Skip to content
Back to announcement

20250617_APII_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_31895941_lamp4.pdf

Asset transaction Needs review APII

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 100

Page 1
          LAPORAN REVISI
     0601/2.0171-00/BS-FS/VI/2025

      STUDI KELAYAKAN ATAS
RENCANA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA



           DISUSUN UNTUK
    PT ARITA PRIMA INDONESIA TBK
               (“APII”)
Page 2
Jakarta, 09 Januari 2025




No. Laporan : 0601/2.0171-00/BS-FS/VI/2025
Jakarta, 16 Juni 2025
o. Laporan : 0101/2.0171-00/BS-FS/I/2025
Kepada Yth.
PT Arita Prima Indonesia Tbk
Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No. 5-9
Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
Jakarta Utara, 14350

Up : Direktur Utama

Perihal : Revisi Laporan Studi Kelayakan terhadap Rencana Penambahan Klasifikasi Baku
          Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang baru untuk PT Arita Prima Indonesia Tbk

Dengan hormat,

Berdasarkan persetujuan surat penawaran studi kelayakan rencana penambahan kegiatan usaha
PT Arita Prima Indonesia Tbk Nomor 0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, kami
telah melakukan pekerjaan studi kelayakan terhadap rencana penambahan kegiatan usaha PT
Arita Prima Indonesia Tbk yang bergerak di bidang jasa perdagangan besar berbagai macam.

Kami telah menerbitkan laporan dengan No. 0502/2.0171-00/BS-FS/V/2025 tanggal 28 Mei 2025
dan mengacu atas tanggapan OJK No. S-312/PM.023/2025 tanggal 12 Juni 2025 terkait
Perubahan dan/ atau Tambahan Informasi atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha PT Arita
Prima Indonesia Tbk kami telah menerbitkan kembali laporan dengan No. 0601/2.0171-00/BS-
FS/VI/2025 tanggal 16 Juni 2025.

Revisi Laporan ini kami laksanakan dengan mengacu kepada Peraturan OJK Nomor
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, SEOJK Nomor
17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal, Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII tahun
2018.

Berdasarkan lingkup pekerjannya, hasil laporan ini disampaikan dalam urutan bab sebagai berikut:

    1)   Pendahuluan
    2)   Analisa Kelayakan Pasar
    3)   Analisa Kelayakan Teknis
    4)   Analisa Pola Bisnis
    5)   Analisa Kelayakan Model Manajemen
    6)   Analisa Kelayakan Keuangan

Kami menegaskan bahwa penugasan pekerjaan ini bersifat independen, dalam arti, kami tidak
memiliki kepentingan apa pun, baik sekarang maupun di kemudian hari, atas hasil pekerjaan ini.

                                               ii
Page 3
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan yang
diberikan kepada kami. Semoga laporan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Kami tidak bertanggung jawab kepada pihak ketiga, dan baik sebagian maupun keseluruhan
laporan atau rujukan terhadap laporan ini tidak dibenarkan untuk diterbitkan dalam dokumen
apapun, pernyataan, edaran, ataupun untuk dikomunikasikan kepada pihak ketiga tanpa
persetujuan tertulis terlebih dahulu dari kami untuk format maupun konteks di mana akan
dimunculkan.

laporan studi ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan pihak yang berwenang dan stempel
perusahaan (corporate seal) dari KJPP Tobing Panuturi dan Rekan (“TOPAZ”).

Berdasarkan kajian, evaluasi dan analisa keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat
asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa rencana
penambahan KBLI yang akan dilaksanakan oleh APII LAYAK DIREALISASIKAN.

Hormat kami,
KJPP TOBING PANUTURI DAN REKAN




Prasetyo Djoko Sasongko, MBA., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
Rekan
Klasifikasi Izin              : Penilai Bisnis (B)
Anggota Penilai MAPPI         : No. 07-S-02115
Register Kemenkeu             : RMK-2017.00354
Izin Penilai Kemenkeu         : No. B-1.14.00395
Penilai terdaftar Pasar Modal : No. STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023
Penilai terdaftar IKNB        : No. 094/NB.122/STTD-P/2017




                                               iii
Page 4
                                   PERNYATAAN PENILAI

Menerangkan bahwa:
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
    tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang
    terafiliasi dengan perusahaan tersebut.
2. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan
    penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
    keuntungan atau merugikan pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama
    sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan
    ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang tercantum pada proposal penawaran
    0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh
    manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025. Adapun biaya jasa penugasan tersebut telah
    memperhatikan sebagaimana ketentuan yang diatur oleh Asosiasi Profesi Penilai.
3. Penilai bertanggung jawab atas kesimpulan yang diberikan dalam rangka penugasan ini,
    sebagaimana diungkapkan dalam laporan ini.
4. Laporan studi kelayakan ini dilaksanakan per tanggal penilaian 31 Desember 2024, parameter
    dan data keuangan yang digunakan dalam analisis didasarkan pada data per tanggal 31
    Desember 2024.
5. Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Studi
    Kelayakan pada tanggal penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan tujuan studi
    kelayakan sebagaimana diungkapkan dalam laporan ini.
6. Studi kelayakan ini disusun sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam POJK Nomor
    35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
    Bisnis di Pasar Modal, POJK Nomor 17/POJK.4/2020 tentang Transaksi Material dan
    Perubahan Kegiatan Usaha, Surat Edaran OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Agustus
    2020 tentang pedoman penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal,
    serta Standar Penilaian Indoneisa (SPI) Edisi VII tahun 2018.
7. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai kesimpulan pada Laporan
    Studi Kelayakan ini.
8. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada ruang lingkup dan data-data yang dianalisis serta
    data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Studi Kelayakan pada sumber
    data dan informasi diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini dapat
    dipertanggungjawabkan.
9. Laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi
    analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan Studi Kelayakan ini.
10. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi, tingkat kedalaman investigasi, dan kondisi
    pembatas.
11. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di dalam
    Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik.
12. Dalam melakukan penugasan ini, penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional
    dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan ini.
13. Penilai melakukan inspeksi/ wawancara terhadap objek Studi Kelayakan yang dinilai.
14. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan bantuan
    profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan.




                                                 iv
Page 5
Jakarta, 16 Juni 2025

Prasetyo Djoko Sasongko,M.B.A.,M.Ec.Dev., MAPPI (Cert)    Penilai Publik
No. Izin Penilai : B.1-14.00384
No. MAPPI        : 10-S-02664
No. RMK          : RMK-2017.00343
No. STTD OJK : STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023

                                                         ………………………..

                                                            Penyelia


Panuturi L Tobing,S.P.,S.H.,M.Ec.Dev.,MAPPI
(Cert).,CSA.,CACP.,CRP.,C.Med.,CFIA
No. MAPPI      : 06-S-01967
No. RMK        : RMK-2017.00377
                                                         ………………………..


                                                             Penilai



Mery Ganis S,S.E.
No. MAPPI     : 17-T-07610
No. RMK       : RMK-2018.02577
                                                         ………………………..




                                              v
Page 6
                                 RINGKASAN EKSEKUTIF

Latar Belakang

PT Arita Prima Indonesia Tbk (“APII”/ “Perusahaan”) telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik
Tobing Panuturi dan Rekan (“TOPAZ”), sebagai Penilai Independen berdasarkan surat izin usaha
dari menteri keuangan No. 387/KM.1.2020 untuk memberikan pendapat atas kelayakan rencana
penambahan kegiatan usaha sesuai dengan surat penawaran Nomor 0501/FS.B/KJPP-
TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh manajemen perusahaan
tanggal 23 Mei 2025 berupa penambahan bidang usaha sesuai dengan KBLI sebagai Berikut :

    1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Studi ini merupakan hasil kajian dan analisis yang dilakukan dengan meninjau kelayakan atas
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan oleh APII, ditinjau dari berbagai
aspek yang meliputi aspek makro, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek model
manajemen, dan aspek keuangan. Selain itu, Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan
usaha utama mengacu pada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020
tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Kode
Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018 dan
SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

Status Penilai

Penilai adalah Rekan dari Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi Dan Rekan Dengan
Kualifikasi Sebagai Berikut :

Nama Penilai                     : Prasetyo Djoko Sasongko, M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert)
Ijin Penilai Publik              : B.1-14.00395
STTD Penunjang Pasar Modal       : STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023
MAPPI                            : 07-S-02115
Klasifikasi Izin                 : Penilai Bisnis (B)

KJPP Tobing Panuturi dan Rekan (TOPAZ”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di
Kementerian Keuangan dan Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan
penugasan ini.

                                                vi
Page 7
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami bertindak secara independen tanpa
adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan Pemberi Tugas, Objek Studi Kelayakan,
ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan Pemberi Tugas dan Objek Studi Kelayakan. TOPAZ
juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan
Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
manapun. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh nilai yang dihasilkan.

Identitas Pemberi Tugas

Pemberi tugas sebagaimana dimaksud dalam laporan ini adalah :

 Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
 Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
 Alamat                                :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                           Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                           5-9
                                           Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                           Jakarta Utara, 14350
 Nomor telepon                         :   +62 21 651 9188
 Web                                   :   @ptaritaprimaindonesiatbk

Identitas Pengguna Laporan

Pengguna laporan sebagaimana dimaksud dalam laporan ini adalah :

 Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
 Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
 Alamat                                :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                           Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                           5-9
                                           Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                           Jakarta Utara, 14350
 Nomor telepon                         :   +62 21 651 9188
 Email                                 :   @ptaritaprimaindonesiatbk

Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

TOPAZ telah menyusun Revisi Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI dengan :

Nomor Laporan           : 0601/2.0171-00/BS-FS/VI/2025.0171-00/BS-FS/I/2025
Tanggal                 : 16 Juni 2025

Objek Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Bahwa Objek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh Pemberi Tugas adalah
Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan bidang usaha
sebagai berikut :

                                              vii
Page 8
1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Studi kelayakan ini disusun untuk memberikan pertimbangan atas rencana penambahan kegiatan
usaha Perusahaan yang tercermin dalam penambahan beberapa Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (KBLI), sebagai berikut:

1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
4.   KBLI 68120 – Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa
5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
6.   KBLI 68111 – Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa
7.   KBLI 70209 – Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
8.   KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
9.   KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Bahan Berbahaya

Penambahan KBLI tersebut didasari oleh strategi bisnis jangka panjang Perusahaan untuk
mengembangkan kegiatan usaha, antara lain dengan:

1. Melakukan produksi mandiri (produksi dalam negeri) terhadap produk yang selama ini
   diimpor, sehingga memerlukan pembangunan fasilitas produksi (kawasan industri),
   pengelolaan limbah secara bertanggung jawab, serta fasilitas pendukung lainnya.
2. Mengoptimalkan pemanfaatan aset yang telah dimiliki, termasuk lahan dan gudang yang saat
   ini tersedia, dengan rencana untuk membangun dan menyewakan sebagian kepada pihak
   ketiga yang memiliki kebutuhan fasilitas industri atau penyimpanan.
3. Meningkatkan efisiensi rantai pasok dan logistik dengan mengelola gudang sendiri, termasuk
   dalam bentuk kawasan berikat.
4. Mengembangkan sumber pendapatan baru yang tetap relevan dengan kapasitas dan aset
   yang dimiliki perusahaan, tanpa mengabaikan kegiatan usaha utama.

Dengan penambahan kegiatan usaha ini, Perusahaan berharap dapat meningkatkan utilitas aset
yang belum optimal, memperluas portofolio usaha, serta memberikan nilai tambah bagi
Perusahaan dan para pemegang saham secara berkelanjutan.Rencana ini tidak untuk bentuk
rencana transaksi lainnya, serta tidak dimaksudkan untuk kepentingan perpajakan, jual beli,
perbankan, dan tujuan lainnya. Laporan studi kelayakan ini akan disampaikan kepada pihak
Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


                                            viii
Page 9
Penambahan KBLI ini bukan merupakan bagian dari rencana transaksi khusus lainnya, dan tidak
dimaksudkan untuk kepentingan perpajakan, jual beli, atau pembiayaan perbankan, melainkan
sebagai bagian dari ekspansi usaha berbasis potensi riil dan aset yang telah ada.

Studi kelayakan ini mengacu kepada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di
Pasar Modal serta Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar Penilaian Indonesia (“SPI”)
Edisi VII Tahun 2018 dan SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

Tujuan laporan ini adalah melakukan studi kelayakan atas Rencana Penambahan KBLI untuk
keperluan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tanggal Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan

Tanggal pisah batas (cut off date) penilaian adalah per 31 Desember 2024, dimana batas tersebut
diambil atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian. Berdasarkan Pasal 6 ayat 2
(dua) POJK No. 17/POJK.04/2020 bahwa masa berlaku di Studi Kelayakan, yaitu selama 6 (enam)
bulan sejak tanggal penilaian dalam Studi Kelayakan. Sehingga masa berlaku laporan berakhir
pada akhir 30 Juni 2025.

Jenis Mata Uang yang Digunakan

Dalam penugasan ini Studi Kelayakan dinyatakan dalam mata uang Rupiah.

Metodologi Penyusunan

Penyusunan studi kelayakan ini dilakukan melalui 3 pendekatan. Setiap pendekatan dihubungkan
dan dikonfirmasikan satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan studi yang komprehensif.
Adapun pendekatan penyusunan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut :
 a. Pengumpulan Data dan Informasi
 b. Analisa Data
 c. Penyusunan Laporan Penilaian

Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Indepensi Kosultan

Sebagai KJPP yang telah ditunjuk oleh pemberi tugas untuk menyusun laporan studi kelayakan
ini, kami berkomitmen untuk mematuhi ketentuang yang diatur dalam POJK 17 tahun 2020 dan
SEOJK 17 tahun 2020. Studi kelayakan ini bertujuan untuk memberikan analisis menyeluruh yang
mencakup Analisa Kelayakan Pasar, Analisa Kelayakan Teknis, Analisa Pola Bisnis, Analisa
Kelayakan Model Manajemen, dan Analisa Kelayakan Keuangan. Kami memahami bahwa
penugasan ini tidak hanya menuntut pemahaman mendalam mengenai objek studi, tetapi juga
penerapan metodologi yang sesuai untuk menghasilkan laporan yang kredibel dan akurat.

Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen tanpa
adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang terafiliasi

                                               ix
Page 10
dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi
berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk
memberikan keuntungan atau merugikan pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah
sama sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini
dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang tercantum pada proposal penawaran Nomor
0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh
manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025.

Asumsi dan Asumsi Khusus

Asumsi
Asumsi dan asumsi khusus yang akan digunakan dalam penugasan merupakan asumsi dan
asumsi khusus yang wajar dan relevan dengan memperhatikan tujuan di mana studi kelayakan
diperlukan.

Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dari fakta yang sebenarnya pada tanggal studi
kelayakan atau hal yang tidak akan dibuat oleh sebagian kecil pelaku pasar dalam suatu transaksi
pada tanggal studi kelayakan. Asumsi khusus sering digunakan untuk menggambarkan efek dari
suatu situasi yang akan mempengaruhi nilai.

Dalam pelaksanaan penugasan, Studi akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima
sebagai fakta dalam konteks penugasan.

Kondisi Pembatas

Pembatasan pada studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:

1.   Laporan Studi Kelayakan merupakan hasil analisis TOPAZ atas rencana penambahan
     Kegiatan Usaha APII yang juga dimaksudkan untuk digunakan sebagai pemenuhan ketentuan
     Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
     Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
     tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Salinan Surat
     Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman
     Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
2.   Besaran investasi yang digunakan dalam proyeksi merujuk pada rencana dan pertimbangan
     manajemen dengan tetap memperhatikan data pasar.
3.   Penyusunan laporan studi ini merupakan interpretasi kami atas data dan informasi yang
     diperoleh dan tersedia yang kami anggap benar pada saat penyusunan laporan ini dilakukan.
     Asumsi-asumsi yang digunakan mungkin tidak lagi berlaku apabila terjadi sesuai atau kondisi
     tertentu yang mempengaruhi ketepatan asumsi-asumsi tersebut, seperti diberlakukannya
     peraturan-peraturan pemerintah yang baru maupun perubahan-perubahan penting di
     manajemen, bidang politik, sosial, dan ekonomi.
4.   Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian sebagai akibat dari kesalahan opini atau
     kesimpulan yang terjadi karena adanya data atau informasi APII yang relevan dan signifikan
     pengaruhnya terhadap opini atau kesimpulan kami, yang tidak dan/atau belum kami terima
     dari APII.



                                                 x
Page 11
5.  Kami berasumsi bahwa APII mentaati semua peraturan yang ditetapkan Pemerintah,
    khususnya yang terkait dengan operasional perusahaan, baik di masa lalu maupun di masa
    mendatang.
6. Kami tidak melaksanakan pemeriksaan terhadap legalitas aset yang dimiliki oleh APII. Kami
    berasumsi bahwa tidak ada masalah legalitas berkenaan dengan aset-aset APII, baik saat ini
    maupun di masa yang akan datang.
7. Kami berasumsi bahwa APII telah dan akan memenuhi kewajiban berkenaan dengan
    perpajakan, retribusi pungutan-pungutan, dan/atau kewajiban lainnya sesuai dengan
    peraturan yang berlaku.
8. Kami telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses penyusunan
    Studi Kelayakan.
9. Kami mengandalkan sepenuhnya data-data dari manajemen, adapun laporan keuangan
    audited per cut off date, kami peroleh dari manajemen.
10. Data dan informasi diperoleh dari sumber dan data yang dapat dipercaya.
11. Kami menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan
    kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaian
    (fiduciary duty).
12. Kami bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan Studi Kelayakan dan kewajaran
    proyeksi keuangan.
13. Kami bukan konsultan yang berkompetensi masalah lingkungan hidup dan karenanya tidak
    bertanggung jawab terhadap setiap kewajiban aktual atau potensial yang terkait dengan
    permasalahan lingkungan.
14. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non disclaimer opinion.
15. Konsultan bertanggung jawab pada laporan Studi Kelayakan ini dan kesimpulan akhir dari
    laporan ini.

Tinjauan Kinerja Keuangan

Analisa terhadap kinerja keuangan Perusahaan dilakukan berdasarkan kepada laporan keuangan
untuk tahun yang berakhir diaudit untuk tahun 2020 sampai dengan 2024. Berikut ringkasan
laporan keuangan beserta rasio laporan keuangan :

Tinjauan Laba (Rugi)

                                                                        (Jutaan Rupiah)
                                    2020       2021          2022        2023        2024
                                    Audit      Audit         Audit       Audit       Audit


 Penjualan Bersih                   248.931    252.449       295.022     299.111     280.127
 Beban Pokok Penjualan            (105.037)   (108.093)     (136.454)   (120.491)   (124.828)
 Laba Bruto                         143.894    144.356       158.569     178.620     155.299
 Beban penjualan                   (47.117)    (45.293)      (52.296)    (54.080)    (53.474)
 Beban umum dan administrasi       (43.738)    (59.543)      (64.952)    (72.185)    (77.097)
 Total Beban Operasional           (90.855)   (104.836)     (117.248)   (126.265)   (130.570)
 Laba Operasi                        53.038        39.520     41.321      52.355      24.728
 Penghasilan (Beban) Lain-lain


                                              xi
Page 12
                                     2020          2021         2022        2023        2024
                                    Audit          Audit        Audit       Audit       Audit
 Beban keuangan                     (15.828)       (13.929)     (14.654)    (14.547)    (16.217)
 Selisih kurs-bersih                 (1.445)            (915)    (1.577)           25    (1.106)
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                      1.496                 -           -           -           -
 tertagih
 Pendapatan bunga                       807              566        668         743         911
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap            3              -           -           -           -
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                       (273)        (1.017)       1.652       2.507       3.314
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                     1.187             4.441     (568)         256       (466)
 Beban Lain-lain - neto             (14.053)       (10.855)     (14.479)    (11.016)    (13.565)
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan      38.985         28.665       26.842      41.339      11.163
 Pajak final                                (1)          (14)           -     (299)       (215)
 Pajak kini                          (8.614)        (8.087)     (11.428)    (10.607)     (5.930)
 Pajak tangguhan                       (218)             108     (1.360)        219         230
 Laba Tahun Berjalan                 30.152         20.672       14.054      30.651       5.249
Sumber : Laporan Keuangan APII

Pendapatan (Penjualan Bersih)
Penjualan bersih perusahaan meningkat dari Rp248.931 juta di tahun 2020 menjadi puncaknya
sebesar Rp299.111 juta pada tahun 2023. Namun, pada 2024 terjadi penurunan menjadi Rp280.127
juta. Meski secara umum tren lima tahunan masih positif, penurunan di tahun terakhir perlu
diwaspadai karena bisa menjadi indikasi tekanan pasar atau turunnya daya saing perusahaan.

Laba Kotor
Laba kotor meningkat dari Rp143.894 juta pada tahun 2020 menjadi Rp178.620 juta pada 2023,
sebelum turun ke Rp155.299 juta di tahun 2024. Penurunan ini sejalan dengan menurunnya
penjualan dan meningkatnya beban pokok penjualan dari Rp120.491 juta menjadi Rp124.828 juta.
Meskipun laba kotor masih cukup tinggi, margin kotor perusahaan mulai tertekan.

Laba Operasional
Laba operasional berfluktuasi cukup tajam. Dari Rp53.038 juta di tahun 2020, turun ke Rp39.520
juta di 2021, naik tipis menjadi Rp41.321 juta di 2022, lalu naik lagi ke Rp52.355 juta di 2023.
Namun, pada 2024 laba operasional anjlok drastis menjadi hanya Rp24.728 juta. Penurunan ini
disebabkan oleh terus meningkatnya total beban operasional, dari Rp90.855 juta di 2020 menjadi
Rp130.570 juta di 2024, terutama beban umum dan administrasi yang naik signifikan.

Laba Sebelum Pajak
Laba sebelum pajak juga menunjukkan penurunan dari Rp38.985 juta di 2020 menjadi hanya
Rp11.163 juta pada 2024. Ini terjadi meskipun beban keuangan relatif stabil. Namun, beban lain-
lain bersih masih tinggi dan menggerus laba, mencapai Rp13.565 juta di tahun 2024.

Laba Tahun Berjalan
Laba bersih perusahaan menurun tajam dari Rp30.152 juta di 2020 menjadi hanya Rp5.249 juta di
2024. Penurunan ini terjadi meskipun sempat ada pemulihan di 2023 (Rp30.651 juta). Kinerja 2024

                                                  xii
Page 13
merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir dan mencerminkan tekanan dari sisi
operasional dan non-operasional sekaligus, ditambah beban pajak yang tetap tinggi meskipun laba
menurun.

Tinjauan Posisi Keuangan

                                                                             (Jutaan Rupiah)
                                      2020          2021         2022          2023        2024
                                      Audit         Audit        Audit         Audit       Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                          13.361        21.567       15.716        19.178       8.860
 Deposito berjangka                    10.661        10.637       11.214               -           -
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                       1.127            2.115     2.731         2.796       3.334
   Pihak ketiga                        62.823        52.638       53.985        50.553      45.696
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                       3.202            5.739     8.827        10.163       9.239
   Pihak ketiga                         1.916            3.238     4.909         2.914       2.716
 Persediaan                           185.623       190.145      207.614       199.929     215.088
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka    11.383        19.853        7.319        11.592      18.580
 Pajak dibayar dimuka                    440             1.404          24      11.290       6.687
 Jumlah Aset Lancar                   290.537       307.336      312.340       308.414     310.199


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap               -              -           -      14.747      10.737
 Aset pajak tangguhan - bersih          5.152            4.224     2.945         3.325       3.488
 Aset hak guna neto                           -           999      1.171          690        1.017
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                       10.577        14.155       15.072        17.537      21.001
 bersih
 Aset tetap                           204.488       212.754      231.732       252.118     273.097
 Aset tak berwujud                       259              621       607           823          589
 Taksiran klaim pajak penghasilan       1.171            2.240      522          3.083       8.518
 Aset lain-lain                              37              -           -             -           -
 Jumlah Aset Tidak Lancar             221.684       234.994      252.049       292.324     318.446
 Jumlah Aset                          512.221       542.329      564.389       600.737     628.646


 Liabilitas dan Ekuitas
 Liabilitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Utang bank jangka pendek             119.489       117.553      115.021       118.246     136.797
 Utang usaha
   Piutang berelasi                     2.376            3.110     5.677         2.229       8.534

                                                  xiii
Page 14
                                          2020         2021         2022        2023      2024
                                          Audit        Audit        Audit       Audit     Audit
   Piutang ketiga                          12.149       11.212       11.917       9.969     9.544
 Utang pajak                                3.989           4.029     5.332       5.216     2.717
 Beban masih harus dibayar                   364             888      5.006       6.750     5.325
 Utang lain-lain
   Piutang berelasi                        21.112       21.781       20.941      21.889    25.178
   Piutang ketiga                                10           30           30      454           30
 Uang muka pelanggan                         842            3.327     7.211       7.741     3.292
 Utang jangka panjang yang akan
 jatuh tempo dalam waktu satu tahun
   Utang bank                                375            1.125     1.569       1.854     1.747
   Utang pembiayaan konsumen                1.959           2.371     2.011       1.270      578
   Liabilitas sewa                                -          301       199         151       328
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          162.664      165.727      174.914     175.768   194.072


 Liabilitas Jangka Panjang
 Utang jangka panjang
   Utang bank                                675            2.095     2.431       4.548     6.137
   Utang pembiayaan konsumen                1.512           1.418     1.519        443       173
   Liabilitas sewa                                -           88       208         182       312
 Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                           14.148       11.533        7.639       9.350    10.517
 karyawan
 Jumlah Liabilitas Jangka panjang          16.335       15.134       11.798      14.522    17.140
 Jumlah Liabilitas                        179.000      180.861      186.712     190.290   211.212


 Ekuitas
 Modal saham                              107.576      107.576      107.576     107.576   107.576
 Tambahan modal disetor                    33.937       33.937       33.937      33.937    33.937
 Selisih transaksi dengan kepentingan
                                                  -     (2.011)     (2.597)     (2.597)   (2.679)
 non-pengendali
 Saldo laba
   Telah ditentukan penggunannya           16.000       16.000       16.000      16.000    16.000
   Belum ditentukan penggunannya          173.676      196.805      209.267     237.632   242.121
 Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                          331.190      352.307      364.184     392.549   396.956
 kepada pemilik entitas induk
 Kepentingan non pengendali                 2.031           9.161    13.494      17.899    20.478
 Jumlah Ekuitas                           333.221      361.468      377.677     410.447   417.434
 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            512.221      542.329      564.389     600.737   628.646
Sumber : Laporan keuangan Audit APII




                                                      xiv
Page 15
Aset
Total aset perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari Rp512.221 juta di tahun
2020 menjadi Rp628.646 juta pada tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan adanya ekspansi
aset secara bertahap selama lima tahun. Aset lancar mendominasi proporsi aset secara
keseluruhan, meskipun nilainya relatif stabil dalam lima tahun terakhir, yaitu dari Rp290.537 juta
pada 2020 menjadi Rp310.199 juta pada 2024. Yang menarik, kas dan bank mengalami penurunan
signifikan dari Rp19.178 juta pada 2023 menjadi hanya Rp8.860 juta pada 2024, yang dapat
mengindikasikan tekanan likuiditas. Sebaliknya, persediaan justru meningkat dari Rp185.623 juta
di 2020 menjadi Rp215.088 juta di 2024, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak
barang yang belum terjual, yang bisa berdampak pada efisiensi modal kerja. Sementara itu, aset
tidak lancar juga meningkat cukup signifikan, terutama pada aset tetap yang naik dari Rp204.488
juta di 2020 menjadi Rp273.097 juta di 2024. Kenaikan ini menunjukkan adanya investasi jangka
panjang yang berkelanjutan dalam infrastruktur atau alat produksi.

Liabilitas
Total liabilitas perusahaan meningkat dari Rp179.000 juta di tahun 2020 menjadi Rp211.212 juta
pada 2024. Kenaikan ini terutama disumbang oleh utang bank jangka pendek, yang naik dari
Rp119.489 juta menjadi Rp136.797 juta selama periode tersebut. Hal ini menunjukkan
ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pembiayaan jangka pendek. Utang lain-lain kepada
pihak berelasi juga mengalami peningkatan, dari Rp21.112 juta pada 2020 menjadi Rp25.178 juta
di 2024. Meski demikian, liabilitas jangka panjang masih berada pada level yang relatif terkendali,
hanya naik dari Rp16.335 juta di 2020 menjadi Rp17.140 juta di 2024. Namun, tren ini tetap perlu
diawasi, terutama terkait kewajiban imbalan kerja yang juga meningkat.

Ekuitas
Ekuitas perusahaan mengalami peningkatan stabil dari Rp333.221 juta pada tahun 2020 menjadi
Rp417.434 juta di tahun 2024. Komponen utama dari pertumbuhan ini adalah saldo laba belum
ditentukan penggunaannya, yang meningkat dari Rp173.676 juta menjadi Rp242.121 juta,
mencerminkan akumulasi laba tahunan yang tidak dibagikan sebagai dividen. Modal saham dan
tambahan modal disetor tidak berubah selama periode ini, menunjukkan tidak ada penerbitan
saham baru. Kepentingan non-pengendali juga bertumbuh signifikan dari Rp2.031 juta menjadi
Rp20.478 juta, yang dapat mengindikasikan pertumbuhan atau kontribusi dari anak perusahaan
yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh entitas induk.

