%, dan proporsi total ekuitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar
71,54%.
Liabilitas SOFA didominasi oleh liabilitas jangka pendek, dengan proporsi terhadap total
liabilitas dan ekuitas sebesar 22,10% (2022); 24,09% (2023); 22,42% (2024); 24,51% (2025);
serta 28,46% pada 30 Juni 2026. Adapun proporsi liabilitas jangka panjang terhadap total
liabilitas dan ekuitas menurun, dari 5,56% (2022); 4,88% (2023); dan 5,85% (2024) menjadi
hanya 0,42% (2025) serta 0,00% pada 30 Juni 2026.
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi)
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Penjualan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Beban Pokok Penjualan -56,48% -49,85% -57,54% -68,43% -76,88%
Laba (Rugi) Kotor 43,52% 50,15% 42,46% 31,57% 23,12%
Halaman 31 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 33
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Laba (Rugi) Usaha 4,99% 2,10% -0,58% -10,75% -32,78%
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 2,90% 1,07% -1,55% -11,64% -33,41%
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan -1,10% -0,84% -0,26% -0,10% 6,79%
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 1,79% 0,23% -1,81% -11,74% -26,62%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
usaha, laba (rugi) sebelum pajak penghasilan dan laba (rugi) tahun berjalan pada 30 Juni
2026 secara berturut-turut adalah sebesar -32,78%, -33,41% dan -26,62%.
b. Ratio Analysis
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan
perusahaan.
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan
30 Juni
Analisis Likuiditas 2022 2023 2024 2025
2026
Analisis Likuiditas
Current Ratio 1,59x 1,96x 2,38x 1,97x 1,59x
Quick Ratio 0,34x 0,58x 0,37x 0,49x 0,58x
Cash Ratio 0,28x 0,55x 0,33x 0,24x 0,16x
Analisis Solvabilitas
Debt To Assets 0,28x 0,29x 0,28x 0,25x 0,28x
Debt To Equity 0,38x 0,41x 0,39x 0,33x 0,40x
Analisis Profitabilitas
Gross Profit Margin 43,52% 50,15% 42,46% 31,57% 23,12%
Operating Profit Margin 4,99% 2,10% -0,58% -10,75% -32,78%
Net Income Margin 1,79% 0,23% -1,81% -11,74% -26,62%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Lancar (current ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar. Rasio ini
bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar perusahaan dapat
menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
Halaman 32 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 34
maka semakin aman perusahaan. Rasio lancar perusahaan pada periode 30 Juni 2026
adalah sebesar 1,59 kali.
2. Rasio Cepat (Quick Ratio)
rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat perusahaan pada 30 Juni 2026
adalah sebesar 0,58 kali.
3. Rasio Kas (cash ratio)
Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
perusahaan pada 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,16 kali.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Laba Kotor atas Pendapatan (Gross Profit Margin)
Rasio yang menggambarkan kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari
kegiatan operasional utama setelah memperhitungkan harga pokok penjualan, sebagai
indikator efisiensi biaya langsung. Rasio laba kotor atas pendapatan Perusahaan pada
periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 23,12%.
2. Rasio Laba Operasi atas Pendapatan (Operating Profit Margin)
Rasio yang menunjukkan tingkat laba operasi yang dihasilkan dari penjualan setelah
memperhitungkan seluruh biaya operasional, yang mencerminkan efisiensi kegiatan usaha
inti Perusahaan. Rasio laba operasi atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni
2026 adalah sebesar -32,78%.
3. Rasio Laba Bersih atas Pendapatan (Net Profit Margin)
Rasio yang mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari
penjualan setelah memperhitungkan seluruh beban, termasuk beban non-operasional.
Rasio laba bersih atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni 2026 adalah sebesar
-26,62%.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk melunasi utang-utangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
kategori ini.
Halaman 33 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 35
1. Rasio total debt terhadap total aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan perusahaan. Adapun tingkat
rasio debt terhadap total aset perusahaan 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,28 kali.
2. Rasio total debt terhadap total ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas.
Berdasarkan tabel rasio keuangan perusahaan di atas dapat dilihat bahwa tingkat rasio
debt terhadap total ekuitas perusahaan periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,40 kali.
2.6. Prospek Usaha
Prospek usaha SOFA dalam kaitannya dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64210
Aktivitas Perusahaan Induk terutama didukung oleh kebutuhan untuk memperkuat fungsi
Perseroan sebagai entitas yang mengelola dan mengoordinasikan kepemilikan serta investasi
dalam grup usaha. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk memberikan dasar kegiatan
usaha bagi SOFA dalam menjalankan fungsi perusahaan induk, termasuk pengelolaan
kepemilikan saham, pengawasan kinerja entitas anak dan/atau entitas investee, koordinasi
strategi usaha, serta optimalisasi alokasi sumber daya dan investasi dalam grup.
Sebagai perusahaan terbuka, SOFA memiliki peran yang semakin penting dalam mengelola
portofolio investasi dan mengarahkan pengembangan usaha pada bidang-bidang yang memiliki
prospek pertumbuhan. Melalui penambahan KBLI 64210, fungsi pengelolaan dan koordinasi
pada tingkat Perseroan dapat dilakukan secara lebih terstruktur, termasuk dalam menetapkan
arah strategis, melakukan pemantauan terhadap kinerja entitas dalam grup, serta mengevaluasi
kebutuhan dan peluang investasi. Dengan demikian, kegiatan perusahaan induk dapat
meningkatkan efektivitas pengelolaan portofolio dan mendukung sinergi antarentitas dalam grup.
Rencana penambahan KBLI 64210 sejalan dengan pengembangan portofolio usaha SOFA yang
tidak hanya mencakup kegiatan usaha yang telah berjalan, tetapi juga investasi dan
pengembangan proyek pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk proyek
pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). SOFA dapat menjalankan fungsi
strategis dalam mengarahkan pengembangan investasi melalui entitas dalam grup, melakukan
evaluasi atas kelayakan dan potensi investasi, serta memastikan bahwa pengembangan portofolio
tersebut sejalan dengan strategi dan tujuan Perseroan.
Ke depan, prospek kegiatan perusahaan induk berpotensi meningkat sejalan dengan
pertumbuhan dan diversifikasi portofolio usaha grup. Penambahan KBLI 64210 dapat menjadi
landasan SOFA dalam menjalankan fungsi pengelolaan investasi. Dengan demikian, tujuan
utama penambahan KBLI 64210 dapat menciptakan sumber pendapatan baru, memperkuat
peran SOFA sebagai perusahaan induk dalam mengelola investasi, mengoptimalkan portofolio
usaha, dan mendukung pengembangan bisnis grup yang berkelanjutan.
Halaman 34 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 36
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik
Pertumbuhan Ekonomi Global
Prospek ekonomi global telah berubah drastis karena konflik di Timur Tengah telah menimbulkan
gangguan besar di pasar energi. Sebelum konflik pecah, aktivitas global tampak berada di posisi
yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang solid di beberapa ekonomi utama dan perdagangan
global yang lebih baik dari perkiraan, di tengah pertumbuhan yang kuat pada ekspor teknologi
terkait kecerdasan buatan (AI) dan sedikit penurunan tingkat tarif. Namun, konflik ini telah
menyebabkan penurunan yang signifikan dalam prospek global, dengan sekitar dua pertiga
ekonomi di seluruh dunia menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah. Gangguan pada
aliran energi dan pasokan komoditas lainnya dari wilayah Teluk telah menyebabkan kenaikan
harga komoditas yang tajam. Secara keseluruhan, harga komoditas diperkirakan akan naik 22
persen pada 2026, berbeda dengan penurunan 7 persen yang diperkirakan pada Januari. Ini
mencerminkan asumsi dasar bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu parah
hingga Juli.
18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
2023 2023 2023 2023 2024 2024 2024 2024 2025 2025 2025 2025 2026
Singapura Amerika Serikat Tiongkok
Jepang Korea Selatan
Sumber: CEIC
Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara
Mayoritas bank sentral global mempertahankan suku bunga acuannya pada triwulan I tahun
2026. Kebijakan tersebut ditempuh di tengah inflasi yang mulai terkendali, namun ketidakpastian
global masih tinggi akibat volatilitas harga energi, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di
sejumlah negara. Oleh karena itu, sebagian besar otoritas moneter masih menerapkan kebijakan
yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan momentum pertumbuhan
ekonomi. Di sisi lain, beberapa negara mulai membuka ruang pelonggaran suku bunga secara
bertahap untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik Pertumbuhan Ekonomi Domestik.
Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada
kisaran 3,50–3,75% sepanjang triwulan I 2026. Kebijakan ini sejalan dengan tren inflasi inti yang
terus menurun serta kondisi pasar tenaga kerja yang semakin seimbang. Namun, The Fed tetap
mencermati risiko tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan perkembangan
perdagangan global. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyampaikan bahwa kebijakan
Halaman 35 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 37
moneter akan tetap disesuaikan berdasarkan perkembangan data, dengan tetap mengutamakan
stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, sejumlah negara OECD, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan
kawasan Euro Area, juga mempertahankan suku bunga acuannya selama triwulan I 2026. Jepang
mempertahankan tingkat suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen sekaligus
mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan
kebijakan moneternya guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan arus modal di tengah
ketidakpastian perdagangan regional. Di kawasan Euro Area, suku bunga tetap ditahan karena
tingkat inflasi masih berada di atas target, meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan
kecenderungan melambat.
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara
Kelompok / Negara Jan Feb Mar
OECD
AS 3,50–3,75 3,50–3,75 3,50–3,75
Jepang 0,75 0,75 0,75
Korsel 2,50 2,50 2,50
Euro Area 2,15 2,15 2,15
BRICS
Brasil 15,00 15,00 14,75
Rusia 16,00 15,50 15,00
India 5,25 5,25 5,25
Tiongkok 3,00 3,00 3,00
Afsel 6,75 6,75 6,75
Indonesia 4,75 4,75 4,75
ASEAN
Myanmar 9,00 9,00 9,00
Thailand 1,25 1,00 1,00
Filipina 4,50 4,25 4,25
Malaysia 2,75 2,75 2,75
Vietnam 4,50 4,50 4,50
Sumber: Trading Economics
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia Triwulan II-2026, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 mencatat Produk
Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun. Secara tahunan (year-
on-year/yoy), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% dibandingkan triwulan II-2025. Dari sisi
produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 6,68%, diikuti
oleh Lapangan Usaha Lainnya sebesar 6,67% dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor sebesar 6,39%. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi
berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat sebesar
15,97%, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,87%. Secara kuartalan
Halaman 36 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 38
(quarter-on-quarter/qoq), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,73% dibandingkan triwulan
I-2026. Dari aspek spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama perekonomian nasional
dengan pangsa sebesar 56,47% terhadap PDB Indonesia serta mencatat pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,65% (yoy).
5,8 5,8
5,6 5,61 5,6
5,4 5,39 5,4
5,29
5,2 5,2
5,11 5,12
5 5,05 5,02 5,04 5
4,95
4,87
4,8 4,8
4,6 4,6
4,4 4,4
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2024 2024 2024 2024 2025 2025 2025 2025 2026 2026
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%) % Growth
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy)
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), perekonomian Indonesia diperkirakan
akan tetap tumbuh secara stabil dalam jangka menengah hingga panjang. Nilai Produk Domestik
Bruto (GDP) diproyeksikan meningkat dari Rp13.928 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp18.825
triliun pada tahun 2031. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap terjaga pada
kisaran 5,0%–5,2% per tahun. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap ketahanan
fundamental ekonomi Indonesia yang didukung oleh konsumsi domestik, investasi, serta aktivitas
ekonomi yang terus berkembang.
20000 18825 5,25
17895
18000 17010
16169 5,2 5,2 5,2 5,2
15370 5,2
16000 14624
13928
14000 13251 5,15
12000 5,11 5,1 5,1
10000
8000 5,05
5,03
6000 5 5
4000
4,95
2000
0 4,9
2024 2025E 2026F 2027F 2028F 2029F 2030F 2031F
GDP (Triliun Rupiah) Pertumbuhan Ekonomi(%)
Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %)
Halaman 37 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 39
Perkembangan inflasi
Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), tingkat inflasi Indonesia menunjukkan
tren yang semakin terkendali dalam jangka menengah hingga panjang. Setelah mencapai 4,2%
pada tahun 2022 akibat tekanan inflasi global, laju inflasi menurun menjadi 3,7% pada tahun
2023 dan 2,8% pada tahun 2024. IMF memperkirakan inflasi akan tetap berada pada kisaran
2,5%–3,0% selama periode 2025–2031, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terus
meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi. Proyeksi tersebut
mencerminkan ekspektasi bahwa stabilitas harga di Indonesia akan tetap terjaga, sehingga dapat
mendukung daya beli masyarakat serta menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
180 160,67 4,5
160
4,2 149,2 152,93 156,76 4,0
142,01 145,56
140 127,76 132,463,7 134,12 137,88 3,5
122,61
120 3 3,0
2,8 2,8
100 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
80 2,0
60 1,6 1,5
40 1,0
20 0,5
0 0,0
2021 2022 2023 2024 2025E 2026F 2027F 2028F 2029F 2030F 2031F
Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)
Perkembangan Uang Beredar di Indonesia
Uang beredar Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan positif pada Juni 2026. Posisi M2
tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 % (yoy), meskipun mengalami perlambatan
dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8 % (yoy). Berdasarkan komponennya,
pertumbuhan M2 didukung oleh peningkatan M1 dan uang kuasi. M1 yang memiliki pangsa 56,9
% terhadap M2 mencapai Rp5.937,5 triliun dengan pertumbuhan 9,8 % (yoy), lebih rendah
dibandingkan 15,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan M1 terutama dipengaruhi oleh
pertumbuhan giro rupiah yang melambat menjadi 10,4 % (yoy) dari 23,9 % (yoy) pada Mei 2026.
Selain itu, pertumbuhan uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang
dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing mencapai 15,9 % dan 6,8 % (yoy), juga lebih rendah
dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, uang kuasi yang mencakup 42,3 % dari M2 meningkat 6,9 % (yoy) menjadi Rp4.409,3
triliun pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 6,0 % (yoy) pada Mei 2026.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang mencapai
6,0 % (yoy), meningkat dari 3,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, perkembangan
M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh peningkatan penyaluran kredit dan tagihan bersih
kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1
% (yoy), meningkat dibandingkan 10,8 % (yoy) pada Mei 2026. Adapun tagihan bersih kepada
pemerintah pusat tumbuh 10,1 % (yoy), meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan sebesar
37,4 % (yoy) pada Mei 2026.
Halaman 38 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 40
Sumber: Bank Indonesia, 2026
Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar Rupiah Tahun 2026
Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk
menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps
menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Kenaikan ini
sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap
tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada
tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
Selain itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran instrumen kebijakan moneter guna
memperkuat ketahanan sektor eksternal terhadap potensi eskalasi konflik, serta melakukan
penyesuaian kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Suku
bunga Perseroan pada Mei 2026 mengalami penurunan pada jenis pinjaman modal kerja dan
Pinjaman Investasi yaitu dari 8,12% menjadi 7.85% serta 8,44% menjadi 8,07% dan pada jenis
pinjaman konsumsi naik dari 8,97% menjadi 9,03% jika dibandingkan pada tahun 2025.
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
Bank Persero 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026*
Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,77 8,34 8,29 8,93 8,67 8,12 7,85
Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,87 8,49 8,72 9,41 9,21 8,44 8,07
Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,56 10,14 9,65 9,27 9,09 8,97 9,03
*: Q1 2026 Mei
Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah
3.2. Kondisi Pasar
Perkembangan Industri Furnitur
Industri furnitur Indonesia menunjukkan perkembangan yang relatif stabil sepanjang 2019–2025,
dengan beberapa fluktuasi pada periode tertentu. Nilai industri tercatat sebesar 28,1 miliar pada
2019, kemudian menurun menjadi 27,2 miliar pada 2020 sebelum kembali meningkat hingga
mencapai 29,3 miliar pada 2025, yang merupakan nilai tertinggi dalam periode tersebut. Pada
Halaman 39 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 41
2026, nilai industri tercatat sebesar 8,1 miliar pada Triwulan I dan 7,7 miliar pada Triwulan II,
sehingga perkembangan tahunan masih perlu dilihat dengan mempertimbangkan sifat data yang
bersifat kuartalan.
Data tersebut merupakan Lapangan Usaha Industri Furnitur atas dasar harga konstan 2010,
sehingga mencerminkan perkembangan riil tanpa pengaruh inflasi dalam perekonomian
Indonesia. Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian nasional, industri furnitur memiliki porsi
yang relatif stabil terhadap total PDB, yaitu sekitar 0,2–0,3% pada sebagian besar periode
pengamatan. Kontribusi tertinggi tercatat sebesar 0,8% pada 2024, sebelum kembali berada pada
level 0,2% pada 2025–2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri furnitur tetap menjadi salah
satu sektor yang berkontribusi dalam struktur perekonomian nasional, dengan ruang
perkembangan yang masih terbuka seiring dinamika industri.
35.000 0,9%
0,8%
29.386 28.801
30.000 28.113 27.168 28.212 28.797 29.257 0,8%
0,7%
25.000
0,6%
Milira Rp
20.000 0,5%
15.000 0,4%
0,3%
10.000 0,3% 0,3% 0,3% 0,2% 8.147 7.723
0,2% 0,2% 0,2% 0,2%0,2%
5.000
0,1%
0 0,0%
Q1 Q2**
2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Industri Furnitur Kontribusi terhadap total PDB
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026
Realisasi investasi pada industri furnitur sepanjang semester I 2026 menunjukkan perkembangan
yang cukup dinamis, dengan perubahan komposisi antara Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat
sebesar Rp729,1 miliar dari PMDN dan Rp339,3 miliar dari PMA, sehingga total investasi
mencapai sekitar Rp1,07 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi industri furnitur pada
awal 2026 masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik, dengan kontribusi PMDN sekitar
68% dari total investasi.