Tinjauan Arus Kas
                                                                                    (Jutaan Rupiah)
                                            2020            2021        2022        2023         2024
                                           Audit            Audit       Audit       Audit       Audit


 Arus Kas dari Aktivitas Operasi
 Penerimaan kas dari pelanggan              273.231          265.133     291.988     302.599     278.628
 Pembayaran kas kepada pemasok dan
                                           (127.386)        (221.218)   (241.424)   (242.378)   (246.563)
 pihak ketiga
 Pembayaran beban usaha                     (28.473)                -           -           -             -
 Pembayaran kepada karyawan                 (56.709)                -           -           -             -
 Penerimaan tagihan pajak penghasilan                   -           -           -           -         2.216
 Kas yang diperoleh dari operasi             60.664           43.915      50.564      60.221      34.281

                                                   xv
Page 16
                                            2020          2021          2022         2023         2024
                                            Audit         Audit         Audit        Audit        Audit
 Pembayan pajak                             (20.555)      (10.292)       (9.217)     (14.895)     (15.904)
 Pendapatan bunga                                  807           566           668          743          911
 Beban keuangan                             (15.548)      (13.928)      (14.706)     (14.567)     (16.371)
 Kegiatan operasi lainnya                           65              -            -            -            -
 Pembayaran liabilitas imbalan kerja                  -      (400)         (989)        (806)        (522)
 Arus Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas
                                             25.432        19.861        26.320       30.697         2.396
 Operasi


 Arus Kas dari Aktivitas Investasi
 Hasil penjualan aset tetap                          3           352            21            -    (8.288)
 Perolehan aset tetap                       (12.684)      (12.051)      (22.322)     (30.262)     (20.137)
 Investasi pada entitas asosiasi             (7.185)                -            -            -            -
 Perolehan aset takberwujud                           -      (570)         (235)        (520)        (132)
 Arus kas bersih digunakan Untuk
                                            (19.866)      (12.269)      (22.535)     (30.782)     (28.557)
 Aktivitas Investasi


 Arus Kas dan Aktivitas Pendanaan
 Pembayaran atas utang bank                  (9.394)       (4.850)       (8.897)     (16.722)     (45.213)
 Penerimaan atas utang bank                    7.681         2.915         5.681      21.617       59.728
 Deposito berjangka                                   -             -            -            -            -
 Pembayaran atas utang pembelian aset
                                             (1.812)       (2.253)       (5.777)              -            -
 tetap
 Pembayaran liabilitas sewa                           -       (34)          (38)              -            -
 Pembayaran bunga atas liabilitas sewa                -           (1)      (557)        (255)        (540)
 Pembayaran atas utang sewa pembiayaan         (190)                -            -       (29)         (35)
 Pembayaran utang pembiayaan konsumen                 -             -            -    (2.124)      (1.378)
 Penerimaan (pembayaran) lain-lain                 546              -            -            -            -
 Arus Kas Bersih digunakan untuk
                                             (3.168)       (4.222)       (9.589)        2.487      12.563
 Aktivitas Pendanaan


 Kenaikan Bersih Kas dan Bank                  2.398         3.370       (5.804)        2.402     (13.599)
 Kas dan Bank Pada Awal Tahun                10.964        13.362        16.732       10.927       13.329
 Kas dan Bank Pada Akhir Tahun               13.362        16.732        10.927       13.329         (270)
Sumber : Laporan Keuangan APII

Arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan tren yang fluktuatif selama periode 2020 hingga 2024.
Perusahaan menghasilkan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp25.432 juta pada 2020, naik
menjadi Rp30.697 juta pada 2023, namun mengalami penurunan tajam ke Rp2.396 juta pada
2024. Penurunan ini disebabkan oleh tingginya pembayaran kas kepada pemasok dan pihak ketiga
serta pembayaran pajak dan beban keuangan yang cukup besar. Penurunan kemampuan
menghasilkan kas dari aktivitas inti ini mencerminkan potensi tekanan operasional.



                                                xvi
Page 17
Arus kas dari aktivitas investasi selama lima tahun terakhir selalu mencatat arus keluar (negatif),
yang menunjukkan bahwa perusahaan secara konsisten melakukan investasi, terutama dalam aset
tetap. Pada 2020, arus kas keluar sebesar Rp19.866 juta dan terus meningkat menjadi Rp30.782
juta pada 2023. Meskipun pada 2024 arus keluar turun menjadi Rp28.557 juta, angka ini tetap
tinggi dan menjadi beban tambahan terhadap kas perusahaan, ditambah dengan adanya
pencatatan negatif dari penjualan aset tetap sebesar Rp8.288 juta.

Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan
kebutuhan likuiditasnya. Pada 2020 hingga 2022, perusahaan mengalami arus kas keluar dari
aktivitas pendanaan. Namun pada 2023 dan 2024, arus kas dari pendanaan berubah menjadi
positif, masing-masing sebesar Rp2.487 juta dan Rp12.563 juta, yang terutama berasal dari
penerimaan utang bank yang meningkat tajam menjadi Rp59.728 juta di 2024. Hal ini menunjukkan
bahwa perusahaan mulai bergantung pada pendanaan eksternal untuk mendukung kebutuhan
arus kas dan belanja modal.

Rasio Keuangan

                                       2020      2021      2022     2023     2024
                                       Audit     Audit     Audit    Audit    Audit
 Rasio Likuiditas
 Rasio Lancar                            1,79       1,85     1,79     1,75     1,60
 Rasio Cepat                            -1,06      -1,02    -1,10    -1,03    -1,06
 Rasio Kas                               0,08       0,13     0,09     0,11     0,05

 Rasio Aktivitas
 Rasio Perputaran Persediaan (x)            1         1         1        1        1
 Rasio Perputaran Piutang Usaha (x)      3,89      4,61      5,20     5,61     5,71
 Rasio Perputaran Utang Usaha (x)           7         8         8       10        7
 Rasio Perputaran Persediaan (hari)    645,03    642,07    555,35   605,64   628,92
 Rasio Perputaran Piutang Usaha
                                        93,77     79,17     70,17    65,10    63,89
 (hari)
 Rasio Perputaran Utang Usaha (hari)    50,47     48,36     47,06    36,95    52,86

 Rasio leverage
 Rasio Margin Laba Kotor                 57,80%   57,18%   53,75%   59,72%   55,44%
 Rasio Margin Laba Operasi               21,31%   15,65%   14,01%   17,50%    8,83%
 Rasio Margin Laba (Rugi) Setelah
                                         12,11%    8,19%   4,76%    10,25%   1,87%
 Pajak
 Return on Assets                         5,89%    3,81%   2,49%    5,10%    0,83%
 Return On Equity                         9,05%    5,72%   3,72%    7,47%    1,26%
Sumber : Laporan keuangan APII, Diolah oleh TOPAZ

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Rasio lancar perusahaan cenderung menurun dari 1,79 pada tahun 2020
menjadi 1,60 pada tahun 2024. Meskipun rasio ini masih di atas angka 1, yang secara umum
menunjukkan posisi likuid yang aman, tren penurunan tersebut mencerminkan pelemahan dalam

                                                  xvii
Page 18
kapasitas likuiditas perusahaan. Rasio kas yang juga menurun dari 0,08 menjadi 0,05
mengindikasikan bahwa porsi kas terhadap kewajiban lancar semakin mengecil. Sementara itu,
rasio cepat selama lima tahun menunjukkan nilai negatif, yang tidak lazim dalam analisa keuangan.
Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kesalahan perhitungan atau klasifikasi aset lancar dalam laporan
keuangan.

Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya. Rasio
perputaran piutang usaha meningkat dari 3,89 kali di tahun 2020 menjadi 5,71 kali di 2024,
menunjukkan perbaikan dalam proses penagihan piutang. Konversi angka ini ke dalam hari juga
menunjukkan perbaikan, dengan hari perputaran piutang usaha turun dari 93,77 hari menjadi 63,89
hari. Namun, perputaran persediaan tetap rendah, sekitar 1 kali per tahun, dan hari perputaran
persediaan tetap sangat tinggi di atas 600 hari. Ini mengindikasikan bahwa persediaan lama
tersimpan dan tidak cepat dikonversi menjadi penjualan. Sementara itu, rasio perputaran utang
usaha menunjukkan fluktuasi, dengan peningkatan efisiensi pembayaran di 2023 (36,95 hari),
namun kembali melambat menjadi 52,86 hari di 2024.

Rasio Leverage dan Profitabilitas
Rasio leverage dan profitabilitas memberikan gambaran mengenai seberapa efisien perusahaan
menghasilkan laba dari penjualannya, aset, dan modal sendiri. Margin laba kotor menunjukkan
penurunan kecil dari 57,80% di 2020 menjadi 55,44% di 2024, sedangkan margin laba operasi
menurun lebih tajam dari 21,31% menjadi 8,83%, mencerminkan meningkatnya beban operasional
terhadap penjualan. Margin laba setelah pajak juga turun drastis dari 12,11% menjadi hanya
1,87%. Penurunan ini berdampak langsung pada Return on Assets (ROA) dan Return on Equity
(ROE), yang masing-masing menurun dari 5,89% dan 9,05% di 2020 menjadi 0,83% dan 1,26% di
2024. Ini menunjukkan bahwa perusahaan menjadi jauh kurang efisien dalam menghasilkan laba
dari aset dan ekuitasnya selama periode tersebut.

Asumsi Proyeksi

Dalam menentukan proyeksi keuangan sebelum dan sesudah adanya penambahan KBLI,
manajemen Menyusun asumsi proyeksi dengan mempertimbangkan kondisi market sebagai
berikut :

KBLI 74902 Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker, punya nilai strategis yang cukup tinggi,
terutama dalam konteks tata kelola, pengembangan usaha, dan positioning profesional di era
ekonomi berbasis pengetahuan.

Nilai strategis dari KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan nilai strategisnya sangat besar,
terutama dalam konteks rantai pasok, efisiensi distribusi, dan integrasi logistik nasional.

KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya memiliki nilai strategis yang unik karena
mencakup bentuk-bentuk penyimpanan spesifik dan non-konvensional yang tidak dijelaskan
secara eksplisit oleh kategori lain. Nilainya semakin relevan di era supply chain modern yang
menuntut fleksibilitas dan spesialisasi.

KBLI 68120 – Real Estat yang Disewa atau Disewakan memiliki nilai strategis yang sangat penting
dalam membangun portofolio pendapatan pasif, efisiensi aset, dan kestabilan arus kas.

                                               xviii
Page 19
KBLI 68130 – Kawasan Industri adalah salah satu kode KBLI yang paling strategis jika ingin
membangun ekosistem bisnis yang terstruktur, terintegrasi, dan punya daya saing jangka panjang.

KBLI 68111 – Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa merupakan fondasi penting dalam
portofolio perusahaan properti, holding investasi, maupun entitas industri yang ingin
mengoptimalkan penggunaan atau kepemilikan aset. Ini lebih dari sekadar “menyimpan aset”—ini
soal menciptakan nilai berkelanjutan.

KBLI 70209 – Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya adalah kode yang sangat strategis untuk
entitas yang ingin berperan sebagai navigator dalam transformasi bisnis lintas sektor. Ini bukan
sekadar jasa konsultasi biasa—kode ini mencakup spektrum luas dari strategi hingga operasional.

KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat adalah salah satu
kode yang sangat strategis dalam ekosistem logistik dan perdagangan internasional. Ini bukan
sekadar gudang—ini adalah alat kebijakan fiskal dan efisiensi rantai pasok.

KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya adalah salah satu sektor dengan
nilai strategis tinggi dalam konteks keberlanjutan, kepatuhan lingkungan, dan transformasi industri
hijau. Ini bukan hanya soal pengelolaan limbah—ini tentang mengelola risiko dan membangun
reputasi jangka panjang.

Sehingga ditentukan proyeksi, sebagai berikut :

Asumsi Proyeksi sebelum adanya penambahan KBLI
 1. Penjualan, diasumsikan tumbuh sebesar 3% sampai akhir masa periode proyeksi
 2. Beban pokok penjualan terhadap pendapatan diasumsikan sebesar 44,56%
 3. Beban penjualan, umum dan administrasi terhadap pendapatan diasumsikan sebesar 46,61%

Adapun proyeksi yang digunakan dalam analisis ini adalah:

Proyeksi Laba Rugi dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                              (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                                31           31           31           31           31
               Keterangan                   Desember     Desember     Desember     Desember     Desember
                                              2025          2026         2027         2028         2029
 Penjualan Bersih                              308.140      323.547      339.724      356.710      374.546
 Beban Pokok Penjualan                       (137.311)    (144.177)    (151.386)    (158.955)    (166.903)
 Laba Kotor                                    170.828      179.370      188.338      197.755      207.643

 Beban Usaha
 Beban Penjualan, Umum Dan Administrasi      (143.627)    (150.809)    (158.349)    (166.267)    (174.580)
 Laba Usaha                                     27.201       28.561       29.989       31.488       33.063

 Pendapatan (beban) lain-lain                    2.679        2.706        3.003        3.394        3.879
 Beban keuangan                               (15.529)     (14.938)     (13.505)     (11.274)      (9.121)
 Jumlah Beban keuangan & Pendapatan lain-
                                              (12.850)     (12.233)     (10.501)      (7.880)      (5.242)
 lain
 Laba (Rugi) Bersih Sebelum Pajak               14.350      16.328       19.488       23.608       27.821



                                                  xix
Page 20
                                              31           31          31          31          31
                Keterangan                 Desember     Desember    Desember    Desember    Desember
                                             2025         2026        2027        2028        2029
 Pajak Penghasilan
        Taksiran Pajak Penghasilan Badan      (3.157)     (3.592)     (4.287)     (5.194)      (6.121)
 Laba (Rugi) Bersih Setelah Pajak             11.193      12.736      23.775      28.802     33.941

Proyeksi Posisi Keuangan dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                      (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                              31           31          31          31          31
                                           Desember     Desember    Desember    Desember    Desember
                 Keterangan
                                             2025         2026        2027        2028        2029
                                            (Audit)      (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
 Aset
 Aset Lancar
 Kas Dan Setara Kas                           26.668       15.065      14.763      14.356      36.242
 Piutang Usaha                                64.034       70.438      77.569      78.345      79.128
 Persediaan                                  214.251      216.393     216.177     218.339     220.522
 Biaya Dibayar Dimuka                         19.509       23.411      25.986      29.364      33.328
 Jumlah Aset Lancar                          324.462      325.307     334.495     340.403     369.221

 Aset Tidak Lancar
 Aset Tetap - Nilai Buku                     276.251      277.854     270.307     269.791     262.303
 Investasi                                    22.051       24.256      24.499      24.744      24.991
 Aset Lain - Lain                             25.566       23.009      25.540      28.350      31.468
 Jumlah Asset Tidak Lancar                   323.869      325.120     320.347     322.884     318.763
 Total Aset                                  648.331      650.426     654.842     663.287     687.984

 Liabilitas Dan Ekuitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Hutang Usaha                                 18.982       22.779      25.284      27.307      30.994
 Hutang Pajak                                  2.852        4.279       4.749       5.272       5.852
 Beban Yang Masih Harus Dibayar                5.592        6.490       3.366           -       1.815
 Hutang Bank                                 134.733      129.489     116.580      96.425      76.976
 Hutang Lain                                  29.547       26.888      19.300      18.193      20.296
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             191.706      189.924     169.280     147.197     135.932

 Liabilitas Jangka Panjang
 Hutang Bank                                   6.444        6.315       6.189       6.065       5.944
 Hutang Imbalan Kerja                         11.043       12.258      13.606      15.375      17.374
 Hutang Lain                                     510          566         628         710         852
 Hutang Pemegang Saham                        10.000            -           -           -           -
 Jumlah Liabilitas Jangka Panjang             27.997       19.139      20.423      22.150      24.169

 Ekuitas
 Modal Saham                                 107.576      107.576     107.576     107.576     107.576
 Tambahan Modal Disetor                       33.937       33.937      33.937      33.937      33.937
 Saldo Laba                                  287.114      299.850     323.625     352.427     386.369
 Jumlah Ekuitas                              428.627      441.363     465.138     493.941     527.882
 Total Liabilitas Dan Ekuitas                648.331      650.426     654.842     663.287     687.984


                                               xx
Page 21
Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi

Laporan studi kelayakan ini bersifat terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang
dapat mempengaruhi operasional perusahaan. Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan studi
kelayakan ini sebagaimana yang disebutkan dalam lingkup penugasan, menginformasikan bahwa
tidak terdapat informasi rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan di dalam
laporan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup Penugasan
Laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari KJPP Tobing Panuturi dan Rekan serta
Pemberi Tugas.

Tanda tangan Penilai Publik dan cap basah TOPAZ yang resmi merupakan syarat mutlak Laporan
Studi Kelayakan yang dihasilkan.

Konfirmasi Bahwa Objek Studi Tidak Sedang atau Telah Dinilai Dalam Jangka Waktu 2 (dua)
Bulan

Dengan ini, Pemberi Tugas memberikan konfirmasi bahwa objek studi kelayakan tidak sedang atau
telah dianalisis oleh Penilai Publik lainnya untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal
studi yang sama atau berdekatan (dalam jangka waktu tidak lebih dari dua bulan). Apabila Pemberi
Tugas terbukti memberikan informasi yang tidak benar, maka Laporan Studi Kelayakan dinyatakan
tidak berlaku.

Tidak ada KJPP berizin selain KJPP TOPAZ yang diminta oleh Pemberi Tugas dalam waktu yang
bersamaan untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud, sampai Laporan Studi
Kelayakan diterbitkan.

Hasil Analisis Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Berikut adalah hasil analisis kelayakan penambahan KBLI baru :

 1. Kelayakan Pasar :
    Perkembangan sektor industri, perdagangan, dan jasa di Indonesia terus menunjukkan tren
    pertumbuhan yang positif, mendorong kebutuhan terhadap berbagai layanan penunjang
    seperti konsultasi bisnis dan manajemen, perdagangan besar, pergudangan, pengelolaan
    kawasan industri, konstruksi, pengelolaan limbah, serta pengembangan properti.

    Rencana penambahan KBLI yang mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen (KBLI
    74902, 70209), pergudangan dan penyimpanan termasuk kawasan berikat (KBLI 52101,
    52103, 52109), Real Estat Yang dan kawasan industri (KBLI 68111, 68120, 68130), serta
    pengelolaan limbah berbahaya (KBLI 38220), secara umum sejalan dengan arah
    pertumbuhan kebutuhan industri nasional. Dengan mempertimbangkan prospek sektor-sektor
    tersebut dan meningkatnya permintaan terhadap layanan dan infrastruktur pendukung
    industri, maka aspek pasar untuk rencana penambahan KBLI baru ini dinilai layak dan
    memiliki potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.
    Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pasar dalam Rencana Penambahan KBLI baru, maka
    disimpulkan bahwa aspek pasar ini adalah layak.

2. Kelayakan Teknis :

                                               xxi
Page 22
   Aspek teknis dinilai layak dengan mempertimbangkan pengalaman APII, namun
   keberlanjutan memerlukan investasi tambahan pada sumber daya manusia untuk mendukung
   atas Rencana Penambahan KBLI.

   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek teknis dimana APII memiliki kapasitas dan pengalaman
   yang mencukupi dan APII berencana untuk menambah KBLI dengan tujuan memperluas jenis
   pekerjaan, maka disimpulkan bahwa aspek teknis ini adalah layak.

3. Kelayakan Pola Bisnis :
   Kelayakan pola bisnis ditinjau dari sisi keunggulan kompetitif perusahaan dalam jasa
   perdagangan besar berbagai macam barang, kemampuan perusahaan dalam menciptakan
   nilai tambah, dan kemampuan perusahaan untuk memitigasi risiko persaingan, sehingga
   perusahaan yakin bahwa kegiatan usaha ini akan berkelanjutan.

   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pola bisnis dari manajemen perusahaan dalam rencana
   penambahan KBLI baru, maka disimpulkan bahwa aspek pola bisnis yang akan dilakukan
   oleh perusahaan adalah layak.

4. Kelayakan Model Manajemen :
   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek model manajemen perusahaan, dimana untuk memulai
   kegiatan usaha ini. Perusahaan telah mempersiapkan tenaga kerja, struktur organisasi,
   tenaga ahli, rencana mitigasi risiko, serta mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan
   manajemen, maka disimpulkan bahwa penambahan KBLI baru dari aspek model manjemen
   adalah layak.

5. Kelayakan Keuangan :
   Berdasarkan kajian dan analisis keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat
   semua asumsi yang telah diproyeksikan dapat terpenuhi, maka disimpulkan bahwa
   penambahan KBLI baru berupa (KBLI) baru yaitu

    1.    KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.    KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.    KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.    KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.    KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.    KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.    KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.    KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.    KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya
   yang dilakukan oleh Perusahaan adalah layak untuk dilaksanakan, dengan hasil Analisa
   kelayakan sebagai berikut :

         Net Present Value             :      Rp. 4.834.961.247,--
         Internal Rate of Return       :      24,84%
         Discount Rate                 :      11,84%
         Profitability Indeks          :      1,25
         Period Positive Cash Flow     :      3 tahun 7 bulan
         Payback Period (PP)           :      5 tahun 8 bulan
                                            xxii
Page 23
Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk
dan nilai sekarang dari arus kas keluar pada sebuah waktu periode. NPV biasanya
digunakan untuk alokasi modal untuk menganalisis keuntungan dalam sebuah proyek yang
akan dilaksanakan. NPV positif menandakan bahwa proyeksi pendapatan yang dihasilkan
oleh sebuah proyek atau investasi melebihi dari proyek biaya yang dikeluarkan.

Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa NPV sebesar
Rp4.834.961.247,-. Nilai NPV yang dihasilkan > 0 yang mana menunjukkan bahwa proyek
tersebut layak untuk direalisasikan.

Internal Rate Of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) merupakan indikator Return on Investment (ROI) yang telah
memperhitungkan time value of money. IRR adalah tingkat pengembalian investasi di mana
nilai Net Present Value (NPV) sama dengan nol. Dalam konteks studi kelayakan ini, IRR
digunakan untuk mengukur tingkat imbal hasil atas proyek penambahan kegiatan usaha.

Suatu investasi dinilai layak dan menguntungkan apabila nilai IRR lebih tinggi daripada cost
of capital yang digunakan sebagai acuan, semakin besar potensi proyek untuk
menghasilkan keuntungan yang bernilai tambah bagi perusahaan

Analisis IRR pada studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini menunjukkan bahwa
nilai perhitungan adalah 24,84%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang
diperoleh lebih besar dibandingkan dengan tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan,
yaitu sebesar 11,84% sehingga proyek tersebut Layak untuk direalisasikan.

Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)

Berdasarkan hasil proyeksi keuangan, arus kas dari kegiatan tambahan menunjukkan nilai
negatif pada tiga tahun pertama, dan mulai menunjukkan arus kas positif pada tahun ke-4
(2028) sebesar Rp8,33 miliar. Titik impas atau break even dicapai saat total kumulatif arus
kas bersih menyamai nilai investasi awal. Dalam hal ini, periode balik modal (payback) terjadi
pada tahun ke-5,69, atau menjelang akhir tahun 2029. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan
usaha tambahan baru akan menutupi investasinya dalam jangka menengah.

Jika dilihat pada sensitivitasnya, Break even terjadi saat capex naik di atas 50% di bawah
angka kenaikan tersebut ROI berada di atas DR.

Profitability Index (PI)

Profitability Index (PI) merupakan indikator yang mengukur tingkat profitabilitas suatu proyek
dengan mempertimbangkan time value of money, melalui perbandingan antara nilai kini kas
masuk dan nilai kini kas keluar. Hasil analisis menunjukkan:

Profitability Index = 1,25


                                         xxiii
Page 24
    Hal ini mengindikasikan bahwa untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan, proyek menghasilkan
    Rp1,25 dalam bentuk nilai kini kas masuk. Nilai PI yang lebih besar dari 1 menunjukkan
    bahwa proyek ini secara ekonomi layak untuk dijalankan, karena dapat memberikan nilai
    tambah dan keuntungan yang positif bagi perusahaan.

    Payback Period (PP)

    Payback Period (PP) merupakan indikator yang menunjukkan jangka waktu yang dibutuhkan
    untuk mengembalikan nilai investasi awal (initial investment) melalui arus kas masuk (cash
    flow) yang dihasilkan dari proyek.

    Periode positif cash flow merupakan periode di mana arus kas bersih bernilai positif, yaitu
    ketika jumlah kas masuk lebih besar dibandingkan dengan kas keluar. Berdasarkan hasil
    perhitungan, proyek ini mulai menghasilkan arus kas positif secara konsisten pada tahun ke-
    4 (2028). Dengan demikian, perusahaan diperkirakan akan mencapai stabilitas arus kas
    dalam 3 tahun 7 bulan sejak dimulainya proyek.

    Sementara itu, Payback Period atau periode pengembalian investasi untuk kegiatan usaha
    tambahan sebesar Rp10 miliar diperkirakan terjadi dalam 5 tahun 8 bulan.

    Payback Period ini masih berada dalam batas waktu yang wajar untuk proyek investasi
    jangka menengah. Namun, periode pengembalian dapat menjadi lebih singkat apabila
    terdapat efisiensi biaya investasi, peningkatan pendapatan, atau penurunan beban
    operasional. Proyeksi keuangan saat ini disusun dengan pendekatan konservatif, sehingga
    terdapat potensi pencapaian hasil yang lebih baik dari estimasi saat ini.

6. Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI Baru

   Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
   variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari suatu keputusan atau proyek. Teknik ini
   membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan atau
   risiko investasi.

   Dalam analisis sensitivitas, beberapa asumsi atau parameter seperti biaya, pendapatan, atau
   tingkat diskonto diubah dalam rentang tertentu untuk melihat dampaknya pada hasil akhir.
   Semakin sensitif suatu variabel terhadap perubahan, semakin penting untuk diperhitungkan
   dalam pengambilan keputusan.

   Singkatnya, analisa sensitivitas membantu memahami seberapa "rapuh" atau fleksibel suatu
   keputusan terhadap perubahan kondisi eksternal.

   Hasil analisis sensitivitas proyek ini adalah sebagai berikut:

   Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Laba Bersih (Dalam
   Jutaan Rupiah)

                               0%           5%           -19%       -20%       -25%
                    2025     2.727        2.863          2.202      2.181      2.045


                                               xxiv
Page 25
                            0%          5%              -19%       -20%        -25%
                2026      3.775       3.963            3.048       3.020       2.831
                2027      7.824       8.215            6.317       6.259       5.868
                2028     10.207      10.717            8.241       8.166       7.655
                2029     13.178      13.837           10.640      10.543       9.884
                NPV       4.835       6.090                 -      (185)     (1.441)
                 IRR    24,84%      28,31%           11,83%      11,34%       8,03%
        Discount Rate                                11,84%
                                                 Breakevent     Tidak      Tidak
        Kelayakan        Layak     Layak
                                                    Point       Layak      Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Laba
Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
perubahan laba bersih melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

Penurunan laba bersih bisa menjadi tanda adanya masalah dalam operasional bisnis, efisiensi
biaya, atau strategi penjualan. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat membantu
menjaga profitabilitas:

1) Analisis Penyebab. Penurunan Laba Identifikasi faktor utama yang menyebabkan laba
   bersih menurun, seperti kenaikan biaya produksi, persaingan harga, atau penurunan
   volume penjualan.
2) Efisiensi Operasional. Optimalkan proses bisnis dengan mengurangi pemborosan,
   meningkatkan produktivitas, dan menggunakan teknologi untuk mengurangi biaya
   operasional.
3) Diversifikasi Sumber Pendapatan. Cari peluang untuk menambah lini produk atau
   layanan, memperluas pasar, atau menjalin kemitraan strategis yang dapat meningkatkan
   pendapatan.
4) Evaluasi Strategi Harga. Sesuaikan harga produk atau layanan dengan
   mempertimbangkan margin keuntungan, daya beli pelanggan, dan kondisi pasar agar
   tetap kompetitif.
5) Optimalisasi Pengelolaan Biaya. Lakukan audit biaya secara berkala dan cari cara untuk
   menghemat pengeluaran yang tidak esensial tanpa mengorbankan kualitas bisnis.
6) Peningkatan Loyalitas Pelanggan. Fokus pada pelayanan yang lebih baik, program
   loyalitas, atau strategi pemasaran yang menarik agar pelanggan tetap memilih bisnis
   Anda.
7) Pemanfaatan Data dan Teknologi. Gunakan analitik bisnis untuk memahami tren
   penjualan, pola perilaku pelanggan, dan area yang perlu diperbaiki agar keputusan bisnis
   lebih tepat sasaran.
8) Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas tetap sehat dan perencanaan
   keuangan disusun dengan baik untuk menghindari beban finansial yang berlebihan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Capex (Dalam Jutaan
Rupiah)

                             0%        10%              54%         55%        60%
                2025    (10.000)   (11.000)         (15.408)    (15.500)   (16.000)
                NPV        4.835      3.941                -        (83)      (530)
                 IRR     24,84%        22%           11,83%         12%        11%
       Discount Rate                                 11,84%

                                           xxv
Page 26
                                              Breakevent        Tidak       Tidak
       Kelayakan        Layak     Layak
                                                 Point          Layak       Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Capex
yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
Perubahan Capex melampaui 54%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

Menjaga agar rencana investasi tetap terkendali dan tidak membengkak membutuhkan
strategi perencanaan dan pengawasan yang baik. Berikut beberapa langkah yang dapat
diterapkan:

1) Tetapkan Anggaran dengan Jelas. Tentukan batas investasi sejak awal dan patuhi
   anggaran yang sudah dirancang agar tidak terjadi pengeluaran berlebihan.
2) Lakukan Analisis Risiko Secara Berkala. Evaluasi risiko investasi secara rutin untuk
   menghindari pengeluaran tak terduga atau biaya yang melonjak akibat perubahan
   kondisi pasar.
3) Gunakan Pendekatan Bertahap. Alih-alih mengalokasikan dana dalam jumlah besar
   sekaligus, lakukan investasi bertahap agar bisa menyesuaikan strategi berdasarkan hasil
   yang diperoleh.
4) Optimalkan Penggunaan Sumber Daya. Gunakan sumber daya yang ada dengan
   maksimal sebelum menambah anggaran baru. Misalnya, lakukan efisiensi operasional
   atau manfaatkan teknologi untuk menekan biaya.
5) Hindari Over-Investasi. Pastikan investasi dilakukan sesuai kebutuhan dan kapasitas
   bisnis, serta tidak melebihi kemampuan finansial yang dapat mengakibatkan
   pembengkakan biaya.
6) Evaluasi dan Negosiasi Biaya. Selalu tinjau ulang setiap pengeluaran dan negosiasi
   dengan vendor atau mitra untuk mendapatkan harga terbaik serta opsi pembayaran yang
   lebih fleksibel.
7) Pantau Arus Kas Secara Ketat. Pastikan setiap pengeluaran terkontrol dengan
   melakukan pencatatan keuangan yang baik agar investasi tetap sesuai dengan
   perencanaan awal.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Penjualan Bersih
(Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%          -3%              -4%         -5%        -10%
                2025     22.410      21.738           21.565      21.290      20.169
                2026     29.245      28.368           28.143      27.783      26.321
                2027     36.594      35.496           35.214      34.764      32.934
                2028     44.486      43.151           42.809      42.262      40.037
                2029     52.955      51.366           50.958      50.307      47.659
                NPV       4.835         987                 -     (1.578)     (7.992)
                 IRR    24,84%      14,37%           11,83%        7,88%         -7%
        Discount Rate                                11,84%
                                                 Breakevent     Tidak       Tidak
           Kelayakan    Layak     Layak
                                                    Point       Layak       Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan
Penjualan Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat

                                          xxvi
Page 27
penurunan perubahan penjualan bersih melampaui 4%, dengan catatan variable lain tetap
(ceteris paribus). Perubahan Penjualan Bersih sangat sensitif, rambunya adalah batas
kelayakan Proyek adalah Penjualan tidak boleh turun lebih dari 4%. Variable ini paling
berisiko dalam konteks analisa ini.