Memasuki triwulan II 2026, realisasi PMDN mengalami penurunan menjadi Rp587,8 miliar, atau
sekitar 19,4% secara kuartalan. Namun, penurunan tersebut diimbangi oleh peningkatan investasi
asing yang cukup signifikan. Realisasi PMA meningkat menjadi Rp474,0 miliar, atau tumbuh
sekitar 39,7% dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan demikian, total investasi pada triwulan
II 2026 mencapai sekitar Rp1,06 triliun, relatif stabil dibandingkan triwulan I.
Secara kumulatif, sepanjang semester I 2026 industri furnitur berhasil mencatatkan total realisasi
investasi sekitar Rp2,13 triliun, yang terdiri dari Rp1,32 triliun PMDN dan Rp813,3 miliar PMA.
Meskipun investasi domestik masih menjadi sumber utama pembiayaan, peningkatan PMA pada
Halaman 40 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 42
triwulan II menunjukkan adanya penguatan minat investor asing terhadap industri furnitur
Indonesia. Pergeseran komposisi investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek industri,
terutama dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi, ekspansi usaha, serta
pengembangan pasar furnitur yang berorientasi ekspor.
Industri Furnitur
800.000 729.106
700.000
587.836
600.000
474.045
500.000
400.000 339.271
300.000
200.000
100.000
-
PMDN PMA PMDN PMA
2026 - Q1 2026 - Q2
Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026
Perkembangan Ekspor-Impor Furnitur 2026
Kinerja ekspor produk kayu dan barang dari kayu Indonesia yang tercermin melalui HS 44
menunjukkan pertumbuhan positif pada 2025. Nilai ekspor meningkat dari sekitar US$3,98 miliar
pada 2024 menjadi US$4,06 miliar pada 2025, atau tumbuh 2,2%. Peningkatan tersebut
menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk berbasis kayu Indonesia di pasar internasional
masih relatif terjaga, meskipun jumlah negara tujuan ekspor mengalami penurunan dari 172
negara menjadi 169 negara.
Disamping itu pada kinerja perdagangan furnitur Indonesia selama Januari–Mei 2026
menunjukkan bahwa nilai ekspor masih berada di atas impor pada setiap bulan. Nilai ekspor
tercatat sebesar US$147,40–177,98 juta per bulan, sedangkan impor berada pada kisaran
US$53,28–109,74 juta. Ekspor tertinggi terjadi pada Januari sebesar US$177,98 juta, sementara
nilai terendah tercatat pada Maret sebesar US$147,40 juta.Di sisi impor, nilai tertinggi terjadi
pada Mei sebesar US$109,74 juta, meningkat cukup signifikan dibandingkan April sebesar
US$87,28 juta. Sementara itu, impor terendah terjadi pada Maret sebesar US$53,28 juta.
Secara kumulatif, selama lima bulan pertama 2026, ekspor furnitur mencapai sekitar US$835,75
juta, sedangkan impor sebesar US$422,80 juta, sehingga Indonesia masih mencatat surplus
perdagangan furnitur sekitar US$412,95 juta. Maka dari itu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa
industri furnitur Indonesia masih memiliki posisi perdagangan yang positif, dengan nilai ekspor
yang hampir dua kali lipat nilai impornya selama periode Januari–Mei 2026. Namun, kenaikan
impor pada Mei perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan meningkatnya kebutuhan
terhadap produk atau bahan furnitur dari luar negeri.
Halaman 41 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 43
200
177,98 180,50
174,14
180
155,73
160 147,40
140
Dalam Juta US$
120 109,74
100 86,01 86,49 87,28
80
60 53,28
40
20
0
Januari Februari Maret April Mei
Ekspor Impor
Sumber: Sumber: BPS (diolah Pusdatin Kemenperin), 2026
Grafik 8. Nilai Ekpor dan Impor Industri Furnitur 2026
Pangsa Pasar
Berdasarkan hasil penyaringan perusahaan publik dengan klasifikasi industri utama Home
Furnishings, pendapatan tahun buku terakhir pada kisaran Rp10–500 miliar, serta 10 perusahaan
dengan peringkat teratas, total pendapatan kelompok emiten pembanding tercatat sebesar sekitar
Rp1,35 triliun. Dalam kelompok tersebut, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) mencatat
pendapatan LTM sebesar Rp45,1 miliar, dengan kontribusi sekitar 3,34% terhadap total
pendapatan kelompok pembanding. Posisi SOFA berada pada peringkat ke-11 dan relatif
berdekatan dengan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) yang memiliki kontribusi sebesar
3,35%.
Kelompok pembanding menunjukkan struktur pendapatan yang cukup tersebar. Silky Overseas
Limited memiliki kontribusi terbesar sebesar 14,94%, diikuti oleh Spring Art Holdings Berhad
sebesar 14,47% dan Pil Italica Lifestyle Limited sebesar 14,01%. Tiga perusahaan tersebut secara
kumulatif menyumbang sekitar 43,4% dari total pendapatan kelompok, sedangkan SOFA memiliki
kontribusi yang relatif kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan dengan pendapatan terbesar.
Dari sisi posisi kompetitif, pendapatan SOFA sebesar Rp45,1 miliar menunjukkan bahwa skala
pendapatannya masih berada di bawah sebagian besar emiten pembanding. Namun, nilai
tersebut relatif berdekatan dengan SPRE dan masih lebih tinggi dibandingkan Fancy Wood
Industries PCL yang memiliki kontribusi sebesar 3,41% dengan pendapatan Rp46,1 miliar. Hal ini
menunjukkan bahwa SOFA berada dalam kelompok emiten dengan skala pendapatan yang
relatif lebih kecil, sehingga terdapat ruang untuk meningkatkan skala usaha apabila perusahaan
mampu memperluas kapasitas produksi, jaringan distribusi, maupun penetrasi pasar.
Halaman 42 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 44
Silky Overseas Limited Spring Art Holdings Berhad
Pil Italica Lifestyle Limited Hing Lee (HK) Holdings Limited
Thuan An Wood Processing JSC FACB Industries Incorporated Berhad
Maruti Interior Products Limited Priti International Limited
Fancy Wood Industries PCL PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk
PT Solusi Environment Asia Tbk
3% 3%
4% 15%
4%
7%
15%
10%
12% 14%
13%
Sumber: S&P,2026
Grafik 9. Pemetaan Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait
Sasaran
Sasaran pasar utama Perseroan adalah pasar furnitur kelas menengah di dalam negeri, terutama
pelanggan korporasi seperti perusahaan properti, hotel, dan bisnis lainnya yang membutuhkan
pengadaan furnitur secara berkala dalam jumlah tertentu. Selain itu, Perseroan juga menyasar
konsumen ritel kelas menengah di perkotaan yang terus berkembang seiring dengan
pertumbuhan sektor properti dan hunian.
Fokus pada pasar domestik dipilih karena Perseroan saat ini masih berada pada tahap
pengembangan skala usaha yang berfokus pada penguatan pasar inti di dalam negeri. Dengan
pendapatan sekitar Rp45,13 miliar, Perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan di industri
furnitur yang memiliki tingkat persaingan cukup beragam di tingkat regional. Kondisi ini
mendorong Perseroan untuk memprioritaskan penguatan posisi di pasar domestik terlebih dahulu,
khususnya melalui produk furnitur yang memiliki nilai tambah dan diferensiasi, sehingga dapat
membangun fondasi bisnis yang lebih solid.
3.3. Persaingan Pasar
Persaingan industri furnitur cukup ketat, terutama dari negara produsen besar seperti Tiongkok
dan Vietnam yang memiliki skala ekspor jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Dengan ekspor
furnitur Indonesia sebesar US$1,85 miliar pada 2025, persaingan berdasarkan volume dan harga
menjadi cukup berat. Karena itu, peluang Perseroan lebih realistis diarahkan pada kualitas,
desain, dan produk dengan nilai tambah.
Dibandingkan emiten pembanding regional, skala usaha Perseroan masih relatif kecil dengan
pendapatan Rp45,13 miliar atau sekitar 3,34% dari total pendapatan kelompok pembanding.
Halaman 43 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 45
Namun, penurunan pendapatan juga dialami sebagian besar perusahaan pembanding, sehingga
tekanan yang terjadi menunjukkan adanya tantangan di tingkat industri.
3.4. Strategi Pemasaran
Perseroan akan memprioritaskan pasar domestik, terutama pelanggan korporasi seperti properti,
hotel, dan instansi yang membutuhkan furnitur secara berkala. Untuk pasar ritel, pemasaran dapat
diperluas melalui kanal digital dan kerja sama dengan peritel furnitur.
Pasar ekspor akan dikembangkan secara bertahap dengan fokus pada produk bernilai tambah
dan volume yang terukur. Timur Tengah dan India dapat menjadi pasar alternatif seiring dengan
upaya pemerintah memperluas tujuan ekspor furnitur Indonesia.
3.5. Prospek Industri
Industri furnitur masih memiliki peluang pertumbuhan, didukung oleh pasar global yang terus
berkembang dan upaya pemerintah mendorong ekspor serta perluasan pasar. Namun, industri
tetap menghadapi tantangan berupa pelemahan ekspor, ketidakpastian ekonomi global,
perubahan kebijakan perdagangan, dan biaya logistik.
Bagi Perseroan, strategi yang paling realistis adalah memperkuat pasar domestik dan skala usaha
terlebih dahulu, kemudian memperluas pasar ekspor secara bertahap.
3.6. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar
Secara keseluruhan, industri furnitur Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan,
didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga, perkembangan industri yang
relatif stabil, serta investasi yang masih berjalan. Pada semester I 2026, investasi industri furnitur
mencapai sekitar Rp2,13 triliun, sementara perdagangan furnitur juga menunjukkan posisi yang
positif dengan surplus sekitar US$412,95 juta pada Januari–Mei 2026. Ke depan, pasar domestik
menjadi sasaran yang realistis untuk diperkuat, terutama melalui pelanggan korporasi dan ritel
kelas menengah. Sementara itu, pasar ekspor dapat dikembangkan secara bertahap, khususnya
ke pasar alternatif seperti Timur Tengah dan India.
Di sisi lain, meskipun skala Perseroan masih dalam tahap pengembangan dibandingkan
beberapa perusahaan furnitur pembanding, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Perseroan
untuk lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar dan membangun
keunggulan yang lebih spesifik. Persaingan dengan produsen besar seperti Tiongkok dan Vietnam
memang cukup ketat, terutama dari sisi volume dan harga, sehingga Perseroan perlu mengambil
pendekatan yang berbeda melalui kualitas, desain, dan produk bernilai tambah. Dengan
demikian, strategi yang paling sesuai adalah memperkuat pasar domestik dan skala usaha
terlebih dahulu, kemudian memperluas pasar ekspor secara selektif sesuai dengan kemampuan
dan kesiapan Perseroan.
Halaman 44 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 46
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1. Bisnis Perusahaan
Perseroan saat ini menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur dari kayu (KBLI
31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI 31004), dengan produk berupa meja, kursi, tempat
tidur, lemari, rak, kabinet, serta produk furnitur lainnya untuk kebutuhan rumah tangga dan
perkantoran. Kegiatan usaha tersebut telah menjadi operasional Perseroan dan didukung oleh
fasilitas produksi, pengalaman di sektor manufaktur furnitur, serta jaringan pemasaran yang telah
dikembangkan sejak Perseroan memulai kegiatan komersial. Seiring dengan perkembangan
strategi usaha, Perseroan tidak hanya berupaya mempertahankan dan mengembangkan bisnis
operasional yang telah berjalan, tetapi juga melakukan pengembangan portofolio melalui
penyertaan modal pada entitas yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan energi,
termasuk proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Pengembangan
investasi tersebut dilakukan melalui entitas anak Perseroan sebagai bagian dari upaya diversifikasi
usaha dan penciptaan sumber pertumbuhan jangka panjang.
Di sisi lain, Perseroan juga mempertimbangkan penguatan struktur usaha melalui pengembangan
fungsi induk guna mendukung ekspansi bisnis yang lebih fleksibel dan terintegrasi. Dengan
strategi tersebut, Perseroan diharapkan mampu mengelola berbagai lini usaha secara lebih
optimal serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Dalam
kondisi tersebut, Perseroan memandang perlu untuk menambahkan KBLI 64210 Aktivitas
Perusahaan Induk sebagai landasan kegiatan usaha dalam menjalankan fungsi perusahaan induk
secara lebih terstruktur dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penambahan KBLI 64210 ditujukan untuk memberikan dasar legalitas bagi Perseroan dalam
melakukan pengelolaan kepemilikan saham dan penyertaan modal pada entitas anak dan/atau
entitas investee, melaksanakan pengawasan terhadap kinerja entitas dalam grup,
mengoordinasikan arah dan strategi pengembangan usaha, serta melakukan evaluasi atas
portofolio investasi Perseroan. Dengan adanya kegiatan usaha perusahaan induk, fungsi
pengelolaan investasi dan koordinasi strategis dapat dilakukan secara terpusat tanpa mengubah
kegiatan operasional utama yang tetap dijalankan oleh masing-masing entitas sesuai bidang
usahanya. Dengan demikian, penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk merupakan
bagian dari penguatan struktur dan tata kelola usaha Perseroan.
4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Induk
Dalam rangka mendukung rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk,
Perseroan berencana untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan holding yang berperan
dalam pengelolaan, pengendalian, serta pengawasan terhadap entitas anak. Pelaksanaan fungsi
induk tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan organisasi,
sumber daya, serta kompleksitas kegiatan usaha.
Secara umum, peran Perseroan sebagai holding akan difokuskan pada aspek pengendalian
strategis, termasuk penetapan arah kebijakan, pengawasan kinerja, serta pengelolaan investasi
pada entitas anak. Dalam hal ini, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan
operasional harian entitas konsorsium, melainkan bertindak sebagai pengendali (controlling
Halaman 45 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 47
entity) yang memastikan bahwa seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan strategi dan tata
kelola yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya, Perseroan direncanakan akan menetapkan struktur tata kelola
(governance structure) yang mencakup pembagian peran dan tanggung jawab antara Perseroan
selaku perusahaan induk, entitas anak, dan entitas konsorsium. Fungsi-fungsi strategis seperti
perencanaan korporasi, pengendalian keuangan, manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap
regulasi akan dikoordinasikan oleh Perseroan sebagai holding, sementara seluruh fungsi
operasional sepenuhnya berada pada perusahaan operasional proyek.
Proses Produksi dan/atau Operasional
Dalam kegiatan usaha existing, SOFA menjalankan kegiatan produksi furnitur berbahan dasar
kayu dan logam yang didukung oleh fasilitas dan proses produksi yang dimiliki Perseroan. Namun,
pada rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk,
Perseroan tidak melakukan kegiatan produksi atau menghasilkan produk secara langsung.
Aktivitas tersebut akan berfokus pada fungsi pengelolaan investasi, pengendalian strategis,
pengawasan, serta koordinasi terhadap entitas anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur
investasi Perseroan.
Alur dan Flow Chart
Sehubungan dengan rencana penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk, Perseroan
tidak memiliki alur proses produksi (production flow) khusus karena kegiatan tersebut tidak
menghasilkan produk secara langsung. Alur kegiatan berupa proses pengelolaan dan
pengendalian pada tingkat korporasi, yaitu pengambilan keputusan investasi, penetapan arah
dan kebijakan strategis, pemantauan kinerja, pengendalian dan pengawasan entitas anak, serta
pelaporan dan konsolidasi.
4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Perusahaan Induk
Seiring dengan perkembangan portofolio usaha Perseroan, SOFA tidak hanya menjalankan
kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur, tetapi juga mulai mengembangkan investasi
pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk melalui penyertaan pada entitas yang
terlibat dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Perkembangan
tersebut menyebabkan struktur usaha Perseroan menjadi beragam dan meningkatkan kebutuhan
akan pengelolaan kepemilikan serta investasi agar terstruktur pada tingkat Perseroan.
Perseroan berencana memperkuat fungsi sebagai perusahaan induk melalui penambahan KBLI
64210 Aktivitas Perusahaan Induk. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk memberikan
dasar bagi SOFA dalam menjalankan fungsi sebagai pemilik dan pengelola kepemilikan pada
entitas anak dan/atau entitas investee dalam grup, termasuk melakukan pengendalian atas
kepemilikan, konsolidasi keuangan, serta pengawasan terhadap perkembangan investasi yang
dimiliki Perseroan.
Perseroan akan melakukan penambahan penyertaan pada entitas dalam konsorsium proyek WTE,
yaitu PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG), yang
dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan, yaitu PT Ananta Energi Asia (AEA). Rencana
penyertaan tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan portofolio investasi Perseroan
Halaman 46 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 48
pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi serta dilakukan untuk mendukung
pengembangan proyek yang memiliki prospek jangka panjang.
Fungsi perusahaan induk diperlukan agar pengelolaan berbagai kepemilikan dan investasi
Perseroan dapat dilakukan terarah dengan melakukan pemantauan atas struktur kepemilikan,
perkembangan investasi, kinerja entitas anak dan/atau entitas investee, serta memastikan bahwa
pengembangan portofolio investasi tetap sejalan dengan strategi dan tujuan Perseroan. Dengan
demikian, rencana penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA ditujukan
untuk memperkuat fungsi Perseroan sebagai perusahaan induk dalam mengelola kepemilikan
dan investasi pada entitas dalam grup, termasuk mendukung pengembangan investasi pada
proyek WTE atau investasi pada sektor usaha lainnya dimasa mendatang.
Struktur Penyertaan
SOFA berencana untuk melakukan penyetoran modal pada perusahaan-perusahaan dalam
konsorsium melalui entitas anaknya, AEA, guna mendukung pendanaan konstruksi proyek
pengolahan sampah menjadi energi. Dana untuk penyetoran modal akan berasal dari Right Issue.
Berikut informasi mengenai para pihak yang menjadi pemegang saham dalam struktur
penyertaan Perseroan:
1. PT Weiming Nusantara Alpha
PT Weiming Nusantara Alpha (“WNA”) merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan
Akta Pendirian No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
Republik Indonesia Nomor AHU-0012748.AH.01.01.Tahun 2026 Tentang Pengesahan
Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming Nusantara Alpha. Anggaran dasar
perusahaan telah mengalami perubahan dengan perubahan terakhir berdasarkan Akta No.
08 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat
dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-0338739 Tanggal 19 Juni
2026 tentang perubahan peralihan saham.
Kegiatan usaha WNA berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 08 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
pemegang saham WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 11. Susunan Pemegang Saham WNA
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
Zhejiang Weiming Environment
790.000 79,00% 790.000 13.272.000.000
Protection Co., Ltd.,
Halaman 47 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 49
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
Lentera Merah Investment Pte.,
100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Ltd.,
PT Perkasa Eka Cipta Investama 10.000 1,00% 10.000 168.000.000
PT Ananta Energi Asia 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Total 1.000.000 100,00% 1.000.000 16.800.000.000
Sumber: Informasi Manajemen
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 susunan
Dewan Komisaris dan Direksi WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris : Cheng, Peng
Direksi:
Direktur Utama : Xiang, Yihao
Direktur : Xiang, Guangfeng
Direktur : Lin, Jiqun
2. PT Weiming Nusantara Gamma
PT Weiming Nusantara Gamma (“WNG”) merupakan perusahaan yang didirikan
berdasarkan Akta Pendirian No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn.,
Notaris di Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0020345.AH.01.01.TAHUN 2026 Tanggal 10
Maret 2026 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming
Nusantara Gamma. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami perubahan dengan
perubahan terakhir berdasarkan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH.,
MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik
Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
AHU-AH.01.09-0322886 Tanggal 09 Juni 2026 tentang perubahan peralihan saham.
Kegiatan usaha WNG berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
pemegang saham WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNG
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
Weiming Environment Protection
790.000 79,00% 790.000 13.272.000.000
(Hongkong) Limited
Lentera Merah Investment Pte., Ltd., 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Halaman 48 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 50
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
PT Perkasa Eka Cipta Investama 10.000 1,00% 10.000 168.000.000
PT Ananta Energi Asia 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Total 1.000.000 100,00% 1.000.000 16.800.000.000
Sumber: Informasi Manajemen
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 susunan Dewan
Komisaris dan Direksi WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris : Cheng, Peng
Direksi:
Direktur Utama : Xiang, Yihao
Direktur : Xiang, Guangfeng
Direktur : Lin, Jiqun
Struktur Kepemilikan Entitas Anak
Alur pendanaan dilaksanakan dari Perseroan kepada AEA sebagai entitas anak dengan
kepemilikan 99%, selanjutnya diteruskan oleh AEA kepada WNA dan WNG dalam bentuk setoran
modal dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, sementara 90% sisanya dimiliki
oleh anggota konsorsium lain. WNA dan WNG selanjutnya menyalurkan modal tersebut kepada
perusahaan operasional (operating company) proyek Denpasar Raya (atau Proyek Bali) dan proyek
Bogor Raya (atau Proyek Bogor). Rincian struktur kepemilikan pada entitas konsorsium sebagai
berikut:
Grafik 10. Struktur Kepemilikan
Sumber: Informasi Manajemen
Halaman 49 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 51
4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium
WNA dan WNG merupakan entitas dalam struktur konsorsium yang menjadi tujuan penambahan
setoran modal Perseroan melalui entitas anaknya, AEA. Kedua entitas tersebut berkedudukan
sebagai pemegang saham mayoritas, masing-masing sebesar 70%, pada perusahaan
operasional (operating company) Proyek Bali dan Proyek Bogor, sedangkan 30% sisanya dimiliki
oleh PT Danantara Investment Management secara tidak langsung melalui anak usahanya, PT
Daya Energi Bersih Nusantara. Perusahaan konsorsium beroperasi sebagai penerima setoran
modal dari pemegang saham dan pemberi setoran modal kepada perusahaan project waste to
energy. Dengan begitu, kepemilikan SOFA pada perusahaan proyek waste to energy merupakan
kepemilikan tidak langsung lewat perusahaan konsorsium WNA dan WNG. Selanjutnya perolehan
laba pada perusahaan proyek waste to energy diserap oleh perusahaan konsorsium lewat skema
pembagian dividen, dan selanjutnya perolehan tersebut diserap SOFA lewat mekanisme
pembagian dividen dari WNA dan WNG ke pendapatan dividen SOFA.
Proyek yang dijalankan perusahaan proyek sendiri bergerak di bidang pengolahan sampah
menjadi energi (waste to energy/WTE), yaitu solusi penanganan limbah yang efisien untuk
mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang
berkelanjutan. Dengan mengubah sampah kota menjadi energi yang dapat digunakan, fasilitas
WTE membantu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, menurunkan emisi
gas rumah kaca, meningkatkan sanitasi lingkungan, serta mendukung transisi menuju sumber
energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Indonesia saat ini memasuki tahap mempercepat pengembangan pengolahan sampah menjadi
energi. Didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, industri ini memperoleh
manfaat dari kejelasan regulasi yang lebih kuat, koordinasi proyek yang terpusat dan dirancang
untuk meningkatkan kelayakan proyek jangka panjang. Peraturan Presiden tersebut secara resmi
mencabut dan menggantikan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Kepastian harga dan
jangka waktu kontrak tersebut menghasilkan arus kas yang dapat diproyeksikan pada tingkat
perusahaan operasional, sehingga menjadi dasar pertimbangan utama dalam skema pendanaan
yang direncanakan Perseroan.
Kedua proyek yang dinaungi WNA dan WNG berada pada lokasi prioritas nasional, yaitu
Denpasar Raya dan Bogor Raya, yang termasuk dalam lima lokasi yang ditargetkan memulai
pembangunan pada tahap awal sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun
2025. Proyek-proyek tersebut saat ini sedang menjalani persiapan teknis sebelum konstruksi.
Proses bisnis pada perusahaan operasional disusun dengan mengacu pada model usaha
pengolahan sampah berbasis teknologi termal dan pembangkitan tenaga listrik pada umumnya
mencakup tahapan pengembangan proyek, penerimaan dan pengolahan sampah,
pembangkitan serta penjualan tenaga listrik, hingga penanganan residu dan pemantauan
lingkungan. Secara umum proses bisnis WTE sebagai berikut:
1. Pengembangan Proyek
• Studi Kelayakan
• Karakterisasi Sampah
• Kesiapan Lokasi & Lahan
• Perizinan & Persetujuan Lingkungan
• Penandatanganan PPA dengan PLN
• Financial Close
Halaman 50 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 52
2. Pengadaan Teknologi & Konstruksi
• Pemilihan Penyedia Teknologi
• Penandatanganan Kontrak EPC
• Rekayasa, Pengadaan & Konstruksi (EPC)
• Penyelesaian Konstruksi (Mechanical Completion)
• Uji Jaminan Kinerja (Performance Guarantee)
3. Commissioning & Persiapan Operasi
• Uji Commissioning
• Uji Kinerja Pembangkit
• Dimulainya Operasi Komersial (COD)
4. Pembangkitan & Penjualan Listrik/Operasi Komersial
• Penerimaan & Pengolahan Sampah
• Produksi Tenaga Listrik dari Sampah
• Penjualan Listrik kepada PLN
• Pelaksanaan PPA selama 30 Tahun
• Arus kas Proyek Mulai Berjalan
5. Optimasi, Pemeliharaan & Kepatuhan Lingkungan
• Pemeliharaan Rutin Pembangkit
• Optimalisasi Kinerja Pembangkit
• Pengelolaan Bottom Ash & Fly Ash
• Pemantauan Emisi & Kepatuhan Lingkungan
4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI
64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat
kegiatan tersebut dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang
berfokus pada pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas
anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi
sebagai perusahaan induk tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun
penggunaan teknologi produksi tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh
kesiapan struktur tata kelola (governance structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara
Perseroan, entitas anak, dan entitas operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan
kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan
demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai
perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian tetap dilaksanakan oleh entitas
operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya.
Halaman 51 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 53
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Kegiatan Utama Usaha
Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan besar
selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas profesional,
ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta perlengkapan rumah
tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana pensiun, guna mendukung
pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Perseroan dalam menjalankan
maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha utama SOFA:
a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk
sejenis lainnya; dan
b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur untuk
kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama logam,
termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.
2. Kegiatan usaha penunjang SOFA:
a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet, serta
produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan perlengkapan
tidur seperti bantal dan guling;
b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI 47599),
yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan rumah tangga
yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan lainnya;
c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang meliputi
kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya yang
melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas nama
pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain bahan
baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu dan bahan
bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang keperluan rumah
tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda motor (KBLI 451–454);
d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit, wallpaper,
pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan interior lainnya;
e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan desain
produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material, konstruksi,
keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta penggunaan, sesuai
dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
Halaman 52 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 54
f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan lainnya;
g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta perlengkapan
rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan lepas (self-standing);
dan
h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset dan
kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi dan
perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.
5.2 Penambahan Kegiatan Usaha
Manajemen SOFA memandang bahwa rencana pengembangan usaha, khususnya dalam bidang
pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), perlu dijalankan melalui entitas
tersendiri agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu memberikan
kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Selain itu, pembentukan entitas anak
diharapkan dapat mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam
pengelolaan dan pengembangan bisnis.
Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan
penambahan kegiatan usaha dengan mengadopsi fungsi sebagai perusahaan induk. Langkah ini
diperlukan agar Perseroan memiliki landasan hukum dan struktur usaha yang memadai dalam
membentuk serta mengelola entitas anak, termasuk yang bergerak di bidang pengolahan sampah
menjadi energi (WTE).
Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
berikut:
Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha
Nama KBLI : Aktivitas Perusahaan Induk
Kode KBLI : 64210
Kelompok ini mencakup kegiatan perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan
yang memiliki dan mengendalikan aset dari satu atau lebih perusahaan subsidiari, dengan
kegiatan utama berupa kepemilikan atas entitas tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara
langsung menjalankan kegiatan operasional dari entitas anak, melainkan berperan dalam
pengelolaan strategis, pengawasan kinerja, serta pengambilan keputusan investasi. Kegiatan
holding juga dapat mencakup dukungan dalam perencanaan pengembangan usaha, termasuk
kajian atas kerja sama strategis, merger, maupun akuisisi yang relevan dengan strategi
pertumbuhan Perseroan.
5.3 Keunggulan Kompetitif
Dalam rencana pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI 64210 sebagai
perusahaan induk, SOFA memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari kemampuannya
dalam mendukung dan mengintegrasikan kegiatan usaha dalam satu grup. Perseroan
sebelumnya sebagai entitas operasional di sektor industri furnitur dari kayu dan logam, yang
Halaman 53 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 55
potensi untuk menjadi pengelolaan yang mampu membangun sinergi antar lini usaha serta
mengalokasikan modal ke sektor dengan prospek yang menguntungkan. Keunggulan kompetitif
yang dimiliki SOFA terkait dengan aktivitas perusahaan induk terletak pada kualitas sumber daya
manusia di level pengendali. Sebagai perusahaan holding yang tidak terlibat dalam kegiatan
operasional entitas anaknya, nilai tambah berasal dari kemampuan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam pengelolaan investasi.
Perseroan memiliki kemampuan dalam mendukung usaha dalam grup (group support), melalui
status sebagai perusahaan terbuka yang memiliki akses terhadap sumber pendanaan pasar
modal, pengalaman pengelolaan usaha, kapasitas tata kelola dan pelaporan sebagai emiten di
Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2020. Manajemen dalam menjalankan usahanya memiliki track
record sebagai perusahaan induk dengan kepemilikan saham langsung pada PT Parivarta Energi
Nusantara, PT Pratama Satya Prima dan PT Pratama Satya Tunggal yang merupakan perusahaan
bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture sehingga SOFA dapat dianggap
perusahaan investasi yang berpengalaman. Dengan demikan, SOFA dalam menjalankan
kegiatan usaha aktivitas induk memiliki keunggulan kompetitif dan terus mengembangkan
keunggulan kompetitifnya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh
SOFA. Sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya merupakan salah satu kunci
keberhasilan untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu, aktivitas perusahaan induk akan
didukung dengan cara melakukan investasi pada perusahaan sektor lainnya dengan
mempertimbangkan potensi pasar guna meningkatkan daya saing SOFA.
5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Jumlah pesaing bisnis yang memiliki karakter bisnis yang sama dengan SOFA tergolong tinggi,
yang dibuktikan dengan banyaknya perusahaan dengan aktivitas holding di Indonesia. Terdapat
sejumlah perusahaan induk dan investasi yang memiliki model bisnis serupa dengan Perseroan.
Kegiatan usaha yang dijalankan SOFA tidak menghasilkan produk atau jasa yang dipasarkan
secara langsung kepada pelanggan, sehingga aspek kemampuan pesaing untuk meniru produk
tidak menjadi faktor utama dalam menilai persaingan usaha. Perusahaan-perusahaan lain
melakukan investasi pada sektor usaha yang sama atau menargetkan perusahaan yang memiliki
prospek pertumbuhan yang menjanjikan kedepan. Kemungkinan persaingan dengan bidang
usaha perusahaan investasi atau perusahaan holding cukup besar di mana perusahaan lain dapat
melakukan investasi pada perusahaan lain yang diperkirakan memiliki potensi pasar yang baik.
Kegiatan usaha ini tidak menghasilkan produk sehingga pesaing yang memiliki dana investasi
dapat melakukan penyertaan saham dan menjadi perusahaan induk. Hal tersebut membuat
persaingan dalam aktivitas perusahaan induk yang berinvestasi pada entitas lain menjadi
kompetitif. Upaya untuk tetap bertahan di tengah persaingan yang kompetitif dilakukan oleh
SOFA dengan memitigasi risiko sebelum menentukan investasi yang akan dilakukan oleh SOFA.
Dalam menghadapi persaingan tersebut, Perseroan berencana menerapkan strategi yang
berfokus pada selektivitas investasi, penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi sinergi pada
entitas anak, serta pengembangan jaringan bisnis untuk memperoleh akses terhadap peluang
investasi yang potensial. Upaya yang telah dilakukan SOFA di antaranya dengan menjalin
kemitraan strategis melalui entitas anaknya, yakni bergabung dalam suatu konsorsium yang
dipimpin oleh Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta afiliasinya untuk
pengembangan proyek di sektor lain yang diharapkan memberikan keuntungan jangka panjang
bagi perusahaan. Selain itu perusahaan akan mengedepankan kompetensi sumber daya manusia
agar mendorong terciptanya nilai tambah bagi perusahaan.
Halaman 54 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 56
5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai
Pola bisnis berbasis holding memberikan ruang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah
melalui beberapa aspek strategis sebagai berikut:
1. Diversifikasi pendapatan
Ditengah ketidakpastian pasar yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan yang
bergantung pada permintaan produk furnitur, maka diversifikasi sumber pendapatan
dengan melakukan investasi pada entitas anak di berbagai jenis industri, diharapkan dapat
menciptakan stabilitas, dan daya saing dalam jangka panjang bagi. Penambahan lini usaha
ini dapat meningkatkan ketahanan usaha terhadap fluktuasi sektor properti dan daya beli
masyarakat.
2. Fleksibilitas pengembangan usaha
Struktur sebagai perusahaan induk membuat SOFA dapat melakukan ekspansi, baik melalui
pembentukan entitas baru, penyertaan pada sektor lainnya. Dalam menjalankan aktivitas
perusahaan induk, SOFA senantiasa berupaya untuk memberikan kontribusi bagi
peningkatan dan penguatan daya saing entitas anak agar menciptakan nilai jangka panjang
bagi perusahaan kedepan.
3. Penguatan kinerja keuangan
Dalam penambahan usaha aktivitas perusahaan induk holding dapat memberikan
tambahan sumber pendapatan dan meningkatkan kinerja keuangan konsolidasi bagi SOFA.
Dengan demikan, manfaat atas penambahan kegiatan usaha perusahaan induk mampu
memberikan nilai tambah untuk SOFA.
Dengan demikian, penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dapat menciptakan nilai
terutama melalui penguatan pengelolaan investasi dan keuangan. Nilai tambah tercermin dari
berkembangnya portofolio investasi dan meningkatnya kinerja entitas dalam grup. Selain itu,
ketiga hal tersebut memberikan kontribusi positif terhadap penciptaan nilai, baik bagi Perseroan
maupun pemegang saham.
5.6 Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.
Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
internal serta dinamika eksternal yang dihadapi. Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana
Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA:
Halaman 55 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 57
Strengths (Kekuatan)
• Telah memiliki struktur grup dan entitas anak, di antarnya yaitu PT Parivarta Energi Nusantara
(d/h PT Pratama Satya Prima) dan PT Pratama Satya Tunggal yang merupakan perusahaan
bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture sehingga Perseroan telah memiliki
dasar struktur kepemilikan yang dapat dikembangkan dalam menjalankan fungsi
perusahaan induk.
• Status sebagai perusahaan terbuka, dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia sejak
tahun 2020, memberikan dukungan dari sisi tata kelola, pelaporan, keterbukaan informasi,
dan akses terhadap sumber pendanaan yang diperlukan dalam pengembangan portofolio
investasi.
• Memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan usaha yang telah berjalan, khususnya
industri furnitur dari kayu dan logam, sehingga Perseroan memiliki manajemen yang dapat
menjadi dasar dalam pengembangan fungsi pengelolaan grup.
• Memiliki arah pengembangan usaha yang mendukung diversifikasi pendapatan, termasuk
sektor pengelolaan lingkungan dan energi untuk mengelola portofolio usaha yang lebih
beragam dan tidak hanya bergantung pada satu bidang usaha.
Weaknesses (Kelemahan)
• Perbedaan karakteristik usaha antarentitas dalam grup dapat meningkatkan kompleksitas
pengelolaan. Perseroan perlu memastikan adanya koordinasi yang memadai antara
kegiatan usaha furnitur dengan investasi pada sektor lainnya.