Penurunan penjualan bisa menjadi tantangan besar bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi
yang dapat diterapkan untuk mengurangi risikonya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang
bisa dipertimbangkan:

1) Analisis Penyebab Penurunan Penjualan. Identifikasi faktor yang menyebabkan
   penurunan penjualan—apakah karena perubahan tren pasar, meningkatnya kompetitor,
   atau penurunan daya beli pelanggan?
2) Diversifikasi Produk atau Layanan. Menambah variasi produk atau layanan dapat
   membantu menarik segmen pelanggan baru dan menjaga daya saing bisnis.
3) Peningkatan Kualitas dan Layanan Pelanggan. Pastikan produk atau layanan berkualitas
   tinggi serta tingkatkan pengalaman pelanggan agar mereka tetap loyal.
4) Optimalisasi Strategi Pemasaran. Gunakan pendekatan pemasaran yang lebih efektif
   seperti kampanye digital, promosi menarik, atau pemasaran berbasis data.
5) Evaluasi dan Penyesuaian Harga. Jika persaingan harga menjadi tantangan,
   pertimbangkan penyesuaian harga yang tetap menguntungkan tetapi kompetitif.
6) Membangun Hubungan dengan Pelanggan. Gunakan strategi komunikasi yang baik,
   seperti program loyalitas, survei kepuasan, atau pendekatan lebih personal.
7) Pemanfaatan Teknologi dan Data. Gunakan analitik bisnis untuk memantau tren
   penjualan dan melakukan prediksi agar bisa bertindak cepat sebelum penurunan
   semakin signifikan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan Beban Usaha (Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%           5%                8%        10%        15%
               2025    (10.446)     (10.968)          (11.290)   (11.490)   (12.012)
               2026    (13.632)     (14.313)          (14.734)   (14.995)   (15.676)
               2027    (17.057)     (17.910)          (18.436)   (18.762)   (19.615)
               2028    (20.735)     (21.772)          (22.412)   (22.809)   (23.846)
               2029    (24.683)     (25.917)          (26.679)   (27.151)   (28.385)
               NPV        4835         1.846                 -    (1.144)    (4.133)
                IRR     24,84%       16,62%            11,83%      8,95%      1,72%
       Discount Rate                                   11,84%
                                                   Breakevent    Tidak      Tidak
       Kelayakan       Layak       Layak
                                                      Point      Layak      Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Beban
Usaha yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
perubahan beban usaha melampaui 8%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).
Variable ini juga sangat sensitif, rambunya adalah batas kelayakan Proyek adalah Beban
Usaha tidak boleh naik lebih dari 8%. Variable ini kedua paling berisiko untuk analisa
sensitivitas ini.

Kenaikan biaya bisa menjadi tantangan serius bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi untuk
mengurangi dampaknya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan:

                                           xxvii
Page 28
     1) Evaluasi dan Pengendalian Biaya. Lakukan audit rutin terhadap pengeluaran dan
        identifikasi area yang bisa dioptimalkan atau dikurangi tanpa mengorbankan kualitas
        operasional.
     2) Negosiasi dengan Pemasok. Jalin komunikasi yang baik dengan pemasok untuk
        mendapatkan harga lebih kompetitif, diskon pembelian dalam jumlah besar, atau
        alternatif bahan baku yang lebih efisien.
     3) Optimalisasi Efisiensi Operasional. Gunakan teknologi dan otomatisasi untuk
        meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, dan
        memangkas biaya yang tidak perlu.
     4) Manajemen Energi dan Sumber Daya. Cari cara untuk menghemat penggunaan energi,
        seperti investasi dalam teknologi hemat listrik atau strategi keberlanjutan yang dapat
        menekan biaya jangka panjang.
     5) Diversifikasi Pendapatan. Tambahkan produk atau layanan baru yang dapat
        meningkatkan arus kas dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
     6) Penyesuaian Harga yang Bijak. Jika memungkinkan, lakukan penyesuaian harga secara
        strategis tanpa mengorbankan daya saing dan loyalitas pelanggan.
     7) Restrukturisasi dan Efisiensi SDM. Evaluasi kebutuhan tenaga kerja untuk memastikan
        sumber daya manusia digunakan secara optimal, termasuk peluang outsourcing atau
        pelatihan ulang agar lebih produktif.
     8) Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas dikelola dengan baik, cari
        opsi pembiayaan yang lebih efisien, dan pertimbangkan strategi penghematan jangka
        panjang.

Kesimpulan Studi Kelayakan

Pada analisis keuangan menunjukkan kelayakan dengan NPV positif Rp4.834.961.247 dan IRR
24,84%, tetapi sensitivitas terhadap penurunan penjualan lebih besar dari 4% (penurunan
penjualan > 4%) atau kenaikan beban usaha lebih besar dari 8% (kenaikan beban usaha >8%)
perlu diperhatikan.

Berdasarkan analisis kelayakan terhadap aspek pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen, dan
keuangan, dengan syarat semua asumsi yang diproyeksikan terpenuhi, penambahan KBLI baru
dinilai layak dilaksanakan. Laporan ini berlaku hingga 30 Juni 2025 sesuai POJK No.
17/POJK.04/2020, dan keberhasilannya bergantung pada stabilitas kondisi ekonomi serta
pengelolaan risiko yang efektif.




                                            xxviii
Page 29
                                                             DAFTAR ISI
                                                                                                                                   Halaman

SERTIFIKAT
SURAT PERNYATAAN / REPRESENTASI...................................................................................ii
PERNYATAAN PENILAI................................................................................................................iv
RINGKASAN EKSEKUTIF.............................................................................................................vi
DAFTAR ISI....................................................................................................................................xix
DAFTAR FIGUR.............................................................................................................................xxi

BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 1
1.1.    Latar Belakang Penugasan ..................................................................................................1
1.2.    Identitas Konsultan ...............................................................................................................2
1.3.    Identitas Pemberi Tugas ......................................................................................................2
1.4.    Identitas Pengguna Laporan ................................................................................................3
1.5.    Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan setelah Penambahan KBLI Baru ...............3
1.6.    Objek Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru .................................................3
1.7.    Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru ...........................3
1.8.    Tanggal Efektif Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan ......................................................4
1.9.    Jenis Mata Uang yang DIgunakan .......................................................................................4
1.10. Metodologi Penyusunan Studi Kelayakan ...........................................................................4
1.11. Konfirmasi Bahwa Objek Studi Kelayakan Tidak Sedang atau Telah Di nilai Dalam
        Jangka Waktu 1 (satu) Bulan ...............................................................................................5
1.12. Tingkat Kedalam Investasi ...................................................................................................5
1.13. Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ...........................................................6
1.14. Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Independensi Konsultan .........................................7
1.15. Asumsi dan Kondisi Pembatas ............................................................................................7
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ................................................. 1
2.1.    Gambaran Umum Perusahaan ............................................................................................1
2.2.    Aktivitas Usaha .....................................................................................................................1
2.3.    Struktur Permodalan ............................................................................................................2
2.4.    Susunan Kepengurusan .......................................................................................................2
2.5.    Legalitas dan Perizinan ........................................................................................................2
2.6.    Tinjauan Kinerja Keuangan ..................................................................................................3
2.7.    Informasi Invetigasi Lapangan ...........................................................................................16
BAB III TINJAUAN EKONOMI INDONESIA .................................................. 1
3.1.    Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................................................................1
3.2.    Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ..................................................................................2
3.3.    Nilai Tukar Rupiah ..............................................................................................................2
3.4.    Perkembangan Inflasi .........................................................................................................3
3.5.    Perkembangan Suku Bunga ..............................................................................................4
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN PASAR .................................................... 1
4.1.    Industri Manufaktur ...............................................................................................................1
4.2.    Persaingan Usaha ..............................................................................................................12
4.3.    Strategi Pemasaran ............................................................................................................12
BAB V ANALISIS ASPEK TEKNIS .......................................................... 1
5.1.    Bisnis PT Arita Prima Indonesia Tbk....................................................................................1


                                                                                                                             Halaman - xix
Page 30
5.2.   Rencana Kegiatan Baru .......................................................................................................3
BAB VI ANALISIS ASPEK POLA BISNIS .................................................... 1
6.1.   Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai .................................................................................1
6.2.   Keunggulan Kompetitif .........................................................................................................1
6.3.   Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................................1
6.4.   Analisa SWOT ......................................................................................................................2
BAB VII ANALISIS ASPEK MODEL MANAJEMEN .......................................... 1
7.1.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan Sebelum Adanya
       Penambahan KBLI ...............................................................................................................1
7.2.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen setelah Adanya Penambahan KBLI ...................2
7.3.   Manajemen Risiko ................................................................................................................4
BAB VIII ANALISIS ASPEK KEUANGAN .................................................... 1
8.1.   Rencana Perusahaan (“APII”) ..............................................................................................1
8.2.   Proyeksi Laba Rugi ..............................................................................................................1
8.3.   Proyeksi Posisi Keuangan....................................................................................................4
8.4.   Inkremental Laporan Laba Rugi ...........................................................................................6
8.5.   Inkremental Laporan Posisi Keuangan ................................................................................6
8.6.   Cut Off Date dalam Analisis .................................................................................................7
8.7.   Penetapan Tingkat Diskonto ................................................................................................7
8.8.   Analisis Kelayakan Proyek .................................................................................................10
8.9.   Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI baru ..................................................12
8.10. Kesimpulan .........................................................................................................................16




                                                                                                                          Halaman - xx
Page 31
                                                          DAFTAR FIGUR

                                                                                                                                     Halaman

Figur 2.3.1 Susunan Pemegang Saham APII .................................................................................. 2
Figur 2.6.1 Laba (Rugi)..................................................................................................................... 3
Figur 2.6.2 Posisi Keuangan ............................................................................................................ 5
Figur 2.6.3 Arus Kas ......................................................................................................................... 8
Figur 2.6.4 Rasio Keuangan........................................................................................................... 10
Figur 2.6.5 Analisis Vertikal Laba Rugi .......................................................................................... 11
Figur 2.6.6 Analisis Vertikal Laporan Posisi Keuangan ................................................................. 12
Figur 2.6.7 Analisis Horizontal Laporan Laba Rugi...................................................................... 154
Figur 2.6.8 Analisis Horizontal Laporan Posisi Keuangan ........................................................... 155
Figur 3.1.1 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran .................... 1
Figur 3.2.1 Neraca Pembayaran Indonesia ..................................................................................... 2
Figur 3.4.1 Peta Inflasi Daerah Tahun 2024 .................................................................................... 4
Figur 4.2.1 Historis Pertumbuhan KBLI 74902 (2020-2024) ........................................................... 3
Figur 4.2.2 Historis Pertumbuhan KBLI 52101 (2020-2024) ........................................................... 4
Figur 4.2.3 Historis Pertumbuhan KBLI 52109 (2020-2024) ........................................................... 5
Figur 4.2.4 Historis Pertumbuhan KBLI 68120 (2020-2024) ........................................................... 6
Figur 4.2.5 Historis Pertumbuhan KBLI 68130 (2020-2024) ........................................................... 6
Figur 4.2.6 Historis Pertumbuhan KBLI 68111 (2020-2024) ........................................................... 7
Figur 4.2.7 Historis Pertumbuhan KBLI 70209 (2020-2024) ........................................................... 8
Figur 4.2.8 Historis Pertumbuhan KBLI 52103 (2020-2024) ........................................................... 8
Figur 4.2.9 Historis Pertumbuhan KBLI 38220 (2020-2024) ........................................................... 9
Figur 7.1.1 Berikut adalah jajaran direksi APII saat ini : .................................................................. 1
Figur 7.1.2 Struktur Organisasi Tanpa Adanya Penambahan KBLI ................................................ 2
Figur 8.3.1 Proyeksi Laba Rugi dengan penambahan kegiatan usaha ........................................... 3
Figur 8.3.2 Proyeksi Laba Rugi tanpa penambahan kegiatan usaha .............................................. 3
Figur 8.4.1 Proyeksi Posisi Keuangan dengan penambahan kegiatan usaha ................................ 4
Figur 8.4.2 Proyeksi Posisi Keuangan tanpa penambahan kegiatan usaha ................................... 5
Figur 8.5.1 Inkremental Proyeksi Laba Rugi .................................................................................... 6
Figur 8.6.1 Inkremental Proyeksi Laporan Posisi Keuangan ........................................................... 6
Figur 8.8.1 Beta ................................................................................................................................ 9
Figur 8.8.2 Cost of Equity ............................................................................................................... 10
Figur 8.8.3 Perhitungan WACC ...................................................................................................... 10




                                                                                                                               Halaman - xxi
Page 32
                                      BAB I
                                  PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Penugasan

       PT Arita Prima Indonesia Tbk ("APII/Perusahaan") didirikan di Republik Indonesia
       berdasarkan
       Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi, S.H. No. 1 tanggal 5 Oktober 2000. Akta pendirian
       tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
       dalam Surat Keputusan No. C-7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31 Mei 2001 dan telah
       diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 31 tanggal 16 April
       2002, Tambahan No. 3727.

       Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
       adalah dalam bidang industri pipa dan perdagangan besar mesin, suku cadang, kompresor
       dan klep.

       Perkembangan sektor industri, perdagangan, dan jasa di Indonesia terus menunjukkan tren
       pertumbuhan yang positif, mendorong kebutuhan terhadap berbagai layanan penunjang
       seperti konsultasi bisnis dan manajemen, perdagangan besar, pergudangan, pengelolaan
       kawasan industri, konstruksi, pengelolaan limbah, serta pengembangan properti.

       Melihat potensi pertumbuhan tersebut, Perusahaan berencana menambah Klasifikasi Baku
       Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yaitu :

       1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
       2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
       3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
       4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
       5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
       6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
       7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
       8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
       9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

       Penambahan kegiatan usaha ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pengembangan
       bisnis Perusahaan guna memperluas cakupan usaha.

       Tujuan dari studi kelayakan ini adalah sebagai acuan bagi manajemen Perusahaan dalam
       mengambil keputusan, sehubungan dengan rencana pengembangan usaha melalui adanya
       “Rencana penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)”. Laporan studi
       kelayakan ini akan disampaikan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”).

       TOPAZ memiliki ijin usaha dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia Nomor 2.20.0171
       berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
       387/KM/1/2020 tanggal 11 Agustus 2020 dan terdaftar sebagai profesi penunjang pasar


                                                                                   Halaman - 1
Page 33
       modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) -d/h Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
       Keuangan (Bapepam-LK) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal
       Nomor s-815/PM.223/2021.

       Pekerjaan studi kelayakan ini dilakukan menurut prosedur berikut ini :
       1. Perumusan persoalan dan penyediaan data
       2. Pemeriksaan dan penelitian dokumen terkait
       3. Reviu laporan keuangan
       4. Verifikasi dan analisis business plan
       5. Analisis dan perhitungan kelayakan penambahan KBLI baru
       6. Laporan pendahuluan
       7. Laporan draf studi kelaykan penambahan KBLI baru
       8. Laporan lengkap studi kelayakan penambahan KBLI baru

       Berikut kami sampaikan opini kami mengenai studi kelayakan penambahan KBLI baru pada
       perusahaan per tanggal 31 Desember 2024.

1.2.   Identitas Konsultan

       KJPP Tobing Panuturi & Rekan (“TOPAZ”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar
       di Kementerian Keuangan dan juga terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di
       Otoritas Jasa Keuangan serta memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan studi
       kelayakan penambahan kegiatan usaha ini.

       Konsultan adalah partner dari KJPP Tobing Panuturi & Rekan dengan kualifikasi sebagai
       berikut :
       Nama Penilai/Konsultan        : Prasetyo Djoko Sasongko.M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert.)
       No. Izin Penilai              : B.1-14.00395
       No. STTD Penunjang Pasar Modal: STTD.PB-24/PJ-1/PM.2/2023
       No. MAPPI                     : 07-S-02115
       Klasifikasi Izin              : Penilai Bisnis (B)

       Konsultan yang bertandatangan dalam laporan ini bertidak dalam kapasitasnya sebagai
       Rekan dalam Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi dan Rekan. Dalam mempersiapkan
       Laporan Studi Kelayakan ini kami bertindak secara independen tanpa adanya benturan
       kepentingan dan tidak terafiliasi dengan Pemberi Tugas, Objek Studi ataupun pihak-pihak
       yang terafiliasi dengan Pemberi Tugas dan Objek Studi. TOPAZ juga tidak memiliki
       kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.

       Laporan Studi ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
       manapun. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh nilai yang
       dihasilkan.

1.3.   Identitas Pemberi Tugas

       Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
       Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam


                                                                                   Halaman - 2
Page 34
       Alamat                              :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                               Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                               5-9
                                               Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                               Jakarta Utara, 14350
       Nomor telepon                       :   +62 21 651 9188
       Web                                 :   @ptaritaprimaindonesiatbk

1.4.   Identitas Pengguna Laporan

       Nama Perusahaan                     :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
       Jenis Usaha                         :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
       Alamat                              :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                               Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                               5-9
                                               Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                               Jakarta Utara, 14350
       Nomor telepon                       :   +62 21 651 9188
       Web                                 :   @ptaritaprimaindonesiatbk

1.5.   Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan setelah Penambahan KBLI Baru

       TOPAZ telah menyusun Revisi Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI dengan :
       Nomor Laporan         : 0601/2.0171-00/BS-FS/VI/2025.0171-00/BS-FS/I/2025
       Tanggal               : 16 Juni 2025

1.6.   Objek Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru

       Bahwa Objek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh Pemberi Tugas
       adalah Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan
       bidang usaha sebagai berikut :

       1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
       2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
       3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
       4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
       5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
       6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
       7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
       8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
       9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

1.7.   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru

       Maksud studi kelayakan yang akan dilaksanakan adalah memberikan pendapat atas
       kelayakan penambahan kegiatan usaha Perusahaan sehubungan dengan Rencana
       Penambahan sebagai berikut:



                                                                                  Halaman - 3
Page 35
       1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
       2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
       3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
       4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
       5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
       6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
       7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
       8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
       9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

       Melalui penambahan KBLI ini, Perusahaan berharap dapat mengoptimalkan seluruh potensi
       dan kesempatan yang ada, serta meningkatkan kinerja dan profitabilitas Perusahaan di
       masa mendatang. Keuntungan yang diperoleh Perusahaan dan Penambahan KBLI
       diharapkan dapat mendukung pertumbuhan jangka Panjang Perusahaan, serta dapat
       memberikan nilai tambah bagi Perusahaan dan para pemegang saham.

       Rencana ini tidak untuk bentuk rencana transaksi lainnya, serta tidak dimaksudkan untuk
       kepentingan perpajakan, jual beli, perbankan, dan tujuan lainnya. Laporan studi kelayakan
       ini akan disampaikan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

       Studi kelayakan ini mengacu kepada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
       17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan
       Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
       Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik
       Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
       Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
       Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018 dan SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

       Tujuan laporan ini adalah melakukan studi kelayakan atas Rencana Penambahan KBLI
       untuk keperluan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

1.8.   Tanggal Efektif Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan

       Tanggal pisah batas (cut off date) penilaian adalah per 31 Desember 2024, dimana batas
       tersebut diambil atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian. Berdasarkan
       Pasal 6 ayat 2 (dua) POJK No. 17/POJK.04/2020 bahwa masa berlaku di Studi Kelayakan,
       yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal penilaian dalam Studi Kelayakan. Sehingga masa
       berlaku laporan berakhir pada akhir 30 Juni 2025.

1.9.   Jenis Mata Uang yang DIgunakan

       Dalam penugasan ini Studi Kelayakan dinyatakan dalam mata uang Rupiah.

1.10. Metodologi Penyusunan Studi Kelayakan

       Penyusunan studi kelayakan ini dilakukan melalui 3 pendekatan. Setiap pendekatan
       dihubungkan dan dikonfirmasikan satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan studi



                                                                                     Halaman - 4
Page 36
     yang komprehensif. Adapun pendekatan penyusunan studi kelayakan ini adalah sebagai
     berikut :
      a. Pengumpulan Data dan Informasi
      b. Analisa Data
      c. Penyusunan Laporan Penilaian


1.11. Konfirmasi Bahwa Objek Studi Kelayakan Tidak Sedang atau Telah Di nilai Dalam
      Jangka Waktu 1 (satu) Bulan

     Perusahaan telah mengkonfirmasi bahwa objek studi kelayakan tidak sedang atau telah
     dinilai oleh Penilai Publik lainnya untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal studi
     kelayakan yang sama atau berdekatan (dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan).
     Bahwa Penilai dibebaskan dari segala bentuk tuntutan/klaim, gugatan ganti rugi yang
     mungkin timbul dari pihak ketiga atau pihak lainnya atas konfirmasi objek studi kelayakan
     yang tidak benar dari Perusahaan. Selain itu juga Perusahaan akan mengidentifikasi dari
     segala kerugian dan/atau kewajiban yang dialami oleh Penilai dan TOPAZ.

1.12. Tingkat Kedalam Investigasi

     Dalam studi kelayakan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan
     yang memadai di antaranya dengan melakukan wawancara terhadap perwakilan
     Manajemen Perusahaan. Pihak-pihak berkepentingan yang telah diwawancarai sebagai
     berikut:

     1. Bapak Sangap Dame sebagai Deputy direksi keuangan
     2. Bapak Hong Hauw Fung sebagai Operational Super Intendant

     Dari hasil wawancara dan data/ informasi yang diterima, yaitu :

      •   Adanya rencana penambahan KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker,
          KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan, KBLI 52109 – Pergudangan dan
          Penyimpanan Lainnya, KBLI 68120 – Real Estat Yange, KBLI 68130 – Kawasan
          Industri, KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa, KBLI 70209
          - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya, KBLI 52103 - Aktivitas Bounded
          Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat dan KBLI 38220 - Treatment dan
          Pembuangan Limbah Berbahaya.
      •   Cut off date yang digunakan adalah per 31 Desember 2024.




                                                                                     Halaman - 5
Page 37
       Foto Hasil kunjungan :




1.13. Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan

     Tinjauan terhadap kondisi fundamental objek studi kelayakan yang menyangkut sejarah
     singkatnya, struktur modal, susunan pengurus dan deskripsi bidang usaha serta
     memperhatikan kondisi makro yang ada. Data – data sebagai informasi pendukung adalah
     sebagai berikut:

     Adapun data dan informasi yang diperoleh dari internal perusahaan yang menjadi dasar
     penyusunan laporan studi kelayakan ini antara lain:
      • Profil perusahaan, akta pendirian dan akta perubahan terakhir milik perusahaan, dan
         perizinan terkait.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik Kanaka Puradiredja, Suhartono Nomor R-00049/3.0354/AU.1/05/0584-
         1/1/III/2021 tanggal 29 Maret 2021 ditandatangani oleh Yoyo Sukaryo
         Djena,M.Ak.,CA,CPA No. NRAP.0584 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik     Kosasih,    Nurdiyaman,      Mulyadi,   Tjahjo    &     Rekan     Nomor
         00279/2.1051/AU.1/05/0008-1/1/III/2022 tanggal 30 Maret 2022 ditandatangani oleh
         Mulyadi No.AP.0008 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik     Kosasih,    Nurdiyaman,      Mulyadi,   Tjahjo    &     Rekan     Nomor
         00265/2.1051/AU.1/05/0008-2/1/III/2023 tanggal 28 Maret 2023 ditandatangani oleh
         Mulyadi No.AP.0008 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00062/3.0478/AU.1/05/0019-1/1/III/2024 tanggal 26
         Maret 2024 ditandatangani oleh Suhartanto No.AP.0019 dengan opini wajar tanpa
         modifikasian.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00125/3.0478/AU.1/05/0019-2/1/III/2025 tanggal 26
         Maret 2025 ditandatangani oleh Suhartanto dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      • Data proyeksi keuangan KBLI baru tahun 2025-2029 yang disiapkan oleh manajemen.
      • TOPAZ tidak melakukan penyesuaian atas proyeksi keuangan yang telah disiapkan
         oleh manajemen Perusahaan dikarenakan Proyeksi telah mencerminkan kewajaran.
      • Data-data yang berhubungan dengan pangsa pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis,
         dan aspek modal manajemen yang disampaikan oleh manajemen Perusahaan.
      • Struktur organisasi Perusahaan dan struktur organisasi untuk KBLI baru.


                                                                                 Halaman - 6
Page 38
      •   Representation Letter nomor 29/SEKPER/APII/V/2025 tanggal 27 Mei 2025 yang
          disiapkan oleh manajemen Perusahaan dan ditujukan kepada TOPAZ sehubungan
          dengan penugasan penilaian.
      •   Data-data lain sebagai informasi pendukung.
      •   Berbagai sumber informasi baik berdasarkan media cetak dan elektronik, seperti
          website, Damodaran, website S&P, asosiasi industri terkait, dan Bank Indonesia, serta
          hasil analisis lain yang kami anggap relevan dengan penugasan ini.

1.14. Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Independensi Konsultan

     Sebagai KJPP yang telah ditunjuk oleh pemberi tugas untuk menyusun laporan studi
     kelayakan ini, kami berkomitmen untuk mematuhi ketentuang yang diatur dalam POJK 17
     tahun 2020 dan SEOJK 17 tahun 2020. Studi kelayakan ini bertujuan untuk memberikan
     analisis menyeluruh yang mencakup Analisa Kelayakan Pasar, Analisa Kelayakan Teknis,
     Analisa Pola Bisnis, Analisa Kelayakan Model Manajemen, dan Analisa Kelayakan
     Keuangan. Kami memahami bahwa penugasan ini tidak hanya menuntut pemahaman
     mendalam mengenai objek studi, tetapi juga penerapan metodologi yang sesuai untuk
     menghasilkan laporan yang kredibel dan akurat.

     Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
     tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang
     terafiliasi dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau
     keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan
     ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pada pihak manapun.
     Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang
     dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang
     tercantum pada proposal penawaran Nomor 0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21
     Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025.

1.15. Asumsi dan Kondisi Pembatas

     Asumsi

     Asumsi dan asumsi khusus yang akan digunakan dalam penugasan merupakan asumsi dan
     asumsi khusus yang wajar dan relevan dengan memperhatikan tujuan di mana studi
     kelayakan diperlukan.

     Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dari fakta yang sebenarnya pada tanggal studi
     kelayakan atau hal yang tidak akan dibuat oleh sebagian kecil pelaku pasar dalam suatu
     transaksi pada tanggal studi kelayakan. Asumsi khusus sering digunakan untuk
     menggambarkan efek dari suatu situasi yang akan mempengaruhi nilai.

     Dalam pelaksanaan penugasan, Studi akan menggunakan asumsi yang wajar untuk
     diterima sebagai fakta dalam konteks penugasan.

     Kondisi Pembatas

     Pembatasan pada studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:


                                                                                   Halaman - 7
Page 39
•   Laporan Studi Kelayakan merupakan hasil analisis TOPAZ atas rencana penambahan
    Kegiatan Usaha APII yang juga dimaksudkan untuk digunakan sebagai pemenuhan
    ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang
    Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
    Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di
    Pasar Modal dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
    No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
    Bisnis di Pasar Modal.
•   Besaran investasi yang digunakan dalam proyeksi merujuk pada rencana dan
    pertimbangan manajemen dengan tetap memperhatikan data pasar.
•   Penyusunan laporan studi ini merupakan interpretasi kami atas data dan informasi yang
    diperoleh dan tersedia yang kami anggap benar pada saat penyusunan laporan ini
    dilakukan. Asumsi-asumsi yang digunakan mungkin tidak lagi berlaku apabila terjadi
    sesuai atau kondisi tertentu yang mempengaruhi ketepatan asumsi-asumsi tersebut,
    seperti diberlakukannya peraturan-peraturan pemerintah yang baru maupun
    perubahan-perubahan penting di manajemen, bidang politik, sosial, dan ekonomi.
•   Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian sebagai akibat dari kesalahan opini atau
    kesimpulan yang terjadi karena adanya data atau informasi APII yang relevan dan
    signifikan pengaruhnya terhadap opini atau kesimpulan kami, yang tidak dan/atau
    belum kami terima dari APII.
•   Kami berasumsi bahwa APII mentaati semua peraturan yang ditetapkan Pemerintah,
    khususnya yang terkait dengan operasional perusahaan, baik di masa lalu maupun di
    masa mendatang.
•   Kami tidak melaksanakan pemeriksaan terhadap legalitas aset yang dimiliki oleh APII.
    Kami berasumsi bahwa tidak ada masalah legalitas berkenaan dengan aset-aset APII,
    baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
•   Kami berasumsi bahwa APII telah dan akan memenuhi kewajiban berkenaan dengan
    perpajakan, retribusi pungutan-pungutan, dan/atau kewajiban lainnya sesuai dengan
    peraturan yang berlaku.
•   Kami telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses
    penyusunan Studi Kelayakan.
•   Kami mengandalkan sepenuhnya data-data dari manajemen, adapun laporan
    keuangan audited per cut off date, kami peroleh dari manajemen.
•   Data dan informasi diperoleh dari sumber dan data yang dapat dipercaya.
•   Kami menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan
    kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
    pencapaian (fiduciary duty).
•   Kami bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan Studi Kelayakan dan
    kewajaran proyeksi keuangan.
•   Kami bukan konsultan yang berkompetensi masalah lingkungan hidup dan karenanya
    tidak bertanggung jawab terhadap setiap kewajiban aktual atau potensial yang terkait
    dengan permasalahan lingkungan.
•   Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non disclaimer opinion.
•   Konsultan bertanggung jawab pada laporan Studi Kelayakan ini dan kesimpulan akhir
    dari laporan ini.