• Meningkatnya kompleksitas struktur grup seiring bertambahnya entitas yang dimiliki
dan/atau dikendalikan membutuhkan penguatan sistem tata kelola, manajemen risiko,
pelaporan, pengawasan investasi, serta koordinasi antarentitas.
• Kinerja Perseroan sebagai perusahaan induk akan dipengaruhi oleh kinerja entitas anak dan
entitas investee, sehingga keberhasilan pengelolaan portofolio tidak sepenuhnya berada
dalam kendali langsung Perseroan.
Opportunities (Peluang)
• Pengembangan fungsi perusahaan induk dapat meningkatkan portofolio investasi, karena
keputusan terkait kepemilikan, pengembangan usaha, dan alokasi sumber daya dapat
dikoordinasikan pada tingkat Perseroan.
• Diversifikasi portofolio usaha melalui penyertaan pada sektor lain memberikan peluang bagi
Perseroan untuk memperoleh sumber nilai dari bidang usaha di luar kegiatan industri
furnitur.
• Struktur perusahaan induk memberikan fleksibilitas dalam pengembangan investasi ke
depan, baik melalui peningkatan penyertaan pada entitas yang telah ada, penambahan
investasi pada entitas baru, maupun kerja sama strategis dengan mitra usaha.
• Pengembangan proyek WTE yang dilakukan oleh entitas dalam grup dapat menjadi salah
satu portofolio investasi yang dikelola oleh Perseroan. Dengan demikian, SOFA dapat
berfokus pada aspek kepemilikan, pengawasan, dan pengembangan investasi, sementara
kegiatan operasional tetap dilaksanakan oleh entitas yang bersangkutan.
Threats (Ancaman)
• Risiko penurunan kinerja entitas anak, entitas investee dapat berdampak terhadap nilai
investasi dan kinerja konsolidasian Perseroan.
• Perubahan regulasi pada sektor usaha entitas investee, khususnya sektor pengelolaan
lingkungan dan energi, dapat memengaruhi prospek dan nilai investasi yang dikelola oleh
Perseroan.
Halaman 56 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 58
• Peningkatan kompleksitas struktur grup dapat meningkatkan risiko koordinasi, pengawasan,
dan pengendalian apabila tidak diikuti dengan sistem tata kelola dan pelaporan yang
memadai.
• Kondisi ekonomi dan pasar yang berubah dapat memengaruhi nilai investasi, kebutuhan
modal, serta kemampuan entitas dalam grup dalam mencapai target kinerja yang telah
ditetapkan.
Kesimpulan Analisis SWOT
Secara keseluruhan, SOFA memiliki beberapa kekuatan yang mendukung rencana penambahan
KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk, antara lain telah memiliki struktur grup dan entitas anak,
status sebagai perusahaan terbuka, serta pengalaman menjalankan kegiatan usaha yang telah
berjalan. Meskipun terdapat kelemahan berupa meningkatnya kompleksitas struktur grup,
perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, serta kebutuhan penguatan kompetensi dan
tata kelola pada tingkat Perseroan. Namun demikian, kelemahan tersebut dapat diminimalkan
melalui penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, pelaporan, serta koordinasi
antarentitas. Dari sisi eksternal, pengembangan fungsi perusahaan induk memberikan peluang
bagi SOFA untuk mengoptimalkan portofolio dan melakukan diversifikasi investasi. Sementara itu,
ancaman utama berasal dari kinerja entitas investee, perubahan regulasi, serta kompleksitas
pengelolaan grup. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan
KBLI 64210 Aktivitas Persahaan Induk secara umum layak.
5.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana
penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini
didukung oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai
perusahaan terbuka, pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya
manusia dan tata kelola yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan
pengendalian pada tingkat korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai
perusahaan induk memberikan fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio
investasi ke berbagai sektor, mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan
kemitraan strategis, serta meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan
konsolidasian. Meskipun terdapat kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas
struktur grup, perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan
kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan terhadap kinerja entitas investee dan perubahan
regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui penguatan fungsi pengawasan,
manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan selektivitas dalam
menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, pola
bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
peningkatan nilai Perseroan ke depan.
Halaman 57 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 59
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen
Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan SOFA dalam
menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan usaha yang
berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, adaptif,
serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri. Oleh karena itu, Perseroan
secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan kompetensi karyawan guna
mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan kebutuhan operasional dan strategi
bisnis.
Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
operasional.
Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
Komisaris Independen : Nuryana Hidayat
Komisaris : Saswinadi Sasmojo
Komisaris : Lusi Amanda
Direksi:
Direktur Utama : Denny Rizal
Direktur : Ezra Mohammed Dhanaguna
Direktur : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
Direktur : Reza Muhammad Mandara
Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
kebijakan perusahaan secara efektif.
Halaman 58 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 60
Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan
Induk, SOFA pada tahap awal akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah dimiliki untuk
menjalankan fungsi perusahaan induk, khususnya dalam pengelolaan investasi, pengendalian
strategis, pemantauan kinerja, serta koordinasi dengan entitas anak dan/atau entitas investee.
Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 1 (satu) karyawan tetap yang dapat mendukung
pelaksanaan fungsi tersebut. Pengalaman Perseroan dalam mengelola entitas anak, antara lain
PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT Pratama Satya Tunggal, juga
menjadi salah satu dasar yang mendukung kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi
sebagai perusahaan induk.
Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi, Perseroan merencanakan penambahan 1
(satu) orang karyawan yang akan mendukung fungsi manajemen portofolio, antara lain dalam
analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio dan entitas investee, koordinasi
dengan entitas anak, serta administrasi dan pelaporan terkait pengelolaan investasi. Penambahan
tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan direalisasikan dengan mempertimbangkan
perkembangan aktivitas serta kebutuhan pengelolaan portofolio Perseroan. Dengan demikian,
sebelum penambahan tersebut direalisasikan, pelaksanaan kegiatan usaha berdasarkan KBLI
64210 akan tetap dijalankan dengan mengoptimalkan tenaga kerja yang tersedia pada
Perseroan. Secara keseluruhan, ketersediaan tenaga kerja dinilai memadai untuk mendukung
tahap awal pelaksanaan fungsi perusahaan induk. Perseroan berupaya mengoptimalkan
kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas, peningkatan
kompetensi, serta pemanfaatan tenaga kerja secara efektif.
6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual
Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).
Sehubungan dengan kegiatan usaha SOFA yang bergerak di bidang industri furnitur serta rencana
pengembangan usaha melalui fungsi holding dan investasi pada entitas anak di bidang
pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), aspek kekayaan intelektual yang
relevan meliputi merek dagang dan desain industri atas produk furnitur, identitas korporasi
Perseroan sebagai emiten, serta hak penggunaan teknologi.
6.4 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
Halaman 59 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 61
1. Risiko Manajemen Investasi
Keputusan investasi yang kurang tepat, seperti penyertaan modal dengan asumsi kelayakan
yang terlalu optimistis atau pada proyek yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini muncul ketika proses pengawasan pasca
investasi lemah sehingga kinerja anak usaha tidak sesuai ekspektasi, yang pada akhirnya
dapat menimbulkan penurunan nilai (impairment) atas penyertaan Perseroan. Untuk
mengurangi risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis dan seleksi investasi
dengan melibatkan konsultan independen, termasuk kajian teknis, hukum, dan keuangan
sebelum keputusan investasi final. Selain itu, penyertaan modal dapat dilakukan secara
bertahap, dengan pemantauan kinerja anak usaha secara periodik sehingga langkah dapat
diambil jika terdapat ketidaksesuaian dengan target.
2. Risiko Regulasi
Perusahaan induk tidak hanya terikat pada aturan terkait kepemilikan, tetapi juga terdampak
oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha anak perusahaan. Perubahan kebijakan pada
masa mendatang merupakan kemungkinan yang dapat terjadi. Mitigasinya adalah dengan
memperkuat fungsi kepatuhan di tingkat holding, membangun komunikasi aktif dengan
regulator, berpartisipasi dalam asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan, serta
menyiapkan rencana agar anak usaha dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan
regulasi.
3. Risiko Ketergantungan dan Konsentrasi Investasi
Sebagai perusahaan induk, kinerja SOFA akan dipengaruhi oleh kinerja portofolio investasi
dan entitas yang berada dalam struktur grup. Konsentrasi investasi pada sektor, wilayah, atau
entitas tertentu dapat meningkatkan eksposur Perseroan terhadap risiko yang berasal dari
karakteristik industri, kondisi pasar, maupun perubahan kebijakan pada sektor tersebut. Untuk
memitigasi risiko tersebut, SOFA perlu menerapkan kebijakan diversifikasi portofolio investasi
secara bertahap, menetapkan batas eksposur investasi pada sektor atau entitas tertentu, serta
melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja, prospek, dan kontribusi masing-masing
investasi terhadap kinerja grup.
4. Risiko Keuangan
Struktur permodalan holding sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
ekuitas maupun utang. Risiko likuiditas timbul jika arus dividen dari anak usaha tidak stabil
atau tertunda. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu menjaga struktur modal yang optimal
dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat, melakukan diversifikasi sumber pendanaan,
serta membatasi pemberian jaminan korporasi kepada entitas anak.
6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Manajemen SOFA pada dasarnya memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai dalam
mengelola kegiatan usaha di bidang industri furnitur, yang menjadi fondasi operasional dalam
pengembangan struktur induk ke depan. Pengalaman yang telah berjalan menunjukkan bahwa
manajemen memiliki pemahaman yang baik terhadap pengelolaan produksi berskala industri,
rantai pasok bahan baku, jaringan ritel, serta hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha.
Halaman 60 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 62
Kapasitas tersebut diperkuat oleh pengalaman Perseroan sebagai perusahaan terbuka sejak
pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020, yang menuntut disiplin dalam
pelaporan berkala, keterbukaan informasi, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Dalam pembentukan sebagai perusahaan dengan bidang usaha holding, kemampuan
manajemen SOFA dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang terintegrasi
antar entitas anak, serta optimalisasi sumber daya yang dimiliki grup. Dari sisi keuangan dan
investasi, manajemen memiliki kapabilitas dalam menyeleksi peluang investasi, menstrukturkan
pendanaan, serta mengelola eksposur risiko pada tingkat grup ditopang pengalaman jajaran
Direksi dan Dewan Komisaris yang secara langsung relevan dengan fungsi holding. Komposisi
kepengurusan Perseroan saat ini memiliki kedalaman pengalaman yang secara langsung
menjawab kedua kebutuhan tersebut. Pengalam susunan direksi dan komisaris SOFA yang
mendukung penambahan KBLI adalah sebagai berikut:
a. Dewan Komisaris
1. Djoko Hendratto (Komisaris Independen)
Profesional senior di bidang keuangan publik dan pasar modal dengan pengalaman
lebih dari 30 tahun. Pernah menjabat Direktur Utama Badan Pengelola Dana
Lingkungan Hidup (BPDLH) periode 2021–2023, mengelola pendanaan iklim dan
keberlanjutan termasuk hibah internasional dan pembiayaan karbon; Direktur Sistem
Manajemen Investasi (SMI) Kementerian Keuangan periode 2018–2021 selaku
pengelola dana pemerintah untuk program investasi publik; Kepala Kanwil Provinsi
Jawa Barat periode 2020–2021; Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU
(PKBLU) periode 2014–2018; Kepala Biro Investasi Bapepam-LK periode 2006–2012;
serta Kepala Bagian TI dan Infrastruktur Pasar Modal Bapepam periode 2001–2006.
Berpendidikan Doktor (PhD) Manajemen Strategik Universitas Indonesia dan MBA
University of Colorado Denver, serta pernah mewakili Indonesia pada forum keuangan
internasional (ADB, OECD, World Bank).
2. Dr. Nuryana Hidayat, ME., ASPM., GRCE (Komisaris Independen)
Pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang skema pembiayaan syariah, structured
finance, penasihatan akuisisi, obligasi dan sukuk, perdagangan efek, serta manajemen
risiko. Beliau terakhir menjabat sebagai anggota Risk & Corporate Governance PT Biro
Klasifikasi Indonesia (Persero) dan hingga kini menjadi anggota Dewan Pengawas
Syariah pada beberapa manajer investasi; sebelumnya Komisaris Independen PT
Reliance Manajer Investasi (2020–2025), Advisor Islamic Financing & Structured Finance
PT Indokapital Investama (2016–2022), serta Direktur dan CEO PT Recapital Asset
Management (2008–2016). Memegang izin Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Ahli
Syariah Pasar Modal (ASPM) dari OJK, serta sertifikasi Governance, Risk, and
Compliance for Executives (GRCE) dan Manajemen Investasi dari BNSP.
3. Prof. Ir. Saswinadi Sasmojo, M.Sc., Ph.D. (Komisaris)
Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung dan pakar sistem energi, anggota
kehormatan Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sejak
2002. Bidang keahlian meliputi analisis sistem energi, pengurangan emisi gas rumah
Halaman 61 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 63
kaca, konversi energi biomassa, transisi energi nasional, serta pemodelan dan evaluasi
kebijakan teknologi.
4. Lusi Amanda (Komisaris)
Pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang akuntansi, keuangan, administrasi umum,
dan operasional pada industri keuangan, khususnya pasar modal dan dana pensiun.
Saat ini menjabat Chief Financial Officer PT Asia Advisors Capital; sebelumnya Head of
Finance, Accounting, Tax & Purchasing pada PT Maybank Asset Management (2015–
2022) dan PT Trimegah Asset Management (2011–2015), serta berbagai posisi di PT
Manulife Asset Management Indonesia (2001–2010). Telah mengikuti pelatihan PSAK
71, 72, 73 oleh OJK.
b. Direksi
1. Denny Rizal (Direktur Utama)
Pengalaman lebih dari 25 tahun pada industri manajemen aset, termasuk investasi
bernilai miliaran dolar pada sektor sumber daya alam. Saat ini juga menjabat Direktur
PT Asia Investment Capital; sebelumnya CEO Maybank Asset Management (2015–
2019), Direktur Utama Trimegah AM (2010–2015), Direktur Utama Manulife AM
Indonesia (2008–2009), Director UBS Singapore (2007–2008), dan Managing Director
PT Mandiri Manajemen Investasi (2002–2007). Rekam jejak penghimpunan dana
meliputi perolehan USD 45 juta untuk proyek gas, refinancing proyek jalan tol senilai
Rp3,5 triliun, penghimpunan Rp750 miliar dan Rp1 triliun untuk perusahaan
multifinance, serta pertumbuhan dana kelolaan dari Rp250 miliar menjadi Rp11 triliun
dalam 4 tahun pada satu institusi dan dari bawah Rp50 miliar menjadi Rp24 triliun
dalam kurang dari 5 tahun pada institusi lainnya. Selain itu, menyandang gelar Master
of Business Administration dari University of Colorado Denver (USA).
2. Ezra Dhanaguna (Direktur)
Berpengalaman sebagai penasihat keuangan untuk pembiayaan proyek melalui
instrumen utang publik maupun privat, dengan latar belakang investment banking di PT
Mandiri Sekuritas (2022–2024) pada sektor energi, pertambangan, dan transportasi.
Selain itu, telah lulus ujian CFA level 2 dan menamatkan pendidikan sarjana dual degree
di Institut Teknologi Bandung dan Rennes School of Business (Prancis). Saat ini sedang
menempuh pendidikan Master of Business Administration di INSEAD.
3. Dimas Wiryaatmaja (Direktur)
Profesional keuangan dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang akuntansi,
manajemen keuangan, dan operasional di dalam Perseroan. Menjabat Direktur PT
Solusi Environment Asia Tbk (sebelumnya PT Boston Furniture Industries Tbk) sejak 2019,
dan sebelumnya sebagai Manajer (2016–2019) dan Staf (2013-2016) pada divisi
Finance & Accounting di PT Pratama Prima Cipta. Berperan dalam menjaga disiplin dan
pengendalian keuangan selama periode transisi struktural Perseroan serta memperkuat
proses keuangan internal dan keandalan pelaporan. Selain itu, telah menamatkan
pendidikan sarjana di bidang ilmu ekonomi dari Universitas Indonesia.
Halaman 62 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 64
4. Reza M. Mandara Direktur)
Pengalaman lebih dari 17 tahun di bidang tata kelola proyek, operasi project
management office (PMO), pengawasan portofolio, dan pelaksanaan proyek lintas
fungsi. Saat ini juga menjabat PMO Manager PT Asia Advisors Capital; sebelumnya
Senior Program Specialist pada JICA PPP Expert Office – Kementerian Pekerjaan Umum
(Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur) periode 2025–2026, Group PMO Head
PT Erajaya Swasembada Tbk (2015–2021), dan Project Management Specialist PT Aneka
Tambang (Persero) Tbk (2007–2015). Bersertifikat Project Management Professional
(PMP) sejak 2010. Beliau menyandang gelar Sarjana Teknik dari Institut Teknologi
Bandung dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di bidang Ilmu
Manajemen Stratejik di Universitas Pancasila.
Sesuai uraian KBLI 64210, perusahaan holding tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas
anaknya, sehingga kebutuhan sumber daya manusia terfokus pada personil di level pengendali,
bukan pada penambahan tenaga kerja operasional. Dengan demikian, penambahan kegiatan
usaha sebagai holding tidak akan mengubah operasional Perseroan, melainkan memperkuat
fungsi utamanya dalam pengelolaan investasi pada entitas anak.
6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Struktur organisasi dan manajemen eksisting SOFA sehubungan adanya rencana penambahan
kegiatan usaha sebagai aktifitas perusahaan holding sebagai berikut:
Grafik 11. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI
Sumber: Informasi Manajemen SOFA
SOFA berencana melakukan perubahan terhadap struktur manajemen untuk mendukung
operasional penambahan kegiatan usaha baru pada aktivitas perusahaan induk. Berkaitan
dengan rencana penambahan kegiatan usaha sebagai induk, Perseroan berencana melakukan
penambahan terhadap struktur organisasi pada level Perseroan yaitu Divisi Manajemen Portofolio.
Divisi tersebut akan mendukung kegiatan analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja
Halaman 63 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 65
portofolio dan entitas investee, koordinasi dengan entitas anak, serta pengawasan terhadap
perkembangan investasi Perseroan. Jumlah personil baru tidak akan mengurasi pengurangan
pada tenaga kerja yang ada pada Perseroan saat ini. Perusahaan dapat mempertimbangkan
penambahan dan pelebaran struktur organisasi dan manajemen ke depan mengikuti kebutuhan
personalia akibat dari ekspansi bisnis grup usaha perseroan. Rencana struktur organisasi setelah
penambahan KBLI aktivitas perusahaan induk dapat dilihat di bawah ini.
Grafik 12. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI
Sumber: Informasi Manajemen SOFA
6.7 Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja
Rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk
menimbulkan kebutuhan tenaga kerja yang disesuaikan dengan fungsi Perseroan sebagai
perusahaan induk, khususnya dalam melaksanakan pengelolaan investasi, pengendalian
strategis, pengawasan kinerja, serta koordinasi dengan entitas anak atau entitas investee. Sesuai
dengan karakteristik kegiatan perusahaan induk, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam
kegiatan operasional entitas anak atau entitas investee, sehingga kebutuhan tenaga kerja pada
tingkat Perseroan lebih difokuskan pada fungsi pengendalian dan pengelolaan di tingkat
korporasi, bukan pada kegiatan operasional masing-masing entitas.
Pada tahap awal, SOFA akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah tersedia untuk
menjalankan fungsi perusahaan induk. Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi,
Perseroan merencanakan penambahan 1 (satu) orang karyawan yang akan mendukung fungsi
Manajemen Portofolio, antara lain dalam analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja
portofolio dan entitas investee, koordinasi dengan entitas anak, serta pemantauan perkembangan
investasi Perseroan. Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan
direalisasikan dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas dan kompleksitas
pengelolaan portofolio Perseroan. Dengan demikian, sebelum penambahan tersebut
direalisasikan, pelaksanaan KBLI 64210 akan tetap dijalankan dengan memanfaatkan tenaga
Halaman 64 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 66
kerja yang tersedia, sedangkan penambahan 1 (satu) orang karyawan diharapkan dapat
memperkuat kapasitas Perseroan dalam menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk seiring
dengan perkembangan usaha dan portofolio investasi grup.
6.8 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk
menjalankan kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan
kualifikasi yang memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi
dan Dewan Komisaris dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan
infrastruktur, regulasi pasar modal, dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI
64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber
daya manusia terfokus pada personil di level pengendali tanpa penambahan tenaga kerja
operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan sumber daya manusia yang tersedia dan
melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Manajemen Portofolio yang
bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio, koordinasi
dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan pembagian fungsi dan
tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas investee, serta
didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan strategis pada
tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung
pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien.
Halaman 65 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 67
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, di antaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis nilai tambah.
7.1 Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi kebutuhan dana yang diperlukan Perseroan dalam
rangka mendukung penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk. Sumber pendanaan
atas kebutuhan tersebut berasal dari Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu (right issue), dengan perolehan dana sebesar Rp238.220.181.818.
Rencana penggunaan dana tersebut terdiri atas dua komponen sebagai berikut:
1. Investasi ke konsorsium sebesar Rp131.021.100.000, yang akan disalurkan melalui entitas
anak Perseroan, yaitu AEA, dalam bentuk penyertaan modal kepada WNA dan WGN selaku
entitas dalam struktur konsorsium; dan
2. Kebutuhan modal kerja internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818 yang diperuntukkan
bagi pemenuhan kebutuhan operasional dan penunjang kegiatan usaha.
Dengan demikian, seluruh perolehan dana right issue telah dialokasikan sepenuhnya untuk kedua
komponen tersebut sebagaimana tabel dibawah ini:
Tabel 13. Kebutuhan Biaya Investasi
Proceeds dari Right Issue Jumlah (Rp)
Perolehan Dana Right Issue (Rp) 238.220.181.818
Kebutuhan Biaya Investasi Jumlah (Rp)
Investasi ke Konsorsium (Rp) 131.021.100.000
Kebutuhan Modal kerja (Rp) Internal SOFA 107.199.081.818
Sumber: Informasi manajemen, diolah
7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi
Biaya Investasi dalam rangka rencana investasi pada konsorsium dan kebutuhan modal kerja
internal Perseroan adalah sebesar Rp238.220.181.818,- sepenuhnya akan bersumber dari
Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue).
Proceeds dari Right Issue Jumlah (Rp)
Perolehan Dana Right Issue (Rp) 238.220.181.818
Sumber Pendanaan Eksternal - Right Issue
Sumber: Informasi manajemen, diolah
Halaman 66 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 68
7.3 Proyeksi Keuangan Konsorsium
Analisis pada aspek keuangan dilakukan dengan menelaah dampak prospek bisnis yang
tercermin dari proyeksi keuangan entitas konsorsium yang menjadi tujuan penyertaan modal
Perseroan melalui entitas anaknya, AEA.
Dalam rangkaian studi kelayakan penambahan KBLI ini, proyeksi keuangan entitas konsorsium
merupakan aspek yang bersifat menentukan. Mengingat manfaat ekonomis yang akan diterima
Perseroan berbentuk aliran dividen dari entitas proyek, kelayakan rencana penambahan kegiatan
usaha bergantung sepenuhnya pada kemampuan entitas konsorsium menghasilkan laba dan
mendistribusikannya secara berkelanjutan.
Struktur Kepemilikan dan Aliran Manfaat Ekonomis
Konsorsium memiliki penyertaan sebesar 70,00% pada masing-masing entitas proyek, yaitu
Proyek Bogor dan proyek Bali. Adapun AEA selaku entitas anak Perseroan memiliki penyertaan
sebesar 10,00% pada konsorsium tersebut. Dengan demikian, kepemilikan efektif AEA pada
masing-masing entitas proyek adalah sebesar 7,00%.
Aliran manfaat ekonomis kepada Perseroan terbentuk melalui rangkaian berikut: laba entitas
proyek didistribusikan kepada seluruh pemegang saham, kemudian 70,00% di antaranya menjadi
hak konsorsium, dan atas bagian tersebut AEA berhak menerima 10,00% dalam bentuk dividen
setelah pemenuhan cadangan wajib.
Tabel 14. Proyeksi Entitas Konsorsium
(dalam Jutaan rupiah)
Keterangan 2030 2036 2048 2054 2058
Bogor
Profit Distribution to All
Shareholders 158.595 218.742 384.884 336.681 128.951
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to
Consortium 111.017 153.119 269.419 235.676 90.266
Dividend Payout Ratio 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Dividend Paid to Consortium 111.017 153.119 269.419 235.676 90.266
Consortium Total Paid-Up
34,33
Capital (USD Mn)
Statutory Paid-Up Capital
20%
Reserve
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory
Surplus Reserve 111.017
Cumulative Statutory Surplus
Reserve 111.017 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after
Surplus Reserve & Provision 153.119 269.419 235.676 90.266
Halaman 67 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 69
Keterangan 2030 2036 2048 2054 2058
Dividend Attributable to
Consortium Shareholders 153.119 269.419 235.676 90.266
AEA Ownership in the
10%
Consortium
Dividend Attributable to AEA 15.312 26.942 23.568 9.027
Denpasar
Profit Distribution to All
Shareholders 118.834 212.211 378.466 331.761 150.821
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to
Consortium 83.184 148.548 264.926 232.233 105.575
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 83.184 148.548 264.926 232.233 105.575
Consortium Total Paid-Up
Capital (USD Mn) 34,10
Statutory Paid-Up Capital
20%
Reserve
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory
Surplus Reserve 83.184
Cumulative Statutory Surplus
Reserve 83.184 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after
Surplus Reserve & Provision 148.548 264.926 232.233 105.575
Dividend Attributable to
Consortium Shareholders 148.548 264.926 232.233 105.575
AEA Ownership in the
10%
Consortium
Dividend Attributable to AEA 14.855 26.493 23.223 10.557
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to
SH (Before Allocation) 277.430 430.953 763.349 668.441 279.772
Total Profit Distributions to
Consortium 194.201 301.667 534.345 467.909 195.841
Dividend Received from
- 15.312 26.942 23.568 9.027
Bogor
Dividend Received from
Denpasar - 14.855 26.493 23.223 10.557
Total Dividend Received from
WtE Project - 30.167 53.434 46.791 19.584
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Halaman 68 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 70
Berdasarkan analisis diatas, manfaat ekonomis dari kedua entitas proyek WTE, yaitu Proyek Bogor
dan Proyek Bali (Denpasar), diterima sampai kepada SOFA Konsolidasi lewat AEA selaku entitas
anak Perseroan. Proyeksi disusun untuk periode 2026–2058. Seluruh laba masing-masing entitas
proyek diproyeksikan didistribusikan kepada pemegang saham dengan dividend payout ratio
sebesar 100,00%, sehingga 70,00% di antaranya menjadi bagian konsorsium. Atas bagian
konsorsium tersebut terlebih dahulu dibentuk cadangan wajib (statutory surplus reserve) sebesar
20,00% dari modal disetor pada awal periode distribusi, dan sisanya didistribusikan kepada
pemegang saham konsorsium, termasuk AEA dengan porsi 10,00%.
Laba mulai didistribusikan kepada pemegang saham pada tahun 2030; namun demikian, karena
keseluruhan bagian konsorsium pada tahun tersebut dialokasikan untuk pemenuhan cadangan
wajib, AEA baru mulai menerima dividen pada tahun 2031, yaitu sebesar Rp20.307 juta. Aliran
dividen kepada AEA meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan laba proyek, mencapai
Rp48.384 juta pada tahun 2040 dan puncaknya sebesar Rp55.690 juta pada tahun 2043. Setelah
itu, dividen menurun secara gradual mengikuti profil laba proyek hingga menjadi Rp19.584 juta
pada tahun 2058 sebagai tahun terakhir periode proyeksi.
7.4 Analisis Profitabilitas
Analisis profitabilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam menghasilkan
laba dari kegiatan usahanya. Rasio profitabilitas digunakan untuk memperlihatkan seberapa
besar laba yang diperoleh dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan, sehingga dapat
menggambarkan tingkat efisiensi dan kinerja Perseroan.
Dalam analisis ini, rasio profitabilitas SOFA disajikan dalam dua kondisi, yaitu sebelum dan
setelah pelaksanaan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, guna menilai dampak rencana
tersebut terhadap kemampuan Perseroan menghasilkan laba. Rasio yang digunakan meliputi
Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, dan Net Profit Margin. Analisis disajikan pada tabel
berikut merupaka berikut ini:
Tabel 15. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
S2
Sebelum Penambahan KBLI 2037 2049 2053 2054 2058
2026
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana
Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 50,80% 59,16% 61,34% 61,83% 63,65%
Operating Profit Margin 35,91% 9,98% 16,07% 17,28% 17,52% 18,20%
Net Profit Margin 28,49% 8,11% 13,57% 14,85% 15,13% 16,08%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Tabel 16. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
S2
Setelah penambahan KBLI - RI 2037 2049 2053 2054 2058
2026
Rasio Profitabilitas Sebelum
Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 150,07% 304,87% 316,24% 320,24% 186,32%
Operating Profit Margin 35,89% 109,26% 261,78% 272,18% 275,92% 140,87%
Net Profit Margin 28,92% 107,38% 259,27% 269,75% 273,53% 138,75%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Halaman 69 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 71
Berdasarkan proyeksi rasio profitabilitas SOFA sebelum rencana penambahan kegiatan usaha,
yaitu berdasarkan kegiatan usaha inti Perseroan. Marjin laba kotor (Gross Profit Margin)
diproyeksikan relatif terjaga pada kisaran 42,22% hingga 66,84% sepanjang periode proyeksi.
Namun demikian, marjin laba usaha (Operating Profit Margin) dan marjin laba bersih (Net Profit
Margin) menipis pada tahun-tahun awal dan diproyeksikan negatif pada periode 2028–2031,
dengan Net Profit Margin terendah sebesar -2,67% pada tahun 2030. Setelah itu, profitabilitas
pulih secara bertahap sehingga Operating Profit Margin dan Net Profit Margin masing-masing
mencapai 18,20% dan 16,08% pada akhir periode proyeksi (2058).
Pada proyeksi rasio profitabilitas setelah rencana penambahan kegiatan usaha (KBLI 64210
Aktivitas Perusahaan Induk). Hingga tahun 2030, rasio pada kedua skenario relatif sama karena
manfaat dari penyertaan belum terealisasi. Mulai tahun 2031, seiring diterimanya pendapatan
dividen dari penyertaan pada entitas konsorsium proyek WTE, seluruh rasio profitabilitas
meningkat signifikan. Net Profit Margin naik dari 28,92% pada semester kedua 2026 menjadi
52,91% pada tahun 2031, dan terus meningkat hingga puncaknya sekitar 286,40% pada tahun
2056, sebelum menurun menjadi 138,75% pada tahun 2058.
Rasio profitabilitas pada skenario setelah transaksi yang melampaui 100,00% mencerminkan
besarnya kontribusi pendapatan dividen dari entitas proyek yang dibukukan di luar pendapatan
usaha inti Perseroan, sehingga laba bersih menjadi jauh lebih besar dibandingkan basis
pendapatan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa sumber utama peningkatan profitabilitas
Perseroan berasal dari aliran dividen atas penyertaan, bukan dari pertumbuhan pendapatan
usaha inti.
Perbandingan kedua tabel tersebut menunjukkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha
memberikan dampak positif yang material terhadap profitabilitas Perseroan. Peningkatan
Operating Profit Margin dan Net Profit Margin secara konsisten sepanjang periode proyeksi
mengindikasikan bahwa SOFA memiliki kemampuan menghasilkan laba yang lebih baik setelah
penambahan KBLI 64210 dibandingkan tanpa penambahan kegiatan usaha tersebut.
7.5 Analisis Kelayakan Keuangan
Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Induk harus didasarkan pada analisis
inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa Penambahan
Kegiatan Usaha dan proyeksi keuangan dengan Penambahan Kegiatan Usaha Induk.
Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
Usaha Induk di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek
yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC, dan PI lebih besar dari 1
berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.
7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)
Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
kas bersih dari modal, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini
Halaman 70 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 72
menggunakan formula Cost of Equity yang merupakan pentotalan rata-rata tertimbang atas biaya
modal untuk ekuitas. Adapun formula dari WACC adalah sebagai berikut:
WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)
Dimana:
WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
Ke : Biaya modal untuk ekuitas
Kd : Biaya modal untuk utang
We : Persentase pendanaan dari ekuitas
Wd : Persentase pendanaan dari utang
t : Pajak perusahaan
Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x (1-T)
Dimana
i : Interest Rate (Suku Bunga)
Tax : Tax Rate (Tarif Pajak)
Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)
Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
(CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α
Dimana:
Rf : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß : Risiko sistematis
Rm : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
CDS : Country Default Spread
α : Risiko spesifik
Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
diskonto Cost of Equity (CoE) sebesar 11,98% dengan detail komponen yang digunakan dalam
perhitungan adalah sebagai berikut:
Tabel 17. Cost of Equity (CoE)
Komponen Besaran Keterangan Source
Yield & Rates Indonesian IDR Bond, Indo Govt Bond
SUN 7,26%
30 Juni 2026 - 30 Year Yield
Default Spread 1,81% Default spread as of April 1, 2026 Damodaran
Risk Free Rate Goverment Bond - Default Spread
Halaman 71 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 73
Komponen Besaran Keterangan Source
Equity risk premium as of April 1,
Equity Risk Premium 7,55% Damodaran
2026
Unlevered Beta 0,57 Company relative to the market risk Damodaran
Estimated finance leverage or industry
D/E Ratio 66,22% Damodaran
level
Specific Risk 0,00% Estimated Company Specific Risk
Interest 8,07% Investment loans as of May, 2026 SEKI - BI
Tax Rates 22,00% Corporate Tax Rate, Indonesia
Industry D/E Ratio Unlevered Beta
Green & Renewable Energy 66,22% 0,571
7.5.2 Terminal Value
Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
tidak diaplikasikan mempertimbangkan proyeksi yang digunakan mengikuti masa berlaku
perjanjian jual beli listrik tau PPA selama 30 tahun.
7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Perusahaan Induk, diperoleh hasil
perhitungan sebagai berikut:
Tabel 18. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 30/06/2026 01/01/2035 01/01/2044 01/01/2054 01/01/2058
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2035 31/12/2044 31/12/2054 31/12/2058
Year 2026 P 2035 P 2044 P 2054 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 366 365 365
Periode 0 9,5 18,5 28,5 32,5
Investment:
Investment to Consortium (131.021) - - - -
- - - - -
Cash Proceeds: - - - - -
Dividend Income - 29.602 55.608 46.791 19.584
Terminal Value of Dividend
Income - - - - -
Total Net Cash Proceeds (131.021) 29.602 55.608 46.791 19.584
Cummulative Proceeds (131.021) 4.119 402.384 914.969 1.070.171
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,341 0,123 0,040 0,025
Present Value of Cashflow (131.021) 10.095 6.847 1.858 494
Halaman 72 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 74
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 30/06/2026 01/01/2035 01/01/2044 01/01/2054 01/01/2058
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2035 31/12/2044 31/12/2054 31/12/2058
Year 2026 P 2035 P 2044 P 2054 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 366 365 365
SUM of Present Value of
Cashflow 42.663
IRR 14,27%
NPV 42.663
PP 10,86
10 Tahun
PP (Tahun) 10 Bulan
PI 1,33
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
• NPV : Rp 42.662.878.861 lebih besar dari 0
• IRR : 14,27% lebih besar dari WACC
• Profitability Index : 1,33 lebih besar dari 1
• Payback Period : > 5 Tahun
Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
“Layak”.