                                                                             Halaman - 8
Page 40
                              BAB II
                    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Gambaran Umum Perusahaan

       PT Arita Prima Indonesia Tbk ("APII/Perusahaan") didirikan di Republik Indonesia
       berdasarkan Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi, S.H. No. 1 tanggal 5 Oktober 2000. Akta
       pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
       Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31 Mei 2001 dan
       telah diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 31 tanggal 16 April
       2002, Tambahan No. 3727.

       Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan
       Akta Notaris Tjhong Sendrawan, S.H. No. 12 tanggal 27 Juni 2019 mengenai penyusunan
       kembali ketentuan dalam Anggaran Dasar Perusahaan tentang Maksud dan Tujuan serta
       Kegiatan Usaha Perusahaan sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
       (“KBLI”) tahun 2017. Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
       Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.03-0299594 tanggal
       18 Juli 2019.

       Susunan Kepengurusan mengalami perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Tjhong
       Sendrawan S.H., No. 29 tanggal 22 September 2022 berkedudukan di Jakarta Utara
       mengenai perubahan pengangkatan Kembali. Perubahan tersebut telah disetujui oleh
       Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
       AHU-AH.01.09-0060365 tanggal 30 September 2022.

       Kantor pusat Perusahaan terletak di Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No. 7-9, Jalan
       Danau Sunter Utara, Sunter Agung, Jakarta Utara. Perusahaan memiliki 40 kantor cabang
       yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Perusahaan mulai beroperasi secara
       komersial sejak tahun 2001. Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha Unimech Group
       Berhad, Malaysia.

       Pada tanggal 17 Oktober 2013, Perusahaan memeroleh pernyataan efektif dari Dewan
       Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Surat Keputusan No. S-
       307/D.04/2013 untuk melakukan penawaran umum saham kepada Masyarakat sejumlah
       275.000.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham dengan harga
       penawaran Rp220 per lembar saham. Seluruh saham Perusahaan telah tercatat pada Bursa
       Efek Indonesia.

2.2.   Aktivitas Usaha

       Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
       adalah dalam bidang industri pipa dan perdagangan besar mesin, suku cadang, kompresor
       dan klep.




                                                                                    Halaman - 1
Page 41
2.3.   Struktur Permodalan

       Berdasarkan akta Nomor 12 tanggal 19 Juni 2024, struktur pemegang saham sebagai
       berikut :

       Figur 2.3.1 Susunan Pemegang Saham APII
                                     Jumlah Saham Ditempatkan      Persentase
            Pemegang Saham                                                          Jumlah
                                         dan Disetor Penuh         Kepemilikan
        PT Arita Global                             622.214.760         57,84%      62.221.476.000
        Arita Engineering Sdn.Bhd.                  151.125.260          14,05%     15.112.526.000
        Low Yew Lean                                 60.146.480           5,59%      6.014.648.000
        Masyarakat                                  242.272.500          22,52%     24.227.350.000
        Total                                      1.075.760.000         100,00%   107.576.000.000
       Sumber : akta Nomor 12 tanggal 19 Juni 2024

2.4. Susunan Kepengurusan

       Berdasarkan Akta Perubahan Terakhir No. 29 tanggal 22 September 2022, Susunan
       pengurus Perusahaan adalah sebagai berikut :

       Dewan Komisaris
       Komisaris Utama               : Lim Cheah Chooi
       Komisaris                     : Sim Yee Fuan
       Komisaris Independen          : Bernadetha Melinda Kirana Putri

       Direksi
       Direktur Utama                : Low Yew Lean
       Direktur                      : Chan Chein Liang
       Direktur                      : Harianto

2.5.   Legalitas dan Perizinan

       Legalitas dan Perizinan yang telah dimiliki APII adalah sebagai berikut:

       1. Akta Pendirian nomor 1 tanggal 5 Oktober 2000 berdasarkan Akta Notaris Triphosa Lily
          Ekadewi, S.H di Jakarta Barat. Akta Pendirian ini telah disahkan oleh Menteri
          Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. 0-
          7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31 Mei 2001.
       2. Akta Notaris Tjhong Sendrawan, S.H. No. 12 tanggal 27 Juni 2019 mengenai
          penyusunan kembali ketentuan dalam Anggaran Dasar Perusahaan tentang Maksud
          dan Tujuan serta Kegiatan Usaha Perusahaan sesuai dengan Klasifikasi Baku
          Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) tahun 2017. Perubahan tersebut telah disetujui
          oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat
          Keputusan No. AHU-AH.01.03-0299594 tanggal 18 Juli 2019.
       3. Akta Notaris Tjhong Sendrawan S.H., No. 29 tanggal 22 September 2022
          berkedudukan di Jakarta Utara mengenai perubahan pengangkatan Kembali.
          Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia


                                                                                       Halaman - 2
Page 42
          Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.09-0060365 tanggal 30
          September 2022.
      4. Laporan keuangan per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Kanaka Puradiredja, Suhartono Nomor R-00049/3.0354/AU.1/05/0584-
          1/1/III/2021 tanggal 29 Maret 2021 ditandatangani oleh Yoyo Sukaryo
          Djena,M.Ak.,CA,CPA No. NRAP.0584 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      5. Laporan keuangan per 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik     Kosasih,    Nurdiyaman,    Mulyadi,    Tjahjo    &     Rekan      Nomor
          00279/2.1051/AU.1/05/0008-1/1/III/2022 tanggal 30 Maret 2022 ditandatangani oleh
          Mulyadi No.AP.0008 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      6. Laporan keuangan per 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik     Kosasih,    Nurdiyaman,    Mulyadi,    Tjahjo    &     Rekan      Nomor
          00265/2.1051/AU.1/05/0008-2/1/III/2023 tanggal 28 Maret 2023 ditandatangani oleh
          Mulyadi No.AP.0008 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      7. Laporan keuangan per 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00062/3.0478/AU.1/05/0019-1/1/III/2024 tanggal 26
          Maret 2024 ditandatangani oleh Suhartanto No.AP.0019 dengan opini wajar tanpa
          modifikasian.
      8. Laporan keuangan per 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00125/3.0478/AU.1/05/0019-2/1/III/2025 tanggal 26
          Maret 2025 ditandatangani oleh Suhartanto dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      9. Nomor Induk Berusaha (NIB) nomor 9120304300414
      10. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) nomor 02.005.399.7-059.000

2.6. Tinjauan Kinerja Keuangan

     Analisa terhadap kinerja keuangan Perusahaan dilakukan berdasarkan kepada laporan
     keuangan untuk tahun yang berakhir diaudit untuk tahun 2020 sampai dengan 2024. Berikut
     ringkasan laporan keuangan beserta rasio laporan keuangan :

     Tinjauan Laba (Rugi)

     Figur 2.6.1 Laba (Rugi)
                                                                                 (Jutaan Rupiah)
                                         2020        2021        2022        2023          2024
                                         Audit       Audit       Audit       Audit        Audit


      Penjualan Bersih                   248.931     252.449     295.022     299.111       280.127
      Beban Pokok Penjualan             (105.037)   (108.093)   (136.454)   (120.491)    (124.828)
      Laba Bruto                         143.894     144.356     158.569     178.620       155.299
      Beban penjualan                    (47.117)    (45.293)    (52.296)    (54.080)     (53.474)
      Beban umum dan administrasi        (43.738)    (59.543)    (64.952)    (72.185)     (77.097)
      Total Beban Operasional            (90.855)   (104.836)   (117.248)   (126.265)    (130.570)
      Laba Operasi                        53.038      39.520      41.321      52.355        24.728
      Penghasilan (Beban) Lain-lain
      Beban keuangan                     (15.828)    (13.929)    (14.654)    (14.547)     (16.217)


                                                                                        Halaman - 3
Page 43
                                     2020         2021        2022        2023           2024
                                     Audit        Audit       Audit       Audit         Audit
 Selisih kurs-bersih                  (1.445)       (915)      (1.577)           25      (1.106)
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                       1.496              -           -           -             -
 tertagih
 Pendapatan bunga                        807          566         668         743           911
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap            3            -           -           -             -
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                       (273)       (1.017)      1.652       2.507          3.314
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                      1.187        4.441       (568)         256          (466)
 Beban Lain-lain - neto              (14.053)     (10.855)    (14.479)    (11.016)      (13.565)
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan       38.985       28.665      26.842      41.339         11.163
 Pajak final                                (1)       (14)            -     (299)          (215)
 Pajak kini                           (8.614)      (8.087)    (11.428)    (10.607)       (5.930)
 Pajak tangguhan                       (218)          108      (1.360)        219           230
 Laba Tahun Berjalan                  30.152       20.672      14.054      30.651          5.249
Sumber : Laporan Keuangan APII

Pendapatan (Penjualan Bersih)
Penjualan bersih perusahaan meningkat dari Rp248.931 juta di tahun 2020 menjadi
puncaknya sebesar Rp299.111 juta pada tahun 2023. Namun, pada 2024 terjadi penurunan
menjadi Rp280.127 juta. Meski secara umum tren lima tahunan masih positif, penurunan di
tahun terakhir perlu diwaspadai karena bisa menjadi indikasi tekanan pasar atau turunnya
daya saing perusahaan.

Laba Kotor
Laba kotor meningkat dari Rp143.894 juta pada tahun 2020 menjadi Rp178.620 juta pada
2023, sebelum turun ke Rp155.299 juta di tahun 2024. Penurunan ini sejalan dengan
menurunnya penjualan dan meningkatnya beban pokok penjualan dari Rp120.491 juta
menjadi Rp124.828 juta. Meskipun laba kotor masih cukup tinggi, margin kotor perusahaan
mulai tertekan.

Laba Operasional
Laba operasional berfluktuasi cukup tajam. Dari Rp53.038 juta di tahun 2020, turun ke
Rp39.520 juta di 2021, naik tipis menjadi Rp41.321 juta di 2022, lalu naik lagi ke Rp52.355
juta di 2023. Namun, pada 2024 laba operasional anjlok drastis menjadi hanya Rp24.728 juta.
Penurunan ini disebabkan oleh terus meningkatnya total beban operasional, dari Rp90.855
juta di 2020 menjadi Rp130.570 juta di 2024, terutama beban umum dan administrasi yang
naik signifikan.

Laba Sebelum Pajak
Laba sebelum pajak juga menunjukkan penurunan dari Rp38.985 juta di 2020 menjadi hanya
Rp11.163 juta pada 2024. Ini terjadi meskipun beban keuangan relatif stabil. Namun, beban
lain-lain bersih masih tinggi dan menggerus laba, mencapai Rp13.565 juta di tahun 2024.




                                                                                      Halaman - 4
Page 44
Laba Tahun Berjalan
Laba bersih perusahaan menurun tajam dari Rp30.152 juta di 2020 menjadi hanya Rp5.249
juta di 2024. Penurunan ini terjadi meskipun sempat ada pemulihan di 2023 (Rp30.651 juta).
Kinerja 2024 merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir dan mencerminkan
tekanan dari sisi operasional dan non-operasional sekaligus, ditambah beban pajak yang
tetap tinggi meskipun laba menurun.

Tinjauan Posisi Keuangan

Figur 2.6.2 Posisi Keuangan
                                                                             (Jutaan Rupiah)
                                      2020        2021        2022        2023           2024
                                      Audit       Audit       Audit       Audit         Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                          13.361      21.567      15.716      19.178          8.860
 Deposito berjangka                    10.661      10.637      11.214             -             -
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                       1.127       2.115       2.731       2.796          3.334
   Pihak ketiga                        62.823      52.638      53.985      50.553         45.696
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                       3.202       5.739       8.827      10.163          9.239
   Pihak ketiga                         1.916       3.238       4.909       2.914          2.716
 Persediaan                           185.623     190.145     207.614     199.929        215.088
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka    11.383      19.853       7.319      11.592         18.580
 Pajak dibayar dimuka                    440        1.404            24    11.290          6.687
 Jumlah Aset Lancar                   290.537     307.336     312.340     308.414        310.199


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap               -           -           -    14.747         10.737
 Aset pajak tangguhan - bersih          5.152       4.224       2.945       3.325          3.488
 Aset hak guna neto                           -      999        1.171        690           1.017
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                       10.577      14.155      15.072      17.537         21.001
 bersih
 Aset tetap                           204.488     212.754     231.732     252.118        273.097
 Aset tak berwujud                       259         621         607         823            589
 Taksiran klaim pajak penghasilan       1.171       2.240        522        3.083          8.518
 Aset lain-lain                              37           -           -           -             -
 Jumlah Aset Tidak Lancar             221.684     234.994     252.049     292.324        318.446
 Jumlah Aset                          512.221     542.329     564.389     600.737        628.646


 Liabilitas dan Ekuitas
 Liabilitas


                                                                                      Halaman - 5
Page 45
                                         2020        2021        2022        2023         2024
                                         Audit       Audit       Audit       Audit       Audit
Liabilitas Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek                 119.489     117.553     115.021     118.246      136.797
Utang usaha
  Piutang berelasi                         2.376       3.110       5.677       2.229        8.534
  Piutang ketiga                          12.149      11.212      11.917       9.969        9.544
Utang pajak                                3.989       4.029       5.332       5.216        2.717
Beban masih harus dibayar                   364         888        5.006       6.750        5.325
Utang lain-lain
  Piutang berelasi                        21.112      21.781      20.941      21.889       25.178
  Piutang ketiga                                10          30          30      454              30
Uang muka pelanggan                         842        3.327       7.211       7.741        3.292
Utang jangka panjang yang akan
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
  Utang bank                                375        1.125       1.569       1.854        1.747
  Utang pembiayaan konsumen                1.959       2.371       2.011       1.270         578
  Liabilitas sewa                                -      301         199         151          328
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          162.664     165.727     174.914     175.768      194.072


Liabilitas Jangka Panjang
Utang jangka panjang
  Utang bank                                675        2.095       2.431       4.548        6.137
  Utang pembiayaan konsumen                1.512       1.418       1.519        443          173
  Liabilitas sewa                                -          88      208         182          312
Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                          14.148      11.533       7.639       9.350       10.517
karyawan
Jumlah Liabilitas Jangka panjang          16.335      15.134      11.798      14.522       17.140
Jumlah Liabilitas                        179.000     180.861     186.712     190.290      211.212


Ekuitas
Modal saham                              107.576     107.576     107.576     107.576      107.576
Tambahan modal disetor                    33.937      33.937      33.937      33.937       33.937
Selisih transaksi dengan kepentingan
                                                 -   (2.011)     (2.597)     (2.597)      (2.679)
non-pengendali
Saldo laba
  Telah ditentukan penggunannya           16.000      16.000      16.000      16.000       16.000
  Belum ditentukan penggunannya          173.676     196.805     209.267     237.632      242.121
Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                         331.190     352.307     364.184     392.549      396.956
kepada pemilik entitas induk
Kepentingan non pengendali                 2.031       9.161      13.494      17.899       20.478



                                                                                       Halaman - 6
Page 46
                                       2020       2021       2022        2023         2024
                                       Audit     Audit       Audit       Audit       Audit
 Jumlah Ekuitas                        333.221   361.468     377.677     410.447      417.434
 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas         512.221   542.329     564.389     600.737      628.646
Sumber : Laporan keuangan Audit APII

Aset
Total aset perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari Rp512.221 juta di
tahun 2020 menjadi Rp628.646 juta pada tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan
adanya ekspansi aset secara bertahap selama lima tahun. Aset lancar mendominasi
proporsi aset secara keseluruhan, meskipun nilainya relatif stabil dalam lima tahun terakhir,
yaitu dari Rp290.537 juta pada 2020 menjadi Rp310.199 juta pada 2024. Yang menarik, kas
dan bank mengalami penurunan signifikan dari Rp19.178 juta pada 2023 menjadi hanya
Rp8.860 juta pada 2024, yang dapat mengindikasikan tekanan likuiditas. Sebaliknya,
persediaan justru meningkat dari Rp185.623 juta di 2020 menjadi Rp215.088 juta di 2024,
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak barang yang belum terjual, yang
bisa berdampak pada efisiensi modal kerja. Sementara itu, aset tidak lancar juga meningkat
cukup signifikan, terutama pada aset tetap yang naik dari Rp204.488 juta di 2020 menjadi
Rp273.097 juta di 2024. Kenaikan ini menunjukkan adanya investasi jangka panjang yang
berkelanjutan dalam infrastruktur atau alat produksi.

Liabilitas
Total liabilitas perusahaan meningkat dari Rp179.000 juta di tahun 2020 menjadi Rp211.212
juta pada 2024. Kenaikan ini terutama disumbang oleh utang bank jangka pendek, yang naik
dari Rp119.489 juta menjadi Rp136.797 juta selama periode tersebut. Hal ini menunjukkan
ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pembiayaan jangka pendek. Utang lain-lain
kepada pihak berelasi juga mengalami peningkatan, dari Rp21.112 juta pada 2020 menjadi
Rp25.178 juta di 2024. Meski demikian, liabilitas jangka panjang masih berada pada level
yang relatif terkendali, hanya naik dari Rp16.335 juta di 2020 menjadi Rp17.140 juta di 2024.
Namun, tren ini tetap perlu diawasi, terutama terkait kewajiban imbalan kerja yang juga
meningkat.

Ekuitas
Ekuitas perusahaan mengalami peningkatan stabil dari Rp333.221 juta pada tahun 2020
menjadi Rp417.434 juta di tahun 2024. Komponen utama dari pertumbuhan ini adalah saldo
laba belum ditentukan penggunaannya, yang meningkat dari Rp173.676 juta menjadi
Rp242.121 juta, mencerminkan akumulasi laba tahunan yang tidak dibagikan sebagai
dividen. Modal saham dan tambahan modal disetor tidak berubah selama periode ini,
menunjukkan tidak ada penerbitan saham baru. Kepentingan non-pengendali juga
bertumbuh signifikan dari Rp2.031 juta menjadi Rp20.478 juta, yang dapat mengindikasikan
pertumbuhan atau kontribusi dari anak perusahaan yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh
entitas induk.




                                                                                   Halaman - 7
Page 47
Tinjauan Arus Kas

Figur 2.6.3 Arus Kas
                                                                             (Jutaan Rupiah)
                                 2020         2021         2022         2023             2024
                                 Audit        Audit        Audit        Audit           Audit


 Arus Kas dari Aktivitas
 Operasi
 Penerimaan kas dari
                                  273.231      265.133      291.988      302.599         278.628
 pelanggan
 Pembayaran kas kepada
                                 (127.386)    (221.218)    (241.424)    (242.378)       (246.563)
 pemasok dan pihak ketiga
 Pembayaran beban usaha           (28.473)             -            -            -                -
 Pembayaran kepada
                                  (56.709)             -            -            -                -
 karyawan
 Penerimaan tagihan pajak
                                          -            -            -            -         2.216
 penghasilan
 Kas yang diperoleh dari
                                   60.664       43.915       50.564       60.221          34.281
 operasi
 Pembayan pajak                   (20.555)     (10.292)      (9.217)     (14.895)        (15.904)
 Pendapatan bunga                       807          566          668          743              911
 Beban keuangan                   (15.548)     (13.928)     (14.706)     (14.567)        (16.371)
 Kegiatan operasi lainnya                65            -            -            -                -
 Pembayaran liabilitas imbalan
                                          -       (400)        (989)        (806)           (522)
 kerja
 Arus Kas Bersih Diperoleh
                                   25.432       19.861       26.320       30.697           2.396
 dari Aktivitas Operasi

 Arus Kas dari Aktivitas
 Investasi
 Hasil penjualan aset tetap               3          352           21            -        (8.288)
 Perolehan aset tetap             (12.684)     (12.051)     (22.322)     (30.262)        (20.137)
 Investasi pada entitas
                                   (7.185)             -            -            -                -
 asosiasi
 Perolehan aset takberwujud               -       (570)        (235)        (520)           (132)
 Arus kas bersih digunakan
                                  (19.866)     (12.269)     (22.535)     (30.782)        (28.557)
 Untuk Aktivitas Investasi

 Arus Kas dan Aktivitas
 Pendanaan
 Pembayaran atas utang bank        (9.394)      (4.850)      (8.897)     (16.722)        (45.213)
 Penerimaan atas utang bank         7.681        2.915        5.681       21.617          59.728
 Deposito berjangka                       -            -            -            -                -
 Pembayaran atas utang
                                   (1.812)      (2.253)      (5.777)             -                -
 pembelian aset tetap
 Pembayaran liabilitas sewa               -        (34)         (38)             -                -




                                                                                     Halaman - 8
Page 48
                                 2020         2021          2022        2023            2024
                                 Audit        Audit         Audit       Audit          Audit
 Pembayaran bunga atas
                                          -           (1)      (557)       (255)           (540)
 liabilitas sewa
 Pembayaran atas utang sewa
                                    (190)               -           -       (29)            (35)
 pembiayaan
 Pembayaran utang
                                          -             -           -    (2.124)         (1.378)
 pembiayaan konsumen
 Penerimaan (pembayaran)
                                        546             -           -           -              -
 lain-lain
 Arus Kas Bersih digunakan
                                  (3.168)      (4.222)       (9.589)       2.487         12.563
 untuk Aktivitas Pendanaan

 Kenaikan Bersih Kas dan
                                    2.398        3.370       (5.804)       2.402        (13.599)
 Bank
 Kas dan Bank Pada Awal
                                  10.964       13.362        16.732      10.927          13.329
 Tahun
 Kas dan Bank Pada Akhir
                                  13.362       16.732        10.927      13.329            (270)
 Tahun
Sumber : Laporan Keuangan APII

Arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan tren yang fluktuatif selama periode 2020 hingga
2024. Perusahaan menghasilkan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp25.432 juta
pada 2020, naik menjadi Rp30.697 juta pada 2023, namun mengalami penurunan tajam ke
Rp2.396 juta pada 2024. Penurunan ini disebabkan oleh tingginya pembayaran kas kepada
pemasok dan pihak ketiga serta pembayaran pajak dan beban keuangan yang cukup besar.
Penurunan kemampuan menghasilkan kas dari aktivitas inti ini mencerminkan potensi
tekanan operasional.

Arus kas dari aktivitas investasi selama lima tahun terakhir selalu mencatat arus keluar
(negatif), yang menunjukkan bahwa perusahaan secara konsisten melakukan investasi,
terutama dalam aset tetap. Pada 2020, arus kas keluar sebesar Rp19.866 juta dan terus
meningkat menjadi Rp30.782 juta pada 2023. Meskipun pada 2024 arus keluar turun
menjadi Rp28.557 juta, angka ini tetap tinggi dan menjadi beban tambahan terhadap kas
perusahaan, ditambah dengan adanya pencatatan negatif dari penjualan aset tetap sebesar
Rp8.288 juta.

Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan upaya perusahaan untuk
menyeimbangkan kebutuhan likuiditasnya. Pada 2020 hingga 2022, perusahaan mengalami
arus kas keluar dari aktivitas pendanaan. Namun pada 2023 dan 2024, arus kas dari
pendanaan berubah menjadi positif, masing-masing sebesar Rp2.487 juta dan Rp12.563
juta, yang terutama berasal dari penerimaan utang bank yang meningkat tajam menjadi
Rp59.728 juta di 2024. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai bergantung pada
pendanaan eksternal untuk mendukung kebutuhan arus kas dan belanja modal.




                                                                                    Halaman - 9
Page 49
Rasio Keuangan

Figur 2.6.4 Rasio Keuangan
                                       2020      2021      2022     2023     2024
                                       Audit     Audit     Audit    Audit    Audit
 Rasio Likuiditas
 Rasio Lancar                            1,79       1,85     1,79     1,75     1,60
 Rasio Cepat                            -1,06      -1,02    -1,10    -1,03    -1,06
 Rasio Kas                               0,08       0,13     0,09     0,11     0,05

 Rasio Aktivitas
 Rasio Perputaran Persediaan (x)            1         1         1        1        1
 Rasio Perputaran Piutang Usaha (x)      3,89      4,61      5,20     5,61     5,71
 Rasio Perputaran Utang Usaha (x)           7         8         8       10        7
 Rasio Perputaran Persediaan (hari)    645,03    642,07    555,35   605,64   628,92
 Rasio Perputaran Piutang Usaha
                                        93,77     79,17     70,17    65,10    63,89
 (hari)
 Rasio Perputaran Utang Usaha (hari)    50,47     48,36     47,06    36,95    52,86

 Rasio leverage
 Rasio Margin Laba Kotor                  57,80%  57,18%   53,75%   59,72%   55,44%
 Rasio Margin Laba Operasi                21,31%  15,65%   14,01%   17,50%    8,83%
 Rasio Margin Laba (Rugi) Setelah
                                          12,11%   8,19%   4,76%    10,25%   1,87%
 Pajak
 Return on Assets                          5,89%   3,81%   2,49%    5,10%    0,83%
 Return On Equity                          9,05%   5,72%   3,72%    7,47%    1,26%
Sumber : Laporan keuangan APII, Diolah oleh TOPAZ

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar perusahaan cenderung menurun dari 1,79 pada
tahun 2020 menjadi 1,60 pada tahun 2024. Meskipun rasio ini masih di atas angka 1, yang
secara umum menunjukkan posisi likuid yang aman, tren penurunan tersebut mencerminkan
pelemahan dalam kapasitas likuiditas perusahaan. Rasio kas yang juga menurun dari 0,08
menjadi 0,05 mengindikasikan bahwa porsi kas terhadap kewajiban lancar semakin
mengecil. Sementara itu, rasio cepat selama lima tahun menunjukkan nilai negatif, yang
tidak lazim dalam analisa keuangan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kesalahan perhitungan
atau klasifikasi aset lancar dalam laporan keuangan.

Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya. Rasio
perputaran piutang usaha meningkat dari 3,89 kali di tahun 2020 menjadi 5,71 kali di 2024,
menunjukkan perbaikan dalam proses penagihan piutang. Konversi angka ini ke dalam hari
juga menunjukkan perbaikan, dengan hari perputaran piutang usaha turun dari 93,77 hari
menjadi 63,89 hari. Namun, perputaran persediaan tetap rendah, sekitar 1 kali per tahun,
dan hari perputaran persediaan tetap sangat tinggi di atas 600 hari. Ini mengindikasikan
bahwa persediaan lama tersimpan dan tidak cepat dikonversi menjadi penjualan. Sementara


                                                                                Halaman - 10
Page 50
itu, rasio perputaran utang usaha menunjukkan fluktuasi, dengan peningkatan efisiensi
pembayaran di 2023 (36,95 hari), namun kembali melambat menjadi 52,86 hari di 2024.

Rasio Leverage dan Profitabilitas
Rasio leverage dan profitabilitas memberikan gambaran mengenai seberapa efisien
perusahaan menghasilkan laba dari penjualannya, aset, dan modal sendiri. Margin laba
kotor menunjukkan penurunan kecil dari 57,80% di 2020 menjadi 55,44% di 2024,
sedangkan margin laba operasi menurun lebih tajam dari 21,31% menjadi 8,83%,
mencerminkan meningkatnya beban operasional terhadap penjualan. Margin laba setelah
pajak juga turun drastis dari 12,11% menjadi hanya 1,87%. Penurunan ini berdampak
langsung pada Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), yang masing-masing
menurun dari 5,89% dan 9,05% di 2020 menjadi 0,83% dan 1,26% di 2024. Ini menunjukkan
bahwa perusahaan menjadi jauh kurang efisien dalam menghasilkan laba dari aset dan
ekuitasnya selama periode tersebut.

Common Size Laporan Keuangan Periode 31 Desember 2020 sampai dengan 31
Desember 2024

Berikut common size / analisis vertikal dan horizontal laporan keuangan periode 31
Desember 2020 sampai dengan 31 Desember 2024.

Analisis Vertikal
Analisis vertikal pada dasarnya adalah bagian dari analisis laporan keuangan dengan cara
menyajikan kembali laporan keuangan dalam bentuk persentase, dimana laporan laba rugi
dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap pendapatan, sedangkan laporan posisi
keuangan dinyatakan dalam persentase terhadap total aset maupun liabilitas dan ekuitas.