7.6 Analisis Nilai Tambah
Laporan Keuangan SOFA sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk disajikan sebagai berikut:
Tabel 19. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2049 P 2055 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 7.852 30.860 75.570 93.667 102.026
Piutang usaha 721 543 349 289 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 16.799 8.194 6.023 5.164
Uang muka 222 161 78 58 49
Biaya dibayar dimuka 338 244 119 87 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 29.553 48.674 84.378 100.192 107.645
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 21.427 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 50.980 56.224 91.928 107.741 115.194
Halaman 73 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 75
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2049 P 2055 P 2058 P
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 114 55 41 35
Biaya yang masih harus dibayar 891 644 314 231 198
Utang pajak 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 7.239 4.658 3.856 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 8.595 5.626 4.726 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 8.597 5.628 4.728 4.342
EKUITAS - - - - -
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (442) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.647) (1.743) 36.930 53.644 61.483
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
39.613 47.520 86.193 102.907 110.746
pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 39.720 47.626 86.300 103.013 110.853
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 50.980 56.224 91.928 107.741 115.194
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA sebelum rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk disajikan sebagai berikut:
Tabel 20. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2035 P 2049 P 2055 P 2058 P
Penjualan 22.347 32.939 21.196 17.547 15.965
Beban pokok penjualan (7.411) (16.757) (8.656) (6.612) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 14.937 16.182 12.540 10.934 10.161
Beban usaha (umum dan administrasi) (6.911) (13.345) (9.133) (7.824) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 8.026 2.838 3.407 3.110 2.905
Pendapatan keuangan 10 104 279 352 386
Halaman 74 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 76
Laporan Laba Rugi 2026 P 2035 P 2049 P 2055 P 2058 P
Beban keuangan - (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 8.035 2.941 3.686 3.462 3.291
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - -
Pajak kini (160) (647) (811) (762) (724)
Pajak tangguhan (1.510) - - - -
Jumlah (1.669) (647) (811) (762) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 6.366 2.294 2.875 2.701 2.567
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Selanjutnya proyeksi keuangan SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk sebagai berikut:
Tabel 21. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 115.148 273.296 758.726 1.293.174 1.410.514
Piutang usaha 721 543 396 289 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 16.799 10.060 6.023 5.164
Uang muka 222 161 96 58 49
Biaya dibayar dimuka 338 244 146 87 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 136.849 291.110 769.492 1.299.698 1.416.133
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 152.448 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 289.297 429.681 908.063 1.438.269 1.554.704
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 114 68 41 35
Biaya yang masih harus dibayar 891 644 386 231 198
Utang pajak 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 7.239 5.284 3.856 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 8.595 6.336 4.726 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 8.597 6.338 4.728 4.342
EKUITAS
Modal saham 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Halaman 75 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 77
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Agio waran 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.553) 133.494 614.136 1.145.951 1.262.773
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
pengendali 277.930 420.977 901.618 1.433.434 1.550.255
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 278.037 421.084 901.725 1.433.541 1.550.362
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 289.297 429.681 908.063 1.438.269 1.554.704
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk disajikan sebagai berikut:
Tabel 22. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
Induk
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Penjualan 43.732 32.939 24.041 17.547 15.965
Dividend Income - 29.602 55.256 46.221 19.584
Beban pokok penjualan (23.850) (16.757) (10.413) (6.612) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 19.882 45.784 68.884 57.155 29.745
Beban usaha (umum dan administrasi) (18.870) (13.345) (10.153) (7.824) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 1.012 32.439 58.731 49.331 22.489
Beban Bunga - - - - -
Pendapatan keuangan 12 104 228 352 386
Beban keuangan (37) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 987 32.543 58.959 49.683 22.875
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (217) (647) (815) (762) (724)
Pajak tangguhan - - - - -
Jumlah (217) (647) (815) (762) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 770 31.896 58.144 48.921 22.151
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Analisis inkremental dilakukan untuk mengukur tambahan manfaat ekonomis yang timbul dari
rencana penambahan kegiatan usaha, dengan cara membandingkan proyeksi kinerja keuangan
Perseroan dalam kondisi tanpa rencana terhadap kondisi setelah rencana dilaksanakan. Selisih
di antara keduanya merupakan dampak bersih yang dapat diatribusikan kepada rencana
dimaksud. Proyeksi disusun atas skenario sebagai berikut:
• Skenario Sebelum, yaitu kondisi Perseroan tanpa pelaksanaan rencana penambahan
kegiatan usaha; dan
• Skenario Setelah Right Issue, yaitu kondisi setelah pelaksanaan rencana dengan sumber
pendanaan berasal dari Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
(right issue).
Tabel 23. Analisis Inkremental
(dalam jutaan rupiah)
Keterangan 2026 P 2035 P 2045 P 2054 P 2058 P
Before
Penjualan 43.732 32.939 24.041 18.108 15.965
Halaman 76 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 78
Keterangan 2026 P 2035 P 2045 P 2054 P 2058 P
Laba (Rugi) Kotor 19.882 16.182 13.628 11.197 10.161
Laba (Rugi) Usaha 1.017 2.838 3.475 3.172 2.905
Laba Sebelum Pajak 890 2.941 3.703 3.512 3.291
EBIT 890 2.941 3.703 3.512 3.291
EBITDA 4.999 2.941 3.703 3.512 3.291
After RI
Penjualan 43.732 32.939 24.041 18.108 15.965
Laba (Rugi) Kotor 19.882 45.784 68.884 57.988 29.745
Laba (Rugi) Usaha 1.012 32.439 58.731 49.963 22.489
Laba Sebelum Pajak 987 32.543 58.959 50.303 22.875
EBIT 987 32.543 58.959 50.303 22.875
EBITDA 6.076 34.988 61.405 52.749 25.320
Before - After RI
Penjualan - - - - -
Laba (Rugi) Kotor - 29.602 55.256 46.791 19.584
Laba (Rugi) Usaha (5) 29.602 55.256 46.791 19.584
Laba Sebelum Pajak 97 29.602 55.256 46.791 19.584
EBIT 97 29.602 55.256 46.791 19.584
EBITDA 1.078 32.047 57.702 49.237 22.030
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Analisis kelayakan keuangan dilakukan atas dasar inkremental, yaitu selisih proyeksi keuangan
pada skenario dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha (After RI) terhadap skenario tanpa
penambahan (Before). Tabel di atas menyajikan dampak inkremental tersebut pada tahun-tahun
representatif. Pada tahun 2026, dampak inkremental masih minimal karena manfaat dari
penyertaan belum terealisasi, dengan laba usaha inkremental tercatat sebesar minus Rp5 juta,
sedangkan laba sebelum pajak dan EBITDA inkremental masing-masing sebesar Rp97 juta dan
Rp1.078 juta. Tambahan manfaat yang signifikan mulai terlihat sejak tahun 2035 seiring
diterimanya pendapatan dividen dari penyertaan pada entitas konsorsium proyek WTE. Laba
sebelum pajak inkremental tercatat sebesar Rp29.602 juta pada tahun 2035, meningkat menjadi
Rp55.256 juta pada tahun 2045, kemudian Rp46.791 juta pada tahun 2054 dan Rp19.584 juta
pada tahun 2058. Pada pos EBITDA, tambahan inkremental mencapai Rp32.047 juta pada tahun
2035 dan mencapai puncaknya sebesar Rp57.702 juta pada tahun 2045.
Secara keseluruhan, dampak inkremental dari Rencana Penambahan Kegiatan Usaha terhadap
kinerja keuangan Perseroan bernilai positif dan meningkat sepanjang periode proyeksi, terutama
bersumber dari aliran pendapatan dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium proyek WTE.
7.7 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengaplikasikan sensitivitas perubahan pada pos
keuangan tertentu yang dinilai memiliki dampak utama sebagai pendorong nilai tambah dari
Rencana Transaksi. Pada analisis sensitivitas studi kelayakan ini, sensitivitas diaplikasikan pada
pos Pendapatan Dividen, dengan asumsi sebagai berikut:
1. Sensitivitas negatif 15,00% merupakan pengurangan 15,00% dari proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
Halaman 77 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 79
2. Sensitivitas negatif 10,00% merupakan pengurangan 10,00% dari proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
3. Sensitivitas 0,00% merupakan asumsi tidak terdapat perubahan atas proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
4. Sensitivitas positif 10,00% merupakan penambahan 10,00% dari proyeksi perolehan dividen
sepanjang masa proyeksi; dan
5. Sensitivitas positif 15,00% merupakan penambahan 15,00% dari proyeksi perolehan dividen
sepanjang masa proyeksi.
Tabel analisis sensitivitas atas dampak perubahan pendapatan terhadap kelayakan investasi
disajikan sebagai berikut:
Tabel 24. Analisis Sensitivitas
Sensitivitas Pendapatan Dividen IRR NPV PP PI
Pendapatan Dividen -15% 12,92% 16.610.282.031 11 Tahun 8 Bulan 1,13
Pendapatan Dividen -10% 13,39% 25.294.480.974 11 Tahun 4 Bulan 1,19
Pendapatan Dividen +0% 14,27% 42.662.878.861 10 Tahun 10 Bulan 1,33
Pendapatan Dividen +10% 15,09% 60.031.276.747 10 Tahun 6 Bulan 1,46
Pendapatan Dividen +15% 15,48% 68.715.475.690 10 Tahun 3 Bulan 1,52
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Analisis sensitivitas dampak perubahan Pendapatan Dividen terhadap kelayakan Rencana
Transaksi dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada kondisi dasar tanpa perubahan (sensitivitas 0,00%), Rencana Transaksi menghasilkan
IRR sebesar 14,27%, NPV sebesar Rp42.662.878.861, Payback Period selama 10 tahun 10
bulan, dan Profitability Index sebesar 1,33;
2. Sensitivitas dampak pengurangan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 13,39%, NPV sebesar Rp25.294.480.974, Payback Period selama 11 tahun 4 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,19;
3. Sensitivitas dampak pengurangan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 12,92%, NPV sebesar Rp16.610.282.031, Payback Period selama 11 tahun 8 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,13;
4. Sensitivitas dampak penambahan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 15,09%, NPV sebesar Rp60.031.276.747, Payback Period selama 10 tahun 6 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,46; dan
5. Sensitivitas dampak penambahan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 15,48%, NPV sebesar Rp68.715.475.690, Payback Period selama 10 tahun 3 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,52.
Berdasarkan uraian di atas, seluruh skenario sensitivitas dalam rentang negatif 15,00% sampai
dengan positif 15,00% atas Pendapatan Dividen tetap menghasilkan NPV yang positif, Profitability
Index yang lebih besar dari 1,00, serta IRR yang berada di atas tingkat diskonto yang digunakan.
Dengan demikian, kesimpulan kelayakan Rencana Transaksi tetap terjaga meskipun terjadi
perubahan atas asumsi Pendapatan Dividen dalam rentang tersebut.
Halaman 78 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 80
7.8 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan
Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada
SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium melalui entitas anak AEA.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI
64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.
Halaman 79 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 81
BAB VIII
KESIMPULAN
8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar
Secara keseluruhan, industri furnitur Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan,
didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga, perkembangan industri yang
relatif stabil, serta investasi yang masih berjalan. Pada semester I 2026, investasi industri furnitur
mencapai sekitar Rp2,13 triliun, sementara perdagangan furnitur juga menunjukkan posisi yang
positif dengan surplus sekitar US$412,95 juta pada Januari–Mei 2026. Ke depan, pasar domestik
menjadi sasaran yang realistis untuk diperkuat, terutama melalui pelanggan korporasi dan ritel
kelas menengah. Sementara itu, pasar ekspor dapat dikembangkan secara bertahap, khususnya
ke pasar alternatif seperti Timur Tengah dan India.
Di sisi lain, meskipun skala Perseroan masih dalam tahap pengembangan dibandingkan
beberapa perusahaan furnitur pembanding, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Perseroan
untuk lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar dan membangun
keunggulan yang lebih spesifik. Persaingan dengan produsen besar seperti Tiongkok dan Vietnam
memang cukup ketat, terutama dari sisi volume dan harga, sehingga Perseroan perlu mengambil
pendekatan yang berbeda melalui kualitas, desain, dan produk bernilai tambah. Dengan
demikian, strategi yang paling sesuai adalah memperkuat pasar domestik dan skala usaha
terlebih dahulu, kemudian memperluas pasar ekspor secara selektif sesuai dengan kemampuan
dan kesiapan Perseroan.
8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI
64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat
kegiatan tersebut dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang
berfokus pada pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas
anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi
sebagai perusahaan induk tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun
penggunaan teknologi produksi tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh
kesiapan struktur tata kelola (governance structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara
Perseroan, entitas anak, dan entitas operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan
kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan
demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai
perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian tetap dilaksanakan oleh entitas
operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya.
8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana
penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini
didukung oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai
perusahaan terbuka, pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya
manusia dan tata kelola yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan
pengendalian pada tingkat korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai
Halaman 80 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 82
perusahaan induk memberikan fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio
investasi ke berbagai sektor, mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan
kemitraan strategis, serta meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan
konsolidasian. Meskipun terdapat kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas
struktur grup, perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan
kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan terhadap kinerja entitas investee dan perubahan
regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui penguatan fungsi pengawasan,
manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan selektivitas dalam
menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, pola
bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
peningkatan nilai Perseroan ke depan.
8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk
menjalankan kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan
kualifikasi yang memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi
dan Dewan Komisaris dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan
infrastruktur, regulasi pasar modal, dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI
64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber
daya manusia terfokus pada personil di level pengendali tanpa penambahan tenaga kerja
operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan sumber daya manusia yang tersedia dan
melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Manajemen Portofolio yang
bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio, koordinasi
dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan pembagian fungsi dan
tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas investee, serta
didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan strategis pada
tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung
pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien.
8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan
Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada
SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium melalui entitas anak AEA.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI
64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.
Halaman 81 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 83
8.6 Kesimpulan
Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis
kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
aktivitas perusahaan induk (KBLI 64210), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana Penambahan
Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.
Halaman 82 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 84
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
keakuratannya.
4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
Tugas
10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
jawab kami.
11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
bukan menjadi tanggung jawab kami.
13. Laporan studi kelayakan ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
Halaman 83 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 85
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan studi kelayakan adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil studi kelayakan yang dilaporkan.
5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
kelayakan.
8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen SOFA.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan studi kelayakan telah dilakukan terhadap obyek studi kelayakan per tanggal studi
kelayakan (cut off date).
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
laporan studi kelayakan.
14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
diungkapkan.