Figur 2.6.5 Analisis Vertikal Laba Rugi
                                      2020         2021      2022      2023          2024
                                      Audit        Audit     Audit     Audit         Audit


 Penjualan Bersih                    100,00%       100,00%   100,00%   100,00%      100,00%
 Beban Pokok Penjualan               -42,20%       -42,82%   -46,25%   -40,28%      -44,56%
 Laba Bruto                           57,80%       57,18%    53,75%    59,72%        55,44%
 Beban penjualan                     -18,93%       -17,94%   -17,73%   -18,08%      -19,09%
 Beban umum dan administrasi         -17,57%       -23,59%   -22,02%   -24,13%      -27,52%
 Total Beban Operasional             -36,50%       -41,53%   -39,74%   -42,21%      -46,61%
 Laba Operasi                         21,31%       15,65%    14,01%    17,50%         8,83%
 Penghasilan (Beban) Lain-lain
 Beban keuangan                           -6,36%    -5,52%    -4,97%    -4,86%       -5,79%
 Selisih kurs-bersih                      -0,58%    -0,36%    -0,53%    0,01%        -0,39%
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                          0,60%     0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
 tertagih
 Pendapatan bunga                         0,32%     0,22%     0,23%     0,25%         0,33%
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap         0,00%     0,00%     0,00%     0,00%         0,00%



                                                                                 Halaman - 11
Page 51
                                         2020       2021     2022     2023         2024
                                         Audit      Audit    Audit    Audit        Audit
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                         -0,11%     -0,40%    0,56%    0,84%        1,18%
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                         0,48%      1,76%   -0,19%    0,09%       -0,17%
 Beban Lain-lain - neto                  -5,65%     -4,30%   -4,91%   -3,68%       -4,84%
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan          15,66%     11,35%    9,10%   13,82%        3,99%
 Pajak final                              0,00%     -0,01%    0,00%   -0,10%       -0,08%
 Pajak kini                              -3,46%     -3,20%   -3,87%   -3,55%       -2,12%
 Pajak tangguhan                         -0,09%      0,04%   -0,46%    0,07%        0,08%
 Laba Tahun Berjalan                       12,11%    8,19%    4,76%   10,25%        1,87%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ

Figur 2.6.6 Analisis Vertikal Laporan Posisi Keuangan
                                         2020       2021     2022     2023         2024
                                        Audit       Audit    Audit    Audit        Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                             2,61%      3,98%    2,78%    3,19%        1,41%
 Deposito berjangka                       2,08%      1,96%    1,99%    0,00%        0,00%
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                         0,22%      0,39%    0,48%    0,47%        0,53%
   Pihak ketiga                          12,26%      9,71%    9,57%    8,42%        7,27%
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                         0,63%      1,06%    1,56%    1,69%        1,47%
   Pihak ketiga                           0,37%      0,60%    0,87%    0,49%        0,43%
 Persediaan                              36,24%     35,06%   36,79%   33,28%       34,21%
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka       2,22%      3,66%    1,30%    1,93%        2,96%
 Pajak dibayar dimuka                     0,09%      0,26%    0,00%    1,88%        1,06%
 Jumlah Aset Lancar                      56,72%     56,67%   55,34%   51,34%       49,34%


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap           0,00%      0,00%    0,00%    2,45%        1,71%
 Aset pajak tangguhan - bersih            1,01%      0,78%    0,52%    0,55%        0,55%
 Aset hak guna neto                       0,00%      0,18%    0,21%    0,11%        0,16%
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                          2,06%      2,61%    2,67%    2,92%        3,34%
 bersih
 Aset tetap                              39,92%     39,23%   41,06%   41,97%       43,44%
 Aset tak berwujud                        0,05%      0,11%    0,11%    0,14%        0,09%
 Taksiran klaim pajak penghasilan         0,23%      0,41%    0,09%    0,51%        1,35%
 Aset lain-lain                           0,01%      0,00%    0,00%    0,00%        0,00%
 Jumlah Aset Tidak Lancar                43,28%     43,33%   44,66%   48,66%       50,66%



                                                                               Halaman - 12
Page 52
                                         2020      2021      2022      2023          2024
                                         Audit     Audit     Audit     Audit         Audit
Jumlah Aset                              100,00%   100,00%   100,00%   100,00%      100,00%


Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek                 23,33%    21,68%    20,38%    19,68%        21,76%
Utang usaha
  Piutang berelasi                        0,46%     0,57%     1,01%     0,37%         1,36%
  Piutang ketiga                          2,37%     2,07%     2,11%     1,66%         1,52%
Utang pajak                               0,78%     0,74%     0,94%     0,87%         0,43%
Beban masih harus dibayar                 0,07%     0,16%     0,89%     1,12%         0,85%
Utang lain-lain
  Piutang berelasi                        4,12%     4,02%     3,71%     3,64%         4,01%
  Piutang ketiga                          0,00%     0,01%     0,01%     0,08%         0,00%
Uang muka pelanggan                       0,16%     0,61%     1,28%     1,29%         0,52%
Utang jangka panjang yang akan
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
  Utang bank                              0,07%     0,21%     0,28%     0,31%         0,28%
  Utang pembiayaan konsumen               0,38%     0,44%     0,36%     0,21%         0,09%
  Liabilitas sewa                         0,00%     0,06%     0,04%     0,03%         0,05%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          31,76%    30,56%    30,99%    29,26%        30,87%


Liabilitas Jangka Panjang
Utang jangka panjang
  Utang bank                              0,13%     0,39%     0,43%     0,76%         0,98%
  Utang pembiayaan konsumen               0,30%     0,26%     0,27%     0,07%         0,03%
  Liabilitas sewa                         0,00%     0,02%     0,04%     0,03%         0,05%
Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                          2,76%     2,13%     1,35%     1,56%         1,67%
karyawan
Jumlah Liabilitas Jangka panjang          3,19%     2,79%     2,09%     2,42%         2,73%
Jumlah Liabilitas                        34,95%    33,35%    33,08%    31,68%        33,60%


Ekuitas
Modal saham                              21,00%    19,84%    19,06%    17,91%        17,11%
Tambahan modal disetor                    6,63%     6,26%     6,01%     5,65%         5,40%
Selisih transaksi dengan kepentingan
                                          0,00%     -0,37%    -0,46%    -0,43%       -0,43%
non-pengendali
Saldo laba                                0,00%     0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
  Telah ditentukan penggunannya           3,12%     2,95%     2,83%     2,66%         2,55%



                                                                                 Halaman - 13
Page 53
                                         2020        2021        2022       2023          2024
                                        Audit        Audit      Audit       Audit         Audit
   Belum ditentukan penggunannya         33,91%      36,29%      37,08%     39,56%        38,51%
 Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                         64,66%      64,96%      64,53%     65,34%        63,14%
 kepada pemilik entitas induk
 Kepentingan non pengendali               0,40%       1,69%       2,39%      2,98%         3,26%
 Jumlah Ekuitas                          65,05%      66,65%      66,92%     68,32%        66,40%
 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            100,00%   100,00%     100,00%    100,00%       100,00%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ


Figur 2.6.7 Analisis Horizontal Laba Rugi

                                        2020         2021        2022       2023           2024
                                        Audit        Audit      Audit       Audit          Audit


 Penjualan Bersih                         2,54%       1,41%      16,86%      1,39%          -6,35%
 Beban Pokok Penjualan                    7,19%       2,91%      26,24%     -11,70%          3,60%
 Laba Bruto                               9,73%       4,32%      43,10%     -10,31%         -2,75%
 Beban penjualan                         -0,92%       -3,87%     15,46%      3,41%          -1,12%
 Beban umum dan administrasi            -10,74%      36,13%       9,08%     11,13%           6,80%
 Total Beban Operasional                -11,66%      32,26%      24,55%     14,55%           5,68%
 Laba Operasi                            -1,93%      36,58%      67,65%      4,23%           2,94%
 Penghasilan (Beban) Lain-lain
 Beban keuangan                           3,21%      -12,00%      5,21%      -0,73%         11,48%
 Selisih kurs-bersih                   -190,51%      -36,68%     72,30%    -101,57%      -4563,60%
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                          0,00%     -100,00%      0,00%      0,00%           0,00%
 tertagih
 Pendapatan bunga                        48,86%      -29,89%     18,10%     11,27%          22,64%
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap      -101,05%     -100,00%      0,00%      0,00%           0,00%
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                        -34,17%     272,28%    -262,41%     51,69%          32,19%
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                     -1856,97%     274,09%    -112,80%    -145,07%       -282,02%
 Beban Lain-lain - neto               -2130,63%     267,80%    -279,60%    -184,41%      -4779,30%
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan       -2132,57%     304,39%    -211,95%    -180,18%      -4776,36%
 Pajak final                            -98,38%     1270,63%   -100,00%      0,00%         -28,18%
 Pajak kini                             -11,41%       -6,11%     41,30%      -7,18%        -44,10%
                                                                       -
 Pajak tangguhan                       -116,99%     -149,84%               -116,09%          5,07%
                                                               1353,54%
                                                                       -
 Laba Tahun Berjalan                  -2359,34%     1419,07%               -303,45%      -4843,57%
                                                               1624,19%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ




                                                                                      Halaman - 14
Page 54
Figur 2.6.8 Analisis Horizontal Laporan Posisi Keuangan
                                      2020       2021       2022        2023        2024
                                      Audit      Audit      Audit       Audit       Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                         21,87%     61,41%     -27,13%     22,03%      -53,80%
 Deposito berjangka                    1,62%      -0,23%     5,43%     -100,00%       0,00%
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                      0,00%     87,75%     29,11%       2,35%       19,28%
   Pihak ketiga                        6,36%     -16,21%     2,56%       -6,36%      -9,61%
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                     93,10%     79,21%     53,81%      15,13%       -9,09%
   Pihak ketiga                        2,71%     68,98%     51,62%      -40,65%      -6,78%
 Persediaan                            2,65%      2,44%      9,19%       -3,70%       7,58%
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka    0,12%     74,41%     -63,13%     58,37%       60,29%
 Pajak dibayar dimuka                 182,49%   219,05%     -98,30%   47304,68%     -40,77%
 Jumlah Aset Lancar                   310,90%   576,80%     -36,85%   47251,86%     -32,91%


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap        0,00%      0,00%      0,00%       0,00%      -27,20%
 Aset pajak tangguhan - bersih         -2,73%    -18,01%    -30,28%     12,89%        4,91%
 Aset hak guna neto                    0,00%      0,00%     17,18%      -41,04%      47,35%
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                      -43,89%    33,84%      6,47%      16,36%       19,75%
 bersih
 Aset tetap                            9,22%      4,04%      8,92%       8,80%        8,32%
 Aset tak berwujud                    -31,87%   139,71%      -2,27%     35,59%      -28,45%
 Taksiran klaim pajak penghasilan     -24,04%    91,27%     -76,70%    490,60%      176,29%
 Aset lain-lain                        2,87%    -100,00%     0,00%       0,00%        0,00%
 Jumlah Aset Tidak Lancar             -90,45%   150,85%     -76,67%    523,20%      200,98%
 Jumlah Aset                          220,45%   727,65%    -113,52%   47775,06%     168,07%


 Liabilitas dan Ekuitas
 Liabilitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Utang bank jangka pendek              -0,93%     -1,62%     -2,15%      2,80%       15,69%
 Utang usaha
   Piutang berelasi                   -14,61%    30,88%     82,57%      -60,74%     282,93%
   Piutang ketiga                      6,83%      -7,71%     6,29%      -16,35%      -4,26%
 Utang pajak                          94,60%      0,99%     32,34%       -2,17%     -47,92%
 Beban masih harus dibayar            -15,84%   143,79%    464,01%      34,84%      -21,11%
 Utang lain-lain



                                                                                Halaman - 15
Page 55
                                                2020       2021      2022       2023        2024
                                                Audit      Audit     Audit      Audit       Audit
        Piutang berelasi                        -28,49%     3,17%     -3,86%     4,53%       15,03%
        Piutang ketiga                          -98,06%   201,52%     0,00%    1413,33%     -93,39%
      Uang muka pelanggan                       -77,29%   295,40%    116,71%     7,35%      -57,47%
      Utang jangka panjang yang akan
      jatuh tempo dalam waktu satu tahun
        Utang bank                              16,86%    200,06%    39,43%     18,17%       -5,74%
        Utang pembiayaan konsumen               42,85%     21,08%    -15,18%    -36,88%     -54,45%
        Liabilitas sewa                          0,00%      0,00%    -34,03%    -24,15%     117,63%
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek           -74,07%   887,54%    686,13%   1340,73%     146,95%


      Liabilitas Jangka Panjang
      Utang jangka panjang
        Utang bank                              -36,79%   210,32%    16,07%     87,09%       34,93%
        Utang pembiayaan konsumen                -0,71%     -6,22%    7,16%     -70,87%     -60,91%
        Liabilitas sewa                          0,00%      0,00%    135,97%    -12,82%      72,00%
      Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                                 -0,53%    -18,48%   -33,77%    22,39%       12,49%
      karyawan
      Jumlah Liabilitas Jangka panjang          -38,03%   185,62%    125,42%    25,80%       58,51%
      Jumlah Liabilitas                        -112,10%   1073,16%   811,56%   1366,52%     205,46%


      Ekuitas
      Modal saham                                0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
      Tambahan modal disetor                     0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
      Selisih transaksi dengan kepentingan
                                               -100,00%     0,00%    29,16%      0,00%        3,14%
      non-pengendali
      Saldo laba
        Telah ditentukan penggunannya            0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
        Belum ditentukan penggunannya           20,71%     13,32%     6,33%     13,55%        1,89%
      Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                                -79,29%    13,32%    35,49%     13,55%        5,03%
      kepada pemilik entitas induk
      Kepentingan non pengendali               1799,23%   350,94%    47,30%     32,65%       14,41%
      Jumlah Ekuitas                           1719,94%   364,26%    82,79%     46,20%       19,44%
      Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            1607,83%   1437,42%   894,35%   1412,72%     224,90%
     Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ

2.7. Informasi Investigasi Lapangan

     Kami telah melakukan investigasi lapangan/ kantor dalam rangka memperoleh informasi
     yang relevan dalam penugasan Penamabahan Kegiatan Usaha APII.




                                                                                        Halaman - 16
Page 56
     Berikut informasi terkait pelaksanaan investigasi lapangan:

     Surat tugas       : 0559/ST/KJPP-TOPAZ/V/2025
     Lokasi            : Jakarta
     Tanggal           : 27 Mei 2025
     Pelaksana         : Mery Ganis




2.8. Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian

     Sampai dengan tanggal penyelesaian Laporan Studi Kelayakan ini, berdasarkan informasi
     yang diperoleh dari manajemen, tidak terdapat peristiwa atau kejadian penting setelah
     tanggal penilaian yang dapat berdampak secara material terhadap Laporan Studi Kelayakan
     Penambahan KBLI.




                                                                                Halaman - 17
Page 57
                                BAB III
                      TINJAUAN EKONOMI INDONESIA
3.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik dengan kecenderungan lebih rendah dari
     prakiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2024 sedikit di bawah prakiraan
     di pengaruhi oleh lebih rendahnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi.
     Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah
     kisaran 4,7-5,5%. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi diprakirakan juga cenderung lebih
     rendah dari prakiraan sebelumnya. Ekspor diprakirakan lebih rendah sehubungan dengan
     melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS. Konsumsi rumah
     tanga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah sehubungan dengan
     belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Pada saat yang
     sama, dorongan investasi swasta juga belumm kuat karena masih lebih besarnya kapasitas
     produksi dalam memenuhi permintaan, baik domestik maupun ekspor. Bank Indonesia
     memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mencapai kisar 4,7-5,5%, sedikit
     lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8-5,6%. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia
     terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga stabilitas dan turun
     mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui
     optimalisasi stimulus kebijakan makro-prudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi
     pembayaran yang ditempuh Bank Indonesia dengan kebijakan stimulus fiskal Pemerintah.
     Lebih dari itu, Bank Indonesia mendukung penuh implementasi program-program untuk
     ketahanan pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital.

     Figur 3.1.1 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran




     Sumber : Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024




                                                                                   Halaman - 1
Page 58
3.2. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

     Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat sehingga mendukung ketahanan
     eksternal. Surplus neraca perdagangan berlanjut pada Desember 2024 yang tercatat 2,2
     miliar dolar AS dipengaruhi oleh kinerja ekspor komoditas utama Indoensia yang kuat,
     seperti bahan bakar minerl, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja.
     Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan 2024 tetap sehat dan diprakirakan dalam
     kisaran defisit rendah 0,1% sampai dengan 0,9% dari PDB. Sementara itu, tingginya
     ketidakpastian pasar keuangan global menurunkan aliran masuk modal asing ke instrumen
     keuangan domestik dengan SBN dan SRBI masing-masing hanya mencatat inflows 19 juta
     dolar AS dan 288 juta dolar AS pada awal tahun 2025 (hingga 13 Januari 2025). Posisi
     cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2024 tercatat tinggi sebesar 155,7 miliar
     dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran
     utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar
     3 bulan impor. Ke depan, NPI pada 2025 diprakirakan tetap sehat seiring dengan surplus
     transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi yang bejalan yang terjaga
     dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB. Surplus neraca transaksi modal
     dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif
     investor terhadap prospek perekonomian domestik yang lebih baik dan imbal hasil investasi
     yang menarik.

     Figur 3.2.1 Neraca Pembayaran Indonesia




     Keterangan: *Angka sementara; ** Angka sangat sementara
     Sumber: Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024.

3.3. Nilai Tukar Rupiah

     Nilai tukar Rupiah tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi, didukung oleh
     kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada Januari
     2025 (hingga 14 Januari 2025) hanya melemah sebesar 1,00% (ptp) dari level nilai tukar
     akhir 2024. Perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga relatif lebih baik
     dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India, Peso Filipina, dan


                                                                                       Halaman - 2
Page 59
     bath Thailand yang masing-masing melemah sebesar 1,20%; 1,33%; dan 1,92%.
     Sebaliknya, nilai tukar Rupiah tercatat menguat terhadap mata uang kelompok negara maju
     diluar dolar AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negera berkembang.
     Perkembangan tersebut sejalan dengan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung
     oleh aliran amsuk modal asing yang masih berlanjut, imbal hasil instrumen keuangan
     domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik. Ke depan, nilai
     tukar Rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai
     tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan
     ekonomi Indonesia yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan,
     termasuk penguaran strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen
     SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran
     masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

3.4. Perkembangan Inflasi

     Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2024 terjaga dalam kisaran sasarannya 2,5±1%,
     sejalan inflasi IHK Desember 2024 yang tercatat 1,57% (yoy). Perkembangan ini
     dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali pada level 2,26% (yoy) sejalan dengan
     konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-Rate) untuk mengarahkan ekspektasi
     inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, kelompok volatile food (VF) mencatat
     inflasi 0,12% (yoy) didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim
     panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi TPIP/TPID melalui GNPIP. Secara spasial,
     inflasi IHK di berbagai daerah juga terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Ke
     depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK tetap terkendali dalam sasarannya. Inflasi inti
     diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas
     perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik, imported
     inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank
     Indonesia, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi. Inflasi VF diprakirakan
     terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah Pusat
     dan Daerah. Bank Indonesia terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter
     guna menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%, dengan tetap
     mendukung upaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi.




                                                                                   Halaman - 3
Page 60
    Figur 3.4.1 Peta Inflasi Daerah Tahun 2024




    Sumber: Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024

3.5. Perkembangan Suku Bunga

    Trasmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga berjalan baik dalam upaya turut
    mendukung pertumbuhan ekonomi. Suku bunga pasar uang (IndoNIA) bergerak di sekitar
    BI-Rate, yaitu 6,03% pada 14 Januari 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9 dan 12 bulan
    tanggal 10 Januari 2025 tercatat menarik untuk mendukung aliras masuk modal asing
    masing-masing pada level 7,06%; 7,10%; dan 7,23%. Imbal hasil SBN temor 2 tahun dan
    10 tahun per 14 Januari 2025, masing-masing meningkat menjadi 6,98% dan 7,25%
    sehingga juga tetap menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik di tengah
    berlanjutnya ketidakpastian global. Sementara itu, suku bunga perbankan tetap terjaga
    ditopang likuiditas perbankan yang memadai serta efisiensi perbankan dalam pembentukan
    harga yang makin baik dengan transparansi SBDK. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku
    bunga kredit pada Desember 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,87% dan 9,20%, relatif
    stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya.




                                                                                 Halaman - 4
Page 61
                                BAB IV
                      ANALISIS KELAYAKAN PASAR
4.1. Industri Manufaktur

     Industri manufaktur merupakan sektor penggerak utama ekonomi nasional yang secara
     konsisten memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
     Menurut data BPS, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB Indonesia pada
     tahun 2023 mencapai sekitar 18,25%. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun sektor jasa
     terus tumbuh, industri manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
     Sub-sektor manufaktur yang relevan dengan usaha PT Arita Prima Indonesia, seperti
     industri logam, peralatan teknis, dan mesin, merupakan bagian dari industri pengolahan non-
     migas yang masih menunjukkan prospek positif seiring peningkatan kebutuhan infrastruktur
     dan industrialisasi nasional.

     Pada tahun 2023, BPS mencatat pertumbuhan tahunan indeks produksi industri manufaktur
     besar dan sedang (IBS) sebesar 4,88% secara year-on-year. Pertumbuhan ini menunjukkan
     adanya pemulihan dan ekspansi pada banyak sub-sektor manufaktur pasca pandemi
     COVID-19. Di antara sektor yang tumbuh signifikan adalah industri logam dasar dan barang
     logam, yang memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis utama Arita seperti valve, fitting,
     dan peralatan mekanikal untuk industri berat. Permintaan produk-produk teknikal seperti
     valve juga terdorong oleh proyek-proyek strategis nasional di sektor energi, air bersih, dan
     pembangunan infrastruktur.

     Secara geografis, distribusi perusahaan manufaktur di Indonesia cukup merata, dengan
     konsentrasi tinggi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Berdasarkan Direktori
     Industri Manufaktur 2023 yang dirilis BPS, terdapat lebih dari 32.000 unit usaha industri
     menengah dan besar yang aktif. Ini mencerminkan basis industri yang kuat dan beragam,
     serta membuka peluang kolaborasi atau penyediaan produk teknis oleh Arita ke berbagai
     sub-sektor, termasuk pengolahan air, migas, dan pembangkit listrik. Pertumbuhan kawasan
     industri dan pembangunan kota baru seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) juga diperkirakan
     akan menjadi katalis positif bagi peningkatan permintaan peralatan industri.

     Pemerintah Indonesia terus mendorong pertumbuhan sektor manufaktur melalui kebijakan
     substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (TKDN), dan insentif fiskal.
     Dukungan kebijakan ini memberi keuntungan strategis bagi produsen lokal seperti Arita,
     terutama jika mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar mutu
     nasional maupun internasional. Selain itu, inisiatif transformasi menuju industri 4.0 juga
     membuka peluang efisiensi dan otomatisasi proses produksi, yang dapat meningkatkan
     daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

     Dengan kondisi makro yang mendukung dan permintaan sektor hilir yang terus bertumbuh,
     prospek industri manufaktur peralatan teknis seperti yang dijalankan oleh PT Arita Prima
     Indonesia Tbk diperkirakan akan tetap positif dalam beberapa tahun ke depan. Proyek-
     proyek energi terbarukan, pembangunan fasilitas air bersih, dan ekspansi industri berat akan
     terus mendorong kebutuhan valve, fitting, dan instrumentasi. Meski demikian, tantangan
     tetap ada, terutama dalam bentuk persaingan produk impor, volatilitas harga bahan baku,


                                                                                     Halaman - 1
Page 62
serta kebutuhan investasi pada peningkatan teknologi dan kualitas produk. Adaptasi
terhadap perubahan ini akan menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam menghadapi
dinamika industri manufaktur Indonesia.

Prospek industri manufaktur peralatan teknikal di Indonesia ke depan, khususnya yang
relevan dengan kegiatan PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII), diperkirakan akan tetap positif
dan bertumbuh stabil, seiring dengan arah kebijakan pemerintah, tren pembangunan
nasional, dan transformasi teknologi industri.

Pertama, dari sisi kebijakan makro, pemerintah Indonesia terus mendorong pertumbuhan
sektor manufaktur sebagai bagian dari strategi industrialisasi dan pengurangan
ketergantungan terhadap impor. Salah satu upaya yang paling relevan adalah peningkatan
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk proyek-proyek infrastruktur strategis dan
sektor energi. Hal ini memberi keunggulan bagi produsen lokal seperti Arita dalam
memenangkan kontrak pengadaan untuk peralatan industri seperti valve dan fitting.

Kedua, proyek-proyek jangka panjang seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),
jaringan air bersih nasional, serta program transisi energi menuju energi baru terbarukan
(EBT) akan mendorong permintaan produk-produk yang diproduksi atau didistribusikan oleh
Arita. Sistem perpipaan, valve industri, dan peralatan kontrol aliran akan menjadi bagian
penting dari ekosistem infrastruktur modern yang tengah dibangun oleh pemerintah. Hal ini
menjadi peluang signifikan bagi perusahaan yang mampu memenuhi spesifikasi teknis dan
ketentuan TKDN.

Ketiga, adopsi teknologi industri 4.0 akan menjadi keharusan di masa mendatang. Pelaku
industri manufaktur harus mampu mengadopsi otomatisasi, sistem kontrol digital, dan
integrasi rantai pasok berbasis data. Perusahaan yang cepat beradaptasi akan memiliki
daya saing lebih tinggi, baik dari sisi efisiensi biaya maupun kualitas produk. Dalam konteks
Arita, investasi pada digitalisasi inventori, efisiensi logistik, serta peningkatan kontrol mutu
akan menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis.

Secara umum, meskipun tantangan tetap ada – seperti fluktuasi nilai tukar, persaingan
produk impor dari China dan Korea, serta kenaikan harga bahan baku logam – namun
prospek jangka menengah hingga panjang industri ini tetap positif. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang stabil, target pembangunan berkelanjutan, serta dukungan regulasi terhadap
produsen dalam negeri menjadi fondasi yang kuat untuk ekspansi sektor manufaktur
peralatan teknis. Bagi PT Arita Prima Indonesia, keberhasilan ke depan akan sangat
bergantung pada kemampuannya dalam meningkatkan efisiensi operasional, memperluas
jaringan pasar, dan memperkuat reputasi sebagai penyedia produk berkualitas tinggi di
pasar domestik dan regional.

Seiring arah pembangunan nasional dan peningkatan aktivitas industri, prospek usaha
berdasarkan KBLI yang Anda miliki—seperti konsultasi bisnis dan manajemen (74902,
70209), pergudangan dan logistik (52101, 52109, 52103), hingga pengelolaan properti dan
kawasan industri (68111, 68120, 68130)—semakin menjanjikan. Pemerintah terus
mendorong pertumbuhan sektor industri dan properti melalui Proyek Strategis Nasional
(PSN), pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta penguatan hilirisasi sumber daya
alam. Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), minat investor terhadap


                                                                                    Halaman - 2
Page 63
    kawasan industri dan Real Estat Yang logistik meningkat pesat sejak 2022, terutama pada
    wilayah dengan infrastruktur terintegrasi dan insentif fiskal. Sementara itu, aktivitas
    konsultasi bisnis dan manajemen juga mengalami peningkatan seiring transformasi digital
    dan tuntutan perusahaan untuk memenuhi standar tata kelola, lingkungan, dan sosial
    (Environmental, Social, Governance – ESG).

    Sektor pergudangan dan logistik, termasuk bounded warehousing (52103), menunjukkan
    pertumbuhan kuat sejalan dengan berkembangnya e-commerce, logistik dingin (cold chain),
    dan kebutuhan efisiensi rantai pasok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa
    volume barang yang ditangani sektor logistik meningkat signifikan, dengan kontribusi
    subsektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB mencapai 5,4% pada 2023.
    Kawasan berikat dan pusat distribusi regional (hub logistics) juga mendapatkan dukungan
    kebijakan dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
    untuk mendorong ekspor dan substitusi impor. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku
    usaha dengan fasilitas pergudangan yang modern dan memenuhi persyaratan kawasan
    industri atau berikat.

    Sementara itu, industri pengolahan dan pembuangan limbah B3 (38220) memiliki prospek
    yang sangat strategis di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan dan pengetatan
    regulasi pemerintah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 serta Permen
    LHK No. 6 Tahun 2021, seluruh pelaku industri wajib mengelola limbah B3 secara aman dan
    bertanggung jawab. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat
    peningkatan jumlah penghasil limbah B3 dari sektor migas, manufaktur, dan kesehatan,
    yang semuanya membutuhkan layanan pihak ketiga untuk pengolahan limbah. Seiring
    dengan target Indonesia menuju ekonomi hijau dan penerapan prinsip circular economy,
    industri pengelolaan limbah B3 diproyeksikan akan tumbuh sebagai sektor pendukung
    utama pembangunan berkelanjutan. Pelaku usaha yang mampu menyediakan fasilitas
    pengolahan berizin, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi akan berada pada posisi
    kompetitif yang kuat.


4.2. HISTORIS DAN PROSPEK PERTUMBUHAN KBLI YANG DIAJUKAN EMITEN APII

    Berikut Pertumbuhan Historis KBLI yang diajukan oleh Emiten:

    KBLI 74902 mencakup Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker Bisnis, termasuk jasa nasihat
    operasional, pengaturan jual-beli bisnis skala kecil-menengah, penilaian barang non-
    properti, hingga audit tarif dan informasi kuantitas. Ini adalah sektor yang tumbuh seiring
    meningkatnya kebutuhan akan efisiensi, valuasi, dan transformasi bisnis.

    Figur 4.2.1 Historis Pertumbuhan KBLI 74902 (2020–2024)
                   Pertumbuhan Sektor      Estimasi Pertumbuhan
       Tahun                                                                   Catatan
                   Jasa Profesional (%)        KBLI 74902 (%)
        2020             -1,2% (pandemi)                    ~-3%   Banyak transaksi bisnis tertunda
                                                                   Pemulihan awal, fokus pada
        2021                      3,50%                   ~+4%
                                                                   valuasi dan efisiensi
                                                                   Lonjakan permintaan jasa broker
        2022                      5,10%                 ~+6–7%
                                                                   bisnis dan valuasi aset



                                                                                          Halaman - 3
Page 64
                  Pertumbuhan Sektor        Estimasi Pertumbuhan
    Tahun                                                                            Catatan
                  Jasa Profesional (%)          KBLI 74902 (%)
                                                                        Aktivitas merger, akuisisi, dan
     2023                          6,30%                       ~+8%
                                                                        restrukturisasi meningkat
                                                                        Didorong oleh digitalisasi UMKM
    2024*             +6,5–7% (proyeksi)                       ~+9%
                                                                        dan valuasi intangible assets
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot

*)Estimasi 2024 berdasarkan tren sektor jasa profesional dan laporan OSS.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Lonjakan valuasi bisnis: Banyak UMKM dan startup membutuhkan jasa penilaian untuk
     pendanaan atau akuisisi.
 • Broker hak kekayaan intelektual: Semakin banyak bisnis yang memperdagangkan paten,
     merek dagang, dan desain industri.
 • Konsultasi efisiensi dan transformasi: Perusahaan mencari cara untuk bertahan dan tumbuh
     di tengah disrupsi digital.
Menurut Badan Perizinan dan OSS2, KBLI 74902 mencakup layanan yang sangat relevan untuk
sektor UMKM, startup, dan perusahaan yang sedang melakukan ekspansi atau restrukturisasi.

KBLI 52101 mencakup Pergudangan dan Penyimpanan, yaitu kegiatan penyimpanan
barang sementara sebelum dikirim ke tujuan akhir. Ini adalah tulang punggung logistik
modern, terutama di era e-commerce dan distribusi cepat.

Figur4.2.2 Historis Pertumbuhan KBLI 52101 (2020–2024)
                                                   Estimasi
                 Pertumbuhan Industri
    Tahun                                     Pertumbuhan KBLI                       Catatan
                 Logistik Nasional (%)
                                                  52101 (%)
                                                                        Aktivitas gudang    melambat
     2020               -6,4% (pandemi)                        ~-5%
                                                                        karena pembatasan mobilitas
                                                                        Pemulihan e-commerce           dan
     2021                          8,70%                       ~+7%
                                                                        distribusi regional
                                                                        Lonjakan permintaan gudang
     2022                          9,50%                    ~+8–9%
                                                                        modern dan fulfillment center
                                                                        Investasi besar di kawasan logistik
     2023                         10,20%                      ~+10%
                                                                        Jabodetabek dan Surabaya
                                                                        Didorong oleh digitalisasi rantai
    2024*            +10–11% (proyeksi)                       ~+11%
                                                                        pasok dan ekspansi e-commerce
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan proyeksi pertumbuhan sektor logistik dan laporan industri properti logistik.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Ledakan e-commerce: Meningkatkan kebutuhan gudang distribusi cepat dan
    fulfillment center.
 • Digitalisasi logistik: Adopsi Warehouse Management System (WMS), IoT, dan
    automasi.
 • Ekspansi kawasan industri: Gudang terintegrasi dengan pelabuhan dan kawasan
    industri makin diminati.


                                                                                                Halaman - 4
Page 65
Menurut Legal Satu, KBLI 52101 sangat penting dalam rantai pasok karena mendukung
efisiensi logistik, pengelolaan inventaris, dan perlindungan barang. Sementara itu, Badan
Perizinan mencatat bahwa KBLI ini menjadi salah satu kode dominan dalam sektor logistik
umum.

Pertumbuhan KBLI 52109—yang mencakup Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
seperti depo peti kemas dan gudang serbaguna—tidak dipublikasikan secara eksplisit dalam
bentuk angka oleh BPS. Namun, kita bisa menyusun gambaran berbasis data industri dan
tren izin usaha:

Figur 4.2.3 Historis Pertumbuhan KBLI 52109 (2020–2024)

Berikut adalah pendekatan berbasis tren industri logistik dan OSS:
                                                 Perkiraan
                 Pertumbuhan Industri
    Tahun                                    Pertumbuhan KBLI                       Catatan
                      Logistik (%)
                                                 52109 (%)

                       6,8% (terdampak                                Aktivitas gudang melambat karena
     2020                                                      ~5%
                               pandemi)                               pembatasan
     2021                         8,70%                        ~7%    Pemulihan e-commerce dan logistik
                                                                      Lonjakan     permintaan     gudang
     2022                         9,50%                     ~8–9%
                                                                      fleksibel
                                                                      Investasi depo peti kemas dan
     2023                        10,20%                    ~9–10%
                                                                      gudang pelabuhan
                                                                      Didorong oleh kawasan industri baru
    2024*             10–11% (proyeksi)                      ~10%
                                                                      dan pelabuhan seperti Patimban
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan proyeksi pertumbuhan sektor logistik nasional dan tren investasi swasta.

Sumber Data & Validasi
• BPS tidak merinci KBLI 52109 secara terpisah, tapi mengelompokkan dalam sektor
   “Transportasi dan Pergudangan”.
• OSS mencatat peningkatan izin usaha KBLI 52109, terutama di kawasan industri dan
   pelabuhan, meskipun angka pastinya tidak tersedia publik secara langsung.
• Laporan industri dari konsultan properti seperti Colliers dan Knight Frank menunjukkan
   tingkat okupansi gudang serbaguna di kawasan logistik utama mencapai 85–95%.

KBLI 68120 merujuk pada “Kawasan Pariwisata”, yaitu kegiatan pengusahaan lahan minimal
100 hektar yang ditata dan dibagi menjadi satuan-satuan simpul untuk pembangunan sarana
dan prasarana wisata. Ini bukan sekadar properti biasa—kode ini menyasar pengembangan
kawasan terpadu seperti resort, eco-tourism estate, atau kawasan wisata tematik.




                                                                                              Halaman - 5
Page 66
Figur 4.2.4 Historis Pertumbuhan KBLI 68120 (2020–2024)

                   Pertumbuhan                 Perkiraan
   Tahun        Pariwisata Nasional        Pertumbuhan KBLI                        Catatan
                        (%)                    68120 (%)
                                                                    Proyek tertunda, investor wait-and-
    2020              -88% (pandemi)                      ~-70%
                                                                    see
    2021       +25% (pemulihan awal)                       ~15%     Aktivitas mulai pulih di Bali, Mandalika
                      +121% (lonjakan
    2022                                               ~30–35%      Proyek baru di KEK pariwisata
                          wisatawan)
                                                                    Fokus pada         kawasan     prioritas
    2023             +11% (stabilisasi)                    ~20%
                                                                    nasional

                                                                    Didorong oleh insentif KEK dan
   2024*          +15–20% (proyeksi)                       ~25%
                                                                    investor asing
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren pemulihan pariwisata dan proyek strategis nasional.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Dukungan Pemerintah: KEK Pariwisata seperti Mandalika, Likupang, dan Tanjung
    Lesung mendapat insentif fiskal dan non-fiskal.
 • Lonjakan Wisatawan: Kunjungan wisatawan mancanegara naik drastis pasca-
    pandemi, mendorong permintaan kawasan wisata terpadu.
 • Investasi Swasta: Developer besar seperti Ciputra, Jababeka, dan Agung Sedayu
    mulai masuk ke sektor ini melalui proyek resort dan eco-tourism.

KBLI 68130 merujuk pada “Kawasan Industri”, yaitu pengusahaan lahan minimal 50 hektar
yang dikembangkan dan dikelola sebagai pusat kegiatan industri, lengkap dengan
infrastruktur pendukung. Ini adalah tulang punggung dari industrialisasi terencana di
Indonesia.

Figur 4.2.5 Historis Pertumbuhan KBLI 68130 (2020–2024)

                                          Estimasi Pertumbuhan
              Pertumbuhan Industri
 Tahun                                    Kawasan       Industri    Catatan
              Pengolahan (%)
                                          (68130) (%)
                   -2,93% (terdampak
    2020                                                    ~-5%    Banyak proyek tertunda atau ditunda
                             pandemi)
                                                                    Pemulihan awal, fokus pada Jawa
    2021                        3,67%                      ~+4%
                                                                    Barat dan Banten
                                                                    Aktivasi KEK industri seperti Batang
    2022                        4,89%                    ~+6–7%
                                                                    dan Kendal
                                                                    Lonjakan investasi asing dan
    2023                        5,12%                      ~+8%
                                                                    perluasan kawasan
                                                                    Didorong oleh hilirisasi dan insentif
   2024*           +5,5–6% (proyeksi)                  ~+9–10%
                                                                    fiskal KEK
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren pertumbuhan industri pengolahan dan data investasi kawasan industri.



                                                                                               Halaman - 6
Page 67
Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Program Hilirisasi: Dorongan pemerintah untuk memproses bahan mentah di dalam
    negeri meningkatkan permintaan lahan industri.
 • KEK Industri: Kawasan Ekonomi Khusus seperti Batang, Gresik, dan Sei Mangkei
    menawarkan insentif pajak dan kemudahan perizinan.
 • Investasi Asing Langsung (FDI): Banyak investor dari Tiongkok, Jepang, dan Korea
    Selatan masuk ke sektor manufaktur dan logistik.
Catatan Tambahan
 • Menurut Badan Perizinan, KBLI 68130 juga mencakup kawasan industri untuk UMKM
    dengan luas minimal 5 hektar.
 • Data BPS mengelompokkan KBLI ini dalam sektor “Real Estate dan Kawasan Industri”,
    sehingga angka spesifik perlu diestimasi dari tren makro dan laporan BKPM.

KBLI 68111 merujuk pada “Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa”, mencakup
kegiatan pembelian, penjualan, persewaan, dan pengelolaan properti seperti apartemen,
rumah, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan gudang2.

Figur 4.2.6 Historis Pertumbuhan KBLI 68111 (2020–2024)

               Pertumbuhan Sektor               Estimasi
   Tahun       Real Estat Nasional         Pertumbuhan KBLI                       Catatan
                       (%)                     68111 (%)
                   -2,71% (terdampak                                Aktivitas jual-beli dan sewa properti
    2020                                                    ~-5%
                             pandemi)                               menurun drastis
                                                                    Pemulihan bertahap, terutama di
    2021                        2,81%                      ~+3%
                                                                    sektor residensial
                                                                    Lonjakan permintaan rumah tapak
    2022                        3,87%                      ~+5%
                                                                    dan apartemen
                                                                    Aktivasi proyek mixed-use dan
    2023                        4,12%                    ~+6–7%
                                                                    properti sewa
                                                                    Didorong oleh pemulihan ekonomi
   2024*           +4,5–5% (proyeksi)                    ~+7–8%
                                                                    dan urbanisasi
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren pasar properti dan data pertumbuhan sektor real estat dari BPS.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Urbanisasi dan pertumbuhan kelas menengah: Meningkatkan permintaan hunian
    dan ruang komersial.
 • Suku bunga KPR yang kompetitif: Mendorong pembelian properti residensial.
 • Tren sewa jangka pendek dan co-living: Membuka peluang baru dalam pengelolaan
    properti.
KBLI 70209 mencakup Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya—yaitu jasa nasihat dan
bimbingan dalam berbagai aspek manajemen seperti strategi bisnis, keuangan, pemasaran,
SDM, hingga efisiensi operasional. Ini adalah sektor yang tumbuh seiring meningkatnya
kebutuhan perusahaan untuk beradaptasi di era digital dan kompetitif.


                                                                                             Halaman - 7
Page 68
Figur 4.2.7 Historis Pertumbuhan KBLI 70209 (2020–2024)

                                                 Estimasi
               Pertumbuhan Sektor
   Tahun                                    Pertumbuhan KBLI                        Catatan
               Jasa Profesional (%)
                                                70209 (%)

    2020              -1,2% (pandemi)                        ~-3%     Banyak proyek konsultasi ditunda
                                                                      Pemulihan awal, fokus pada efisiensi
    2021                         3,50%                       ~+4%
                                                                      pasca-pandemi
                                                                      Lonjakan permintaan konsultasi digital
    2022                         5,10%                    ~+6–7%
                                                                      dan ESG
                                                                      Konsultan lokal dan global ekspansi
    2023                         6,30%                       ~+8%
                                                                      layanan
                                                                      Didorong oleh transformasi digital dan
   2024*            +6,5–7% (proyeksi)                       ~+9%
                                                                      kebutuhan tata kelola
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren sektor jasa profesional dan laporan industri.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Transformasi Digital: Banyak perusahaan membutuhkan konsultan untuk adopsi
      teknologi, AI, dan otomasi proses.
 • Tuntutan ESG dan Tata Kelola: Perusahaan mulai mencari panduan dalam
      keberlanjutan, kepatuhan, dan manajemen risiko.
 • Pertumbuhan UMKM dan Startup: Membuka pasar baru bagi konsultan manajemen
      skala kecil dan menengah.
Menurut Badan Perizinan, KBLI 70209 juga mencakup jasa studi investasi infrastruktur dan
efisiensi organisasi, menjadikannya sangat relevan dalam proyek-proyek pemerintah dan
swasta.

KBLI 52103 merujuk pada Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat—
yaitu fasilitas pergudangan yang berada dalam kawasan berikat dan mendapat perlakuan
khusus dari pemerintah, seperti pembebasan bea masuk dan pajak impor. Biasanya
digunakan oleh perusahaan ekspor-impor, manufaktur, dan logistik internasional.

Figur 4.2.8 Historis Pertumbuhan KBLI 52103 (2020–2024)

                                                 Estimasi
               Pertumbuhan Ekspor-
   Tahun                                    Pertumbuhan KBLI                        Catatan
                Impor Nasional (%)
                                                52103 (%)
                                                                      Aktivitas kawasan berikat menurun
    2020             -8,95% (pandemi)                        ~-6%
                                                                      drastis
                                                                      Pemulihan    ekspor     dan   aktivitas
    2021                       25,31%                      ~+10%
                                                                      logistik

                                                                      Lonjakan permintaan gudang berikat
    2022                       18,26%                   ~+12–14%
                                                                      di Batam, Cikarang
                                                                      Aktivasi kawasan industri berikat dan
    2023                         7,33%                     ~+10%
                                                                      FTA




                                                                                                Halaman - 8
Page 69
                                                Estimasi
               Pertumbuhan Ekspor-
   Tahun                                   Pertumbuhan KBLI                       Catatan
                Impor Nasional (%)
                                               52103 (%)
                                                                    Didorong oleh hilirisasi dan ekspansi
   2024*            +8–10% (proyeksi)                 ~+11–12%
                                                                    pelabuhan berikat


Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren ekspor-impor dan pengembangan kawasan industri berikat.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Insentif fiskal dan kepabeanan: Membuat kawasan berikat sangat menarik bagi
    investor manufaktur dan logistik.
 • Ekspansi kawasan industri: Seperti Batamindo, Cikarang Dry Port, dan KEK Sei
    Mangkei yang menyediakan fasilitas bounded warehouse.
 • Integrasi dengan pelabuhan dan FTZ: Mempercepat arus barang dan menurunkan
    biaya logistik.
Menurut Badan Perizinan, KBLI 52103 sangat strategis untuk perusahaan yang ingin
mengoptimalkan rantai pasok internasional dan memanfaatkan fasilitas kepabeanan.

KBLI 38220 mencakup Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya, termasuk limbah
B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), limbah radioaktif, dan limbah infeksius. Sektor ini
menjadi semakin strategis seiring meningkatnya kesadaran lingkungan dan regulasi ketat
dari pemerintah.

Figur 4.2.9 Historis Pertumbuhan KBLI 38220 (2020–2024)
                   Pertumbuhan                  Estimasi
    Tahun       Industri Pengelolaan       Pertumbuhan KBLI                       Catatan
                    Limbah (%)                 38220 (%)

                                                                    Aktivitas industri menurun, limbah
     2020             -3,1% (pandemi)                      ~-2%
                                                                    berkurang
                                                                    Pemulihan industri dan peningkatan
     2021                       4,80%                      ~+5%
                                                                    limbah medis
                                                                    Lonjakan limbah B3 dari sektor
     2022                       6,20%                      ~+7%
                                                                    manufaktur dan kesehatan
                                                                    Investasi fasilitas insinerator dan
     2023                       6,90%                      ~+8%
                                                                    landfill B3
                                                                    Didorong oleh regulasi KLHK dan
    2024*            +7–8% (proyeksi)                      ~+9%
                                                                    proyek pengelolaan limbah terpadu
Sumber : www.badanperizinan.co.id dan data diolah Microsoft Copilot
*)Estimasi 2024 berdasarkan tren industri pengelolaan limbah dan kebijakan lingkungan nasional.

Faktor Pendorong Pertumbuhan
 • Regulasi Ketat: Peraturan KLHK mewajibkan pengelolaan limbah B3 oleh pihak
    tersertifikasi.
 • Pertumbuhan Industri Kimia dan Kesehatan: Meningkatkan volume limbah
    berbahaya.


                                                                                             Halaman - 9
Page 70
•   Insentif Investasi: Pemerintah mendorong pembangunan fasilitas pengolahan limbah
    di kawasan industri dan KEK.
Menurut Badan Perizinan, KBLI 38220 mencakup pengoperasian insinerator, landfill B3,
hingga fasilitas penyimpanan limbah radioaktif. Sayangnya, data BPS belum memisahkan
KBLI ini secara spesifik, namun tren OSS menunjukkan peningkatan izin usaha di sektor ini.

Berikut Prospek kelompokan KBLI berdasarkan jenis industrinya :

1. KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker dan KBLI 70209 – Aktivitas
   Konsultasi Manajemen Lainnya masuk kategori industry Jasa Profesional & Konsultasi.
   Berdasarkan PDB dari Sektor Jasa di Indonesia meningkat menjadi 51.450 miliar IDR
   pada kuartal pertama 2025 dari 50.861,80 miliar IDR pada kuartal keempat 2024. PDB
   dari Sektor Jasa di Indonesia rata-rata sebesar 41.680,12 Miliar IDR dari tahun 2010
   hingga 2024, mencapai puncak tertinggi sebesar 59.732,30 Miliar IDR pada kuartal
   keempat tahun 2023 dan terendah sebesar 23.736,80 Miliar IDR pada kuartal pertama
   tahun 2010. (sumber : https://id.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-from-services).

    Selain itu faktor pendorong pertumbuhan adalah Kebutuhan akan valuasi aset non-
    konvensional (seperti hak kekayaan intelektual dan barang antik), Peningkatan regulasi
    dan transparansi dalam transaksi bisnis, mendorong permintaan jasa pihak ketiga,
    Transformasi digital dan ESG yang menuntut audit dan sertifikasi independen., dan
    Pertumbuhan UMKM dan startup yang membutuhkan jasa broker bisnis dan konsultasi
    strategis.

2. Real Estat & Kawasan Industri
   KBLI 68111 – Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa, KBLI 68120 – Real Estat
   yang Dikembangkan untuk Dijual atau Disewakan dan KBLI 68130 – Kawasan Industri
   termasuk dalam kategori industry Real Estat & Kawasan Industri. Dimana pasar property
   industry Kembali menunjukkan geliatnya pada kuartal pertama tahun 2025, Di balik data
   dan grafik pertumbuhan, ada dinamika strategis yang tengah bergulir di kawasan-
   kawasan industri utama Indonesia. Mulai dari lahan baru yang dibuka, gudang modern
   yang bertambah, hingga investor yang semakin tertarik dengan sektor data center dan
   otomotif. Di Purwakarta, kawasan industri baru seluas 46 hektare resmi diluncurkan.
   Angka ini memang hanya sekelumit dari total pasokan kumulatif lahan industri yang kini
   mencapai 16.674 hektare, namun simbolisasi arah pergeseran ini penting.

    Ketika lahan di Bekasi dan Karawang makin terbatas, pusat gravitasi industri perlahan
    bergeser lebih jauh ke timur. Pergeseran ini menjadi peluang baru sekaligus tantangan
    dalam merancang infrastruktur pendukung yang memadai. Sementara itu, sektor logistik
    juga tidak kalah dinamis. Sekitar 99.335 meter persegi ruang gudang baru telah
    ditambahkan melalui pembangunan fasilitas modern di Karawang. Ini bukan hanya
    memperluas kapasitas, tapi juga mendekatkan total pasokan lahan gudang Karawang
    ke level Bekasi dan Tangerang — dua kawasan yang selama ini menjadi episentrum
    logistik Jabodetabek. Pertumbuhan ini mempertegas posisi Karawang–Purwakarta
    sebagai sub-pasar strategis dalam peta pergudangan nasional. Di sisi permintaan, geliat
    pasar tercermin dari volume transaksi lahan industri. Pada kuartal pertama 2025,
    tercatat 97,70 hektare lahan berpindah tangan — meningkat 61,8% dibanding kuartal
    sebelumnya dan 51,7% secara tahunan. (sumber : https://swa.co.id/read/459344/pasar-

                                                                              Halaman - 10
Page 71
    properti-sektor-industri-kuartal-i-2025-menggeliat-karawangpurwakarta-makin-
    strategis)

3. Logistik, Pergudangan & Kawasan Berikat
   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan Umum, KBLI 52109 – Pergudangan dan
   Penyimpanan Lainnya dan KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing / Kawasan
   Berikat termasuk dalam kategori industry logistic, pergudangan & Kawasan berikat.
   Lembaga Think Tank Logistik, Supply Chain Indonesia (SCI), memproyeksikan sektor
   (lapangan usaha) transportasi dan pergudangan pada tahun 2025 akan berkontribusi
   terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp 1.623,65 triliun atau
   tumbuh sebesar 12,53% (c-to-c). Analisis SCI berdasarkan data Badan Pusat Statistik
   (BPS), sektor transportasi dan pergudangan yang selalu tumbuh di atas rata-rata tingkat
   pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sektor ini tumbuh sebesar 19,87 persen pada
   2022; sebesar 13,96 persen pada 2023; dan diproyeksikan sekitar 9,52 persen pada
   2024. Sementara, PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,31 persen pada 2022 dan sebesar
   5,05 persen pada 2023. Walaupun subsektor transportasi itu mencakup transportasi
   barang dan penumpang, namun pertumbuhan sektor itu dapat menggambarkan kinerja
   sektor logistik yang memang tumbuh secara signifikan dan konsisten pada periode 2022-
   2024. SCI memproyeksikan pada tahun 2025 sub sektor transportasi akan berkontribusi
   sebesar Rp 1.276,66 triliun atau tumbuh 11,09% (c-to-c) dan sub sektor pergudangan
   akan berkontribusi sebesar Rp 346,99 triliun atau tumbuh sebesar 18,26% (c-to-c).
   ertumbuhan transportasi barang dan pergudangan pada tahun 2025 didorong terutama
   oleh industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.
   (sumber       :    https://supplychainindonesia.com/sci-2025-sektor-logistik-tumbuh-125-
   persen/)

   Selain itu yang menjadi faktor pendorong lainnya adalah pertumbuhan ekspor impor,
   kebijakan logistic nasional serta investasi swasta dan BUMN dalam pengembangan depo
   dan fasilitas penyimpanan terpadu, program hilirisasi nasional, Insentif fiskal dan
   kemudahan OSS RBA untuk pengelola kawasan industry, Pertumbuhan KEK industri dan
   kawasan strategis nasional (seperti Batang, Gresik, Sei Mangkei) dan Permintaan global
   terhadap produk hilir seperti baterai EV, baja, dan petrokimia.

4. Pengelolaan Limbah & Lingkungan
   KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun,
   Pada tahun 2025, pertumbuhan pengelolaan limbah dan lingkungan di
   Indonesia diharapkan mengalami peningkatan signifikan, didorong oleh target
   pemerintah untuk mengurangi sampah dan meningkatkan penanganan
   limbah. Beberapa aspek yang menjadi sorotan adalah peningkatan kesadaran
   masyarakat, pengembangan teknologi pengelolaan sampah, serta penerapan kebijakan
   lingkungan yang lebih ketat. Selain itu faktor pendorong utama adalah Peningkatan
   produksi limbah B3 dari sektor industri, rumah sakit, dan pertambangan, Regulasi ketat
   dari KLHK dan pemerintah daerah terkait pengelolaan limbah berbahaya, Kebutuhan
   fasilitas pengolahan limbah modern, termasuk insinerator, landfill khusus, dan fasilitas
   peluruhan limbah radioaktif, dan Dorongan ESG dan ekonomi sirkular, yang menuntut
   pelaku industri bertanggung jawab atas limbahnya.




                                                                              Halaman - 11
Page 72
4.3. Persaingan Usaha

     Industri penyedia jasa dan distribusi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang
     dinamis seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar akan layanan yang efisien, inovatif,
     dan terintegrasi. Dalam konteks ini, persaingan usaha di antara para pelaku industri menjadi
     semakin ketat. Para perusahaan saling berlomba dalam hal keandalan operasional, efisiensi
     biaya, jaringan distribusi, layanan pelanggan, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri
     terhadap perkembangan teknologi dan regulasi. Di bawah ini merupakan beberapa
     perusahaan yang beroperasi di sektor sejenis dan menjadi kompetitor potensial:
      1. PT Tira Austenite Tbk, Bergerak di bidang perdagangan dan distribusi produk baja
          khusus serta peralatan teknik industri. Produk: Valve industri, fitting, alat pengelasan,
          dan produk baja tahan karat. Website: www.tira.co.id
      2. PT Mitra Angkasa Sejahtera Tbk, Fokus pada distribusi dan layanan produk teknik
          industri. Produk: Valve, fitting, dan peralatan kontrol industri. Website:
          www.mitraangkasa.co.id
      3. PT Kobexindo Tractors Tbk, Menyediakan alat berat dan suku cadang untuk sektor
          industri dan pertambangan. Produk: Valve, fitting, dan komponen mesin industri.
          Website: www.kobexindo.com
      4. PT Ancora Indonesia Resources Tbk, Bergerak di sektor pertambangan dan distribusi
          bahan kimia industri. Produk: Valve, fitting, dan peralatan kontrol untuk industri kimia
          dan pertambangan. Website: www.ancoracorp.com
      5. PT Intraco Penta Tbk, Menyediakan solusi alat berat dan suku cadang untuk sektor
          industri dan konstruksi. Produk: Valve, fitting, dan komponen mesin industri. Website:
          www.intracopenta.com
      6. PT HK Metals Utama Tbk, Bergerak di bidang manufaktur dan distribusi produk logam
          untuk konstruksi dan industri. Produk: Valve, fitting, dan produk logam lainnya. Website:
          www.hkmetalsutama.com

4.4. Strategi Pemasaran

     Penambahan KBLI merupakan langkah strategis yang bertujuan memperluas cakupan
     bisnis, meningkatkan diversifikasi pendapatan, dan memperkuat posisi kompetitif. Strategi
     yang bisa diambil APII meliputi:

     1. Dengan diversifikasi usaha, dapat mempeluas cakupan kegiatan usaha diluar core
        business saat ini,
     2. Mengoptimalkan fasilitas, jaringan distribusi, dan relasi yang sudah dimiliki untuk
        mendukung kegiatan usaha baru,
     3. Menyediakan layanan tambahan kepada pelanggan lama,
     4. Penambahan KBLI memungkinkan perusahaan lebih fleksibel dalam merespons
        permintaan pasar atau peluar tender proyek dari pemerintah maupun swasta,




                                                                                      Halaman - 12
Page 73
                                  BAB V
                          ANALISIS ASPEK TEKNIS
5.1. Bisnis PT Arita Prima Indonesia Tbk

     PT Arita Prima Indonesia Tbk, berdiri sejak tanggal 05 Oktober 2000 di Jakarta, Indonesia,
     merupakan perusahaan yang bergerak di bidang impor, distribusi, dan servis untuk produk
     valve, fitting, instrumentation, serta control. Melalui performa prima yang senantiasa kami
     tingkatkan dari waktu ke waktu, telah mengantarkan Arita sebagai perusahaan valve yang
     pertama Go Public dan satu-satunya di Indonesia pada tahun 2013. Berikut alur perjalanan
     APII mulai dari berdiri sampai tahun 2022 :




     Dimana PT Arita Prima Indonesia Tbk memiliki 47 cabang dan 9 gudang, berikut sebaran
     cabang di seluruh Indonesia :




     Jaringan internasional yang luas membuat Arita menjadi perusahaan terdepan di bidangnya.
     Arita merupakan jembatan bagi customer Indonesia untuk mendapatkan produk-produk
     berkualitas dari seluruh dunia, antara lain JF Arita, Bells, Q-Flex, Clorius, Ari Armaturen,
     Thermo, ANS dan masih banyak lagi.

     Memasuki usia 23 tahun di Indonesia, Arita kini telah menjadi penyedia produk pendukung
     berbagai industri, mulai dari minyak & gas, kelapa sawit, perkapalan, oleochemical,
     pengolahan air, petrochemical, bangunan, pertambangan, hingga energi.

                                                                                     Halaman - 1
Page 74
Didukung oleh 47 cabang, 5 divisi penjualan, 8 divisi support produk dan 14 anak
perusahaan. Arita hadir dengan sistem distribusi yang luas sehingga mampu menjangkau
pelanggan lebih mudah di seluruh Indonesia, Arita grup dibagi berdasarkan segmentasi,
produk dan layanan sebagai berikut:

   SEGMENTASI                 PRODUK                      LAYANAN

   Powerplant                 Valve                       Internet of Things

   Oleochemical               Pressure & Temperature      Calibration Service
                              Measurement

   Palm                       Level Measurement           Automation System

   Building                   Flowmeter                   Boiler System

   Oil & Gas                  Control Valve               Optimalisasi IPAL

   Petrochemical              Flexible Hose & Expansion   Reverse Osmosis System
                              Joint

   Marine                     Sanitary                    Emmision System

   Water Treatment Plant      Water Pump                  Water Analysis

   Waste Water Treatment      Thermoplastic Valve         Construction Consulting
   Plant

   Mining                     CCTV                        Detail Engineering Drawing

   Pool                       Steamline                   Foundry Material

   Foundry Commodity          Machine Part Palm Oil

   Foundry Manufacture        Welding Tools

   Construction, and          Safety Equipment

   General Industry           Fitting & Flange




                                                                             Halaman - 2
Page 75
      PRODUK




5.2. Rencana Kegiatan Baru

     Dalam rangka mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan serta meningkatkan nilai
     tambah bagi pemegang saham, PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII) berencana melakukan
     penambahan kegiatan usaha utama melalui perluasan cakupan bidang usaha yang
     tercantum dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Penambahan KBLI ini
     sejalan dengan strategi diversifikasi usaha dan penguatan posisi perusahaan dalam industri
     pendukung manufaktur, logistik, properti, dan layanan konsultasi.