15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 84 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 86
Page 87
LAMPIRAN – LAMPIRAN Halaman 86 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 88
Halaman 87 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 89
Halaman 88 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 90
Halaman 89 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 91
Halaman 90 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 92
Halaman 91 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 93
Halaman 92 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 94
Kantor Jasa Penilai Publik
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Property, Business Valuation & Advisory Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Licence No. 2.22.0176 E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Website: www.fdipartners.co
KMK 460/KM.1/2022
Phone (62 21) 27875911
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Tabel 25. Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Keterangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders - - - - 158.595 192.294 205.513 208.216 211.435 214.983 218.742
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium - - - - 111.017 134.606 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Dividend Payout Ratio 0% 0% 0% 0% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Dividend Paid to Consortium - - - - 111.017 134.606 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Consortium Total Paid-Up Capital (USD
34,33
Mn)
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve - - - - 111.017 11.594 - - - - -
-Cumulative Statutory Surplus Reserve - - - - 111.017 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus - - - - -
123.011 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Reserve & Provision
Dividend Attributable to Consortium - - - - -
123.011 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA - - - - - 12.301 14.386 14.575 14.800 15.049 15.312
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders 118.834 169.497 191.140 198.002 203.297 207.897 212.211
Consortium Ownership 70%
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 95
Keterangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Profit attributable to Consortium 83.184 118.648 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Dividend Payout Ratio 0% 0% 0% 0% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 83.184 118.648 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Consortium Total Paid-Up Capital (USD
34,10
Mn)
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve 83.184 38.593 - - - - -
Cumulative Statutory Surplus Reserve 83.184 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after Surplus
80.055 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Reserve & Provision
Dividend Attributable to Consortium
80.055 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA 8.006 13.380 13.860 14.231 14.553 14.855
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to SH (Before
277.430 361.791 396.652 406.218 414.733 422.880 430.953
Allocation)
Total Profit Distributions to Consortium 194.201 253.254 277.656 284.353 290.313 296.016 301.667
Dividend Received from Bogor 12.301 14.386 14.575 14.800 15.049 15.312
Dividend Received from Denpasar 8.006 13.380 13.860 14.231 14.553 14.855
Total Dividend Received from WtE Project 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167
Halaman 94 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 96
Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
(Dalam Jutaan Rupiah
Keterangan Year 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders 222.440 225.954 277.101 349.038 396.945 401.323 400.715 398.138 394.697 390.172
382.671
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288 273.120
Dividend Payout Ratio 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Dividend Paid to Consortium 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288 273.120
Consortium Total Paid-Up Capital
34,33
(USD Mn)
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus
155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288 273.120
Reserve & Provision
Dividend Attributable to Consortium
155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288 273.120
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium 10% - - - - - - - - - - -
Dividend Attributable to AEA 15.571 15.817 19.397 24.433 26.787 27.786 28.093 28.050 27.870 27.629 27.312
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders 216.196 219.855 270.705 342.169 375.634 389.868 394.253 393.679 391.235 388.002 383.635
Consortium Ownership 70% - - - - - - - - - - -
Halaman 95 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 97
Keterangan Year 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
Profit attributable to Consortium 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 268.545
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 268.545
Consortium Total Paid-Up Capital
(USD Mn) 34,10
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after Surplus
151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 268.545
Reserve & Provision
Dividend Attributable to Consortium
151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 268.545
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium 10% - - - - - - - - - - -
Dividend Attributable to AEA 15.134 15.390 18.949 23.952 26.294 27.291 27.598 27.558 27.386 27.160 26.854
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to SH (Before
438.636 445.809 547.806 691.207 758.305 786.813 795.576 794.394 789.373 782.699 773.807
Allocation)
Total Profit Distributions to
307.045 312.066 383.464 483.845 530.814 550.769 556.903 556.076 552.561 547.889 541.665
Consortium
Dividend Received from Bogor 15.571 15.817 19.397 24.433 26.787 27.786 28.093 28.050 27.870 27.629 27.312
Dividend Received from Denpasar 15.134 15.390 18.949 23.952 26.294 27.291 27.598 27.558 27.386 27.160 26.854
Total Dividend Received from WtE
30.705 31.207 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167
Project
Halaman 96 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 98
Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Keterangan Year 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders 384.884 375.159 363.631 355.913 349.407 342.850 336.681 332.330 330.543 328.621 128.951
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Dividend Payout Ratio 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Dividend Paid to Consortium 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,33
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Dividend Attributable to Consortium Shareholders 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA 26.942 26.261 25.454 24.914 24.458 24.000 23.568 23.263 23.138 23.003 9.027
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders 378.466 368.837 357.487 350.111 343.938 337.637 331.761 327.964 327.119 290.828 150.821
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575
Halaman 97 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 99
Keterangan Year 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575
Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)
34,10
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575
Dividend Attributable to Consortium Shareholders 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA 26.493 25.819 25.024 24.508 24.076 23.635 23.223 22.957 22.898 20.358 10.557
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to SH (Before Allocation) 763.349 743.995 721.117 706.024 693.344 680.487 668.441 660.293 657.661 619.449 279.772
Total Profit Distributions to Consortium
534.345 520.797 504.782 494.217 485.341 476.341 467.909 462.205 460.363 433.614 195.841
Dividend Received from Bogor 26.942 26.261 25.454 24.914 24.458 24.000 23.568 23.263 23.138 23.003 9.027
Dividend Received from Denpasar 26.493 25.819 25.024 24.508 24.076 23.635 23.223 22.957 22.898 20.358 10.557
Total Dividend Received from WtE Project 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Halaman 98 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 100
Tabel 26. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Sebelum Penambahan KBLI S2 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 48,41% 44,04% 42,73% 42,22% 43,01% 46,92% 47,42% 48,27% 49,13% 49,97% 50,80%
Operating Profit Margin 35,91% 4,58% -0,28% -1,52% -2,80% -1,60% 7,35% 7,19% 7,90% 8,61% 9,31% 9,98%
Net Profit Margin 28,49% 3,58% -0,23% -1,43% -2,67% -1,45% 5,89% 5,79% 6,38% 6,96% 7,54% 8,11%
Sebelum Penambahan KBLI 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 51,60% 52,39% 53,16% 53,90% 54,63% 55,33% 56,02% 56,69% 57,33% 57,96% 58,57%
Operating Profit Margin 10,63% 11,25% 11,85% 12,42% 12,97% 13,49% 13,98% 14,45% 14,90% 15,32% 15,71%
Net Profit Margin 8,65% 9,18% 9,70% 10,20% 10,68% 11,14% 11,59% 12,01% 12,43% 12,82% 13,20%
Sebelum Penambahan KBLI 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 59,16% 59,73% 60,29% 60,82% 61,34% 61,83% 62,31% 62,78% 63,22% 63,65%
Operating Profit Margin 16,07% 16,41% 16,73% 17,02% 17,28% 17,52% 17,73% 17,91% 18,07% 18,20%
Net Profit Margin 13,57% 13,91% 14,24% 14,55% 14,85% 15,13% 15,39% 15,64% 15,87% 16,08%
Halaman 99 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 101
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Setelah penambahan KBLI - RI S2 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 48,41% 44,04% 42,73% 42,22% 97,36% 123,62% 128,48% 133,68% 138,99% 144,48% 150,07%
Operating Profit Margin 35,89% 4,58% -0,28% -1,52% -2,80% 52,75% 84,05% 88,25% 93,31% 98,48% 103,82% 109,26%
Net Profit Margin 28,92% 3,58% -0,23% -1,43% -2,67% 52,91% 82,58% 86,84% 91,78% 96,83% 102,05% 107,38%
Setelah penambahan KBLI - RI 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 155,73% 184,43% 225,09% 248,56% 263,07% 272,84% 280,15% 286,53% 292,52% 297,92% 302,86%
Operating Profit Margin 114,76% 143,30% 183,79% 207,09% 221,41% 231,00% 238,12% 244,29% 250,09% 255,27% 259,99%
Net Profit Margin 112,78% 141,23% 181,64% 204,86% 219,12% 228,65% 235,72% 241,86% 247,62% 252,78% 257,49%
Setelah penambahan KBLI - RI 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 304,87% 305,50% 308,61% 312,49% 316,24% 320,24% 325,73% 333,54% 326,41% 186,32%
Operating Profit Margin 261,78% 262,19% 265,05% 268,69% 272,18% 275,92% 281,14% 288,67% 281,25% 140,87%
Net Profit Margin 259,27% 259,68% 262,57% 266,22% 269,75% 273,53% 278,81% 286,40% 279,05% 138,75%
Halaman 100 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 102
Tabel 28. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Leverage Beta (Equity Beta)
Green & Renewable Energy
Un-Leverage Beta (Assets
Beta)
Percentage of Total Capital
0,57
Supplied by Debt
39,84%
D/E Leverage Beta (Equity Beta)
: x
66,22% 0,87
% of Total Capital Supplied by
Equity
60,16%
1 + (DER x After Tax Profit)
x
1,52
Before-Tax Operating Profit in %
100%
After-Tax Operating Profit in
- %
78,00%
Income Taxe Rate
22%
Weighted Average Cost of Capital
Equity Risk Premium (rm-rf)
7,55%
Company Risk Premium
x
6,53%
Leverage Beta (Equity Beta)
0,87
Company Specific Risk
0% Cost of equity (Ke)
+
Risk-Free Rate (rf) 11,98%
7,26%
Risk-Free Rate - Default Spread Weighted Cost of Equity
- x
5,45% 7,21%
Percentage of Total Capital
Country Default Spread
Supplied by Equity
1,81% 60,16%
Weighted Average Cost of Capital
+
9,72%
Percentage of Total Capital
Supplied by Debt
39,84%
Before-Tax Cost of Debt Weighted Cost of Debt
x
8,07% 2,51%
Before-Tax Operating Profit in % After-Tax Cost of Debt (Kd)
x
100% 6,30%
After-Tax Operating Profit in
- %
78,00%
Income Taxe Rate
22,00%
Halaman 101 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 103
Tabel 29. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 30/06/2026 30/06/2026 01/01/2027 01/01/2028 01/01/2029 01/01/2030 01/01/2031
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2026 31/12/2027 31/12/2028 31/12/2029 31/12/2030 31/12/2031
Year 2026 P 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P
(in IDR) Days 0 184 365 366 365 365 365
Periode 0 0,5 1,5 2,5 3,5 4,5 5,5
Investment:
Investment to Consortium (131.021) - - - - - -
Cash Proceeds:
Dividend Income - - - - - - 20.307
Terminal Value of Dividend Income - - - - - - -
Total Net Cash Proceeds (131.021) 0 0 0 0 0 20.307
Cummulative Proceeds (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (110.714)
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,945 0,843 0,753 0,673 0,601 0,536
Present Value of Cashflow (131.021) 0 0 0 0 0 10.891
SUM of Present Value of Cashflow 42.663
Halaman 102 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 104
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 01/01/2032 01/01/2033 01/01/2034 01/01/2035 01/01/2036 01/01/2037 01/01/2038 01/01/2039 01/01/2040
Feasibility Study End. Period 31/12/2032 31/12/2033 31/12/2034 31/12/2035 31/12/2036 31/12/2037 31/12/2038 31/12/2039 31/12/2040
Year 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P
(in IDR) Days 366 365 365 365 366 365 365 365 366
Periode 6,5 7,5 8,5 9,5 10,5 11,5 12,5 13,5 14,5
Investment:
Investment to Consortium - - - - - - - - -
Cash Proceeds:
Dividend Income 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
Terminal Value of Dividend Income - - - - - - - - -
Total Net Cash Proceeds 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
Cummulative Proceeds (82.949) (54.514) (25.482) 4.119 34.286 64.991 96.197 134.544 182.928
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 0,479 0,428 0,382 0,341 0,305 0,272 0,243 0,217 0,194
Present Value of Cashflow 13.298 12.161 11.087 10.095 9.187 8.350 7.578 8.315 9.369
SUM of Present Value of Cashflow
Halaman 103 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 105
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 01/01/2041 01/01/2042 01/01/2043 01/01/2044 01/01/2045 01/01/2046 01/01/2047 01/01/2048 01/01/2049 01/01/2050
Feasibility Study End. Period 31/12/2041 31/12/2042 31/12/2043 31/12/2044 31/12/2045 31/12/2046 31/12/2047 31/12/2048 31/12/2049 31/12/2050
Year 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
(in IDR) Days 365 365 365 366 365 365 365 366 365 365
Periode 15,5 16,5 17,5 18,5 19,5 20,5 21,5 22,5 23,5 24,5
Investment:
Investment to Consortium - - - - - - - - - -
Cash Proceeds:
Dividend Income 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
Terminal Value of Dividend Income - - - - - - - - - -
Total Net Cash Proceeds 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
Cummulative Proceeds 236.009 291.086 346.777 402.384 457.640 512.429 566.596 620.030 672.110 722.588
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 0,173 0,154 0,138 0,123 0,110 0,098 0,088 0,078 0,070 0,062
Present Value of Cashflow 9.179 8.505 7.679 6.847 6.076 5.380 4.749 4.184 3.641 3.152
SUM of Present Value of Cashflow
Halaman 104 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 106
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 30/06/2026 01/01/2051 01/01/2052 01/01/2053 01/01/2054 01/01/2055 01/01/2056 01/01/2057 01/01/2058
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2051 31/12/2052 31/12/2053 31/12/2054 31/12/2055 31/12/2056 31/12/2057 31/12/2058
Year 2026 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 366 365 365 365 366 365 365
Periode 0 25,5 26,5 27,5 28,5 29,5 30,5 31,5 32,5
Investment:
Investment to Consortium (131.021) - - - - - - - -
Cash Proceeds:
Dividend Income - 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Terminal Value of Dividend Income - - - - - - - - -
Total Net Cash Proceeds (131.021) 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Cummulative Proceeds (131.021) 772.010 820.544 868.178 914.969 961.189 1.007.226 1.050.587 1.070.171
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,056 0,050 0,044 0,040 0,035 0,032 0,028 0,025
Present Value of Cashflow (131.021) 2.755 2.416 2.118 1.858 1.639 1.457 1.226 494
SUM of Present Value of Cashflow 42.663
IRR 14,27%
NPV 42.663
PP
10,86
10 Tahun 10
PP (Tahun)
Bulan
PI
1,33
Halaman 105 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 107
Tabel 30. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 7.852 9.587 11.495 14.092 16.838 19.776 22.306 25.069 27.918 30.860 33.862 36.967
Piutang usaha 721 699 675 656 636 616 595 578 560 543 525 510
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 22.559 22.870 22.353 21.503 20.540 19.561 18.602 17.680 16.799 15.961 15.163
Uang muka 222 201 211 210 204 196 186 178 169 161 152 145
Biaya dibayar dimuka 338 305 321 320 310 297 283 270 257 244 231 220
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 29.553 33.418 35.639 37.698 39.558 41.493 42.998 44.764 46.651 48.674 50.798 53.073
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 17.642 15.063 12.177 8.986 6.208 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 21.427 18.679 16.099 13.214 10.023 7.244 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 50.980 52.097 51.738 50.912 49.580 48.737 50.548 52.314 54.201 56.224 58.348 60.622
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 142 149 149 144 139 132 126 120 114 108 103
Halaman 106 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 108
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
Biaya yang masih harus dibayar 891 806 846 844 819 785 747 713 678 644 610 581
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 9.314 9.000 8.745 8.474 8.211 7.935 7.710 7.471 7.239 6.996 6.798
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 10.860 10.594 10.337 10.036 9.733 9.412 9.147 8.867 8.595 8.312 8.080
LIABILITAS JANGKA PANJANG -
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 10.862 10.596 10.339 10.037 9.735 9.414 9.149 8.869 8.597 8.314 8.082
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.650) (8.134) (8.227) (8.796) (9.827) (10.367) (8.235) (6.205) (4.037) (1.743) 664 3.172
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
39.613 41.129 41.036 40.467 39.436 38.895 41.028 43.058 45.226 47.520 49.927 52.434
kepada pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 39.720 41.236 41.142 40.573 39.543 39.002 41.134 43.165 45.332 47.626 50.034 52.541
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 50.980 52.097 51.738 50.912 49.580 48.737 50.548 52.314 54.201 56.224 58.348 60.622
Halaman 107 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 109
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 40.108 43.291 46.491 49.747 53.000 56.260 59.504 62.769 66.005 69.221 72.398 75.570 78.695
Piutang usaha 494 479 463 449 436 422 408 396 384 372 360 349 339
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 14.405 13.685 13.001 12.351 11.733 11.147 10.589 10.060 9.557 9.079 8.625 8.194 7.784
Uang muka 138 131 124 118 112 107 101 96 91 87 82 78 74
Biaya dibayar dimuka 209 199 188 179 170 162 153 146 139 132 125 119 113
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 55.421 57.852 60.334 62.912 65.519 68.164 70.823 73.534 76.243 78.958 81.657 84.378 87.073
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 62.971 65.402 67.884 70.461 73.068 75.714 78.372 81.084 83.793 86.507 89.207 91.928 94.622
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 97 93 88 84 79 75 71 68 65 61 58 55 53
Halaman 108 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 110
Laporan Posisi Keuangan 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
Biaya yang masih harus dibayar 552 525 497 474 450 427 405 386 366 348 330 314 298
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 6.587 6.383 6.168 5.993 5.807 5.627 5.438 5.284 5.120 4.961 4.794 4.658 4.514
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 7.835 7.598 7.351 7.148 6.935 6.728 6.513 6.336 6.149 5.969 5.781 5.626 5.463
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 7.837 7.600 7.353 7.150 6.937 6.730 6.514 6.338 6.151 5.971 5.782 5.628 5.465
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 5.765 8.432 11.162 13.942 16.763 19.615 22.489 25.377 28.272 31.167 34.055 36.930 39.788
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
55.028 57.695 60.424 63.204 66.025 68.877 71.751 74.640 77.535 80.430 83.318 86.193 89.050
kepada pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 55.134 57.802 60.531 63.311 66.132 68.984 71.858 74.746 77.641 80.536 83.424 86.300 89.157
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 62.971 65.402 67.884 70.461 73.068 75.714 78.372 81.084 83.793 86.507 89.207 91.928 94.622
Halaman 109 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 111
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 81.781 84.813 87.822 90.770 93.667 96.500 99.297 102.026
Piutang usaha 328 317 308 298 289 279 272 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 7.395 7.025 6.674 6.340 6.023 5.722 5.436 5.164
Uang muka 71 67 64 61 58 55 52 49
Biaya dibayar dimuka 107 102 97 92 87 83 79 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 89.749 92.391 95.032 97.629 100.192 102.706 105.203 107.645
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 97.299 99.941 102.581 105.178 107.741 110.256 112.752 115.194
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 50 47 45 43 41 39 37 35
Halaman 110 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 112
Laporan Posisi Keuangan 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Biaya yang masih harus dibayar 284 269 256 243 231 219 208 198
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 4.374 4.227 4.107 3.980 3.856 3.727 3.621 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5.306 5.141 5.006 4.864 4.726 4.582 4.465 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 5.308 5.143 5.008 4.866 4.728 4.584 4.466 4.342
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 42.622 45.429 48.204 50.943 53.644 56.303 58.917 61.483
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali 91.885 94.691 97.466 100.206 102.907 105.565 108.179 110.746
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 91.991 94.798 97.573 100.312 103.013 105.672 108.286 110.853
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 97.299 99.941 102.581 105.178 107.741 110.256 112.752 115.194
Halaman 111 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 113
Tabel 31. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
Penjualan 22.347 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929
Beban pokok penjualan (7.411) (23.850) (21.863) (22.979) (22.786) (22.278) (21.292) (19.216) (18.446) (17.584) (16.757) (15.968) (15.218)
Laba (Rugi) Kotor 14.937 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 16.070 16.987 16.635 16.410 16.182 15.950 15.711
Beban usaha (umum dan administrasi) (6.911) (18.870) (18.575) (18.198) (17.607) (17.356) (16.669) (14.324) (14.113) (13.723) (13.345) (12.979) (12.624)
Pendapatan (beban) lain-lain - 5 - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 8.026 1.017 1.939 (114) (603) (1.078) (599) 2.663 2.522 2.687 2.838 2.971 3.087
Pendapatan keuangan 10 12 23 30 39 49 60 72 82 92 104 115 127
Beban keuangan - (138) (18) (9) (5) (2) (1) (1) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 8.035 890 1.943 (93) (569) (1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (160) (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707)
Pajak tangguhan (1.510) - - - - - - - - - - - -
Jumlah (1.669) (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 6.366 673 1.516 (93) (569) (1.031) (541) 2.132 2.031 2.168 2.294 2.407 2.507
Halaman 112 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 114
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
Penjualan 29.970 29.041 28.141 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196 20.539
Beban pokok penjualan (14.504) (13.826) (13.182) (12.570) (11.989) (11.436) (10.912) (10.413) (9.940) (9.490) (9.062) (8.656) (8.270)
Laba (Rugi) Kotor 15.466 15.214 14.958 14.698 14.434 14.167 13.899 13.628 13.356 13.084 12.812 12.540 12.268
Beban usaha (umum dan administrasi) (12.280) (11.947) (11.624) (11.311) (11.008) (10.714) (10.429) (10.153) (9.886) (9.627) (9.376) (9.133) (8.897)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 3.186 3.268 3.335 3.387 3.427 3.454 3.469 3.475 3.470 3.457 3.436 3.407 3.371
Pendapatan keuangan 139 152 164 177 190 203 216 228 241 254 267 279 292
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 3.325 3.420 3.499 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811) (806)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - - -
Jumlah (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811) (806)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 2.594 2.667 2.729 2.780 2.821 2.852 2.874 2.888 2.895 2.895 2.888 2.875 2.857
Halaman 113 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 115
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Penjualan 19.902 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Beban pokok penjualan (7.904) (7.556) (7.225) (6.911) (6.612) (6.329) (6.059) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 11.998 11.729 11.462 11.197 10.934 10.674 10.416 10.161
Beban usaha (umum dan administrasi) (8.669) (8.447) (8.233) (8.025) (7.824) (7.629) (7.439) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 3.329 3.282 3.229 3.172 3.110 3.045 2.977 2.905
Pendapatan keuangan 304 316 328 340 352 363 375 386
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 3.634 3.598 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Pajak tangguhan - - - - - - - -
Jumlah (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 2.834 2.807 2.775 2.740 2.701 2.659 2.614 2.567
Halaman 114 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 116
Tabel 32. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 115.148 116.883 118.791 121.388 124.134 147.379 177.675 208.872 240.753 273.296 306.465
Piutang usaha 721 699 675 656 636 616 595 578 560 543 525
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 22.559 22.870 22.353 21.503 20.540 19.561 18.602 17.680 16.799 15.961
Uang muka 222 201 211 210 204 196 186 178 169 161 152
Biaya dibayar dimuka 338 305 321 320 310 297 283 270 257 244 231
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 136.849 140.714 142.935 144.994 146.854 169.096 198.367 228.567 259.486 291.110 323.401
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 17.642 15.063 12.177 8.986 6.208 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 152.448 149.700 147.120 144.235 141.044 138.265 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 289.297 290.414 290.055 289.229 287.897 307.361 336.937 367.138 398.057 429.681 461.972
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Halaman 115 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 117
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 142 149 149 144 139 132 126 120 114 108
Biaya yang masih harus dibayar 891 806 846 844 819 785 747 713 678 644 610
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 9.314 9.000 8.745 8.474 8.211 7.935 7.710 7.471 7.239 6.996
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek)
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 10.860 10.594 10.337 10.036 9.733 9.412 9.147 8.867 8.595 8.312
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 10.862 10.596 10.339 10.037 9.735 9.414 9.149 8.869 8.597 8.314
EKUITAS
Modal saham 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.553) (8.037) (8.130) (8.699) (9.730) 10.036 39.934 70.400 101.599 133.494 166.069
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali 277.930 279.446 279.353 278.784 277.753 297.519 327.417 357.883 389.082 420.977 453.551
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 278.037 279.553 279.459 278.890 277.860 297.626 327.524 357.989 389.188 421.084 453.658
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 289.297 290.414 290.055 289.229 287.897 307.361 336.937 367.138 398.057 429.681 461.972
Halaman 116 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 118
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 340.275 374.622 416.152 467.736 524.073 582.404 641.354 700.205 758.726 816.751 874.133
Piutang usaha 510 494 479 463 449 436 422 408 396 384 372
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 15.163 14.405 13.685 13.001 12.351 11.733 11.147 10.589 10.060 9.557 9.079
Uang muka 145 138 131 124 118 112 107 101 96 91 87
Biaya dibayar dimuka 220 209 199 188 179 170 162 153 146 139 132
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 356.380 389.936 430.713 481.579 537.238 594.922 653.258 711.524 769.492 826.989 883.870
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 494.951 528.506 569.283 620.150 675.809 733.493 791.829 850.095 908.063 965.560 1.022.441
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Halaman 117 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 119
Laporan Posisi Keuangan 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 103 97 93 88 84 79 75 71 68 65 61
Biaya yang masih harus dibayar 581 552 525 497 474 450 427 405 386 366 348
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 6.798 6.587 6.383 6.168 5.993 5.807 5.627 5.438 5.284 5.120 4.961
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 8.080 7.835 7.598 7.351 7.148 6.935 6.728 6.513 6.336 6.149 5.969
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 8.082 7.837 7.600 7.353 7.150 6.937 6.730 6.514 6.338 6.151 5.971
EKUITAS
Modal saham 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 199.280 233.080 274.094 325.208 381.069 438.967 497.509 555.991 614.136 671.820 728.881
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali 486.763 520.563 561.577 612.690 668.552 726.450 784.992 843.474 901.618 959.302 1.016.364
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 486.869 520.670 561.683 612.797 668.658 726.556 785.099 843.580 901.725 959.409 1.016.470
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 494.951 528.506 569.283 620.150 675.809 733.493 791.829 850.095 908.063 965.560 1.022.441
Halaman 118 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 120
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 930.745 985.997 1.039.600 1.092.108 1.143.674 1.194.317 1.244.056 1.293.174 1.342.043 1.388.201 1.410.514
Piutang usaha 360 349 339 328 317 308 298 289 279 272 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 8.625 8.194 7.784 7.395 7.025 6.674 6.340 6.023 5.722 5.436 5.164
Uang muka 82 78 74 71 67 64 61 58 55 52 49
Biaya dibayar dimuka 125 119 113 107 102 97 92 87 83 79 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 940.004 994.805 1.047.978 1.100.076 1.151.252 1.201.527 1.250.915 1.299.698 1.348.249 1.394.107 1.416.133
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 1.078.575 1.133.376 1.186.548 1.238.647 1.289.823 1.340.097 1.389.486 1.438.269 1.486.820 1.532.678 1.554.704
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Halaman 119 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 121
Laporan Posisi Keuangan 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 58 55 53 50 47 45 43 41 39 37 35
Biaya yang masih harus dibayar 330 314 298 284 269 256 243 231 219 208 198
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 4.794 4.658 4.514 4.374 4.227 4.107 3.980 3.856 3.727 3.621 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek)
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5.781 5.626 5.463 5.306 5.141 5.006 4.864 4.726 4.582 4.465 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 5.782 5.628 5.465 5.308 5.143 5.008 4.866 4.728 4.584 4.466 4.342
EKUITAS
Modal saham 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756 254.756
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 785.203 840.158 893.494 945.750 997.091 1.047.500 1.097.030 1.145.951 1.194.646 1.240.622 1.262.773
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
pengendali 1.072.686 1.127.641 1.180.977 1.233.233 1.284.573 1.334.983 1.384.513 1.433.434 1.482.129 1.528.105 1.550.255
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 1.072.793 1.127.748 1.181.083 1.233.339 1.284.680 1.335.089 1.384.620 1.433.541 1.482.236 1.528.211 1.550.362
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 1.078.575 1.133.376 1.186.548 1.238.647 1.289.823 1.340.097 1.389.486 1.438.269 1.486.820 1.532.678 1.554.704
Halaman 120 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 122
Tabel 33. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P 2038 P
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929 29.970
Dividend Income - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207
Beban pokok penjualan (23.850) (21.863) (22.979) (22.786) (22.278) (21.292) (19.216) (18.446) (17.584) (16.757) (15.968) (15.218) (14.504)
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 36.376 44.753 45.070 45.441 45.784 46.117 46.415 46.672
Beban usaha (umum dan administrasi) (18.870) (18.575) (18.198) (17.607) (17.356) (16.669) (14.324) (14.113) (13.723) (13.345) (12.979) (12.624) (12.280)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 1.012 1.939 (114) (603) (1.078) 19.707 30.428 30.957 31.718 32.439 33.138 33.792 34.392
Beban Bunga - - - - - - - - - - - - -
Pendapatan keuangan 12 23 30 39 49 60 72 82 92 104 115 127 139
Beban keuangan (37) (18) (9) (5) (2) (1) (1) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 987 1.943 (93) (569) (1.031) 19.766 30.499 31.039 31.810 32.543 33.253 33.919 34.532
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707) (732)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - - -
Jumlah (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707) (732)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 770 1.516 (93) (569) (1.031) 19.766 29.898 30.466 31.199 31.896 32.574 33.212 33.800
Halaman 121 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 123
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P
Penjualan 29.041 28.141 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196 20.539 19.902
Dividend Income 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422
Beban pokok penjualan (13.826) (13.182) (12.570) 11.989) (11.436) (10.912) (10.413) (9.940) (9.490) (9.062) (8.656) (8.270) (7.904)
Laba (Rugi) Kotor 53.561 63.343 67.779 69.511 69.858 69.506 68.884 68.145 67.250 66.246 64.619 62.746 61.420
Beban usaha (umum dan administrasi) (11.947) (11.624) (11.311) (11.008) (10.714) (10.429) (10.153) (9.886) (9.627) (9.376) (9.133) (8.897) (8.669)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 41.614 51.719 56.469 58.504 59.144 59.077 58.731 58.259 57.624 56.870 55.487 53.850 52.751
Beban Bunga - - - - - - - - - - - - -
Pendapatan keuangan 152 164 177 190 203 216 228 241 254 267 279 292 304
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 41.766 51.883 56.646 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766 54.141 53.055
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - - - - - - - -
Pajak kini (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811) (806) (799)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - - -
Jumlah (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811) (806) (799)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 41.014 51.114 55.861 57.898 58.542 58.482 58.144 57.684 57.061 56.322 54.955 53.336 52.256
Halaman 122 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 124
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Penjualan 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Dividend Income 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Beban pokok penjualan (7.556) (7.225) (6.911) (6.612) (6.329) (6.059) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 60.263 59.096 57.988 57.155 56.710 53.777 29.745
Beban usaha (umum dan administrasi) (8.447) (8.233) (8.025) (7.824) (7.629) (7.439) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 51.816 50.863 49.963 49.331 49.081 46.338 22.489
Beban Bunga - - - - - - -
Pendapatan keuangan 316 328 340 352 363 375 386
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 52.132 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan -
Pajak kini (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Pajak tangguhan - - - - - - -
Jumlah (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 51.341 50.409 49.530 48.921 48.695 45.975 22.151
Halaman 123 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 125
Tabel 34. Analisis Inkremental
(Dalam Jutaan Rupiah)
2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P
Before
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929 29.970 29.041 28.141
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 16.070 16.987 16.635 16.410 16.182 15.950 15.711 15.466 15.214 14.958
Laba (Rugi) Usaha 1.017 1.939 (114) (603) (1.078) (599) 2.663 2.522 2.687 2.838 2.971 3.087 3.186 3.268 3.335
Laba Sebelum Pajak 890 1.943 (93) (569) 1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325 3.420 3.499
EBIT 890 1.943 (93) (569) (1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325 3.420 3.499
EBITDA 4.999 6.052 4.015 3.539 3.077 2.849 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325 3.420 3.499
After RI
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929 29.970 29.041 28.141
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 36.376 44.753 45.070 45.441 45.784 46.117 46.415 46.672 53.561 63.343
Laba (Rugi) Usaha 1.012 1.939 (114) (603) (1.078) 19.707 30.428 30.957 31.718 32.439 33.138 33.792 34.392 41.614 51.719
Laba Sebelum Pajak 987 1.943 (93) (569) (1.031) 19.766 30.499 31.039 31.810 32.543 33.253 33.919 34.532 41.766 51.883
EBIT 987 1.943 (93) (569) (1.031) 19.766 30.499 31.039 31.810 32.543 33.253 33.919 34.532 41.766 51.883
EBITDA 6.076 7.137 4.932 4.762 4.606 24.990 32.639 33.484 34.256 34.988 35.699 36.364 36.977 44.212 54.329
Before - After RI
Penjualan - - - - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Kotor - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
Laba (Rugi) Usaha (5) - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
Laba Sebelum Pajak 97 - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
EBIT 97 - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384
EBITDA 1.078 1.086 917 1.223 1.529 22.141 29.906 30.881 31.477 32.047 32.612 33.150 33.652 40.792 50.830
Halaman 124 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 126
Analisis Inkremental
(Dalam Jutaan Rupiah)
2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
Before
Penjualan 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196 20.539
Laba (Rugi) Kotor 14.698 14.434 14.167 13.899 13.628 13.356 13.084 12.812 12.540 12.268
Laba (Rugi) Usaha 3.387 3.427 3.454 3.469 3.475 3.470 3.457 3.436 3.407 3.371
Laba Sebelum Pajak 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663
EBIT 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663
EBITDA 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663
After RI - - - - - -
Penjualan 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196 20.539
Laba (Rugi) Kotor 67.779 69.511 69.858 69.506 68.884 68.145 67.250 66.246 64.619 62.746
Laba (Rugi) Usaha 56.469 58.504 59.144 59.077 58.731 58.259 57.624 56.870 55.487 53.850
Laba Sebelum Pajak 56.646 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766 54.141
EBIT 56.646 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766 54.141
EBITDA 59.091 61.139 61.792 61.738 61.405 60.946 60.323 59.583 58.212 56.587
Before - After RI - - - - - -
Penjualan - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Kotor 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
Laba (Rugi) Usaha 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
Laba Sebelum Pajak 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
EBIT 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478
EBITDA 55.527 57.523 58.136 58.053 57.702 57.235 56.612 55.880 54.525 52.924
Halaman 125 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 127
Analisis Inkremental
(Dalam Jutaan Rupiah)
2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Before
Penjualan 19.902 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Laba (Rugi) Kotor 11.998 11.729 11.462 11.197 10.934 10.674 10.416 10.161
Laba (Rugi) Usaha 3.329 3.282 3.229 3.172 3.110 3.045 2.977 2.905
Laba Sebelum Pajak 3.634 3.598 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
EBIT 3.634 3.598 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
EBITDA 3.634 3.598 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
After RI
Penjualan 19.902 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Laba (Rugi) Kotor 61.420 60.263 59.096 57.988 57.155 56.710 53.777 29.745
Laba (Rugi) Usaha 52.751 51.816 50.863 49.963 49.331 49.081 46.338 22.489
Laba Sebelum Pajak 53.055 52.132 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
EBIT 53.055 52.132 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
EBITDA 55.501 54.578 53.638 52.749 52.129 51.891 49.158 25.320
Before - After RI
Penjualan - - - - - - - -
Laba (Rugi) Kotor 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Laba (Rugi) Usaha 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Laba Sebelum Pajak 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
EBIT 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
EBITDA 51.867 50.980 50.080 49.237 48.666 48.482 45.807 22.030
Halaman 126 00157/2.0176-00/BS/04/0213/1/VIII/2026
Page 128
Names mentioned 90 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.2 ×8
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.2 ×8
unresolved
org
KJPP FDI
p.2 ×4
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.10 ×2
unresolved
person
Ezra Mohammed Dhanaguna
p.10 ×4
unresolved
org
Bank Indonesia
p.11 ×5
unresolved
org
Pusat Statistik.
p.12 ×4
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Doli
p.15
unresolved
person
Sudirman Simangunsong
p.15
unresolved
org
PT Pratama Prima Cipta
p.15
unresolved
org
Boston Furniture Industries Tbk
p.15 ×10
unresolved
person
Irene Yulia
· Notaris
p.15 ×2
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.15 ×3
unresolved
person
Jose Dima Satria
· Notaris
p.15 ×11
unresolved
org
PT Asia Investment Capital
p.16 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AH-
p.16
unresolved
person
Vivi Novita Rido
· Notaris
p.16
unresolved
org
Kementerian Hukum Republik Indonesia
p.16 ×10
unresolved
person
Yunita Aristina
· Notaris
p.16 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
p.16 ×3
unresolved
person
Elizabeth Karina Leonita
· Notaris
p.16 ×5
unresolved
person
Bastian Harijanto
· Notaris
p.17
unresolved
org
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak
p.17
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang
p.25 ×5
unresolved
org
Kementerian Investasi
p.42
unresolved
org
Silky Overseas Limited
p.43 ×2
unresolved
org
Pil Italica Lifestyle Limited
p.43
unresolved
org
Spring Art Holdings Berhad Pil Italica Lifestyle Limited
p.44
unresolved
org
Holdings Limited
p.44
unresolved
org
FACB Industries Incorporated Berhad Maruti Interior Products Limited
p.44
unresolved
org
Priti International Limited
p.44
unresolved
org
PT Weiming Nusantara Alpha
p.47 ×3
unresolved
org
PT Weiming Nusantara Gamma
p.47 ×3
unresolved
org
PT Ananta Energi Asia
p.47 ×4
unresolved
person
Mina Ng.
· Notaris
p.48 ×7
unresolved
org
Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-
p.48 ×2
unresolved
org
PT Weiming Nusantara Alpha. Anggaran
p.48
unresolved
org
Protection Co., Ltd.
p.48
unresolved
org
PT Perkasa Eka Cipta Investama
p.49 ×2
unresolved
org
PT Weiming Nusantara Gamma. Anggaran
p.49
unresolved
org
PT Danantara Investment Management
p.51
unresolved
org
PT Daya Energi Bersih Nusantara. Perusahaan
p.51
unresolved
org
PT Parivarta Energi Nusantara
p.55 ×3
unresolved
org
PT Pratama Satya Prima
p.55 ×2
unresolved
org
PT Pratama Satya Tunggal
p.55 ×3
unresolved
org
Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.
p.55
unresolved
org
Pengelola Dana Lingkungan Hidup
p.62
unresolved
org
Kementerian Keuangan
p.62
unresolved
org
Bapepam-LK
p.62 ×2
unresolved
org
Bapepam
p.62 ×2
unresolved
org
PT Reliance Manajer Investasi
p.62
unresolved
org
PT Indokapital Investama
p.62
unresolved
org
PT Recapital Asset Management
p.62
unresolved
org
PT Asia Advisors Capital
p.63 ×2
unresolved
org
PT Trimegah Asset Management
p.63
unresolved
org
PT Manulife Asset Management Indonesia
p.63
unresolved
org
PT Mandiri Manajemen Investasi
p.63
unresolved
org
PT Pratama Prima Cipta. Berperan
p.63
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum
p.64
unresolved
org
Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur
p.64
unresolved
—
Consortium
p.68 ×3
unresolved
—
Dividend Payout Ratio
p.68 ×2
unresolved
—
Dividend Paid to Consortium
p.68 ×2
unresolved
—
SH (Before Allocation)
p.69
unresolved
—
Denpasar
p.69
unresolved
—
WtE Project
p.69
unresolved
org
KJPP
p.75 ×5
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik FERDINAND
p.94
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
17860 ms
12 Sep 2026 21:41
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}