                                                                                   Halaman - 3
Page 76
Adapun daftar KBLI yang direncanakan untuk ditambahkan adalah sebagai berikut:
1. KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
2. KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
3. KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
4. KBLI 68120 – Real Estat Yange
5. KBLI 68130 – Kawasan Industri
6. KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
7. KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
8. KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
9. KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Penambahan kegiatan usaha ini dimaksudkan untuk memberikan fleksibilitas dan kesiapan
perusahaan dalam menangkap peluang bisnis baru, sekaligus memperkuat daya saing di
sektor-sektor strategis yang relevan.




                                                                           Halaman - 4
Page 77
                                BAB VI
                      ANALISIS ASPEK POLA BISNIS
6.1. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai

     Penambahan kegiatan usaha melalui perluasan KBLI mencerminkan komitmen perusahaan
     dalam memperkuat fondasi bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang. Dengan
     memperluas cakupan usaha ke bidang-bidang seperti pergudangan, kawasan industri, Real
     Estat Yang, konsultasi manajemen, hingga pengelolaan limbah, perusahaan memiliki
     peluang untuk meningkatkan pendapatan, menjangkau pasar baru, dan memperluas
     layanan yang saling melengkapi dengan kegiatan inti yang telah ada.

     Langkah ini juga memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan
     dinamika pasar dan tren industri yang terus berkembang. Melalui diversifikasi usaha,
     perusahaan dapat mengoptimalkan aset yang ada, memperkuat efisiensi operasional, serta
     meningkatkan daya saing secara menyeluruh. Secara keseluruhan, penambahan KBLI ini
     diharapkan akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan bernilai
     tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

6.2. Keunggulan Kompetitif

     Penambahan KBLI memberikan perusahaan keunggulan kompetitif dengan memperluas
     cakupan layanan dan memperdalam integrasi rantai nilai bisnis. Dengan masuk ke sektor-
     sektor strategis seperti pergudangan, kawasan industri, dan jasa konsultasi, perusahaan
     dapat menawarkan solusi yang lebih lengkap dan terpadu kepada pelanggan. Hal ini tidak
     hanya meningkatkan loyalitas pelanggan, tetapi juga membuka peluang untuk menangkap
     kebutuhan pasar yang lebih luas dan bervariasi.

     Selain itu, keunggulan kompetitif juga tercermin dalam kemampuan perusahaan untuk
     memanfaatkan aset yang ada secara lebih optimal dan efisien. Diversifikasi usaha
     memungkinkan perusahaan untuk menyebar risiko dan meningkatkan ketahanan terhadap
     fluktuasi di satu sektor tertentu. Dengan fleksibilitas model bisnis dan kesiapan legal melalui
     penambahan KBLI, perusahaan memiliki posisi yang lebih kuat untuk bersaing dalam jangka
     panjang dan merespons perubahan pasar dengan lebih cepat dan adaptif.

6.3. Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk

     Dalam konteks penambahan kegiatan usaha melalui KBLI baru, kemampuan pesaing untuk
     meniru tidak hanya bergantung pada jenis layanan atau produk yang ditawarkan, tetapi juga
     pada seberapa kuat perusahaan dalam membangun keunggulan berbasis pengalaman,
     jaringan, dan infrastruktur. Meskipun secara teknis pesaing dapat memasuki bidang usaha
     yang sama, seperti pergudangan, kawasan industri, atau konsultasi bisnis, namun
     kemampuan mereka untuk meniru keseluruhan nilai tambah yang ditawarkan perusahaan
     tidak serta-merta mudah dilakukan.

     Faktor-faktor seperti reputasi, hubungan dengan klien dan mitra strategis, efisiensi
     operasional, serta pemanfaatan aset yang sudah dimiliki menjadi pembeda utama. Selain


                                                                                        Halaman - 1
Page 78
     itu, kesiapan perusahaan dalam mengintegrasikan berbagai layanan secara menyeluruh
     dan legalitas formal melalui penambahan KBLI memberikan hambatan awal bagi pesaing
     untuk menyamai kualitas dan jangkauan layanan yang dimiliki. Dengan demikian, meskipun
     imitasi secara konsep memungkinkan, implementasi yang efektif tetap menjadi keunggulan
     kompetitif yang sulit ditiru dalam jangka pendek.

6.4. Analisa SWOT

     Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal yang
     bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol. Kedua sisi
     dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan
     mempunyai daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan
     (strength and weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan ancaman
     (opportunity and threat).

     Berikut adalah analisa SWOT APII setelah penambahan Kegiatan Usaha :

     Strengths (Kekuatan):
       • Perusahaan memiliki pengalaman dan infrastruktur yang mendukung ekspansi ke
           bidang usaha baru seperti pergudangan, Real Estat Yang, dan konsultasi.
       • Legalitas dan kepatuhan diperkuat melalui penambahan KBLI, memungkinkan
           perusahaan menjalankan usaha secara sah dan terintegrasi.
       • Reputasi dan jaringan bisnis yang sudah terbangun memberikan kemudahan dalam
           menjajaki pasar baru dan menjalin kerja sama strategis.
     Weaknesses (Kelemahan):
       • Penambahan kegiatan usaha memerlukan sumber daya tambahan, baik dari sisi
           SDM, teknologi, maupun pendanaan.
       • Perlu waktu untuk membangun kompetensi dan efisiensi operasional dalam bidang
           usaha baru yang belum menjadi fokus utama sebelumnya.
     Opportunities (Peluang):
       • Pertumbuhan sektor logistik, kawasan industri, dan jasa konsultasi membuka peluang
           permintaan yang luas dan berkelanjutan.
       • Pemerintah mendorong investasi di bidang industri dan infrastruktur, sehingga
           mendukung ekspansi usaha seperti kawasan berikat dan pengelolaan limbah B3.
       • Kemampuan untuk menawarkan layanan yang lebih terintegrasi meningkatkan daya
           tarik perusahaan di mata pelanggan dan investor.
     Threats (Ancaman):
       • Persaingan dari pemain besar di sektor properti industri, logistik, dan konsultasi yang
           sudah lebih mapan.
       • Perubahan regulasi, terutama di bidang lingkungan, kawasan industri, dan limbah
           berbahaya, dapat berdampak terhadap operasional dan biaya kepatuhan.
       • Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi permintaan pasar dapat memengaruhi
           keberhasilan usaha baru.




                                                                                     Halaman - 2
Page 79
                            BAB VII
               ANALISIS ASPEK MODEL MANAJEMEN
7.1. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan Sebelum Adanya Penambahan
     KBLI

     Sebelum dilakukan penambahan kegiatan usaha melalui KBLI baru, manajemen PT Arita
     Prima Indonesia Tbk (APII) telah menunjukkan kapasitas dan kompetensi yang baik dalam
     mengelola kegiatan operasional inti perusahaan. Hal ini tercermin dari pengalaman
     manajemen dalam mengelola rantai pasok industri, pemasaran produk-produk industrial
     valve dan alat teknik, serta kemampuan menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan
     mitra usaha secara konsisten. Tim manajemen juga memiliki pemahaman yang kuat
     terhadap dinamika pasar dan mampu menjaga stabilitas operasional di tengah tantangan
     industri.

     Selain itu, struktur organisasi dan sistem pengambilan keputusan yang telah berjalan
     memberikan fleksibilitas dan efisiensi dalam merespons perubahan internal maupun
     eksternal. Kemampuan perusahaan untuk tetap bertumbuh secara organik menunjukkan
     bahwa manajemen memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi perencanaan strategis,
     pengelolaan risiko, maupun tata kelola perusahaan. Dengan dasar tersebut, manajemen
     dinilai cukup siap untuk mengelola dan mengembangkan kegiatan usaha baru yang akan
     ditambahkan melalui KBLI secara bertahap dan terukur.

     Figur 7.1.1 Berikut adalah jajaran direksi APII saat ini :




     Struktur organisasi perusahaan sebelum dilakukan penambahan KBLI telah disusun secara
     proporsional untuk mendukung kelancaran operasional serta pengambilan keputusan yang
     efektif. Struktur ini mencerminkan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, serta
     mampu menjawab kebutuhan strategis perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya
     secara optimal. Adapun struktur organisasi APII sebelum penambahan KBLI dapat
     digambarkan sebagai berikut:


                                                                                 Halaman - 1
Page 80
     Figur 7.1.2 Struktur Organisasi Tanpa Adanya Penambahan KBLI




     Sumber : manajemen, 2025


7.2. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen setelah Adanya Penambahan KBLI

     Penambahan KBLI APII yang mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen,
     pergudangan dan penyimpanan, Real Estat Yange, kawasan industri, serta pengelolaan
     limbah berbahaya akan memperluas ruang lingkup usaha perusahaan.

     Saat ini, manajemen masih mempertahankan struktur organisasi yang ada dan akan
     melakukan penambahan karyawan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan aktivitas baru
     tersebut.

     Berikut adalah salah satu daftar karyawan yang memiliki kompetensi sesuai dengan
     penambahan KBLI tersebut. sebagai berikut:

     1. Nama                : Ujang Misbahudin
        Posisi              : Manager Engineering
        Pendidikan Informal :
        • Sertifikasi Penanggung Jawab Pengendali (BNSP)
        • Pencemaran Air (PPA), tahun 2019
        • Training desain WWTP, STP, PWT tahun 2019
        • Trainer penanggung jawab dan operator instalasia pengolahan air limbah dan air
            bersih, tahun 2019
        • Training waste water treatment spesialis, tahun 2019
        • Training ISO 22000:2005 tahun 2018
        • Trainer pelatihan dasar operator instalasi pengolahan air limbah, 2018
        • Sosialisasi penanganan pengaduan pencemaran dan kerusakan lingkungan, 2018
        • Workshop chemical safety and security, 2012
        • Training ISO 9001: 2008, 2011
        • Training chemical safety and security, 2010

          Pengalaman kerja :
          • Project manager, PT Spektra Solusindo, tahun 2019 sampai sekarang, fokus pada
              Perijinan lingkungan, melakukan monitoring, evaluasi dan improvement terhadap
              kinerja semua STP dan WWTP, dsb.


                                                                                Halaman - 2
Page 81
    •   Environment Supervisor, PT Cisarua Mountain Dairy, tahun 2018 – 2019, fokus
        pada pengolahan limbah (cair, padat, dan B3), dsb.
    •   Konsultan IPAL, PT Bumi Pengolahan Air Limbah, tahun 2015-2017, focus pada
        perencanaan dan setting out Pembangunan instalasi pengolahan air limbah
        (IPAL), pengawasan dalam Pembangunan IPAL, dsb.

2. Nama                : R. Achhmad Sulaiman, S.E., CFIP®
   Posisi              : Finance Manager
   Pendidikan Informal :
   • Certified Fraud Investigator Professional (CFIP) 2022, RMI, 2022
   • Building & Maintenance ORGANIZATIONAL COMMITMENT as Basic of Clean
       Company, PT Arita, 2024
   • Taxation Course, Brevet A at Sekolah Tinggi Perpajakan Indonesia STPI, Jakarta
   • Computer Course, Microsoft Office 2000 at LM PATRA, Jakarta
   • Taxation Seminary at Sahid Jaya Hotel, 2000
   • Accounting Workshop at PT. Intermas Tata Trading, 2004

   Pengalaman kerja :
   • Finance Manager PT Arita Prima Indonesia, tahun 2020 – sekarang
   • Internal Audit Head PT Kasana Teknindo Gemilang (Heavy Equipment
       Distribution), tahun 2018 – 2020
   • Accounting Head PT Sinarmas Distribusi Nusantara (Sinarmas Group), tahun
       2014 – 2016
   • Internal Audit Supervisor Pt Sinarmas Distribusi Nusantara (Sinarmas Group),
       tahun 2003 - 2014

3. Nama                : Rudyanto Maulana Yusuf Apriana
   Pendidikan Informal :
   • SKK ahli manajemen proyek madya No. Sertifikst 74321 2142.99.8.000117276
       2023.
   • SKK ahli Teknik bangunan Gedung madya No. sertifikat 74321 2142.02.8
       00091506 2023.

    Pengalaman kerja :
    • Konsultan Supervisi PT. Indra Karya (World Bank Loan) WJBEP (West Java Basic
       Education Project ), Pembangunan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Jawa
       Barat, 2003
    • Supporting Staff
    • PT. Indra Karya (World Bank Loan) WJBEP (West Java Basic Education Project),
       2004
    • Site Manager/Estimator CV.Surya Asih Pratama, 2004
    • Inspector jalan RA. Kosasih Sukabumi, PT. Bina Karya in Associates with CV.Tri
       Exnas, 2004
    • Inspector jalan Ciwidey-Lebak Muncang, CV.Tri Exnas, 2005
    • Supporting Staff Proyek Rehabilitasi Jalan Sumedang-Cijelag ADB (Asian
       Development Banking) PT. Indra Karya in Associates with PT.Bikonar Perdana,
       2005


                                                                         Halaman - 3
Page 82
          •   Supporting Staff Proyek Rehabilitasi Jalan Subang Tagog Apu, PT. Bikonar
              Perdana, 2005
          •   Team Leader/Site Engineer Proyek Pembangunan SDN Sindangsari 1 dan SDN
              sindangsari 2, APBD Kabupaten Tangerang (Pinjaman Bank Jabar), CV.Karunia
              Indah Keluarga, 2006
          •   Team Leader/Site Engineer Pembangunan SMUN 2 Kresek APBD Kabupaten
              Tangerang, CV.Karunia Indah Keluarga,2006


     4. Nama          : Nanda Septiawan

         Pendidikan Informal :
         • CISCO Networking Academi Programs, STMIK IKMI – Cirebon
         • Object-Based Programming, STMIK IKMI – Cirebon
         • Computer Skills and Information Processing, PPGT VEDC – Malang
         • Test of English for International Communication, ETC –
         • Majalengka

         Pengalaman Kerja
         • Marketing at Padil Property Majalengka (selling property such as land,
             warehouse, houses and shop, and houses in the majalengka area, 2024
         • Looking for project in the west java region, PT Wika Beton Mobile Concrete,
             2024
         • Monitoring the quality of production materials, PT Wika Beton Crushing Plant
             Bogor, 2022
         • Creating a road letter for material delivery, PT Wika Beton Crushing Plant Bogor,
             2019

7.3. Manajemen Risiko

     Manajemen Risiko adalah proses identifikasi, penilaian, dan pengelolaan risiko yang dapat
     mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan. Dengan adanya penambahan KBLI APII,
     manajemen risiko menjadi penting untuk memastikan aktivitas baru berjalan lancar dan
     meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi.
     Berikut beberapa jenis risiko utama yang perlu diperhatikan dalam konteks penambahan
     KBLI APII:

     1. Risiko Operasional
        Risiko yang muncul dari proses bisnis baru, seperti kesalahan pengelolaan
        pergudangan, pengelolaan limbah berbahaya yang tidak sesuai prosedur, atau
        kegagalan dalam aktivitas konsultasi bisnis.
     2. Risiko Kepatuhan (Compliance Risk)
        Risiko terkait ketidakpatuhan terhadap regulasi pemerintah, pengelolaan limbah
        berbahaya, perizinan Real Estat Yange, dan kawasan industri.
     3. Risiko Keuangan
        Risiko terkait pembiayaan aktivitas baru, fluktuasi nilai tukar valuta asing (jika ada
        impor), dan pengelolaan modal kerja untuk aktivitas tambahan.


                                                                                   Halaman - 4
Page 83
4. Risiko Reputasi
   Risiko yang timbul akibat kegagalan pengelolaan aktivitas baru yang dapat merusak
   citra dan kepercayaan stakeholder.
5. Risiko Lingkungan
   Terutama terkait pengelolaan limbah berbahaya, risiko pencemaran lingkungan yang
   harus dikendalikan secara ketat.




                                                                         Halaman - 5
Page 84
                               BAB VIII
                      ANALISIS ASPEK KEUANGAN
8.1. Rencana Perusahaan (“APII”)

     PT Arita Prima Indonesia berencana menambah beberapa KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan
     Usaha Indonesia) guna memperluas cakupan kegiatan usaha dan meningkatkan potensi
     pendapatan. Penambahan KBLI ini mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen,
     pergudangan dan penyimpanan, Real Estat Yange, kawasan industri, serta pengelolaan
     limbah berbahaya.

     Adapun KBLI yang akan ditambahkan adalah:
     1. KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
     2. KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
     3. KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
     4. KBLI 68120 – Real Estat Yange
     5. KBLI 68130 – Kawasan Industri
     6. KBLI 68111 – Real Estat Yang yang Dimiliki Sendiri atau Disewa
     7. KBLI 70209 – Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
     8. KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
     9. KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

     Untuk menjalankan aktivitas baru ini, PT Arita Prima Indonesia memerlukan investasi
     tambahan. Investasi ini direncanakan secara bertahap menyesuaikan dengan kebutuhan
     dan kapasitas keuangan perusahaan, dengan tujuan memperkuat diversifikasi usaha
     sekaligus meningkatkan kinerja keuangan jangka menengah hingga panjang.

8.2. Asumsi Proyeksi

     Dalam menentukan proyeksi keuangan sebelum dan sesudah adanya penambahan KBLI,
     manajemen Menyusun asumsi proyeksi dengan mempertimbangkan kondisi market sebagai
     berikut :

     KBLI 74902 Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker, punya nilai strategis yang cukup tinggi,
     terutama dalam konteks tata kelola, pengembangan usaha, dan positioning profesional di
     era ekonomi berbasis pengetahuan.

     Nilai strategis dari KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan nilai strategisnya sangat
     besar, terutama dalam konteks rantai pasok, efisiensi distribusi, dan integrasi logistik
     nasional.

     KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya memiliki nilai strategis yang unik
     karena mencakup bentuk-bentuk penyimpanan spesifik dan non-konvensional yang tidak
     dijelaskan secara eksplisit oleh kategori lain. Nilainya semakin relevan di era supply chain
     modern yang menuntut fleksibilitas dan spesialisasi.




                                                                                     Halaman - 1
Page 85
KBLI 68120 – Real Estat yang Disewa atau Disewakan memiliki nilai strategis yang sangat
penting dalam membangun portofolio pendapatan pasif, efisiensi aset, dan kestabilan arus
kas.

KBLI 68130 – Kawasan Industri adalah salah satu kode KBLI yang paling strategis jika ingin
membangun ekosistem bisnis yang terstruktur, terintegrasi, dan punya daya saing jangka
panjang.

KBLI 68111 – Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa merupakan fondasi penting
dalam portofolio perusahaan properti, holding investasi, maupun entitas industri yang ingin
mengoptimalkan penggunaan atau kepemilikan aset. Ini lebih dari sekadar “menyimpan
aset”—ini soal menciptakan nilai berkelanjutan.

KBLI 70209 – Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya adalah kode yang sangat strategis
untuk entitas yang ingin berperan sebagai navigator dalam transformasi bisnis lintas sektor.
Ini bukan sekadar jasa konsultasi biasa—kode ini mencakup spektrum luas dari strategi
hingga operasional.

KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat adalah salah
satu kode yang sangat strategis dalam ekosistem logistik dan perdagangan internasional.
Ini bukan sekadar gudang—ini adalah alat kebijakan fiskal dan efisiensi rantai pasok.

KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya adalah salah satu sektor
dengan nilai strategis tinggi dalam konteks keberlanjutan, kepatuhan lingkungan, dan
transformasi industri hijau. Ini bukan hanya soal pengelolaan limbah—ini tentang mengelola
risiko dan membangun reputasi jangka panjang.

Sehingga ditentukan proyeksi, sebagai berikut :

Asumsi Proyeksi sebelum adanya penambahan KBLI
1. Penjualan, diasumsikan tumbuh sebesar 3% sampai akhir masa periode proyeksi
2. Beban pokok penjualan terhadap pendapatan diasumsikan sebesar 44,56%
3. Beban penjualan, umum dan administrasi terhadap pendapatan diasumsikan sebesar
    46,61%

Asumsi Proyeksi sesudah adanya penambahan KBLI
1. Penjualan, diasumsikan tumbuh sebesar 5% sampai akhir masa periode proyeksi
2. Beban pokok penjualan terhadap pendapatan diasumsikan sebesar 44,56%
3. Beban penjualan, umum dan administrasi terhadap pendapatan diasumsikan sebesar
   46,61%




                                                                                Halaman - 2
Page 86
8.3. Proyeksi Laba Rugi

     Adapun proyeksi yang digunakan dalam analisis ini adalah:

     Figur 8.3.3.1 Proyeksi Laba Rugi dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                   (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31           31           31           31            31
                Keterangan           Desember     Desember     Desember     Desember      Desember
                                       2025          2026         2027         2028          2029
      Penjualan Bersih                  308.140      323.547      339.724      356.710       374.546
      Beban Pokok Penjualan           (137.311)    (144.177)    (151.386)    (158.955)     (166.903)
      Laba Kotor                        170.828      179.370      188.338      197.755       207.643

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                      (143.627)    (150.809)    (158.349)     (166.267)    (174.580)
      Administrasi
      Laba Usaha                         27.201      28.561       29.989        31.488       33.063

      Pendapatan (beban) lain-lain        2.679        2.706        3.003         3.394        3.879
      Beban keuangan                   (15.529)     (14.938)     (13.505)      (11.274)      (9.121)
      Jumlah Beban keuangan &
                                       (12.850)     (12.233)     (10.501)       (7.880)      (5.242)
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                         14.350      16.328       19.488        23.608       27.821
      Pajak

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                        (3.157)      (3.592)      (4.287)       (5.194)      (6.121)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                         11.193      12.736       23.775        28.802     33.942
      Pajak

     Figur 8.3.2 Proyeksi Laba Rugi tanpa penambahan kegiatan usaha
                                                                            (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31           31           31           31            31
                Keterangan           Desember     Desember     Desember     Desember      Desember
                                       2025          2026         2027         2028          2029
      Penjualan Bersih                  285.729      294.301      303.130      312.224       321.591
      Beban Pokok Penjualan           (127.325)    (131.145)    (135.079)    (139.131)     (143.305)
      Laba Kotor                        158.404      163.157      168.051      173.093       178.286

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                      (133.182)    (137.177)    (141.293)     (145.531)    (149.897)
      Administrasi
      Laba Usaha                         25.223      25.979       26.759        27.561       28.388

      Pendapatan (beban) lain-lain        2.679        2.706        3.003         3.394        3.879
      Beban keuangan                   (17.047)     (17.196)     (16.687)      (15.713)     (15.249)
      Jumlah Beban keuangan &
                                       (14.368)     (14.490)     (13.684)      (12.319)     (11.369)
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                         10.855      11.489       13.075        15.242       17.019
      Pajak



                                                                                          Halaman - 3
Page 87
                                           31            31          31          31          31
                Keterangan              Desember      Desember    Desember    Desember    Desember
                                          2025          2026        2027        2028        2029

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                         - 2.388,02     (2.528)     (2.876)     (3.353)      (3.744)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                             8.467       8.961      15.951      18.595       20.763
      Pajak

8.4. Proyeksi Posisi Keuangan

     Figur8.4.1 Proyeksi Posisi Keuangan dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                  (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                           31            31          31          31          31
                                        Desember      Desember    Desember    Desember    Desember
                Keterangan
                                          2025          2026        2027        2028        2029
                                         (Audit)       (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
      Aset
      Aset Lancar
      Kas Dan Setara Kas                    26.668       15.065      14.763      14.356      36.242
      Piutang Usaha                         64.034       70.438      77.569      78.345      79.128
      Persediaan                           214.251      216.393     216.177     218.339     220.522
      Biaya Dibayar Dimuka                  19.509       23.411      25.986      29.364      33.328
      Jumlah Aset Lancar                   324.462      325.307     334.495     340.403     369.221

      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap - Nilai Buku              276.251      277.854     270.307     269.791     262.303
      Investasi                             22.051       24.256      24.499      24.744      24.991
      Aset Lain - Lain                      25.566       23.009      25.540      28.350      31.468
      Jumlah Asset Tidak Lancar            323.869      325.120     320.347     322.884     318.763
      Total Aset                           648.331      650.426     654.842     663.287     687.984

      Liabilitas Dan Ekuitas
      Liabilitas Jangka Pendek
      Hutang Usaha                          18.982       22.779      25.284      27.307      30.994
      Hutang Pajak                           2.852        4.279       4.749       5.272       5.852
      Beban Yang Masih Harus Dibayar         5.592        6.490       3.366           -       1.815
      Hutang Bank                          134.733      129.489     116.580      96.425      76.976
      Hutang Lain                           29.547       26.888      19.300      18.193      20.296
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek      191.706      189.924     169.280     147.197     135.932

      Liabilitas Jangka Panjang
      Hutang Bank                            6.444        6.315       6.189       6.065       5.944
      Hutang Imbalan Kerja                  11.043       12.258      13.606      15.375      17.374
      Hutang Lain                              510          566         628         710         852
      Hutang Pemegang Saham                 10.000            -           -           -           -
      Jumlah Liabilitas Jangka
                                            27.997       19.139      20.423      22.150      24.169
      Panjang

      Ekuitas


                                                                                          Halaman - 4
Page 88
                                      31          31          31          31          31
                                   Desember    Desember    Desember    Desember    Desember
            Keterangan
                                     2025        2026        2027        2028        2029
                                    (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
 Modal Saham                         107.576     107.576     107.576     107.576     107.576
 Tambahan Modal Disetor               33.937      33.937      33.937      33.937      33.937
 Saldo Laba                          287.114     299.850     323.625     352.427     386.369
 Jumlah Ekuitas                      428.627     441.363     465.138     493.941     527.882
 Total Liabilitas Dan Ekuitas        648.331     650.426     654.842     663.287     687.984

Figur 8.4.2 Proyeksi Posisi Keuangan tanpa penambahan kegiatan usaha
                                                               (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                      31          31          31          31          31
                                   Desember    Desember    Desember    Desember    Desember
            Keterangan
                                     2025        2026        2027        2028        2029
                                    (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
 Aset
 Aset Lancar
 Kas Dan Setara Kas                   16.324      15.732      15.213      10.934      27.280
 Piutang Usaha                        64.034      70.438      77.569      78.345      79.128
 Persediaan                          215.164     212.250     202.335     206.087     205.477
 Biaya Dibayar Dimuka                 19.509      23.411      25.986      29.364      33.328
 Jumlah Aset Lancar                  315.031     321.831     321.103     324.729     345.213

 Aset Tidak Lancar
 Aset Tetap - Nilai Buku             286.751     295.354     298.307     301.291     304.303
 Investasi                            22.051      24.256      24.499      24.744      24.991
 Aset Lain - Lain                     25.566      23.009      25.540      28.350      31.468
 Jumlah Asset Tidak Lancar           334.369     342.620     348.347     354.384     360.763
 Total Aset                          649.400     664.450     669.450     679.114     705.977

 Liabilitas Dan Ekuitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Hutang Usaha                         18.982      22.779      25.284      27.307      30.994
 Hutang Pajak                          2.852       4.279       4.749       5.272       5.852
 Beban Yang Masih Harus Dibayar        5.592       6.490       3.366           -       1.815
 Hutang Bank                         148.529     150.014     145.514     136.783     132.679
 Hutang Lain                          29.547      26.888      19.300      18.193      20.296
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek     205.502     210.449     198.214     187.555     191.636

 Liabilitas Jangka Panjang
 Hutang Bank                           6.444       6.315       6.189       6.065       5.944
 Hutang Imbalan Kerja                 11.043      12.258      13.606      15.375      17.374
 Hutang Lain                             510         566         628         710         852
 Hutang Pemegang Saham
 Jumlah Liabilitas Jangka
                                      17.997      19.139      20.423      22.150      24.169
 Panjang

 Ekuitas
 Modal Saham                         107.576     107.576     107.576     107.576     107.576
 Tambahan Modal Disetor               33.937      33.937      33.937      33.937      33.937


                                                                                   Halaman - 5
Page 89
                                         31          31            31            31          31
                                      Desember    Desember      Desember      Desember    Desember
                 Keterangan
                                        2025        2026          2027          2028        2029
                                       (Audit)     (Audit)       (Audit)       (Audit)     (Audit)
      Saldo Laba                        284.387     293.349       309.300       327.895     348.658
      Jumlah Ekuitas                    425.901     434.862       450.813       469.409     490.172
      Total Liabilitas Dan Ekuitas      649.400     664.450       669.450       679.114     705.977

8.5. Inkremental Laporan Laba Rugi

     Figur 8.58.5.1 Inkremental Proyeksi Laba Rugi
                                                                             (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                        31            31            31           31           31
                                     Desember     Desember      Desember     Desember     Desember
                Keterangan
                                       2025         2026          2027         2028         2029
                                      (Audit)      (Audit)       (Audit)      (Audit)      (Audit)
      Penjualan Bersih                  22.410        29.245        36.594       44.486       52.955
      Beban Pokok Penjualan             (9.986)     (13.032)      (16.307)     (19.823)     (23.597)
      Laba Kotor                        12.424        16.213        20.287       24.662       29.357

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                       (10.446)      (13.632)     (17.057)     (20.735)     (24.683)
      Administrasi
      Laba Usaha                          1.978        2.582        3.230         3.927       4.675

      Pendapatan (beban) lain-lain            -            -            -             -           -
      Beban keuangan                      1.518        2.258        3.183         4.439       6.127
      Jumlah Beban keuangan &
                                          1.518        2.258        3.183         4.439       6.127
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                          3.496        4.834        6.413         8.366      10.802
      Pajak

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                          (769)       (1.065)      (1.411)      (1.841)      (2.376)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                          2.727        3.775        7.824        10.207      13.178
      Pajak

8.6. Inkremental Laporan Posisi Keuangan

     Figur 8.6.1 Inkremental Proyeksi Laporan Posisi Keuangan
                                                                             (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31          31            31            31          31
                                      Desember    Desember      Desember      Desember    Desember
                 Keterangan
                                        2025        2026          2027          2028        2029
                                       (Audit)     (Audit)       (Audit)       (Audit)     (Audit)
      Aset
      Aset Lancar
      Kas Dan Setara Kas                 10.344        (667)        (450)         3.422       8.962
      Piutang Usaha                           -            -            -             -           -
      Persediaan                          (913)        4.143       13.842        12.252      15.045
      Biaya Dibayar Dimuka                    -            -            -             -           -


                                                                                          Halaman - 6
Page 90
                                           31           31           31           31           31
                                        Desember     Desember     Desember     Desember     Desember
                 Keterangan
                                          2025         2026         2027         2028         2029
                                         (Audit)      (Audit)      (Audit)      (Audit)      (Audit)
      Jumlah Aset Lancar                    9.431        3.476       13.392       15.674       24.007

      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap - Nilai Buku             (10.500)     (17.500)     (28.000)     (31.500)     (42.000)
      Investasi                                  -            -            -            -            -
      Aset Lain - Lain                           -            -            -            -            -
      Jumlah Asset Tidak Lancar           (10.500)     (17.500)     (28.000)     (31.500)     (42.000)
      Total Aset                           (1.069)     (14.024)     (14.608)     (15.826)     (17.993)

      Liabilitas Dan Ekuitas
      Liabilitas Jangka Pendek
      Hutang Usaha                               -            -            -            -            -
      Hutang Pajak                               -            -            -            -            -
      Beban Yang Masih Harus Dibayar             -            -            -            -            -
      Hutang Bank                         (13.796)     (20.525)     (28.933)     (40.358)     (55.703)
      Hutang Lain                                -            -            -            -            -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek     (13.796)     (20.525)     (28.933)     (40.358)     (55.703)

      Liabilitas Jangka Panjang
      Hutang Bank                               -             -            -            -            -
      Hutang Imbalan Kerja                      -             -            -            -            -
      Hutang Lain                               -             -            -            -            -
      Hutang Pemegang Saham                10.000             -            -            -            -
      Jumlah Liabilitas Jangka
                                           10.000             -            -            -            -
      Panjang

      Ekuitas
      Modal Saham                                -            -            -            -            -
      Tambahan Modal Disetor                     -            -            -            -            -
      Saldo Laba                             2.727        6.501       14.325       24.532       37.711
      Jumlah Ekuitas                         2.727        6.501       14.325       24.532       37.711
      Total Liabilitas Dan Ekuitas         (1.069)     (14.024)     (14.608)     (15.826)     (17.993)

8.7. Cut Off Date dalam Analisis

      Dalam melakukan Analisis Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ini, kami
      menggunakan cut off date 31 Desember 2024 di mana batas tersebut diambil atas dasar
      pertimbangan kepentingan dan tujuan dilaksanakan studi kelayakan penambahan Kegiatan
      Usaha.

8.8. Penetapan Tingkat Diskonto

     Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas

     Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
     Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas


                                                                                            Halaman - 7
Page 91
risiko ditambah premium unutk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham. Dengan
formula sebagai berikut:

                                    Ke = Rf + ß (Rm-Rf)
                                    Ke = Rf + ß Rp
Di mana :
Rf        = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß         = risiko sistimatis
Rm        = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp        = selisih antara Rm dengan Rf

Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia, instrumen bebas risiko
yang dapat dipilih adalah tingkat bunga obligasi Pemerintah untuk jangka panjang.

Terkait dengan tanggal penilaian yang jatuh pada tanggal 30 September 2024, maka
instrumen bebas risiko yang dipilih didasarkan pada obligasi Pemerintah dengan bunga
tetap yang dikeluarkan oleh Pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor
30 tahun, yield tertimbang sebesar 6,87%, dan angka tersebut akan digunakan sebagai
tingkat kembalian bebas risiko (Rf).

Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko
dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk
premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk premiums)
seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk premium.
Dengan mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi
perubahan-perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara berkembang
(emerging market).

Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan menggunakan rujukan dari hasil Damodaran
per tanggal 1 Juli 2024 dengan risk premium untuk pasar negara berkembang seperti
Indonesia adalah sekitar 6,45%. Dengan Country Default Spread sebesar 1,79%.

ß (Beta) Beta merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P
500 atau IHSG). Untuk APII kami menggunakan Beta dari industri pada sektor yang sama
yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.

Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta
untuk menghitung cost of equity APII, dimana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered
beta. Cara ini dilakukan untuk menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing
perusahaan terhadap beta. Perusahaan yang sama dengan leverage yang berbeda akan
memiliki cost of equity yang berbeda pula, oleh karena itu pengaruh leverage yang ada di
tiap perusahaan perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.

Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut :
                  βL
 βu =
            1 + (1-T) x DER

                                                                                Halaman - 8
Page 92
 dimana:

 T            = Tarif Pajak Penghasilan Badan
 DER          = Debt to equity ratio
 βL           = Beta levered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                portofolio pasar dengan pengaruh hutang
 βu           = Beta unlevered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                portofolio pasar tanpa pengaruh hutang

Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini
kemudian di-relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar untuk memperoleh
beta yang sesuai untuk mendiskonto tersebut dengan formula sebagai berikut :

Figur 8.8.1 Beta
                                                                                 Beta
                        Data Pembanding                         Ticker
                                                                              Unleverage
 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk                               IDX:SMLE          1,25
 PT Sarana Mitra Luas Tbk                                      IDX:SMIL          1,07
 PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk                                 IDX:KKES          1,02
 Beijing United Information Technology Co.,Ltd.              SHSE:603613         0,77
 Bohai Leasing Co., Ltd.                                     SZSE:000415         0,10
 China National Complete Plant Import & Export Corporation
                                                             SZSE:000151         0,95
 Limited
 Dlg Exhibitions & Events Corporation Limited                SHSE:600826         1,08
 Fujian Haiqin Energy Group Co., Ltd.                        SHSE:600753         1,31
                                        Average                                  0,94
Sumber: S&P Global

Dari figur di atas, tampak bahwa rata-rata dari unlevered beta dari perusahaan yang
digunakan sebagai dasar perhitungan adalah sebesar 0,94.

Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini
kemudian di-relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar yaitu sebesar 60,10%
untuk memperoleh beta yang sesuai untuk mendiskonto AKB tersebut dengan formula
sebagai berikut:
   βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
   βL = 0,94 x (1 + (1-22%) x 421,87%)
   βL = 4,05

Dengan demikian nilai dari beta re-levered adalah sebesar 4,05. Berdasarkan uraian di atas,
maka biaya modal ekuitas adalah :



                                                                               Halaman - 9
Page 93
     Figur 8.8.2 Cost of Equity
                         Keterangan                             Persentase
      Tingkat Bunga Bebas Risiko (Risk Free Rate)                      7,18%
      Risk Premium Market                                              6,45%
      Levered Beta                                                       4,05
      CDS (Country Default Spread)                                     1,79%
      Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost Of Equity)                      31,50%

     Sesuai dengan AKB yang digunakan, yaitu arus kas bersih untuk perusahaan (free cash
     flow to firm), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan
     rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari kreditor (pinjaman) maupun yang
     berasal dari (investor) penyertaan.

     Dalam penilaian ini, untuk biaya bunga hutang digunakan tingkat bunga pinjaman rata-rata
     dalam mata uang Rupiah berdasarkan suku bunga pinjaman investasi dari Bank Persero
     berdasarkan data yang dipublikasikan Bank Indonesia per September 2024, yaitu 9,29%.
     Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya utang bersih setelah pajak adalah
     sebesar 9,41% (dengan tarif pajak 0%) dengan perhitungan sebagai berikut:
        Wd       = i x ((1-T))
        Wd       = 9,21% x (1-22%) = 7,18%
     Komposisi pendanaan dihitung berdasarkan DER market sebesar 421,87%. Berikut adalah
     perhitungan WACC.

     Figur 8.83 Perhitungan WACC

                   CAPITAL TYPE                     Cost of Capital    Composition   Weighted
      COST OF DEBT (Kd = I X (1-T))                           7,18%        80,84%       5,81%
      COST OF EQUITY (Ke = Rf + (Rpm) * Beta                 31,50%        19,16%       6,04%
      Weighted Average Cost of capital (WACC)                                          11,84%

     Berdasarkan perhitungan di atas, maka tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian
     adalah 11,84% selama masa periode proyeksi menurut kami merupakan tingkat diskonto
     yang wajar.

8.9. Analisis Kelayakan Proyek

     Analsia kelayakan proyek, dilakukan dengan membandingakan antara pengorbanan
     ekonomis yang dilakukan APII dalam kaitannya penambahan kegiatan usaha berupa
     aktivitas telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri, kontruksi bangunan sipil
     pertambangan, dan aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainny.

     Kelayakan dari Penambahan Kegiatan Usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
     diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan Kegiatan Usaha yang dihitung dari selisih
     dari Free Cash Flow To Firm APII sebelum penambahan, dengan Free Cash Flow To Firm
     setelah penambahan. Selanjutnya dibandingkan dengan Initial investment.



                                                                                      Halaman - 10
Page 94
Berdasarkan analisis kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha dengan mempertimbangkan
asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

    ▪ Net Present Value (NPV)           :   Rp4.834.961.247,-
    ▪ Internal Rate of Return (IRR)     :   24,84% (lebih tinggi dari tingkat diskonto
                                            11,84%)
    ▪ Profitability Index (PI)          :   1,25
    ▪ Period Positif Arus Kas           :   3 tahun 7 bulan
    ▪ Payback Period (PP)               :   5 tahun 8 bulan

Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk
dan nilai sekarang dari arus kas keluar pada sebuah waktu periode. NPV biasanya
digunakan untuk alokasi modal untuk menganalisis keuntungan dalam sebuah proyek yang
akan dilaksanakan. NPV positif menandakan bahwa proyeksi pendapatan yang dihasilkan
oleh sebuah proyek atau investasi melebihi dari proyek biaya yang dikeluarkan.

Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa NPV sebesar
Rp4.834.961.247,-. Nilai NPV yang dihasilkan > 0 yang mana menunjukkan bahwa proyek
tersebut layak untuk direalisasikan.

Internal Rate Of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) merupakan indikator Return on Investment (ROI) yang telah
memperhitungkan time value of money. IRR adalah tingkat pengembalian investasi di mana
nilai Net Present Value (NPV) sama dengan nol. Dalam konteks studi kelayakan ini, IRR
digunakan untuk mengukur tingkat imbal hasil atas proyek penambahan kegiatan usaha.

Suatu investasi dinilai layak dan menguntungkan apabila nilai IRR lebih tinggi daripada cost
of capital yang digunakan sebagai acuan, semakin besar potensi proyek untuk
menghasilkan keuntungan yang bernilai tambah bagi perusahaan

Analisis IRR pada studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini menunjukkan bahwa
nilai perhitungan adalah 24,84%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang
diperoleh lebih besar dibandingkan dengan tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan,
yaitu sebesar 11,84% sehingga proyek tersebut Layak untuk direalisasikan.

Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)

Berdasarkan hasil proyeksi keuangan, arus kas dari kegiatan tambahan menunjukkan nilai
negatif pada tiga tahun pertama, dan mulai menunjukkan arus kas positif pada tahun ke-4
(2028) sebesar Rp8,33 miliar. Titik impas atau break even dicapai saat total kumulatif arus
kas bersih menyamai nilai investasi awal. Dalam hal ini, periode balik modal (payback) terjadi
pada tahun ke-5,69, atau menjelang akhir tahun 2029. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan
usaha tambahan baru akan menutupi investasinya dalam jangka menengah.




                                                                                 Halaman - 11
Page 95
     Jika dilihat pada sensitivitasnya, Break even terjadi saat capex naik di atas 50% di bawah
     angka kenaikan tersebut ROI berada di atas DR.

     Profitability Index (PI)

     Profitability Index (PI) merupakan indikator yang mengukur tingkat profitabilitas suatu proyek
     dengan mempertimbangkan time value of money, melalui perbandingan antara nilai kini kas
     masuk dan nilai kini kas keluar. Hasil analisis menunjukkan:

     Profitability Index = 1,25

     Hal ini mengindikasikan bahwa untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan, proyek menghasilkan
     Rp1,25 dalam bentuk nilai kini kas masuk. Nilai PI yang lebih besar dari 1 menunjukkan
     bahwa proyek ini secara ekonomi layak untuk dijalankan, karena dapat memberikan nilai
     tambah dan keuntungan yang positif bagi perusahaan.

     Payback Period (PP)

     Payback Period (PP) merupakan indikator yang menunjukkan jangka waktu yang dibutuhkan
     untuk mengembalikan nilai investasi awal (initial investment) melalui arus kas masuk (cash
     flow) yang dihasilkan dari proyek.

     Periode positif cash flow merupakan periode di mana arus kas bersih bernilai positif, yaitu
     ketika jumlah kas masuk lebih besar dibandingkan dengan kas keluar. Berdasarkan hasil
     perhitungan, proyek ini mulai menghasilkan arus kas positif secara konsisten pada tahun ke-
     4 (2028). Dengan demikian, perusahaan diperkirakan akan mencapai stabilitas arus kas
     dalam 3 tahun 7 bulan sejak dimulainya proyek.

     Sementara itu, Payback Period atau periode pengembalian investasi untuk kegiatan usaha
     tambahan sebesar Rp10 miliar diperkirakan terjadi dalam 5 tahun 8 bulan.

     Payback Period ini masih berada dalam batas waktu yang wajar untuk proyek investasi
     jangka menengah. Namun, periode pengembalian dapat menjadi lebih singkat apabila
     terdapat efisiensi biaya investasi, peningkatan pendapatan, atau penurunan beban
     operasional. Proyeksi keuangan saat ini disusun dengan pendekatan konservatif, sehingga
     terdapat potensi pencapaian hasil yang lebih baik dari estimasi saat ini.

8.10. Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI baru

     Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
     variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari suatu keputusan atau proyek. Teknik ini
     membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan
     atau risiko investasi.

     Dalam analisis sensitivitas, beberapa asumsi atau parameter seperti biaya, pendapatan,
     atau tingkat diskonto diubah dalam rentang tertentu untuk melihat dampaknya pada hasil
     akhir. Semakin sensitif suatu variabel terhadap perubahan, semakin penting untuk
     diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.


                                                                                      Halaman - 12
Page 96
Singkatnya, analisa sensitivitas membantu memahami seberapa "rapuh" atau fleksibel suatu
keputusan terhadap perubahan kondisi eksternal.

Hasil analisis sensitivitas proyek ini adalah sebagai berikut:

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Laba Bersih (Dalam
Jutaan Rupiah)

                           0%           5%          -19%           -20%       -25%
               2025      2.727        2.863         2.202          2.181      2.045
               2026      3.775        3.963         3.048          3.020      2.831
               2027      7.824        8.215         6.317          6.259      5.868
               2028     10.207       10.717         8.241          8.166      7.655
               2029     13.178       13.837        10.640         10.543      9.884
               NPV       4.835        6.090             -          (185)    (1.441)
                IRR    24,84%       28,31%        11,83%         11,34%      8,03%
       Discount Rate                              11,84%
                                              Breakevent     Tidak         Tidak
        Kelayakan      Layak      Layak
                                                 Point       Layak         Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Laba
Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
perubahan laba bersih melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

 Penurunan laba bersih bisa menjadi tanda adanya masalah dalam operasional bisnis,
 efisiensi biaya, atau strategi penjualan. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat
 membantu menjaga profitabilitas:

  1. Analisis Penyebab. Penurunan Laba Identifikasi faktor utama yang menyebabkan
     laba bersih menurun, seperti kenaikan biaya produksi, persaingan harga, atau
     penurunan volume penjualan.
  2. Efisiensi Operasional. Optimalkan proses bisnis dengan mengurangi pemborosan,
     meningkatkan produktivitas, dan menggunakan teknologi untuk mengurangi biaya
     operasional.
  3. Diversifikasi Sumber Pendapatan. Cari peluang untuk menambah lini produk atau
     layanan, memperluas pasar, atau menjalin kemitraan strategis yang dapat
     meningkatkan pendapatan.
  4. Evaluasi Strategi Harga. Sesuaikan harga produk atau layanan dengan
     mempertimbangkan margin keuntungan, daya beli pelanggan, dan kondisi pasar agar
     tetap kompetitif.
  5. Optimalisasi Pengelolaan Biaya. Lakukan audit biaya secara berkala dan cari cara
     untuk menghemat pengeluaran yang tidak esensial tanpa mengorbankan kualitas
     bisnis.
  6. Peningkatan Loyalitas Pelanggan. Fokus pada pelayanan yang lebih baik, program
     loyalitas, atau strategi pemasaran yang menarik agar pelanggan tetap memilih bisnis
     Anda.
  7. Pemanfaatan Data dan Teknologi. Gunakan analitik bisnis untuk memahami tren
     penjualan, pola perilaku pelanggan, dan area yang perlu diperbaiki agar keputusan
     bisnis lebih tepat sasaran.


                                                                                   Halaman - 13
Page 97
  8. Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas tetap sehat dan
     perencanaan keuangan disusun dengan baik untuk menghindari beban finansial yang
     berlebihan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Capex (Dalam
Jutaan Rupiah)

                           0%         10%           54%         55%           60%
              2025    (10.000)    (11.000)      (15.408)    (15.500)      (16.000)
              NPV        4.835       3.941             -        (83)         (530)
               IRR     24,84%         22%        11,83%         12%           11%
      Discount Rate                              11,84%
                                             Breakevent     Tidak        Tidak
       Kelayakan      Layak      Layak
                                                Point       Layak        Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Capex
yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
Perubahan Capex melampaui 54%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

Menjaga agar rencana investasi tetap terkendali dan tidak membengkak membutuhkan
strategi perencanaan dan pengawasan yang baik. Berikut beberapa langkah yang dapat
diterapkan:

 1. Tetapkan Anggaran dengan Jelas. Tentukan batas investasi sejak awal dan patuhi
    anggaran yang sudah dirancang agar tidak terjadi pengeluaran berlebihan.
 2. Lakukan Analisis Risiko Secara Berkala. Evaluasi risiko investasi secara rutin untuk
    menghindari pengeluaran tak terduga atau biaya yang melonjak akibat perubahan
    kondisi pasar.
 3. Gunakan Pendekatan Bertahap. Alih-alih mengalokasikan dana dalam jumlah besar
    sekaligus, lakukan investasi bertahap agar bisa menyesuaikan strategi berdasarkan
    hasil yang diperoleh.
 4. Optimalkan Penggunaan Sumber Daya. Gunakan sumber daya yang ada dengan
    maksimal sebelum menambah anggaran baru. Misalnya, lakukan efisiensi operasional
    atau manfaatkan teknologi untuk menekan biaya.
 5. Hindari Over-Investasi. Pastikan investasi dilakukan sesuai kebutuhan dan kapasitas
    bisnis, serta tidak melebihi kemampuan finansial yang dapat mengakibatkan
    pembengkakan biaya.

 6. Evaluasi dan Negosiasi Biaya. Selalu tinjau ulang setiap pengeluaran dan negosiasi
    dengan vendor atau mitra untuk mendapatkan harga terbaik serta opsi pembayaran
    yang lebih fleksibel.
 7. Pantau Arus Kas Secara Ketat. Pastikan setiap pengeluaran terkontrol dengan
    melakukan pencatatan keuangan yang baik agar investasi tetap sesuai dengan
    perencanaan awal.




                                                                                 Halaman - 14
Page 98
Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Penjualan Bersih
(Dalam Jutaan Rupiah)

                           0%         -3%             -4%       -5%        -10%
               2025     22.410     21.738          21.565    21.290      20.169
               2026     29.245     28.368          28.143    27.783      26.321
               2027     36.594     35.496          35.214    34.764      32.934
               2028     44.486     43.151          42.809    42.262      40.037
               2029     52.955     51.366          50.958    50.307      47.659
               NPV       4.835        987                -   (1.578)     (7.992)
                IRR    24,84%     14,37%          11,83%      7,88%         -7%
       Discount Rate                              11,84%
                                              Breakevent      Tidak      Tidak
          Kelayakan     Layak      Layak
                                                    Point     Layak      Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan
Penjualan Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat
penurunan perubahan penjualan bersih melampaui 4%, dengan catatan variable lain tetap
(ceteris paribus). Perubahan Penjualan Bersih sangat sensitif, rambunya adalah batas
kelayakan Proyek adalah Penjualan tidak boleh turun lebih dari 4%. Variable ini paling
berisiko dalam konteks analisa ini.

Penurunan penjualan bisa menjadi tantangan besar bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi
yang dapat diterapkan untuk mengurangi risikonya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang
bisa dipertimbangkan:

1. Analisis Penyebab Penurunan Penjualan. Identifikasi faktor yang menyebabkan
   penurunan penjualan—apakah karena perubahan tren pasar, meningkatnya
   kompetitor, atau penurunan daya beli pelanggan?
2. Diversifikasi Produk atau Layanan. Menambah variasi produk atau layanan dapat
   membantu menarik segmen pelanggan baru dan menjaga daya saing bisnis.
3. Peningkatan Kualitas dan Layanan Pelanggan. Pastikan produk atau layanan
   berkualitas tinggi serta tingkatkan pengalaman pelanggan agar mereka tetap loyal.
4. Optimalisasi Strategi Pemasaran. Gunakan pendekatan pemasaran yang lebih efektif
   seperti kampanye digital, promosi menarik, atau pemasaran berbasis data.
5. Evaluasi dan Penyesuaian Harga. Jika persaingan harga menjadi tantangan,
   pertimbangkan penyesuaian harga yang tetap menguntungkan tetapi kompetitif.
6. Membangun Hubungan dengan Pelanggan. Gunakan strategi komunikasi yang baik,
   seperti program loyalitas, survei kepuasan, atau pendekatan lebih personal.
7. Pemanfaatan Teknologi dan Data. Gunakan analitik bisnis untuk memantau tren
   penjualan dan melakukan prediksi agar bisa bertindak cepat sebelum penurunan
   semakin signifikan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan Beban Usaha (Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%          5%             8%        10%        15%
               2025    (10.446)    (10.968)       (11.290)   (11.490)   (12.012)
               2026    (13.632)    (14.313)       (14.734)   (14.995)   (15.676)
               2027    (17.057)    (17.910)       (18.436)   (18.762)   (19.615)
               2028    (20.735)    (21.772)       (22.412)   (22.809)   (23.846)


                                                                              Halaman - 15
Page 99
                                 0%           5%            8%        10%           15%
                    2029    (24.683)     (25.917)      (26.679)   (27.151)      (28.385)
                    NPV        4835         1.846             -    (1.144)       (4.133)
                     IRR     24,84%       16,62%        11,83%      8,95%         1,72%
            Discount Rate                               11,84%
                                                    Breakevent    Tidak        Tidak
            Kelayakan       Layak       Layak
                                                       Point      Layak        Layak

     Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Beban
     Usaha yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
     perubahan beban usaha melampaui 8%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).
     Variable ini juga sangat sensitif, rambunya adalah batas kelayakan Proyek adalah Beban
     Usaha tidak boleh naik lebih dari 8%. Variable ini kedua paling berisiko untuk analisa
     sensitivitas ini.

     Kenaikan biaya bisa menjadi tantangan serius bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi untuk
     mengurangi dampaknya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan:

      1. Evaluasi dan Pengendalian Biaya. Lakukan audit rutin terhadap pengeluaran dan
         identifikasi area yang bisa dioptimalkan atau dikurangi tanpa mengorbankan kualitas
         operasional.
      2. Negosiasi dengan Pemasok. Jalin komunikasi yang baik dengan pemasok untuk
         mendapatkan harga lebih kompetitif, diskon pembelian dalam jumlah besar, atau
         alternatif bahan baku yang lebih efisien.
      3. Optimalisasi Efisiensi Operasional. Gunakan teknologi dan otomatisasi untuk
         meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual,
         dan memangkas biaya yang tidak perlu.
      4. Manajemen Energi dan Sumber Daya. Cari cara untuk menghemat penggunaan energi,
         seperti investasi dalam teknologi hemat listrik atau strategi keberlanjutan yang dapat
         menekan biaya jangka panjang.
      5. Diversifikasi Pendapatan. Tambahkan produk atau layanan baru yang dapat
         meningkatkan arus kas dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber
         pendapatan.
      6. Penyesuaian Harga yang Bijak. Jika memungkinkan, lakukan penyesuaian harga
         secara strategis tanpa mengorbankan daya saing dan loyalitas pelanggan.
      7. Restrukturisasi dan Efisiensi SDM. Evaluasi kebutuhan tenaga kerja untuk memastikan
         sumber daya manusia digunakan secara optimal, termasuk peluang outsourcing atau
         pelatihan ulang agar lebih produktif.

      8. Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas dikelola dengan baik, cari
         opsi pembiayaan yang lebih efisien, dan pertimbangkan strategi penghematan jangka
         panjang.

8.11. Kesimpulan

     Pada analisis keuangan menunjukkan kelayakan dengan NPV positif Rp4.834.961.247,-
     dan IRR 24,84%, tetapi sensitivitas terhadap penurunan penjualan lebih besar dari 4%
     (penurunan penjualan > 4%) atau kenaikan beban usaha lebih besar dari 8% (kenaikan
     beban usaha > 8%) perlu diperhatikan.

                                                                                       Halaman - 16
Page 100
Berdasarkan analisis kelayakan terhadap aspek pasar, teknis, pola bisnis, model
manajemen, dan keuangan, dengan syarat semua asumsi yang diproyeksikan terpenuhi,
penambahan KBLI baru dinilai layak dilaksanakan. Laporan ini berlaku hingga 30 Juni 2025
sesuai POJK No. 17/POJK.04/2020, dan keberhasilannya bergantung pada stabilitas
kondisi ekonomi serta pengelolaan risiko yang efektif.




                                                                            Halaman - 17

File

File Open PDF
Source IDX
Size1.19 MB
Published17 Jun 2025
Pages100
Characters283,429
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 77 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org ARITA PRIMA INDONESIA TBK · Nama Perusahaan p.1 ×87
linked org PT Arita Global p.41
linked person Low Yew Lean p.41 ×2
linked person Lim Cheah Chooi p.41
linked person Sim Yee Fuan p.41
linked person Bernadetha Melinda Kirana Putri p.41
linked person Chan Chein Liang p.41
linked org Tira Austenite Tbk p.72 ×2
linked org Kobexindo Tractors Tbk p.72 ×2
linked org Ancora Indonesia Resources Tbk p.72 ×2
linked org Intraco Penta Tbk p.72 ×2
linked org PT Cisarua Mountain Dairy p.81
linked org Sinergi Multi Lestarindo Tbk p.92 ×2
linked org Sarana Mitra Luas Tbk p.92 ×2
linked org Kusuma Kemindo Sentosa Tbk p.92 ×2
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.6 ×18
possible org Negara Republik Indonesia p.32 ×2
possible person Kanaka Puradiredja p.37 ×2
possible org Bursa Efek Indonesia p.40 ×2
possible person Agung Sedayu p.66
possible org Bank Persero p.93
unresolved org KJPP Tobing Panuturi dan Rekan p.3 ×3
unresolved org KJPP Tobing Panuturi p.3 ×5
unresolved org TOBING PANUTURI DAN REKAN Prasetyo Djoko Sasongko p.3
unresolved person MBA. p.3 ×3
unresolved person Penilai Mery Ganis S p.5
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi dan Rekan p.6 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi p.6 ×2
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.6 ×5
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi Dan Rekan Dengan Kualifikasi Sebagai p.6
unresolved org Kementerian Keuangan dan Pasar Modal p.6
unresolved org KJPP TOPAZ p.21
unresolved person DR. Profitability Index p.23 ×2
unresolved person Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi p.32 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.32 ×5
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.32
unresolved org Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan p.33
unresolved org Bapepam-LK p.33 ×2
unresolved org Identitas Konsultan KJPP Tobing Panuturi & Rekan p.33
unresolved org Kementerian Keuangan p.33
unresolved org KJPP Tobing Panuturi & Rekan p.33
unresolved person Sangap Dame p.36
unresolved person Hong Hauw Fung p.36
unresolved person Yoyo Sukaryo Djena p.37 ×2
unresolved org Bank Indonesia p.38 ×17
unresolved person Akta Notaris Tjhong Sendrawan p.40 ×2
unresolved org Arita Engineering Sdn.Bhd. p.41
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.41
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Halaman p.41
unresolved org Kota Nusantara p.61 ×3
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal p.62
unresolved org Pusat Statistik p.63 ×2
unresolved org Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian p.63
unresolved org Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan p.63
unresolved org Perizinan dan OSS p.64
unresolved org Perizinan p.65 ×5
unresolved org Mitra Angkasa Sejahtera Tbk p.72 ×2
unresolved org HK Metals Utama Tbk p.72 ×2
unresolved org PT Spektra Solusindo p.80
unresolved person R. Achhmad Sulaiman p.81
unresolved org PT Arita p.81
unresolved org PT. Intermas Tata Trading p.81
unresolved org PT Kasana Teknindo Gemilang p.81
unresolved org PT Sinarmas Distribusi Nusantara p.81
unresolved org PT. Indra Karya p.81 ×3
unresolved org PT. Bina Karya p.81
unresolved org PT. Bikonar Perdana p.82
unresolved org Bank Jabar p.82
unresolved org PT Wika Beton Mobile Concrete p.82
unresolved org PT Wika Beton Crushing Plant Bogor p.82 ×2
unresolved org Laba p.86 ×3
unresolved org DER p.92
unresolved org Beijing United Information Technology Co.,Ltd. p.92
unresolved org Bohai Leasing Co., Ltd. p.92
unresolved org Export Corporation p.92
unresolved org Events Corporation Limited p.92
unresolved org Fujian Haiqin Energy Group Co., Ltd. p.92

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.273 9402 ms 12 Sep 2026 22:38
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': 'Prasetyo Djoko Sasongko, M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert)',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': '2024-12-31',
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result